Anda di halaman 1dari 38

PANDUAN KOMITE ETIK

KOMITE ETIK
TAHUN 2020

RSU. WILLIAM BOOTH SEMARANG


Jl. Let. Jend. S. Parman No 5 Semarang, Jawa Tengah 50231
Telp : (024) 8411800, Fax (024) 8448773
Email : williambooth_rs@yahoo.com
YAYASAN PELAYANAN KESEHATAN BALA KESELAMATAN

RUMAH SAKIT UMUM “WILLIAM BOOTH”


SEMARANG
Jl. Let. Jend. S. Parman No. 5 Semarang – 50231
Telp. (024) 8411800, 8414392 Fax. (024) 8448773 E-mail: williambooth_rs@yahoo.com
No. Rek. MANDIRI : 135-00-1416289-3, N.P.W.P : 31.650.899.3-517.001

PERATURAN DIREKTUR RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG


Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/III/2020

TENTANG

PANDUAN KOMITE ETIK


RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG

DIREKTUR RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di RSU


William Booth Semarang, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan yang bermutu tinggi;
b. bahwa agar pelayanan di RSU William Booth Semarang dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya Panduan Komite Etik;
c. bahwa untuk Panduan Komite Etik tersebut perlu ditetapkan
dengan Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang.

Mengingat 1. UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran;


2. UU RI No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan informasi
Publik;
3. UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
4. UU RI No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
5. UU RI No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;
6. UU RI No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang
Pedoman Penyusunan Dan Penerapan Standar Pelayanan
Minimal;
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 69 Tahun 2014
Tentang Kewajiban Rumah Sakit Dan Kewajiban Pasien;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien
Rumah Sakit;
10. Keputusan Ketua Umum Dewan Pengurus YPKBK
No.010/DP.YPKBK-SK/I/2020 tentang Pengangkatan drg. Erwita
Dinarsari, MARS sebagai Direktur RSU William Booth
Semarang.

MEMUTUSKAN

Menetapkan
Pertama : PANDUAN KOMITE ETIK RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG
SEBAGAIMANA TERCANTUM DALAM LAMPIRAN PERATURAN
DIREKTUR INI.
YAYASAN PELAYANAN KESEHATAN BALA KESELAMATAN

RUMAH SAKIT UMUM “WILLIAM BOOTH”


SEMARANG
Jl. Let. Jend. S. Parman No. 5 Semarang – 50231
Telp. (024) 8411800, 8414392 Fax. (024) 8448773 E-mail: williambooth_rs@yahoo.com
No. Rek. MANDIRI : 135-00-1416289-3, N.P.W.P : 31.650.899.3-517.001

Kedua : Peraturan Direktur ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Apabila


ternyata terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam Peraturan
Direktur ini, maka akan disesuaikan dan dibetulkan sebagaimana
mestinya.
Ketiga : Dengan ditetapkannya Peraturan Direktur ini, maka Panduan
sebelumnya yang telah ada, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Ditetapkan di : Semarang
Pada tanggal : 03 Maret 2020
RSU William Booth Semarang

Drg. Erwita Dinarsari, MARS


Direktur
DAFTAR ISI

BAB I DEFINISI...................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Maksud Dan Tujuan.....................................................................................2
C. Batasan Operasional....................................................................................2
D. Landasan Hukum..........................................................................................3
BAB II RUANG LINGKUP.....................................................................................4
BAB III KEBIJAKAN.............................................................................................5
BAB IV TATA LAKSANA......................................................................................6
A. Etik Yang Berhubungan dengan Data Rekam Medik Pasien Di
RSU William Booth, Semarang.....................................................................6
B. Etik Tentang Hak Dan Kewajiban Dokter Di
RSU William Booth Semarang......................................................................7
C. Hak, Kewajiban Dan Tanggung Jawab Perawat Di
RSU William Booth Semarang....................................................................10
D. Hak, Kewajiban Dan Tanggung Jawab Bidan..............................................12
E. Hak Dan Kewajiban Petugas Administrasi Di
RSU William Booth Semarang....................................................................14
F. Kode Etik Dan Peraturan Profesi Rekam Medik Di
RSU William Booth Semarang....................................................................14
G. Etik Tentang Hak Dan Kewajiban Pasien Di
RSU William Booth Semarang...................................................................15
H. Etik Rumah Sakit Yang Berhubungan Dengan Etika Kristen Di
RSU William Booth Semarang....................................................................17
I. Masalah Etik Medis Di RSU William Booth Semarang...............................17
J. Penyelesaian Permasalahan Etik Di RSU William Booth Semarang..........19
K. Etik Tentang Penelitian (Riset) Dan Praktek Kerja Di
RSU William Booth Semarang....................................................................20
L. Kebijakan Dalam Menghadapi Dilema Etika..............................................20
M. Penyelesaian Permasalahan Yang Berkaitan Dengan Pembayaran
Pasien Di RSU William Booth Semarang....................................................22
N. Logistik........................................................................................................23
O. Keselamatan/ Keamanan Komite etik Rumah Sakit...................................24
P. Kewajiban Tenaga non klinis Lainnya.........................................................25
Q. Hubungan Rumah Sakit Umum William Booth Semarang dengan
Lembaga Terkait.........................................................................................26
R. Kerjasama dengan Pelayanan Kesehatan Lainnya.....................................26
S. Promosi Pemasaran Rumah Sakit..............................................................26

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
T. Tata Cara Penanganan Pelanggaran Etik dan Hukum di Rumah Sakit
Umum William Booth Semarang................................................................27
U. Penyelesaian Masalah Etik di Rumah Sakit William Booth Semarang.......29
V. Tata Cara Menghadapi Wartawan.............................................................29
W. Tatacara Menghadapi Pengacara Penuntut Hukum..................................29
X. Etika Penelitian di Rumah Sakit William Booth Semarang.........................30
BAB V DOKUMENTASI.....................................................................................32
A. Dokumentasi Penerapan Sasaran Keselamatan Pasien.............................32
BAB VI PENUTUP.............................................................................................33

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

BAB I
DEFINISI

A. Latar Belakang
Pelayanan rumah sakit merupakan pelayanan yang bersifat karitatif, humanis oleh
sebab itu tolak ukur berhasilnya rumah sakit bukan semata mata pada kecanggihan
tekhnologi kesehatan semata atau sikap profesional, tetapi harus diiringi dengan
sikap tanggung jawab dan empati terhadap pasien yang mampu memberikan rasa
aman, nyaman yang disertai penghargaan pada nilai nilai etika atau etis, dan
ketaatan pada peraturan dan hukum yang berlaku, baik antar profesi, antar
karyawan maupun dengan pasien sebagai pelanggan rumah sakit.

Di dalam pelayanan kesehatan tentu ada norma norma, aturan-aturan yang


berkaitan dengan pelayanan kesehatan, apabila menyimpang diwajibkan ada solusi
untuk pemecahan atau ada jalan keluar, sehingga nilai nilai, etika, norma, hukum
berbanding lurus dengan tujuan pelayanan yang perofesional, humanis serta
bertanggung jawab dan tanggung gugat.

Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit terdiri dari berbagai


multi disiplin ilmu dan multi profesi yang sifatnya harus saling bersinergi agar sesuai
dengan tujuan pelayanan kesehatan yang bersifat paripurna dan komprehensif, agar
terkelola dengan baik diperlukan sebuah panduan penyelenggaraan etik di RSU
William Booth Semarang sebagai acuan dalam mengambil kebijakan etik, baik dalam
penyelenggaraan pelayanan maupun dalam penyelenggaran organisasi.

Oleh karena itu perilaku tenaga medis, paramedis, non medis harus baik, serta dapat
menjaga dan mempertahankan etik, baik etik rumah sakit etik kedokteran maupun
etik keperawatan, serta mentaati hukum kesehatan pada khususnya dan hukum lain
pada umumnya.

Semakin maraknya tuntutan masyarakat akan kualitas pelayanan kesehatan


memaksa rumah sakit dengan seluruh tenaga kesehatan yang ada harus hati-hati
dalam memberikan pelayanan kesehatan, dan harus ditingkatkan baik kualitas
profesi maupun ketaatan akan etika dan hukum yang berlaku di masyarakat. Oleh
karena itu diperlukan suatu komite yang menangani dan menjaga etika dan hukum
tenaga kesehatan rumah sakit.

Persamaan etik dan hukum adalah sebagai berikut:


1. Sama-sama merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup bermasyarakat.
2. Sebagai objeknya adalah tingkah laku manusia.
3. Mengandung hak dan kewajiban anggota-anggota masyarakat agar tidak saling
merugikan.
4. Menggugah kesadaran untuk bersikap manusiawi.
5. Sumbernya adalah hasi pemikiran para pakar dan pengalaman para anggota
senior.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

Sedangkan perbedaan Etik dan hukum adalah sebagai berikut:


1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi. Hukum berlaku untuk umum.
2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi. Hukum disusun oleh
badan pemerintah.
3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercantum secara terinci dalam kitab
undang-undang dan lembaran/berita negara.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik berupa tuntunan. Sanksi terhadap
pelanggaran hukum berupa tuntutan.
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK),
yang dibentuk oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu diteruskan
kepada Panitia Pembinaan Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh
Departemen Kesehatan (DEPKES). Pelanggaran hukum diselesaikan melalui
pengadilan.
6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik. Penyelesaian
pelanggaran hukum memerlukan bukti fisik.

Di RSU William Booth Semarang Komite tersebut dinamakan Komite Etik

B. Maksud Dan Tujuan


Tujuan
Panduan Komite Etik Rumah Sakit disusun dengan tujuan:
1. Tujuan Umum
Menjadi Panduan bagi Komite Etik Rumah Sakit serta bagi Manajemen dalam
menciptakan pelayanan yang sesuai dengan etik rumah sakit dan tidak
melanggar hukum yang berlaku.

2. Tujuan Khusus
a) Agar seluruh karyawan rumah sakit baik medis penunjang maupun non
medis bertindak sesuai dengan etika dan hukum.
b) Menjadi acuan bagi manajemen dan Komite Etik Rumah Sakit dalam
mengambil langkah penyelesaian jika terjadi pelanggaran etik dan atau
hukum di rumah sakit.
c) Menjadi acuan kinerja dans ikap organisasi rumah sakit yang selaras dengan
visi, misi dan pernyataan nilai-nilai Rumah Sakit, kebijakan sumber daya
manusia, laporan tahunan serta dokumenlainnya.
d) Membantu tenaga kesehatan, staf, serta pasien dan keluarga pasien ketika
menghadapi dillema etis dalam asuhan pasien, seperti perselisihan antar
profesional dan perselisihan antara pasien dan dokter mengenai keputusan
dalam asuhan dan pelayanan.

C. Batasan Operasional
1. Etik ialah suatu norma atau nilai (value) mengenai sikap batin dan perilaku
manusia. Oleh sebab itu, sifatnya masih abstrak, belum tertulis. Kalau sudah
tertulis, maka disebut Kode Etik
2. Karena norma tergantung pada tempat, situasi dan kurun waktu tertentu, maka
etik sebagai suatu norma/ nilai dapat berubah-ubah. Jika tempatnya berlainan,

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

maka etiknya dapat pula berlainan, karena akibat pengaruh sejarah, kultur serta
adat- istiadat setempat. Demikian juga, walaupun tempatnya sama, tetapi kurun
waktunya berlainan, dapat pula berlainan norma/ etiknya.
3. Kode etik berarti: himpunan norma-norma yang disepakati dan ditetapkan oleh
dan untuk para pengemban profesi tertentu. Dalam hal ini profesi kesehatan,
perumah sakitan, kedokteran, perawatan, dan sebagainya.
4. Kode etik bersifat: apa yang kita cita-citakan. Bukan menguraikan akan apa
adanya sekarang, ini. Oleh karena sifatnya yang normatif, maka perumusan
suatu Kode Etik harus memakai istilah-istilah: harus, seharusnya, wajib, tidak
boleh anjuran atau larangan, sehingga diketahui apa yang dianggap baik atau
buruk, sebagai kewajiban atau tanggung jawab sifat-sifat kehidupan yang baik.
Dalam bidang etik kesehatan, masalahnya lebih serius, sehingga pilihannya bisa
antara baik atau lebih baik" atau antara "buruk atau lebih buruk".
5. Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu
kekuasaan, dalam mengatur pergaulan hidup masyarakat.
6. Etik dan hukum memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengatur tertib dan
tentramnya pergaulan hidup dalam masyarakat.

D. Landasan Hukum
Sebagai landasan Etik Rumah Sakit di RSU William Booth Semarang ialah:
1. Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945 dan Pancasila
2. Undang-Undang RI No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
4. Undang-undang RI no 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan informasi Publik
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
6. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
7. Undang-undang RI No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
8. Undang-Undang RI no 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
9. Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia
Kedokteran
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam
Medis.
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran.
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2014
tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien.
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2012 tentang Rahasia
Kedokteran
15. Keputusan PB IDI no 111/PB/A.4/02/2013 Tentang Penerapan Kode Etik
Kedokteran Indonesia.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pelayanan Komite Etik Rumah Sakit di RSU William Booth Semarang,
adalah:
1. Etik dan hukum yang berhubungan dengan data Rekam Medik pasiendi RSU William
Booth, Semarang
2. Etik dan hokum tentang Hak dan Kewajiban Dokter di RSU William Booth, Semarang
3. Etik tentang Hak, Kewajiban dan Tanggung jawab tenaga Keperawatan di RSU
William Booth, Semarang
4. Etik dan Hukum tentang Hak, Kewajiban dan tanggung jawab tenaga kebidanan di
RSU William Booth, Semarang
5. Etik dan hukum tentang Hak dan Kewajiban Petugas Administrasi di RSU William
Booth, Semarang
6. Kode Etik dan peraturan hukum Profesi Rekam Medik di RSU William Booth,
Semarang
7. Etik dan hukum tentang Hak dan Kewajiban Pasien di RSU William Booth, Semarang
8. Etik rumah sakit yang berhubungan dengan Etika Kristen di RSU William Booth,
Semarang
9. Masalah Etik Medis di RSU William Booth, Semarang
10. Penyelesaian Permasalahan Etik dan atau hukum di RSU William Booth, Semarang
11. Etik tentang Penelitian/ riset di RSU William Booth, Semarang
12. Penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan Pembayaran Pasien.
13. Pedoman ini diterapkan kepada semua tenaga klinis dan non klinis yang bekerja di
RSU William Booth, Semarang agar dalam menjalankan tugas dan kewajibannya
dapat mengendalikan perilaku dengan sebaik baiknya dan berpedoman pada etika
etika yang baku baik etika perumahsakitan, etika kedokteran, keperawatan maupun
etika laiinya.
14. Pelaksana Pedoman ini adalah semua tenaga klinik dan non klinis

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

BAB III
KEBIJAKAN

1. SK Direktur No. 134/RSUWB/KEP/DIR/V/2019 tentang Kebijakan Manajemen dan


Pelayanan Rumah Sakit.
2. SK Direktur No. 052/RSUWB/KEP/DIR/III/2020 tentang Komite Etik Rumah Sakit
Umum William Booth Semarang

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

BAB IV
TATA LAKSANA

Direktur menetapkan tata kelola untuk manajemen etis dan etika karyawan agar
menjamin bahwa asuhan pasien diberikan didalam norma-norma bisnis, finansial, etis,
dan hukum yang melindungi pasien dan hak mereka. Tata kelola ini dalam bentuk
Panduan Etik RSU William Booth Semarang. Direktur bertanggung jawab secara
profesional dalam menciptakan dan mendukung lingkungan serta budaya kerja yang
berpedoman pada etika dan perilaku etis termasuk etika karyawan. Penerapan etika
dengan bobot yang sama pada kegiatan bisnis/ manajemen maupun kegiatan klinis/
pelayanan RSU William Booth Semarang

A. Etik Yang Berhubungan dengan Data Rekam Medik Pasien Di RSU William Booth,
Semarang
1. Kepemilikan Data pasien/ Rekam Medik di RSU William Booth Semarang
Data pasien, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749a/ Menkes/
Per/XII/ 1989, ialah: data pasien/ rekam medik yang terdiri dari berkas
berbentuk catatan, dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien, pada sarana pelayanan
kesehatan. Fisik data pasien yang berbentuk rekam medik, sebagaimana
diuraikan diatas adalah milik RSU William Booth Semarang, sedangkan isi dari
data rekam medis tersebut adalah milik pasien.
2. Kebenaran data
Data rekam medik merupakan alat informasi dan komunikasi atas seorang
pasien kepada dokter/ perawat yang merawatnya atau pihak kepolisian, pihak
peradilan maupun terhadap pihak keluarga pasien.
Oleh sebab itu, semua pihak (dari RSU William Booth Semarang) yang bertugas
untuk mengisi membuat rekam medik tersebut, harus jujur dan benar mengisi
data pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan, frekuensi konsultasi,
pembiayaan dan sebagainya, agar tidak menimbulkan kerugian baik kepada
pihak rumah sakit (sebagai penyelenggara) maupun kepada pasien/
keluarganya/ masyarakat (sebagai konsumen).
3. Penyimpanan data
Karena data pasien/ rekam medik tersebut merupakan suatu hal yang sangat
penting bagi banyak pihak, maka data pasien/ rekam medik tersebut harus
disimpan di tempat yang aman dan baik, agar tidak disalahgunakan oleh pihak
tertentu (pihak rumah sakit/ dokter/ perawat/ maupun pihak pasien dan
keluarganya) maupun pihak lainnya. Untuk itu dibuat Standar Prosedur
Operasional (SPO) cara pengisian, penyimpanan dan pengambilan data pasien/
rekam medik tersebut.
4. Perilaku Tenaga Medik Rumah Sakit:
Sesuai dengan keahliannya, maka seorang dokter merupakan petugas rumah
sakit yang paling besar andilnya dalam mengisi data/ rekam medik, baik bagi
pasien yang sedang dirawat maupun bagi pasien yang sedang berkonsultasi.
Oleh sebab itu maka dokter dalam mengisi rekam medis harus benar-benar
berpegang teguh pada hal-hal yang diketahuinya, sesuai dengan ilmu
pengetahuan yang didapatnya, jujur dan selalu berpegang teguh pada sumpah

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

jabatannya sebagai seorang dokter. Pengisian Rekam Medik harus lengkap


sesuai bidangnya dan tepat waktu.
5. Perilaku Tenaga Perawat dan Penunjang Rumah Sakit :
Selain dokter, maka perawat dan penunjang rumah sakit merupakan petugas
rumah sakit yang juga memiliki andil besar dalam mengisi data pasien/ rekam
medik tersebut. Oleh sebab itu mereka dalam mengisi data pasien/ rekam medik
harus sesuai dengan kewenangan yang diberikan kepada mereka, sesuai dengan
ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Juga dalam mengisi data-data tindakan/
perencanaan asuhan keperawatan, harus sesuai dengan prosedur yang telah
ditetapkan. Jika yang mengisi data rekam medis itu seorang siswa perawat yang
masih dalam pendidikan, maka selain harus memenuhi kriteria tersebut diatas,
seluruh data yang mereka cantumkan harus diketahui/ dibawah pengawasan
atasan perawat.
6. Perilaku Tenaga Administrasi Rumah Sakit
Salah satu petugas rumah sakit yang juga mempunyai andil dalam pengisian
data pasien/ rekam medik ialah tenaga administrasi rumah sakit, khususnya
pengisian datadata non-medis, sejak pasien masuk sampai keluar rumah sakit.
Khususnya pencatatan data biaya yang harus dibayar oleh pasien, haruslah
dicatat secara tepat dan benar, sehingga tidak merugikan rumah sakit maupun
pasien. Oleh sebab itu, maka manajemen RSU William Booth Semarang
mengharuskan mengkomunikasikan secara terbuka tarif layanan RSU William
Booth Semarang kepada pasien, keluarganya dan masyarakat luas. Hal ini akan
merupakan pengawasan yang efektif terhadap kebenaran data pasien/ rekam
medik, khususnya data biaya yang harus dibayar oleh pasien.

Sehubungan dengan biaya perawatan pasien maka RSU William Booth


Semarang:
a. Tidak menagihkan biaya pelayanan yang tidak sesuai dengan asuhan yang
diberikan
b. Tidak ada uang muka untuk pasien gawat darurat
c. Tidak mempubilkasikan iklan yang menyebutkan RS terbaik atau termurah.
d. Pasien gawat darurat tidak diminta membeli obat terlebih dahulu sebelum
dilayani

B. Etik Tentang Hak Dan Kewajiban Dokter Di RSU William Booth Semarang
1. KEWAJIBAN UMUM SEORANG DOKTER RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG
a. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
Sumpah Dokter.
b. Harus senantiasa melaksanakan tugas profesinya menurut ukuran yang
tertinggi (sesuai dengan standart profesi medik).
c. Dalam melakukan pekerjaan kedokteran, tidak boleh dipengaruhi oleh
pertimbangan keuntungan pribadi.
d. Dalam melakukan pekerjaan, harus mengutamakan kepentingan pasien,
keluarga dan masyarakat serta memperhatikan semua aspek pelayanan
kesehatan yang menyeluruh dan holistik (promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif).

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

e. Setiap tindakan dan informasi yang mungkin menurunkan semangat hidup


pasien baik jasmani maupun rohani, hanya diberikan demi kepentingan
pasien.
f. Tidak diperkenankan menerapkan setiap tehnik atau metode pengobatan
baru yang belum diuji kebenarannya.
g. Hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat
dipertanggungjawabkan.
h. Harus mampu memberikan edukasi dan pengabdian masyarakat.
i. Harus mampu bekerja sama dengan pihak lain di bidang kesehatan/ lainnya.
j. Harus selalu memperhatikan dan tidak melanggar Bioetik.
k. Tanpa alasan medis yang benar dan tepat, maka dilarang, untuk:
1) Memperpanjang lenght of stay pasien.
2) Menggunakan peralatan medis secara berlebihan (over utillization).
3) Melakukan tindakan yang mempunyai implikasi/ akibat kriminal,
misalnya: abortus provocatus criminalis.
4) Menahan pasien/ tidak merujuk sedangkan RSU William Booth,
Semarang tidak mempunyai peralatan diagnostik/ terapi yang
dibutuhkan.
5) Menolak pasien tidak mampu.
l. Tidak diperbolehkan untuk:
1) Melakukan perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri dan atau
menjelekkan teman sejawat lain.
2) Menerima imbalan lain diluar imbalan yang seharusnya.

2. KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN:


a. Harus selalu berusaha melindungi dan mempertahankan hidup insani.
b. Harus bersikap tulus iklas mempergunakan ilmunya untuk kepentingan
pasien. Jika ia tidak mampu melaksanakan pemeriksaan dan pengobatan, ia
wajib merujuk pasien ke dokter/ rumah sakit lain yang mempunyai keahlian
dalam penyakit tersebut.
c. Wajib datang dan melakukan pertolongan darurat, sebagai suatu tugas
kemanusiaan.
d. Wajib merahasiakan sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
e. Memberikan kesempatan kepada pasien agar dapat berhubungan dengan
keluarganya dan untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya.
f. Dalam memberikan pengobatan harus memperhatikan kemampuan
ekonomi pasien.
g. Hubungan dokter dan pasien harus selaras secara empatis, tetapi jangan
sampai menimbulkan masalah diluar bidang medis, sebagai akibat hubungan
yang tidak proporsional.
h. Dokter wajib memberikan pelayanan medik sesuai dengan standar profesi,
yang diberlakukan di RSU William Booth, Semarang
i. Dokter wajib memberikan informasi dengan benar dan lengkap (inform
consent) kepada pasien/ keluarganya jika akan melakukan tindakan medik
pada pasien tersebut.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

j. Dokter wajib membuat rekam medik tentang penyakit/ keadaan pasien


dengan baik, lengkap, benar, secara berkesinambungan.

3. KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT


a. Teman sejawat hendaklah dianggap sebagai saudara sendiri dan
diperlakukan sebagaimana ia menghargai dan memperlakukan diri sendiri.
b. Tidak boleh mengambil pasien dari teman sejawatnya tanpa
persetujuannya.
c. Melakukan kerjasama yang serasi secara profesional dengan sejawat
lainnya, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada
pasien.

4. KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI:


a. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya agar dapat bekerja dengan
baik dan menjadi teladan bagi pasien.
b. Harus senantiasa menambah dan mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dengan mengikuti Program Pendidikan Kedokteran
Berkelanjutan (P2KB) dan tetap setia kepada janji dan cita-citanya yang
luhur sebagai dokter.

5. TANGGUNG JAWAB DAN KEWAJIBAN SEORANG DOKTER


Di RSU William Booth, Semarang terdapat dokter tetap (Purna Waktu) yang
merupakan karyawan tetap RSU William Booth Semarang dan dokter mitra
(paruh waktu) yang bukan karyawan tetap RSU William Booth semarang.
Ada sedikit perbedaan dalam hak kewajiban dan tanggungjawab antara
dokter tetap dan dokter mitra.
Tanggung jawab dokter mitra adalah sebagai berikut:
a. Mentaati segala kewajiban seperti yang tercantum pada Pedoman Etik
RSU William Booth Semarang seperti diatas.
b. Sesuai dengan bidang keahliannya bertanggungjawab penuh atas segala
tindakan mediknya.
c. Harus bersedia datang jika pasien dalam keadaan gawat darurat.
d. Harus selalu teratur mengunjungi (visite) pasien yang menjadi
tanggungjawabnya.
e. Jika terjadi Kejadian Tidak Diharapkan akibat kelalaian dokter yang
menimbulkan tuntutan dari pasien/ keluarga/ masyarakat, hal itu
menjadi tanggung jawab dokter yang bersangkutan.

6. HAK DOKTER DI RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG


a. Dokter berhak mendapat jaminan dan perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
b. Dokter berhak untuk bekerja sesuai standar profesinya.
c. Dokter berhak menolak permintaan pasien untuk melakukan tindakan
medik yang tidak sesuai dengan standar profesi dan hukum.
d. Dokter berhak untuk menghentikan jasa profesinya kepada pasien, apabila
(misalnya) hubungan dengan pasien sudah berkembang begitu buruk,

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

sehingga kerja sama yang baik tidak mungkin dapat diteruskan lagi. Kecuali
untuk pasien gawat darurat.
e. Dokter berhak atas privacy, beristirahat, mengambil cuti sesuai peraturan
yang berlaku.
f. Dokter berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien
dengan ucapan atau tindakan yang melecehkan atau memalukan.
g. Dokter berhak diperlakukan adil dan jujur dan berhak mendapat informasi
atau pemberitahuan pertama dalam menghadapi pasien yang tidak puas
atas pelayanannya.
h. Dokter berhak mendapatkan informasi lengkap sehubungan dengan
penyakit pasien yang dirawatnya, baik dari pasien sendiri atau dari
keluarganya.
i. Dokter berhak mendapatkan imbalan atas jasa profesi yang diberikannya
berdasarkan perjanjian dengan pasien dan atau ketentuan/ peraturan yang
berlaku di RS Panti Rahayu.
j. Dokter berhak menolak memberikan keterangan tentang pasien
dipengadilan (sesuai pasal 170 ayat 1 KUHP).

C. Hak, Kewajiban Dan Tanggung Jawab Perawat Di RSU William Booth Semarang
1. HAK - HAK PERAWAT:
a. Mendapat perlindungan hukum.
b. Bekerja menurut standar profesi.
c. Menolak permintaan atau desakan pasien maupun keluarga untuk
melaksanakan tindakan yang bertentangan dengan standar profesi
maupun hukum yang berlaku.
d. Berhak atas privacy.
e. Mendapat informasi lengkap dari pasien yang dirawat untuk
kepentingan perawatannya.
f. Mendapat perlakuan yang adil dan jujur.
g. Mendapat imbalan jasa atas profesi yang diberikan, sesuai dengan
peraturan yang berlaku.

2. KEWAJIBAN PERAWAT
a. Mematuhi undang-undang dan peraturan rumah sakit sesuai dengan
kepegawaiannya.
b. Mematuhi kode etik keperawatan yang berlaku.
c. Memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi
mencakup kebutuhan biopsiko sosio religius.
d. Memberikan informasi kepada pasien atas tindakan yang akan
dilakukan.
e. Memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarganya.
f. Melindungi privacy pasien
g. Merahasiakan rahasia jabatan.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

3. TANGGUNG JAWAB TERHADAP TUGAS:


a. Setiap perawat harus senantiasa meningkatkan dan memelihara mutu
pelayanan keperawatan setinggi-tingginya, disertai sifat profesional
sesuai dengan kebutuhan pasien, keluarganya dan masyarakat.
b. Harus merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan
dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.
c. Tidak boleh menggunakan pengetahuan dan ketrampilan
keperawatannya untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma
kemanusiaan/ susila/ etik dan hukum.
d. Dalam melaksanakan pekerjaannya tidak boleh dipengaruhi oleb
pertimbangan kebangsaan kesukuan, ras, sosial, umur, jenis kelamin,
aliran politik, agama, dan kepercayaan pasien.
e. Setiap perawat harus mengisi data pasien/ rekam medis/ asuhan
keperawatan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
f. Setiap perawat harus mengutamakan perlindungan keselamatan pasien.

4. TANGGUNG JAWAB TERHADAP SESAMA PERAWAT DAN PETUGAS


LAINNYA:
a. Setiap perawat harus memelihara hubungan baik dengan sesama
perawat dan petugas lainnya, sehingga tercapai suasana harmonis
didalam lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan
sesuai visi, misi dan falsafah RSU William Booth, Semarang.
b. Harus selalu bersedia untuk menyebarluaskan pengetahuan,
ketrampilan dan pengalaman profesionalnya kepada sesama perawat/
petugas lainnya, dalam rangka meningkatkan kemampuan lain bidang
keperawatan.
c. Bersedia selalu membimbing dan mendidik siswa perawat agar mereka
dapat berkembang menjadi perawat yang baik dan terampil.

5. TANGGUNG JAWAB TERHADAP PROFESI PERAWAT:


a. Setiap perawat harus selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan
profesionalnya, baik secara perorangan maupun bersama-sama, dengan
menambah ilmu, ketrampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi
perkembangan keperawatan.
b. Harus selalu menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan
menunjukkan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur dan
bermartabat.
c. Harus selalu membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawat
sebagai sarana pengabdiannya.
d. Berperan dalam pembakuan dan pembaruan pendidikan dan pelayanan
perawatan.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

6. TANGGUNG JAWAB PERAWAT TERHADAP PASIEN, KELUARGA DAN


MASYARAKAT:
a. Dalam melaksanakan kewajibannya, seorang perawat harus
melaksanakan pengabdiannya dengan senantiasa berpedoman dan
bertanggung jawab akan kebutuhan untuk individu, keluarga dan
masyarakat.
b. Harus selalu memelihara suasana lingkungan yang serasi dengan
menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat, agama, kepercayaan
pasien, keluarga dan masyarakat.
c. Perawat harus selalu bersedia mengambil prakarsa dan menjalin
hubungan yang baik, ramah, jujur dan ikhlas, sesuai dengan martabat
dan tradisi luhur keperawatan.
d. Tidak menyalahgunakan kemampuannya untuk mengambil keuntungan
bagi dirinya sendiri.

D. Hak, Kewajiban Dan Tanggung Jawab Bidan


1. Hak Bidan
1) Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan pelayanannya
sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional
2) Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien dan/ atau
keluarganya
3) Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan kewenangan
4) Menerima imbalan jasa profesi

2. Kewajiban Bidan
1) Menghormati hak pasien
2) Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan
pelayanan yang dibutuhkan
3) Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat ditangani
dengan tepat waktu
4) Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan
5) Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang – undangan
6) Melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan pelayanan lainnya yang
diberikan secara sistematis
7) Mematuhi standar profesi, standar pelayanan dan standar prosedur
operasional
8) Melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan praktik
kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian.

3. Tanggung Jawab Bidan Terhadap Tugas


1) Setiap bidan harus senantiasa meningkatkan dan memelihara mutu
pelayanan kebidanan setinggi-tingginya, disertai sifat profesional sesuai
dengan kebutuhan pasien, keluarganya dan masyarakat.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

2) Harus merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan


tugas yang dipercayakan kepadanya.
3) Tidak boleh menggunakan pengetahuan dan ketrampilan kebidanannya
untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan/
susila/ etik dan hukum.
4) Dalam melaksanakan pekerjaannya tidak boleh dipengaruhi oleh
pertimbangan kebangsaan kesukuan, ras, sosial, umur, jenis kelamin, aliran
politik, agama, dan kepercayaan pasien.
5) Setiap bidan harus mengisi data pasien/ rekam medis/ asuhan keperawatan
dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6) Setiap bidan harus mengutamakan perlindungan keselamatan pasien.

4. Tanggung Jawab Terhadap Tugas Sesama Bidan Dan Petugas Lainnya


1) Setiap bidan harus memelihara hubungan baik dengan sesama bidan dan
petugas lainnya, sehingga tercapai suasana harmonis didalam lingkungan
kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan sesuai visi, misi dan
falsafah RSU William Booth Semarang
2) Harus selalu bersedia untuk menyebarluaskan pengetahuan,
ketrampilan dan pengalaman profesionalnya kepada sesama bidan/
petugas lainnya, dalam rangka meningkatkan kemampuan lain bidang
kebidanan.
3) Bersedia selalu membimbing dan mendidik siswa bidan agar mereka
dapat berkembang menjadi bidan yang baik dan terampil.

5. Tanggung Jawab Terhadap Profesi Bidan


1) Setiap bidan harus selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan
profesionalnya, baik secara perorangan maupun bersama-sama, dengan
menambah ilmu, ketrampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi
perkembangan kebidanan.
2) Harus selalu menjunjung tinggi nama baik profesi bidan dengan
menunjukkan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur dan bermartabat.
3) Harus selalu membina dan memelihara mutu organisasi profesi bidan
sebagai sarana pengabdiannya.
4) Berperan dalam pembakuan dan pembaruan pendidikan dan pelayanan
perawatan.

6. Tanggung Jawab Bidan Terhadap Pasien, Keluarga Dan Masyarakat


1) Dalam melaksanakan kewajibannya, seorang bidan harus melaksanakan
pengabdiannya dengan senantiasa berpedoman dan bertanggung jawab
akan kebutuhan untuk individu, keluarga dan masyarakat.
2) Harus selalu memelihara suasana lingkungan yang serasi dengan
menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat, agama, kepercayaan pasien,
keluarga dan masyarakat.
3) Bidan harus selalu bersedia mengambil prakarsa dan menjalin hubungan
yang baik, ramah, jujur dan ikhlas, sesuai dengan martabat dan tradisi luhur
kebidanan.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

4) Tidak menyalahgunakan kemampuannya untuk mengambil keuntungan


bagi dirinya sendiri.

E. Hak Dan Kewajiban Petugas Administrasi Di RSU William Booth Semarang


1. Petugas administrasi harus selalu mengisi data pasien/ rekam medis dengan
baik dan benar sesuai ketentuan yang berlaku, khususnya mengenai
masalah non medik (keuangan dan sebagainya).
2. Petugas administrasi harus selalu memegang rahasia pasien.
3. Petugas Rekam Medik harus selalu menjaga rahasia pasien dan menjaga
bahwa semua dokumen rekam medik tidak diambil/ diberikan kepada orang
yang tidak berhak.
4. Petugas keuangan harus mengisi data biaya perawatan/ pengobatan dengan
benar, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
5. Petugas keuangan tidak boleh mengganti jumlah biaya dalam kwitansi
apapun alasannya.
6. Petugas keuangan dilarang membuat rangkap kwitansi asli.
7. Jika pasien benar-benar terbukti tidak mampu, maka dilarang menahan
pasien dan dilarang untuk menerima tanggungan/jaminan.

F. Kode Etik Dan Peraturan Profesi Rekam Medik Di RSU William Booth Semarang
1. KEWAJIBAN UMUM:
a. Didalam melaksanakan tugas profesi, tiap pelaksana rekam medik harus
selalu bertindak demi kehormatan profesi dan organisasi.
b. Setiap pelaksana rekam medis harus selalu menjalankan tugas
berdasarkan ukuran profesi yang tertinggi.
c. Setiap pelaksana rekam medik lebih mengutamakan pelayanan daripada
keuntungan pribadi dan selalu berusaha memberikan pelayanan sesuai
dengan kebutuhan kesehatan yang bermutu bagi pasien.
d. Setiap pelaksana rekam medik selalu menyimpan dan menjaga berkas
rekam medik serta informasi yang terkandung didalamnya sesuai
ketentuan prosedur dan peraturan perundangan yang berlaku.
e. Setiap pelaksana rekam medik selalu menjunjung tinggi kerahasiaan
pasien dalam memberikan informasi.
f. Setiap pelaksana rekam medik selalu melaksanakan tugas yang
dipercayakan pimpinan kepadanya dengan penuh tanggung jawab, teliti
dan akurat.
g. Berusaha untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
profesional melalui upaya peningkatan diri secara berkelanjutan dan
melalui penerapan ilmu dan teknologi mutakhir rekam medik.
h. Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etik:
1)Menerima ajakan kerja sama seseorang untuk melakukan pekerjaan
yang menyimpang dari ketetapan/ peraturan yang berlaku.
2)Menyebarluaskan informasi yang terkandung dalam laporan rekam
medik yang dapat merusak citra profesi rekam medik, profesi lain
dan institusi.
3)Menerima imbalan jasa yang melebihi ketentuan yang berlaku.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

2. KEWAJIBAN HUBUNGAN ANTAR SESAMA ANGGOTA PROFESI:


a. Melindungi masyarakat dan profesi rekam medik dari penyimpangan
Kode Etik maupun pelanggaran profesi rekam medis dengan melaporkan
setiap penyimpangan kepada Majelis Kehormatan Etik Profesi Rekam
Medis.
b. Selalu berusaha menciptakan suasana kerja sama tim antar anggota
profesi rekam medik untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
c. Berpartisipasi dalam upaya mengemban dan memperkuat anggota
profesiuntuk mewakili penampilan profesi.
d. Menyerahkan jabatan/ kedudukan dalam suatu posisi dalam organisasi
secaraterhormat kepada pejabat baru yang dipilih.

3. KEWAJIBAN DALAM BERHUBUNGAN DENGAN ORGANISASI PROFESI


DAN INSTANSI LAIN:
a. Secara jujur memberikan informasi tentang identitas diri, profesi,
pendidikan dan pengalaman dalam setiap pengadaan perjanjian kerja
atau pemberitahuan yang berkaitan dengan tugasnya.
b. Menjalin hubungan baik dengan organisasi pemerintah dan organisasi
profesi lainnya dalam rangka peningkatan mutu profesi rekam medik
dan mutu pelayanan kesehatan.

4. KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI:


a. Setiap pelaksana rekam medik selalu menjaga kesehatan dirinya agar
dapat bekerja dengan baik.
b. Setiap pelaksana rekam medik harus selalu mengikuti perkembangan
rekam medik khususnya dan praktek kesehatan pada umumnya.
c. Setiap pelaksana rekam medik wajib menghayati dan mengamalkan
Kode Etik Profesi Rekam Medik dan mentaati peraturan perundangan
yang berlaku demi pengabdian yang tulus dalam pembangunan bangsa
dan negara.

G. Etik Tentang Hak Dan Kewajiban Pasien Di RSU William Booth Semarang
1. HAK PASIEN:
a. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
rumah sakit.
b. Pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
c. Memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi
kedokteran/ kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi.
d. Memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi
keperawatan.
e. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
f. Dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis dan
pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
g. Meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit
(second opinion) terhadap penyakit yang dideritanya, sepengetahuan dokter
yang merawat.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

h. Atas "privacy" dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data


medisnya.
i. Mendapat informasi yang meliputi :
1) Penyakit yang diderita.
2) Tindakan medik apa yang hendak dilakukan.
3) Kemungkinan penyulit sebagai akibat tersebut dan tindakan untuk
mengatasinya.
4) Alternatif terapi lainnya.
5) Prognosanya.
6) Perkiraan biaya pengobatan.
j. Menyetujui/ memberikan ijin atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter
sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
k. Menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya, dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah
memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.
l. Didampingi keluarga dalam keadaan kritis.
m. Menjalankan ibadah sesuai dengan agama/ kepercayaan yang dianutnya
selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
n. Atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah
sakit.
o. Mengajukan usul, saran perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap
dirinya.
p. Menerima atau menolak bimbingan moral maupun spiritual.

2. KEWAJIBAN PASIEN RSU WILLIAM BOOTH SEMARANG


a. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan
tata tertib rumah sakit.
b. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dan perawat
dalam pengobatannya,
c. Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya
tentang penyakit yang diderita kepada dokter yang merawat.
d. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua
imbalan atas jasa pelayanan rumah sakit/ dokter.
e. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah
disepakati dalam perjanjian yang telah dibuatnya.

3. TATA TERTIB PASIEN (TAMBAHAN BUKAN TERMASUK ETIK)


a. Pasien dan keluarganya dapat menggunakan fasilitas yang ada di RSU
William Booth Semarang, sesuai keperluan dan ketentuan di RSU William
Booth Semarang (telepon, mobil jenasah/ambulans, fasilitas lainnya).
b. Pasien dan keluarganya dimohon berperilaku, berbicara dan berpakaian
yang sopan selama berada di rumah sakit.
c. Disarankan tidak memakai/ membawa barang berharga. Kehilangan barang
tersebut bukan tanggung jawab pihak RSU William Booth, Semarang.
d. Uang dalam jumlah besar yang dibawa pasien/penunggu sebaiknya
dititipkan di Bagian Keuangan RSU William Booth Semarang
e. Tidak membawa alat elektronik yang dapat mengganggu pasien lainnya.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

f. Pasien Rawat Inap boleh ditunggu oleh pihak keluarga dengan jumlah yang
dibatasi
g. Penderita/ keluarga/ pengunjung ikut menjaga kebersihan, ketenangan dan
tidak merokok.
h. Keluarga dan pengunjung diperkenankan berkunjung pada jam yang
ditentukan.
i. Keluarga dan pengunjung disarankan tidak mencuci dan menjemur di
lingkungan RSU William Booth Semarang
j. Pasien/ keluarga/ pengunjung mentaati segala peraturan dan ketentuan
yang berlaku di RSU William Booth Semarang

H. Etik Rumah Sakit Yang Berhubungan Dengan Etika Kristen Di RSU William Booth
Semarang
RSU William Booth Semarang sebagai rumah sakit Kristen, maka ajaran, pendidikan
dan iman Kristen harus menjadi dasar dalam mengambil keputusan dan melakukan
suatu tindakan. Oleh sebab itu, setiap karyawan yang bekerja di RSU William Booth,
Semarang, baik karyawan tetap maupun karyawan kontrak harus menyadari dan
tidak melakukan tindakan/ perbuatan yang melanggar Etika Kristen, khususnya
dalam pelayanan terhadap pasien.
Seluruh karyawan RSU William Booth Semarang perlu memperhatikan beberapa
ketentuan Etik Kristen, mengenai hal-hal sebagai berikut:
1. Abortus: tidak diperkenankan untuk melakukan Abortus Provocatus Criminalis,
kecuali untuk menyelamatkan jiwa si ibu (abortus provocatus medicinalis).
2. Eutanasia: tidak diperbolehkan dengan alasan apapun.

I. Masalah Etik Medis Di RSU William Booth Semarang


1. KETENTUAN MATI:
a. Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti dan
irreversibel atau telah terjadi kematian batang otak.
b. Pada penyakit akut atau khronik berat, dapat terjadi fungsi pernafasan dan
jantung berhenti. Pada keadaan ini denyut jantung dan nadi berhenti secara
pasti, sehingga upaya resusitasi tidak berguna.
c. Upaya resusitasi hanya dilakukan pada mati klinis, yaitu bila denyut nadi
besar dan nafas berhenti, tapi masih diragukan apakah kedua fungsi spontan
jantung dan paru telah benar-benar berhenti secara irreversibel.
d. Upaya resusitasi darurat dapat diakhiri:
1) Bila ternyata pasien berada dalam stadium suatu penyakit yang tak
dapat disembuhkan kembali.
2) Bila dapat dipastikan, bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali
fungsi serebraInya.
3) Terdapat tanda-tanda klinis mati otak (pupil tetap dilatasi setelah 15-30
menit, reflek gag/ muntah tidak ada, setelah resusitasi tidak timbul
nafas spontan dan tidak timbul reflek gag/ muntah). Kecuali pada
keadaan hipotermis atau pasien di bawah pengaruh barbiturat/
anestesia.
4) Terdapat tanda-tanda mati jantung (garis datar pada EKG), paling sedikit
setelah 30 menit dilakukan resusitasi.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

5) Penolong terlalu lelah, sehingga tidak dapat melanjutkan upaya


resusitasi.

2. DIAGNOSIS MATI BATANG OTAK:


a. Pada fungsi batang otak yang menghilang, terdapat tanda-tanda
1) Koma.
2) Tidak ada sikap abnormal (dekortikasi, deserebrasi).
3) Tidak ada sentakan epileptik.
4) Tidak ada reflek batang otak.
5) Tidak ada nafas spontan.
b. Bila memang tanda-tanda fungsi batang otak yang hilang ada semua, maka
perlu dilanjutkan untuk memeriksa 5 reflek batang otak, yaitu
1) Tidak ada respons terhadap cahaya.
2) Tidak ada reflek kornea.
3) Tidak ada reflek vestibulo-okular.
4) Tidak ada respons motorik terhadap rangsangan adekuat pada area
somatik.
5) Tidak ada reflek muntah (gag) atau reflek batuk jika kateter dimasukkan
dalam trakhea.
c. Jangan dibuat diagnose mati batang otak, jika dokter ragu-ragu tentang
diagnosis primer dan kausa disfungsi batang otak yang reversibel. Sebaiknya
obati gangguan metabolik dan lengkapi tes klinis.

3. EUTANASIA:
a. Eutanasia berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kematian yang harus
diakhiri, yang sekarang banyak diartikan sebagai pengakhiran kehidupan
karena kasihan atas penderitaannya.
b. Ada 2 macam Eutanasia, yaitu:
1) Eutanasia Aktif: mempercepat kematian melalui tindakan medis yang
direncanakan. Eutanasia ini merupakan tindakan yang dapat dihukum,
karena melanggar KUHP pasal 304, 344, dan 345.
2) Eutanasia pasif: Penghentian segala upaya dan pengobatan yang tidak
berguna lagi, baik atas permintaan maupun tidak. Hal ini dapat dikenai
sangsi sesuai Fatwa IDI dengan memakai Triase Gawat Darurat (Critical
Care Triage) yang dikeluarkan oleh IDI.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

J. Penyelesaian Permasalahan Etik Di RSU William Booth Semarang


1. Jika terjadi pelanggaran etik dan atau hukum di RSU William Booth Semarang,
maka harus ditangani secara tepat, cepat dan bijaksana.
2. RSU William Booth Semarang harus membentuk Komite Etik Rumah Sakit untuk
menangani kasus pelanggaran Etik maupun hukum di RSU William Booth
Semarang
3. Komite Etik Rumah Sakit diberi kewenangan untuk menerima laporan
pengaduan, menyidik, membahas dan menyampaikan saran tindakan
pemecahan masalah etik kepada Direktur.
4. Semaksimal mungkin setiap masalah yang timbul diselesaikan secara
musyawarah kekeluargaan dan menghindari jangan sampai dibawa ke ranah
pengadilan.
5. Laporan pengaduan pelanggaran etik bisa berasal dari karyawan, pasien maupun
pihak lain ataupun ditemukan sendiri oleh Komite Etik Rumah Sakit.
6. Hanya pengaduan yang dapat dipertanggungjawabkan yang perlu
ditindaklanjuti, sedang surat kaleng atau pengaduan yang tidak jelas sumbernya
bisa menjadi bahan masukan rapat Komite Etik Rumah Sakit, dan jika Rapat
Komite Etik Rumah Sakit memutuskan tidak perlu ditindaklanjuti maka
pengaduan tersebut tidak perlu ditindaklanjuti.
7. Bila ada laporan pengaduan kepada Direktur, tentang terjadinya pelanggaran
etik yang disampaikan baik secara lisan/ tertulis, baik dari pasien, keluarga,
masyarakat atau dari karyawan RSU William Booth, Semarang, maka Direktur
akan meminta Komite Etik Rumah Sakit untuk menyelesaikan masalah itu.
8. Komite Etik Rumah Sakit segera menindaklanjuti dengan mencatat pelanggaran
yang terjadi, saran, kritik tersebut dalam buku khusus, dengan dilengkapi data
yang lengkap: waktu, tempat kejadian, masalah yang timbul, nama karyawan
yang terlibat, saksi serta nama, alamat, pekerjaan pelapor/ pengirim surat.
9. Jika identitas si pelapor jelas, maka Komite Etik Rumah Sakit memanggil yang
bersangkutan untuk dimintai keterangan/ penjelasan yang lebih lengkap.
10. Komite Etik Rumah Sakit kemudian memanggil karyawan RSU William Booth,
Semarang yang terlibat untuk dimintai keterangan.
11. Komite Etik Rumah Sakit memanggil saksi/ pihak lain yang mengetahui peristiwa
tersebut untuk mendapatkan keterangan yang lengkap.
12. Komite Etik Rumah Sakit mengadakan rapat untuk membahas pengaduan
tersebut dan mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya.
13. Jika dipandang perlu maka hasil rapat disampaikan kepada Komite Medik,
Komite Keperawatan dan atau komite Nakes lain untuk dimintakan pendapat
dan saran.
14. Komite Etik Rumah Sakit memberikan rekomendasi kepada Direktur RSU William
Booth, Semarang berserta saran penyelesaiannya.
15. Jika karyawan RSU William Booth, Semarang tidak terbukti bersalah melakukan
pelanggaran seperti yang diadukan, maka Direktur RSU William Booth,
Semarang akan memanggil pihak pelapor untuk menyampaikan hasil
penyelidikan yang telah dilakukan Komite Etik Rumah Sakit.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

16. Jika kesalahan ada dipihak karyawan RSU William Booth, Semarang maka
Direktur akan memberikan sanksi kepada mereka sesuai dengan Peraturan.
Direktur juga memberitahukan sanksi tersebut kepada pihak pelapor/ pengadu.
17. Jika pihak pelapor/ pengadu sudah puas dan menerima keputusan Direktur,
maka persoalan dianggap selesai.
18. Jika pihak pelapor/ pengadu walaupun sudah dilakukan musyawarah masih tidak
puas dengan keputusan Direktur RSU William Booth Semarang, maka masalah
ini oleh Direktur diteruskan ke Pengurus Ikatan Profesi yang bersangkutan, dan
jika perlu melaporkan masalah ini kepada Pengurus YPKBK
19. Jika ternyata dengan prosedur musyawarah kekeluargaan masalah belum
terselesaikan, maka sebagai langkah terakhir diselesaikan dengan menempuh
jalur hukum/ pengadilan.

K. Etik Tentang Penelitian (Riset) Dan Praktek Kerja Di RSU William Booth Semarang
1. RSU William Booth Semarang selain berfungsi untuk memberikan pelayanan
kesehatan kepada pasien dan masyarakat juga menjadi tempat
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan.
2. RSU William Booth Semarang dapat menjadi tempat penelitian dan praktek
kerja bagi pihak lain yang memerlukan misalnya mahasiswa yang ingin penelitian
(riset) dan praktek kerja di RSU William Booth Semarang
3. Penelitian (Riset) dan praktek kerja yang bisa diterima dilakukan di RSU William
Booth Semarang harus memenuhi persyaratan:
a. Ada surat permohonan dari pemohon riset atau praktek kerja atau
institusinya yang menugaskan riset.
b. Untuk permohonan riset harus disertai dengan proposal penelitian/ riset.
c. Ada permintaan resmi atau surat keterangan dari institusi tempat
mahasiswa belajar atau tempat pemohon berasal.
d. Riset dan praktek belajar tidak melanggar norma agama, etik dan hukum.
e. Riset dan praktek kerja tidak mengganggu proses pelayanan di RSU
William Booth, Semarang yang berakibat merugikan pasien.
f. Riset dan praktek kerja tidak boleh memperlakukan pasien sebagai bahan/
obyek percobaan.
4. Peserta riset atau praktek kerja harus mematuhi segala ketentuan peraturan
RSU William Booth Semarang dan peraturan perundangan lainnya yang berlaku.
5. Jika terjadi pelaggaran norma Agama, etik atau hukum, maka peserta riset atau
praktek kerja dan institusi asalnya harus ikut bertanggungjawab menyelesaikan
masalah tersebut termasuk menanggung kerugian yang ditimbulkan.

L. Kebijakan Dalam Menghadapi Dilema Etika


Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai
perilaku yang layak harus di buat. (Arens dan Loebbecke, 1991: 77). Untuk itu
diperlukan pengambilan keputusan untuk menghadapi dilema etika tersebut. Enam
pendekatan dapat dilakukan orang yang sedang menghadapi dilema tersebut, yaitu:
1. Mendapatkan fakta-fakta yang relevan
2. Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

3. Menentukan sikap dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi


dilema
4. Menentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema
5. Menentukan konsekwensi yang mungkin dari setiap alternative
6. Menetapkan tindakan yang tepat.

Dengan menerapkan 6 (enam) pendekatan tersebut maka dapat meminimalisasi


atau menghindari rasionalisasi perilaku etis yang meliputi:
1. semua orang melakukannya,
2. jika legal maka disana terdapat keetisan dan
3. kemungkinan ketahuan dan konsekwensinya.

Memang diakui, bahwa pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar
atau salah dan dapat menimbulkan stress pada tenaga kesehatan, khususnya dokter
dan perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, sementara banyak rintangan
untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai dokter/ perawat,
klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan dalam
mengambil keputusan.
Dalam menghadapi dilema etik, maka RSU William Booth Semarang dapat
mengambil salah satu metode yang dianggap sesuai atau pas dengan situasi dan
kondisinya, yang seminimal mungkin menimbulkan dampak yang tidak baik.
Beberapa pendapat para ahli atau pakar dapat dipakai sebagai referensi.
Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang
memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan
sebanding. Dari beberapa sumber, kerangka pemecahan dilema etik banyak
diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses
pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain:
1. Model Pemecahan masalah (Megan, 1989)
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil

2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )


a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukannya, dokter/ perawat memerlukan pengumpulan informasi
sebanyak mungkin meliputi :
1) Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
2) Apa tindakan yang diusulkan
3) Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
4) Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan
danmempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa


pengambil keputusan yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban petugas kesehatan
f. Membuat keputusan

3. Model Murphy dan Murphy


a. Mengidentifikasi masalah kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah etik
c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat/ dokter
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin
dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untukperawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebutuntuk membantu membuat keputusan
berikutnya.

4. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)


Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi Tindakan

5. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson (1981)


a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etisdan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

Dalam hal terjadi kebuntuan dalam memutuskan masalah etik, maka direktur
dapat mengambil keputusan. Direktur dapat melakukan konsultasi kepada ahli
etika dan para Rohaniwan.

M. Penyelesaian Permasalahan Yang Berkaitan Dengan Pembayaran Pasien Di RSU


William Booth Semarang
1. RSU William Booth Semarang menggunakan sistem billing terkomputerisasi
untuk penghitungan biaya pasien.
2. RSU William Booth Semarang mengutamakan transparansi, kejujuran dan
validitas data penghitungan biaya pasien.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

3. Pasien wajib membayar semua biaya yang diperlukan untuk perawatan dan
pengobatan di RSU William Booth Semarang
4. Pasien dan keluarganya bisa mengadukan ke pihak RSU William Booth,
Semarang jika mengalami ketidaknyamanan atau ketidakpuasan terkait
pembayaran biaya perawatan dan pengobatannya di RSU William Booth
Semarang
5. Pengaduan pasien/ keluarga terkait pembayaran dapat melalui: Kasir, perawat,
dokter, manajemen dan petugas lain di RSU William Booth Semarang
6. Pengaduan bisa berupa surat, sms, telpon, lisan, email atau cara lain yang wajar.
7. Pengaduan yang jelas sumbernya dan dapat dipertangungjawabkan akan
ditindaklanjuti manajemen dan hasilnya akan disampaikan kepada pelapor.
8. Pengaduan lewat surat kaleng atau cara lain yang tidak jelas sumbernya dapat
menjadi bahan masukan bagi manajemen namun tidak harus ditindaklajuti.
9. Jika karyawan dinyatakan bersalah dalam masalah pembayaran, maka karyawan
dikenai sangsi sesuai peraturan yang berlaku, dan hal tersebut disampaikan
kepada pengadu/ pelapor.
10. Jika pasien/ keluarganya dirugikan atas biaya pembayaran maka RSU William
Booth Semarang mengembalikan senilai kerugian tersebut kepada pasien/
keluarga.
11. Jika pelapor bisa menerima penjelasan dan penggantian kerugian (jika ada),
maka permasalahan dianggap selesai.
12. Penyelesaian permasalahan pembayaran semaksimal mungkin diupayakan
dengan jalan musyawarah mufakat dan tidak merugikan kedua belah pihak.
13. Jika ternyata pasien/ keluarga yang salah maka RSU William Booth Semarang
akan memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada Pasien/ keluarga.
14. Jika musyawarah mufakat tidak tercapai dan pasien/ keluarga bersikeras
menyelesaikan lewat jalur hukum, maka penyelesaiannya dilaksanakan di
Pengadilan Negeri Semarang.
15. Jika pasien tidak mampu membayar karena dari keluarga tidak mampu maka
RSU William Booth Semarang bisa memberikan keringanan sesuai dengan
peraturan yang berlaku
16. Direktur berwenang memberikan keringanan biaya pasien yang meminta
keringanan biaya, berdasarkan pertimbangan tertentu.

N. Logistik
Kebutuhan logistik Komite Etik RSU William Booth Semarang adalah sebagai berikut:
Buku referensi, alat tulis (kertas, ballpoint, pensil, penghapus, spidol dan tinta
printer.
a. Perencanaan dilakukan oleh Sekretaris Komite Etik Rumah Sakit, dengan
cara menghitung perkiraan kebutuhan barang logistik tersebut untuk 1 bulan
kedepan. Rencana kebutuhan barang logistik Komite Etik dan Hukum
tersebut harus ditandatangani oleh Ketua Komite Etik Rumah Sakit.
b. Permintaan/ Penyediaan
Rencana kebutuhan barang logistik yang sudah ditandatangi oleh Ketua Komite
Etik Rumah Sakit, selanjutnya diserahkan ke Unit Logistik RSU William Booth
Semarang. Unit Logistik mengadakan dan menyerahkan barang logistik tersebut

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

ke Komite Etik Rumah Sakit dan diterima oleh Sekretaris Komite Etik Rumah
Sakit.
c. Penyimpanan
Barang Logistik yang sudah diterima dari Unit Logistik selanjutnya dipergunakan
untuk kegiatan operasional, dan sisanya disimpan untuk keperluan 1 (satu)
bulan. Penyimpanan dilakukan dengan cara dimasukkan dalam almari dokumen.
d. Pengendalian barang logistik
Sekretaris Komite Etik Rumah Sakit wajib mengupayakan pengendalian
pemakaian barang logistik Komite Etik Rumah Sakit, diupayakan hemat dan
tidak terjadi pemborosan.

O. Keselamatan/ Keamanan Komite etik Rumah Sakit


1. Sasaran Keselamatan Pasien yang berlaku di RSU William Booth Semarang
adalah:
a. Ketepatan identifikasi pasien
b. Peningkatan komunikasi efektif
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
d. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi
e. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
f. Pengurangan resiko pasien jatuh.

2. Keselamatan dan keamanan dibidang Tim Etik dan Hukum di RSU William
Booth Semarang dilakukan dengan cara:
a. Ketepatan identifikasi pasien
Identitas pasien yang mengalami masalah etik dan atau hukum ditetapkan
menggunakan Identitas, yaitu nama dan tanggal lahir. Jika tanggal lahir tidak
diketahui maka alternatifnya menggunakan Nama dan nomor RM atau
alamat atau nomor NIK.
b. Peningkatan Komunikasi efektif
Komite etik Rumah Sakit dalam menangani maslah etik maupun hukum
yang melibatkan tenaga kesehatan harus terampil menggali informasi dari
tenaga kesehatan yang terlibat. Gunakan teknik komunikasi yang baik dan
jelas. Hindari terjadinya salah maupun deviasi informasi sedikitpun, karena
hal ini akan mempengaruhi rekomendasi yang akan dikeluarkan.
c. Rahasiakan identitas pasien
Jika ada kasus atau masalah etika maupun hukum yang mengenai pasien,
maka seluruh anggota Komite Etik Rumah Sakit wajib menjaga rahasia
identitas pasien tersebut. Identitas pasien bisa diungkap saat dilakukan
rapat membahas kasus tersebut, tetapi jika diluar rapat apalagi di tempat
pelayanan dilarang membicarakan kasus tersebut dengan menunjukkan
Identitas pasien dan atau keluarganya. Apabila sampai di pengadilan dan
pengadilan mengharuskan membuka identitas pasien dan atau keluarga
maka barulah Komite Etik Rumah Sakit diperkenankan menyebutkan
identitas pasien dan keluarga atas nama perintah pengadilan.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

d. Rahasiakan identitas petugas kesehatan


Jika terjadi kasus atau masalah etik maupun hukum yang melibatkan
petugas rumah sakit, maka seluruh anggota Komite Etik Rumah Sakit harus
merahasiakan identitas tenaga kesehatan yang terlibat. Hal ini untuk
menghidari terjadinya pencemaran nama baik atau hal lain yang tidak
diinginkan atas tenaga kesehatan yang diduga terlibat kasus etik maupun
hukum rumah sakit tersebut. Dalam rapat Komite etik Rumah Sakit
diperkenankan menyebutkan identitas tenaga kesehatan yang diduga
terlibat kasus etik dan atau hukum rumah sakit tersebut dalam rangka
memperjelas permasalahannya, namun jika di luar rapat maka Komite Etik
Rumah Sakit dilarang membicarakan dengan menyebut identitas tenaga
kesehatan yang diduga terlibat. Jika sampai masuk pengadilan maka jika
pengadilan mengharuskan Komite Etik Rumah Sakit membeberkan identitas
tenaga kesehatan yang diduga terlibat maka Komite Etik Rumah Sakit
diperkenankan menyebutkan identitas tenaga kesehatan yang diduga
terlibat atas nama pengadilan.
e. Rahasiakan Dokumen Komite Etik Rumah Sakit
Dokumen Komite Etik Rumah Sakit terutama dokumen yang menyangkut
kasus etik maupun hukum rumah sakit baik yang berupa soft copy maupun
hard copy pada dasarnya bersifat rahasia. Notula rapat juga termasuk
rahasia, tidak boleh semua orang yang tidak berhak membuka atau
membacanya tanpa seijin Ketua Komite Etik rumah sakit.
f. Oleh karena itu maka seluruh dokumen yang dimiliki oleh Komite Etik
Rumah Sakit wajib disimpan dengan rapi, aman dan rahasia, namun tetap
mudah dicari jika sewaktu-waktu diperlukan. Dokumen Komite Etik Rumah
Sakit yang berupa hard copy harus disimpan dalam almari dokumen yang
trekunci sehingga hanya Ketua atau Sekretaris Komite Etik Rumah Sakit saja
yang bisa mengambilnya.
g. Penempatan almari harus ditempat yang aman dari terkena air, jauh dari
sumber api dan jauh dari bahan bakar.
h. Dokumen soft copy yang ada di komputer harus diamankan dari akses oleh
orang yang tidak berhak. Harus ada password khusus yang hanya bisa
dibuka oleh Ketua atau Sekretasis Komite Etik Rumah Sakit dan manajemen
terkait yang ditetepkan.
i. Dokumen soft copy dalam flasdisk hanya dibawa oleh Sekretaris Komite Etik
Rumah Sakit. Sekretaris Komite Etik Rumah Sakit harus bertangungjawab
atas kerahasiaan dokumen dalam flashdisk tersebut. Kalau perlu harus
ada password khusus untuk membuka file dokumen dalam flashdisk yang
dibawa Sekretaris Komite Etik Rumah Sakit

P. Kewajiban Tenaga non klinis Lainnya


1. Tenaga non klinis lainnya wajib mematuhi perundang-undangan, peraturan dan
tata tertib yang berlaku di Rumah Sakit
2. Tenaga non klinis lainnya wajib melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan
standar mutu dan prosedur tetap yang berlaku di Rumah Sakit.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

3. Tenaga non klinis lainnya wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
berkaitan dengan tugas pekerjaannya.
4. Tenaga non klinis lainnya wajib membuat pencatatan dan pelaporan atas
pelaksanaan tugas pekerjaannya.
5. Tenaga non klinis lainnya wajib terus menerus menambah ilmu pengetahuan
dan mengikuti perkembangan ilmu yang terkait dengan tugas pekerjaannya.
6. Tenaga non klinis lainnya wajib mengadakan perjanjian hubungan kerja secara
tertulis dengan pihak Rumah Sakit.
7. Tenaga non klinis lainnya wajib memenuhi hal-hal yang telah disepakati atau
dalam perjanjian yang telah dibuatnya.
8. Tenaga non klinis lainnya wajib bekerjasama dengan profesi dan pihak lain yang
terkait secara timbal balik dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Q. Hubungan Rumah Sakit Umum William Booth Semarang dengan Lembaga Terkait
1. Rumah Sakit harus memelihara hubungan yang baik dengan pemilik berdasarkan
nilai-nilai dan etika yang berlaku di masyarakat Indonesia.
2. Rumah Sakit harus memelihara hubungan yang baik antar Rumah sakit dan
menghindarkan persaingan yang tidak sehat.
3. Rumah Sakit harus menggalang kerjasama yang baik dengan instansi atau badan
lain yang bergerak di bidang kesehatan.
4. Rumah Sakit harus berusaha membantu kegiatan pendidikan tenaga kesehatan
dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan kesehatan.

R. Kerjasama dengan Pelayanan Kesehatan Lainnya


1. Rumah Sakit Umum William Booth Semarang bekerjasama dengan jejaring
pelayanan kesehatan lainnya, lembaga-lembaga pendidikan, organisasi profesi
serta organisasi kesehatan lainnya yang relevan untuk meningkatkan pelayanan,
pendidikan dan penelitian.
2. Bila terdapat keterbatasan fasilitas atau tenaga ahli, demi kepentingan pasien,
Rumah Sakit Umum William Booth Semarang dapat bekerjasama dan merujuk
pasien ke Rumah Sakit lain yang lebih lengkap dengan sepengetahuan dan
persetujuan pasien atau keluarga pasien.
3. Rumah Sakit Umum William Booth Semarang menerima kerjasama dan rujukan
dari institusi kesehatan lainnya secara optimal yang memerlukan fasilitas Rumah
Sakit Umum William Booth Semarang demi penanganan pasien secara optimal.

S. Promosi Pemasaran Rumah Sakit


1. Pemberian informasi tentang hal-hal yang bersifat promosi, reklame dan iklan
serta marketing, dilaksanakan oleh bagian yang ditugaskan untuk hal tersebut
dengan tetap mengindahkan nilai-nilai etik.
2. Promosi, reklame dan iklan serta marketing harus menyatakan yang sebenarnya
dan sebaiknya menyatakan fakta yang signifikan, tidak mencantumkan hal-hal
yang menyesatkan masyarakat.
3. Promosi, reklame dan iklan serta marketing harus menahan diri dari membuat
pernyataan yang salah, menyesatkan atau tidak mendukung pesaing atau
produk/ jasa pesaing

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

4. Promosi, reklame dan iklan serta marketing harus bebas dari pernyataan,
ilustrasi atau implikasi yang menghina cita rasa yang baik atau kesopanan
masyarakat.

T. Tata Cara Penanganan Pelanggaran Etik dan Hukum di Rumah Sakit Umum William
Booth Semarang
1. Pengaduan pelanggaran etik dan hukum di Rumah Sakit Umum William Booth
Semarang dapat berasal dari :
a. Interna l : Unit Kerja Fungsional, Unit Kerja Struktural.
b. Eksternal : Kotak saran, Perorangan/ Pasien, atau lewat polisi, Kejaksaan,
LBH, media sosial ataupun instansi lain (melalui Unit Humas dan Unit TI)
2. Penanganan Pelanggaran Etik :
a. Pengajuan ditujukan langsung kepada Direktur Rumah Sakit.
b. Direktur Rumah Sakit meneruskan masalah tersebut kepada Komite Etik
Rumah Sakit Umum William Booth Semarang
c. Komite Etik Rumah Sakit Umum William Booth Semarang melakukan
penyelidikan terhadap masalah tersebut dengan mengumpulkan informasi
dengan penelitian rekam medis, mengubungi unit kerja ataupun memanggil
personal yang berhubungan dengan masalah.
d. Apabila pelanggaran ini merupakan pelanggaran murni kode etik profesi
maka Komite Etik Rumah Sakit Umum William Booth Semarang dapat
mengkonsultasikan kepada Ikatan Profesi yang bersangkutan.
e. Data dan informasi dari hasil penyelidikan yang telah dilakukan adalah
merupakan bahan yang akan dibahas dalam sidang Komite Etik Rumah
Sakit Umum William Booth Semarang.
f. Hasil sidang Komite Etik Rumah Sakit berupa saran, masukan dan
rekomendasi diserahkan kepada Direktur sebagai bahan pertimbangan
dalam pengambilan keputusan pemecahan masalah Etik dan Hukum yang
ada.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

3. Alur Penyelesaian Pengaduan Pelangaran Etika dan Hukum Rumah Sakit Umum
William Booth Semarang

MONITORING PELANGGARAN ETIK & HUKUM


Oleh Kepala Ruangan/Instalasi/Unit

KOMITE ETIK
REKAP HASIL MONITORING & PELAPORAN

DIREKTUR

SURAT PENGANTAR DARI DIREKTUR


UNTUK PENANGANAN KASUS ETIK & HUKUM

KOMITE ETIK DAN HUKUM


PEMBAHASAN DAN INVESTIGASI

PELANGGARAN NON ETIK PROFESI PELANGGARAN ETIK PROFESI

HASIL INVESTIGASI DAN REKOMENDASI BERKOORDINASI DENGAN:


a.
DILAPORKAN KEPADA DIREKTUR 1. KOMITE MEDIS ATAU
b.
2. KOMITE KEPERAWATAN
3. KOMITE STAF KESEHATAN LAIN

INVESTIGASI OLEH SUB KOMITE PROFESI

Hasil Investigasi dan Rekomendasi


dilaporkan kepada Direktur

c. KEPUTUSAN DIREKTUR

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

U. Penyelesaian Masalah Etik di Rumah Sakit William Booth Semarang


1. Pelanggaran etika meliputi kelalaian yang tidak sesuai dengan etik profesional,
prosedur tetap yang disepakati kebiasaan atau cara-cara yang telah lazim
diberlakukan dengan suatu kesadaran dan kesengajaan.
2. Pengaduan masalah etika dapat berasal dari unsur luar maupun dari dalam
Rumah Sakit Umum William Booth Semarang dan dapat diajukan kepada
Direktur maupun Komite Etik Rumah Sakit.
3. Dalam pelaksanaan tugasnya Komite Etik Rumah Sakit dapat minta bantuan/
pertimbangan dari badan-badan etika luar di Rumah Sakit Umum William Booth
Semarang seperti Ikatan Profesi lainnya.
4. Keputusan dan penerapan sanksi dari pelanggaran etika dilakukan oleh Direktur
setelah mempertimbangkan masukan, saran dan pertimbangan dari Komite Etik
Rumah Sakit.
5. Jika etika pelanggaran etika dilakukan oleh peserta didik, keputusan diteruskan
ke lembaga pendidikan yang bersangkutan dan selanjutnya sanksi diberikan.

V. Tata Cara Menghadapi Wartawan


Prosedur :
1. Dokter wajib menyimpan rahasia kedokteran mengenai penderita.
2. Dokter pada umumnya tidak ada hubungan dengan wartawan.
3. Dokter jangan melayani seseorang yang mengaku sebagai wartawan lewat
pembicaraan telepon atau yang tidak menunjukkan Kartu Wartawan.
4. Dokter berhak meminta wartawan menunjukkan Kartu Wartawan yang masih
berlaku.
5. Sebaiknya dokter segera membuat fotokopi kartu karyawan tersebut. Dalam
keragu-raguan mintalah konfirmasi kepada Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) cabang Semarang.
6. Dokter jangan melayani wartawan di tempat umum, sebaiknya di kamar kerja
atau kamar praktek.
7. Dokter sebaiknya merekam seluruh pembicaraan dengan wartawan dengan
tape recorder.
8. Dokter jangan membicarakan kasus tertentu dengan wartawan, kecuali kalau
suami/ istri penderita yang bersangkutan atau ayah/ ibu penderita yang
bersangkutan.
9. Dokter sebaiknya selalu memberi penyuluhan kesehatan kepada wartawan.
10. Dokter sebaiknya selalu melayani wartawan dengan memberikan jawaban
tertulis atau pertanyaan wartawan yang tertulis juga kalau pembicaraan itu
tidak direkam.
11. Dokter jangan terpengaruh oleh gertak/ intimidasi maupun perasaan oleh
wartawan.

W. Tatacara Menghadapi Pengacara Penuntut Hukum


Prosedur :
1. Dokter wajib menyimpan rahasia kedokteran mengenai penderita.
2. Dokter pada umumnya tidak mempunyai hubungan dengan pengacara pihak
lain.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

3. Dokter jangan melayani seseorang yang mengaku sebagai pengacara lewat


pembicaraan telepon, atau tidak mau menunjukkan surat kuasa khusus dari
penderira yang dewasa dan kesadaran penuh. Dalam hal penderita masih di
bawah umur, maka surat kuasa khusus tersebut harus dibuat oleh ayah atau ibu
penderita anak itu.
4. Dokter berhak meminta pengacara menunjukkan kartu identitas pengacara yang
masih berlaku. Sebaiknya dokter segera membuat fotokopi kartu identitas
pengacara tersebut atau mencatat apa yang tertera pada kartu identitas
pengacara tersebut. Dalam hal keragu-raguan mintalah didampingi pengacara
pribadi atau Ketua IDI Cabang, Ketua MKEK, Ketua MP2A.
5. Dokter jangan melayani pengacara di tempat umum, sebaiknya di kamar kerja
atau kamar praktek.
6. Dokter sebaiknya merekam seluruh pembicaraan dengan pengacara pada tape
recorder.
7. Dokter jangan memberikan kasus tertentu dengan Pengacara yang tidak diberi
kuasa khusus oleh penderita tertentu tersebut, kecuali kalau pengacara dapat
menunjukkan bahwa ia suami/ istri penderita yang bersangkutan atau ayah/ ibu
penderita anak yang bersangkutan.
8. Dokter sekali-kali jangan memberikan rekam medis asli/ fotokopi/ salinan dari
penderita maupun kepada pengacara.
9. Dokter sebaiknya selalu memberikan penyuluhan kesehatan kepada pengacara.
10. Dokter sebaiknya hanya melayani pengacara dengan memberikan jawaban
tertulis atas pernyataan tertulis juga kalau pembicaraan itu tidak direkam.
11. Dokter jangan terpengaruh oleh gertak/ intimidasi maupun pemerasan
pengacara.

X. Etika Penelitian di Rumah Sakit William Booth Semarang


Penelitian merupakan salah satu misi penting Rumah Sakit. Perkembangan ilmu
kedokteran sangat ditunjang oleh hasil-hasil penelitian yang baik. Namun penelitian
juga dapt membawa dampak negatif dalam bentuk penyimpangan etika maupun
hukum, oleh karena itu diperlukan adanya panitia Etika Rumah Sakit (Tim Etik dan
Hukum) yang dapat bertanggung jawab terhadap pelaksanaan etika penelitian yang
baik di Rumah Sakit.
Maka setiap penelitian kedokteran yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum William
Booth Semarang ini harus mendapat ijin dari Komite Etik Rumah Sakit Umum
William Booth Semarang dalam bentuk “ethical elearance”.
1. Landasan kerja dalam pemberian “ethical elearance” terhadap penelitian
kedokteran yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum William Booth Semarng
berpedoman kepada :
a. Nurembarg Code : yang mengharuskan adanya persetujuan subyek
penelitian dalam bentuk informd consent.
b. Deklarasi Helsinki : yang merupakan panduan untuk melakukan penelitian
klinis, keharusan adanya pertimbangan etika (ethical elearance) sebelum
pelaksanaan suatu penelitian.
c. Kode Etik Kedokteran Indonesia.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

2. Dasar-dasar pertimbangan dalam pemberian “ethical elearance”.


Dalam dasar-dasar pertimbangan pemberian “ethical elearance” yang perlu
diperhatikan adalah : Kriteria Kepatutan, terdiri dari:
a. Eksperimen terhadap pasien hanya diperbolehkan atas dasar indikasi medis
serta pertimbangan ilmiah yang jelas. Hal ini perlu untuk melindungi hukum.
Ada harapan bahwa eksperimen itu akan memberikan pandangan baru yang
tidak dapat diperoleh denga cara lain.
b. Arti eksperimen ini harus sebanding dengan risiko yang dihadapi orang
percobaan.
c. Kepentingan subyek penelitian selalu dipertimbangkan di atas kepentingan ilmu
pengetahuan.
d. Eksperimen tersebut harus sesuai dengan prisnsip ilmiah dan harus didasarkan
atas penelitian laboratorium maupun penelitian hewan percobaan dan juga
harus didasarkan atas pengetahuan dan cukup dari kepustakaan ilmiah.
e. Dalam pelaksanaan eksperimen, tiap pasien harus yakin bahwa metode
diagnostik atau teraupetik yang sebaik mungkin yang digunakan.
f. Bentuk dan cara pelaksanaan penelitian oleh peneliti yang berkualitas baik dan
harus dinilai oleh sebuah panitia indpendent.
g. Eksperimen tersebut harus dilaksanakan oleh peneliti yang berkualitas baik dan
harus diawasi oleh dokter yang berkompeten.

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

BAB V
DOKUMENTASI

A. Dokumentasi Penerapan Sasaran Keselamatan Pasien


Dokumentasi penerapan Etik RSU William Booth Semarang dilakukan melalui:
1.Pelaporan tentang pelanggaran Etik dan Hukum
2.Rekap hasil monitoring dan pelaporan
3.Rekomendasi kepada Direktur terkait pelanggaran Etik dan Hukum

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20
Lampiran : Peraturan Direktur RSU William Booth Semarang
Nomor : 024/RSUWB/PAN/DIR/I/2020
Tentang : Panduan Komite Etik RSU William Booth Semarang

BAB VI
PENUTUP

Panduan Komite Etik Rumah Sakit ini merupakan dokumen yang dinamis mengikuti
perkembangan etik rumah sakit. Minimal 1 (satu) kali dalam 3 (tga) tahun Panduan
Komite Etik Rumah Sakit ini perlu ditinjau ulang, diperbarui dan kalau perlu direvisi.
Dengan diterbitkannya Panduan Kerja Komite Etik Rumah Sakit ini, diharapkan dapat
mendukung penerapan etik dan ketaatan hukum di rumah sakit dalam melaksanakan
pelayanan yang berfokus pada pelanggan.

Sejalan dengan perkembangan pelayanan Komite Etik Rumah Sakit di berbagai daerah,
baik swasta maupun pemerintah, tentunya Komite Etik RSU William Booth Semarang
terus memperbaiki dan mengembangkan Panduan ini sesuai dengan kebutuhan
perkembangan perumahsakitan.

Semarang, 23 Januari 2020


RSU William Booth Semarang

Drg. Erwita Dinarsari, MARS


Direktur

PAN.RSUWB.ETIKRS.01.R.00.T.03.03.20