Anda di halaman 1dari 14

PRESENTASI KASUS DEMAM TYPHOID

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT HUSADA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

Topik : Demam Typhoid


Nama penyaji : Priyanto
NIM : 11-2009-119
Dokter pembimbing : Dr. Titi Sunarwati Sularyo Sp. A(K)

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. P
Umur : 11 tahun 1 bulan
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Jl. Muara Baru Jak-Ut
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 25 April 2011
Tanggal keluar RS : ?

IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ayah : Tn. M Nama Ibu : Ny. H
Umur : 34 tahun Umur : 30 tahun
Pendidikan terakhir : SMP Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan : Karyawan Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Penghasilan : 4.000.000 Penghasilan :-

ANAMNESIS
Alloanamnesis dari ibu pasien tanggal 26 April 2011
Keluhan utama : demam sejak 10 hari SMRS
Keluhan tambahan : pusing, mual, muntah, nyeri perut

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sejak 10 hari SMRS pasien. Demam naik-turun. Biasanya suhu tinggi


pada sore dan malam hari(suhu tidak diukur dengan termometer) . Selama
demam pasien tidak menggigil, tidak ada kejang, tidak keluar keringat malam.
Selain itu pasien juga ada pusing , nafsu makan menurun, ada mual tapi tidak
ada muntah. Mimisan tidak ada, keluar darah dari gusi tidak ada, tidak timbul
bintik-bintik dibadan. Pasien lalu dibawa oleh orangtuanya ke dokter dan
diberikan obat antibiotika, penurun panas. Setelah minum obat ternyata belum
ada perbaikan.
Sejak 7 hari SMRS orangtua pasien membawa pasien kembali ke dokter
yang sama,lalu dokter memberikan obat yang sama dan menganjurkan
pemeriksaan darah rutin dan tes widal. Lalu orangtua pasienpun melakukannya

1
dan hasilnya pada pemeriksaan darahnya terdapat penurunan trombosit dan tes
widalnya negatif.
Sejak 2 hari SMRS pasien masih demam, pusing, nafsu makan menurun.
Badan pasien terasa lemah, mual disertai muntah 1 x, sebanyak 1/4 gelas aqua,
berisi makanan yang dimakan, darah tidak ada. Mengeluh nyeri perut. Selama
sakit BAB pasien 3 hari sekali, cair, ampas(+). BAK lancar, warna kuning, nyeri
saat BAK tidak ada. Sebelum sakit pasien memiliki kebiasaan sering makan
jajanan pinggir jalan dan disekolahnya.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


(-)

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak ada teman - teman sekitar rumah dan keluarga yang sakit seperti ini

RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


a. Antenatal care : Teratur f. Masa gestasi : Cukup bulan
b. Tempat kelahiran : Rumah bidan g. Berat badan lahir : 2900 gram
c. Ditolong oleh : Bidan h. Panjang badan lahir: 49 cm
d. Cara persalinan : Spontan i. Sianosis : Tidak ada
e. Penyakit kehamilan : Tidak ada j. Ikterus : Tidak ada
Kesan : Neonatus cukup bulan dan sesuai masa kehamilan

CORAK REPRODUKSI
Pasien anak pertama dari dua bersaudara dalam keluarga

DATA PERUMAHAN

Kepemilikan rumah : rumah milik sendiri


Keadaan rumah : satu rumah ditinggali 3 orang. Luas bangunan 9 cm x 10
cm, dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur, dan 1
ruang tamu. Cahaya matahari dapat masuk dan mencapai
sebagian besar ruangan. Ventilasi terdiri 3 jendela
disetiap ruangan. Rumah mempunyai 1 buah pintu
masuk.
Keadaan lingkungan : saluran air sekitar rumah lancar, tidak bau dan sering
dibersihkan.

RIWAYAT IMUNISASI
Imunisasi Waktu Pemberian
Bulan Tahun
0 1 2 3 4 6 9 15 18 5 6 12
BCG I
DPT I II III
Polio (OPV) I II III IV
Hepatitis B I II III
Campak I

Kesan : Imunisasi dasar lengkap, namun booster tidak dilakukan dan imunisasi
tambahan (non-PPI) belum dilakukan.

2
RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Psikomotor
- Tengkurap : 3 bulan - Berjalan : 11 bulan
- Duduk : 5 bulan - Berlari : 12 bulan
- Merangkak : 7 bulan - Berbicara : 24 bulan
- Berdiri : 9 bulan
Sekolah TK A : 5 tahun
Sekolah TK B : 6 tahun
Sekolah SD kelas 1 : 7 tahun
Sekolah SD kelas 2 : 8 tahun
Sekolah SD kelas 3 : 9 tahun
Sekolah SD kelas 4 : 10 tahun
Sekolah SD kelas 5 : 11 tahun
Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia.

Riwayat Makanan
Usia 0 - 4 bulan : ASI ad libitum dan on demand
Usia 4 - 12 bulan : Susu bebelac 7-8 x @ 180 cc, Bubur Susu 2 x mangkuk
kecil, nasi tim 2x mangkuk kecil, buah pisang atau pepaya
1x/hari.
Usia 1 tahun sampai sekarang : Susu Sustagen 4 x @ 180 cc, nasi 3 x @ 1 piring
kecil + sayur (bayam/labu) + lauk (1 potong
ayam/ikan/tahu), porsi makan dihabiskan, buah
pisang atau pepaya atau apel 1x/hari.
Kesan : Kualitas cukup kuantitas : cukup

PEMERIKSAAN FISIK

Tanggal 26 April 2011


Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis , Kontak aktif (+)
Tanda vital : - Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Nadi : 112 x / menit
- Suhu : 39 0C
- Pernapasan : 40 x / menit

Data Antropometri
Berat badan : 36 Kg (sesuai persentil 50 menurut NCHS)
Panjang badan : 153 cm (sesuai antara persentil 75 dan 80
menurut NCHS)
Kesan : status Gizi cukup

Pemeriksaan Sistematis
Kepala : Bentuk normal, tidak teraba benjolan, rambut hitam
distribusi merata, tidak mudah dicabut. Ubun-ubun
besar sudah menutup
Mata : Bentuk normal, palpebra superior dan inferior tidak cekung,
kedudukan bola mata dan alis mata simetris, konjungtiva tidak

3
anemis, sklera tidak ikterik, kornea jernih, pupil bulat isokor
diameter 3 mm, refleks cahaya +/+.
Telinga : Bentuk normal, MAE lapang, serumen -/-, sekret -/-
Hidung : Bentuk normal, deviasi septum tidak ada, sekret tidak ada.
Mulut : Bentuk tidak ada kelainan, bibir : kering, sianosis tidak ada,
Lidah : kotor, tepi hiperemis, tonsil :T1-T1, faring tidak hiperemis.
Leher : Tidak ada kelainan, kelenjar getah bening tidak teraba membesar,
trakea di tengah, kaku kuduk (-)
Thorax
Paru-paru
- Inspeksi : bentuk normal, simetris keadaan stasis dan dinamis.
- Palpasi : Stem fremitus kanan sama dengan kiri
- Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru.
- Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-.
Jantung
- Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus cordis
- Palpasi : Teraba pulsasi ictus cordis di sela iga V MCLS.
- Perkusi : Tidak di lakukan
- Auskultasi : Bunyi jantung I - II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
- Inspeksi : datar, tidak tampak gambaran vena kolateral,
- Palpasi : Supel, nyeri tekan (+), nyeri tekan epigastrium
(+), hepar dan lien tidak teraba.
- Perkusi : Timpani, shifting dullness (-)
- Auskultasi : Bising usus (+)
Genitalia eksterna : laki-laki, tidak ada tanda radang, fimosis(-), hernia (-).
Ekstremitas : akral hangat, tidak ada deformitas, tidak ada edema
Kulit : warna sawo matang, turgor kulit baik, petechiae(-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium tanggal 25 April 2011 :
Hematologi
- LED : 17 (0-10)
- Hemoglobin : 11,6 g / dl (11-15 g / dl)
- Hematokrit : 33 Vol % (37-47 Vol %)
- Leukosit : 5500 / μl (5-10 x 10 3 / μl)
- Trombosit : 86.000 / μl (150-350 x 103 / μl)
- MCV : 69 fl (82-92)
- MCH : 24 pg (26-32)
- MCHC : 35 % (31-36%)
- Sel inti tembereng : 70% (50-70%)
- LImfosit : 26 (20-40)
- Monosit :4 (2-8)
- Eritrosit : 4,75 juta (4,80-6,20juta)
- Retikulosit : 28500 (25000-75000)
- CRP : 5,13 (<0,5)

Sero imunologi
Salmonella-typhii IgM (Tubex) : +6 0-2 : Negatif

4
3 : Borderline pengukuran tidak
dapat disimpulkan,ulangi
pengujian. Bila meragukan
lakukan sampling ulang
beberapa hari kemudian.
4-5 : Demam typhi aktif
>6 : Kuat,Demam typhi aktif

RESUME
Telah diperiksa anak laki-laki berusia 11 tahun 1 bulan dengan keluhan demam
sejak 10 hari SMRS, demam naik-turun, suhu tinggi pada sore dan malam hari,
tidak menggigil, tidak kejang, tidak keluar keringat malam. Pasien juga ada
pusing , nafsu makan menurun, mual. Pasien dibawa ke dokter dan diberikan
obat antibiotika, penurun panas tetapi belum ada perbaikan.7 hari SMRS
orangtua pasien membawa pasien kembali ke dokter yang sama,lalu dokter
memberikan obat yang sama dan menganjurkan pemeriksaan darah rutin dan tes
widal. Hasilnya ditemukan trombosit dan leukosit menurun sedangkan tes widal
negatif. 2 hari SMRS Badan pasien terasa lemah, mual disertai muntah 1 x,
sebanyak 1/4 gelas aqua, berisi makanan yang dimakan, darah tidak ada. Nyeri
perut(+). BAB 3 hari sekali,cair ampas(+). Sebelum sakit pasien memiliki
kebiasaan sering makan jajanan pinggir jalan dan disekolahnya.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


KU : Tampak sakit sedang ; Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital : TD: 110/70 mmHg ; N: 112 x / m ; S: 40 0C ; RR: 26 x / m
Mulut : lidah kotor dengan tepi hiperemis
Abdomen : nyeri tekan (+), nyeri tekan epigastrium (+)
Dari pemeriksaan laboratorium (25 April 2011) didapatkan :
- LED : 17
- Eritrosit : 4,75 juta
- Retikulosit : 28500
- CRP : 5,13
- Salmonella-typhii IgM (Tubex) : +6 :

DIAGNOSIS KERJA
Demam tifoid

DIAGNOSA BANDING
Tidak ada

PEMERIKSAAN ANJURAN
(-)

PENATALAKSANAAN
1. Non medikamentosa :
Tirah baring dan observasi tanda-tanda vital.
IVFD D5% 2L/hari
Maintenance: ( 10x100 cc ) + ( 10x50 cc )+(16x20) = 1820 cc
Koreksi suhu: 2 x 12% x 1820 cc = 436 cc

5
--------------
Total kebutuhan cairan 2256 cc
2256 cc/24jam  2000 cc/24jam.
Makanan lunak tinggi protein,kalori dan rendah serat
2. Medikamentosa :
Kloramfenicol 4 x 500 mg
Paracetamol 4 x 250 mg
Domperidon : 3,75 mg /x K/P

PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad fungsionam: bonam
Ad sanationam : bonam

FOLLOW UP
27 / 04 /11 28 / 06 /06 29 / 06 /06 30 / 06 /06
S Demam +, mual Demam +, pusing Demam +, pusing Demam berkurang,
+,BAB1x., pusing +, nyeri perut + berkurang, nyeri pusing berkurang,
dan nyeri perut perut berkurang nyeri perut (-)
berkurang

O KU: tampak sakit KU: tampak sakit KU: tampak sakit KU: tampak sakit
sedang; sedang; sedang; ringan;
TTV:110/70, TTV:100/70, TTV:110/70, TTV:100/7
90x/m,S37,8°C 110x/m,S40,1°C, 100x/m,S39,1°, 100x/m,S36,7°C RR
RR 22x/m RR 24x/m RR 22x/m 20x/m
Lab.26-04-11 Lab.27-04-11 Nyeri tekan Nyeri tekan
Hb: 12,4 Hb: 11 (+) (-)
Ht: 37% Ht: 33% NT epigastrium NT epigastrium(-)
Eritrosit: 5,06jt Leukosit: 4700 (+) Lab.29-04-11
Leukosit: 7600 Trombosit: 58000 Lab.28-04-11 Hb: 11,1
Trombosit: 74000 Anti Dengue Hb: 10,7 Ht: 33%
NTepigastrium(+) IgG : (-) Ht: 32% Leukosit : 4500
Anti Dengue IgM Leukosit : 4900 Trombosit: 116.000
: (-) Trombosit: 79000
NTepigastrium(+)
A Demam tifoid Demam tifoid Demam tifoid Demam tifoid
P IVFD D5% Th/ lanjutkan Th/ lanjutkan Th/ lanjutkan
2L/24jam
Kloramfenicol 4 x
500 mg
Paracetamol 4 x
250 mg
Domperidon : 3,75
mg /x K/P

6
TINJAUAN PUSTAKA
TIFUS ABDOMINALIS

DEMAM TIFOID ( TYPHOID FEVER )

PENDAHULUAN
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada
saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 1 minggu, gangguan pada
saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Demam tifoid
merupakan penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan oleh infeksi sistemik
Salmonella; 96 % kasus demam tifoid disebabkan oleh S. thypi, sisanya
disebabkan oleh S. Parathypi. Sembilan puluh persen kasus demam tifoid terjadi
pada umur 3 – 19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Pada minggu
pertama sakit, demam tifoid sangat sukar dibedakan dengan penyakit demam
lainnya. Untuk memastikan diagnosis diperlukan pemeriksaan biakan kuman
untuk konfirmasi.
Salmonella thypi, gram negative, memiliki flagel (bergerak) , tidak
menghasilkan spora Salmonella dikelompokkan berdasarkan antigen O
( Somatik antigen) dan lebih lanjut dibagi menjadi serotype berdasarkan Antigen
flagel (Antigen H) dan Antigen permukaan / kapsul (Antigen Vi = Antigen
Virulensi).

PATOGENESIS
Kuman masuk melalui makanan / minuman , setelah melewati lambung
kuman mencapai usus halus (ileum) dan setelah menembus dinding usus
sehingga mencapai folikel limfoid usus halus (plaque Peyeri). Kuman ikut aliran
limfe mesenterikal ke dalam sirkulasi darah ( bakteremia primer) mencapai
jaringan Retikulo endoplasmic sistim (hepar, lien, sumsum tulang untuk
bermultiplikasi) berlangsung singkat, terjadi 24 – 72 jam setelah kuman masuk.
Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga
organ-organ tersebut membesar disertai nyeri pada perabaan. Setelah 5 – 9 hari
kuman masuk kembali ke aliran darah (Bakteremi kedua) dan menyebar
keseluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan
tukak berbentuk lonjong pada mukosa diatas plak Peyeri. Tukak tersebut dapat
menyebabkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh
endotoksin. Masa inkubasi 10 – 14 hari.

GEJALA KLINIS
⇒ Riwayat
Periode inkubasi demam tifoid bervariasi tergantung dari beratnya infeksi, rata-
rata 10 – 20 (jarak 3 – 56) hari. Pada demam paratyphoid, periode inkubasi rata-
rata 1 – 10 hari. Durasi penyakit pada pasien yang tidak ditangani umumnya 4
minggu.
Pasien sering asimptomatis selama periode inkubasi, umumnya 7 – 14 hari tetapi
dapat pendek selama 3 hari dan panjang selama 60 hari tergantung jumlah
organisme yang dicerna. Pada masa inkubasi 10 – 20 pasien mengalami diare
transient.

7
Pada masa bakteremia, Periode inkubasi berakhir dan pasien mulai mengalami
demam, dimana umumnya meningkat secara bertahap dalam 2 – 3 hari. Hampir
semua pasien mengalami demam, dan sebagian besar disertai nyeri kepala.
Pada minggu pertama, gejala tidak spesifik, dengan nyeri kepala, malaise dan
peningkatan demam remiten hingga suhu 39 – 40 ° C
Sering disertai konstipasi dan batuk nonproduktif sedang.

⇒ Pemeriksaan Fisik
Bintik-bintik kemerahan diameter 2 – 4 meter (Rose spots) yang menghilang
saat penekanan, timbul pada abdomen atas dan dada bagian bawah antara hari ke
tujuh dan dua belas. Rose spots disebabkan oleh embolisasi bakteri dalam
kapiler kulit. Pada saat yang bersamaan umumnya ditemukan relative bradikardi.
Selama minggu ke dua, pasien tampak penampilan toksik dan tampak apatis
dengan disertai pireksia. Perut kembung ringan, dan umumnya ditemukan
hepatosplenomegali.
Pada minggu ke tiga, Peningkatan toksisitas dan pertimbangkan adanya
penurunan berat badan. Persisten pireksia dan keadaan delirium (Typhoid state).
Perut kembung menjadi lebih berat , dan diare dengan tinja cair, berbau busuk
dan berwarna hijau-kekuningan. Pasien tampak lemah dan takipneu. Pada
keadaan ini dapat terjadi kematian karena toksemia yang berlebihan, miokarditis,
perdarahan intestinal atau perforasi.
Pada pasien yang dapat bertahan hingga minggu ke empat , demam, tingkat
kesadaran dan perut kembung secara perlahan membaik dalam bebrapa hari,
tetapi komplikasi intestinal masih terjadi. Memasuki periode konvalesen dan
kebanyakan relaps (kambuh) terjadi pada masa ini.

RELAPS (kambuh)
Yaitu keadaan berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis, akan tetapi lebih
ringan dan lebih singkat. Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil
dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun zat
anti. Mungkin pula terjadi pada waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil
bersamaan dengan pembentukan jaringan-jaringan fibroblast.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid


dibagi dalam empat kelompok, yaitu :

(1) pemeriksaan darah tepi

(2) pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman

(3) uji serologis, dan

(4) pemeriksaan kuman secara molekuler.

8
1. PEMERIKSAAN DARAH TEPI

Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal,
bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung
jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri, mungkin didapatkan
aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase lanjut. Penelitian oleh
beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta
laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal
yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam
tifoid atau bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi
dugaan kuat diagnosis demam tifoid.

Penelitian oleh Darmowandowo (1998) di RSU Dr.Soetomo Surabaya


mendapatkan hasil pemeriksaan darah penderita demam tifoid berupa anemia
(31%), leukositosis (12.5%) dan leukosit normal (65.9%).

2. IDENTIFIKASI KUMAN MELALUI ISOLASI / BIAKAN

Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi
dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari
rose spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih
mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit,
sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.

Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif
tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa
faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil biakan meliputi:
• jumlah darah yang diambil
• perbandingan volume darah dari media empedu; dan
• waktu pengambilan darah.

Volume 10-15 mL dianjurkan untuk anak besar, sedangkan pada anak kecil
dibutuhkan 2-4 mL. Sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk
kultur hanya sekitar 0.5-1 mL. Bakteri dalam sumsum tulang ini juga lebih
sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah. Hal ini dapat
menjelaskan teori bahwa kultur sumsum tulang lebih tinggi hasil positifnya bila
dibandingkan dengan darah walaupun dengan volume sampel yang lebih sedikit
dan sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya. Media pembiakan yang
direkomendasikan untuk S.typhi adalah media empedu (gall) dari sapi dimana
dikatakan media Gall ini dapat meningkatkan positivitas hasil karena hanya S.
typhi dan S. paratyphi yang dapat tumbuh pada media tersebut.

Biakan darah terhadap Salmonella juga tergantung dari saat pengambilan pada
perjalanan penyakit. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif 40-80%
atau 70-90% dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada
akhir minggu ketiga. Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita yang
telah mendapatkan antibiotika dan meningkat sesuai dengan volume darah dan
rasio darah dengan media kultur yang dipakai. Bakteri dalam feses ditemukan
meningkat dari minggu pertama (10-15%) hingga minggu ketiga (75%) dan

9
turun secara perlahan. Biakan urine positif setelah minggu pertama. Biakan
sumsum tulang merupakan metode baku emas karena mempunyai sensitivitas
paling tinggi dengan hasil positif didapat pada 80-95% kasus dan sering tetap
positif selama perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan.
Metode ini terutama bermanfaat untuk penderita yang sudah pernah
mendapatkan terapi atau dengan kultur darah negatif sebelumnya. Prosedur
terakhir ini sangat invasif sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari. Pada
keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada spesimen empedu yang diambil
dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik akan tetapi tidak
digunakan secara luas karena adanya risiko aspirasi terutama pada anak. Salah
satu penelitian pada anak menunjukkan bahwa sensitivitas kombinasi kultur
darah dan duodenum hampir sama dengan kultur sumsum tulang.

Kegagalan dalam isolasi/biakan dapat disebabkan oleh keterbatasan media yang


digunakan, adanya penggunaan antibiotika, jumlah bakteri yang sangat minimal
dalam darah, volume spesimen yang tidak mencukupi, dan waktu pengambilan
spesimen yang tidak tepat.

Walaupun spesifisitasnya tinggi, pemeriksaan kultur mempunyai sensitivitas


yang rendah dan adanya kendala berupa lamanya waktu yang dibutuhkan (5-7
hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak
praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode diagnosis baku dalam
pelayanan penderita.

3. IDENTIFIKASI KUMAN MELALUI UJI SEROLOGIS

Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam


tifoiddengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S. typhi
maupun mendeteksi antigen itu sendiri. Volume darah yang diperlukan untuk uji
serologis ini adalah 1-3 mL yang diinokulasikan ke dalam tabung tanpa
antikoagulan.

Beberapa uji serologis yang dapat digunakan pada demam tifoid ini meliputi :
• uji Widal
• tes TUBEX®
• metode enzyme immunoassay (EIA)
• metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), dan
• pemeriksaan dipstik.

Metode pemeriksaan serologis imunologis ini dikatakan mempunyai nilai


penting dalam proses diagnostik demam tifoid. Akan tetapi masih didapatkan
adanya variasi yang luas dalam sensitivitas dan spesifisitas pada deteksi antigen
spesifik S. typhi oleh karena tergantung pada jenis antigen, jenis spesimen yang
diperiksa, teknik yang dipakai untuk melacak antigen tersebut, jenis antibodi
yang digunakan dalam uji (poliklonal atau monoklonal) dan waktu pengambilan
spesimen (stadium dini atau lanjut dalam perjalanan penyakit).

10
UJI WIDAL

Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak
tahun 1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin
dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda
terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah
yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih
menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.

Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide
test) atau uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan secara cepat dan
digunakan dalam prosedur penapisan sedangkan uji tabung membutuhkan teknik
yang lebih rumit tetapi dapat digunakan untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan.

Penelitian pada anak oleh Choo dkk (1990) mendapatkan sensitivitas dan
spesifisitas masing-masing sebesar 89% pada titer O atau H >1/40 dengan nilai
prediksi positif sebesar 34.2% dan nilai prediksi negatif sebesar 99.2%.
Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak dengan hasil biakan positif,
ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64-74% dan spesifisitas
sebesar 76-83%.

Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain
sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor penderita seperti status
imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi;
gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-
endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.

Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya
melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan
penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat
dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). Saat ini
walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih
diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan
nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal
seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada anak sehat di populasi
dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer
antibodi O dan H pada anak-anak sehat. Penelitian oleh Darmowandowo di RSU
Dr.Soetomo Surabaya (1998) mendapatkan hasil uji Widal dengan titer >1/200
pada 89% penderita.

TES TUBEX®

Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang


sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang
berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan
menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada
Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut
karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi
IgG dalam waktu beberapa menit.

11
Walaupun belum banyak penelitian yang menggunakan tes TUBEX® ini,
beberapa penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa tes ini mempunyai
sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal. Penelitian oleh
Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%.
Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar
89%. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal, dapat digunakan untuk
pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di negara
berkembang.

METODE ENZYME IMMUNOASSAY (EIA) DOT

Uji serologi ini didasarkan pada metode untuk melacak antibodi spesifik IgM
dan IgG terhadap antigen OMP 50 kD S. typhi. Deteksi terhadap IgM
menunjukkan fase awal infeksi pada demam tifoid akut sedangkan deteksi
terhadap IgM dan IgG menunjukkan demam tifoid pada fase pertengahan
infeksi. Pada daerah endemis dimana didapatkan tingkat transmisi demam tifoid
yang tinggi akan terjadi peningkatan deteksi IgG spesifik akan tetapi tidak dapat
membedakan antara kasus akut, konvalesen dan reinfeksi. Pada metode
Typhidot-M® yang merupakan modifikasi dari metode Typhidot® telah
dilakukan inaktivasi dari IgG total sehingga menghilangkan pengikatan
kompetitif dan memungkinkan pengikatan antigen terhadap Ig M spesifik.

KOMPLIKASI

Perforasi usus atau perdarahan saluran cerna : suhu menurun, nyeri abdomen ,
muntah, nyeri tekan pada palpasi, bising usus menurun sampai menghilang,
defence muscular positif, pekak hati menghilang.
Ekstraintestinal : ensefalopati tifoid, hepatitis tifosa, meningitis, pneumonia,
syok septic, pielonefritis, endokarditis, osteomielitis, dan lain-lain.

DIAGNOSIS BANDING

Stadium dini : influenza, gastroenteritis, bronchitis


Tuberkulosis, infeksi jamur sistemik, malaria
Demam tifoid berat : Sepsis, leukemia, limfoma, meningitis tuberculosis.

PENALAKSANAAN
• Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian.
• Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat
sakit yang lama, lemah dan anoreksia.
• Istirahat selama demam sampai 2 minggu normal.
• Diet lunak
• Medikamentosa
• Antibiotik
Kloramfenikol (drug of choice) 50 – 100 mg/Kg/Hari, oral atau
IV, dibagi dalam 4 dosis selama 10 – 14 hari, atau
Amoksisilin 100 mg/Kg/hari, oral atau intravena, atau
Seftriakson 20 -80 g/Kg sekali sehari selama 5 hari

12
• Tindakan bedah
Tindakan bedah perlu dilakukan segara bila terdapat perforasi
usus.

PENCEGAHAN DAN PENDIDIKAN

• Higiene perorangan dan lingkungan


• Demam tifoid ditularkan melalui rute oro-fekal, maka pencegahan
utama memutuskan rantai tersebut dengan meningkatkan hygiene
perorangan dan lingkungan, seperti mencuci tangan sebelum
makan, penyediaan air bersih, pengamanan pembuangan limbah
feses.
• Imunisasi
Imunisasi aktif terutama diberikan bila terjadi kontak dengan
pasien demam tifoid, terjadi kejadian luar biasa, dan untuk turis
yang berpergian ke daerah endemic.
Vaksin polisakarida (capsular Vi polysaccharide), pada usia 2
tahun atau lebih, diberikan secara intramuscular dan diulang
setiap 3 tahun
Vaksin tifoid oral (ty 21-a), diberikan pada usia > 6 tahun dengan
interval selang sehari (hari 1, 3 dan 5), diulang setiap 3 – 5 tahun,

PROGNOSIS

Umumnya prognosis baik dengan penanganan yang cepat. Mortalitas pada


penderita yang dirawat ialah 6 %. Prognosis menjadi kurang baik / buruk bila
terdapat gejala klinis yang berat seperti :
Panas tinggi (hiperpireksia) atau febris kontinua
Kesadaran menurun sekali yaitu spoor, koma dan delirium.
Terdapat komplikasi yang berat misalnya dehidrasi dan asidosis, peritonitis,
bronkopneumoni dan lain-lain.
Keadaan gizi penderita buruk (malnutrisi energi protein)

13
Referensi :
Typhoid fever. August11,2004. www.Emedicine.com/ ped/ topic 589.htm-124k
Hassan R, Alatas H. Demam tifoid. Dalam : Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta :FKUI, 2002 .hal 593-598.
Rampengan T, Laurentz I. Demam tifoid. Dalam : penyakit infeksi Tropik pada
Anak. Jakarta : EGC,1997. hal 53-71.

14

Anda mungkin juga menyukai