Anda di halaman 1dari 18

Available online al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies Website:

http://jurnal.nuruliman.or.id/index.php/alashriyyah
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020

TOLERANSI MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS


Ramlan Abdul Gani
E-mail: ramlan.gani@uinjkt.ac
No. Tlp/WA: xxx xxx xxx
Diterima: 27 Agustus2020; Diperbaiki: 2 September 2020; Disetujui: 5 September 2020
Abstrak

Abstract: Terminology tolerance (in Arabic: tasâmuh) in Islam basically dates from Surah al-
Kâfirûn. It is implied that in the life of religious there is a potential happened
different perspective. Islam is aware that among non-Muslim happen in the
understanding that her religion the right same with the Muslims feel that way. The
all supposition the truth in each is something necessity to remain consistent in
following a get it. Religion or get it considers himself indeed a habitude. If not,
people will tied to uncertainty confidence.
However, if there is no tolerance, religious people are also people whom apologis
and arrogant. How many from among all religions dare to die for maintaining the
truth religion are foolhardy. This is because people do not gives space to all else to
live in side by side, as if it is entitled to hold the right.
Command martyred (mati syahid) to maintain the truth islamic it is true that.
However, it must be performed when the people in the time of his distress for
example in a condition are attacked. In the condition of peace, islamic obliging him
to give space and even help each other. Give space to live to the followers other
that is the form of tolerance.
Keywords: Toleransi, Al-Qur’an, Hadits

137
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

PENDAHULUAN Asumsi bahwa agamanyalah yang paling


benar sementara agama yang lain adalah
Kebebasan yang merupakan salah berakibat pada tidak adanya rasa
bagian dari hak asasi manusia (HAM) toleransi dalam bermasyarakat dan
ada empat: kebebasan beragama dan bernegara. Persenggolan antarpemeluk
beribadah, kebebasan berserikat dan agama ini tidak jarang menimbulkan
berpendapat, kebebasan memperoleh konflik yang berlanjut menjadi peristiwa
kesejahteraan, dan kebebasan dari rasa berdarah. Jika ini terjadi, intoleransi
ketakutan dan rasa tidak aman. Di sudah menjadi persoalan hukum yang
antara keempat kebebasan tersebut ada harus segera diselesaikan.
kebebasan beragama dan beribadah. Betapa banyak peristiwa yang
Dalam ranah kebebasan beragama dan menyertai suatu peristiwa politik. Salah
beribadah inilah diperlukan adanya satu hal yang paling aktual adalah ada
toleransi antarpemeluk agama. Pilkada DKI Jakarta tahun depan ada
Toleransi (Arab: tasâmuh) potensi terjadinya konflik horizontal itu.
merupakan bagian dari sistem Baru-baru ini Ahok menyatakan bahwa
kehidupan manusia agar kehidupan orang Islam silakan tidak memilihnya,
teratur. Dalam berbangsa dan namun jangan gara-gara dia orang non-
bernegara, tidak jarang, toleransi Muslim. Di sini terjadi seolah-olah
menjadi persoalan. Hal ini disebabkan adanya orang Islam yang bakal tidak
karena manusia memiliki kepentingan memilihnya disebabkan oleh sentimen
yang berbeda-beda. Persoalan SARA. Dia lupa bahwa orang Islam
kepentingan yang berbeda itu akan sulit harus memilih pemimpin dari kalangan
diatasi manakala manusia yang ada di Muslim juga merupakan bagian dari
dalamnya tidak memperhatikan kaidah- ajaran Islam. Jika menggugat ajaran itu,
kaidah toleransi terutama jika suatu Ahok bakal melanggar aturan toleransi
kelompok mementingkan kelompoknya di Indonesia.
saja. Sifat arogan kelompok bisa Dalam makalah ini, akan dibahas
mengakibatkan tergerusnya sifat bagaimana Islam menyikapi kehidupan
toleransi, misal saling menyerang faham toleransi umat beragama. Pada tataran
secara fisik atau nonfisik. dassolen masih ada persoalan toleransi
Yang sering menjadi persoalan yang sering mengganggu kerukunan
dalam kelompok masyarakat adalah antaragama.
toleransi beragama. Seperti dinyatakan
bahwa beragama merupakan bagian dari PEMBAHASAN
hak asasi manusia (HAM). Adanya A. Toleransi Dalam Pandangan
pendekatan pada jargon negara yang Tokoh
menyatakan bahwa beragama Judul makalah ini adalah
merupakan hak asasi yang paling dasar “Toleransi Menurut Quran dan Hadis”.
biasanya mengakibatkan manusia mati- Terdapat tiga katakunci yaitu: toleransi,
matian mempertahankan agamanya. Quran, dan hadis. Toleransi merupakaan

Page | 138 Ramlan Abdul Gani


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

kata yang diserap dari bahasa pendiriannya sendiri, misal toleransi


Inggris tolerance yang berarti sabar dan beragama. Dalam bahasa Arab4, istilah
kelapangan dada. Kata kerja transitifnya yang lazim dipergunakan sebagai
adalah tolerate yang berarti sabar padanan kata toleransi
menghadapi atau melihat dan tahan adalah samâhah atau tasâmuh. Kata ini
terhadap sesuatu. Kata sifatnya pada dasarnya berarti al-
adalah tolerant yang berarti bersikap jûd (kemuliaan), atau sâ’at al-
toleran, sabar terhadap sesuatu.1 Yang sadr (lapang dada) dan tasâhul (ramah,
mirip dengan itu, Perez2 menyatakan suka memaafkan)5. Dengan demikian,
bahwa toleransi adalah membiarkan secara umum, toleransi berarti
orang lain berpendapat lain, melakukan membiarkan orang atau kelompok lain
hal yang tidak sependapat dengan kita, untuk melakukan tindakan apa pun
tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. yang dianggap benar walaupun hal itu
istilah dalam konteks sosial, budaya dan belum tentu sesuai dengan pendapat
agama yang berarti sikap dan perbuatan atau pendirian yang bersangkutan
yang melarang adanya diskriminasi sepanjang tidak saling mengganggu.
terhadap kelompok-kelompok yang Yang dimaksud Quran di sini
berbeda atau tidak dapat diterima oleh adalah ayat-ayat yang berhubungan
mayoritas dalam suatu masyarakat. dengan penjelasan toleransi.
Contohnya adalah toleransi beragama, Sebagaimana diketahui, Islam adalah
di mana penganut mayoritas dalam sistem ajaran yang terlengkap yang
suatu masyarakat menghormati diturunkan kepada Nabi Besar
keberadaan agama atau kepercayaan Muhammad saw. Di dalamnya terdapat
lainnya yang berbeda. penjelasan yang mengatur tatacara
W.J.S. Poerwadarminta3 kehidupan, termasuk cara bertoleransi,
menyatakan bahwa toleransi adalah sifat salah satunya adalah toleransi beragama.
atau sikap menenggang (menghargai, Hadis di sini dimaknai sebagai
membiarkan, membolehkan) pendirian segala tindak-tanduk dan perkataan
(pendapat, pandangan, kepercayaan, Rasulullah saw. tentang cara
kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) bertoleransi. Di bawah ini dikutip dari
yang lain atau bertentangan dengan berbagai sumber ayat dan hadis tentang
toleransi.
1
Jhon M. Echol dan Hassan Shadily, An
English-Indonesian Dictionary (Kamus Inggris
Indonesia), Cet. XXV (Jakarta: PT. Gramedia
B. Ayat dan Hadis tentang Toleransi
Pustaka Utama, 2003), h. 595.
2
Perez Zagorin, How the Idea of
Religious Toleration Came to the West
(Princeton University, 2003).
3 4
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Jamaluddin Muhammad bin Mukram
Bahasa Indonesia, Diolah Kembali oleh Pusat Ibn Al-Mandzur, Lisân al-‘Arab, Cet. I, Jilid VII
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, (Bairût: Dâr Shadr, t.t.), h. 249.
5
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Munawwir, “Kamus al-Munawwir
(Jakarta: PN Balai Pustaka W.J.S. Arab-Indonesia Terlengkap” (Surabaya: Pustaka
Poerwadarminta, 1982), h. 1084. Progresif, 1997), h. 657.
Ramlan Abdul Gani Page | 139
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

Banyak ayat yang menjelaskan


toleransi. Di bawah ini akan dikutip
beberapa ayat saja.
Di antara mereka ada orang-orang yang
beriman kepada Al-Quran, dan di
antaranya ada (pula) orang-orang yang
tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an).
Tuhanmu (Allah) lebih mengetahui
tentang orang-orang yang berbuat
kerusakan Jika mereka mendustakan
kamu, maka katakanlah: "Bagiku
Hai orang kafir aku tidak akan pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu.
menyembah apa (Tuhan) yang kamu Kamu berlepas diri (tidak terikat)
sembah, Dan kamu bukan penyembah terhadap apa yang aku kerjakan dan
apa (Tuhan) yang aku sembah, Dan aku akupun berlepas diri (tidak terikat)
tidak pernah menjadi penyembah apa terhadap apa yang kamu kerjakan".
(Tuhan) yang kamu sembah. Dan kamu (Yunûs: 40-41)
tidak pernah (pula) menjadi penyembah Pada ayat di atas dijelaskan
apa (Tuhan) yang aku sembah, Untukmu bahwa umat manusia terbagi menjadi
agamamu (diinmu), dan untukku dua, yaitu: orang yang beriman kepada
agamaku. (al-Kâfirûn: 1—6) al-Quran dan yang tidak. Selanjutnya
Pada surat ini dijelaskan Allah menjelaskan bahwa Allah
kebebasan bagi semua manusia dalam mengetahui sikap dan perilaku orang-
menganut agama dan mengamalkan orang yang beriman dan orang-orang
ajarannya masing-masing. Setiap orang yang berbuat kerusakan. Ayat di atas
bebas beragama sesuai dengan juga memberi peringatan kepada umat
keyakinannya. Ini dimaksudkan pula Islam agar tetap berpegang teguh
bahwa tidak boleh ada orang yang kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi
memaksakan beragama kepada orang Muhammad saw. Yang terakhir, ayat ini
lain yang sudah mempunyai agama. memberikan peringatan bahwa
Dalam surat ini juga ada anjuran untuk untukmu pekerjaanmu dan untukku
bertoleransi dengan saling menghargai pekerjaanku, artinya bahwa apa pun
penganut agama lain, dan hidup secara yang kita lakukan (dalam beragama)
berdampingan dengan baik tanpa harus biarlah menjadi apa yang kita lakukan,
terjadi kerusakan di atas keindahan soal benar dan salah nanti dikembalikan
dalam membangun perbedaan. kepada Allah swt.

Page | 140 Ramlan Abdul Gani


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

Dan katakanlah, "Kebenaran itu


datangnya dari Tuhanmu (Allah); maka
Tidak ada paksaan untuk memasuki
barangsiapa yang ingin (beriman)
agama Islam. Sesungguhnya telah jelas
hendaklah ia beriman, dan barangsiapa
jalan yang benar daripada jalan yang
yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".
sesat. Karena itu, barangsiapa yang
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi
ingkar kepada Thaghut dan beriman
orang orang zalim itu neraka, yang
kepada Allah, maka sesungguhnya ia
gejolaknya mengepung mereka. Dan jika
telah berpegang kepada tali yang amat
mereka meminta minum, niscaya mereka
Kuat (Islam) yang tidak akan putus dan
akan diberi minum dengan air seperti
Allah Maha Mendengarkan lagi Maha
besi yang mendidih yang menghanguskan
Mengetahui. (Al-Baqarah: 256)
muka. Itulah minuman yang paling
Sebab turunnya ayat ini
buruk dan tempat istirahat yang paling
berkenaan dengan peristiwa Hushain
jelek. (Al-Kahfi : 29)
dari golongan Anshar, suku Bani Salim
Dalam Surat al-Kahfi: 29 di atas
bin ‘Auf yang mempunyai dua orang
dijelaskan bahwa kebenaran itu semata
anak yang beragama Nasrani, sedang ia
hanya datang dari Tuhan. Untuk itu,
sendiri seorang Muslim. Ia bertanya
orang yang ingin meyakini kebenaran
kepada Nabi saw., “Bolehkah saya paksa
akan membawa manfaat baginya dan
kedua anak itu karena mereka tidak taat
orang yang tidak meyakini kebenaran
kepadaku, dan tetap ingin beragama
tersebut akan menjadi tanggung
Nasrani?” Allah menjelaskan
jawabnya sendiri.
jawabannya dengan ayat tersebut bahwa
Balasan atas orang-orang yang
tidak ada paksaan dalam Islam.
beriman dan orang-orang yang kafir
bukan datang dari manusia tetapi nanti
diputuskan oleh Allah swt. di hari akhir
kelak. Di dunia manusia tidak dapat
menghakimi seseorang atas keyakinan
ۚ
yang dimilikinya. Manusia diberi Dan jika Tuhanmu menghendaki,
kebebasan untuk memilih keyakinannya tentulah beriman semua orang yang di
tanpa ada paksaan dari siapa pun. muka bumi seluruhnya. Maka apakah
Dengan kata lain, hidup ini pilihan kamu (hendak) memaksa manusia
(ikhtiar). Memilih (berikhtiar) sudah supaya mereka menjadi orang-orang
merupakan bagian dari yang beriman semuanya.
manusia. Memilih itu adalah kebebasan Ayat ini menerangkan bahwa jika
dengan risiko masing-masing. Allah berkehendak agar seluruh manusia
beriman kepada-Nya, hal ini akan
mudah terlaksana karena melakukan

Ramlan Abdul Gani Page | 141


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

yang demikian adalah mudah bagi-Nya.


Sesungguhnya, andaikan Tuhanmu
menghendaki untuk tidak menciptakan
manusia dalam keadaan siap menurut Kalau mereka cenderung kepada
fitrahnya untuk melakukan kebaikan perdamaian, maka sambutlah
dan keburukan, dan untuk beriman atau kecenderungan itu, dan berserah dirilah
kafir dan dengan pilihannya sendiri Dia kepada Allah.(al-Anfâl: 61)
lebih suka kepada salah satu di antara
perkara-perkara yang mungkin
dilakukan, dengan meninggalkan
kebalikannya melalui kehendak dan
kemauan-Nya sendiri, tentu semua itu
Allah lakukan. Namun begitu,
kebijaksanaan Allah swt. tetap untuk Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata; ditanyakan
menciptakan manusia sedemikian rupa kepada Rasulullah saw. "Agama
sehingga manusia mempertimbangkan manakah yang paling dicintai oleh
sendiri pilihannya, apakah akan beriman Allah?" maka beliau bersabda: "Al-
atau kafir, sehingga ada sebagian Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi
manusia yang beriman dan adapula yang toleran).
kafir. Itulah kemajemukan.

Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,


"Allah merahmati orang yang memudah-
kan ketika menjual dan ketika
Sesungguhnya orang-orang mukmin,
membeli dan ketika memutuskan
orang-orang Yahudi, orang-orang
perkara.”
Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa
saja di antara mereka yang benar-benar
Di dalam salah satu hadis Rasulullah
beriman kepada Allah, hari kemudian
saw., beliau bersabda :
dan beramal saleh, mereka akan
menerima pahala dari Tuhan mereka;
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka,
dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(al-Baqarah: 62)

Page | 142 Ramlan Abdul Gani


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

toleransi dalam Islam lebih


dititikberatkan pada wilayah muamalah.

Abdillah telah menceritakan kepada


kami, telah menceritakan kepada saya
Abi telah menceritakan kepada saya
Yazid berkata; telah mengabarkan
kepada kami Muhammad bin Ishaq dari
Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari
Ibnu 'Abbas, ia berkata; Ditanyakan
kepada Rasulullah saw. "Agama
manakah yang paling dicintai oleh Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin
Allah?" maka beliau bersabda, "Al- 'Ayyasy telah menceritakan kepada kami
Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi Abu Ghassan Muhammad bin Mutarrif
toleran). berkata, telah menceritakan kepada saya
Al-Asqalany6 ketika menjelaskan Muhammad bin al-Munkadir dari Jabir
hadis ini berkata, “Hadis ini bin 'Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw.
diriwayatkan oleh al-Bukhari pada kitab Bersabda, "Allah merahmati orang yang
Iman, Bab Agama itu Mudah di dalam memudahkan ketika menjual dan ketika
sahihnya secara mu'allaq dengan tidak membeli, dan ketika memutuskan
menyebutkan sanadnya karena tidak perkara.
termasuk dalam kategori syarat-syarat
hadis sahih menurut Imam al-Bukhari, Al-‘Asqalâni8 ketika berkomentar
tetapi beliau menyebutkan sanadnya berkata bahwa hadis ini menunjukkan
secara lengkap dalam al-Adâb al- anjuran untuk bertoleransi dalam
Mufrad yang diriwayatkan dari sahabat interaksi sosial, menggunakan akhlak
Abdullah ibn ‘Abbas dengan sanad yang mulia dan budi yang luhur dengan
hasan. Sementara Al-Albani7 meninggalkan kekikiran terhadap diri
mengatakan bahwa hadis ini adalah sendiri. Selain itu. Nabi menganjurkan
hadis yang kedudukannya adalah hasan untuk tidak mempersulit manusia dalam
lighairih.” Berdasarkan hadis di atas mengambil hak-hak mereka serta
dapat disimpulkan bahwa Islam adalah menerima maaf dari mereka.
agama yang toleran dalam berbagai
aspeknya, baik dari aspek akidah
maupun syariah. Namun demikian,

6
Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani,
Fath al-Bary, Cet. I (al-Madînah al-Munawwarah,
1996), h. 94.
7
Muhammad Nasiruddin Al-Albany,
8
Shahîh adab al-Mufrâd, Cet. II (Bairût: Dâr ash- Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani,
Shiddiq, 1415), h. 122. Fath al-Bary, hlm. 207
Ramlan Abdul Gani Page | 143
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

Sebab turunnya Surah al-Kâfirûn


adalah peristiwa tatkala Rasulullah saw.
diajak bertoleransi dalam masalah
akidah bahwa pihak kaum Muslimin
diajak untuk mengikuti ibadah orang-
Telah menceritakan kepada kami Abdul orang kafir dan sebaliknya, orang-orang
Salam bin Muthahhar berkata, telah kafir juga mengikuti ibadah kaum
menceritakan kepada kami Umar bin Ali Muslimin. Secara tegas Rasulullah saw.
dari Ma'an bin Muhammad Al Ghifari diperintahkan oleh Allah swt. untuk
dari Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari secara konsisten menolak tawaran yang
Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ingin menghancurkan sendi-sendi
'alaihi wasallam bersabda: akidah tersebut. Hakikatnya, sifat
"Sesungguhnya agama itu mudah, dan konsisten itu tercermin dari setiap kali
tidaklah seseorang mempersulit agama umat Muslim melaksanakan salat.
kecuali dia akan dikalahkan (semakin Dengan kata lain, dalam bertoleransi,
berat dan sulit). Maka berlakulah lurus umat Islam telah diajarkan untuk selalu
kalian, mendekatlah (kepada yang benar) berpegang teguh terhadap akidah yang
dan berilah kabar gembira dan minta lurus dan jangan sampai keyakinan
tolonglah dengan al-ghadwah (berangkat tersebut sedikit pun tercemar oleh
di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat benih syirik yaitu dengan membaca doa
setelah zuhur) dan sesuatu dari ad- iftitah pada awal salat.
duljah (berangkat di waktu malam). Para kafir Quraisy menganggap
Al-‘Asqalâni9 menjelaskan bahwa semua agama itu sama saja dan sama
makna hadis ini adalah larangan benarnya sehingga mereka dengan
bersikap tasyaddud (keras) dalam agama seenaknya mengajak Rasulullah saw.
yaitu ketika seseorang memaksakan diri bergantian melaksanakan ritual
dalam melakukan ibadah sementara ia keagamaan sebagai lambang dari
tidak mampu melaksanakannya. Itulah toleransi. Di zaman modern sekarang
maksud dari kata, "Dan sama sekali masih ada yang beranggapan demikian.
tidak seseorang berlaku keras dalam Yang penting beragama adalah memiliki
agama kecuali akan terkalahkan" artinya tuhan yang sama dan sama benarnya
bahwa agama tidak dilaksanakan dalam yaitu menuju surga. Bahayanya
bentuk pemaksaan maka barangsiapa pemahaman toleransi model begini
yang memaksakan atau berlaku keras adalah adanya pemahaman
dalam agama, maka agama akan kemajemukan yang keliru. Seolah-olah
mengalahkannya dan menghentikan semua agama dapat mencapai surga
tindakannya. walaupun berbeda dalam akidah dan
ritual. Faham inilah yang disebut faham
C. Uraian tentang Toleransi sinkritis beragama.
Ada yang menganalogikan semua
9
Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, agama ibarat kendaraan yang menuju
Fath al-Bary, 143
Page | 144 Ramlan Abdul Gani
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

suatu tempat. Semua agama akan hakikat dari agama. Melalui pendekatan
menuju surga dengan cara masing- esoterisme ini kesatuan agama-agama
masing. Tentu saja hal ini akan bisa terjadi. Yang ditakutkan, pada
memberikan dampak semua agama tingkat awam, bila ditinjau dari
dianggap selamat menuju akhirat. prespektif esoterik ini, semua agama
Padahal, semua pemeluk agama harus adalah sama dan sinkritisme.
meyakini bahwasanya hanya dengan Toleransi dalam Islam bukan
agamanyalah, manusia akan sampai berarti bersikap sinkretis. Pemahaman
selamat dunia dan akhirat. yang sinkretis dalam toleransi beragama
Sesuatu yang sulit dipahami merupakan kesalahan dalam memahami
adalah pendapat Abdul Kalam Asad10. arti tasâmuh yang berarti menghargai,
Pemikir India ini berpendapat bahwa yang dapat mengakibatkan
pesan yang disampaikan agama-agama pencampuran antara yang hak dan yang
adalah sama pada tingkat esoterik. batil (talbisu al-haq bi al-bâthil) karena
Model toleransi yang ditawarkan terlihat sikap sinkretis adalah sikap yang
pada al-din wahid wa al-syariát menganggap semua agama sama.
mukhtalifat; no difference in din Sementara sikap toleransi dalam Islam
difference only in sharia; agama tetap adalah sikap menghargai dan
satu dan syariah berbeda-beda. Menurut menghormati keyakinan dan agama lain
Azad, petunjuk Tuhan tetap sama dalam di luar Islam, bukan menyamakan atau
keadaan apa pun. Petunjuk-petunjuk mensederajatkannya dengan keyakinan
tersebut disampaikan kepada manusia Islam itu sendiri.
dengan cara yang sama yaitu pesan yang Toleransi bukan berarti
disampaikan bahwa kita harus beriman menganggap semua agama sama
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan benarnya. Salah seorang ulama yang
berbuat baik sesuai dengan tingkat iman dengan tegas menolak itu adalah
manusia. Inilah yang ditawarkan kepada Quraish Shihab. Hal itu terlebih dengan
umat manusia di sepanjang zaman dan menjadikan toleransi beragama sebagai
dalam segala keadaan dan itulah yang pembenaran untuk mengorbankan
disebut dengan dîn. Jadi pada dasarnya keyakinan keberagamaan para
teologi kesatuan agama hanyalah terjadi penganutnya. Shihab mengakui bahwa
pada tingkat esoterisme dan dalam perbedaan adalah keniscayaan.
esotirisme itu mengalir apa yang disebut Keragaman dan perbedaan tidak dapat
spiritualitas agama-agama. Dengan dihindari walau pada saat yang sama
melihat sisi esoterisme dari agama atau manusia dituntut oleh kedudukannya
ajaran kerohanian (spirit), manusia akan sebagai makhluk sosial untuk menyatu
dibawa kepada apa yang merupakan dalam bentuk bantu-membantu dan
topang-menopang.11 Lebih lanjut,
10
Abul Kalam Azad, The Tarjuman al-
11
Quran, vol. 1 (Hyberabad: Syed Abd al Latif’s M. Quraish Shihab, Sunnah-Syi’ah
Trust fil Qurán & Other Cultural Studies, 1982), Bergandengan Tangan! Mungkinkah? (Jakarta:
h. 163-160. Lentera Hati, 2007), h. 208.
Ramlan Abdul Gani Page | 145
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

Shihab menegaskan pula beda antara disatukan, terutama terkait dengan


perbedaan dan perselisihan. Perbedaan aspek tauhid, aspek yang menjadi inti
harus ditoleransi apalagi dapat menjadi dasar keberagamaan dalam Islam.
sumber kekayaan intelektual serta jalan Menurut Quraish Shihab, keberagamaan
keluar bagi kesulitan yang dihadapi. adalah fithrah (sesuatu yang melekat
Keragaman dan perbedaan dapat pada diri manusia dan terbawa sejak
menjadi rahmat selama dialog dan kelahiran) sebagaimana tersebut pada
syarat-syaratnya terpenuhi. Karena itu, Surat al-Rûm ayat 30. Ini berarti
perbedaan tidak dengan sendirinya manusia tidak dapat melepaskan diri
menjadi buruk atau bencana, dari agama. Tuhan menciptakan
sebagaimana tidak juga ia selalu baik demikian karena agama merupakan
dan bermanfaat.12 kebutuhan hidupnya. Memang manusia
Di atas sudah dinyatakan bahwa dapat menangguhkannya sekian lama,
Quraish Shihab menolak pandangan boleh jadi sampai dengan menjelang
sekelompok orang yang menyatakan kematiannya. Namun begitu, pada
bahwa semua agama itu sama benarnya. akhirnya, sebelum ruh meninggalkan
Dalam menafsirkan al-Baqarah: 62, jasad, ia akan merasakan kebutuhan itu.
Shihab13 mengatakan bahwa ada Perdamaian merupakan salah
sementara orang yang perhatiannya satu ciri utama agama Islam. Ia lahir dari
tertuju kepada penciptaan toleransi pandangan ajarannya tentang Allah,
antarumat beragama yang berpendapat Tuhan Yang Mahakuasa, alam, dan
bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan manusia. Allah, Tuhan Yang Maha Esa,
untuk menyatakan bahwa penganut adalah Maha Esa, Dia yang menciptakan
agama-agama yang disebut oleh ayat ini, segala sesuatu berdasarkan kehendak-
selama beriman kepada Tuhan dan Hari Nya semata. Semua ciptaan-Nya adalah
Kemudian, mereka semua akan baik dan serasi sehingga tidak mungkin
memperoleh keselamatan dan tidak kebaikan dan keserasian itu mengantar
akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kepada kekacauan dan pertentangan.
kelak, tidak pula akan bersedih. Dari sini bermula kedamaian antara
Selanjutnya Shihab14 menyatakan bahwa seluruh ciptaan-Nya.15 Dengan
Keragaman dan perbedaan bukanlah demikian, toleransi adalah salah satu
ancaman sehingga menjadi alasan untuk bentuk fenomena dalam Islam untuk
menyatukan pemahaman keberagamaan menghadirkan perdamaian di atas muka
yang memang tidak akan pernah bisa bumi.
Pada hadis-hadis yang telah
12
dikemukakan di atas dijelaskan
M. Quraish Shihab, Sunnah-Syi’ah
Bergandengan Tangan! Mungkinkah? hlm. 209 bahwasa-nya toleransi dalam Islam
13
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah,
Cet. VII, vol. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h.
15
216. Al- Bukhari, Shahih Bukhari, Kitab al-
14
M. Quraish Shihab, Wawasan Al- Imân, Bâb al-Muslim Man Salima al-Muslimâna
Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan min Lisânih wa Yadih, 9 (Maktabah Syâmilah,
Umat, Cet. XIV (Jakarta: Mizan, 2003), h. 376. t.t.), h. 378.
Page | 146 Ramlan Abdul Gani
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

bernuansa mau mengakui adanya


berbagai macam perbedaan, baik dari
aspek suku bangsa, warna kulit, bahasa,
adat-istiadat, budaya, maupun dari
aspek bahasa serta agama. Allah swt. Sesungguhnya Kami telah menurunkan
menciptakan segala sesuatu dengan Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan
berbagai macam bentuk yang berbeda. cahaya (yang menerangi), yang dengan
Artinya, Islam secara lugas mengakui kitab itu diputuskan perkara orang-orang
adanya perbedaan tersebut. Hal ini lebih Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah
populer disebut inklusivisme, diri kepada Allah, oleh orang-orang alim
pluralisme, dan multikulturalisme. Hal mereka dan pendeta-pendeta mereka,
ini sejalan dengan firman Allah swt: disebab-kan mereka diperintahkan
memelihara kitab-kitab Allah dan mereka
menjadi saksi terhadapnya.
Dalam ayat lain disebutkan:

Hai manusia, sesungguhnya Kami


menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan Dan Kami telah mendatangkan Injil
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- kepada Isa al-Masih, di dalamnya
suku supaya kamu saling mengenal. terdapat petunjuk dan cahaya dan
Sesungguhnya orang yang paling mulia membenarkan kitab yang sebelumnya,
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi
yang paling takwa di antara kamu. petunjuk serta pengajaran untuk orang-
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang yang bertakwa
lagi Maha Mengenal. Kedua ayat tersebut di atas dipahami
Dengan begitu, ada keniscayaan bahwa dalam kitab Taurat dan Injil
bahwa Allah swt. menciptakan adanya terdapat kebenaran yang bersumber dari
perbedaan. Yang terpenting adalah Allah swt. juga.
bahwa manusia harus siap untuk Kitab-kitab tersebut diwahyukan
menghadapi dan menerima perbedaan- melalui manusia pilihan-Nya. Bahkan
perbedaan itu, termasuk dalam konteks Allah swt. juga memberikan
teologis. Toleransi antarumat beragama penghargaan yang setara terhadap umat
yang berbeda termasuk ke dalam salah Yahudi dan Nasrani yang melaksanakan
satu kajian penting yang ada dalam hukum-Nya sebagaimana disebutkan
sistem teologi Islam karena Allah dalam al-Quran:
swt. telah mengingatkan akan
keragaman kebenaran teologis dan jalan
keselamat-an manusia.

Ramlan Abdul Gani Page | 147


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

penyempurnaan dari agama yang


dibawa para nabi sebelumnya, yang
bermula pada Nabi Ibrahim a.s. sampai
kepada Nabi Musa as. dan Isa a.s.
Sesungguhnya orang-orang mu'min, Salah satu toleransi dan keadilan
orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang- dalam Islam adalah menganjurkan
orang Nasrani, siapa saja (di antara untuk tidak menanggapi tuduhan
mereka) yang benar-benar saleh, maka rendah dan hina dari lawan karena
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dengan melakukan itu manusia sendiri
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. menjadi kejam. Sebaliknya, memaafkan
Ayat ini menegaskan bahwa yang adalah tindakan yang lebih baik dan
mendapatkan perlindungan dari Allah aspek hukum tak boleh diabaikan.
swt nanti tidak semata-mata penganut Sebuah contoh luar biasa tentang
agama tertentu, melainkan juga toleransi dan pengampunan adalah
termasuk mereka yang beriman dan seperti yang diperlihatkan oleh
melakukan amal saleh. Sebab turunnya Rasulullah saw yang yang mengampuni
ayat ini menjelaskan bahwa pada suatu semua penganiaya pada saat pembukaan
hari Salman al-Farisi mendatangi Kota Mekkah. Sejarah telah mencatat
Rasulullah saw. dan menceritakan peristiwa ini. Ikramah adalah musuh
keadaan penduduk al-Dayr, yang mana terbesar Islam. Meskipun amnesti
mereka melakukan salat, puasa, umum telah diproklamasikan oleh
beriman, dan bersaksi tentang kenabian Rasulullah saw pada hari kemenangan
Muhammad saw. Lalu Rasulullah saw. tersebut, Ikramah memilih melawan
berkata kepada Salman, “Mereka adalah kaum muslimin. Ia akhirnya kalah dan
penduduk neraka.” Kemudian Allah kemudian melarikan diri. Ketika istri
swt. menegur Rasulullah saw. dan Ikramah memohon pengampunan,
menurunkan ayat tersebut, bahwa Rasulullah saw pun mengampuni.
sesungguhnya orang-orang Muslim, Segera setelah pengampunan, ketika
Yahuni, Nasrani, Sabiin dan Majusi, Ikramah muncul ke hadapan Rasulullah
terutama mereka yang beriman kepada saw, Ikrimah berkata kepada Rasulullah
Allah, Hari Akhir dan melakukan amal saw dengan sombongnya bahwa 'Jika
saleh, mereka akan mendapatkan surga- Engkau berpikir bahwa karena
Nya. Allah swt. yang Mahaagung dan pengampunan Engkau saya juga akan
Mahaadil akan bertindak sebagai hakim menjadi seorang Muslim, maka biarkan
dala memutuskan amal perbuatan setiap hal ini jelas bahwa saya tidak menjadi
hamba-Nya. Dengan demikian, Islam Muslim. Jika Anda dapat memaafkan
dalam konteks Q.S. Ali Imran: 85 saya sementara saya tetap teguh pada
(bahwa agama yang diterima di sisi keimanan saya, itu baik, tetapi jika
Allah hanya Islam), harus dipahami sebaliknya saya akan pergi. Rasulullah
sebagai agama yang dibawa Nabi saw. bersabda, “Tidak diragukan lagi
Muhammad saw. sebagai kelanjutan dan kamu bisa tetap teguh dengan

Page | 148 Ramlan Abdul Gani


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

keimananmu. Engkau bebas dalam bahwa suatu ketika delegasi Kristen dari
segala hal. Tambahan pula, ribuan orang Najaran datang kepada Nabi Suci saw.
Mekkah pada waktu itu juga belum Dalam pertemuan dengan Rasulullah
menerima Islam. Meskipun kalah, saw. di Masjid Nabi di Madinah itu,
mereka tetap mendapatkan hak waktu bagi peribadatan Kristen telah
kebebasan dalam beragama. Jadi ini tiba dan mereka ingin segera berangkat.
adalah ajaran Al-Quran dan contoh yang Rasulullah saw menawarkan kepada
diberikan oleh Rasulullah saw mengenai mereka untuk beribadah di masjid.
toleransi. Setelah itu, terbentuklah persetujuan
Kemudian beberapa contoh lain dengan orang Kristen Najran yang
dari kebebasan berbicara dan toleransi. menjamin kebebasan mereka dalam
Suatu ketika Rasulullah saw membeli beragama dan menetapkan kewajiban
unta dari seorang Badui yang ditukar bagi umat Islam untuk melindungi
dengan sekitar 90 kilogram kurma gereja-gereja mereka. Tidak ada gereja
kering. Ketika sampai di rumah, yang harus dihancurkan dan juga tidak
Rasulullah saw. menemukan bahwa akan ada satu pun imam yang akan
semua kurma telah hilang. Dengan diusir atau dikeluarkan. Hak-hak
penuh kejujuran dan kesederhanaan, mereka juga tidak akan dikurangi dan
beliau mendatangi orang Badui tersebut takkan ada satupun orang Kristen yang
dan berterus terang padanya, Wahai diminta untuk mengubah imannya.
hamba Allah, saya telah membeli unta Pernyataan ini menyatakan bahwa Nabi
dengan ditukar kurma kering dan saya saw. memberikan jaminan pribadinya.
merasa memiliki banyak kurma tetapi Perjanjian ini selanjutnya menyatakan
ketika sampai di rumah, saya bahwa jika umat Islam ingin membantu
menemukan bahwa saya tidak memiliki membiayai perbaikan gereja-gereja
kurma yang banyak. Orang Badui itu Kristen, itu akan menjadi tindakan
berkata, “Dasar penipu, orang-orang kebajikan bagi mereka.
mulai memberitahu Badui untuk Berkenaan dengan keadilan,
berhenti berbicara seperti itu terhadap kebenaran dan kebebasan beragama,
Rasulullah saw, tetapi Rasulullah saw pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat
bersabda: Biarkan dia.”16 Mirza Ghulam Ahmad a.s. menyatakan
Sekarang lihatlah, bagaimana bahwa terbukti setelah perselisihan
cara seorang penguasa waktu tu antara seorang Muslim dengan seorang
berurusan dengan orang biasa. Ini Yahudi dibawa ke hadapan Rasulullah
adalah standar jaminan kebebasan saw., Rasulullah saw. memutuskan
berbicara dan standar kesabarannya. bahwa orang Yahudi yang benar dan
Contoh toleransi dan kebebasan menolak pernyataan seorang muslim.
beragama yang mengacu pada orang- Kemudian mengutip sebuah ayat Al-
orang dari agama lain dapat diceritakan Quran, beliau menyatakan bahwa ayat
ini berarti 'Wahai nabi, Ajaklah orang-
16
(Masnad Ahmad bin Hanbal Vol.6 orang ahli kitab dan orang-orang yang
p.268 diterbitkan di Bairut)
Ramlan Abdul Gani Page | 149
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

tidak tahu ke dalam Islam. jika masuk


Islam, mereka akan mendapatkan D. Analisis
bimbingan tetapi jika mereka berpaling Toleransi dalam Islam pada
maka pekerjaanmu hanyalah dasarnya bermula dari Surah al-Kâfirûn.
menyampaikan pesan dari Allah swt. Di Pada ayat ini tersirat bahwa dalam
dalam ayat ini tidak tertulis bahwa tugas kehidupan bertuhan ada potensi terjadi
kalian adalah berperang melawan perbedaan perspektif. Islam patut
mereka. menyadari bahwa dari kalangan non-
Jelas dari ayat ini bahwa perang Muslim bisa terjadi pemahaman bahwa
hanya diizinkan terhadap musuh yang agamanyalah yang paling benar sama
membunuh orang Islam atau dengan kaum Muslim berpendapat
mengganggu terciptanya perdamaian demikian. Adanya bermacam-macam
dan sibuk dalam pencurian dan anggapan kebenaran pada diri masing-
perampokan. Perang ini dilakukan dari masing merupakan sesuatu keniscayaan
kapasitas beliau sebagai seorang untuk tetap konsisten dalam menganut
panglima dan bukan karena suatu faham. Menganggap agama atau
kenabiannya. Allah berfirman, faham sendiri yang benar adalah suatu
”Berperanglah di jalan Allah terhadap kelaziman. Jika tidak, orang akan
mereka yang memerangimu!” Hal itu terbelenggu pada ketidakpastian
menyatakan bahwa 'tidak ada keyakinan.
kepentingan pada hal lainnya dan tidak Namun begitu, jika tidak ada
melampaui batas' karena Allah tidak toleransi, orang beragama akan menjadi
menyukai orang-orang yang melampaui umat apologis dan arogan. Betapa
batas. banyak dari kalangan penganut agama-
Jadi ini adalah ajaran yang indah agama yang berani mati demi
dari Islam dan contoh yang sempurna mempertahankan kebenaran agamanya
dari Nabi Muhammad saw, contoh- itu secara membabi buta. Hal ini
contoh yang telah saya gambarkan disebabkan orang tidak memberikan
sebelumnya. Adalah cemoohan yang ruang kepada penganut agama lain
besar dengan menuduh bahwa tidak ada untuk hidup secara berdampingan,
konsep toleransi kebebasan beragama seolah-olah hanya dia yang berhak
dan berkeyakinan dalam Islam. Kita menganggap diri paling benar. Biasanya
tidak boleh menafsirkan kepentingan ada dua faktor yang berpengaruh
dari beberapa individu Islam dan juga terhadap toleransi, yaitu: faktor internal
tidak bisa ditafsirkan seperti itu. dan esktrnal. Faktor internal adalah
Dalam kasus apa pun, hal ini faktor yang mempengaruhi seseorang
akan menjadi sangat jelas bahwa bersikap disebabkan paham keagamaan
sementara ada kebebasan berbicara dan terhadap ajaran agamanya seperti
toleransi dalam Islam, ada juga rasa adanya kecenderungan pemahaman
hormat bagi umat manusia dan radikal-esktrem dan fundamental
kesabaran. subjektif terhadap ajaran agama dan

Page | 150 Ramlan Abdul Gani


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

dianut. Sedangkan faktor lainnya seperti memasang lilin. Dengan begitu, seorang
faktor hedonitas dan oportunitas Muslim telah dengan sadar seolah-olah
dengan mengatasnamakan agama mengakui kebenaran agama lain.
sebagai komoditas kepentingan telah Mengucapkan Natal yang berarti
menjadi petaka kemanusiaan yang mengakui secara tidak langsung adanya
berkepanjangan. hari kelahiran Yesus sebagai ”anak
Perintah mati syahid untuk tuhan” telah mencemari akidah Islam
mempertahankan kebenaran agama itu. Mengucapkan selamat Natal itu
Islam memang ada. Namun demikian, bermakna lebih mendalam daripada
hal itu wajib dilakukan ketika Islam sekadar basa-basi antarpemeluk agama
dalam keadaan terdesak misalnya dalam karena setiap ritual dan perayaan tiap
kondisi diperangi. Dalam kondisi damai, agama bernilai sakral dan berkaitan
Islam mewajibkan umatnya untuk dengan akidah masing-masing. Dengan
memberikan ruang dan bahkan saling kata lain, masalah mengucapkan
membantu. Memberikan ruang untuk selamat kepada penganut agama lain
hidup kepada penganut lain itulah tidak sesederhana yang dibayangkan.
bentuk toleransi. Hal ini sama dengan tidak sederhananya
Dalam aspek sosial bila seorang non-Islam mengucapkan
kemasyarakatan, semangat toleransi dua kalimat syahadat. Betapa dua
adalah sebuah anjuran. Umat Islam kalimat syahadat itu bermakna yang
boleh saling menolong, bekerja sama, sangat mendalam dan berkonsekuensi
dan saling menghormati orang-orang hukum yang tidak sederhana. Hal ini
non-Islam, tetapi dalam soal akidah berimplikasi hingga masalah warisan,
sama sekali tidak dibenarkan adanya hubungan suami-istri, status anak dan
toleransi (beragama) antara umat Islam sebagainya. Padahal syahadat hanyalah
dengan orang-orang non-Islam. Bentuk dua penggal kalimat yang siapa pun
pelanggaran akidah adalah salah satu mudah dapat mengucapkannya.
penyimpangan toleransi dalam Islam. Memang ada sebagian ulama
Salah satu penyimpangan toleransi yang membolehkan pengucapan selamat
adalah bentuk pencampuradukkan Natal tersebut, misalnya M. Quraish
akidah agama lain ke dalam agama Shihab17 menerangkan bahwa Allah swt.
sendiri (Islam). mengabadikan ucapan selamat Natal
Salah satu kasus yang sering pada Surah Maryam ayat 33.
muncul dalam bertoleransi adalah
mengucapkan selamat hari Natal oleh
umat Islam kepada penganut lain. Bagi
sebagian ulama mengucapkan Natal
adalah salah satu kasus yang
mencampuradukkan akidah agama lain
ke dalam agamanya. Ada pula kasus 17
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah,
umat Islam ikut-ikutan berdoa dengan Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta:
Lentera Hati, 2003), h. 184.
Ramlan Abdul Gani Page | 151
al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan raya keagamaan. Pada Idul Fitri banyak
kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada remaja Kristen yang membantu
hari aku meninggal dan pada hari aku keamanan masjid. Demikian pula, pada
dibangkitkan hidup kembali. hari Natal, banyak remaja masjid yang
Dalam konteks ucapan selamat membantu umat Kristiani dalam
Natal, menurut M. Quraish Shihab menjaga keamanan gereja. Pada
bahwa kalaupun non-Muslim beberapa kasus, Yayasan Budha Suchi
memahami ucapan itu sesuai dengan banyak membantu masyarakat miskin
keyakinannya Oleh sebab itu biarlah tanpa memikirkan latar belakang agama.
demikian karena serorang Muslim yang Hal-hal di atas sama sekali tidak
mengucapkannya memahami ucapannya mengganggu toleransi beragama.
sesuai pula dengan keyakinannya. Pendek kata, dalam
Pendapat ini tentu menimbulkan kemajemukan, semua umat tidak boleh
kontroversi dengan kebanyakan ulama saling menggugat bahwa agamanya yang
karena jelas terlihat bahwa kata natal itu paling benar. Semua pemeluk agama
diartikan sebagai kelahiran Yesus, perlu menyadari bahwa orang lain juga
sehingga tidak tepat memaksakan istilah mengimani agamanya demikian pula.
kelahiran Yesus dengan kelahiran Nabi Untuk itu, orang lain akan
Isa a.s. mempertahankan keimanannya itu
Ada kasus sebagian umat tertentu dengan semangat jihad. Oleh sebab itu,
yang dengan sengaja memberikan dalam bertoleransi, orang harus
iming-iming bingkisan kepada penganut menyadari bahwa di samping dia
agama yang sudah ada dengan harapan menganggap agamanya yang paling
agar yang bersangkutan masuk benar, ada orang lain yang perlu
agamanya. Inipun termasuk hal yang menganggap agamanya yang paling
melanggar aturan atau norma benar pula. Menganggap agamanya yang
bertoleransi. Dengan mengatasnamakan paling benar dianggap wajar dalam
toleransi, umat beragama yang satu konteks kerukunan beragama. Namun,
tidak diperbolehkan mengajak orang harus diakui bahwa orang lain pun
yang sudah beragama untuk menganut menganggap bahwa agamanya yang
agama lain. Umat Islam boleh paling benar. Kebenaran tersebut tentu
bertoleransi dalam hal bermuamalah saja berbeda sesuai dengan perspektif
seperti dalam berdagang, namun ada masing-masing.
kuridor yang tak boleh dilanggar yaitu
adanya rambu akidah. Ketika PENUTUP
bersenggolan dengan akidah, umat Berdasarkan uraian di atas, dapat
Islam harus sanggup menolak. Oleh disimpulkan bahwasanya toleransi
sebab itu, toleransi berhenti pada tahap (tasâmuh) hanya terbatas pada
fikih dan muamalah. hubungan manusia dengan manusia
Pada masyarakat Indonesia, (mu’ámalah) sebagai individu dengan
toleransi yang kental terjadi pada hari individu dalam hubungan kemanusiaan.

Page | 152 Ramlan Abdul Gani


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

Ini dimaksudkan bahwa tidak ada Al- Bukhari. Shahih Bukhari, Kitab al-
toleransi dalam bidang akidah. Dalam Imân, Bâb al-Muslim Man Salima
menyangkut masalah akidah, Islam al-Muslimâna min Lisânih wa
tidak bertoleransi. Yadih. 9. Maktabah Syâmilah, t.t.
Oleh sebab itu, tasamuh dalam Al-Albany, Muhammad Nasiruddin.
kehidupan beragama adalah sebagai Shahîh adab al-Mufrâd. Cet. II.
berikut: Bairût: Dâr ash-Shiddiq, 1415.
1. Berlapang dada dalam menerima Azad, Abul Kalam. The Tarjuman al-
semua perbedaan karena perbedaan Quran. Vol. 1. Hyberabad: Syed
adalah rahmat Allah swt. Abd al Latif’s Trust fil Qurán &
2. Tidak boleh turut campur dalam Other Cultural Studies, 1982.
ibadah (ritual) agama lain. Echol, Jhon M., dan Hassan Shadily. An
3. Tidak membeda-bedakan English-Indonesian Dictionary
(mendiskriminasi) sahabat yang (Kamus Inggris Indonesia). Cet.
berbeda keyakinan. XXV. Jakarta: PT. Gramedia
4. Tidak memaksakan orang lain Pustaka Utama, 2003.
dalam hal keyakinan (agama). Jamaluddin Muhammad bin Mukram
5. Memberikan kebebasan orang lain Ibn Al-Mandzur. Lisân al-‘Arab.
untuk memilih keyakinan (agama). Cet. I, Jilid VII. Bairût: Dâr Shadr,
6. Tidak mengganggu orang lain yang t.t.
berbeda keyakinan ketika mereka Munawwir. “Kamus al-Munawwir Arab-
beribadah. Indonesia Terlengkap.” Surabaya:
7. Tetap bergaul dan bersikap baik Pustaka Progresif, 1997.
dengan orang yang berbeda Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum
keyakinan dalam hal duniawi. Bahasa Indonesia, Diolah Kembali
8. Menghormati orang lain yang oleh Pusat Pembinaan dan
sedang beribadah. Pengembangan Bahasa,
9. Tidak membenci dan menyakiti Departemen Pendidikan dan
perasaan seseorang yang berbeda Kebudayaan. Jakarta: PN Balai
keyakinan atau pendapat dengan Pustaka W.J.S. Poerwadarminta,
kita. 1982.
Shihab, M. Quraish. Sunnah-Syi’ah
Bergandengan Tangan!
Mungkinkah? Jakarta: Lentera
Hati, 2007.
Daftar Pustaka ———. Tafsir al-Mishbah,. Cet. VII. Vol.
1. Jakarta: Lentera Hati, 2006.
Al-Qur`ân al-Karîm ———. Tafsir al-Mishbah, Pesan, Kesan
Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani. dan Keserasian Al-Quran. Jakarta:
Fath al-Bary. Cet. I. al-Madînah Lentera Hati, 2003.
al-Munawwarah, 1996.

Ramlan Abdul Gani Page | 153


al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Hadits Studies, Vol. 6 (No. 02), Oktober 2020: 61-77.

———. Wawasan Al-Qur’an, Tafsir


Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan
Umat. Cet. XIV. Jakarta: Mizan,
2003.
Zagorin, Perez. How the Idea of Religious
Toleration Came to the West.
Princeton University, 2003.

Page | 154 Ramlan Abdul Gani