Anda di halaman 1dari 15

TIANSY ANNISA BURHANSYAH

D20 / 20808144077

MANAJEMEN RISIKO

DISKUSI BAB 8 (NO.1-5)

1. Jelaskan pengaruh perubahan tingkat bunga terhadap perusahaan!


Perubahan tingkat bunga dapat menyebabkan perusahaan menghadapi 2 tipe risiko yaitu:
▪ Risiko perubahan pendapatan, pendapatan bersih (hasil investasi dikurangi biaya)
berubah, yaitu berkurang dari nilai yang diharapkan. Ada dua jenis risiko yang
dihadapi perusahaan berkaitan dengan perubahan pendapatan yakni risiko
penginvestasian kembali (reinvestment risk) dan risiko pendanaan kembali
(refinancing risk).
▪ Risiko perubahan nilai pasar, nilai pasar berubah karena perubahan tingkat bunga,
yaitu berubah menjadi lebih kecil (turun nilainya). Secara umum, tingkat bunga
dengan sekuritas berpendapatan tetap hubungannya terbalik. Jika penurunan nilai
kewajiban, maka perusahaan mengalami nilai kerugian, dan sebaliknya.

2. Jelaskan perbedaan antara repricing model dengan maturity model/duration model!


Pengukuran perubahan tingkat bunga menggunakan repricing model hanya mengukur
dengan pendekatan pendapatan. Sedangkan pada metode pengukuran maturity dalam
pengukurannya juga memperhatikan perubahan harga pasar. Pengukuran pada metode
duration dengan cara memperbaiki dari metode maturity serta selalu memperhitungkan
timing dari setiap aliran kas nya dan dapat dikatakan lebih terperinci dibandingkan dengan
metode maturity. Dapat disimpulkan bahwa pengukuran risiko perubahan tingkat bunga
akan lebih baik jika digunakan sesuai dengan kebutuhan suatu perusahaan.

3. Jelaskan definisi duration, dan kelebihan duration dibandingkan dengan maturity model!
Durasi bisa didefinisikan sebagai rata-rata tertimbang jangka waktu aliran kas, dengan
pembobot proporsi present value dari aliran kas tersebut.
Kelemahan maturity model yakni tidak sepenuhnya bisa mengukur pengaruh perubahan
tingkat bunga terhadap perubahan nilai asset/kewajiban. Kelemahan ini dapat diatasi dengan
metode durasi. Metode durasi memperbaiki metode jangka waktu (maturity model) karena
metode durasi memperhatikan timing dari setiap aliran kas. Timing yang dimaksud adalah
waktu pembayaran nya misal obligasi A persemester sedangkan obligasi B dibayarkan
pertahun. Maka dapat dikatakan duration model lebih akurat dalam memprediksi penurunan
harga dibandingkan dengan maturity model. Sehingga saat melakukan imunisasi dapat
dilakukan secara optimal dan dapat melindungi modal saham.

4. Neraca suatu bank adalah sebagai berikut


Aktiva Pasiva
Kas 10.000 Deposito 1 bulan 130.000
SBI 1 bulan (kupon 10%) 75.000 Utang 7 thn 100.000
SBI 2 bulan (kupon 11%) 75.000 (kupon=9%)
Obligasi 5 tahun (12%) 90.000 Modal saham 20.000
Total asset 250.000 Total pasiva 250.000
a. Hitung gap repricing untuk periode 1, 3 bulan, dan 2 tahun!
▪ 1 bulan
Asset Pasiva
SBI 1 bulan 75.000 Deposito 1 bulan 130.000
Total RSA 75.000 Total RSL 130.000
GAP = 75.000 – 130.000
= -55.000
▪ 3 bulan
Aset Pasiva
SBI 1 bulan 75.000 Deposito 1 bulan 130.000
SBI 2 bulan 75.000
Total RSA 150.000 Total RSL 130.000
GAP = 150.000 – 130.000
= 20.000
▪ 2 tahun
Aset Pasiva
SBI tahun ke 2 150.000 Deposito 2 tahun 130.000
Obligasi 2 tahun 90.000 Utang 100.000
Total RSL 2 tahun 240.000 Total RSL 230.000
GAP = 240.000 – 230.000
= 10.000
b. Jika tingkat bunga naik 1% bagaimana pengaruhnya terhadap pendapatan bank?
Perubahan pendapatan = (GAP) x (Δbunga)
1 bulan = -55.000 x 0,01
= -550
3 bulan = 20.000 x 0,01
= 200
2 tahun = 10.000 x 0,01
= 100

5. Suatu bank mempunyai neraca sebagai berikut


Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun Pinjaman jangka pendek, bunga 15%,
Nilai nominal Rp10 juta, kupon jangka waktu 1 tahun
bunga=15% Nilai nominal=Rp18 juta
Obligasi jangka waktu 3 tahun
Nilai nominal Rp10 juta, kupon Modal saham Rp2 juta
bunga=15%
Total aset Rp20 juta Total pasiva Rp20 juta
a. Hitung gap jangka waktu untuk bank tersebut!
10 𝑗𝑢𝑡𝑎 10 𝑗𝑢𝑡𝑎
MA = (20 𝑗𝑢𝑡𝑎) (2 tahun) + (20 𝑗𝑢𝑡𝑎) (3 tahun)

= 1 + 1,5
= 2,5 tahun
ML = 1 tahun
Sehingga, Gap jangka waktu = MA – ML
= 2,5 – 1
= 1,5 tahun

b. Hitung gap durasi untuk bank tersebut!


Obligasi 2 tahun

Rata-rata
PV Aliran Proporsi PV
Tahun Aliran kas PVIF (15%) tertimbang Jangka
Kas Aliran Kas
Waktu
(1) (2) (3) (4) = (3) x (2) (5) (6) = (5) x (1)
1 1.500.000 0,869565217 1.304.348 0,130434783 0,130434783
2 11.500.000 0,756143667 8.695.652 0,869565217 1,739130435
10.000.000 1,869565217

Obligasi 3 tahun

Rata-rata
PV Aliran Proporsi PV
Tahun Aliran kas PVIF (15%) tertimbang Jangka
Kas Aliran Kas
Waktu
(1) (2) (3) (4) = (3) x (2) (5) (6) = (5) x (1)
1 1.500.000 0,869565217 1.304.348 0,130434783 0,130434783
2 1.500.000 0,756143667 1.134.216 0,11342155 0,2268431
3 11.500.000 0,657516232 7.561.437 0,756143667 2,268431002
10.000.000 2,625708885

10 𝑗𝑢𝑡𝑎 10 𝑗𝑢𝑡𝑎
DA = (20 𝑗𝑢𝑡𝑎) (1,87) + ( ) (2,626)
20𝑗𝑢𝑡𝑎

= 0,935 + 1,313
= 2,248 tahun
= dibulatkan menjadi 2,25 tahun
Kewajiban

Rata-rata
PV Aliran Proporsi PV
Tahun Aliran kas PVIF (15%) tertimbang Jangka
Kas Aliran Kas
Waktu
(1) (2) (3) (4) = (3) x (2) (5) (6) = (5) x (1)
1 20.700.000 0,869565217 18.000.000 1 1
18.000.000 1
18 𝑗𝑢𝑡𝑎
DL = (18 𝑗𝑢𝑡𝑎) (1)

= 1 tahun
Sehingga, GAP durasi = DA – DL
= 2,25 – 1
= 1,25 tahun

c. Jika tingkat bunga (yield) naik sebesar 5% (menjadi 20%), tunjukkan masalah yang akan
dihadapi oleh bank tersebut!
1.500.000 11.500.000
Obligasi 2 tahun = (1+0,2)^1 + (1+0,2)^2

= 1.250.000 + 7.986.111
= 9.236.111
1.500.000 1.500.000 11.500.000
Obligasi 3 tahun = (1+0,2)^1 + (1+0,2)^2 + (1+0,2)^3

= 1.250.000 + 1.041.667 + 6.655.093


= 8.946.760
20.700.000
Kewajiban = (1+0,2)^1

= 17.250.000
Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun Pinjaman jangka pendek, bunga 15%,
Nilai nominal Rp10 juta, kupon jangka waktu 1 tahun
bunga=15% Rp9.236.111 Nilai nominal=Rp18 juta Rp17.250.000
Obligasi jangka waktu 3 tahun
Nilai nominal Rp10 juta, kupon Modal saham Rp2 juta Rp932.871
bunga=15% Rp8.946.760
Total aktiva Rp18.182.871 Total pasiva Rp18.182.871

Sesudah kenaikan tingkat bunga, nilai obligasi pada sisi aset turun. Total aset turun dari
Rp20juta menjadi sekitar Rp18juta. Nilai pinjaman juga ikut mengalami penurunan, dari
dari Rp18juta menjadi sekitar Rp17juta. Penurunan nilai aset lebih besar dibandingkan
dengan penurunan nilai pinjaman, yang mengakibatkan kerugian. Modal saham harus
menanggung kerugian tsb, akibatnya nilai saham berkurang dari Rp2juta menjadi
Rp932.871. Kerugian yang terjadi adalah sekitar Rp1juta.

d. Bagaimana alternatif pemecahannya dan imunisasi yang dilakukan?


Alternatif yang dapat dilakukan oleh bank dengan imunisasi metode jangka waktu dan
imunisasi dengan metode durasi. Adapun imunisasi metode jangka waktu dilakukan
dengan menyamakan jangka waktu aset dengan jangka waktu kewajiban. Sedangkan
imunisasi dengan metode durasi dilakukan dengan cara menyamakan durasi aset dan
durasi kewajiban.
▪ Imunisasi dengan metode jangka waktu
Bank bisa menyamakan sumber dana dengan aset sehingga neracanya akan
nampak sebagai berikut.
Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun Pinjaman jangka pendek, bunga 15%,
Nilai nominal Rp10 juta, kupon bunga=15% jangka waktu 2,5 tahun
Obligasi jangka waktu 3 tahun Nilai nominal=Rp18 juta
Nilai nominal Rp10 juta, kupon bunga=15% Modal saham Rp2 juta
Total aset Rp20 juta Total pasiva Rp20 juta

Jangka waktu aset (MA) adalah 2,5 tahun ((2+3)/2) jangka waktu pinjaman juga
sama yaitu 2,5 tahun. Tingkat bunga yang berlaku 15% sehingga nilai aset dan
kewajiban adalah Rp20juta. Misalkan tingkat bunga meningkat menjadi 20%, nilai
aset dan kewajiban yang baru akan terlihat sebagai berikut.
Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun Pinjaman jangka pendek, bunga 15%,
Nilai nominal Rp10 juta, kupon jangka waktu 2,5 tahun
bunga=15% Rp9.236.111 Nilai nominal=Rp18 juta Rp16.104.167
Obligasi jangka waktu 3 tahun
Nilai nominal Rp10 juta, kupon Modal saham Rp2 juta Rp2.078.704
bunga=15% Rp8.946.760
Total aktiva Rp18.182.871 Total pasiva Rp18.182.871
Perhatikan bahwa nilai aset dan kewajiban turun semua, tetapi nilai modal naik
sekitar Rp78ribu (dari Rp2juta menjadi Rp2.078.704). Kerugian tsb jauh lebih kecil
dibandingkan jika bank mempunyai kewajiban dengan jangka waktu 1 tahun.
Dengan demikian bank bisa menekan risiko perubahan tingkat bunga dengan
menyamakan jangka waktu aset dengan jangka waktu kewajiban.

▪ Imunisasi dengan metode durasi


❖ Duration mismatch
Bank mempunyai neraca seperti pada tabel berikut.
Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun Pinjaman jangka pendek, bunga 15%,
Nilai nominal Rp10 juta, kupon jangka waktu 1 tahun
bunga=15% Nilai nominal=Rp18 juta
Obligasi jangka waktu 3 tahun
Modal saham Rp2 juta
Nilai nominal Rp10 juta, kupon
bunga=15%
Total aset Rp20 juta Total pasiva Rp20 juta

Misalkan tingkat bunga yang berlaku adalah 15%, durasi untuk obligasi aset
pertama bisa dihitung dan nilainya adalah 1,87 tahu. Durasi untuk obligasi aset
kedua adalah 2,626 tahun. Durasi aset dengan demikian adalah:
DA = (10juta/20juta) (1,87) + (10juta/20juta) (2,626) = 2,25 tahun
Durasi untuk kewajiban (pinjaman jangka waktu 1 tahun bisa dihitung dan
nilainya 1 tahun. Gap durasi bisa dihitung sebagai berikut
Gap durasi = DA – DL = 2,25 – 1 = 1,25 tahun

❖ Imunisasi modal saham


Seperti diketahui sebelumnya durasi aset adalah 2,25 tahun. Untuk
mengimunisasi modal saham, bank bisa Menyusun kewajibannya agar
mempunyai durasi sedemikian rupa sehingga DA=DL×k, dimana
k=18juta/20juta=0,9 tahun. Durasi kewajiban agar persamaan tsb terpenuhi
adalah:
DL = 2,25 / 0,9 = 2,5 tahun
Misalkan bank kemudian menerbitkan obligasi tanpa kupon (zeroes)dengan
jangka waktu 2,5 tahun. Supaya nilai pasar obligasi adalah Rp18juta (modal
saham adalah Rp2juta dan total pasiva sama dengan total asset yaitu Rp20juta),
dan dengan bunga (implicit) adalah 15%, maka nilai nominal obligasi tsb adalah:
Nilai pasar zeroes = Nilai nominal / (1+r)t
Nilai nominal = 18juta × (1+0,15)2,5 = Rp25.528.019
Berarti bank menerbitkan obligasi tanpa kupon dengan nilai nominal sekitar
Rp25juta. Misalkan tiba-tiba tingkat bunga yang berlaku naik menjadi 20%. Nilai
pasar obligasi asset berubah menjadi Rp18.182.871. Nilai obligasi kewajiban
yang berupa obligasi zeroes menjadi:
Nilai pasar zeroes = 25.528.019 / (1+0,2)2,5 = Rp16.187.710
Struktur neraca yang baru sesudah bunga meningkat menjadi 20%, bisa dilihat
pada tabel berikut
Aktiva Pasiva
Obligasi jangka waktu 2 tahun Obligasi tanpa kupon,
Nilai nominal Rp10 juta, kupon nilai nominal=Rp25.528.019
bunga=15% Rp9.236.111 jangka waktu 2,5 tahun Rp16.187.710
Obligasi jangka waktu 3 tahun
Nilai nominal Rp10 juta, kupon Modal saham Rp2 juta Rp1.995.161
bunga=15% Rp8.946.760
Total aset Rp18.182.871 Total pasiva Rp18.182.871
Perhatikan bahwa nilai modal saham bank tsb tidak berubah, yaitu tetap Rp 2 juta
ada selisih karena pembulatan-pembulatan). Dengan kata lain, perubahan tingkat
bunga tidak mempengaruhi modal saham bank tsb.
❖ Imunisasi Rasio Modal
Dalam penjelasan sebelumnya, dimana durasi aset adalah 2,25 tahun, maka bank
perlu membuat durasi kewajiban menjadi 2,25 tahun juga. Misalkan bank
menerbitkan obligasi tanpa kupon, maka nilai nominal yang diperlukan adalah
(tingkat bunga implisit adalah 15%),
Nilai nominal = 18juta × (1+0,15)2,25 = Rp24.651.460
Rasio modal bank tsb adalah Rp2juta/Rp20juta = 0,1 atau 10%. Jika bank ingin
mempertahankan rasio tsb, maka bank akan menyamakan durasi aset dengan
durasi kewajibannya, missal dalam hal ini adalah 2,25 tahun
Misalkan tingkat bunga meningkat menjadi 20%. Total nilai aset turun menjadi
Rp18.182.871. Nilai pasar kewajiban bisa dihitung menjadi:
Nilai pasar zeroes = 24.651.460 / (1+0,2)2,25 = Rp16.357.969
Nilai modal saham = Nilai aset – Nilai kewajiban
= Rp18.182.871 – Rp16.357.969
= Rp1.824.902
Rasio modal terhadap total aset yang baru = (1.824.902) / (18.182.871) = 0,10036
atau 10,04%. Rasio tsb sama dengan rasio sebelumnya (ada selisih karena
pembulatan). Dengan kata lain, rasio modal bisa diimunisasi dari perubahan
tingkat bunga.
DISKUSI BAB 9 (No. 1-3)

1. Suatu portofolio yang mempunyai deviasi standar yang tinggi akan mempunyai VAR yang
tinggi juga. Setujukah Anda dengan pernyataan tersebut? Jelaskan!
Setuju. Karena jika kita asumsikan distribusi dalam keadaan normal semakin tinggi
(deviasi standar) maka kemungkinan ketidakpastian hasil actual juga semakin tinggi.
Deviasi standar digunakan untuk menghitung penyimpangan dari nilai rata-rata. Apabila
risiko dinyatakan sebagai seberapa jauh hasil yang diperoleh dapat menyimpang dari hasil
yang diharapkan, maka digunakan ukuran penyebaran yaitu dengan menggunakan
varians/standar deviasi. Sehingga semakin besar deviasi standar, semakin besar
penyimpangan (penyimpangan dipakai sebagai indikator risiko), maka semakin besar juga
risiko atau VAR nya.

2. Bank ABC (Amerika Serikat) mempunyai portofolio bernilai DM 20 juta dan BP 25 juta.
DM (mata uang Jerman dan BP adalah British Pound, mata uang Inggris). Kurs spot adalah
$0,4/DM dan $1,28/BP. Deviasi standar harian kurs spot adalah 65 bps dan 45 bps, untuk
DM dan BP
a. Hitung 95% VAR-10 hari untuk kedua portofolio tersebut!
DM BP
Return yg diharapkan 0,2% 0,8%
Standar Deviasi 65 45
Nilai Investasi 20.000.000 25.000.000
Kurs spot 0,4 1,28
Total Investasi (nilai x
8.000.000 32.000.000
kurs)
Total Investasi 40.000.0000
Korelasi A & B 0,45

VAR (10 hari) = 40.000.000 x √10


= 126.491.106,4
Dengan demikian 95% VAR-10 hari adalah 126.491.106,4

b. Misalkan korelasi antara perubahan kurs keduanya adalah 0,45, hitung 95% VAR-10
hari untuk portofolio DM dan BP bank tersebut!
Return portofolio = XA E(RA) + XB E(RB)
8.000.000 32.000.000
= (40.000.000) x 0,2 + (40.000.000) x 0,8

= 0,04 + 0,64
= 0,68%
Deviasi standar portofolio untuk dua asset bisa dihitung sebagai berikut.
P = [ XA2 A2 + XB2 B2 + 2 XA XB RAB A B]1/2
8.000.000 32.000.000 8.000.000 32.000.000
= [(40.000.000)2 (65)2 + (40.000.000)2 (45)2 + 2 (40.000.000) (40.000.000) (0,45) (65)

(45)]1/2
= [(0.04) (4225) + (0.064) (2025) + 2 (0.2) (0.8) (0.45) (65) (45)]1/2
= [169 + 1296 + 2 (210.6)]1/2
= [1886.2]1/2
= 43.4304%

VAR 95% = 0.68 – (1.65 × 43.43) = -70.9795%


VAR 95% = -70.9795 × 40.000.000 = -28.391.800
Dengan demikian, maka dari hasil VAR diatas maka ada 5% kemungkingan kerugian
portofolio sebesar 28.391.800

Untuk VAR 95%-Harian 10 hari maka perhitungannya yaitu sebagai berikut


VAR (5 hari) = 28.391.800 × √10
= 89.782.754,872
Dengan demikian 95% VAR-10 Hari adalah 89.782.754,872

3. Misalkan kita menghitung tingkat keuntungan selama 10 hari terakhir, seperti pada tabel
berikut.
Tingkat Keuntungan (%)
1 -0,1
2 0,1
3 0,15
4 0,05
5 -0,05
6 0,125
7 0,2
8 -0,025
9 0
10 0,04

a. Hitung deviasi standar dan rata-rata tingkat keuntungan!

Tingkat
Keuntungan R - E(R) (R - E(R))2
(%)
1 -0,1 -0,149 0,022201
2 0,1 0,051 0,002601
3 0,15 0,101 0,010201
4 0,05 0,001 0,000001
5 -0,05 -0,099 0,009801
6 0,125 0,076 0,005776
7 0,2 0,151 0,022801
8 -0,025 -0,074 0,005476
9 0 -0,049 0,002401
10 0,04 -0,009 0,000081
Jumlah 0,49 0,08134
Rata-rata 0,049
Varian =
Jumlah / 0,009037778
(N-1)

Tingkat keuntungan rata-rata = [(-0,1) + 0,1 + 0,15 + … + 0 + 0,04] / 10


= 0,049%
2 = ( ((-0,1) – 0,049)2 + (0,1) – 0,049)2 + … + (0 – 0,049)2 + (0,04 – 0,049)2 / (10-1)
= 0,009037778
 = √ 0,009037778
 = 0,095067228
 = 9,5067%
b. Hitung VAR 90%-harian dengan menggunakan metode historis dan analitik

Tingkat
keuntungan Hari Tingkat
(%) keuntungan (%)
(1) (2)
1 -0,1 1 -0,1
2 0,1 5 -0,05 Dari tabel disamping, dapat
3 0,15 8 -0,025 dilihat bahwa tingkat
4 0,05 9 0
keuntungan terendah pada hari
5 -0,05 10 0,04
6 0,125 4 0,05 1 sebesar -0,10% dan tingkat
7 0,2 2 0,1 keuntungan paling besar
8 -0,025 6 0,125 berada pada hari ke 7 sebesar
9 0 3 0,15
10 0,04 7 0,2 0,20 %
Jumlah 0,49

Pada kolom (2) terlihat bahwa return terendah adalah -0,10% yang terjadi pada hari ke
1. Sementara return tertinggi terjadi pada hari ke-7 sebesar 0,2%. Jika kita ingin melihat
VAR 90%-harian, kita akan melihat 10% return terendah. 10% dari 10 adalah 1, dengan
demikian kita memilih 1 hari dengan return terendah yaitu -0,10%. Misalkan portofolio
bernilai Rp1 miliar, maka VAR 90%-harian adalah -0,10% × Rp1 miliar = - Rp1juta.
Kita bisa mengatakan “besok ada kemungkinan sebesar 10% kerugian kita pada saham
sebesar Rp1juta atau lebih”. Alternatif redaksional yang lain adalah “kita yakin sebesar
95% bahwa kerugian kita besok tidak akan melebihi Rp1juta”.

Dengan menggunakan metode analitis, dengan rata-rata return untuk data yang diatas
sebesar 0.05% dengan standar deviasi (σ²) sebesar 0,095067228. Maka VAR 90%-harian
adalah sebagai berikut:
VAR 90% = 0,049% - 1.29 (0,095067228)
= 0.049% - 0,1226
= -0.0736
Dengan demikian VAR 90%-harian adalah -0.0736 × Rp1 miliar = -Rp73.600.000

c. Hitung VAR 90%-harian dengan menggunakan simulasi Monte-Carlo, Anda tentukan


sendiri probabilitas untuk setiap tingkat keuntungan tersebut!

Tingkat Probabilitas
Probabilitas
keuntungan (%) kumulatif
1 -0,1 0,07 0-4
2 -0,05 0,05 5-9
3 -0,025 0,08 10-14
4 0 0,1 15-19
5 0,04 0,25 20-29
6 0,05 0,05 30-54
7 0,1 0,1 54-69
8 0,125 0,15 70-79
9 0,15 0,05 80-94
10 0,2 0,1 95-99
Jumlah 1

Probabilitas kumulatif merupakan akumulasi angka yang akan diperlukan untuk


menjalankan simulasi. Sebagai contoh, untuk tingkat keuntungan -0,10 karena ada 7%
probabilitas terjadi. Maka probabilitas yang dipasangkan adalah angka 0,1,2,3 dan 4 (ada
5 angka). Sehinga total probabilitas kumulatif berjumlah 100 angka mulai dari angka 0
sampai dengan angka 99, yang mencerminkan total probabilitas 1. Langkah berikutnya
adalah menghasilkan generate angka random yang akan mempunyai nilai antara 0-99,
konsisten dengan jumlah probabilitas kumulatif yang telah disajikan. Berikut ini
merupakan angka randomnya.

Tingkat
Hari Angka Random
keuntungan (%)
1 57 -0,1
2 34 -0,05
3 60 -0,025
4 41 0
5 98 0,04
6 9 0,05
7 66 0,1
8 21 0,125
9 72 0,15
10 85 0,2

Run pertama menunjukan angka random 57. Angka 57 berkaitan dengan tingkat
keuntungan -0,10% (probabilitas kumulatifnya 54-69). Sehingga dapat diulang proses
tersebut berulang-ulag kali sampai akhirnya menghasilkan distribusi frekuensi yang
dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tingkat Keuntungan (%) Frekuensi
-0,1 2
-0,05 7
-0,025 3
0 5
0,04 12
0,05 18
0,1 8
0,125 10
0,15 25
0,2 10
Jumlah 100

Distribusi frekuensi hasil simulasi

Keuntungan dapat dilihat sebagai berikut:


Tingkat
Frekuensi Untung X Frekuensi
Keuntungan (%)
-0,1 2 -0,20
-0,05 7 -0,35
-0,025 3 -0,08
0 5 -
0,04 12 0,48
0,05 18 0,90
0,1 8 0,80
0,125 10 1,25
0,15 25 3,75
0,2 10 2,00
Jumlah 100 0,086%

Rata rata tingkat keuntungan = 0.086%


Deviasi standarnya = 9,5067%

VAR 90%-hariannya bisa dihitung sebagai berikut:

VAR 90%-harian = 0.086% - (1.29 × Deviasi Standar)

= 0.000086 – (1.29 × 0,095067)

= 0,000086 – 0,1226

= -0,122514

Misalkan kita mempunyai portofolio senilai Rp1 miliar, maka VAR-90% harian adalah
-0,122514 × Rp 1 miliar = -Rp122.514.000

d. Hitung VAR 90%-mingguan (7 hari) untuk setiap perhitungan VAR diatas! Jelaskan!
VAR (7 hari) = Rp122.514.000 × √7
= Rp324.141.576
Dengan demikian 90% VAR-7 hari adalah Rp324.141.576

Anda mungkin juga menyukai