Anda di halaman 1dari 17

Laporan Kasus

HERNIA SKROTALIS SINISTRA

Oleh:
Ibrahim Muhammad

Pembimbing:
dr. Yudhy Arimansyah, Sp. B
dr. Hazairin, Sp. B

DEPARTEMEN ILMU BEDAH RS DR. SOBIRIN


LUBUK LINGGAU
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi kasus yang berjudul


Hernia Skrotalis Sinistra

Oleh:
Ibrahim Muhammad

telah dilaksanakan pada bulan Januari 2016 sebagai salah


satu persyaratan guna mengikuti program internsip di RS
Dr. Sobirin Lubuk Linggau Sumatera Selatan.

Lubuk Linggau, Januari 2016


Pembimbing,

Dr. Yudhy, Sp B/ Dr. Hazairin, Sp B

2
BAB I
REKAM MEDIK

IDENTIFIKASI

Nama : Tn. Ali Kiran


Umur : 66 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status : menikah
Pekerjaaan : Kuli Bangunan
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Alamat : Lubuk Linggau
MRS :19 Juli 2008

ANAMNESIS
Keluhan Utama:
benjolan di kantong kemaluan kiri

Riwayat perjalanan penyakit:

± 2 tahun smrs, penderita merasakan benjolan sebesar kelereng di sela paha kiri.
Benjolan tersebut hilang timbul. Terutama ketika penderita mengangkat barang
berat, batuk, duduk lama, lari, mengedan. Jika penderita berbaring , benjolan
mengecil kembali. Penderita tidak merasakan nyeri. BAB (+), flatus (+).
± 1 Bulan smrs, penderita merasakan adanya benjolan semakin membesar sebesar
bola tenis di kantong kemaluan kiri. Benjolan tersebut bersifat hilang timbul. Jika
penderita habis mengangkat barang berat, batuk, duduk lama, jalan/lari, benjolan
terasa membesar, hingga seukuran buah mangga. Jika penderita berbaring,
benjolan mengecil kembali.
Mual (-), muntah (-), flatus (+), BAB biasa, BAK biasa.

3
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat darah tinggi ada sejak 5 tahun yang lalu tidak berobat teratur
Riwayat kencing manis tidak ada

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga disangkal

Riwayat pekerjaan
Penderita bekerja sebagai kuli bangunan yang sering mengangkat beban berat

PEMERIKSAAN FISIK (13 Januari 2016)


Status Generalis
KU : baik
Kesadaran : compos mentis
Gizi : cukup
Tekanan darah : 160/100 mmhg
Nadi : 82x/menit
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36,6ºC
Kepala : tidak ada kelainan
Kulit : tidak ada kelainan
Leher : tidak ada kelainan
Pupil : isokor/ reflex cahaya +/+
KGB : tidak ada kelainan
Thoraks : Cor, HR=86x/menit, murmur (-), gallop (-)
Pulmo, vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen : I = datar
P= lemas, NT (-), benjolan (-), massa (-)
P= timpani
A= BU (+) normal

4
Ekstremitas superior : tidak ada kelainan
Ekstremitas inferior : tidak ada kelainan
Genitalia eksterna : lihat status lokalis

Status Lokalis
Regio Scrotalis Dextra (Valsava Test)
Inspeksi : tampak benjolan sebesar telur bola tenis, warna sama dengan
sekitarnya
Palpasi : teraba massa berukuran 12x10 cm, konsistensi kenyal, permukaan
rata, NT (-), batas atas tidak jelas, massa sulit didorong masuk ke
cavum abdomen,
Rectal Toucher: TSA baik, mukosa recti licin, ampula recti kosong, tidak teraba
pembesaran prostat, feces (-), darah (-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes transiluminasi : negatif
Lab (Darah Rutin) : Hb : 14,1 gr%
Ht : 45,7 vol%
Leukosit : 5.800 /mm3
Trombosit : 195000/ mm3
Neutofil :6%
Lymfosit : 32,3 %
MXD : 7,7 %
MCH : 21,6
MCV : 70,0
MCHC : 30,9

Hematologi Lain
BT : 4,00
CT : 9,30
Gol. Darah :A+

5
Kimia Darah :
BSS : 133
Ureum : 44,0
Kreatinin : 0,72
Natrium : 135
Kalium : 4,3
Chlorida : 103
EKG

Kesan EKG: Sinus Rhytm

6
Rontgen Thoraks

Kesan: Normal

DIAGNOSIS KERJA
Hernia Skrotalis Sinistra

DIAGNOSIS BANDING
Hidrocele
Orchitis

7
PENATALAKSANAAN
hernioraphy

PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungsionam : bonam

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

HERNIA

Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Hernia terdiri atas
cincin, kantong, dan isi dari hernia tersebut.

Klasifikasi
Hernia diklasifikasikan menurut berbagai dasar:
 Klasifikasi hernia berdasarkan terjadinya:
1) Hernia kongenital, merupakan hernia bawaan yang terjadi pada saat
bayi berada dalam kandungan dan menetap sampai bayi lahir.
2) Hernia akuisita, merupakan hernia dapatan, yang umumnya terjadi
akibat faktor peningkatan tekanan intra abdomen.
 Klasifikasi hernia berdasarkan letaknya:
1) Hernia diafragma
2) Hernia inguinalis
3) Hernia umbilikalis
4) Hernia femoralis
 Klasifikasi hernia berdasarkan sifatnya:
1) Hernia reponibel, bila isi kantong hernia dapat keluar masuk ke dalam
rongga.
2) Hernia irreponibel, bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan
lagi ke dalam rongga.
3) Hernia akreta, bila terjadi perlekatan antara isi kantong pada
peritoneum kantong hernia dan tidak disertai nyeri ataupun tanda
sumbatan usus.

9
4) Hernia inkarserata, bila isi kantong hernia terjepit oleh cincin hernia,
sehingga tidak dapat dikembalikan lagi, akibatnya terjadi gangguan
pasase dan tanda-tanda sumbatan usus.
5) Hernia strangulata, bila terjadi gangguan vaskularisasi dari mulai
bendungan sampai nekrosis, pada saat isi hernia terjepit oleh
cincinnya.

Anatomi pintu canalis inguinalis

10
HERNIA INGUINALIS

Anatomi Regio Inguinalis


Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus
yang merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis
m.tranversus abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubicum, kanal ini
dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponeurosis MOE.
Atapnya ialah aponeurosis MOE, dan dasarnya ialah ligamentum inguinale. Kanal
berisi funikulus spermatikus pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita.

Hernia inguinalis dapat dibedakan menjadi direk dan indirek. Hernia


inguinalis direk, disebut juga hernia inguinalis medialis, isi hernia menonjol
langsung melalui trigonum Hesselbach (daerah yang dibatasi oleh, inferior:
ligamentum inguinale, lateral: vasa epigastrika inferior, medial: tepi m.rectus
abdominis). Dasar trigonum Hesselbach ini dibentuk oleh fasia tranversa yang
diperkuat oleh aponeurosis m.tranversus abdominis yang terkadang tidak
sempurna, sehingga daerah ini potensial menjadi lemah. Hernia jenis ini jarang
mengalami strangulasi, karena cincin hernia longgar.
Pada hernia inguinalis indirek atau hernia inguinalis lateralis, isi hernia
keluar dari rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus, yang terletak
lateral dari vasa epigastrika inferior. Dari anulus inguinalis internus, hernia masuk
ke kanalis inguinalis, dan jika berlanjut dapat keluar ke anulus inguinalis
eksternus. Jika cukup panjang, hernia dapat keluar menuju skrotum. Kantong
hernia akan berada di dalam m.cermaster, terletak anteromedial terhadap vas
deferens dan struktur lain dalam funikulus spermatikus.

Etiologi
Hernia inguinalis dapat terjadi akibat anomali kongenital atau karena sebab
yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia, namun lebih banyak pada
pria dibanding wanita.

11
Pada orang sehat, ada tiga mekanisme yang mencegah terjadinya hernia,
yaitu: struktur kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur MOI yang
menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi, dan adanya fasia tranversa
yang kuat dan menutupi trigonum Hesselbach. Ini disebut shutter mechanism, dan
gangguan pada mekanisme ini dapat menimbulkan hernia.
Faktor yang dianggap berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis
yang terbuka, peningkatan tekanan intra abdomen, dan kelemahan dinding perut
akibat usia.
Prosesus vaginalis paten adalah prosesus vaginalis yang tetap terbuka
walaupun testis sudah turun. Namun untuk terjadi hernia, faktor ini biasanya
disertai faktor lain seperti anulus yang cukup lebar atau tekanan intra abdomen
yang tinggi. Karena pada neonatus ±90% prosesus vaginalis tetap terbuka, dan
pada bayi 1 tahun ±30% prosesus vaginalis belum menutup, akan tetapi kejadian
hernia pada usia ini hanya beberapa persen.
Tekanan intra abdomen yang tinggi secara kronik seperti batuk kronik,
hipertrofi prostat, konstipasi dan asites sering mencetuskan hernia.
Kelemahan dinding perut karena usia menyebabkan insiden hernia
meningkat seiring bertambahnya usia. Faktor lain seperti genetik juga dapat
menyebabkan hernia.

Diagnosis
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia.
Pada hernia reponibel, keluhan satu-satunya adalah munculnya benjolan di daerah
inguinalis terutama pada saat batuk, bersin, mengejan atau mengangkat benda
berat. Lalu benjolan tersebut dapat menghilang saat penderita berbaring. Keluhan
nyeri dapat menyertainya walaupun jarang, disebabkan mekanisme nyeri viseral
karena regangan mesenterium saat satu segmen usus masuk ke dalam kantong
hernia. Nyeri ini dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilikal. Nyeri yang
disertai mual muntah dapat timbul jika telah terjadi inkarserasi dan strangulasi.

12
Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi atau tidak.
Jika tidak dapat direposisi, diagnosis ditegakkan atas dasar tidaknya batas atas
benjolan, dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus.
Hernia inguinalis lateralis muncul sebagai tonjolan berbentuk lonjong,
karena keluar melalui dua pintu (anulus inguinalis internus dan eksternus),
sedangkan hernia inguinalis medialis berbentuk tonjolan bulat, karena langsung
keluar melalui satu celah yaitu trigonum Hesselbach. Hernia inguinalis medialis
hampir selalu disebabkan oleh peningkatan tekana intra abdomen dan kelemahan
dinding perut bagian trigonum Hesselbach. Oleh karena itu, hernia ini kerap
muncul bilateral, khususnya pada pria tua. Selain itu hernia jenis ini jarang
berpotensi inkerserasi/ strangulasi karena cincinnya yang besar. Pada hernia yang
dapat direposisi, saat jari masih berada salam anulus eksternus, pasien dapat
diminta mengejan, jika yang menyentuh hernia adalah ujung jari pemeriksa,
berarti itu adalah hernia inguinalis lateralis; jika yang menyentuh hernia adalah
bagian sisi jari, berarti hernia tersebut adalah medialis. Cara ini disebut finger tip
test.

Tata laksana
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
memakai semacam korset penyangga untuk mempertahankan agar isi hernia yang
telah direposisi tidak keluar kembali. Cara ini tidak menyembuhkan, dan harus
dipakai seumur hidup. Cara ini juga tidak dapat dilakukan pada hernia inkarserata
atau strangulata yang mutlak dilakukan operasi.
Operasi merupakan satu-satunya pengobatan rasional hernia inguinalis.
Prinsip pembedahan hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplasti.
Herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai lehernya,
kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada perlekatan, kemudian
direposisi.
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkuat anulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

13
Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah residif dibandingkan
herniotomi. Herniotomi saja sering dilakukan pada anak-anak penderita hernia
kongenital, karena faktor penyebabnya hanya prosesus vaginalis paten, sedangkan
anulus inguinalis internusnya cukup elastis dan dinding belakang kanalis
inguinalis cukup kuat.

Follow Up
Laporan Operasi (15 Januari 2016)
Penderita dalam posisi supinasi dengan general anestesi
Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik
Dilakukan insisi transversal di regiogroin sinistra
Dilakukan identifikasi funikulus spermatikus, identifikasi kantong
Dilakukan pemisahan antara kantong distal dan proksimal, kantong distal
dipotong.
Dipasang 1 buah mesh, dijahit ke ligamen inguinal dan conjoint tendon.
Perdarahan dirawat
Luka dicuci dengan NaCl
Luka dijahit lapis demi lapis
Operasi selesai

Terapi Post op
Selesai dilakukan tindakan hernioraphy dengan mesh dalam spinal anestesi
Instruksi post op
1. Boleh makan minum
2. Tirah baring 24 jam
3. IVFD RL gtt xx/m
4. Inj. Ceftriaxon 2x1 gram
5. Inj ketorolac 3x30 mg
6. Inj. As. Traneksamat 3x500 mg

14
BAB III
ANALISIS KASUS

Seorang laki-laki berusia 66 tahun datang berobat ke Poli Bedah RS DR.


Sobirin Lubuk Linggau dengan keluhan terdapat benjolan pada kantong kemaluan
kiri.
Dari anamnesis lebih lanjut diketahui bahwa benjolan sudah timbul sejak 2
tahun lalu. Benjolan sebesar kelereng dan tidak nyeri. Benjolan tersebut bersifat
hilang timbul, dapat membesar atau mengecil. Jika penderita mengangkat barang
berat, habis duduk lama atau jalan/lari, atau batuk-batuk, mengedan benjolan
terasa membesar. Namun jika penderita berbaring, benjolan kembali ke ukuran
sebelumnya.
Sejak 1 bulan lalu benjolan semakin membesar seukuran bola tenis.
Benjolan tersebut bersifat hilang timbul, dapat membesar atau mengecil. Jika
penderita mengangkat barang berat, habis duduk lama atau jalan/lari, atau batuk-
batuk, benjolan terasa membesar, hingga seukuran buah mangga dan tidak terasa
nyeri.
Dari anamnesis diketahui juga bahwa penderita tidak ada keluhan mual,
muntah, dapat flatus dan BAB normal. Dari riwayat pekerjaan juga didapatkan
penderita seorang kuli bangunan. Dan juga memiliki riwayat hipertensi
Dari anamnesis dapat disimpulkan penderita mengalami hernia skrotalis
sinistra reponibel dengan faktor risiko sering mengangkat beban berat. Penderita
juga memiliki penyulit hipertensi.
Dari hasil pemeriksaan fisik, didapatkan status generalis dalam batas
normal. Pada status lokalis regio scrotalis dextra didapatkan pada inspeksi,
tampak benjolan sebesar bola tenis, warnanya sama dengan daerah sekitar. Pada
palpasi, teraba massa kenyal berukuran 12x10 cm, permukaan rata, batas atas
tidak tegas, dan masih dapat dimasukkan ke dalam cavum abdomen.
Dari data-data diatas, dapat dipikirkan suatu hernia skrotalis sinistra
reponibel. Hernia dipikirkan karena benjolan bersifat kenyal, dan batas atas tidak
jelas, yang dapat dicurigai sebagai massa usus. Lokasi benjolan yang mencapai

15
scrotum, dapat dipikirkan suatu hernia inguinalis lateralis. Hernia bersifat
reponibel karena dapat keluar masuk cavum abdomen. Tanda-tanda obstruktif
berupa mual, muntah tidak didapatkan pada pasien ini, yang berarti hernia tidak
bersifat inkarserata.
Hasil tersebut didukung dengan tes transiluminasi negatif, yang dapat
menyingkirkan kemungkinan hidrocele. Benjolan yang bersifat kenyal dan
berwarna sama dengan sekitar dapat menyingkirkan pembesaran testis karena
orchitis yang akan terlihat tanda-tanda radang dan batasnya jelas. Batas atas
benjolan yang tidak jelas juga dapat menyingkirkan benjolan-benjolan lain seperti
tumor atau radang.
Pada RT tidak ditemukan kelainan dan tidak teraba pembesaran prostat.
Pasien inipun tidak mengalami konstipasi atau batuk kronis. Hasil pemeriksaan
laboratorium dalam batas normal, yang berarti mendukung operasi.
Penatalaksanaan terhadap penderita ini adalah operasi hernioraphy.
Prognosis pasien ini bonam, karena belum terdapat komplikasi.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Grace, Pierce A &Neil R. Borley. At a Glance Ilmu Bedah, Edisi III.


Jakarta: Erlangga Medical Series.
2. Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta:
EGC. 2005
3. Inguinal Hernia: Anatomy and Management
http://www.medscape.com/viewarticle/420354_4
4. Manthey, David. Hernias .2007.
http://www.emedicine.com/emerg/topic251.htm
5. Norton,Jeffrey A. 2001. Hernias And Abdominal Wall Defects. Surgery
Basic Science and Clinical Evidence. New York. Springer. 787-803.
6. http://www.hernia.tripod.com/inguinal.html
7. http://www.webmed.com/digestive-disorders/tc/Inguinal-Hernia-
Symptoms
8. Way, Lawrence W. 2003. Hernias & Other Lesions of the Abdominal
Wall. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Eleventh edition. New
York. Mc Graw-Hill. 783-789.

17