Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Berdasarkan UUD 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu


perwujudan kenegaraan, ditugaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat seperti
pajak dan lain-lainnya harus ditetapkan dengan Undang-Undang, demikian pula
pendapatan daerah dan retribusi daerah juga harus didasarkan pada Undang-Undang
yang berlaku.

Sesuai dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-

undang No 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan

pemerintah daerah, anggaran pendapatan daerah bersumber dari PAD dan penerimaan

dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara. PAD yang antara

lain berupa pajak daerah dan retribusi daerah diharapkan menjadi salah satu sumber

pembiayaan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah untuk meningkatkan

dan meratakan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Dalam

penyelenggaraan pemerintahan di daerah dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat

serta melaksanakan pembangunan daerah, maka daerah membutuhkan sumber-sumber

penerimaan yang cukup memadai. Sumber-sumber penerimaan daerah ini dapat berasal

dari bantuan dan sumbangan pemerintah pusat maupun penerimaan yang berasal dari

daerah sendiri. Namun, perlu digaris bawahi bahwa tidak semua daerah memiliki

kekayaan alam. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah yaitu dengan cara terus-

menerus menggali sumber-sumber baru, pendapatan baru, dan tidak lupa untuk

meningkatkan segala sumber daya serta meningkatkan efektivitas dari kagiatan yang

sudah ada (Arvian, 2004).


Lebih jauh Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah
mengharuskan pemerintah daerah memiliki kemandirian dan tanggung jawab untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat dan pembangunan di daerahnya. Sejak
diberlakukannyan kebijakan otonomi daerah, salah satunya adalah Kabupaten Bogor

dipacu untuk dapat berkreasi dalam mencari sumber penerimaan daerah yang
dapat mendukung pembiayaan pengeluaran daerah. Tujuan utama kebijakan ini adalah
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan dan peran
serta masyarakat. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan taraf
hidup masyarakat, terutama untuk pelayanan masyarakat seperti tempat hiburan,
kesehatan, keamanan,pendidikan, transportasi, dan lain-lain. Adanya hal tersebut
memberikan tuntutan kepada pemerintah daerah untuk menggali semaksimal mungkin
sumber-sumber pendapatannya secara mandiri agar dapat menjalankan tanggung jawab
itu. Menurut Soelarno (1999:51), pemerintah daerah memiliki sumber pendapatan yang
berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), pinjaman daerah, dan penerimaan daerah
lain yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) sendiri meliputi pajak daerah, retribusi
daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya
yang dipisahkan dari lain-lain PAD yang sah, antara lain penjualan asset daerah dan jasa
giro. Pajak daerah di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2000
terbagi atas 2 jenis yaitu pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota. Pembagian ini
dilakukan sesuai dengan kewenangan pengenaan dan pemungutan masing-masing pajak
daerah pada wilayah administrasi provinsi atau pada wilayah kabupaten/kota yang
bersangkutan. Sementara itu Menurut Resmi (2013: 8) pajak daerah dapat diartikan
sebagai pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah baik daerah tingkat I (pajak
provinsi) maupun pajak daerah tingkat II (pajak Kebupaten/kota) dan untuk membiayai
rumah tangga masing-masih. Pemungutan pajak merupakan suatu bentuk kewajiban
warga negara selaku wajib pajak serta pajak serta peran aktif untuk membiayai berbagai
keperluan negara yaitu berupa pembangunan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam
undang-undang dan peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 91 Tahun 2010 tentag Pajak Daerah yang

dipungut oleh Kepala Daerah atau dibayar sendiri oleh wajib pajak tentang pajak daerah

tersebut, terdapat jenis pajak yang dibayarkan sendiri oleh wajib pajak antaranya adalah

Pajak Hiburan, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak
Penerangan Jalan, Pajak Parker, Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan,

Pajak Bumi dan Bangunan, dan Pajak Air Tanah. Pemungutan pajak yang dibayarkan

sendiri ini disebut self assessment system. Fiskus dalam hal ini hanya memberikan

pengawasan dasar-dasar perhitungan yang digunakan oleh wajib pajak. Sistem

pemungutan ini diperlukan kejujuran, ketaatan serta kesadaran wajib pajak saat

menghitung dan melaporkan dalam pengisian SPTPD.


Salah satu contoh pengelolaan pajak di daerah adalah BAPPENDA yaitu Badan

Pengelolaan Pendapatan Daerah. BAPPENDA adalah sumber penunjang Pemerintah

Daerah yang mempunyai tugas mambantu Walikota dalam menemtukan kebijakan

dibidang perencanaan pembangunan di daerah serta penilain dan pelaksanaanya. Dalam

Publikasi oleh https://bappenda.bogorkab.go.id/ dengan judul Akuntabilitas Kinerja

Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Tahun 2017 menjelaskan bahwa dalam upaya

memenuhi kebutuhan biaya pembangunan di Kabupaten Bogor pada Tahun 2014 – 2017,

target pendapatan daerah yang harus dicapai terus bertambah, dengan rata-rata

peningkatan sebesar 9.99% per tahun. Realisasi terhadapat target pendapatan daerah

tersebut dapat tercapai melebihi target dengan rata-rata capaian sebesar 102.8%. Tahun

2017 capaian realisasi pendapatan daerah Kabupaten Bogor sampai dengan tanggal 15

Desember 2017 sudah mencapai Rp 6.142.798.032.035,76,- atau sebesar 90 %, yang

diharapkan sampai akhir tahun anggaran dapat mencapai 100%. Adapun komposisi

realisasi pendapatan daerah sampai dengan tanggal 15 Desember 2017 terdiri dari PAD
sebesar 40.00 %, Dana Perimbangan sebesar 43.49 % dan Lain-lain Pendapatan Daerah

yang sah sebesar 16.51 %1.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pajak Daerah bahwa jumlah

pajak daerah yang dikelola Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah sebanyak 10 jenis,

yang terdiri dari pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak

penerangan jalan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak mineral bukan logam dan batuan,

BPHTB serta pajak PBB P2. Pada Tahun 2014 – 2017 target Pajak Daerah yang harus

dicapai terus meningkat, dengan rata-rata peningkatan sebesar 15.91 % per tahun dan

realisasi pajak daerah dapat tercapau melebihi target dengan rata-rata capaian sebesar

114.58 %. Pada Tahun 2017 Capaian Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Bogor sampai

1
https://bappenda.bogorkab.go.id/wp-content/uploads/2017/09/PUBLIKASI-KINERJA-TRIWULAN-IV.pdf
dengan tanggal 15 Desember 2017 sudah mencapai Rp 1.687.024.146.821,- atau sebesar

110.66%, diharapkan sampai akhir tahun anggaran terus mengalami peningkatan.

Kabupaten Bogor dengan segala kemajemukan penduduknya, telah menjadikan


hiburan sebagai suatu kebutuhan penting untuk kehidupan masyarakat. Kini seiring
dengan berjalannya waktu, berbagai macam tempat hiburan bisa ditemukan di daerah
Kabupaten Bogor, mulai dari tempat hiburan kelas bawah, menengah, sampai kelas atas.
Hal ini ditandai dengan menjamurnya tempat hiburan seperti café dan tempat wisata
yang menyajikan berbagai hiburan. Pajak hiburan ini tentunya tidak hanya bersumber
dari masyarakat Kabupaten Bogor semata namun juga berbagai perusahaan yang andil
dalam perkembangan industri Hiburan di Kabupaten Bogor. Dengan berjalannya waktu
makin banyak tempat hiburan dan tempat wisata yang didirikan di Kabupaten Bogor juga
perkembangan jumlah wajib pajak hiburan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Perkembangan tempat hiburan diikuti dengan pemasukkan pajak daerah melalui pajak
hiburan tentunya akan memiliki pengaruh secara langsung terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bogor dalam sector kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat tersebut, baik mealui pembangunan sarana-prasarana ataupun melalui
kebijakan tertentu. Maka dari itu, agar dapat dipungut secara efektif, pemahaman
masyarakat, petugas pajak, dan setiap pihak yang terkait dengan pemungutannya harus
sesuai dengan ketentuanyang mengatur tentang pajak dan retribusi daerah. Hal ini
memerlukan sosialisasi kepada masyarakat umumbahwa pemungutan pajak ini ditujukan
untuk meningkatkan kesejahraan masyarakat di daerah sehingga mereka mau dengan
sadar membayarnya, tetapi disisi lain, masyarkat juga menghendaki adanya kepastian
bahwa pemungutan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang sebenarnya.

Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin melakukan kajian mendalam mengenai “


Analisis Kontribusi Pajak Hiburan Dalam Meningkatkan Penerimaan Asli Daerah
Kabupaten Bogor “. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
kontribusi penerimaan pajak hiburan terhadap pajak daerah dalam upaya meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Bogor, mengetahui tingkat efektifitas
penerimaan pajak hiburan terhadap pajak daerah dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) di Kabupaten Bogor

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasar pada latar Belakang Masalah diatas dapat peneliti mengidentifikasi beberapa
masalah utama yang muncul:
a) Efektifitas desentralisasi dalam kebijakan otonomi daerah
b) Potensi Pajak Hiburan dalam Penerimaan Daerah
c) Efektifitas Pajak hiburan dalam kontribusi bagi masyarakat Kabupaten Bogor

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, Pajak Hiburan memiliki kontribusi dalam meningkatkan
pendapatan daerah dan pemerintah diharapkan melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan
pendapatan asli daerah. Maka rumusan masalah yang akan diajukan dalam penelitian ini
adalah :
1. Bagaimana potensi penerimaan pajak hiburan terhadap pendapatan pajak Daerah
Kabupaten Bogor?
2. Bagaimana kontribusi pajak hiburan terhadap penerimaan pendapatan asli daerah
Kabupaten Bogor?

1.4 Tujuan Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui potensi penerimaan pajak hiburan terhadap pendapatan asli daerah
Kabupaten Bogor.
2. Mengetahui kontribusi pajak hiburan terhadap penerimaan pendapatan asli daerah
Kabupaten Bogor.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini sangat penting atau berguna bagi masyarakat pada umumnya, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor pada khususnya. Penelitian ini, di harapkan dapat
memberi manfaat kepada:

1. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor


Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi
pemerintah dalam mengambil kebijakan-kebijakan dalam usahanya untuk
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari sektor Pajak Daerah khususnya
Pajak Hiburan.

2. Bagi Masyarakat
Digunakan sebagai motivasi untuk memberikan kesadaran dalam
melaksanakan kewajibannya dengan baik sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Penulis berharap agar hasil penelitian ini dapat berguna sebagai bahan
pertimbangan dan sumbangan pemikiran bagi yang mengadakan penelitian
berikutnya, terutama yang berhubungan dengan Pajak Hiburan.

2.1 Kerangka Konseptual


2.1.1 Pengertian Pajak
Menurut Mardiasmo (2002:1) dalam bukunya mengemukakan pengertian pajak
sebagai berikut pajak adalah iuran rakyat kepada negara berdasarkan Undang-Undang (yang
dapat di paksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat
ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
2.1.1.1 Pungutan Pajak
Sistem pemungutan pajak menurut Mardiasmo (2009:6) ada 3 jenis yaitu:
a) Self Assessment System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan,
tanggungjawab kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar, dan
melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar. Ciri-cirinya, yaitu:
- Wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang reutang oleh wajib
pajak ada pada fiskus;
- Wajib pajak bersifat pasif karena bukan dirinya sendiri yang menentukan
besarnya pajak terutang;
- Utang pajak timbul setelah dikeluarkannya surat ketetapan pajak (SKP)
oleh fiskus.
b) Official Assessment System
Suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada Pemerintah
(fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Ciri-cirinya:
- Wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada
wajib pajak itu sendiri;
- Wajib pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor, dan melaaporkan
sendiri pajak terutangnya. Fiskus tidak ikut campur, hanya mengawasi
saja.
c) With Holding System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak
ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh
wajib pajak

2.1.2 Pajak Daerah


Pajak daerah menurut Supriadi et al., (2015: 3) adalah iuran wajib yang
dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang
seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundangundangan yang
berlaku, yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan
daerah. Pemerintah daerah memiliki wewenang dalam menetapkan pajak daerah dan
siapa saja yang menjadi wajib pajaknya sesuai dengan Undang-undang perpajakan
yang berlaku. Jenis tarif dan sistem pemungutan pajak daerah yang dilakukan oleh
pemerintah daerah harus lebih bersahabat dengan pelaku dunia usaha sehingga dalam
pelaksanaannya dapat lebih efisien, murah, dan transparan.

2.1.3 Pengertian Pajak Hiburan


Soelarno (1996:25) mendefinisikan hiburan adalah sesuatu yang sifatnya dapat
menyenangkan dari pribadi yang menikmati atau mengkonsumsinya. Pajak hiburan
(Nasution, 1989:512) adalah pajak yang dikenakan atas semua hiburan dengan
memungut bayaran, yang diselenggarakan pada suatu daerah. Berdasarkan pengertian
hiburan tersebut berarti pajak hiburan hanya dikenakan pada segala jenis
penyelenggaraan hiburan yang dikenakan biaya untuk dapat menikmatinya. Hal ini
berarti penyelenggaraan hiburan yang tidak memungut biaya pada orang yang
menikmatinya tidak dikenakan pajak hiburan.
Lebih Jauh, menurut Yuwono (2013: 5) Pajak Hiburan adalah pajak atas
penyelenggaraan hiburan. Selain itu, Pajak Hiburan dapat pula diartikan sebagai
pungutan daerah atas penyelenggaraan hiburan. Dalam pemungutan Pajak Hiburan
terdapat beberapa terminologi yang perlu diketahui. Yuwono (2013:5-6) lebih jauh
menjelaskan mengenai unsur-unsur dalam pajak Hiburan, yaitu:
1. Hiburan adalah semua jenis pertunjukkan, permainan, permainan ketangkasan, dan
atas keramaian dengan nama dan bentuk apa pun, yang ditontotn atau dinikmati
oleh setiap orang dengan dipungut bayaran, tidak termasuk penggunaan fasilitas
untuk berolahraga.
2. Penyelenggara hiburan adalah orang pribadi atau badan yang bertindak baik untuk
atas namanya sendiri atau badan yang bertindak baik untuk atas namanya sendiri
atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya dalam
menyelenggarakan suatu hiburan.
3. Penonton atau pengunjung adalah setiap orang yang menghadiri suatu hiburan
untuk melihat dan atau mendengar atau menikmatinya atau menggunakan fasilitas
yang disediakan oleh penyelenggara hiburan, kecuali penyelenggara, karyawan,
artis (para pemain), dan petugas yang menghadiri untuk melakukan tugas
pengawasan.
4. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima dalam bentuk
apa pun untuk harga pengganti yang diminta atau seharusnya diminta wajib pajak
sebagai penukar atas pemakaian dan atau pembelian jasa hiburan serta fasilitas
penunjangnya termasuk pula semua tambahan dengan nama apa pun juga yang
dilakukan oleh wajib pajak yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan
hiburan. Termasuk dalam pengertian pembayaran adalah jumlah yang diterima atau
seharusnya diterima, termasuk yang akan diterima, antara lain pembayaran yang
dilakukan tidak secara tunai.
5. Tanda masuk adalah semua tanda atua alat atau cara yang sah dengan nama dan
dalam bentuk aapa pun yang dapat digunakan untuk menonton, menggunakan
fasilitas, atau menikmati hiburan. Tanda atau alat atau cara yang sah adalah berupa
tanda masuk yang dilegalisasi oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota.
Termasuk tanda masuk di sini adalah tanda masuk dalam bentuk dan dengan nama
apa pun, misalnya karcis, tiket undangan, kartu langganan, kartu anggota
(membership), dan sejenisnya.
6. Harga tanda masuk, selanjutnya disingkat HTM, adalah bayaran nilai uang yang
tercantum pada tanda masuk yang harus dibayar oleh penonton atau pengunjung.

3.1 Metode Penelitian


Dalam penelitian ini, Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan
kualitatif deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang
menggambarkan dan melukiskan keadaan obyek penelitian pada saat ini
sebagaimana adanya berdasarkan fakta-fakta. Penelitian ini merupakan usaha untuk
mengungkapkan masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya
sehingga hanya mendeskripsikan fakta, Hasil penelitian ditekankan untuk memberi
gambaran secara obyektif tentang keadaan yang sebenarnya dari subyek yang
diteliti. Peneliti akan selalu bertanya dengan kata tanya “mengapa”, “alasan apa”
dan “bagaimana terjadinya” (Moleong, 2008:6).
Penggunaan metode kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk
memahami suatu fenomena, peran, interaksi serta kelompok dan bukan menguji
kebenaran hipotesa seperti pada penelitian kuantitatif.

3.1.1 Subyek Penelitian

Subjek penelitian adalah narasumber yang ditunjuk oleh peneliti sebagai


sumber data primer dalam penelitian ini. Subjek penelitian ini dipilih secara
purposive dengan mempertimbangkan dan tujuan tertentu sesuai dengan topik yang
akan diteliti (Sugiyono, 2015).
Dalam penelitian berjudul “Analisis Potensi Pajak Hiburan terhadap
Penerimaan Pajak Daerah di Kabupaten Bogor” subjek penelitian yang dipilih
merupakan indivindu atau institusi yang memiliki wewenang dan pengetahuan
tentang pengelolaan Pajak Daerah khususnya adalah pajak hiburan.
Sementara jumlah subjek penelitian dalam penelitian ini ditentukan
menggunakan Teknik snowball dan disesuaikan dengan kebutuhan informasi. Hal
ini akan membuat jumlah informan yang telah ditentukan sebelumnya akan dapat
dikembangkan jumlahnya sampai kebutuhan informasi yang diperlukan dari
narasumber terpenuhi (Sugiono, 2015).
3.1.2 Obyek Penelitian
Menurut Suharsini Arikunto (1998: 15), objek penelitian adalah variable atau
apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Sementara subjek penelitian
adalah dimana variable melekat. Objek penelitian ini adalah pajak hiburan dalam
pajak Daerah Kabupaten Bogor serta potensi yang diberikan.

3.1.3 Tekhnik Pengumpulan Data

Sugiyono (2020, hlm. 105) menyatakan bahwa secara umum terdapat empat
macam teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan
gabungan/triangulasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
triangulasi data dengan cara menggabungkan tiga teknik pengumpulan data yaitu
observasi, wawancara dan dokumentasi.
a. Wawancara Mendalam
Menurut Harsono, wawancara merupakan proses pengumpulan data yang
langsung memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Menurut Mantja
(Harsono, 2008: 162), wawancara mendalam merupakan percakapan terarah yang
tujuannnya untuk mengumpulkan informasi etnografi. Wawancara mendalam
dapat diberi makna kombinasi antara pertanyaan-pertanyaan deskriptif, struktural
dan kontras. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan informan
langsung. Wawancara tersebut dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka,
yang memungkinkan responden memberikan jawaban secara luas. Data yang
diperoleh dari wawancara mendalam berupa pengalaman, pendapat dan
pengetahuan key informan dan informan mengenai potensi pajak hiburan terhadap
Pajak Daerah dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
b. Observasi
Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk menjaring data yang
diperlukan guna melengkapi data dari wawancara. Menurut Sutopo (dalam
Harsono, 2008: 164), observasi merupakan kegiatan pengamatan yang dilakukan
oleh peneliti, di mana peneliti berperan aktif dalam lokasi penelitian sehingga
benar-benar terlihat dalam kegiatan yang ditelitinya. Observasi dilakukan dengan
terjun langsung ke lapangan secara aktif untuk memperoleh gambaran dan
keterangan riil mengenai sikap dan perilaku informan. Keterangan dan informasi
yang diperoleh kemudian dianalisis, ditafsirkan, dan disimpulkan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengambilan data yang diproses melalui dokumen-
dokumen. Metode dokumentasi dipakai untuk mengumpulkan data dari sumber-
sumber dokumen yang mungkin mendukung atau bahkan berlawanan dengan hasil
wawancara (Harsono, 2008: 165). Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data
yang berupa dokumen atau arsip. Metode dokumentasi dilaksanakan untuk
melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Data yang
diperoleh berupa tulisan, rekaman seperti buku-buku pedoman, laporan resmi,
catatan harian, notulen rapat (Arikunto, 2002: 135). Dalam penelitian ini, teknik
dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen resmi
yang berhubungan dengan pengadaan alutsista melalui pinjaman luar negeri.
d. Review Literatur
Snyder (2018: 334) menjelaskan bahwa melalui metodologi literature review
kita dapat memperoleh penjelasan dalam proses investigasi pengaruh atau
keterhubungan antara dua atau lebih variable yang spesifik ataupun meluas.
Literature review dapat digunakan dalam tujuan peneliti memperoleh penjelasan
mengenai isu atau rumusan masalah penelitian
d. Triangulasi
Menurut Sugiyono (2015, hlm. 241) mengatakatan “dalam teknik
pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang
bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data
yang telah ada”. Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang
sama. Peneliti menggunakan observasi pasrtisipatif, wawancara mendalam, dan
dokumentasi untuk sumber data yang serempak. Hal ini dapat digambarkan seperti
gambar 3.1

Gambar 3.1 Triangulasi


Sumber : Sugiyono (2015, Hal.242)

Anda mungkin juga menyukai