Anda di halaman 1dari 7

BENGAWAN SOLO, RIWAYATMU DULU DAN KINI

“Bengawan Solo riwayatmu dulu, sedari dulu jadi perhatian insani ...“
Sepenggal lirik lagu ciptaan Mbah Gesang tersebut kembali mengingatkan kita
terhadap sungai Bengawan Solo. Pernahkan anda berpikir bahwa Sungai
Bengawan Solo menyimpan keunikan dan hal menarik ? Bengawan Solo adalah
salah satu bentang alam fluvial di Pulau Jawa dan apakah anda tahu bahwa Sungai
ini pernah mempunyai aliran dengan arah yang berbeda dengan arah aliran sungai
sekarang ? Inilah salah satu fenomena menarik yang dapat dikateforikan sebagai
paleogeomorfologi. Paleogeomorfologi sendiri merupakan bagian dari ilmu
geologi yang tidak dapat lepas dari lingkup studi geomorfologi. Secara umum
paleogeomorfologi mempelajari roman atau bentukan muka bumi purba yang
masih dapat diidentifikasi pada masa kini. Paleo geomorfologi ini sendiri dapat
digunakan untuk menginterpretasikan runtutan proses geologi ynag terjadi pada
masa purba melalui bentukan morfologi yang masih terekam dan meninggalkan
jejak pada permukaan bumi. Sisa bentukan morfologi purba yang paling mudah
diamati adalah jenis paleogeomorfologi berupa topografi sisa (relict topography).
Hal utama yang membuat paleogeomorfologi jenis topografi sisa mudah diamati
adalah karena morfologi yang ada belum mengalami penimbunan dan tidak
banyak mengalami perubahan signifikan. Dengan melihat hal tersebut, dalam
tulisan ini akan dibahas salah satu contoh paleogeomorfologi yang berupa
topografi sisa (relict topography) dengan tujuan untuk mempermudah proses
interpretasi dan penafsiran morfogenesa.
Salah satu objek paleogeomorfologi yang hingga saat ini masih jelas terlihat
di Pulau Jawa, khususnya daerah Jawa Tengah adalah aliran Sungai Bengawan
Solo Purba. Jejak pola penyaluran yang terbentuk ini hingga saat ini masih terlihat
dengan cukup jelas sebagai lembah yang dibatasi oleh perbukitan yang cukup
curam.

LOKASI
Pada masa sekarang, lembah Bengawan Solo purba diidentifikasi sebagai
lembah Giritontro. Memanjang dan berkelok-kelok sepanjang 30 km dengan arah
relatif utara-selatan dari Gunung Payung yang terletak di sebelah barat Giriwoyo,
Wonogiri hingga ke arah muara di selatan Pulau Jawa, lebih tepatnya di daerah
teluk Pantai Sadeng, Gunung Kidul.

http://2.bp.blogspot.com/_xjoCNkAujUM/SHLo64ie1SI/AAAAAAAAAZY/CmqJE27iFaA/s400/100_
1790.jpg
Gambar 1. Jejak sungai berupa lembah sisa aliran Bengawan Solo purba

http://3.bp.blogspot.com/_JVNaHrYu_NU/S87UpfOtYYI/AAAAAAAAD-
Q/jn98rqDCYbc/s1600/bengawan-kecil-solo-purba-modern-national-geographic+copy.jpg
Gambar 2. Muara aliran Bengawan Solo purba di teluk Sadeng.

JENIS TOPOGRAFI
Jenis topografi yang berkembang pada daerah bekas aliran sungai
Bengawan Solo purba adalah bentukan berupa lembah yang dibatasi dua buah
perbukitan curam yang terususun oleh litologi berupa batuan karbonat sehingga
membentuk bentang alam karst. Elevasi antara titik terendah lembah dengan titik
tertinggi bukit berkisar antara 150-250 meter.

GENESA (PROSES GEOMORFIK) DAN PERKEMBANGAN MORFOLOGI


Pembentukan daerah sisa lembah Sungai Bengawan Solo ini secara dominan lebih
dipengaruhi oleh adanya proses tektonik yang juga mempengaruhi aktivitas
fluvial yang bekerja. Pada masa sekarang, lembah Bengawan Solo purba
diidentifikasi sebagai lembah Giritontro, proses tektonik tersebut terjadi pada kala
Miosen. Lebih tepatnya terbentuk akibat adanya pergerakan lempeng yang mana
saling berbatasan di bagian selatan Pulau Jawa. Peristiwa tektonik ini merupakan
peristiwa penunjaman lempeng Australia ke dalam Lempeng Eurasia akibat
perbedaan massa jenis. Penunjaman lempeng Australia ke dalam lempeng Eurasia
memberi tekanan yang begitu besar terhadap lempeng Eurasia, khususnya pulau
Jawa. Keadaan ini terjadi dalam waktu yang lama dan salah satu bukti adanya
proses tektonik yang dapat teramati adalah adanya bentang alam karst tersingkap
jelas yang berupa Perbukitan Karst Gunung Sewu yang membentang dari
Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Wonogiri, hingga Kabupaten Pacitan. Di
situlah letak lembah sungai Bengawan Solo purba yang berupa lembah yang
mewakili alur penyaluran sepanjang 30 km berkelok-kelok dan terjal. Lembah
sungai raksasa ini membentuk suatu lembah yang disebut lembah Giritontro
dengan posisi memanjang dari Gunung Payung (sebelah barat Giriwoyo,
Wonogiri) ke arah selatan hingga bermuara di Teluk Pantai Sadeng, Gunung
Kidul. Pengeringan lembah sungai ini terjadi akibat adanya proses pengangkatan,
yang mana merupakan bentuk manifestasi gaya yang begitu besar terhadap Pulau
Jawa. Proses pengangkatan ini secara otomatis membuat aliran sungai Bengawan
Solo tidak mampu lagi mengalir ke arah selatan akibat sifat air itu sendiri dan
dalam hal ini proses penggerusan atau erosi Sungai Bengawan Solo tidak dapat
lagi menembus Pegunungan yang terangkat di kala Pleistosen Tengah hingga
Miosen. Di sinilah awal munculnya lembah sungai Bengawan Solo purba. Proses
tersebut dilanjutkan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Bengawan
Solo dan membentuk cekungan Baturetno di Baturetno hingga Eramoko. Karena
pembendungan sudah tidak dapat lagi terjadi karena volume air yang terus
bertambah, maka aliran Sungai Bengawan Solo berusaha terus mengalir hingga
akhirnya menemukan daerah yang lebih rendah, yaitu arah utara. Di sinilah
peristiwa di mana terjadi proses pembalikan arah aliran Sungai Bengawan Solo
dari mengalir ke arah selatan menjadi ke arah utara. Di situlah proses utama
terbentuknya lembah sungai Bengawan Solo Purba. Selanjutnya lembah sungai
Bengawan Solo Purba meninggalkan lembah yang kaya akan sedimen fluvial dan
pada bagian tepinya dibatasi oleh perbukitan curam dan menampakkan adanya
bentukan berupa teras sungai sebagai bukti bahwa pernah ada aliran sungai yang
mengalir pada lembah tersebut. Daerah lembah sungai tersebut sekarang berubah
menjadi lahan pertanian palawija penduduk dan mebentuk pemandangan indah
berupa suatu lading berkelok sepanjang 7 kilometer ke arah utara, hingga ke
wilayah Pracimantoro, kabupaten Wonogiri. Sedangkan aliran sungai Bengawan
Solo masa kini mempunyai muara di utara Pulau Jawa dengan aliran yang
dibentuk oleh proses erosi dan penggerusan saat aliran melewati dan memotong
batuan tersier di jalur lipatan Pegunungan Kendeng dan Perbukitan Rembang.
Aliran Bengawan Solo masa kini memiliki panjang 540 kilometer dengan
melewati 20 kabupaten dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, yaitu
Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen,Blora, Rembang, Ng
awi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Pacitan,Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik
dan Surabaya.

http://enviroleeb.wordpress.com/2011/03/20/sungai-bengawan-solo-purba/bengawan-kecil-
solo-skema-purba-modern-national/
Gambar 3. Aliran sungai Bengawan Solo masa kini dan letak muara Bengawan
Solo purba

Gambar 4. Alur sungai Bengawan Solo purba

POTENSI / PROSPEK SESUMBER


Daerah aliran Bengawan Solo Purba memiliki beberapa potensi positif yang
dapat dikembangkan, antara lain :
 Daerah lembah Giritontro, bekas aliran sungai Bengawan Solo purba
merupakan daerah yang subur yang kaya akan endapan fluvial sisa
sungai Bengawan Solo purba dan endapan alluvial berumur kuarter
akibat proses perombakan batuan di sekitarnya. Endapan ini dapat
dimanfaatkan sebagai media tanam tanaman yang kaya akan unsur
hara sehingga secara langsung daerah ini dapat digunakan sebagai
lahan pertanian warga sekitar.
 Bekas aliran sungai purba ini juga meninggalkan endapan berupa
material sedimen berukuran lempung di daerah muara ketika energi
aliran turun. Endapan lumpur ini mampu menjadi jebakan
hidrokarbon dan membentuk oil shale dengan material organik yang
berasal dari hewan dan tumbuhan yang mati saat pasokan air
berkurang secara tiba-tiba karena arah aliran Sungai Bengawan Solo
purba yang berubah ke utara. Tentu saja keadaan ini akan
mempengaruhi keseimbangan ekosistem yang ada dan bisa
meningaktkan angka kematian saat pasokan air benar-benar habis.
 Daerah lembah jejak Sungai Bengawan Solo purba juga dapat
dijadikan sebagai objek wisata menarik karena pemandangan yang
begitu indah dan menampakkan suatu lembah raksasa bekas aliran
Sungai yang kini sudah mengering dan kini tampak hijau. Di
samping hal itu jejak sungai ini juga merupakan warisan penting di
bidang ilmu geologi, khususnya menyangkut hukum
uniformitarianism.
DAFTAR PUSTAKA

Srijono, Salahudin Husein, dan Budiadi. 2001. Buku Ajar Geomorfologi. Jurusan
Teknik Gologi , Fakultas Teknik UGM : Yogyakarta
http://aapgbull.geoscienceworld.org/cgi/content/abstract/50/10/2277 (Senin, 16 Mei
2011)
http://derizkadewantoro.wordpress.com/2011/05/04/bentang-alam-
paleogeomorfologi/ (Senin, 16 Mei 2011)
http://jrezapahlawan.blogspot.com/2010/02/bengawan-solo-purba.html (Senin, 16 Mei
2011)
http://wartaparanggupito.blogspot.com/2009/04/jejak-bengawan-solo-purba.html
(Senin, 16 Mei 2011)
http://www.attayaya.net/2010/05/bengawan-solo-mengaliri-masa-menuju.html (Senin,
16 Mei 2011)