Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa adalah sindrom pola perilaku seseorang yang secara khas berkaitan
dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment) di dalam satu atau
lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik, dan
gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan
masyarakat. Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disebut ODGJ adalah
seseorang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku dan perasaan yang
termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang
bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi
sebagai manusia (Palupi, Ririanty, & Nafikadini, 2019).

2.2. Jenis-jenis Gangguan Jiwa


Berikut ini uraian berbagai jenis gangguan jiwa yang umum terjadi dan gejala
yang ditampakkan oleh penderitanya:
2.2.1. Depresi
Seorang yang mengalami depresi biasanya merasa rendah diri, sedih, marah,
atau tidak berharga. Ini merupakan gangguan pada emosi dan hampir setiap orang
pernah mengalaminya. Dalam hal tertentu dapat dikatakan sebagai suatu reaksi
normal dari suatu peristiwa kehilangan sesuatu objek yang dicintai, misalnya orang
yang dicintai, harta benda, jabatan, pekerjaan, dan lain-lain. Tapi ada waktu-waktu
tertentu di mana keadaan depresi mulai mengacaukan kehidupan dan kemudian
menimbulkan berbagai masalah. Sebagai contoh, setiap orang pernah merasakan
sedih, tetapi hampir sebagian besar mampu melaluinya dalam hidup dan kemudian
perasaan sedih itu hilang. Adapula orang yang baru hilang rasa kesedihannya dalam
waktu yang lama, bahkan dapat lebih dari satu bulan. Keadaan ini biasanya
berhubungan dengan gejala-gejala ketidakmampuan seperti kelelahan dan sulit
berkonsentrasi. Kemudian mulai mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan
membuat seseorang sulit bekerjaatau mengasuh anak di rumah. Jika kondisi ini
mulai mengganggu kehidupan dan baru hilang dalam waktu yang lama, maka dapat
dipastikan bahwa seseorang menderita gangguan depresi (Nuryati & Kresnowati,
2018).

Depresi ditunjukkan dengan tanda-tanda berikut ini.

1. Fisik: merasa lelah dan tidak bertenaga, sakit dan nyeri di seluruh tubuh yang
tidak jelas sebabnya.
2. Perasaan: perasaan sedih dan menderita; hilangnya rasa ketertarikan pada
hidup, seperti terhadap interaksi sosial dan pekerjaan; rasa bersalah.
3. Pikiran: tidak punya harapan akan masa depan, sulit konsentrasi dan
mengambil keputusan; merasa diri tidak sebaik orang lain (tidak percaya diri),
merasa bahwa mungkin lebih baik jika ia tidak hidup, sehingga muncul
keinginan dan rencana untuk bunuh diri.

2.2.2. Kecemasan (Ansietas)


Kecemasan merupakan sensasi perasaan takut dan gelisah, yang seperti
halnya depresi, perasaan ini dianggap normal dalam beberapa situasi. Contohnya
seorang siswa yang akan menghadapi ujian dia dapat merasa gelisah dan tegang,
tapi ia masih mampu mengatasinya. Sama dengan depresi, kecemasan akan
menjadi suatu penyakit apabila hilang dalam waktu yang lama, yaitu biasanya
lebih dari dua minggu, dan sudah mempengaruhi kehidupan sehari-hari atau
menimbulkan gejala yang lebih berat.

Kecemasan ditunjukkan oleh tanda-tanda berikut.

1. Fisik: merasa jantung berdetak cepat; merasa tercekik, pusing, sakit kepala;
gemetar seluruh tubuh seperti ditusuk jarum pada muka, tangan dan kaki
2. Perasaan: Merasa seolah-olah sesuatu yang mengerikan akan menimpanya;
Merasa takut, was-was, cemas, khawatir.
3. Pikiran: terlalu khawatir akan masalahnya atau kesehatannya; pikiran seolah-
olah akan mati, kehilangan kontrol atau jadi gila; terus menerus memikirkan
hal-hal yang membuatnya tertekan meskipun sudah berusaha menghentikan.
4. Perilaku: menghindari situasi yang menimbulkan ketakutan seperti di tempat
ramai atau kendaraan umum; kurang/susah tidur.Hampir semua orang dengan
gangguan kejiwaan umumnya menunjukkan campuran berbagai gejala
depresi dan kecemasan.

2.2.3. Gangguan Jiwa Berat (Psikosis)


Psikosis menggambarkan suatu derajat keparahan bukan menunjukkan
gangguan spesifik. Pasien psikotik mengalami gangguan penilaian realita yang
berat dan sering disertai disabilitas kognitif dan emosi sehingga kemampuan
berfungsi normal sangat terganggu (Nasrun, 2000). Kelompok gangguan jiwa
yang dikategorikan berat ini terdiri dari tiga jenis penyakit yaitu Skizofrenia,
gangguan Bipolar (Manik-depresif), dan Psikosis Akut. Penyakit-penyakit ini
sebenarnya jarang terjadi, yaitu prevalensinya hanya berkisar antara 1 -3 % dari
populasi. Gangguan ini ditandai dengan terjadinya gangguan perilaku dan pikiran
yang aneh atau tidak biasa. Sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit
jiwa mengalami gangguan jiwa ini.

1. Skizofrenia.
Ini merupakan gangguan jiwa berat yang biasanya dimulai pada usia
dewasa muda. Penderita dapat menjadi agresif atau menarik diri, bicara
sendiri, atau bicara yang tidak berhubungan ujung dan pangkalnya. Penderita
merasa curiga kepada orang lain dan percaya pada hal-hal yang tidak biasa
seolah-olah pikiran mereka dirasuki kekuatan di luar kendali mereka.
Penderita mungkin mengalami halusinasi seperti mendengar suara-suara yang
tidak dapat didengar orang lain. Sayangnya banyak orang dengan skizofrenia
tidak menyadari bahwa mereka sedang menderita suatu penyakit dan menolak
untuk diobati dengan sukarela. Skizofrenia merupakan penyakit menahun,
berlangsung selama beberapa bulan atau tahun, dan memerlukan pengobatan
jangka panjang (Nuryati & Kresnowati, 2018).

Ciri-ciri penderita kelainan ini adalah sebagai berikut.


a. Fisik:keluhan aneh seperti sensasi ada benda atau binatang yang tidak
biasa ada dalam tubuhnya
b. Perasaan:depresi, hilangnya minat dan motivasi terhadapkegiatan sehari-
hari, merasa takut dicelakai.
c. Pikiran: sulit berpikir dengan jelas, pikiran yanganeh seperti percaya
bahwa orang-orang sedang mencoba untuk mencelakakannya atau
pikirannya sedang dikendalikan oleh tekanan dari luar (delusi atau
waham).
d. Perilaku: menarik diri dari aktivitassehari-hari, gelisah tidak dapat diam,
perilaku agresif, perilaku aneh, kurang merawat diri atau menjaga
kebersihan diri, menjawabpertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang
tidak berhubungan.
e. Persepsi: mendengar suara-suara yang membicarakan dirinya (halusinasi
pendengaran), melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain (halusinasi
penglihatan).

2. Gangguan Bipolar
Keadaan ini biasanya disertai dengan adanya dua kutub ekstrim yaitu
mood yang meningkat (mania) dan mood yang rendah (depresi). Penyakit ini
biasanya muncul pada usia dewasa muda dan dapat dikenali karena adanya
fase mania. Pada fase depresi sama dengan dengan depresi pada gangguan
jiwa umum, hanya fase depresi keadaan bipolar biasanya lebih serius dan
muncul secara episodik. Artinya ada masa di mana penderita benar-benar baik
meskipun sedang tidak minum obat. Kondisi ini dapat juga tampak pada
skizofrenia yang mungkin akibat tidak makan obat sehingga sering tetap
sakit.

Ciri-ciri penderita Bipolar adalah sebagai berikut

a. Perasaan: merasa sedang berada di puncak dunia,merasa senang tanpa


alasan yang jelas, mudah tersinggung.
b. Pikiran: percaya bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau dirinya
adalah orang yang spesial, merasa bahwa orang lain sedang mencoba
mencelakakannya, menyangkal bahwa dirinya sedang sakit.
c. Perilaku: berbicara cepat, tidak bertanggungjawab secara sosial, seperti
berperilaku seksual yang tidak pantas, tidak mampu diminta oleh orang
lain untuk santai atau duduk diam, kurang/sulit tidur, mencoba
melakukan banyak hal tetapi tidak satupun mampudiselesaikan, menolak
pengobatan.
d. Persepsi: mendengar suara-suara yang tidak dapat didengar orang lain,
seperti suara-suara yang sering mengatakan bahwa ia orang penting yang
mampu melakukan hal yang hebat.

3. Gangguan Psikosis Akut


Psikosis akut secara sepintas tampak sama dengan Skizofrenia.
Perbedaannya adalah psikosis akut muncul secara tiba-tiba dan durasinya
singkat, karena itu hampir semua penderita psikosis akut ini dapat sembuh
total dalam satu bulan, atau tidak memerlukan pengobatan jangka panjang.
Psikosis akut terutama disebabkan oleh peristiwa berat yang sangat menekan
seperti kematian orang yang dicintai. Selain itu kadang-kadang penyakit
medis atau gangguan pada otak yang berat dapat juga menyebabkan psikosis,
dan bila ini terjadi maka kondisi ini disebut Delirium.
Gejalanya sama dengan gejala skizofrenia dan mania, namun gejala
ini muncul secara tiba-tiba dan sembuh dalam waktu kurang dari satu bulan.
Tanda khas yang terlihat adalah:
a. Gangguan tingkah laku berat seperti gelisah dan agitasi
b. Mendengar suara-suara atau melihat hal-hal yang tidak dapat didengar
atau dilihat orang lain;
c. Kepercayaan yang aneh
d. Berbicara kacau
e. Tingkat emosional yang menakutkan atau emosi berubah dengan cepat,
misalnya dari menangis menjadi tertawa.
2.2.4. Gangguan Jiwa pada Lanjut Usia
Orang lanjut usia sering menderita dua jenis gangguan jiwa yang utama,
yaitu depresi dan dimensia.
1. Depresi yang sering disertai dengan rasa kesepian, sakit secara fisik,
ketidakmampuan dan kemiskinan berpikir. Gejala depresi ini sama dengan
depresi pada kelompok usia lain.
2. Demensia atau pikun yang ditandai dengan gejala: melupakan hal-hal yang
penting seperti nama teman-teman atau saudara-saudara; tersesat di tempat-
tempat yang biasa dikenal; mudah tersinggung atau mudah marah; menarik
diri atau tampak tertekan; tertawa dan menangis tanpa sebab; sulit mengikuti
pembicaraan; berbicara kasar atau tidak masuk akal; dan tidak tahu hari atau
di mana ia berada saat ini.

2.2.5. Gangguan Jiwa pada Anak dan Remaja.


Jenis-jenis tertentu gangguan jiwa yang sering muncul pada anak-anak,
tampak sebagai:
1. Disleksia, yang akan mempengaruhi kemampuan belajar
2. Hiperaktivitas, dimana anak-anak menjadi terlalu aktif
3. Gangguan konduksi, di mana anak-anak bertingkah laku buruk lebih dari
normal
4. Depresi, dimana anak-anak merasa sedih dan tidak gembira
5. Mengompol di tempat tidur pada usia di mana seharusnya mereka tidak
mengompol lagi.

Anak-anak juga akan menyita perhatian saat mereka menjadi korban


penganiayaan. Tanda-tanda khas gangguan jiwa pada anak, ditunjukkan
sebagai:

1. Anak yang mendapat nilai buruk dalam pelajaran meskipun ia cukup pintar
2. Anak yang selalu gelisah dan tidak mampu memperhatikan
3. Anak yang terus menerus membuat masalah dan berkelahi dengan anak lain
4. Anak yang menarik diri dan tidak mau bermain dengan anak lain
5. Anak yang menolak pergi sekolah.

2.2.6. Gangguan Jiwa karena Ketergantungan Zat dan Alkohol


Seseorang dikatakan mengalami ketergantungan terhadap alkohol dan zat
ketika penggunaan zat-zat tersebut telah membahayakan kesehatan fisik, mental,
dan sosial seseorang. Pada dasarnya sangat sulit bagi seseorang untuk berhenti
menggunakannya karena zat-zat tersebut menyebabkan rasa tidak nyaman secara
fisik jika tidak dikonsumsi, sehingga selalu ada keinginan yang besar untuk
mengkonsumsi zat itu lagi (gejala putus zat).
Masalah ketergantungan menyebabkan kerusakan yang hebat terhadap
penderita, keluarga, dan juga masyarakat. Sebagai contoh adalah alkohol, yang
tidak hanya membahayakan peminum melalui efek fisiknya tetapi berhubungan
juga dengan tingkat bunuh diri yang tinggi, munculnya masalah perkawinan, dan
kekerasan rumah tangga, kecelakaan lalu lintas jika mengemudi saat mabuk, dan
peningkatan angka kemiskinan. Pada hampir semua peminum berat,
penyalahgunaan alkoholjarang menjadi alasan utama untuk mereka mencari
layanan kesehatan. Berbagai jenis obat-obatan dan zat juga dapat disalahgunakan
antara lain ganja, heroin, kokain, amfetamin, jenis stimulant seperti ekstasi, sabu,
dan obat penenang lain. Ada juga kebiasaan lain yang dapat merusak kesehatan
manusia yaitu: merokok, ketergantungan obat tidur, dan berjudi.

Tanda-tanda Khas Ketergantungan Alkohol.

1. Fisik: gangguan lambung seperti gastritis, tukak lambung; penyakit hati,


kuning; muntah darah; tremor atau gemetar; mengalami kecelakaan lalu
lintas jika mengemudi; jika mengalami reaksi putus alkohol maka akan
kejang, berkeringat, dan bingung
2. Perasaan: merasa di luar kontrol, merasa bersalah akan kebiasaan minum
alkohol
3. Pikiran: keinginan yang kuat terhadap alkohol, pikiran terus menerus untuk
mendapatkan alkohol; keinginanbunuh diri.
4. Perilaku: sulit tidur, ingin minum alkohol pada pagi dan siang hari untuk
menghilangkan rasa tidak nyaman secara fisik.

Tanda-tanda Khas Penyalahgunaan Zat.

1. Fisik: gangguan pernafasan, infeksi di kulit karena menyuntikkan obat,


reaksi putus zat seperti mual, gemetar, diare, kram perut, berkeringat.
2. Perasaan: merasa tidak tertolong atau di luar kontrol, merasa bersalah
karena memakai obat, merasa sedih dan tertekan.
3. Pikiran: keinginan yang kuat untuk memakai obat, pikiran terus menerus
untuk menggunakan obat, keinginan bunuh diri.
4. Perilaku: sulit tidur, mudah tersinggung, mudah marah, mencari uang untuk
membeli obat-obatan, bermasalah dengan hukum (Nuryati & Kresnowati,
2018).

2.3. Skizofrenia

2.3.1. Definisi
Skizofrenia merupakan sekelompok gangguan psikotik, dengan gangguan
dasar ada kepribadian, distorsi khas pada proses pikir. Kadang-kadang mempunyai
perasaan bahwa dirinya sedang di kendalikan kekuatan dari luar. Gangguan ini
umumnya ditandai dengan adanya gangguan pada pikiran dan persepsi yang salah
dan khas, dan efek yang tumpul (Maramis, 2009).
Skizofrenia adalah sindrom dengan variasi dan perjalanan penyakit yang
luas, ditandai dengan adanya perubahan yang fundamental dan karakteristik
persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Skizofrenia merupakan gangguan
psikotik yang ditandai dengan berbagai tingkat kepribadian disorganisasi yang
mengurangi kemampuan individu untuk bekerja secara efektif dan untuk
berkomunikasi dengan orang lain. Gejala klinis skizofrenia sering bingung, depresi,
menarik diri atau cemas. Hal ini berdampak pada keinginan dan kemampuan untuk
melakukan tindakan oral hygiene (Maslim, 2003).

2.3.2. Epidemiologi
Insidensi skizofrenia di seluruh dunia adalah 3.000 – 10.000 penderita.
Skizofrenia terjadi paling tinggi pada rentang usia 15 - 35 tahun. Prevalensi global
pada usia tersebut adalah 1,1%, sedangkan di Indonesia adalah 0,3% - 1% (Bhugra,
2005).
Skizofrenia merupakan penyakit mental yang paling menyebabkan suatu
kemunduran. Psikopatologi ini secara tipikal didiagnosis pada usia di antara 20 - 25
tahun, suatu fase kehidupan di mana hampir setiap manusia memperoleh kebebasan
dari orang tua, menjalin suatu hubungan romantis yang intim, merencanakan
pencapaian-pencapaian dalam hal pendidikan, dan dimulainya kehidupan berkarir
pada seseorang. Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi
terentang dari 1 sampai 1,5 persen dengan angka insidensi 1 per 10.000 orang per
tahun. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya
terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Untuk laki laki 15 sampai 25 tahun
sedangkan wanita 25 sampai 35 tahun. Di Indonesia angka penderita skizofrenia 25
tahun yang lalu (PJPT I) diperkirakan 1/1000 penduduk dan proyeksi 25 tahun
mendatang mencapai 3/1000 penduduk. Pada tahun 2018, per 1000 rumah tangga
terdapat 7 rumah tangga dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), sehigga
jumlahnya diperkirakan sekitar 450.000 ODGJ berat (Riskesdas, 2018).

2.3.3. Etiologi
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab
skizofrenia, antara lain:
1. Faktor Genetik
Menurut Baihaqi (2005), faktor keturunan juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-
keluarga penderita skizofrenia terutama anak kembar satu telur/ monozigotik.
Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 –
15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 –
16%; bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua
telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%.
Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut
quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin
disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda
di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi
tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari
ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia
semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang
memiliki penyakit ini.
2. Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak
yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan
neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan
bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang
berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang
abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas
dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa
neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine tampaknya juga
memainkan peranan (Akbar, 2008).
3. Faktor Psikologis dan Sosial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin
lama semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan
orang tua-anak yang patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga
(Wiraminaradja& Sutardjo, 2005). Banyak penelitian yang mempelajari
bagaimana interaksi dalam keluarga mempengaruhi penderita skizofrenia.
Sebagai contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan
untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan
penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya
(Akbar, 2008). Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al,
2005), keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam
pembentukan kepribadian. Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk
anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya
orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak
memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya.

2.3.4. Gejala Klinis


1. Gangguan positif
a. Delusi/ Waham
Waham merupakan suatu keyakinan terhadap sesuatu yang dialami pasien
yang dihayati dan tidak bisa dirubah. Waham yang muncul pada klinis
skizofrenia khas didapatkan waham yang aneh/ tidak logis seperti waham
kebesaran.
b. Halusinasi
Suatu persepsi terhadap panca indera tanpa adanya stimulus, baik itu
halusinasi auditorik (paling sering), halusinasi visual, dan panca indera
lainnya, sehingga muncul hal-hal sebagai berikut:
1) Perilaku aneh, tidak terorganisir.
2) Bicara sendiri, tidak teratur.
3) Gaduh dan gelisah.
4) Penuh kecurigaan dan memiliki rasa permusuhan.

2. Gangguan negatif
Gangguan negatif meliputi (Pakpahin, 2012):
1) Alogia (tidak mau bicara)
2) Emosi tumpul
3) Avolition (kehilangan motivasi)
4) Anhedonia (kehilangan minat)
5) Tidak mampu berkonsentrasi
3. Gangguan kognitif
4. Gangguan perhatian
5. Gangguan ingatan
2.3.5. Penegakan Diagnosis
Terdapat tanda dan gejala skizofrenia antara lain (PPDGJ III, 2013):
1. Minimal satu gejala berikut yang sangat jelas, atau minimal dua gejala jika
tidak jelas yaitu :
a. Adanya waham bizarre (thought of echo, thought of insertion, thought of
broadcasting).
b. Adanya delusion of influence, delusion of control, delusion of passivity,
delusional perception.
c. Halusinasi auditorik.
d. Waham menetap jenis lainnya yang dianggap tidak wajar dan mustahil
terjadi.

2. Atau paling sedikit dua gejala yang harus selalu ada dengan jelas, yaitu:
a. Halusinasi menetap dari indera apapun, disertai waham maupun ide
berlebihan.
b. Adanya arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan
(interpolation).
c. Perilaku katatonik.
d. Gejala-gejala negative.
3. Gejala khas tersebut berlangsung minimal 1 bulan.
4. Terdapat perubahan yang konsisten dan bermakna dalam overall quality dari
beberapa personal behavior.

2.3.6. Klasifikasi
Skizofrenia dapat dibedakan menjadi beberapa subtipe yaitu sebagai berikut
(PPDGJ III, 2013).
Tabel 2.1 Klasifikasi Skizofrenia
Skizofrenia Paranoid Skizofrenia Hebefrenik Skizofrenia Katatonik
1. Kriteria umum (+) 1. Kriteria umum (+) 1. Kriteria umum (+)
2. Halusinasi dan 2. Diagnosis pertama 2. Minimal satu dari
waham (control, ditegakkan pada usia berikut
influence, 15-25 tahun mendominasi:
passivity, dikejar) 3. Kepribadian stupor, mutisme,
yang amat premorbid: pemalu, gaduh-gelisah,
menonjol. solitary posturing,
4. Selama observasi 2-3 negativism,
3. Gangguan afektif , bulan didapatkan rigiditas,
dorongan perilaku yang tidak fleksibilitas cerea,
kehendak, gejala bertanggungjawab, command
katatonik relatif mannerisme, solitary, automatism
tidak menonjol afek dangkal
inappropriate,
inkoherensi.
5. Gangguan afektif,
dorongan kehendak,
dan gangguan proses
pikir menonjol
Skizofrenia Tak Skizofrenia Residual Skizofrenia Simplek
Terinci
1. Kriteria umum (+) 1. Gejala negatif 1. Gejala negatif yang
2. Tidak memenuhi skizofrenia menonjol khas tanpa
kriteria skizofrenia 2. Riwayat satu episode didahului riwayat
paranoid, psikotik yang jelas di halusinasi, waham,
hebefrenik, atau masa lalu maupun manifestasi
katatonik 3. Melalui 1 tahun lain psikotik.
3. Tidak memenuhi dimana waham dan 2. Disertai perubahan
kriteria skizofrenia halusinasi sangat perilaku pribadi
residual atau berkurang, dan telah yang bermakna,
depresi post- timbul sindrom apatis atau seolah
skizofrenia negative tidak memiliki
4. Tidak ada kepentingan untuk
demensia/gangguan dirinya sendiri.
otak organik lain

Berikut ini adalah tipe skizofrenia dari DSM-IV-TR (2000). Diagnosis


ditegakkan berdasarkan gejala yang dominan yaitu (Elain, 2010):
1. Tipe Paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau
halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afektif yang
relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham
kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham
kecemburuan, keagamaan, atau somalisas) mungkin juga muncul. Ciri-ciri
lainnya meliputi ansietas, kemarahan, menjaga jarak dan suka berargumentasi,
dan agresif.
2. Tipe Disorganized (tidak terorganisasi)
Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau,
tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate. Pembicaraan yang
kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat kaitannya dengan
isi pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku dapat membawa pada gangguan
yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari.
3. Tipe Katatonik
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah gangguan pada psikomotor yang
dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (waxy flexibility). Aktivitas motor
yang berlebihan, negativism yang ekstrim, sama sekali tidak mau bicara dan
berkomunikasi (mutism), gerakan-gerakan yang tidak terkendali, mengulang
ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku orang lain
(echopraxia).
4. Tipe Undifferentiated
Tipe Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan
perubahan pola simptom-simptom yang cepat menyangkut semua indikator
skizofrenia. Misalnya, indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion),
emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah, adanya delusi, referensi
yang berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autisme
seperti mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukkan
ketakutan.
5. Tipe Residual
Tipe ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari
skizofrenia tetapi masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa, seperti
keyakinan-keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide tidak wajar
yang tidak sepenuhnya delusional. Gejala-gejala residual itu dapat meliputi
menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas, dan afek datar.

2.1.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis dan terapi
psikososial.
1. Terapi Biologis
Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi
dengan menggunakan obat antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan
pembedahan bagian otak. Terapi dengan penggunaan obat antipsikosis dapat
meredakan gejala-gejala skizofrenia. Obat yang digunakan adalah
chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat
tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan
haloperidol (haldol). Obat ini disebut obat penenang utama. Obat tersebut dapat
menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang
lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan
mudah terbangun). Obat ini cukup tepat bagi penderita skizofrenia yang
tampaknya tidak dapat menyaring stimulus yang tidak relevan (Akbar, 2008).
Terapi Elektrokonvulsif juga dikenal sebagai terapi electroshock pada
penatalaksanaan terapi biologis. Pada akhir 1930-an, electroconvulsive therapy
(ECT) diperkenalkan sebagai penanganan untuk skizofrenia.Tetapi terapi ini
telah menjadi pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat karena beberapa
alasan. ECT ini digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan
jiwa, termasuk skizofrenia. Antusiasme awal terhadap ECT semakin memudar
karena metode ini kemudian diketahui tidak menguntungkan bagi sebagian besar
penderita skizofrenia meskipun penggunaan terapi ini masih dilakukan hingga
saat ini. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT
merupakan pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien seringkali tidak
bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan
ketidaksadaran sementara, serta seringkali menderita kerancuan pikiran dan
hilangnya ingatan setelah itu. Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang
menyertai serangan otak mengakibatkan berbagai cacat fisik (Akbar, 2008).
Pada terapi biologis lainnya seperti pembedahan bagian otak
memperkenalkan prefrontal lobotomy, yaitu proses operasi primitif dengan cara
membuang “stone of madness” atau disebut dengan batu gila yang dianggap
menjadi penyebab perilaku yang terganggu. Menurut Moniz, cara ini cukup
berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya, khususnya pada
penderita yang berperilaku kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950an cara ini
ditinggalkan karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan
kognitifnya, otak tumpul, tidak bergairah, bahkan meninggal.

2. Terapi Psikososial
Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi
pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton
dan menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial telah
diberikan pada pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa
gangguan ini merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai
pengalaman yang dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat dua bagian
yaitu terapi kelompok dan terapi keluarga (Akbar, 2008).
Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik. Pada
terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist
berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Para peserta
terapi saling memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami.
Peserta diposisikan pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk
berkomunikasi, sehingga dapat memperkaya pengalaman peserta dalam
kemampuan berkomunikasi.
Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi
kelompok. Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah
sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Keluarga berusaha untuk
menghindari ungkapan-ungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit
penderita kambuh kembali. Dalam hal ini, keluarga diberi informasi tentang
cara-cara untuk mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif maupun
yang negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap
persoalan secara bersama-sama. Keluarga diberi pengetahuan tentang keadaan
penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Dari beberapa penelitian, seperti
yang dilakukan ternyata campur tangan keluarga sangat membantu dalam proses
penyembuhan, atau sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit
penderita, dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.
Pada pasien dengan serangan akut, langkah yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut (Kaplan dan Sadock, 2010):
1. Langkah Pertama
Dokter dapat melakukan diskusi dan menenangkan pasien
2. Langkah Kedua
a. Terapi medikamentosa
Apabila pasien membahayakan dirinya atau orang lain dapat dilakukan
isolasi terlebih dahulu selama 2-4 jam. Pemberian obat dapat dilakukan
secara peroral maupun injeksi.
i. Obat injeksi digunakan untuk mendapat efek lebih cepat, misalnya
haloperidol, dosis 5 mg setiap injeksi intramuscular dan dapat
diulang setiap setengah jam (dosis maksimum 20mg/hari)
ii. Obat antipsikotika oral misalnya klorpromazin dengan dosis 300-
1000 mg/hari atau trihexipenidil 2 mg sebanyak 3 kali sehari
b. Psikoterapi, dilakukan untuk mengurangi stimulus dan stressor yang
berlebihan sekaligus memberikan ketenangan kepada pasien.
c. Terapi kejang listrik (electro compulsive therapy) bagi skizofrenia
katatonik dan skizofrenia refrakter
d. Edukasi pada keluarga dan pasien mengenai gangguan yang terjadi pada
pasien, fungsi terapi, peran keluarga, gejala, penyebab, dan cara
mengatasinya.

Pada fase stabilisasi, pasien dapat diberikan terapi sebagai berikut (Kaplan
dan Sadock, 2010):
1. Farmakoterapi dengan dosis optimal selama 8-10 minggu untuk
meminimalisasi konsekuensi kekambuhan, serta optimalisasi fungsi dan
recovery.
2. Psikoedukasi untuk meningkatkan keterampilan pasien dan keluarga, serta
melatih pasien dalam menghadapi gejala.
Pada fase rumatan, pasien dapat diberikan terapi antara lain sebagai berikut
(Kaplan dan Sadock, 2010):
1. Farmakoterapi dengan dosis tapering-off hingga didapatkan dosis minimal
yang mampu mencegah kekambuhan. Farmakoterapi dilakukan sampai dua
tahun.
2. Psikoedukasi yang dilakukan untuk mempersiapkan pasien kembali pada
kehidupan masyarakat. Terapi ini dilakukan dengan cara modalitas
rehabilitasi spesifik dan pengenalan gejala prodromal kepada pasien dan
keluarga
3. Terapi psikososial yang mencakup terapi perilaku, terapi keluarga, dan
terapi kelompok.
4. Psikoterapi individual untuk meningkatkan hubungan terapeutik dan rasa
aman pasien.
5. Perawatan di rumah sakit dengan indikasi:
a. Tujuan diagnostik
b. Menstabilkan medikasi
c. Keamanan pasien (jika ada gagasan bunuh diri atau membunuh)
d. Perilaku yang sangat kacau
e. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar

2.1.8. Prognosis
Beberapa faktor penentu prognosis yang dapat dilihat antara lain kepribadian
pramorbid, gejala klinik, jenis kelamin, usia serangan, frekuensi serangan, jenis
serangan, dan faktor konstitusi fisik. Sekitar 10-20% pasien skizofrenia menunjukkan
hasil baik, 50% menunjukkan hasil buruk (berupa rawat inap berulang, gangguan
mood, dan usaha bunuh diri) (Kaplan dan Sadock, 2010).
Beberapa peneletian mengemukakan bahwa pasien skizofrenia yang
dirawayat pada masa periode 5 hingga 10 tahun hanya memiliki hasil kekembuhan
10 – 20 % dari selururh pasien yang mengalami perawatan. 20 – 30 % pasien
mengalami penyembuhan namun tidak sempurna dan 40m- 60 % pasien masih tetap
dalam keadaan semula. Prognosis pasien dengan skizofrenia dapat di bagi atas 2
keompok besar yaitu kelompok dengan prognosis baik dan prognosis buruk. Hal hal
yang menentukan suatu prognosis baik atau buruk yaitu (Kaplan, Sadock, & Grebb,
2010):
1. Prognosis baik
a. Onset lambat/ pada usia tua
b. Faktor pencetus jelas
c. Durasi dari awitan bersifat akut
d. Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan premorbid baik
e. Adanya gangguan mood
f. Menikah
g. Riwayat keluarga gangguan mood
h. Sistem pendukung yang baik
i. Gejala positif
2. Prognosis buruk
a. Onset muda/ pada usia muda
b. Faktor pencetus tidak jelas
c. Durasi dari awitan bersifat kronis
d. Riwayat seksual, sosial dan pekerjaan premodrbid jelek
e. Tidak menikah, bercerai, atau janda/duda
f. Sistem pendukung yang buruk
g. Riwayat keluarga skizofrenia
h. Gejala negative
i. Tanda dan gejala neurologis
j. Riwayat trauma perinatal
k. Tidak ada remisi dalam 3 tahun
l. Banyak relaps
m. Riwayat penyerangan

2.4. Kepatuhan Minum Obat


Kepatuhan pengobatan adalah perilaku kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor
di sepanjang rangkaian perawatan, yang berkaitan dengan pasien, penyedia, dan sistem
kesehatan (Rolnick, Pawloski, Hedblom, Asche,& Bruzek, 2013).
Kepatuhan dalam minum obat adalah langkah penting dalam pengobatan penyakit,
dan inkonsistensi pasien terhadap rejimen dapat mengakibatkan kondisi kesehatan yang
buruk, peningkatan biaya perawatan, dan waktu pemulihan yang lama. Ketidakpatuhan telah
diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat di negara maju dan berkembang. Selain itu,
orang Afrika dan Asia ditemukan lebih tidak patuh dengan rejimen pengobatan (Abegaz,
Shehab, Gebreyohannes, Bhagavathula, & Elnour, 2017).
Kepatuhan terhadap penggunaan obat didefinisikan sebagai proporsi dosis obat yang
diresepkan yang benar-benar dikonsumsi oleh pasien selama periode waktu tertentu. Istilah
“Kepatuhan”, menyiratkan peran aktif dalam kolaborasi dengan seorang resep, dan
“ketidakpatuhan” mencakup beragam alasan bagipasien yang tidak mengikuti rekomendasi
perawatan (Brown & Bussell, 2011). Kepatuhan adalah fenomena multidimensi yang
ditentukan oleh interaksi lima set faktor, disebut "dimensi" oleh WHO (Lam & Fresco,
2015).
1. Sosial
Orang yang mendapat dukungan sosial dari keluarga, teman, atau pengasuh untuk
membantu rejimen pengobatan memiliki kepatuhan yang lebih baik terhadap
pengobatan.
(Cutler, Fernandez-Llimos, Frommer, Benrimoj, & Garcia-Cardenas, 2018).
2. Ekonomi
Lingkungan hidup yang tidak stabil, akses terbatas ke perawatan kesehatan, kurangnya
sumber daya keuangan, biaya pengobatan, dan jadwal kerja yang membebani telah
dikaitkan dengan penurunan tingkat kepatuhan (Cutler, Fernandez-Llimos, Frommer,
Benrimoj, & Garcia-Cardenas, 2018).
3. Sistem perawatan kesehatan
Hubungan pasien dengan dokter adalah salah satu faktor terkait sistem perawatan
kesehatan yang paling penting yang mempengaruhi kepatuhan. Hubungan yang baik
antara pasien dan penyedia layanan kesehatan, yang memiliki dorongan dan penguatan
dari penyedia layanan, memiliki dampak positif pada kepatuhan.Kurangnya komunikasi
mengenai manfaat, petunjuk penggunaan, dan efek samping obat-obatan juga dapat
berkontribusi terhadap ketidakpatuhan, terutama pada orang tua dengan masalah
ingatan(Stavropoulou, 2011).
4. Terkait kondisi
Pemberian obat jangka panjang untuk banyak penyakit kronis dan kepatuhan terhadap
rejimen sering menurun secara signifikan dari waktu ke waktu. Sering terjadi ketika
pasien memiliki sedikit atau tidak ada gejala dan tidak adanya penghalang bagi orang
untuk minum obat. Penting bagi pasien untuk memahami penyakit dan apa yang akan
terjadi jika tidak diobati (Mishra, Gioia, Childress, Barnet, & Webster, 2011).

5. Terkait dengan terapi


Kompleksitas rejimen obat, yang meliputi jumlah obat dan jumlah dosis harian yang
diperlukan; durasi terapi; terapi yang tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup dan
efek samping seseorang telah dikaitkan dengan penurunan kepatuhan(Scanlon &
Vreeman, 2013).
DAFTAR PUSTAKA

Abegaz, T. M., Shehab, A., Gebreyohannes, E. A., Bhagavathula, A. S., & Elnour, A. A. (2017).
Nonadherence to antihypertensive drugs a systematic review and meta-analysis.
Medicine (United States). https://doi.org/10.1097/MD.0000000000005641
Akbar, M. 2008. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga terhadap Tingkat Kekambuhan Penderita
Skizofrenia di RS Grhasia Yogyakarta. Yogyakarta: Penerbit Universitas Islam
Indonesia.
Ashturkar, M.D., and Dixit, J.V. 2013. Selected Epidemiological Aspect of Schizophrenia: A
Cross Section Study at Terytyari Care Hospital in Maharashtra. National Journal of
Community Medicine. 4 (1): 65-69.
Baihaqi, Sunardi, Riksma, dan Euis. 2005. Pskiatri. Bandung: Refika Aditama.
Bhugra, D. 2005. The global prevalence of schizophrenia. PLoS Med. 2 (5): 151.
Brown, M. T., & Bussell, J. K. (2011). Medication adherence: WHO cares? Mayo Clinic
Proceedings. https://doi.org/10.4065/mcp.2010.0575
Budiarto, Eko. 2004. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.
Cutler, R. L., Fernandez-Llimos, F., Frommer, M., Benrimoj, C., & Garcia-Cardenas, V. (2018).
Economic impact of medication non-adherence by disease groups: A systematic review.
BMJ Open. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2017-016982
Elain, M. E. 2010. Patient’s Perception of Family Involvement and Its Relationship to
Medication Adherence for Persons with schizophrenia and Schizoaffective Disorders.
Journal Social Science. New Jersey: The State University of New Jersey.
Hawari. 2014. Skizofrenia Pendekatan Holistik (Bio-Psiko-Sosial). Jakarta: Penerbit FK UI.
Kaplan, H.I., Sadock B.J., and Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri (Alih bahasa: Widjaja
Kusuma). Jakarta: Binarupa Aksara.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Pedoman Umum Program Indonesia Sehat
dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta: Kesehatan Kementerin Kesehatan Republik
Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Modul Pelatihan Keluarga Sehat: Pokok
Bahasan 2 Kesehatan Jiwa. Jakarta: Badan Pusat Pelatihan SDM Kesehatan
Kementerin Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta:
Kementerin Kesehatan Republik Indonesia.
Lam, W. Y., & Fresco, P. (2015). Medication Adherence Measures: An Overview. BioMed
Research International. https://doi.org/10.1155/2015/217047
Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2 ed. Surabaya: Airlangga
University Press; 2009. 259 hal.)

Maslim, R. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.
Jakarta: FK Unika Atmajaya.
Mishra, S. I., Gioia, D., Childress, S., Barnet, B., & Webster, R. L. (2011). Adherence to
medication regimens among low-income patients with multiple comorbid chronic
conditions. Health and Social Work. https://doi.org/10.1093/hsw/36.4.249
Nuryati, & Kresnowati, L. (2018). Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit dan Masalah Terkait III.
Jakarta: Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan.
Pakpahan, dan Sri Hertika. 2012. Karakteristik Penderita Skizofrenia Rawat Inap di Rumah
Sakit Jiwa Medan Tahun 2001. Sumatera Utara: FK USU.
Palupi, D. N., Ririanty, M., & Nafikadini, I. (2019). Karakteristik Keluarga ODGJ dan
Kepesertaan JKN Hubungannya dengan Tindakan Pencarian Pengobatan bagi ODGJ.
Jurnal Kesehatan, 82-92.
Rolnick, S. J., Pawloski, P. A., Hedblom, B. D., Asche, S. E., & Bruzek, R. J. (2013). Patient
characteristics associated with medication adherence. Clinical Medicine and Research.
https://doi.org/10.3121/cmr.2013.1113
Scanlon, M. L., & Vreeman, R. C. (2013). Current strategies for improving access and adherence
to antiretroviral therapies in resource-limited settings. HIV/AIDS -Research and
Palliative Care. https://doi.org/10.2147/HIV.S28912
Stavropoulou, C. (2011). Non-adherence to medication and doctor-patient relationship: Evidence
from a European survey. Patient Education and Counseling.
https://doi.org/10.1016/j.pec.2010.04.039
Towsend, M.C. 2011. Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care In Evidence-Based
Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.
Videbeck, S.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
World Health Organization. 2016. Mental Health. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. 2017. Mental Health Atlas. Geneva: World Health Organization.