Anda di halaman 1dari 97

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN

MINUM OBAT PADA KLIEN SKIZOFRENIA DENGAN PERILAKU


KEKERASAN DI RSJD ABEPURA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Oleh:

NAMA : SELVI PANGLORO


NIM : 2019082024038

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDRAWASIH
JAYAPURA
2021

i
PERSETUJUAN SKRIPSI

Yang Bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa


Skripsi yang berjudul :

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN


MINUM OBAT PADA KLIEN SKIZOFRENIA DENGAN PERILAKU
KEKERASAN DI RSJD ABEPURA

Dipersiapkan dan disusun oleh :

NAMA : SELVI PANGLORO


NIM : 2019082024038

Telah disetujui sebagai usulan Skripsi dan dinyatakan


Telah memenuhi syarat untuk diujikan

Pembimbing I, Pembimbing II,

Hotnida Erlin Situmorang,S.Kep.,Ns.,M.Ng M.Rhomandoni,S.Kep.Ns.,M.Kes


NIP. 19770928 201404 2 001 NIP. 19730826 199312 1 001

ii
HALAMAN PENGESAHAN

SKRIPSI

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN


MINUM OBAT PADA KLIEN SKIZOFRENIA DENGAN PERILAKU
KEKERASAN DI RSJD ABEPURA

Diajukan oleh :

NAMA : SELVI PANGLORO


NIM : 2019082024038

Telah diseminarkan dan diujikan pada tanggal Agustus 2021


Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Tim Penguji

Ketua Penguji : Yunita Kristina, S.Kep, M.Kes (…………….)


NIP. NIP. 19780615 200812 2 002

Anggota Penguji :

Anggota I : Fransisca B. Batticaca, S.Pd., M.Kep.,Ns.Sp.Kep.KomD(…………….)


NIP. 19621201 198802 2 001

Pembimbing I : Hotnida Erlin Situmorang,S. Kep.,Ns. M.Ng (…………….)


NIP. 19770929 201404 2 001

Pembimbing II : M.Rhomandoni,S.Kep.Ns.,M.Kes (…………….)


NIP. 19730826 199312 1 001

Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih

Fransisca B. Batticaca, S.Pd., M.Kep.,Ns.Sp.Kep.Kom


NIP. 19621201 198802 2 001

iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini merupakan hasil karya saya sendiri, disusun berdasarkan pedoman tata

cara penulisan karya ilmiah Program Studi Ilmu Keperawatan.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di

kemudian hari terdapat pernyataan yang tidak benar, saya bersedia dituntut dan

menerima segala tindakan atau sangsi sesuai ketentuan peraturan perundangan-

perundangan yang berlaku.

Jayapura, Agustus 2021

Yang membuat pernyataan,

Selvi Pangloro
NIM : 2019082024038

iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI

SECARA ELEKTRONIK UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Selvi Pangloro

NIM : 2019082024038

Memberikan persetujuan kepada pihak program studi Ilmu keperawatan hak atas

Karya Ilmiah (Skripsi) saya yang berjudul : Hubungan Dukungan Keluarga

Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Klien Skizofrenia Dengan Perilaku

Kekerasan di RSJD Abepura. Untuk dipublikasikan secara elektronik demi

pengembangan ilmu pengetahuan, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis dan pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jayapura
Pada tanggal : Agustus 2020

Yang membuat pernyataan,

Selvi Pangloro
NIM : 2019082024038

v
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN
MINUM OBAT PADA KLIEN SKIZOFRENIA DENGAN PERILAKU
KEKERASAN DI RSJD ABEPURA

Selvi Pangloro1, Hotnida Erlin Situmorang2, M. Rhomandoni


1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih
2,3
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih

ABSTRAK

Skizofrenia merupakan kondisi klinis yang menyebabkan perubahan pikiran, persepsi dan
emosi, kelainan motilitas, dan perilaku, sehingga klien kesulitan dalam membedakan
antara realita dan khayalan dan membutuhkan pengobatan medikamentosa yang diminum
secara teratur. Ketidakpatuhan minum obat berdampak pada kesembuhan dan
kekambuhan. Dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan dan klien
skizofrenia minum obat.
Penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi adalah keluarga pasien skizofrenia
dengan perilaku kekerasan rawat jalan dengan jumlah sampel sebanyak 44 orang. Data
diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan korelasi rank spearman.
Hasil penelitian diperoleh dukungan keluarga pada pasien skizofrenia dalam kategori
tidak mendukung sebanyak 11 orang (25%) dan sebagian besar mendukung sebanyak 33
orang (75%), yaitu dukungan instrumental sebanyak 34 orang (77,3%), informasional
sebanyak 31 orang (70,5%), penilaian sebanyak 31 orang (70,5%) dan emosional
sebanyak 29 orang (65,9%). Kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia di RSJD
Abepura dengan kepatuhan minum obat kategori rendah sebanyak 21 orang (47,7%) dan
kategori tinggi sebanyak 23 orang (52,3%). Terdapat hubungan dukungan keluarga
terhadap kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia dengan resiko prilaku kekerasan
di RSJD Abepura dengan kekuatan hubungan yang sedang (p = 0,001 < 0,05; r = 0,49).

Kata kunci : Dukungan Keluarga, Kepatuhan Minum Obat, Skizofrenia, Perilaku


Kekerasan
Daftar Pustaka : 49 (2011-2020)

vi
RELATIONSHIP OF FAMILY SUPPORT TOWARDS COMPLIANCE WITH
DRUG DRINKING IN SCHIZOPRENIA CLIENTS WITH
VIOLENT BEHAVIOR AT ABEPURA MENTAL
DISORDER HOSPITAL

Selvi Pangloro1, Hotnida Erlin Situmorang2, Sulistyani


1
Student of Nursing Science Study Program, Faculty of Medicine, Cenderawasih University
2,3
Lecturer of Nursing Science Study Program, Faculty of Medicine, Cenderawasih University

ABSTRACT

Schizophrenia is a clinical condition that causes changes in thoughts, perceptions and


emotions, motility disorders, and behavior, so that clients have difficulty in distinguishing
between reality and fantasy and require medical treatment that is taken regularly. Non-
adherence to taking medication has an impact on healing and recurrence. Family support
plays an important role in improving schizophrenia and clients taking medication.
This research is descriptive correlational. The population is a family of schizophrenic
patients with outpatient violent behavior with a total sample of 44 people. Data were
obtained using a questionnaire and analyzed using Spearman rank correlation.
The results obtained that family support for schizophrenia patients in the category of not
supporting as many as 11 people (25%) and mostly supporting as many as 33 people
(75%), namely instrumental support as many as 34 people (77.3%), informational as
many as 31 people (70 people). .5%), assessment of 31 people (70.5%) and emotional as
many as 29 people (65.9%). Compliance with taking medication in schizophrenic clients
at Abepura Hospital with medication adherence in the low category was 21 people
(47.7%) and the high category was 23 people (52.3%). There is a relationship between
family support for medication adherence in schizophrenic clients with the risk of violent
behavior in Abepura Hospital with moderate strength (p = 0.001 < 0.05; r = 0.49).

Keyword : Family support, compliance drug, schizoprenia clients, violent


behavior
Reference : 49 (2011-2020)

HALAMAN PERSEMBAHAN

vii
MOTO :

Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Tidak ada keberhasilan tanpa kebersamaan

Tidak ada kemudahan tanpa doa

PERSEMBAHAN :

Karya Tulis Ilmiah ini ku persembahkan kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya dalam memberikan

kesehatan dalam menyelesaikan pendidikan.

2. Buat Suamiku dan anakku yang membuatku termotivasi dalam

menyelesaikan skripsi ini.

3. Almamaterku Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran

Universitas Cenderawasih Jayapura.

KATA PENGANTAR

viii
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan laporan proposal ini yang

berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat

Pada Klien Skizofrenia Dengan Perilaku Kekerasan di RSJD Abepura”. Penulis

menyadari bahwa proposal ini dapat diselesaikan tepat waktu karena adanya

bimbingan, bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Apolo Safanpo, ST., M.T selaku Rektor Universitas Cenderawasih

Jayapura yang telah memfasilitasi proses belajar mengajar bagi mahasiswa

keperawatan

2. dr. Trajanus L. Jembise, Sp.B selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas

Cenderawasih Jayapura yang telah memfasilitasi proses belajar mengajar.

3. Fransisca B. Batticaca, S.Pd., S.Kep.,M.Kep.,Ns.Sp.Kep.Kom selaku Ketua

Program Studi Pendidikan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas

Cenderawasih Jayapura yang telah mengijinkan dalam mengikuti proposal

penelitian ini.

4. Hotnida Erlin Situmorang, S.Kep.,Ns.,M.Ng selaku dosen pembimbing I atas

masukan,arahan,dan bimbingan dalam penyelesaian laporan Proposal.

5. M.Rhomandoni,S.Kep.Ns.,M.Kes selaku dosen pembimbing II yang

memberikan arahan, bimbingan dalam penyusunan Proposal.

6. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas

Kedokteran Universitas Cendrawasih.

ix
7. Orang tua, suami dan anak yang memberikan semangat, dukungan dan doa
yang tiada henti selama penulis melanjutkan studi dan menyusun proposal
skripsi

Penulis menyadari, bahwa penulisan proposal penelitian ini masih jauh

dari kesempurnaan dan untuk itu kritik dan saran sangatlah penulis harapkan

untuk perbaikan kedepan, Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati hasil karya

ini.

Jayapura, Agustus 2021

Penulis,

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................
i
HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................
iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS.................................................. iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI.................................. v
ABSTRAK............................................................................................................ vi
ABSTRACT.......................................................................................................... vii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................
...............................................................................................................................
viii
KATA PENGANTAR...........................................................................................
ix
DAFTAR ISI.........................................................................................................
...............................................................................................................................xi
DAFTAR TABEL.................................................................................................
...............................................................................................................................
xiii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................
...............................................................................................................................
xiv
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................
xv
DAFTAR SINGKATAN.......................................................................................
xvi

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang............................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah....................................................................... 8
1.3. Tujuan Penelitian......................................................................... 8
1.4. Manfaat Penelitian....................................................................... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Skizofrenia................................................................................... 10
2.2. Dukungan Keluarga..................................................................... 19
2.3. Kepatuhan Minum Obat.............................................................. 24
2.4. Kerangka Teori............................................................................ 30
2.5. Hipotesis...................................................................................... 31

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Kerangka Konsep........................................................................ 32

xi
3.2. Definisi Operasional.................................................................... 33
3.3. Jenis Penelitian............................................................................ 34
3.4. Tempat dan Waktu Penelitian..................................................... 34
3.5. Populasi dan Sampel....................................................................
35
3.6. Intsrumen Penelitian ................................................................... 36
3.7. Pengumpulan Data....................................................................... 38
3.8. Pengolahan dan Analisa Data...................................................... 38
3.9. Etika Penelitian............................................................................ 39

BAB IV HASIL PENELITIAN


4.1. Karakteristik Responden............................................................. 45
4.2. Dukungan Keluarga..................................................................... 46
4.3. Kepatuhan Minum Obat.............................................................. 47
4.4. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum
Obat............................................................................................. 47

BAB V PEMBAHASAN
5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian........................................... 49
5.2. Implementasi dan Diskusi Hasil Penelitian................................. 51
5.3. Keterbatasan Penelitian............................................................... 62
5.4. Implikasi Terhadap Layanan Kesehatan .................................... 63

BAB VI PENUTUP
6.1. Simpulan...................................................................................... 65
6.2. Saran............................................................................................ 66

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Definisi Operasional......................................................................... 32


Tabel 3.2. Karakteristik Responden.................................................................. 32
Tabel 3.3. Interpretasi Nilai............................................................................... 40
Tabel 4.1. Distribusi Responden Keluarga Klien Skizofrenia Berdasarkan
Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan dan Pendapatan
di RSJD Abepura.............................................................................. 45
Tabel 4.2. Distribusi Indikator Dukungan Keluarga pada Klien Skizofrenia
Dalam Kepatuhan Minum Obat di RSJD Abepura.......................... 46
Tabel 4.3. Distribusi Dukungan Keluarga pada Klien Skizofrenia di RSJD
Abepura............................................................................................ 46
Tabel 4.4. Distribusi Kepatuhan Minum Obat pada Klien Skizofrenia
di RSJD Abepura.............................................................................. 47
Tabel 4.5. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat
pada Klien Skizofrenia Dalam Kepatuhan Minum Obat di RSJD
Abepura............................................................................................ 47
Tabel 5.1 Jumlah Ketenagaan RSJD Abepura Menurut pendidikan................ 50

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Rentang Respon Marah.................................................................. 18

Gambar 2.2. Kerangka Teori.............................................................................. 30

Gambar 3.1. Kerangka Konsep........................................................................... 32

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Informend Consent

Lampiran 2 : Kuesioner

Lampiran 3 : Master Tabel

Lampiran 4 : Hasil Pengolahan Data

Lampiran 5 : Surat Izin Penelitian

Lampiran 6 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

xv
DAFTAR SINGKATAN

Kemenkes RI : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

MMAS-8 : Medication Morisky Adherence Scale - 8

ODGJ : Orang Dengan Gangguan Jiwa

RSJD : Rumah Sakit Jiwa Daerah

WHO : World Health Organization

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan jiwa merupakan suatu perubahan pada fungsi jiwa yang

menyebabkan adanya gangguan, sehingga menimbulkan penderitaan pada

individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial (Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Masalah gangguan jiwa menjadi isu

global karena terjadi di seluruh negara di dunia (World Health Organization;

WHO, 2017). Gangguan jiwa dialami oleh sekitar 450 juta orang di seluruh

dunia dengan perkiraan 10% orang dewasa, dan 25% pada usia tertentu

seseorang diprediksi akan mengalami gangguan jiwa (WHO, 2017).

Gangguan jiwa diprediksi berkembang mencapai 25% di tahun 2030

(Charlson, et al, 2019).

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mengalami

peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa tiap tahunnya. Data Riskesdas

tahun 2013 menunjukkan prevalensi untuk gangguan jiwa mencapai 400.000

orang atau sebanyak 1.7 per 1000 penduduk (Riskesdas, 2013), kemudian

meningkat secara signifikan pada tahun 2018 yaitu 7 per 1000 penduduk

(Kemenkes, 2018). Peningkatan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Dumilah, Misnaniarti & Rayhani (2018) mengenai analisis

situasi kesehatan jiwa pada masyarakat di Indonesia yang menunjukkan

peningkatan prevalensi gangguan jiwa dengan mencapai 1,7% dari jumlah

penduduk.

1
2

Terdapat beberapa jenis gangguan jiwa seperti skizofrenia, alzheimer,

depresi, cemas, keterbelakangan mental, ketergantungan alkohol,

penyalahgunaan narkoba, dan HIV/AIDS (Stuart, 2015). Skizofrenia

merupakan kondisi klinis yang menyebabkan perubahan pikiran, persepsi

dan emosi, kelainan motilitas, dan perilaku, sehingga klien kesulitan dalam

membedakan antara realita dan khayalan (Mendes, et al, 2015). Skizofrenia

menjadi penyakit yang membutuhkan waktu lama dalam penanganannya

dibanding jenis gangguan jiwa lainnya dan termasuk jenis gangguan jiwa

yang menempati urutan teratas dari seluruh gangguan jiwa yang ada

(Devaramane, Pai, & Vella, 2015). Terdapat sekitar 21 juta orang penduduk

dunia yang terkena skizofrenia, angka tersebut meningkat dari tahun

sebelumnya (WHO, 2017). Gejala skizofrenia muncul pada usia 15-25 tahun

lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan pada perempuan

(Ashturkar & Dixit, 2016).

Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi

terentang dari 1 sampai 1,5% dengan angka insiden 1 per 10.000 orang per

tahun dan setiap tahun terdapat 300.000 klien skizofrenia mengalami episode

akut (Nasionalinstitue of Mental Health; NIMH, 2017). Indonesia menjadi

salah satu negara di dunia dengan peningkatan jumlah penderita skizofrenia

tiap tahunnya dengan prevalensi mencapai 7 per 1000 penduduk (Riskesdas,

2018). Skizofrenia di Indonesia telah mencapai 11.6 % dari 238 juta orang

atau sebanyak 26.180.000 penduduk dan sekitar 80% klien yang dirawat di
3

rumah sakit jiwa adalah penderita skizofrenia dalam kurun waktu 5 tahun

(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017).

Penderita gangguan jiwa tersebar di seluruh wilayah Indonesia, salah

satunya Provinsi Papua. Data Rikesdas (2018) menunjukkan jumlah penderita

gangguan jiwa skizofrenia mencapai 0.11% (3708 orang) dari 3.371.302

orang. Namun dari total jumlah tersebut yang dirawat di RSJD Abepura

Propinsi Papua pada tahun 2017 mencapai 738 orang dari populasi jumlah

penduduk sebanyak 3.2 juta jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar

126 persen dibandingkan tahun 2016 yang berjumlah 612 orang, dan sebesar

89 persen dibandingkan tahun 2015 yang berjumlah 523 (Data Rekam Medik

RSJD Abepura, 2019).

Salah satu bentuk masalah gangguan jiwa yang dialami sebagian

besar klien skizofrenia adalah perilaku kekerasan. Klien dapat melakukan

perilaku kekerasan kepada orang lain, lingkungan maupun terhadap dirinya

sendiri. Prevalensi klien perilaku kekerasan diseluruh dunia diderita kira-

kira 24 juta orang dan lebih dari 50% klien perilaku kekerasan tidak

mendapatkan penanganan (Muhith, 2018). Terdapat 300 ribu klien

skizofrenia akibat perilaku kekerasan yang mengalami episode akut setiap

tahunnya di Amerika (Sumner, et al, 2016). Hasil penelitian di Finlandia

University Helsinki Central Hospital Psychiatry Centre menunjukkan

sebanyak 32% penderita skizofrenia melakukan tindakan kekerasan, dan

16% menjadi penyebab kematian (Jaaskelainen, et al, 2016). Data Riskesdas


4

tahun 2018 melaporkan sekitar 60% klien gangguan jiwa di Indoensia

menderita perilaku kekerasan (Riskesdas, 2018).

Klien yang mengalami perilaku kekerasan melakukan tindakan yang

dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang

lain dengan tanda dan gejala marah berespon terhadap suatu stressor dengan

gerakan motorik yang tidak terkontrol seperti bicara kasar, jalan mondar-

mandir, menjerit atau berteriak, suara tinggi, mengancam secara verbal atau

fisik dan melempar atau memukul benda atau orang lain (Yosep, 2016).

Perilaku kekerasan dari seorang individu yang bertujun untuk melukai diri

sendiri dan orang lain (Muhith, 2018). Perilaku ini dapat dilakukan dalam

bentuk verbal maupun fisik yang diarahkan kepada diri sendiri, orang lain

dan lingkungan sekitar, disertai dengan amuk, gaduh, dan gelisah yang tidak

terkontrol (Kusumawati & Hartono, 2010).

Klien dapat melakukan kekerasan kepada orang lain, lingkungan

maupun terhadap dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena pada jenis ini klien

seolah mendapat ancaman, tekanan psikologis, dan menganggap orang lain

sebagai musuh. Masalah perilaku kekerasan klien hampir selalu terjadi di

ruang perawatan jiwa. Penelitian yang dilakukan The National Alliance for

the mentality III (NAMI) menyatakan 10,6% klien dengan gangguan

mental serius seperti skizofrenia paranoid melukai orang lain, dan 12,2%

mengancam mencederai orang lain (NAMI, 2017).

Insiden kekambuhan klien skizofrenia dengan resiko perilaku

kekerasan merupakan insiden yang tinggi, berkisar 60-75% setelah suatu


5

episode psikotik jika tidak diberikan terapi dan sebanyak 74% klien

skizofrenia yang kambuh, 71% diantaranya memerlukan rehospitalisasi

(Giandatenaya & Sembiring, 2021). Hasil penelitian Charlson, et al, (2019)

menunjukkan 25% penderita skizofrenia membutuhkan bantuan dan 25%

penderita skizofrenia dengan kondisi berat. WHO melaporkan di tahun 2017

jumlah penderita skizofrenia mencapai 450 juta jiwa di seluruh dunia, 35%

mengalami kekambuhan dan 20%-40% yang diobati di rumah sakit, 20%-

50% melakukan percobaan bunuh diri, dan 10% diantaranya mati disebabkan

bunuh diri (WHO, 2018). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari & Fina

(2011) menunjukkan 25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit

jiwa mengalami kekambuhan. Klien dengan diagnosa skizofrenia

diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama dan 70% pada tahun

kedua setelah pulang dari rumah sakit, serta kekambuhan 100% pada tahun

kelima setelah pulang dari rumah sakit jiwa (Minarni & Sudagijono, 2015).

Sehubungan dengan rentannya kekambuhan klien skizofrenia dengan

resiko perilaku kekerasan, maka solusi untuk mencegah kekambuhan harus

dilakukan, salah satunya adalah kepatuhan minum obat (Adianta & Putra,

2017). Walaupun kepatuhan minum obat tidak menyembuhkan dan tidak

mengurangi kekambuhan 100%, tetapi dengan perilaku patuh minum obat

maka waktu remisi klien setahun lebih lama dan gejala psikosis tidak akan

terlalu parah (Tiara, dkk, 2020). Kepatuhan merupakan fenomena

multidimensi yang ditentukan oleh tujuh dimensi yaitu faktor terapi, faktor

sistem kesehatan, faktor lingkungan, usia, dukungan keluarga, pengetahuan


6

dan faktor sosial ekonomi (Riyadi & Purwanto, 2015). Semua faktor tersebut

memerlukan komitmen yang kuat dan koordinasi yang erat dari seluruh

pihak. Tingkat kepatuhan dapat dimulai dari tindakan menghindari dari setiap

aspek anjuran hingga mematuhi rencana (Niven, 2015).

Kepatuhan minum obat merupakan perilaku untuk menyelesaikan

menelan obat sesuai dengan jadwal dan dosis obat yang dianjurkan sesuai

kategori yang telah ditentukan, tuntas jika pengobatan tepat waktu, dan

tidak tuntas jika tidak tepat waktu (Yosep, 2016). Kepatuhan minum obat

menjadi salah satu faktor utama keberhasilan terapi dalam penatalaksanaan

skizofrenia (Kozier, 2014). Klien yang tidak patuh terhadap pengobatan

beresiko mengalami kekambuhan lebih tinggi dibandingkan dengan klien

yang patuh dalam pengobatan. Kepatuhan dinilai dari tiga indikator perilaku

yaitu konformitas, penerimaan, dan ketaatan (Niven, 2015). Hasil penelitian

Susanti (2019) menunjukkan kepatuhan klien melakukan pengobatan

dipengaruhi oleh individu atau klien sendiri, dukungan dari keluarga,

dukungan sosial juga dukungan dari petugas kesehatan.

Dukungan keluarga menekankan pada sikap, tindakan, dan

penerimaan keluarga terhadap penderita skizofrenia (Alasmee & Hasan,

2020). Keluarga bertanggung-jawab pada proses keperawatan di rumah sakit

dan di rumah. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa dukungan keluarga

berperan penting dan menjadi penentu utama keberhasilan proses pemulihan

pada penderita skizofrenia (Suhermi & Jama, 2019). Hasil penelitian Eni &

Herdiyanto (2018) menyimpulkan dukungan keluarga mencakup dukungan


7

nyata, pengharapan, informasi dan emosional. Keseluruhan dukungan tersebut

dapat dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengantarkan

ke layanan kesehatan, dan memenuhi kebutuhan obat (Kyriopoulos, et al,

2016).

Dukungan keluarga dapat memperkuat setiap individu, menciptakan

kekuatan keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, dan

mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh

keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari (Pratama,

Syahrial, & Ishak, 2015). Jika dukungan terhadap klien dengan gangguan

jiwa tidak diberikan dengan tepat, maka kekambuhan akan memungkinan

terjadi pada klien. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fairuzahida (2017)

menyimpulkan bahwa dukungan keluarga, pemenuhan pengobatan, dan

pemenuhan kebutuhan sehari-hari termasuk dalam kategori kurang. Hal ini

menyebabkan peningkatan kekambuhan sebagian besar penderita gangguan

jiwa dan jika tidak dilakukan pencegahan maka memungkinkan

meningkatknya tingkat keparahan klien.

Beberapa riset yang dilakukan di Indonesia menyatakan bahwa

dukungan keluarga memiliki dampak positif terhadap penyembuhan klien

dengan penyakit yang diderita. Dukungan keluarga bermanfaat besar bagi

proses penyembuhan penyakit kronis termasuk skizofrenia. Dukungan

keluarga dapat menurunkan 50% kekambuhan klien dan rehospitalisasi, 50%

klien skizofrenia dapat dirawat jalan oleh keluarga setelah dipulangkan

selama 1 tahun (Wardani, dkk, 2015). Penelitian lainnya dilakukan oleh


8

Hardianto (2016) yang menyimpulkan bahwa dalam dukungan keluarga

berpengaruh terhadap kekambuhan klien, yaitu dalam waktu 6 bulan pasca

rawat hanya sekitar 30-40% penderita gangguan jiwa mengalami

kekambuhan, setelah 1 tahun pasca rawat 20-30% penderita mengalami

kekambuhan.

Berdasarkan masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul, “Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap

Kepatuhan Minum Obat Pada Klien Skizofrenia Dengan Perilaku Kekerasan

di RSJD Abepura”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan

masalah pada penelitian ini adalah: Bagaimana hubungan dukungan keluarga

terhadap kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia dengan perilaku

kekerasan di RSJD Abepura?.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan

keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia dengan

perilaku kekerasan di RSJD Abepura.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.Mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga klien skizofrenia

dengan prilaku kekerasan.

2.Mengetahui distribusi frekuensi kepatuhan minum obat klien


9

skizofrenia dengan prilaku kekerasan.

3.Menganalisis hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat

klien skizofrenia dengan prilaku kekerasan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Aplikatif

Manfaat aplikatif dirasakan bagi keluarga yaitu dapat

meningkatkan dukungan keluarga pada anggota yang mengalami

skizofrenia dengan prilaku kekerasan, sedangkan bagi perawat jiwa

dapat meningkatkan pengetahuan perawat tentang hubungan dukungan

keluarga dan kepatuhan minum obat. Manfaat lainnya yaitu bagi

instansi pelayanan keperawatan sebagai saran, masukan, dan acuan

dalam memberikan edukasi kepada keluarga yang memiliki anggota

mengalami gangguan jiwa tentang hubungan dukungan keluarga dan

kepatuhan minum obat.

1.4.2 Manfaat Keilmuan

Dukungan keluarga dapat dijadikan rujukan untuk mengatasi

permasalahan kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia dengan

prilaku kekerasan.

1.4.3 Manfaat Penelitian Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi

untuk melakukan penelitian lain yang berkaitan dengan dukungan

keluarga dan kepatuhan minum obat klien skizofrenia dengan prilaku

kekerasan dengan metode, objek, variabel, dan karakteristik yang

berbeda.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Skizofrenia

2.1.1. Definisi Skizofrenia

Skizofrenia diartikan oleh Davinson (2014) sebagai gangguan

psikotik yang ditandai dengan gangguan pikiran, emosi, dan perilaku

seperti pikiran yang tidak saling berhubungan secara logis, persepsi

yang tidak tepat, gangguan aktifitas motorik, perilaku menarik diri, delusi

dan halusinasi. Definisi lain skizofrenia dijelaskan oleh Carlborg, et al

(2012) yaitu gangguan fungsi otak yang dapat mempengaruhi pikiran,

perasaan, dan tindakan seseorang yang dapat berkembang progresif

maupun muncul tiba-tiba dengan gejala yang bervariasi antar klien.

Skizofrenia juga diartikan sebagai penyakit yang mengakibatkan perilaku

psikotik, gangguan dalam memproses informasi, dan berhubungan

interpersonal (Stuart, 2015).

Berdasarkan pada beberapa definisi tersebut, disimpulkan

skizofrenia merupakan gangguan pikiran, perasaan, dan perilaku yang

disebabkan karena disfungsi otak sehingga mengakibatkan perilaku

psikotik, gangguan dalam memproses informasi, dan berhubungan

interpersonal dan ditandai dengan kekambuhan yang terjadi secara

berulang. Gangguan tersebut dapat juga berupa pikiran yang tidak

saling berhubungan secara logis, persepsi yang tidak tepat, afek datar,

gangguan aktifitas motorik, dan perilaku. Hasil penelitian Ascher, et al

10
11

(2015) menyebutkan klien skizofrenia tidak mampu mengenali realitas

sehingga tidak mampu menjalankan kehidupan sehari-hari seperti orang

normal dengan perjalanan kronis ditandai dengan kekambuhan yang terjadi

secara berulang.

2.1.2. Tanda dan Gejala

Klien dengan skizofrenia dapat mengalami gejala positif dan gejala

negatif. Hasil penelitian Domininguez, et al. (2014) menemukan bahwa

gejala positif yang ditemukan diantaranya pembicaraan yang tidak teratur,

perilaku yang kacau, halusinasi dan delusi, sedangkan gejala negatif yang

muncul antara lain afek datar, apatis, dan menarik diri. Kedua gejala

tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi pada klien diantaranya

disfungsi sosial, penurunan produktivitas, terhambatnya hubungan

interpersonal, penurunan kemampuan perawatan diri (Stuart, 2015).

Gejala skizofrenia juga dapat dikelompokkan menjadi gejala primer

dan gejala sekunder. Menurut Stuart (2015) gejala primer meliputi

gangguan proses berpikir, gangguan emosi, gangguan kemauan, dan

autism, sedangkan gejala sekunder meliputi waham, halusinasi, dan gejala

katatonik. Namun oleh Davison (2014) skizofrenia juga diklasifikasikan

menjadi gejala disorganisasi. Gejala tersebut meliputi disorganisasi

pembicaraan dan perilaku aneh (bizarre).

2.1.3. Faktor Risiko Skizofrenia

Terdapat beberapa faktor penyebab skizofrenia, antara lain adanya

riwayat keluarga yang positif sebesar 6,5% dan menjadi 40% jika terjadi
12

pada kembar monozigotik, faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor

sosial yang saling berinteraksi (Stuart, 2015). Skizofrenia juga dapat

terjadi karena ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, aktivitas

dopamine yang berlebihan atau sensitivitas dopamine serotonin dan

norepinephrine yang abnormal (Durand & Barlow, 2012). Menurut

Davison (2014) terdapat juga faktor predisposisi dan presipitasi yang

menyebabkan skizofrenia, dimana predisposisi trerdiri atas faktor tumbuh

kembang, faktor sosial budaya, faktor biologi, sedangkan faktor presipitasi

anatara lain stressor psikologis dan stressor budaya.

Beberapa hasil penelitian tentang interaksi dalam keluarga yang

mempengaruhi penderita skizofrenia. Durand & Barlow (2012)

menyimpulkan bahwa ibu yang memiliki sifat dingin, dominan dan

penolak dapat menjadi faktor pemicu skizofrenia pada anak-anaknya.

Faktor lingkungan juga dapat menjadi penyebab skizofrenia karena

semakin besar kota tempat tinggal dan semakin lama orang tersebut

tinggal di kota tersebut lebih besar risiko mengalami skizofrenia (Picchioni

& Murray, 2015).

2.1.4. Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa diartikan sebagai gangguan psikotik dengan

gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas pada proses pikir yang

umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan perasaan efek yang tidak serasi

atau tumpul. Hal ini ditandai dengan kesadaran dan kemampuan intelektual

yang secara umum masih tetap dipertahankan, walaupun terjadi defisit


13

kognitif (Ibrahim, 2015). Gangguan jiwa juga diartikan sebagai gangguan

pada fungsi jiwa individu yang dapat menimbulkan hambatan atau

penderitaan individu dalam melaksanakan peran sosialnya (Mulia, Keliat,

& Wardani, 2017). Definisi gangguan jiwa disebutkan dalam Undang-

Undang (UU) yaitu suatu kondisi ketika seseorang mengalami gangguan

berpikir, berperilaku, dan terkait emosi yang dimanifestasikan dalam

perubahan perilaku bermakna, yang menimbulkan gejala penderitaan dalam

menjalankan peran sebagai makhluk sosial (UU Nomor 18, 2014).

Secara umum gangguan fungsi jiwa yang dialami oleh seorang

indvidu dapat terlihat dari penampilan, komunikasi, proses berpikir,

interaksi dan aktivitasnya sehari-hari. Gangguan jiwa umunya dimulai pada

masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan melalui

beberapa fase diawali dengan gejala yang hanya dikenali secara

retrospektif, kemudian diikuti dengan perkembangan gejala prodmoral

pada faset akut (Ibrahim, 2015). Terdapat beberapa jenis gangguan jiwa

seperti skiszofrenia, alzheimer, depresi, cemas, keterbelakangan mental,

ketergantungan alkohol, penyalahgunaan narkoba, dan HIV/AIDS (Stuart,

2015).

2.1.5. Skizofrenia dengan Perilaku Kekerasan

1. Pengertian

Perilaku kekerasan didefinisikan sebagai suatu sikap atau

perilaku kasar atau kata-kata yang menggambarkan perilaku amuk,

permusuhan dan potensi untuk merusak secara fisik (Stuart, 2015).


14

Perilaku kekerasan juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana

seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik

baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, disertai

dengan amuk dan gaduh gelisah yang tidak terkontrol (Townsend,

2015).

Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan

untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan

defenisi tersebut maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal,

diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan lin*ngan. Perilaku kekerasan

dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu saat sedang berlangsung perilaku

kekerasan atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku

kekerasan) (Damaiyanti & Iskandar, 2014).

2. Etiologi

Penyebab dari resiko perilaku kekerasan menurut Damaiyanti &

Iskandar (2014) terbagi atas faktor predisposisi dan faktor presipitasi

sebagai berikut:

a. Faktor Predisposisi

a. Teori Biologis

a) Neurologic factor

Beragam komponen dari sistem syaraf seperti sinap,

neurotransmitter, dendrit, akson terminalis mempunyai peran

memfasilitasi atau mengham-bat rangsangan dan pesan-pesan

yang akan mempengaruhi sifat agresif. Sistem I imbik sangat


15

terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku ber-musuhan

dan respon agresif.

b) Genetic factor

Adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua,

menjadi potensi perilaku agresif.

c) Cycardian Rhytm

(Irama sirkardian tubuh), memegang peranan pada

individu. Menurut penelitian pada jam-jam sibuk seperti

menjelang masuk kerja dan menje-lang berakhirnya pekerjaan

sekitar jam 9 dan 13. Pada jam tertentu or-ang lebih mudah

terstimulasi untuk bersikap agresif.

d) Biochemistry factor

(Faktor biokimia tubuh) seperti neurotransmitter di otak

(epineprin, norepineprin, dopamin, aseti I kol in dan serotonin)

sangat berperan dalam penyampaian informasi melalui sistem

persyarafan dalam tubuh, adanya stimulus dari luar tubuh yang

dianggap mengancam atau membahayakan akan dihantar melalui

impuls neurotransmitter ke otak dan meresponnya melalui

serabut efferent. Pen ingkatan hormon androgen dan norepineprin

serta penurunan serotonin dan GABA pada cairan cerebrospinal

verterbra dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya perilaku

agresif.
16

e) Brain area disorder

Gangguan pada sistem I imbik dan lobus temporal,

sindrom otak organik, tumor otak, trauma otak, penyakit

ensepalitis, epilepsi ditemukan sangat berpengaruh terhadap

perilaku agresif dan tindak kekerasan.

b. Teori Psikologis

a) Teori psikoanalisa

Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh

riwayattumbuh kembang seseorang (life span history). Teori ini

menjelaskan bahwa adanya ketidak-puasan fase oral antara usia 0-2

tahun di mana anak tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan

kebutuhan air susu yang cukup cenderung mengembangkan sikap

agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai kompensasi

adanya ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak terpenuhinya

kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak

berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah.

Perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan pengungkapan

secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya

harga diri pelaku tindak kekerasan.

b) Imitation, modeling, and information processing theory

Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang

dalam lingkungan yang mentolelir kekerasan. Adanya contoh,

model dan perilaku yang ditiru dari media atau lingkungan

sekitar memungkinkan individu meniru perilaku tersebut.


17

c) Learning theory

Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu

terhadap lingkungan terdekatnya. la mengamati bagaimana

respon ayah saat menerima kekecewaan dan mengamati

bagaimana respon ibu saat marah. la juga belajar bahwa

agresivitas lingkungan sekitar menjadi peduli, bertanya,

menanggapi, dan menganggap bahwa dirinya eksis dan patut

untuk diperhitungkan.

b. Faktor Presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencentuskan perilaku kekerasan

seringkali berkaitan dengan:

1) Ekspresi diri, ingin menunjukkan ekstensi diri atau simbolis

solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng

sekolah, perkelahian massal dan sebagainya.

2) Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial

ekonomi.

3) Kesulitan dalam mengonkomunikasikan sesuatu dalam keluarga

serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah

cendrung melakukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

4) Adanya riwayat perilaku anti social meliputi penyalahgunaan obat

dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinnya pada saat

menghadapi rasa frustasi.

5) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,

perubahan tahap perkembangan keluarga.


18

3. Rentang Respon Marah

Menurut Damaiyanti dan Iskandar (2014) perilaku kekerasan

merupakan status rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang

dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Kemarahan tersebut merupakan

suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian pesan dari individu.

Perilaku agresif merupakan respon kemarahan, respon marah

dapat berflukuasi dalam rentang adaptif sampai maladaptif (Stuart,

2015).

Respon negatif Respon positif

Agresif Pasif Asertif

Gambar 2.1
Rentang Respon Marah Menurut Stuart (2015)

a. Asertif

Adalah menyampaikan suatu perasaan diri dengan pasti dan

merupakan komunikasi untuk menghormati orang lain. Individu

berbicara dengan jelas. Pada saat berbicara kontak mata langsung

tapi tidak mengganggu, intonasi suara dalam berbicara tidak

mengancam. Individu asertif dapat menolak permintaan yang tidak

beralasan dan menyampaikan rasionalnya kepada orang lain, atau

sebaliknya. Seseorang juga dapat menerima dan tidak merasa

bersalah bila permintaanya ditolak oleh orang lain.


19

b. Pasif

Seseorang yang pasif sering mengesampingkan haknya dari

persepsinya terhadap orang lain. Ketika seorang yang pasif marah,

maka dia akan berusaha menutupi kemarahanya sehingga

meningkatkan tekanan pada dirinya. Pola interaksi seperti ini dapat

menyebabkan gangguan perkembangan.

c. Agresif

Seseorang agresif tidak menghargai hak orang lain. Individu

merasa harus bersaing untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,

hidupnya selalu mengarah pada kekerasan fisik dan verbal. Perilaku

agresif pada dasarnya disebabkan karena kurangnya rasa percaya diri

dan menutupi kekurangan. Perasaan marah dan bermusuhan yang

kuat disertai kehilangan kontrol, sehingga individu dapat merusak

diri sendiri orang lain dan lingkungan.

2.2. Dukungan Keluarga

2.2.1. Pengertian

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga

didefinsikan dengan istilah kekerabatan dimana invidu bersatu dalam

suatu ikatan perkawinan dengan menjadi orang tua (Padila, 2014).

Dalam arti luas anggota keluarga merupakan mereka yang memiliki

hubungan personal dan timbal balik dalam menjalankan kewajiban dan


20

memberi dukungan yang disebabkan oleh kelahiran, adopsi, maupun

perkawinan (Stuart, 2014).

2.2.2. Peran Keluarga

Peran keluarga dalam Padila (2014) terdiri dari peran ayah, ibu

dan anak sebagai berikut:

1. Peranan ayah. Ayah sebagai suami dari isteri dan ayah dari anak –

anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan

pemberi rasa aman. Ayah juga berperan sebagai kepala keluarga,

anggota dari kelompok sosialnya serta anggota masyarakat dari

lingkungannya.

2. Peranan Ibu. Sebagai istri dari suami dan ibu dari anak – anaknya, ibu

mempunyai peranan penting untuk mengurus rumah tangga, mengasuh

dan mendidik anak-anaknya. Ibu juga dapat berperan sebagai pencari

nafkah tambahan dalam keluarga.

3. Peranan anak. Anak – anak melaksanakan peranan psiko sosial dengan

tingkat perkembangannya, baik fisik, mental sosial maupun spritual.

2.2.3. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman dalam Sunaryo (2015) fungsi keluarga terbagi

atas :

1. Fungsi Afektif

Fungsi ini merupakan presepsi keluarga terkait dengan

pemenuhan kebutuhan psikososial sehingga mempersiapkan anggota

keluarga berhubungan dengan orang lain.


21

2. Fungsi Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses perkembangan individu sebagai

hasil dari adanya interaksi sosial dan pembelajaran peran sosial. Fungsi

ini melatih agar dapat beradaptasi dengan kehidupan sosial.

3. Fungsi Reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menjaga

kelangsungan keluarga.

4. Fungsi Ekonomi

Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan secara ekonomi

dan mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan

penghasilan.

5. Fungsi Kesehatan

Menyediakan kebutuhan fisik, makanan, pakaian, tempat tinggal,

perawatan kesehatan (Sunaryo, 2015).

2.2.4. Tugas Keluarga

Terkait dengan fungsi perawatan kesehatan, Friedman (1998)

dalam Sunaryo (2015) mengungkapkan bahwa keluarga memiliki lima

tugas yang harus dijalankan dalam bidang kesehatan, yaitu:

1. Mengenal masalah kesehatan keluarga. Artinya, keluarga harus

mengetahui apa itu penyakit, apa penyebabnya, apa gejalanya,

bagaimana merawatnya, dan apa komplikasinya.

2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga, artinya

keluarga dapat mengambil tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan

yang dihadapi. Misalnya, membawa anggota keluarga yang sakit


22

berobat ke fasilitas kesehatan, seperti dokter, puskesmas, ataupun ke

rumah sakit.

3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan, artinya

keluarga diharapkan mampu merawat dengan benar anggota

keluarganya yang sakit agar segera sehat seperti sebelumnya.

4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan

keluarga, misalnya dengan memelihara lingkungan tempat tinggalnya

agar tidak menimbulkan penyakit.

5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi

keluarga, artinya keluarga akan membawa anggota keluarganya yang

sakit ke fasilitas kesehatan terdekat atau fasilitas kesehatan yang disukai

(Sunaryo, 2015).

2.2.5. Dukungan Keluarga

Sumber dukungan keluarga berasal dari dukungan sosial keluarga

yang dapat berupa dukungan sosial keluarga secara internal seperti

dukungan dari suami atau istri serta dukungan dari saudara kandung

atau dukungan sosial keluarga secara eksternal seperti paman dan bibi

(Friedman, 2013). Dukungan sosial keluarga memiliki efek terhadap

kesehatan dan kesejahteraan yang berfungsi secara bersamaan. Adanya

dukungan yang kuat berhubungan dengan menurunnya mortalitas,

lebih mudah sembuh dari sakit, fungsi kognitif, fisik, dan kesehatan

emosi (Setiadi, 2015). Selain itu, dukungan keluarga memiliki

pengaruh yang positif pada pemyesuaian kejadian dalam kehidupan

yang penuh dengan stress (Friedman, 2013).


23

Hasil penelitian Eni & Herdiyanto (2018) menyimpulkan

dukungan keluarga mencakup dukungan nyata, pengharapan, informasi

dan emosional. Keseluruhan dukungan tersebut dapat dilakukan dengan

cara memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengantarkan ke layanan

kesehatan, dan memenuhi kebutuhan obat (Kyriopoulos, et al, 2016).

Dukungan keluarga bagi anggota dengan gangguan jiwa dapat

diberikan dengan menawarkan keterbukaan, kesiapan, dan penerimaan

yang memberdayakan setiap keluarga untuk menghargai, mengakui,

dan menegaskan keutuhan anggota keluarga dengan penyakit jiwa

tersebut (Panes, et al, 2018).

Bentuk dukungan pada anggota keluarga menurut Padila (2014),

bentuk peran keluarga merupakan dukungan sosial yang terdiri dari

empat dukungan, yakni:

1. Dukungan instrumental

Dukungan instrumental, yaitu keluarga merupakan sumber

pertolongan praktis dan konkrit. Bentuk bantuan instrumental ini

bertujuan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan

aktifitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Misalnya, dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi

penderita, menyediakan obat-obat yang dibutuhkan dan lain-lain.

2. Dukungan informasional

Dukungan informasional, yaitu keluarga berfungsi sebagai

sebuah kolektor dan diseminator (penyebar informasi). Informatif, yaitu

bantuan informasi yang disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang


24

dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi, meliputi

pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide atau informasi lainnya yang

dibutuhkan dan informasi ini dapat disampaikan kepada orang lain yang

mungkin menghadapi persoalan yang hampir sama.

3. Dukungan penilaian

Dukungan penilaian, yaitu keluarga bertindak sebagai sebuah

umpan-balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan

sebagai sumber dan validator identitas keluarga. Bantuan penilaian,

yaitu suatu bentuk penghargaan yang diberikan seseorang kepada pihak

lain berdasarkan kondisi sebenarnya dari penderita. Penilaian ini bisa

positif dan negatif yang mana pengaruhnya sangat berarti bagi

seseorang. Berkaitan dengan dukungan sosial keluarga, maka penilaian

yang sangat membantu adalah penilaian yang positif

4. Dukungan Emosional

Dukungan emosional, yaitu keluarga sebagai sebuah tempat

yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu

penguasaan terhadap emosi. Perhatian emosional setiap orang pasti

membutuhkan bantuan afeksi dari orang lain. Dukungan ini berupa

dukungan simpatik dan empati, cinta, kepercayaan dan penghargaan.

Dengan demikian, seseorang yang menghadapi persoalan merasa

dirinya tidak menanggung beban sendiri, tetapi masih ada orang lain

yang memperhatikan, mau mendengar segala keluhannya, bersimpati

dan empati terhadap persoalan yang dihadapinya, bahkan mau

membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.


25

2.3. Kepatuhan Minum Obat

2.3.1. Pengertian

Kepatuhan minum obat merupakan perilaku untuk menyelesaikan

menelan obat sesuai dengan jadwal dan dosis obat yang dianjurkan sesuai

kategori yang telah ditentukan, tuntas jika pengobatan tepat waktu, dan

tidak tuntas jika tidak tepat waktu (Yosep & Sutini, 2014). Kepatuhan

minum obat menjadi salah satu faktor utama keberhasilan terapi dalam

penatalaksanaan skizofrenia (Kozier, 2014).

2.3.2. Jenis obat Skizofrenia

Obat-obat psikotropik dapat digolongkan dengan berbagai cara

(Sutejo, 2018), antara lain sebagai berikut.

1. Berdasarkan sifatnya sebagai stimulan atau depresan mental

Pembagian ini terutama pada masa obat psikotropik belum

banyak. Pada masa itu dikenal afetamin atau caffein, yang dikatakan

dapat menstimulasi keadaan emosi yang merendah. Luminal dan narkotik

dapat menekan (depresan) tingkah laku yang berlebihan.

2. Berdasarkan bentuk dan rumus bangunnya

Pada masa permulaan obat-obat psikotropik didapatkan (1950-

1960), terlihat kecenderungan bahwa rumus bangun yang hampir sama

akan mempunyai keaktifan yang sama (structure activity relationship).

Ini tampak pada obat benzodiazepine sebagai antianxietas, phenothiazine

sebagai antipsikotik dan lain-lain. Akan tetapi, ternyata struktur atau

rumus bangun dari obat-obat yang mempunyai keaktifan klinik yang


26

sama, bervariasi sangat besar. Obat yang dapat mensupresi gejala

psikotik misalnya, mempunyai bentuk-bentuk phenothiazine,

butirophenon, dan bentuk-bentuk lain yang sama sekali tidak mirip.

Lebih jelas pada obat yang mensupresi depresi patologi, akan terlihat

adanya bentuk-bentuk yang sangat berbeda. Pembagian berdasarkan atas

rumus bangunnya pada saat ini sudah tidak memadai lagi.

3. Berdasarkan aksi dan mekanisme biokimianya

Pada tahun 1960 hingga 1970-an pembagian ini sangat

mengesankan. Hal ini terjadi karena optimisnya bahwa etiologi gangguan

jiwa telah dapat diketahui dari segi biokimia gangguan otak. Pada saat

itu, secara sederhana dapat dikatakan bahwa penderita skizofrenia

disebabkan karena adanya keaktifan dari dopamine yang berlebihan, dan

pada depresi karena catecholamine yang menurun.

4. Berdasarkan efek kliniknya

Pembagian berdasarkan efek klinis merupakan pembagian

empiris, yang kadang-kadang dasar ilmiahnya tidak selalu tepat.

Berdasarkan efek klinis, obat psikotropik dapat dibagi sebagai berikut.

a. Antipsikotik

Golongan ini dulu dikenal sebagai major tranquilizer, akan

tetapi kini lebih tepat untuk disebut sebagai antipsikotik. Pada

umumnya, obat golongan ini dapat mensupresi gejala-gejala

psikotik terutama gejala-gejala psikotik yang produktif.

b. Antidepresan

Golongan obat ini terutama berkhasiat pada gangguan depresi


27

yang patologik, baik yang psikotik atau reaktif. Pada antidepresan

generasi pertama, efek kliniknya baru terlihat pada waktu 7-21 hari

setelah pemberian obat, mempengaruhi sistem otonomik dan

kadang-kadang mempengaruhi sistem kardiovaskular. Sebaliknya,

pada antideperesan generasi kedua, efektivitas sebagai antidepresan

biasanya antara 5-14 hari, kurang mempengaruhi sistem otonom dan

sistem kardiovaskular.

c. Antianxietas

Golongan obat ini terutama berkhasiat untuk mengurangi

anxietas yang patologis, ketegangan, agitasi tanpa memengaruhi

fungsi kognitif dan proses persepsi.

d. Antiinsomnia (Hipnotik)

Golongan obat ini berfungsi menormalkan gangguan tidur yang

patologis.

e. Antimaniakal

Golongan obat ini mempengaruhi proses hiperaktivitas atau

gangguan maniakal tanpa menyebabkan terjadinya proses depresi.

5. Golongan tambahan

Suatu kelompok obat yang sampai saat ini penentuan golongannya

belum jelas benar. Penelitian pendahuluan telah memberi indikasi akan

kegunaan terapeutiknya, akan tetapi bukti tambahan masih diperlukan

untuk memasukkan golongan ini ke dalam salah satu golongan kelas

yang ada.
28

a. Golongan obat nontropik

Golongan obat nontropik adalah obat-obat yang dapat

dimasukkan dalam kelas ini, yang dapat mempengaruhi gangguan

fungsi kognitif, dan proses belajar.

b. Golongan beta blocker

Golongan obat ini pada mulanya diindikasikan sebagai obat-

obatan untuk gangguan sistem kardiovaskular terutama hipertensi.

Beberapa penelitian melihat bahwa golongan beta blocker ini dapat

dipergunakan untuk mengatasi stres, ketegangan dan ansietas,

khususnya di mana komponen fisik lebih dominan pada manifestasi

anxietas tersebut.

c. Golongan asam amino

Beberapa asam amino, dikatakan mempunyai keaktifan

sebagai antidepresan. Asam-asam amino itu di antaranya tryptophan

dan derivatnya 5-hydroxy-tryptophan.

d. Golongan oligo peptide

Penelitian golongan oligo peptide pada saat ini sangat subur.

Hal ini terjadi setelah ditemukannya enkhephalin dan endorphin.

Beberapa jenis dari golongan ini dapat dimasukkan ke dalam anti-

psikotik, sebagian lagi pada anti-depresan, dan sebagian lagi pada

hipnotik atau anti-anxietas.

2.3.3. Pengukuran Kepatuhan Minum Obat

Kepatuhan minum obat dapat dideteksi melalui pengisian beberapa jenis

kuisioner kepatuhan minum obat, yaitu kepatuhan minum obat berupa


29

pernyataan yang dirancang berdasarkan materi dan substansi kepatuhan

minum obat yang sudah baku dari Medication Morisky Adherence Scale-

8. Kuesioner ini telah tervalidasi pada hipertensi tetapi dapat digunakan

pada pengobatan lain secara luas. Pada penelitian ini digunakan kuesioner

MMAS-8 yang sudah tervalidasi. Berdasarkan penelitian Ika

Sulistyaningsih pada tahun 2016 tentang hubungan kepatuhan minum

obat dengan kualitas hidup klien skizofrenia didapatkan hasil nilai

Cronbach Alpha dengan rentang nilai antara 0,604 – 0,912.

Kuesioner MMAS-8 ini terdiri dari 8 pertanyaan, dengan

pertanyaan unfavourable nomor 1,2,3,6,7, 8b,8c,8d,8e dengan hasil

jawaban “ya” atau “tidak”, dimana jawaban “ya” memiliki skor 0 dan

jawaban “tidak” memiliki skor 1. Sedangkan pada pertanyaan pernyataan

favourable nomor 4,5,8a memiliki nilai jawaban “ya” memiliki skor 1 dan

jawaban “tidak” memiliki skor 0. Berdasarkan skala tersebut skor yang

bisa dicapai responden adalah minimal 0 sampai dengan 8. Untuk

menentukan tingkat kepatuhan didapatkan dari total skor yang

dimasukkan ke dalam kategori “tinggi” (total skor ≥ 4) dan kategori

“rendah” (total skor < 4) (Bukit, 2019).


30

2.4. Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

1. Faktor Predisposisi
a. Teori Biologis
b. Teori Psikologis
2. Faktor Presipitasi
a. Ekspresi diri
b. Ekspresi tidak Skzofrenia dengan Perilaku
terpenuhinya Kekerasan
kebutuhan dasar dan
sosial ekonomi
c. Kesulitan dalam Rentang Respon Kekerasan
mengonsumsikan 1. Asertif
sesuatu 2. Pasif
d. Adanya riwayat 3. Agresif
perilaku anti sosial

Penatalaksanaan Kepatuhan Minum Obat


Medication Morisky Adherence
Scale-8 (MMAS-8)
Terapi Medikasi 1. Tinggi
2. Rendah
Terapi Perilaku

Dukungan Keluarga
1. Dukungan instrumental
2. Dukungan informasional
3. Dukungan penilaian
4. Dukungan Emosional

Gambar 2.2 Kerangka Teori


Sumber: (Damaiyanti & Iskandar, 2014, Stuart dan Sundeen, 2014, Bukit 2019)
31

2.5. Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah hipoteiss alternatif, ada hubungan

dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia

dengan resiko prilaku kekerasan di RSJD Abepura.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep yang disajikan pada penelitian ini terdiri atas variabel

independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah variabel

bebas, sedangkan variable dependen adalah variable terikat yang dapat

dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel independen berupa

dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kepatuhan

minum obat. Kerangka konsep tersebut disajikan pada Gambar 3.1 berikut

ini.

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Keluarga
1. Dukungan instrumental
2. Dukungan informasional Tingkat Kepatuhan
3. Dukungan penilaian Minum Obat
4. Dukungan Emosional

Karakteristik Keluarga Klien


1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Pendidikan
4. Pekerjaan
5. Pendapatan

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Keterangan:

: Variabel diteliti

: Variabel tidak diteliti

32
33

3.2. Definisi Operasional

Tabel 3.1. Definisi Operasional

No Definisi Alat dan Cara


Variabel Kriteria Skala
Operasional Ukur

1 Dukungan Dukungan yang Menggunakan 1. Mendukung: skor Ordinal


Keluarga diberikan pertanyaan jawaban > median
keluarga checklist 32
meliputi Selalu 2. Tidak mendukung:
dukungan Sering skor jawaban <
instrumental, Pernah median 32
informasional, Tidak pernah
Penilaian dan
emosional

2 Kepatuhan Tindakan yang Medication 1. Tinggi: skor Ordinal


minum obat dilakukan klien Morisky jawaban > 4
dalam 2. Rendah: skor
mengambil obat
Adherence jawaban < 4
tepat waktu, Scale-8.
minum obat Ya
sesuai dengan Tidak
aturan dan
dihabiskan

Tabel 3.2. Karakteristik Responden

No Definisi Alat dan Cara


Variabel Kriteria Skala
Operasional Ukur

1 Umur Rentang usia Menggunakan 1. 36-45 tahun Ordinal


anggota keluarga pertanyaan (dewasa akhir)
klien skizofrenia pilihan 2. 46-55 tahun (Pra
dengan perilaku checklist Lansia)
kekerasan 3. 56 -65 tahun (lansia
akhir)
2 Jenis Kelamin Perbedaan Menggunakan 1. Perempuan Nominal
gender anggota pertanyaan 2. Laki- Laki
keluarga klien pilihan
skizofrenia checklist
dengan perilaku
kekerasan

3 Pendidikan Tamatan terakhir Menggunakan 1. Tidak Sekolah Ordinal


pendidikan pertanyaan 2. SD
anggota keluarga pilihan 3. SMP
klien skizofrenia 4. SMA
34

dengan perilaku checklist 5. Perguruan tinggi


kekerasan

4 Pekerjaan Aktivitas yang Menggunakan 1. Tidak bekerja Ordinal


dilakukan dalam pertanyaan 2. Bekerja
memperoleh pilihan
pendapatan checklist
anggota keluarga
klien skizofrenia
dengan perilaku
kekerasan

5 Pendapatan Status ekonomi Menggunakan 1. Baik: bila Ordinal


penderita klien pertanyaan pendapatan sesuai
ditinjau dari pilihan UMR (> Rp.
pendapatan checklist 3.000.000
dalam sebulan 2. Kurang: > bila
dalam pendapatan < UMR
membiayai (Rp. 3.000.000)
pengobatan
berdasarkan
UMR Papua

3.3. Jenis Penelitian

Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional

yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi

mengenai status yang berhubungan mengenai suatu gejala yang ada, yaitu

gejala yang menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Sugiyono,

2014). Metode deskriptif korelasional dalam penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat

klien skizofrenia dengan perilaku kekerasan di RSJD Abepura.

3.4. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli 2021, diawali dengan

proses perizinan dan administrasi. Pengambilan data dilakukan pada bulan

Agustus 2021, dan penyusunan laporan penelitian pada bulan Agustus 2021.
35

Pelaksanaan penelitian akan dilakukan di RSJD Abepura dan pengambilan

data di Ruang Rawat Jalan.

3.5. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini seluruh keluarga klien dengan

skizofrenia di Ruang Rawat Jalan RSJD Abepura . Jumlah Klien bulan

Januari-Desember tahun 2020, untuk semua diagnosa 4.060 orang,

sedangkan untuk tahun 2021 bulan Januari – Mei untuk jumlah klien

sebanyak 830 orang dengan semua diagnosa, sedangkan untuk klien dengan

diagnosa skizofrenia dengan perilaku kekerasan sebanyak 80 orang. ( Data

Rekam Medik RSJD Abepura ). Perkiraan besar sampel minimal dalam

penelitian ini menggunakan rumus Slovin (Notoatmodjo, 2012) sebagai

berikut:

N
n = —————
1 + N (d)2

Keterangan:

n : Besar sampel

N : Besar populasi

d : Penyimpangan populasi yang digunakan, yaitu 10% = 0,1

Berdasarkan jumlah populasi 80 orang, maka yang akan menjadi sampel

dengan berpedoman pada rumus diatas sebagai berikut:

80 80 80
36

n = ——————— = ————— = ————


1 + 80 (0,1)2 1 + 0,8 1,8

n = 44,44 dibulatkan menjadi 44 responden

Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling,

dengan kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Kriteria Inklusi

a. Klien skizofrenia yang memiliki keluarga yang tinggal serumah.

b. Usia keluarga berkisar 35-65 tahun.

c. Keluarga dalam sehat jasmani dan rohani.

d. Keluarga bersedia menjadi responden.

2. Kriteria eksklusi

Sementara itu, kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek

penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat

sebagai sampel penelitian (Notoatmodjo, 2016). Kriteria eksklusi

penelitian ini antara lain:

a. Klien skizofrenia yang tidak memiliki keluarga.

b. Klien skizofrenia yang memiliki keluarga tetapi tidak tinggal serumah

c. Klien skizofrenia yang mempunyai keluarga diluar daerah jayapura

yang tinggal dipedalaman atau di daerah yang tidak mempunyai alat

komunikasi (Hp android) dan tidak ada sinyal.

3.6. Instrumen Penelitian


37

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa

kuesioner. Kuesioner digunakan untuk mengukur dukungan keluarga dan

tingkat kepatuhan minum obat, meliputi kuesioner A: karakteristik dan data

demografi responden, kuesioner B: kuesioner dukungan keluarga, dan

kuesioner C: tingkat kepatuhan minum obat.

3.6.1 Kuesioner A: Karakteristik dan data demografi responden

Kuesioner A ini akan digunakan untuk mengukur data demografi

responden mencakup jenis kelamin, usia, pekerjaan, tingkat pendidikan,

dan status ekonomi. Data tersebut diperoleh langsung dari responden.

Responden mengisi kuesioner A dengan isian langsung dan mengisi

check list.

3.6.2 Kuesioner B: Dukungan keluarga

Instrumen untuk mengetahui dukungan keluarga,yang terdiri dari

dukungan informasional (nomor 1,2,3,4), dukungan penilaian atau

penghargaan (nomor 5,6,7,8), dukungan instrumental (nomor

9,10,11,12), dan dukungan emosional (nomor 13,14,15,16 ). Kuesioner

ini terdiri dari 16 pernyataan yang diukur dengan skala Likert (1- 4)

dengan nilai pernyataan yang favourrable : 4 = selalu, 3 = sering, 2 =

kadang-kadang, dan 1 = tidak pernah, berdasarkan skala tersebut skor

yang bisa dicapai responden adalah minimal 1 sampai dengan maksimal

64, dengan kategori dukungan baik nilai > 32 dan dukungan kurang

baik nilai ≤ 32. Kategori dukungan keluarga selaras dengan penelitian

Bukit (2019).

3.6.3 Kuesioner C: Tingkat Kepatuhan Minum Obat


38

Kuesioner C akan digunakan untuk mengukur tingkat

kepatuhan minum obat, berupa pernyataan yang dirancang berdasarkan

materi dan substansi kepatuhan minum obat yang sudah baku dari

Medication Morisky Adherence Scale-8 (MMAS-8) (Morisky, Wood,

& Ward (2010). Kuesioner ini telah tervalidasi pada hipertensi tetapi

dapat digunakan pada pengobatan lain secara luas. Kuesioner yang

telah tervalidasi ini akan digunakan pada penelitian ini berdasarkan

penelitian Sulistyaningsih (2016) tentang hubungan kepatuhan

minum obat dengan kualitas hidup klien skizofrenia didapatkan hasil

nilai Cronbach Alpha dengan rentang nilai antara 0,604 – 0,912.

Kuesioner MMAS-8 ini terdiri atas 8 pertanyaan, dengan

pertanyaan unfavourable nomor 1,2,3,6,7, 8b, 8c, 8d, 8e dengan

hasil jawaban “ya” atau “tidak”, dimana jawaban “ya” memiliki skor

0 dan jawaban “tidak” memiliki skor 1. Sedangkan pada pertanyaan

pernyataan favourable nomor 4, 5, 8a memiliki nilai jawaban “ya”

memiliki skor 1 dan jawaban “tidak” memiliki skor 0. Berdasarkan

skala tersebut skor yang bisa dicapai responden adalah minimal 0

sampai dengan 8. Untuk menentukan tingkat kepatuhan didapatkan dari

total skor yang dimasukkan ke dalam kategori “tinggi” (total skor ≥

4) dan kategori “rendah” (total skor < 4). (Bukit 2019)

3.7. Pengumpulan Data


39

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dan bantuan orang lain

(enumerator). Adapun Langkah - langkah dalam pengumpulan data sebagai

berikut:

1. Setelah mendapat persetujuan dari Direktur RSJD Abepura, Selanjutnya

peneliti menjelaskan tujuan penelitian kepada responden.

2. Membentuk enumerator atau asisten peneliti sebanyak 1 orang perawat

yang bertugas di ruangan. Pelatihan diberikan agar dalam pengambilan

data sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini. Setelah asisten mengetahui

cara pengambilan data, selanjutnya melaksanakan penelitian.

3. Memberikan informed cosent kepada calon responden dengan memberikan

penjelasan kepada responden maksud dan tujuan penelitian, Jika

responden setuju, maka diberikan lembar informed consent yang

ditandatangani oleh responden.

4. Kemudian peneliti membagikan kuesioner dalam bentuk angket kepada

klien. Waktu pengisian penelitian dilakukan selama 60 menit. kemudian

dikumpul kembali dengan mengisi waktu dan tanggal penelitian.

5. Setelah itu hasil kuesioner dan observasi dicek kelengkapan pengisian,

dinilai dan dianalisis.

3.8. Pengolahan Datan dan Analisis Data

3.8.1. Pengolahan Data

Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisa data,

melalui beberapa tahap, yang dimulai dari penyuntingan data (editing)

untuk memeriksa kelengkapan identitas dan data responden serta


40

memastikan bahwa semua jawaban telah diisi. Kemudian peneliti

memberi kode (coding) dan memproses data (processing) tahapan ini

dilakukan setelah semua data di-entry kedalam program atau software

computer. Peneliti melakukan pengecekan kembali data yang telah

dimasukkan kedalam computer untuk mengetahui ada tidaknya

kesalahan (cleaning), apabila ditemukan data yang salah maka

dilakukan editing data. Selanjutnya data yang terkumpul disajikan

dalam bentuk tabel atau daftar (tabulater). Metode statistik untuk

analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

3.8.2. Analisis Data

1. Data Univariat

Analisa ini akan digunakan untuk mengetahui distribusi

frekuensi data demografi klien skizofrenia dengan perilaku

kekerasan di ruang rawat jalan RSJD Abepura.

2. Data Bivariat

Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui apakah ada

hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat

klien skizofrenia dengan perilaku kekerasan di ruang rawat

jalan RSJD Abepura. Data yang telah terkumpul selanjutnya

diolah dengan menggunakan uji koefisien korelasi Rank

Spearman dengan tingkat signifikansi 95%, α = 0,05. Berikut

rumus analisis korelasi tersebut. (Sugiyono 2013)

6 Σ bi2
=1-
n(n 2−1)
41

Keterangan:

p = Koefisien Korelasi Rank Spearman

bi = Rangking Data Variabel

n = Jumlah Responden

Kesimpulan :

a. P value≤ 0,05 : maka dapat disimpulkan ada hubungan yang

antara variabel independen dan variabel dependen, sehingga Ha

diterima dan Ho ditolak.

b. P value> ¿0,05 : maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan

yang antara variabel independen dan variabel dependen,

sehingga Ho diterima dan Ha ditolak.

Untuk menilai seberapa besar pengaruh variabel

independen terhadap dependen maka digunakan koefisien

diterminasi (KD) yang merupakan koefisien korelasi yang

biasanya dinyatakan dengan persentase %. Berikut adalah

rumus koefisien determinasi untuk memberikan impretasi

koefisien korelasinya, maka penulis menggunakan pedoman

yang mengacu pada Sugiyono (2013) sebagai berikut.

Tabel 3.3. Interpretasi nilai

Skala Keterangan
0,00 - 0, 199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
42

0,80 – 1,00 Sangat Kuat


Sumber: Sugiyono (2013)

3.9. Etika Penelitian

Peneliti menggunakan berbagai prinsip etika, dalam rangka

pencegahan terjadinya permasalahan negatif terkait etik dalam proses

penelitian. Peneliti memastikan partisipan terlindungi dengan menerapkan

prinsip-prinsip etik menurut Polit & Bek (2010), sebagai berikut:

3.9.1. Beneficence

Beneficence diartikan sebagai prinsip kebermanfaatan dalam

suatu penelitian, yang menunjukkan lebih besar manfaat dibandingkan

risiko atau kerugian. Sebelum pengambilan data, dijelaskan secara

rinci mengenai kegiatan, tujuan, dan manfaat penelitian dalam upaya

mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap tingkat kepatuhan

minum obat. Peneliti akan menjelaskan kepada responden tentang

kegiatan, manfaat, dan tujuan penelitian yang akan dilakukan,

sehingga responden merasa tidak ada kerugian yang mungkin dialami

jika ikut berpartisipasi dalam penelitian tersebut.

3.9.2. Respect for outonomy

Respect for outonomy atau menghargai otonomi merupakan

prinsip menghormati hak responden untuk menentukan terlibat

ataupun tidak terlibat dalam penelitian, dengan bebas, sukarela atau

tanpa paksaan. Responden memiliki hak secara bebas, tidak ada sanksi
43

dari manapun dan juga berhak untuk tidak menjawab pertanyaan yang

dianggap menimbulkan ketidak-nyamanan bagi diri maupun orang

lain. Responden juga diizinkan untuk mengundurkan menjadi

responden jika merasa tidak nyaman. Dalam penelitian ini, peneliti

akan menyampaikan prosedur penelitian, calon responden ditanyakan

kesediaannya untuk ikut serta menjadi responden. Jika setuju, maka

diminta mengisi lembar persetujuan (informed consent) dan

membubuhi tanda tangan sebagai bukti kesediaan responden dalam

penelitian ini.

3.9.3. Non maleficience

Non maleficience atau meminimalkan risiko diartikan sebagai hak

yang dimiliki responden agar terhindar dari risiko selama proses

penelitian. Responden diyakinkan bahwa penelitian tidak

menimbulkan bahaya dan tidak menganggu kenyamanan partisipan

secara fisik maupun psikologis. Dalam penelitian ini, peneliti harus

menjaga responden dari bahaya yang kemungkinan bisa ditimbulkan,

dan peneliti mencari cara terbaik untuk selalu menjaga kenyamanan

responden selama pengambilan data penelitian berlangsung.

3.9.4. Confidentiality

Confidentialitiy merupakan upaya meyakinkan bahwa data yang

didapatkan dijaga kerahasiaannya. Data-data tersebut antara lain

identitas responden, lembar persetujuan, hasil jawaban lembar

kuesioner. Kerahasiaan juga dilakukan dengan menyimpan hasil


44

jawaban lembar kuesioner responden. Jika kepentingan penelitian

berkaitan dengan analisis data dan laporan penelitian telah selesai,

maka data tersebut dapat dibuang. Dalam penelitian ini, peneliti akan

menjaga kerahasiaan data responden dengan menyimpan data hasil

penelitian, merahasiakan dari siapapun, dan jika penelitian selesai,

data-data tersebut akan dimusnahkan.

3.9.5. Justice

Justice atau keadilan merupakan prinsip bahwa tidak ada

diskriminasi dalam pemilihan responden. Semua memiliki hak yang

sama untuk dipilih pada penelitian. Responden berhak menerima

perlakuan secara adil tanpa dibeda-bedakan sesuai persetujuan yang

telah disepakati. Keadilan tersebut berkaitan dengan tidak

membedakan responden berdasarkan suku, agama, etnis, jenis

kelamin, maupun kelas sosial. Dalam penelitian ini, peneliti akan

memperlakukan semua responden sama tanpa membeda-bedakan suku

agama ras, dan peneliti tidak akan melakukan diskriminasi terhadap

responden, sehingga keadilan atau justice benar-benar diterapkan.


45
BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Karakteristik Responden

Tabel 4.1. Distribusi Responden Keluarga Klien Skizofrenia Berdasarkan


Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan dan Pendapatan di
RSJD Abepura, Juli 2021

Frekuensi
Variabel Persentase (%)
(n = 44)
1. Umur
36-45 tahun 31 70,5
46-55 tahun 8 18,2
56-65 tahun 5 11,4
2. Jenis Kelamin
Laki – Laki 25 56,8
Perempuan 19 43,2
3. Pendidikan
Tidak Sekolah 3 6,8
SD 2 4,5
SMP 7 15,9
SMA 22 50
Perguruan Tinggi 10 22,7
4. Pekerjaan
Tidak Bekerja 21 47,7
Bekerja 23 52,3
5. Pendapatan
Kurang (< Rp. 3.000.000) 36 81,8
Cukup (> Rp. 3.000.000) 8 18,2
Sumber : Data Primer, 2021

Berdasarkan tabel 4.1 dari 44 responden, terbanyak responden

berumur 36-45 tahun sebanyak 31 orang (70,5%), laki – laki sebanyak 25

orang (56,8%), pendidikan SMA sebanyak 22 orang (50%), tidak bekerja

sebanyak 23 orang (52,3%), pendapatan kurang (< Rp. 3.000.000) sebanyak

36 orang (81,8%).

46
47

4.2. Dukungan Keluarga

Tabel 4.2. Distribusi Indikator Dukungan Keluarga pada Klien Skizofrenia


Dalam Kepatuhan Minum Obat di RSJD Abepura, Juli 2021

Frekuensi
Dukungan Keluarga Persentase (%)
(n = 44)
1. Instrumental
Tidak Mendukung 10 22,7
Mendukung 34 77,3
2. Informasional
Tidak Mendukung 13 29,5
Mendukung 31 70,5
3. Penilaian
Tidak Mendukung 13 29,5
Mendukung 31 70,5
4. Emosional
Tidak Mendukung 15 34,1
Mendukung 29 65,9
Sumber: Data Primer, 2021

Tabel 4.2 dari 44 responden menunjukkan dari 4 indikator dukungan

keluarga sebagian besar mendukung, yaitu pada indikator instrumental

sebanyak 34 orang (77,3%), informasional sebanyak 31 orang (70,5%),

penilaian sebanyak 31 orang (70,5%) dan emosional sebanyak 29 orang

(65,9%). Adapun kategori dukungan keluarga dapat dilihat pada tabel 4.3 di

bawah ini.

Tabel 4.3. Distribusi Dukungan Keluarga pada Klien Skizofrenia di RSJD


Abepura, Juli 2021
Frekuensi
Dukungan Keluarga Persentase (%)
(n = 44)
Tidak Mendukung 11 25
Mendukung 33 75
Total 44 100
Sumber: Data Primer, 2021
48

Tabel 4.3 dari 44 responden menunjukkan dukungan keluarga dalam

kategori tidak mendukung sebanyak 11 orang (25%) dan mendukung

sebanyak 33 orang (75%).

4.3. Kepatuhan Minum Obat

Tabel 4.4. Distribusi Kepatuhan Minum Obat pada Klien Skizofrenia di


RSJD Abepura, Juli 2021

Frekuensi
Kepatuhan Minum Obat Persentase (%)
(n = 44)
Rendah 21 47,7
Tinggi 23 52,3
Total 44 100
Sumber: Data Primer, 2021

Tabel 4.4 dari 44 responden menunjukkan klien skizofrenia dengan

kepatuhan minum obat kategori rendah sebanyak 21 orang (47,7%) dan

kategori tinggi sebanyak 23 orang (52,3%).

4.4. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat

Tabel 4.5. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat


pada Klien Skizofrenia Dalam Kepatuhan Minum Obat di RSJD
Abepura, Juli 2021

Kepatuhan Minum Obat


Jumlah p
Dukungan Keluarga Rendah Tinggi r
value
n % n % n %
Tidak Mendukung 10 90,9 1 9,1 11 100
Mendukung 11 33,3 22 66,7 33 100 0,001 0,49
Jumlah 21 47,7 23 52,3 44 100
Sumber: Data Primer, 2021

Tabel 4.5 menunjukkan 11 orang klien zkizofrenia yang keluarga

tidak mendukung sebanyak 10 orang (90,0%) dengan kepatuhan minum

obat rendah dan kepatuhan tinggi sebanyak 1 orang (9,1%). Dari 33 orang

klien zkizofrenia yang keluarga mendukung sebanyak 11 orang (33,3%)

dengan kepatuhan minum obat rendah sebanyak 22 orang (66,7%). Hasil uji
49

korelasi spearman diperoleh nilai p = 0,001 dan koefisien korelasi r = 0,49

yang diinterpretasikan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, maka terdapat

hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada klien

skizofrenia dengan resiko prilaku kekerasan di RSJD Abepura dengan

kekuatan hubungan yang sedang.


BAB V

PEMBAHASAN

1.

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Pada awalnya Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura bernama rumah sakit

Intrichting Irene (yang berarti tempat aman) yang didirikan pada tahun 1952

yang pada saat itu nama Abepura masih bernama Holandia Binend.

Selanjutnya pada tahun 1966 nama rumah sakit intrichting irene diganti nama

rumah Sakit Jiwa Provinsi Irian Barat, sedangkan nama Holandia Binend I

ganti nama abepura sehingga kemudian bernama Rumah Sakit Jiwa Daerah

Abepura Provinsi Irian Barat yang kemudian seiring berubahnya nama Irian

Barat menjadi Irian Jaya pada tahun 1973 dan berubah lagi menjadi Papua

pada tahun 2002, maka sejak saat itu mejadi Rumah Sakit Jiwa Daerah

Abepura.

RSJD Abepura Provinsi Papua berdiri di atas lahan seluas 26.450 m2.

RSJD Abepura adalah rumah sakit milik pemerintah Provinsi Papua yang di

tetapkan dengan surat keputusan gubernr provinsi Irian Jaya No.68 Tahun

1987 tanggal 24 April 1987 sebagai rumah sakit tipe C, kemudian RSJD

Abepura ditetapkan sebagai Lembaga Teknis Daerah dengan surat keputusan

Gubernur Provinsi Papua No. 256 tahun 2004 tanggal 29 November 2004.

Dengan pembentukan susunan organisasi dan tata kerja RSJD Abepura dalam

50
51

BAB II pasal 3 adalah RSJD Abepura merupakan lembaga teknis daerah

Provinsi Papua yang bertanggung jawab kepada gubernur.

Jumlah Tenaga pada Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura Tahun 2020

menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.1 di bawah ini.

Tabel 5.1 Jumlah Ketenagaan RSJD Abepura Menurut pendidikan

No Pendidikan Jumlah (Orang)


1 Dokter Spesialis Jiwa 4
2 Dokter Umum 3
3 S2 Magister Manajemen 7
4 S2 Sains (Msi) 1
5 Apoteker 1
6 S.Kep Ners 27
7 S.Psi 2
8 S. Farm 3
9 Amd.Far 7
10 S. Gizi 2
11 SKM 4
12 S.Ekonomi 3
13 D-IV 1
14 D-III Kep 82
15 D-III Gizi 9
16 D-IV Gizi 1
17 S-I Fisioterapi 3
18 D1 Farmasi 1
19 D-III Analisis 2
20 S-I Kesling 3
21 SPK 7
22 SMA 6
235 SMK 6
Jumlah 185
Sumber: Data Sekunder, 2020

Berdasarkan tabel 5.1. menunjukan jumlah tenaga perawat sebanyak

116 orang, terdiri dari SPK sebanyak 7 orang, D-III Keperawatan sebanyak

82 orang dan Sarjana Keperawatan sebanyak 27 orang.

Pelayanan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura dengan

tugas memberikan pelayanan kesehatan jiwa kepada masyarakat luas.


52

Pelayanan intramural RSJD abepura secara optimal dan berkualitas dalam

pelayanan kesehatan jiwa sehingga pengguna kesehatan jiwa sehingga

kepuasan pengguna jasa dapat tercapai. Unit ini melayani pemeriksaan dan

pengobatan pada klien yang datang, pemeriksaan pertama klien yang rawat

inap dan pengobatan lanjutan pada klien ang telah dipelangkan.

Unit rawat inap merupakan inti dari seluruh kegiatan pelayanan di

Rumah sakit jiwa. RSJD dalam pelayanan harus dalam suasana terbuka dan

penerapannya secara menyeluruh terhadap fisik dan mental.

Rawat inap dikhususkan

1. Bagi penderita – penderita gangguan jiwa yang membahayakan diri sendiri

maupun orang lain, dimana RSJD Abepura masih berupaya mengatasinya.

2. Penderita gangguan jiwa yang tidak mungkin terlewat baik di rumah

sendiri. Sedangkan unit rawat inap ini tidak dapat dipisahkan dari unit

rehabilitas karena keduanya berkerja sama dengan melakukan terapi, yaitu

terapi psikofarmako, terapi fisik (ECT), terapi suasana (mellieu therapi),

fisioterapi, rehabilitasi medik.

5.2. Implementasi dan Diskusi Hasil Penelitian

5.2.1. Karakteristik Responden

Hasil peneltiian diperoleh karakteristik keluarga terbanyak berumur

36-45 tahun sebanyak 31 orang (70,5%). Penelitian ini sejalan dengan

peneltiian yang dilakukan oleh Pelealu (2018) bahwa sebagian besar

keluarga yang membantu keluarga klien yang mengalami skizofrenia

berumur dewasa madya sebanyak 24 responden atau 64,9%.


53

Menurut Kozier (2014) bahwa seseorang dengan usia dewasa muda

sudah dapat mengetahui identitas diri dan dapat mengembangkan

kemampuannya secara personal. Seseorang dengan usia dewasa pertengahan

sudah dapat membedakan konsep salah dan benar, sudah dapat

merencanakan sesuatu dalam kehidupan, serta sudah dapat mengevaluasi

sesuatu yang telah dikerjakan sebelumnya, sedangkan seseorang dengan

usia dewasa akhir (> 35 tahun) sudah mampu mengintropeksi diri dan

kemampuannya.

Peneliti berpendapat bahwa umur keluarga yang semakin tinggi

diharapkan memiliki pengetahuan yang semakin tinggi pula karena telah

memiliki pengetahuan yang luas, pengalaman yang banyak, dan pemahaman

yang tinggi akan pentingnya menjaga kesehatan keluarga pasien skizofrenia

dalam upaya kepatuhan minum obat. Semakin tua umur seseorang, maka

proses perkembangan mentalnya bertambah baik dan semakin muda

seseorang semakin mudah pula menyerap apa yang disampaikan, tetapi

pengetahuan juga harus diikuti dengan kemampuan memahami proses

tersebut sehingga dapat diterapkan secara langsung.

Hasil penelitian diperoleh karakteristik keluarga terbanyak berjenis

kelamin laki-laki sebanyak 25 orang (56,8%). Penelitian ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Pelealu (2018) bahwa keluarga yang menjadi

anggota keluarga terdekat pada pasien skizofrenia berjenis kelamin laki-laki.

Menurut Ichda (2019) banyakanya anggota keluarga yang berjenis kelamin

laki – laki dalam membantu klien skizofrenia dibandingkan perempuan


54

karena perempuan cenderung lebih mudah mengalami cemas, stres dan

rentan terhadap trauma jika dibandingkan laki-laki. Adanya fluktuasi

hormonal diduga menjadi penyebab perempuan rentan terhadap

permasalahan psikologis.

Hasil penelitian diperoleh karakteristik keluarga terbanyak

berpendidikan SMA sebanyak 22 orang (50%). Penelitian ini juga sejalan

dengan penelitian sebelumnya oleh Sari (2017) di Poliklinik Jiwa Rumah

Sakit Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi yang sebagian besar berpendidikan

SMA dan tingkat pendidikan keluarga berhubungan. Tingkat pendidiikan

keluarga yang semakin tinggi berhubungan dengan pengetahuan dan

kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami

skizofrenia.

Sebagian besar anggota keluarga yantg merawat anggota keluarganya

yang mengalami pasien skizofrenia adalah tidak bekerja sebanyak 23 orang

(52,3%). Dengan tidak bekerja keluarga dapat optimal mebantu dan

merawat anggota keluarganya dengan baik. Sebagian besar pendapatan

keluarga dalam kategori kurang dari upah minuimium regional yang ada di

Papua (< Rp. 3.000.000) sebanyak 36 orang (81,8%). Hal ini juga akan

berdampak pada pembiayaan pada anggota keluarga dalam pengobatan.

Namun pembiyaan ini dapat terbantu karena semua pasien skizofrenia telah

didaftar menjadi peserta jaminan kesehatan yang pengobatannya menjadi

ringan karena adanya jaminan kesehatan dari pemerintah.

5.2.2. Dukungan Keluarga


55

Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang diberikan

pada klien skizofrenia di RSJD Abepura dalam kepatuhan berobat dalam

kategori tidak mendukung sebanyak 11 orang (25%) dan mendukung

sebanyak 33 orang (75%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Pelealu (2018) diketahui bahwa dukungan keluarga di

Rumah Sakit Prof. Dr .V. L. Ratumbuysang Provinsi Sulawesi Utara bahwa

dukungan keluarga pada pasien skizofrenia Rumah Sakit Prof. Dr. V. L.

Ratumbuysang Provinsi Sulawesi Utara terbanyak ada pada kriteria baik.

Hal ini sesuai dengan teori Friedman (2013) yang menyebutkan

bahwa keluarga memiliki beberapa fungsi dukungan yaitu dukungan

informasi, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan

emosional. Jika keempat dukungan ini ada dalam keluarga pasien maka

akan berdampak positif pada pasien.

Dukungan keluarga pada klien skizofrenia pada indikator instrumental

sebagian besar mendukung sebanyak 34 orang (77,3%), yaitu keluarga

menanggung pembiayaan pengobatan, menyediakan kebutuhan hidup

sehari-hari, memberikan sarana kepada saya untuk melakukan aktivitas

istirahat serta membantu ketika saya mengalami masalah pada penyakit

pasien skizofrenia. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Karmila (2016)

bahwa dukungan instrumental keluarga sebanyak 65% dalam kategori baik

yang diberikan pada keluarga yang menderita skizofrenia.

Dukungan instrumental yang diberikan pada keluarga yangmengalai

skizofrenia merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya


56

kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat,

terhindarnya penderita dan kelelahan. Dukungan Instrumental merupakan

dukungan dimana keluarga diharapkan mampu memfasilitasi semua

kebutuhan anggota keluarga, baik itu kebutuhan bio, psiko, sosial dan

spiritual. Kebutuhan biologis adalah kebutuhan dasar maupun kebutuhan

materi yang harus dipenuhi keluarga.

Menurut Padila (2014) bahwa dukungan instrumental, yaitu keluarga

merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit. Bentuk bantuan

instrumental ini bertujuan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan

aktifitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Misalnya, dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi

penderita, menyediakan obat-obat yang dibutuhkan dan lain-lain.

Dukungan keluarga pada klien skizofrenia pada indikator

informasional sebagian besar mendukung sebanyak 31 orang (70,5%), yaitu

keluarga memberikan informasi tentang gangguan mental yang saya alami,

menjelaskan kepada saya pentingnya minum obat teratur dan benar serta

mengingatkan saya minum obat sesuai dengan anjuran dokter. Hal ini

sejalan dengan peneiltian yang dilakukan oleh Toleu (2020) di Rumah Sakit

Jiwa Naimata Kupang bahwa dukungan keluarga dalam informasional

sebagian besar mendukung dalam kepatuhan berobat pasien skizofrenia.

Dukungan informasional yang diberikan keluarga kepada penderita

skizofrenia adalah mengenai perkembangan kesehatan pasien dan cara

merawat serta cara minum obat dengan benar. Keluarga berfungsi sebagai
57

penyebar dan pemberi informasi, yang disediakan keluarga dapat digunakan

oleh individu untuk mengatasi persoalan yang dialami pasien skizofrenia.

Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang Skizofrenia

dan kepatuhan dalam minum obat. Dukungan keluarga sangat penting

terhadap pengobatan pasien skizofrenia, karena pada umumnya klien belum

mampu mengatur dan mengetahui jadwal dan jenis obat yang akan

diminum. keluarga harus selalu membimbing dan mengarahkan agar klien

skizofrenia dapat minum obat dengan benar dan teratur.

Dukungan keluarga pada klien skizofrenia pada indikator penilaian

sebagian besar mendukung sebanyak 31 orang (70,5%) bahwa keluarga

mendampingi saya dalam menjalani pengobatan, memberikan bantuan

ketika saya sulit tidur, pikiran kacau, dan stress, memberikan pujian jika

saya mengikuti anjuran dalam pengobatan serta memberikan perhatian

penuh terhadap pengobatan yang saya jalani. Dukungan keluarga pada klien

skizofrenia di RSJD Abepura pada indikator emosional sebagian besar

mendukung sebanyak 29 orang (65,9%). Keluarga memahami perubahan

atau gejala yang terjadi terkait penyakit saya, meluangkan waktu untuk

mendengarkan keluhan klien serta dapat menerima keadaan emosi saya

yang bisa berubah-ubah serta keluarga memberikan kepercayaan kepada

saya untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.

Peneliti berpendapat bahwa dukungan keluarga yang baik akan

terwujud apabila keluarga pasien skizofrenia memberikan semua bentuk

dukungan baik itu dukungan emosional, informasional, instrumental dan


58

panilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dukungan

keluargan sebagain besar mendukung. Hal ini karena keluarga sudah

memberikan dukungan emosional, instrumental dan penilaian namun

keluarga masih belum memberikan dukungan informasional secara

maksimal pada pasien skizofrenia. Keluarga dalam hal ini belum

mengingatkan pasien dalam minum obat secara teratur, serta memberikan

informasi tentang pengobatan. Keluarga pasien skizofrenia juga tidak

membimbing dan membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari

termasuk dalam minum obat.

5.2.3. Kepatuhan Minum Obat

Hasil penelitian diperoleh pada klien skizofrenia di RSJD Abepua

dengan kepatuhan minum obat kategori rendah sebanyak 21 orang (47,7%)

dan kategori tinggi sebanyak 23 orang (52,3%). Hasil penelitian sejalan

dengan penelitian Bukit (2019) pada pasien skizofrenia di Poli Rawat Jalan

Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara sebagian besar kepatuhan minum

obat dalam kategori tinggi.

Kepatuhan responden yang tinggi pada klein skizofrenia di RSJD

Abepura dalam berobat disebabkan pasien patuh dan tertaur minum obat

setiap hari dan bila bepergian selalu membawa obat yang diberikan

sehingga tidak pernah lupa untuk minum obat. Kepatuhan minum obat

sangat penting untuk penderita skizofrenia agar klien boleh sembuh dan

mencegah kekambuhan terjadi (Pratama, 2015). Kepatuhan minum obat

meliputi ketepatan perilaku seorang individu dengan nasehat medis,


59

penggunaan obat sesuai dengan petunjuk serta mencakup penggunaan

minum pada waktu yang benar. Kepatuhan pengobatan merupakan salah

satu keberhasilan terapi. Pasien yang tidak patuh dalam pengobatan akan

memiliki resiko kekambuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang

patuh minum obat dalam pengobatan. salah satu faktor penting yang

mempengaruhi kekambuhan pasien skizofenia adalah tingkat kepatuhan

minum obat pasien tersebut (Setyaji, 2020).

Penelitian Naafi (2016), bahwa sebagian besar klien yang tidak patuh

minum obat dikarenakan banyaknya jumlah obat yang diminum, adanya

efek samping yang membuat klien tidak nyaman, serta tidak adanya

pengawasan keluarga. Klien skizofrenia RSJD Abepura yang tidak patuh

minum obat disebabkan sebagian klien merasa sudah sembuh, ketika

menjalani perawatan di rumah, sehingga klien tersebut mengurangi dosis

dari aturan jumlah dan dosis obat yang diminum dalam setiap hari. Hal ini

juga ditemukan dari penelitian Astuti (2017), bahwa sebagian klien

skizofrenia yang patuh sedang karena menganggap dirinya sudah sembuh.

Penelitian Purnamasari (2017) pada klien skizofrenia yang rawat jalan klien

yang diperbolehkan pulang dan melanjutkan perawatan rawat jalan dengan

pemberian obat mengalami relaps/kambuh karena tidak patuh minum obat

yang diberikan karena menyatakan dirinya sudah sembuh.

Kepatuhan minum obat sangatlah penting bagi pasien skizofrenia

untuk mencegah kekambuhan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian

yang dilakukan oleh Purnamasari (2017), bahwa yang paling banyak


60

menyebabkan kekambuhan pada pasien skizofrenia adalah karena faktor

ketidakpatuhan minum obat, untuk itu perlu adanya dukungan dari keluarga,

orang terdekat dan lingkungan sekitar melalui pengawasan secara intensif

kepada penderita skizofrenia untuk selalu mengkonsumsi obat dalam

mencegah kekambuhan berulang.

Kepatuhan minum obat sangat penting untuk pasien skizofrenia untuk

membantu proses pemulihan dan mencegah kekambuhan. Kepatuhan

minum obat pasien skizofrenia harus mematuhi minum obat tersebut sesuai

frekuensi, dosis dan aturan minum obat yang diberikan. Apabila dari obat

yang diminum tidak benar dan tepat tersebut, maka klien skizofrenia

dinyatakan tidak patuh dalam minum obat.

5.2.4. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat

Hasil penelitian diperoleh terdapat hubungan dukungan keluarga

terhadap kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia dengan resiko

prilaku kekerasan di RSJD Abepura dengan kekuatan hubungan yang

sedang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

Hamdani (2017) dan Pelealu (2018) yang menyatakan bahwa terdapat

hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan pada

pasien skizofrenia (p<0,001). Adanya dukungan dari pihak keluarga terbukti

mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien rawat jalan skizofrenia. Kepatuhan

pengobatan perhubungan dengan tinggi rendahnya angka kekambuhan dan

rehospitalisasi pasien skizofrenia (Ichda, 2019).


61

Klien zkizofrenia di RSJD Abepura kepatuhan minum obat rendah

ditemukan lebih tinggi pada keluarga yang tidak mendukung sebanyak 10

orang (90,0%) sedangkan pada klien zkizofrenia yang keluarganya

mendukung diperoleh lebih sedikit atau sebanyak 11 orang (33,3%) dengan

kepatuhan minum obat rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin baik

dukungan keluarga semakin tinggi pula kepatuhan pasien dalam mematuhi

regimen terapi yang diberikan oleh tenaga medis.

Kurangnya dukungan keluarga akan berdampak pada kepatuhan

pasien terhadap minum obat. Hal ini dilihat dari kurangnya empat indikator

dukungan emosional keluarga pada klien skizofrenia di RSJD Abepura

merupakan dukungan yantg terendah dibandingkan tiga jenis dukungan

keluarga yang lain yaitu dukungan instrumental, informasional dan

penilaian. Keluarga yang kurang memberikan dukungan emosional

menyebakan motivasi klien semakin rendah.

Menurut Padila (2014) bahwa dukungan emosional, yaitu keluarga

sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan

serta membantu penguasaan terhadap emosi. Perhatian emosional setiap

orang pasti membutuhkan bantuan afeksi dari orang lain. Dukungan ini

berupa dukungan simpatik dan empati, cinta, kepercayaan dan penghargaan.

Dengan demikian, seseorang yang menghadapi persoalan merasa dirinya

tidak menanggung beban sendiri, tetapi masih ada orang lain yang

memperhatikan, mau mendengar segala keluhannya, bersimpati dan empati


62

terhadap persoalan yang dihadapinya, bahkan mau membantu memecahkan

masalah yang dihadapinya.

Menurut Sefrina (2016) bahwa dukungan emosional dari orang

terdekat dari keluarga sangat berarti dan membantu klien dalam menghadapi

segala masalah dan keluhan yang ada. Keluarga mendengarkan keluhan-

keluhan klien, menerima kondisi dan ikut berempati pada apa yang

dirasakan klien, merasa permasalahan yang dihadapi klien adalah masalah

yang harus diselesaikan bersama dengan demikian klien sehingga klien

merasakan adanya perhatian lebih, merasa bahwa ada keluarga yang

senantiasa berada disampingnya, memberikan arahan dan bimbingan

bagaimana mengatasi suatu persoalan, yang nantinya dengan keterampilan

diajarkan kembali dan dilatih dapat membuat klien mampu bersikap adaptif

sehingga timbul rasa percaya diri untuk mengatasi permasalahan secara

mandiri. Berdasarkan penelitian Pratama (2015) menunjukkan bahwa

dukungan keluarga yang buruk menyebabkan pasien mengalami

kekambuhan, sedangkan dukungan keluarga yang baik membuat pasien

tidak mengalami kekambuhan.

Hasil penelitian lain oleh Ratnawati (2016), menyatakan bahwa ada

hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan pada

penderita skizofrenia karena kepatuhan minum obat pasien skizofrenia perlu

mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Keluarga merupakan orang

terdekat dengan penderita skizofrenia, keluarga yang mendampingi

penderita selama menjalani pengobatan, dengan dukungan dari keluarga


63

penderita skizofrenia akan patuh pada pengobatan, sehingga prevalensi

kekambuhan pada pasien skizofrenia akan berkurang.

Dukungan keluarga pada klien skizofrenia merupakan peranan penting

dalam tercapainya kesembuhan bagi klien karena klien akan merasa senang

dan tentram apaila mendapat perhatian keluarganya, karena dengan adanya

dukungan tersebut akan menimbulkan kepercayaan diri pada klien untuk

menghadapi masalah atau mengelola penyakitnya dengan baik, serta akan

lebih mendengarkan dan menuruti saran-saran yang diberikan oleh keluarga

dalam mengelola penyakitnya dengan baik. Keluarga mampu memberikan

dukungan sosial baik dalam bentuk dukungan emosional dari anggota

keuarga yang lain merupakan faktor-faktor yang penting dalam kepatuhan

terhadap program medis. Karena keluarga mampu mengurangi rasa

ketidaknyamanan dan memberikan rasa aman. Peneliti juga berpendapat

bahwa dukungan keluarga berupa dukungan emosional, informasional,

instrumental dan penilaian yang diberikan kepada pasien skizofrenia akan

membuat pasien mematuhi dan minum obat dengan benar sehingga pasien

tidak dapat mengalami kekambuhan.

5.3. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kesulitan dalam pengambilan

data pada keluarga klien skizofrenia, karena tidak semua keluarga klien

yang menemani klien merupakan orang yang sering atau terdekat dengan

klien yang selalu membantu klien sehingga membutuhkan ketelitian dan

memberikan penjelasan kepada keluarga yang terdekat dan tersering yang


64

memabntu klien skizofrenia agar jawaban yang diberikan dapat dijawab

secara objektif dari semua pertanyaan.

5.4. Implikasi Terhadap Layanan Kesehatan

5.4.1. Bagi Penderita

Kepatuhan minum obat perlu dipatuhi oleh klien, guna

mencegah terjadinya kekambuhan sehingga berdampak pada

lamanya pengobatan akibat kekambuhan pada klien dan

memperlama kesembuhan karena kekambuhan sehingga menambah

biaya pengobatan.

5.4.2. Bagi Keluarga dan Masyarakat

Dukungan anggota keluarga klien sangat dibutuhkan dalam

bentuk instrumental, informasional, penilaian dan emosional dalam

membantu klien minum obat karena klien skizofrenia mengalami

gangguan yang belum dapat mengontrol emosinya dengan baik

sehingga dengan dukungan keluarga dapat membantu klien rasa

aman, nyaman dan termotivasi dalam minum obat.

5.4.3. Bagi RSJD Abepura dan Perawat

Peran perawat sangat berperan penting sebagai konselor dan

edukator bagi klien dan anggota keluarga serta lingkungan

masyarakat dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang

manfaat kepatuhan minum obat melalui dukungan keluarga dan

lingkungan masyarakat dan memotivasi klien dan keluarga untuk


65

patuh minum obat. Selain itu, ketersediaan sarana dan media

penyuluhan di rumah sakit sangat menunjang dalam menyampaikan

informasi tentang perawatan pada klien di rumah termasuk

kepatuhan minum obat. Kurangnya dukungan perawat dalam

memberikan informasi kepada klien dan keluarga berdampak pada

ketidakpatuhan minum obat.

5.4.4. Bagi Institusi Pendidikan

Upaya institusi pendidikan dalam meningkatkan kepatuhan

minum obat dengan melakukan permasalahan kejiwaan pada setiap

permasalahan individu sesuai dengan karakteristik pasien skizofrenia

dengan menemukan metode interaktif yang efektif dan tepat bagi

klien agar meningkatkan kepatuhan minum obat dan edukasi bagi

anggota keluarga untuk mendukung pengobatan bagi klien.

5.4.5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya dapat melakukan metode penelitian serta

dapat memperdalam dukungan emosional keluarga dalam

mendukung kepatuhan minum obat melalui metode penelitian

kualitatif.
66
BAB VI

PENUTUP

6.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan

sebagai berikut:

6.1.1. Dukungan keluarga pada pasien skizofrenia dalam kategori tidak

mendukung sebanyak 11 orang (25%) dan sebagian besar mendukung

sebanyak 33 orang (75%), yaitu dukungan instrumental sebanyak 34

orang (77,3%), informasional sebanyak 31 orang (70,5%), penilaian

sebanyak 31 orang (70,5%) dan emosional sebanyak 29 orang (65,9%).

6.1.2. Kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia di RSJD Abepura dengan

kepatuhan minum obat kategori rendah sebanyak 21 orang (47,7%) dan

kategori tinggi sebanyak 23 orang (52,3%).

6.1.3. Terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat

pada klien skizofrenia dengan resiko prilaku kekerasan di RSJD

Abepura dengan kekuatan hubungan yang sedang (p = 0,001 < 0,05; r

= 0,49).

6.2. Saran

6.2.1. Manfaat Aplikatif

1. Bagi keluarga dengan memberikan dukungan penuh secara

instrumental dengan dukungan dana dan membantu klien untuk

mengambil obat serta kebutuhan klien lainnya. Dukungan

67
68

informasional dengan memberikan informasi tentang jadwal minum

obat, meningatkan klien untuk minum obat pada waktunya dan

mendukung dalam penilaian kepada klien dengan memberikan

semangat kepada klien serta meningat waktu kontrol bagi klien serta

mendukung secara emosional klien dengan lebih terbuka pada klien

untuk mengungkapkan masalah – masalah dan membantu

memecahkan masalah yang dihadapi klien.

2. Bagi RSJD Abepura memberikan program edukasi melalui

penyuluhan dengan pengadaan media penyuluhan pada keluarga dan

klien berupa poster, leaflet sebagai sarana membaca, sehingga terjadi

perubahan perilaku keluarga dari adanya peningkatkan pengetahuan

dan membentuk motivasi keluarga dalam mengawasi dan

mengontrol minum obat pada klien. Merencanakan kebutuhan obat

sesuai dengan jumlah dan kebutuhan klien untuk mencegah

kekosongan obat.

3. Bagi perawat meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi

kepada keluarga klien skizofrenia dengan edukasi keluarga tentang

pentingnya peran keluarga sebagai perawat pada anggota

keluarganya dalam mematuhi kepatuhan minum obat.

6.2.2. Bagi Keilmuan

Melakukan kajian mendalam penyebab kekambuhan klien

skizofrenia pada klien yang patuh minum obat dan tidak minum obat

serta penggunaan metode yang tepat bagi klien dalam meningkatkan


69

motivasi untuk sembuh bagi klien, serta edukasi bagi keluarga dengan

terapi keluarga yang tepat sehingga keluarga dapat membantu sebagai

perawat keluarga dengan demikian dapat menjadi sumbangsih keilmuan

dalam pengobatan pada klien skizofrenia

6.2.3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut karena terdapat

faktor lain yang mempengaruhi kekambuhan klien skizofrenia seperti

dukungan emosional keluarga dengan metode kualitatif sehingga dapat

diketahui rasa emosional klien dalam kepatuhan minum obat.


70

DAFTAR PUSTAKA

Adianta, I.K., & Putra, M.S. (2017). Hubungan dukungan keluarga dengan
tingkat kepatuhan minum obat pada klien skizofrenia. JRKN, Vol 1(1):
1-7.

Alasmee, N., & Hasan, A.A. (2020). Evaluation the effectiveness of family
intervention targeted at people diagnosed with schizophrenia versus
people diagnosed with schizophrenia and family caregivers: findings
from integrated: systematic review. American Journal of Applied
Psychology, vol. 8(1): 16-37. Doi: 10.12691/ajap-8-1-3

Ashturkar, M. D., & Dixit, J. V. (2016). Selected Epidemiological aspects of


schizophrenia: a cross sectional study at terityary care hospital in
Maharashtra. National Journal of Community Medicine, 65-69.
http://njcmindia.org/uploads/4-1_65-69.pdf.

Astuti AP (2017). Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Periode


Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia: Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa
Prof. Dr. Soeroyo Magelang. htpp://jurnal.stikescendekiautama kudus.
ac.id. diakses 5 Agustus 2021.

Bukit, E.P. (2019). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum


Obat Klien Skizofrenia Di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Universitas
Sumatera Utara. Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
http://www.usu.ac.id. diakses 16 Juli 2021

Charlson, F., Ommeren, M.V., Flaxman, A., Cornett, J., Whiteford, H., & Saxena,
S. (2019). New WHO prevalence estimates of mental disorders in
conflict settings: a systematic review and meta-analysis. Lancet, 394:
240–250 http://dx.doi.org/10.1016/ S0140-6736(19)30934-1.

Damaiyanti M. Iskandar. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Refika


Aditama.

Devaramane, V., Pai, N. B., & Vella, S. L. (2015). The effect of a brief family
intervention on primary carer's functioning and their schizophrenic
relatives levels of psychopathology in India. Asian Journal of
Psychiatry, 4(3), 183-187.

Domininguez, M. et al. (2014). Are psychotic psychopathology and


neurocognition orthogonal? A systematic review of their association.
Psychology Bulletin, 135, 157-171.
71

Dumilah, A., Misnaniarti, & Rayhani. (2018). Analisis situasi kesehatan mental
pada masyarakat di Indonesia dan strategi penanggulangannya. Jurnal
ilmu kesehatan masyarakat, 9(1):1-10.
Doi: https://doi.org/10.26553/jikm.2018.9.1.1-10

Eni, K.Y & Herdiyanto, Y.K. (2018). Dukungan sosial keluarga terhadap
pemulihan orang dengan skizofrenia (ODS) di Bali. Jurnal Psikologi
Udayana, 5(3): 486-500.

Fairuzahida, N.N. (2017). Perilaku keluarga dalam pengasuhan orang dengan


gangguan jiwa di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar (family
behavior of nurture mental disorders in Kanigoro Blitar). Jurnal ners
dan kebidanan, 4(3): 228–234. DOI: 10.26699jnk.v413.ART.p228-234.

Friedman, M. 2013. Keperawatan keluarga teori dan praktek. Jakarta: EGC.

Hamdani, Rizhal, dkk. (2017). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat


Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Rawat Jalan
Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi NTB. Nursing News.2(3).

Ichda, A. W. (2019). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan


Pengobatan Pasien Rawat Jalan Skizofrenia di RSUD Banyumas.
Journal Syifa Sciences and Clinical Research. Volume 1 Nomor 2,
September 2019.

Jaaskelainen, et al. (2016). Twenty Years of Schizophrenia Research in the


Northern Finland Birth Cohort 1966: A Systematic Review. Hindawi
Publishing Corporation Schizophrenia Research and Treatment,
Volume, 15: 1-15. http://dx.doi.org/10.1155/2015/524875.

Karmila. (2016). Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada


Pasien Gangguan Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru. Jurnal
Keperawatan dan Kesehatan. Vol 4. No 2 than 2016.

Kozier. (2014). Buku ajar praktik keperawatan klinis. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Kyriopoulos, I.L., Zavras, D., Skroumpelos, A., Mylona, K., Athanasakis, K.,
Kyriopoulos, J. (2016). Barriers in access to healthcare services for
chronic patients in times of austerity: An empirical approach in Greece.
International Journal Equity Health, 13. http://doi.org/10.1186/1475-
9276-13-54

Mendes Braga, M. E., Teixeira Batista, H. M., Brasil Sampaio Cardoso, M. A.,
Martins Cardoso Novais, M. do S., Ferreira de Lima Silva, J. M.,
Moraes da Silva, F., de Abreu, L. C. (2015). Schizoaffective Disorder
72

and Depression. A case study of a patient from Ceará, Brazil.


International Archives of Medicine, 1–8. https://doi.org/10.3823/1793

Minarni, L., & Sudagijono, J. S. (2015). Dukungan keluarga terhadap perilaku


minum obat pada klien skizofrenia yang sedang rawat jalan.
Experientia: Jurnal Psikologi Indonesia, 3(2), 13–22.

Muhit, A. (2018). Hubungan perilaku kekerasan klien dengan stres perawat.


Jurnal Ners dan Kebidanan, Vol. 5(2): 137-143. DOI:
10.26699/jnk.v5i2.ART.p137–143.

Morisky, D. E., Ang, A., Krousel-Wood, M., & Ward, H. J. (2010). Predictive
validity of a medication measure in an 0utpatient setting. J Clin
Hypertens (Greenwich), 5(10), 348–354.

Mulia,. Keliat, B.A., & Wardani, I.Y. (2017). Pengaruh terapi kognitif perilaku
dan terapi psikoedukasi keluarga terhadap penggunaan napza, ansietas
dan harga diri narapidana remaja di Lembaga Pemasyarakatan
Narkotika. Tesis. Tidak Dipublikasikan. Fakultas Ilmu Keperawatan UI.

Naafi AM (2016). Kepatuhan Minum Obat Pasien Rawat Jalan Skizofrenia di


Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang. Kartika-Jurnal Ilmiah
Farmasi, Des 2016, 4(2), 7-12 7 p-ISSN 2354-6565 /e-ISSN 2502-3438.

Niven, 2015. Psikologi kesehatan: pengantar untuk perawat dan professional.


Jakarta: EGC.

Pelealu, A., Bidjuni, H., & Wowiling, F. (2018). Hubungan dukungan keluarga
dengan kepatuhan minum obat klien skizofrenia di rumah sakit jiwa Prof.
Dr. V. Ratumbuysang Provinsi Sulawesi Utara. E-journal Keperawatan
(e-Kp), Volume 6 Nomor 1: 1-9.

Padila (2014). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Nuha Medika, Yogyakarta.

Polit & Beck, P. (2010). Essential of Nursing Research: methods, apraisal, and
utilization (Sixth Edition-ed). Philadephia: Lippincot. W & Wilkins.

Pratama, Y., Syahrial., & Ishak, S. (2015). Hubungan keluarga klien terhadap
kekambuhan skizofrenia di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
RSJ Aceh. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 15(2), 77–8.

Purba, dkk. (2010). Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah psikososial
dan gangguan jiwa. Medan: USU Press.
73

Purnamasari. (2017). Hubungan Pengetahuan Keluarga Dengan Kepatuhan


Minum Obat Pasien Skizofrenia di poliklinik Rumah Sakit Prof. V.L.
Ratumbuysang Manado. Jurnal Skala Medika Persada Vol. 8 No.2.

Ratnawati, R. (2016). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan


Berobat Penderita Skizofrenia. Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun.

Sari, F. S. (2018). Dukungan Keluarga Dengan Kekambuhan Pada Pasien


Skizofrenia di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Jurnal
Pembangunan Nagari Volume 2 Nomor 1 Edisi Juni 2017 : 1 – 18.

Setyaji, E. D. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga dan Dukungan Tenaga


Kesehatan Dengan Kepatuhan Minum Obat Penderita Skizofrenia.
Jurnal Health Sains. Vol. 1 No. 5 November 2020.

Sefrina F (2016). Hubungan Dukungan Keluarga Dan Keberfungsian Sosial Pada


Pasien Skizofrenia Rawat Jalan. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. ISSN:
2301-8267. Vol. 04, No.02, Agustus 2016.

Stuart, G. W. (2015). Prinsip dan praktik keperawatan kesehatan jiwa. Editor:


Keliat, A.B., Jessica P. Singapore: Elsevier.

Suhermi, S & Jama, F. (2019). Dukungan keluarga dalam proses pemulihan orang
dengan gangguan jiwa (ODGJ). Jurnal penelitian kesehatan suara
forikes, 10(2): 109-111.

Sumner, et al. (2016). Violence in the United States Status, challenges, and
opportunities. JAMA, 314(5):478-488. Doi:10.1001/jama.2015.8371.

Sunaryo (2015). Sosiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : Bina Pustaka Publisher.

Susanti. (2019). Determinan kekambuhan klien gangguan jiwa yang dirawat


keluarga di wilayah kerja UPTD Puskesmas Suak Ribee Aceh Barat.
MaKMA, 2(1), 99–109

Sugiyono. (2013). Metode penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta.

Sulistyaningsih, I. (2016). Hubungan kepatuhan minum obat dengan kualitas


hidup klien skizofrenia di poli jiwa RSUD Dr. Soidiran Mangun. Jurnal
Ilmiah Psikologi Terapan, 7(1): 105-112.

Sutejo (2018). Keperawatan Kesehatahn Jiwa. Prisnip dan Praktik Asuhan


Keperawatan Jiwa. Pustaka Baru Press, Yogyakarta.
74

Suwardiman, D. (2011). Hubungan antara dukungan keluarga dengan beban


keluarga untuk mengikuti regimen terapeitik pada keluarga klien
halusinasidi RSUD Serang. Tesis. Tidak Dipublikasikan. UI.

Tiara, C., Pramesti, W., Pebriyani, U., & Alfarisi, R. (2020). Relationship
Concept of Family Support with Recurrence Rate in Schizophrenia.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, volume 9(1): 522-532. DOI:
10.35816/jiskh.v10i2.339.

Toleu, Y. E. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum


Obat Pada Pasien Skizofrenia Di Poli Jiwa Rumah Sakit Jiwa Naimata
Kupang (Studi Korelasi di Rumah Sakit Jiwa Naimata Kupang).
Universitas Citra Bangsa.

Townsend, M.C. (2015). Psychiatric mental health nursing: concepts of care in


evidence-based practice. 8th. Philadelphia: F.A. Davis Company. Turfe.

World Health Organisation. (2017). Webpage on the Internet. Preventing Suicide:


A Global Imperative. Key Messages. Available from: www.
who.int/mental_health/suicide-prevention/key_messages.pdf.

Yosep, I., Sutini, T. (2014). Buku Ajar Keperawatan jiwa. Bandung: Refika
Aditama.
75

Lampiran 1: Kesediaan Menjadi Responden

No Resp : …………….

LEMBAR KESEDIAAN MENJADI INFORMAN

5. Penelitian ini bertujuan mengumpulkan data tentang gambaran Hubungan


Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Klien
Skizofrenia Dengan Perilaku Kekerasan di RSJD Abepura. Penelitian ini
dimaksudkan untuk menyusun skripsi atas nama Selvi Pangloro Mahasiswa
Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih
Jayapura.
6. Mohon bantuan anda untuk menjaab pertanyaan tanpa prasangka atau
perasaan tertekan. Semua keterangan dan jawaban yang peneliti peroleh
semata – mata unutk kepentingan penelitian yang dirahasiakan.
7. Keterangan dari jawaban anda yang diberikan besar sekali artinya untuk
kelancaran pelaksanaan penelitian yang pada akhirnya bermanfaat bagi
pengembangan Ilmu Keperawatan.
Atas bantuan anda, saya ucapkan terima kasih.

Setelah mendengar dan memahami penjelasan penelitian, dengan ini saya


menyatakan : SETUJU/TIDAK SETUJU (*) untuk ikut sebagai responden
penelitian.

Jayapura, Tanggal ………..

Peneliti Nama responden

(Selvi Pangloro ) ( ………………………)

(*) coret yang tidak perlu


76

Lampiran 2: Kuesioner Penelitian

KUESIONER

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN


MINUM OBAT PADA KLIEN SKIZOFRENIA DENGAN PERILAKU
KEKERASAN DI RSJD ABEPURA

I. DATA RESPONDEN

1. Nama (Inisial) : …………………………….

2. Umur : [ ] 1. 36-45 tahun [ ] 56-65 tahun

[ ] 2. 46-55 tahun

3. Jenis Kelamin : [ ] Laki-Laki [ ] Perempuan

4. Pendidikan : [ ] Tidak Sekolah [ ] SMA

[ ] SD [ ] Perguruan Tinggi

[ ] SMP

5. Pekerjaan : [ ] Tidak Bekerja [ ] Bekerja

6. Pendapatan : [ ] < Rp. 3.000.000 [ ] > Rp. 3.000.000


77

II. DUKUNGAN KELUARGA


Jawablah dengan memberi tanda (√) pada pilihan yang Anda anggap tepat pada
pilihan jawaban benar dan salah pada kolom bagian kanan
SL : Selalu
SR : Sering
K : Kadang-Kadnag
TP : Tidak pernah
No. Pernyataan SL SR K TP
Dukungan Instrumental
1 Keluarga menanggung pembiayaan pengobatan saya
2 Keluarga menyediakan kebutuhan hidup saya sehari-hari
Keluarga memberikan sarana kepada saya untuk
3
melakukan aktivitas istirahat
Keluarga segera membantu ketika saya mengalami
4
masalah pada penyakit saya
Dukungan Informasional
Keluarga memberikan informasi tentang gangguan mental
5
yang saya alami
Keluarga menjelaskan kepada saya pentingnya minum
6
obat teratur
Keluarga mengajarkan saya cara untuk minum obat yang
7
benar
Keluarga mengingatkan saya minum obat sesuai dengan
8
anjuran dokter
Dukungan Penilaian
9 Keluarga mendampingi saya dalam menjalani pengobatan
Keluarga memberikan bantuan ketika saya sulit tidur,
10
pikiran kacau, dan stress
Keluarga memberikan pujian jika saya mengikuti anjuran
11
dalam pengobatan
Keluarga memberikan perhatian penuh terhadap
12
pengobatan yang saya jalani
Dukungan Emosional
Keluarga memahami perubahan atau gejala yang terjadi
13
terkait penyakit saya
Keluarga meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan
14
saya
Keluarga dapat menerima keadaan emosi saya yang bisa
15
berubah-ubah
Keluarga memberikan kepercayaan kepada saya untuk
16
menjalankan kegiatan sehari-hari
Sumber: Bukit (2019)
78

III. Kepatuhan Minum Obat (MMAS=8)


Petunjuk Pengisian
1. Bacalah dengan teliti pernyataan berikut dibawah ini
2. Isilah jawaban pada tempat yang disediakan
3. Lingkari jawaban yang anda pilih pada kolom jawaban/ (a,b,c,d,e)

No Pernyataan Jawaban
1. Apakah anda kadang-kadang/pernah lupa minum obat? Ya/ Tidak
2. Kadang-kadang orang lupa minum obat karena alasan
tertentu (selain lupa). Coba diingat-ingat lagi, apakah dalam Ya/ Tidak
2 minggu, terdapat hari dimana anda tidak minum obat?
3. Jika anda merasa keadaan anda bertambah buruk/tidak baik
dengan meminum obat, apakah anda berhenti meminum obat Ya/ Tidak
tersebut?
4. Ketika anda bepergian/meninggalkan rumah, apakah
Ya/ Tidak
kadang- kadang anda lupa membawa obat?
5. Apakah kemarin anda minum obat? Ya/ Tidak
6. Jika anda merasa kondisi anda lebih baik, Apakah anda
pernah menghentikan/tidak menggunakan obat? Ya/ Tidak

7. Minum obat setiap hari kadang membuat orang tidak


nyaman. Apakah anda pernah merasa terganggu memiliki Ya/ Tidak
masalah dalam mematuhi rencana pengobatan anda?
8. Seberapa sering anda mengalami kesulitan dalam
mengingat penggunaan obat?
a. Tidak pernah/sangat jarang
b. Sesekali
c. Kadang-kadang
d. Biasanya
e. Selalu/sering
Sumber: Bukit (2019)

Lampiran: Hasil Pengolahan Data

Frequency Table
Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 36-45 tahun 31 70.5 70.5 70.5
46-55 tahun 8 18.2 18.2 88.6
79

56-65 tahun 5 11.4 11.4 100.0


Total 44 100.0 100.0

Jenis_Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Laki-Laki 25 56.8 56.8 56.8
Perempuan 19 43.2 43.2 100.0
Total 44 100.0 100.0

Pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Sekolah 3 6.8 6.8 6.8
SD 2 4.5 4.5 11.4
SMP 7 15.9 15.9 27.3
SMA 22 50.0 50.0 77.3
Perguruan Tinggi 10 22.7 22.7 100.0
Total 44 100.0 100.0

Pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Bekerja 21 47.7 47.7 47.7
Bekerja 23 52.3 52.3 100.0
Total 44 100.0 100.0

Pendapatan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang 36 81.8 81.8 81.8
Cukup 8 18.2 18.2 100.0
Total 44 100.0 100.0

Instrumental
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid T. Mendukung 10 22.7 22.7 22.7
Mendukung 34 77.3 77.3 100.0
Total 44 100.0 100.0

Informasional
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid T. Mendukung 13 29.5 29.5 29.5
Mendukung 31 70.5 70.5 100.0
Total 44 100.0 100.0

Penilaian
80

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid T. Mendukung 13 29.5 29.5 29.5
Mendukung 31 70.5 70.5 100.0
Total 44 100.0 100.0

Emosional
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid T. Mendukung 15 34.1 34.1 34.1
Mendukung 29 65.9 65.9 100.0
Total 44 100.0 100.0

Duk_Keluarga
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid T. Mendukung 11 25.0 25.0 25.0
Mendukung 33 75.0 75.0 100.0
Total 44 100.0 100.0

Kepatuhan_Minum_Obat
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Rendah 21 47.7 47.7 47.7
Tinggi 23 52.3 52.3 100.0
Total 44 100.0 100.0

Duk_Keluarga * Kepatuhan_Minum_Obat Crosstabulation

Kepatuhan_Minum_Obat

Rendah Tinggi Total

Duk_Keluarga T. Mendukung Count 10 1 11

% within Duk_Keluarga 90.9% 9.1% 100.0%

Mendukung Count 11 22 33

% within Duk_Keluarga 33.3% 66.7% 100.0%


Total Count 21 23 44
81

% within Duk_Keluarga 47.7% 52.3% 100.0%

Nonparametric Correlations
Correlations
Kepatuhan_Minum
Duk_Keluarga _Obat
Spearman's rho Duk_Keluarga Correlation Coefficient 1.000 .499**
Sig. (2-tailed) . .001
N 44 44
Kepatuhan_Minum Correlation Coefficient .499** 1.000
_Obat Sig. (2-tailed) .001 .
N 44 44
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).