Anda di halaman 1dari 8

Identitas Sosial

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia. (“Berbeda-beda tetapi
tetap satu”). Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah Kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin
Sutasoma, karangan Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kakawin
ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Kata-
kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang Burung Garuda, Dimana pada kaki
Burung Garuda mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Masyrakat Indonesia terdiri dari lebih 500 suku dengan 250 lebih macam bahasa daerah,
yang mana semua dipersatukan dengan ikrar yang telah menjadi dasar persatuan bangsa ini, yaitu
sumpah permuda yang berisi; satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Ikrar atau janji tersebut
telah diucapkan oleh seluruh bangsa Indonesia dengan perwakilan para pemuda dari berbagai
suku dan golongan pada tanggal 28 oktober 1928, saat Indonesia masih berada dibawah
penjajahan Imperialis Belanda. Hingga pada saat proklamasi dibacakan maka ditetapkanlah
Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar Negara.

Sebuah bangsa multietnik memiliki beragam masalah seperti bangsa lainnya, namun
masalah besar negara multietnik adalah sulitnya untuk mengintegrasikan keseluruhan masyarakat
kedalam satu kerangka persatuan yang utuh dan kuat. Dengan adanya semboyan dan konsep
Bhinneka Tunggal Ika pada dasar kehidupan masyarakat Indonesia maka seharusnya persatuan
dan kesatuan akan tetap terjaga dan menghambat terjadinya segala macam konflik yang didasari
kepentingan golongan atau kelompok.

Ada beberapa interpretasi untuk menjadikan Bhinneka Tunggal Ika lebih membumi
dalam pribadi masyarakat yang heterogen ini, salah satunya yaitu dengan identitas sosial mutual
differentiation model dari Brewer & Gaertner (2003) yang diterapkan pada diri setiap Individu
dalam bangsa ini. Mutual differentiation model adalah suatu model dimana seseorang atau
kelompok tertentu yang mempertahankan identitas asal (kesukuan atau daerah) namun
secara bersamaan kesemua kelompok tersebut juga memiliki suatu tujuan bersama yang
pada akhirnya mempersatukan mereka semua.

Model ini akan memunculkan identitas ganda yang bersifat hirarkis, dengan artian
seseorang tidak akan melepaskan identitas asalnya dan memiliki suatu identitas bersama yang
lebih tinggi nilainya. Sebagai contoh seseorang tidak melupakan asalnya sebagai orang Minang,
Batak, China atau Jawa, dll, namun memiliki suatu kesatuan bersama yang lebih diutamakan
yaitu sebagai rakyat Indonesia. Dengan demikian identitas kesukuan atau daerah lebih rendah
nilai dan keutamaannya daripada identitas nasional, Sesuai dengan makna Bhinneka Tunggal Ika
itu sendiri, dimana persatuan adalah harga mati.
Pada masa kepemimpinan Ir.Soekarno, beliau pernah melakukan usaha mempersatukan
seluruh bangsa dengan jargon “Ganyang Malaysia”, “Amerika kita Seterika”, “Jepang kita
Panggang”, dan “Inggris kita Linggis” dimana pada kesempatan tersebut beliau menebar
propaganda bahwa setiap warga negara Indonesia memiliki musuh bersama yaitu Malaysia,
Jepang, Amerika dan Inggris. Dengan adanya Ultimate Goal maka persatuan akan semakin kuat
dikarenakan tumbuhnya perasaan senasib-sepenanggungan dalam masyarakat sebangsa dan
setanah air. Perasaan, semangat dan tujuan seperti itulah yang akan membuat masyarakat
heterogen menjadi bersatu, membentuk suatu identitas sosial nasional yang lebih kuat daripada
kepentingan kelompok, golongan dan pribadi.

Dengan mengakui perbedaan dan menghormati perbedaan itu sendiri ditambah kuatnya
mempertahankan ikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa merupakan suatu model identitas
sosial yang sangat baik dalam bangsa ini. Sehingga terjalin kerjasama antar semua golongan
tanpa pernah menyinggung perbedaan karena memiliki suatu tujuan utama dan kebanggaan
bersama atas persatuan bangsa.

Toleransi dari setiap kategori kelompok adalah kata kunci dalam perwujudan
model ini, dimana Toleransi dalam konteks kehidupan berbangsa adalah sikap menghargai satu
sama lain, melarang adanya dikriminasi dan ketidak-adilan dari kelompok mayoritas terhadap
minoritas, baik secara suku, budaya dan agama dengan tujuan untuk mewujudkan cita-cita luhur
bersama.

Mungkin tidak semudah itu untuk “menyuntikkan” sebuah ide persatuan kedalam suatu
masyarakat yang bersifat heterogen dan plural secara horizontal, apalagi Indonesia secara
vertikal sekurang-kurangnya memiliki lima lapisan masyarakat yaitu, ultra modern, modern,
urban, tradisional, dan masyarakat terbelakang (bahkan di Papua masih ada masyarakat primitif,
belum berpakaian). Tidak meratanya pembangunan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah
sebagai penyelenggara negara melainkan juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh
warga negara Indonesia.

Mungkin dengan berkembanganya arus informasi tiada henti, dimana dunia sedang
mengalami globalisasi, kita sebagai masyarakat suatu bangsa yang berdaulat, mau berbagi
tentang segala macam pengetahuan dan doktrin tentang berkebangsaan kepada seluruh saudara
kita diseluruh penjuru negeri. Melakukan gerakan-gerakan yang bersifat nasionalis demi
meningkatkan rasa cinta tanah air kepada seluruh tumpah darah Indonesia, atau minimal dimulai
dari diri kita sendiri, dengan tujuan menumbuh-kembangkan segala macam pandangan tentang
bertanah air di Indonesia dengan baik dan benar.

Selain masalah kebangsaan, tantangan kedepan pada masa mendatang dari bangsa ini
adalah menghadapi era globalisasi ekonomi, kapitalisme yang menggurita, imperialis, orientalis,
penyusupan paham-paham menyimpang dari pihak luar, serta dari dalam negeri sendiri seperti
pengkhianatan, fundamentalis dan ‘barisan sakit hati’ yang bertujuan memperkeruh keadaan,
menyulut konflik dan kesenjangan sehingga terjadi aksi-aksi dengan hasil keadaan yang
menjauhkan kita dari jalur pencapaian cita-cita luhur.
Perbedaan adalah anugerah, dimana darinya maka kita dapat mengenal satu sama lain,
saling mengisi dan hidup penuh warna dalam melakukan komunikasi, interaksi dan juga relasi,
sehingga dapat mewujudkan masyarakat madani sesuai dengan apa yang telah dicita-citakan
bersama. Tidak ada yang instan dalam mewujudkan cita-cita, semua membutuhkan proses, kerja
keras dan pengorbanan. Jika pada generasi sekarang hal tersebut belum bisa terwujud, maka
wariskanlah perjuangan dan semangat ini pada generasi berikutnya, agar apa yang belum sempat
kita rasakan dapat dikecap manis oleh para generasi penerus bangsa yang besar ini dikemudian
hari. (Amarilldo).

Aspek-Aspek Identitas Sosial: Self dan Gender


Identitas social (social identity) adalah definisi seseorang tentang siapa dirinya termasuk
di dalamnya atribut pribadi (self concept) serta keanggotaan dalam berbagai kelompok (aspek
yang dimiliki bersama dengan orang lain. Contoh: saya adalah mahasiswa IPB (identitas sosial
saya adalah sebagai mahasiswa IPB). Identitas social mencakup nama, konsep diri, hubungan
interpersonal, afiliasi politik, gender, atribut yang tidak disukai beberapa orang, afiliasi etnis atau
religious, pekerjaan, hobby.

Identitas social dapat dikonseptualisasikan paling baik dalam empat dimensi (Jackson and Smith,
1999):

1. Persepsi dalam konteks antar kelompok (hubungan antara in-group seseorang dengan
grup perbandingan yang lain)
2. Daya tarik in-group (afek yang ditimbulkan oleh in-group seseorang)
3. Keyakinan yang saling terkait (norma dan nilai yang menghasilkan tingkah laku
anggota kelompok ketika mereka berusaha mencapai tujuan dan berbagi keyakinan yang
sama)
4. Depersonalisasi (memandang dirinya sendiri sebagai contooh dari kategori social yang
dapat digantikan dan bukannya individu yang unik), orang kehilangan identitas
pribadinya karena meleburkan dirinya ke dalam identitas kelompok.

Identitas social berperan dalam hubungan antar kelompok tergantung pada dimensi yang
dapat diterima (aman atau tidak aman). Ketika identitas aman memiliki derajat yang tinggi,
individu cenderung mengevaluasi out-groups lebih baik, lebih sedikit bias bila membandingkan
in-group dengan out-group, dan kurang yakin pada homogenitas in-group. Sebaliknya, identitas
tidak aman dengan derajat yang tinggi, berhubungan dengan evaluasi yang sangat positif
terhadap in-group, bias lebih besar dalam membandingkan in-group dengan out-group, dan
persepsi homogenitas in-group yang lebih besar.
Proses pembentukan identitas diri:

• Interaksi social dengan keluarga langsung. Contoh: dalam kelurganya Susi selalu
dinasehati: “Kita ini keluarga terpelajar, jadi jangan sampai nilai kamu kalah dari yang
lainnya!”, maka dalam diri Susi ada konsep diri keluarga terpelajar.
• Interaksi social dengan orang lain sepanjang hidup. Contoh: teman-teman Susi selalu
mengatakan, “Susi baik sekali yah”, “dia anak yang baik yah”, maka dalam diri Susi
terbentuk konsep diri orang baik.
• Hereditas. Contoh: Orang Cina kulitnya kuning.

Ketika konteks social seseorang berubah, membangun sebuah identitas social baru dapat menjadi
sumber stress yang besar. Perilaku coping yang muncul: 1) semakin mengidentifikasi diri pada
identitas yang ada; atau 2) berasimilasi dan mengidentifikasi diri dengan konteks yang baru.

Konsep self adalah identitas diri seseorang sebagai suatu skema dasar yang terdiri dari
kumpulan keyakinan dan sikap terhadap diri sendiri yang terorganisir. Berfungsi untuk mengolah
informasi tentang diri sendiri, motivasi, keadaan emosional, kemampuan, dll. Kita bekerja sangat
keras untuk melindungi citra diri kita dari informasi yang mengancam, untuk mempertahankan
konsistensi diri kita, dan untuk menemukan alasan pada setiap inkonsistensi.

Self defensive yaitu ketertutupan pada informasi muncul ketika sadar tidak disukai orang
lain. Orang cenderung menolak perubahan dan salah memahami atau berusaha meluruskan
informasi yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka. Ketika perhatian difokuskan pada
aspek yang tidak berhubungan dengan identitas seseorang, hasilnya ia akan lebih terbuka pada
informasi dan sikap untuk mempertahankan dirinya sendiri akan berkurang.

Self berevolusi sebagai sebuah karakteristik adaptif. Tahapan evolusi konsep self:

1. Kesadaran diri subjektif (subjective self-awareness): kemampuan membedakan diri


dan lingkungan fisik dan sosialnya. Tahap ini terjadi saat kita masih kecil. Contoh: ketika
kita mulai bisa membedakan diri kita dengan lingkunga. dan orang lain.
2. Kesadaran diri objektif (objective self-awareness): kemampuan menjadikan diri sendiri
sebagai obyek perhatian, kesadaran akan pikirannya (mengetahui dan mengingat). Tahap
ini terjadi ketika kita mulai dewasa. Contoh: saat kita berkata kasar dengan orang lain,
seringkali kita berpikir: “seharusnya saya tidak sejudes itu tadi, saya kasar sekali yah.”
3. Kesadaran diri simbolik (symbolic self-awareness): kemampuan membentuk
representasi kognitif diri yang absrak melalui bahasa yang memungkinkan manusia
berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Contoh: konsep diri Rudi: Saya
adalah seorang OB (office boy). Maka konsep diri seorang OB yang dimiliki oleh Rudi
itu akan membantunya bersikap sebagai seorang OB di kantornya (mau disuruh-suruh,
dll).
Elemen pembentuk konsep diri ada 5, yaitu:

1. Identitas social, contoh: identitas kita sebagai anggota kelompok tertentu, contoh: saya
adalah mahasiswa IPB, saya orang Jawa.
2. Atribut personal, apa yang saya miliki. Contoh: saya memiliki tinggi 167cm
3. Pengalaman masa lalu
4. Kondisi saat ini, contoh: Rudi baru saja di PHK, maka saat ini konsep diri Rudi adalah
“saya orang yang di PHK.”
5. Harapan di masa depan atau rangkuman memori, pengetahuan dan imajinasi tentang diri
sendiri, contoh: Susi ingin menjadi Pragawati ketika dewasa, maka konsep diri “saya
calon pragawati” telah tertanam di diri Susi dan membentuk tingkah lakunya: jalan
berlenggak-lenggok.

Skema diri adalah rangkuman dari semua yang diingat, pengetahuan dan imajinasi yang dimiliki
seseorang tentang dirinya. Skema mempengaruhi tingkah laku.perlunya memiliki konsep diri
yang jelas untuk menjadi seseorang yang diinginkan. Efek self –reference adalah efek dari
perhatian dan memori yang terjadi karena pemrosesan kognitif terhadap informasi yang relevan
terhadap diri lebih efisien daripada pemrosesan terhadap informasi jenis lain, contoh: Orang
lebih tertarik dengan orang yang memiliki nama yang sama dengan nama kita, atau menyukai
hal-hal yang huruf awalnya sama dengan huruf awal nama kita. Contoh lainnya: Nisa mahasiswi
IPB membaca artikel tentang Mahasiswa berprestasi di seluruh Indonesia, pastinya hal pertama
yang Nisa cari adalah mahasiswa dari IPB.

Konsep diri terstruktur menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Konsep diri sentral, yaitu konsep diri inti dan cenderung ekstrem, yang bisa positif atau
negative dan relative sulit dirubah karena dielaborasi lebih detil, di konsolidasi lebih kuat,
dan diyakini dengan kepastian yang lebih besar.
2. Konsep diri peripheral, yaitu konsep diri yang tidak terlalu kuat terbentuk dan relative
mudah dirubah.

Contoh dari konsep diri sentral dan peripheral: Susi sangat ahli di bidang matematika, kalau soal
matematika dia pakarnya. Sementara di bidang seni, olahraga dan lainnya dia tidak begitu hebat.
Di sini, kkonsep diri sentral Susi adalah ahli matematika, sedangkan bidang lainnya adalah
konsep diri periferalnya.

Bentuk lainnya dari konsep diri, ada yang dikenal dengan skema diri seksual (sexual self-
schema) yaitu representasi kognitif terhadap aspek seksual diri sendiri (negative/positif) yang
mempengaruhi perilaku seksualnya. Contoh: skema diri seksual wanita cenderung hangat, malu-
malu, dan romatis. Sementara skema diri seksual pria cenderung penuh gairah, konservatif, dsb.

Selain itu, ada pula konsep diri social (social self) yaitu suatu identitas kolektif yang
menyangkut hubungan interpersonal dan aspek identitas yang berasal dari keanggotaan dalam
kelompok yang lebih besar dan tidak personal, yang didasarkan pada ras, etnis, dan budaya.
Contoh: saya orang Indonesia. Konsep diri social ini terdiferensiasi dan didefinisikan dengan
baik seiring pertambahan usia. Contoh: waktu kecil konsep diri social Susi hanya saya murid SD
Angkasa, setelah dewasa konsep diri social Susi berkembang/bertambah: saya karyawan PT
CNI, saya ibu di keluarga x, saya anggota arisan Z, dst, dst.

Budaya dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Misalnya budaya Individualistik pada
masyarakat Amerika dan budaya kolektivitas pada masyarakat Jepang dan Cina. Budaya
individualistis menghasilkan konsep diri sebagai pribadi unik dan memiliki atribut positif
menjadi diri sendiri tidak peduli pada konteks apapun. Contoh: Susi dari budaya individualis,
ketika orang memuji dia pintar, dia akan bilang bahwa itu karena saya memang hebat, itu semua
berkat kerja keras saya. Sementara budaya kolektivis menghasilkan konsep diri yang selalu
mendefinisikan diri pada situasi dan orientasi kritik pada diri sendiri. Contoh: Rudi dari budaya
kolektivitas, ketika orang memujinya karena prestasinya, dia akan bilang ‘itu semua berkat doa
dan dukungan kalian.’ Perbedaannya adalah antara konsep diri yang menetap dan stabil vs
konsep diri yang dengan mudah berganti dan berubah.

Konsep diri mencakup:

• Konsep diri saat ini


• Possible selves: representasi mental terhadap kemungkinan akan menjadi apa atau
seharusnya menjadi apa seseorang di masa depan. Possible selves bisa memotivasi diri
kita sendiri. Contoh: Susi sejak kecil suka bermain piano, orang-orang sering memuji
kemahirannya bermain piano. Tumbuh possible selves dalam dirinya bahwa: saya calon
maestro piano yang terkenal, yang selanjutnya possible selves ini memotivasi Susi
mencapai cita-citanya.
• Working self-concept: konsep diri pada saat tertentu. Contoh: Susi menjadi coordinator
medis di kepanitiaan MPD, maka ‘saya seorang koor medis’ adalah konsep diri Susi saat
itu sehingga dia tau apa tugas-tugasnya, kewajibannya.

Factor yang mempengaruhi konsep diri ada 5:

1. Factor biologis
2. Keinginan diri sendiri
3. Perubahan hidup yang besar
4. Perubahan kerja
5. Significant other (orang yang berarti buat diri pribadi) yang berpengaruh pada interaksi
social. Contoh: dulu sebelum berpacaran dengn Susi, Rudi adalah pria yang pendiam dan
kalem. Setelah mengenal dan berpacaran dengan Susi, Rudi lebih PD dan berani show up.
6. Intensitas hubungan sangat berperan dalam perubahan konsep diri

Self-esteem adalah evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu; sikap seseorang terhadap
dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif dan negative. Tujuan orang melakukan self-esteem:

1. Self-assesment (memperoleh pengetahuan yang akurat tentang diri sendiri), lebih banyak
terjadi pada masyarakat kolektivistis.
2. Self-enhancement (mempoeroleh innformasi positif), lebih banyak terjadi pada
masyarakat individualistis.
3. Self verification (melakukan konfirmasi atas sesuatu yang sudah diketahui), terjadi pada
orang yang esteem nya rendah dan berpandangan negative tentang dirinya sendiri dan
tidak mau berubah.

Memiliki self-esteem yang tinggi berarti individu menyukai dirinya sendiri. Evaluasi positif ini
sebagian berdasarkan opini orang lain dan sebagian lagi berdasarkan pengalaman spesifik.
Perbedaan budaya juga mempengaruhi apa yang penting bagi self-esteem seseorang. Tingkah
laku individu dengan sel-esteem yang rendah lebuh mudah diprediksikan daripada individu
dengan self-esteem yang tinggi karena skema diri negative diorganisasi lebih ketat daripada
skema diri yang positif.

Self-esteem sering kali diukur sebagai sebuah peringkat dalam dimensi yang berkisar dari
negative sampai positif atau dari rendah sampai tinggi. Sebuah sumber informasi utama yang
relevan dengan evaluasi diri adalah orang lain—kita menilai diri sendiri atas dasar perbandingan
social (social comparison) (Wayment & Taylor, 1995). Perbandingan social ke bawah
(downward social comparison) adalah membandingkan diri Anda dengan orang lain yang lebih
buruk dalam atribut-atribut tertentu. Perbandingan social ke atas (upward social comparison)
adalah membandingkan diri Anda dengan orang lain yang lebih baik dalam atribut-atribut
tertentu.

Ketika kompetensi actual seseoranng tidak sesuai dengan evaluasi dirinya, hasilnya disebut self-
esteem paradox—yaitu self-esteem yang tidak realistis, baik tinggi maupun rendah. Contoh:
Rudi dengan tim futsal underdognya akan melawan tim pro, tim underdog itu berpikir positif
bahwa mereka pasti bisa mengalahkan tim pro tersebut yang jelas-jelas jauh lebih hebat dari
mereka.

Karena self-esteem tinggi umumnya lebih disukai daripada self-esteem rendah, kebanyakan
orang berusaha mengubah self-esteem mereka kea rah evaluasi diri yang lebih positif yaitu
melalui psikoterapi yang bertujuan meningkatkan self-esteem dan menurunkan perbedaan antara
self dan self ideal dengan memberikan penghargaan positif tanpa syarak (unconditional positif
regard) pada klien. Umpan balik palsu yang menyatakan bahwa hasil individu bagus dalam tes
kepribadian akan menungkatkan self-esteem mereka, umpan balik positif juga memiliki efek
yang serupa. Pengalaman masa lalu (dalam keluarga atau sekolah) juga dapat mengubah self-
esteem.

Fungsi self ada 3, yaitu:

1. Self focusing (memfokuskan perhatian pada diri atau pada dunia eksternal) adalah
tingkah laku yang mengarahkan perhatian seseorang kepada diri sendiri daripada
sekelilingnya. Self focusing ini bagus, tapi jangn terlalu berlebihan sehingga
menyebabkan kita tidak mempedulikan lingkungan sekitar.
2. Self monitoring (memonitor tingkah laku dengan menggunakan tanda-tanda internal atau
eksternal) yaitu pengaturan tingkah laku seseorang dengan dasar situasi eksternal, seperti
bagaimana orang lain bereaksi (self-monitoring yang tinggi) atau dengan dasar factor
internal, seperti keyakinan, sikan, dan nilai (self-monitoring yang rendah). Contoh: jaim
3. Self efficacy (percaya pada diri sendiri) yaitu keyakinan seseorang akan kemampuan atau
kompetensinya atas kinerja tugas yang diberikan, mencapai tujuan, atau mengatasi
sebuah hambatan. Kita menilai diri kita bisa atau tidak melakukan sesuatu.40-a