Anda di halaman 1dari 31

1

KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan syukur kehadirat Allah Yang Maha


Kuasa karena atas berkah dan rahmat-Nya sehingga Kami dapat menyusun
tugas mata kuliah Fisika Lingkungan ini dengan lancar. Tugas ini disusun
dengan judul “Analisis Dampak Dari Kegiatan Deforestasi Terhadap
Ketersediaan Sumber Daya Air”. Tujuan dari penulisan buku ini pun untuk
memenuhi tugas pada mata kuliah Fisika Lingkungan dengan dosen
pengampu Prof. Dr. Sunaryo, M. Si.

Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik, saran maupun sumbangan
pendapat yang sifatnya membangun dari para pembaca demi peningkatkan
buku ini di kemudian hari. Kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat, baik bagi Kami maupun para pembaca sekalian

                                                                                             

  
Jakarta, 02 Oktober 2021
                                                                                                           
                                                                                                            
Penyusun
  
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................................iii
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
BAB 1.........................................................................................................................3
SUMBER DAYA ALAM................................................................................................3
1.1 Pengertian Sumber Daya Alam..................................................................3
1.2 Sumber Daya Alam Air...............................................................................4
1.3 Sifat-sifat, Jenis, dan Manfaat Air..............................................................4
BAB 2.........................................................................................................................7
SIKLUS HIDROLOGI....................................................................................................7
2.1 Siklus Hidrologi..........................................................................................7
BAB 3.......................................................................................................................10
PENCEMARAN AIR...................................................................................................10
3.1 Pencemaran Air.......................................................................................10
BAB 4.......................................................................................................................11
DEFORESTASI...........................................................................................................11
4.1 Pengertian Deforestasi............................................................................11
4.1 Laju Deforestasi di Indonesia...................................................................13
4.2 Dampak Deforestasi Terhadap Sumber Daya Air.....................................15
4.3.1 Studi kasus.......................................................................................17
4.3 Upaya Mengurangi Deforestasi...............................................................18
KESIMPULAN...........................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................26
PENDAHULUAN

Sumber daya adalah sesuatu yang memiliki nilai guna. Sumber


Daya Alam (SDA) adalah keseluruhan faktor fisik, kimia, biologi dan
sosial yang membentuk lingkungan sekitar kita. Sumber daya alam
tergolong di dalamnya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme, dan juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas
alam, berbagai jenis logam, tanah, dan air. Terdapat beberapa pendapat
mengenai pembagian sumberdaya alam. antara lain ditinjau dari sifat
umum ekosistemnya dibagi menjadi dua golongan besar yaitu SDA
terestris (daratan) dan SDA akuatik (perairan). Meskipun demikian,
dalam pengelolaan SDA umumnya dikenal dua macam sumberdaya
alam didasarkan pada sifatnya yaitu renewable resources dan
unrenewable resources.

Berbagai kegiatan manusia yang sangat ditunjang oleh keberadaan


sumber daya alam ini. Namun juga banyak kegiatan manusia yang
memeberi dampak buruk terhadap sumber daya alam, seperti kegiatan
deforestasi. Deforestasi merupakan kehilangan lahan hutan yang
merupakan permasahan yang sulit untuk diatasi. Hampir disetiap
tahunnya Indonesia dihadapkan dengan bencana kebakaran hutan, pada
tahun 2015 tercatat 1,7 juta ha yang terbakar dan menyebabkan bencana
asap yang menimbulkan dampak serius pada berbagai sumber daya
alam, terutama sumber daya air . Kerusakan akibat kebakaran hutan
akan berdampak pada keadaan tanah, produksi gas CO 2, serta
ketersediaan pohon sebagai penunjang dari keberlangsungan siklus
hidrologi. Dalam buku ini akan membahas bagaimana upaya yang dapat

1
kita lakukan untuk mengurangi kegiatan serta dampak dari deforestasi
ini.
BAB 1

SUMBER DAYA ALAM

1.1 Pengertian Sumber Daya Alam

Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah segala sesuatu


yang muncul secara alami yang dapat digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya. Yang tergolong di
dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme, tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi,
gas alam, berbagai jenis logam,air, dan tanah. Sumber daya alam adalah
segala sesuatu yang ada di alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk
memenuhi kebutuhannya.

Sumber daya adalah sesuatu yang memiliki nilai guna. Sumber


Daya Alam (SDA) adalah keseluruhan faktor fisik, kimia, biologi dan
sosial yang membentuk lingkungan sekitar kita. Sumber daya alam
adalah semua yang berasal dari bumi, biosfer, dan atmosfer, yang
keberadaannya tergantung pada aktivitas manusia. Semua bagian
lingkungan alam kita (biji-bijian, pepohonan, tanah, air, udara, matahari,
sungai) adalah sumber daya alam.

Terdapat beberapa pendapat mengenai pembagian sumberdaya


alam. antara lain ditinjau dari sifat umum ekosistemnya dibagi menjadi
dua golongan besar yaitu SDA terestris (daratan) dan SDA akuatik
(perairan). Meskipun demikian, dalam pengelolaan SDA umumnya
dikenal dua macam sumberdaya alam didasarkan pada sifatnya, yaitu:
1. Sumber daya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources),
dimana aliran sumberdaya tergantung kepada manajemennya,
dengan beberapa kemungkinan persediaannya dapat menurun,
lestari atau meningkat. Contoh air, tanah, hutan dan margasatwa.
2. Sumber daya alam yang tidak dapat dipulihkan (nonrenewable
resources). Contoh batu bara, minyak bumi, gas alam,dan banyak
jenis logam.

1.2 Sumber Daya Alam Air

Air merupakan salah satu dari sekian banyak sumber daya alam
yang tersedia di bumi. Sumber daya air dapat diusahakan kembali
kebaradaannya dan dapat dimanfaatkan secara terus menerus atau yang
dapat kita sebut renewable resources. Sumber daya air dan semua
potensi yang terdapat pada air, termasuk sarana dan prasarana pengairan
yang dapat dimanfaatkan, namun tidak termasuk kekayaan hewani yang
ada di dalamnya.

Air (H2O) merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Air dapat


kita manfaatkan untuk minum, mandi, mencuci pakaian, dsb. Air
merupakan elemen yang paling melimpah di atas bumi, meliputi 70%
permukaannya dan berjumlah kira-kira 1.4 ribu juta kilometer kubik.
Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah in yang dapat benar-benar
dimanfaatkan. Yaitu hanya 0,003% dan 97% persen bagian air ada
dalam samudra dan laut yang memmiliki kadar garam yang tinggi.

1.3 Sifat-sifat, Jenis, dan Manfaat Air

1.1.1 Sifat-Sifat air

Sifat-sifat air dijelaskan sebagai berikut :


1. Air mengalir dari tempat tinggi menuju ke tempat yang
memiliki permukaan rendah. Sifat ini ditunjukan pada
peristiwa air yang mengalir pada saluran irigasi yang dibuat
miring agar air dapat mengalir dengan lancer.
2. Air memberi tekanan kesegala arah apabila terdapat suatu
lubang disetiap wadah airnya.
3. Kapilaritas, yaitu kemampuan zat cair untuk meresap
melalui celah-celah kecil.
4. Bentuk permukaan air selalu tenang dan datar. Contohnya
jika kita menuangkan air kedalam ember maka kedudukan
air akan tetap datar. Water pas adalah contoh dari prinsip
bahwa bentuk permukaan air selalu tenang dan datar
5. Melarutkan benda tertentu. Air dapat melarutkan benda
tertentu seperti garam dan gula. Peristiwa ini juga
dipengaruhi oleh factor suhu.

1.1.2 Jenis-jenis air

Jenis-jenis air dibumi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

1. Air tanah. Air tanah adalah air yang berada di bawah


permukaan tanha. Air tanah dapat kita bagi menjadi dua
yaitu air tanah preatis dan air tanah artesis. Air tanah preatis
merupakan air tangah yang letaknya jauh dari permukaan
tanah serta berada di atas lapisan kedap air/impermeable.
Sedangkan air tanah artesis merupakan air tanah yang
letaknya sangat jauh di dalam permukaan tanah serta berapa
diantara dua lapisan kedap air.
2. Air permukaan. Air permukaan adalah air yang berada di
permukaan tanh dan dapat dengan mudah kita lihat. Contoh
dari air permmukaan yaitu laut, sungai, danau, kali, rawa,
dll.

1.1.3 Manfaat air.

Air merupakan sumber daya alam yang paling banyak tersedia di


alam. Kita dapat dengan mudah menemukan sumber air seperti
danau, laut, sungai dan juga di dalam tanah. Air juga sering
dimanfaatkan di berbagai sector kehidupan manusia. Seperti
sumber bahan pangan, perikanan, pertanian, objek wisata,
prasarana lalu lintas air, pembangkit tenaga listik, fungsi
pengaturan iklim, sumber mineral, serta sumber bahan tambang.
BAB 2

SIKLUS HIDROLOGI

2.1 Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi atau daur air yang dikenal juga dengan istilah siklus
air adalah sirkulasi air yang menggambarkan pergerakan molekul air
(H2O) dari atmosfer ke bumi dan sebaliknya, yang tidak pernah berhenti
sehingga membentuk rangkaian melingkar perjalanan molekul air di
bumi yang disebut siklus. Siklus hidrologi adalah sebuah proses
pergerakan air dari bumi ke armosfer dan kembali lagi ke bumi yang
berlangsung secara kontinyu (Triadmodjo, 2008). Selain berlangsung
secara kontinyu, siklus hidrologi juga merupakan siklus yang bersifat
konstan pada sembarang daerah (Wisler dan Brater, 1959). Siklus
hidrologi dimulai dengan terjadinya penguapan air ke udara. Air yang
menguap tersebut kemudian mengalami proses kodensasi
(penggumpalan) di udara yang kemudian membentuk gumpalan –
gumpalan yang dikenal dengan istilah awan (Triadmodjo, 2008).

Awan yang terbentuk kemudian jatuh kembali ke bumi dalam


bentuk hujan atau salju yang disebabkan oleh adanya perubahan iklim
dan cuaca. Butiran-butiran air tersebut sebagian ada yang langsung
masuk ke permukaan tanah (infiltrasi), dan sebagian mengalir sebagai
aliran permukaan. Aliran permukaan yang mengalir kemudian masuk ke
dalam tampungan – tampungan seperti danau, waduk, dan cekungan
tanah lain dan selanjutnya terulang kembali rangkaian siklus hidrologi.
 Proses Evaporasi. Hidrologi penguapan dibedakan menjadi
evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah penguapan yang terjadi
pada permukaan air, sedangkan transpirasi adalah penguapan yang
terjadi melalui peranan tanaman. Transpirasi dapat terjadi
mengingat jumlah air hujan yang turun tidak sepenuhnya dapat
mengalir, melainkan ada beberapa jumlah air hujan yang tertahan
pada tanaman.
 Proses Kondensasi. Ketika uap air mengembang,mendingin dan
kemudian berkondensasi. Biasanya air berkondensasi pada partikel-
partikel debu kecil di udara. Ketika kondensasi terjadi dapat
berubah menjadi cair kembali atau langsung berubah pada (es, salju,
atau hujan batu). Partikel-partikel air ini kemudian akan berkumpul
dan membentuk awan.
 Proses Infiltrasi. Infiltrasi adalah proses masuknya air ke dalam
tanah melalui permukaan tanah (Sri Harto, 1983). Proses infiltrasi
dapat berlangsung secara vertikal dan horisontal (Triadmodjo,
2008). Proses infiltrasi secara vertikal disebabkan oleh adanya gaya
gravitasi dan dikenal dengan sebutan perkolasi. Proses infiltrasi
yang terjadi secara horisontal disebabkan oleh adanya gaya kapiler
yang dikenal sebagai aliran antara (interflow).
BAB 3

PENCEMARAN AIR

3.1 Pencemaran Air

Pencemaran air dapat diartikan sebagai siatu perubahan keadaan di


suatu tempat penampungan air seperti dananu, suangi, lautan, dan tanah
akibat aktivitas manusia. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya
kualitas air hingga ke tingkat yang membahayakan, sehingga air tidak
dapat digunakan sesuai peruntukannya. Fenomena alam seperti gunung
meletus, badai, gempa bumi, dll juga mengakibatkan perubahan
terhadap kualitas air. Namun dalam pengertiannya peristiwa ini tidak
termasuk dalam pencemaran.

Pencemaran air terjadi pada sumber-sumber air seperti danau,


sungai, laut dan air tanah yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Air
dikatakan tercemar jika tidak dapat digunakan sesuai dengan fungsinya.
Walaupun fenomena alam, seperti gunung meletus, pertumbuhan gulma
yang sangat cepat, badai dan gempa bumi merupakan penyebab utama
perubahan kualitas air, namun fenomena tersebut tidak dapat disalahkan
sebagai penyebab pencemaran air. Pencemaran ini dapat disebabkan
oleh limbah industri, perumahan, pertanian, rumah tangga, industri, dan
penangkapan ikan dengan menggunakan racun. Polutan industri antara
lain polutan organik (limbah cair), polutan anorganik (padatan, logam
berat), sisa bahan bakar, tumpaham minyak tanah dan oli merupakan
sumber utama pencemaran air, terutama air tanah. Disamping itu
penggundulan hutan, baik untuk pembukaan lahan pertanian, perumahan
dan konstruksi bangunan lainnya mengakibatkan pencemaran air tanah.
BAB 4

DEFORESTASI

4.1 Pengertian Deforestasi

Dalam perspektif ilmu kehutanan deforestasi dimaknai sebagai situasi


hilangnya tutupan hutan beserta atributatributnya yang berimplikasi
pada hilangnya struktur dan fungsi hutan itu sendiri. Pemaknaan ini
diperkuat oleh definisi deforestasi yang dituangkan dalam Peraturan
Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P.30/MenhutII/2009 tentang
Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi Dan Degradasi Hutan
(REDD) yang dengan tegas menyebutkan bahwa deforestasi adalah
perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan
yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.

Kata areal “berhutan” di dalam peraturan menteri ini mengandung


makna unsur independensi kontekstual, sehingga tidak terikat pada
status dan fungsi hutan saja tetapi lebih terfokus pada esensi kedudukan
“hutan” itu sendiri. Dengan demikian deforestasi mengandung makna
yang sangat erat kaitannya dengan situasi hilangnya hutan beserta
atributnya yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, baik di dalam
kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Sebagaimana diketahui,
pada setiap tipe hutan melekat seluruh atribut baik struktural maupun
fungsional, sehingga terbentuk pula karakteristik masing-masing tipe
hutan tersebut. Atribut struktural adalah komposisi jenis,
keanekaragaman, distribusi spasial, stratifikasi tajuk dan lain
sebagainya. Sedangkan atribut fungsional adalah produktivitas hutan,
jasa lingkungan, siklus hara, pengontrol erosi, siklus hidrologi, dan lain
sebagainya. Dalam keadaan seimbang, struktur akan menentukan fungsi,
demikian juga sebaliknya.

Diperkirakan bahwa 57 % deforestasi di negara Indonesia sebagian


besar disebabkan oleh perubahan lahan menjadi yang menjadi lahan
perkebunan kelapa sawit dan 20 % lainnya bersumber dari pulp dan
kertas. Hampir disetiap tahunnya Indonesia dihadapkan dengan bencana
kebakaran hutan, pada tahun 2015 tercatat 1,7 juta ha yang terbakar dan
menyebabkan bencana asap yang menimbulkan dampak serius pada
pendidikan, transportasi udara, kesehatan, ekonomi, dan tentunya
kerusakan lingkungan. Pembangunan dari sisi ekonomi diperlukanya
perhatian terhadap pembangunan berkelanjutan yang tentunya
memperhatikan berbagai aspek dari aspek sosial, ekonomi, dan
lingkungan.

Dari garafik diatas menujukan bahwa setiap tahunnya lahan hutan di


Indoensia terus mengalami deforestasi, dampak yang ditumbulkan dapat
menyebabkan suhu yang semakin panas atau meningkat serta kerusakan
pada siklus hidrologi sarta keadaan tanah, sehingga dapat memicu
dampak buruk terhadap makhluk hidup. Deforestasi adalah kondisi luas
hutan yang mengalami penurunan yang disebabkan oleh konvensi lahan
untuk infrastruktur, permukiman, pertanian, pertambangan, dan
perkebunan. Berbagai faktor penyebab terjadinya deforestasi yaitu:
Konversi pertanian, kebakaran hutan, pemanenan kayu, dan penggunaan
kayu bakar.

Menurut Susanto (2018) Factor pendorong penyebab deforestasi dari


salah satu wilayah dengan hutan terluas di Indonesia yaitu Kalimantan
Tengah, Indonesia terbagi manjadi tiga faktor. Pertama adalah konsep
deforestasi asimetris. Istilah deforestasi masih menjadi perdebatan
karena definisi negara tentang deforestasi terus ditentang oleh definisi
yang dikembangkan oleh anggota masyarakat sipil. Kedua, deforestasi,
dalam banyak aspeknya, juga terkait dengan masalah tata kelola, dan
deforestasi ketiga disebabkan oleh pengaturan politik-ekonomi yang
kompleks yang membentuk kemunculannya. Untuk mengatasi masalah
deforestasi di Indonesia, perlu dibuka definisi deforestasi melalui proses
yang lebih inklusif yang membentuk kebijakan pemerintah. Ini juga
akan membutuhkan transformasi politik di mana tata kelola hutan telah
berkembang di berbagai lokal. Terakhir, Pemerintah Indonesia harus
memperkuat komitmen untuk menerapkan kebijakan yang dapat
mengubah politik berbasis komoditas ke arah penggunaan sumber daya
yang lebih berkelanjutan

4.1 Laju Deforestasi di Indonesia

Selama tiga puluh tahun terakhir, deforestasi di Indonesia telah


sangat mengubah tutupan hutan negara dan mengakibatkan hutan yang
sangat terfragmentasi dan terdegradasi dari keanekaragaman hayati yang
berkurang dengan ancaman kepunahan yang tinggi bagi banyak spesies
tumbuhan dan hewan Sebagian besar hilangnya hutan terkonsentrasi di
hutan dataran rendah yang dapat diakses yang pernah didominasi oleh
pohon-pohon yang bernilai komersial seperti Shorea dan Dipterocarpus
spp. Hutan yang ditebang habis dan terdegradasi juga telah dikonversi
secara ekstensif menjadi perkebunan komersial besar, biasanya terdiri
dari eksotik yang tumbuh cepat untuk produksi pulp dan kertas dan
kelapa sawit. Perkebunan semacam itu semakin banyak didirikan di
tanah gambut kaya karbon yang terkait dengan flora dan fauna langka
dan endemik

Kawasan lindung Indonesia (PA) tidak luput dari tren deforestasi ini
dan telah menjadi sasaran pembalakan liar dan pendirian perkebunan
yang tidak berkelanjutan sebagai peluang untuk memanen dan konversi
hutan tak terlindungi yang dapat diakses telah berkurang seiring waktu.
Kawasan lindung pertama di Indonesia ditetapkan pada tahun 1930-an
dan pada tahun 1949 terdapat lebih dari 100 situs yang dilindungi
(MacKinnon, 1997). Pada tahun 1982, Pemerintah Indonesia
mengadopsi kebijakan nasional untuk membentuk jaringan kawasan
lindung untuk melestarikan keanekaragaman hayati bangsa. Ini adalah
bagian dari upaya yang lebih luas untuk merasionalisasi perencanaan
penggunaan lahan dan mengikuti pedoman internasional untuk
menyisihkan 10% dari wilayah negara untuk perlindungan
keanekaragaman hayati (FAO, 1981). Pada skala global, hal ini sangat
relevan karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan
keanekaragaman spesies terbanyak di dunia (MacKinnon, 1997). Pada
tahun 2008, 536 PA telah didirikan di Indonesia, dengan total luas
28.234.206 ha, dimana 93% di antaranya berada di darat. Tidak semua
kawasan lindung ini memiliki hutan dalam jumlah yang signifikan,
namun, karena iklim musiman yang kering terjadi ketika salah satu
bergerak secara progresif ke timur di kepulauan dan formasi padang
rumput yang didominasi api menjadi semakin umum di Indonesia tengah
dan timur.

Fuller, dkk (2013) mengamati laju deforestasi tahunan untuk Taman


Nasional Kayan Mentarang agak kurang dari laju deforestasi latar
belakang yang diamati di seluruh wilayah selama periode 1990-2000.
Hasil kami menunjukkan rata-rata laju deforestasi tahunan sebesar
0,22% untuk Taman Nasional. Statistik negara FAO (FAO, 2006)
mengungkapkan tingkat deforestasi tahunan rata-rata 1,7% di kepulauan
Asia Tenggara untuk seluruh dekade 1990-2000, sementara Kalimantan
mengalami laju deforestasi tahunan sebesar 2,0% antara tahun 1997 dan
2002, sebagian besar disebabkan oleh kebakaran tahun 1997-1998.
Diperkirakan bahwa laju tahunan hilangnya tutupan hutan Indonesia
telah menurun dari 1,4% antara tahun 1990 dan 2000 menjadi 0,58%
antara tahun 2000 dan 2005, dengan laju deforestasi yang lebih tinggi
ditemukan di Sumatera dan Kalimantan dan laju yang lebih rendah di
Papua. Selanjutnya, total tutupan hutan Indonesia tahun 2010 sebesar
96,58 Mha di mana 12,93 Mha (13,52%) ditemukan di Hutan Konsevasi
yang dianalisis. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi beberapa
degradasi dan deforestasi, Indonesia terus memenuhi target internasional
untuk melindungi minimal 10% keanekaragaman hayati hutannya di
kawasan lindung.

4.2 Dampak Deforestasi Terhadap Sumber Daya Air

Saat ini kerusakan hutan di tanah air cukup memprihatinkan,


Indonesia sudah kehilangan jutaan hektar. Penebangan liar telah
merajalela selama bertahun-tahun dan diyakini telah menghancurkan
sekitar 64 juta hektar hutan selama 50 tahun terakhir. Berdasarkan data
FAO tahun 2010 hutan dunia – termasuk di dalamnya hutan Indonesia –
secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan memegang peranan
penting menjaga kestabilan iklim dunia. Sehingga sudah dipastikan
jutaan hektar hutan yang dirusak ini akan menimbulkan efek negatif bagi
alam, seperti hilangnya kesuburan tanah, punahnya keaneka ragaman
hayati, mengakibatkan banjir, global warming, dan juga turunnya
sumber daya air.

Kerusakan hutan telah meningkatkan emisi karbon hampir 20 %. Ini


sangat signifikan karena karbon dioksida merupakan salah satu gas
rumah kaca yang berimplikasi pada kecenderungan pemanasan global.
Salju dan penutupan es telah menurun, suhu lautan dalam telah
meningkat dan level permukaan lautan meningkat 100-200 mm selama
abad yang terakhir. Bila laju yang sekarang berlanjut, para pakar
memprediksi bumi secara rata-rata 1oC akan lebih panas menjelang
tahun 2025. Peningkatan permukaan air laut dapat menenggelamkan
banyak wilayah. Kondisi cuaca yang ekstrim yang menyebabkan
kekeringan, banjir dan taufan, serta distribusi organisme penyebab

penyakit diprediksinya dapat terjadi. Berbagai kegiatan yang dapat


menyebabkan deforestasi akan berdampak yang serius terhadap
kehidupan baik yang dapat dirasakan langsung oleh manusia, tumbuhan
maupun hewan.

Hutan dan pohon sangat berkontribusi dalam menjaga siklus air.


Melalui akar pohon, air diserap kemudian dialirkan ke daun, menguap
lalu dilepaskan ke lapisan atmosfer. Ketika pohon-pohon ditebang,
daerah tersebut akan menjadi gersang dan tidak ada lagi yang membantu
tanah menyerap lebih banyak air. Dengan hilangnya daya serap tanah,
hal tersebut akan berimbas pada musim kemarau, di mana dalam tanah
tidak ada lagi cadangan air yang seharusnya bisa digunakan pada saat
musim kemarau. Hal ini disebabkan karena pohon yang bertindak
sebagai tempat penyimpan cadangan air tanah tidak ada lagi sehingga Ini
akan berdampak pada terjadinya kekeringan yang berkepanjangan dan
juga akan menyebabkan terjadinya penurunan sumber daya air. Semakin
sedikit jumlah pohon yang ada di bumi, maka itu berarti kandungan air
di udara yang nantinya akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan
juga sedikit. Nantinya, hal tersebut dapat menyebabkan tanah menjadi
kering sehingga sulit bagi tanaman untuk hidup. Selain itu pohon juga
berperan dalam mengurangi tingkat polusi air, yaitu penyaringan dengan
semakin berkurangnya jumlah pohon-pohon yang ada di hutan akibat
kegiatan deforestasi, maka hutan tidak bisa lagi menjalankan fungsinya
dalam menjaga tata letak air.
4.3.1 Studi kasus

Dalam penelitian yang dilakukan studi di area selatan jawa


yang menganalisis ketersediaan fisik air di wilayah studi
menggunakan data historis 16 tahun (2004-2019) aliran sungai,
curah hujan, dan perubahan tutupan hutan. Kuesioner terstruktur
digunakan untuk mengumpulkan data dari 100 petani. Metode
penilaian kontingen digunakan untuk memperoleh kesediaan
membayar petani (WTP) untuk air irigasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa rata-rata WTP petani adalah US$
215,84/ha/tahun. Ini menyumbang 20% dari pendapatan
pertanian dan hampir 20 kali lipat biaya air dalam sistem irigasi
skala besar. Wilayah studi mengalami deforestasi yang signifikan
dalam dua dekade terakhir mengalami penurunan tutupan hutan
sebesar 11,72%. Ini mengurangi jumlah air hujan yang disimpan
dan mengurangi aliran sungai yang menyebabkan kelangkaan air
selama musim kemarau. Luas lahan, pendapatan petani, jarak ke
bendungan kecil dan penggunaan pompa air merupakan faktor
penentu yang signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa
kelangkaan air yang disebabkan oleh buruknya infrastruktur
meningkatkan nilai ekonomi air dalam sistem SSI (Budiman, et
al., 2021).
Land-use change in the Sanenrejo sub-watershed between 2011 (left) and
2019 (right)

4.3 Upaya Mengurangi Deforestasi

Deforestasi yang makin meningkat dapat dilakukan upaya


pengurangan agar laju tingkat deforestasi tidak mengalami peningkatan,
berbagai upaya dapat dilakukan yaitu dengan melakukan penebangan
dengan sistem tebang pilih yang mana sistem tebang pilih ini akan
mampu menjaga dalam keberlangsungan ekosistem hutan dan berfungsi
dalam penyangga kehidupan, pada sistem tebang pilih juga melakukan
penanaman kembali agar kegiatan-kegiatan tersebut tidak menyebabkan
kerugian. Kemudian dapat dilakukan dengan upaya reboisasi atau
penghijauan yaitu melakukan penanaman kembali pada kawasan hutan,
sedangkan melakukan penghijauan pada kawasan non hutan, karena
hutan yang mengalamai gundul tak mampu menjalankan fungsinya
dengan baik. Selanjutnya untuk target dan strategi dalam pembangunan
rendah karbon dengan melakukan pembangunan energi dengan sistem
berkelanjutan, yakni melakukan pemulihan terhadap lahan yang
keberlanjutan, adanya proses penanganan limbah, melakukan
pengembangan industry hijau dan inventarisasi serta melakukan
rehabilitas pada ekosistem pesisir dan area kelautan. Berbagai kegiatan
sederhana jika dilakukan dengan baik dan kerjasama atau kekompakan
akan memberikan efek yang baik terhadap alam terutama dalam
pengurangan emisi.

Bentuk keprihatinan terhadap deforestasi yang ditimbulkan adalah


melahirkan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest
Degradation) merupakan sebuah pendekatan konservasi lahan hutan
dengan menggunakan skema keuangan dalam melakukan konservasi
hutan yang menjadi usaha yang dapat memberikan keuntungan atau
penghasilan dibandingkan melakukan penebangan hutan melalui
pembayaran. Tujuan dari REDD+ adalah melakukan penghitungan
terhadap nilai karbon yang tersimpan di hutan, dengan upaya melakukan
penawaran kepada negara berkembang dalam upaya mengurangi emisi
dalam rangka investasi di jalur rendah karbon, sehingga dengan negara-
negara maju dapat bekerjasama dengan membayar negara berkembang
untuk pengurangan deforestasi di Indonesia, pembakaran lahan gambut,
dan degradasi hutan. Mengingat bahwa negara Indonesia telah
melakukan perjanjian bersama nationally determined contribution akan
menurunkan emisi terhadap efek gas rumah kaca dengan melakukan
upaya sendiri sekitar 29 % dan menurunkan 41 % emisi rumah kaca
dengan bantuan internasional pada tahun 2030 mendatang, maka
pelaksanaan REDD+ dinilai perlu menjadi elemenelemen dalam proses
mitigasi terhadap perubahan-perubahan iklim yang ada di negara
Indonesia.

Cara lainnya yaitu dengan melakukan modifikasi pembelokan air


sungai dengan akar-akar pojon bertujuan untuk mengurangi laju
deforestasi (Horton, et al., 2017). Akar pohon secara mekanis dapat
meningkatkan kekuatan geser material tepi sungai dan dapat mengurangi
air pori melalui transpirasi dan intersepsi tajuk, meningkatkan kohesi
yang nyata dari tanah tepi sungai. Efek ini dapat mengurangi prevalensi
kegagalan massal dan laju erosi tepian sungai. Di mana kedalaman
perakaran hanya sebagian kecil dari ketinggian tepi sungai, seperti di
sepanjang banyak sungai besar yang berkelok-kelok, erosi tepian sungai
dapat terjadi dengan kecepatan yang sebagian besar tidak terpengaruh
oleh keberadaan pohon. Meskipun demikian, erosi yang berkelanjutan
dapat dicegah dengan suplai pohon dan sedimen yang berakar ke dasar
bantaran sungai dari koridor riparian yang tererosi, yang juga dapat
berfungsi untuk menopang dan menstabilkan profil bantaran sungai.

Sungai Kinabatangan di Sabah, Malaysia, menawarkan kesempatan


penting untuk mendokumentasikan dan menilai hubungan antara hutan
dataran banjir tropis dan erosi tepian sungai. Menggunakan Sungai
Kinabatangan sebagai laboratorium alam, Penulis menilai peran pohon
dalam mengendalikan laju dan pola erosi tepian sungai di sepanjang
sungai-sungai besar yang berkelok-kelok. Penulis menyimpulkan
dengan hipotesis yang menjelaskan perubahan yang diamati dalam
hubungan antara tingkat erosi tepi sungai dan perkiraan model dari
pemaksaan aliran sungai yang didorong oleh kelengkungan setelah
deforestasi.

Menguras 16.800 km2 Kalimantan bagian utara, Sungai


Kinabatangan mengalir tanpa hambatan sepanjang 560 km, dari
pegunungan pedalaman Cekungan Maliau hingga Laut Sulu. Terdapat
rata-rata lebar tepian sungai 112,7 m, diukur sebagai jarak rata-rata
antara tepian bervegetasi di sepanjang jangkauan studi. Tepian sungai
tingginya >8 m, dihuni oleh pohon-pohon besar yang akarnya
menembus 2 m, dan bagian-bagian yang dibuka ditumbuhi spesies
rumput yang akarnya menembus 0,5-1,0 m. Penulis mempelajari empat
jangkauan berkelok-kelok, dipilih untuk memberikan contoh tepian
sungai dengan berbagai tingkat perubahan tutupan lahan dan untuk
memastikan pengamatan sungai berkelok-kelok tanpa hambatan oleh
kontrol geologis atau teknik.

Menggunakan urutan citra satelit Landsat, Penulis menghitung rata-


rata laju tahunan erosi tepian sungai untuk periode waktu A. Untuk
mengotomatisasi proses identifikasi tepian sungai yang konsisten,
Penulis mendefinisikan tepian sungai sebagai lokasi di mana NDVI
bertransisi menjadi nilai mulai dari 0,39 hingga 0,49, nilai yang
memisahkan permukaan bervegetasi rapat dari permukaan bervegetasi
jarang atau permukaan tanah kosong. Setelah menentukan tepi sungai,
Penulis kemudian menurunkan garis tengah saluran dengan
menginterpolasi melalui titik-titik digital yang terletak di tengah antara
margin saluran pada interval 100 m. di mana garis tengah superposisi
dari gambar Landsat yang berurutan menciptakan poligon yang
mewakili total area material tepian yang terkikis. Laju erosi rata-rata
untuk bagian sungai yang membentang berliku-liku kemudian
didefinisikan sebagai jumlah area poligon dalam setiap bagian dibagi
dengan panjang rata-rata aliran bagian tersebut.

Penulis menganalisis 67 bagian sungai, mendokumentasikan posisi


sungai setiap 5-7 tahun, yang memberikan total perkiraan 330 MR.
Kemudian mengembangkan skema klasifikasi lahan berdasarkan citra
TM/Landsat 5 2009 untuk membedakan antara tanah gundul, hutan, dan
lahan yang sebelumnya dibuka, divalidasi menggunakan citra Google
Earth™ dan melalui pengamatan lapangan. Penulis menerapkan
klasifikasi ini pada semua citra Landsat, yang menunjukkan tepian yang
tidak terganggu sebagai bagian berhutan dan tepian yang gundul sebagai
bagian yang dibuka. Nilai-nilai mencerminkan rentang kendali fisik
pada erosi tepian sungai dengan transportasi granular, tetapi variabelnya
sangat ditentukan oleh sifat material tepian sungai, termasuk efek
apapun pada tegangan geser kritis yang diperlukan untuk masuknya
partikel. Penulis memperkirakan untuk setiap bagian sungai di semua
studi mencapai sebagai rasio MR dengan nilai maksimum yang terletak
di dalam bagian sungai selama kondisi aliran bankfull. Data topografi
yang diperlukan untuk solusi dikumpulkan menggunakan pengukur
kedalaman sonik pada kondisi aliran mendekati tepian penuh dan
sepanjang penampang yang berorientasi tegak lurus terhadap margin
saluran.

Tingkat erosi tepian sungai di sepanjang Sungai Kinabatangan


ditemukan telah meningkat setelah penghapusan total tutupan riparian,
dengan MR untuk bagian yang dibuka rata-rata secara signifikan lebih
besar daripada bagian yang berhutan. Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang menilai peran vegetasi dalam erosi bantaran sungai.
Peningkatan MR setelah deforestasi dapat dikaitkan dengan peningkatan
erodibilitas tepian sungai, setidaknya sebagaimana tercermin dalam
perbedaannya. Setidaknya satu studi lain, dari Sungai Sacramento di
California, AS, telah menghitung erosi tepian sungai sebagai fungsi
kelengkungan planform setelah penggundulan hutan, menyoroti bahwa
erosi oleh pemaksaan aliran sungai yang didorong oleh kelengkungan
hanya mendominasi sepanjang bagian dataran banjir di mana riparian
alami menutupi digantikan oleh pertanian.
Penulis berhipotesis bahwa peningkatan sensitivitas erosi tepian
sungai terhadap pemaksaan aliran sungai yang didorong oleh
kelengkungan terjadi karena pembukaan hutan riparian meningkatkan
kemampuan aliran dekat tepian untuk menghilangkan material tepian
sungai dan, dengan mengurangi kekuatan geser tepian sungai,
memfasilitasi keruntuhan massal yang lebih kecil dan lebih sering.
acara. Perubahan pada hidrologi tepi sungai yang disebabkan oleh
deforestasi juga dapat memperburuk penurunan kekuatan geser tepi
sungai secara mekanis. Penguatan serat yang disediakan oleh akar pohon
meningkatkan kekuatan geser tepi sungai. Akhirnya, penguatan serat
tambahan yang diberikan oleh akar dapat memperpanjang waktu tinggal
blok kemerosotan yang gagal yang melapisi dan menopang tepi sungai,
menghambat kemampuan aliran dekat tepian untuk memindahkan
material dari ujung dan muka tepian.

Keberadaan material kayu besar yang menipis di sepanjang


permukaan tepi sungai juga dapat mengurangi kekasaran aliran,
meningkatkan potensi arus dekat tepian untuk mempertahankan
momentumnya dan dengan demikian kekuatan erosifnya. Meskipun
pekerjaan di masa depan diperlukan untuk sepenuhnya mengevaluasi
peran hutan dalam mengendalikan ukuran dan bentuk keruntuhan massa
tepi sungai dan skala waktu untuk pemindahan material tepian sungai,
pengamatan lapangan memberikan dasar untuk hipotesis yang Penulis
usulkan.
KESIMPULAN

 sumber daya alam adalah semua yang berasal dari bumi, biosfer, dan
atmosfer, yang keberadaannya tergantung pada aktivitas manusia.
Semua bagian lingkungan alam kita (biji-bijian, pepohonan, tanah,
air, udara, matahari, sungai) adalah sumber daya alam.
 Sumber daya air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan
manusia, hewan dan tumbuhan. Ketersediaan air sangat diperlukan
namun harus berada dalam jumlah yang cukup memadai.
 Siklus hidrosfer sendiri adalah proses pergerakan air dari bumi ke
armosfer dan kembali lagi ke bumi yang berlangsung secara
kontinyu. Siklus hisdrosfer ini sangat bergantung pada kedaan alam
sekitarnya.
 Deforestasi adalah kondisi luas hutan yang mengalami penurunan
yang disebabkan oleh konvensi lahan untuk infrastrukur,
permukiman, pertanian, pertambangan, dan perkebunan. Perubahan
lahan hutan yang menjadi lahan non hutan memiliki berbagai dampak
yang beuruk terutama pada siklus hidrologi dan juga kedaaan air di
tanah. Sehingga deforetasi sendiri menjadi salah satu factor penyebab
tercemarnya sumber daya air.
 Upaya mengurangi dampak dari deoforestasi ini bisa dilakukan
dengan system tebang pilih, proses penanganan limbah, melakukan
pengembangan industry hijau dan inventarisasi serta melakukan
rehabilitas pada ekosistem pesisir dan area kelautan.

DAFTAR PUSTAKA

Barri, Mufti Fathul, dkk. 2018. Deforestasi Tanpa Henti “Potret Deforestasi
di Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara. Bogor:
Forest Watch Indonesia.

Budiman, S. A., Rondhi, M., Khasan, A. F., Peratama, B., Suwandari, A.,
Ridjal, J. A., & Prijono, S. 2021. Water Scarcity, Mountain
Deforestation and the Economic Value of Water in a Small-Scale
Irrigation System: A Case Study in East Java, Indonesia. Quaestiones
Geographicae, 40(2), 153-166.

Fuller, Douglas, dkk. 2013. Deforestation, Degradation, and Forest


Regrowth In Indonesia’s Protected Areas From 2000-2010 .
Indonesian Journal of Conservation Vol.2 No.1.
Horton, Alexander J, dkk. 2017. Modification of River Meandering by
Tropical Deforestation. Journal Geology, 45 (6): 511-514.

Humphreys, D. 1996. Forest Politics. London: Earthscan Publication Ltd.

Jasin, Maskoeri. 2010. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT Raja Grafindo.

JRobert Kodoatie. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Jakarta:


Index.Sentra.

Kamen,G Austin, dkk. 2019. What causes deforestation in Indonesia? IOP


Publishing Environ Research Letter. 14 (2019) 024007.

MacKinnon, J. 1997. Protected areas system review of the Indo-Malayan


realm. Canterbury, United Kingdom: The Asian Bureau for
Conservation Limited.

Mapulanga, A. M, & Naito, H. 2019. Effect of Deforestation on Access to


Clean Dringking Water. Proceedings of the National Academy of
Sciences of the United States of America, 116(17), 8249-8254.

Ramsay, Deana. 2016. “Mempelajari Penyebab Deforestasi di Kalimantan”.


https://forestsnews.cifor.org/44242/mempelajari-penyebab-
deforestasi-di-kalimantan?fnl=. Diakses pada 28 November 2021.

Siswoko, B. D. 2008. Development, Deforestation and Climate Change.


Jurnal Manajemen Hutan Tropika.

Sjarief, Roestam. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Air. Jurnal


Desain dan
Konstruksi,vol.1, no. 1.

Sri Harto Br.1993. Analisis Hidrologi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Susanto, Ely, dkk. Driving Factors Deforestation In Indonesia: A Case Of


Central Kalimantan. Jurnal Studi Pemerintah, 9(4), 511-533.

Triatmodjo, B. 2010. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.

Wisler, C.O, and E.F. Brater. 1959. Hydrology. New York: John Wiley &
Sons, Inc.
Syafri, E., & Endrizal, N. 2019. Arti Penting Pelaksaan REDD + Bagi
Indonesia: Tantangan dan Hambatan yang Akan Dihadapi. Journal
of Chemical Information and Modeling.