Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

DIARE AKUT PADA ANAK

Oleh :

dr. I Made Ardi Sudiatmika, S.Ked

dr. Cokorda Gede Bagus Pradnyana Sanjaya, S.Ked

dr. Ni Komang Tri Utami Handayani S., S.Ked

dr. Putu Pradipta Shiva Darrashcytha, S.Ked

Nama Pembimbing :

dr. I Wayan Dediyana

DALAM RANGKA MENJALANI PROGRAM INTERNSIP

UPTD PUSKESMAS 1 DINAS KESEHATAN

KECAMATAN DENPASAR SELATAN

DENPASAR

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat-Nya makalah tinjauan pustaka dengan judul “Diare Akut Pada Anak”
dapat selesai tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Makalah tinjauan pustaka ini disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Internship
di Puskesmas Denpasar Selatan 1. Penulisan makalah tinjauan pustaka ini dapat
terlaksana berkat bantuan, bimbingan, dan masukan dari berbagai pihak. Oleh
karenanya, dalam kesempatan yang berbahagia ini penulis menyampaikan terima
kasih kepada:
1. dr. Dedi atas bimbingan dan arahan yang telah diberikan.
2. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan maupun dukungan kepada penulis selama proses
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah tinjauan pustaka ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan demi kemajuan penulis ke depannya. Akhir kata, semoga makalah
kajian pustaka ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, November 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

Diare merupakan penyakit umum yang masih menjadi masalah kesehatan


utama pada anak terutama pada balita di berbagai negara-negara terutama di negara
berkembang. Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang
terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang
encer dan cair (Suriadi & Yuliana, 2006). Diare adalah penyakit yang ditandai dengan
bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan
konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir (Suraatmaja,
2005). Penderita diare paling sering menyerang anak dibawah lima tahun (balita).
Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) pada tahun
2009 menyatakan bahwa lebih dari sepertiga kematian anak secara global disebabkan
karena diare sebanyak 35%. United Nations International Children’s Emergensy Fund
(UNICEF) memperkirakan bahwa secara global diare menyebabkan kematian sekitar
3 juta penduduk setiap tahun (Herman, 2009).

Beban global diare pada tahun 2011 adalah 9,00% balita meninggal dan 1,0%
untuk kematian neonatus. Di Indonesia diare merupakan salah satu penyebab
kematian kedua terbesar pada balita setelah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah masyarakat Indonesia.
Prevalensi diare pada balita di Indonesia juga mengalami peningkatan setiap
tahunnya.

Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,


menunjukkan keseluruhan 14% anak balita mengalami diare. Prevalensi diare
tertinggi terjadi pada anak dengan umur 6-35 bulan, karena pada umur sekitar 6 bulan
anak sudah tidak mendapatkan air susu ibu. Prevalensi diare berdasarkan jenis
kelamin tercatat sebanyak 8.327 penderita laki laki, dan 8054 penderita perempuan.
Komplikasi yang dapat muncul pada penderita diare bila tidak segera ditangani
dengan benar dapat terjadi Dehidrasi (ringan sedang, berat, hipotonik, isotonik, atau
hipertonik), renjatan hipovolemik, hipokalemia,hipoglikemia, intolerasni sekunder
akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktase, terjadi kejang pada
dehidrasi hipertonik. Selanjutnya dapat terjadi malnutrisi energi protein akibat
muntah dan diare (Ngastiyah, 2005). Penyakit diare masih cukup tinggi ditemukan di
Kabupaten Gianyar. Pada tahun 2016 terdapat kasus diare sekitar 10.717, dari
keseluruhan kasus tersebut, kasus diare yang sudah ditangani dengan baik adalah
sebanyak 10.340 (96.5%) yang terdiri dari kasus pria sebayak 5.515 (53,33%) dan
wanita sebanyak 4.825 (46,77%). Pada tahun 2015 terdapat kasus diare sekitar
10.822, dari keseluruhan kasus tersebut, kasus diare yang sudah ditangani dengan
baik adalah sebanyak 10.634 (101,8%) yang terdiri dari kasus pria sebayak 5.574
(52,42%) dan wanita sebanyak 5.060(47,58%) Jika dibandingkan dengan tahun 2014
ada penurunan dimana pada tahun 2014 jumlah kasus diare yang ditemukan dan
sudah ditangani dengan baik adalah sebanyak 11.134 kasus, untuk tahun 2013
sebanyak 10.364 dan tahun 2012 sebanyak 10.822.

Diare masuk dalam sepuluh penyakit terbanyak dan dari tahun ke tahun
jumlah kasus cenderung meningkat di UPT Kesmas Gianyar II.Jumlah penderita diare
3 meningkat dari 772 kasus tahun 2014, 1.092 kasus tahun 2015, dan 1.154 kasus
pada tahun 2016 di UPT Kesmas Gianyar II. Untuk mempermudah dan memperjelas
pengelompokkan kejadian diare di UPT Kesmas Gianyar II, dapat dilakuka dengan
cara pemetaan. Pemetaan adalah suatu proses penyajian informasi muka bumi yang
fakta (dunia nyata), baik bentuk permukaan buminya maupun sumbu alamnya,
berdasarkan skala peta, sistem proyeksi peta, serta simbol-simbol dari unsur muka
bumi yang disajikan (Jatmiko, 2011).

Pemetaan terhadap suatu penyakit memiliki beberapa keuntungan. Menurut


Dickinson (1975) yang dikutip oleh Hanum (2013), beberapa alasan suatu data dapat
dipetakan antara lain : 1) melalui peta dapat menimbulkan daya tarik yang lebih besar
terhadap objek yang ditampilkan, 2) melalui peta dapat memperjelas,
menyederhanakan, dan menerangkan suatu aspek yang dipentingkan, 3) melalui peta
dapat menonjolkan pokok-pokok batasan dalam tulisan atau pembicaraan.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka sangat perlu dilakukan suatu penelitian tentang
pemetaan kejadian diare dilingkungan wilayah kerja UPT Kesmas Gianyar II, yang
mana melalui pemetaan tersebut kedepannya akan menjadi bahan pertimbangan
dalam melaksanakan soasialisasi, sehingga kejadian diare di wilayah kerja UPT
Kesmas Gianyar II dapat ditekan seminimal mungkin.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Diare

Diare menurut definisi Hippocrates adalah buang air besar dengan frekuensi
yang tidak normal (meningkat), konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair.
(Bagian ilmu kesehatan anak FK UI, 1998).Diare merupakan suatu keadaan
pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya ditandai dengan
peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada
neonates lebih dari 4 kali sehari dengan tanpa lender darah. (Aziz, 2006).Diare dapat
juga didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi perubahan dalam kepadatan
dan karakter tinja, atau tinja cair dikeluarkan tiga kali atau lebih perhari.
(Ramaiah,2002).Diare merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem
gastrointestinal atau penyakit lain diluar saluran pencernaan. (Ngastiyah, 2003). Jadi
diare adalah buang air besar yang frekuensinya lebih dari 3 kali sehari dengan
konsistensi tinja yang encer.

2.2 Klasifikasi Diare

Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari :

a. Diare akut
Diare akut yaitu buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan
konsistensi tinja yang lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya
dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. Menurut Depkes
(2002), diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari tanpa
diselang-seling berhenti lebih dari 2 hari. Berdasarkan banyaknya cairan
yang hilang dari tubuh penderita, gradasi penyakit diare akut dapat
dibedakan dalam empat kategori, yaitu:
(1) Diare tanpa dehidrasi
(2) Diare dengan dehidrasi ringan, apabila cairan yang hilang 2-5%
dari berat badan
(3) Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang berkisar
5-8% dari
berat badan
(4) Diare dengan dehidrasi berat, apabila cairan yang hilang lebih dari
8-10%.

b. Diare persisten
Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan
kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik. c.
Diare kronik Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung
lama dengan penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap
gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. Lama diare kronik
lebih dari 30 hari. Menurut (Suharyono, 2008), diare kronik adalah diare
yang bersifat menahun atau persisten dan berlangsung 2 minggu lebih.

2.3 Etiologi
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
a. Faktor Infeksi
1. Infeksi enteral
Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak. Infeksi parenteral ini meliputi:
(a) Infeksi bakteri: Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,
Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.
(b) Infeksi virus: Enteroovirus (Virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis),
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.
(c) Infestasi parasite : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris,
Strongyloides), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,
Trichomonas hominis), jamur (candida albicans).
2. Infeksi parenteral

Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat


pencernaan, seperti Otitis Media akut (OMA), Tonsilofaringitis,
Bronkopneumonia, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat
pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.

b. Faktor Malabsorbsi

1. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltose dan


sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada
bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa.

2. Malabsorbsi lemak

3. Malabsorbsi protein

c. Faktor makanan

Factor makanan yang dimaksud disini, seperti : makanan basi,


beracun, alergi terhadap makanan.

d. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat


menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

e. Faktor umur balita

Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Balita yang
berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare 2,23 kali dibanding
anak umur 25-59 bulan.

f. Faktor lingkungan

Penyakit diare merupakan merupakan salah satu penyakit yang


berbasisi lingkungan. Dua faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan
pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan
perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar
kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat
pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan
kejadian penyakit diare.

g. Faktor Gizi

Diare menyebabkan gizi kurang dan memperberat diarenya. Oleh


karena itu, pengobatan dengan makanan baik merupakan komponen utama
penyembuhan diare tersebut. Bayi dan balita yang gizinya kurang sebagian
besar meninggal karena diare. Hal ini disebabkan karena dehidrasi dan
malnutrisi. Faktor gizi dilihat berdasarkan status gizi yaitu baik = 100-90,
kurang =<90 – 70, buruk = < 70 dengan BB per TB.

h. Faktor sosial ekonomi masyarakat

Sosial ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor


penyebab diare. Kebanyakan anak mudah menderita diare berasal dari
keluarga besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk,
tidak mempunyai penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan
kesehatan.

i. Faktor makanan dan minuman yang dikonsumsi

Kontak antara sumber dan host dapat terjadi melalui air, terutama air
minum yang tidak dimasak dapat juga terjadi secara sewaktu mandi dan
berkumur. Kontak kuman pada kotoran dapat berlangsung ditularkan pada
orang lain apabila melekat pada tangan dan kemudian dimasukkan kemulut
dipakai untuk memegang makanan. Kontaminasi alat-alat makan dan
dapur. Bakteri yang terdapat pada saluran pencernaan adalah bakteri
Etamoeba colli, salmonella, sigella. Dan virusnya yaitu Enterovirus, rota
virus, serta parasite yaitu cacing (Ascaris, Trichuris), dan jamur (Candida
albikan).
j. Faktor terhadap Laktosa (susu kalemg)

Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan.
Pada bayi yang tidak diberi ASI resiko untuk menderita diare lebih besar
daripada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi
berat juga lebih besar. Menggunakan botol susu ini memudahkan
pencemaran oleh kuman sehingga menyebabkan diare. Dalam ASI
mengandung antibody yang dapat melindungi kita terhadap berbagai
kuman penyebab diare seperti Sigella dan V. Cholerae.

2.4 Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
a. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang
berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare. Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilewati air dan
elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi
usus dengan cairan ekstraseluler.
Diare terjadi jika bahan yang secara osmotic dan sulit diserap. Bahan
tersebut berupa larutan isotonik dan hipertonik. Larutan isotonik, air dan
bahan yang larut didalamnya akan lewat tanpa diabsorbsi sehingga terjadi
diare. Bila substansi yang diabsorbsi berupa larutan hipertonik, air, dan
elektronik akan pindah dari cairan ekstraseluler kedalam lumen usus sampai
osmolaritas dari usus sama dengan cairan ekstraseluler dan darah,sehingga
terjadi pula diare.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Akibat
rangsangan mediator abnormal misalnya enterotoksin, menyebabkan villi
gagal mengabsorbsi natrium, sedangkan sekresi klorida disel epitel
berlangsung terus atau meningkat. Hal ini menyebabkan peningkatan sekresi
air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Diare mengakibatkan terjadinya:
(1) Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang
menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hypokalemia.
(2) Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau
prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan
muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan
asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila
tak cepat diobati penderita dapat meninggal.
(3) Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan yang
berlebihan karena diare dan muntah. Kadang-kadang orang
tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut
bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan
tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan
sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita
malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan,
sehingga akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat
menyebabkan kejang dan koma (Suharyono, 2008).
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltic
usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Patogenesis diare akut adalah:
(a) Masuknya jasad renik yang msih hidup kedalam usus halus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung.
(b) Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) didalam usus
halus.
(c) Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin Diaregenik).
(d) Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare.
Patogenesis Diare kronis: Lebih kompleks dan faktor-faktor yang
menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan
lain-lain.
2.5 Patofisiologi
Gastroenteritis akut (Diare) adalah masuknya Virus (Rotavirus, Adenovirus
enteritis), bakteri atau toksin (Salmonella. E. colli), dan parasit (Biardia, Lambia).
Beberapa mikroorganisme pathogen ini me nyebabkan infeksi pada selsel,
memproduksi enterotoksin atau cytotoksin Penyebab dimana merusak sel-sel, atau
melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut. Penularan gastroenteritis bisa
melalui fekal oral dari satu klien ke klien lainnya.
Beberapa kasus ditemui penyebaran pathogen dikarenakan makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah
gangguan osmotik (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit
kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare).
Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus,
sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan
motilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari
diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan
gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hypokalemia), gangguan gizi (intake
kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi. Sebagai akibat diare
baik akut maupun kronis akan terjadi: (a) Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi)
yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis
metabolik, hypokalemia dan sebagainya). (b) Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan
(masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah). (c) Hipoglikemia, (d) Gangguan
sirkulasi darah.

2.6 Manifestasi Klinis

Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya
meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair
dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi
kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet
karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin
banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus
selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan
asam-basa dan elektrolit.

Bila penderita telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala
dehidrasi makin tampak. Berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan
ubun-ubun membesar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit
tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi
dehidrasi ringan, sedang, dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat
dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik, dan hipertonik. (Mansjoer, 2009)
No. Tanda dan Gejala Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi Berat
Ringan Sedang
1. Keadaan Umum Sadar, Gelisah, Mengantuk, lemas,
gelisah, haus Mengantuk ekstremitas dingin,
berkeringat,
kebiruan,
penurunan
kesadaran
2. Denyut Nadi Normal Cepat dan Cepat, kadang tak
lemah teraba
3. Pernafasan Normal Dalam Dalam dan cepat
4. Ubun – Ubun Besar Normal Cekung Sangat Cekung
5. Kelopak Mata Normal Cekung Sangat cekung
6. Air Mata Ada Tidak ada Sangat Kering
7. Selaput Lendir Lembab Kering Sangat Kering
8. Elastisitas Kulit Kembali Lambat Sangat
cepat
9. Warna Air Seni Normal Kekuningan, Tidak ada produksi
lebih pekat urin
Tabel 2.1 Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut WHO

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium dari diare adalah:

a. Pemeriksaan tinja

b. Makroskopis dan mikroskopis

c. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest,
bila diduga terdapat intoleransi gula.
d. Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

e. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah, dengan


menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan
pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan).

f. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

g. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor


dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).

h. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau


parasite secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita
diare kronik.

2.8 Penatalaksaan

Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah


LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan
Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya
cara untuk mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta mempercepat
penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan gizi akibat diare
juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun program LINTAS Diare (Lima
Langkah Tuntaskan Diare) yaitu:

1. Berikan Oralit

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah


tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan
cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang
beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang
dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi
penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum
harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui
infus.
Derajat dehidrasi dibagi dalam 3 klasifikasi :

a. Diare tanpa dehidrasi

Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih :

Keadaan Umum : baik

Mata : Normal

Rasa haus : Normal, minum biasa

Turgor kulit : kembali cepat

Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sbb :

1. Umur < 1 tahun : ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret


2. Umur 1 – 4 tahun : ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret
3. Umur diatas 5 Tahun : 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret

b. Diare dehidrasi Ringan/Sedang

Diare dengan dehidrasi Ringan/Sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:

Keadaan Umum : Gelisah, rewel

Mata : Cekung

Rasa haus : Haus, ingin minum banyak

Turgor kulit : Kembali lambat

Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya
diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

c. Diare dehidrasi berat

Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:

Keadaan Umum : Lesu, lunglai, atau tidak sadar

Mata : Cekung
Rasa haus : Tidak bisa minum atau malas minum

Turgor kulit : Kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)

Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di
infus.

2. Berikan obat Zinc

Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc
dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi
enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc
juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi
dan fungsi selama kejadian diare.

Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat
keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja,
serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.(Black, 2003).
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Zinc mempunyai efek protektif terhadap
diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot study menunjukkan bahwa Zinc
mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 % (Hidayat 1998 dan Soenarto 2007).
Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami
diare.

Dosis pemberian Zinc pada balita:

Umur < 6 bulan : ½ tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari

Umur > 6 bulan : 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari.

Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.

Cara pemberian tablet zinc:

Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan
pada anak diare.
3. Pemberian ASI / Makanan :

Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada


penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum Asi harus lebih sering di beri
ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak
uis 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus
diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih
sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu
untuk membantu pemulihan berat badan.

4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi

Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare
pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada
penderita diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera.

Obat-obatan Anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita
diare karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak di anjurkan kecuali
muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status
gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping yang bebahaya dan bisa
berakibat fatal. Obat anti protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh
parasit (amuba, giardia).

5. Pemberian Nasehat

Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat tentang :

a. Cara memberikan cairan dan obat di rumah

b. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :

1) Diare lebih sering


2) Muntah berulang
3) Sangat haus
4) Makan/minum sedikit
5) Timbul demam
6) Tinja berdarah
7) Tidak membaik dalam 3 hari.
2.8 Komplikasi

Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi
berbagai macam komplikasi seperti:

a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic atau hipertonik).

b. Renjatan hipovolemik

c. Hypokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,


bradikardia, perubahan pada elektrokardiogram).

d. Hipoglikemia.

e. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena


kerusakan vili mukosa usus halus.

f. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.

g. Malnutrisi energy protein, karena selain diare dan muntah penderita juga
mengalami kelaparan.

2.9 Pencegahan

Diare Pengobatan diare dengan upaya rehidrasi oral, angka kesakitan bayi dan
anak balita yang disebabkan diare makin lama makin menurun. Menurut Suharti
(2007), bahwa kesakitan diare masih tetap tinggi ialah sekitar 400 per 1000 kelahiran
hidup. Salah satu jalan pintas yang sangat ampuh untuk menurunkan angka kesakitan
suatu penyakit infeksi baik oleh virus maupun bakteri. Untuk dapat membuat vaksin
secara baik, efisien, dan efektif diperlukan pengetahuan mengenai mekanisme
kekebalan tubuh pada umumnya terutama kekebalan saluran pencernaan makanan.

1. Pemberian ASI
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi, komponen zat makanan tersedia
dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh
bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan,
tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini. Menurut Supariasa dkk
(2002), bahwa ASI adalah makanan bayi yang paling alamiah, sesuai dengan
kebutuhan gizi bayi dan mempunyai nilai proteksi yang tidak bisa ditiru oleh pabrik
susu manapun.

Tetapi pada pertengahan abad ke-18 berbagai pernyataan penggunaan air susu
binatang belum mengalami berbagai modifikasi. Pada permulaan abad ke-20 sudah
dimulai produksi secara masal susu kaleng yang berasal dari air susu sapi sebagai
pengganti ASI. ASI steril berbeda dengan sumber susu lain, susu formula, atau cairan
lain disiapkan dengan air atau bahan-bahan yang terkontaminasi dalam botol yang
kotor.

Pemberian ASI saja tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa menggunakan
botol, menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain yang akan
menyebabkan diare. Keadaan ini disebut disusui secara penuh. Menurut Sulastri
(2009), bahwa bayi-bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6
bulan, setelah 6 bulan dari kehidupannya, pemberian ASI harus diteruskan sambil
ditambahkan dengan makanan lain (proses menyapih). ASI mempunyai khasiat
preventif secara imunologik dengan adanya antibody dan zat-zat lain yang
dikandungnya, ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang
baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4x lebih besar
terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol.

2. Makanan pendamping ASI

Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai
dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Menurut Supariasa dkk (2002) bahwa pda
masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian
makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare
ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian. Perilaku pemberian makanan
pendamping ASI yang baik meliputi perhatian terhadap kapan, apa, dan bagaimana
makanan pendamping ASI diberikan.

Untuk itu menurut Shulman dkk (2004) bahwa ada beberapa saran yang dapat
meningkatkan cara pemberian makanan pendamping ASI yang lebih baik, yaitu

(1) perkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi
teruskan pemberian ASI. Tambahkan macam makanan sewaktu anak
berumur 6 bulan atau lebih. Berikan makanan lebih sering (4x sehari),
setelah anak berumur 1 tahun, berikan semua makanan yang dimasak
dengan baik, 4 - 6x sehari, teruskan pemberian ASI bila mungkin.

(2) Tambahkan minyak, lemak, gula, kedalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk
energy. Tambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacangkacangan,
buah-buahan dan sayuran berwarna hijau kedalam makanannya.

(3) Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, suapi
anak dengan sendok yang bersih.

(4) Masak atau rebus makanan dengan benar, simpan sisanya pada tempat
yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak.

3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) bahwa untuk melakukan pola


perilaku hidup bersih dan sehat dilakukan beberapa penilaian antara lain adalah

(1) penimbangan balita. Apabila ada balita pertanyaannya adalah apakah sudah
ditimbang secara teratur keposyandu minimal 8 kali setahun,

(2) Gizi, anggota keluarga makan dengan gizi seimbang,

(3) Air bersih, keluarga menggunakan air bersih (PAM, sumur) untuk
keperluan sehari-hari,
(4) Jamban keluarga, keluarga buang air besar dijamban/WC yang memenuhi
syarat kesehatan,

(5) Air yang diminum dimasak terlebih dahulu,

(6) Mandi menggunakan sabun mandi,

(7) Selalu cuci tangan sebelum makan dengan menggunakan sabun,

(8) Pencucian peralatan menggunakan sabun,

(9) Limbah,

(10) Terhadap faktor bibit penyakit yaitu

(a) Membrantas sumber penularan penyakit, baik dengan mengobati


penderita maupun carrier atau dengan meniadakan reservoir penyakit,

(b) Mencegah terjadinya penyebaran kuman, baik ditempat umum


maupun dilingkungan rumah,

(c) Meningkatkan taraf hidup rakyat, sehingga dapat memperbaiki dan


memelihara kesehatan,

(d) Terhadap faktor lingkungan, mengubah atau mempengaruhi faktor


lingkungan hidup sehingga faktorfaktor yang tidak baik dapat diawasi
sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia.
BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : DAD
TTL : 28 Februari 2017
Umur : 2 tahun 9 bulan 7 hari
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Raya Sesetan Gang Ikan Mas no 11, Sesetan
Agama : Hindu
No. RM : 36.49.09
Tgl MRS : 4 November 2020
Tgl Pemeriksaan : 4 November 2020
Berat Badan : 15 kg

II. ANAMNESIS (Heteroanamnesis)


Keluhan Utama : BAB cair

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien perempuan usia 2 tahun 9 bulan di bawa oleh orang tuanya ke
Poli Umum Puskesmas Denpasa Selatan 1 dengan keluhan BAB cair.
BAB cair dialami sejak 2 hari sebelum dibawa ke puskesmas.
Pada hari pertama dan kedua frekuensi BAB dikatakan 3x sehari,
sedangkan di hari dibawa ke poli frekuensi BAB yaitu 2x. BAB dengan
konsistensi cair berwarna kecoklatan, tanpa lendir dan darah, disertai
dengan ampas. Volume sekitar setengah gelas setiap kali BAB.
Keluhan lainnya adalah demam sejak 2 hari sebelum dibawa ke
puskesmas, demam dikatakan 37,6. Demam membaik setelah minum obat
penurun panas.
Pasien juga mengalami muntah pada pagi hari sebelum dibawa ke
puskesmas, yaitu sebanyak 1x dengan volume sekitar ¼ gelas setiap
muntah. Muntah berisi cairan dan ampas makanan yang dimakan minum
sebelumnya. Setelah muntah, anak dikatakan lebih rewel, nafsu makan
sedikit menurun. BAK pasien masih tampak baik.

Riwayat Penyakit Terdahulu


Pasien belum pernah mengeluhkan keluhan serupa sebelumnya. Riwayat
penyakit bawaan dan penyakit sistemik seperti penyakit jantung bawaan,
kencing manis, kejang, dan asma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluhan serupa di keluarga pasien disangkal. Keluarga dikatakan
tidak memiliki riwayat penyakit sistemik seperto penyakit jantung dan
kencing manis.
Riwayat Lingkungan dan Sosial.
Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pasien tinggal
bersama kedua orang tua, adik, serta neneknya. Pasien dikatakan tidur
bersama orang tuanya. Selama keluhan pasien muncul, ayahnya
membersihkan kotoran yang menempel di anus dengan menggunakan
tissue, dan tidak mencuci tangan setelah membersihkan kotoran. Di
lingkungan sekitar pasien tidak ada yang memiliki keluhan serupa.
Riwayat Pengobatan
Pasien diberikan paracetamol saat keluhan muncul yang dibeli oleh
ayahnya di apotek.
Riwayat Persalinan
Pasien lahir secara section caesaria karena letak melintang saat
kehamilan. Lahir dengan berat badan 2900 g dengan panjang badan 49 cm
dan segera menangis. Ukuran lingkar kepala dikatakan lupa. Pasien lahir
tanpa kelainan bawaan,

Riwayat Imunisasi

Orang tua pasien mengatakan sudah melakukan pemberian imunisasi


lengkap di puskesmas, yaitu BCG 1 kali, Polio 3 kali, Hepatitis B 4 kali,
HiB 4 kali, DPT 4 kali, dan campak sebanyak 1 kali.

Riwayat Nutrisi

1. ASI : sejak lahir – usia 2 tahun frekuensi on demand.


2. Susu formula : sejak usia 6 bulan, frekuensi on demand.
3. Bubur susu : sejak usia 6 bulan, frekuensi 2-3 kali/hari.
4. Nasi tim : sejak usia 9 bulan, frekuensi 2-3 kali/ hari.
5. Makanan dewasa: sejak usia 12 bulan, frekuensi 2-3 kali/hari.

Riwayat Alergi

Riwayat alergi obat maupun makanan disangkal orang tua pasien. Pasien
belum pernah dilakukan tes alergi sebelumnya.

Riwayat Tumbuh Kembang

Menegakkan kepala : 3 bulan

Membalikkan badan : 4 bulan

Duduk : 6 bulan

Merangkak : 8 bulan

Berdiri : 12 bulan

Berjalan : 13 bulan
Bicara : 13 bulan

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Present
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
Nadi : 125 kali/menit
RR : 28x/menit
Suhu : 37,8

Status Generalis
Kepala :normocephali
Mata : mata cowong +/+, produksi air mata +/+, konjungtiva
pucat -/-, icterus -/-
THT :
Telinga : secret -/-
Hidung : secret -/-
Tenggorok : faring hiperemi -/-, tonsil T1/T1
Lidah : lidah kotor –
Bibir : mukosa bibir kering +
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening –
Thorax : simetris, retraksi –
Jantung : S1S2 normal regular, murmur –
Paru : bronkovesikuler +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : distensi -, BU + normal, nyeri tekan –, turgor kembali
cepat.
Kulit : turgor kembali cepat
Ekstremitas : teraba hangat +/+ , edema -/-, CRT <= 2 detik
Anus : hiperemis (-)
Diagnosis kerja:
Diare akut dehidrasi ringan sedang

IV. DIAGNOSIS
Diare akut dehidrasi ringan sedang

V. PENATALAKSANAAN
- Cairan oralit 100-200 ml setiap kali BAB
- Zinc (interzinc) 20 mg tiap 24 jam selama 10 hari.

VI. MONITORING
- Keluhan dan tanda vital
- Cairan masuk cairan keluar
- Tanda dehidrasi dan kesadaran

VII. KIE
- Menjelaskan kepada orang tua pasien mengenai penyakit yang dialami
pasien, perjalanan penyakit, diagnosis, tindakan, dan rencana
tatalaksana pasien, serta prognosis.
- Memberikan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kebersihan diri
dan lingkungan untuk mencegah timbulnya keluhan berulang, akibat
transmisi fecal oral.

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad functionam : bonam
Ad sanationam : bonam
BAB IV

PEMBAHASAN

Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pasien mengalami BAB cair sebanyak 3x dalam sehari sebelum ke puskesmas dan 2
kali BAB cair keesokan harinya. Volume perkiraan setiap pasien BAB sebanyak
setengah gelas, feses berwarna kuning kecoklatan, tidak disertai lendir dan darah. Ibu
pasien mengeluhkan 2 hari sebelum dibawa ke puskesmas, pasien mengalami demam
37,6 dan membaik dengan obat paracetamol. Pasien sempat muntah 1 kali sebanyak
¼ gelas berupa sisa makanan.

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda


dehidrasi ringan berupa anak rewel dan haus pada pasien ini, keadaan umum tampak
sakit sedang; suhu dalam batas normal, frekuensi nadi dan frekuensi nafas dalam
batas normal, status gizi baik. Pada pasien ini tidak terdapat mata dan turgor kulit
kembali segera. Dari pemeriksaan abdomen ditemukan bising usus meningkat.

Pada pasien ini didapatkan faktor risiko yang mendukung terjadinya diare, seperti
kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya kebersihan pada lingkungan pasien
seperti mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan/mengganti
popok/pampers.

Diare akut merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak yang berusia dibawah
lima tahun. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara
diare persisten atau diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
Pada pasien ini, diare yang berlangsung masih kurang dari 14 hari sehingga dapat
dikatakan pasien mengalami diare akut.

Pada pasien dilakukan pengobatan berupa pemberian oralit, dan zinc. Pemberian
oralit kepada pasien diare dimaksudkan untuk mengganti elektrolit yang hilang
bersama BAB cair.Walaupun air sangat penting untuk mencegah dehidrasi, air
minum tidak mengandung garam elektrolit yang diperlukan untuk mempertahankan
keseimbangan elektrolit dalam tubuh, sehingga lebih diutamakan oralit. Glukosa dan
garam yang terkandung dalam orait dapat diserap dengan baik oleh usus penderita
diare. Pemberian oralit sesuai dengan banyak nya BAB cair, hal ini dilakukan sebagai
upaya untuk mencegah supaya tidak terjadi dehidrasi yang lebih berat pada pasien.

Pasien juga mendapatkan tabet zinc 20 mg yang dikonsumsi selama 10 hari.


Penggunaan zinc ini memang popular beberapa tahun terakhir karena memilik
evidence based yang baik. Beberapa penelitian telah membuktikannya. Pemberian
zinc yang dilakukan di awal masa diare selama 10 hari ke depan secara signifikan
menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien. Zinc dapat menigkatkan kekebalan
tubuhsehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare 2-3 bulan setelah anak
sembuh dari diare. Pemberian zinc harus tetap dilanjutkan meskipun diare sudah
berhenti. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap
berulangnya diare pada 2-3 bulan kedepan.