Anda di halaman 1dari 7

PENGANTAR EKONOMI MAKRO

1. Negara Republik Hipotetik merupakan negara ekonomi kecil yang hanya


menghasilkan tiga produk yaitu roti, keju dan pizza, diproduksi oleh perusahaan yang
berbeda. Perusahaan roti dan keju memiliki semua faktor input yang diperlukan untuk
membuat roti dan keju tersebut. Perusahaan pizza menggunakan roti dan keju yang
diproduksi perusahaan lain untuk membuat pizza. Ketiga perusahaan mempekerjakan
tenaga kerja untuk menghasilkan produk mereka. Tabel berikut meringkas aktifitas
ketiga perusahaan, dimana semua roti dan keju yang dihasilkan dijual kepada
perusahaan pizza untuk memproduksi pizza.

Pertanyaan
Berapakah nilai PDB Negara Hipotetik jika dihitung dengan tiga pendekatan yang
berbeda dan hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menggunakan tiap
pendekatan tersebut ?
Jawab:
Ada tiga pendekatan dalam menghitung pendapatan suatu negara.
a. Pendekatan Produksi (Production Approach)
Dengan menjumlahkan nilai produksi tiap-tiap sektor ekonomi atau dengan
menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah (value added) dari semua kegiatan
ekonomi yang dihasilkan perusahaan.
Y = NTB1 + NTB2 + NTB3 + …. + NTBn

Perusahaan Nilai Output Nilai Tambah


Roti Rp50 Rp50
Keju Rp35 Rp -15
Pizza Rp200 Rp165
Jumlah Rp200
Dari penghitungan di atas, besar sumbangan bagi pendapatan nasional adalah jumlah
seluruh nilai tambah Pizza sebesar Rp200 atau harga akhir dari produk Pizza. Proses
penghitungan dengan cara menjumlahkan nilai tambah yang dihasilkan berbagai
sektor perekonomian bertujuan mengetahui sumbangan berbagai sektor ekonomi
dalam penghitungan pendapatan nasional dan menghindari penghitungan ganda
karena yang dihitung hanya nilai produk neto.

b. Pendekatan Pendapatan (Income Approah)

Metode pendekatan pendapatan, besarnya pendapatan nasional dihitung dengan


menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi
yang digunakan dalam menghasilkan barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara
selama satu tahun. Pendapatan dari faktor produksi meliputi upah dan gaji, sewa
tanah, bunga modal, dan laba.

Y=r+w+i+p

Komoditas Y=r+w+i+p Jumlah


Roti 0 + 15 + 50 65
Keju 0 + 20 + 35 55
Pizza 50 + 35 + 75 + 200 360
Total 480
Jadi dengan metode ini diperoleh PDB Rp480

c. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)

Karena negara hipotetik merupakan negara kecil maka tidak bisa menggunakan
perhitungan pendekatan pengeluaran. Pendekatan ini dilakukan dengan cara
menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh para penerima pendapatan
seperti rumah tangga konsumen, rumah tangga produsen, rumah tangga negara, dan
masyarakat luar negeri.

2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melejit Waktu yang Tepat Memulai Investasi


Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II-
2021 mengalami peningkatan hingga 7,07 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Lebih lanjut, ekonomi Indonesia triwulan II-2021 mengalami pertumbuhan sebesar
3,31 persen (quartal to quartal) dari triwulan sebelumnya. Peningkatan ekonomi
Indonesia pada triwulan II-2021 terutama didorong oleh peningkatan kinerja ekspor,
konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Salah satu hal yang
cukup berperan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah investasi. Kinerja
investasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan mulai mengalami peningkatan.
Selama kuartal ini, realisasi nilai investasi mencapai 223 triliun.
Sumber: www.bkpm.go.id dan www.kemenkeu.go.id
Pertanyaan
Apabila realisasi investasi bertambah hingga menjadi sebesar Rp 383 triliun di
triwulan III dan pada saat tambahan investasi terjadi, terjadi pula perubahan tabungan
(saving) sebesar Rp 40 triliun, berapakah besarnya perubahan PDB saat terjadinya
peningkatan investasi dan berapa pula total perubahan konsumsi (consumption)
setelah bekerjanya sistem pengganda (multiplier effect)? Gambarkan dan jelaskan
perubahan kurva permintaan agregat dengan adanya tambahan investasi tersebut!
Jawab:

Hubungan antara perubahan investasi dengan perubahan pendapatan nasional ekuilibir
ium yang diakibatkan oleh perunbahan investasi dapat diterangkan oleh konsep angka
pengganda. Perumusan daripada angka pengganda in+estasi adalah sebesar ∆l
yang akanmengakibatkan Pendapatan Nasional mengalami perubahan dari Y menjadi
Y +∆Y. Jadi perubahan PDB adaah koefisien Multilpier dikali dengan Rp40 T.
Sedangkan perubahan konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan, jadi jika pendapatan
meningkat maka konsumsi akan meningkat. Jika investasi meningkat
mengindikasikan komsumsi masyarakat yang menurun karena tingginya laju tabungan
yang berdampak terhadap investasi.

Melalui grafik dijelaskan bahwa tingkat harga yang lebih rendah menurunkan
permintaan uang. Untuk membeli sejumlah barang dengan kuantitas yang sama
daripada sebelumnya, pelaku ekonomi membutuhkan lebih sedikit uang. Di pasar
keuangan, penurunan permintaan uang akan mendong harga uang turun. Dan, dalam
ekonomi, harga dari sebuah uang adalah suku bunga. Jadi, tingkat harga yang lebih
rendah akan menurunkan suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah menurunkan
biaya investasi modal, mendorong bisnis untuk meningkatkan investasi mereka.Tidak
hanya itu. Suku bunga rendah juga mendorong rumah tangga untuk mengajukan
pinjaman baru. Untuk beberapa item seperti rumah dan mobil, rumah tangga membeli
tidak secara tunai melainkan dibiayai melalui pinjaman. Oleh karena itu, ketika suku
bunga rendah, rumah tangga juga akan cenderung meningkatkan belanja beberapa
barang. Efek sebaliknya juga berlaku ketika tingkat harga naik. Itu mendorong suku
bunga naik dan melemahkan investasi bisnis dan konsumsi rumah tangga.

3. Pertumbuhan Positif 7,07 Persen, RI Resmi Keluar dari Resesi


Ekonomi Indonesia akhirnya terlepas dari jerat resesi. Ini terjadi setelah ekonomi
Indonesia pada kuartal II 2021 berhasil melesat 7,07 persen. Dengan pencapaian
tersebut, ekonomi Indonesia yang dalam beberapa kuartal terakhir minus berhasil
kembali ke zona positif sehingga keluar dari resesi. BPS menyatakan bila
dibandingkan secara kuartalan maupun tahunan, pertumbuhan yang terjadi pada
kuartal II ini lebih tinggi dari kuartal I 2021 yang minus 0,74 persen dan kuartal II
2020 yang minus 5,32 persen.
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi didukung oleh meningkatnya mobilitas
masyarakat di kuartal II 2021. Hal ini tercermin dari peningkatan mobilitas
masyarakat ke tempat berbelanja hingga ke luar kota yang terpantau melalui
perjalanan menggunakan berbagai moda transportasi. "Misalnya, untuk penerbangan
domestik untuk April, Mei, Juni 2021 ini lebih baik dari April, Mei, Juni 2020,"
katanya. Lebih lanjut, peningkatan mobilitas turut mengerek tingkat konsumsi
masyarakat dan investasi. Salah satunya tercermin dari penjualan sepeda motor yang
naik 10,65 persen pada kuartal II dari kuartal I 2021 dan 268,64 persen dari kuartal I
2021.
Sumber: www.cnnindonesia.com
Pertanyaan
Permintaan dan penawaran uang beradar dalam posisi keseimbangan (equilibrium) di
titik E0 saat ekonomi Indonesia mulai keluar dari resesi. Dengan menggunakan
diagram awal berikut, jelaskan dengan disertai diagram, apa yang akan terjadi
terhadap suku bunga (r) jika Bank Indonesia tetap mempertahankan jumlah uang
beredar sebanyak MS0!

Jawab:

Dalam teori Keynes yang menyatakan bahwa suku bunga akan bergerak untuk
menyeimbangkan jumlah uang beredar dan jumlah permintaan uang.

Dalam grafik diatas dijelaskan bahwa Jika suku bunga berada di atas keseimbangan
(seperti pada r1) jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat (M0) lebih sedikit
dan kelebihan uang ini menurunkan suku bunga. Sebaliknya, jika suku bunga berada
di bawah keseimbangan seperti pada r2, jumlah uang yang ingin dipegang oleh
masyarakat (M0) lebih besar sehingga kekurangan uang ini akan menaikkan suku
bunga.

Dalam kasus perekonomian Indonesia yang mulai membaik dengan berhasilnya


keluar dari resesi Kondisi likuiditas lebih dari cukup sehingga terus mendorong
penurunan suku bunga dan kondusif bagi pembiayaan perekonomian. Dengan
demikian, dengan mempertahankan jumlah uang yang beredar maka BI bisa saja tetap
mempertahankan suku Bungan acuan untuk mendompleng perekonomian Indonesia
yang saat ini masih tidak stabil karena pandemic yang tak terbaca.

4. RI Pernah Punya Pengalaman Ngeri Kebanyakan Cetak Uang Lho


Sebenarnya Indonesia pernah melakukan cetak uang dalam jumlah besar pada masa
periode demokrasi terpimpin. Saat itu Indonesia sedang membutuhkan dana besar
untuk berbagai kebutuhan. Penerimaan negara saat itu tidak mencukupi disaat
kebutuhan belanja semakin membesar. Pada akhirnya dipilih cara yang paling mudah
yakni dengan meminjam dari BI yang kemudian dipenuhi dengan cara mencetak
uang. Namun yang terjadi justru membuat kondisi semakin buruk. Salah satunya
inflasi yang mengalami kenaikan yang sangat tinggi atau disebut hiperinflasi. "Karena
kondisi politik memburuk serta alur distribusi barang yang tidak terukur, kebijakan
mencetak uang akhirnya mengubah inflasi biasa menjadi hiperinflasi di periode tahun
1961".
Sumber: www.detik.com
Pertanyaan
Jelaskan dengan menggunakan diagram hubungan jangka pendek (sort term) antara
pencetakan uang oleh Bank Indonesia (BI) dengan terjadinya inflasi sebagaimana
pemberitaan tersebut di atas!
Jawab:

Dapat dijelaskan bahwa jika BI mengubah jumlah uang yang beredar, misalnya
dengan mencetak lebih banyak uang, ekuilibrium supply dan demand terhadap uang
akan berubah Bertambahnya jumlah uang beredar menggeser kurva supply dari MS1
ke MS2, sehingga titik equilibrium ikut bergeser dari A ke B. Akibatnya, nilai uang
turun dari ½ ke ¼, dan tingkat harga equilibrium naik dari 2 ke 4. Dengan kata lain,
meningkatnya jumlah uang beredar mendorong terjadinya kenaikan harga yang
menyebabkan nilai uang menjadi turun. Hal inilah yang menjadi dasar hiperinflasi
yang telah dipaparkan di atas.
Namun, dalam jangka pendek jumlah uang beredar tidak berpengaruh signifikan
dengan pola hubungan yang positif. dapat dilihat bahwa jumlah uang beredar yang
selalu meningkat selama periode tertentu sementara laju inflasi bersifat fluktuatif.
Kecenderungan meningkatnya jumlah uang beredar ini lebih dikarenakan kebijakan
BI untuk menggairahkan sektor riil dalam menopang laju pembangunan dan tingginya
tingkat investasi dari investor luar negeri sehingga berdampak pada semakin
bertambahnya uang beredar itu sendiri. Sesuai dengan teori Keynes yang menyatakan
bahwa perputaran uang tidak konstan dan berubah-ubah. Apabila masyarakat lebih
banyak memegang uang (JUB meningkat), maka masyarakat cenderung untuk
meningkatkan transaksinya dan menuntut penawaran output yang lebih besar. Namun
karena keterbatasan output dalam jangka pendek, maka kenaikan permintaan hanya
akan memicu kenaikan harga. Dengan kata lain, penambahan JUB dalam
perekonomian dapat meningkatkan inflasi.

Anda mungkin juga menyukai