Anda di halaman 1dari 8

RETENSI ENERGI PADA IKAN

Oleh :
Nama : Galang Sila Persada
NIM : B1J008115
Rombongan : IV
Kelompok :1
Asisten : Prasetyo Ardiansyah

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2009
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Diket : Bobot ikan awal : 15,6 gr


Bobot kering ikan awal : 3,9 gr
Bobot basah ikan akhir : 26 gr
Bobot kering ikan akhir : 7,6 gr
Energi ikan awal : 4923,9581 kal/gr
Energi ikan akhir : 5963,5482 kal/gr
Energi pakan ikan : 4059, 7925 kal/gr
KCR :1

Ditanyakan : Retensi energi ?


Jawab :
a) Σ E ikan awal,
Bobot kering ikan awal x Energi ikan awal = 3,9 gr x 4923,9581 kal/gr
= 19203,4366 kal
b) Σ E ikan akhir,
Bobot kering ikan ahir x Energi ikan ahir = 7,6 gr x 5963,5482 kal/gr
= 45322,9663 kal/gr
c) Nilai jumlah energi pakan,
Σ E pakan yang dikonsumsi x nilai energi pakan = 10,4 gr x 4059,7925 kal/gr
= 42221,842 kal
d) Retensi energi,
= Jumlah energi ahir – jumlah energi awal x 100 %
Jumlah energi pakan

= 45322,9663 kal/g – 19203,4366 kal/gr x 100 %


42221,842 kal
= 61,86 %

B. Pembahasan
Retensi energi adalah besarnya energi pakan yang dikonsumsi ikan yang
dapat disimpan dalam tubuh. Retensi energi menunjukkan besarnya kontribusi
energi pakan yang dikonsumsi terhadap pertambahan energi tubuh ikan. Bom
kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur retensi energi. Komponen
bom kalorimeter yaitu tabung oksigen, kondensor, mesin pendingin, mesin utama
dan printer. Ikan yang telah dikeringkan dengan oven selama 7 hari dihancurkan
dengan blender kemudian dibentuk menjadi pil kotak dengan menggunakan
pencetak pil. Pil yang dihasilkan kemudian ditimbang dahulu dengan timbangan
analitik sebelum di bom. Berat pil yang akan di bom tidak boleh melebihi 0,9 gram.
Pil yang telah ditimbang dimasukkan dalam tabung bom dan diletakkan kawat
wolfram di atasnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyentuh pakan
yang akan di bom, kemudian dimasukkan ke dalam bom kalorimeter. Hasil yang
didapat berupa output angka dari printer. Perhitungan yang diperoleh berdasarkan
hasil dari percobaan diperoleh retensi energi ikan Nilem adalah 61,86 %. Retensi
energi ikan pada umumnya berkisar antara 24-36 %. proporsi energi yang
dialokasikan pada berbagai komponen anggaran energi berubah dengan
meningtkatnya ukuran tubuh ikan. Ikan yang diberi pakan dengan komposisi
berbeda menunjukkan retensi energi yang berbeda pula. Pakan merupakan salah
satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangan budidaya ikan air tawar, air
payau atau air laut (Elliot dan Elliot, 1997).
Menurut Kumar dan Tembre (1997), menyatakan Retensi energi
berhubungan dengan kadar protein pakan karena pakan selain mengandung
karbohidrat dan lemak juga mengandung protein yang berguna sebagai sumber
energi dan pertumbuhan. Ikan tidak dapat mensintesis protein yang banyak
mengandung asam amino, karena struktur protein tidak dapat disintesis ketika salah
satu atau lebih asam amino yang mengandung rantai protein spesifik telah hilang.
Kekurangan asam amino dapat menyebabkan perkembangan vertebrata yang
abnormal seperti lordosis skoliosis dan rata-rata pertumbuhannya sangat menurun.
Ikan dewasa memerlukan protein rata-rata sebanyak 30% pada suhu 15o C.
Nilai kalori pakan sering dipakai untuk mengukur ketersediaan energi
pakan. Karbohidrat, lemak, dan protein merupakan sumber energi. Energi yang
diperoleh dari pakan, sebagian digunakan untuk aktivitas metabolisme dan
sebagian lagi hilang dalam bentuk feses dan sampah metabolik yang disekresi
(Sudibyo, 1999).
Menurut Moyle and Cech (2000), Protein merupakan sumber energi
yang penting dalam proses metabolisme ikan. Makanan sebagai sumber protein
dikatakan baik tergantung pada kualitas protein yang dikandungnya dan gambaran
komposisi dari keseimbangan asam-asam amino protein tersebut. Kualitas suatu
protein secara kuantitatif dapat ditentukan dengan berbagai cara, misalnya dengan
mengukur pertambahan berat badan atau pertumbuhan (Growth Assay) dimana
bahan atau pakan yang digunakan dibandingkan dengan ransum kontrol dengan
kadar protein yang sama (Parakkasi, 1983).
Menurut Yuwono (2001), kebutuhan protein ikan Nilem untuk
pertumbuhan optimalnya adalah 25 – 35%. Berdasarkan pustaka tersebut maka
pakan yang mengandung 30% protein sudah dapat memenuhi kebutuhan ikan
Nilem dalam pertumbuhan optimalnya. Tingginya kadar protein pakan
mengakibatkan energi yang diperoleh dari pakan dan sumber lainnya tidak mampu
menunjang kebutuhan, karena energi ikan banyak dipakai untuk deaminasi protein
sehingga pertumbuhan ikan terhambat dan apabila kadar protein terlalu rendah
maka energi yang diperoleh dari protein mungkin hanya cukup untuk aktivitas.
Menurut Catdown (1981), Konversi pakan merupakan salah satu cara
untuk mengetahui kualitas pakan. Kualitas pakan akan semakin baik jika konversi
pakannya semakin rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi pakan
buatan antara lain banyaknya pakan yang dimakan, kandungan protein, ukuran
ikan, partikel pakan dan frekuensi pemberian pakan. Fungsi utama pakan adalah
untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Pakan yang dimakan oleh ikan
pertama-tama digunakan untuk kelangsungan hidupnya dan apabila ada kelebihan,
akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan (Djajasewaka, 1990). Jumlah pakan yang
diberikan pada ikan hendaknya 5-10% dari berat total dan frekuensi pemberian
pakan sebanyak 2-3 kali sehari. Namun jumlah tersebut, dapat berubah-ubah
tergantung pada suhu lingkungan, semakin rendah suhu maka jumlah makanan
yang dikonsumsi semakin sedikit (Mujiman, 1985). Menurut Al Hafedh (1999), ikan
yang besar menunjukkan pertumbuhan yang tidak berbeda nyata jika diberi pakan
yang mengandung 30-35%, 40-45%, tetapi ikan tersebut akan tumbuh lambat jika
kandungan protein pakannya hanya 25%. Jumlah makanan dalam jumlah frekuensi
pemberian pakan pada ikan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
pertumbuan dan kelangsungan hidup (Djajasewaka, 1985).
Menurut Yuwono (2001), selain kualitas pakan, pertumbuhan ikan juga
dipengaruhi oleh frekuensi pemberian pakan. Tingginya tingkat kematian saat
pemeliharaan disebabkan pakan yang tidak tepat jenis, jumlah dan waktu
pemberiannya. Biasanya ikan mempunyai waktu-waktu tertentu yang menujukkan
aktivitas makannya tinggi. Pemberian pakan yang terus-menerus tanpa
memperhatikan waktu kurang efektif, karena semakin lama berada di air kualitas
pakan akan semakin menurun dan menyebabkan kualitas air juga menurun (air
menjadi keruh).
Rasio besarnya pertambahan energi tubuh terhadap jumlah energi
pakan yang dikonsumsi akan mencerminkan tingkat efisiensi energi pakan atau
retensi energi. Menurut Mujiman (1985), retensi energi dipengaruhi beberapa faktor
antara lain :
a) Kualitas pakan
Ikan yang diberi pakan yang berbeda-beda menunjukkan pertumbuhan yang
berbeda pula. Ikan pada umumnya memerlukan protein sekitar 20 – 60% dari
pakan yang diberikan dan kadar optimumnya adalah 30 – 36%. Kadar protein
dalam makanan kurang dari 6% berat basah, ikan tidak dapat tumbuh dengan
baik.
b) Umur ikan
Ikan muda relatif membutuhkan protein yang lebih banyak daripada ikan
dewasa, sebab ikan muda membutuhkan banyak nutrisi untuk bergerak dan
tumbuh.
c) Ukuran tubuh
Proporsi energi yang didistribusikan pada berbagai komponen retensi energi
berubah dengan meningkatnya ukuran tubuh.
Menurut Halver (1989), selain faktor internal, faktor eksternal seperti suhu juga
berpengaruh terhadap retensi energi. Temperatur 30 – 400 C akan menyebabkan
terjadinya peningkatan metabolisme yang sangat cepat dan menghasilkan
peningkatan retensi energi.
Menurut Arrie (1999), bahwa kebutuhan protein pakan pada ikan Nila
minimumnya 25% dan juga menyatakan bahwa energi pakan digunakan untuk
metabolisme dan aktivitas, baru kelebihan energi yang digunakan untuk
pertumbuhan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Lagler et. al, (1997), yang
menyatakan bahwa ikan membutuhkan protein 20-60% sebagai komponen penting
pemeliharaan dalam tubuh, pengganti alat tubuh yang rusak, serta proses anabolik,
sedangkan karbohidrat dan lemak digunakan sebagai sumber energi. Kandungan
protein yang dibutuhkan oleh ikan adalah 40% (Maynard, 1981). Kandungan protein
sebesar 40-50% merupakan formula pakan yang cocok untuk ikan. Pendapat lain
tentang kandungan protein yang dibutuhkan ikan yaitu sekitar 12-16% (Moyle and
Cech, 2000).
Ikan yang digunakan dalam praktikum kali ini merupakan ikan herbivor.
Yaitu jenis ikan yang makan makanan berupa tumbuh-tumbuhan. Ummnya ikan
jenis ini memiliki usus menggulung dan panjang.selain mengkonsumsi tumbuhan,
mereka juga makan alga. Sedangkan pada ikan karnivora yaitu ikan yang makan
daging, cirinya yaitu memiliki usus yang pendek dan tidak menggulung serta gigi
tarng. Jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan merupakan antara feed convertion
ratio yang sebanding dengan pertambahan bobot ikan. Jadi, FCR merupakan
jumlah perbandingan terbalik dari pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan
bobot tubuh (Mazurkiewicz, et al. 2008)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai


berikut:
1. Besarnya retensi energi ikan Nilem yang diberi pakan adalah 43,53 %
2. Ikan yang diberi pakan yang berbeda-beda menunjukkan pertumbuhan yang

berbeda pula.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi energi antara lain kualitas pakan,

umur ikan, ukuran tubuh, frekuensi pemberian pakan, dan temperatur.


4. Kandungan pakan yang dibutuhkan oleh ikan agar dapat tumbuh dengan

baik adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

DAFTAR REFERENSI

Arrie, U. 1999. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya, Jakarta.

Al. Hafedh, Y. S. A. 1999. Effects of Dietary Protein. Mc Hill Book Company,


London.

Catdown, I. G. 1981. Eartwoon a New Source of Protein. W. B. Sounders Co.,


London.

Elliot, W. H and Elliot, D. C. 1997 Biochemistry and Molecular Biology. Oxford


University Press, New York.

Djajasewaka, H. 1985. Pakan Ikan. CV Yasaguna, Jakarta.


Halver, J. A. 1989. Fish Nutrition. Academic Press, New York.

Kumar, S dan M. Tembhre.1997. Anatomy and Physiology of Fishes. Vikas


Publishing House PVT Ltd., New Delhi.
Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passinc. 1997. Ichthyology. John
Wiley and Sons, Inc., New York.

Moyle, B. P. dan Cech J. J. 2001. Fish and Introduction to Ichtiology. Prentice Hall.
Inc., New York.

Mazurkiewicz, J, Antoni Przybyl and Janusz Golski.2008. Evaluation of selected


Feeds Differing in Dietary Lipids Levels in Feeding Juvenils Of Wels
Catfish, Silurus Glanis L. Acta Ichthyologica et Piscatoria, 38(2):91-96.

Mujiman, A. 1985. Makanan Ikan. PT. Penebar Swadaya, Bogor.

Okon, I.B. and A.A. Ayuk. 2007. Nutrient and Mineral of Broilers Fed Periwinkle
Flesh.Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, University of
Calabar. Nigeria.Vol 2(6) Hal : 646-650

Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Angkasa, Bandung.

Sudibyo, P. H. T. 1999. Variasi Fisiologi Ikan Gurami Dalam Menghadapi


Ketersediaan Sumber Pakan. ITB, Bandung.

Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.