Anda di halaman 1dari 8

ISLAM DAN PLURALISME

A. LATAR BELAKANG
Pluralisme agama telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering
dibicarakan akhir-akhir abad 20, khususnya di Indonesia. Wacana ini sebenarnya ingin
menjembatani hubungan antaragama yang seringkali terjadi disharmonis dengan
mengatasnamakan agama, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun
kekerasan antarumat beragama.
Di kalangan media saat ini terdapat pandangan umum bahwa Islam tidak
mendukung pluralisme. Lebih menyedihkan lagi, kerap kali kita mendengar bagaimana
susahnya minoritas non-Muslim untuk bisa hidup secara damai dan harmonis di negara-
negara Muslim. Tindakan kekerasan orang-orang ekstrimis yang menyalahgunakan
teologi Islam untuk membenarkan serangan jahatnya semakin mengentalkan prasangka
buruk terhadap Muslim, dan saat ini banyak orang mengira bahwa orang-orang Muslim
tidak percaya akan pluralisme dan keragaman. Padahal, sebaliknya, sejarah
menunjukkan bahwa Islam, sebagaimana diajarkan oleh al-Qur’an serta dicontohkan
oleh Nabi Muhammad beserta para sahabatnya benar-benar menerima, merayakan, dan
bahkan mendorong kemajemukan.
Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,
persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut
Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak
mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat
menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-
hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing
dengan penuh kesungguhan.
Meninggalnya Gus Dur (Abdurrahman Wahid) menjadi moment penting bagi para
penyokong ajaran pluralisme untuk kembali menggiatkan kampanyenya mengusung
gagasannya. Salah satu agenda penting yang akan digoalkan saat ini adalah menjadikan
Gus Dur sebagai pahlawan Nasional, karena jasa-jasanya dalam membangun persatuan
bangsa. Sebagian lagi menganggapnya sebagai “Bapak Pluralisme”, tak main-main
yang mengatakan demikian adalah presiden SBY. Padahal, di sisi lain, MUI telah
berfatwa tentang haramnya pemahaman pluralisme ini.
Realitas di atas menunjukkan bahwa pemikiran pluralisme semakin diterima
secara luas di masyarakat. Padahal sekali lagi, pemikiran itu tidak sejalan dengan ajaran
Islam. Terlepas dari siapa yang mengusungnya, ide pluralisme ini memang layak
mendapat sorotan. Karena jika tidak disikapi dengan serius, maka ia bisa menjadi virus-
virus pemikiran yang akan menggerogoti kemurnian pemikiran Islam. Apalagi jika ide
tersebut diemban oleh orang-orang yang memiliki pengaruh di negeri ini.

B. ARTI PLURALISME
Secara sederhana pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi
adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya
menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui
kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya.
Pluralisme agama bisa dipahami dalam minimum tiga kategori. Pertama, kategori
sosial. Dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada
dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati
iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya. Kedua, kategori etika atau moral.
Dalam hal ini pluralisme agama berarti bahwa ”semua pandangan moral dari masing-
masing agama bersifat relatif dan sah”. Jika kita menganut pluralisme agama dalam
nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki
pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung,
eutanasia, dll. Ketiga, kategori teologi-filosofi. Secara sederhana berarti ”agama-agama
pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. Mungkin
kalimat yang lebih umum adalah ”banyak jalan menuju Roma”. Semua agama menuju
pada Allah, hanya jalannya yang berbeda-beda
Kata “pluralisme agama” berasal dari dua kata, yaitu “pluralisme” dan “agama”
dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan “al-ta’ddudiyah” dan dalam bahsa Inggris
“religius pluralism”. Dalam bahasa Belanda, merupakan gabungan dari kata plural dan
isme. Kata “plural” diartikan dengan menunjukkan lebih dari satu. Sedangkan isme
diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan paham atau aliran. Dalam bahasa
Inggris disebut pluralism yang berasal dari kata “plural” yang berarti lebih dari satu atau
banyak. Dalam Kamus The Contemporary Engglish-Indonesia Dictionary, kata “plural”
diartikan dengan lebih dari satu/jamak dan berkenaan dengan keaneka ragaman. Jadi
pluralisme, adalah paham atau sikap terhadap keadaan majemuk, baik dalam konteks
sosial, budaya, politik, maupun agama. Sedangkan kata “agama” dalam agama Islam
diistilahkan dengan “din” secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, jalan. Pluralisme
agama adalah kondisi hidup bersama antarpenganut agama yang berbeda-beda dalam
satu komonitas dengan tetap mempertahankan cirri-ciri spesifik ajaran masing-masing
agama.
Dengan demikian yang dimaksud “pluralisme agama” adalah terdapat lebih dari
satu agama (samawi dan ardhi) yang mempunyai eksistensi hidup berdampingan, saling
bekerja sama dan saling berinteraksi antara penganut satu agama dengan penganut
agama lainnya, atau dalam pengertian yang lain, setiap penganut agama dituntut bukan
saja mengakui keberadan dan menghormati hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam
usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam
keragaman. Dalam prepektif sosiologi agama, secara terminology, pluralisme agama
dipahami sebagai suatu sikap mengakui dan menerima kenyataan kemajemukan sebagai
yang bernilai positif dan merupakan ketentuan dan rahmat Tuhan kepada manusia
Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi
beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi
satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa
konflik asimilasi.
Pluralisme dapat dikatakan salah satu ciri khas masyarakat modern dan kelompok
sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam
ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.
Dalam sebuah masyarakat otoriter atau oligarkis, ada konsentrasi kekuasaan
politik dan keputusan dibuat oleh hanya sedikit anggota. Sebaliknya, dalam masyarakat
pluralistis, kekuasaan dan penentuan keputusan (dan kemilikan kekuasaan) lebih
tersebar.
Dipercayai bahwa hal ini menghasilkan partisipasi yang lebih tersebar luas dan
menghasilkan partisipasi yang lebih luas dan komitmen dari anggota masyarakat, dan
oleh karena itu hasil yang lebih baik. Contoh kelompok-kelompok dan situasi-situasi di
mana pluralisme adalah penting ialah: perusahaan, badan-badan politik dan ekonomi,
perhimpunan ilmiah.
Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme proses ilmiah adalah faktor utama
dalam pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan. Pada gilirannya, pertumbuhan
pengetahuan dapat dikatakan menyebabkan kesejahteraan manusiawi bertambah,
karena, misalnya, lebih besar kinerja dan pertumbuhan ekonomi dan lebih baiklah
teknologi kedokteran.
Pluralisme juga menunjukkan hak-hak individu dalam memutuskan
kebenaran universalnya masing-masing.
Dalam ilmu sosial, pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi
beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi
satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa
konflik asimilasi.

C. LATAR BELAKANG MUNCULNYA GERAKAN PLURALISME


Paham ini muncul akibat reaksi dari tumbuhnya klaim kebenaran oleh masing-
masing kelompok terhadap pemikirannya sendiri. Persoalan klaim kebenaran inilah
yang dianggap sebagai pemicu lahirnya radikalisasi agama, perang dan penindasan atas
nama agama. Konflik horisontal antar pemeluk agama hanya akan selesai jika masing-
masing agama tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang paling benar. Itulah
tujuan akhir dari gerakan pluralisme ; untuk menghilangkan keyakinan akan klaim
kebenaran agama dan paham yang dianut, sedangkan yang lain salah.
Pikiran yang menganggap semua agama itu sama telah lama masuk ke Indonesia
dan beberapa negara Islam lainnya. Tapi akhir-akhir ini pikiran itu menjelma menjadi
sebuah paham dan gerakan “baru” yang kehadirannya serasa begitu mendadak, tiba-tiba
dan mengejutkan. Ummat Islam seperti mendapat kerja rumah baru dari luar rumahnya
sendiri. Padahal ummat Islam dari sejak dulu hingga kini telah biasa hidup ditengah
kebhinekaan atau pluralitas agama dan menerimanya sebagai realitas sosial.
Piagam Madinah dengan jelas sekali mengakomodir pluralitas agama saat itu dan
para ulama telah pula menjelaskan hukum-hukum terkait. Apa sebenarnya dibalik
gerakan ini?
Sebenarnya paham inipun bukan baru. Akar-akarnya seumur dengan akar
modernisme di Barat dan gagasannya timbul dari perspektif dan pengalaman manusia
Barat. Namun kalangan ummat Islam pendukung paham ini mencari-cari akarnya dari
kondisi masyarakat Islam dan juga ajaran Islam. Kesalahan yang terjadi, akhirnya
adalah menganggap realitas kemajmukan (pluralitas) agama-agama dan paham
pluralisme agama sebagai sama saja.
Parahnya, pluralisme agama malah dianggap realitas dan sunnatullah. Padahal
keduanya sangat berbeda. Yang pertama (pluralitas agama) adalah kondisi dimana
berbagai macam agama wujud secara bersamaan dalam suatu masyarakat atau Negara.
Sedangkan yang kedua (pluralisme agama) adalah suatu paham yang menjadi tema
penting dalam disiplin sosiologi, teologi dan filsafat agama yang berkembang di Barat
dan juga agenda penting globalisasi.
Solusi Islam terhadap adanya pluralitas agama adalah dengan mengakui
perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum diinukum wa liya diin). Tapi
solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan
sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada.
Jadi menganggap pluralisme agama sebagai sunnatullah adalah klaim yang
berlebihan dan tidak benar.
Dalam paham pluralisme agama yang berkembang di Barat sendiri terdapat
sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda: yaitu paham yang dikenal dengan
program teologi global (global theology) dan paham kesatuan transenden agama-agama
(Transcendent Unity of Religions). Kedua aliran ini telah membangun gagasan, konsep
dan prinsip masing-masing yang akhirnya menjadi paham yang sistemik. Karena itu
yang satu menyalahkan yang lain.

D. ARGUMEN PLURALISME
Dalam mengajarkan gagasan ini mereka sering mengumpamakan agama dengan
tiga orang buta yang menjelaskan tentang bentuk gajah. Ketiga orang buta itu diminta
untuk memegang gajah, ada yang memegang telinganya, ada yang memegang kakinya,
dan ada yang memegang belalainya. Setelah mereka semua memegang gajah, lalu
mereka bercerita satu sama lain; yang memegang belalai mengatakan bahwa gajah itu
seperti pipa, yang memegang telinganya berkata bahwa gajah seperti kipas yang lebar
dan kaku. Yang memegang kaki mengatakan bahwa gajah seperti pohon besar yang
kokoh.Dengan berpijak pada cerita tersebut lalu mereka mengatakan bahwa semua
agama pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya
berbeda-beda.Bagi para penggiat pluralisme dari kalangan kaum muslimin mereka pun
menyitir ayat-ayat yang mengandung gagasan pluralisme. Di antara ayat yang sering
mereka sitir adalah :
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (Al-Baqarah:256)
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang
Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah:62).
Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan,
persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut
Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak
mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat
menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-
hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing
dengan penuh kesungguhan.
Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara
santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk
dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-
nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan
dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus
menimbulkan prejudice atau kecurigaan di antara mereka.
Agama Islam adalah agama damai yang sangat mengahargai, toleran dan
membuka diri terhadap pluralisme agama. Isyarat-isyarat tentang pluralisme agama
sanagat banyak ditemukan di dalam al-qur’an antara lain Firman Allah “Untukmu
agamamu dan untukku agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 109/6). Pluarlisme agama adalah
merupakan perwujudan dari kehenddak Allah swt. Allah tidak menginginkan hanya ada
satu agama walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk hal itu bila Ia
kehendaki. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang
satu.” (QS. Hud: 11/118). Dalam al-qur’an berulang-ulang Allah manyatakan bahwa
perbedaan di antara umat manusia, baik dalam warna kulit, bentuk rupa, kekayaan, ras,
budaya dan bahasa adalah wajar, Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi dan
agama sebagai rahmat. Allah menganugrahkan nikmat akal kepada manusia, kemudian
dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih
agama yang ia yakini kebenarannya tanpa ada paksaan dan intervensi dari Allah.
Sebagaimana Firmannya “Tidak ada paksaan dalam agama”. (QS. Al Baqarah:
2/256). Manusia adalah makhluk yang punya kebebasan untuk memilih dan inilah salah
satu keistimewaan manusia dari makhluk lainnya, namun tentunya kebebasa itu adalah
kebabsan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt.
Kitab suci al-qur’an diturunkan dalam konteks kesejarahan dan stuasi keagamaan yang
pluralistik (plural-religius). Setidaknya terdapat empat bentuk keyakinan agama yang
berkembang dalam masyarakat Arab tempat Muhammad saw. menjalankan misi
profetkinya sebelum kehadiran Islam, yaitu Yudaisme (Yahudi); Kristen,
Zoroastrianisme dan agama Makkah sendiri. Tiga di antaranya yang sangat berpengaruh
dan senantiasa disinggung oleh al-qur’an dalam berbagai levelnya adalah Yahudi,
Kristen dan agama Makkah.
Kedatangan al-qur’an ditengah-tengah pluralitas agama tidak serta-merta
mendeskriditkan agama-agama yang berkembang pada saat itu, tapi al-quran sangat
bersifat asfiratif, akomodatif, mengakui dan membenarkan agama-agama yang datang
sebelum al-qur’an diturunkan. Bahkan lebih jauh dari itu al-qur’an juga mengakui akan
keutamaan umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat dalam ayat. “Whai Bani Israil!
Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu
dari semua umat yang lain di ala mini (pada masa itu)”. (QS. Al-Baqarah: 2/47). Dalam
ayat ini, tergambar suatu sikap pengakuan al-qur’an akan keunggulan dan keutamaan
umat-umat terdahulu sebelum umat Islam.
Al-qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif-pluralis. Bagi kaum
muslimin, tidak ada teks lain yang mempunyai posisi otoritas mutlak dan tak
terbantahkan selain al-qur’an. Maka, al-qur’an merupakan kunci untuk menemukan dan
memahami konsep pluralisme agama dalam al-qur’an.

Berikut beberapa ayat Dalam Alqur’a Yang menyiratkan tentang pluralisme :

• Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi
dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah
mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan
benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan
kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan
benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan
yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun
yang mengatakan: Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku.
• Pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis
hukum Allah atau Sunnah Allah, sebagaimana firman Allah SWT: “ Hai manusia,
sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat 49: 13).
• Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama
lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah
Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia
menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia
menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika
Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan
beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka
sendiri? (Q.S. Yunus: 99).
• Dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan
Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau
diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43).

Pengakuan al-qur’an terhadap pluralisme dipertegas lagi dalam khutbah


perpisahan Nabi Muhammad. Sebagimana dikutip oleh Fazlur Rahman, ketika Nabi
menyatakan bahwa, “Kamu semua adalah keturunan Adam, tidak ada kelebihan orang
Arab terhadap orang lain, tidak pula orang selain Arab terhadap orang Arab, tidak pula
manusia yang berkulit putih terhadap orang yang berkulit hitam, dan tidak pula orang
yang hitam terhadap yang putih kecuali karena kebajikannya.” Khutbah ini
menggambarkan tentang persamaan derajat umat manusia dihadapan Tuhan, tidak ada
perbedaan orang Arab dan non Arab, yang membedakan hanya tingkat ketakawaan
Sungguh menarik untuk mencermati dan memahami pengakuan al-qur’an sebagai
kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk (hudan) dan obat penetram (syifa
li mafi al-shudhur) terhadap pluralitas agama, jika ayat-ayat al-qur’an dipahami secara
utuh, ilmiah-kritis-hermeneutis, terbuka, dan tidak memahaminya secara ideiologis-
politis, tertutup, al-qur’an sangat radikal dan liberal dalam mengahadapi pluralitas
agama.
Secara normatif-doktrinal, al-qur’an dengan tegas menyangkal dan menolak sikap
eksklusif dan tuntutan truth claim (klaim kebenaran) secara sepihak yang berlebihan,
seperti biasa melekat pada diri penganut agama-agama, termasuk para penganut agama
Islam. Munculnya klaim kebenaran sepihak itu pada gilirannya akan membawa kepada
konflik dan pertentangan yang menurut Abdurrahman Wahid, merupakan akibat dari
proses pendangkalan agama, dan ketidak mampuan penganut agama dalam memahami
serta menghayati nilai dan ajaran agama yang hakiki. Al-qur’an berulangkali mengakui
adanya manusia-manusia yang saleh di dalam kaum-kaum tersebut, yaitu Yahudi,
Kristen, dan Shabi’in seperti pengakuannya terhadap adanya manusia-manusia yang
beriman di dalam Islam. Ibnu ‘Arabi salah seorang Sufi kenamaan mengatakan, bahwa
setiap agama wahyu adalah sebuah jalan menuju Allah, dan jalan-jalan tersebut
berbeda-beda. Karena penyingkapan diri harus berbeda-beda, semata-mata anugrah
Tuhan yang juga berbeda. Jalan bisa saja berbeda-beda tetapi tujuan harus tetap sama,
yaitu sama-sama menuju kepada satu titik yang sama yakni Allah swt.

E. BANTAHAN ATAS ARGUMEN PLURALISME


Dengan kemampuan mereka memahami bahasa Arab yang cukup baik, mereka
suka memelintir makna ayat sehingga kaum intelektual-awam agama percaya kepada
mereka. Mari kita perhatikan ayat 256 surat al-Baqarah; Mereka menganggap tidak ada
paksaan dalam beragama berarti pengakuan agama lain. Pemahaman demikian bukanlah
pemahaman yang benar. Untuk lebih memahami makna tidak ada paksaan ini satu ayat
penuh harus difahami secara utuh. Lanjutan ayat tersebut adalah, “sesungguhnya telah
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar
kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.”
Jika ayat ini dibaca dengan tuntas maka akan jelas, tidak ada paksaan karena telah
jelas yang benar dan yang salah, islam itulah yang benar dan yang lainnya adalah salah.
Masing-masing bebas memilih dengan resiko sendiri-sendiri. Adapun kaum pluralis
dalam memaksakan pemahamannya tak jarang memotong ayat tidak pada tempatnya
sehingga seolah-olah benar padahal tidak benar.
Jika kita lihat ayat 62 surat al-Baqarah, sekilas memang ayat ini menjelaskan
bahwa orang Yahudi jika tetap beriman dan beramal shaleh akan masuk sorga. Orang
Nasrani, orang Shabi’in, selama tetap beriman dan beramal shaleh ia akan masuk
sorga.Dalam memahami suatu ayat, para ulama’ telah menganjurkan agar menggunakan
riwayat turunnya ayat, yang disebut dengan asbab nuzul. Adapun asbab nuzulnya sayat
ini adalah; Salman al-Farisi; tatkala ia menceritakan kepada Nabi saw kebaikan-
kebaikan guru-gurunya dari golongan Nasrani dan Yahudi. Tatkala Salman selesai
memuji para shahabatnya, Nabi saw bersabda, “Ya Salman, mereka termasuk ke dalam
penduduk neraka.” Selanjutnya, Allah swt menurunkan ayat ini. Lalu hal ini menjadi
keimanan orang-orang Yahudi; yaitu, siapa saja yang berpegang teguh terhadap Taurat,
serta perilaku Musa as hingga datangnya Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as telah
diangkat menjadi Nabi, maka siapa saja yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan
mengambil perilaku Musa as, namun tidak memeluk agama Isa as, dan tidak mau
mengikuti Isa as, maka ia akan binasa. Demikian pula orang Nashraniy. Siapa saja yang
berpegang teguh kepada Injil dan syariatnya Isa as hingga datangnya Mohammad saw,
maka ia adalah orang Mukmin yang amal perbuatannya diterima oleh Allah swt.
Namun, setelah Mohammad saw datang, siapa saja yang tidak mengikuti Nabi
Mohammad saw, dan tetap beribadah seperti perilakunya Isa as dan Injil, maka ia akan
mengalami kebinasaan.”
Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini diturunkan, selanjutnya Allah swt
menurunkan surat, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah
akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang
merugi.”[Ali Imron:85]. Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak
ada satupun jalan, agama, kepercayaan, dll, ataupun perbuatan yang diterima di sisi
Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai dengan syari’atnya
Mohammad saw. Adapun, umat terdahulu sebelum nabi Mohammad diutus, maka
selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada zamanya dengan konsisten, maka
mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh jalan keselamatan.”
Ya, kaum pluralis itu mengambil satu ayat dengan mengabaikan ayat-ayat yang
lain. Meraka abaikan ayat ;
“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19).
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali
Imron:85).
Mereka abaikan pula ayat; “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah”
dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan
mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang
terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (al-
Taubah:30)
“Sungguh telah kafir, mereka yang mengatakan, “Tuhan itu ialah Isa al-Masih putera
Maryam.”(al-Maidah:72)
Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam Islam, berarti, tidak
ada satupun orang yang dikatakan kafir. Tetapi al-qur’an dengan sangat tegas menyebut
orang ahlikitab yang tidak menerima Islam dengan sebutan kafir. Firman Allah;
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik
(akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah
seburuk-buruknya mahluk (al-Bayyinah:6)
Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme. Islam
hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan. Maknanya Islam hanya
mengakui adanya agama dan keyakinan di luar agama islam, serta mengakui adanya
identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk
masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Hanya saja,
pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami bahwa Islam juga
mengakui adanya kebenaran pada agama selain Islam. Islam tetap mengajarkan bahwa
agama di luar Islam adalah kesesatan, meskipun diijinkan hidup berdampingan dengan
Islam.Akhirnya, pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Islam mengajarkan keyakinan bahwa islam sajalah agama yang benar, yang diridlai
Allah. Orang yang masih mencari agama selain Islam, ia akan rugi, karena amalnya
tidak diterima oleh Allah. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau
menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah
mengingkari ayat-ayat al-Qur’an yang tegas dan jelas. Pengingkaran tersebut berakibat
pada batalnya keislaman seseorang, na’udzubillah min dzalik.