Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gangguan Jiwa

2.1.1 Pengertian Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa merupakan suatu perubahan pada fungsi jiwa yang

menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan

penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melsanakan peranan sosial

(Keliat, 2012). Sedangkan menurut UU RI NO.18 Tahun 2014 menjelaskan

bahwa gangguan jiwa adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami

gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam

bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat

menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang

sebagai manusia.

American Psychiatric Association (APA) menjelaskan gangguan jiwa

atau penyakit mental adalah kondisi kesehatan yang melibatkan perubahan

emosi, pemikiran atau perilaku (atau kombinasi dari semuanya). Penyakit

mental berhubungan dengan kesusahan atau masalah yang berfungsi dalam

kegiatan sosial, pekerjaan atau keluarga.

PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa) III,

gangguan jiwa merupakan sebuah sindrom yang di tandai dengan perubahan

perilaku seseorang selalu berkaitan dengan gejala seperti penderitaan (distress)


atau hendaya (impairment), selain itu fungsi psikologik dan perilaku tidak

selalu terletak dalam hubungan antara orang tersebut melainkan bisa dengan

masyarakat. (Muslim, 2002; dalam Maramis, 2010 dalam A.H Yusuf 2015).

Ada 4 kriteria gangguan umum menurut (Videbeck dalam Nasir, 2011 ) adalah

sebagai berikut :

a. Tidak merasa puas hidup di dunia.

b. Ketidak puasan dengan karakteristik, kemampuan dan prestasi diri.

c. Koping yang tidak afektif dengan peristiwa kehidupan.

d. Tidak terjadi pertumbuhan personal

Menurut (Keliat dkk dalam Prabowo 2014) mengatakan ada juga ciri dari

gangguan jiwa yang dapat diidentifikasi yaitu Mengurung diri, tidak kenal

orang lain, marah tanpa sebab, bicara kacau dan tidak mampu merawat diri.

Jadi dari beberapa definisi gangguan jiwa di atas, dapat disimpulkan

bahwa gngguan jiwa adalah suatu kumpulan dari keadaan yang tidak normal

baik pada mental maupun fisik sehingga berakibat pada perubahan pada fungsi

jiwa individu atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial.

2.1.2 Rentang Sehat – Sakit Jiwa

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Sehat Jiwa Masalah Psikososial Gangguan

Pikiran logis Pikiran kadang Waham

menyimpang
Ilusi

Persepsi akurat Reaksi emosional Halusinasi

Emosi konsisten Ketidakmampuan

Perilaku kadang tidak menghindari emosi

Perilaku sesuai sesuai Perilaku kacau

Menarik diri
Hubungan sosial Isolasi sosial

memuaskan

(Keliat, B.A, 2011)

Tabel 2.2.1

Rentang sehat-sakit jiwa

2.1.3 Etiologi Gangguan Jiwa

Gejala utama pada individu yang mengalami gangguan jiwa yaitu terjadi

gangguan dalam kejiwaanya, akan tetapi banyak faktor yang juga menyebabkan

itu terjadi seperti somatogenik (dalam diri indivu), sosiogenik (di lingkungan),

dan psikogenik (dalam psikis individu), (Maramis, 2010 dalam Yusuf 2015).

Ada beberapa yang tidak memiliki penyebab yang jelas mengapa bisa

mengalami gangguan jiwa, namun hal itu tidak terlepas dari faktor faktor yang

ada.

Penyebab gangguan jiwa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang

saling mempengaruhi menurut Yusuf (2015) yaitu sebagai berikut:

a. Faktor somatic organobiologis atau somatogenik.


1) Neurokimia

2) Nerofisiologis

3) Neurianatomi

4) Faktor pre dan perinatal

5) Tingkat kematangan dan perkembangan organik

b. Faktor sosio-budaya (Sosiogenik) :

1) Sistem pola asuh anak

2) Perumahan kota lawan pedesaan.

3) Nilai-nilai yang terjadi

4) Pengaruh keagamaan dan pengaruh sosial.

5) Kestabilan keluarga.

6) Masalah kelompok, seperti ketidak mempuan untuk mencapai

pendidikan

7) Tingkat ekonomi.

c. Faktor psikologik (Psikogenik).

1) Peran ayah.

2) Interaksi ibu dan anak.

3) Inteligensi.

4) Saudara kandung yang mengalami persaingan.

5) Hubungan pekerjaan, permainan, masyarakat dan keluarga.

6) Depresi, kecemasan, rasa malu atau rasa salah mengakibatkan

kehilangan.
7) Keterampilan, kreativitas dan bakat.

8) Adanya perkembangan dan pola adaptasi

Dari ketiga faktor diatas, terdapat beberapa penyebab lain mengenai

gangguan jiwa diantaranya adalah sebagai berikut :

1) Genetika. Faktor ini sangat berpengaruh sebab Individu atau angota

keluarga yang yang mengalami gangguan jiwa cenderung memiliki

resiko tinggi untuk menurunkan dan tidak bisa dipungkiri untuk

memiliki keluarga yang mengalami gangguan jiwa juga (Yosep, 2013).

2) Sebab biologik.

a) Temperamen. Individu yang terlalu sensitif biasanya memiliki

masalah dalam emosi dan kejiwaan yang memiliki kecendrungan

untuk mengalami gangguan kejiwaan.

b) Jasmaniah. Penyidik lain pernah menyinggung bahwa bentuk tubuh

seorang bisa berhubungan dengan gangguan jiwa, namun hal ini

masih perlu kejelasan lebih lanjut.

c) Keturunan. Individu yang mengalami gangguan kejiwaan biasanya

diturunkan, hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan

kejiwaan yang tidak sehat.

d) Penyakit atau cedera pada tubuh. Penyakit terminal atau

mengancam nyawa dapat menyebabkan individu yang mengalami

cemas berlebihan dan bisa menyebabkan harga diri rendah (Yosep,

2013).
3) Sebab psikologik. Pengalaman mengalami frustasi terhadap

keberhasilan maupun kegagalan yang dialami akan mewarnai sikap,

sifat dan kebiasaannya dikemudian hari (Yosep, 2013).

4) Stress. Stress yang berkelanjutan dan tidak mendapatkan jalan tengah,

atau psikososial yang terjadi secara terus menerus bisa menyebablan

gejala menifestasi seperti peraan kehilangan, kebodohan, kemisikan dan

bahkan bisa mengalami isolasi sosial (Yosep, 2013).

5) Sebab sosio kultural.

a) Pola asuh anak, hubungan orang tua dengan anak sangat

berpengaruh dalam pembentukan psikologi anak. Seorang anak

yang dibesarkan didalam lingkungan yang tidak ramah akan

menciptakan seorang anak dengan kepribadian pendiam dan tak

mudah untuk bergaul dan cenderung untuk menarik diri.

b) Ketegangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan teknologi, dalam

masyarakat kebutuhan akan semakin meningkat dan persaingan

semakin meningkat. Membuat orang melakukan pekerjaan tanpa

lelah atau bekerja keras hanya untuk bisa mendapatkannya dan

jumlah orang yang ingin memiliki sebuah pekerjaan namun lahan

pekerjaan tidak ada, imbasnya pada jumlah pengangguran yang

terus meningkat (Yosep, 2013).


c) Sistem nilai, perbedaan etika kebudayaan dan perbedaan sistem

nilai moral antara masa lalu dan sekarang akan sering menimbulkan

masalah kejiwaan.

6) Perkembangan psikologik yang salah. Ketidak matangan individu gagal

dalam berkembang lebih lanjut. Individu yang memiliki tempat lemah

dan disorsi ialah individu yang gagal dalam mencapai integrasi

kepribadian yang normal dan mengembangkan sikap atau pola reaksi

yang tidak sesuai (Yosep, 2013).

2.1.4 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa

Buku Dasar – Dasar Keperawatan Jiwa (Nasir & Muhith, 2011) menjelaskan

beberapa tanda dan gejala gangguan jiwa, diantaranya:

a. Gangguan Kognitif

Kognitif adalah suatu proses mental dimana seorang individu menyadari

dan mempertahankan hubungan dengan lingkungannya, baik lingkungan

dalam maupun lingkungan luar. Proses kognitif meliputi beberapa hal

seperti sensasi dan presepsi, perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan,

pikiran, dan kesadaran.

b. Gangguan Perhatian

Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi, menilai dalam suatu

proses kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsangan.

c. Gangguan Ingatan
Ingatan adalah kesanggupan untuk mencatat, menyimpan, memproduksi

isi, dan tanda-tanda kesadaran.

d. Gangguan Asosiasi

Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan, kesan, atau

gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau gambaran

ingatan respons atau konsep lain, yang sebelumnya berkaitan dengannya.

e. Gangguan Pertimbangan

Pertimbangan adalah suatu proses mental untuk membandingkan atau

menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja dengan memberikan

nilai- nilai untuk memutuskan maksud dan tujuan dari suatu aktivitas.

f. Gangguan Pikiran

Pikiran umum adalah meletakkan hubungan antara berbagai bagian dari

pengetahuan seseorang.

g. Gangguan kesadaran

Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan hubungan

dengan lingkungan, serta dirinya melalui panca indra dan mengadakan

pembatasan terhadap lingkungan serta dirinya sendiri.

h. Gangguan kemauan

Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan-keinginan

dipertimbangkan yang kemudian diputuskan untuk dilaksanakan sampai

mencapai tujuan.

i. Gangguan Emosi dan Afek


Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh

pada aktivitas tubuh serta menghasilkan sensasi organik dan kinestik. Afek

adalah kehidupan perasaan atau nada perasaan emosional seseorang,

menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa berlangsung

lama dan jarang disertai komponen fisiologis.

j. Gangguan Psikomotor

Psikomotor adalah gerakan tubuh yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa.

2.1.5 Klasifikasi Gangguan Jiwa

Adapun beberapa klasifikasi gangguan jiwa, sebagai berikut:

a. Neurosis atau gangguan jiwa.

Neurosis ialah suatu kelainan mental yang memberi pengaruh terhadap

sebagian kepribadian seseorang, neurosis biasnya lebih ringan dari

psikosis, dan ditandai dnegan rasa cemas yang berlebihan, gangguan

terhadap motorik, cenderung tidak bisa menahan emosi. (Dali Gulo, 1982).

Individu yang mengalami neurosis biasanya masih mengetahui

kepribadiannya dan hidup dalam kenyataan atau realistis (Yosep, H. Iyus &

Sutini, 2014). Faktor faktor yang dapat menyebabkan gangguan neurosis

menurut ( ibrahim, 2012 ) sebagai berikut :

1) Stress fisik

2) Perkawinan

3) Timbulnya tanggung jawab baru

4) Situasi sosial
5) Memiliki penyakit yang berangsur dalam jangka waktu yang lama dan

terus menerus

b. Psikosis atau sakit jiwa.

Psikosis atau sakit jiwa merupakan individu yang mengalami gangguan

jiwa dan dapat menyebabkan individu tersebut mengalami gangguan nyata

pada kepribahambatan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Individu yang mengalami psikosis akan jauh dari kenyataan, maksudnya

individu tersebut memiliki dunianya sendiri (Yosep, H. Iyus & Sutini,

2014). Adapun karakteristik psikosis sebagai berikut :

1) Disentegrasi kepribadian.

2) Penurunan terhadap tingkat kesadaran

3) Perilaku yang agresif

4) Kerusakan nyata dalam hal realistis (Stuart, 2013)

Sistem klasifikasi pada ICD (Internasional Classification of Disease)

masih terus disempurnakan dan telah mencapai edisi ke sepuluh sedangkan

DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ) yang

merupakan hasil perkembangan oleh Asosiasi dokter psikiatri Amerika.

Klasifikasi DSM telah sampai pada edisi DSM-IV-TR diterbitkan pada

tahun 2000. Sedangkan Indonesia sendiri menggunakan pedoman

penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PDDGJ), yang saat ini sudah

pada tahap PPDGJ III (Muslim,2002; Cochran, 2010; Elder.2012;

Katona,2012 dalam Yusuf, 2015).


Klasifikasi Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di

Indonesia PPDGJ III berdasarkan ICD X meliputi :

F00-R09 Gangguan mental organik (termasuk gangguan mental

sistomatik)

F10-F19 Gangguan mental dan perilaku akibat pengguanaan zat

psikoaktif

F20-F29 Skizofrenia, gangguan skizopatil, dan gangguan waham

F30-F39 Gangguan suasana perasaan (mood/afektif)

F40-F48 Gangguan neurotik, gangguan somaoform, dan gangguan

terkait stress

F50-F59 Sindroma perilaku yang berhubungan dengan gangguan

fisiologis dan faktor fisik

F60-F69 Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa

F70-F79 Retardasi mental

F80-F89 Gangguan perkembangan psikologis

F90-F98 Gangguan perilaku dan emosional dengan onset biasanya pada

anak dan remaja

Tabel. 2.1.5

(penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ III)


Secara umum klasifikasi gangguan jiwa menurut hasil riset kesehatan

Dasar tahun 2018 dibagi menjadi 2 bagian yaitu gangguan jiwa

berat/kelompok psikosa dan gangguan jiwa ringan meliputi semua gangguan

mental emosional yang berupa kecemasan, panik, gangguan alam perasaan

dan sebagainya. Untuk skizofrenia masuk dalam kelompok gangguan jiwa

berat.

2.1.6 Masalah Keperawatan Pada Orang Dengan Gangguan Jiwa

a. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

Harga diri rendah ialah individu yang merasa dirinya tidak berharga dan

tidak berarti didunia sehingga terus mengevaluasi negatif terhadap dirinya

sendiri secara terus menerus (SDKI,2017). Harga diri rendah yang terus

menerus akan mengakibatkan hal yang tidak di inginkan dan berdampak

pada timbulnya respon maladaptif.

b. Gangguan Persepsi Sensoris : Halusinasi

Halusinasi merupakan gangguan persepsi sensori dimana tidak ada

rangsangan stimulus dari luar, gangguan persepsi sensori dapat terjadi

pada seluruh sistem panca indra. Halusinasi merupakan suatu gejala

gangguan jiwa dimana seseorang yang mengalaminya akan

mengakibatkan berubahnya persepsi sensori berupa suara, pengelihatan,

berabaan dan penciuman. Seseorang yang merasakan stimulus yang

sebetulnya tidak ada. (Yusuf,Rizky & Hanik,2015)


Jenis halusinasi menurut Baradero, Mary dan Anastasia (2016) sebagai

berikut :

1) Halusinasi pendengaran

Individu yang mengalami gangguan ini biasanya ditandai dengan

sering mendengar suara suara, yang isi suara tersebut dapat berupa

ajakan perintah atau hanya sebatas omongan. Namun, sangat beresiko

apabila dari isi suara tersebut mengajak untuk berbuat kejahatan

seperti, mengajak membunuh, atau mengaykiti diri si penderita.

2) Halusinasi penglihatan

Sebuah rangsangan virtual, dimana individu yang mengalami melihat

sesuatu yang orang normal tidak bisa melihat. Dapat berupa wujud

seseorang atau gambar abstrak.

3) Halusinasi penghidung

Biasanya penderita akan merasa mencium sesuatu yang tidak sedap

seperti, bau amis darah, bau fases atau bau bauan yang lain.

4) Halusinasi perabaan

Penderita yang mengalami halusinasi perabaan akan merasa dirinya

seperti sedang diraba oleh seseorang atau mengalami nyeri dan

ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.

5) Halusinasi gustatory

Merasakan ada sesuatu yang tidak sedap didalam tubuh individu yang

mengalaminya.
6) Halusinasi kenestetik

Penderita seolah olah dapat merasakan fungsi tubuhnya sedang

bergerak seperti merasakan denyut darah melalui pembuluh darah

dan arteri, mencerna makananan, atau membentuk urin.

7) Halusinasi kinestetik

Sensasi gerakan sambil berdiri tak bergerak.

c. Isolasi Sosial

Isolasi Sosial merupakan ketidak mampuan untuk membina saling

percaya terhadap orang lain, dan kecendrungan segan untuk terbuka.

(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Isolasi sosial ialah suatu keadaan

dimana indvidu tidak memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan

orang lain dan merasa dirinya tidak diterima oleh masyarakat atau

ditolak, merasa kesepian serta tidak ada kemampuan untuk membina

hubungan saling percaya dengan orang lain. (Dermawan & Rusdi, 2013)

d. Defisit Perawatan Diri

Defisit perawatan diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki individu

untuk melengkapi kebutuhannya sesuai kondisi kesehatannya.

(Damaiyanti dan Iskandar, 2012). Jenis-jenis defisit perawatan

diantaranya: (Nanda, 2017)

1) Defisit perawatan diri: Mandi

2) Defisit perawatan diri: Perawatan Ganti Pakaian

3) Defisit perawatan diri: Makan dan Minum


4) Defisit perawatan diri: Eliminasi

e. Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan (PK) adalah keadaan dimana individu melakukan

tindakan kekerasan yang dapat membahyakan orang lain serta dirinya

sendiri. Dalam rentang respon yang tidak bisa menahan atau mengontrol

amarahnya. (Keliat,dkk, 2011:180).

Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab perilaku kekerasan

menurut Keliat,dkk (2011:180) yaitu:

1) Akan hilangnya harga diiri yang menyebabkan individu tersebut

mengalami harga diri rendah. Tidak banyak pada kasus harga diri

rendah menyebabkan perilaku kekeraan. Namun dalam

kenyataannya bisa saja terjadi, karena merasa tidak dihargai oleh

sekelilingnya.

2) Frustasi, seseorang yang mengalami frustasi cenderung akan

mengalami gangguan kejiwaan, karena ketidak berfungsi secara

optimal proses berfikir individu tersebut.

3) Pada dasarnya manusia ingin memiliki penghargaan salah satunya

diakui oleh lingkungannya. Jika tidak mendaptkan sebuah

pengakuan atau penghargaan dapat menimbulkan perilaku

kekerasan.

f. Resiko Perilaku Kekerasan


Salah satu masalah yang sering muncul dalam keperawatan jiwa salah

satunya adalah resiko perilaku kekerasan atau RPK. Dalam kategori ini

biasanya akan menjadikan perilaku kekerasan. Hanya saja yang

membedakan dari seseorang yang mengalami RPK dan PK adalah dari

segi perilakunya. Seseorang yang mengalami RPK hanya menunjukan

gejala objektif seperti mata melotot, menggenggam tangan, dan

mengancam tanpa tindakan fisik.

g. Gangguan Proses Pikir: Waham

Waham merupakan suatu keyakinan yang menyimpang yang ditandai

dengan kepercayaan yang berlebihan pada dirinya tanpa adanya tanda

yang jelas untuk diyakinkan. Adapun Jenis waham menurut Permenkes

RI ,2017 diantaranya:

1) Waham Kejar

Individu mengatakan dirinya sedang dikejar dan merasa ditipu oleh

seseorang yang tidak tau berasal dari mana.

2) Waham Somatik

Keyakinan terhadap dirinya bahwa memiliki penyakit mematikan,

seperti luka yang tidak kunjung sembuh atau penyakit lain yang

tidak benar adanya.

3) Waham Kebesaran

Keyakinan terhadap dirinya bahwa ia memiliki sesuatu yang orang

lain tidak punya. Seperti ia meyakini bahwa dirinya seorang


milliader, seorang ratu kecantikan dan bahkan menganggap dirinya

memiliki kekuasaan.

4) Waham Agama

Suatu keyakinan yang dianut penderita dalam hal agama yang

berlebihan. Seakan akan dirinya adalah tuhan.

5) Waham Dosa

Keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang besar,

yang tidak dapat diampuni atau bahwa ia bertanggung 5awab atas

suatu ke5adian yang tidak baik, misalnya kecelakaan keluarga,

karena pikirannya yang tidak baii.

6) Waham Pengaruh

Individu yang mengalami yakin bahwa dirinya sedang dikendalikan

oleh orang lain.

7) Waham Curiga

Individu yang mengalami hal ini berekspetasi bahwa seolah olah ada

orang lain mengikutinya atau merasa dirinya sedang di awasi.

8) Waham Nihilistik

Keyakinan klien bahwa dirinya sudah meninggal dan tidak ada di

dunia.

9) Delusion of reference

Suatu pikiran yang salah terhadap orang lain, seolah olah pemikiran

dirinya sama dengan pemikiran orang lain.


2.1.7 Dampak Gangguan Jiwa

a. Bagi diri sendiri

dampak ekonomi yang di timbulkan berupa hilangnya hari produktif untuk

mencari nafkah bagi penderita, merasa diasingkan, takut bersosialisasi.

b. Bagi keluarga

1) Penolakan

Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita

gangguan jiwa, pihak anggota keluarga lain menolak penderita

tersebut dan menyakini memiliki penyakit berkelanjutan. Selama

episode akut anggota keluarga akan khawatir dengan apa yang

terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal, keluarga akan

melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan dan

merendahkan orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima

dan kurangnya prestasi. Sikap ini mengarah pada ketegangan dalam

keluarga, dan isolasi dan kehilangan hubungan yang bermakna

dengan keluarga yang tidak mendukung orang yang sakit.

Tanpa informasi untuk membantu keluarga belajar untuk mengatasi

penyakit mental, keluarga dapat menjadi sangat pesimis tentang

masa depan. Sangat penting bahwa keluarga menemukan sumber

informasi yang membantu mereka untuk memahami bagaimana

penyakit itu mempengaruhi orang tersebut. Mereka perlu tahu bahwa


dengan pengobatan, psikoterapi atau kombinasi keduanya, mayoritas

orang kembali ke gaya kehidupan normal.

2) Stigma

Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua dalam

anggota keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap penderita

tidak dapat berkomunikasi layaknya orang normal lainnya.

Menyebabkan beberapa keluarga merasa tidak nyaman untuk

mengundang penderita dalam kegiatan tertentu. Hasil stigma dalam

begitu banyak di kehidupan sehari-hari, Tidak mengherankan, semua

ini dapat mengakibatkan penarikan dari aktif berpartisipasi dalam

kehidupan sehari-hari.

3) Frustrasi, Tidak berdaya dan Kecemasan

Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan

tingkah laku aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan,

menakutkan dan melelahkan. Bahkan ketika orang itu stabil pada

obat, apatis dan kurangnya motivasi bisa membuat frustasi. Anggota

keluarga memahami kesulitan yang penderita miliki. Keluarga dapat

menjadi marah marah, cemas, dan frustasi karena berjuang untuk

mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya penderita

lakukan.

4) Kelelahan dan Burnout


Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang yang

dicintai yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin mulai

merasa tidak mampu mengatasi dengan hidup dengan orang yang

sakit yang harus terus-menerus dirawat. Namun seringkali, mereka

merasa terjebak dan lelah oleh tekanan dari perjuangan sehari-hari,

terutama jika hanya ada satu anggota keluarga mungkin merasa

benar-benar di luar kendali. Hal ini bisa terjadi karena orang yang

sakit ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di tingkah lakunya.

Keluarga dalam hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa dalam

merawat penderita tidak boleh merasa letih, karena dukungan

keluarga tidak boleh berhenti untuk selalu men-support penderita.

5) Duka

Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki

penyakit mental. Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang

untuk berfungsi dan berpartisipasi dalam kegiatan normal dari

kehidupan sehari-hari, dan penurunan yang dapat terus-menerus.

Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang dapat diobati,

tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang yang

dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita memiliki

potensi berkurang secara substansial bukan sebagai yang memiliki

potensi berubah.

6) Kebutuhan Pribadi dan Mengembangkan Sumber Daya Pribadi


Jika anggota keluarga memburuk akibat stres dan terlalu banyak

pekerjaan, dapat menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak

memiliki sistem pendukung yang sedang berlangsung. Oleh karena

itu, keluarga harus diingatkan bahwa mereka harus menjaga diri

secara fisik, mental dan spiritual yang sehat. Memang ini bisa sangat

sulit ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit mereka.

Namun, dapat menjadi bantuan yang luar biasa bagi keluarga untuk

menyadari bahwa kebutuhan mereka tidak boleh diabaikan

(Psyhologymania, 2012).

c. Bagi masyarakat

Di mana dampak sosialnya sangat serius berupa penolakan, pengucilan

dan diskriminasi.

2.2 Proses Pemulihan

2.2.1 Definisi Proses Pemulihan

Menurut Substance Abuse and Mental Service Administratiom

(SAMHSA) sebuah badan milik pemerintah Amerika Serikat, pengertian dari

pemulihan adalah suatu perubahan dimana seseorang meningkat kesehatan dan

kesejahteraannya, hidup sesuai arah kehidupan yang dipilihnya, dan berjuang

mencapai tujuan hidup sesuai dengan seluruh kemampuan yang dipunyainya.

Pemulihan adalah suatu proses atau perjalanan panjang, bukan suatu

tujuan, tapi suatu proses yang selalu bergerak dan dinamis. Pemulihan adalah

suatu proses perubahan dari kurang sehat dan tersandera oleh gejala gangguan
jiwa, menuju suatu keadaan yang lebih sehat dan sejahtera. Pulih bukan berarti

sembuh, karena seseorang yang sudah pulih bisa kembali jatuh sakit. Pulihnya

penderita gangguan jiwa adalah seperti pulihnya seseorang yang menderita

diabetes. Mereka sewaktu waktu bisa kambuh, gula darahnya bisa kembali

meningkat. Penderita tekanan darah tinggi yang sudah terkontrol, juga bisa

kambuh dan tekanan darahnya kembali menjadi tinggi dan tidak terkontrol.

Kesehatan jiwa seseorang perlu terus dijaga dan ditingkatkan menuju ke

keadaan yang lebih baik.

Proses awal timbulnya atau pemicu mulainya pemulihan berbeda antara

satu orang dengan lainnya. Dr Patricia Deegan, psikolog klinis yang menderita

skizofrenia dan beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa menceritakan bahwa

proses pemulihan pada dirinya dimulai ketika pada suatu hari dia bersedia

diajak berbelanja ke supermarket. Waktu itu tugasnya hanyalah membawakan

tas belanjaan. Tugas yang sangat ringan. Sebelumnya, dia selalu menolak

ajakan untuk ikut pergi berbelanja ke supermarket. Kebetulan, petugas

kesehatan dimana dia dirawat tidak pernah bosan mengajaknya pergi ke super

market hingga suatu hari, tanpa alasan yang jelas, dia mau menerima ajakan

tersebut. Sejak saat itu, timbul dalam dirinya keinginan untuk pulih.

2.2.2 Pendukung Pemulihan Jiwa

Menurut dr. Gunawan Setiadi, MPH (2012) pendukung pemulihan jiwa

sebagai berikut:
a. Kesehatan

Agar bisa pulih, penderita gangguan jiwa harus sehat fisiknya. Mampu

mengatasi atau mengendalikan penyakit atau gejala penyakit yang

dideritanya, dan mempunyai cukup informasi sehingga bisa memilih

segala sesuatu yang akan mendukung kesehatan fisik dan jiwanya.

Termasuk disini adalah terbebas dari kecanduan alkohol maupun obat

bius. Penderita gangguan jiwa juga seperti orang pada umumnya, mereka

juga bisa terkena penyakit fisik. Penyakit fisik penderita gangguan jiwa

juga perlu dirawat dan disembuhkan. Penderita gangguan jiwa yang

mempunyai penyakit fisik berat lebih sulit untuk bisa pulih dari sakit

jiwanya.

b. Perumahan

Rumah atau tempat tinggal yang aman dan stabil sangat mendukung

proses pemulihan dari gangguan jiwa. Penderita gangguan jiwa tidak

harus punya rumah sendiri, tetapi, adanya tempat tinggal yang aman dan

stabil sangat penting bagi pemulihan jiwa seseorang. Aman dan stabil

disini berarti terbebas dari kekhawatiran dari diusir sehingga mereka harus

hidup menggelandang dijalanan. Mereka yang hidup menggelandang

dijalanan akan sangat sulit untuk bisa pulih kembali karena mereka tidak

mempunyai tempat tinggal yang aman dan stabil.

c. Komunitas
Penderita gangguan jiwa perlu mempunyai jaringan kekerabatan atau

pertemanan yang mendukung dan bisa memberikan harapan, kehangatan

serta persaudaraan. Mereka yang hidupnya menyendiri atau terisolasi

akan lebih mudah untuk kembali kambuh penyakitnya. Komunitas

tersebut bisa diciptakan dengan mengikuti beberapa kegiatan sosial di

masyarakat, seperti : kegiatan pengajian, olah raga, arisan, atau kegiatan

yang terkait dengan hobi.

2.2.3 Prinsip Dasar Pemulihan Jiwa

Menurut dr. Gunawan Setiadi, MPH (2012) prinsi dasar pemulihan jiwa

sebagai berikut :

1. Pemulihan muncul dari timbulnya harapan

Adanya kesadaran bahwa mereka bisa pulih dan mempunyai masa depan

yang lebih baik dibandingkan keadaan sekarang merupakan pendorong

dan motivator pemulihan. Harapan bisa tumbuh dan diperkuat oleh

dukungan keluarga, teman, penderita yang telah pulih, tenaga kesehatan

maupun relawan gangguan jiwa. Adanya harapan merupakan pendorong

proses pemulihan.

2. Dorongan untuk pulih berasal dari dalam diri seseorang

Konsep pemulihan berbeda dengan konsep rehabilitasi. Dalam rehabilitasi,

penderita bersikap pasif, yaitu minum obat sesuai petunjuk dokter dan

melakukan kegiatan seperi yang diperintahkan oleh para perawat jiwa.

Pemulihan gangguan jiwa tidak akan bisa terjadi hanya dengan rajin
minum obat dan menuruti perintah orang lain. Agar bisa pulih, penderita

harus mempunyai dorongan untuk sembuh dan memiliki

keinginan untuk memperbaiki hidupnya.

3. Pemulihan memerlukan dukungan kelurga, teman dan masyarakat luas.

Dukungan terhadap proses pemulihan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Penderita yang telah pulih bisa membantu memotivasi dan mendampingi

penderita gangguan jiwa lainnya. Keluarga yang anggotanya telah pulih

bisa membantu keluarga lain yang masih berjuang membantu pemulihan

anggota keluarganya yang sakit. Para karyawan atau pensiunan bisa

menjadi relawan jiwa. Lembaga sosial dan keagamaan bisa mendirikan

pusat pusat pemulihan, lapangan kerja, pelatihan kerja.

4. Pemulihan didasarkan pada penghormatan (respek).

Penerimaan masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa akan membantu

proses pemulihan. Dilain pihak, diskrimasi dan penghinaan, menjadikan

penderita gangguan jiwa sebagai bahan olok olok, akan menghalangi atau

mempersulit proses pemulihan. Keluarga dan masyarakat perlu menerima

segala keterbatasan penderita gangguan jiwa dan membantunya agar bisa

berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

2.2.4 Peranan keluarga, pelayanan kesehatan jiwa dan masyarakat

Menurut dr. Gunawan Setiadi, MPH (2012)

1. Suasana dan pelayanan yang menumbuhakan harapan dan optimisme.


Keluarga, pemberi pelayanan kesehatan jiwa dan anggota masyarakat

perlu memperlakukan penderita gangguan jiwa dengan sikap yang bisa

menumbuhkan dan mendukung tumbuhnya harapan dan optimisme.

Harapan dan optimisme akan menjadi motor penggerak pemulihan dari

gangguan jiwa. Dilain pihak, kata kata yang menghina, memandang

rendah dan menumbuhkan pesimisme akan bersifat melemahkan proses

pemulihan.

2. Memberdayakan penderita gangguan jiwa.

Semua pihak (keluarga, pemberi jasa pelayanan kesehatan jiwa dan

masyarakat) perlu memberdayakan penderita gangguan jiwa dengan

memberikan informasi (tentang penyakitnya, teknik mengatasi gejala,

mencegah kambuh, dan meningkatkan kehidupanya), memberikan

dukungan (psikologis dan sumber daya, seperti: alat musik bila dia

memerlukannya, binatang peliharaan atau kebun), membantu membangun

jaringan pertemanan dan kekerabatan. Dalam jangka panjang, penderita

gangguan jiwa perlu menerapkan pola hidup sehat, termasuk didalamnya

adanya pekerjaan atau kegiatan yang bermakna.

3. Pendekatan menyeluruh

Upaya untuk membantu pemulihan gangguan jiwa perlu dilakukan dengan

upaya yang menyeluruh, yang meliputi: pemberian pelayanan medis

(pengobatan); dukungan psikososial oleh tenaga profesioanl (dokter atau

psikolog), keluarga, teman, relawan jiwa dan masyarakat menciptakan


suasana yang mendukung pemulihan; dan penerimaan masyarakat untuk

mereka terlibat kembali dalam kegiatan sosial ekonomi di masyarakat.

Pemulihan sulit terjadi bila hanya dengan membawa penderita berobat

atau konsultasi psikologi sebulan sekali. Diantara waktu konsultasi,

selama tinggal dirumah, penderita hanya dibiarkan saja melamun tanpa

kegiatan yang bermakna.

4. Dukungan spiritual

Membantu pemulihan gangguan jiwa bukan pekerjaan mudah yang bisa

diselesaikan dalam waktu 1-2 bulan saja. Pemulihan gangguan jiwa

merupakan proses panjang yang memerlukan kesabaran dan ketekunan.

Agar proses pemulihan bisa berjalan lebih mudah dan lancar, perlu adanya

pertolongan dari Allah. Untuk itu, keluarga dan teman perlu banyak

berdoa, berdzikir, sholat sunat (utamanya sholat tahajud) dan sedekah.

Kegiatan kegiatan tersebut akan mendekatakan keluarga kepada Allah dan

mempermudah terkabulnya doa.

2.3 Self Stigma

2.3.1 Definisi Self Stigma

Menurut KBBI, stigma memiliki arti sebagai karakteristik negatif yang

melekat pada individu karena pengaruh akan lingkungannya. Lucksted dan

Drapalski (2015) menyatakan jika stigma diri ialah gabungan dari sebagian

prasangka serta stereotype orang lain mengenai individu dengan masalah

psikologis menjadi keyakinan tentang diri sendiri.


Menurut Corrigant dan Rao (2012), stigma diri juga sering disamakan

dengan penerimaan diri yang negatif, yang mana pengakuan seseorang bahwa

publik memiliki prasangka buruk dan akan memberikan stigma terhadap

mereka. Secara khusus, mereka akan merasakan devaluasi atau merendahkan

diri.dan diskriminasi yang menyebabkan menurunnya harga diri dan afikasi

diri (keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas

atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu).

Hal inilah yang kemudian menjadi tahap pertama dari model stigma diri.

Proses menginternalisasi stigma publik atau masyarakat yang terjadi melalui

serangkaian tahap yang berturut-turut mengikuti satu sama lain menjadi tahap

awal dari pembentukan self-stigma atau stigma diri. Pada umumnya, orang

dengan kondisi yang tidak diinginkan ini sadar akan fenomena yang ada di

masyarakat tentang kondisi mereka. Dengan demikian tahap ini disebut dengan

tahap Kesadaran (Awareness). Orang ini kemudian setuju bahwa stereotip

negatif tentang mereka di masyarakat itu benar, tahap ini disebut dengan tahap

Persetujuan (Agreement). Selanjutnya, orang tersebut setuju bahwa stereotip ini

berlaku untuk dirinya sendiri atau disebut degan tahap Aplikasi (Apply). Hal ini

menyebabkan kerugian, penurunan harga diri dan self-efficacy atau efikasi diri

yang signifikan, sehingga tahap ini menjadi tahap akhir stigma diri yang disebut

Kerugian (Harm) (Corrigan dan Reo (2012)).

2.3.2 Penyebab Terjadinya Self Stigma


Menurut Dunion & McArthur (2011) terdapat hal-hal yang menyebabkan

terjadinya stigma diri, yaitu:

a. Society, stereotip yang diyakini oleh masyarakat luas mengenai kesehatan

mental merupakan penyebab munculnya self-stigma. Individu yang

memiliki masalah kesehatan mental mempercayai jika stigma tersebut

dipercaya oleh masyarakat sehingga individu merasa dianggap lebih rendah

sehingga menimbulkan rasa malu dan rasa bersalah.

b. Local comunity, suatu komunitas lokal yang diyakini memberikan

konstribusi dalam terbentuknya stigma diri.

c. Using Service, diyakini jika seseorang yang mendapatkan bantuan atau

layanan psikologis akan merasa dijauhi oleh rekannya sehingga adanya

stigma tersebut membuat orang merasa engga untuk menggunakan layanan.

d. Medical profession/diagnosis, jika individu mendapatkan diagnosis

mengenai kesehatan mental yang buruk akan berdampak pada munculnya

self-stigma serta dapat menurunkan harapan individu.

e. The Individual, kesadaran akan pandangan seseorang mengenai orang lain

baik dari penampilan maupun perilaku merupakan indikator yang

mendorong individu berperilaku normal.

f. Family, terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan jika reaksi

keluarga sangat mempengeruhi stigma diri. Seseorang akan merasa jika

kurangnya pemahaman serta dukungan dari keluaha dapat menyebabkan


meraka merasa kurang berharga dan memiliki perasaan negatif terhadap

diri sendiri.

g. The Worksplace, seseorang akan merasa bahwa sikap dari rekan kerja

mengakibatkan mereka menjadi ragu akan kemampuan yang dimiliki.

2.3.3 The Stage Model of Self Stigma

Corrigan dan Rao (2012) mengatakan apabila stigma diri ditentukan

berdasarkan empat konstruk, yaitu:

a. Awarness, seseorang yang memiliki kondisi tertentu akan menyadari

stereotip masyarakat akan individu dengan masalah psikologis. Hal ini

ditampakkan dengan masyarakat memiliki kepercayaan jika individu yang

memiliki masalah psikologis merupakan pribadi yang lemah.

b. Agreement, kondisi dimana seseorang tidak hanya sadar akan stereotip

yang ada namun juga setuju serta ikut mempercayai stereotip yang

dipegang oleh masyarakat. Bisa dilihat ketika individu mengatakan serta

mempercayai kebeneran akan individu dengan masalah psiologis

merupakan pribadi yang lemah.

c. Application, tahap dimana individu yang telah mempercayai dan setuju

akan stereotip yang ada akan menginternalisasi stereotip itu kedalam

dirinya sendiri. Hal ini ditampakkan ketika individu menyatakan jika saya

merupakan individu dengan masalah psikologos sehingga saya juga orang

yang lemah.
d. Harm or Hurt, tahap ini merupakan akibat dari proses internalisasi stereotip

sehingga mengakibatkan penurunan yang substansial terhadap harga diri

maupun efikasi diri. Individu mulai memegang nilai jika ia merupakan

pribadi yang lemah dan tidak mampu serta tidak layak.

2.3.4 Dampak Stigma Diri

Dalam studi yang telah dilakukan oleh Dunion dan McArthur (2012)

menyebutkan jika stigma diri memberikan dampak yang negatif pada

kehidupan seseorang. Dampak yang ditimbulkan oleh stigma diri adalah

sebagai berikut:

a. Menurunnya harapan yang dimiliki, hal ini berkaitan dengan menurunnya

harapan yang dimiliki oleh orang dengan masalah psikologis. Mereka yang

di diagnosis cenderung akan menghilangkan harapan mereka mengenai

masa depan.

b. Rendahnya kepercayaan diri dan harga diri, hal ini mencakup perasaan

tidak berharga dan merasa akan gagal. Individu akan cenderung merasa

jika mereka tikak memiliki harga diri lagi serta merasa tidak memiliki

keterampilan dalam melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukan

sebelumnya. Penurunan harga diri ini mampu memunculkan perasaan

negatif yang dapat membuat individu merasa hidupnya telah gagal.

c. Perubahan perilaku, hal ini berkaitan akan hilangnya kepercayaan diri

individu yang membuat seseorang merasa ragu serta khawatir akan

tidankan yang mungkin dilakukan oleh orang lain. Hal ini membuat
harapan individu terhadap kemampuan dirinya menurun dan merasa kurang

berharga.

d. Penarikan diri dan isolasi sosial. Individu akan cenderung menarik diri dari

lingkungan, hal ini individu lakukan guna melingdungi dirinya sendiri dari

persepsi orang lain tentang dirinya. Hal ini tentu menyebabkan individu

kurang mendapat dukungan serta teralienasi dari masyarakat.

e. Dilema akan keterbukaan. Cukup banyak individu merasa tidak memiliki

kemampuan bahkan engga terbuka atas masalah psikologis yang mereka

miliki, hal ini disebabkan karena mereka takut mendapat stigma sosial jika

orang lain mengetahui masalah psikologis mereka. Namun disisi lain

individu juga khawatir jika mereka tidak terbuka tentang masalah yang

dihadapi dapat menimbulkan konsekuensi yang berat. Hal ini yang

membuat individu dengan gangguan psikologis mengalami dilema apakah

mereka akan terbuka atau menutup diri akan masalah psikologisnya.