Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gerakan tanah merupakan konsekuensi denomena dinamis alam unruk mencapai
kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah
maupun akibat manusia. Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada kedaan
ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis,
mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan
selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Jadi
longsor merupakan pergerakan massa tanah atau batuan.
Menurut data informasi bencana Indonesia BNPB ( Badan Nasional
Penanggulangan Bencana) pada tahun 2017 telah terjadi bencana tanah longsor
sebanyak 848 kejadian dari total 2.862 kejadian bencana alam yang mengakibatkan 163
orang meninggal dan hilang, 185 orang luka-luka, 59.641 terpaksa mengungsi dan
kerusakan bangunan rumah,gedung dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Hal ini
disebabkan banyaknya wilayah Indonesia yang termasuk daerah rentan terhadap tanah
longsor.
Salah satu penanggulangan tanah longsor yaitu diperlukannya proses monitoring
pergeseran tanah dan sistem deteksi dini potensi tanah longsor yang dapat mengukur
pergerakan tanah, suhu dan kelembaban tanah secara realtime sehinngga dapat
meminimalisir korban jiwa.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada tahun 2015
menyampaikan bahwa tanah longsor memiliki beberapa gejala yang dapat di amati
secara visual di antaranya : terjadi setelah hujan timbul, timbul retakan yang sejajar
dengan arah tebing, bangunan yang mulai retak, pohon atau tiang listrik yang miring
dan muncul mata air baru. Meskipun indikasi terjadinya tanah longsor dapat di amati
namun jarang dapat di antisipasi dengan tepat sehingga korban jiwa masih terjadi.
Menurut Direktorat Geologi Tata Lingkungan Ditjen Pertambangan Umum
Deptamben, jenis pergerakan tanah di Indonesia dapat dibagi menjadi empat jenis
pergerakan tanah. Jenis pertama, aliran tanah. Pergerakan tanah jenis ini pada
umumnya berlangsung cepat dan serentak. Jenis kedua, tanah longsor. Gerakan tanah
ini terjadi secara lamban dengan gerakan memutar, hingga membentuk seperti tapal
kuda. Jenisjenis longsoran antara lain retakan, rekahan, dan belahan. Jenis gerakan
tanah lain adalah runtuhan. Gerakan tanah seperti ini pada umumnya berlangsung cepat.
Biasanya terjadi pada dinding batu yang tegak atau hampir tegak. Jenis terakhir adalah
amblesan. Gerakan tanah seperti ini bisa terjadi secara cepat atau lambat. Itu bisa
karena penambangan bawah tanah, eksploitasi air tanah yang berlebihan, dan proses
erosi di daerah batu gamping. Sebuah contoh yang sering terjadi adalah longsor pada
lereng atau tebing tegak. Pada saat hujan, air menyebabkan beban tanah meningkat. Air
juga masuk melalui retakan-retakann tanah dan bagaikan pisau memotong sebagian
lereng. Bagian tanah yang sudah tidak memiliki ikatan itulah yang kemudian jatuh.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana terjadinya pergerakan tanah?
2. Bagaimana pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pergerakan tanah?
3. Bagaimana menanggapi bencana pergerakan tanah?
4. Bagaimana cara tanggap darurat menghadapi bencana pergerakan tanah?
5. Bagaimana mobilisasi sumber data bencana pergerakan tanah?

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Khusus
Untuk memperoleh pengetahuan lebih luas tentang pergerakan tanah yang
terjadi di Desa Cigedang dan pengetahuan, sikap, dan respon masyarakat di
Desa Cigedang.
1.3.2. Tujuan Umum
1. Menganalisis terkait pengetahuan dan sikap warga terhadap bencana
pergerakan tanah di Desa Cigedang
2. Menganalisis kebijakan dalam menanggapi bencana pergerakan tanah di Desa
Cigedang
3. Menganalisis terikait rencana tanggap darurat bencana pergerakan tanah di
Desa Cigedang
4. Menganalisis terkait sistem peringatan bencana pergerakan tanah di Desa
Cigedang
5. Menganalisis terkait mobilisasi sumber data bencana pergerakan tanah di
Desa Cigedang
1.4. Ruang Lingkup
1. Mengkaji bencana pergerakan tanah.
2. Lokasi pengkajian di Desa Cigedang Kec. Luragung

1.5. Sistematika Penulisan


Penulisan makalah ini terdiri dari kata pengantar, daftar isi, Laporan makalah ini
terdiri dari empat bab. Sistematika penulisan makalah diuraikan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN : Pada bab ini dijelaskan secara singkat mengenai latar
belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian ada tujuan umum dan tujuan khusus, ruang
lingkup dan sistematika penelitian
BAB II TINJAUAN TEORI: Pada bab ini berisi mengenai penjabaran teori-teori yang
berkaitan dengan rumusan masalah, yaitu
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN : Pada bab ini disajikan hasil dari pengolahan
data dan analisa.
BAB IV PENUTUP: Bab ini berisi mengenai kesimpulan penelitian yang telah dilakukan
dan saran penulis untuk penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN