Anda di halaman 1dari 13

H UBUNG AN S ELF STIG MA DENG AN P RO SES

P EMULIH AN O RANG DENG AN G ANG G UAN JIWA


( O DG J) DI K ECAMATAN CIWARU
TAH UN 2022

PROPOSAL

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana


Pada Program Studi Ilmu Keperawatan

Oleh

EDAH JUBAEDAH
CKR0180012

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
KUNINGAN
2021
LEMBAR PERSETUJUAN

PROPOSAL

H UBUNG AN S ELF STIG MA DENG AN P RO SES


P EMULIH AN O RANG DENG AN G ANG G UAN JIWA
DI K ECAMATAN CIWARU TAH UN 2022

Telah Diajukan Oleh

EDAH JUBAEDAH
CKRO180012

Kuningan, Desember 2021


Telah disetujui Oleh

Pembimbing I Pembimbing II

Abdal Rohim, S.Kp.,MH Ns,. Heri Hermansyah,S.Kep.,M.KM


NIK. NIK.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa adalah keadaan sejahtera yang dikaitkan dengan

kebahagiaan, kegembiraan, kepuasan, pencapaian, optimis, dan harapan.

Gangguan jiwa adalah respon maladaptif terhadap stres baik lingkungan

internal maupun eksternal, dibuktikan dengan pikiran, perasaan dan tingkah

laku yang tidak sesuai (Alfiandi, Jannah, & Tahlil, 2019). Kesehatan jiwa

merupakan suatu keadaan individu yang secara mandiri menyadari

kemampuannya dan mampu mengembangkan kemampuan tersebut baik

secara fisik, mental, spiritual juga sosial sanggup mengatasi tekanan sehingga

individu tersebut dapat bekerja secara produktif serta memberikan kontribusi

bagi masyarakat sekitar (Hothasian, Suryawati, & Fatmasari, 2019).

Kesehatan mental merupakan komponen mendasar dari definisi

kesehatan. Kesehatan mental yang baik memungkinkan orang untuk

menyadari potensi mereka, mengatasi tekanan kehidupan yang normal,

bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitas mereka

(Ayuningtyas, Misnaniarti, & Rayhani, 2018). Jika 10% dari populasi

mengalami masalah kesehatan jiwa maka harus mendapat perhatian karena

termasuk rawan kesehatan jiwa (WHO, 2017). Masalah gangguan kesehatan

jiwa diseluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang cukup serius. Satu

dari empat orang didunia yang mengalami masalah mental atau sekitar 450
juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa, di Indonesia diperkirakan

mencapai 264 dari 1000 jiwa penduduk yang mengalami gangguan jiwa

(Anggraini,2015).

Prevalensi gangguan jiwa di seluruh dunia menurut (WHO), (World

Health Organitation) pada tahun 2019 terdapat 264 juta orang mengalami

depresi, 45 juta orang menderita gangguan bipolar, 50 juta orang mengalami

demensia, dan 20 juta orang jiwa mengalami skizofrenia. Gangguan jiwa

merupakan suatu penyakit yang dapat terjadi karena gangguan pola perilaku

yang berkaitan dengan stress pada suatu fungsi kehidupan manusia. Kejadian

gangguan jiwa sekarang didunia sudah menjadi permasalahan yang sangat

serius dan sangat mengkhwatirkan karena 1 dari 4 orang didunia pernah

mengalami gangguan mental dan sekarang berkisar 450 juta orang diseluruh

dunia pernah menderita gangguan jiwa, dan 8 dari 10 penderita gangguan

mental itu tidak mendapatkan perawatan (Masita,Buanasari, & Silolonga,

2019).

Data Riskesdas 2018 menunjukan prevalensi gangguan mental

emosional yang ditunjukan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk

usia 15 tahun keatas mencapai sekitar 6.1% dari jumlah penduduk indonesia.

Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti zkizofrenia mencapai

sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1.7 per 1.000 penduduk. Berdasarkan

data yang didapatkan dari kepala seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Tidak Menular (P2PTM) dan Kesehatan Jiwa (KESWA) . Dinkes jabar Arief

mengungkapkan pada tahun 2017 sebanyak 11.360 warga jawa barat


mengalami gangguan jiwa berat, sementara Tahun 2018 ada 16.714 penderita

ODGJ dan pada Tahun 2019 orang yang mengalami gangguan jiwa ibarat

fenomena gunung es tampak sedikit namun ternyata yang tidak terlihat lebih

banyak lagi (Dinkes Jabar, 2017).

Study Pendahuluan yang dilakukan peneliti di Dinas Kesehatan

Kabupaten Kuningan didapatkan data bahwa pada tahun 2021 terdapat 2.367

orang mengalami gangguan jiwa yang tersebar di seluruh kecamatan yang

berada di kabupaten kuningan, sedangkan untuk kecamatan Ciwaru sendiri

terdapat sejumlah 103 orang dengan gangguan jiwa (Dinas Kesehatan Kab.

Kuningan, 2021).

Stigma diri adalah salah satu tantangan psikologis yang dapat

diperburuk oleh faktor intrinsik atau ekstrinsik (Girma et al., 2014). Penelitian

yang dilakukan oleh (Mak & Cheung, 2012) memaparkan stigma mengacu

pada individu yang menginternalisasi stigma dari masyarakat. Tiga respon

psikologis yang saling terkait yaitu kognisi stigmatisasi (persepsi kompetensi

dan nilai lebih rendah dari rekan-rekan mereka karena internalisasi stigma),

afektif (perasaan malu, putus asa, dan malu sebagai akibat dari status

stigmatisasi diinternalisasi), dan behavior (reaksi perilaku sebagai akibat dari

stigma yang diinternalisasi seperti penarikan diri dan fitnah).

Mashiach-Eizenberg, Hasson-Ohayon, Yanos, Lysaker, dan Roe (2013)

menyebutkan Skizofrenia dengan stigma diri negatif memunculkan harapan

(hope) yang rendah, mengakibatkan rendahnya harga diri dan kemampuan diri

sehingga secara langsung berhubungan dengan proses pemulihan berupa


penurunan kesadaran atau tilik diri terhadap penyakit yang selanjutnya sangat

berdampak pada kualitas hidup pasien Skizofrenia. Penelitian Sibitz, et al.

(2011) tentang pengaruh social network, stigma diri dan dukungan dengan

kualitas hidup pasien Skizofrenia di Austria, menyatakan ada hubungan yang

signifikan antara stigma diri dengan kualitas hidup pasien Skizofrenia dengan

arah hubungan negatif, apabila stigma diri tinggi maka kualitas hidup rendah.

Proses labeling dan support system yang rendah dapat menyebabkan

terjadinya stigma diri yang tinggi pada pasien Skizofrenia sehingga

menyebabkan perasaan malu, berkurangnya semangat hidup, perasaan tidak

berdaya dan kualitas hidup yang rendah (Eizenberg, et al., 2013). Perasaan

negatif dapat menghambat proses pemulihan pasien Skizofrenia sehingga

diperlukan program terapi individu yang dapat mengurangi stigma di

kelompok dan komunitas guna meningkatkan kualitas hidup pasien

Skizofrenia (Hill & Startup, 2013).

Berdasarkan dari masalah yang sudah diuraikan diatas, peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian terkait apakah ada hubungan Self Stigma dengan

Proses Pemulihan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kecamatan Ciwaru Kabupaten

Kuningan Tahun 2022.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka merumuskan permasalahan diatas

yaitu : apakah ada hubungan self stigma dengan proses pemulihan pada orang

dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kecamatan Ciwaru tahun 2022.


1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan self stigma

dengan proses pemulihan gangguan jiwa di Kecamatan Ciwaru Tahun

2022.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk Mengetahui self stigma pada orang dengan gangguan jiwa

(ODGJ) di Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Tahun 2022.

2. Untuk Mengetahui Proses Pemulihan pada orang dengan gangguan

Jiwa (ODGJ) di Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Tahun 2022.

3. Untuk mengetahui distribusi frekuensi hubungan antara self stigma

dengan proses pemulihan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di

Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Tahun 2022.

1.4 Mamfaat Penelitian

1.4.1 Mamfaat Teoritis

Penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan

mengenai hubungan self stigma dengan proses pemulihan orang dengan

gangguan jiwa (ODGJ) di Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Tahun

2022 serta juga di harapkan sebagai sarana pengembangan ilmu

pengetahuan yang secara teoritis dipelajari di bangku perkuliahan.


1.4.2 Mamfaat Praktis

1. Bagi Peneliti

Mamfaat bagi peneliti yaitu menambah wawasan terhadap suatu

penelitian, dan diharapkan penelitian ini dapat bermamfaat bagi

pembaca penelitian ini dan bisa untuk menambah wawasan keilmuan

terutama pada terutama pada keilmuan kesehatan jiwa.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat menambah informasi, khususnya mengenai

hubungan self stigma dengan proses pemulihan orang dengan gangguan

jiwa (ODGJ) di Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Tahun 2022.

Sebagai acuan dalam mengembangkan ilmu kesehatan jiwa bagi peserta

didik khususnya Prodi Ilmu Keperawatan Stikkes Kuningan. Data hasil

dari proses dapat menjadi dasar atau data yang mendukung untuk

penelitian selanjutnya.

3. Bagi Lahan Penelitian

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam

penilaian self stigma dengan proses pemulihan gangguan jiwa.


Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No. Penelitian

1. Judul Stigma diri dengan harga diri pada keluarga

penderita retardasi mental

Peneliti Hartatik 2021

Subjek Sampel dalam penelitian ini adalah anggota

keluarga dari penderira retardasi mental di desa

Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo

Provinsi Jawa Timur Indonesia yang berjumlah 58

orang yang dipilih dengan tehnik purposive

sampling

Metode Penelitian ini menggunakan metode analitik

observasional dengan pendekatan cross sectional.

Hasil Analisis bivariat hubungan stigma diri dengan harga

diri didapatkan nilai p=0.000 dan nilai r=-0.412. Hal

ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara stigma

diri dengan harga diri, semakin tinggi stigma diri

maka semakin rendah harga diri penderita retardasi

mental.

2. Judul Daya tilik diri (Self Insight), Harga diri (self

esteem) dan stigma diri (self stigma) serta kualitas

hidup pasien skizofrenia di klinik jiwa RS Jiwa


Daerah Jambi

Peneliti Daryanto dan Wittin Khairani 2020

Subjek Populasi penelitian adalah seluruh keluarga pasien

Skizofrenia yang berkunjung di Poliklinik Jiwa

Rumah Sakit Jiwa Daerah Jambi tahun 2016

sebanyak 3795 orang, sampel dipilih sebanyak 115

responden menggunakan teknik acak sederhana

Metode Metode yang digunakan adalah deskriftif korelasi

dengan pendekatan cross sectional.

Hasil Hasil penelitian diketahui nilai rerata kualitas hidup

pasien adalah 79,08. Daya Tilik Diri berkorelasi

negative dengan kualitas hidup pasien skizofrenia (P

value 0,009 < a 0,05). Adanya korelasi antara

Harga Diri dengan kualitas hidup pasien Skizofrenia

(P Value 0,037< a 0,05). Adanya korelasi negative

antara Stigma diri dengan Kualitas Hidup pasien

Skizofrenia (P Value 0,038).

3. Judul Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia dipersepsikan

melalui stigma diri

Peneliti Ice Yulia Wardani dan Fajar Aprilia Dewi 2018

Subjek sampel 92 responden

Metode Desain penelitian ini adalah descriptive corelative

dengan pendekatan cross sectional


Hasil Ada hubungan antara stigma diri dengan kualitas

hidup pasien Skizofrenia dengan korelasi negatif (r=

-0,568, p= 0,00). Level stigma diri termasuk

kedalam klasifikasi stigma tinggi dan klasifikasi

kualitas hidup yang rendah.

4. Judul Peran kader kesehatan dalam mendukung proses

recovery pada ODGJ : Literatur Review

Peneliti Mery Tania, Suryani, Tati Hernawati

Subjek Kader Kesehatan

Metode Analisis Artikel

Hasil Hasil dari tinjauan literature ini yakni pengalaman

dari peran yang dijalankan kader kesehatan dalam

penangan odgj mengalami beberapa hambatan

terutama dalam menurunkan stigma masyarakat

terhadap odgj tetapi, kader kesehatan tetap

melaksanakan tugasnya dengan gigih dalam

mendukung odgj terutama dalam proses recovery.

5. Judul Dukungan Keluarga dalam proses pemulihan orang

dengan gangguan jiwa (ODGJ)

Peneliti Suhermi S. 2019

Subjek Subyek penelitian 34 orang di Wilayah Kerja

Puskesmas Pampang, yang ditentukan dengan

teknik total sampling.


Metode Metode yang digunakan adalah deskriftif korelasi

dengan pendekatan cross sectional.

Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan

keluarga terhadap ODGJ adalah baik (91,2%),

proses pemulihan pasien adalah pulih=50% dan

tidak pulih=50%. Hasil uji hipotesis menunjukkan

bahwa tidak ada hubungan antara dukungan

keluarga dengan proses pemulihan ODGJ (p-

value=1,000).

Berdasarkan keaslian yang telah di jelaskan pada Tabel 1.1 perbedaan

penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah :

1. Pada penelitian Hartatik 2021 hasil penelitian menunjukan terdapat

hubungan stigma diri dengan harga diri dengan kekuatan sedang pada

keluarga retardasi mental, penelitian ini fokus pada salah satu anggota

keluarga yang merawat penderita retardasi mental.

2. Pada penelitian Daryanto dan Wittin Khairani 2020 fokus meneliti variabel

daya tilik diri, harga diri dan stigma diri dengan kualitas hidup pasien

skizofrenia.

3. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ice Yulia Wardani dan Fajar Aprilia

Dewi Perbedaannya adalah meningkatkan kualitas hidup pasien, fokus

penelitian ini pada pasien skizofrenia dengan stigma diri .


4. Pada penelitian yang dilakukan Suhermi.S 2019 hasil penelitian tidak ada

hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan pemulihan

klien gangguan jiwa, fokus penelitian ini pada anggota keluarga dan klien

dengan gangguan jiwa.

5. Pada penelitian yang dilakukan Mery Tania, suryani, Tati Hernawati 2019

hasil penelitian ini fokus pada petugas kesehatan masyarakat (kader)

kesehatan dalam mendukung proses recovery pada gangguan jiwa dengan

cara pendidikan kesehatan.