Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI

Aborsi (abortion) berasal dari bahasa latin abortio ialah pengeluaran hasil konsepsi
dari uterus secara premature pada umur di mana janin itu belum bisa hidup di luar
kandungan. Secara medis, janin bisa hidup diluar kandungan pada umur 24 minggu.
Secara medis aborsi berarti pengeluaran kandungan sebelum berumur 24 minggu dan
menyebabkan kematian (Kusmaryanto, 2005).

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Mansjoer, 2001).

Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum


janin dapa hidup diluar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan berat
janin kurang dari 500 gram (Murray, 2002)

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau
sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu hidup
diluar kandungan (Saifudin, 2000).

B. ETIOLOGI

Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :

1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada


kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini ialah :

a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X

b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna

c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau dan alcohol

2. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi


menahun
3. Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan
toksoplasmosis

4. Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada


trimester kedua), retroversi uteri, dan kelainan bawaan uterus.

C. KLASIFIKASI

Abortus atau keguguran dibagi menjadi :

1. Berdasarkan Kejadiannya

a. Abortus spontan terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan
kekuatan sendiri

b. Abortus buatan atau sengaja dilakukan sehingga kehamilan diakhiri. Upaya


menghilangkan konsepsi dapat dilakukan berdasarkan :

a) Indikasi medis, yaitu menghilangkan kehamilan atas indikasi untuk


menyelamatkan jiwa ibu. Indikasi tersebut diantaranya penyakit jantung,
ginjal atau penyakit hati berat dengan pemeriksaan ultrasonografi, gangguan
pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim.

b) Indikasi sosial, pengguran kandungan didasarkan atas dasar aspek social,


menginginkan jenis kelamin tertentu, tidak ingin punya anak, jarak
kehamilan terlalu pendek, belum siap untuk hamil dan khamilan yang tidak
diinginkan

2. Berdasarkan Pelaksanaannya

a. Abortus buatan terapeutik, dilakukan oleh tenaga medis secara legalitas


berdasarkan indikasi medis

b. Abortus buatan ilegal, dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum
(Abortus Kriminalis)
3. Berdasarkan Gambaran Klinisnya

a. Keguguran lengkap (Abortus Kompletus), semua hasil konsepsi dikeluarkan


seluruhnya.

b. Keguguran tidak lengkap (Abortus Inkompletus), sebagian hasil konsepsi


masih tesisah dalam rahim yang dapat menimbulkan penyulit

c. Keguguran mengancam (Abortus Imminen), abortus ini baru dan masih


ada harapan untuk dipertahankan

d. Keguguran tak tertahan lagi (Abortus Insipien), abortus ini sudah


berlangsung dan tidak dapat dicegah atau dihalangi lagi

e. Keguguran habitualis, abortus yang telah berulang, dan berturut-turut


menjadi sekurang-kurangnya tiga kali

f. Keguguran dengan infeksi (Abortus infeksious), keguguran yang disertai


infeksi sebgaian besar dalam bentuk tidak lengkap dan dilakukan dengan cara
kurang legeartis

g. Abortus servikalis, adalah hasil konsepsi daril uterus dihalangi oleh ostium
uterus ekternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam
kanalis servikalis uterus menjadi besar, kurang lebih bundar dengan dinding
menipis.

h. Missed Abortion, keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22,
tetapi tertahan dalam rahim selama dua bulan atau lebih setelah janin mati

D. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Manjoer (2001), manifestasi klinik dari abortus yaitu :


1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil,
suhu badan normal atau meningkat.
3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat
kontraksi uterus.
5. Pemeriksaan ginekologi :

1) Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium bau busuk dari vulva.
2) Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium.
3) Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan
adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

E. ANATOMI FISIOLOGI ORGAN TERKAIT

Alat reproduksi wanita berada di bagian tubuh seorang wanita yang disebut panggul.
Secara anatomi nilai reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian, yaitu: bagian yang
terlihat dari luar(genitalia eksterna) dan bagian yang berada di dalam panggul(genitalia
interna). Genitalia eksterna meliputi bagian yang disebut kemaluan (vulva) dan liang
sanggama (vagina). Genetika interna terdiri dari rahim(uterus), saluran telur ( tuba ), dan
indung telur (ovarium). Pada vulva terdapat bagian yang menonjol yang di dalamnya
terdiri dari tulang kemaluan yang ditutupi jaringan lemak yang tebal. Pada saat pubertas
bagian kulitnya akan ditumbuhi rambut. Lubang kemaluan ditutupi oleh selaput tipis
yang biasanya berlu bang sebesar ujung jari yang disebut selaput dara (hymen). Di
belakang bibir vulva terdapat kelenjar-kelenjar yang mengeluarkan cairan. Di ujung atas
bibir terdapat bagian yang disebut clitoris, merupakan bagian yang mengandung banyak
urat-urat syaraf. Di bawah clitoris agak kedalam terdapat lubang kecil yang merupakan
lubang saluran air seni(urether). Agak ke bawah lagi terdapat va gina yang merupakan
saluran dengan dindi ng elastis, tidak kaku seper ti dinding pipa. Saluran ini
menghubungkan vulva dengan mulut rahim. Mulut rahim terdapat pada bagian yang
disebut leher rahim(cerviks), yaitu bagian ujung rahim yang menyempit. Rahim
berbentuk seperti buah pir gepeng, berukuran panjang B -9 cm. Letaknya terdapat di
belakang kandung kencing dan di depan saluran pelepasan. Dindingnya terdiri dari dua
lapisan Mot yang teranyam saling melintang. Lapisan dinding rahim yang terdalam
disebut endometrium, merupakan lapisan selaput lendir. tvtutai dari ujung atas kanan kiri
rahim terdapat saluran telur yang ujungnya berdekatan dengan indung telur kiri dan
kanan. lndung tekur berukuran 2,5x1,5x0,6 cm, mengandung sel-sel telur ( ovum ) yang
jumlahnya lebih kurang 200.000-400.000 butir. Otot-otot panggul dan jaringan ikat
disekitarnya menyangga alat-alat reproduksi, kandung kencing dan saluran pelepasan
sehingga alat-alat itu tetap berada pada tempatnya.

FISIOLOGI ALAT REPRODUKSI WANITA

Berdasarkan fungsinya ( fisiobginya ), afat reproduksi wanita mempunyai 3 fungsi,


yaitu:

1. Fungsi seksual
2. Fungsi hormonal
3. Fungsi Reproduksi ( melanjutkan keturunan ).
1. Fungsi Seksual
Alat yang berperan adalah vulva clan vagina. Ketenjar pada vulva yang dapat
mengeluarkan cairan, berguna sebagai pefumas pada saat sanggama. Selain itu
vulva dan vaginajuga berfungsi sebagai jalan lahir.
2. Fungsi Hormonal
Yang disebut fungsi hormonal ialah peran indung telur clan Rahim didalam
mempertahankan ciri kewanitaan clan pengaturan haid. Perubahan-perubahan
fisik clan psikhis yang terjadi sepanjang kehidupan seorang wanita erat
hubungannya dengan fungsi indung telur menghasilkan hormon-harmon wanita
yaitu estrogen dan progesteron. Dalam masa kanak-kanak indung telur belum
menunaikan fungsinya dengan baik. Manakala indung teiur mulai berfungsi, yaitu
kurang lebih pada usia 9 tahun, mulailah ia secara produktif menghasilkan
hormon-hormon wanita. Hormon-hormon ini mengadakan interaksi dengan
hormon-hormon yang dihasilkan kelenjar-kelenjar di otak. Akibatnya terjadilah
perubahan-perubahan fisik pada Wanita. Paling terjadi pertumbuhan payudara,
kemudian terjadi pertumbuhan rambut kemaluan disusul rambut-rambut di ketiak.
Selanjutnya terjadilah haid yang pertama kali, disebut menarche, yaitu sekitar usia
10-16 tahun. Mula-mula haid datang tidak teratur, selanjutnya timbul secara
teratur. Sejak saat inilah seorang wanita masuk kedalam masa reproduksinya yang
berlangsung kurang lebih 30 tahun. Pertumbuhan badan menjelang menarche clan
1-3 tahun setelah menarche bertangsung dengan cepat, saat ini disebut masa
puberras. Setelah masa reproduksi wanita masuk kedalam masa kllmakterium
yaitu masa yang menunjukan fungsi indung telur yang mulai berkurang. "Mula-
mula haid menjadi sedikit, kemudian datang 1-2 bulan sekali atau tidak teratur
dan akhirnya berhenti sama sekali. Bila keadaan ini berlangsung 1 tahun, maka
dikatakan wanita mengalami menopause. Menurunnya fungsi indung telur ini
sering disertai gejala-gejala panas, berkeringat, jantung berdebar, gangguan
psikhis yaitu emosi yang pada saat ini terjadi pengecilan alat-alat reproduksi clan
kerapuhan tulang. Menstruasi atau haid yang terjadi secara siklus, 24-36 haid
sekali, timbul karena pengaruh hormon yang berinteraksi terhadap selaput lendir
rahim (endometrium). Lapisan tersebut berbeda ketebalannya dari hari ke hari,
paling tebal terjadi pada saat masa subur, yang mana endometrium dipersiapkan
untuk kehamilan. Bila kehamilan tidak terjadi, lapisan ini mengelupas dan
terbuang berupa darah haid. Biasanya haid berlangsung 2- 8 hari dan jumlahnya
kurang lebih 30-80 cc. Sesaat setelah darah haid habis, lapisan tersebut mulai
tumbuh kembang, mula-mula tipis kemudian bertambah tebal untuk kemudian
mengelupas lagi berupa darah haid. Menjelang haid dan beberapa hari saat haid
wanita sering mengeluhkan mudah tersinggung, pusing, nafsu makan berkurang,
buah dada tegang, mual dan sakit perutbagian bawah. Kebanyakan wanita
menyadari adanya keluhan ini dan tidak mengganggu aktivitasnya, tetapi
beberapa wanita merasakan keluhan ini berlebihan. Berat ringannya keluhan ini,
sesungguhnya tergantung dari latar belakang psikobgis dan keadaan emosi pada
saat haid.
3. Fungsi reproduksi
Tugas reproduksi dilakukan oleh indung telur, saluran telur dan rahim. Sel telur
yangsetiap bulannya dikeluarkan dari kantung telur pada saat masa subur akan
masuk kedalamsaluran telur untuk kemudian bertemu dan menyatu dengan sel
benih pria ( spermatozoa )membentuk organisme baru yang disebut Zygote, pada
saat inilah ditentukan jenis kelamin janindan sifat -sifat genetikrrya. Sefanjutrrya
zygote akan terus berjalan sepanjang saluran telur danmasuk kedalam rahim.
Biasanya pada bagian atas rahim zygote akan menanamkan diri danberkembang
men)adi mudigah. Mudlgah selanJutnya tumbuh dan berkembang sebagai
janinyang kemudlan akan lahir pada umur kehamilan eukup bulan. tvlasa subur
pada siklus haid 28hari, terjadi sekitar hari ke empatbelas dari hari pertama haid.
Umur sel telur sejak dikeluarkandalam indung telur hanya berumur 24 jam,
sedangkan sel benih pria berumur kurang lebih 3 hari.

F. PATOFISIOLOGI

Pada awal abortus terjadi pendarahan desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan
sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam
uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, vili korialis belum menembus desidua secara
dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada kehamilan 8-14 minggu,
penembusan sudah lebih dalam hingga placenta dilepaskan sempurna dan menimbulkan
banyak pendarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu
dari pada placenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blighted ovum), janin lahir mati,
janin masih hidup, mota kruenta, fetus kompresus, maserasi, atau pupiraseus.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Tes kehamilan : (+) positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah
abortus

2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

H. KOMPLIKASI

1. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi
dan jika perlu pemberian transfusi darah.Kematian karena perdarahan dapat
terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

2. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi.Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus
kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi
harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan
apakah ada perlukan alat-alat lain.

3. Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena
infeksi berat.

4. Infeksi

Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang
merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci,
streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T.
paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada
lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium
sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi
terbatas padsa desidua.Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi
menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium.Organisme-
organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus
adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob,
Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens.
Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus
dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena
dapat membentuk gas

I. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Medis

Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu :

1. Abortus spontaneus

Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
medisinalis, tetapi karena faktor alamiah. Aspek klinis abortus spontaneus
meliputi :

2. Abortus Imminens

Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada


kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan
tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila
terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Yang pertama kali
muncul biasanya adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai beberapa hari
kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan
jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap
disertai perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di
garis tengah suprapubis. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama
beberapa minggu. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah kehamilan dapat
dilanjutkan. Sonografi vagina,pemeriksaan kuantitatif serial kadar gonadotropin
korionik (hCG) serum, dan kadar progesteron serum, yang diperiksa tersendiri
atau dalam berbagai kombinasi, untuk memastikan apakah terdapat janin hidup
intrauterus. Dapat juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler
flow per vaginam dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Setelah
konseptus meninggal, uterus harus dikosongkan. Semua jaringan yang keluar
harus diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Kecuali
apabila janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan
kuretase. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu dalam
proses pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus terdapat
jaringan dalam jumlah signifikan, maka dianjurkan dilakukan kuretase.

Penanganan abortus imminens meliputi :

a. Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan,


karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
berkurangnya rangsang mekanik.

b. Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat


progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.Walaupun bukti
efektivitasnya tidak diketahui secara pasti.

c. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah janin masih hidup.

3. Abortus Insipiens

Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20


minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi
masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual
perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan
kuret vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan.

Penanganan Abortus Insipiens meliputi :

Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi
vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan:

a. Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila


perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila
perlu).

b. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :


a) Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil
konsepsi.

b) Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan


intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40
tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.

c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan

4. Abortus lnkompletus

Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan


sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila
plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan
terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. Pada
abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga
menyebabkan hipovolemia berat.

Penanganan abortus inkomplit :

a. Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16


minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum
untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika
perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera taum iso
prostol4 00 mcg per oral.

b. Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan


kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan : Aspirasi vakum
manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret
tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak
tersedia.

c. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg


intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400
mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu).
d. Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20
unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat)
dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi

e. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg)

f. Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.

g. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

5. Abortus Kompletus

Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita
ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah
banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat
diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.
Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya
apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari
atau jika anemia berat maka perlu diberikan transfusi darah.

6. Abortus Servikalis

Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium
uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam
kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar, kurang lebih bundar, dengan
dinding menipis. Padap emeriksaand itemukan serviks membesar dan di atas
ostium uteri eksternum teraba jaringan. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan
busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis
servikalis.

7. Missed Abortion

Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin
yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed
abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone progesterone.
Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat
menyebabkan missed abortion.
Ibu hamil sebaiknya segera menemui dokter. Apabila perdarahan terjadi
selama kehamilan. Ibu harus istirahat total dan dianjurkan untuk relaksasi. Terapi
intra vena atau transfusi darah dapat dilakukan bila diperlukan. Pada kasus aborsi
inkomplet diusahakan untuk mengosongkan uterus melalui pembedahan. Begitu
juga dengan kasus missed abortion jika janin tidak keluar spontan. Jika
penyebabnya adalah infeksi, evakuasi isi uterus sebaaiknya ditunda sampai dapat
penyebab yang pasti untuk memuai terapi antibiotik.

Penatalaksanaan Keperawatan

J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian dasar data pasien

Tinjauan ulang catatan prenatal sampai ada terjadinya abortus.

2. Sirkulasi

Kehilangan darah selama terjadi perdarahan karena abortus

3. Integritas Ego

Dapat menunjukan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan, marah


atau menarik diri.Klien atau pasangan dapat memilliki pertanyaan atau salah
menerima pera dalam pengalaman kelahiran.Mungkin mengekspresika
ketidakmampuan untuk menghadapi suasana baru.

4. Eliminasi

Kateter urinarius mungkin terpasang : urin jernih pusat, bising usus tidak ada

5. Makanan atau cairan

Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal

6. Neurosensorik
Kerusakan gerakan pada sensori dibawah tindak anestesi epidural

7. Nyeri/ kenyamanan

Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber : missal nyeri


penyerta, distensi kandung kemih/ abdomen, efek-efek anestesi : mulut mungki
kering.

8. Pernapasan

Bunyi paru jelas dan vesikuler

9. Keamanan

10. Jalur parenteral bila digunakan resiko terkana infeksi karena


pemasangan infusa dan nyeri tekan

11. Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus

12. Pemeriksaan Diagnostik


Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht). Mengkaji perubahan dari
kadar efek kehilangan darah pada pembedahan urinalis, kultur urine, darah
vaginam, dan lokhea : pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan
individual

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan perdarahan


2. Gangguan Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d Kerusakan jaringan intrauteri
4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
5. Cemas b.d kurang pengetahuan

L. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Kurangnya volume cairan b.d perdarahan


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien menunjukkan tidak terjadi
devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun
kualitas.
Kriteria Hasil : Mempertahankan atau menunjukkan perubahan keseimbangan
cairan, dibuktikan oleh haluaran urine adekuat, tanda vital stabil, membrane
mukosa lembab, turgor kulit baik.
Intervensi :
1. Kaji kondisi status hemodinamika
R: Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik
bervariasi
2. Ukur pengeluaran harian
R: Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan
jumlah cairan yang hilang pervaginal
3. Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R: Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif
4. Evaluasi status hemodinamika
R: Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik
2. Gangguan Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Klien dapat melakukan
aktivitas tanpa adanya komplikasi
Kriteri hasil: Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi,
melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
R: Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif
perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
2. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
R: Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ
reproduksi
3. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
R: Mengistiratkan klilen secara optimal
4. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/ kondisi
klien
R: Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak
sangat diperlukan
5. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
R: Menilai kondisi umum klien
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d Kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Klien dapat beradaptasi dengan
nyeri yang dialami
Kriteria hasil: Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi dan aktivitas
terapuetik sesuai indikasi untuk situasi individual, menyatakan nyeri hilang,
menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas atau istirahat
dengan tepat.
Intervensi :
1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
R: Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun
dsekripsi.
2. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
R: Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
3. Kolaborasi pemberian analgetika
R: Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian
analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien menunjukkan tidak
terjadinya infeksi selama perawatan perdarahan
Kriteria hasil: pengeluaran cairan dari vulva berkurang dan tidak berbau,
berkurangnya tanda-tanda infeksi: panas tubuh klien dalam batas normal 370 C.
Intervensi :
1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
R: Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar.
Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin
merupakan tanda infeksi
2. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
R: Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
3. Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
R: Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
4. Lakukan perawatan vulva
R: Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan
infeksi.
5. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
R: Berbagai manifestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi;
demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
6. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama sesama masa
perdarahan
R: Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu;
senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system
reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.
5. Cemas b.d kurang pengetahuan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien menunjukkan tidak terjadi
kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Kriteria hasil: menyatakan pemahaman terhadap kondisi atau proses penyakit,
prognosis, dan pengobatan. Melakukan secara benar prosedur yang perlu dan
menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit
R: Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
2. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
R: Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif
klien tentang penyakit
3. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
R: Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan
support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran
diri klien
4. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
R: Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan
kecemasan
5. Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
R: Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan
pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi
kecemasan klien dan keluarga.
M. PATHWAY

Kelainan pertumbuhan kelainan plasenta infeksi akut kelainaan


trakus genitalis

Hasil konsepsi

Oksigenasi plasenta toksin,bakteri

Terganggu virus

Perdarahan dalam desidu basalis

Nekrosis jaringan sekitar

Hasil konsepsi lepas (aborsi)

Villi korialis menembus lebih dalam villi korialis belum menembus


desidua

(8-14 minggu) (< 8 mgg)

Lepas sebagian Lepas seluruhnya


Perdarahan
Tindakan
Kuretase

Kekurangan Perubahan
Volume Perfusi jaringan
cairan

Post Jaringan terputus Jaringan Masuknya alat


Anestesi terbuka kuretase

Penurunan Nyeri Proteksi


syaraf kurang
oblangata
Keterbatasan Invasi bakteri
Perilstaltik
aktivitas
Resti
Penyerapan Ifeksi
Gangguan
cairan kolon
pemenuhan
ADL

Ganggua
n
eliminasi