Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA TERHADAP

KONSEP KAFA’AH DALAM HUKUM PERKAWINAN ISLAM

Syafrudin Yudowibowo
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
E-mail: nailil.syafrudin@gmail.com

Abstract

Islam basically does not stipulate that a male may only be married to woman whose common thing, both
in position, wealth, ethnicity ,etc. Islam doesn’t make rules concerning kafa'ah, but it is people who set
them. Islam considers that humans are created equal. No set of people who can not afford not be able to
marry, the Arabs should not marry non-Arab people. (Al-Hamdani, 1989: 98)In order to establish and
create a family that sakinah mawaddah and rahmah, ulama suggest that there is a balance of harmony,
correspondence (there is an element kafa'ah) between the prospective spouses Pasal 2 ayat 1 of Act No.
1 of 1974 when viewed from the principle of equality Kafa'ah concept in religious matters embraced by
each bride should be the same even if not explicitly prohibit the State of different religious
intermarriage Compilation of Islamic Law Article 61 states that "no sekufu not be used as an excuse to
prevent the marriage, except no sekufu (kafa'ah) because of religious differences or ikhtilaafualdeen."

Keyword, Islam, Marriage, Kafa'ah, Indonesia

Abstrak
Penelitian ini temasuk penelitian hukum normatif atau doktrinal, yaitu penelitian yang dilakukan dengan
cara meneliti bahan pustaka atau bahan sekunder, yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder dan bahan hkum tersier, bahan bahan hukum tersebut disusun secara sistematis kemudian
ditarik suatu kesimplan dengan hubungannya dengan masalah yang diteliti. Islam, pada dasarnya tidak
menetapkan bahwa seorang laki laki hanya boleh menikah dengan perempuan yang sama kedudukanya,
baik dalam kedudukan, harta, suku dan sebagainya. Islam tidak membuat aturan mengenai kafa’ah,
tetapi manusialah yang menetapkannya. Islam memandang bahwa manusia diciptakan sama. Tidak
menetapkan orang yang tidak mampu tidak boleh menikah dengan orang mampu, orang arab tidak boleh
menikah dengan orang non arab dan sebagainya. Untuk dapat membentuk dan menciptakan suatu
keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah, para ulama menganjurkan agar ada keseimbanga,
keserasian, kesepadanan (ada unsur kafa’ah) antara calon suami isteri. Pasal 2 ayat 1 Undang undang
Nomor 1 Tahun 1974 kalau ditinjau dari konsep Kafa’ah maka prinsip kesejajaran dalam masalah
agama yang dianut oleh masing-masing mempelai harus sama meskipun tidak secara tegas Negara
melarang terjadinya perkawinan antar agama yang berbeda. Pasal 61 Kompilasi Hukum Islam
menyebutkan bahwa “ tidak sekufu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah perkawinan, kecuali
tidak sekufu (kafa’ah)karena perbedaan agama atau ikhtilaafu al dien.”

Kata Kunci, Islam, Perkawinan,Kafa’ah, Indonesia

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 98


A. Pendahuluan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
untuk membentuk keluarga sejahtera, kekal
Pengaruh dianutnya suatu agama oleh suatu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di sini
bangsa yang mempunyai penganut mayoritas maka jelas bahwa hukum perkawinan di Indonesia
belum tentu akan menggunakan Hukum agama menghendaki suatu perkawinan yang bertujuan
tersebut secara kafah. Di Indonesia meskipun membentuk keluarga sejahtera, kekal berdasarkan
mempunyai penduduk mayoritas Islam tetapi dalam Ketuhanan Yang Maha Esa.. Sehubungan dengan
kehidupan bermasyarakatnya tidak semua hal tersebut di atas agar perkawinan terlaksana
berpedoman pada hukum Islam. Perkawinan dengan baik, maka perkawinan yang dilaksanakan
merupakan hal penting dalam dalam realita itu haruslah didasarkan atas persetujuan kedua
kehidupan manusia. Dengan adanya Perkawinan calon mempelai. Agar suami isteri dapat
rumah tangga dapat ditegakan dan dibina sesuai membentuk keluarga bahagia dan sejahtera serta
dengan norma agama dan dibina sesuai dengan kekal, maka diwajibkan kepada calon mempelai
norma agama dan tata kehidupan masyarakat. untuk saling kenal terlebih dahulu. Perkenalan yang
(Abdul Manan, 2006 : 1) dimaksud di sini adalah perkenalan atas dasar moral
dan tidak menyimpang dari norma agama yang
Dalam agama Islam para ulama membolehkan dianutnya. Meskipun orang tua mempunyai peranan
wali yaitu bapak atau kakek menikahkan anak yang penting dalam proses pelaksanaan perkawinan
masih gadis tanpa persetujuan anak tersebut, tetapi namun orang tua dilarang memaksa anak-anaknya
disertai dengan syarat-syarat sebagaimana ditulis untuk dijodohkan dengan pria atau wanita
Sulaiman Rasyid, antara lain : pilihannya, melainkan diharapkan membimbing dan
menuntut anak-anaknya agar memilih pasangan
1. Tidak ada permusuhan antara anak dan yang cocok sesuai dengan anjuran agama yang
bapak. mereka peluk hal ini dimaksudkan agar tercipta
2. Hendaknya dinikahkan dengan orang yang keluarga sesuai yang dicita citakan dalam amanat
sekufu atau setara atau sederajad. undang undang. Dalam hal ini keluarga khususnya
3. Maharnya tidak kurang dari mahar misil orang tua sangat penting dalam memperhatikan
(sebanding) konsep Kafa’ah dalam perkawinan. Berdasar latar
4. Tidak dinikahkan dengan orang yang tidak belakang masalah diatas, perumusan masalah dalam
mampu membayar mahar. penelitian ini ada dua, yang pertama, apakah
5. Tidak dinikahkan dengan laki-laki yang konsep kafa’ah dalam hukum perkawinan Islam,
membahayakan si anak kelak dalam kedua, apakah hukum perkawinan di Indonesia
pergaulannya dengan laki-laki itu( memandang adanya konsep Kafa’ah.
Sulaiman Rasyid, 2001: 358).
Syarat-syarat tersebut disertakan agar kelak B. Metode Penelitian
perkawinan tersebut menjadi perkawinan yang ideal
sesuai dengan yang dicita-citakan. Perkawinan yang Untuk mengetahui bagaimana konsep Kafa’ah
ideal atau yang dicita-citakan adalah perkawinan dalam Hukum Perkawinan Islam serta bagaimana
yang dapat memberikan kebahagiaan bagi kedua Hukum Perkawinan di Indonesia memandang
belah pihak yang bersangkutan dan kerabatnya. adanya konsep Kafa’ah dalam Hukum perkawinan
Dalam rangka mencari pasangan hidup untuk Islam, maka Penulis mengkaji dari sudut pandang
membentuk suatu keluarga, orang tua atau pihak hukum perkawinan Islam dan Undang undang
yang bersangkutan pada umumnya memperhatikan nomor 1 tahun 1975 tentang Perkawinan di
pasangannya terlebih dahulu. Dan dalam memilih Indonesia Dengan merujuk pada pendapat Peter
pasangan diharapkan adalah orang yang Mahmud Marzuki, bahwa ilmu hukum mempunyai
sekufu.Sedangkan maksud sekufu dalam karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif,
perkawinan adalah keseimbangan atau keserasian maka penelitian ini juga bersifat preskriptif.
antara (calon)suami istri sehingga masing-masing Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum
(calon) tidak merasa berat untuk melaksanakan mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan,
perkawinann (Djamaan Nur, 1993: 76). validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum, dan
norma-norma hukum. (Peter Mahmud Marzuki,
Dalam Bab I Pasal I Undang-Undang Nomor 1 2006: 41). Dalam penelitian ini Penulis, mengkaji
Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan bahwa konsep-konsep kafa’ah dalam hukum Perkawinan
yang dimaksudkan dengan perkawinan adalah Islam dan konsep kafa’ah dalam Hukum
ikatan lahir batin antara seorang pria dengan perkawinan di Indonesia. Dalam penelitian ini,

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 99


Penulis menggunakan pendekatan komparatif, yaitu Di dalam kamus umum Besar Bahasa
suatu upaya untuk melakukan perbandingan konsep Indonesia,kata nikah mempunyai arti :
Kafa’ah dalam hukum perkawinan Islam dan dalam
UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan serta a. Perjanjian antara laki laki dan Perempuan untuk
Impres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi bersuami istri (dengan resmi)
Hukum Islam Buku I tentang Perkawinan. Dengan
pendekatan komparatif ini, maka akan diperoleh b. Perkawinan ,Al Qur an menggunakan kata ini
persamaan dan perbedaan dalam pengaturan konsep untuk makna tersebut. (Quraish Shihab 2007 :
Selain itu juga akan diperoleh gambaran mengenai 191)
Konsep Kafa’ah dan penerapannya didalam hukum
Perkawinan Islam dan Hukum perkawianan di Menurut Abdurrahman Al-Jaziri dalam
Indanesia. kitabnya al-fiqh ‘ala mazahibil arba’ah,ada tiga
macam makna nikah :
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Pengertian Perkawinan Menurut Hukum a.Makna lughowi atau makna menurut bahasa nikah
Islam adalah “bersenggama atau bercampur”

Islam memandang bahwa perkawinan b.Makna ushuli atau makna menurut syar’i.
merupakan suatu cara yang manusiawi dan terpuji
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna
untuk menghalalkan hubungan antara laki-laki dan
ushul dan makna syar’i kata nikah.Pendapat
perempuan (Fathi Yakan 1991:28).Tuhan
pertama menyatakan bahwa nikah arti
menciptakan manusia yang berbeda dengan
hakekatnya adalah “watha’
makhluk lainnya yaitu dilengkapi dengan akal agar
”(bersenggama),sedang arti majazinya adalah
perbuatan yang dilakukan oleh manusia sesuai
“akad”.
dengan aturan aturan dalam rangka menjaga
kemuliaan dan martabat manusia (Sayyid Sabiq Pendapat kedua mengatakan bahwa hakekat
2007 : 10),termasuk aturan mengenai perkawinan. nikah adalah “akad”,sedang arti majazinya
adalah “watha’ “(bersenggama).
Perkawinan yang dalam istilah agama
disebut “nikah” artinya adalah akad yang Pendapat ketiga menyatakan bahwa makna
menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan hakekat dari nikah adalah gabungan dari
kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang pengertian akad dan watha’ yaitu ikatan yang
bukan muhrim (Sulaiman Rasyid 2001:348).Kata kokoh antara dua orang sehingga dihalalkan
nikah di dalam Al-Quran disebut sebanyak 23 kali untuk watha’(Djamaan Nur 1993:1).
dan nikah secara etimologi berarti “berhimpun”
sedang arti majazinya adalah “hubungan seks” c.Makna Fiqh (menurut ahli fiqh)
(M.Quraish Shihab 2007 :191).Perkawinan juga
diungkapkan dengan kata “miitsaaqon gholiidhon” Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli
atau ikatan janji yang kokoh, seperti yang terdapat fiqh mengenai makna nikah. Golongan Hanafiyah
dalam Al-Quran surat An-Nisa’:21.Selain menyebutkan definisi nikah sebagai berikut :”Nikah
menggunakan dua kata tersebut,Al-Quran juga adalah akad yang mempunyai faedah
menggunakan kata “zawwaja” yang berasal dari pemilikan,bersenang-senang dengan
kata “zauj” yang berarti pasangan karena sengaja.”Golongan Syafi’iyah menyebutkan definisi
perkawinan menjadikan seseorang memiliki nikah sebagai berikut : “Nikah adalah akad yang
pasangan sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran mengandung ketentuan hukum semata-mata untuk
surat An-Nisa:1 sebagai berikut : membolehkan watha’,bersenang-senang dan
menikmati apa yang dimiliki oleh seorang wanita
Artinya: “Wahai manusia,bertaqwalah kamu yang boleh menikah dengannya “(Djaman Nur
sekalian kepada Allah yang telah 1993:3).
menjadikan kamu dari seorang diri dan
daripadanya Allah menciptakan Perkawinan merupakan suatu akad.Berikut ini
pasangannya lalu dari keduanya Allah pendapat para ulama mengenai pengertian akad:
memperkembangbiakkan lelaki dan
perempuan yang banyak.”.(Depag RI,Al- a.Salam Mazkur,sebagaimana dikutip Ahmad
Quran dan terjemahannya 2007 :114) Kuzari menyatakan bahwa akad adalah

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 100
“sesuatu yang dengannya akan sempurna berkaitan dengan tetangga,kerabat dan masyarakat
perpaduan antara dua macam kehendak baik sekitarnya.(H.S.A Al Hamdani 2002:18)
dengan kata atau yang lain dan kemudian
karenanya baik timbul ketentuan atau Perkawinan menurut,merupakan suatu
kepentingan pada dirinya”. perbuatan yang mengandung nilai-nilai ideal
(hakekat) yakni : perkawinan semata-mata
b.Al Jassas dari mazhab Hanafi mendefinisikan merupakan fungsi hidup manusia sebagai khalifah
akad sebagai “apa yang diikatkan seseorang di bumi dan mengandung nilai-nilai struktural yakni
untuk melakukan suatu perbuatan oleh dirinya pernikahan merupakan tanda kepatuhan dan
sendiri atau orang lain karena berlakunya ketaatan muslim terhadap syari’at Islam serta
suatu ketetapan padanya.”Maksudnya sesuatu mempunyai aspek-aspek dalam kehidupan manusia
yang timbul dari satu pihak yang berkemauan yakni untuk memberikan dasar kesucian dalam
sudah bisa disebut akad,sebab mempunyai pergaulan hidup antara laki-laki dan perempuan
efek yang menentukan,contohnya melepas
perwalian memerdekakan budak,dan Adapun tujuan menurut hukum Islam adalah
sebagainya,dasarnya adalah Al-Quran surat sebagai berikut :
Al-Maidah:1,dengan kesimpulan yang telah
dikeluarkan oleh para mufassir bahwa akad a.Untuk menegakkan dan menjunjung tinggi
adalah hal yang melahirkan ketentuan atas syari’at Islam.
dasar hukum (Ahmad Kuzairi,1995 :1)
b.Untuk memelihara berlakunya hubungan biologis
Agama Islam sebagai pandangan hidup untuk mengembangkan keturunan.
mengatur cara hidup penganutnya dengan kaidah-
kaidah hukum yang termuat dalam Al-Quran dan c.Untuk menjaga fitrah dan nilai-nilai kemanusiaan
Sunnah Rosul diantaranya tentang perkawinan dan
d.Untuk mencapai ketentraman hidup.
keluarga,sehingga memberikan bentuk yang khas
dari perkawinan dalam keluarga muslim bentuk e.Untuk mempererat dan memperluas persaudaraan.
khas tersebut antara perkawinan poligami yang
terdapat dalam Islam. f.Untuk memelihara kedudukan harta pusaka.
Ayat-ayat Al-Quran yang memberikan 4. Kafa’ah Dalam Hukum Perkawinan Islam
ketentuan dan sebagai dasar mengenai perkawinan
antara lain terdapat dalam surat Ar-Rum : 21 yang a. Pengertian Kafa’ah Menurut Hukum Islam
artinya : “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan- Kafa’ah yang berasal dari kata berarti
Nya,ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isterimu “sama atau sebanding” (Luwis Ma’luf
dari jenismu sendiri yang kamu cenderung dan 1986:690).Sedangkan dalam kamus istilah Fiqh,
merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya kafa’ah berarti “setaraf, seimbang, serasi,
diantaramu kasih dan sayang,sesungguhnya pada sesuai”.Maksudnya adalah “suatu penilaian
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda terhadap seseorang yang dianjurkan oleh Islam
bagi kaum yang berfikir “.(Depag RI, 2007 : 644) dalam memilih calon suami atau isteri, apakah
calon suami-isteri itu sudah sekufu atau
Bentuk perkawinan poligami dalam belum”,yakni kafa’ah yang mencakup dalam hal
Islam,sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran agama, keturunan, kekayaan kemerdekaan, status
surat An-Nisa : 3 yang artinya :” Maka kawinilah social. ( Abdul Mujib, 1994, 147 )
wanita-wanit (lain) yang kamu senangi dua,tiga atau
empat,kemudian jika kamu takut tidak berbuat adil b. Kedudukan Kafa’ah Dalam Perkawinan Menurut
maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak Hukum Islam.
yang kamu miliki.”(Degap RI,2007:115).
Islam, pada dasarnya tidak menetapkan bahwa
2. Tujuan Perkawinan Menurut Hukum Islam seorang laki laki hanya boleh menikah dengan
perempuan yang sama kedudukanya, baik dalam
Melaksanakan perkawinan adalah kedudukan, harta, suku dan sebagainya. Islam
dianjurkan dengan segala akibat hukumnya baik tidah membuat aturan mengenai kafa’ah, tetapi
yang berkaitan dengan kedua pihak maupun yang manusialah yang menetapkannya. Islam
memandang bahwa manusia diciptakan sama.

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 101
Tidak menetapkan orang yang tidak mampu g. Syarat sahnya Perkawinan menurut
tidak boleh menikah dengan oprang mampu, Undang undang Perkawinan Di Indonesia.
orang arab tidak boleh menikah dengan orang Dalam Undang undang Nomor 1 Tahun
non arab dan sebagainya. ( Al Hamdani, 2002 : 1974 dalam pasal 2 ayat 1
98 ) menyatakan :
Hal ini didasarkan pada : Bahwa perkawinan adalah sah, apabila
1) Hadist Rasulullah Saw : dilakukan menurut hukum masing masing
Artinya : “ Barangsiapa mempunyai budak agamanya dan kepercayaannya itu.
perempuan kemudian di didiknya dengan Ayat 2 dari pasal tersebut menyatakan :
baik,diperlakukan dengan baik kemudian Tiap tiap perkawinan dicatat menurut
dimerdekakan lantas dinikahinya maka ia peratuan perundang undangan yang
akan mendapat pahala dua kali lipat “ berlaku.
(Riwayat Tirmidzi) (M.Fuad Abdul Baqi Dari isi pasal tersebut diatas berarti dapat
1993:234) disimpulkan bahwa syarat sahnya
2). .Bahwa Rasulullah Saw tidak mencari isteri perkawinan di Indonesia apabila syarat
yang setingkat dengan beliau.Rasulullah syarat didalam hukum agama terpenuhi
menikah dengan wanita biasa,beliau dan hurus dicatatkan ke lembaga
menikah dengan Shafiyah anak perempuan pencatatan nikah.
Khuyai bin Akhtab seorang wanita yahudi h. Kedudukan Kafa’ah Dalam Hukum
yang kemudian masuk Islam Perkawinan Di Indonesia
3). .Bahwasanya wanita yang mempunyai
kedudukan lebih tinggi biasanya yang Di dalam landasan hukum perkawinan Di
merasa malu pada dirinya sendiri demikian Indonesia tidak diketemukan konsep kafa’ah bagi
juga keluarganya apabila menikah dengan calon mempelai apabila akan melakukan
orang yang tidak sekufu.Sedangkan laki- pernikahan. Hanya didalam pasal 2 ayat 1 Undang
laki yang terhormat tidak akan merasa undang Nomer 1 Tahun 1974 dinyatakan bahwa
malu atau terhina apabila menikah dengan Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut
wanita yang lebih rendah tingkatannya hukum masing masing agamanya dan
(H.S.A Al-Hamdani, 2002 :105) kepercayaannya itu. Secara tidak langsung di dalam
undang undang Perkawinan di Indonesia apabila
3. Tujuan Perkawinan Menurut Hukum Perkawinan akan melaksanakan perkawinan harus ada
di Indonesia persamaan dalam hal agama yang dianutnya namun
tidak ditemukan konsep keseimbangan dalam hal
Dalam Bab I Pasal I Undang-Undang Nomor 1 status social, kekayaan, kemerdekaan.
Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan bahwa
yang dimaksudkan dengan perkawinan adalah 5. Konsepsi Kafa’ah dalam Perkawinan
ikatan lahir batin antara seorang pria dengan Menurut Hukum Islam.
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
untuk membentuk keluarga sejahtera, kekal Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di sini bahwa pada prinsipnya seorang laki laki hanya
jelas bahwa hukum perkawinan di Indonesia boleh menikah dengan perempuan yang sama
menghendaki suatu perkawinanyang bertujuan kedudukanya, maka terdapat berbagai pendapat
membentuk keluarga sejahtera, kekal berdasarkan tentang kafa’ah dalam perkawinan, baik pendapat
Ketuhanan Yang Maha Esa yang mengakui adanya kafa’ah atau pendapat yang
tidak mengakui adanya kafa’ah dalam perkawinan.
4. Asas asas dalam Hukum Perkawinan
di Indonesia. Ibnu Hazm, Imam madzab Zhohiriyah tidak
mengakui adanya kafa’ah dalam perkawinan. Ia
a. Asas Sukarela berpendapat bahwa semua orang Islam adalah
b. Asas Partisipasi Keluarga saudara dan ia juga berpendapat bahwasanya setiap
c. Perceraian Dipersulit muslim selama tidak melakukan zina boleh
d. Poligami Dibatasi dengan Ketat menikah dengan perempuan muslim, siapapun
e. Kematangan Calon Mempelai orangnya asal bukan perempuan pezina. Ibnu Hazm
f. Memperbaiki Derajat Kaum Wanita juga berpendapat bahwa tidak lah haram
perkawinan seorang budak hitam dengan

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 102
perempuan keturunan khalifah Hasyimi. Seorang melakukan hak khiyyar atau hak pilihnya.
muslim yang fasik asal tidak melakukan zina adalah Cacat yang besar tersebt misalnya penyakit
sekufu dengan perempuan yang fasik dengan syarat gila, supah atau kusta
perempuan tersebut tidak melakukan zina( Depag ( Abdurrahman , 1996 : 57)
RI, 2007: 98) Ia beralasan dengan firman Allah : Al Untuk menguatkan pendapat pendapatnya
Qur’an Surat Al Hujarat ; 10 ulama Malikiyah beralasan sebagai berikut
;
Artinya : Sesungguhnya orang orang mukmin Al Qur’an surat Al Hujarat ; 13 :
adalah bersaudara Al Qur’an Surat An Nisa’; 3 Artinya :
yang artinya : “Maka nikahlah wanita wanita yang Wahai sekalian manusia, kami
menarik hatimu.” ( Depag RI, 2007 : 115) menciptakan kamu dari jenis laki laki dan
perempuan. Dan kami jadikan kamu
Selain itu ada pendapat dari beberapa Imam berbangsa bangsa dan bersuku suku agar
Madzhab, yakni dari Imam Maliki, Imam Syafi’i, saling mengenal. Sesungguhnya yang
Imam Hanafi, dan Imam Hambali mengenai paling mulia diantara kamu di sisi Allah
kafa’ah. adalah orang yang bertaqwa.
Sesungguhnya Allah maha Mengetahui
Imam maliki berpendapat bahwasanya kafa’ah lagi Maha Mendegar ( Depag RI, 2007).
dalam perkawinan hanya merupakan sifat istqomah Hadits Rasulullah SAW.Artinya : Apabila
dan budi pekertinya saja (Al Hamdani.2002 : 100) datang kepadamu orang yang kamu sukai
Mereka berpendapat ukuran kafa’ah itu ada dua agama, dan budi pekertinya, maka
perkara yaitu : kawinilah dia, Kalau tidak nanti akan
menimbulkan fitnah dan kerusakan
a. Masalah Agama atau Akhlak.
didunia. Mereka menyela “ Ya Rasulullah,
Agama atau akhlak menjadi ukuran
apakah meskipun cacat, Rasullah
kafa’ah dalam suatu perkawinan, bukan
menjawab “Apabila dating kepadamu
dalam masalah nasab atau keturunan,
orang yang kau ridhai agama dan budi
hartanya, status social, dan sebagainya.
pekertinya, maka nikailah ia”. Beliau
Seorang laki laki yang saleh meskipun
mengucap sampai tiga kali ( At Tirmidzi
tidak bernasab boleh menikah dengan
1993:110).
perempuan yang bernasab, orang yang
Ayat dan Hadits tersebut diatas
hina boleh menikah dengan orang yang
mengandung pengertian bahwa manusia
terhormat, seorang laki laki yang kurang
itu adalah samameskipun diciptakan
mampu boleh menikah dengan perempuan
berbeda suku, bangsa, bentuk dan
yang mampu. Seorang wali tidak boleh
sebagainya dan taqwa yang membedakan
menolak dan menceraikan perkawinan
antara manusia yang satu dengan manusia
seorang laki laki dan seorang perempuan
yang lain di sisi Allah ( Quraish Shihab
yang tidak sekufu apabila perkawinannya
1996: 293) agama dan dan tidak adanya
apabila perkawinanya dilaksanakan dengan
cacat menjadi ukuran kafa’ah dalam
persetujuan si perempuan( Abdurrahman ,
perkawinan menurut ulama Malikiyah,
1996 : 57)
sedangkan masalah yang lain berfungsi
Agama sebagai ukuran kafa’ah dalam
sebagai pelengkap ( Djamaan.1993.: 79)
perkawinan merupakan factor yang
Imam hanafi berpendapat bahwa kafa’ah
diperlukan karena dengan agama termasuk
dalam perkawinan adalah masalah nasab,
pula akhlak yang baik dapat menjadi sendi
status social, merdeka, agama dan harta
yang kokoh dalam membangun kehidupan
(Abdurrahman. 1992 :79). Imam Syafi’i
rumah tangga, sebab dengan agama dan
berpendapat bahwa kafa’ah dalam
akhlak seseorang dapat bertanggung jawab
perkawinan adalah dalam masalah nasab,
terhadap tugas tugasnya dan menjalankan
agama, merdeka, pekerjaan(Abdurrahman.
kewajiban kewajibannya ( Fariq Ma’ruf,
1992 :56). Imam hambali berpendapat
1983: 60 )
bahwa kafa’ah dalam perkawinan adalah
b. Laki laki yang akan melakukan
dalam masalah agama, ekonomi, mampu
perkawinan bebas dari cacat yang besar
menafkahi, merdeka dan nasab
yang dapat mengakibatkan perempuan
(Abdurrahman. 1996 :58).
yang akan menikah tersebut dapat
a). Keturunan

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 103
Imam Hanafi Imam syafi’iyah dan Imam terhadap apa yang menjadi kewajibannya
hambali berpendapat bahwasanya .( Ma’ruf Noor, 1983. :60 ) mereka
keturunan menjadi ukuran adanya beralasan dengan Hadits : Artinya :
kafa’ah dalam perkawinan. Mereka Apabila datang meminang kepada kamu
berpendapat bahwa manusia terdiri dari seorang yang kamu setujui agamanya
dua yaitu arab dan bukan arab, orang (perangainya) hendaklah kamu nikahi,
arab terbagi menjadi dua yaitu Quraisy ( jika tidak kamu nikahi niscaya menjadi
yang terdiri dari Bani Hasyim dan Bani fitnah dan bahaya besar dimuka bumi”
Abdul Mutholib) dan Selain Quraisy. (Riwayat Turmudzi) (At Tirmidzi,
Orang arab tidak sekufu dengan orang 1989:110). Perempuan yang mempunyai
selain arab, juga orang Quraisy tidak ayah dan kakek Islam tidak sekufu
sekufu dengan orang selain quraisy( Al dengan laki laki yang mempunyai ayah
Hamdani. 2002 : 101) Dari uraian ini dan kakek bukan Islam. Abu Yusuf
dapat dikataakan bahwa orang Quraisy berpendapat bahwa orang yang sama
mempunyai kedudukan lebih tinggi dari sama mempunyai ayah muslim adalah
pada yang lainya. sekufu, sedangkan Imam hanafi dan
Mereka beralasan denga hadits Muhammad menganggap ukuran sekufu
Rasulullah : adalah apabila ayah dan kakeknya Islam (
Artinya : Orang arab adalah sekufu bagi Al Hamdani. 2002 : 102 )
yang lainya, orang mawali sekufu bagi c). Pekerjaan
mawali lainya” ( riwayat Al Hikam). ( Pekerjaan termasuk menjadi ukuran
Ibnu Hajar. 1992 : 30 ). Selain dilihat kafa’ah dalam perkawinan, perempuan
dari kesukuan, keturunan juga bisa dilihat yang mempunyai penghasilan tinggi
dari segi lainnya, karena mempengaruhi tidak sekufu dengan laki laki yang
terhadap sifat watak, karakter. Karena berpenghasilan lebih rendah, akan tetapi
keturunan merupakan bagian dari darah ukuran tinggi rendahnya penghasilan
keturunan dari kedua orang tuanya. Dan tergantung dari adat yyang berlaku di
menurut Ilmu kedokteran sudah terbukti wilayah yang bersangkutan dan
kebenaranya sehingga dikenal adanya penilaiannya tergantung pada
penyakit keturunan, demikian pula dalam masyarakat. Ulama Syafi’iyah
hal kejiwaan dan sikap mental seseorang. berpendapat bahwa pekerjaan menjadi
b). Agama pertimbangan ukuran kafa’ah dalam
Agama yang menjadi ukuran kafa’ah perkawinan. Mereka beralasan dengan
dalam perkawinan mencakup pula dalam hadits :Artinya : Seorang arab adalah
hal akhlak. Mereka berpendapat sekufu dengan orang arab Kecuali tukang
bahwasanya orang laki laki yang fasik tenun dan tukang bekam”( Ibnu Hajar,
tidak sekufu dengan orang perempuan 1999 :30 )
yang saleh, karena kedudukan d). Kekayaan
perempuan lebih tinggi dari pada laki laki Mengenai kekayaan yang menjadi ukuran
yang dimaksud. Apabila terjadi kafa’ah dalam perkawinan, terjadi
perkawinan anta perempuan saleh (tetapi perbedaan pendapat dikalangan para
ayahnya fasik) dengan laki laki fasik ulama Syafi’iyah. Sebagian menganggap
maka perkawinan tersebut adalah sah, kekayaan sebagai ukuran kafa’ah dengan
karena dianggap sekufudan ayah alasan bahwa seorang miskin (kurang
perempuantersebut tidak mempunyai hak mampu) tidak sekufu dengan seorang
untuk menolah (akad) perkawinan kaya karena nafkah antara keduanya
tersebut karena ia (ayah perempuan berbeda. Dan sebagian lain berpendapat
tersebut) juga orang fasik( Abdurrohman, bahwa kekayaan tidak menjadi ukuran
1996 : 55 ) kafa’ah karena kekayaan pada
Agama diperlukan sebagai ukuran hakekatnya adalah makan dan
kafa’ah dalam perkawinan sebab dengan perbekalan. Sedangkan para ulama
agama yang dimilikinya dapat membantu Hanafiyah berpendapat yang dianggap se
keutuhan dan kebahagiaan dalam rumah sekufu dalam perkara kekayaan adalah
tangga. Dan dengan agama pula seorang laki laki sanggup membayar mas
seseorang dapat bertanggung jawab kawin dan uang belanja (nafkah)

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 104
sehingga apabila tidak sanggup dan tidak
mamapu membayar mas kawin dan uang 6. Konsep Kafa’ah dalam Hukum
belanja dianggap tidak sekufu ( Al Perkawinan di Indonesia.
Hamdani, 2002 : 103 ). Ulama Hanabilah
sependapat dengan ulama Hanfiyah. Berlakunya hukum agama bagi
Yang dimaksud dengan mas kawin masyarakat dan negara khususnya
adalah harta yang diberikan kepada apabila dikaitkan dengan hukum
perempuan oleh laki laki pada waktu positif ada 3 kemungkinan
nikah. Kewajiban memberikan mas sebagaimana dikemukakan Effendy
kawin dinyatakan dalam Al Qur’an Surat yakni:
An Nisa’; 4 Artinya ; Berikanlah mas a. Hukum agama juga dapat berlaku
kawin kepada wanita (yang kamu nikahi) atau diterima secara menyeluruh oleh
sebagai pemberian yang sah”.( Depag RI. golongan masyarakat yang
2007 :115). Hadits Rasulullah Artinya : bersangkutan.
Berilah mas kawin walau hanya cincin b. Hukum agama baru akan berlaku
besi (riwawat Bukhori Muslim). Dalam apabila hukum agama tersebut
menetukan mas kawin ada tiga cara : diterima oleh hukum di masyarakat
1). Ditentukan oleh Hakim (pemerintah) setempat.
Mas kawin adalah ditentukan c. Hukum positif akan berlaku apabila
pemerintah apabila seorang suami adat tidak bertentangan dengan
tidak mau menentukan mas kawin hukum agama (Effendy, 1994 : 65)
dan dalam menetukan mas kawin Berhubungan dengan adanya konsep
pemerintah harus mengetahui kafa’ah dalam hukum perkawinan
keadaan pihak yang akan menikah Islam maka bagaimana masyarakat di
tersebut. Indonesia menerima konsep tersebut
2). Ditentukan oleh suami istri khususnya dalam hal
Apabila keduanya tidak mengetahui pengejawantahan dalam peranturan
ukuran mas kawin yangsesuai maka perundangan atau hukum positif yang
jumhur berpendapat pernikahannya berlaku.
adalah sah meskipun mas kawin Kalau penulis mentelaah dari isi
tersebut tidak dibayar tunai dan peraturan perundangan yang berlaku
apabila keduanya bercerai sebelum maka konsep kafa’ah tidak
berkumpulmaka suami tetap harus termanifestasikan dengan jelas dalam
membayar. aturan perundangan yang berlaku.Hal
3). Ditentukan (diberikan) ketika akan tersebut dapat terlihat dari Peraturan
berkumpul. perundangan yang berlaku yang
Apabila pada waktu akan berkumpul terdapat dalam Undang undang
belum ada mas kawin baik yang Nomor 1 Tahun 1974 dan Inpres
ditentukan hakim atau keduanya maka Presiden Nomor 1 Tahun 1991
suami harus tetap memberi mas kawin dimana Isi pasal demi pasal di dalam
sesuai dengan keadaan istri. .( Abdul aturan tersebut tidak ada aturan yang
Manan, 2006. :229) mensyaratkan adanya konsep kafa’ah
dalam hal terjadinya perkawinan
e). Merdeka. khususnya dalam proses peminangan
dan pencegahan perkawinan. Namun
Seorang budak tidak dipandang sekufu tidak semua konsep kafa’ah ditolak
dengan orang merdeka, demikian pula keseluruhanya oleh masyarakat dalam
dengan orang uang pernah menjadi hal tersebut kalau dilihat dari pasal 2
budak tak sekufu degan orang yang ayat 1 Undang undang Nomor 1
ayahnya belum pernah menjadi budak Tahun 1974 menyebutkan bahwa
sebab orang yang merdeka merasa “Perkawinan adalah sah apabila
malu apabila menikah dengan orang dilakukan menurut masing masing
budak atau orang yang pernah menjadi agamanya dan kepercayaannya itu.”
budak atau anak yang ayahnya pernah Dalam penjelasan ayat menyebutkan
menjadi budak. tidak ada perkawinan diluar hukum

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 105
masing masing agamanya dan dien.” Dari pasal ini dapat
kepercayaannya itu sesuai dengan disimpulkan meskipun dalam hal hal
Undang undang Dasar 1945. Yang tertentu dapat dilakukan pencegahan
dimaksud dengan hukum hukum perkawinan oleh wali nikah
masing masing agamanya dan khususnya terdapat didalam pasal 60
kepercayaannya itu termasuk ayat 2 KHI yaitu dalam hal bila calon
ketentuan perundang undangan yang suami atau istri yang akan
berlaku bagi golongan agamanya dan melangsungkan perkawinan tidak
kepercayaanya itu sepanjang tidak memenuhi syarat untuk
bertentangan atau tidak ditentukan melangsungkan perkawinan menurut
lain dalam undang undang ini. Kalau hukum Islam dan Aturan perundang
melihat dari penjelasan dan pasal ini undangan Namun syarat sekufu tidak
maka syarat untak melakukan bisa dijadikan alasan pencegahan
perkawinan harus sesuai dengan perkawinan oleh wali nikah kecuali
hukum agama yang dianut oleh disebabkan karena ketidaksamaan
mempelai berdua atau dapat dalam hal agama yang dianut masing
ditafsirkan bahwa perkawinan dapat masing calon.
dilangsungkan apabila calon
mempelai mempunyai persamaan D. Simpulan
agama atau dengan kata lain bahwa Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
perkawinan tidak bisa dilakukan maka disimpulkan sebagai berikut.
dengan hukum agama yang berbeda. 1. Islam, pada dasarnya tidak menetapkan
Dari pemahaman pasal 2 ayat 1 bahwa seorang laki laki hanya boleh
Undang undang Nomor 1 Tahun 1974 menikah dengan perempuan yang sama
kalau ditinjau dari konsep Kafa’ah kedudukanya, baik dalam kedudukan,
maka prinsip kesejajaran dalam harta, suku dan sebagainya. Islam tidah
masalah agama yang dianut oleh membuat aturan mengenai kafa’ah, tetapi
masing masing mempelai harus sama manusialah yang menetapkannya. Islam
meskipun tidak secara tegas Negara memandang bahwa manusia diciptakan
melarang terjadinya perkawinan antar sama. Tidak menetapkan orang yang tidak
agama yang berbeda. mampu tidak boleh menikah dengan orang
Selain Undang undang Nomor 1 mampu, orang arab tidak boleh menikah
Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan orang non arab dan sebagainya. (
sebagai hukum Materiil khusus bagi Al Hamdani, 2002 : 98 )
pemeluk agama Islam di Indonesia 2. Undang undang Nomor 1 Tahun 1974 dan
juga ada aturan yang lebih khusus Inpres Presiden Nomor 1 Tahun 1991
mengatur tentang perkawinan yang dimana Isi pasal demi pasal di dalam
terdapat dalam Instruksi Presiden RI aturan tersebut tidak ada aturan yang
Nomor 1 Tahun 1991 tentang mensyaratkan adanya konsep kafa’ah
kompilasi hukum Islam di Indonesia dalam hal terjadinya perkawinan
khususnya yang terdapat didalam Bab khususnya dalam proses peminangan dan
1 tentang perkawinan. Kalau melihat pencegahan perkawinan. Namun tidak
isi pasal demi pasal dari aturan semua konsep kafa’ah ditolak
tersebut bahwa syarat sekufu dalam keseluruhanya oleh masyarakat dalam hal
pengertian kafa’ah tidak diharuskan tersebut kalau dilihat dari pasal 2 ayat 1
dalam proses terjadinya perkawinan Undang undang Nomor 1 Tahun 1974
atau lebih teknisnya dalam proses menyebutkan bahwa “Perkawinan adalah
peminangan dan dalam hal aturan sah apabila dilakukan menurut masing
pencegahan perkawinan atau lebih masing agamanya dan kepercayaannya
jelasnnya didalam pasal 61 Kompilasi itu.” Dalam penjelasan ayat menyebutkan
Hukum Islam menyebutkan bahwa “ tidak ada perkawinan diluar hukum masing
tidak sekufu tidak dapat dijadikan masing agamanya dan kepercayaannya itu
alasan untuk mencegah perkawinan, sesuai dengan Undang undang Dasar 1945.
kecuali tidak sekufu karena Yang dimaksud dengan hukum hukum
perbedaan agama atau ikhtilaafu al masing masing agamanya dan

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 106
kepercayaannya itu termasuk ketentuan
perundang undangan yang berlaku bagi E. Saran
golongan agamanya dan kepercayaanya itu
sepanjang tidak bertentangan atau tidak Untuk mewujudkan keluarga ( rumah tangga ) yang
ditentukan lain dalam undang undang ini. bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang
Kalau melihat dari penjelasan dan pasal ini Maha Esa sesuai apa yang diamanatkan dalam
maka syarat untak melakukan perkawinan Undang undang Nomor 1Tahun 1974 maka dalam
harus sesuai dengan hukum agama yang proses perkawinan, konsep kafa’ah yang ada dalam
dianut oleh mempelai berdua atau dapat Hukum Perkawianan Islam penting untuk
ditafsirkan bahwa perkawinan dapat diperhatikan khususnya mereka yang terlibat.
dilangsungkan apabila calon mempelai Namun yang paling penting dari konsep Kafa’ah
mempunyai persamaan agama atau dengan yang ada adalah kesamaam dalam hal agama yang
kata lain bahwa perkawinan tidak bisa dianut oleh calon pempelai.
dilakukan dengan hukum agama yang
berbeda.

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 107
Daftar Pustaka

Abdul Manan.2006.Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia.Jakarta :Kencana Prenada Media Group.

Abdulrahman Do’i.1996 Perkawinan dalam Syariat Islam Jakarta Rineka Cipta

Sayyid Sabiq 2007, Fiqih Sunnah Bandung : Al Ma’arif.

Sulaiman Rasyid, 2001 Fiqih Islam, Bandung : Sinar Baru

Al Hamdani,H.S.A.2002.Risalah Nikah Hukum Perkawinan Islam.Jakarta: Pustaka Amani.

Al Jaziri.1990.Kitabul Fiqh ‘Ala Masahibul Arba’ah.Beirut:Penerbit Darul Fikr

Bagir Manan.2006.Reformasi Hukum Islam Di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Depag RI.2007.Al Qur’an dan Terjemahannya Perkata Bandung.

Ibnu Hajar.1999 .BulughulMaram,Jakarta: Rinika Cipta

Ikhwan Mufty, 2009, Pengertian perbandingan Hukum dan Klasifikasi Perbandingan Hukum, diunduh di
http://www. ikwanmufty.blogspot.com, pada tanggal 5 April 2010 pukul 11.00 WIB.

Instruksi Presiden RI Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia.

Jhonny Ibrahim.2008.Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif.Malang:Bayumedia.

M. Quraish Shihab.2007.Wawasan Al Qur’an.Bandung: Mizan

Nur,Djamaan.1993 .Fiqih Munakahat.Semarang:Penerbit Dina Utama

Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana Prenada Media Group.

Rasyid,Sulaiman.1990.Fiqih Islam.Bandung:Penerbit Sinar Baru,Cetakan XXIII

Undang Undang Nomer 1 Tahun 1975 Tentang Hukum Perkawinan Di Indonesia.

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 108
CURRICULUM VITAE

1. Nama Lengkap : Syafrudin Yudowibowo

2. Tempat, Tanggal Lahir : Solo, 30 November 1975

3. Dosen Fakultas Hukum UNS Menyelesaikan :

S1 Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta 2001

S2 Ilmu Hukum Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta 2007

Yustisia Vol.1 No.2 Mei – Agustus 2012 Tinjauan Hukum Perkawinan... 109

Anda mungkin juga menyukai