Anda di halaman 1dari 25

MEMAHAMI TEKNOLOGI, INFORMASI DAN KOMUNIKASI

DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Adm. Profesi Kependidikan yang
diberikan oleh dosen Edi Rohaedi,Drs.,M.Si.

Disusun oleh :
Kelompok 5/ 4E
1. Siti Maryam (09210310964)
2. Udus Suryadi (09210310989)
3. Azis Wikarto (09210310764)
4. Dodi Romansah (09210310817)
5. Heri Gunawan (09210310861)
6. Budiman (09210310771)

PROGRAM STUDI PJKR


(STKIP) SEBELAS APRIL SUMEDANG
Jln. Angkrek Situ No. 19 Telp. (0261) 202911 Sumedang45323
SUMEDANG
2011
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim
Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat
dan karunia-Nya itulah penyusun dapat menyusun makalah ini. Shalawat serta salam semoga
tercurah kepada Habibana Wa Nabiyyana Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para
sahabatnya dan kita selaku umatnya yang selalu setia pada ajaran Nabi Muhammad SAW.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari bahwa penyusunan makalah ini
bukan sepenuhnya berkat upaya dari penyusun sendiri melainkan berkat partisipasi pihak lain
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga keikhlasan dan pengorbanan
mereka mendapat balasan yang jauh lebih besar daripada yang mereka korbankan.
Tentunya penyusunan makalah ini masih belum bisa dikatakan sempurna dan optimal,
mengingat masih banyak keterbatasan dalam diri kami sebagai penyusun. Oleh karena itu,
dengan tangan terbuka kami akan menampung berbagai kritik dan saran untuk perbaikan di masa
yang akan datang.

Sumedang, Mei 2011

Penyusun,
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................... 1
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan................................................ 2
1.4 Pembatasan Masalah............................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, informasi dan komunikasi.................................
2.2 Sejarah teknologi, informasi dan komunikasi......................
2.3 Penerapan TIK dalam bidang pendidikan di Indonesia........
2.4 Peranan TIK dalam bidang pendidikan ..............................
2.5 Peranan guru dalam pembelajaran TIK................................
2.6 Pergeseran pandangan tentang pembelajaran.......................
2.7 Dampak positif dan negative dalam bidang pendidikan......
2.7.1 Dampak positif TIK dalam bidang pendidikan......
2.7.2 Dampak negative TIK dalam bidang pendidikan...
2.8 Metoda pemecahan masalah dan solusi dalam
mengatasi dampak negative TIK dalam
bidang pendidikan...............................................................
2.9 Upaya memajukan TIK dalam bidang pendidikan...............
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...........................................................................
3.2 Saran ....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), merupakan kombinasi antara teknologi

informatika dengan teknologi-teknologi lain terkait, khususnya teknologi komunikasi. TIK

digunakan dan diaplikasikan, dan diintegrasikan pada pekerjaan dan pembelajaran dengan

memacu pada pemahaman konseptual dan metode-metode informatika.

Perkembangan Telekomunikasi, Media, dan Informatika (Telematika) yang sedang booming

akhir-akhir ini, mendapat sambutan positif di masyarakat. Perkembangan telematika tidak hanya

disambut dan dinikmati oleh kalangan bisnis maupun pemerintah, tetapi juga telah merambah

dalam dunia pendidikan.

Perkembangan telematika dalam dunia pendidikan direspons oleh departemen pendidikan

nasional dengan memasukkan kurikulum yang bernuansa pengenalan seluk beluk teknologi

informasi & komunikasi, terutama di jenjang pendidikan menengah. Respons ini menunjukkan

bahwa departemen pendidikan nasional memperhatikan perkembangan dunia Teknologi

Informasi & Komunikasi yang sedang mengalami kernajuan pesat, dengan kebijakan ini

diharapkan siswa mernilki kemarnpuan untuk mengenal, memaharni, dan berinteraksi dengan

dunia teknologi inforrnasi & kornunikasi, sehingga kelak pada saat lulus sekolah tidak buta sarna

sekali dengan dunia teknologi inforrnasi & kornunikasi yang ada di rnasyarakat.

Pada jenjang sekolah menengah, pelajaran tentang teknologi informasi & komunikasi

menjadi sebuah materi intrakurikuler wajib. Di SMP dan SMA, materi Teknologi Informasi dan

Komunikasi (TIK), sedangkan pada smk disebut dengan mata pelajaran keterampilan komputer

dan pengolahan informasi (KKPI). Oleh karena itu, pentingnya Mempelajari TIK dalam proses
pembelajaran di sekolah khususnya di kelas adalah guna membuktikan pada masyarakat bahwa

potensi teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan mutu pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan TIK?

2. Bagaimana sejarah TIK?

3. Bagaimana penerapan TIK dalam bidang pendidikan?

4. Apa peranan TIK dalam bidang pendidikan?

5. Bagaimana peranan guru dalam pembelajaran TIK?

6. Apakah terjadi pergeseran pembelajaran?

7. Apa dampak positif dan negatif terhadap pendidikan?


8. Metoda apa yang digunakan untuk pemecahan masalah dan solusi alam mengatasi

dampak negatif TIK dalam pendidikan?

9. Apa upaya yang dilakukan untuk memajukan pendidikan dengan TIK?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan


Adapun tujuan dan manfaat penulisan dari makalah ini:
1. Mengetahui pengertian TIK

2. Mengetahui sejarah TIK

3. Mengetahui penerapan TIK dalam bidang pendidikan

4. Mengetahui peranan TIK dalam bidang pendidikan

5. Mengetahui peranan guru dalam pembelajaran TIK

6. Mengetahui terjadi pergeseran pembelajaran?

7. Mengetahui dampak positif dan negatif terhadap pendidikan


8. Menetahui metoda apa yang digunakan untuk pemecahan masalah dan solusi alam

mengatasi dampak negatif TIK dalam pendidikan

9. mengetahui upaya yang dilakukan untuk memajukan pendidikan dengan TIK


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teknologi, Informasi dan Komunikasi

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan
istilah Information and Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi
yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK
mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi
meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi,
dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat
yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua
buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung
pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan,
pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara
teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi
komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat
melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami
berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.

2.2 Sejarah Teknologi, Informasi dan Komunikasi

Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan
terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander
Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan
komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti
pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif
pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya
antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM
yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti
pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an.
Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan
miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian
terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957.

Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini,
mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat
(Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi
elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang
angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan
rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang
menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat
telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan
teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal
pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan
perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital.
Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas
infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia
mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi - komputasi
multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi
industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka
revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia terjadi melalui
implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya
meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

2.3 Penerapan TIK Dalam Pendidikan di Indonesia

Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang
lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics
sebagai telecommunication + informatics (telekomunikasi + informatika) meskipun sebelumnya
kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya
melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai
bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan
mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit
dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk
melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK.
Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-
learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics
yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital. Pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif
menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan
penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini
adalah wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu
proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan
adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau
fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan
menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan
peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila
televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah
materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang
berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis
Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama
bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan
teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet
memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer.
Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah
juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.

2.4 Peranan TIK Dalam Bidang Pendidikan

Adapun peranan TIK dalam pendidikan:

1. Pendayagunaan TIK dalam Meningkatkan Efektivitas Sekolah. Berbicara mengenai


kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, tentu tidak akan pernah ada habisnya.
Setiap menit para inventor  atau penemu hal baru yang mengkreasikan buah pikirannya
menjadi produk teknologi terbaru. Teknologi memudahkan pengembangan dalam
berbagai hal termasuk dalam sistem pengelolaan pendidikan . Potensinya sangat besar
untuk mentransformasikan seluruh aspek pendidikan dalam mencapai tujuan-tujuan
pengelolaan dan proses pembelajaran. Lembaga pendidikan tidak mudah beradaptasi
dalam mensejajarkan dengan kemajuan itu karena biayanya juga tidak murah. Namun
demikian,  pendidik dan tenaga kependidikan  selayaknya mampu menerapkan  TIK
dalam pelaksanaan kerja sehari-hari. Tidak perlu menguasai seluruh bagian sesuai dengan
setiap produk TIK. Cukup dimulai dari fitur yang dapat mendukung pekerjaan sehari-hari
saja.

2. TIK sebagai Bagian Budaya Para Pendidik. Departemen Pendidikan Nasional


(Depdiknas) telah memasukkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
ke dalam salah satu program prioritasnya. TIK dianggap memiliki peran besar dalam
upaya memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. TIK memungkinkan
terjadinya proses belajar efektif, menyediakan akses pendidikan untuk semua,
memfasilitasi terjadinya proses belajar kapan saja dan di mana saja. pemanfaatan TIK
hendaknya tidak hanya berkutat pada penyediaan perangkat keras saja. Hendaknya
diletakkan sebagai aspek kultur dan budaya para pendidik. Tantangan terbesar kita bukan
pada perangkat keras dan jaringan, tetapi bagaimana budaya TIK menjadi bagian dari
para guru kita dalam memberikan proses-proses pembelajaran di kelas-kelas.
pemanfaatan TIK untuk pendidikan terjadi melalui empat tahapan yaitu konektivitas,
transaksi, kolaborasi, dan transformasi. Pemerintah telah dan akan terus memfasilitasi
terjadinya konektivitas, salah satunya melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas).
Jardiknas telah menghubungkan 25.382 titik yang terdiri atas lebih dari 18.080 sekolah
jenjang SD, SMP, SMA/SMK, dan 363 perguruan tinggi, 939 kantor dinas pendidikan di
tanah air, serta 6.000 guru. Pada tahap transaksi, pemanfaatan TIK akan memberikan
akses dan kemudahan terjadinya pertukaran dan kesempatan berbagi pengetahuan antar
berbagai pihak dalam komunitas pendidikan. Kolaborasi merupakan tahapan berikutnya
dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan. Pemanfaatan TIK dalam pendidikan tidak
pernah luput dari jaringan kerja sama yang kuat dalam bentuk jejaring atau konsorsium
pendidikan yang melibatkan berbagai pihak dan sector. Adapun pada tahap transformasi,
TIK merupakan pengungkit dari proses transformasi pendidikan menuju pendidikan
modern. TIK membawa beragam perubahan dalam tradisi dan budaya pendidikan yang
harus dicermati dengan bijak oleh berbagai pihak yang terlibat. Dengan TIK, perguruan
tinggi diharapkan dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi kelas dunia, dan
sekolah-sekolah menjadi sekolah berstandar internasional yang memiliki daya saing
dalam percaturan pendidikan tingkat global. Keberhasilan proses transformasi budaya
pendidikan di tanah air akan tercapai jika TIK tidak ditempatkan sebagai teknologi  yang
kosong. Untuk itu, diperlukan konten yang mengisi teknologi tersebut, serta sumber daya
manusia terutama guru yang terampil memanfaatkan teknologi secara tepat, sehingga
peningkatan kualitas pembelajaran dapat dicapai.

3. TIK sebagai skill dan kompetensi

 Penggunaan TIK harus proporsional maksudnya  TIK bisa masuk ke semua lapisan
masyarakat tapi sesuainya dengan porsinya masing-masing.

4. TIK sebagai infratruktur pembelajaran

 Tersedianya bahan ajar dalam format digital


 The network is the school
 belajar dimana saja dan kapan saja

5. TIK sebagai sumber bahan belajar

 Ilmu berkembang dengan cepat


 Guru-guru hebat tersebar di seluruh penjuru dunia
 Buku dan bahan ajar diperbaharui secara kontinyu
 Inovasi memerlukan kerjasama pemikiran
 Tanpa teknologi, pembelajaran yang up-to-date membutuhkan waktu yang lama

6. TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran

 Penyampaian pengetahuan mempertimbangkan konteks dunia nyata


 Memberikan ilustrasi berbagai fenomena ilmu pengetahuan untuk mempercepat
penyerapan bahan ajar
 Pelajar melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya secara lebih luas dan mandiri
 Akuisisi pengetahuan berasal dari interaksi mahasiswa dan guru
 Rasio antara pengajar dan peserta didik sehingga menentukan proses pemberian
fasilitas

7. TIK sebagai pendukung manajemen pembelajaran


 Tiap individu memerlukan dukungan pembelajaran tanpa henti tiap harinya
 Transaksi dan interaksi interaktif antar stakeholder memerlukan pengelolaan back
office yang kuat
 Kualitas layanan pada pengeekan administrasi ditingkatkan secara bertahap
 Orang merupakan sumber daya yang bernilai

8. TIK sebagai sistem pendukung keputusan

 Tiap individu memiliki karakter dan bakat masing-masing dalam pembelajaran


 Guru meningkatkan kompetensinya pada berbagai bidang ilmu
 Profil institusi  pendidikan diketahui oleh pemerintah.

2.5 Peranan Guru dalam Pembelajaran TIK

Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang
berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari
orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini
guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih
penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru
sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah
peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah
satu sumber informasi. Di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu
guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin,
pembelajar, dan pengarang. Sebagai:

1. pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa
untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-
masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan
satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana
pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan
itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan
dan kondisi yang ada.
2. konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana
siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan
tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu
memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal.
3. manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya
dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh
sumber-sumber penunjang pembelajaran.
4. partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar
dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-
satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa.
5. pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan
orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai
pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak
yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar.
6. pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan
kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya.
7. pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan
digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan
sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku,
melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya
inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen
yang tinggi sebagai basis kualitas profesionalismenya.

2.6 Pergeseran Pandangan Tentang Pembelajaran

Adapun pergeseran pandangan tentang pembelajaran menentukan bahwa, untuk

memanfaatkan TIK dalam memeperbaiki mutu pembelajaran ada 3 hal yang harus diwujudkan

yaitu:

1. siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas,

sekolah, dan lembaga pendidikan guru,

2. harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan cultural bagi siswa dan

guru,
3. guru harus memilki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan

sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan

tentang pembelajaran baik dikelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisioanal masa

lalu (dan masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai:

l. sesuatu yang sulit dan berat,

2. upaya mengisi kekurangan siswa,

3. suatu proses transfer dan penerimaan informasi,

4. proses individual atau soliter,

5. kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil

dan terisolasi,

6. suatu proses linear.

Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai

pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai proses alami, proses social, proses aktif dan pasif,

proses linear atau tidak linear, poses yang berlangsung integrative dan kontekstual, aktifitas yang

berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kultur siswa, aktivitas yang dinilai

berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil dan pemecahan masalah nyata baik individual

maupun kelompok. Hal ini telah mengubah peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran

guru telah berubah dari:

l. sebagai penyimpan pengetahuan, sumber utama informasi, ahli materi, dan sumber segala

jawaban, sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan,

dan mitra belajar,

2. dan mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran , menjadi lebih banyak
memberikan alternative dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses

pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu:

(1) dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses

pembelajaran,

(2) dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai

pengetahuan,

(3) dari pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain. lingkungan pembelajaran yang

dimasa lalu berpusat pada guru telah bergeser menjadi berpusat pada siswa.

Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:

 Lingkungan berpusat pada guru berpusat pada siswa

 Aktivitas kelas guru sebagai sentral clan bersifat didaktis siswa sebagai sentral dan

bersifat interaktif

 Peran guru menyampaikan fakta-fakta, guru sebagi ahli kolaboratif, kadangkadang

siswa sebagai ahli

 Penekanan pengajaran mengingat fakta-fakta hubungan antara oinformasi dan

temuan

 Konsep pengetahuan akumulasi fakta secara kuantitas transfonnasi fakta-fakta

 Penampilan keberhasilan penilaian acuan norma kuantitas pemahaman, penilaian

acuan patokan

 Penilaian soal-soal pilihan berganda protopolio, pemecahan masalah dan

penampilan

 Penggunaan teknologi latihan dan praktek komunikasi, akses, kolaborasi &

ekspresi.
2.7 Dampak Positif dan Negatif Terhadap Pendidikan
2.7.1 Dampak positif TIK dalam bidang pendidikan
Pemanfaatan TIK dalam pendidikan, akan mengatasi masalah sebagai berikut:
 Masalah geografis, waktu dan sosial ekonomis Indonesia

 Negara Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan, daerah tropis dan pegunungan
hal ini akan mempengaruhi terhadap pengembangan infrastruktur pendidikan sehingga
dapat menyebabkan distribusi informasi yang tidak merata.

 Mengurangi ketertinggalan dalam pemanfaatan TIK dalam pendidikan dibandingkan


dengan negara berkembang dan negara maju lainnya.

 Akselerasi pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan mutu pendidikan yang sulit
diatasi dengan cara-cara konvensional.

 Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan


teknologi informasi dan komunikasi.
 TIK akan membantu kinerja pendidikan secara terpadu sehingga akan terwujud
manajemen yang efektif dan efisien, transparan dan akuntabel

 Pemanfaatan TIK pada bidang pendidikan ditinjau dari pelaksanaan pembelajaran

Akhir- akhir ini perkembangan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) sudah


sedemikian maraknya, bidang pendidikan pun tidak luput dari perkembangan TIK
tersebut. Banyak bagian atau porsi di bidang pendidikan yang sebenarnya dapat
memanfaatkan TIK. Dari segi pelaksanaanya:

Pertama, TIK dapat digunakan untuk membantu pengajar dalam melakukan absensi.
Selama ini yang kita tahu sejak SD hingga SMA, pengajar masih melakukan absensi
secara manual, yakni dengan buku absen dan memanggil murid secara satu persatu.
Padahal hal tersebut tentunya merepotkan dan jika dilihat dari kefektifan waktu, tentu
saja ini cukup memakan waktu dan mengurangi waktu belajar di kelas. Ide saya terkait
absensi ini adalah tiap murid dapat secara praktis melakukan absensi dengan
menempelkan jari mereka pada suatu instrumen TIK dan data absensi langsung masuk
ke database. Data absensi juga bisa diekses secara online oleh orang tua murid yang
ingin mengetahui perkembangan anaknya di sekolah, entah melalui situs sekolah
maupun SMS gateway.

Kedua, TIK dapat diterapkan dalam mencatat nilai siswa dan mem-publish-nya.
Selama ini guru mencatat nilai siswa secara manual. Untuk nilai ulangan harian, nilai
UTS maupun nilai UAS. Setelah itu guru tersebut menghitung rata-ratanya keseluruhan
sebagai nilai akhir. Tentunya akan lebih bijak jika kita mengurangi beban guru dengan
membiarkan teknologi yang bekerja sehingga guru hanya perlu memasukkan nilai
tersebut ke suatu instrumen TIK dan instrumen tersebut yang akan mengolah nilai akhir
sehingga kesalahan akibat perhitungan manusia akan berkurang dan guru akan lebih
nyaman dalam bekerja. Selain itu nilai yang sudah dimasukkan dapat langsung di-
publish melalui situs sekolah sehingga semua proses penghitungan nilai siswa dapat
diolah secara transparan. Siswa juga dapat melihat nilainya kapan saja dan dimana saja.

Ketiga, TIK dapat diterapkan dalam meletakkan modul pembelajaran. Hal ini dapat
menjadi salah satu solusi akan mahalnya buku-buku cetak di Indonesia. Biasanya guru
hanya menjelaskan materi di papan tulis dan sumber utamanya tetaplah buku cetak yang
harganya mahal dan belum tentu semua materi di dalamnya akan dipelajari oleh siswa.
Sebelum saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI, saya belum pernah mengalami
suatu pembelajaran dimana modul yang saya pelajari pada perkuliahan diletakkan pada
suatu wadah dan wadah tersebut juga memungkinkan saya untuk berdiskusi dengan
teman maupun pengajar, mengumpulkan tugas, melihat informasi seputar perkuliahan,
dll. Wadah tersebut tidak lain adalah Scele. Saya mengharapkan implementasi seperti
Scele ini juga bisa diterapkan kepada institusi lain, paling tidak mulai dari SMP atau
SMA. Karena yang saya tahu untuk fakultas di Universitas Indonesia sendiri baru
Fakultas Ilmu Komputer yang menerapkan metode pembelajaran seperti ini. Saya
memahami bahwa ada hambatan untuk menerapkan metode ini pada semua level
pendidikan, antara lain masalah infrastruktur IT yang belum tersebar secara merata,
mahalnya akses internet di Indonesia dan pemahaman si pengajar terhadap IT. Oleh
karena itu menurut saya solusinya adalah sekolah atau institusi belajar dapat
menyediakan fasilitas internet yang memungkinkan siswa dapat mengakses modul yang
mereka pelajari secara gratis. Training IT kepada para guru juga diperlukan agar guru
tersebut dapat membuat modul e-learning. Bila gurunya saja tidak memahami
bagaimana membuat modul, maka implementasi seperti Scele tidak akan bisa
dilaksanakan.

Keempat, TIK dapat memberikan wadah bagi suatu institusi untuk bekerja sama
dengan institusi lain untuk sharing resource. Misalnya Universitas Indonesia dapat
bekerja sama dengan universitas lain misalnya Nanyang University di Singapura. Jadi
mahasiswa UI dapat mempelajari modul yang diajarkan di Nanyang dan mengikuti
forum diskusinya tanpa harus jauh-jauh kuliah di Nanyang. Hal ini akan meningkatkan
kualitas mahassiwa UI karena wawasannya bertambah. Harapannya adalah kita bisa
memiliki mahasiswa UI yang berkualitas Nanyang. Sedangkan bagi Nanyang sendiri
juga akan memiliki wawasan mengenai bagaimana perkuliahan di Indonesia.

 Manfaat internet terhadap pendidikan


Dalam bidang pendidikan Internet telah memainkan peranan penting dalam proses
pembelajaran. Meskipun di dunia pendidikan terdapat beberapa tantangan sebagai
berikut:
 Proses pendidikan itu memerlukan waktu tenggang (lead time) yang cukup lama.

 Setidak-tidaknya seorang dituntut untuk mengikuti pendidikan sejak sekolah


dasar sampai perguruan tinggi

 Dalam pendidikan itu berlaku prinsip “irreversibilitas”

 Tantangan yang kita hadapi di masa depan cendrung berkembang semakin


kompleks, yang ditandai dengan semakin cepatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai akibat dari arus globalisasi yang semakin
terbuka.
e-Education, istilah ini mungkin sudah tidak asing bagi bangsa Indonesia. e-
education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan TI di bidang Pendidikan.
Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber
informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber
informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan
bagaimana kualitasnya?) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk
mengakses perpustakaan di Amerika Serikat berupa Digital Library. Sudah banyak cerita
tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau
tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet
banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak
untuk diselesaikan (Oetomo, B.S.D, 2002). Lingkungan Akademis Pendidikan Indonesia
yang mengenal alias sudah akrab dengan Implikasi TI di bidang Pendidikan salah satunya
adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Saat ini di UPI, hampir setiap Fakultas
yang terdapat di UPI memiliki jaringan yang dapat di akses oleh masyarakat,
memberikan informasi bahkan bagi yang sulit mendapatkannya karena problema ruang
dan waktu, juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa
atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen
pembimbing, atau banyak yang lainnya. Bahkan saat ini telah berkembang digital library
di kawasan kampus. Inisiatif-inisiatif penggunaan TI dan Internet di luar institusi
pendidikan formal tetapi masih berkaitan dengan lingkungan pendidikan di Indonesia
sudah mulai bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sudah ada adalah situs
penyelenggara “Komunitas Sekolah Indonesia”.. Selain untuk melayani Institut
pendidikan secara khusus, adapula yang untuk dunia pendidikan secara umum di
Indonesia. Ada juga layanan situs internet yang menyajikan kegiatan sistem pendidikan
di Indonesia. situs ini dimaksudkan untuk merangkum informasi yang berhubungan
dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta
jaringan komunikasi (forum) bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat
lainnya. Tujuan utama dari situs ini adalah sebagai wadah untuk saling berhubungan yang
dapat menampung semua sektor utama pendidikan. Selain penggunaan internet dalam
dunia pendidikan, usaha lain untuk penggunaan ICT dalam pendidikan antara lain
diciptakannya model-model pembelajaran ataupun media pembelajaran yang berbasiskan
ICT, baik berupa CD pembelajaran interaktif maupun modul-modul materi pembelajaran
yang bisa memberikan kemudahan pada peserta didik untuk memahami materi tersebut.
Saat ini juga banyak sekolah-sekolah yang memberikan fasilitas e-learning pada
siswanya. Dengan akses internet, siswa dapat mengakses e-learning dimana saja, kapan
saja. E-learning berisi modul-modul pembelajaran, adanya forum diskusi yang
memungkinkan untuk distance learning.

2.7.2 Dampak negatif TIK terhadap pendidikan


TIK seiring dengan perkembangannya yang semakin meningkat, namun tetap saja
memiliki kekurangan. Misalnya saja pada e-learning, e-learning dapat menyebabkan
pengalih fungsian guru yang mengakibatkan guru jadi tersingkirkan, menyebabkan
terciptanya individu yang bersifat individual karena sistem pembelajaran dapat dilakukan
dengan hanya seorang diri, dan kemungkinan etika dan disiplin peserta didik susah atau
sulit untuk diawasi dan dibina sehungga lambat laun kualitas etika dan manusia khusunya
para peserta didik akan menurun drastis, serta hakikat manusia yang utama yaitu sebagai
makhluk sosial akan musnah.
Kemudian karena seringnya mengakses internet, di khawatirkan pelajar bukanya benar-
benar memanfaatkan TIK dengan optimal malah mengakses hal-hal yang tidak baik, seperti
pornografi yang sangat mudah di akses yang berefek buruk bagi anak dibawah umur
ataupun bagi yang sudah dewasa sekalipun. Hal lain misalnya kecanduan : asik berinternet
( biasanya menggunakan fasilitas social networking / game online ) sehingga lupa waktu
dan berakibat buruk bagi kehidupannya.kemudian ada istilah Cyber-relational addiction
adalah keterlibatan yang berlebihan pada hubungan yang terjalin melalui internet (seperti
melalui chat room dan virtual affairs) sampai kehilangan kontak dengan hubungan-
hubungan yang ada dalam dunia nyata..Kemudaian dikenal pula Information overload,
Karena menemukan informasi yang tidak habis-habisnya yang tersedia di internet,
sejumlah orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan dan
mengorganisir berbagai informasi yang ada. Kemudian bisa membuat seseorang
kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena
hanya untuk melayani kecanduan tersebut. Hal-hal tersebut sangat menghambat
berkembanganya pendidikan.
2.8 Metoda Pemecahan Masalah dan Solusi Dalam Mengatasi Dampak Negatif TIK Dalam
Pendidikan
Agar penggunaan TIK dalam pendidikan lebih optimal dan di jalankan dengan baik dan
benar, berikut ada beberapa metoda pemecahan masalah agar dampak negatif dari TIK dapat
tertanggulangi.
a. Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di bawah umur
yang masih harus dalam pengawasan ketika sedang melakukan pembelajaran dengan TIK.
Analisis untung ruginya pemakaian.

b. Tidak menjadikan TIK sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran, misalnya
kita tidak hanya mendownload e-book, tetapi masih tetap membeli buku-buku cetak, tidak
hanya berkunjung ke digital library, namun juga masih berkunjung ke perpustakaan.

c. Pihak-pihak pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-pengajaran etika
dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa menghilangkan etika.
d. Pemerintah sebagai pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka dan menyaring
apa-apa saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh rakyat Indonesia di dunia
maya.
Jadi, solusinya adalah kita jangan sampai mengatakan tidak pada teknologi (say no to
technology) karena jika kita berbuat demikian, maka kita akan ketinggalan banyak informasi
yang sekarang ini informasi-informasi tersebut paling banyak ada di internet. Kita harus
mempertimbangkan kebutuhan kita terhadap teknologi, mempertimbangkan baik-buruknya
teknologi tersebut dan tetap menggunakan etika, juga tidak lupa jangan terlalu berlebihan agar
kita tidak kecanduan dengan teknologi. Hal-hal tersebut sangat menghambat berkembanganya
pendidikan dalam TIK.

2.9 Upaya untuk Memajukan Pendidikan dengan TIK


Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemerintah Indonesia telah
menggunakan TIK untuk memperluas kesempatan pendidikan, untuk meningkatkan kualitas dan
relevansi pendidikan, dan meningkatkan efisiensi sistem pendidikan. Sampai tahun ini, berbagai
upaya untuk menggunakan TIK dalam pendidikan antara lain:
1. E-learning
Mulai dari tahun 2002, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan
(Pustekkom) bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Menengah, dan Direktorat
Pendidikan sedang mengembangkan e-learning program yang disebut "e-dukasi". Tujuan dari
program ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah menengah dan tingkat
sekolah kejuruan melalui penggunaan internet. Pada tahap awal ini, bahan pembelajaran
sedang dikembangkan untuk mata pelajaran berikut: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi,
Elektronika, dan Teknologi Informasi.
2. Kursus Online
Beberapa perguruan tinggi telah memberikan kuliah melalui internet untuk beberapa
kursus. Misalnya saja di UPI, di dalam e-learning ada course-course atau kursus online untuk
mata kuliah tertentu. Dimana dosen dan murid tidak tatap muka atau menerapkan distance
learning.
3. Tutorial Online
Salah satu penggunaan teknologi informasi untuk pendidikan di pendidikan tinggi adalah
untuk tujuan tutorial lembaga-lembaga pendidikan jarak jauh.
4. Joint Research
Sebagai media yang menyediakan untuk kolaborasi melalui penggunaan teknologi
informasi, penelitian bersama program telah dilakukan.
5. Perpustakaan Elektronik
Saat ini, ada jaringan perpustakaan elektronik yang disebut Bahasa Indonesia Digital
Library Network yang merupakan jaringan perpustakaan elektronik dari perpustakaan pusat
ITB (Digital Library), yang Pasca Sarjana Studi Perpustakaan ITB, Lembaga Penelitian ITB,
Universitas Indonesia Timur Pembangunan proyek (dalam proyek CIDA), Universitas
Brawijaya Malang Central Library, Universitas Muhammaddiyah Malang dan The Central
Bank Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta. Indonesia Digital Library
Network ini dimaksudkan untuk mendukung upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas
lulusan perguruan tinggi, untuk meningkatkan pertukaran informasi antar lembaga pendidikan
tinggi dan lembaga-lembaga penelitian di Indonesia.
6. Computer Assisted Instruction (CAI)
Ini adalah off-line program instruksi sehingga tidak tergantung pada akses ke internet.
Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) telah mengembangkan
instruksi dibantu komputer bahan belajar untuk berbagai subject matter dan kursus. Ini adalah
bahan pembelajaran interaktif dimana siswa dapat belajar pada / dirinya sendiri dengan sedikit
bantuan dari guru / dosen
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Potensi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas

diantaranya adalah dengan pemanfaatan berbagai media pembelajaran yang dilakukan dengan

media komunikasi seperti telepon, computer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan

siswa tidak hanya dilakukan dengan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan

media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan khusus tanpa berhadapan langsung

dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup luas dan

berbagai sumber dengan menggunakan computer dan internet. Adanya sumber belajar yang

demikian, menjadikan siswa lebih bergairah dalam belajar. Siswa bisa belajar dimana dan

kapan saja ia mau. Maka, jelas bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi memiliki potensi

yang cukup besar dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru dan siswa juga saling bekerjasama

dalam arti kata, antara guru dan siswa hams mampu menciptakan hubungan yang harmonis dan

kondusif agar kondisi belajar yang diinginkan tercapai, demi mewujudkan cita-cita bangsa.

3.3 Saran

Seiring berkembangnya teknologi, informasi dan komunikasi dalam kehidupan manusia


khususya dalam bidang pendidikan, tidak luput dari permasalhan dampak negative, tapi
semua dapat diatasi dengan selalu meningkatkan tingkat kewaspadaan dan kesadaran diri
pribadi serta adanya kerjasama antara seluruh warga negara agar sedikitnya bisa
meminimalisir dampak negative tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Teknologi Informasi Komunikasi.


[Online].Tersedia:http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi (17 Mei 2011)

Peranan TIK Dalam Bidang Pendidikani.


[Online].Tersedia:http://whitewishes.wordpress.com/2010/02/23/peranan-tik-dalam-bidang-
pendidikan/ (17 Mei 2011)

Memahami Teknologi Informasi dan Komunikasi.


[Online].Tersedia:http://www.google.co.id/#hl=id&pq=memahami%20teknologi%20informasi
%20dan%20komunikasi%20di%20bidang%20pendidikan%20&xhr=t&q=peranan%20TIK
%20dalam%20bidang
%20pendidikan&cp=10&pf=p&sclient=psy&biw=1271&bih=566&source=hp&aq=0&aqi=&aql
=&oq=peranan+TI&pbx=1&fp=a0bbeae323276964 (17 Mei 2011)