Anda di halaman 1dari 2

Nama : Habibah Shabila

NPM : 1806139310
Kelas : Filsafat Hukum – A
Program Studi : Reguler

Modern Analytical and Normative Jurisprudence

Dalam bahasa Indonesia, analytical jurisprudence sering disebut dengan istilah Aliran
Hukum Positif Analitis atau juga disebut dengan Ilmu Hukum Dogmatik/Dogmatik Hukum.
Menurut Robert Summer dalam artikelnya yang berjudul “The New Analytical Jurists”, dia
menyebutkan bahwa para ahli hukum modern menunjukkan adanya variasi yang lebih luas dari
analytical activities dari pemikiran sebelumnya. Robert Summer membagi aktivitas tersebut
menjadi 4 tipe, yaitu (1) analisis terhadap kerangka konsep tentang hukum, (2) konstruksi dari
kerangka konseptual yang baru dengan terminologi yang menyertainya, (3) justifikasi yang
rasional dari insitusi dan praktik,dan (4) purposive implication. Semua tipe dari analytical
jurisprudence tersebut tetap bertahan.

Selanjutnya, jika membahas mengenai analytical jurisprudence yang bersifat


kontemporer, maka pemikiran tentang jurisprudence tersebut banyak dipengaruhi oleh Hart.
Kontribusi Hart yang signifikan ditandai dengan penerapannya terhadap filosofi isu hukum
yang substansial, seperti ajaran kausalitas, sanksi, dan legitimasi atas intervensi hukum
terhadap pelanggaran kesusilaan yang bersifat pribadi. Kontribusi dari Raz dan MacCormick-
lah yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Hart. Dalam pemikiran Hart tentang
jurisprudence, sistem hukum adalah sistem yang terdiri atas peraturan sosial. Peraturan tersebut
bersifat sosial dalam dua hal, yakni yang pertama adalah karena peraturan tersebut mengatur
perilaku masuarakat, serta yang kedua adalah karena peraturan tersebut lahir dari interaksi
sosial manusia. Namun, sistem hukum tidak hanya terdiri dari peraturan yang bersifat sosial
saja. Terdapat pula peraturan moralitas. Dalam hal ini, hukum cenderung bermakna kewajiban
sehingga terdapat adanya perilaku tertentu yang bersifat wajib.

Hart berpandangan bahwa terdapat dua tipe peraturan, yaitu terdiri dari primary rules
dan secondary rules. Yang termasuk ke dalam primary rules adalah peraturan dalam hukum
pidana atau peraturan dalam bidang tort law, sedangkan secondary rules adalah hukum yang
memfasilitasi pembuatan kontrak, wasiat, perjanjian perkawinan, dan lain sebagainya. Menurut
pendapat Hart, the concept of law, yang mana memungkinkan adanya ketidakabsahan hukum,
dibedakan dari amoralitasnya yang memungkinkan untuk melihat kerumitan dan keragaman
masalah, seperti yang dihadapi orang-orang yang dipanggil untuk mematuhi hukum.

Selanjutnya, terdapat tokoh bernama John Rawls yang terkenal dengan thesisnya yang
berjudul A Theory of Justice. Konsep keadilan menurut Rawls adalah: (1) maksimisasi
kebebasan, (2) persamaan/kesetaraan bagi semuanya, baik dalam kebebasan dasar pada
kehidupan sosial maupun dalam distribusi perihal barang yang bersifat sosial, serta (3) “fair
equality of opportunity” yakni persamaan atas kesempatan yang adil. A theory of justice oleh
Rawls tersebut kemudian dirumuskan kembali dengan Political Liberalism. Dalam political
liberalism, konsep yang ditawarkan adalah konsep politik tentang keadilan (yang dibedakan
dari konsep agama, filosofis, atau moralitas yang memperhatikan kebaikan). Political
liberalism menerima adanya “the fact of reasonable pluralism”, yakni fakta bahwa
keberagaman atas adanya agama, filosofis, dan doktrin moral yang masuk akal namun
bertentangan dapat ditegaskan oleh masyarakat dalam pelaksanaan kapasitas mereka sebagai
masyarakat secara bebas untuk konsepsi kebaikan.

Kemudian, terdapat tokoh modern jurisprudence lainnya bernama Dworkin. Dalam


thesisnya, dibahas mengenai rights yang merupakan kunci dari konsep filsafat hukum yang
modern. Menurut Dworkin, rights (hak) dipahami sebagai bukti atas latar belakang
pembenaran untuk keputusan politik yang mana menyatakan tujuan bagi komunitas secara
keseluruhan. Jadi, dalam pandangan Dworkin, tiap individu tetap mempunyai hak untuk
melakukan sesuatu walaupun sesuatu yang ia lakukan tersebut bertentangan dengan pandangan
masyarakat. Dworkin menyatakan bahwa rights bukan “hadiah” dari Tuhan. Ia melihat rights
sebagai pelindung yang dimasukkan ke daam moralitas politik dan hukum untuk mencegah
korupsi terhadap “egalitarian character of welfarist calculations”.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ajaran modern jurisprudence ini
dipengaruhi oleh pemikiran beberapa tokoh, seperti Hart, Rawls, dan Dworkin. Dalam hal ini,
Hart membahas mengenai the concept of law serta tentang sistem hukum yang terdiri dari dua
tipe peraturan. Selanjutnya, Rawls memperkenalkan tentang a theory of law dan kemudian ia
juga merumuskan kembali teori keadilan tersebut dalam political liberalism. Lalu, dibahas pula
tentang rights oleh Dworkin. Perihal rights merupakan pembahasan yang penting karena
merupakan kunci dari konsep filsafat hukum yang modern.

Anda mungkin juga menyukai