Anda di halaman 1dari 2

Nama : Habibah Shabila

NPM : 1806139310
Kelas : Filsafat Hukum – A
Program Studi : Reguler
The Role of Nusantara’s/Indonesia Legal Thought & Practices in Globalization of Law

Indonesia merumuskan kebijakan dan aturan hukum yang berisikan sistem


perekonomian liberal, yang mana mengacu pada liberalisasi di bidang perdagangan. Mengenai
produk hukum tersebut, Indonesia telah meratifikasi The Agreement Establishing the World
Trade Organization (WTO) pada 2 November 1994 dengan mengeluarkan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1994. Indonesia juga telah menerapkan tahapan terakhir dari komitmennya di
bawah ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) yang dinilai lebih liberal daripada WTO
Agreement. Adapun dalam melakukan perumusan produk hukum tersebut, Indonesia tidak
memperhatikan struktur dan budaya masyarakat Indonesia yang bercorak spiritual daripada
materil. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah bertindak untuk menentang aturan WTO
sehubungan dengan telah tercemarnya gagasan dan praktik perdagangan bebas dengan nilai-
nilai ideologis yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Nilai yang dianggap
bertentangan tersebut berakar dari budaya hukum barat dan internasional yang lebih
menghargai individualisme daripada komunalisme yang dianut oleh masyarakat Indonesia.
Selain itu, terdapat pula dominasi dari nilai socianism yang mana lebih mementingkan dan
memuji rasionalisme daripada nilai romantisme. Nilai romantisme ini padahal dianut oleh
budaya hukum adat di Indonesia. Nilai yang dianggap bertentangan juga adalah nilai yang
berisi pemikiran bahwa materialisme lebih penting daripada spiritualisme. Padahal, masyarakat
Indonesia dari generasi ke generasi lebih mementingkan nilai spiritualisme daripada
materialisme.

Nilai-nilai asli bangsa Indonesia, seperti komunalisme, romantisme, dan spiritualisme


tersebut diserap dalam sistem hukum asli Indonesia. Sistem hukum Indonesia asli ini
dimanifestasikan dalam hukum adat. Sistem tersebut didasarkan pada sistem nilai non-liberal
oriental yang diwujudkan dalam Pancasila yang mana mengedepankan komunalisme daripada
individualisme, lebih melekat pada romantisme daripada rasionalisme, serta lebih mematuhi
spiritualisme daripada materialisme. Namun, dalam perkembangannya telah terjadi dualisme
hukum, yakni terdiri dari sitem hukum asli dan sistem hukum yang diadopsi dari luar yang
mana mempengaruhi bidang hukum internasional.
Adapun contoh dari adanya dualisme hukum yang mengacu pada sistem hukum yang
diadopsi dari luar adalah hukum tentang hak cipta (undang-undang tentang hak cipta) yang
merupakan implementasi dari peraturan TRIPs atau peraturan dalam WTO yang mana
didominasi oleh nilai individualisme, rasionalisme, dan materialisme. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, nilai individualisme, rasionalisme, dan materialisme tersebut
merupakan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianut sebagian besar masyarakat
Indonesia. Keadaan tersebut menyulitkan Indonesia untuk merumuskan aturan yang menganut
nilai yang tidak bertentangan dengan nilai budaya Indonesia. Indonesia juga terjebak dalam
kebingungan mengenai apakah harus mengikuti nilai yang sudah menjadi budaya atau
berperilaku sesuai dengan undang-unadang yang berasal dari barat dan menganut nilai yang
bertentangan dengan budaya Indonesia. Selain itu, contoh mengenai kebingungan Indonesia
untuk bertindak antara dua nilai yang berbeda tersebut dapat dilihat dari keanggotaan Indonesia
dalam WTO. Dalam hal ini, Indonesia berada dalam ketidakpastian mengenai apakah harus
berperilaku sesuai dengan nilai budaya atau sesuai dengan peraturan WTO yang menganut nilai
yang berbeda dengan budaya Indonesia. Dengan demikian, telah terjadi dualisme hukum di
Indonesia.

Perjuangan antara nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai dari barat yang bersifat liberal
tersebut dapat pula dilihat dalam amandemen keempat UUD 1945. Dalam amaendemen
keempat tepatnya dalam paragraf keempat Pasal 33 UUD 1945, telah dimasukkan kata
“efisiensi”. Akibat dari adanya kata “efisiensi” tersebut adalah ideologi liberal telah menyusup
ke dalam konstitusi Indonesia. Kepentingan asing telah diakui memiliki peran yang penting
dalam pembentukan hukum Indonesia. Hal tersebut kemudian juga membuat masyarakat
Indonesia mengalami kebingungan karena adanya ketidakpastian pada hukum di bidang
perdagangan. Indonesia hingga saat ini belum memiliki kebijakan perdangan yang jelas,
integral, dan komperhensif. Hukum terkait perdagangan di Indonesia masih merupakan
warisan Belanda yang tercantum dalam bedrifsreglementerings ordonantie dalam Staatsblad
1934. Dengan demikian, Indonesia sebaiknya segera memperjuangkan hukum perdagangan
multilateral yang lebih adil. Perumusan hukum perdagangan tersebut juga harus bisa
mengakomodasi kepentingan seluruh masyarakat dengan memperhatikan dan menyerap nilai-
nilai budaya hukum asli Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai