Anda di halaman 1dari 21

BAB I

KASUS

STATUS
Nomer rekam medic: 27-29-83
I. Identitas pasien
1. Nama : Nn. Khusnul Maharani
2. Umur : 24 tahun
3. Alamat : Mutiara view B6-2
4. Status Perkawinan : Belum Menikah
5. Pekerjaan : Pegawai swasta
6. Jenis Kelamin : Perempuan
7. Agama : Muslim
8. tanggal masuk : 16-4-2010

Anamnesis didapatkan dari Auto Anamnesis

II. Keluhan Utama


Kecelakaan lalu lintas

III. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke UGD, dari RSAB dengan keluhan kecelakkan lalu lintas. Tidak
ada pingsan, tidak ada mual muntah. Terdapat luka robek pada daerah tumit kaki
kanan.
IV. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak mempunyai riwayat alergi obat. Tidak ada riwawat diabetes, dan
tidak ada riwayat hipertens
V. Riwayat Hidup Pribadi dan Kebiasaan
Pasien tidak pernah minum minuman beralkohol, tidak pernah merokok, makan
teratur, rajin berolahraga.

1
PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran : compos Mentis
Keadaan umum : sakit sedang

Tanda Vital
Tensi : 120/80
Nadi : 84 x/m
RR : 22 x/m
Suhu : 36,3C
1. Kepala: bentuk kepala makrocephali, deformitas (-), Ubun-ubun besar
tegang
• Rambut: belum tumbuh
• Mata: CA -/-, SI -/-
• Hidung: discharge (-), deviasi septum (-)
• Telinga: discharge (-), tidak ada kelainan bentuk pada
telinga
• Mulut: bibir tidak kering, lidah tidak kotor.
2. Leher: Kelenjar getah bening tidak teraba membesar
3. Thorax:
• Paru : Suara nafas vesikuler +/+ , Ronchi -/-,
wheezing -/-
• Jantung : S1-S2 reguler, Murmur -/-, Gallop -/-
4. Abdomen: BU (+), frekuensi BU (+) normal
5. Ekstremitas: akral hangat (+) pada kedua lengan dan tungkai. Kekuatan
motorik belum dapat dinilai.

STATUS LOKALIS
Pedis dextra
Look : oedem (+), deformitas (+), VL kalkaneus, hiperemis(+), darah (+)
Feel : nyeri tekan (+), hangat (+), odema (+)
Move : pergerakan aktif terbatas karena nyeri

2
Pergerakan pasif terbatas karena nyeri

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgen pedis dextra

2. darah lengkap
Leukosit : 12.500 (N : 3500-10.000)

Hb : 13,5 g/dl (N : 11,0-18,0)

Ht : 31,3% (N : 35,0-50,0)

Trombosit : 246.000/mm3 (N : 150.000-390.000)

BT : 8’30

CT : 2’30

3. urin lengkap

BJ : 1.005

pH :8

leukosit : 0-1

epitel :+

RESUME

Seorang wanita datang ke IGD dengan rujukan dari RSAB dengan diagnosis kerja
multiple fraktur ankle joint dextra terbuka. OS mengaku kecelakaan lalu lintas pada
hari yang sama OS datang ke IGD, tidak ada pingsan ketika kecelakaan, tidak ada
keluhan pusing dan tidak ada mual, muntah.

Pada pemeriksaan status lokalis pedis dextra didapatkan :

Look : oedem (+), deformitas (+), VL kalkaneus, hiperemis(+), darah (+)


Feel : nyeri tekan (+), hangat (+), odema (+)

3
Move : pergerakan aktif terbatas karena nyeri
Pergerakan pasif terbatas karena nyeri

Pada foto rontgen pedis dextra ( 16-4-2010)

DIAGNOSIS KERJA
Fr terbuka Tibialis 1/3 distal dextra
Fr neck calcaneus pedis dextra
Fr. Ankle pedis dextra

PENATALAKSANAAN

- debridement
- ORIF
- IVFD RL + remopain + Nov / 8 j
- Sharox 3 x750 mg

PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

4
BAB II
ANALISA KASUS

Pada kasus ini, diagnosis yang diambil adalah dari pemeriksaan status lokalis
pedis dextra didapatkan data :

Look : oedem (+), deformitas (+), VL kalkaneus, hiperemis(+), darah (+)


Feel : nyeri tekan (+), hangat (+), odema (+)
Move : pergerakan aktif terbatas karena nyeri
Pergerakan pasif terbatas karena nyeri

Dari pemeriksaan penunjang yang berupa foto rontgen pedis dextra, ditemukan :

Foto : pedis dextra


Kesan : - fraktur 1/3 distal tibia
- fraktur maleolus media
- fraktur calcaneus

5
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

FRAKTUR TIBIA

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang, sering diikuti oleh kerusakan
jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan
persarafan. Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia

Pemeriksaan fisik pada fraktur tibia

Pasien yang mengalami fraktur tibia merasakan nyeri di tungkai setelah mengalami
kecelakaan. Informasi mengenai mekanisme trauma dan waktu terjadinya, apakah ada
reduksi atau manipulasi yang dilakukan pada ekstremitas, dan riwayat medis pasien
harus didapatkan dengan lengkap saat terjadi fraktur.

Inspeksi (Look)
Seluruh pakaian yang melekat pada ekstremitas pasien harus dilepaskan dari tungkai.
Gambaran dari ekstremitas tersebut harus dicatat adakah luka terbuka, memar,
bengkak, dan hangat pada perabaan. Luka harus diperiksa ukurannya, lokasinya, dan
derajat kontaminasinya.
a. Deformitas
Deformitas sering menunjukkan level dari fraktur. Dari adanya kelainan
bentuk, bisa diduga adanya fraktur dari tulang.
b. Membandingkan dengan tungkai yang kontralateral. Untuk melihat apakah
ada udem di bagian tungkai, maka tungkai yang sakit di bandingkaan
dengan yang sehat. Beratnya udem juga memperlihatkan tingkat keparahan
dari cidera.
c. Warna

6
Warna dari ekstremitas memberikan informasi mengenai perfusi dari
tungkai. Warna yang kemerah-merahan menunjukkan oksigenasi darah di
kapiler baik. Warna yang keabu-abuan menunjukkan penurunan dari
oksigenasi jaringan.
Palpasi (Feel)
a. Pulsasi
Jangan lupa untuk meraba A. poplitea, A. dorsalis pedis, dan A. tibialis
posterior.
b. Palpasi langsung
Jika terasa nyeri dan krepitasi pada palpasi, kemungkinan ada fraktur.
Gerakan (Move)
Perhatikan saat fleksi, ekstensi dari lutut, ankle, dan ujung kaki. Terkadang
pasien merasa sakit pada bagian ini saat pemeriksaan.

Sindroma kompartemen
Bisa muncul di awal cidera maupun kemudian. Sehingga perlu pemeriksaan serial dan
perhatian pada ekstremitas yang mengalami cidera. Sindroma kompartemen terdiri
dari: pain, pallor, paralysis, paresthesia, pulselessness.

Fraktur Terbuka
Jika terdapat fraktur terbuka, yang berarti terdapatnya luka terbuka, maka harus
direncanakan untuk irigasi dan debridemant. Jika ada luka terbuka yang jaraknya jauh
dari fraktur terbuka, perlu diperiksa apakah di bawah luka tersebut ditemukan fraktur
terbuka, dan ini dilakukan setelah luka dibersihkan dengan antiseptik dan harus
dengan instrumen steril.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Evaluasi radiologi dari fraktur tibia adalah dengan sinar rontgen pada posisi
anteroposterior dan lateral. Selain itu pada foto rontgen harusmencakup bagian distal
dari femur dan ankle. Berikut ini adalah gambar foto fraktur diafisis tibia dengan
sinar rontgen.

7
Gambar radiologi faktur tibia

KLASIFIKASI
Klasifikasi dari fraktur tibia bermanfaat untuk memperkirakan kemungkinan
penyembuhan dari fraktur dalam menjalankan penatalaksanaannya. Sistem klasifikasi
yang sering digunakan pada fraktur terbuka adalah sistem yang dibuat oleh Gustilo
sebagai berikut
Tipe I : lukanya bersih dan panjangnya kurang dari 1 cm.
Tipe II : panjang luka lebih dari 1 cm dan tanpa kerusakan jaringan
lunak yang luas.
Tipe IIIa : luka dengan kerusakan jaringan yang luas, biasanya lebih dari
10 cm dan mengenai periosteum. Fraktur tipe ini dapat disertai
kemungkinan komplikasi, contohnya: luka tembak.
Tipe IIIb : luka dengan tulang yang periosteumnya terangkat.
Tipe IIIc : fraktur dengan gangguan vaskular dan memerlukan
penanganan terhadap vaskularnya agar vaskularisasi tungkai
dapat normal kembali.
Selain klasifikasi di atas, Orthopaedic Trauma Association juga membagi fraktur tibia
berdasarkan pemeriksaan radiografi, terbagi 3 grup, yaitu: simple, wedge dan
kompleks. Masing–masing grup terbagi lagi menjadi 3 yaitu:

1. Tipe simple, terbagi 3: spiral, oblik, tranversal.


2. Tipe wedge, terbagi 3: spiral, bending, dan fragmen.
3. Tipe kompleks, terbagi 3: spiral, segmen, dan iregular.

Gambar di bawah menunjukkan klasifikasi fraktur berdasarkan radiografi,


dari sebelah kiri ke arah bawah menunjukkan fraktur tipe simpel, yang terdiri dari
spiral, oblik dan transversal. Gambar yang di tengah memperlihatkan fraktur tipe
wedge, dari atas ke bawah memperlihatkan tipe spiral, bending, dan fragmen.

8
Gambar sebelah kanan menunjukkan fraktur tipe kompleks, dari atas ke bawah
menunjukkan fraktur tipe spiral, segmen dan ireguler.

PENATALAKSANAAN
Non Operatif
1. Reduksi
Reduksi adalah terapi fraktur dengan cara mengantungkan kaki dengan tarikan
atau traksi.
2. Imobilisasi
Imobilisasi dengan menggunakan bidai.Bidai dapat dirubah dengan gips dalam
7-10 hari, atau dibiarkan selama 3-4 minggu.
3. Pemeriksaan dalam masa penyembuhan
Dalam penyembuhan, pasien harus di evaluasi dengan pemeriksaan rontgen
tiap 6 atau 8 minggu. Program penyembuhan dengan latihan berjalan,
rehabilitasi ankle, memperkuat otot kuadrisef yang nantinya diharapkan dapat
mengembalikan ke fungsi normal.
Operatif
Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu6:
a. Absolut
- Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukan operasi
dalam penyembuhan dan perawatan lukanya.
- Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaiki
jalannya darah di tungkai
- Fraktur dengan sindroma kompartemen
- Cidera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien,
juga mengurangi nyeri.
b. Relatif , jika adanya:
- Pemendekan
- Fraktur tibia dengan fibula intak
- Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama

9
Adapun jenis-jenis operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya adalah
sebagai berikut:

1. Fiksasi eksternal
a. Standar
Fiksasi eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multipel yang
hemodinamiknya tidak stabil, dan dapat juga digunakan pada fraktur terbuka dengan
luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka operasi yang dibuat bisa lebih kecil,
sehingga menghindari kemungkinan trauma tambahan yang dapat memperlambat
kemungkinan penyembuhan. Dibawah ini merupakan gambar dari fiksasi eksternal
tipe standar:

Fiksasi Interna Standar

b. Ring Fixators
Ring fixators dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakan sejenis cincin
dan kawat yang dipasang pada tulang. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk
fraktur ke arah proksimal atau distal. Cara ini baik digunakan pada fraktur tertutup
tipe kompleks. Di bawah ini merupakan gambar pemasangan ring fixators pada
fraktur diafisis tibia:

10
Ring Fixators

c. Open reduction with internal fixation (ORIF)


Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis.
Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi
lebih stabil. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada penyembuhan
luka operasi.

ORIF

d. Intramedullary nailing
Cara ini baik digunakan pada fraktur displased, baik pada fraktur terbuka atau
tertutup. Keuntungan cara ini adalah mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan
menghindarkan trauma pada jaringan lunak.

Intramedullary nailing

11
Amputasi
Amputasi dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia, putusnya nervus tibia dan
pada crush injury dari tibia.

KOMPLIKASI
1. Komplikasi dini
- Syok, dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat
tertutup
- Emboli lemak, sering didapatkan pada penderita muda dengan fraktur
femur.
- Trauma pembuluh darah besar; ujung frakmen tulang menembus jaringan
lunak dan mencederai arteri femoralis.
- Trauma saraf, trauma saraf dapat terjadi pada nervus isciadikus atau
cabangnya nervus tibialis dan nervus perineus komunis.
- Trombo emboli pada penderita yang berbaring lama.
- Infeksi, terutama jika luka terkontaminasi dan debridemen tidak
memadai.
2. Komplikasi lanjut
- Delayed union; normal terjadi union dalam empat bulan
- Non-union, lazim terjadi pada fraktur pertengahan batang femur, trauma
kecepatan tinggi dan fraktur dengan interposisi jaringan lunak di antarafragmen.
Fraktur yang tidak menyatu memerlukan bone grafting dan fiksasi interns.
Malunion, bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, mal union juga
menyebabkan pemendekan pada tungkai sehingga diperlukan koreksi osteotomi.
- Kaku sendi lutut, setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan
pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi periartikuler atau adhesi
intramuskuler.
- Refraktur, terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union solid

FRAKTUR KALKANEUS

Anatomi
Kalkaneus merupakan bagian yang terbesal dari tulang tarsal. Mempunyai 3
bagian, yaitu anterior, middle dan posterior. Bagian posterior, merupakan penopang

12
yang terutama, meskipun bagian anterior dan middle lebih menahan beban yang lebih
per unit area. Kalkanaeus sering dibandingkan dengan telur rebus, karena memiliki
tempurung yang keras dan tipis di luar dan tulang spons yang lembut didalam. Ketika
kulit terluar rusak, tulang cenderung terpecah menjadi fragmen-fragmen. Karena
alasan ini fraktur pada kalkaneus merupakan trauma yang berat.

Mekanisme Fraktur

Kebanyakan fraktur lakkaneus adalah hasil dari peristiwa traumatis. Paling


serin, jatuh dari ketinggian, seperti dari tangga. Akan tetapi dalam sejumlah kecil
kejadian, fraktur kalkaneus disebabkan oleh penggunaan yang berlebihan atau stress
yang berulang pada tumit kaki.

Jenis fraktur

Fraktur pada kalkaneus, dapat melibatkan sendi atau tidak melibatkan sendi.
Fraktur yang tidak melibatkan sendi ( fraktur intra-artikular ) adalah jenis fraktur yang
berat, dan mennyababkan kerusakan pada kartilago ( jaringan penghubung antara dua
tulang). Fraktur yang tidak melibatkan sendi ( fraktur ekstra-artikular), bisa
disebabkan karena overuse atau traumatik, tanda- tandanya karena traumatik antara
lain tiba2 nyeri ditumit dan ketidakmampuan untuk menahan beban pada kaki,
pembengkakan di daerah tumit, memar dari tumit dan di pergelangan kaki. Sedangkan
gejala karena overuse adalah sakit di aerah tumit yang biasanya berkembang secara
perlahan ( sampai beberapa minggu), dan pembengkakan di tumit).

Pengobatan

1. Perawatan non bedah


- RICE( rest, ice, compretion, elevation) . Rest, mengistirahatkan ari trauma
kaki. Es mengurangi bengkak dan rasa sakit. Elevasi (menjaga kaki agar
berada diatas jantung) berguna untuk mengurangi bengkak.
- Imobilisasi

13
2. Perawatan bedah
Beberapa pendekatan bedah tersedia untuk perawatan fraktur kalkaneus, mulai
dari fiksasi perkutan, hingga reduksi terbuka. Pemasangan ORIF pada fraktur
calcaneus, sulit dibuat karena anatomi yang kompleks dan kehadiran cancellous bone
yang merupakan tulang lunak ( yang tidak dapat dengan skrup fiksasi) dan juga
tingginya insiden infeksi luka pasca operasi.

Komplikasi
Komplikasi yang tersering adalah cacat yang kronis karena rasa sakit. Komplikasi
pada pemasangan ORIF antara lain infeksi, rasa sakit, bengkak.

FRAKTUR PERGELANGAN KAKI

Anatomi
Sendi anatomi sendi pergelangan kaki, dibentuk oleh 3 tulang, yaitu dari tulang tibia,
fibula, dan talus. Bagian dinding medial sendi berupa tulang malleolus lateralis.
Bagian posterior dibatasi oleh tulang tibia yang melengkung yang disebut malleolus
posterior.
Kecuali itu, persendian pergelangan kaki merupakan sendi yang kuat karena
terdapatnya ligamen-ligamen yang menghubungkan antara tulang di daerah tersebut.
Antara malleolus medialis dengan tulang-tulang tarsal dihubungkan oleh ligamen.
Tibiocallcaneal, ligamen talar dan ligamen tibionavikular. Ketiga ligamen tersebut
disebut juga sebagai ligamen deltoid. Antara malleolus lateral dan tulang tarsal
dihubungkan oleh ligamen caneofibular dan ligamen taloibular.

Pemeriksaan
karena fraktur pada pergelangan kaki, gejalanya sering sama tengan keseleo,
pemeriksaan yang lengkap diperlukan untuk menghindari kesalahan diagnosis.

14
• Indikator yang menunjukan fraktur antara lain deformitas, pembengkakan
( terutama di perimalleolar), nyeri pada tulang, hiperemis. Ketidakmampuan
untuk menahan beban berat badan, merupakan indikasi dari fraktur.
• Periksa dengan hati-hati terhadap adanya luka terbuka
• Nilai status neurovaskular kaki dan pergelangan kaki. Bandingkan dengan
ekstremitas yang baik
• Periksa denyut nadi, arteri tibialis posterior.
• Periksa denyut arteri dorsalis pedis
• Periksa capillary refill
• Palpsi untuk menemukan nyeri pada tulang, terutama di sepanjang maleolus
medial dan lateral dan jga di bagian posterior.
• Nilai gerakan aktif dan pasif dari sendi ankle.
• Periksa ipsilateral lutut dan kaki terutama, untuk kondisi dari proksimal fibula
dan pada metatarsal.

Klasifikasi
Danis – weber mengklasifikasikan menurut lokasi fraktur dan tampilan dari
fibula. Pada beberapa derajat fraktur, membutuhkan operasi.
Tipe A menggambarkan frktur fibula avulsion yang melintang. Terkadang
disertai dengan fraktur oblik dari maleolus medial. Fraktur ini desebabkan karena
rotasi internal dan adduksi. Biasnya merupan patah tulang yang stabil
Tipe B menggambarkan fraktur oblik dari maleolus lateral dengan atau tanpa
pecah dari syndesmosis tibiofibular dan cedera medial ( fraktur di medial maleolus
dan deltoid cedera.
Tipe c menunjukkan patah tulang fibula yang tinggi dengan pecahnya
ligamentum tibiofibular dan patah melintang dari maleolus medial.

Pilon fraktur
Merupakan fraktur metafisis distal tibia yang dikombinasikan dengan gangguan
kubah talus. Pada pilon fraktur sering terbuka dan sering terjadi pengelupasan
kulit. Edema, kulit yang melepuh dan nekrosis dari trauma awal, dapat
menyebabkan tadi trauma tertutup menjadi trauma terbuka. Biasnya dapat disertai
kompresi pada spinal ( terutama L1) dan fraktur ipsilateral atau kontralateral dari

15
os.calcis, tibial proximal, pelvis atau acetabulum. Fraktur pilon sering merupakan
comminuted dan fraktur terbuka., karena itu sering menimbulkan cacat jangka
panjang.

Pilon fraktur

Fraktur Maisonneuve
Merupakan fraktur pada proximal fibula dan bersamaan dengan fraktur malleolus
medial atau gangguan dari ligamentum deltoideus. Fraktur Maisonneuve
dihubungkan dengan gangguan partial atau komplit dari syndemosis.

Fraktur Maisonnneuve

Fraktur Tillaux
Fraktur Tillaux menjelaskan Selter-Harris (SH) tipe III cedera dari epifisis tibial
anterolateral yang disebabkan oleh eversi dan rotasi lateral pergelangan kaki.
Insiden tertinggi terjadi pada remaja.

16
Fraktur Tillaux

Fraktur Pott
Disebut juga fraktur bimalleolar, yang melibatkan minimal 2 elemen dari cincin
pergelangan kaki. Merupakan fraktur yang tidak stabil dan memerlukan perhatian
yang mendesak dari ortopedi.

Fraktur Cotton
Disebut juga trimalleolar A, fraktur melibatkan maleolus medial, lateral dan
posterior. Merupakan fraktur yang tidak stabil dan membutuhkan perhatian segera
dari otopedi.

PENATALAKSANAAN

• Evaluasi trauma multisistem.


• Tentukan apakah fraktur pergelangan kaki tersebut merupakan fraktur stabil
atau tidak stabil. Fraktur tidak stabil mencakup fraktur –dislolaksi, fraktur
bimaleolus, triamaleolar, dan dengan pergeseran talus yang signifikan.
• Jika neurovaskular dari ekstremitas tersebut terganngu, maka secepat
mungkin fraktur harus segera ditanganin sesegaera mungkin dengan fixator
eksternal, opern reduction dan internal reduksi (ORIF)
• Patah tulang terterbuka harus dijaga dari kontaminasi dengan menutup luka.

17
• Pada fraktur lateral maleolus yang sederhana dapet dilakukan pemasangan
splint di UGD. Fraktur malleolus medial dapat dengan reposisi tertutup. Bila
berhasil baik dipertahankan dengan immobilisasi gips, dibawah lutut selama 8
minggu. Bila hasil reposisi jelek, maka harus dipikirkan kemungkinan
terjadinya interposisi periosteum antara kedua fragmen. Untuk hal ini harus
dilakukan tindakan operasi, dipasang interal fiksasi. Dengan pemasangan
screw. Pada bimaleolus, trimalleolar dan fraktur pilon, membutuhkan
perhatian mendesak untuk emasangan ORIF.
• Berikan analgesik

Komplikasi

• 20-40 % yang mengalami fraktur pergelangan kai mengalam traumatic


arthritis.
• Sudeck atrophy, yang merupakan sejenis reflek sympathetic dystrophy (RSD),
dapat mengikuti fraktur. Gambaran klinisnya termasuk rasa sakit yang
kompleks, atrofi otot, sianosis dan edema.
• Pada anak-anak fraktur pergelangan kaki yang melibatkan lempeng
pertumbuhan, dapay menyebabkan deformitas yang kronis dengan gangguan
pertumbuhan.

Prognosis

Fraktur terbuka yang kompleks dengan kerusakan jaringan lunak mempunyaio


prognosis yang lebih buruk dibandingkan fraktur pergelangan kaki yang tertutup.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Newton CD. Etiology, Classification, and Diagnosis of Fracture.


http://www.ivis.org

2. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC,


2005. 840-841.

3. Apley dan Solomon, Buku ajar ortopedi dan fraktur. Penerbit Widya
Medika;1995

4. Iskyan Kara, MD. Ankle frakture.


http://emedicine.medscape.com/article/824224-overview.

5. Djuantoro, Fraktur Batang femur. Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997.
http://www.kalbefarma.com/cdk_041.htm

19
20
21