Anda di halaman 1dari 46

BAB I, Rangkaian DC Hal: 1

BAB I

ANALISA RANGKAIAN ARUS SEARAH


Elektronika adalah teknik yang menerapkan kelakuan arus listrik
yang mengalir dalam suatu devais seperti pada tabung elektron dan
devais semikonduktor (dioda, transistor, op-amp, gerbang elektronik,
dll) akibat medan listrik maupun medan magnet, seperti Hall Effect
sensor dan Hall Effect switch.
Dalam elektronika, suatu devais (komponen) elektronika bisa
dikelompokkan menjadi komponen pasif dan komponen aktif.
Komponen pasif, yaitu komponen elektronik yang tidak terdapat
sumber listrik (sumber arus/tegangan). Beberapa contoh komponen
pasif adalah hambatan, induktor, kapasitor, termistor, fotoresistor,
saklar (toggle, push-button, rotary), relay, moving coil konektor, dll.
Sedangkan komponen aktif adalah komponen elektronika yang
memiliki sumber listrik internal (sumber tegangan, sumber arus).
Beberapa contoh komponen aktif adalah devais semikonduktor
(misalnya dioda, transistor, UJT (uni junction transistor), FET (field
effect transistor), op-amp, fototransistor, tabung elektron, dll ).
Penggunaan devais elektronika sering kali lebih unggul
dibandingkan dengan devais mekanik maupun elektromekanik.
Beberapa keunggulan devais elektronik tsb diantaranya adalah:
™ pada devais elektronik tanggapan terhadap waktu jauh lebih
cepat dibandingkan dengan devais mekanik apapun. Contoh:
Saklar elekronik dibandingkan dengan saklar mekanik.
™ tanggap terhadap perubahan besaran fisis seperti pada
perbedaan suhu, gaya, warna, dll sehingga dapat dipergunakan
sebagai sensor.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 2

™ dapat mengambil sinyal input listrik yang kecil dan memperkuat


sinyal tsb dengan karakteristik yang sama, sehingga
informasinya tidak hilang.
™ dapat memiliki sifat sebagai konduktor listrik pada suatu arah
tertentu dan bersifat sebagai isolator pada arah yang lainnya.
Devais elektronika beroperasi berdasarkan ide pengontrolan arus
dari partikel bermuatan. Dengan demikian material yang
dipergunakan untuk devais elektronika harus mampu menghasilkan
sumber partikel bermuatan dan mudah dikontrol. Pada devais
semikonduktor partikel bermuatan itu adalah elektron dan hole,
sedang pada tabung transistor adalah elektron.
Perpindahan muatan terjadi akibat drift dan difusi. Arus drift
adalah perpindahan muatan akibat adanya medan listrik, sedangkan
arus difusi adalah perpindahan muatan akibat distribusi muatan yang
tidak uniform (gradien konsentrasi muatan).
Perkembangan elektronika itu demikian pesatnya, barangkali
perkembangan elektronika bisa ditandai dengan dengan penemuan
tabung sinar katoda oleh Hittorf dan Crookes pada tahun 1869.
Perkembangan ini terus belanjut sampai saat ini sebagai akibat dari
berbagai kontribusi oleh para ilmuwan matematika, fisika, teknik dan
para penemu lainnya. Perkembangan ini diantaranya ditunjukkan
dalam tabel sbb:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 3

Tabel 1 Ringkasan Perkembangan Teknologi Elektronika


Tahun Inventor Catatan
1869 Hittforf dan Mempelajari tabung sinar katoda
Crookes
Maxwell mengembangkan teori radiasi elektromagnetik
1883 T.A. Edison mengamati konduksi elektronik di dalam vakum
1888 Hertz mendemontrasikan keberadaan gelombang radio
seperti yang diprediksi oleh Maxwell
1897 J.J. Tompson menentukan e/m dari elektron
1901 Marconi melakuan komunikasi wireless di lautan
Atlantik
Einstein menemukan efek fotolistrik
1904 Fleming membuat tabung elektron yang pertama, yaitu
detektor dioda yang memanfaatkan efek Edison
1906 DeForrest menemukan trioda yang dipakai sebagai
amplifier
1912 Amstrong regeneratif detektor yang sensitif dan oscilator
1924 Zworykin menemukan tabung gambar
1939 Zworykin menemukan fotomultiflier
Watson-Watt ide pembuatan RADAR (radio detection and
ranging)
1946 Eckert dan membuat ENIAC (Electronic Numerical
Mauchly Integrator and Computer) dengan menggunakan
18.000 tabung transistor
1947 Shockley, menemukan transistor dari bahan
Bardeen dan semikonduktor
Brattain
1953 Townes memanfaatkan konsep Einstein (1917) untuk
membuat MASER (microwave amplification of
the stimulated emission and radiation)
1954 Pearson menemukan solar-cell
1958 Kilby membuat rangkaian aktif dan pasif secara
serentak
1958 Noyce memberikan ide pembuatan rangkaian

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 4

terintegrasi dalam satu chip monolithic


1960 Maiman mengembangkan LASER ruby, ide dari Townes
dan Schawlow
1969 Hoff membuat mikroprosesor yang setara ENIAC
dalam satu chip silikon
Feymann memprediksi kematian elektronik, jika dapat
mengatur pergerakan elektron per individu.

Besaran Elektronik
Rangkaian listrik sangat diperlukan untuk mengatur transfer
energi dari dan ke suatu devais elektronik. Devias itu dipergunakan
untuk menghasilkan, memperkuat, memodulasi dan mendeteksi
sinyal elektronik. Untuk mengubah suatu bentuk energi ke bentuk
energi lain atau untuk mengubah suatu bentuk informasi ke bentuk
informasi lain diperlukan suatu transducer. Contohnya:
(a) microphone dipakai untuk mengubah energi suara menjadi
energi listrik,
(b) speaker digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi
energi suara,
(c) tabung CRT (Cathode Ray Tube) dipakai untuk mengubah
informasi yang tersimpan di dalam memori solid-state menjadi
informasi grafis di layar,
(d) CCD (Charge Couple Device) dipakai untuk mengubah
informasi visual menjadi informasi listrik.
Sekumpulan devais elektronik yang membentuk suatu rangkaian
untuk maksud tertentu dikenal sebagai sistem. Contoh pada sistem
komunikasi terdiri atas:
(1) mikrofon sebagai transducer,

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 5

(2) osilator yang menghasilkan frekuensi tinggi sebagai


frekuensi carrier (pembawa),
(3) modulator yang berfungsi menggabungkan (modulasi)
gelombang bunyi agar dapat ditumpangi oleh gelombang
pembawa,
(4) antena yang dipergunakan untuk meradiasikan gelombang
elektromagnet,
(5) antena penerima,
(6) detektor yang dipergunakan untuk memisahkan sinyal yang
diinginkan dari pembawa,
(7) amplifier untuk memperkuat sinyal,
(8) power supply dan
(9) speaker untuk mengubah sinyal arus listrik menjadi replika
dari sinyal akustik aslinya. Sistem ini direpresentasi sbb:

xxxxxxxxxxx

Untuk mempelajari suatu sistem termasuk elektronika pertama-


tama perlu mengetahui besarannya, sistem satuan, simbol dan
singkatan yang dipakai untuk besaran tsb. Umumnya menggunakan
sistem satuan SI (system International).
Untuk menganalisa suatu sistem elektronika dapat dilakukan
dengan analisa DC (direct current), analisa AC (alternating current),
analisa transient dan analisa frekuensi domain. Analisa rangkaian DC
berkaitan dengan besaran arus dan tegangan konstan, terutama
digunakan untuk pemberian tegangan (pembiasan) pada suatu devais
elektronik. Sedangkan analisa rangkaian AC berkaitan dengan sinyal

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 6

arus dan tegangan yang bervariasi terhadap waktu dengan nilai rata-
ratanya terhadap waktu sama dengan nol. Besaran listrik AC dengan
nilai rata-rata bukan nol juga penting, terutama pada saat pembahasan
filter
Tabel 2 merupakan beberapa besaran elektronik yang sering
dipergunakan, berikut notasi, satuan dan definisinya.
Pembawa muatan negatif adalah elektron, masing-masing
muatan yang dibawa adalah sebesarn 1,602 x 10-19 C. Kuat arus 1 A
adalah perpindahan muatan sebesar 1 C tiap detik, atau ada
perpindahan elektron sebanyak 6,24 x 1018 elektron tiap detiknya.
Perhatikan bahwa kita mengalami kesukaran mengukur arus listrik
sebesar 1 pA, padahal pada arus listrik sebesar itu terdapat lebih dari
6 juta elektron yang berpindah tiap detiknya.

Tabel 2 Besaran Elektronika Umum

No Besaran Fisis Notasi Satuan Keterangan


1 Muatan Listrik Q coulomb Muatan satu elektron
(C) Qe = - 1,602 x 10-19 C
2 Gaya Listrik F newton (N) JG 1 Q1Q2
F 12 = eˆr
4πε o r 2
G
3 Medan Listrik E V/m, N/C G F
E=
Q
4 Energi W kWh; joule W = P Δt, G
bG G Q1Q2 b eˆr ⋅ dl
W = ∫ F ⋅ dl = ∫
a 4πε o a r 2
Kerja tidak bergantung pada
lintasan yang dilalui oleh muatan.
Kerja yang dilakukan oleh muatan
dalam satu lintasan tertutup sama
dengan nol Æ konservatif.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 7

5 Beda Tegangan V volt (V) V2

(beda potensial) V21 = V2 − V1 = ∫ dV = ∫ E.ds


V1

kerja yang dilakukan muatan listrik


untuk melawan medan listrik E
untuk memindahkan satu unit
muatan dari titik 1 ke 2.
6 Arus listrik I ampere (A) dq
I=
= dt
coulomb/s perpindahan muatan persatuan
waktu
7 Daya P watt = J/s P = (V2 -V1).I
8 Medan magnet B T
induksi
9 Fluks magnetik φ Wb Φ = ∫ B.dS

Sedangkan Tabel 3 merupakan beberapa contoh komponen


listrik pasif, berikut notasi dan simbul yang dipakai.

Tabel 3 Beberapa Komponen Pasif


Kompone Notasi Simbul Satuan Keterangan
n
V=RI
Untuk R konstan ⇒
hambatan linear (ohmic),
Hambatan R ohm = Ω
sedangkan jika R tidak
konstan ⇒ hambatan tak
linear (non ohmic)
dV
Kapasitor C farad (F) I=C
dt
Induktor L henry (H) V = L ∫ idt

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 8

Konduktivitas Listrik
Elektron dalam metal terus-menerus bergerak, arahnya berubah
jika terjadi tabrakan. Secara netto jumlah elektron yang berpindah
pada suatu luas penampang besarnya nol akibatnya arusnya juga nol.
Mudah atau sukarnya suatu bahan dialiri oleh arus listrik
bergantung pada konduktivitas listrik dari bahan tsb. Secara
⎛ I ⎞
matematik relasi antara rapat arus ⎜ J = ⎟ dengan medan listrik (E)
⎝ A⎠
yang bersifat linear yang dinyatakan sebagai: J = σ E. Dengan
pemberian medan listrik ini akan berakibat elektron akan bergerak
dengan kecepatan drift sebesar v = μ E , dengan μ : mobilitas
elektron.
Gambar berikut menunjukkan N elektron pada konduktor
sepanjang L dengan luas penampang A.

Konduktivitas listrik bergantung pada material yang digunakan,


suhu, tekanan dan besaran fisis lainnya.
Andaikan sebuah elektron dipercepat secara bebas selama waktu
τ , elektron ini akan bertabrakan dengan atom atau elektron lainnya,
percepatan elektron itu adalah:
F eE
a= =
m m
Untuk percepatan konstan, kecepatan elektronnya adalah:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 9

eEτ
v=
m
Jika kerapatan elektron di dalam konduktor itu adalah n, maka
kerapatan arusnya adalah:

ne 2τ E
J = nev =
m
Konduktivitas bahan bergantung pada jumlah elektron bebas dan
waktu tumbukan rata-rata, yaitu:

ne 2τ
σ= = neμ
m
dengan μ : mobilitas.

Dengan cara lain, bisa diambil dari definisi kerapatan arus, yaitu
I N ev
J= = = n ev = n e μ E = σ E
A LA

ev ev
dengan n : konsentrasi elektron, n = =
LA V
ρ = ne : rapat muatan,
σ : konduktivitas Æ J = σ E Æ Hukum Ohm.
σ = nev

Resistivitas
1
Resistivitas adalah kebalikan dari konduktivitas, ρ= ,
σ
sedangkan hambatan dari suatu konduktor adalah integrasi dari
resistivitas per unit luas penampang untuk sepanjang suatu konduktor

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 10

ρ
tsb, R = ∫ dl . Untuk konduktor uniform dengan panjang L, luas
A
l
penampang A, hambatannya adalah R = ρ .
A
Contoh: Pada tembaga, diketahui:

jumlah elektron bebas n = 8.5 × 1028 m -3 , dan


hambat jenis-nya ρ = 1.7 × 10−8 Ωm atau
1
mobilitasnya μ = = 4.3 × 10−3 m 2 /Vs .
neρ
Andaikan pada kawat tembaga itu dialiri arus dengan:

kerapatan sebesar 1,00 × 10−4 A/m 2 artinya di kawat itu ada


medan listrik sebesar E = ρ J = 1.7 × 10−6 V/m dan
elektron bergerak dengan kecepatan drift sebesar
J
v= = 7.3 × 10−5 m/s .
ne
Sehingga dapat dihitung
mv
waktu rata-rata antar tumbukan sebesar τ = = 2.4 × 10−14 s
eE

Contoh: Pada kondisi tipikal cuaca normal ada medan listrik sebesar
100 V/m yang arahnya ke bawah (menuju pusat bumi). Tentukan
muatan ekivalen di pusat bumi dan resistivitas atmosfir jika total arus
yang mengalir di atmosfir itu ke bumi adalah sebesar 2000 A.
1 Q
Dari medan listrik E =
4πε o r 2

artinya Q = 4πε o r 2 E

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 11

diketahui jari-jari bumi r = 6.4 × 106 m dan 4πε o = 1.1× 10−10 C2 /Nm 2 ,
diperoleh Q = 4.55 × 105 C

1
E 4π r 2
Resistivitas dihitung dari ρ = = = E
σ J I
Sehingga diperoleh ρ = 2.6 × 1013 Ωm Æ isolator

Hambatan
Hampir semua aplikasi elektronika menggunakan hambatan
(resistor). Hambatan digunakan pada amplifier sebagai beban,
rangkaian bias, dan elemen umpan balik.
Jika digunakan bersama dengan kapasitor dipakai untuk
mengatur time constant, dan bertindak sebagai pengaturan frekuensi
cut-off dari filter.
Untuk rangkaian sumber daya, hambatan digunakan untuk:
o mengurangi tegangan,
o mengukur tegangan, dan
o untuk men-discharge energi yang tersimpan di kapasitor,
segera setelah sumber daya dilepas.
Untuk sistem logika digital, hambatan digunakan sebagai
“bus” dan “line terminator”,
hambatan “pull-up” maupun “pull-down”.
Demikian juga pada rangkaian radio, hambatan seringkali digunakan
bahkan sebagai coil (induktor).
Secara sederhana, hambatan dapat dianggap sebagai devais linear,
mengikuti hukum Ohm, yaitu resistivitas tak bergantung (konstan)
terhadap medan listrik yang diberikan atau arus kerapatan arus

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 12

E = ρJ

atau

⎛V ⎞ ⎛ RA ⎞⎛ I ⎞
⎜ ⎟=⎜ ⎟⎜ ⎟
⎝l ⎠ ⎝ l ⎠⎝ A ⎠
Sehingga persamaan ini dapat dinyatakan sebagai:
V = R I,
Dalam rangkaian listrik, hukum Ohm dapat digambarkan sbb:

Persamaan di atas ini digunakan untuk sinyal arus DC,


sedangkan untuk sinyal AC,
v(t) = R i(t),
dengan V : tegangan DC, invarian terhadap waktu,
v(t) : tegangan AC, varian terhadap waktu,
I : arus DC, invarian terhadap waktu,
i(t) : arus AC, varian terhadap waktu,
R : hambatan, suatu besaran konstan.
Ada banyak divais atau komponen yang tidak mengikuti hukum
Ohm. Berdasarkan hukum Ohm, hubungan antara tegangan dan arus
bersifat linear, jika hubungannya tidak linear, maka devais itu dikenal
sebagai devais non-ohmik. Untuk divais ini representasi grafis

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 13

diperlukan, seringkali dinyatakan sebagai kurva karakteristik V-I


dari divais yang bersangkutan.
Pada komponen RLC pasif, ada beberapa sifat yang perlu diingat,
diantaranya adalah:
9 Hambatan adalah ukuran kemampuan dari suatu devais untuk
mendisipasi energi secara irreversibel (PR = R i2).
9 Induktansi adalah ukuran kemampuan dari suatu devais untuk
menyimpan energi dalam medan magnet (WL = ½ L i2).
9 Kapasitansi adalah ukuran kemampuan dari suatu devais untuk
menyimpan energi dalam medan listrik (WC = ½ C v2).
9 Energi yang tersimpan dalam elemen listrik bersifat kontinu
terhadap waktu.
9 Arus dalam induktor tidak boleh berubah sesaat
9 Tegangan pada kapasitor tidak boleh berubah sesaat.

Pembahasan kapasitor dan induktor diberikan pada bab berikutnya.

Catatan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam elemen listrik, misalnya
hambatan diantaranya adalah Rating dan nilai standar.
1. Rating
Sebuah komponen ada batas kerja operasinya, dinyatakan dalam
rating, umumnya dinyatakan dalam Pmax. Jika dioperasikan
melewati rating tsb maka komponennya akan rusak. Untuk
hambatan arus maksimum dinyatakan sebagai:

Pmax
I max = ,
R
sedangkan tegangan maksimum pada hambatan tsb adalah :

Vmax = Pmax R

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 14

Contoh: R = 47 kΩ dengan rating daya 0,25 watt, diperoleh Imax =


2,31 mA dan Vmax = 108 V.
2. Nilai standard
Nilai komponen elektronika telah dibakukan misalnya dengan
standar E12 untuk toleransi 10% dan E24 untuk toleransi 5%.
Pada standar E12 besarnya nilai komponen naik dengan kelipatan
101/12 = 1,21 sedangkan untuk standar E24 nilainya naik dengan
kelipatan 101/24=1,1.
Untuk standard E3, nilai komponen yang bernilai dari 10 hingga
100 adalah:
10, 22, 47, dan 100.
Sedangkan untuk standard E6, nilai komponen yang bernilai dari
10 hingga 100 adalah:
10, 15, 22, 33, 47, 68, dan 100.
Berikut ini adalah urutan nilai untuk standar E12 untuk komponen
bernilai dari 10 hingga 100.
10, 12, 15, 18, 22, 27, 33, 39, 47, 56, 68, 82 dan 100.
Sedangkan urutan untuk standar E24:
10, 11, 12, 13, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 27, 30, 33, 36, 39, 43, 47,
51, 56, 62, 68, 75, 82, 91 dan 100.
Disamping itu ada standar E48 dan E96.
Umumnya bahan yang digunakan untuk membuat hambatan
adalah karbon, film metal, film karbon dan wire wound. Hambatan
wire-wound memiliki presisi tinggi (0.01 – 1%) dan dengan rating
daya yang juga tinggi, namun ukurannya besar dan bersifat induktif
sehingga tidak dapat digunakan untuk frekuensi tinggi ( <1 kHz).

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 15

Hambatan film metal juga memiliki presisi tinggi (0.1 – 1%) dan
relatif stabil. Namun bersifat kapasitif sehingga tidak dapat digunakan
untuk frekuensi tinggi ( < 1 MHz).
Sedangkan hambatan karbon relatif umum digunakan, karena
murah dan relatif dapat digunakan untuk berbagai rentang frekuensi,
namun tingkat ke-presisi-annya rendah (5 – 20%) dan juga relatif
tidak begitu stabil.
Nilai hambatan yang tersedia adalah 0,01 Ω hingga 1012 Ω dengan
kemampuan daya dari 1/8 watt hingga 250 watt dan dengan toleransi
0,05% hingga 20%. Standar nilai menggunakan E24 (5%), E48(2%)
dan E96(1%).
Kode warna untuk hambatan adalah sbb:

Gambar 1, Kode Warna Hambatan untuk Empat dan Lima Pita

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 16

Tipe Resistor:
1. Hambatan Tetap
a. Carbon film resistor
b. Metal film resistor

c. Wirewound

d. Ceramic or Cement
e. Single In Line (SIL) network

2. Hambatan Variabel (Potensiometer)

Nilai R menunjukkan nilai maksimum dari hambatan variabel.


3. Elemen CdS Æ nilainya bergantung pada intensitas cahaya yang
mengenai bahan tsb.
4. Thermistor (Thermally sensitive resistor)
a. NTC (Negative Temperature Coefficient) Thermistor

b. PTC (Positive Temperature Coefficient) Thermistor

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 17

c. CTC (Critical Temperature Coefficient) Thermistor


Dari bahan pembuat hambatan, dapat dipastikan bahwa suatu
hambatan real memiliki sifat tidak hanya sebagai hambatan saja,
melainkan merupakan kombinasi sifat lainnya seperti kapasitor atau
induktor.

Batere

Tipikal batere kimiawi yang tersedia adalah 1 – 15V. Komposisi


kimiawinya yang menentukan kerapatan energi dan waktu hidup
batere.
Beberapa komposisi kimiawi batere diantaranya adalah zinc-
karbon, Hg, alkalin, nikel-kadmium, lithium, metal hidide, dll.
Waktu hidup batere ditentukan dari nilai energinya, yang
dinyatakan dalam mAh.

Diagram Skematik

Diagram skematik terdiri atas komponen listrik ideal yang


menggambarkan sifat-sifat dari rangkaian aktual. Tegangan listrik
selalu diukur terhadap suatu titik acuan. Beda tegangan di suatu
komponen elektronik menunjukkan perbedaan tegangan antara kedua
terminal pada komponen elektronik tsb, sedangkan tegangan pada
satu terminal menunjukkan bahwa tegangan itu diacu pada titik
ground.
Ground dinyatakan sebagai bumi yang dianggap sebagai tempat
pembuangan listrik secara tak berhingga (infinite electrical sink)
tanpa terjadi perubahan sifat listriknya jika ada pemberian muatan
ataupun pelepasan muatan.
Tegangan pada ground dipilih sebesar 0 volt. Namun kadangkala
tegangan acuan tidak sama dengan nol, biasanya disebut tegangan

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 18

acuan common (common reference voltage). Secara skematik Ground


ditunjukkan seperti pada

Gambar 2 Simbul Ground (a) ground bumi, (b) ground chasis, (c)
common

Rangkaian Listrik
Hambatan dapat dirangkai secara seri, paralel maupun
rangkaian kombinasi. Pada rangkaian kombinasi tidak dapat
dikelompokkan sebagai rangkaian seri maupun paralel, sehingga
untuk menghitung/menganalisanya perlu teknik perhitungan
tersendiri seperti memanfaatkan hukum Kirchoff, atau menggunakan
teorema rangkaian.

Rangkaian Seri

Ciri komponen dipasang secara seri adalah arus yang mengalir


pada masing-masing komponen besarnya sama.
V3 V2 V1 V3 V1

R1 R2 Rs

(V3 -V2) + (V2 - V1) = V3 - V1


R1 I + R2 I = Rs I ⇒ Rs = R1 + R2

Atau V = ∑Vi = I ∑ Ri
Rs = ∑ Ri

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 19

Jika seandainya ada sebuah hambatan yang bernilai R j  Rk , dengan


Rk adalah nilai hambatan lainnya, maka Rs ≈ R j

Rangkaian Pembagi Tegangan

Pada rangkaian seri dapat dipergunakan sebagai pembagi tegangan,


seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

R2
Vin A
R1
Vout

Gambar 3, Rangkaian Pembagi Tegangan

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa arus yang mengalir pada R1


dan R2 sama besar, sehingga :

R1
Vout = Vin
R1 + R2

Sedangkan jika ada 3 buah R1, R2 dan R3 dipasang secara seri dengan
sumber tegangan Vin, maka tegangan jatuh di hambatan R1 adalah:

R1
VR1 = Vin
R1 + R2 + R3
Contoh:
Tentukan tegangan V2 dari rangkaian pembagi tegangan berikut ini.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 20

Gambar 4, Contoh Penggunaan Rangkaian Pembagi Tegangan

Jika arus yang mengalir ke ground dari tegangan V2 adalah I, maka


R2 R3
berdasarkan hukum Ohm: V2 = IR23 , dengan R23 = . Sedangkan
R2 + R3
dari tegangan sumber dapat diperoleh V = IR , dengan R = R1 + R23 .
Dengan demikian V2 diperoleh:
R23
V2 = V
R1 + R23
R2 R3
= V
R1R2 + R2 R3 + R3 R1

Rangkaian Paralel

Ciri pada komponen dipasang secara paralel adalah beda tegangan


pada masing-masing komponen besarnya sama.

R1 R2 R3 Rp

Gambar 5, Rangkaian Hambatan Paralel dan Hambatan Ekivalennya


Pada rangkaian paralel berlaku:
1 1 1 1
= + +
R p R1 R 2 R 3

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 21

Rangkaian paralel sering digunakan sebagai rangkaian pembagi arus,


berlaku :
1 1 1
I1 : I 2 : I 3 = : :
R1 R2 R3
dan
1
R1 R2 R3
I1 = 1 1 1 × I = ×I
R1 + R2 + R2 R R
1 2 + R R
1 3 + R R
2 3

dengan I1, I2, I3 masing-masing adalah arus yang mengalir di R1, R2


dan R3
I = I1 + I 2 + I 3

V
Atau I = ∑ Ii = ∑
i i Ri

1 I 1
= =∑
Rp V i Ri

∏ Ri
Rp = i
∑∏ R j
i j ≠i

Jika seandainya ada sebuah hambatan yang bernilai R j  Rk , dengan


Rk adalah nilai hambatan lainnya, maka R p ≈ R j

Contoh:
Tentukan tegangan V2 dari rangkaian pembagi tegangan berikut ini.

Gambar 6, Contoh Penggunaan Rangkaian Pembagi Tegangan

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 22

Jika arus yang mengalir ke ground dari tegangan V2 adalah I, maka


R2 R3
berdasarkan hukum Ohm: V2 = IR23 , dengan R23 = . Sedangkan
R2 + R3
dari tegangan sumber dapat diperoleh V = IR , dengan R = R1 + R23 .
Dengan demikian V2 diperoleh:
R23
V2 = V
R1 + R23
R2 R3
= V
R1 R2 + R2 R3 + R3 R1

Rangkaian Kombinasi

Yang dimaksudkan dengan rangkaian kombinasi di sini adalah


suatu rangkaian yang tidak dapat dikelompokkan sebagai rangkaian
seri maunpun rangkaian paralel. Untuk menganalisa rangkaian
kombinasi dilakukan dengan langkah menggunakan hukum Kirchoff
atau teorema Node sebagai berikut:
1. tulis titik-titik simpul
2. tentukan arah arus (sembarang). Bila nanti dihitung ternyata
berharga negatif maka berarti arah arus berlawanan dengan
pemisalan.
3. gambarkan juga arah loop (sembarang/ biasanya dipilih searah
jarum jam).

Hukum Kirchoff

Dikenal ada ada dua, yaitu KCL (Kirchoff Current Law) dan KVL
(Kirchoff Voltage Law). Dasarnya adalah hukum kekekalan. Namun
harus diingat bahwa penentuan kedua persamaan Kirchoff secara
sembarang tidak selalu menghasilkan satu set persamaan yang
independen. Cara berikut dapat digunakan untuk menghindari
kemungkinan itu: Æ Metoda Titik Cabang (KCL)

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 23

a). Berikan nama semua arus di semua cabang (jangan kawatir


dengan arah arus sesungguhnya)
b). Gunakan semua loop dalam, dan hanya satu loop luar
c). Selesaikan sistem persamaan itu secara aljabar.
Sedangkan untuk metoda loop arus (KVL) dilakukan dengan
variabel arus independen diambil dari arus sirkulasi dari masing-
masing loop dalam. Caranya adalah:
1. Berikan nama arus untuk semua arus dari loop dalam,
2. Nyatakan semua expresi tegangan dari loop dalam tsb,
3. Selesaikan sistem persamaan itu secara aljabar.

I1 I2
R1 1

I3

R3 R2
I4

E0 3 2
I5 R4 I6

R5 R6

Gambar 7, Rangkaian Jembatan Wheatstone

KCL (Kirchoff Current Law) ⇒ titik simpul / node

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 24

Jumlah kuat arus yang mengalir ke titik simpul sama dengan


jumlah kuat arus yang meninggalkan titik simpul tsb. ⇒ prinsip
kekekalan muatan
Simpul 1 I1 = I2 + I3
2 I 2 = I4 + I6
3 I3 +I4 = I5
4 I5 + I6 = I1

KVL (Kirchoff Voltage Law) ⇒ loop tertutup


Dalam suatu loop tertutup, jumlah tegangan jatuh dalam loop
tertutup tsb sama dengan nol. ⇒ prinsip kekekalan energi
Loop a: (V0 - V1) + (V1 - V3) + (V3 - V4) + (V4 -V0) = 0
I1R1 + I3R3 + I5R5 - E0 = 0
b: (V1 - V2) + (V2 - V3) + (V3 - V1) = 0
I2R2 + I4R4 - I3R3 = 0
c: (V3 -V2) +(V2 - V4) + (V4 -V3) = 0
- I4R4 + I6R6 - I5R5 = 0

Analisa Loop
Gantikan I1 = Ia
I2 = I b
I3 = Ia - Ib
I4 = Ib - Ic
I5 = Ia -Ic
I6 = I c

Dengan demikian persamaan di atas dapat diganti menjadi :


Loop a: IaR1 + (Ia - Ib)R3 + (Ia - Ic)R5 - E0 = 0
b: IbR2 + (Ib - Ic)R4 + (Ib - Ia)R3 = 0
c: (Ic - Ib)R4 + IcR6 + (Ic - Ia)R5 = 0

Selanjutnya diurutkan sesuai dengan jenis arus pada loop ybs menjadi
Ia (R1 + R3 + R5) + Ib (- R3 ) + Ic ( - R5 ) = E0

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 25

Ia ( - R3) + Ib (R2 + R4 + R3) + Ic ( - R4 ) =0


Ia ( - R5) + Ib (- R4 ) + Ic (-R4 + R6 + R5) =0

Persamaan di atas dapat diubah menjadi persamaan matriks dengan


persamaan matriksnya adalah sbb:

⎡R − R + R −R −R ⎤ ⎡ I ⎤ ⎡E ⎤
⎢ 1 3 5 3 5 ⎥ ⎢ a ⎥ ⎢ o⎥
⎢ −R R +R +R −R ⎥ ⎢I ⎥ = ⎢ 0 ⎥
⎢ 3 2 4 3 4 ⎥ ⎢ b⎥ ⎢ ⎥
⎢ −R −R R +R +R ⎥ ⎢ I ⎥ ⎣⎢ 0 ⎦⎥
⎣ 5 4 4 6 5⎦ ⎣ c⎦

Selanjutnya dihitung Ia, Ib dan Ic dengan metoda standar,


misalnya dengan menggunakan metoda Sorus,

Contoh:
Perhatikan rangkaian jembatan wheatstone seperti pada Gambar
8. Dengan memanfaatkan metoda loop arus dipilih tiga arus loop,
masing-masing I a (arus searah jarum jam pada loop luar), I b (arus
searah jarum jam pada loop dalam segitiga atas) dan I c (arus searah
jarum jam pada loop dalam segitiga bawah).

Gambar 8, Perhitungan Rangkaian Jembatan Wheatstone dengan


Metoda Loop Arus

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 26

Dari rangkaian loop tsb, persamaan KVL-nya adalah:


V = R1 ( I a − I b ) + R3 ( I a − I c )
0 = R1 ( I b − I a ) + R2 I b + R5 ( I b − I c )
0 = R1 ( I c − I a ) + R5 ( I c − I b ) + R4 I c
Dengan mengatur persamaan tsb, dapat diperoleh:
V = I a ( R1 + R2 ) − I b R1 − I c R3
0 = − I a R1 + I b ( R1 + R2 + R5 ) − I c R5
0 = − I a R3 − I b R5 + I c ( R3 + R4 + R5 )
Persamaan simultan itu diselesaikan, sbb:
I a = 0,267 A, I b = 0,140 A, I c = 0,113 A

Selanjutnya dihitung arus yang mengalir di masing-masing komponen


(R atau V) adalah: ( I o Æ arus yang mengalir di sumber, I i Æ arus
yang mengalir di hambatan ke Ri )
I o = I a = 0,267 A
I1 = I a − I b = 0,127 A
I 2 = I b = 0,140 A
I 3 = I a − I c = 0,154 A
I 4 = I c = 0,113 A
I 5 = I b − I c = 0,027 A

Contoh 2:
A I1 B I2 C

I3
I II
Vs R
C

Pada titik simpul B: I1 = I2 + I3

Pada loop I : Vs - Vc = 0
Pada loop II : Vc - VR = 0
Catatan Vc = q/c
V R = I2 R

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 27

dq
I3 = dt

Contoh 3:
Gunakan metoda loop arus untuk menentukan tegangan jatuh di
terminal AB pada rangkaian seperti

Gambar 9, Contoh Rangkaian untuk Analisa Loop Arus


Buat dua loop, yaitu:
1. loop dengan dua sumber tegangan, arus searah jarum adalah I A
Æ Loop A
2. loop dengan satu sumber tegangan, arus searah jarum adalah I B
Æ Loop B
Dari KVL diperoleh untuk
Loop A: V1 − I A (2 R) + I B R − V2 = 0

Loop B: V2 − I B (3R) + I A R = 0

Dengan menyelesaikan sistem persamaan simultan tsb diperoleh I A


dan I B , sebagai:
V1 − V2 = 2 RI A − RI B
V2 = − RI A + 3RI B

Atau dalam bentuk matrik, persamaan simultan ini ditulis sebagai:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 28

⎛ V1 − V2 ⎞ ⎛ 2 R − R ⎞ ⎛ I A ⎞ ⎛ IA ⎞
=
⎜ V ⎟ ⎜ − R 3R ⎟ ⎜ I ⎟ ≡ R ⎜I ⎟
⎝ 2 ⎠ ⎝ ⎠⎝ B ⎠ ⎝ B⎠
1 ⎛ 3/ 5 1/ 5 ⎞
R −1 = ⎜
R ⎝ 1/ 5 2 / 5 ⎟⎠

Diperoleh:
1 ⎛3 1 ⎞ 1 ⎛3 2 ⎞
IA = ⎜ (V1 − V2 ) + V2 ⎟ = ⎜ V1 − V2 ⎟
R⎝5 5 ⎠ R⎝5 5 ⎠
1 ⎛1 2 ⎞ 1 ⎛1 1 ⎞
I B = ⎜ (V1 − V2 ) + V2 ⎟ = ⎜ V1 + V2 ⎟
R⎝5 5 ⎠ R⎝5 5 ⎠

1
Sehingga tegangan jatuh di terminal AB adalah VAB = I B R = (V1 + V2 )
5

Sumber Tegangan, Arus dan Daya


Sumber listrik dikenal ada sumber arus, tegangan dan daya,
masing-masing dikelompokkan menjadi sumber independen dan
sumber dependen. Disini hanya dibahas sumber tegangan dan sumber
arus linear. Pada sumber linear dependen dikenal :
1. VCVS : Voltage Controlled Voltage Source; V = α Vbe
2. CCVS : Current Controlled Voltage Source; V = γ Ic
3. VCCS : Voltage Controlled Current Source; I = δ Vbe
4. CCCS : Current Controlled Current Source; I = β Ib
dengan α, β, γ dan δ dapat berupa suatu konstanta atau suatu fungsi,
sedangkan Vbe, Ib, dan Ic adalah sumber tegangan dependen dan
sumber arus dependen yang dikontrol.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 29

Sumber tegangan independen

Rs

VS VS

IDEAL REAL

Gambar 10, Sumber Tegangan Ideal dan Non Ideal

Pada sumber tegangan ideal, hambatan dalamnya = 0 Ω,


Sedangkan pada sumber tegangan non ideal, hambatan dalamnya ≠ 0
Ω (ada/berhingga hambatannya).

Sumber arus independen

IS IS

IDEAL REAL
Gambar 11, Sumber Arus Ideal dan Non Ideal

Sumber arus ideal : hambatan dalamnya = ∞ (tak terhingga),


Sumber arus non ideal: hambatan dalamnya ≠ 0 ( ada / berhingga
hambatanya).

Contoh-contoh
1. Rangkaian Terbuka Æterjadi bila pada kedua titik terbuka tsb
tidak mengalir arus ( I = 0)

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 30

1 R 2

Vs Vout

Vout = V2 - Vo = (V2 -V1) + (V1 - Vo)


Vout = 0 + (V1 - Vo)
Vout = Vs
⇒ Voc = Vs

Pada rangkaian terbuka, arus yang mengalir = 0. Jadi tegangan


output sama dengan tegangan sumber.
2. Rangkaian Tertutup Æ pada kedua titik tsb ada arus yang
mengalir ( I ≠ 0)
Ri

Vs RL

RL
⇒ VL = Vs
Ri + RL
Untuk RL = 0 (hubung singkat) ⇒ VSC = 0
Jika RL >> Ri ⇒ pembebanan kecil ⇒ VL ~ Vs
Jika RL << Ri ⇒ pembebanan besar ⇒ VL << Vs
Vs
Jika RL = 0 ⇒ hubung singkat I sc =
R i

Pada sumber arus:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 31

IS Ri RL

1
RL
IL = Is
1 1
+
Ri RL
Jika hubung singkat ⇒ Rl = 0 Ω, maka IL = Is
⇒ ISC = Is
Arus beban/output sama dengan arus sumber.
Jika ada beban RL ≠ 0 Ω, maka VL = IL RL
1
RL
= Is × RL
1 1
+
Ri RL
RR
= Is i L
Ri + RL
Beda tegangan pada saat hubung singkat Vsc = Is Ri (yaitu jika RL
= 0 Ω), sebaliknya beda tegangan pada saat circuit terbuka untuk
sumber arus ideal = ∞.

Ideal Non Ideal


Terbuka Singkat Beban Terbuka Singkat Beban
Rl
Voc = Vs Vsc = 0 Vl = Vs Voc = Vs Vsc = 0 Vl = Vs
Sumber Ri + Rl
Tegangan Vs Vs Vs
Ioc = 0 Isc = ∞ Il = Ioc = 0 Isc = Il =
Rl Ri Ri + Rl
Ri Rl
Sumber Arus Voc = ∞ Vsc = ∞ Vl = Is Rl Voc = Is Ri Vsc = I s Ri Vl = I s
Ri + Rl

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 32

1
Rl
Ioc = 0 Isc = Is Il = Is Ioc = 0 Isc = Is Il = I s
1 1
+
Ri Rl
Catatan
indeks oc: open circuit (terbuka)
sc: short circuit (tertutup)

Contoh 4:
Iin B Iout

I3
R1 ?Iin R3

Vin R4
I2
I R2 II

Tentukan I1, I2, I3, I0 dan V0


bila Vin = 10 volt
R1 = 100 Ω
R2 = 100 Ω
R3 = 500 Ω
R4 = 100 Ω
β = 10
Vin adalah sumber tegangan independen, sedangkan βIi adalah
sumber arus dependen
Pada titik simpul A: Iin + Iout = I2
B: Iout = β Iin + I3

Pada loop I : -Vin +Iin R1 + I2 R2 = 0


II : -I2 R2 - I3 R3 - Iout R4 = 0

Dengan memasukkan nilai-nilainya, diperoleh


Iin + Iout - I2 = 0
10 Iin + I3 - Iout = 0
-10 + 100 Iin + 100 I2 = 0

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 33

100 I2 + 500 I3 + 100 Iout = 0

Diperoleh :
Iin = 11,1 mA
I2 = 88,88 mA
I3 = - 33, 33 mA
Iout = 77,77mA
Vout = -Iout R4 = - 7,78 V

Transfer sinyal secara maksimum

Andaikan sumber konstan Vs dengan hambatan dalam Rs


dipergunakan untuk mensupply beban RL, seperti ditunjukkan pada
gambar berikut.

RS

VS
RL

RL
Tegangan jatuh di beban RL adalah V = VS dan akan
RS + RL
maksimum jika V = Vs = VOC . Sedangkan arus yang mengalir di beban
VS V
RL adalah I = dan akan maksimum jika I = I SC = s . Daya
RS + RL Rs
yang di transfer ke beban RL adalah :

⎛ RL ⎞ ⎛ VS ⎞ ⎛ RL ⎞ 2
P = VI = ⎜ V
⎟ S⎜. =
⎟ ⎜ V
2 ⎟ S
R
⎝ S + RL ⎠ R
⎝ S + R L ⎠ (
⎝ SR + RL ) ⎠
Untuk mencari transfer daya secara maksimum, untuk itu persamaan
daya tsb di-deferensialkan terhadap RL, diperoleh:
∂ P [( RS + RL ) 2 − 2 RL ( RS + RL )]VS 2 RS 2 − RL 2
= =
∂ RL ( RS + RL ) 2 ( RS + RL ) 2

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 34

∂P
Daya maksimum yang ditransfer terjadi jika = 0 dan dari
∂ RL
persamaan di atas berlaku jika
RL = Rs .

Kondisi ini dikenal sebagai matched circuit (sepadan), dengan


demikian maksimum yang di transfer adalah:
Pmax = 14 I scVoc .

Teorema Rangkaian :
1. Teorema Thevenin

A
Rth
A
Rangkaian Vth
Kompleks
B
B

Gambar 12, Ekivalensi Teorema Thevenin


Sembarang rangkaian kompleks dengan dua buah terminal
output dapat digantikan dengan sebuah sumber tegangan open circuit
Vth yang diserikan dengan sebuah hambatan Rth.
Vth adalah beda potensial pada kedua titik tsb pada saat circuit
terbuka, sedangkan Rth adalah hambatan pengganti dari kedua titik tsb
dengan semua sumber tegangan independent dihubung singkatkan
dan sumber arus independen dibuka.

Contoh 1: Tentukan arus yang mengalir pada hambatan RL pada


rangkaian berikut ini.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 35

R1
V1 R2 RL

R2
Vth = VAB = V1
R1 + R2
Rth adalah hambatan di terminal AB pada saat V1 = 0 (dihubung
RR
singkat), sehingga Rth = RAB V =0 = 1 2
1
R1 + R2
Dengan demikian arus yang mengalir di hambatan RL adalah
Vth 1 R2 R2V1
IL = = × V1 =
R1 R2
Rth + RL + Rl R2 + R1 R1 R2 + R1 Rl + R2 Rl
R1 + R2

Dengan metoda biasa:


V1
R2 // RL ,diperoleh I tot = I1 =
RR
R1 + 2 L
R2 + RL
R2 V1
⇒ pembagi arus, diperoleh : I L = ×
R2 + RL R + R2 RL
1
R2 + RL
R2V1
IL =
R1 R2 + R1 RL + R2 RL

Contoh 2: Tentukan arus yang mengalir pada hambatan RL pada


rangkaian berikut ini.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 36

A R1 B R3 C

V1 R2 R4 RL

Untuk menyelesaikan problem ini dilakukan secara bertahap, yaitu


menyelesaikan tegangan output BD dengan mengabaikan hambatan
R3 dan R4 terlebih dahulu. Tegangan thevenin di terminal BD adalah:
R2
Vth1 = V1
R1 + R2

R1 R2
dan hambatan theveninnya adalah Rth1 = RBD V =0 =
1
R1 + R2

Selanjutnya diteruskan ke terminal CD, dengan R3 dan R4 perlu


diperhitungkan. Antara Rth1 dan R3 berhubungan seri, dengan
RR
Rq = Rth1 + R3 , sehingga hambatan thevenin menjadi: Rth = 1 2
R1 + R2
R4
dan tegangan theveninnya adalah Vth = Vth1 .
R4 + Rq

Dengan demikian arus yang mengalir di hambatan RL adalah


Vth
IL =
Rth + RL

Contoh 5:
Tentukan rangkaian pengganti Thevenin pada terminal AA’

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 37

I1 R1 A I2 Rth A

1
Vs ?I1 R2 Vth

A' A'
Jawab:
I
Pada titik simpul A : I1 + β I1 = I2 ⇒ I1 =1+ 2β
Pada loop luar (1) -Vs + I1 R1 + I2 R2 = 0
I ⎛ R ⎞
Vs = 1+ 2β R1 + I2 R2 = ⎜⎝1+ 1β + R 2 ⎟I 2

Vs
atau I2 = R1
+ R2
1+ β
Dengan demikian tegangan Theveninnya adalah
V R2 (1 + β )Vs
Vth = I2 R2 = R s R2 =
1
+ R2 R1 + R2 (1 + β )
1+ β
Bila Isc adalah arus hubung singkat (short circuit) di terminal AA’,
V (1 + β )V
artinya arus I2 bila R2 = 0, naka Isc = I2⏐R2=0 = Rs = R s
1 1
1+ β

Sehingga hambatan Thevenin, Rth adalah :


V R2 (1 + β )Vs R1 R1 R2
Rth = I th = =
sc
R1 + R2 (1 + β ) (1 + β )Vs R1 + (1 + β ) R2

Contoh 6:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 38

A R1 B
Iin I2
?Iin
Vin I
R2 R3

A'
Vin
Tentukan hambatan input Rin = pada terminal AA’
I in
(Perhatikan bahwa sumber arus β Iin merupakan sumber arus
dependen sehingga tidak bisa di -open kan sedangkan Rth pada
terminal AA’ merupakan hambatan output).

Jawab:
Pada titik simpul B : Iin + β Iin = I2
loop I : -Vin + Iin R1 + I2 R2 = 0
Vin = Iin R1 + (1 + β) Iin R2
Vin = Iin {R1 + (1+ β) R2}
Vin
Diperoleh Rin = = R1 + (1 + β ) R2
I in
2. Teorema Norton
R th
A A
A
Rangkaian IN
Kompleks RN Vth
B
B B

Gambar 13, Ekivalensi Teorema Norton dan Teorema Thevenin

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 39

Sembarang rangkaian kompleks dengan dua titik output dapat


digantikan dengan sebuah sumber arus IN yang diparalelkan dengan
V
sebuah hambatan RN. Dengan RN = Rth, sedang IN = Rth .
th

Bukti: Dari teorema Thevenin: VAB (open) = VTh


VTh
I AB (short) =
RTh
Sedang dari teorema Norton: VAB (open) = I N RN
I AB (short) = I N
Sehingga: VTh = I N RN
VTh
= IN
RTh
⇒ RTh = RN
Contoh:
Tentukan arus yang mengalir di hambatan RL.
R2

Is R1 RL

Vth = Is R1
Rth = R1 + R2
Vth
IL =
Rth + RL
3. Prinsip Superposisi

Bila terdapat dua atau lebih sumber (tegangan maupun arus),


maka untuk menganalisanya dilakukan dengan memperhatikan
sumber tsb satu persatu secara bergantian (seolah-olah berasal dari
masing-masing sumber), dengan sumber lainnya seolah olah tak ada.
Sumber arus ditiadakan degan cara melepaskan/ memotong sumber
arus tsb, sedangkan untuk sumber tegangan dilakukan dengan

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 40

menghubung singkatkan sumber tegangan tsb. Kemudian


dijumlahkan dari masing-masing sumber tsb.

Contoh :
hitung IL pada beban RL.
R1

IL

V Io R2 RL

Jika berasal dari sumber tegangan saja


R1

Ia
V R2 RL

Arus yang mengalir di RL akibat sumber tegangan saja adalah Ia

R2
Vth1 = V
R1 + R2
R1 R2
Rth1 =
R1 + R2
Vth1
Ia =
Rth1 + RL
Jika berasal dari sumber arus saja

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 41

R1

Ib

Io R2 RL

1
RL
Ib = 1
Rth1 + R1L
R1 R2
Rth1 =
R1 + R2

Arus total IL = Ia + Ib.

Simulasi Komputer

Untuk menganalisa sistem elektronika seringkali dilakukan dengan


menggunakan program komputer, ada banyak program diantaranya
adalah SPICE (Simulation Package for Intergrated Circuit
Emphasized), EWB (Electronics Workbench), dll.
Sebagai contoh mencari tegangan Thevenin, hambatan Thevenin dan
arus yang mengalir di hambatan beban RL dari rangkaian berikut ini.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 42

Untuk mencari tegangan Thevenin, diukur tegangan di terminal AB


dengan terlebih dahulu melepas hambatan beban RL seperti
dilakukan berikut ini.

Hasil simulasi ini diperoleh tegangan Thevenin sebesar Vth = 1.5 V


Sebaliknya untuk menentukan hambatan Thevenin dilakukan dengan
membuang sumber, untuk sumber tegangan dilakukan dengan
menghubungkan singkat sumber tegangan dan mengukur hambatan di
terminal AB sepertiu ditunjukkan gambar berikut.

Diperoleh hambatan Thevenin sebesar Rth = 2 kΩ.


Sehingga untuk menghitung arus yang mengalir di hambatan beban
RL adalah sebesar 0.5 mA, seperti dilakukan sbb:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 43

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 44

Latihan
1. Sebuah hambatan Rl dihubungkan dengan sumber tegangan Vo =
10 volt yang memiliki hambatan dalam Rin = 2 Ω.
a. Hitung tegangan jatuh pada beban Rl bilaRl = 0,1 Ω ; 1,0 Ω ; 10
Ω dan 1000 Ω
1 1 R
b. Buktikan bahwa tegangan jatuh pada Rl adalah V = V (1 + Rin )
l o l

c. Buat kurva 1/Vl vs. 1/Rl untuk Rl = 0 Ω - 10 Ω


d. Buktikan bahwa daya yang di-disipasi pada hambatan Rl adalah
Rl
Pl = Vo 2
( Rin + Rl ) 2
e. Gambarkan kurva Pl vs. Rl untuk Rl = 0 Ω - 10 Ω

2. Sebuah hambatan Rl dihubungkan dengan sumber arus Is = 5 A


yang memiliki hambatan dalam Ri = 2 Ω.
a. Hitung tegangan jatuh pada Rl bilaRl = 0,1 Ω ; 1,0 Ω ; 10 Ω dan
1000 Ω
1 1 R
b. Buktikan teganga jatuh pada Rl adalah V = I R (1 + Rin )
l s in l

3. Hambatan beban RL = 5 Ω dihubungkan seperti pada rangkaian


di bawah ini.
3? 8?

6V 6? 10? RL 5?

Hitung kuat arus yang mengalir pada beban Rl tsb dengan :


a. menggunakan hukum Kirchoff
b. menggunakan teorema Thevenin

4 Tentukan rangkaian pengganti (Thevenin dan Norton) dari


rangkaian-rangkaian di bawah ini:

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 45

R1 R2

V R2 Is R1 Is R1 R2

(a) (b) (c)

R1 R2 R1
R2
V I3 Io R1 R2
V
R4
R3
(d) (f)
(e)

5. Dari rangkaian berikut ini

50k? B
a) Hitung tegangan jatuh, VBA

8mA 50k? RL b) Buat rangkaian pengganti


untuk titik AB
A c) Tentukan pembacaan pada
voltmeter untuk mengukur
tegangan VBA jika :
1. hambatan dalam voltmeter 100 kΩ
2. hambatan dalam voltmeter 100 MΩ
(RL adalah hambatan dalam dari voltmeter).

6. Hitung tegangan output dari rangkaian berikut ini : untuk


kombinasi tegangan V, yaitu 000, 00V, 0V0, 0VV , ... VVV.
(Totalnya ada 8 macam kombinasi).

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I


BAB I, Rangkaian DC Hal: 46

R R

2R 2R 2R
2R

V V V

Jembatan Wheatstone jika pada saat


6.

R2
setimbang hambatannya berlaku R1 =
R1
VS
R2 = R3 = RSG =RL = R dengan RSG
IB LR adalah hambatan dari strain gauge.
R3
SG
R Nilai hambatan RSG bervaiasi
terhadap tekanan. Tentukan :
a. perubahan arus IB akibat RSG yang berubah.
b. nilai ΔIB jika VS = 10 volt, R = 1 kΩ dan ΔRSG = 1 Ω.

RS IX 7. Jika NLR adalah hambatan


nonlinear yang memiliki ciri
VX sebagai i = 10-3 v3. Hitung :
VS NLR
a. VX
b. IX
Jika VS = 10 volt dan RS= 1 kΩ.
8. Andaikan Jakarta membutuhkan daya listrik sebesar 1010 W
(artinya masing-masing orang membutuhkan 1 kW, dengan
anggapan jumlah penduduk 10 juta orang). Untuk
mentransmisikan daya ini perlu kabel yang cukup besar. Andaikan
daya sebesar itu di supply melalui kabel terbuat dari tembaga
murni (hambat jenisnya = 1,5 x 10-8 Ωm) yang diameternya 10 cm
(relatif besar sekali!). Hitung:
a). daya yang hilang tiap meternya
b). panjang kabel, jika semua daya hilang dikabel tsb
c). suhu kabel tsb, jika diketahui konduktivitas panasnya adalah σ =
6x10-16 WK-4m-2.

Sastra Kusuma Wijaya FISIKA FMIPA UI Diktat Kuliah Elektronika I