Anda di halaman 1dari 51

GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGALAMI

HIPEREMESIS GRAVIDARUM
DI PUSKESMAS KEC. CIKADU
KABUPATEN CIANJUR

DISUSUN OLEH:

IDA WIDIAWATI

2021
PENGESAHAN

Judul Tugas Akhir : Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami


Hiperemesis Gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu
Kabupaten Cianjur

Nama Mahasiswa : Ida Widiawati

Disahkan Oleh:

Penguji : (....................)

Penguji : (....................)

Penguji : (....................)
ABSTRAK

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang berat selama
kehamilan, yang terjadi pada 1‐2% dari semua kehamilan atau 1‐20 pasien per
1000 kehamilan (Barozha dan Apriliana, 2016). Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil yang mengalami hiperemesis
gravidarum di PUSKESMAS Kabupaten Cianjur Tahun 2021.
Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan
retrospective. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mengalami
hiperemesis gravidarum periode bulan Januari – Desember Tahun 2016 sebanyak
195 responden. Teknik sampel yang digunakan secara acak sederhana (simple
random sampling) dengan menggunakan tabel bilangan atau angka acak (random
number). Pengumpulan data menggunakan data sekunder.
Hasil penelitian, Hiperemesis Gravidarum pada responden mayoritas Tingkat
III sebesar 87,1%. Karakteristik ibu hamil yang mengalami Hiperemesis
Gravidarum Tingkat III berdasarkan gravida tertinggi pada primigravida sebesar
88,1%, berdasarkan pendidikan tertinggi pada responden yang tidak sekolah
sebesar 100%, berdasarkan usia kehamilan tertinggi pada Trimester I (usia
kehamilan 0-12 minggu) sebesar 96,4%.
Disarankan kepada Puskesmas Kabupaten Cianjur khususnya Bidan di Ruang
Poli Kebidanan agar memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
penyebab dan cara mencegah hiperemesis gravidarum terutama pada ibu hamil
primigravida, pendidikan tidak sekolah dan usia kehamilan Trimester I (0 – 12
bulan).

Kata Kunci : Karakteristik gravida, pendidikan, usia kehamilan, hiperemesis


gravidarum
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul

“Gambaran karakteristik ibu hamil yang mengalami Hiperemesis

Gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu Kabupaten Cianjur Tahun 2021”,

dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalam

penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Sehingga penulis ingin mengucapkan

terimakasih yang sebesar-besarnya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih

terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati kritik

dan saran yang sifatnya membangun, sangat penulis harapkan agar dalam

penelitian berikutnya menjadi lebih baik.

Cianjur, Maret 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar ................................................................................... i
Abstrak ................................................................................... ii
Daftar Isi ................................................................................... iii
Daftar Tabel................................................................................................. iv
Daftar Gambar ............................................................................................. vi
Daftar Lampiran .......................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 6
1.3.1 Tujuan Umum............................................................. 6
1.3.2 Tujuan Khusus............................................................ 6
1.4 Manfaat penelitian ............................................................... 7
1.4.1 Manfaat Teoritis.......................................................... 7
1.4.2 Manfaat Aplikatif........................................................ 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kehamilan ........................................................................... 8


2.2 Hiperemesis Gravidarum...................................................... 9
2.2.1 Definisi hiperemesis gravidarum................................ 9
2.2.2 Diagnosis hiperemesis gravidarum............................. 11
2.2.3 Tanda dan gejala hiperemesis gravidarum.................. 11
2.2.4 Penyebab hiperemesis gravidarum............................. 12
2.2.5 Patofisiologi hiperemesis gravidarum......................... 15
2.2.6 Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum................... 16
2.2.7 Patologi hiperemesis gravidarum................................ 19
2.2.8 Prognosis hiperemesis gravidarum.............................. 20
2.2.9 Faktor-faktor yang berhubungan dengan HEG........... 20
2.3 Kerangka Teori..................................................................... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...............................................

3.1 Metode Penelitian ................................................................ 27


3.1.1 Desain/Rancangan Penelitian .....................................
3.1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .....................................
3.1.3 Populasi dan Sampel ..................................................
3.2 Metode Pengumpulan Data .................................................
3.3 Pengolahan dan Analisa Data............................................... 32

ii
BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian ..................................................................


4.1.1 Distribusi frekuensi hiperemesis gravidarum............. 34
4.1.2 Distribusi frekuensi gravida, pendidikan,
usia kehamilan............................................................ 34
4.1.3 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik
gravida......................................................................... 36
4.1.4 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik
pendidikan................................................................... 36
4.1.5 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik usia.... 37

4.2 BAB V PEMBAHASAN.....................................................


4.1.2 Gambaran Hiperemesis Gravidarum......................... 38
4.1.3 Karakteristik Ibu Hamil Berdasarkan Gravida.......... 38
4.1.4 Karakteristik Ibu Hamil Berdasarkan Pendidikan..... 39
4.1.5 Karakteristik Ibu Hamil Berdasarkan
Usia Kehamilan....................................................... 40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan........................................................................... 42
5.2 Saran..................................................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

3.1 Definisi operasional........................................................................ 30


4.1 Distribusi frekuensi hiperemesis gravidarum.................................. 34
4.2 Distribusi frekuensi gravida, pendidikan, usia kehamilan.............. 34
4.3 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik gravida................... 36
4.4 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik pendidikan............. 36
4.5 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik usia kehamilan....... 37

iv
DAFTAR GAMBAR

Tabel Judul Halaman

2.1 Kerangka Teori ............................................................................ 26


3.1 Kerangka Konsep.......................................................................... 27

v
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap hari, sekitar 800 wanita meninggal karena sebab yang dapat dicegah

terkait dengan kehamilan dan persalinan. 99% dari semua kematian ibu terjadi di

negara berkembang (WHO, 2014). Kurang lebih 50-90% kehamilan disertai NVP

(Nausea and Vomiting During Pregancy) yang 20% nya dapat berlanjut dan

memberat sehingga mengganggu keseharian dan psikologis ibu hamil. NVP dapat

memberat menjadi hiperemesis gravidarum dengan angka kejadian diperkirakan

dapat mencapai 2% dari seluruh angka kelahiran (Hadi, 2011).

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang berat

selama kehamilan, yang terjadi pada 1‐2% dari semua kehamilan atau 1‐20 pasien

per 1000 kehamilan (Barozha dan Apriliana, 2016). Hiperemesis gravidarum

terjadi di seluruh dunia dengan angka kejadian yang beragam mulai dari 0,5 - 2%

di Amerika Serikat, 0,3% dari seluruh kehamilan di Swedia, 0,5% di California,

0,8% di Canada, 10,8% di China, 0,9% di Norwegia, 2,2% di Pakistan dan 1,9%

di Turki, di Indonesia prevalensi hiperemesis gravidarum adalah 1-3%.

Perbandingan insidensi hiperemesis gravidarum secara umum adalah 4 : 1000

kehamilan (Atika, 2016).

Mual muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida.

Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi berat. Perasaan mual ini

disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG.

1
2

Pengaruh fisiologis kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena system

saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita

dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikan gejala mual muntah

yang berat dapat berlangsung selama 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari menjadi

terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut

hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahaan fisiologi menentukan

berat ringannya penyakit (Rukiyah, 2010). Faktor risiko usia kehamilan

merupakan faktor risiko hiperemesis gravidarum, yaitu berhubungan dengan

kadar hormon korionik gonadotropin, esterogen, dan progesteron dalam darah ibu.

Kadar hormon korionik gonadotropin dalam darah mencapai puncaknya pada

kehamilan trimester I. Oleh karena itu, mual dan muntah lebih sering terjadi pada

trimester I, akan tetapi pada beberapa kasus ada yang berlanjut hingga trimester

akhir (Atika, 2016).

Hiperemesis gravidarum merupakan kasus yang memerlukan perawatan di

rumah sakit. Hiperemesis gravidarum ini penyebabnya masih belum diketahui,

namun beberapa penelitian menyebutkan beberapa teori tentang hal yang dapat

menyebabkan hiperemesis gravidarum seperti kadar hormon korionik

gonadotropin, hormon estrogen, infeksi H. Pylori dan juga faktor psikologis. Usia

gestasi juga merupakan faktor risiko hiperemesis gravidarum, hal tersebut

berhubungan dengan kadar hormon korionik gonadotropin, estrogen dan

progesteron di dalam darah ibu. Kadar hormon korionik gonadotropin merupakan

salah satu etiologi yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum. Kadar

hormon gonadotropin dalam darah mencapai puncaknya pada trimester pertama,

2
3

oleh karena itu, mual dan muntah lebih sering terjadi pada trimester pertama

(Yasa, 2012). Faktor risiko lain adalah pendidikan dan jumlah gravida.

Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku terhadap pola

hidup dalam memotivasi untuk siap berperan serta dalam perubahan kesehatan.

Rendahnya pendidikan seseorang makin sedikit keinginan untuk memanfaatkan

pelayanan kesehatan, dan sebaliknya makin tingginya pendidikan seseorang,

makin mudah untuk menerima informasi dan memanfaatkan pelayanan kesehatan

yang ada. Pendidikan merupakan faktor predisposisi adalah faktor yang ada dalam

individu seperti pengetahuan, sikap terhadap kesehatan serta tingkat

pendidikan.Dimana untuk berprilaku kesehatan misalnya (pemeriksaan kesehatan

bagi ibu hamil) diperlukan pengetahuan tentang manfaat periksa hamil, baik bagi

kesehatan ibu sendiri maupun bagi janinnya (Umboh, 2014). Sedangkan pada

gravida berhubungan dengan kondisi psikologis ibu hamil dimana ibu hamil yang

baru pertama kali hamil akan mengalami stres yang lebih besar dari ibu yang

sudah pernah melahirkan dan dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum, ibu

primigravida juga belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan

korionik gonadotropin, hal tersebut menyebabkan ibu yang baru pertama kali

hamil lebih sering mengalami hiperemesis gravidarum (Yasa, 2012).

Bahaya hiperemesis gravidarum (HG) adalah dapat menyebabkan

kekurangan nutrisi dan energi bagi ibu yang dapat berpengaruh pada tumbuh

kembang janin (Yasa, 2012). Dampak Hiperemesis Gravidarum yaitu dehidrasi

yang menimbulkan konsumsi O2 menurun, gangguan fungsi liver dan terjadi

3
4

Ikterus, terjadi perdarahan pada Parenkim liver sehingga menyebabkan gangguan

fungsi umum alat-alat vital dan menimbulkan kematian (Manuaba, 2010).

Upaya yang dapat dilakukan bidan dalam menangani hiperemesis

gravidarum dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dengan

maksud menghilangkan faktor psikis rasa takut. Juga tentang diet ibu hamil,

makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam porsi sedikit – sedikit namun sering.

Pada saat bangun tidur jangan kemudian berdiri akan tetapi bertahap sehingga

dapat mengurangi rasa mual dan muntah (Mochtar, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian Pratiwi (2015) di RSUD Wates Kulon Progo

Yogyakarta menunjukkan kejadian hiperemesis tahun 2012-2014 tertinggi terjadi

pada tahun 2013 sebanyak 115 (59,3%) dengan karakteristik sebagian besar

terjadi pada wanita hamil umur 20-35 tahun sebanyak 174 (89,7%), gravida

terbanyak yaitu multigravida 115 (59,3%), karakteristik pendidikan sebagian

besar berpendidikan terakhir SMA sebanyak 124 (64,0%) dan karakteristik

pekerjaan sebagian besar ibu IRT sebanyak 86 (44,4 %). Penelitian Hadi (2011) di

RSUP Persahabatan menunjukkan bahwa penderita hiperemesis gravidarum

sebagian besar mengalaminya pada trisemester pertama (77%). Persentase

terbesar dari kehamilan pasien secara berurutan adalah multigravida (53%),

primigravida (37%) dan grande gravida (10%). Sebagian besar pasien adalah

tamatan SMA (80%). Penelitian Atika (2016) di RSUP Dr. Mohammad Hoesin

palembang menunjukkan bahwa kelompok usia gestasi 1-12 minggu lebih banyak

mengalami hiperemesis gravidarum yaitu sebanyak 22 ibu hamil dengan

persentase 62,9% dibanding kelompok usia gestasi 13-28 minggu yaitu sebanyak

4
5

13 ibu hamil dengan persentase 37,1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara

usia gestasi dengan hiperemesis gravidarum (p=0,005).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di

PUSKESMAS Kec. Cikadu dengan melakukan wawancara terhadap bagian rekam

medik PUSKESMAS Kec. Cikadu diperoleh data adanya peningkatan kasus

hiperemesis gravidarum dari tahun 2015 – 2016. Pada Tahun 2015, kasus

hiperemesis gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu sebesar 189 kasus (5,8%) dari

3324 ibu hamil mengalami peningkatan pada tahun 2016 sebesar 0,2% menjadi

195 kasus (6,0%) dari 3220 ibu hamil.

Dengan melihat data diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul “Gambaran karakteristik ibu hamil yang mengalami hiperemesis

gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah: “Bagaimanakah gambaran karakteristik ibu hamil yang

mengalami hiperemesis gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu Kab. Cianjur

Tahun 2021?”.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya distribusi frekuensi gambaran karakteristik ibu hamil

yang mengalami hiperemesis gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu Kab.

Cianjur Tahun 2021.

5
6

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Diketahuinya distribusi frekuensi hiperemesis gravidarum di Puskesmas

Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021.

1.3.2.2 Diketahuinya distribusi frekuensi gravida, pendidikan dan usia kehamilan

di Puskesmas Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021.

1.3.2.3 Diketahuinya distribusi frekuensi gambaran karakteristik ibu hamil yang

mengalami hiperemesis gravidarum berdasarkan gravida di Puskesmas

Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021.

1.3.2.4 Diketahuinya distribusi frekuensi gambaran karakteristik ibu hamil yang

mengalami hiperemesis gravidarum berdasarkan pendidikan di

Puskesmas Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021.

1.3.2.5 Diketahuinya distribusi frekuensi gambaran karakteristik ibu hamil yang

mengalami hiperemesis gravidarum berdasarkan usia kehamilan di

Puskesmas Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk masukan dalam rangka

meningkatkan upaya – upaya pencegahan kejadian hiperemesis gravidarum

dan peningkatan pengetahuan tentang hiperemesis gravidarum khususnya di

Wilayah Kabupaten Cianjur.

6
7

1.4.2 Manfaat Aplikatif

1.4.2.1 Bagi Puskesmas Kec. Cikadu

Memperoleh data yang akurat tentang kejadian hiperemesis

gravidarum di Kabupaten Cianjur, khususnya di Puskesmas Kec. Cikadu

dan sebagai bahan dasar untuk mengambil kebijakan-kebijakan dalam

rangka penatalaksaan hiperemesis gravidarum di Wilayah Kabupaten

Cianjur.

1.4.2.2 Bagi Profesi

Memperoleh kelengkapan data hiperemesis gravidarum dan

karakteristik ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum sehingga

dapat melakukan peningkatan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)

khususnya tentang hiperemesis gravidarum pada ibu hamil untuk

mencegah terjadinya hiperemesis gravidarum.

1.4.2.3 Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana kepustakaan dan

menambah informasi karakteristik terjadinya hiperemesis gravidarum.

7
8

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Kehamilan

Kehamilan adalah proses dimana sperma menembus ovum sehingga

terjadinya konsepsi dan fertilisasi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal

adalah 280 hari (40 mingg tau 9 bulan), dihitung dari hari pertama haid terakhir

(Mandang, 2016).

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional dalam Prawirohardjo

(2014), kehamilan di definisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari

spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila

dihitung dari saat fertilitas hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender

internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, di mana trimester kesatu

berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga

ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40). Manuaba

(2010) menyatakan bahwa kehamilan adalah suatu mata rantai yang

berkesinambungan yang terdiri dari ovulasi (pematangan sel) lalu pertemuan

ovum (sel telur) dan spermatozoa (sperma) terjadilah pembuahan dan

pertumbuhan zigot kemudian bernidasi (penanaman) pada uterus dan

pembentukan plasenta dan tahap akhir adalah tumbuh kembang hasil konsepsi

sampai aterm). Lama kehamilan sampai persalinan berlangsung aterm adalah

sekitar 280-300 hari dengan perhitungan sebagai berikut: usia kehamilan sampai

88
9

dengan 28 minggu dengan berat janin 1000 gram bila berakhir disebut keguguran,

usia kehamilan 29 sampai 36 minggu bila terjadi persalinan disebut prematurus,

usia kehamilan 37 sampai 42 minggu disebut aterm, usia kehamilan melebihi 42

minggu disebut kehamilan lewat waktu atau postdatism (serotinus).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kehamilan adalah proses yang dimulai

dari konsepsi sampai lahirnya janin yang berlangsung selama 280 hari (40 minggu

atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.

2.2 Hiperemesis Gravidarum


2.2.1 Definisi Hiperemesis Gravidarum

Ada beberapa gejala yang sering muncul di trimester pertama kehamilan,

salah satunya dalah mual dan muntah yang disebut emesis gravidarum. Emesis

gravidarum adalah mual dan muntah yang terjadi pada saat kehamilan. Emesis

gravidarum sering juga disebut morning sickness. Mual dan muntah ini terjadi

pada 50-70% wanita hamil. Mual dan muntah dalam kehamilan biasanya terjadi

dalam trimester pertama, yaitu muncul pada minggu ke 6 setelah hari pertama

haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mencapai

puncaknya pada minggu ke 11 sampai 13, dan biasanya mulai membaik pada

minggu 12 sampai ke 16, walau pada 20% wanita mual dan muntah ini dapat

menetap sepanjang kehamilan (Yasa, 2012).

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang terjadi pada

kehamilan hingga usia 16 minggu. Pada keadaan muntah-muntah yang berat,

dapat terjadi dehidrasi, gangguan asambasa dan elektrolit dan ketosis; keadaan ini

disebut hiperemesis gravidarum (WHO dan Kemenkes RI, 2013).

9
10

Verberg (2005) dalam Atika (2016) menyatakan bahwa hiperemesis

gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil yang dapat

mengganggu aktivitas sehari-hari dan dapat menyebabkan tubuh ibu menjadi

lemah, muka pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun.

Varney (2007) dalam Nurnaningsih (2012) menyatakan bahwa

hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan selama masa hamil.

Muntah yang membahayakan ini dibedakan dari morning sickness normal yang

umum dialami wanita hamil karena intensitasnya melebihi muntah normal dan

berlangsung selama trimester pertama kehamilan. Sehubungan dengan adanya

ketonemia, penurunan berat badan dan dehidrasi, hiperemesis gravidarum dapat

terjadi disetiap trimester.

Mose (2005) dalam Yasa (2012) menyatakan bahwa hiperemesis

gravidarum adalah suatu penyakit dimana wanita hamil memuntahkan segala apa

yang dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit

berkurang, diuresis berkurang dan timbul asetonuria.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hiperemesis gravidarum adalah mual dan

muntah berlebihan selama masa hamil yang dapat mengganggu aktivitas sehari-

hari dimana wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum

hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang, diuresis berkurang

dan timbul asetonuria.

10
11

2.2.2 Diagnosis Hiperemesis Gravidarum

Menurut WHO dan Kemenkes RI (2013), mual dan muntah sering menjadi

masalah pada ibu hamil. Pada derajat yang berat, dapat terjadi hiperemesis

gravidarum, yaitu bila terjadi:

a) Mual dan muntah hebat

b) Berat badan turun > 5% dari berat badan sebelum hamil

c) Ketonuria

d) Dehidrasi

e) Ketidakseimbangan elektrolit

Manuaba (2010), menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum tidak

sukar, dengan menentukan kehamilan, muntah berlebihan sampai menimbulkan

gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah yang terus menerus tanpa

pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim

dengan manifestasi klinisnya. Oleh karena itu hiperemesis gravidarum

berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapat pengobatan yang adekuat.

Kemungkinan penyakit lain yang menyertai kehamilan harus difikirkan dan

berkonsultasi dengan dokter tentang penyakit hati, penyakit ginjal dan penyakit

tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan ketiga

kemungkinan hamil yang disertai penyakit.

2.2.3 Tanda Dan Gejala Hiperemesis Gravidarum

Menurut Manuaba (2010), hiperemesis gravidarum menurut berat

ringannya dapat dibagi kedalam 3 tingkatan yaitu :

1. Tingkat I

11
12

Mual terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita ibu

merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri

pada epigastrum. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik

turun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung.

2. Tingkat II

Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lemah mengurang,

lidah mengering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik

dan mata sedikit ikterus, berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun,

hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi.

3. Tingkat III

Keadaan umum lebih parah, muntah-muntah berhenti, kesadaran

menurun dari samnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat tensi

turun, komplikasi fatal terjadi pada susunan syaraf yang dikenal sebagai

ensefalopati werniele, dengan gejala : nistakmus, dipolpia dan perubahan mental.

Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B

kompleks, timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati.

Hasil penelitian Umboh di Puskesmas Tompaso Kabupaten Minahasa

yang menunjukkan bahwa kejadian Hiperemesis Gravidarum yang paling banyak

adalah Hiperemesis Gravidarum kategori tinggi (tingkat II dan III) yaitu

berjumlah 49 orang (61,3%).

12
13

2.2.4 Penyebab Hiperemesis Gravidarum

Menurut WHO dan Kemenkes RI (2013), peningkatan hormon-hormon

pada kehamilan berkontribusi terhadap terjadinya mual dan muntah. Faktor

predisposisi yang terkait dengan mual dan muntah pada kehamilan antara lain:

a) Riwayat hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya atau

keluarga.

b) Status nutrisi: wanita obesitas lebih jarang dirawat inap karena

hiperemesis.

c) Faktor psikologis: emosi, stress.

Menurut Rukiyah (2010), penyebab hiperemesis belum diketahui secara

pasti. Perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan

oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain. Beberapa faktor presdisposisi dan

faktor lain yang ditemukan oleh sebagai berikut:

a) Faktor predisposisi yang sering di kemukakan adalah primigravida,

molahidatidosa, dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa

faktor hormon memegang peran, karena pada kedua keadaan tersebut

hormon khorionik gonadrotropin dibentuk berlebihan.

b) Faktor organik yaitu masuknya villi khorialis dalam sirkulasi maternal

dan perubahan metabolik karena hamil serta resistensi yang menurun

dari pihak ibu.

c) Faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit ini, rumah

tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan

persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat

13
14

menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan

muntah sebagai wkspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi

hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. Kurangnya penerimaan

terhadap kehamilan di nilai memicu perasaan mual dan muntah ini pada

waktu hamil muda, kehamilan ini tidak diharapkan, karena kegagalan

kontrasepsi ataupun karena hubungan di luar nikah. Hal ini bisa

memicu penolakan ibu terhadap kehamilan tersebut.

d) Faktor adaptasi dan hormonal, pada wanita yang kekurangan darah

lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukan dalam

ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia,

wanita primigravida, dan overdistensirahim pada hamil ganda dan

hamil molahidatidosa. Jumlah hormon yang dikeluarkan terlalu tinggi

dan menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum. Peningkatan

hormon estrogen dan hormon chorionic gonadotropin (HCG). Pada

kehamilan ini terjadi perubahan endokrinologi, terutama untuk hormon

estrogen dan HCG yang di nilai mengalami peningkatan.

Hasil penelitian Atika (2016) pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Moh.

Hoesin Palembang menunjukkan bahwa kelompok usia gestasi 1-12 minggu lebih

banyak mengalami hiperemesis gravidarum yaitu sebanyak 22 ibu hamil dengan

persentase 62,9 % dibanding kelompok usia gestasi 13- 28 minggu yaitu sebanyak

13 ibu hamil dengan persentase 37,1%.

14
15

2.2.5 Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum

Pengaruh fisiologik hormon estrogen tidak jelas, mungkin berasal dari

system saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung.

Penyesesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual

dan muntah dapat beralangsung berbulan-bulan. Hiperemesis gravidarum yang

merupakan mual dan muntah pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat

menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dan alkalosis hipo-

kloremik.

Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil

wanita tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama disamping pengaruh

hormonal. Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan

karbohidrat dan lemah habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi

lemak yang tak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton –

asetil asam hidroki butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang

diminum dan kehilangan cariran karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga

menyebabkan cairan ekstraseluler dalam plasma berkurang, natrium dan klorida

darah turun, demikian pula klorida air kemih, selain itu dehidrasi menyebabkan

hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini

menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan

tertimbunnya zat metabolic yang toksik.

Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ejresi

lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang banyak, dapat merusak

hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Disamping dehidrasi

15
16

dan terganggunya keseimbangan elektrolit (electrolyte imbalance), dapat terjadi

robekan. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri.

Jarang sampai diberikan transfuse atau tindakan operatif (Prawirohardjo, 2010).

2.2.6 Penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum

Menurut Prawirohardjo (2012), pencegahan terhadap hiperemesis

gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang

kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses fisiologik pada kehamilan muda

dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan

sehari-harii dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu

bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan

roti kering atau bickuit dengan teh hangat. Makanan dan minuman sebaiknya

disjikan dalam keadaan panas atau hangat atau sangat dingin. Defekasi yang

teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat

merupakan fakor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak

mengandung gula.

1. Obat-obatan

Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak

mengurang maka diperlukan pengobatan. Sedativa yang sering

diberikan adalah pohenobarbital, vitamin yang dianjurkan yaitu vitamin

B1 dan B2 yang berfungsi untuk mempertahankan kesehatan syaraf,

jantung, otot serta meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel dan

B6 berfungsi menurunkan keluhan atau gangguan mual dan muntah

bagi ibu hamil dan juga membantu dalam sintesa lemak untuk

16
17

pembentukan sel darah merah. Antihistaminika juga di anjurkan pada

keadaan lebih berat diberikan antimimetik seperti disklomin

hidrokhloride, avomin.

2. Terapi psikologik

Perlu diyakinkan kepada penderita penyakit dapat disembuhkan,

hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta

menghilangkan masalah dan konflikyang kiranya dapat menjadi latar

belakang penyakit ini.

3. Diet

Ciri khas diet hiperemesis gravidarum adalah penekanan

karbohidrat kompleks terutama pada pagi hari, serta menghindari

makanan yang berlemak dan gorengan-gorengan untuk menekan rasa

mual dan muntah, sebaiknya diberi jarak dalam pemberian makan dan

minum. Diet pada hiperemesis bertujuan untuk mengganti persediaan

glikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur memberikan

makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.

Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum, yaitu :

a) Diet hiperemesis gravidarum I diberikan pada hiperemesis tingkat

III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan

tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya.

Makanan ini diberikan selama beberapa hari.

b) Diet hiperemesis gravidarum II diberikan bila rasa mual dan

muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan bahan

17
18

makanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian minuman tidak

dibeikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-

zat gizi kecuali vitamin A dan D.

c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan

hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman

boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam

semua zat gizi kecuali kalsium.

d) Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I,II,III adalah

roti panggang, biscuit, buat segar dan sari buah, minuman botol

ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh kopi encer, sedangkan

makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan yang umumnya

merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam. Bahan

makanan yang mengandung alcohol, kopi dan yang mengandung

zat tambahan (pengawet, pewarna, Penyedap rasa).

e) Diet pada ibu yang mengalami hiperemesis terkadang melihat

kondisi si ibu dan tingkatan hiperemesisnya, konsep saat ini yang

dianjurkan pada ibu adalah makanlah apa yang ibu suka, bukan

makan sedikit-sedikit tapi sering juga jangan paksakan ibu

memakan apa yang saat ini membuat mual karena diet tersebut

tidak akan berhasil malah akan memperparah kondisinya.

18
19

2.2.7 Patologi Hiperemesis Gravidarum

Menurut Rukiyah (2010), bedah mayat pada wanita yang meninggal

akibat hiperemesis gravidarum menunjukkan kelainan-kelainan pada bagian alat

dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh beberapa macam

sebagai berikut :

a) Pada hati tampak degenerasi lemak tanpa nekrosis yang terletak

sentrilobuler. Kelainan ini nampaknya tidak menyebabkan kematian

dan diaanggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Tetapi

separuh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum

menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal.

b) Pada jantung menjadi lebih kecil dari pada biasanya dan beratnya

atropi, dan sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang

ditemukan perdarahan sub-endokardial.

c) Di otak dapat ditemukan ensefalopati wernicke yaitu dilatasi kapiler

dan perdarahan kecil-kecil di daerah corpora mamilaria ventrikel

ketiga dan keempat.

d) Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada

tubuli kontorti.

2.2.8 Prognosis Hiperemesis Gravidarum

Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum

sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian

pada tingkatan yang berat penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

19
20

2.2.9 Faktor-faktor yang berhubungan dengan Hiperemesis Gravidarum

(HEG)

1. Gravida

Menurut Wiknjosastro (2009) yang dimaksud dengan gravida

adalah wanita yang sedang hamil.

Tingkat gravida menurut Wiknjosastro (2009) dan Prawirohardjo

(2012) dibagi menjadi:

a) Primigravida adalah seorang ibu yang sedang hamil untuk

pertama kali (Prawirohardjo, 2012).

b) Multigravida adalah seorang ibu yang hamil lebih dari 1 sampai 5

kali (Prawirohardjo, 2012).

c) Grandemultigravida adalah seseorang yang pernah melahirkan

bayi yang viable lebih dari 5 kali (Wiknjosastro, 2009).

Faktor predisposisi yang sering ditemukan sebagai penyebab

hiperemesis gravidarum adalah pada primigravida. Berdasarkan hasil

sebuah penelitian dapat disimpulkan bahwa kejadian hiperemesis

gravidarum lebih sering dialami oleh primigravida daripada

multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat stres dan usia si ibu

saat mengalami kehamilan pertama. Hiperemesis gravidarum terjadi

sekitar 60-80% pada primigravida dan 40-60% pada multigravida

(Hadi, 2011).

Hasil penelitian Rabbani (2016) di Rumah Sakit Umum Daerah

Palembang Bari menunjukkan bahwa distribusi frekuensi hiperemesis gravidarum

20
21

berdasarkan jumlah kehamilan lebih banyak terjadi pada primigravida sebesar

77,5% dibandingkan multigravida sebesar 22,5%.. Penelitian Yasa (2012) di

Rumah Sakit Ujung Berung menunjukkan responden yang multigravida sebanyak

55,4%.

2. Pendidikan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I Pasal I menyatakan bahwa pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan dibagi menjadi :

a) Pendidikan Dasar

Merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan

menengah. Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah

ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama

(SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTS), atau bentuk lain yang sederajat.

b) Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.

Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan

menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas

(SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan

Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

21
22

c) Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan

menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister,

spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.

Pendidikan adalah suatu bentuk intervensi yang ditunjukkan pada

individu atau masyarakat yang dapat berpengaruh positif terhadap pemeliharaan

kesehatan. Pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, makin tinggi

pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi, sehingga makin baik

pengetahuannya, akan tetapi seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu

berpengetahuan rendah. Pengetahuan tidak hanya bisa diperoleh dari pendidikan

formal akan tetapi bisa diperoleh melalui pendidikan non formal seperti

pengalaman pribadi, media, lingkungan, dan penyuluhan kesehatan, sehingga bisa

juga seseorang dengan pendidikan tinggi dapat terpapar dengan penyakit begitu

pula sebaliknya (Sumai, 2014). Menurut Hadi (2011), kejadian hiperemesis pada

ibu hamil lebih sering terjadi pada ibu hamil yang berpendidikan rendah. Secara

teoritis, ibu hamil yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih

memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya.

Hasil penelitian Pratiwi (2015) di RSUD Wates Kulon Progo

Yogyakarta menunjukkan kejadian hiperemesis gravidarum pada Ibu Hamil TM I

Tahun 2012-2014 berdasarkan pendidikan di RSUD Wates sebagian besar

berpendidikan SMA. Pada tahun 2012 (12,9%), tahun 2013 (37,7%), tahun 2014

(13,4%). Penelitian Umboh (2014) di Puskesmas Tompaso Kabupaten Minahasa

menunjukkan pada pendidikan tinggi lebih banyak ditemukan responden dengan

22
23

kejadian Hiperemesis Gravidarum (56,2%) daripada responden dengan kejadian

Hiperemesis Gravidarum rendah (15%). Sedangkan pada responden dengan

pendidikan rendah ternyata lebih banyak ditemukan kejadian Hiperemesis

Gravidarum rendah (23,8%) daripada kejadian Hiperemesis Gravidarum tinggi

(0,5%). Berdasarkan analisis denagn uji Chi Square didapatkan ρ value =0,000

artinya, hasil ini memiliki makna ada hubungan yang signifikan antara pendidikan

dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum.

3. Usia Kehamilan

Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira – kira

280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40

minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Kehamilan lebih dari 42

minggu disebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28 sampai dengan 36

minggu disebut kehamilan prematur. Kehamilan yang terakhir ini akan

mempengaruhi viabilitas (kelangsungan hidup) bayi yang dilahirkan, karena bayi

yang terlalu muda mempunyai prognosis buruk (Prawirohardjo, 2012).

Menurut Prawirohardjo (2012), ditinjau dari tuanya kehamilan,

kehamilan dibagi dalam 3 bagian yaitu:

a) Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai dengan 12 minggu)

b) Kehamilan triwulan kedua (antara 12 sampai dengan 28 minggu),

dan

c) Kehamilan triwulan terakhir (antara 29 sampai 40 minggu).

Dalam triwulan pertama alat – alat mulai dibentuk. Dalam

triwulan kedua alat – alat telah dibentuk, tetapi belum sempurna

23
24

dan viabilitas janin masih disangsikan. Janin yang dilahirkan

dalam trimester terakhir telah viable (dapat hidup).

HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) merupakan faktor endokrin

yang paling mungkin berperan dalam hiperemesis gravidarum. Kesimpulan ini

didapatkan dari asosiasi yang terlihat dari peningkatan produksi HCG dan fakta

bahwa hiperemesis gravidarum tertinggi pada puncak produksi HCG yaitu 9

minggu pertama kehamilan pertama. Pada beberapa sumber juga disebutkan

bahwa hiperemesis gravidarum lebih banyak ditemukan pada primigravida

dibandingkan pada multi atau grande gravida (Hadi, 2011).

Hasil penelitian Yasa (2012) di Rumah Sakit Ujung Berung

menunjukkan responden usia gestasi 6-15 minggu sebanyak 92,3%.

24
25

2.3 Kerangka Teori

Faktor Predisposisi:
1. Riwayat hiperemesis
gravidarum pada kehamilan
sebelumnya atau keluarga.
2. Status nutrisi

Faktor organik:
1. Masuknya villi khorialis
dalam sirkulasi maternal
2. Perubahan metabolik karena
hamil serta resistensi yang
menurun dari pihak ibu Hiperemesis
Gravidarum
Faktor psikologik:
1. Emosi
2. Stress

Faktor adaptasi dan hormonal :


1. Wanita hamil dengan anemia
2. Wanita primigravida
3. Overdistensirahim pada hamil
ganda
4. Hamil molahidatidosa

Faktor penyebab lain:


1. Gravida
2. Pendidikan
3. Usia kehamilan

Gambar 2.1. Kerangka Teori

Sumber : Modifikasi dari Rukiyah (2010), Prawirohardjo (2012), WHO dan


Kemenkes RI (2013)
Keterangan : Yang dicetak tabal di teliti

25
26

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

dengan menggunakan pendekatan retrospective. Metode penelitian deskriptif

adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk

membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara obyektif

(Notoatmodjo, 2012).

3.1.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi merupakan tempat atau lokasi pengambilan penelitian (Notoatmodjo,

2012). Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah puskesmas Kec.

Cikadu.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian adalah rentang waktu yang digunakan untuk penelitian

(Notoatmodjo, 2012). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari – februari

Tahun 2021.

3.1.2 Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti (Notoatmodjo,

2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang

26
27

mengalami hiperemesis gravidarum periode bulan Januari – Desember

Tahun 2016 sebanyak 195 responden.

2. Sampel

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh

populasi (Notoatmodjo, 2012). Adapun rumus besar sampel

menggunakan rumus Sopiyudin (2010) yaitu :

Za 2 x P x Q
n¿
d2

Keterangan:

Zα2 = deviat baku alfa

P = Proporsi kejadian hiperemesis gravidarum yaitu 0,593 (Hasil

penelitian Pratiwi 2015)

Q = 1 – P = 1-0,5 (0,407)

d= Presisi
Za 2 x P x Q
n¿
d2
n =1,962 x 0,593 x 0,407
0,102
n = 3,8416 x 0,593 x 0,407
0,01
n = 0,9271
0,01
n = 92,7 (dibulatkan menjadi 93)

Dari hasil perhitungan diatas, maka jumlah sampel yang

dibutuhkan sebanyak 93 responden.

Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah

probability samples yaitu pengambil sampel secara acak sederhana

27
28

(simple random sampling) dengan menggunakan tabel bilangan atau

angka acak (random number).

Sampel harus memenuhi kriteria kriteria inklusi. Kriteria inklusi adalah

kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat

diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota

populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel. Kriteria inklusi dalam

penelitian ini adalah responden yang memiliki status rekam medik yang lengkap.

Sedangkan kriteria eksklusi adalah ibu hamil yang memiliki komplikasi

kehamilan.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder

yaitu dengan melihat status pasien yang peroleh di rekam medik Puskesmas Kec.

Cikadu Periode bulan Januari – februari Tahun 2021.

3.3 Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini meliputi editing, coding,

entrydata dan cleaning (Notoatmodjo, 2012) :

a. Editing

Melakukan pemeriksaan pada data-data yang telah diperoleh

apakah dapat dibaca, jelas, relevan dan apakah data yang diperoleh

sesuai dengan penelitian yang dilakukan.

28
29

b. Coding

Merubah data yang terkumpul ke bentuk lain yang lebih ringkas

dengan menggunakan kode. Setelah dilakukan editing, selanjutnya

penulis memberikan kode tertentu pada tiap variabel sehingga

memudahkan dalam melakukan analisis data.

c. Entry data

Entri data yaitu memasukkan data kedalam program komputer.

d. Cleaning

Cleaning yaitu pembersihan data yang kemudian akan

dilanjutkan dengan menganalisis data.

2. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat.

Analisis univariat  adalah analisis  yang dilakukan terhadap tiap

variabel dari hasil penelitian.

Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi

frekuensi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2012) maka

digunakan rumus :

X
F= x 100 %
N

Keterangan :

F = Frekuensi

N = Jumlah sampel

X = Jumlah yang didapat

29
30

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Distribusi Frekuensi Hiperemesis Gravidarum

Pada analisis ini data yang digunakan adalah data kategorik yang akan

dipaparkan dalam bentuk tabel berisi jumlah dan persentase masing-masing

kelompok dalam variabel (Tabel 4.1). Berikut ini akan ditampilkan hasil

penelitian yang telah dianalisis secara univariat :

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Hiperemesis Gravidarum di PUSKESMAS


Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 20 b21

Hiperemesis Gravidarum Jumlah

F %

Tingkat I 3 3,2

Tingkat II 9 9,7

Tingkat III 81 87,1

Total 93 100

Distribusi Hiperemesis Gravidarum paling banyak responden mengalami

Hiperemesis Gravidarum Tingkat III yaitu 81 orang (87,1%) sedangkan untuk

Hiperemesis Gravidarum Tingkat II dan I masing-masing 9,7% dan 3,2%.

30
31

4.1.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Gravida, Pendidikan, Usia

Kehamilan

Tabel 4.2 Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Gravida, Pendidikan


dan Usia Kehamilan di PUSKESMAS Kec. Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021

Variabel Jumlah

F %

Gravida
Primigravida 59 63,4
Multigravida 28 30,1
Grandemultigravida 6 6,5

Variabel Jumlah

F %

Pendidikan
1 1,1
Tidak sekolah 7 7,5
26 28,0
Tamat SD 52 55,9
7 7,5
Tamat SMP/MTS
84 90,3
Tamat SMA/Sederajat 7 7,5
2 2,2
Tamat Perguruan Tinggi (PT)

Usia Kehamilan

Trimester I , 0-12 minggu

Trimester II, 13-28 minggu

Trimester III, 29-40 minggu

Total 93 100

31
32

Distribusi karakteristik gravida responden untuk masing-masing gravida

paling banyak responden mempunyai gravida primigravida yaitu 59 orang

(63,4%) sedangkan untuk gravida multigravida dan gravida

grandemultigravida masing-masing 30,1% dan 6,5%.

Distribusi karakteristik pendidikan responden untuk masing-masing

tingkat pendidikan paling banyak responden tamat SMA/Sederajat yaitu 52

orang (44,1%), responden yang tamat SMP/MTS yaitu 28,0%, sedangkan

responden yang tamat perguruan tinggi (PT) dan tamat SD memiliki jumlah

yang sama yaitu sebesar 7,5%, dan responden yang tidak sekolah hanya ada

1,1%.

Distribusi karakteristik usia kehamilan responden untuk masing-masing

usia kehamilan paling banyak responden yang usia kehamilan Trimester I

(usia kehamilan 0-12 minggu) yaitu 84 orang (9,3%), sedangkan usia

kehamilan Trimester II (antara usia kehamilan 13-28 minggu) dan Trimester

III (usia kehamilan 29 – 40 minggu) masing-masing 7,5% dan 2,2%.

4.1.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami

Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan Gravida

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami


Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan Gravida di PUSKESMAS Kec. Cikadu
Kab. Cianjur Tahun 2021

Hiperemesis Gravidarum Total


Gravida
Tingkat I Tingkat II Tingkat III

32
33

F % F % F % F %

Primigravida 1 1,7 6 10,2 52 88,1 59 100

Multigravida 2 7,1 2 7,1 24 85,7 28 100

Grandemultigra 0 0,0 1 16,7 5 83,3 6 100


vida

Total 3 3,2 9 9,7 81 87,1 93 100

Distribusi Hipermesis Gravidarum berdasarkan karakteristik gravida,

diketahui pada Hipermesis Gravidarum Tingkat III tertinggi pada gravida

primigravida sebesar 88,1%.

4.1.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami

Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan Karakteristik Pendidikan

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami


Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan Pendidikan di PUSKESMAS Kec.
Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021

Hiperemesis Gravidarum Total


Pendidikan
Tingkat I Tingkat Tingkat III
II

F % F % F % F %

Tidak sekolah 0 0,0 0 0,0 1 100, 1 10


0 0

Tamat SD 0 0,0 1 14, 6 85,7 7 10


3 0

Tamat SMP/MTS 1 3,8 1 3,8 24 92,3 2 10


6 0

Tamat SMA/Sederajat 1 1,9 5 9,6 46 88,5 5 10

33
34

2 0

Tamat Perguruan Tinggi 1 14,3 2 28, 4 57,1 7 10


(PT) 6 0

Total 3 3,2 9 9,7 81 87,1 9 10


3 0

Distribusi Hipermesis Gravidarum berdasarkan karakteristik pendidikan,

diketahui pada Hipermesis Gravidarum Tingkat III tertinggi pada responden

yang tidak sekolah sebesar 100%.

4.1.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami

Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan Karakteristik Usia Kehamilan

Tabel 4.1.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami


Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan Usia Kehamilan Puskesmas Kec.
Cikadu Kab. Cianjur Tahun 2021

Hiperemesis Gravidarum Total


Usia Kehamilan
Tingkat I Tingkat Tingkat
II III

F % F % F % F %

Trimester I (0-12 minggu) 0 0,0 3 3,6 81 96, 84 10


4 0

Trimester II (13-28 1 14,3 6 85, 0 0,0 7 10


minggu) 7 0

Trimester III (29-40 2 100, 0 0,0 0 0,0 2 10

34
35

minggu) 0 0

Total 3 3,2 9 9,7 81 87, 93 10


1 0

Distribusi Hipermesis Gravidarum berdasarkan karakteristik usia

kehamilan, diketahui pada Hipermesis Gravidarum Tingkat III tertinggi pada

Trimester I (usia kehamilan 0-12 minggu) sebesar 96,4%.

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Gambaran Hiperemesis Gravidarum

Dari 93 responden yang diteliti, Hiperemesis Gravidarum di di PUSKESMAS

Kec. Cikadu didapatkan mayoritas responden mengalami Hiperemesis

Gravidarum Tingkat III sebesar 87,1%.

Mose (2005) dalam Yasa (2012) menyatakan bahwa hiperemesis gravidarum

adalah suatu penyakit dimana wanita hamil memuntahkan segala apa yang

dimakan dan diminum hingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang,

diuresis berkurang dan timbul asetonuria.

Hasil penelitian ini lebih tinggi dari penelitian Umboh di Puskesmas

Tompaso Kabupaten Minahasa yang menunjukkan bahwa kejadian Hiperemesis

Gravidarum yang paling banyak adalah Hiperemesis Gravidarum kategori tinggi

(tingkat II dan III) yaitu berjumlah 49 orang (61,3%).

4.2.2 Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis


Gravidarum Berdasarkan Gravida

35
36

Karakteristik ibu hamil yang mengalami Hiperemesis Gravidarum Tingkat

III berdasarkan gravida tertinggi pada primigravida sebesar 88,1%. Hasil

penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rabbani (2016) di

Rumah Sakit Umum Daerah Palembang Bari menunjukkan bahwa distribusi

frekuensi hiperemesis gravidarum berdasarkan jumlah kehamilan lebih banyak

terjadi pada primigravida sebesar 77,5% dibandingkan multigravida sebesar

22,5%. Namun hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan

oleh penelitian Yasa (2012) di Rumah Sakit Ujung Berung menunjukkan

responden yang multigravida sebanyak 55,4%.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Hadi (2011) bahwa faktor predisposisi

yang sering ditemukan sebagai penyebab hiperemesis gravidarum adalah pada

primigravida. Berdasarkan hasil sebuah penelitian dapat disimpulkan bahwa

kejadian hiperemesis gravidarum lebih sering dialami oleh primigravida daripada

multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat stres dan usia si ibu saat

mengalami kehamilan pertama. Hiperemesis gravidarum terjadi sekitar 60-80%

pada primigravida dan 40-60% pada multigravida.

Ada hubungan faktor gravida dengan kejadian hiperemesis


4.2.3 Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis
Gravidarum Berdasarkan Pendidikan

Karakteristik ibu hamil yang mengalami Hiperemesis Gravidarum Tingkat III

berdasarkan pendidikan tertinggi pada responden yang tidak sekolah sebesar

100%. Hasil penelitian ini lebih tinggi dari penelitian yang dilakukan oleh

Umboh (2014) di Puskesmas Tompaso Kabupaten Minahasa menunjukkan pada

pendidikan tinggi lebih banyak ditemukan responden dengan kejadian

36
37

Hiperemesis Gravidarum (56,2%) daripada responden dengan kejadian

Hiperemesis Gravidarum rendah (15%).

Hal ini tidak sesuai denga pernyataan Sumai (2014) bahwa pendidikan adalah

suatu bentuk intervensi yang ditunjukkan pada individu atau masyarakat yang

dapat berpengaruh positif terhadap pemeliharaan kesehatan. Pendidikan dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, makin tinggi pendidikan seseorang makin

mudah menerima informasi, sehingga makin baik pengetahuannya, akan tetapi

seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu berpengetahuan rendah.

Menurut Hadi (2011), kejadian hiperemesis pada ibu hamil lebih sering terjadi

pada ibu hamil yang berpendidikan rendah. Secara teoritis, ibu hamil yang

berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan

keluarganya.

Ibu hamil yang berpendidikan tinggi SMA/Sederajat lebih banyak mengalami

hiperemesis gravidarum kemungkinan karena pengetahuan ibu mengenai

penyebab dan cara mencegah hiperemesis gravidarum pada kehamilan kurang.

Pengetahuan tidak hanya bisa diperoleh dari pendidikan formal akan tetapi bisa

diperoleh melalui pendidikan non formal seperti pengalaman pribadi, media,

lingkungan, dan penyuluhan kesehatan, sehingga bisa juga seseorang dengan

pendidikan tinggi dapat terpapar dengan penyakit begitu pula sebaliknya.

4.2.4 Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis


Gravidarum Berdasarkan Usia Kehamilan

Karakteristik ibu hamil yang mengalami Hiperemesis Gravidarum Tingkat

III berdasarkan usia kehamilan tertinggi pada Trimester I (usia kehamilan 0-12

minggu) sebesar 96,4. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang

37
38

dilakukan oleh Yasa (2012) di Rumah Sakit Ujung Berung menunjukkan

responden usia gestasi 6-15 minggu sebanyak 92,3%.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Hadi (2011) bahwa HCG (Human

Chorionic Gonadotrophin) merupakan faktor endokrin yang paling mungkin

berperan dalam hiperemesis gravidarum. Kesimpulan ini didapatkan dari asosiasi

yang terlihat dari peningkatan produksi HCG dan fakta bahwa hiperemesis

gravidarum tertinggi pada puncak produksi HCG yaitu 9 minggu pertama

kehamilan pertama. Pada beberapa sumber juga disebutkan bahwa hiperemesis

gravidarum lebih banyak ditemukan pada primigravida dibandingkan pada multi

atau grande gravida.

38
39

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian tentang “Gambaran karakteristik ibu hamil

yang mengalami hiperemesis gravidarum di Puskesmas Kec. Cikadu Kab.

Cianjur Tahun 2021” maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Hiperemesis Gravidarum mayoritas Tingkat III sebesar 87,1%.

2. Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan karakteristik gravida, pada

Hiperemesis Gravidarum Tingkat III tertinggi pada primigravida sebesar

88,1%.

3. Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan karakteristik pendidikan, pada

Hiperemesis Gravidarum Tingkat III tertinggi pada responden yang tidak

sekolah sebesar 100%.

4. Hiperemesis Gravidarum Berdasarkan karakteristik usia kehamilan, pada

Hiperemesis Gravidarum Tingkat III tertinggi pada Trimester I (usia

kehamilan 0-12 minggu) sebesar 96,4%.

5.2 Saran

5.2.1 Teoritis

Pada ibu hamil, diharapkan dapat meningkatkan lagi pengetahuan

tentang penyebab dan cara mencegah kejadian Hiperemesis Gravidarum

dalam kehamilan.

39
40

5.2.2 Aplikatif

1. Bagi Puskesmas Kec. Cikadu

Diharapkan dapat meningkatkan KIE tentang faktor penyebab dan

cara mencegah Hiperemesis Gravidarum terutama pada ibu hamil

primigravida, pendidikan tidak sekolah dan usia kehamilan Trimester I

antara 0 – 12 minggu.

2. Bagi Peneliti yang akan datang

Diharapkan dapat meneliti lebih lanjut mengenai hubungan

karakteristik ibu hamil yang meliputi gravida, pendidikan, usia

kehamilan dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum.

40
41

DAFTAR PUSTAKA

Atika, Inthan. 2016. Hubungan Hiperemesis Gravidarum dengan Usia Ibu, Usia
Gestasi, Paritas, dan Pekerjaan pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr.
Moh. Hoesin Palembang. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Volume 3,
No. 3, Oktober 2016 : 166-171.

Barozha, L. D dan Epiliana, E. 2016. Hiperemesis Gravidarum dan Abortus


Iminens pada Kehamilan Trimester Pertama. Medula Unil, Volume 5,
Nomor 2, Agustus 2016.

Cunningham, F.G. 2012. Obstetri Wiliam. Volume I. Jakarta : EGC.

Hadi, Syarif. 2011. Distribusi Data Klinik Pasien Dengan Hiperemesis


Gravidarum di RSUP Persahabatan Pada Tahun 2010. Program Studi
Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Available from :
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25685/1/Syarif
%20Hadi%20-%20fkik.pdf Diakses tanggal 19 Maret 2020, Pukul 20.45
WIB.

Indrayani, Triana. 2017. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian


Hiperemesis Gravidarum di RSUD DR. Drajat Prawiranegara Kabupaten
Serang Tahun 2017. Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya,
Volume 4, Nomor 1, Maret 2018 ISSN 2442-501X.

Manuaba, I.B.G. 2014. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta :
EGC.

Mandang, Jeni dkk. 2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Bogor : In Media.

Mochtar, Rustam, 2011. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi, Jilid 2. Jakarta :


EGC.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nurnaningsih. 2012. Gambaran Faktor-Faktor Kejadian Hiperemesis Gravidarum


Pada Ibu Hamil Trimester Pertama Di RSKDIA Siti Fatimah Tahun 2012.
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Available from :
http://repositori.uin-alauddin.ac.id/3223/1/NURNANINGSIH.pdf Diakses
tanggal 19 Maret 2020, Pukul 04.08 WIB.

Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur Nomor 9 tahun 2011 Tentang Pengelolaan


Dan Penyelenggaraan Pendidikan Di Kabupaten Cianjur Bab XV Wajib
Belajar Pasal 142 ayat 9. Available from :

41
42

http://www.jdih.setjen.kemendagri.go.id/files/KAB_CIANJUR_9_2011.pdf
Diakses tanggal Diakses tanggal 19 Maret 2020, Pukul 03.40 WIB.

Pratiwi, N.R. 2015. Gambaran Kejadian Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu


Hamil TM I di RSUD Wates Kulon Progo Yogyakarta Tahun 2012-2014.
Karya Tulis Ilmiah. Program Studi Kebidanan (D-3), STIKes Jenderal
Achmad Yani Yogyakarta. Available from :
http://repository.unjaya.ac.id/266/1/Rizky%20Nadia
%20Pratiwi_1112179_nonfull%20resize.pdf Diakses tanggal 19 Maret 2020,
Pukul 14.00 WIB.

Rabbani, A.I.M. 2016. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya


Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit Umum Daerah Palembang Bari
Periode Januari 2013-Desember 2014. Skripsi. Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Palembang. Available from :
http://repository.um-palembang.ac.id/id/eprint/555/1/SKRIPSI391-
1704273360.pdf Diakses tanggal 21 Maret 2020, Pukul 15.02 WIB.

Saifuddin AB, Rachimhadi T, Winkjosastro GH. 2011. Ilmu Kebidanan. Edisi ke‐
4. Jakarta : Bina Pustaka Sarwono Prawodihardjo.

Sumai, E. 2014. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Hiperemesis


gravidarum di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sam Ratulangi Tondano
Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. JIDAN Jurnal Ilmiah Bidan
Volume 2 Nomor 1. Januari – Juni 2014 ISSN : 2339-1731.

Umboh, S.H. 2014. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian


Hiperemesis Gravidarum Di Puskesmas Tompaso Kabupaten Minahasa.
JIDAN Jurnal Ilmiah Bidan ISSN : 2339-1731 Volume 2 Nomor 2. Juli –
Desember 2014. Available from :
https://media.neliti.com/media/publications/91440-ID-faktor-faktor-yang-
berhubungan-dengan-ke.pdf Diakses tanggal 19 Maret 2020, Pukul 16.23
WIB.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional. Available from :
www.kemenag.go.id/file/dokumen/UU2003.pdf Diakses tanggal 19 Maret
2020, Pukul 09.00 WIB.
.
World Health Organization (WHO) dan Kemenkes RI. 2013. Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, Pedoman
Bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta : Kemenkes RI.

World Health Organization (WHO). 2014. Maternal Mortality.


https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/112318/WHO_RHR_14.06_
eng.pdf Diakses tanggal 19 Maret 2020, Pukul 16.40 WIB.

42
43

Yasa, C.A. 2012. Hubungan Antara Karakteristik Ibu Hamil Dengan Kejadian
Hiperemesis Gravidarum Di RSUD Ujungberung Pada Periode 2010-2011.
Skripsi. Universitas Islam Bandung Fakultas Kedokteran. Available from :
http://elibrary.unisba.ac.id/files2/Skr.12.00.10854.pdf Diakses tanggal 19
Maret 2020, Pukul 14.18 WIB.

43