Anda di halaman 1dari 29

PETUNJUK TEKNIS

PEMBENIHAN DAN PEMBESARAN

IKAN NILA
Oreochromis niloticus

Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah

Provinsi Sulawesi tengah


Jl. Undata No. 7, Palu 94111

Telp. (0451) 429379 Fax. (0451) 421560

Email: sulteng_reprog@yahoo.com

Website : www.dkp.sulteg.go.id
BAB I

PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies yang berasal dari kawasan
Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Bentuk tubuh memanjang, pipi
kesamping dan warna putih kehitaman. Jenis ini merupakan ikan konsumsi air tawar
yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio) dan telah
dibudidayakan di lebih dari 85 negara. Saat ini, ikan ini telah tersebar ke Negara
beriklim tropis dan subtropics, sedangkan pada wilayah beriklim dingi tidak dapat hidup
dengan baik.

Nila disukai oleh kalangan karena mudah dipelihara, dapat dikonsumsi oleh
segala lapisan serta rasa daging yang enak dan tebal. Tekstur daging Ikan Nila memiliki
ciri tidak ada duri kecil dalam dagingnya. Apabila dipelihara di tambak akan lebih
kenyal, dan rasanya lebih gurih, serta tidak berbau lumpur. Oleh karena itu, Ikan Nila
layak untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk
olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fille (600 g) dan
surimi.

Bibit Nila didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Peneliti perikanan
Air Tawar (Balitkanwar) dari Taiwan pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian
dan adaptasi, ikan ini kemudian disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia.
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah melalui Direktur
Jenderal Perikanan. Pada tahun 1980-1990, Nila Merah diintrodusir masuk dari Taiwan
dan Filipina oleh Perusahaan Aquafarm. Pada tahun 1994, Balitkanwar kembali
mengintroduksi Nila GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) strai G3 dari
Filipina dan Nila Citralada dari Thailand. Secara genetic Nila GIFT telah terbukti
memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lebih tinggi dibandinggkan
dengan jenis ikan Nila lain. Tahun 2000, salah satu perusahaan swasta nasional, CP
Prima mengintrodusir Nila Merah NIFI dan Nila GET dan Filipina tahun 2001. Pada
tahun 2002, BBAT Jambi memasukan Nila JICA dari Jepang dan Nila Merah Citralada
dari Thailand.
Nila dapat memanfaatkan plankton dan perifiton, serta dapat mencerna Blue
Green Algae. Nila umumnya matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang
kelamin berkisar 30-350 g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5) : 1, keberhasilan
pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir/gram
induk. Kelulushidupan (Survival Rate-SR) dari telur menjadi benih (ukuran < 5 gram)
dapat mencapai 70-90%. SR fingerling menjadi ikan konsumsi berkisar 500-600 g dapat
mencapai 70-98%. Nila menpunyai pertumbuhan cepat, rataan pertumbuhan harian
(Average Daily Growth-ADG) dapat mencapai 4,1 gram/hari.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga


usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food
Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0.8-1.6. Artinya, 1 kilogram Nila konsumsi
dihasilkan dari 0.8-1.6 KG pakan, sebagai berbandingan nilai efisiensi pakan atau
konversi pakan (FCR), ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jarring
apung adalah 0.5-1.0; sedangkan ikan Mas sekitar 2.2-2.8.

Pertumbuhan Ikan Nila jantan dan betina dalam satu populasi kan selalu jauh
berbeda, karena Nila jantan 40% lebih cepat dari pada Nila betina. Nila betina, jika
sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang
jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala dalam
memproyeksikan produksi. Beberapa waktu lalu, telah ditemukan teknologi proses
jantanisasi; yaitu membuat populasi ikan jantan dan betina maskulin melalui sex-
reversal; dengan cara pemberian hormone 17 Alpa methyltestosteron selama
perkembangan larva sampai umur 17 hari. Saat ini teknologi sex reversal telah
berkembang melalui hibridisasi antarjenis tertentu untuk dapat menghasilkan induk
jantan super dengan kromosom YY; sehingga jika dikawinkan dengan betina kromosom
XX akan menghasilkan anakan jantan XY.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara missal di perkolaman secara


terkontrol dalam bak-bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena
biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang
hamper sama. Pembesaran ikan nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA),
kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.
Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000
kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit/panen (200.000 kg/ha/penen), dan
ditambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Budidaya Ikan Nila di tambak,
pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung. Nila ukuran 5-
8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2.5 bulan dapat mencapai 200 g.
sedangkan di kolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 4 bulan.
Nila merupakan jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara luas di
Indonesia. Teknologi budidayanya sudah di kuasai dengan tingkat produksi yang cukup
tinggi. Jenis ikan Nila yang telah berkembang di masyarakat adalah Nila Hitam dan Nila
Merah. Dalam rangka perbaikan genetik, jenis yang telah berhasil dikembangkan
adalah Nila GESIT, Nila JICA, Nila LARASTI, Nila BEST, Nila NIRWANA, Nila
JATIMBULAN.

Peluang pasar Ikan Nila cukup besar baik di pasar lokal maupun ekspor.
Kebutuhan pasar dalam negeri untuk ikan nila umumnya berukuran dibawah 500
gram/ekor, dengan harga berkisar antara Rp. 11.000-15.000/kg untuk wilayah Jawa dan
Sumatera , sedangkan untuk wilayah timur Indonesia mencapai Rp. 20.000-30.000/kg.
kebutuhan pasar ekspor umumnya dalam bentuk fillet dengan harga berkisar Rp.
30.000-40.000/kg dengan Negara tujuan ekspor yaitu Amerika Serikat, Eropa, Timur
Tengah, dan Hongkong. Untuk mendapatkan 1 kg fillet Nila, dibutuhkan 3 ekor ikan nila
segar. Oleh karena itu upaya pengembangan usaha budidaya Nila masih terbuka untuk
dikembangkan dalam berbagai skala usaha.
BAB II

SEKILAS BIOLOGI NILA

Klafikasi Ikan Nila adalah sebagai berikut:

Kelas : Osteichthyes

Sub-kelas : Acanthoptherigii

Ordo : Percomorphi

Sub-ordo : Percoidea

Family : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Nila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Bentuk badan pipih kesamping memanjang;


2. Mempunyai garis vertikal sepanjang tubuh 9-11 buah;
3. Garis-garis pada sirip ekor berwana merah sejumlah 6-12 buah;
4. Pada sirip pungung terdapat garis-garis miring; dan
5. Mata tampak menonjol dan besar, tepi mata berwarna putih.

Nila merupakan ikan sungai atau danau yang cocok dipelihara di perairan tawar
yang tenang, kolam dapat berkembang pesat pada perairan payau misalnya tambak.
Kebiasaan makan nila diperairan alami adalah plankton, tumbuhan air yang lunak serta
caing. Benih nila suka mengkonsumsi zooplankton seperti Rotatoria, Copepoda dan
Cladocera; sedangkan termasuk alga yang menempal. Pada perairan umum anakan
nila sering terlihat mencari makan di bagian dangkal. Sedangkan Nila dewasa di tempat
yang lebih dalam. Nila dewasa mampu mengumpulkan makanan berbentuk plankton
dengan bantuan lender (mucus) dalam mulut.
Nila terlihat memulai memijah sejak umur 4 bulan atau panjang badan berkisar
9.5 cm. pembiakan terjadi setiap tahun tanpa adanya musim tertentu dengan interval
waktu kematangan telur sekitar 2 bulan. Induk betina matang kelamin dapat
menghasilkan telur antara 250-1.100 butir. Nila tergolong sebagai Mouth Breeder atau
pengeram dalam mulut. Telur-telur yang telah dubuahi akan menetas dalam jangka 35
hari di dalam mulut induk betina. Nila jantan mempunyai naluri membuat sarang
berbentuk lubang di dasar perairan yang lunak sebelum mengajak pasangannya untuk
memijah. Nila betina mengerami telur di dalam mulutnya dan senantiasa mengasuh
anaknya yang masih lemah. Selama 10-13 hari, larva di asup oleh induk betina. Jika
induk melihat ada ancaman, maka anakan akan dihisap masuk oleh mulut betina, dan
dikeluarkan lagi bila situasi telah aman. Begitu berulang hingga benih berumur kurang
dlebih 2 minggu.

Tabel 1. ciri-ciri induk nila Jantan dan Betina


Induk Nila Jantan Induk Nila betina
Dagu berwarna kemerahan atau Dagu berwarna putih
kehitaman
Sirip dada berwarna cokelat Sirip dada berwarna kehitaman
Perut pipih, (Normal, kemps) dengan Perut berwarna putih dan mengembang
warna kehitaman, jika dipijat dan jika dipijat tidak mengeluarkan cairan.
mengeluarkan cairan
Alat kelamin berbentuk beruncing Alat kelamin berbentuk bulan sabit
Mempunyai 2 buah lubang yaitu anus dan Mempunyai 3 buah lubang yaitu anus,
urogenital (urine dan sperma) genital/telur dan lubang urine
Gambar 1. Pengeringan kolam

Gambar 2. Kolam pembesaran Nila

Gambar 3. Pendederan pada bak semen


BAB III

ASPEK TEKNIS PRODUKTIF

Pembenihan

Pada lokasi calon pembenihan terdapat sumber air yamg memadai secara
teknis, tersedia sepanjang tahun. Setidaknya, pada pemeliharaan benih, debit air yang
dibutuhkan berkisar 0.5 liter/detik. Nila dapat hidup pada suhu 25-30 derajat Celcius; pH
air 6.5-8-5; oksigen terlarut > 4 mg/I dan kedar ammoniak (NH3)< 0.01 mg/I; kecerahan
kolam hingga 50 cm. selain itu ikan Nila juga hidup dalam perairan agaktenang dan
kedalaman yang cukup.

Pembenihan ikan Nila dilakukan dukolam (outdoor hatchery) kontruksi kolam


terbuat dari bahan beton/semen atau tanah. Bentuk kolam empat persegi panjang
sebanyak 4 unit.asitas untuk masing-masing wadah/bak sebesar 500 m2.produksi
benih terdiri dari:

a) Induk
Bobot induk betina sebesar 0.4 kg, sedangkan jantan sebesar 0.4 kg.
perbandingan induk jantan dan betina dikawinkan adalah 1 : 2. Padat penebaran
induk, untuk tiap pasang induk atau 3 ekor ikan, setidaknya disediakan lahan
minimal 4 m2. Perawatan induk dilakukan dengan memberikan makanan
tambahan seperti pellet, dedak, dan ampas tahu. Penambahan pakan alami
dikolam dapat dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian
kolam tertentu, dengan terlebih dahulu melubaginya. Cara ini dimaksudkan agar
pembusukan yang berlangsung di dalam karung teidak mengganggu kaulitas air
kolam. Selanh beberapa hari biasanya disekitar karung akan tumbuh plankton.
b) Pakan
Pakan induk Nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar protein
28-35% dengan kendungan lemeak tidak lebih dan 3%. Pada pemeliharaan
induk, pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di
dalam pakannya sehinga perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal
dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang diris-iris.

Banyaknya pelat sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa par hari. Agar
diketahui berat bio massa, maka diambil sempel 10 ekor ikan, ditimbang, dan
dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah
seluruh ikan di kolam. Sebagai contoh, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah
ikan 90 ekor maka barat biomassa 220 x 90 = 19.800 garam. Jumlah ransum per
han 3% x 19.800 gram = 594 gram. Rensum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan
pakan yang banyak mengandung lemak separti bungkil kacang dan bungkil
kelapa tidak baik untuk induk ikan, terlebih jika barang tersebut sudah barbau
tengik. Dedak halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan
seperti itu juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.

c) Peralatan
1. Peralatan pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva: pengukuran
kualitas air: thermometer. Peralatan lapangan: ember, baskom, gayung,
selang plastik, saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi dan
instalasinya.
2. Peralatan pendederan: peralatan lapangan: thermometer, ember, baskom,
saringan, serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampung benih, timbangan
dll.

Persiapan produksi larva dilakukan dengan mengeringkan dasar kolam selama


kurang lebih 3 hari. Lubang-lubang pada pematang kolam ditimbun dengan tanah.
Pengapuran diperlukan untuk memperbaiki dan pH tanah dan mematikan bibit penyakit
maupun hama ikan. Pemupukan dilakukan untuk menyediakan makanan alami ikan
bagi benih yang baru menetas. Selanjutnya, kolam diairi hingga air mencapai ketinggian
50-70 cm.

Proses produksi larva dilakukan dengan pemeliharaan induk. Proses pemijahan


alami pada suhu air berkisar 25-30 derajat celcius , keaseman (pH) 6.5-7.5, dan
ketinggian air 0.6-1m. pemasukan induk ikan ke dalam kolam dilakukan pada padi dan
sore hari karena suhu tidak tinggi, dan untuk menjaga agar induk tidak stress, induk
dimasukkan satu persatu.

Induk jantan akan mulai menggali sarang induk jantan segera memburu induk
betina pelepas telur oleh induk betina, yang dengan cepat dibuahi oleh induk jantan
dengan cara menyemprotkan spermanya. Selesai pemijahan, induk betina menghisap
telur-telur yang telah dibuahi untuk dierami di dalam mulutnya. Induk jantan akan
meninggalkan induk betina, membuat sarang dan kawin lagi.

Anakan yang telah keluar dari mulut induk segera dipanen dan dipisahkan tersendiri
pada bak pemeliharaan larva. Panen benih sudak boleh dilakukan dengan
menggunakan serokan/waring dan ditampung dalam ember/baskom untuk dipindahkan
ke kolam pendederan. Penangkapan sebaiknya dilakukan pada pagi hari di saat benih
biasanya berkumpul di permukaan air. Bila matahari makin tinggi dan suhu air
meningkat biasanya benih akan berada di bagian dasar kolam mencari tempat yang
sejuk. Penangkapan biasanya beberapa kali dan membutuhkan waktu 2 jam. Masa-
masa kritis berkisar 10 hari, karena benih sangat rentan mengalami kematian, sehingga
pemeliharaan harus dilakukan secara hati-hati.

Kualitas air media pemeliharaan anakan diatur pada suhu 25 – 30 0C, keasaman
(pH) 6,5 – 7,5 ketinggian air media 0,6 – 1 m dalam kolam pemeliharaan dengan
kapasitas luasan berkisar 500 m2. Padat tebar larva berkisar 150 ekor per m2 dengan
waktu pemeliharaan 10 hari. Ukuran panen 1 – 3 cm dengan bobot 1 gram.

Pemeliharaan benih dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5
ketinggian air media 20 – 30 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2.
Ukuran benih tebar 1 – 3 cm, bobot 1 gram dengan padat tebar larva 50 – 75 ekor per
m2. Waktu pemeliharaan 20 hari dengan ukuran panen 3 – 5 cm dan bobot 2,5 gram.

Pendederan dilakukan pada suhu 30 – 32 0C, keasaman (pH) 6,5 – 7,5


ketinggian air media 20 – 50 cm dalam wadah pemeliharaan dengan kapasitas 500 m2.
Ukuran benih tebar 3 – 5 cm dengan bobot 2,5 gram. Padat tebar larva 50 ekor per m2.
Waktu pemeliharaan 30 hari, dengan ukuran panen 5 – 8 cm dan bobot 5 gr.
Kedalaman perairan kolam untuk pendederan nila di kolam tanah adalah 50 – 70 cm.
Pakan benih berupa pakan buatan dengan kadar protein berkisar 30% .

Persiapan kolam pendederan dilakukan dengan jalan mengeringkan kolam,


pengapuran dan pemupukan dengan pupuk kandang ataupun pupuk buatan. Pupuk
kandang diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis 1 kg/m2. Nila sangat menyukai
pakan alami berupa plankton, sehingga tujuan pemupukan susulan agar plankton dapat
bertahan hidup dengan baik. Pupuk yang digunakan harus mengandung unsur fosfor
dan nitrogen maka dianjurkan untuk menggunakan pupuk DSP (Double
Superphosphat) atau TSP (Triple Superphospat) dan urea. Untuk kolam seluas 200 m2
dosis pupuk yang diperlukan 2 kg DSP atau TSP dan 2 kg urea. Pupuk diberikan
setelah kolam terisi air.

Pupuk buatan dimasukkan ke dalam kantong-kantong kecil yang diberi lubang


kecil, kemudian diikatkan pada sebatang bilah bambu dan ditancapkan pada dasar
kolam. Dengan demikian, pupuk tersebut akan menggantung, terendam air dan akan
larut sedikit demi sedikit. Cara pemupukan seperti ini dilakukan untuk menghindari
terikatnya unsur-unsur kimia dari pupuk terutama fosfat oleh kompleks humus dalam
lumpur.
Gambar 4. Benih Nila siap tebar.

Gambar 5. Pemeliharaan calon induk pada bak semen.


3.2. Pembesaran

3.2.1 Pembesaran Pada kolam Tanah

Usaha pembesaran Nila dapat dilakukan pada dataran rendah sampai agak
tinggi sampai dengan 500 m dari permukaan laut (dpl). Sumber air tersedia sepanjang
tahun dengan kualitas air tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia
beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kedalaman air minimal 5 meter dari dasar jaring
pada saat surut terendah, kekuatan arus 20 – 40 cm/detik. Persyaratan kualitas air
untuk pembesaran ikan nila adalah pH air antara 6,5 – 8,6, suhu air berkisar antara 25
– 30 0C. Oksigen terlarut lebih dari 5 mg/l,kadar garam air 0 – 28 ppt, dan Ammoniak
(NH3) kurang dari 0,02 ppm.

Persyaratan lokasi pemeliharaan pada kolam atau tambak sebagai berikut :

1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lembung, tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor
sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam;

2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3 – 5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi;

3. Kualitas air untuk pemeliharaan Ikan Nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak
tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Air yang kaya
plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak
mengandung Diatomae. Tingkat kecerahan air dapat diukur dengan alat yang disebut
piring secchi (secchi disc). Pada kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik
antara 20 – 30 cm;

4. Debit air untuk kolam air tenang 8 – 15 liter/detik;

Setidaknya, dua minggu sebelum dipergunakan kolam harus dipersiapkan dengan


baik. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan,
dicangkul dan diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai terjadi
kebocoran, saluran air diperbaiki agar pasokan air menjadi lancar. Saringan
dipasang pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur
untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hama. Untuk itu, dapat digunakan
kapur tohor sebanyak 100 – 300 kg/ha atau kapur pertanian dengan dosis 500 –
1.000 kg/ha. Setelah itu, pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar
kolam, dengan dosis 1 – 2 ton/ha. Dapat juga pupuk kandang dionggokkan di depan
pintu air pemasukan, agar bila air dimasukkan, maka dapat tersebar secara merata.
Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5 – 10 cm dan dibiarkan 2
– 3 hari agar terjadi mineralisasi tanah dasar kolam. Lalu tambahkan air lagi sampai
kedalaman 75 – 100 cm. Kolam siap untuk ditebari bibit ikan hasil pendederan jika
fitoplankton telah terlihat tumbuh dengan baik.

Fitoplankton yang tumbuh dengan baik ditandai dengan perubahan warna air kolam
menjadi kuning kehijauan. Jika diperhatikan, pada dasar kolam juga mulai banyak
terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-
anak siput dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, ketinggian air kolam diatur
sedalam 75 – 100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu
pada saat makanan alami sudah mulai habis.

Pupuk susulan menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kg/ha. Pupuk itu dibagi
menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam karung, dua buah di kiri
dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Dapat pula ditambahkan bebrapa
karung kecil yang diletakkan di sudut-sudut kolam. Urea dan TSP masing-masing
sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang
kecil agar pupuk dapat larut sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut
digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam, posisi terendam
tetapi tidak sampai ke dasar kolam.

Pada sistem pemeliharaan intensif atau teknologi maju, pemeliharaan dapat


dilakukan di kolam atau tambak air payau dan pengairan yang baik. Pergantian air
dapat dilakukan sesring mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air
yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau bahkan lebih. Pada usaha intensif, benih
Nila yang dipelihara harus tunggal kelamin, dan jantan saja. Pakan yang diberikan
juga harus bermutu, dengan ransum hariannya 30% dan berat biomassa ikan per
hari. Makanan sebaiknya berrupa pelet yang berkadar protein berkisar 30%, dengan
kadar lemak 6 – 8%. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisnya sendiri
dapat diamati nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan yang diberikan kiranya dapat habis
dalam waktu 5 menit. Jika pakan tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan
mendapat gangguan, seperti serangan penyakit, perubahan kualitas air, udara
panas, terlalu sering diberikan pakan.

3.2.2 Pembesaran Pada Karamba Jaring Apung (KJA)

Wadah untuk pembesaran di Karamba Jaring Apung (KJA) umumnya berukuran


4x4x3 m3. Spesifikasi KJA sebagai berikut :

1. Pelampung: bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, jumlah pelampung minimal
8 buah/jaring;
2. Tali jangkar: bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5
utas/jaring, diameter 0.75 inci;

3. Jangkar: bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40 kg/buah,
jumlah 5 buah/jaring;

4. Jaring: bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna hijau,
ukuran jaring (7x7x2,5 m3).

5. Luas peruntukan areal pemasangan jaring maksimal 10% dari luas potensi perairan
atau 1% dari luas perairan waktu surut terendah dan jumlah luas jaring maksimal
10% dari luas areal peruntukan pemasangan jaring.

Sebagai upaya sterilisasi, sebelum ditebar, benih direndam dalam larutan Kalium
Pemanganat konsentrasi 4 – 5 ppm selama kurang lebih 15 – 30 menit. Adaptasi suhu
dilakukan agar suhu dilakukan agar suhu pada kemasan ikan sama suhu di KJA
dengan cara merendam wadah kemasan benih ke KJA selama 1 (satu) jam. Penebaran
benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar ikan tidak mengalami stres atau
kematian akibat perbedaan suhu tersebut. Benih yang ditebar berukuran 5 – 8 cm,
berat 30 – 50 gram dengan padat tebar 50 – 70 ekor/m3. Pakan digunakan untuk
pembesaran ikan nila adalah lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air
(termometer, sechsi disk, kertas lakmus), peralatan lapangan (timbangan, hapa, waring,
ember, alat panen, dll), dan sampan.

Lama pemeliharaan adalah 4 bulan dengan tingkat kelangsungan hidup/Survival


Rate 9SR0 80%. Pakan yang diberikan berupa pelet apung dengan dosis 3 – 4% dari
bobot total ikan. Frekuensi pemberiannya, 3 kali sehari pada pagi, siang dan sore
dengan rasio konversi pakan (FCR) 1,3. Panen dapat dilakukan berdasarkan
permintaan pasar, namun umumnya ukuran panen pada kisaran 500 gram/ekor.

Panen dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi resiko kematian
ikan. Penanganan panen dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan
segar. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam
keadaan hidup dan segar antara lain: (1) pengangkutan menggunakan air yang bersuhu
rendah sekitar 20 0C; (2) waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari:
(3) jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
BAB IV

ASPEK KEUANGAN

4.1. Pembenihan

4.1.1. Komponen Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya tetap yang dikeluarkan pada saat memulai suatu
usaha. Biaya investasi utama dalam usaha Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Ikan Nila
dapat dikelompokkan seperti tabel berikut.

Tabel 2. Perhitungan biaya investasi

Harga
per Unit Umur
NO. Komponen Unit Satuan Nilai (Rp.) Penyusutan
(Rp.) Ekonomis

1 Perbaikan Kolam 4 Unit 100.000 400.000 1 400.000


2 Perbaikan Wadah 2 Unit 50.000 100.000 1 100.000
Perbaikan Peralatan
3 Produksi 1 Paket 100.000 100.000 1 100.000
Pengadaan
4 Peralatan Produksi 1 Paket 500.000 500.000 1 500.000
Pengadaan Induk
5 Ikan 160 Kg 25.000 400.000 1 4.000.000
Jumlah Biaya 5.100.000 5.100.000

Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Ikan Nila dengan 4
unit kolam memerlukan biaya investasi pada tahun ke 0 sebesar Rp. 5.100.000,-
komponen biaya investasi disusutkan selama 1 tahun dan waktu proyek adalah 1 tahun.

4.1.2 komponen Biaya Operasional

Biaya operasional untuk Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Ikan Nila meliputi
pembelian pakan induk, pakan larva/benih, obat-obatan dan vitamin, bahan kimia,
listrik, bahan bakar, panen dan tenaga kerja.
Gambar 6. Pemeliharaan nila pada kolam air deras.

Gambar 7. Pemberian pakan.


Gambar 8. Panen Nila.

Tabel 3. Komponen Biaya Operasional.

Harga per Nilai per Siklus Total per


NO. Komponen Unit Satuan Satuan periode per Tahun
(Rp.) (Rp.) Tahun (Rp.)

1 Pakan Induk 1 Kg 6.000 1.752.000 6 10.512.000


Pakan
2 Larva/Benih 1 Kg 6.000 725.760 6 4.354.560
Obat-obatan dan
3 Vitamin 1 Paket 100.000 100.000 6 600.000

4 Pupuk, kapur 1 Paket 100.000 100.000 6 600.000

5 Listrik 1 Paket 50.000 50.000 6 300.000

6 Panen 1 Paket 200.000 200.000 6 1.200.000

7 Tenaga Kerja 1 Org/Siklus 2.000.000 2.000.000 6 12.000.000


Jumlah Biaya 4.927.760 29.566.560
4.1.3. Investasi dan modal kerja

Biaya investasi dan modal kerja usaha pembenihan nila sebesar Rp. 10.027.760,
masing-masing untuk investasi sebesar Rp 5.100.000 dan biaya operasional sebesar
Rp. 4.927.760. Biaya investasi dan modal kerja diperoleh dari kredit dengan jangka
waktu pengembalian selama 1 tahun dan tingkat suku bunga 16%.

4.1.4. Proyeksi Produksi dan Pendapatan

Perhitungan hasil diperoleh dari penjualan benih ikan nila dengan harga jual per
ekor Rp. 60,- produksi per periode 105.840 ekor, mempunyai siklus sebanyak 6 kali
maka diperoleh pendapatan sebesar Rp. 6.350.400 per siklus atau Rp. 38.102.400,- per
tahun.

4.1.5. Proyeksi Rugi Laba

Dengan menggunakan data dan asumsi yang ada, maka dapat diperhitungkan
proyeksi laba-rugi usaha Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Ikan Nila.
Tabel 4. Proyeksi Laba Rugi Usaha Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Ikan Nila

No Uraian Tahun Ke-n 1

1 Pendapatan 38.102.400

2 Biaya Operasional 29.566.560

Laba Kotor 8.535.840

3 Bunga Kredit 1.604.442

4 Laba Sebelum Penyusutan 6.931.398

5 Biaya Penyusutan 5.100.000

Laba Bersih 1.831.398

6 Profit Margin (%) 5

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada tahun ketiga Unit Pembenihan Rakyat (UPR)
Ikan Nila telah mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1.831.398,- dengan profit
margin sebesar 5%.

4.1.6. Kelayakan Usaha


Tabel 5. Perhitungan NPV, B/C Ratio, IRR dan PBP Usaha Unit Pembenihan
Rakyat (UPR) Ikan Nila

TAHUN
URAIAN
0 1

a. Pendapatan - 38.102.400

b. Dana Sendiri -

c. Kredit Investasi 5.100.000

d. Kredit Modal Kerja 4.927.760


e. Nilai Sisa

Total Inflow 10.027.760 38.102.400

Total Inflow Untuk IRR - 38.102.400

Outflow

a. Investasi 5.100.000 -

b. Modal Kerja 4.927.760

c. Biaya Operasional - 19.711.040

d. Angsuran Pokok 10.027.760

e. Bunga Kredit Perbankan 1.604.442

f. Pajak - -

Total Outflow 10.027.760 31.343.241

Total Outflow Untuk IRR 10.027.760 19.711.040

Cash Flow - 6.759.159

Kumulatif Cash Flow - 6.759.159

Kumulatif Cash Flow (-nilai


sisa) - 6.759.159

Cash flow Untuk IRR (10.027.760) 18.391.360

PV Benefit - 31.739.299

PV Cosh 10.027.760 16.419.296

PV Cash Flow 10.027.760 15.320.003

Kumulatif PV Cash Flow 10.027.760 5.292.243


Gambar 9. Hasil panen nila

Gambar 10. Performa Nila Gesit dari tambak payau


Perhitungan NPV. Net B/C Ratio. IRR dan PBP

IRR 83,40%

PBP (usaha)-tahun 0,65

DF 20%

PV Benefit 31.739.299

PV Cost 26.447.056

B/C Ratio 1,20

NPV 5.292.243

Net B/C Ratio

Cash Flow (+) 15.320.003

Cash Flow (-) (10.027.760)

Net B/C Ratio 1,53

Berdasarkan perhitungan analisa kelayakan usaha diatas pembenihan ikan nila


ini menguntungkan dikarenakan pada discount factor 20% per tahun net B/C ratio
sebesar 1,53 (> 1), PBP 0,65 tahun dan NPV sebesar Rp. 5.292.243,- (> 0). Sedangkan
nilai IRR 83,40% (> discount rate) maka usaha ini masih layak dilakukan sampai pada
tingkat suku bunga sebesar 83,40% per tahun. Sedangkan jangka waktu pengembalian
seluruh biaya investasi/ PBP (usaha) adalah ±0,65 tahun (0,65 tahun = tiga siklus).
Dengan demikian usaha ini layak dilaksanakan karena jangka waktu pengembalian
investasi lebih kecil dari periode usaha yaitu 1 tahun.

4.2 Pembesaran
4.2.1. Komponen Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya tetap yang dikeluarkan pada saat memulai suatu
usaha. Biaya investasi utama dalam usaha Pembesaran Ikan Nila di KJA dapat
dikelompokkan menjadi:
Tabel 6. Perhitungan biaya investasi

Umur
No Kompone uni Satua Harga per Ekonomi Penyusuta
. n t n Unit (Rp.) Nilai (Rp.) s n

36,000,00
1 KJA 3 unit 12,000,000 0 3 12,000,000

Peralatan
2 Produksi 1 paket 350,000 350,000 3 116,667

3 Sampan 1 unit 2,000,000 2,000,000 3 666,667

Jumlah 38,350,00
Biaya 0 12,783,333

Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa Pembesaran Ikan Nila di KJA dengan 3 unit KJA
memerlukan biaya investasi pada tahun ke 0 sebesar Rp. 38.350.000,- komponen biaya
investasi disusutkan selama 3 tahun dan waktu usaha adalah 3 tahun

4.2.2. Komponen Biaya Operasional.

Biaya operasional untuk Pembesaran Ikan Nila di KJA meliputi pembelian benih,
pakan, dan tenaga kerja.
Tabel 7. Komponen Biaya Operasional

Harga per Nilai per Total per


No. Komponen Unit Satuan Satuan Periode Siklus Tahun

per
(Rp) (Rp) Tahun

1 Benih 10,080 ekor 165 1,663,200 3 4,989,600

2 Pakan 7,862 kg 6,000 47,174,400 3 141,523,200

Tenaga
3 Kerja 1 orang 1,000,000 4,000,000 3 12,000,000

Jumlah
Biaya 52,837,600 158,512,800

4.2.3. Investasi dan Modal Kerja

Biaya investasi dan modal kerja usaha budidaya nila di KJA sebesar Rp.
91.187.600, masing-masing untuk investasi sebesar Rp 38.350.000 dan biaya
operasional sebesar Rp. 52.837.600. Biaya investasi dan modal kerja diperoleh daro
kredit dengan jangka waktu pengembalian selama 3 tahun dan tingkat suku bunga
16%.

4.2.4. Proyeksi Produksi dan Pendapatan


Perhitungan hasil diperoleh dari budidaya ikan nila dengan harga jual per kilo Rp.
12.500,- produksi per periode 6,048 kg, mempunyai siklus sebanyak 3 kali maka
diperoleh pendapatna sebesar Rp 75.600.000 per siklus atau Rp.226.800.000,- per
tahun.

4.2.5. Proyeksi Rugi Laba


Dengan menggunakan data dan asumsi yang ada, maka dapat diperhitungkan
proyeksi laba-rugi usaha Pembesaran Ikan Nila di KJA. Proyeksi laba-rugi usaha
Pembesaran Ikan Nila di KJA dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 8. Proyeksi Laba Rugi Usaha Pembesaran Ikan Nila

Tahun Ke-
No. Uraian
1

1 Pendapatan 226.800.000

2 Biaya Operasional 158.512.800

Laba Kotor 68.287.200

3 Bunga Kredit 4.863.339

4 Laba Sebelum Penyusutan 63.423.861

5 Biaya Penyusutan 12.783.333

Laba Bersih 50.640.528

6 Profit Margin (%) 22,33

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada tahun pertama Pembesaran Ikan Nila di KJA
telah mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 50.640.528,- dengan profit margin
sebesar 22,23%.

4.2.6. Analisa Kelayakan Usaha


Tabel 9. Perhitungan NPV, B/C Ratio, IRR, dan PBP Usaha Pembesaran
Ikan Nila Di KJA

TAHUN
Uraian
0 1 2 3

a. Pendapatan 226,800,000 226,800,000 226,000,000

b. Dana Sendiri -

c. Kredit Investasi 38,350,000


d. Kredit Modal Kerja 52,837,600

e. Nilai Sisa

Total Inflow 91,187,600 226,800,000 226,800,000 226,800,000

Total Inflow Untuk IRR - 226,800,000 226,800,000 226,800,000

Outflow

a. Investasi 38,350,000

b. Modal Kerja 52,837,600

c. Biaya Operasional 158,512,800 158,512,800 158,512,800

d. Angsuran Pokok 30,395,867 30,395,867 30,395,867

e. Bunga Kredit
Perbankan 4,863,339 4,863,339 4,863,339

f. Pajak - - -

Total Outflow 91,187,600 193,772,004 193,772,004 193,772,005

Total Outflow Untuk


IRR 91,187,600 158,512,800 158,512,800 158,512,800

Cash Flow - 33,027,996 33,027,996 33,027,995

Kumulatif Cash Flow - 33,027,996 66,055,990 99,083,985

Kumulatif Cash Flow (-


nilai sisa) - 33,027,996 66,055,990 99,083,985

Cash Flow untuk IRR 91,187,600 68,287,200 68,287,200 68,287,200

PV Benefit - 188,924,400 157,399,200 131,317,200

PV Cosh 91,187,600 132,041,162 110,007,883 91,778,911


PV Cash Flow 91,187,600 56,883,238 47,391,317 39,538,289

Kumulatif PV Cash Flow 91,187,600 34,304,362 13,086,954 52,625,243

Perhitungan NPV, Net B/C Ratio, IRR dan PBP

IRR 54,63%

PBP (usaha)-tahun 1,90

DF 20%

PV Benefit 477,640,800

PV Cost 425,015,557

B/C Ratio 1,12

NPV 52,625,243

Net B/C Ratio

Cash Flow (+) 143,812,843

Cash Flow (-) -91,187,600

Net B/C Ratio 1,58

Berdasarkan perhitungan analisa kelayakan usaha diatas pembesaran ikan nila ini
menguntungkan dikarenakan pada discount factor 20% per tahun net B/C ratio sebesar
1,12 (> 1), PBP 1,90 tahun dan NPV sebesar Rp. 52.625.243,- (> 0). Sedangkan nilai
IRR 54,63% (>discount rate) maka usaha ini masih layak dilakukan sampai pada tingkat
suku bunga sebesar 54,63% per tahun. Sedangkan jangka waktu pengembalian
seluruh biaya investasi/PBP (usaha) adalah ±1,90 tahun (tahun (1,9 tahun = enam
siklus). Dengan demikian usaha ini layak dilaksanakan karena jangka waktu
pengembalian investasi lebih kecil dari periode usaha yaitu 3 tahun
BAB V

PENUTUP

Nila, merupakan komoditas perikanan yang tidak saja dapat tumbuh baik di air
tawar, namun juga air payau dan laut. Sebagai sebuah komoditas perikanan, Nila
mengandung potensi ekonomi luar biasa. Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal
dan menggemari Nila, karena warna dagingnya yang putih bersih,kenyal, dan tebal,
tampak seperti daging ikan kakap merah. Rasa daging Nila, juga dipengaruhi oleh
tempat hidupnya. Nila yang hidup di air tawar, rasa dagingnya cenderung yang tawar,
sehingga mudah diolah menjadi pelbagai menu masakan. Sebaliknya, Nila yang hidup
di air payau atau laut, dagingnya cenderung padat dan rasanya seperti ikan laut.

Setiap tahun permintaan terhadap Nila terus naik, baik dari pembeli luar negeri
maupun lokal. Nila tidak hanya diminati penikmat kuliner lokal, tapi juga dari luar negeri,
terutama Amerika Serikat (AS). Tak heran , peluang pasar ikan ini masih terbuka lebar.
Apalagi sejauh ini pasokan ikan nila masih belum mampu melayani tingginya
permintaan pasar. AS, sebagai contoh, membutuhkan fillet atau potongan daging tanpa
tulang Nila sebanyak 90 juta ton per tahun. Belum lagi permintaan dari sejumlah
Negara lainnya yang jumlahnya juga terbilang besar. Sebaliknya, pasokan Nila masih
jauh di bawah angka kebutuhan itu.

Provinsi Sulawesi Tengah memiliki potensi kolam air tawar sebesar 11.740 Ha
dan perairan danau air tawar meliputi: (1) Danau Poso (32.150 Ha), (2) Danau Lindu
(3.453 Ha), (3) Danau Rano (150 Ha), (4) Danau Tiu (525 Ha), (5) Danau Talaga (750
Ha) dan (6) Danau Wanga (138 Ha) serta danau-danau lain. Selain itu, masih terdapat
potensi berupa rawa dan sungai sebesar 1.639.605 Ha. Oleh sebab itu, Dinas Kelautan
dan Perikanan (DKP) dalam upaya pengembangan ikan air tawar khususnya Nila, telah
melakukan penebaran benih ikan pada perairan umum daratan (PUD) melalui kegiatan
Restocking. Kegiatan tersebut merupakan kalender rutinDKP Provinsi Sulawesi
Tengah. Kegiatan terkait lain adalah pemanfaatan lahan tambak idle, dengan merubah
komoditas menjadi Nila Gesit dengan tujuan: (1) peningkatan stok populasi ikan; (2)
peningkatan gizi masyarakat (PROKSIMAS), dan (3) peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Saat ini, masyarakat telah memulai membudidayakan Nila, baik di kolam, tambak
payau, KJA, maupun perairan umum. Rasa yang enak dan harga yang cenderung
terjangkau menyebabkan permintaan pemenuhan pasar lokal semakin meningkat.
Tingginya permintaan benih dan hasil produksi untuk konsumsi masih belum dapat
dipenuhi oleh para pembenih dan pembudidaya lokal. Potensi pendukung dan
permintaan yang tinggi untuk pasaran lokal, merupakan salah satu peluang usaha
bisnis yang cerah bagi pengembangan Nila di Sulawesi Tengah.

REFERENSI

Direktorat Usaha, 2010. Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan


Perikanan RI.

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, 2000.

BAPPENAS RI.

Sugiarto, 1988. Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. Penerbit CV.Simplex.