Anda di halaman 1dari 9

EFEK LARVASIDA EKSTRAK ETHANOL KULIT JERUK

LEMON (Citrus limon) TERHADAP LARVA Aedes sp.

Soebaktiningsih1, Roekistiningsih2, Anita Ikawati3

1
Staf Pengajar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang
2
Staf Pengajar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang
3
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas

Brawijaya Malang, Jl. Raflesia No.15 Senggreng Sumberpucung Malang

ABSTRAK

Latar Belakang: Nyamuk Aedes sp. mengganggu manusia dengan


gigitannya, juga merupakan vektor biologis dari beberapa penyakit seperti:
Demam Berdarah Dengue (DBD), Fillariasis (Brugia malayi dan Wuchereria
bancrofti), Yellow fever, Eastern Equine Enchephalomyelitis, California
Enchephalomyelitis dan Venezuelan Equine Encephalomyelitis. Pengendalian
vektor tersebut saat ini masih kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh adanya
resistensi dari populasi Aedes sp. terhadap insektisida. Penelitian sebelumnya
menyatakan bahwa kulit Jeruk Lemon berpotensi sebagai insektisida. Kandungan
aktif dari kulit Jeruk Lemon yang diperkirakan memiliki aktivitas larvasida adalah
limonoid. Tujuan: Mengetahui efek larvasida dari ekstrak ethanol kulit Jeruk
Lemon (Citrus limon) terhadap larva Aedes sp. Metode Penelitian: Penelitian ini
merupakan eksperimental murni menggunakan metode Post test Only Control
Group design. Sampel yang digunakan adalah 15 ekor larva Aedes sp. stadium 3
dan 4. Dosis ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon yang dicobakan adalah 0 ppm
(kontrol), 500 ppm, 1.000 ppm, 1.500 ppm, 2.000 ppm, 2.500 ppm, 3.000 ppm,
3.500 ppm, dan 4.000 ppm. Hasil penelitian: Analisis One way-ANOVA
memberikan hasil signifikansi sebesar P = 0.000 dengan α = 0.05, koefisien
korelasi 0.991 dan persamaan regresi liniernya yaitu: Y = - 1.429 + 1.883 X.
Kesimpulan: (1) Ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon (Citrus limon) memiliki efek
larvasida terhadap larva Aedes sp. (2) Prosentase kematian larva yang diperoleh
secara berturut-turut adalah: 0%; 12,6%; 29,65%; 44,5%; 55,53%; 68,13%; 80%;
88,9%; dan 100%.

Kata kunci: Citrus limon, Aedes sp., larvasida.


ABSTRACT

Background: Aedes sp. disturb human being by biting and act as


biological vector some diseases such as: Dengue Haemorrhagie Fever (DHF),
Yellow Fever, Eastern Equine Encephalomyelitis, California Encephalomyelitis,
and Venezuelan Equine Encephalitis. To control population of Aedes sp. is still
ineffective because of mosquitoes resistance to insecticides. The previous
experiment showed that lemon peel has larvacidal effect. The suspected bioactive
substance of Lemon peel as larvacidal effect is limonoida. Objective: To
investigate the larvacidal activity of citrus lemon peel ethanol extract toward
Aedes sp. larvae. Method: This study was true experiment-post test Only Control
Group design was performed. Fifteen third and fourth stage Aedes sp. larva were
used as sample. The doses were used: 0 ppm (control), 500 ppm, 1.000 ppm,
1.500 ppm, 2.000 ppm, 3.000 ppm, 3.500 ppm, and 4.000 ppm. Result: One way-
ANOVA analysis gave significant difference at level P = 0.000, α = 0.05,
coefficient of correlation 0.991, and regression analysis gave equalition Y = -
1.429 + 1.883 X. Conclusion: (1) The ethanol extract of Citrus limon peel has a
larvacidal effect against Aedes sp. (2) The each concentration gave 12,6%; 29,6%;
44,5%; 55,53%; 68,13%; 80%; 88,9% and 100% of larva death respectively..

Key word: Citrus limon, Aedes sp., larvacide.

PENDAHULUAN

Nyamuk termasuk kelas Insecta, ordo Diptera dan mempunyai banyak


famili. Nyamuk dapat mengganggu manusia dan binatang melalui gigitannya,
selain itu juga dapat berperan sebagai vektor penyakit untuk manusia.1 Aedes
adalah salah satu genus nyamuk yang sering menimbulkan masalah kesehatan.
Genus Aedes merupakan vektor biologis dari penyakit: Demam Berdarah Dengue
(DBD), Fillariasis (Brugia malayi dan Wuchereria bancrofti), Yellow fever,
Eastern Equine Enchephalomyelitis, California Enchephalomyelitis dan
Venezuelan Equine Encephalomyelitis.2
Di Indonesia penggunaan insektisida malathion dan temephos secara
intensif untuk pengendalian Aedes telah berjalan lebih dari 25 tahun. Malathion
terdaftar sejak tahun 1976 sedangkan temephos sejak tahun 1974. Penggunaan
dua jenis insektisida tersebut dalam waktu lama untuk sasaran yang sama tentu
telah memberikan tekanan seleksi yang mendorong berkembangnya populasi
Aedes lebih cepat resisten.3
Sifat kimiawi dan farmakologis yang dimiliki buah Jeruk Lemon adalah
asam, aromatik, berkhasiat mengatasi sariawan, mengembalikan fungsi
pencernaan, menurunkan tekanan darah, antioksidan, antibakterial, antiseptik dan
menurunkan panas.4 Kandungan Jeruk Lemon yaitu: pectin, minyak atsiri, 70%
limonin, alpha terpine, beta pinene, vitamin A, vitamin B, vitamin C, kalsium,
fosfor, besi, serat, protein, karbohidrat dan lemak.4 Pada penelitian sebelumnya
disebutkan bahwa kulit bitter orange (Citrus aurantium), orange (Citrus sinensis)
dan Lemon (Citrus limon) berpotensi sebagai insektisida.5 Kandungan limonin
pada buah jeruk dapat dimanfaatkan sebagai larvasida.6 Penelitian yang dilakukan
oleh Al Dakhil dan Morsy pada tahun 1999 didapatkan ekstrak ethanol kulit Jeruk
Lemon, Grapefruit dan Navel orange mempunyai efek larvasida yang telah
dicobakan pada larva Culex pipiens.7
Salah satu bahan aktif utama kulit Jeruk Lemon (Citrus limon) yang
diperkirakan memiliki efek toksik terhadap larva adalah limonin. Senyawa ini
merupakan komponen utama minyak kulit jeruk tetapi terdapat juga dalam
minyak atsiri lain. Limonin termasuk jenis monoterpenoid. Senyawa ini dapat
bekerja sebagai insektisida atau berdaya racun terhadap serangga.14
Limonoid dikenal sebagai limonin atau nomilin. Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa senyawa limonoid memiliki efek anti
tumor payudara yang lebih besar dari pada efek yang dimiliki anti tumor yang
sudah lazim digunakan, seperti tamoxifen.15-17
Senyawa limonoid juga berpotensi memiliki aktifitas menghambat daya
makan serangga.15 Senyawa-senyawa limonoid diketahui memiliki aktivitas
penghambat pertumbuhan larva, antifeedant, larvasida, antimikroba dan penolak
serangga (repellent) .14 Senyawa limonoid dapat menghambat pergantian kulit
pada larva.6

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium


Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang pada tanggal 28
Mei 2005 – 3 Juli 2005.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium (True
experiment-post test only control group design) untuk memperoleh data
kuantitatif pemberian ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon pada sampel larva
Aedes,sp. untuk diamati dan dianalisis.
Sampel penelitian ini adalah larva Aedes sp. Sampel dibagi menjadi 9
kelompok, yaitu: 1 kelompok kontrol negatif (tanpa diberi ekstrak ethanol kulit
Jeruk Lemon), dan 8 kelompok perlakuan. Dalam penelitian ini digunakan 8 dosis
perlakuan yaitu: 500 ppm, 1.000 ppm, 1.500 ppm, 2.000 ppm, 2.500 ppm, 3.000
ppm, 3.500 ppm, dan 4.000 ppm. Masing-masing kelompok perlakuan mewakili
dosis/konsentrasi dengan jumlah sampel yang sama. Jumlah sampel tiap–tiap
perlakuan jumlahnya sebanyak 15 ekor larva. Pengulangan dalam penelitian ini
sebanyak 9 kali.

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian
Hasil uji efek larvasida ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon terhadap larva Aedes
sp. dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
No Dosis Jumlah Σ Larva Mati Rata- Rata-
(ppm) Larva Pengulangan rata Rata
coba 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah jumlah
Larva Larva
Mati Mati (%)
1 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 500 15 2 1 2 1 2 2 2 3 2 1,89 12,6
3 1.000 15 6 3 5 4 4 5 4 5 4 4,44 29,6
4 1.500 15 7 6 6 7 7 8 6 6 7 6,67 44,5
5 2.000 15 9 8 8 9 8 9 8 8 8 8,33 55,53
6 2.500 15 11 10 9 11 10 11 10 10 10 10,22 68,13
7 3.000 15 12 12 12 13 12 12 11 12 12 12 80
8 3.500 15 13 13 13 14 13 14 13 14 13 13,33 88,9
9 4.000 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 100

Hubungan pemberian konsentrasi ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon terhadap


kematian larva Aedes sp. dapat dibentuk grafik seperti berikut:
120
ati(%)

100
lahrata-ratalarvam

80
Persentase
60 rata-rata jumlah
larva mati
40

20
Jum

0
0 2000 4000 6000
Konse ntra si (ppm)

Analisis Data
1. Analisis One way-ANOVA
Dalam analisis ini didapatkan angka signifikansi (P-value) sebesar 0.000 yang
berada jauh dibawah alpha 0.05, sehingga terima H1.
2. Analisis Korelasi Pearson
Besar korelasi 0.991, sehingga hubungan antara pemberian dosis ekstrak ethanol
kulit Jeruk Lemon terhadap jumlah larva Aedes sp. yang mati mempunyai arah
korelasi positif dan keeratan hubungan yang sangat kuat, artinya semakin tinggi
pemberian dosis ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon (X) maka jumlah larva
Aedes sp. yang mati (Y) cenderung semakin banyak.
3. Analisis Regresi Linier
Analisis terakhir adalah menggunakan analisis Regresi Linier, pada uji
ini didapatkan persamaan regresi yaitu:

Dimana: Y = -1.429 + 1.883 X

Y = jumlah larva Aedes sp. yang mati


X = Konsentrasi ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon.
PEMBAHASAN

Pada pembuatan ekstrak kulit Jeruk Lemon digunakan pelarut ethanol.


Pelarut ethanol digunakan untuk merendam kulit Jeruk Lemon saat proses
ekstraksi, karena senyawa kimia yang terdapat dalam kulit Jeruk Lemon sebagian
besar larut dalam pelarut ethanol. Khususnya senyawa dari golongan terpenoid
(monoterpenoid) yang merupakan kandungan senyawa dari kulit Jeruk Lemon
yang diperkirakan mempunyai efek larvasida.13 Selain itu ethanol mempunyai
sifat toksik lebih kecil dibandingkan dengan pelarut yang lain seperti: methanol
ataupun ether, sehingga dikhawatirkan bila menggunakan pelarut selain ethanol,
larva Aedes sp. yang diujikan akan mati karena sisa dari pelarut tersebut.24
Pada penelitian ini jumlah larva coba yang digunakan dalam masing-masing
konsentrasi (dosis) sebanyak 15 ekor larva. Menurut standart penelitian jumlah
sampel dalam penelitian seharusnya sebanyak 20 ekor larva. Karena pada saat
penangkapan larva, jumlah larva stadium 3 dan 4 terbatas maka dalam penelitian
ini menggunakan 15 ekor larva pada tiap-tiap perlakuan.
Konsentrasi ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan hasil eksplorasi yang dilakukan sebelumnya. Pemilihan
dosis ini berdasarkan pada penelitian sebelumnya mengenai efek larvasida ekstrak
ethanol biji jeruk keprok terhadap larva Aedes sp. yang dalam penelitian tersebut
disebutkan efek larvasida pada LD100 adalah pada dosis 2.000 ppm.24
Berdasarkan data tersebut dilakukan eksplorasi mulai dosis 250 ppm yang terus
ditingkatkan hingga diperoleh LD100 pada dosis 4.000 ppm. Dengan
menggunakan data tersebut kemudian ditetapkan beberapa dosis efektif yaitu: 500
ppm, 1.000 ppm, 1.500 ppm, 2.000 ppm, 2.500 ppm, 3.000 ppm, 3.500 ppm dan
4.000 ppm.
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu: semakin tinggi konsentrasi
ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon maka jumlah kematian larva Aedes sp. juga
semakin besar, dengan demikian ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon dapat bersifat
larvasida.
Kulit Jeruk Lemon memiliki kandungan berbagai zat seperti: pectin,
minyak atsiri, limonin, alpha terpine, beta piene, gamma terpine, myrcene, neral,
geranial, vitamin A, vitamin B, vitamin C, kalsium, fosfor, besi, serat, protein,
karbohidrat dan lemak.4 Kandungan kulit jeruk lemon yang termasuk senyawa
terpenoid (monoterpenoid): limonin, alpha terpine, beta pinene, gamma terpine.
Bahan aktif yang kandungannya paling banyak diantara golongan
monoterpenoid tersebut yang memiliki efek toksik terhadap larva adalah limonin
(limonoid).
Kandungan bahan aktif pada kulit Jeruk Lemon yang mungkin
memberikan efek larvasida yaitu: limonoid yang bekerja menghambat pergantian
kulit pada larva.6
Adapun kemungkinan mekanisme kerja dari kandungan kulit Jeruk Lemon
yang memberikan efek larvasida terhadap larva Aedes sp. adalah:
1. Analog hormon juvenil (juvenoid)
Hormon pertumbuhan (juvenile hormon) dihasilkan oleh sel-sel kelenjar
pada Corpora allata, dibagian basal otak. Hormon Juvenile sangat penting untuk
pertumbuhan normal dan seluruh perkembangan serangga (metamorfosis).
Hormon ini juga berfungsi untuk menentukan tipe pergantian kulit yang akan
terjadi menurut konsentrasinya di dalam darah. Bila titer konsentrasinya tinggi
akan menghasilkan instar larva (nimfa) yang baru, tetapi jika konsentrasinya
rendah atau tidak ada sama sekali akan terjadi pembentukan pupa.29 Yang
dimaksud konsentrasi disini adalah konsentrasi ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon
yang bekerja sebagai analog hormon juvenil.
Juvenoid merupakan kelompok senyawa kimiawi yang akan memiliki
aktivitas menyerupai hormon juvenil. Peran senyawa ini adalah menghambat
terjadinya metamorfosis, memperpanjang stadium pradewasa, menghambat
pemunculan stadium dewasa, dan menghambat aktifitas reproduksi yang
berlangsung secara ireversibel.29
Senyawa kimia yang termasuk juvenoid antara lain methoprene (Altosid) dan
pyriprofoxin.29
2. Menghambat hormon ekdison
Hormon ekdison dihasilkan oleh sel-sel kelenjar protorasik. Produksi
ekdison dirangsang pada setiap kali terjadi proses moulting pada serangga
pradewasa atau pada saat akhir diapause, dan titernya akan meningkat ketika
merangsang pertumbuhan dan perkembangan berbagai jaringan somatik,
perubahan-perubahan fisiologik, dan morfologik selama siklus pergantian kulit.29
Berdasarkan hasil dari tabel 5.1 dan gambar 5.1 pada bab 5 dapat dilihat
bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon
menimbulkan jumlah kematian larva Aedes sp. yang semakin besar. Pada masing-
masing pengulangan dengan konsentrasi yang sama, jumlah larva yang mati
bervariasi, kemungkinan disebabkan oleh daya resisten dari masing-masing larva
coba berbeda terhadap ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon.
Kulit Jeruk Lemon sebagai alternatif insektisida baru atau lebih khususnya
larvasida baru dapat dipertimbangkan, karena kulit Jeruk Lemon memenuhi syarat
insektisida ideal yaitu: aman terhadap manusia dan lingkungan sekitar.
Aman karena insektisida tumbuhan bersifat biodegradable, sehingga tidak
mencemari lingkungan dan relatif tidak membahayakan bagi manusia. Selama
proses penelitian berlangsung telah terjadi kontak langsung dengan cairan ekstrak
ethanol kulit Jeruk Lemon maupun aroma ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon. Dan
hasil dari kontak tersebut tidak menimbulkan masalah bagi kesehatan, baik
kesehatan manusia maupun lingkungan. Cairan tersebut tidak menimbulkan iritasi
kulit, rasa gatal, kemerahan, atau rasa panas dikulit. Sedangkan aroma ekstrak
yang paling pekat sekalipun tidak menimbulkan bau yang menggaggu, dan tidak
menimbulkan iritasi saluran pernafasan. Aroma ekstrak yang berbau khas jeruk
tersebut juga tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon mempunyai kemungkinan untuk
diaplikasikan dalam masyarakat. Namun proses pembuatan ekstrak yang
digunakan dalam penelitian ini relatif sukar dan mahal. Untuk mengatasi hal
tersebut perlu pembuatan ekstrak dengan cara yang lebih sederhana misalnya
dengan ekstrak air atau disebut dekok.
PENUTUP

Kesimpulan
1. Ekstrak ethanol kulit Jeruk Lemon memiliki efek larvasida terhadap larva
Aedes sp. sebagai larva coba.
2. Efek larvasida ekstrak ethanol kulit Jeruk lemon terhadap larva Aedes sp.
pada masing-masing konsentrasi dapat menimbulkan kematian larva
(dinyatakan dalam bentuk persentase) yaitu: 500 ppm (12,6%), 1.000 ppm
(29,6%), 1.500 ppm (44,5%), 2.000 ppm (55,5%), 2.500 ppm (68,1%),
3.000 ppm (80%), 3.500 ppm (88,9%), dan 4.000 ppm (100%).
3. Semakin besar konsentrasi ekstrak ethanol kuli Jeruk Lemon (Citrus limon)
maka jumlah larva Aedes sp. yang mati semakin besar.

Saran
Setelah melakukan penelitian ini perlu adanya:
1. Penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan zat aktif yang
berfungsi sebagai larvasida dan mekanisme kerja ekstrak ethanol kulit
Jeruk Lemon terhadap larva Aedes sp.
2. Penelitian lebih lanjut tentang prosedur aplikasi (cara ekstraksi lain yang
lebih sederhana) kulit Jeruk Lemon sebagai larvasida sehingga dapat
dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
3. Penelitian mengenai adanya kemungkinan aktivitas ekstrak ethanol kulit
Jeruk Lemon (citrus limon) sebagai larvasida selain terhadap larva Aedes
sp.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gandahusada S, Ilahude HD, dan Pribadi W. 2000. Parasitologi


Kedokteran. FKUI: Jakarta. Hal. 220-255.
2. Staff Pengajar Parasitologi. 2005. Parasitologi Arthropoda. Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya: Malang. Hal.14-24.
3. Untung K. 2005. Kemungkinan Ketahanan Aedes aegypti Terhadap
Pestisida diIndonesia. (Online),
(http://kasumbogo.staff.ugm.ac.id/detailmessage.php?mend=9, diakses
tanggal 12 juni 2005).
4. Wijayakusuma H. 2004. Sehat Dengan Jeruk Lemon. (Online),
(http://www.dnet.net.id/kesehatan/kiatalami/detail.php?id=604, diakses
tanggal 31 Mei 2005).
5. Mwaiko GL. 1992. Citrus Peel Oil Extract as Mosquito Larvae Insecticides.
(Online),
(http://www.ncbi.nlm.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubm
ed&dopt=abstract&let_uids=16611035, diakses tanggal 22 Agustus
2005).
6. Jayaprakas GK, Singh RP, Pereira J, dan Sakariah KK. 1997.Limonoid from
Citrus reticulata and their moult inhibiting activity in mosquito Culex
quinquefasciatus larvae. Central Food Technological research
Institute, Mysore. India. (Online),
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pu
bmed&dopt=abstract&let_uids=9115692, diakses tanggal 31 Mei
2005).
7. Dakhil MA and Morsy TA. 1999. The larvicidal activities of peel oils of
three citrus fruits against Culex pipiens. Departement of Zoology,
Faculty of sciences, King Saud University, Saudi Arabia. (Online),
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pu
bmed&dopt=abstract&let_uids=10605488, diakses tanggal 17 Mei
2005).
8. Brown HW and Belding DL. 1964. Basic Clinical Parasitology 2nd Ed.
New York: Meredith Publishing Company. P.243-250.
9. Anynomous. 2004. Mosquitoes Bite. (Online),
(http://www.Activelearning&research/clarkuniversity.htm, diakses
tanggal 4 September 2005).
10. Anonymous. 2004. Siklus Nyamuk Aedes Aegypti. (Online),
(http://www.Abate-siklusnyamukaedesaegypti.htm, diakses tanggal 12
Agustus 2005).
11. Anonymous. Jeruk. (Online),
(http://www.iptek.net.id/ind/warintek/budidaya-
pertanian_idx.php?doc=2a11, diakses tanggal 12 Juni 2005).
12. Anonymous. 2005. Lemon. (Online), (http://en.wikipedia.org/wiki/lemon,
diakses tanggal 13 september 2005).
13. Horvat and Su. 1987. Alphabetical List of Plant Families with Insecticidal
and Fungicidal Properties. (Online),
(http://www.biomedcntral.com/1472-6785/2/1, diakses tanggal 7
September 2005).
14. Robinson T. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Terjemahan oleh
Kosasih Padmawinata. 1995. Bandung : Penerbit ITB. Hal. 139-149.
15. Stelljes K. 1999. Agricultural Research Service. (Online),
(http://www.ars.usda.gov/is/pr/1999/bg990323.htm, diakses tanggal 15
Juni 2005).
16. Jacob R, Hasegawa S, dan Manners G. 2000. The Potential of Citrus
Limonoids as Anticancer Agents. Perishables Handling Quarterly Issue
No.102.
17. Ferguson JJ. 2002. Medicinal use of citrus. Sciences department,
Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural
Sciences, University of Florida, Gainesville. (Online),
(http://edis.ifas.ufl.edu/BODY_CH196, diakses tanggal 12 Agustus
2005).
18. Anonymous. 2005. Limonene. (Online), (http://www.chem.qmul-
ac.uk/iubwb/enzyme/glossary/limonene.html, diakses tanggal 13
September 2005).
19. Hendarwanto. 1999. Buku Ajar ilmu penyakit dalam jilid 1.edisi 3. balai
penerbit FKUI: Jakarta. Hal. 417-426.
20. Onggowaluyo JS. 2002. Parasitologi Medik I. EGC: Jakarta. Hal. 36-42.
21. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Buku Kuliah Ilmu
Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI: Jakarta. Hal.622-623.
22. Floor T. 2004. Mosquito Information. AMCA. (Online),
(http://www.mosquito.org/info.php, diakses tanggal 13 agustus 2005).
23. Indra MR. 1999. Buku Ajar metodologi Penelitian. Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya: Malang.
24. Hadar AK.2004. Efek Larvasida Ekstrak Ethanol Biji Jeruk Keprok (Citrus
nobilis) Terhadap Larva Aedes sp. Skripsi. Malang. FKUB.
25. Yuanita L. 2003. Daya Larvasida Ekstrak Ethanol Jahe (Zingiber officinale)
Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Skripsi. Malang. FKUB.
26. Singh SP, Raghavendra K, Singh RK, Subbarao SK. 2001. Studies on
Larvacidal Prpperties of Leaf of Solanom nigrum Linn. (Family
solanaceae). (Online),
(http://www.ias.ac.in/currsci/dec252001/1529.pdf, diakses 4 agustus
2005).
27. WHO. 1992. Bionomics of Mosquito Vector Control. South East Asean J.
Trop Med Public Health. 4 Desember 1992. p.592.
28. Anonymous. Ratio for Parts Per Million, PPM, Dosage and Metric
Conversion Table. (Online), (http://www.simetric.co.uk/s1_ppm.htm,
diakses tanggal 3 Februari 2005).
29. Hadi UK, Saviana S. 2000. Ektoparasit: Pengenalan, Diagnosis dan
Pengendaliannya. Bogor: Laboratorium Entomologi Bagian
Parasitologi dan Patologi fakultas kedokteran hewan IPB. Hal 108-
110.
30. Pratt HD. 1959. Pictorial Key to U.S Genera of Mosquito Larvae. Atlanta:
Departement of Health, Education and Welfare Public Health Service,
communicable Disease Center.