Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

            Persawahan merupakan sebuah tempat dimana sumber pangan dari bangsa Indonesia di
bangun. Persawahan menjadi sebuah tempat penting dimana tanaman – tanaman untuk
pertahanan pangan ditanam guna memenuhi kebutuhan primer sebagai manusia dan sebagai
tugas pokok negara. Setiap penduduk, bahkan makhluk hidup membutuhkan makanan untuk
tetap bertahan.

            Sebagai tempat penanaman tumbuh – tumbuhan untuk kebutuhan pangan, tentu saja areal
persawahan membutuhkan air. Kebutuhan air ini biasa disebut dengan air irigasi yang memang
disediakan oleh manusia guna memenuhi kebutuhan air dari seluruh lingkup tumbuh – tumbuhan
di areal persawahan itu. Penyediaan air yang cukup bagi tumbuhan yang ada di areal persawahan
akan memberikan dampak pertumbuhan dari tumbuhan itu yang juga baik.

            Kebutuhan air dari tumbuhan bukan tidak terbatas, akan tetapi ada batas tertentu dimana
tumbuhan tersebut akan merasa cukup dengan penyediaan air. Apabila penyediaan air untuk
tumbuhan menjadi berlebih, akan memberikan efek negatif pada tumbuhan yang telah kita
tanam. Tumbuhan yang kelebihan air akan mengalami fase layu atau bahkan mati. Untuk
menghindari kelebihan air pada tumbuhan inilah perlu adanya sistem drainasi pada persawahan.

            Pada makalah ini, kami akan memberikan beberapa penjelasan tentang sistem drainasi
pada persawahan dimana sistem drainasi persawahan memiliki prinsip yang sedikit berbeda
dengan drainasi pada perkotaan yang pada umumnya kita ketahui.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Apa yang dimaksud dengan sistem drainasi pertanian itu?

1.2.2. Bagaimana fungsi bangunan pembuang pada sistem drainasi pertanian?

1.2.3. Bagaimana mengatasi kelebihan air irigasi pada lahan pertanian?

1.2.4. Bagaimana langkah untuk merencanakan saluran pembuang?


1.3. Tujuan

1.3.1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem drainasi pertanian itu

1.3.2. Untuk mengetahui fungsi bangunan pembuang pada sistem drainasi pertanian

1.3.3. Untuk mengetahui cara mengatasi kelebihan air irigasi pada lahan pertanian

1.3.4. Untuk mengetahui langkah merencanakan saluran pembuang

1.4. Manfaat

1.4.1. Menjadikan pembaca tahu apa yang dimaksud dengan sistem drainasi pertanian itu

1.4.2. Menjadikan pembaca tahu bagaimana fungsi bangunan pembuang pada sistem drainasi
pertanian

1.4.3. Menjadikan pembaca tahu bagaimana cara mengatasi kelebihan air irigasi pada lahan
pertanian

1.4.4. Menjadikan pembaca paham bagaimana langkah merencanakan saluran pembuang

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sistem Drainasi Pertanian

           

            Sistem drainasi pertanian adalah sistem yang digunakan untuk membuang air yang tidak
digunakan dalam areal persawahan. Berbeda dengan sistem drainasi perkotaan yang umumnya
kita ketahui, sistem drainasi perkotaan bertujuan untuk membuang seluruh air yang dibuang
tanpa menyisakan sedikitpun karena masalah akan timbul ketika pada daerah perkotaan masih
ada air yang tersisa. Tetapi, pada sistem drainasi pertanian masih disisakan sedikit air untuk
kebutuhan tanaman pertanian yang ada. Sehingga tidak seluruh kelebihan air dibuang pada
sistem drainasi pertanian.

            Drainasi pada lahan pertanian umumnya membuang kelebihan air seperti kelebihan air
karena hujan dan kelebihan air irigasi. Umumnya juga sistem drainasi pertanian
menggunakan single purpose dimana saluran dari pembuangan hanya digunakan untuk 1 tujuan
saja yaitu membuang kelebihan air pada lahan tanpa adanya pembuangan limbah pada saluran
tersebut.

            Penambahan dan pengurangan air pada lahan pertanian menggunakan sebuah sistem
kesetimbangan yaitu,

Dengan

IR        = Air Irigasi

R         = Air Hujan

ri          = Rembesan masuk

ET       = Evapotranspirasi

P          = Perkolasi

I           = Infiltrasi

rk         = Rembesan keluar

            Dapat disimpulkan bahwa kesetimbangan dimana air yang masuk (sebelah kanan) pada
lahan pertanian harus sama dengan air yang keluar (sebelah kiri) pada lahan pertanian itu sendiri.
Apabila pada sisi air yang masuk lebih besar daripada jumlah air yang keluar, maka pada saat
itulah diperlukan sistem drainasi yang akan membuang kelebihan air tersebut.

2.2 Bangunan Pembuang

           
            Agar pembuangan air dapat berjalan dengan baik, maka diperlukanlah bangunan yang
dapat menunjang pembuangan air tersebut. Umumnya bangunan pembuang atau bangunan
drainasi berupa saluran pembuang yang berada di tanah dengan elevasi lebih rendah daripada
saluran irigasi.

            Sama seperti pada saluran irigasi dimana terdapat saluran yang berjenis seperti petaknya
yaitu saluran irigasi primer, sekunder, tersier. Begitu pula dengan bangunan atau saluran
pembuang dimana terdapat beberapa saluran pembuang seperti saluran pembuang kuarter,
saluran pembuang tersier, saluran pembuang sekunder, dan saluran pembuang primer. Saluran –
saluran tersebut berada pada sebuah jaringan saluran pembuang tersendiri.

            Jenis jaringan Saluran pembuang ada 2 yaitu:

a.       Jaringan saluran pembuang tersier

         Saluran pembuang kuarter terletak di dalam satu perak tersier menampung air langsung
dari sawah dan membuang air tersebut ke dalam saluran pembuang tersier.

         Saluran pembuang tersier terletak di dan antara petak – petak tersier yang termasuk
dalam unit irigasi sekunder yang sama dan menampung air, baik dari pembuang kuarter aupun
dari sawah – sawah. Air tersebut dibuang ke dalam jaringan pembuang sekunder.

b.      Jaringan saluran pembuang utama

         Saluran pembuang sekunder menampung air dari jaringan pembuang tersier dan
membuang air tersebut ke pembuang primer atau langsung ke jaringan pembuang alamiah dan ke
luar daerah irigasi.

         Saluran pembuang primer mengalirkan air lebih dari saluran pembuang sekunder ke luar
daerah irigasi. Pembuang primer sering berupa saluran pembuang alamiah yang mengalirkan
kelebihan air tersebut ke sungai, anak sungai atau ke laut.

Petak sekunder umumnya diberi nama dengan huruf besar kemudian pada petak tersebut dimana
terdapat petak tersier diberi nama dengan huruf besar dengan angka dibelakangnya. Saluran
irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dilayani tetapi dengan huruf kecil.
Misalnya a1, a2 dan seterusnya. Sedangkan saluran pembuang kuarter diberi nama sesuai dengan
petak kuarter yang dibuang airnya , diawali dengan dk, misalnya dka1, dka2, dka3 dan
seterusnya.
2.3. Kelebihan Air Irigasi

            Air irigasi yang berlebih terkadang dapat terjadi. Entah itu dikarenakan hujan maupun
pemberian air irigasi dari saluran irigasi yang berlebihan. Pembuangan air irigasi ini diperlukan
karena:

         Bangunan sadap tersier tidak diatur secara terus – menerus

         Banyak saluran sekunder tidak dilengkapi dengan bangunan pembuang (wasteway)

         Ada jaringan – jaringan irigasi yang dioperasikan sedemikian rupa sehingga debit yang
dialirkan berkisar antara Q70 dan Q100

            Air irigasi yang diberikan tidak berpengaruh terhadap kapasitas pembuang yang
diperlukan. Anggapan ini dapat dibenarkan hanya apabila jatah air untuk masing – masing petak
tersier sama denan kebutuhan air untuk petak itu pada saat tertentu. Tetapi, saluran primer dan
saluran sekunder yang besar biasanya dioperasikan sedemikian rupa sehingga saluran – saluran
itu mengalirkan debit yang berkisar antara Q80 dan Q100.

            Banyaknya jaringan irigasi yang ada tidak memiliki bangunan pembuang di jaringan
utama, maka ini berarti bahwa selama periode kebutuhan air dibawah Q100 dan atau masa –
masa hujan lebat, kelebihan air harus dialirkan ke jaringan pembuang intern melalui bangunan
sadap tersier.

            Ada 3 cara yang mungkin untuk mengalirkan air ke jaringan pembuang intern, yakni
melalui:

         Saluran irigasi tersier

            Apabila kelebihan air irigasi dibuang melalui saluran tersier ke saluran pembuang
tedekat, maka bangunan pembuang itu sebaiknya ditempatkan jauh di hulu untuk mengurangi
panjang saluran dengan kapasitas penuh. Jika saluran pembuang letaknya dekat dengan boks
bagi tersier, maka boks itu diberi bukaan khusus agar air lebih dapat langsung dibelokkan ke
saluran pembuang. Bergantung pada layout jaringan irigasi dan pembuang, kelebihan air dapat
juga dibuang lewat boks kuarter pertama atau kedua ke pembuang tedekat. Dalam hal ini, saluran
tersier dan boks bagi tersier hingga boks kuarter hendaknya punya kapasitas cukup untuk
membawa kelebihan air tersebut.

            Kelebihan air irigasi yang akan dibuang diperkirakan sebesar 70 persen dari debit
maksimum. Bukaan khusus pada boks sebaiknya direncana untuk 70 persen dari Qmaks. Bukaan
boks dilengkapi dengan pintu sorong, yang hanya boleh dioperasikan oleh ulu –ulu. Di hari
bukaan itu harus dibuat bangunan terjun dan saluran pembuang pendek. Bukaan ini tidak
mempunyai ambang. Pintu sorong diletakkan pada dasar boks bagi. Bukaan sebaiknya kecil saja
agar kecepatan aliran di saluran tersier tidak menajdi terlalu tinggi.

         Saluran kuarter

            Untuk membuang kelebihan air melalui saluran kuarter, masing – masing saluran kuarter
direncana sedemikian sehingga kapasitas maksimum rencananya sama dari hulu sampai hilir.
Saluran – saluran itu dihubungkan dengan pembuang dengan sebuah bangunan akhir,

         Petak sawah

            Apabila kelebihan air yang mengalir dari sawah ke saluran pembuang, maka petani harus
menggalu saluran kecil di antara 2 deret tanaman padi. Tanggul sawah sebaiknya mempunyai
semacam bangunan pembuang guna mengontrol kedalaman air di sawah.

            Cara yang terakhir ini berarti bahwa para petani tidak diperkenankan menutup
pengambilan air di sawah selama turun hujan lebat. Juga selama padi menjadi masak, 2 sampai 3
minggu menjelang panen, sawah tidak dapat dikeringkan sama sekali karena masih ada
kelebihan air yang mengalir dari sawah itu ke saluran pembuang.

2.4. Perencanaan Saluran Pembuang

2.4.1. Data Topografi

            Data – data topografi yang diperlukan untuk perencanaan saluran pembuangan adalah:

         Peta topografi dengan jaringan irigasi dan pembuang dengan skala 1 : 2.5000 dan 1 :
5.000

         Peta trase saluran dengan skala 1 : 2.000; dilengkapi dengan garis – garis ketinggian
setiap interval 0,5 m untuk daerah datar atau 1,0 m untuk daerah berbukit – bukit.

         Profil memanjang dengan skala horisontal 1 : 2.000; dan skala vertikal 1 : 200 (atau 1 :
100 untuk saluran yang lebih kecil, jika diperlukan)

         Potongan melintang dengan skala 1 : 200 (atau 1 : 100 untuk saluran yang lebih kecil jika
diperlukan) dengan interval garis kontur 50 m untuk potongan lurus dan 25 m untuk potongan
melengkung.
            Perkembangan teknologi photo citra satelit kedepan dapat dipakai dan dimanfaatkan
untuk melengkapi dan mempercepat proses perencanaan jaringan irigasi. Kombinasi antara
informasi pengukuran teristris dan photo citra satelit akan dapat bersinergi dan saling
melengkapi.

            Kelemahan foto citra satelit tidak stereometris sehingga aspek beda tinggi kurang dapat
diperoleh informasi detailnya tidak seperti pengukuran teristris, sedangkan dalam perencanaan
irigasi presisi dalam pengukuran beda tinggi sangat penting. Meskipun demikian banyak
informasi lain yang dapat dipakai sebagai pelengkap perencanaan jaringan irigasi antara lain
sebagai cross check untuk perencanaan jaringan irigasi.

2.4.2. Data Rencana

            Untuk mencari dan mendapatkan data rencan, beberapa hal yang bisa lakukan adalah
melakukan survei lapangan. Hal ini dikarenakan terkadang data yang ada untuk pembangunan
dan perencanaan tidak mencukupi atau bahkan tidak ada, sehingga kita perlu melakukan survei
lapangan guna mendapatkan data tersebut. Survei lapangan mencakup beberapa tahapan sebagai
berikut:

a.       Survei awal

Hal ini merupakan survei paling awal yang harus dilakukan untuk mendapatkan data dan
informasi sebanyak mungkin agar dapat dipakai lagi dalam melaukukan survei lebih lanjut.
Tujuannya yaitu menentukan kuas lahan yang harus dikembangkan , menentukan persediaan,
tata letak dan kapasitas outlet saluran drainase, menyusun rencana umum pengembangan dan
menyusun perkiraan biaya dan keuntungan yang didapatkan.

b.      Survei lanjutan

Merupakan kelanjutan dari survei awal namun lebih terperinci. Data dan informasi yang
diperoleh harus digunakan untuk dasar pembuatan rancangan bangunan secara kasar, misalnya
menyusun kriteria rancang, kebutuhan pengatusan dan sebagainya. Survei dilakukan untuk
mengetahui tempat-tempat yang dipilih bagi selokan drainase atau cara pengaliran kelebihan air.
dalam hal ini perhatian ditujukan pada tempat-tempat yang rendah atau paling rendah diantara
area lahan yang diairi serta yang akan akan langsung memasuki saluran pembuang yang lama
seperti sungai dan lain-lain.
c.       Survei rancang bangun

Survei rancang bangun mencakup survei terakhir yang harus dilakukan sebelum pekerjaan
konstruksi dilakukan. Oleh sebab itu data yang dikumpulkan haruslah serinci dan seaktual
mungkin. Melalui survei rancang bangun ini dapat diketahui asisten drainase yang sesuai yaitu
sistem drainase permukaan atau sistem drainase bawah permukaan.

2.4.2.1. Jaringan Pembuang

            Jaringan pembuang pada umumnya direncanakan untuk mengalirkan kelebihan air secara
gravitasi karena dari segi ekonomi, pembuangan kelebihan air dengan pompa tidak layak. Daerah
– daerah rigasi dilengkapi dengan bangunan  - bangunan pengendali banjir disepanjang sungai
untuk mencegah masuknya iar banjir kedalam sawah – sawah irigasi.

            Lahan dengan tanaman padi akan memiliki jaringan pembuang yang berbeda dengan
lahan tanaman selain padi, misalnya tanaman ladang. Jika tanaman – tanaman ladang
dipertimbangkan, maka metode – metode penyiapan lahan pada punggung medan dapat
diterapkan.

            Pembuangan air di daerah datar (misalnya dekat laut) dan daerah pasang surut yang
dipengaruhi oleh muka air laut, sangat bergantung kepada muka air sungai saluran yang
menampung air buangan ini, muka air ini memegang peranan penting dalam perencanaan
kapasitas saluran pembuang maupun dalam perencanaan bangunan – bangunan khusu dilokasi
ujung (muara) saluran pembuang bangunan yang dimaksud misalnya pintu otomatis yang
tertutup selama muka air sungai naik mencegah agar sungai tidak masuk lagi ke saluran
pembuang.

            Di daerah – daerah uang diairi secara irigasi teknis, jaringan pembuang mempunyai dua
fungsi yaitu:

         Sebagai pembuang intern yang terdiri dari saluran pembuang tersier dan kuarter untuk
mengalirkan kelebihan air dari sawah untuk mencegah terjadinya genangan dan kerusakan
tanaman atau untuk mengatur banyaknya air tanah sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman.

         Pembuang ekstern yang terdiri dari saluran pembuang primer dan saluran pembuang
sekunder untuk mengalirkan air dari daerah dalam irigasi yang mengalir melalui daerah luar
irigasi. Kelebihan air ditampung di dalam saluran pembuang kuarter dan tersier yang akan
mengalirkannya ke dalam jaringan pembuang utama dari saluran pembuang sekunder dan
primer.
            Aliran buangan dari luar daerah irigasi biasanya memasuki daerah proyek irigasi melalui
saluran – saluran pembuang alamiah yang akan merupakan bagian dari jaringan utama di dalam
proyek tersebut.

2.4.2.2. Kebutuhan Pembuang untuk Tanaman Padi

            Biasanya tanaman padi tumbuh dalam keadaan “tergenang” dan dengan demikian, dapat
saja bertahan dengan sedikit kelebihan air. Untuk varietas unggul, tinggi air 10 cm dianggap
cukup dengan tinggi muka air antara 5 sampai 15 cm dapat diizinkan. Kedalaman air yang lebih
dari 15 cm harus dihindari, karena air yang lebih dalam untuk jangka waktu yang lama akan
mengurang hasil panen varietas lokal unggul dan khususnya varietas biasa (tradisional) kurang
sensitif demikian, tinggi air yang melebihi 20 cm tetap harus di hindari.

            Besar kecilnya penurunan hasil panen oleh air berlebihan bergantung pada:

         Dalamnya lapisan air yang berlebihan

         Berapa lama genangan yang berlebihan itu berlangsung

         Tahapan pertumbuhan tanaman

         Varietas padi

            Kelebihan air di dalam petak tersier bisa disebabkan oleh:

         Hujan lebat

         Melimpahnya air irigasi atau buangan yang berlebihan dari jaringan primer atau sekunder
ke daerah itu

         Rembesan atau limpahan kelebihan air irigasi di dalam petak tersier

            Tahap – tahap pertumbuhan padi yang paling peka terhadap banyaknya yang berlebihan
adalah selama transplantasi (pemindahan bibit ke sawah persemaian dan permulaan masa
berbunga (periocle)). Merosotnya panenan secara tajam akan terjadi apabila dalamnya lapisan air
di sawah melebihi separoh dari tinggi tanaman padi selama 3 hari atau lebih atau jika tanaman
padi tergenan air sedalam lebih dari 20 cm selama jangka waktu lebih dari 3 hari maka hampir
dapat dipastikan bahwa tidak akan ada panenan.

            Jumlah kelebihan air yang harus dikeringkan per petak disebut modulus pembuang atau
koefisien pembuang dan ini bergantung pada:

         Curah hujan selama periode tertentu

         Pemberian air irigasi pada waktu itu

         Kebutuhan air tanaman

         Perkolasi tanah

         Tampungan di sawah – sawah selama atau pada akhir periode yang bersangkutan

         Luasnya daerah

         Sumber – sumber kelebihan air yang lain

Pembuang permukaan untuk petak dinyatakan sebagai

Dengan

n          = jumlah hari berturut – turut

D(n)     = limpasan pembuang permukaan selama n hari, mm

R(n)T    = curah hujan dalam n hari berturut – turut dengan periode ulang T tahun,   

               mm

I           = pemberian air irigasi, mm/hari

ET       = evapotranspirasi, mm/hari

P          = perkolasi, mm/hari

∆S       = tampungan tambahan, mm


Untuk perhitungan modulus pembuangan, komponennya dapat diambil sebagai berikut :

a.       Dataran rendah

         Pemberian air irigasi I sama dengan nol jika irigasi di hentikan.

         Pemberian air irigasi I sama dengan evapotranspirasi ET jika irigasi diteruskan

         Tampungan tambahan disawah pada 150 mm lapisan air maksimum, tampungan


tambahan ∆S pada akhir hari – hari berturutan n diambil maksimum 50 mm

         Perkolasi P sama dengan nol.

b.      Daerah terjal

         Pemberian air irigasi I sama dengan nol jika irigasi di hentikan.

         Pemberian air irigasi I sama dengan evapotranspirasi ET jika irigasi diteruskan

         Tampungan tambahan disawah pada 150 mm lapisan air maksimum, tampungan


tambahan ∆S pada akhir hari – hari berturutan n diambil maksimum 50 mm

         Perkolasi P sama dengan 3 mm/hari

Untuk modulus pembuang rencana dipilih curah hujan 3 hari dengan periode ulang 5 tahun.
Kemudian modulus pembuang tersebut adalah

Dengan

Dm = modulus pembuang, l/dt. Ha

D(3) = limpasan pembuang permukaan selama 3 hari, mm

1 mm/ hari = 1/8,64 l/dt.ha

Untuk daerah – daerah sampai seluas 400 ha pembuang air per petak di ambil konstan. Jika daera
h – daerah yang akan dibuang airnya yang lebih besar akibat menurunnya curah hujan (pusat cur
ah hujan sampai daerah curah hujan) dan dengan demikian tampungan sementara yang relatif leb
ih besar, maka dipakai harga pembuang yang lebih kecil per petak.

Debit pembuang rencana dari sawah dihitung sebagai berikut :

Dengan :

Qd             = debit pembuang rencana, l/dt

Dm           = modulus pembuang, l/dt.ha

A              = luar daerah yang dibuang airnya, ha

c.       Daerah Kering

            Pada daerah kering dengan ketersediaan air terbatas maka dapat diterapkan budaya tanam 
padi dengan pola intensif atau  pola kering yaitu sistem SRI, dimana tidak dilakukan penggenang
an air pada kisaran 5 sampai 15 cm. Hal ini menyebabkan petani akan membuka galengan selam
a musim hujan. Oleh sebab itu akan menyebabkan drainage modul mempunyai nilai lebih  besar 
sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Dimensi saluran pembuang pada cara ini diduga lebi
h besar dari pada dimensi saluran pembuang cara konvensional/biasa.

2.4.2.3. Kebutuhan Pembuang untuk Sawah Non Padi

           

            Untuk  pembuang  sawah  yang  ditanami  selain  padi,  ada  beberapa daerah yang perlu 
diperhatikan yakni :

-          Daerah – daerah aliran sungai yang berhutan

-          Daerah – daerah dengan tanaman – tanaman ladang (daerah – daerah terjal)

-          Daerah – daerah permukiman
            Dalam merencanakan saluran – saluran pembuang untuk daerah – daerah di mana padi tid
ak ditanam, ada dua macam debit yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

-          debit puncak maksimum dalam jangka waktu pendek dan

-          debit rencana yang dipakai untuk perencanaan saluran

a.    Debit puncak

            Debit puncak untuk daerah – daerah yang dibuang  airnya  sampai seluas 100 km2 dihitu
ng dengan rumus “Der Weduwen”, yang didasarkan pada pengalaman mengenai sungai – sungai 
di Jawa ; rumus – rumus lain bisa digunakan juga

Dengan

Qd      = debit puncak, m3/ dt

𝛼          = koefisien limpasan air hujan (run off)

𝛽          = koefisien pengurangan luas daerah hujan

q          = curah hujan, m3/dt. km2

A         = luas aeral yang dibuang airnya, km2

b.    Debit Rencana

            Debit rencana didefinisikan sebagai volume limpasan air hujan dalam waktu sehari dari s
uatu daerah yang akan dibuang airnya yang disebabkan oleh curah hujan sehari di daerah tersebu
t air hujan yang tidak tertahan atau merembes dalam waktu satu hari, diandaikan mengalir dalam
waktu satu hari, diandaikan mengalir dalam waktu satu hari itu juga. Ini menghasilkan debit renc
ana yang konstan

Debit rencana dihitung sebagai berikut (USBR, 1973)
Dengan

Qd                   = debit rencana, l/dt

𝛼                      = koefisien limpasan air hujan (lihat Tabel koefisien limpasan)

R (1)5           = curah hujan sehari, m dengan kemungkinan terpenuhi 20%

A                     = luas daerah yang dibuang airnya, ha

Untuk menentukan harga koefisien limpasan air hujan, akan dipakai hasil -
hasil "metode kurve bilangan" dari US Soil Conservation Service. Untuk uraian lebih lanjut, bac
a USBR Design of Small Dams.

Kelompok Hidrologis Tanah


Penutup Tanah
C D

Hutan lebat 0.60 0.70

Hutan tidak lebat 0.65 0.75

Tanaman Ladang (daerah Terjal) 0.75 0.80

Penjelasan mengenai kelompok hidrologis tanah adalah sebagai berikut:

Kelompok C : Tanah yang mempunyai laju infiltrasi rendah (1 – 4 mm/jam) apabila dalam keada
an jenuh samasekali dan terutama terdiri dari tanah dengan lapisan yang menahan gerak turun air
, atau tanah dengan tekstur agak halus sampai halus. Tanah;tanah ini memiliki laju penyebaran (t
ransmisi) air yang rendah.

Kelompok D : (potensi limpasan tinggi)
Tanah yang mempunyai laju infiltrasi amat rendah (0 – 1 mm/jam) apabila dalam keadaan jenuh 
sama sekali dan terutama terdiri dari tanah lempung dengan potensi mengembang yang tinggi, ta
nah dengan muka air tanah tinggi yang permanent, tanah dengan lapisan liat di atau di dekat per
mukaan, dan tanah dangkal pada bahan yang hamper kedap air. Tanah;tanah ini memiliki laju pe
nyebaran air yang lamban.

2.4.2.4. Debit Pembuang

            Debit rencana akan dipakai untuk merencanakan kapasitas saluran pembuang dan tinggi 
muka air. Debit pembuang terdiri dari air buangan dari :

-       sawah

-       tempat - tempat lain di luar sawah.

            Jaringan pembuang akan direncanakan untuk mengalirkan debit pembuang rencana dari d
aerah-daerah sawah dan non sawah di dalam maupun di luar (pembuang silang). Muka air yang d
ihasilkan tidak boleh menghalangi pembuangan air dari sawah - sawah di daerah irigasi.

            Debit puncak akan dipakai untuk menghitung muka air tertinggi jaringan pembuang. Muk
a air tertinggi ini akan digunakan untuk merencanakan sarana pengendalian banjir dan bangunan. 
Selama terjadi debit puncak terhalangnya pembuangan air dari sawah dapat diterima. Tinggi muk
a air puncak sering melebihi tinggi muka tanah, dalam hal ini sarana;sarana pengendali banjir ak
an dibuat di sepanjang saluran pembuang, dimana tidak boleh terjadi penggenangan.

            Periode ulang untuk debit puncak dan debit rencana berbeda untuk debit puncak, periode 
ulang dipilih sebagai berikut :

-       5 tahun untuk saluran pembuang kecil di daerah irigasi atau

-       25 tahun atau lebih, bergantung pada apa yang akan dilindungi untuk  sungai  periode  ulan
gnya  diambil  sama"  dengan"  saluran pembuang yang besar.

Periode ulang debit rencana diambil 5 tahun.
            Perlu dicatat bahwa debit puncak yang sudah dihitung bisa dikurangi dengan cara menam
pung debit puncak tersebut. Tampungan dapat dibuat didalam atau di luar daerah irigasi.

            Misalnya ditempat dimana pembuang silang memasuki daerah irigasi melalui gorong – g
orong yang disebelah hulunya boleh terdapat sedikit genangan. Didalam jaringan irigasi tampung
an dalam jaringan saluran dan daerah cekungan akan dapat meratakan debit puncak di bagian hili
r. Debit puncak juga akan dikurangi dengan cara membiarkan penggenangan terbatas (untuk jang
ka waktu yang pendek) didalam daerah irigasi. Akan tetapi, penggenangan terbatas mungkin  tid
ak dapat diterima.

            Pada pertemuan dua saluran pembuang di mana dua debit puncak bertemu, debit puncak 
yang tergabung dihitung sebagai berikut :

1.    Apabila dua daerah yang akan dibuang airnya kurang lebih sama luasnya (40 sampai 50% da
ri luas total), debit puncak dihitung sebagai 0,8 kali jumlah kedua debit puncak.

2.    jika daerah yang satu jauh lebih kecil dari daerah yang satunya lagi (kurang 20% dari luas ke
seluruhan), maka gabungan kedua debit puncak dihitung sebagai daerah total.

3.    bila persentase itu berkisar antara 20 dan 40% maka gabungan kedua debit puncak dihitung 
dengan interpolasi antara harga – harga dari no.1 dan 2 diatas.

            Untuk menghitung debit rencana pada pertemuan dua saluran pembuang,  debit  rencana  
yang  tergabung  dihitung  sebagai  jumlah debit rencana dari kedua saluran pembuang hulu.

            Pada pertemuan saluran pembuang dari daerah irigasi dengan saluran pembuang dari luar 
daerah irigasi dapat didekati dengan memakai koefisien seperti pada kriteria perencanaan pertem
uan dua saluran pembuang intern dengan jalan :

1.    Dihitung lebih dahulu besarnya debit aliran dari daerah irigasi

2.    Dihitung debit aliran pembuang luar dengan mempertimbangkan jarak atau panjang saluran, 
kemiringan, luas daerah pengaliran, lengkung intensitas hujan

3.    Besaran koefisien yang dipakai sebagai perbandingan adalah besar debit sebagai pengganti p
erbandingan luas dari daerah pembuangan.

            Besarnya koefisien yang dipakai pada pertemuan aliran internal dan aliran external, terga
ntung perbandingan besar debit aliran yaitu :
-       Jika selisih perbandingan besar debit antara 0,40  ; 0,50 dari jumlah debit maka dipakai koef
isien  0,8

-       Jika perbandingan besar debit kurang dari 0,20 dari jumlah debit maka  debit di hilir adalah
jumlah dari kedua debit

-       Jika perbandingan besar debit antara 0,20 – 0,40 dari jumlah debit maka dihitung dengan ca
ra interpolasi.

            Perhitungan debit pembuang / drainase dapat dihitung dengan tata cara perhitungan debit 
dalam SNI. Salah satu cara yang sering dipakai adalah dengan cara Rasional, metode/ cara ini me
rupakan metode
lama yang masih digunakan untuk memperkirakan debit aliran daerah dengan luasan kecil, umu
mnya kurang dari 500ha. Asumsi dasar metode  ini  antara  lain,  puncak  limpasan  terjadi  pada  
saat  seluruh daerah ikut melimpas, yang merupakan fungsi dari intensitas hujan yang durasinya 
sama dengan waktu konsentrasi. Intensitas hujan diasumsikan tetap dan seragam di seluruh daera
h.

2.4.3. Data Mekanika Tanah

            Masalah utama dalam perencanaan saluran pembuang adalah ketahanan bahan saluran ter
hadap erosi dan stabilitas talud.
Data – data yang diperlukan untuk tujuan ini mirip dengan data – data yang dibutuhkan untuk per
encanaan saluran irigasi. Pada umumnya data yang diperoleh dari penelitian tanah pertanian akan 
memberikan petunjuk/ indikasi yang baik mengenai sifat – sifat mekanika tanah yang akan dipak
ai untuk trase saluran pembuang.

            Karena trase tersebut biasanya terletak di cekungan (daerah depresi) tanah cenderung unt
uk menunjukkan sedikit variasi. Dalam banyak hal, uji lapisan dan batas cair (liquid limit) pada i
nterval 0,5 km akan memberikan cukup informasi mengenai klasifikasi seperti dalam Unified Soi
l Classification System. Apabila dalam pengujian tersebut sifat – sifat tanah menunjukkan banya
k variasi, maka interval tersebut harus dikurangi.

2.5. Rencana Saluran Pembuang


2.5.1. Perencanaan Saluran Pembuang yang Stabil

            Perencanaan saluran pembuang harus memberikan pertimbangan biaya pelaksanaan dan 
pemeliharaan yang terendah. Ruas;ruas harus stabil terhadap erosi dan sedimentasi minimal pada 
setiap potongan melintang dan seimbang.

            Dengan adanya saluran pembuang, air dari persawahan menjadi lebih bersih dari sedimen
. Erosi di saluran pembuang akan merupakan kriteria yang menentukan. Kecepatan rencana hend
aknya tidak melebihi kecepatan maksimum yang diizinkan. Kecepatan maksimum yang diizinka
n bergantung kepada bahan tanah serta kondisinya.

            Saluran pembuang direncana di tempat;tempat terendah dan melalui daerah -
daerah depresi. Kemiringan alamiah tanah dalam trase ini menentukan kemiringan memanjang sa
luran pembuang tersebut.

                        Apabila kemiringan dasar terlalu curam dan  kecepatan  maksimum yang diizinka
n akan terlampaui, maka harus dibuat bangunan pengatur (terjun).

            Kecepatan rencana sebaiknya diambil sama atau mendekati kecepatan maksimum yang di
izinkan, karena debit rencana atau debit puncak tidak sering terjadi, debit dan kecepatan aliran pe
mbuang akan lebih rendah di bawah kondisi eksploitasi rata - rata.

            Khususnya  dengan  debit  pembuang   yang  rendah,  aliran  akancenderung berkelok – k
elok (meander) bila dasar saluran dibuat lebar. Oleh karena itu, biasanya saluran pembuang diren
cana relatif sempit dan dalam. Variasi tinggi air dengan debit yang berubah – ubah biasanya tida
k mempunyai arti penting. Potongan – potongan yang dalam akan memberikan pemecahan yang 
lebih ekonomis.

            Kemiringan dasar saluran pembuang biasanya mengecil di sebelah hilir sedangkan debit r
encana bertambah besar. Parameter angkutan sedimen relatif IѵR dalam prakteknya akan menuru
n di sebelah hilir akibat akar R kuadrat. Sejauh berkenaan dengan air buangan yang relatif bersih 
dari sawah, hai ini tidak akan merupakan masalah yang berarti. Keadaan ini harus dihindari apabi
la air buangan yang bersedimen harus dialirkan.

            Bila saluran air alamiah digunakan sebagai saluran pembuang, maka umumnya akan lebi
h baik untuk tidak mengubah trasenya karena saluran alamiah ini sudah menyesuaikan potongan 
melintang dan kemiringannya dengan alirannya sendiri. Dasar dan talutnya mempunyai daya tah
an yang lebih tinggi terhadap kikisan jika dibandingkan dengan saluran pembuang yang baru dib
angun dengan kemiringan talut yang sama.

            Pemantapan saluran air dan sungai alamiah untuk  menambah kapasitas pembuang sering 
terbatas pada konstruksi tanggul banjir dan sodetan dari lengkung meander.
                        Air dari saluran pembuang mempunyai pengaruh negatif pada muka air tanah atau 
pada air yang masuk dari laut dan sebagainya. Oleh sebab itu perencana harus mempertimbangka
n faktor tersebut dengan hati - hati guna memperkecil dampak yang mungkin timbul.

2.5.2. Rumus dan Kriteria Hidrolis

2.5.2.1. Rumus Aliran

            Untuk perencanaan potongan saluran pembuang, aliran dianggap sebagai aliran tetap dan 
untuk itu diterapkan rumus Strickler (Manning)

Dengan

v          = kecepatan aliran, m/dt

k          = koefisien kekasaran strickler, m1/3/dt

R         = jari – jari hidrolis, m

I           = kemiringan energi

2.5.2.2. Koefisien Kekasaran Strickler

Koefisien Strickler k bergantung kepada sejumlah faktor, yakni :

-          Kekasaran dasar dan talut saluran

-          Lebatnya vegetasi

-          Panjang batang vegetasi

-          Ketidak teraturan dan trase, dan
-          Jari – jari hidrolis dan dalamnya saluran.

            Karena saluran pembuang tidak selalu terisi air, vegetasi akan mudah sekali tumbuh disit
u dan banyak mengurangi harga k. Penyiangan yang teratur akan memperkecil harga penguranga
n ini. Harga – harga k pada Tabel Koefisien kekasaran strickler pada saluran
pembuang. yang dipakai untuk merencanakan saluran pembuang, mengandaikan bahwa vegetasi 
dipotong secara teratur.

Tabel koefisien kekasaran strickler untuk saluran pembuang

Jaringan pembuang utama k m1/3/dt

h*) > 1,5 m 30

h ≤ 1,5 m 25

            Untuk saluran – saluran alamiah tidak ada harga umum k yang dapat diberikan. Cara terb
aik untuk memperkirakan harga itu ialah membandingkan saluran – saluran alamiah tersebut den
gan harga – harga k dijelaskan didalam keputusan yang relevan (sebagai contoh, lihat Ven Te Ch
ow ,1985).

2.5.2.3. Kecepatan Maksimum yang Diijinkan

            Kecepatan maksimum yang diizinkan adalah kecepatan aliran (rata – rata) maksimum
yang tidak akan menyebabkan erosi di permukaan saluran. Kecepatan aliran pada saluran yang
terlalu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada dinding dan dasar saluran. Sehingga umur
saluran akan menjadi semakin pendek daripada seharusnya.

            Kecepatan maksimum yang diizinkan ditentukan dalam dua langkah :

         Penetapan kecepatan dasar (vb) untuk saluran lurus dengan ketinggian air 1 m; vb adalah
0,6 m/dt untuk harga – harga PI yang lebih rendah dari 10.

         Penentuan faktor koreksi pada vb untuk lengkung saluran, berbagai ketinggian air dan
angka pori.
Dengan

vmaks                 = kecepatan maksimum yang diizinkan, m/dt

vb                     = kecepatan dasar, m/dt

A                     = faktor koreksi untuk angka pori permukaan saluran

B                     = faktor koreksi untuk kedalaman air

C                     = faktor koreksi untuk lengkung

Dan kecepatan dasar yang diizinkan vba = vb . A

            Kecepatan dasar dipengaruhi oleh konsentrasi bahan layang di dalam air, dibedakan
menjadi 2 keadaan:

         Air bebas sedimen dengan konsentrasi kurang dari 1.000 ppm sedimen layang.
Konsentrasi bahan – bahan yang melayang dianggap sangat rendah sehingga tidak berpengaruh
terhadap stabilitas saluran

         Air bersedimen dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm sedimen layang. Konsentrasi
yang tinggi ini akan menambah kemantaoan batas akibat tergantinya bahan yang terkikis atau
tertutupnya saluran.

Faktor – faktor koreksi saluran adalah:

         Faktor koreksi tinggi air B yang menunjukkan bahwa saluran yang lebih dalam
menyebabkan kecepatan yang relatif lebih rendah di sepanjang batas saluran.

         Faktor koreksi lengkung C yang merupakan kampensasi untuk gaya erosi aliran
melingkar (spiral flow) yang disebabkan oleh lengkung – lengkung pada alur. Untuk saluran
dengan lengkung – lengkung yang tajam, pemberian pasangan pada tanggul luar bisa lebih
ekonomis daripada menurunkan kecepatan rata – rata.
            Pada saluran pembuang pada umumnya ditambahkan faktor koreksi
D. Faktor D ditambahkan apabila dipakai banjir rencana dengan priode ulang yang tinggi.Diangg
ap bahwa kelangkaan terjadinya banjir dengan priode ulang diatas 10 tahun menyebabkan terjadi
nya sedikit kerusakan akibat erosi. Ini dinyatakan dengan menerima v yang
lebih tinggi untuk keadaan semacam ini;  harga D. D sama dengan 1 untuk priode
ulang dibawah 10 tahun.

            Sehingga rumus menjadi :

Dengan

vmaks                 = kecepatan maksimum yang diizinkan, m/dt

vb                     = kecepatan dasar, m/dt

A                     = faktor koreksi untuk angka pori permukaan saluran

B                     = faktor koreksi untuk kedalaman air

C                     = faktor koreksi untuk lengkung

D                     = Koefisien koreksi untuk periode kala ulang yang tinggi

            Untuk jaringan pembuangan intern, air akan dihitung sebagai bebas sedimen. Untuk alira
n pembuang silang, asal air harus diperiksa. Jika air itu berasal dari daerah;daerah yang berpemb
uang alamiah, maka konsentrasi sedimen dapat diambil 3.000 ppm. Air dihitung sebagai bebas se
dimen, apabila air pembuang silang berasal dari daerah persawahan.

            Untuk konstruksi pada tanah -
tanah nonkohesif, kecepatan dasar yang di izinkan adalah 0,6 m/dt.
                        Apabila dikehendaki saluran pembuang juga direncanakan mempunyai fungsi unt
uk menunjang pemeliharaan lingkungan dan cadangan air tanah maka kecepatan saluran pembua
ng pada daerah yang memerlukan konservasi lingkungan tersebut dapat dikurangi. Hal ini dimak
sudkan untuk memperbesar waktu dan tekanan infiltrasi dan sehingga akan menambah kapasitas 
peresapan air kedalam tanah, namun perlu dipertimbangkan adanya perubahan demensi  saluran 
yang lebih besar akibat pengurangan kecepatan ini.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

            Sistem drainasi pertanian adalah sistem yang digunakan untuk membuang air yang tidak
digunakan dalam areal persawahan. Air yang tidak digunakan ini akibat terlalu berlebihnya air
yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian itu sendiri. Terlalu lama dan banyaknya air
berlebih yang menggenangi daerah lahan pertanian dapat menyebabkan tanaman yang ada
menjadi layu, terlambat tumbuh, dan bahkan mati. Sehingga diperlukan suatu sistem
pembuangan air berlebih pada lahan pertanian ini yang disebut sistem drainasi pertanian.

            Sistem drainasi pertanian sangat butuh dengan namanya bangunan pembuang dimana
bangunan pembuang adalah sarana yang digunakan sebagai jalan untuk memecahkan masalah
kelebihan air pada lahan pertanian. Bangunan pembuang ini biasanya berupa saluran pembuang
yang bernama sesuai dengan letaknya. Mulai dari saluran pembuang kuarter, tersier, sekunder
dan primer. Saluran ini pun terbagi menjadi 2 jenis yaitu intern dan ekstern dimana intern terdiri
dari saluran tersier dan kuarter sedangkan ekstern berupa saluran pembuang primer dan
sekunder.

            Kelebihan air irrgasi yang menjadi masalah dari pertanian dapat diselesaikan dengan
pembangunan saluran – saluran pembuang tersebut. Ketika air berlebih pada setiap petak atau
bahkan areal persawahan, air tersebut akan dialirkan menuju saluran pembuang sehingga volume
air yang tertampung atau tersisa di petak – petak sawah menjadi berkurang.

            Untuk membangun saluran pembuang diperlukan data – data yang mendukung dimana
data tersebut dapat diperoleh dengan kegiatan survei lapangan walaupun terkadang data telah
dipersiapkan terlebih dahulu. Data – data tersebut nantinya akan diolah dan dihitung dengan
sedemikian rupa sehingga akan terbentuk jaringan saluran pembuang yang dapat berfungsi
dengan maksimal dan menunjang kehidupan tanaman yang ada.

DAFTAR RUJUKAN

            Anonymous. 2010. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian Jaringan


Irigasi KP - 01. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

            Anonymous. 2010. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian Saluran KP


- 03. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

            Anonymous. 2010. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian Petak


Tersier KP - 05. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

            Punto, Ririn. 2012. Irigasi (Pengairan) pada Tanaman


Padi. http://puntorini.blogspot.co.id/ (diakses pada tanggal 2 Oktober 2015)

            Anonymous. 2015. Drainase. https://id.wikipedia.org/wiki/Drainase (diakses pada


tanggal 2 Oktober 2015)

            Saputra, Bob. 2014. Definisi, Fungsi, dan Macam –


Macam  Drainase. http://architulistiwa.blogspot.co.id/2014/11/definisi-fungsi-dan-macam-
macam-drainase_27.html (Diakses pada tanggal 2 Oktober 2015)

            Anonymous. http://dokumen.tips/documents/drainase-55cb77d95b141.html (diakses pada
tanggal 2 Oktober 2015)

            Lantip, Muhammad. Rekayasa Lingkungan Perencanaan Sistem


Drainase. http://www.slideshare.net/k1ngd3m/87280501-perencanaansistemdrainase (Diakses
pada tanggal  2 Oktober 2015)

            Wida, Helvani. Perancangan Sistem Drainasi


Pertanian. https://www.scribd.com/doc/24934220/Perancangan-Sistem-Drainase-Pertanian (diak
ses pada tanggal 2 Oktober 2015)

Drainase lahan pertanian didefinisikan sebagai pembuatan dan pengoperasian suatu sistem
dimana aliran air dalam tanah diciptakan sedemikian rupa sehingga baik genangan maupun
kedalaman air tanah dapat dikendalikan sehingga bermanfaat bagi kegiatan usaha tani. Definisi
lainnya, drainase lahan pertanian adalah suatu usaha membuang kelebihan air secara alamiah
atau buatan dari permukaan tanah atau dari dalam tanah untuk menghindari pengaruh yang
merugikan terhadap pertumbuhan tanaman.

Pada lahan bergelombang drainase lebih berkaitan dengan pengendalian erosi, sedangkan pada
lahan rendah (datar) lebih berkaitan dengan produksi. Tujuan tersebut di atas dicapai melalui dua
macam pengaruh langsung dan sejumlah besar pengaruh tidak langsung. Pengaruh langsung
terutama ditentukan oleh kondisi hidrologi, karakteristik hidrolik tanah, dan rancangan sistem
drainase yaitu (1) penurunan muka air tanah di atas atau di dalam tanah, (2) mengeluarkan
sejumlah debit air dari system drainase.

Pengaruh tak langsung ditentukan oleh iklim, tanah, tanaman, kultur teknis dan aspek sosial dan
lingkungan. Pengaruh tak langsung ini dibagi kedalam pengaruh berakibat positif dan yang
berakibat negatif atau berbahaya. Pengaruh tak langsung dari pembuangan air yang memiliki
pengaruh positif terhadap tanaman adalah (1) pencucian garam atau bahan-bahan berbahaya dari
profil tanah, (2) Pemanfaatan kembali air drainase.

Sedangkan pengaruh tak langsung yang bersifat negatif adalah (1) kerusakan lingkungan di
bagian hilir karena tercemari oleh garam, (2) gangguan terhadap infrastruktur karena adanya
saluran-saluran.
Pengaruh positif tak langsung dari penurunan muka air tanah (1) mempertinggi aerasi tanah, (2)
memperbaiki struktur tanah, (3) memperbaiki ketersediaan Nitrogen dalam tanah, (4) menambah
variasi tanaman yang dapat ditanam, (5) menambah kemudahan kerja alat dan mesin pertanian,
(6) mempertinggi kapasitas tanah untuk menyimpan air.

Sedangkan pengaruh negatif tak langsung dari penurunan muka air tanah adalah (1)
mempercepat dekomposisi atau penguraian tanah gambut, (2) terjadinya penurunan permukaan
tanah, (3) oksidasi pirit.