Anda di halaman 1dari 134

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


DI PT VARIA SEKATA

Disusun oleh :
EVELINE FRADHA, S. Farm (210213021)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2022
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


di
PT VARIA SEKATA

Laporan ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Apoteker pada Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan
Universitas Sari Mutiara Indonesia

Disusun oleh:
Eveline Fradha, S.Farm
NIM. 200213021

Pembimbing,

apt. Dra. Siti Nurbaya M.Si. apt. Dhani Emisma Sembiring, S.Si
NIDK. 8885460018
Staf Pengajar Manajer Pemastian Mutu
Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan PT Varia Sekata
Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan Deli Serdnag

Medan, Januari 2022


Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker
Universitas Sari Mutiara Indonesia Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan
Dekan, Universitas Sari Mutiara Indonesia
Ketua,

Taruli Rohana Sinaga, S.Kep, MKM apt. Dra. Modesta Tarigan, M.Si
NIDN 0116107103 NIDN 0119036801
KATA PENGANTAR

Puji, syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang diselenggarakan pada tanggal 1

Desember 2021 sampai 22 Januari 2022 di PT. Varia Sekata Pancur Batu. Adapun

Praktek Kerja Profesi ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan

Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi dan Ilmu

Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia untuk mencapai gelar Apoteker.

Terlaksananya Praktik Kerja Profesi Apoteker ini tidak terlepas dari

bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih

yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Taruli Rohana, Sp, MKM, selaku Dekan Fakultas Farmasi dan Ilmu

Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia.

2. Ibu apt. Dra. Siti Nurbaya, M.Si, selaku pembimbing mahasiswa yang telah

memberikan fasilitas, bimbingan dan ilmu pengetahuan serta arahan untuk

melaksanakan PKPA.

3. Bapak Dhani Emisma Sembiring, S. Si., Apt, selaku Apoteker Pembimbing

di PT. Varia Sekata Pancur Batu

4. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak dan Ibu Staf Pengajar

Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan

Universitas Sari Mutiara Indonesia, yang telah memberikan bimbingan dan

pengetahuan kepada penulis.

ii
5. Teman-teman satu tim dalam melaksanakan praktik kerja profesi yang telah

bekerja sama dengan baik selama masa Praktik Kerja Profesi Apoteker

(PKPA) di PT. Varia Sekata.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.

Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua

pihak demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak.

Medan, Januari 2022


Penulis,

Eveline Fradha, S.Farm


NIM. 200213021

iii
RINGKASAN

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Industri Farmasi PT Varia

Sekata Pancur Batu telah di laksanakan pada 1 Desember 2021 sampai 22 Januari

2022. Praktik Kerja Profesi Apoteker ini di laksanakan dalam upaya mengetahui

dan melihat secara langsung peran, fungsi dan tanggung jawab apoteker di

industri farmasi serta memahami penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik

(CPOB) di PT Varia Sekata Pancur Batu. Kegiatan ini bertujuan agar calon

apoteker mendapatkan bekal pengetahuan dan pengalaman praktis yang cukup

tentang pekerjaan kefarmasian di industri melalui penerapan CPOB.

Kegiatan PKPA di PT Varia Sekata Pancur Batu yang dilakukan meliputi

pemahaman mengenai tugas dan fungsi apoteker di industri farmasi yakni di

bagian produksi, pemastian mutu, pengawasan mutu, dan melihat secara langsung

pelaksanaan kegiatan produksi yang telah memiliki sertifikat CPOB untuk produk

betalaktam dan non betalaktam sesuai dengan CPOB.

iv
DAFTAR ISI

Halaman
JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker
1.3. Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Defenisi Industri Farmasi
2.1.1. Persyaratan Industri Farmasi
2.1.2. Izin Usaha Industri Farmasi
2.1.3. Pelaporan Industri Farmasi
2.1.4. Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi
2.2. Cara Pembuatan Obat yang Baik
2.3. Aspek Cara Pembuatan Obat yang Baik
2.3.1. Manajemen Mutu
2.3.2. Personalia
2.3.3. Bangunan dan Fasilitas
2.3.4. Peralatan
2.3.5. Sanitasi dan Hygiene
2.3.6. Produksi
2.3.7. Pengawasan Mutu
2.3.8. Inspeksi Diri dan Audit Mutu
2.3.9. Penanganan Keluhan Terhadap Produk, Penarikan Produk
dan Produk Kembalian
2.3.10. Dokumentasi
2.3.11. Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
2.3.12. Kualifikasi dan Validasi

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


3.1. Sejarah
3.2. Visi dan Misi
3.3. Lokasi
3.4. Struktur Organisasi
3.5. Sarana dan Prasarana Fisik
3.6. Produk-produk PT. Varse
3.7. Struktur Organisasi

v
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Aspek Bangunan Dan Fasilitas
4.1.1. Gedung Bahan Baku
4.1.2. Gedung Bahan Kemasan
4.1.3. Gedung Obat Jadi
4.2. Aspek Produksi
4.3. Aspek Pengawasan Mutu
4.4. Dokumentasi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
5.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vi
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Label Karantina Bahan Awal
Gambar 2.2. Label Karantina Produk Jadi
Gambar 3.1. Denah Lokasi PT. Varse
Gambar 3.2. Vitamin B1
Gambar 3.3. Vitamin B Kompleks
Gambar 3.4. Vitamin B12
Gambar 3.5. Vitamin B6
Gambar 3.6. Hand Sanitizer
Gambar 3.7. Alkohol 70% dan 96%
Gambar 3.8. Minyak Telon
Gambar 3.9. Minyak Kayu Putih
Gambar 4.0. Natural Oil

vii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1. Ukuran Ruangan Masing-masing Bagian di PT. VARSE
Tabel 3.2. Contoh Produk PT. VARSE

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1. Denah Ruangan
2. Penyimpanan Bahan Baku
3. Ruang Riject Bahan Baku
4. Ruang Gudang Bekas
5. Ruang Supermixer
6. Ruang Supervisor/minum
7. Ruang Granulasi Kering
8. Ruang Antara
9. Pencampuran Akhir
10. Ruang Produk Antara
11. Ruang Cetak Tablet
12. Ruang IPC
13. Ruang Pengemasan Primer
14. Ruang Pengemas Primer
15. Ruang Punchdandies dan Ruang Peralatan
16. Ruang Pencetak Tablet
17. Ruang Pencampuran Kapsul
18. Ruang Pengisian Kapsul
19. Ruang Produk Ruahan
20. Ruang WIP (Produk Ruahan)
21. Ruang Laboratorium Kimia Fisika
22. Ruang Penyimpanan Tablet Yang Akan di Stripping
23. Rak Penyimpanan Bahan Kemas
24. Extruder
25. Purified Water
26. Oven
27. Fluid Bed Dryer (FBD)
28. Mesh Yang Digunakan Pada Granulasi Kering
29. Mesin Granulasi Kering
30. Mesin Lubrikasi Dalam Ruangan Pencampuran Akhir
31. Penghitung Suhu & Kelembapan
32. Mesin Pencetak Tablet Kecil
33. Mesin Cetak Kaplet
34. Alat Cetak Tablet
35. Cetak Tablet Besar
36. Timbangan di Ruang IPC
37. Mesin Mixer (Pencampur) Kapsul dan Mesin Polishing Kapsul
38. Mesin Pengisi Kapsul
39. Mesin Stripping
40. Thermo-Hygrometer
41. Mesin Date Coding
42. Puch dan Dies
43. Pengukur Tekanan

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di indutri bertujuan untuk

memenuhi salah satu syarat kelulusan program Studi Pendidikan Profesi

Apoteker dan merupakan kegiatan mandiri mahasiswa yang dilakukan diluar

lingkungan kampus untuk membekali diri tentang bidang penelitian dan

pengembangan, pengawasan mutu dan bagian produksi serta penerapan Cara

Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Cara pembuatan obat yang baik, yang

selanjutnya disingkat CPOB adalah cara pembuatan obat yang bertujuan untuk

memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan

penggunaannya.(1)

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) merupakan bagian yang tidak

terpisakan dari sistem program pengajaran serta wadah yang tepat untuk

mengaplikasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh pada proses

belajar mengajar. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang industri farmasi. Industri Farmasi

adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan

kegiatan pembuatan obat dan bahan obat.(1)

Salah satu industri farmasi yang ada di Sumatera Utara yang berfungsi

untuk membuat obat yang berkualitas tinggi dan memenuhi kebutuhan obat di

wilayah Sumatera adalah PT. VARIA SEKATA. Pembuatan obat adalah seluruh

tahapan kegiatan dalam menghasilkan obat, yang meliputi pengadaan bahan awal

1
dan bahan pengemas, produksi, pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian

mutu sampai diperoleh obat untuk didistribusikan (1). Berdasarkan hal tersebut

diatas, maka perlu dilakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) agar

mahasiswa dapat mengetahui, memahami dan mengaplikasikan ilmu yang selama

ini didapatkan dari bangku perkuliahan sesuai dengan fungsi dan kompetensi ahli

farmasi pekerjaan kefarmasian di Industri yang merupakan salah satu lapangan

pekerjaan bagi lulusan Apoteker. Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini

dilaksanakan agar para lulusan Apoteker lebih terampil saat bekerja di Industri

Farmasi.

1.2. Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)

Adapun tujuan dilaksanakannya Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di

Industri Varia Sekata (VARSE) adalah :

1. Membekali calon Apoteker dengan pengetahuan, wawasan dan keterampilan

terhadap seluruh aspek dalam industri farmasi terutama di bidang penelitian

dan pengembangan, pengawasan mutu dan bagian produksi sesuai dengan

pedoman CPOB.

2. Mengetahui dan memahami peran dan tanggung jawab Apoteker dalam

industri farmasi dan yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadapi

dunia kerja yang sesungguhnya.

3. Mempelajari ruang lingkup Apoteker secara teori dan praktek sehingga

memperoleh gambaran yang jelas dan nyata terhadap tanggungjawab Apoteker

disetiap unit industri farmasi.

4. Mengetahui penerapan prinsip-prinsip Cara Pembuatan Obat yang Baik

(CPOB) di industri farmasi.

2
1.3. Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)

Adapun manfaat dilaksanakannya Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)

ini adalah :

1. Meningkatkan pengetahuan terhadap kegiatan di industri farmasi.

2. Meningkatkan pengetahuan tentang pelaksanaan Cara Pembuatan Obat yang

Baik (CPOB) di industri farmasi.

3. Meningkatkan pengetahuan tentang pengawasan mutu dan produksi sesuai

dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) di industri.

4. Meningkatkan pengetahuan tentang penyusunan dokumen obat di industri

farmasi.

1.4 Pelaksanaan Kegiatan

Praktek Kerja Profesi Apoteker dilaksanakan selama satu bulan dari

tanggal 1 Desember 2021 sampai 22 Januari 2022di PT Varia Sekata yang

berlokasi di Jalan Jenderal Jamin Ginting Km 19,5 Pancur Batu, Medan-

Kabanjahe.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Industri Farmasi

2.1.1 Pengertian Industri Farmasi

Menurut Peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1799/MENKES/PER/XII/2010 industri farmasi adalah badan usaha yang

memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat

atau bahan obat. (1) Pembuatan obat adalah seluruh tahapan kegiatan dala

menghasilkan obat, yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahan pengemas,

produksi, pengemasan, pengawasan mutu dan pemastian mutu sampai diperoleh

obat untuk didistribusikan.(3) Industri farmasi sebagai industri penghasil obat,

dituntut untuk dapat menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan khasiat,

keamanan dan mutu alam dosis yang digunakan untuk tujuan pengobatan karena

menyangkut soal nyawa manusia, industri farmasi dan produknya diatur dalam

CPOB.(4)

2.1.2. Persyaratan Industri Farmasi

Proses pembuatan obat dan/atau bahan obat hanya dapat dilakukan oleh

industri farmasi. Setiap pendirian industri farmasi wajib memperoleh Izin Industri

Farmasi dari Direktur Jenderal. Direktur Jenderal yang dimaksud adalah Direktur

Jenderal pada Kementerian Kesehatan yang bertugas dan bertanggung jawab dalam

pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan (Menkes RI, 2010)..

Persyaratan untuk memperoleh izin industri farmasi sebagaimana

dimaksud pasal 4 ayat (1) terdiri atas :

4
1. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas.

2. Memiliki rencana investasi dan kegiatan perubahan obat.

3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

4. Memiliki secara tetap paling sedikit tiga orang apoteker Warga Negara

Indonesia masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu,

produksi dan pengawasan mutu.

5. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat baik langsung atau tidak langsung

dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian.

6. Dikecualikan dari persyaratan pada huruf (a) dan (b), bagi pemohon izin

industri farmasi milik Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara

Republik Indonesia.(1)

2.1.3. Izin Usaha Industri Farmasi

` Berdasarkan Permenkes RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010, untuk

memperoleh Izin Usaha Industri Farmasi diperlukan persetujuan prinsip. Tata cara

permohonan persetujuan prinsip industri farmasi sebagai berikut:

1. Permohonan persetujuan prinsip diajukan kepada Direktur Jenderal

dengan tembusan kepada Kepala Badan dan Kepala Dinas Kesehatan

Provinsi.

2. Sebelum pengajuan permohonan persetujuan prinsip, pemohon wajib

mengajukan permohonan persetujuan Rencana Induk Pembangunan (RIP)

kepada Kepala Badan.

3. Persetujuan Rencana Induk Pembangunan (RIP) diberikan oleh Kepala

Badan dalam bentuk rekomendasi hasil analisis Rencana Induk

Pembangunan (RIP) paling lama dalam jangka waktu 14 (empat belas)

hari kerja sejak permohonan diterima.

5
4. Permohonan persetujuan prinsip diajukan dengan kelengkapannya.

5. Persetujuan prinsip diberikan oleh Direktur Jenderal paling lama dalam

waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima atau

menolaknya.

6. Pemohon izin industri farmasi dengan status Penanaman Modal Asing atau

Penanaman Modal Dalam Negeri yang telah mendapatkan Surat

Persetujuan Penanaman Modal dari instansi yang menyelenggarakan

urusan penanaman

7. Modal, wajib mengajukan permohonan persetujuan prinsip sesuai dengan

ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini (Ditjen Binfar dan Alkes

RI, 2011).

Gambar 2.1 Tata cara pemberian persetujuan prinsip (Ditjen Binfar dan Alkes
RI, 2011)

Setelah memperoleh persetujuan prinsip, Industri Farmasi dapat mengurus

Izin Industri Farmasi dengan tata cara sebagai berikut:

a. Pemohon yang telah selesai melaksanakan tahap persetujuan prinsip dapat

mengajukan permohonan izin industri farmasi.

6
b. Surat permohonan izin industri farmasi harus ditandatangani oleh Direktur

Utama dan Apoteker penanggung jawab pemastian mutu diajukan ke

Kementerian Kesehatan beserta kelengkapannya.

c. Permohonan izin industri diajukan kepada Direktur Jenderal dengan

tembusan kepada Kepala Badan dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi

setempat.

d. Paling lama dalam waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak diterimanya

tembusan permohonan, Kepala Badan melakukan audit pemenuhan

persyaratan CPOB.

e. Paling lama dalam waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak diterimanya

tembusan permohonan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi melakukan

verifikasi kelengkapan persyaratan administratif.

f. Paling lama dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak dinyatakan memenuhi

persyaratan CPOB, Kepala Badan mengeluarkan rekomendasi pemenuhan

persyaratan CPOB kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala

Dinas Kesehatan Provinsi dan pemohon.

g. Paling lama dalam waktu 10 (sepuluh) hari sejak dinyatakan memenuhi

kelengkapan persyaratan administratif, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi

mengeluarkan rekomendasi pemenuhan persyaratan administratif kepada

Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan dan pemohon.

h. Paling lama dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima

rekomendasi serta persyaratan lainnya, Direktur Jenderal menerbitkan izin

industri farmasi (Ditjen Binfar dan Alkes RI, 2011).

7
Gambar 2.2 Tata cara pemberian izin usaha industri farmasi

2.1.4 Pembinaan dan Pengawasan Industri Farmasi

Pembinaan terhadap pengembangan Industri Farmasi dilakukan oleh

Direktur Jenderal, sedangkan pengawasan dilakukan oleh Kepala Badan.

Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Permenkes RI Nomor

1799/Menkes/Per/XII/2010 dapat dikenakan sanksi administratif berupa:

1. Peringatan secara tertulis

2. Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk

penarikan kembali obat atau bahan obat dari peredaran bagi obat atau bahan

obat yang tidak memenuhi standar dan persyaratan keamanan,

khasiat/kemanfaatan, atau mutu

3. Perintah pemusnahan obat atau bahan obat, jika terbukti tidak memenuhi

persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, atau mutu

4. Penghentian sementara kegiatan

5. Pembekuan Izin Industri Farmasi

6. Pencabutan Izin Industri Farmasi

8
2.1.5 Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi

a. Persetujuan Prinsip

Persetujuan prinsip batal apabila setelah jangka waktu 3 (tiga) tahun dan/atau

setelah jangka waktu 1 (satu) tahun perpanjangan, pemohon belum

menyelesaikan pembangunan fisik (Ditjen Binfar dan Alkes RI, 2011).

b. Izin Industri Farmasi

Izin produksi industri farmasi dapat dicabut apabila melanggar ketentuan

peraturan perundangan yang berlaku (Ditjen Binfar dan Alkes RI, 2011).

2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik

Indonesia 34 Tahun 2018, Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah cara

pembuatan obat yang bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan

sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. Aspek-aspek CPOB meliputi

manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan

higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit mutu dan audit &

persetujuan pemasok, penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan

kembali produk, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, serta

kualifikasi dan validasi.

Berdasarkan CPOB, semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan

jelas, dikaji secara sistematis berdasarkan pengalaman dan terbukti secara

konsisten menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan mutu dan spesifikasi

yang telah ditetapkan. Setiap tahap kritis dalam pembuatan, pengawasan proses

dan sarana penunjang serta perubahan yang signifikan divalidasi. Prosedur dan

instruksi ditulis dengan bahasa yang jelas, tidak bermakna ganda, dapat diterapkan

secara spesifik pada sarana yang tersedia. Operator selayaknya memperoleh

9
pelatihan untuk menjalankan prosedur secara benar. Pencatatan dilakukan secara

manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang menunjukkan bahwa

semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur dan instruksi yang ditetapkan

benar-benar dilaksanakan dan jumlah serta mutu produk yang dihasilkan sesuai

dengan yang diharapkan. Setiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan

diinvestigasi. Memiliki catatan pembuatan dan distribusi yang memungkinkan

penelusuran riwayat bets secara lengkap, disimpan secara komprehensif dan

dalam bentuk yang mudah diakses. Penyimpanan dan distribusi obat yang dapat

memperkecil risiko terhadap mutu obat. Keluhan terhadap produk yang beredar

dikaji, penyebab cacat mutu diinvestigasi serta dilakukan tindakan perbaikan yang

tepat dan pencegahan pengulangan kembali keluhan (Badan Pengawas Obat dan

Makanan, 2018).

2.2.1. Sistem Mutu Industri Farmasi

Manajemen mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup semua aspek

baik secara individual maupun secara kolektif, yang akan memengaruhi mutu

produk. Manajemen mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat, dengan

tujuan untuk memastikan bahwa obat memiliki mutu yang sesuai tujuan

penggunaan. Oleh karena itu, manajemen mutu mencakup juga Cara Pembuatan

Obat yang Baik (CPOB) (Badan POM, 2018).

Unsur dasar manajemen mutu adalah:

a. Suatu infrastruktur atau sistem mutu industri farmasi yang tepat mencakup

struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya

b. Tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan

tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau jasa pelayanan) yang

10
dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Keseluruhan tindakan tersebut disebut Pemastian Mutu.

Suatu Sistem Mutu Industri Farmasi yang tepat bagi pembuatan obat

hendaklah menjamin bahwa:

a. Realisasi produk diperoleh dengan mendesain, merencanakan,

mengimplementasikan, memelihara dan memperbaiki sistem secara

berkesinambungan sehingga secara konsisten menghasilkan produk dengan

atribut mutu yang tepat

b. Pengetahuan mengenai produk dan proses dikelola pada seluruh tahapan

siklus hidup

c. Desain dan pengembangan obat dilakukan dengan cara yang memerhatikan

ketentuan cpob

d. Kegiatan produksi dan pengawasan diuraikan secara jelas dan mengacu pada

ketentuan CPOB

e. Tanggung jawab manajerial diuraikan secara jelas

f. Pengaturan ditetapkan untuk pembuatan, pemasokan dan penggunaan bahan

awal dan pengemas yang benar; seleksi dan pemantauan pemasok, dan untuk

memverifikasi setiap pengiriman bahan berasal dari pemasok yang disetujui

g. Proses tersedia untuk memastikan manajemen kegiatan alih daya (outsource)

h. Kondisi pengawasan ditetapkan dan dipelihara dengan mengembangkan dan

menggunakan sistem pemantauan dan pengendalian yang efektif untuk

kinerja proses dan mutu produk

i. Hasil pemantauan produk dan proses diperhitungkan dalam pelulusan bets,

dalam investigasi penyimpangan, dan untuk menghindarkan potensi

11
penyimpangan di kemudian hari dengan memperhitungkan tindakan

pencegahannya

j. Semua pengawasan yang diperlukan terhadap produk antara dan pengawasan

selama-proses serta validasi dilaksanakan

k. Perbaikan berkelanjutan difasilitasi melalui penerapan peningkatan mutu

yang sesuai dengan kondisi terkini terhadap pengetahuan tentang produk dan

proses

l. Pengaturan tersedia untuk evaluasi prospektif terhadap perubahan yang

direncanakan dan persetujuan terhadap perubahan sebelum

diimplementasikan dengan memerhatikan laporan dan, di mana diperlukan,

persetujuan dari badan pengawas obat dan makanan

m. Setelah pelaksanaan perubahan, evaluasi dilakukan untuk mengonfirmasi

pencapaian sasaran mutu dan bahwa tidak terjadi dampak merugikan terhadap

mutu produk

n. Analisis akar penyebab masalah yang tepat hendaklah diterapkan selama

investigasi penyimpangan, dugaan kerusakan produk dan masalah lain. Hal

ini dapat ditentukan dengan menggunakan prinsip Manajemen Risiko Mutu.

Dalam kasus di mana akar penyebab masalah sebenarnya tidak dapat

ditetapkan, hendaklah dipertimbangkan identifikasi beberapa akar penyebab

masalah yang paling mungkin terjadi dan mengambil tindakan yang

diperlukan.

o. Penilaian produk mencakup kajian dan evaluasi terhadap dokumen produksi

yang relevan dan penilaian deviasi dari prosedur yang ditetapkan

p. Obat tidak boleh dijual atau didistribusikan sebelum pemastian mutu

meluluskan tiap bets produksi yang dibuat dan dikendalikan sesuai dengan

12
persyaratan yang tercantum dalam izin edar dan peraturan lain yang berkaitan

dengan aspek produksi, pengawasan dan pelulusan produk

q. Pengaturan yang memadai untuk memastikan bahwa, sedapat mungkin,

produk disimpan, didistribusikan dan selanjutnya ditangani agar mutu tetap

dipertahankan selama masa kedaluwarsa obat; dan

r. Tersedia proses inspeksi diri dan/atau audit mutu yang mengevaluasi

efektivitas dan penerapan sistem mutu industri farmasi secara berkala.

Pemastian Mutu – tindakan sistematis untuk melaksanakan sistem mutu yang

berkonsep luas termasuk desain dan pengembangan produk

Gambar 2.3. Konsep keterkaitan mutu antara Manajemen Mutu, Pemastian Mutu,
CPOB, Pengawasan Mutu

Pemastian mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup semua hal baik

secara tersendiri maupun secara kolektif, yang akan memengaruhi mutu dari obat

yang dihasilkan. Pemastian mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat

dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu sesuai

dengan tujuan pemakaiannya. Karena itu Pemastian Mutu mencakup CPOB

ditambah dengan factor lain di luar Pedoman ini, seperti desain dan

pengembangan produk (BPOM RI, 2018).

13
2.2.2. Personalia

Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan

sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh

sebab itu, industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang

terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap

personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing dan dicatat.

Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan

awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan

dengan pekerjaannya (Badan POM RI, 2018).

Industri farmasi hendaklah memiliki personil yang terkualifikasi dan

berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai. Tiap personil hendaklah

tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindarkan risiko

terhadap mutu obat. Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi. Tugas

spesifik dan kewenangan dari personil pada posisi penanggung jawab hendaklah

dicantumkan dalam uraian tugas secara tertulis. Tugas mereka boleh

didelegasikan kepada wakil yang ditunjuk serta mempunyai tingkat kualifikasi

yang memadai. Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak ada yang terlewatkan

ataupun tumpang tindih dalam tanggung jawab yang tercantum pada uraian tugas.

Personil Kunci mencakup kepala bagian Produksi, kepala bagian Pengawasan

Mutu dan kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Posisi utama

tersebut dijabat oleh personil purnawaktu, yang berarti seluruh personil kunci

harus selalu hadir dalam menjalankan tugas kefarmasiannya. Kepala bagian

Produksi dan kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) / kepala bagian

Pengawasan Mutu harus independen satu terhadap yang lain.

14
Konsultan yang terlibat dalam industri farmasi hendaklah memiliki

pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang memadai dalam melaksanakan

tanggung jawabnya. Dan selama melaksanakan tugasnya semua catatan tentang

nama, alamat, kualifikasi, dan jenis pelayanan yang diberikan oleh konsultan untuk

disimpan dengan baik.

Semua personil hendaklah menerapkan higiene perorangan yang baik.

Hendaklah mereka dilatih mengenai penerapan higiene perorangan. Semua

personil yang berhubungan dengan proses pembuatan hendaklah memerhatikan

tingkat higiene perorangan yang tinggi. Tiap personil yang mengidap penyakit

atau menderita luka terbuka yang dapat merugikan mutu produk hendaklah

dilarang menangani bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang diproses,

dan obat jadi sampai kondisi personil tersebut dipertimbangkan tidak lagi

menimbulkan risiko. Semua personil hendaklah diperintahkan dan didorong untuk

melaporkan kepada atasan langsung tiap keadaan (pabrik, peralatan atau personil)

yang menurut penilaian mereka dapat merugikan produk. Hendaklah dihindarkan

persentuhan langsung antara tangan operator dengan bahan awal, produk antar dan

produk ruahan yang terbuka, bahan pengemas primer dan juga dengan bagian

peralatan yang bersentuhan dengan produk.

Personil hendaklah diinstruksikan menggunakan sarana mencuci tangan

dan mencuci tangannya sebelum memasuki area produksi. Untuk tujuan itu, perlu

dipasang poster yang sesuai. Merokok, makan, minum, mengunyah, menyimpan

makanan, minuman, bahan untuk merokok atau obat pribadi hanya diperbolehkan

di area tertentu dan dilarang dalam area produksi, laboratorium, area gudang, dan

area lain yang mungkin berdampak terhadap mutu produk.

15
2.2.3. Bangunan-Fasilitas

Prinsip Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki

desain, konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan

dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata

letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko

terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan

pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan

pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat

menurunkan mutu obat (Badan POM RI, 2018).

Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk menghindarkan

pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara, tanah

dan air serta dari kegiatan industri lain yang berdekatan. Apabila letak bangunan

tidak sesuai, hendaklah diambil tindakan pencegahan yang efektif terhadap

pencemaran tersebut (Badan POM RI, 2018).

Bangunan dan fasilitas hendaklah didesain, dikonstruksi, dilengkapi dan

dirawat sedemikian agar memperoleh perlindungan maksimal terhadap pengaruh

cuaca, banjir, rembesan dari tanah serta masuk dan bersarang serangga, burung,

binatang pengerat, kutu atau hewan lain. Hendaklah tersedia prosedur untuk

pengendalian binatang pengerat dan hama (Badan POM RI, 2018).

Bangunan dan fasilitas hendaklah dirawat dengan cermat, dibersihkan dan,

bila perlu, didisinfeksi sesuai prosedur tertulis rinci. Catatan pembersihan dan

disinfeksi hendaklah disimpan. Seluruh bangunan dan fasilitas termasuk area

produksi, laboratorium, area penyimpanan, koridor dan lingkungan sekeliling

bangunan hendaklah dirawat dalam kondisi bersih dan rapi. Kondisi bangunan

16
hendaklah ditinjau secara teratur dan diperbaiki di mana perlu. Perbaikan serta

perawatan bangunan dan fasilitas hendaklah dilakukan hati-hati agar kegiatan

tersebut tidak memengaruhi mutu obat. (Badan POM RI, 2018).

Kegiatan di bawah ini hendaklah dilakukan di area yang ditentukan:

penerimaan bahan, karantina barang masuk, penyimpanan bahan awal dan bahan

pengemas, penimbangan dan penyerahan bahan atau produk, pengolahan,

pencucian peralatan, penyimpanan peralatan, penyimpanan produk ruahan,

pengemasan, karantina produk jadi sebelum memperoleh pelulusan akhir,

pengiriman produk, dan laboratorium pengawasan mutu (Badan POM RI, 2018).

Tingkat kebersihan ruang/area untuk pembuatan obat menurut CPOB 2018

hendaklah diklasifikasikan sesuai dengan jumlah maksimum partikulat udara yang

diperbolehkan untuk tiap kelas kebersihan sesuai tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Kelas Kebersihan Ruangan

Sarana Pendukung seperti ruang istirahat dan kantin hendaklah dipisahkan

dari area produksi dan laboratorium pengawasan mutu. Sarana untuk mengganti

pakaian kerja, membersihkan diri dan toilet hendaklah disediakan dalam jumlah

yang cukup dan mudah diakses. Toilet tidak boleh berhubungan langsung dengan

area produksi atau area penyimpanan. Ruang ganti pakaian hendaklah

berhubungan langsung dengan area produksi namun letaknya terpisah. Sedapat

17
mungkin letak bengkel perbaikan dan perawatan peralatan terpisah dari area

produksi. Apabila suku cadang, asesori mesin dan perkakas bengkel disimpan

di area produksi, hendaklah disediakan ruangan atau lemari khusus untuk

penyimpanan alat tersebut (Badan POM RI, 2018).

2.2.4. Peralatan

Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi

yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan

tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets ke bets dan

untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah

kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan hal-hal yang umumnya

berdampak buruk pada mutu produk (Badan POM RI, 2018).

Rancangan bangunan dan kontruksi peralatan hendaklah memenuhi

persyaratan sebagai berikut:

a. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan baku, produk antara,

produk jadi tidak boleh bereaksi, mengadisi atau mengasorbsi, yang dapat

mengubah identitas, mutu atau kemurniannya di luar batas yang ditentukan

b. Bahan-bahan yang diperlukan untuk suatu tujuan khusus, seperti pelumas

atau pendingin tidak boleh bersentuhan langsung dengan bahan yang diolah

c. Peralatan tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan terhadap produk

d. Peralatan hendaknya dapat dibersihkan dengan mudah, baik bagian dalam

maupun bagian luar

e. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji, dan

mencatat hendaklah diperiksa ketelitiannya secara teratur serta dikalibrasi

menurut suatu program dan prosedur yang tepat

18
f. Peralatan pencucian dan pembersihan hendaklah dipilih dan digunakan agar

tidak menjadi sumber kontaminasi

g. Tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian yang tepat

untuk proses produksi dan pengawasan

h. Filter cairan yang digunakan intuk proses produksi tidsk boleh melepaskan

sarat ke dalam produk

i. Pipa air suling, air deionisasi dan lainya hendaklah sisanitasi

j. Alat-alat harus dikalibrasi dan divalidasi untuk menjamin kelancaran kerja

Daerah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan yang mudah

terbakar hendaklah dilengkapi dengan perlengkapan elektris yang kedap eksplosi

serta dibumikan dengan sempurna (Badan POM RI, 2018).

2.2.5. Produksi

Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah

ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa

menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi

ketentuan izin pembuatan dan izin edar (Badan POM RI, 2018).

Selain itu, produksi baiknya dilakukan dan diawasi oleh personil yang

kompeten, mutu suatu obat tidak hanya ditentukan oleh hasil analisa terhadap

produk akhir, melainkan juga oleh mutu yang dibangun selama tahapan proses

produksi sejak pemilihan bahan awal, penimbangan, proses produksi, personalia,

bangunan, peralatan, kebersihan dan hygienitas sampai dengan pengemasan.

Prinsip utama produksi adalah:

a. Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets.

19
b. Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang

seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah

diproduksi maupun yang akan diproduksi.

Sedangkan hakikat produksi adalah:

a. Mutu produk obat tidak ditentukan oleh hasil akhir analisa saja, tetapi

ditentukan oleh keseluruhan proses produksi.

b. Adanya prosedur baku (standar) untuk setiap langkah (tahapan) proses

produksi dengan persyaratan yang harus diikuti dengan konsisten.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam produksi antara lain:

a. Pembelian Bahan Awal

Pembelian bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui

dan memenuhi spesifikasi yang relevan. Semua penerimaan, pengeluaran dan

jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan

mengenai pasokan, nomor bets/lot, tanggal penerimaan, tanggal pelulusan,

dan tanggal daluarsa.

b. Validasi

Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CPOB dan dilakukan

sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Apabila suatu formula

pembuatan atau metode preparasi baru diadopsi, hendaklah diambil langkah

untuk membuktikan prosedur tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi

rutin, dan bahwa proses yang telah ditetapkan dengan menggunakan bahan

dan peralatan yang telah ditentukan, akan senantiasa menghasilkan produk

yang memenuhi persyaratan mutu.

c. Pencegahan Pencemaran Silang

20
Tiap tahap proses, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap

pencemaran mikroba dan pencemaran lain. Risiko kontaminasi silang ini

dapat timbul akibat tidak terkendali debu, gas, uap, aerosol, bahan genetis

atau organisme dari bahan aktif, bahan lain (bahan awal maupun yang sedang

diproses), dan produk yang sedang diproses, residu yang tertinggal pada alat,

dan pakaian kerja serta kulit operator. untuk mengendalikan risiko

kontaminasi silang diperlukan tindakan teknis dan tindakan terorganisasi.

Tindakan teknis:

1. Fasilitas pembuatan terdedikasi (bangunan-fasilitas dan peralatan)

2. Area produksi terkungkung dengan alat pengolahan dan sistem tata udara

yang terpisah. Isolasi sarana penunjang tertentu dari yang digunakan di

area lain mungkin juga diperlukan

3. Desain proses pembuatan, bangunan-fasilitas dan peralatan yang dapat

meminimalisasi risiko kontaminasi silang selama pemrosesan,

pemeliharaan dan pembersihan

4. Penggunaan "sistem tertutup" untuk pemrosesan dan transfer

bahan/produk antar peralatan

5. Penggunaan sistem penghalang fisik, termasuk isolator, sebagai tindakan

pengungkungan

6. Pembuangan debu terkendali di dekat sumber kontaminan, misal melalui

ekstraksi di tempat

7. Dedikasi peralatan, dedikasi bagian kontak produk atau dedikasi bagian

tertentu yang sulit dibersihkan (misal filter), dedikasi alat pemeliharaan

8. Penggunaan teknologi sekali pakai

21
9. Penggunaan peralatan yang dirancang untuk memudahkan pembersihan

10. Penggunaan penyangga udara dan pengaturan perbedaan tekanan yang

tepat untuk membatasi kontaminan udara potensial dalam suatu area

tertentu;

11. Meminimalkan risiko kontaminasi yang disebabkan oleh resirkulasi atau

pemasukan kembali udara yang tidak ditangani atau penanganan yang

tidak memadai

12. Penggunaan sistem otomatis pembersihan-di-tempat yang tervalidasi

efektivitasnya

13. Pemisahan tempat pencucian, pengeringan dan penyimpanan peralatan

untuk area pencucian umum.

Tindakan Terorganisasi:

1. Pendedikasian seluruh fasilitas pembuatan atau area produksi

terkungkung secara kampanye (yang didedikasikan melalui pemisahan

berdasarkan waktu) diikuti dengan proses pembersihan yang efektivitas

telah divalidasi

2. Penggunaan pakaian pelindung khusus di area di mana diproses produk

yang berisiko tinggi terhadap kontaminasi silang

3. Verifikasi pembersihan setelah setiap kampanye produk hendaklah

dipertimbangkan sebagai alat pendeteksi untuk mendukung keefektifan

Manajemen Risiko Mutu untuk produk yang dianggap memberikan risiko

lebih tinggi

4. Tergantung pada risiko kontaminasi, verifikasi pembersihan permukaan

yang tidak kontak dengan produk dan pemantauan udara di dalam area

22
pembuatan dan/atau daerah yang bersebelahan untuk menunjukkan

efektivitas tindakan pengendalian terhadap kontaminasi udara atau

kontaminasi melalui transfer mekanis

5. Tindakan khusus untuk penanganan limbah, air bilasan yang

terkontaminasi dan pakaian kotor

6. Pencatatan terhadap tumpahan, kejadian tidak sengaja atau

penyimpangan prosedur

7. Desain proses pembersihan untuk bangunan-fasilitas dan peralatan

sedemikian rupa sehingga proses pembersihan tersebut tidak

menyebabkan risiko kontaminasi silang

8. Desain catatan rinci untuk proses pembersihan untuk pemastian

penyelesaian pembersihan sesuai dengan prosedur yang disetujui dan

penggunaan label status bersih pada peralatan dan area pembuatan

9. Penggunaan area pencucian umum secara kampanye

10. Supervisi perilaku kerja untuk memastikan efektivitas pelatihan dan

kepatuhan dengan prosedur terkait.

d. Sistem Penomoran Bets/Lot

Sistem ini menjelaskan secara rinci penomoran bets/lot dengan tujuan untuk

memastikan tiap bets/lots produk antara, produk ruahan atau produk jadi

dapat diidentifikasi.

e. Penimbangan-Penyerahan

Penimbangan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara

dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi dan

memerlukan dokumentasi yang lengkap. Semua pengeluaran bahan awal,

23
bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan termasuk bahan tambahan

yang telah diserahkan sebelumnya ke produksi. Hanya bahan awal, bahan

pengemas, produk antara dan produk ruahan yang telah diluluskan oleh

pengawasan mutu dan masih belum kadaluarsa yang boleh diserahkan.

f. Pengembalian

Semua bahan awal dan bahan pengemas yang dikembalikan ke gudang

penyimpanan hendaklah didokumentasikan dengan benar.

g. Operasional Pengolahan-Produk Antara dan Produk Ruahan

Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum

dipakai. Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti

prosedur yang tertulis. Tiap penyimpangan hendaklah dilaporkan. Semua

produk antara dan ruahan diberi label.Proses kritis hendaklah divalidasi.

Untuk sistem kritis yang tergantung pada operasi komputer hendaklah

disiapkan sistem pengganti manakala terjadi kegagalan.

h. Kegiatan Pengemasan

Kegiatan pengemasan berfungsi mengemas produk ruahan menjadi produk

jadi. Pengemasan hendaklah dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat

untuk menjaga identitas, keutuhan dan mutu produk akhir yang dikemas.

Semua kegiatan pengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan instruksi

yang diberikan dan menggunakan bahan pengemasan yang tercantum dalam

prosedur pengemasan induk. Rincian pelaksanaan hendaklah dicatat dalam

catatan pengemasan bets.

i. Pengawasan Selama Proses

Pengawasan selama proses hendaklah mencakup :

24
1. Semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk diperiksa pada

saat awal dan selama proses pengolahan atau pengemasan.

2. Kemasan akhir diperiksa selama proses pengemasan dengan selang

waktu yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi

dan memastikan semua komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam

prosedur pengemasan induk.

j. Karantina Produk Jadi

Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum

penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum diluluskan

untuk diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan

untuk memastikan produk dan catatan pengolahan bets memenuhi spesifikasi

yang ditentukan.

k. Keterbatasan Pasokan Produk Akibat Kendala Proses Pembuatan

Industri farmasi atau pemilik Izin Edar hendaklah melapor kepada otoritas

terkait dalam waktu yang tepat, setiap kendala dalam kegiatan pembuatan

yang dapat mengakibatkan keterbatasan/ketergangguan pasokan. Otoritas

terkait yang dimaksud adalah Kementerian Kesehatan dan Badan POM

(Badan POM RI, 2018).

2.2.6. Cara Penyimpanan dan Pengiriman Obat Yang Baik

Prinsip penyimpanan dan pengiriman adalah bagian yang penting dalam

kegiatan dan manajemen rantai pemasokan obat yang terintegrasi. Dokumen ini

menetapkan langkah-langkah yang tepat untuk membantu pemenuhan tanggung

jawab bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pengiriman dan penyimpanan

produk. Dokumen ini memberikan pedoman bagi penyimpanan dan pengiriman

25
produk jadi dari industri farmasi ke distributor. Jika gudang industri farmasi

bertindak juga sebagai pusat distribusi produk ke fasilitas distribusi, fasilitas

pelayanan kefarmasian dan fasilitas pelayanan kesehatan, hendaklah industri

farmasi juga menerapkan dan memenuhi pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik

(CDOB).

Mutu obat dapat dipengaruhi oleh kekurangan pengendalian yang

diperlukan terhadap kegiatan selama proses penyimpanan dan pengiriman. Lebih

lanjut, belum ditekankan keperluan akan pembuatan, pengembangan dan

pemeliharaan prosedur penyimpanan dan pengiriman obat, serta pengendalian

kegiatan proses distribusi. Untuk menjaga mutu awal obat, semua kegiatan dalam

penyimpanan dan pengirimannya hendaklah dilaksanakan sesuai prinsip CPOB

dan CDOB.

2.2.7. Pengawasan Mutu

Pengawasan Mutu adalah bagian dari CPOB yang mencakup pengambilan

sampel, spesifikasi dan pengujian, serta mencakup organisasi, dokumentasi dan

prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang diperlukan dan

relevan telah dilakukan. Bahan tidak boleh diluluskan untuk digunakan dan

produk tidak boleh diluluskan untuk dijual atau didistribusi sampai mutunya

dinilai memuaskan.

Prinsip dasar Pengawasan Mutu adalah:

1. Fasilitas memadai, personel terlatih dan tersedia prosedur yang disetujui

untuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal, bahan

pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi, dan bila perlu

untuk pemantauan kondisi lingkungan sesuai tujuan CPOB

26
2. Pengambilan sampel bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk

ruahan dan produk jadi dilakukan oleh personel yang ditetapkan dan

menggunakan metode yang disetujui

3. Metode pengujian telah tervalidasi

4. Pencatatan dilakukan secara manual dan/atau dengan alat pencatat selama

pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan

dalam prosedur pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian benar-benar

telah dilaksanakan. Tiap penyimpangan dicatat lengkap dan diinvestigasi

5. Produk jadi berisi zat aktif dengan komposisi secara kualitatif dan kuantitatif

sesuai dengan yang tercantum dalam Izin Edar atau Persetujuan Uji Klinik,

memiliki derajat kemurnian yang dipersyaratkan serta dikemas dalam wadah

yang sesuai dan pelabelan yang benar

6. Dibuat catatan hasil pemeriksaan dan pengujian bahan awal, bahan pengemas,

produk antara, produk ruahan, dan produk jadi yang secara formal dinilai

terhadap spesifikasi

7. Sampel pertinggal bahan awal dan produk jadi disimpan dalam jumlah yang

cukup sesuai Aneks 11 Sampel Pembanding dan Sampel Pertinggal, untuk

pengujian ulang di kemudian hari bila perlu. Sampel produk jadi disimpan

dalam kemasan akhir.

2.2.8. Inspeksi Diri dan Audit Mutu & Persetujuan Pemasok

Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek

produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB

(Badan POM RI, 2018).

Aspek-aspek dalam inspeksi diri antara lain:

27
a. Personalia

b. Bangunan-fasilitas termasuk fasilitas untuk personil

c. Pemeliharaan bangunan dan peralatan

d. Penyimpanan bahan awal, bahan pengemas dan obat jadi

e. Peralatan

f. Produksi dan pengawasan selama proses

g. Pengawasan mutu

h. Dokumentasi

i. Sanitasi dan hygiene

j. Program validasi dan revalidasi

k. Kalibrasi alat dan sistem pengukuran

l. Prosedur penarikan obat jadi

m. Penanganan keluhan

n. Pengawasan label

o. Hasil inspeksi diri sebelumnya dan tindakan perbaikan.

Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh

personil-personil perusahaan yang kompeten. Manajemen hendaklah membentuk

tim inspeksi diri yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing dan

memahami CPOB (Badan POM RI, 2018).

Inspeksi diri dapat dilaksanakan per bagian sesuai dengan kebutuhan

perusahaan, namun inspeksi diri yang menyeluruh hendaklah dilaksanakan

minimal 1 (satu) kali dalam setahun. Frekuensi inspeksi diri hendaklah tertulis

dalam prosedur inspeksi diri. Semua hasil inspeksi diri hendaklah dicatat, laporan

hendaklah mencakup:

28
a. Semua hasil pengamatan yang dilakukan selama inspeksi dan bila

memungkinkan saran untuk tindakan perbaikan

b. Hendaklah ada program penindaklanjutan yang efektif, manajemen

perusahaan hendaklah mengevaluasi baik laporan inspeksi diri maupun

tindakan perbaikan bila diperlukan.

Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri.

Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem

manajemen mutu dengan tujuan spesifik untuk meningkatkannya. Audit mutu

umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau independen atau suatu tim

yang dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan. Audit mutu juga

dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima kontrak (Badan POM RI, 2018).

Kepala bagian manajemen mutu (Pemastian Mutu) hendaklah bertanggung

jawab bersama bagian lain yang terkait untuk memberi persetujuan pemasok yang

dapat diandalkan memasok bahan awal dan bahan pengemas yang memenuhi

spesifikasi yang telah ditentukan. Hendaklah dibuat daftar pemasok yang disetujui

untuk bahan awal dan bahan pengemas. Daftar pemasok hendaklah disiapkan dan

ditinjau ulang. Hendaklah dilakukan evaluasi sebelum pemasok disetujui dan

dimasukkan ke dalam daftar pemasok atau spesifikasi. Evaluasi hendaklah

mempertimbangkan riwayat pemasok dan sifat bahan yang dipasok. Semua

pemasok yang telah ditetapkan hendaklah dievaluasi secara teratur (Badan POM

RI, 2018).

2.2.9. Keluhan Dan Penarikan Produk

Untuk melindungi kesehatan masyarakat, suatu sistem dan prosedur yang

sesuai hendaklah tersedia untuk mencatat, menilai, menginvestigasi dan meninjau

29
keluhan termasuk potensi cacat mutu dan, jika perlu, segera melakukan penarikan

obat termasuk obat uji klinik dari jalur distribusi secara efektif.

Keluhan dapat ditangani dengan:

a. Hendaklah tersedia prosedur tertulis yang merinci tindakan yang diambil

setelah menerima keluhan. Semua keluhan hendaklah didokumentasikan dan

dinilai untuk menetapkan apakah terjadi cacat mutu atau masalah lain.

b. Perhatian khusus hendaklah diberikan untuk menetapkan apakah keluhan atau

cacat mutu yang dicurigai berkaitan dengan pemalsuan.

c. Karena tidak semua keluhan yang diterima diakibatkan oleh cacat mutu,

keluhan yang tidak menunjukkan potensi cacat mutu hendaklah

didokumentasikan dengan tepat dan dikomunikasikan kepada bagian atau

personel yang relevan yang bertanggung jawab atas investigasi dan

pengelolaan keluhan terkait, misal dugaan efek samping.

d. Hendaklah tersedia prosedur untuk memfasilitasi permintaan investigasi mutu

dari suatu bets obat dalam rangka investigasi dugaan efek samping yang

dilaporkan.

e. Ketika investigasi cacat mutu dimulai, hendaklah tersedia prosedur yang

setidaknya mencakup hal-hal berikut:

1. Deskripsi cacat mutu yang dilaporkan.

2. Penentuan luas dari cacat mutu. Hendaklah dilakukan pemeriksaan atau

pengujian sampel pembanding dan/atau sampel pertinggal, dan dalam

kasus tertentu, peninjauan catatan produksi bets, catatan sertifikasi bets

dan catatan distribusi bets (khususnya untuk produk yang tidak tahan

panas) hendaklah dilakukan.

30
3. Kebutuhan untuk meminta sampel atau produk cacat yang dikembalikan

dan bila sampel telah tersedia, kebutuhan untuk melakukan evaluasi yang

memadai.

4. Penilaian risiko yang ditimbulkan oleh cacat mutu, berdasarkan tingkat

keparahan dan luas dari cacat mutu.

5. Proses pengambilan keputusan yang akan digunakan terkait dengan

kemungkinan kebutuhan tindakan pengurangan-risiko dalam jaringan

distribusi, seperti penarikan bets/produk atau tindakan lain.

6. Penilaian dampak dari tindakan penarikan obat terhadap ketersediaannya

di peredaran bagi pasien, dan kebutuhan untuk melaporkan dampak

penarikan obat kepada otoritas terkait.

7. Komunikasi internal dan eksternal yang perlu dilakukan sehubungan

dengan cacat mutu dan investigasi.

8. Identifikasi potensi akar masalah dari cacat mutu.

9. Kebutuhan untuk melakukan identifikasi dan mengimplementasikan

Tindakan Korektif dan Pencegahan yang tepat, dan penilaian terhadap

efektivitasnya (Badan POM RI, 2018).

Penarikan produk dan kemungkinan tindakan pengurangan risiko lain

dapat ditangani dengan:

a. Hendaklah tersedia prosedur tertulis yang jika perlu dikaji dan dimutakhirkan

secara berkala, untuk mengatur segala tindakan penarikan atau tindakan

pengurangan-risiko lain.

b. Setelah produk diedarkan, pengembalian apa pun dari jalur distribusi sebagai

akibat dari cacat mutu hendaklah dianggap dan dikelola sebagai penarikan.

31
(Ketentuan ini tidak berlaku untuk pengambilan atau pengembalian sampel

produk dari jalur distribusi untuk memfasilitasi investigasi terhadap

masalah/laporan cacat mutu).

c. Pelaksanaan penarikan hendaklah mampu untuk dilakukan segera setiap saat.

Dalam kasus tertentu, untuk melindungi kesehatan masyarakat pelaksanaan

penarikan mungkin perlu dimulai sebelum menetapkan akar masalah dan luas

dari cacat mutu.

d. Catatan distribusi bets/produk hendaklah tersedia untuk digunakan oleh

personel yang bertanggung jawab terhadap penarikan. Catatan distribusi

hendaklah berisi informasi yang lengkap mengenai distributor dan pelanggan

yang dipasok secara langsung (dengan alamat, nomor telepon, dan/atau

nomor fax pada saat jam kerja dan di luar jam kerja, nomor bets dan jumlah

yang dikirim), termasuk distributor di luar negeri untuk produk yang

diekspor.

e. Dalam hal obat untuk uji klinik, semua lokasi dan negara tujuan uji klinis

hendaklah diidentifikasi. Obat untuk uji klinik yang telah memiliki izin edar,

pabrik pembuat hendaklah bekerja sama dengan sponsor untuk

memberitahukan pemilik izin edar tentang setiap cacat mutu yang terkait obat

tersebut. Sponsor hendaklah menerapkan prosedur untuk mengungkap

identitas produk blinded, apabila diperlukan dilakukan penarikan secara

cepat. Sponsor hendaklah memastikan bahwa prosedur untuk

mengungkapkan identitas produk blinded hanya dilakukan jika diperlukan.

f. Pertimbangan hendaklah diberikan setelah berkonsultasi dengan otoritas

pengawas obat terkait, cakupan jalur distribusi untuk melakukan tindakan

32
g. penarikan, dengan mempertimbangkan potensi risiko terhadap kesehatan

masyarakat dan setiap dampak yang mungkin terjadi dari tindakan penarikan

yang diajukan. Otoritas pengawas obat hendaklah diberitahukan apabila tidak

ada tindakan penarikan yang diusulkan untuk bets yang cacat karena bets

telah kedaluwarsa (misalnya produk dengan masa kedaluwarsa yang pendek.

h. Semua otoritas pengawas obat terkait hendaklah diinformasikan sebelumnya

jika produk akan ditarik. Untuk masalah yang sangat serius (misalnya produk

yang berpotensi menimbulkan dampak serius pada kesehatan pasien),

tindakan pengurangan-risiko yang cepat (seperti penarikan produk) hendaklah

dilakukan sebelum melapor kepada otoritas pengawas obat.

i. Hendaklah dipertimbangkan apabila tindakan penarikan yang diajukan dapat

mempengaruhi pasar dengan cara yang berbeda-beda, terkait dengan hal

tersebut, tindakan pengurangan-risiko yang tepat dan spesifik untuk pasar

tertentu hendaklah dibuat dan didiskusikan dengan otoritas pengawas obat.

Dengan mempertimbangkan penggunaan terapi, risiko kekurangan obat yang

tidak memiliki alternatif hendaklah dipertimbangkan sebelum memutuskan

tindakan pengurangan-risiko seperti penarikan. Setiap keputusan untuk tidak

melakukan tindakan pengurangan-risiko yang tidak diperlukan hendaklah

disetujui oleh otoritas pengawas obat terkait.

j. Produk yang ditarik hendaklah diberi identitas dan disimpan terpisah di area

yang aman sementara menunggu keputusan terhadap produk tersebut.

Disposisi formal dari semua bets yang ditarik hendaklah dibuat dan

didokumentasikan.

33
k. Perkembangan proses penarikan hendaklah dicatat sampai selesai dan dibuat

laporan akhir, termasuk hasil rekonsiliasi antara jumlah produk/bets yang

dikirim dan yang dikembalikan.

l. Efektivitas penyelenggaraan penarikan hendaklah dievaluasi secara berkala

untuk memastikan ketangguhan dan kelayakan prosedur yang digunakan.

Evaluasi tersebut hendaklah diperluas baik dalam hari kerja maupun di luar

hari kerja dan saat melakukan evaluasi hendaklah mempertimbangkan apakah

simulasi penarikan perlu dilakukan. Evaluasi ini hendaklah didokumentasikan

dan dijustifikasi.

m. Selain penarikan, perlu dipertimbangkan tindakan tambahan untuk

mengurangi risiko yang terjadi akibat cacat mutu. Tindakan tersebut dapat

mencakup penerbitan surat yang memperingatkan tenaga kesehatan

profesional terkait penggunaan bets yang berpotensi cacat. Hal ini hendaklah

dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus dan didiskusikan dengan

otoritas pengawas obat terkait (Badan POM RI, 2018).

2.2.10. Dokumentasi

Dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari sistem

pemastian mutu dan merupakan kunci untuk pemenuhan persyaratan CPOB.

Berbagai jenis dokumen dan media yang digunakan hendaklah sepenuhnya

ditetapkan dalam Sistem Mutu Industri Farmasi.

Ada dua jenis dokumentasi utama yang digunakan untuk mengelola dan

mencatat pemenuhan CPOB: prosedur/instruksi (petunjuk, persyaratan) dan

catatan/laporan.

34
Dokumen Induk Industri Farmasi (DIIF) adalah dokumen yang

menjelaskan tentang aktivitas terkait CPOB. Jenis- jenis dokumen yaitu:

a. Spesifikasi

Spesifikasi menguraikan secara rinci persyaratan yang harus dipenuhi produk

atau bahan yang digunakan atau diperoleh selama pembuatan. Dokumen ini

merupakan dasar untuk mengevaluasi mutu. Hendaklah tersedia spesifikasi

bahan awal, bahan pengemas dan produk jadi yang disahkan dengan benar

dan diberi tanggal, spesifikasi produk antara dan produk ruahan, spesifikasi

produk jadi.

b. Dokumen Produksi

Dokumen Produksi melibuti Dokumen Produksi Induk, Formula Pembuatan,

Prosedur Pengolahan, Prosedur Pengemasan dan Instruksi Pengujian/Metode

Analisis: menyajikan rincian semua bahan awal, peralatan dan sistem

komputerisasi (jika ada) yang akan digunakan dan menjelaskan semua

prosedur pengolahan, pengemasan, pengambilan sampel dan pengujian.

Pengawasan selama-proses dan process analytical technologies (PAT) yang

akan digunakan hendaklah ditentukan bersama kriteria keterimaannya.

c. Prosedur

Prosedur disebut juga Prosedur Tetap atau Protap, memberikan petunjuk cara

pelaksanaan suatu kegiatan tertentu.

d. Protokol

Protokol meliputi kualifikasi, validasi, uji stabilitas, dan lain lain yang

berfungsi memberikan instruksi untuk melakukan dan mencatat kegiatan

tertentu.

35
e. Perjanjian Teknis

Perjanjian Teknis yaitu kesepakatan antara pemberi kontrak dan penerima

kontrak untuk kegiatan alih daya.

Prosedur dan catatan

1. Penerimaan

Penerimaan hendaklah tersedia prosedur tertulis dan catatan penerimaan

untuk tiap pengiriman bahan awal, bahan pengemas primer dan bahan

pengemas cetak. Catatan penerimaan hendaklah mencakup:

a. Nama bahan pada surat pengiriman dan wadah

b. Nama “internal” dan/atau kode bahan

c. Tanggal penerimaan

d. Nama pemasok dan bila mungkin nama pembuat

e. Nomor bets atau referen pembuat

f. Jumlah total dan jumlah wadah yang diterima

g. Nomor bets yang diberikan setelah penerimaan

h. Segala komentar yang relevan (misal, kondisi wadah saat diterima).

i. Hendaklah tersedia prosedur tertulis untuk penandaan karantina internal

dan penyimpanan bahan awal, bahan pengemas dan bahan lain, sesuai

keperluan.

2. Pengambilan Sampel

Hendaklah tersedia prosedur tertulis untuk pengambilan sampel yang

mencakup personil yang diberi wewenang mengambil sampel, metode dan

alat yang harus digunakan, jumlah yang harus diambil dan segala tindakan

pengamanan yang harus diperhatikan untuk menghindarkan kontaminasi

bahan atau segala penurunan mutu.

36
3. Pengujian

Hendaklah tersedia prosedur tertulis untuk pengujian bahan dan produk yang

diperoleh dari tiap tahap produksi yang menguraikan metode dan alat yang

harus digunakan. Pengujian yang dilaksanakan hendaklah dicatat.

2.2.11. Kegiatan Ahli Daya

Kontrak hendaklah dibuat antara pemberi kontrak dan penerima kontrak

yang secara jelas menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak

yang berhubungan dengan produksi dan pengendalian mutu produk. Semua

pengaturan untuk kegiatan alih daya termasuk usulan perubahan teknis harus

sesuai dengan peraturan regulasi dan izin edar yang disetujui oleh kedua belah

pihak.

Pemberi kontrak hendaklah (Badan POM RI, 2018):

a. Bertanggung jawab untuk menilai legalitas, kesesuaian dan kompetensi

Penerima Kontrak untuk dapat dengan sukses melaksanakan kegiatan alih

daya

b. Menyediakan semua informasi dan pengetahuan yang diperlukan kepada

Penerima Kontrak untuk melaksanakan pekerjaan yang dialihdayakan secara

benar sesuai peraturan yang berlaku dan Izin Edar produk terkait

c. Memantau dan mengkaji kinerja Penerima Kontrak dan mengidentifikasi

perbaikan yang diperlukan dan pelaksanaannya.

Penerima kontrak hendaklah (Badan POM RI, 2018):

a. Dapat melaksanakan pekerjaan yang diberikan oleh Pemberi Kontrak dengan

memuaskan misal memiliki bangunan-fasilitas, peralatan, pengetahuan,

pengalaman, dan personel yang kompeten.

37
a. 38

b. Memastikan bahwa semua produk, bahan dan transfer pengetahuan yang

diterima sesuai dengan tujuan alih daya.

c. Tidak boleh mengalihkan pekerjaan apa pun yang dipercayakan sesuai

kontrak, tanpa terlebih dahulu dievaluasi, disetujui dan didokumentasikan

oleh Pemberi Kontrak.

d. Tidak boleh melakukan perubahan apa pun, di luar kontrak, yang dapat

berpengaruh buruk pada mutu produk alih daya dari Pemberi Kontrak.

e. Memahami bahwa kegiatan alih daya, termasuk kontrak analisis, dapat

diperiksa oleh Badan POM.

2.2.12. Kualifikasi dan Validasi

CPOB mempersyaratkan industri farmasi mengendalikan aspek kritis

kegiatan yang dilakukan melalui kualifikasi dan validasi sepanjang siklus hidup

produk dan proses. Tiap perubahan yang direncanakan terhadap fasilitas,

peralatan, sarana penunjang, dan proses, yang dapat memengaruhi mutu produk,

hendaklah didokumentasikan secara formal dan dampak pada status validasi atau

strategi pengendaliannya dinilai. Sistem komputerisasi yang digunakan untuk

pembuatan obat hendaklah juga divalidasi sesuai dengan persyaratan Aneks 7

Sistem Komputerisasi.

Elemen kunci program kualifikasi dan validasi hendaklah ditetapkan

secara jelas dan didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau

dokumen lain yang setara. Spesifikasi kebutuhan pengguna adalah suatu dokumen

yang menguraikan semua kebutuhan fungsional dari suatu peralatan, fasilitas,

sarana penunjang atau sistem yang akan diadakan.

38
Kualifikasi mesin, peralatan produksi maupun sarana penunjang

merupakan langkah pertama (first step) dalam pelaksanakan validasi di industri

farmasi.

Kualifikasi terdiri dari 4 tingkatan, yaitu:

1. Kualifikasi Desain

Untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan atau

bangunan yang akan dipasang atau dibangun (rancang bangunan) sesuai

dengan ketentuan atau spesifikasi yang diatur dalam ketentuan Cara

Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang berlaku. Jadi kualifikasi desain

dilaksanakan sebelum mesin, peralatan produksi atau sarana penunjang

(termasuk bangunan untuk industri farmasi) tersebut dibeli atau dipasang atau

dibangun.

2. Kualifikasi Instalasi

Untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang

diinstalasi atau dipasang sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada dokumen

pembelian, buku manual alat yang bersangkutan dan pemasangannya

dilakukan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Jadi kualifikasi

instalasi dilaksanakan pada saat pemasangan atau instalasi peralatan produksi

atau sarana penunjang.

3. Kualifikasi Operasional.

Untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang

telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan spesifikasi yang

diinginkan. Jadi, kualifikasi operasional dilaksanakan setelah pemasangan

atau instalasi mesin atau peralatan produksi atau sarana penunjang dan

digunakan sebagai mesin atau peralatan percobaan.

39
4. Kualifikasi Kinerja.

Untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang

telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan spesifikasi yang

diinginkan dengan cara menjalankan sistem sesuai dengan tujuan

penggunaan.

Pelaksanaan kualifikasi harus dilakukan secara berurutan dan

berkesinambungan. Maka, pelaksanaan kualifikasi dimulai dari kualifikasi

desain, kemudian kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional dan yang

terakhir kualifikasi kinerja, tidak bisa dibolak-balik.

Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa

tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang

digunakan dalam produksi dan pengawasan mutu akan senantiasa mencapai hasil

yang diinginkan secara konsisten/terus-menerus (Badan POM RI, 2018).

1. Validasi Proses

Validasi Proses diartikan sebagai tindakan pembuktian yang

didokumentasikan bahwa proses yang dilakukan dalam batas parameter yang

ditetapkan dapat bekerja secara efektif dan memberi hasil yang dapat terulang

untuk menghasilkan produk jadi yang memenuhi spesifikasi dan atribut mutu

yang ditetapkan sebelumnya (Badan POM RI, 2018).

Tujuannya adalah memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur

produksi yang berlaku dan digunakan dalam proses produksi (Batch

Processing Record), senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara terus-

menerus, mengurangi problem yang terjadi selama proses produksi serta

memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang.

40
2. Validasi Konkuren

Validasi Konkuren adalah validasi yang dilakukan pada saat pembuatan rutin

produk untuk dijual yang oleh suatu hal belum dilakukan validasi prospektif.

Produk yang tidak divalidasi secara prospektif, karena hal tertentu seperti:

a. Perubahan parameter proses sebagai tindak lanjut dari adanya

penyimpangan atau rekomendasi dari Pengkajian Mutu Produk

b. Perubahan pabrik pembuat eksipien dengan spesifikasi yang sama

c. Perubahan mesin dengan spesifikasi yang sama

d. Transfer pembuatan produk ke pabrik lain

3. Validasi Proses Tradisonal

Validasi proses ini adalah validasi yang dilakukan terhadap sejumlah bets

produk yang diproduksi dalam kondisi rutin untuk memastikan

reprodusibilitas. Pada umumnya, minimal produk tiga bets berturut-turut

dalam kondisi rutin.

4. Validasi Proses Kontinu

Validasi proses ini adalah validasi yang dilakukan terhadap produk yang

dikembangkan berdasarkan pendekatan Quality by Design (QbD), selama

proses pengembangan telah ditetapkan secara ilmiah, strategi pengendalian

yang memberikan tingkat kepastian mutu produk yang tinggi.

5. Pendekatan Hibrida

Merupakan validasi yang dilakukan dengan pendekatan hibrida

(tandem/gabungan) dari pendekatan tradisional dan verifikasi proses kontinu.

Pendekatan ini dapat digunakan bilamana sudah dipeoleh pengetahuan dan

pemahaman yang tinggi mengenai produk dan proses yang diperoleh dari

pengalaman pembuatan data riwayat bets.

41
6. Verifikasi Proses On-going selama Siklus Hidup Produk

7. Verifikasi Transportasi

Ruang lingkup berupa obat jadi, obat uji klinik, produk ruahan dan sampel.

8. Validasi Pengemasan

Bertujuan untuk membuktikan bahwa variasi pada parameter peralatan

selama proses pengemasan primer tidak berdampak signifikan dan fungsi

kemasan yang benar (strip, blister, sachet dan bahan pengemas steril).

9. Kualifikasi Sarana Penunjang adalah konfirmasi mutu dari uap air, air, udara,

gas dan lain-lain.

10. Validasi Metode Analisis

Tujuan validasi metode analisis adalah untuk menunjukkan bahwa metode

analisis sesuai dengan tujuan penggunaannya (Badan POM RI, 2018).

Validasi metode analisis umumnya dilakukan terhadap 4 jenis, yaitu:

a. Uji identifikasi

b. Uji kuantitatif kandungan impuritas (impurity)

c. Uji batas impuritas

d. Uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan aktif obat atau obat atau

komponen tertentu dalam obat.

Metode analisis lain, seperti uji disolusi untuk obat atau penentuan ukuran

partikel untuk bahan aktif obat, hendaklah juga divalidasi (Badan POM RI,

2018).

Karakteristik validasi yang umumnya perlu diperhatikan adalah sebagai

berikut:

a. Akurasi.

b. Presisi.

42
c. Ripitabilitas.

d. Intermediate precision.

e. Spesivisitas.

f. Batas deteksi.

g. Batas kuantitasi.

h. Linearitas.

i. Rentang.

11. Validasi Pembersihan

Tujuan dari pelaksanaan Validasi Pembersihan (Cleaning Validation) adalah

untuk membuktikan bahwa prosedur yang ditetapkan untuk membersihkan

suatu peralatan pengolahan, hingga pengemasan primer mampu

membersihkan sisa bahan aktif obat dan deterjen yang digunakan untuk

proses pencucian dan juga dapat mengendalikan cemaran mikroba pada

tingkat yang dapat diterima.

2.3. Registrasi Sediaan Farmasi

Dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran obat yang tidak

memenuhi persyaratan khasiat, keamanan, dan mutu perlu dilakukan registrasi

obat sebelum diedarkan. Registrasi adalah prosedur pendaftaran dan evaluasi Obat

untuk mendapatkan persetujuan (Menkes RI, 2017).

2.3.1 Persyaratan Obat yang Beredar di Indonesia

Persyaratan obat yang beredar di Indonesia adalah:

1. Obat yang akan diedarkan di wilayah Indonesia wajib memiliki Izin Edar.

2. Untuk memperoleh Izin Edar harus dilakukan Registrasi.

3. Registrasi diajukan oleh Pendaftar kepada Kepala Badan (Menkes RI, 2017).

43
2.3.2 Kategori Registrasi

Registrasi terdiri atas:

a. Registrasi Baru;

Registrasi Baru adalah Registrasi untuk Obat yang belum mendapatkan Izin

Edar di Indonesia.

b. Registrasi Variasi;

Registrasi Variasi adalah Registrasi perubahan pada aspek administratif,

khasiat, keamanan, mutu, dan/atau Informasi Produk dan Label Obat yang

telah memiliki Izin Edar di Indonesia. Registrasi variasi terdiri dari :

1. Registrasi Variasi Major: Registrasi Variasi yang berpengaruh bermakna

terhadap aspek khasiat, keamanan dan/atau mutu Obat.

2. Registrasi Variasi Minor: Registrasi Variasi yang tidak termasuk kategori

Registrasi Variasi Major maupun Registrasi Variasi Notifikasi.

3. Registrasi Variasi Notifikasi: Registrasi Variasi yang berpengaruh

minimal atau tidak berpengaruh sama sekali terhadap aspek khasiat,

keamanan, dan/atau mutu Obat, serta tidak mengubah informasi pada Izin

Edar (Menkes RI, 2017).

c. Registrasi Ulang.

Registrasi Ulang adalah Registrasi perpanjangan masa berlaku Izin Edar

(Menkes RI, 2017).

2.3.3 Masa Berlaku Izin Edar

Masa berlaku izin edar yaitu :

a. Izin edar dan persetujuan khusus ekspor berlaku paling lama 5 (lima) tahun

selama memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

44
b. Dalam hal izin edar tidak diregistrasi ulang, obat tidak dapat diproduksi

dan/atau diedarkan, dan yang sudah beredar wajib dilakukan penarikan

kembali.

c. Dikecualikan dari ketentuan, untuk registrasi obat berdasarkan perjanjian/

penunjukan dengan masa kerja sama kurang dari 5 (lima) tahun, masa berlaku

izin edar sesuai dengan masa berlaku kerja sama dalam dokumen perjanjian.

d. Obat yang telah habis masa berlaku Izin Edarnya dapat diperpanjang selama

memenuhi kriteria (Menkes RI, 2017).

Obat yang mendapat izin edar harus mendapat kriteria sebagai berikut :

a. Khasiat yang meyakinkan dan keamanan yang memadai dibuktikan melalui

uji nonklinik dan uji klinik atau bukti-bukti lain sesuai dengan status

perkembangan ilmu pengetahuan

b. Mutu yang memenuhi syarat sesuai dengan standar yang ditetapkan, termasuk

proses produksi sesuai dengan CPOB dan dilengkapi dengan bukti yang sahih

c. Informasi Produk dan Label berisi informasi lengkap, objektif dan tidak

menyesatkan yang dapat menjamin penggunaan Obat secara tepat, rasional

dan aman

d. Khusus untuk Psikotropika baru, harus memiliki keunggulan dibandingkan

dengan Obat yang telah disetujui beredar di Indonesia

e. Khusus Obat program kesehatan nasional, harus sesuai dengan persyaratan

yang ditetapkan oleh instansi pemerintah penyelenggara program kesehatan

nasional (Menkes RI, 2017).

45
2.3.4 Dokumen Registrasi

Dokumen registrasi meliputi :

a. Bagian I : dokumen administratif, Informasi Produk dan Label.

b. Bagian II : dokumen mutu.

c. Bagian III : dokumen nonklinik.

d. Bagian IV : dokumen klinik.

Dokumen registrasi merupakan dokumen rahasia yang dipergunakan

hanya untuk keperluan evaluasi oleh yang berwenang (Menkes RI, 2017).

46
BAB III

TINJAUAN KHUSUS INDUSTRI VARIA SEKATA

3.1 Sejarah

Pada tahun 1969, firma Apotik VARIA yang beralamat di Jalan Jenderal

Gatot Subroto No. 184 C Medan, telah memproduksi obat-obat suntik terutama

yang mengandung vitamin. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan karena

pada saat itu belum ada peraturan yang melarang ataupun yang mengatur tentang

pembuatan obat. Pada tahun 1970, Departemen Kesehatan R.I.c.q. Directorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, mengeluarkan Surat Edaran yang

isinya: “Setiap perusahaan yang akan memproduksi obat harus berbadan hukum

berbentuk Perseroan Terbatas (PT), mendapat ijin dari pemerintah dalam hal ini

Departemen Kesehatan R.I.c.q Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan

Makanan”.

Pemerintah memberikan tenggang waktu selama 3 (tiga) tahun untuk

pemberlakuannya guna memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan

yang berminat untuk mempersiapkan diri mendirikan Perseroan Terbatas (PT),

mempersiapkan semua fasilitas produksi dan mengurus penyelesaian ijinnya dari

Pemerintah. Berdasarkan Akte No.25 Tanggal 18 September 1973 yang dibuat

oleh Malem Ukur Sembiring, Sarjana Hukum Notaris di Medan, didirikanlah PT.

VARIA PHARMACEUTICAL LABORATORIES (disingkat PT. VARMA),

yang kemudian berdasarkan akte No. 52 tanggal 29 Januari 1974 yang dibuat juga

oleh Malem Ukur Sembiring, Sarjana Hukum, Notaris di Medan, diadakan

perubahan nama dari VARIA PHARMACEUTICAL LABORATORIES (PT.

VARMA).

47
Menjadi PT. VARIA SEKATA PHARMACEUTICAL LABORATORIES

(PT. VARSE), guna mendapatkan pengesahan dari Departemen Kehakiman RI

pada nama PT. Ini dipakai nama VARIA karena modal dan sejarah produksi obat

suntik tersebut berasal dari Fa. Apotik Varia. Sedangkan SEKATA, berasal dari :

SE-munya yang ada adalah ciptaan Tuhan dan milik-Nya. Kami adalah manusia

mahluk ciptaan-Nya yang tertinggi, berusaha dengan pengetahuan dan

kemampuan kami, mengolah hasil ciptaan-Nya untuk kepentingan manusia.

Tunjukkanlah kepada kami jalan terbaik dan bimbinglah kami dalam usaha kami

mengolah hasil ciptaan Tuhan tersebut, sehingga tidak pernah terjadi kesalahan.

Ampunilah kami Tuhan, ika dala kekurangan kami tanpa sengaja kami berbuat

kesalahan.

Sejalan pula dengan tuntutan kemajuan zaman, pemerintah dalam hal ini

Menteri Kesehatan RI mengeluarkan SK No.43/Men./Kes./SK/II/1988. Tanggal

02 Februari 1988, tentang pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

bagi semua pabrik farmasi di Indonesia dan diberikan kesempatan untuk berbenah

diri sampai 01 April 1991.

Untuk memenuhi persyaratan CPOB tersebut, dengan pertimbangan

pengobatan udara yang masuk kedalam ruangan produksi dan pengotoran udara

dari udara yang keluar dari ruang produksi dan juga dihubungkan dengan

penanganan limbah cair dan limbah padat, maka diputuskanlah bahwa industri

farmasi PT. VARASE yang selama ini berlokasi di Jalan Jenderal Jamin Ginting

Km 19,5 Pancur Batu, Medan-Kabanjahe.

48
Pada lokasi baru tersebut, telah dikeluarkan ijin oleh Menteri Kesehatan cq

Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No. PO.01.01.2.0725 tanggal

17 Maret 1997 dimana tercantum :

1. Bidang Usaha : Industri Farmasi

2. Jenis Industri : Formulasi Obat

3. N P W P : 01-100-483-5-125.000

4. Lokasi Industri : Jl. Jenderal Jamin Ginting Km. 19,5 Pancur Batu,

Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.

5. Kantor Pemasaran : Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 184 C Medan

Sertifikat CPOB yang telah dikeluarkan oleh Direktur Jenderal

Pengawasan Obat dan Makanan adalah :

1. Tablet Nonbetalaktam, No.5601/CPOB//XII/19 tanggal 30 Desember 2019.

2. Kapsul keras Nonbetalaktam, No.5602/CPOB/A/XII/19 tanggal 30 Desember

2019.

Dengan catatan tambahan, kami tetap berusaha menambah produk untuk

setiap jenis obat yang telah memiliki sertifikat CPOB dan pada masa yang akan

datang juga diusahakan memproduksi obat-obatan golongan betalaktam dan

golongan obat-obat steril lainnya. Untuk sementara PT. VARSE belum

mempunyai fasilitas produksi untuk membuat obat-obatan dalam kapsul untuk

golongan betalaktam dan obat-obat steril, maka PT. VARSE melakukan

“Toolmanufacturing” ke pabrik-pabrik yang sudah memiliki CPOB untuk itu

antara lain ke PT. Lucas Jaya di Bandung. Demikianlah sejarah singkat berdirinya

PT. VARIA SEKATA dengan motto : BAKTI KAMI MELALUI OBAT.

49
3.2 Visi dan Misi

3.2.1 Visi

Adapun visi perusahaan PT. Varia Sekata Pancur Batu adalah menjadi

perusahaan farmasi utama dan berdaya saing di Indonesia.

3.2.2 Misi

Adapun misi dari perusahaan ini adalah menyediakan dan menyalurkan

obat kesehatan yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta

mengembangkan sumber daya manusia perusahaan untuk meningkatkan kopetensi

dan komitmen guna pengembangan perusahaan serta berperan aktif dalam

pengembangan industri farmasi.

3.3 Lokasi

PT.VARSE (Varia Sekata) berada di Jalan Jenderal Jamin Ginting Km

19,5 Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.

3.4 Struktur Organisasi

50
3.4 Struktur Organisai

Struktur Organisasi Perusahaan merupakan salah satu faktor penting yang

mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Dengan

adanya struktur organisasi perusahaan maka akan kelihatan pembagian tugas dan

tanggung jawab untuk memudahkan dalam menuntun dan mengawasi pelaksanaan

kegiatan perusahaan. Dalam struktur organisasi perusahaan yang baik terdapat

pemisahan fungsi dan tanggung jawab dari pelaksanaan perusahaan serta akan

terlihat secara tegas garis wewenang dari atasan kepada bawahan. Organisasi

perusahaan dibentuk oleh manusia untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Organisasi perusahaan memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan,

pengendalian dan pemantauan aktivitas.

Pengembangan struktur organisasi mencakup pembagian wewenang dan

pembebanan tanggung jawab di dalam suatu organisasi perusahaan dalam

mencapai tujuan organisasi. Penyusunan struktur organisasi perusahaan harus pula

didasari pertimbangan bahwa organisasi itu harus fleksibel dalam arti

51
memungkinkan adanya penyesuaian-penyesuaian tanpa harus mengadakan

perubahan total. Organisasi perusahaan yang disusun juga harus dapat

menunjukkan garis wewenang dan tanggung jawab yang jelas. Struktur organisasi

di perusahaan berbentuk garis dan staf, ini terbukti dengan adanya satu pimpinan.

Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama dengan menggunakan

dan alat-alat dan teknologi serta terikat dengan peraturan-peraturan lingkungan

tertentu supaya dapat mengarahkan pada pencapaian tujuan yang diinginkan

perusahaan. Struktur organisasi PT. Varia Sekata menetapkan Sistem Hubungan

dalam organisasi yang memungkinkan tercapainya koordinasi dan pengintegrasian

segenap kegiatan organisasi baik kearah vertikal maupun horizontal. Adapun

bagan struktur organisasi pada perusahaan.

3.5 Personalia

Untuk mendukung kegiatan operasional, PT. Varia Sekata memerlukan

personil yang memiliki ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya, terampil dan

terlatih, disiplin, jujur dan mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi akan

pentingnya CPOB.

Dalam rangka memenuhi persyaratan CPOB, langkah-langkah yang

diambil PT. Variia Sekata Medan di bidang personalia adalah dengan cara

mengutus pimpinan atau staf untuk mengikuti pelatihan mengenai CPOB.

Selanjutnya, pimpinan atau staf tersebut memberikan bimbingan dan pelatihan

tentang CPOB kepada karyawan sehingga kegiatan perusahaan akan memenuhi

ketentuan CPOB.

Berdasarkan jenjang pendidikannya, personil PT. Varia Sekata terdiri dari

Apoteker, S-1,dan SMA, yang dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:

52
Tabel 3.1 Personil PT Varia Sekata

No. Jenjang Pendidikan Jumlah (Orang)


1 Apoteker 5 orang
2 Sarjana Farmasi 2 orang
3 Sarjana Kimia 1 orang
4 Sarjana Teknik 2 orang
5 SMA 15 orang

3.6 Sarana dan Prasarana Fisik

Sarana dan prasarana fisik PT. VARSE mencakup ;

1. Bangunan Utama

Ada beberapa bangunan utama di PT. VARSE, yaitu : kantor, gudang, ruang

produksi dan laboratorium QC.

a. Kantor terdiri dari :

1) Ruang keuangan, ruang administrasi, ruang tamu

2) Ruang Direktur Utama

3) Ruang Pertemuan

4) Ruang bagian personalia

5) Ruang manajer, yaitu ruang manajer produksi, manajer QC dan

manajer QA.

6) Ruang administrasi produksi

7) Ruang QA, QC, locker.

b. Gudang yang terdiri atas :

1) Gudang bahan baku. Didalam gudang ini terdiri dari ruangan seperti

ruang kepala gudang bahan baku, ruang karantina, ruang penyimpanan

bahan baku sejuk, ruang sampling dan ruang sejuk.

53
2) Gudang bahan kemasan. Didalam gudang ini terdiri dari ruangan

seperti ruang kepala gudang bahan kemasan, ruang etiket dan brosur

serta ruang reject.

3) Gudang obat jadi. Didalam gudang ini terdiri dari ruangan seperti ruang

kepala gudang obat jadi, ruang karantina, ruang tempat obat jadi yang

diluluskan dan ruang obat kembalian.

2. Lantai

Lantai ruang produksi terbuat dari beton yang dilapisi epoksi dan sudut ruang

berbentuk lengkungan. Lantai mempunyai permukaan yang rata, mudah

dibersihkan, tidak menahan partikel, tahan terhadap gesekan, deterjen,

desinfektan dan bahan kimia.

3. Dinding

Dinding ruang terbuat dari beton yang dilapisi dengan bahan cat berkualitas

tinggi dan sebagian acrylic, sehingga permukaan dinding menjadi licin, rata,

kedap air, mudah dibersihkan, tahan terhadap bahan kimia, deterjen,

desinfektan, tidak menahan partikel, serta tidak menjadi tempat sarangnya

binatang kecil.

4. Langit-langit

Langit-langit ruang terbuat dari beton yang dilapisi gypsum dengan

permukaan-permukaan langit-langit dicat dengan cat berkualitas tinggi sesuai

persyaratan CPOB (licin dan rata, kedap air, mudah dibersihkan), tahan

terhadap bahan kimia, deterjen, desinfektan dan tidak menahan partikel.

5. Pengaturan Udara

Aliran udara yang digunakan Air Handling System (AHS). Supply udara yang

akan disalurkan ke dalam ruangan produksi berasal dari 2 sumber, yaitu

54
berasal dari udara yang disirkulasi kembali (sebanyak 80%) dan berasal dari

udara bebas (sebanyak 20%). Supply udara tersebut melewati filter yang

terdapat di dalam filter house yang terdiri dari prefiltery yang memiliki

efisiensi penyaring sebesar 35%, medium filter yang memiliki efisiensi

penyaringan sebesar 95% dan HEPA filter dengan efisiensi 99,9995%.

Selanjutnya, supply udara melewati coolingcoil (evaporator) yang akan

menurunkan suhu (T) dan kelembaban relatif (RH) udara. Kemudian udara

dipompa dengan menggunakan staticpressurefan (blower) ke dalam ruang

produksi melalui ducting (saluran udara).

Jumlah udara yang masuk ke dalam ruangan produksi diatur dengan

menggunakan volume dumper. Selanjutnya udara disirkulasi kembali ke AHS.

Kecepatan pertukaran udara dalam ruangan produksi beta laktam maupun

nonbetalaktam 20 kali per jam.

a. Laboratorium QC

b. Bangunan Teknik

c. Bangunan R & D

d. Sarana Penunjang lain

Sarana penunjang lain seperti Air Handling Unit (AHU), Generasi Diesel,

Listrik dan Kompresor.

3.7 Penerapan CPOB PT. VARIA SEKATA

CPOB adalah bagian dari Pemastian Mutu yang memastikan bahwa obat

diproses dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang

sesuai tujuan penggunaan, serta dipersyaratkan dalam izin edar maupun

spesifikasi CPOB mencakup seluruh aspek dan pengendalian mutu. Sistem CPOB

adalah untuk penggendalian menyeluruh dan sangat esensial menjamin bahwa

55
konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Pembuatan secara sembarangan

tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa,

memulihkan atau memelihara kesehatan. Dimana prinsipnya bahwa mutu harus

dibentuk kedalam produk tersebut. Mutu obat tergantung pada bahan awal, bahan

pengemas, proses produksi dan pengendalian mutu, bangunan, peralatan yang di

pakai dan personil yang terlibat.

CPOB yang terdapat di PT. MUTIARA MUKTI FARMA (MUTIFA) ada 8 yaitu:

1. Tablet Biasa dan Tablet salut non-betalaktam

2. Serbuk obat luar non-betalaktam

3. Kapsul keras non-betalaktam

4. Cairan obat luar non-betalaktam

5. Cairan oral non-betalaktam

6. Semi solid non-betalaktam

7. Tablet biasa antibiotik penisilin dan turunannya

8. Cairan oral antibiotik penisilin dan turunannya

3.8 Persyaratan Dasar CPOB

1. Semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, dikaji secara sistem

matis berdasarkan pengalaman, serta terbukti mampu secara konsisten

menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan mutu dan spesifikasi yang

telah ditetapkan.

2. Tahap proses yang kritis dalam pembuatan, pengawasan proses dan sarana

penunjang serta perubahannya yang signifikan yang divalidasi.

3. Tersedia semua sarana yang diperlukan dalam CPOB termasuk:

a. Personil yang terkualifikasi dan terlatih.

56
b. Bangunan dan sarana dengan luas yang memadai.

c. Peralatan dan sarana penujang yang sesuai.

d. Bahan, wadah, dan label yang benar.

e. Prosedur tervalidasi dan instruksi yang disetujui.

f. Tempat penyimpanan, dan tranportasi yang memadai.

4. Prosedur dan instruksi ditulis dalam bentuk instruksi dengan bahasa yang

jelas, tidak bermakna ganda, dapat diterapkan secara spesifik pada sarana

yang tersedia.

5. Operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur secara benar.

6. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama

pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan

dalam prosedur, dan instruksi yang diciptakan benar-benar dilaksanakan lalu

jumlah serta mutu produk yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan.

Tiap penyimpanan dicatat secara lengkap dan di investigasi.

7. Catatan pembuatan termasuk distribusi yang memungkinkan penelusuran

riwayat bets secara lengkap, disimpan secara komprehensip, dan dalam

bentuk yang mudah di akses.

8. Penyimpanan dan distribusi obat yang dapat memperkecil resiko terhadap

mutu obat.

9. Tersedia sistem penarikan kembali bets obat maupun dari peredaran.

3.9 Keterlibatan Dalam Produksi

Yang dimaksud dengan produksi adalah semua kegiatan mulai dari

penerimaan bahan awal, pengolahan, sampai dengan pengemasan untuk

menghasilkan obat jadi. Selama proses produksi berlangsung harus dilakukan

57
pengawasan selama proses atau yang disebut dengan In Proces Control baik

terhadap produk antara maupun produk ruahan dari tiap tahap produksi. Bagian

pengawasan mutu akan melakukan In Proces Control setelah seksi bagian

produksi membuat permohonan pemeriksaan produk antara maupun produk

ruahan yang sedang diperiksa, apabila tidak memenuhi persyaratan yang telah

ditetapkan diberi label merah dan tidak boleh diteruskan sebelum persyaratan

yang ditentukan atau bahan tersebut akan dimusnahkan jika tidak memungkinkan

untuk diproses ulang. Sedangkan produk yang diperiksa atau yang berstatus

karantina diberi label kuning, dan jika lulus dari pemeriksaan akan diberi label

hijau dan dapat diteruskan ke proses selanjutnya.

Tugas dan fungsi bagian produksi PT. VARIA SEKATA antara lain

sebagai berikut:

1. Melaksanakan pembuatan obat sesuai dengan process order (PO), mulai dari

permintaan bahan baku ke gudang, penimbangan, pengolahan, pengemasan

sampai pengiriman obat ke gudang obat jadi sesuai dengan prosedur yang

tertulis pada prosedur tetap (protap).

2. Melaksanakan secara teknis dan administratif semua tugas selama pengolahan

dan pengemasan dengan berpedoman kepada prosedur tetap yang telah

ditetapkan.

3. Melaksanakan dokumentasi atas semua tindakan yang dilakukan selama

proses pengolahan dan pengemasan dengan berpedoman pada protap.

Sebelum dimulainya kegiatan produksi, petugas yang terlibat dalam

kegiatan produksi ataupun yang memasuki area produksi harus memakai pakaian

bersih, penutup kepala, mulut, alas kaki khusus dan sarung tangan.

58
Sasaran utama yang harus dicapai oleh bagian produksi antara lain:

1. Menghasilkan produk yang diminta sesuai dengan jumlah yang ditetapkan

secara efektif dan efisien.

2. Memenuhi dan menyerahkan permintaan sesuai dengan jumlah dan waktu

penyerahan yang diminta.

Sebelum proses berlangsung ada beberapa hal yang perlu dipersiapan yang

agar produksi dapat berjalan lancar dan menghasilkan suatu produk sesuai dengan

yang diharapkan.

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum memulai kegiatan produksi

adalah sebagai berikut:

1. Area produksi harus tetap terjaga kebersihan, di mana kegiatan pembersihan

dilakukan sebelum dimulai kegiatan produksi dan sesudah selesai kegiatan

produksi dan juga tidak ada sisa produk, label dari produk sebelumnya di

ruang produksi.

2. Peralatan yang digunakan dipastikan selalu dalam keadaan bersih sebelum

dan sesudah dilakukan kegiatan produksi.

3. Suhu dan kelembaban serta tekanan ruangan produksi telah sesuai dengan

kualifikasi ruangan.

4. Area produksi harus mendapat penerangan dan pertukaran udara yang cukup

agar kegiatan produksi berjalan lancar.

5. Pelaksana produksi harus memberi label dan status yang jelas pada produk

yang diproses serta menempel label apabila telah selesai produksi.

6. Dokumen produksi seperti Catatan Pengolahan Bets (CPB) harus selalu

mengikuti produk yang diolah.

59
Sebelum proses produksi berlangsung, dibuat laporan proses produksi

yang bertujuan untuk dokumentasi, sehingga jika terjadi kekeliruan atau kesalahan

pada proses produksi, maka segera diketahui pada proses mana kesalahan terebut

terjadi dan dilakukan langkah-langkah untuk mengatasi pemasalahan tersebut.

Laporan proses produksi berguna untuk menghitung jam kerja yang diperlukan

dalam mengerjakan suatu bets sediaan. Laporan ini dibuat dan ditandatangani oleh

petugas yang melaksanakan tahapan proses produksi. Selama proses produksi

berlangsung harus dilakukan pengawasan selama proses atau yang disebut dengan

In Proces Control (IPC) baik terhadap produk antara maupun produk ruahan dari

tiap tahap produksi. Bagian pengawasan mutu akan melakukan In Proces Control

setelah seksi bagian produksi membuat permohonan pemeriksaan produk antara

maupun produk ruahan yang sedang diperiksa, diberi label kuning, dan jika lulus

pemeriksaan diberi label hijau, sehingga dapat diteruskan ke proses selanjutnya.

Produk yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan diberi label merah

dan tidak boleh diteruskan sebelum persyaratan yang ditentukan atau bahan

tersebut akan dimusnahkan jika tidak memungkinkan untuk diproses ulang.

Setelah tahap pengemasan selesai, obat jadi dikarantina dan kemudian dibuat

permohonan pemeriksaan kebagian pengawasan mutu untuk dilakukan Finished

Pack Analysis. Obat jadi yang lulus pemeriksaan selanjutnya diserahkan ke

gudang obat jadi.

3.10 Bagian Produksi PT. VARIA SEKATA

3.10.1 Unit Tablet

Unit ini dilengkapi dengan timbangan, mesin pencampuran bahan, mesin

pencetak tablet, mesin FBD (Fluid Bed Dryer), mesin coating, mesin strip dan

mesin blister. Hal-hal yang diperiksa selama produksi adalah keseragaman bobot,

60
waklu hancur, ketebalan, kekerasan, kadar zat berkhasiat, friabilitas, LOD (Loss

on Drying) dan disolusi.

Setiap tahapan proses pembuatan tablet dibuat dalam ruangan terpisah dari

ruangan penimbangan, pencampuran, produk ruahan dan pengemasan. Ruangan

produksi dengan gudang bahan baku dibuat sedemikian rupa saling berdekatan

sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat bahan baku dari gudang

bahan baku ke area produksi relatif cepat.

3.10.2 Unit Kapsul

Mesin-mesin yang digunakan pada produksi kapsul adalah mesin

pencampuran bahan, mesin pengisi kapsul dan oven. Pada produksi kapsul perlu

diperhatian kondisi ruangan yaitu temperatur dan kelembaban. Pengaturan

temperatur dengan memakai alat pendingin (AC) untuk mendapatkan temperatur

25ºC. Hal-hal yang diperiksa selama produksi adalah keseragaman bobot, kadar

zat berkhasiat, waktu hancur, disolusi dan LOD.

3.10.3 Unit Liquida

Untuk liquida memproduksi sedian bentuk cair seperti suspensi dan sirup.

Unit ini dilengkapi dengan mesin pencampuran dan mesin pengisi obat kedalam

wadah. Hal-hal yang diperiksa selama poduksi adalah pH, Berat Jenis (BJ)

larutan, keseragaman volume, viskositas larutan, kadar zat berkhasiat dan

kebocoran wadah.

3.11 Tinjauan Kebagian-Bagian Lain

3.11.1 Research and Development (R&D)

Research and Development (R&D ) di PT. VARIA SEKATA baru

dibentuk pada tahun 2008. R&D bertanggung jawab dalam menghasilkan produk-

produk baru di PT. VARIA SEKATA. Kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam

61
menghasilkan produk-produk baru tersebut adalah formulasi yang meyusun semua

protokol validasi maupun laporan validasi proses yang diperlukan di PT. VARIA

SEKATA. R&D menyusun protap untuk mengetahui stabilitas obat jadi. Kondisi

penyimpanan yang cocok dan tanggal kadaluarsa.

Pengujian stabilitas obat meliputi:

1. Jumlah contoh dan jadwal pengujian berdasarkan sifat zat yang diuji.

2. Kondisi penyimpanan.

3. Metode pengujian yang spesifik, bermakna dan handal.

4. Pengujian produk dengan kemasan produk yang dipasarkan.

5. Pada obat jadi untuk rekonstitusi, pengujian stabilitas dilakukan sebelum dan

sesudah rekonstitusi.

3.11.2 Quality Control (QC)

Tanggung jawab bagian pengawasan mutu antara lain:

1. Memeriksa bahan awal memenuhi spesifikasi yang ditetapkan untuk identitas,

kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanan.

2. Memeriksa setiap tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai prosedur

yang ditetapkan.

3. Memeriksa semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan selama proses

dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan

dan bets tersebut memilki spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusi.

Sistem pengawasan mutu harus di rancang dengan tepat untuk menjamin

bahwa tiap obat mengandung bahan dengan mutu yang benar dan jumlah yang

tepat sesuai dengan prosedur, sehingga obat tersebut senantiasa memenuhi

spesifikasi yang telah ditetapkan.

62
Laboratorium pengawasan mutu di PT. VARIA SEKATA bagi atas

laboratorium kimia dan laboratorium mikrobiologi. Kedua laboratorium tersebut

dalam ruangan yang terpisah dan memiliki alat pengujian masing masing. Selain

itu, ruang penimbangan, ruang penyimpanan bahan dan ruangan instrumen

dipisahkan secara tersendiri. Terdapat ruangan khusus untuk instrumen

Spektrofotometer dan ruang High Permance Liquid Chromatography (HPLC) dan

terdapat juga lemari asam yang memiliki sistem penghisap udara tersendiri.

Sarana Pemeriksaan Laboratorium di PT. VARIA SEKATA antara lain:

a. HPLC 4 unit

b. Spektrofotometer 1 unit

c. Dissolution tester 1 unit

d. Friabilator tester 2 unit

e. Sonikator 1 unit

f. PH Meter2 unit

g. Leakness Teaster 1 unit

h. Uji waktu Hancur2 unit

i. LOD1 Unit

j. Melting Point

k. Coloni Counter

l. Biologycal Safety Cabinet

m. Alat Gelas Laboratorium

Sampah dan sisa bahan laboratorium QC dibuang pada tempat yang sudah

disediakan. Bahan beracun dan bahan yang mudah terbakar disimpan pada tempat

khusus dan tempat terpisah. Limbah yang dihasilkan dari bagian QC dibuang ke

Instalasi Pengolahan Air Limbah di PT Varia Sekata. Personil bagian QC terdiri

63
dari Apoteker dan analisis yang terdidik, terlatih serta berpengalaman di

bidangnya. Tugas dan wewenang personil diterangkan dalam protap yang

disimpan oleh personil yang bersangkutan. Tiap personil menggunakan pakaian

jas laboratorium, masker dan sarung tangan yang diperlukan untuk tugasnya.

Peralatan laboratorium uji disesuaikan dengan prosedur pengujian. Dibuat protab

untuk pengoperasian dan peralatan serta dilekatkan pada dinding yang berdekatan

dengan peralatan yang bersangkutan. Perawatan dan kalibrasi peralatan dilakukan

secara rutin dan didokumentasikan. Terdapat penandaan yang jelas tentang

keadaan peralatan apakah berfungsi baik atau tidak. Tanggal dan waktu kalibrasi

selanjutnya tertera pada instrumen dengan jelas.

Penerimaan dan pembuatan pereaksi serta media biakan dicatat dalam

buku khusus. Pembuatan pereaksi dilakukan di laboratorium berdasarkan petunjuk

pembuatan yang tertulis dan setiap pereaksi diberi label yang sesuai seperti

konsentrasi, faktor standarisasi, batas waktu penggunaan, tanggal standarisasi

ulang, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan dan tanda tangan petugas

pembuat. Prosedur pengujian yang akan digunakan terlebih dahulu divalidasi

dengan memperhatikan fasilitas dan peralatan yang ada. Spesifikasi dan prosedur

pengujian untuk setiap bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi

memuat ketentuan dan cara pemeriksaan serta pengujian identitas, kemurnian,

kualitas dan kadar (potensi).

Prosedur pengujian memuat:

1. Jumlah contoh yang diperlukan

2. Banyaknya pereaksi yang digunakan untuk pengujian

3. Alat atau instrumen yang digunakan

64
4. Rumus perhitungan yang digunakan

5. Range yang diperbolehkan

6. Referensi yang digunakan sebagai acuan.

Pengujian dilakukan mengikuti instruksi pada prosedur pengujian untuk

masing-masing bahan atau produk dan diperiksa oleh supervisor. Catatan analisa

meliputi:

1. Nama dan nomor bets

2. Nama petugas yang mengambil contoh

3. Metode analisa yang digunakan

4. Perhitungan dalam unit ukuran, rumus yang digunakan dan range yang

diperbolehkan

5. Kesimpulan (diterima atau ditolak)

6. Tanggal dan tanda tangan petugas yang melakukan pengujian

7. Nama pemasok, jumlah keseluruhan dan jumlah bahan awal yang diterima

8. Jumlah keseluruhan, wadah, bahan baku, bahan pengemas, produk antara,

produk ruahan dan obat jadi dari bets yang dianalisa

9. Rujukan pustaka dari mana prosedur pengujian diambil

Untuk pertinggal diberi identitas yang jelas, mewakili tiap bets bahan baku

yang diterima dan obat jadi dalam kemasan lengkap disimpan dalam jangka waktu

tertentu (sampai batas waktu kadaluarsa plus 1 tahun) dengan kondisi yang sesuai

dengan label penandaan yang jelas. Jumlah sampel pertinggal adalah minimal

cukup digunakan untuk 2 kali pengujian lengkap.

Validasi yang dilakukan oleh PT. VARIA SEKATA antara lain:

1. Validasi metode analisa, bertujuan untuk mengetahui apakah metode

analisisnya sudah sesuai dengan tujuan penggunaanya.

65
2. Validasi proses terdiri dari komposisi/formula, spesifikasi bahan baku, bagan

alur proses, perlengkapan dan peralatan terkait, sistem penunjang, kondisi

ruangan, proses pembuatan dan parameter kritis, dokumentasi, stabilitas dan

pengemasan.

3. Validasi pembersihan, hanya dilakukan untuk permukaan alat yang

bersentuhan langsung dengan produk.

Spesifikasi ditetapkan sendiri oleh pabrik yang telah memenuhi

persyaratan yang ada dalam farmakope dan senantiasa direvisi secara rutin.

Spesifikasi dibuat dalam bentuk dokumen dan disimpan tersendiri yang meliputi:

1. Spesifikasi bahan baku

2. Spesifikasi bahan pengemas

3. Spesifikasi produk antara

4. Spesifikasi produk ruahan

5. Spesifikasi produk jadi.

Pengambilan sampel dilakukan terhadap sebagian kecil dari bets yang ada.

Sampel yang diambil hendaklah mewakili bets yang ada dan berdasarkan prosedur

tetap yang telah dibuat. Jumlah sampel yang diambil mengikuti rumus √𝑛 + 1.

Sampel bahan awal, produk antara, diambil secara acak mewakili tiap wadah

dengan menggunakan peralatan yang sesuai yang diambil pada proses awal,

tengah dan akhir. Pengambilan sampel dilakukan dengan tepat untuk mencegah

kontaminasi silang. Wadah untuk bahan sampel diberi label yang menunjukkan isi

wadah, nomor bets, tanggal pengambilan dan tanda bahwa sampel telah diambil

dari wadah tersebut, Pengambilan sampel bahan baku dilakukan pada tempat yang

bersih, dan dilakukan pemeriksaan awal terlebih dahulu sebelum pengambilan

sampel.

66
Bahan baku yang akan diuji telah dilengkapi dengan sertifikat analisis dari

produsen atau supplier, bahan pengemas dilihat dari segi fisiknya. Pengawasan

pada kemasan diperiksa oleh IPC sebelum kegiatan pengemasan berjalan, selama

proses berlangsung, dan pada produk akhir yang sudah dikemas. Untuk menjamin

keseragaman bets, sampel diambil mewakili setiap bets produk antara dan produk

ruahan untuk diuji identitas, kekuatan, kemurnian dan kualitasnya. Produk antara

dan produk ruahan yang ditolak diberi penandaan dan diawasi dengan sistem

karantina.

Setiap bets obat jadi dilakukan pengujian terhadap spesifikasi yang

ditetapkan, bets yang tidak memenuhi syarat, dilakukan penyelidikan dan

dilakukan pengujian ulang bersama bagian penelitian dan pengembangan. Bila

dilakukan pengolahan ulang, maka prosedur tersebut harus diperiksa dan disetujui

oleh bagian QA. Setiap bahan awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi

yang telah diuji dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan diberi label

“DILULUSKAN”

Setiap bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi telah

ditetapkan batas waktu penyimpanannya. Jika obat telah melewati batas waktu

penyimpanan, maka bagian QC akan melakukan pengujian ulang berdasarkan

tanggal pengujian ulang. Jika masih memenuhi syarat maka bahan diberi label

“DILULUSKAN”.

3.11.3 Quality Assurance (QA)

Pemastian mutu merupakan suatu konsep luas yang mencakup semua hal

baik secara tersendiri maupun secara kolektif, yang akan mempengaruhi mutu dari

obat yang dihasilkan. Pemastian mutu adalah totalitas semua pengaturan yang

67
dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat yang dihasilkan dengan mutu

yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.

Tugas-tugas bagian pemastian mutu mencakup:

1. Memantau kerja sistem mutu atau prosedur serta menilai efeksivitasnya

penekanan difokuskan pada pencegahan kerugian atau cacat dan realisasi

peluang perbaikan yang berkesinambungan.

2. Memastikan proses pemeriksaan sudah dilakukan dengan metode analisa

yang benar dan telah tervalidasi.

3. Menyiapkan prosedur dalam penerapan CPOB dalam pembuatan obat,

pengemasan, penyimpanan dan pengawasan mutu

4. Memastikan obat yang diproduksi aman selama masa edarnya.

5. Memastikan pemenuhan mutu peraturan-peraturan pemerintah dan standar

perusahaan.

6. Melaksanakan inspeksi diri dan menyelenggarakan pelatihan CPOB.

7. Menyetujui Protap dan mengelola system protap.

8. Melakukan penilaian terhadap keluhan teknik farmasi dan mengambil

keputusan serta tindakan atas hasil penilaian, bila perlu bekerja sama dengan

bagian lain.

9. Memastikan penyelenggaraan validasi, proses pembuatan dan sistem

pelayanan.

10. Memantau penyimpangan bets.

11. Mengawasi system pengendalian perubahan dan menyetujui perubahan.

12. Menyetujui Prosedur Pengolahan Induk dan prosedur pengemasan Induk.

13. Menyetujui atau menolak pasokan bahan baku.

68
14. Bertanggung jawab dalam pelulusan atau penolakan obat jadi sesuai protap

terkait.

3.11.4 Produksi

Ruangan produksi dengan gudang bahan baku, gudang bahan kemasan,

dan gudang obat jadi, dibuat sedemikian rupa sehingga waktu yang dibutuhkan

untuk mengangkut bahan baku ke ruang produksi, bahan kemasan ke ruang

pengemasan, obat jadi dari ruang karantina ke gudang obat jadi relatif singkat dan

tidak melalui ruang produksi lainnya sehingga kemungkinan terjadinya

pencemaran silang dapat dihindari.

3.11.5 Gudang

Gudang bertugas melaksanakan penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan

bahan baku, kemasan, dan sediaan jadi. Gudang melaksanakan penyimpanan dan

pengeluaran bahan baku, sediaan jadi dan kemasan dengan memakai prinsip FIFO

(First In First Out) maupun FEFO (First Expired First Out). Gudang terbagi 3

yaitu gudang bahan baku, gudang sediaan jadi dan gudang kemasan yang dibuat

dengan sistem satu pintu. Pelaksanaan kegiatan di gudang adalah menerima,

menyimpan, memelihara, menyalurkan bahan baku, bahan sediaan dan kemasan

serta melaksanakan administrasi, penyimpanan, penyaluran sesuai peraturan dan

ketentuan yang berlaku.

Proses masuknya bahan baku ke gudang adalah sebagai berikut:

1. Bahan dipesan menggunakan Surat pesanan (SP).

2. Selanjutnya bahan baku yang masuk ke gudang harus disertai dengan

Certificate of Analysis (CoA) dan disesuaikan dengan SP.

3. Lalu diperiksa kondisi fisik dari bahan tersebut.

69
4. Bon faktur ditanda tangani oleh kepala gudang, lalu diserahkan ke kasir

industri.

5. Bahan baku yang masuk tersebut langsung dibuat Bukti Barang Masuk

(BBM).

Selanjutnya bahan dikarantina untuk di analisis lebih lanjut. Barang yang

belum diperiksa atau dalam tahap pemeriksaan diberi label karantina. Label

karantina diberi warna kuning berisi nama barang, jumlah, nomor bets tanggal

diterima, unit penerimaan dan tanda tangan. Barang yang diluluskan diberi label

“diluluskan” berwarna hijau, serta berisi nama barang, tanggal diterima, jumlah,

pembuat atau penyalur nomor bets asal dan data yang diisi oleh unit Quality

Control (QC) (tanggal tes, nomor lot, tanda tangan dan tanggal kadaluarsa),

barang yang diambil sampelnya untuk dilakukan pemeriksaan maka diberi label

berwarna putih, sedangkan barang yang ditolak diberi label “ditolak” yang

berwarna merah dan berisi nama barang, jumlah, nomor bets, tanggal diterima,

dan tanda tangan bagian QC.

Bahan baku atau kemasan dianalisis oleh unit Quality Control (QC)

setelah menerima Surat Pengiriman contoh bahan baku atau kemasan. Unit ini

bertugas memberikan persetujuan atau penolakan terhadap bahan baku dan

kemasan berdasarkan hasil analisis. Bahan baku atau kemasan yang diluluskan

oleh unit Quality Control (QC) akan diberi label hijau (di luluskan) ditempel di

atas label kuning (karantina) dan ditempatkan di area penyimpanan. Bahan baku

atau kemasan yang ditolak oleh unit Quality Control (QC) akan merobek label

“karantina” dan ditempelkan label “ditolak” yang berwarna merah serta

menempatkannya diarea ditolak. Khusus bahan baku dan kemasan yang ditolak,

70
unit Quality Control (QC) harus membuat surat penolakan kepada pemasok

dengan menyebutkan alasan penolakan. Barang yang sesuai dengan spesifikasi

atau persyaratan selanjutnya disimpan di gudang obat jadi atau bahan baku dan

dibuat berita acara penerimaan barang.

Bahan baku, sediaan jadi, maupun kemasan yang disimpan di gudang

memiliki kartu stock yang berfungsi sebagai kontrol dan memudahkan

pemeriksaan jika ada kekeliruan. Penyimpanan bahan baku disusun berdasarkan

jenis bahan baku, sedangkan untuk bahan baku cair disimpan terpisah. Untuk

penyimpanan kemasan disusun berdasarkan bentuk dan jenisnya sehingga mudah

dalam pengambilan maupun penyusunannya. Bahan baku dan kemasan yang tidak

tahan pada suhu kamar, disimpan pada ruangan khusus yang dilengkapi dengan

AC.

Masuknya obat jadi atau sediaan jadi digudang obat jadi diserahkan oleh

kepala limit kemasan sekunder kepada kepala gudang obat jadi, kemudian kepala

gudang obat jadi membuat surat Bukti Penyerahan Hasil Produksi (BPHP) yang

menerangkan nama obat jadi, kemasan, jumlah, nomor bets yang ditanda tangani

oleh kepala gudang obat jadi. Penyimpanan sediaan jadi berdasarkan bentuk

sediaan guna memudahkan dalam pencarian. Jadi untuk proses administrasi

masing-masing kepala gudang membuat laporan masuk atau keluar bahan baku,

obat jadi dan kemasan secara komputerisasi maupun manual.

3.11.6 Limbah

3.11.6.1 Limbah Non Betalaktam

Pengolahan limbah di industri PT, MUTIFA ada 4 jenis yaitu limbah cair,

limbah padat, limbah udara dan limbah suara.

71
1. Limbah cair

Sumber limbah cair berasal dari air cucian di ruang produksi dan air cucian

alat-alat di laboratorium. Limbah cair yang langsung dibuang akan

menyebabkan pencemaran lingkungan. Untuk itu limbah cair tersebut perlu

diolah lebih lanjut agar tidak memberikan dampak negatif.

Proses pengolahan limbah cair, yaitu:

a. Limbah cair yang dikeluarkan ditampung dalam bak penampungan

selanjutnya dialirkan ke bak netralisasi.

b. Pada bak netralisasi kalau perlu ditambahkan air kapur untuk

menetralkan limbah cair yang dikeluarkan. Selanjutnya limbah cair yang

telah netral dialirkan ke bak sedimentasi.

c. Pada bak sedimentasi, terjadi proses pengendapan. Didalam bak ini

terdapat sekat-sekat yang menghambat laju lairan air sehingga reaksi

pengendapan berlangsung lama. Selanjutnya limbah cair akan dialirkan

ke bak koagulasi dan flokulasi.

d. Pada bak koagulasi dan flokulasi dilakukan penambahan koagulan dan

flokulan, koagulan akan membantu mengendapkan partikel-partikel yang

sangat halus yang terdapat dalam air limbah dan flokulan akan membantu

mengendapkan endapan yang masih terbawa sehingga akan terbentuk

flok-flok yang akan diendapkan pada bak sedimentasi kedua.

e. Pada bak sedimentasi kedua ini terjadi proses pengendpatan dan dapat

dilihat perubahan warna cairan dari keruh menjadi agak jernih. Setelah

dari bak sedimentasi limbah cair akan dialirkan ke bak aerasi.

f. Pada bak aerasi cairan limbah dialirkan dengan menggunakan aerator

yang bertujuan untuk menginjeksikan oksigen ke dalam bak tersebut

72
supaya oksigen yang diinjeksikan tersebut dapat melakukan penguraian

bahan-bahan organik yang terdapat dalam limbah cair tersebut. Pada

bakini juga terdapat bakteri aerob yang berguna untuk menguraikan zat-

zat seperti gula yang terdapat pada obat.

g. Dari bak aerasi, limbah mengalir ke bak sedimentasi. Limbah cair

diendapkan dan selanjutnya mengalir ke bak biokontrol. Sebelum

dialirkan ke bak biokontrol ada penambahan sedikit kaporit untuk

membunuh bakteri patogen atau untuk menghilangkan zat-zat yang

masih tersisa, dan juga untuk menjernihkan air.

h. Pada bak biokontrol dilakukan pengujian terhadap hasil pengolahan

limbah cair tersebut berupa nilai BOD (Biological Oxygen Demand) dan

COD (Chemical Oxygen Demand) TSS, TDS, pH secara periodik.

i. Dari bak biokontrol limbah cair dibuang ke saluran pembuangan

Tolak ukur dipakai untuk pemantauan limbah cair adalah berdasarkan

baku mutu air limbah yang diisyaratkan dalam Surat Keputusan Menteri

Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 03/Men KLH/II/1991

seperti yang terdapat dalam tabel berikut:

Tabel 3.2. Tolak Ukur Pemantauan Limbah Cair PT. VARIA SEKATA

73
2. Limbah Padat

Limbah padat ini berasal dari:

a. Bekas kemasan bahan awal (bahan baku/bahan kemasan) seperti kertas,

kotak karton, wadah kayu/plastik kaca, drum dan kaleng.

b. Buangan proses produksi seperti tepung sisa proses, produk antara atau

ruahan yang rusak atau kotor, kemasan (alumunium foil, botol, dus dan

lain-lain)

c. Buangan bahan hasil pengujian laboratorium seperti tablet bekas pengujian

kekerasan, waktu hancur dan lain-lain.

d. Bahan awal yang rusak

e. Produk obat jadi yang rusak

f. Wadah bekas bahan produksi (plastik, tong rusak, dan lain-lain)

g. Limbah padat domestik

Tolak ukur yang dipakai untuk pemantauan limbah padat adalah kualitas

lingkungan atau kebersihan didalam area industri, dimana tidak didapat lagi

limbah padat yang berserakan dipabrik. Diagram sistem pengolahan limbah

padat di PT. VARIA SEKATA adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1 Diagram sistem pengolahan limbah padat di PT. VARIA SEKATA

74
3. Limbah Udara

Pencemaran udara adalah masuknya gas dan senyawa asing kedalam udara

sehingga menyebabkan kualitas udara menurun atau membahayakan

kehidupan makhluk hidup atau tidak sesuai lagi peruntukkannya.

Limbah udara ini berasal dari:

a. Gas, uap dan asap

▪ Bahan kimia/reagensia

▪ Bahan baku seperti amonia liquida, alcohol dan lain-lain

▪ Pembakaran zat padat

▪ Asap pembakaran sampah

b. Debu selama proses produksi

Tolak ukur yang dipakai untuk pemantauan limbah udara adalah kualitas

udara didalam dan diluar lingkungan pabrik, meliputi kadar NH2, SO2,

CO, NO2, TSP.

Sistem penanggulangan limbah udara antara lain tertera pada tabel berikut:

Tabel 3.3 Sistem penanggulangan limbah udara

4. Limbah Suara

Limbah suara ini berasal dari mesin produksi, genset, mesin sistem penunjang

(AHU, mesin boiler). Cara pengendalian limbah suara ini dapat diatasi

dengan menggunakan ear insert oleh pekerja. Tolak ukur yang digunakan

untuk pemantauan limbah suara adalah angka kebisingan dan getaran didalam

75
dan diluar area pabrik yang diukur sesuai dengan angka kebisingan

maksimum 65 dB dan getran maksimum 7,5Hz. Upaya pengelolaan

lingkungan adalah dengan menggunakan pelindung telinga yaitu berupa aer

plugs dan aer muffs.

3.11.6.2 Limbah Beta Laktam

Jenis limbah beta laktam dapat berupa limbah cair, padat, udara dan suara.

Limbah cair berasal dari gedung produksi beta laktam berupa pencucian alat atau

mesin. Limbah padat berupa wadah bekas bahan baku antibiotik beta laktam,

bahan baku beta laktam yang rusak, tong plastik, buangan bekas proses produksi

dan produk jadi antibiotik beta laktam yang rusak. Limbah udara berupa debu

produksi antibiotik beta laktam. Limbah suara berasal dari mesin produksi, genset,

mesin system,penunjang (AHU, mesin boiler).

1. Limbah Cair

Limbah cair yang berasal dari gedung beta laktam dialirkan ke bak atau

kolam perusakan cincin beta laktam dengan menggunakan larutan NaOH,

setelah itu dialirkan atau digabung dengan limbah cair non beta laktam di bak

penampungan dan seterusnya diolah bersama.

2. Limbah Padat

Limbah padat yang berupa wadah yang mengandung bahan antibiotik beta

laktam dicuci dan dibilas bersih dengan air bersih diruang pencucian didalam

gedung beta laktam. air pencucian tersebut merupakan limbah cair dari

gedung beta laktam yang dialirkan ke bak perusak cincin beta laktam,

sedangkan wadah yang telah dicuci dan dibilas bersih tersebut dikeluarkan

dari gedung beta laktam dan ditangani limbahnya seperti pada pengolahan

limbah padat non beta laktam.

76
2. Limbah Udara

Limbah udara berupa debu produksi disedot dan dikumpulkan oleh dust

collector.

3. Limbah Suara

Limbah suara sistem penanganannya sama dengan penanganan limbah suara

di non beta laktam.

3.11.7 Sistem Tata Udara (AHU/HVAC)

PT. VARIA SEKATA Medan memiliki sistem pengatur udara atau lebih

dikenal dengan Air Handling Unit (AHU) atau Heating, Ventilating, Air

Conditioning (HPAC). Ruang produksi dibagi menjadi 3 zona. Zona A untuk

tablet dan kapsul, zona B untuk koridor dan zona C untuk krim setiap unit

pengatur udara memilki 2 saluran udara yaitu saluran udara masuk (Inlet) dan

saluran udara keluar (Outlet). Udara masuk terdiri dari udara segar (Fresh Air) dan

udara sirkulasi (CirculationAir) dengan perbandingan 20%:80%. Udara yang

keluar merupakan udara kotor dari ruang produksi yang kemudian masuk ke

pengatur udara untuk dilakukan proses penyaringan. Ada 3 proses penyaringan

yaitu penyaringan awal (PreFilter), penyaringan medium (Medium Filter), dan

yang terakhir penyaringan partikulat udara berefisiensi tinggi (High Efficiency

Particulate Air Filter/HEPA Filter).

3.11.8 Sistem Pengolahan Air

Sumber air yang digunakan di PT. VARIA SEKATA berasal dari air

sumur dangkal. Air tersebut kemudian ditampung kedalam tangki dengan

kapasitas 11.000 L. Pengolahan air selanjutnya sebagai berikut:

1. Air disaring dengan menggunakan filter 25 μm, lalu dialirkan kedalam sand

filter, tujuannya adalah untuk menyaring partikel partikel yang terdapat

didalam air.

77
2. Kemudian air akan masuk kedalam carbon filter, tujuanya adalah untuk

menghilangkan bau, rasa dan warna yang terdapat di dalam air, air yang

keluar dari filter ini berupa air baku.

3. Kemudian air akan masuk kedalam resin penukar kation, tujuannya adalah

untuk menghilangkan ion-ion positif yang terdapat di dalam air.

4. Tahap selanjutnya air masuk kedalam resin penukar anion, tujuanya untuk

menghilangan ion-ion negatif yang terdapat didalam air.

5. Kemudian air akan masuk kedalam mixbed, tujuanya adalah untuk menyaring

kembali kation anion yang masih mungkin terdapat di dalam air, air yang

keluar dari mixbed ini merupakan air demineralisata dengan konduktivitas

maksimal 20s.

6. Tahap selanjutnya air dimurnikan menggunakan sistem reverse osmosis (RO)

yang merupakan suatu metoda penyaringan berbagai molekul dan ion dari

suatu larutan dengan menggunakan membran semipermiabel, tahap

pemurnian ini dimulai dari :

a. Air dari penampungan akan masuk kedalam membran RO untuk

menyaring ion-ion yang mungkin masih ada di dalam air.

b. Kemudian air akan masuk kedalam mixbed untuk tahap polising anion

dan kation.

c. Setelah itu air akan masuk kedalam filter 0,2 μm untuk partikel yang

masih ada terdapat pada air.

d. Air akan melewati sinar UV

e. Terakhir air muni akan masuk pada tangki produksi dengan konduktivitas

antara 0-1,3 s.

78
Apabila resin telah jenuh akan diregenerasi, regenerasi resin kation ini

dapat dilakukan dengan cara penambahan HCl dan resin anion dapat dilakukan

dengan penambahan NaOH dan regenerasi mixbed dapat dilakukan dengan

penambahan HCl + NaOH.

Air murni disirkulasikan ke ruang produksi dengan sistem looping yang

mengalir terus-menerus dan sanitasi pipa dilakukan dengan pemanasan pada suhu

850-900C selama 30 menit. Sistem pengolahan air di PT. VARIA SEKATA telah

dikualifikasi sampai fase III dan telah memenuhi syarat.

3.12 Produk-produk PT. VARSE

Produk obat yang diproduksi oleh PT. VARSE dapat digolongkan

berdasarkan efek farmakologinya yaitu sebagai berikut :

a. Multivitamin : Vitamin B1, Vitamin B Kompleks, Vitamin B12 dan Vitamin

B6

b. Hand Sanitizer

c. Alkohol 70% dan 96%

d. Minyak Telon (Tambar)

e. Minyak Kayu Putih

f. Natural Oil

Contoh produk di PT. VARSE (Varia Sekata) berdasarkan sediaan.

1. Multivitamin (Vitamin B1, Vitamin B Kompleks, Vitamin B12 dan Vitamin

B6)

Gambar 3.2 Vitamin B1

79
Gambar 3.3 Vitamin B Kompleks

Gambar 3.4 Vitamin B12

Gambar 3.5 Vitamin B6

2. Hand Sanitizer

Gambar 3.6 Hand Sanitizer

80
3. Alkohol 70% dan 96%

Gambar 3.7 Alkohol 70% dan 96%

4. Minyak Telon (Tambar)

Gambar 3.8 Minyak Telon (Tambar)

5. Minyak Kayu Putih

Gambar 3.9 Minyak Kayu Putih

81
6. Natural Oil

Gambar 4.0 Natural Oil

82
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebagai industri farmasi, PT. Varia Sekata memiliki kewajiban untuk

memenuhi ketentuan CPOB menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia No. 1799/MenKes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi dan Peraturan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.03.1.33.12.12.8195

Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik untuk

memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan

penggunaannya. Agar mutu suatu produk obat yang didapat selalu konsisten maka

PT. Varia Sekata selalu berpedoman kepada standar mutu CPOB. Pemilihan

standar yang digunakan berdasarkan persyaratan yang lebih ketat. PT. Varia

Sekata telah mendapatkan Sertifikat CPOB untuk seluruh produk atau bentuk

sediaan yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh aspek yang tertuang

di dalam CPOB telah dipenuhi oleh PT. Varia Sekata.

4.1 Sistem Mutu Industri Farmasi

Untuk menjamin khasiat, keamanan dan mutu produknya, PT. VARIA

SEKATA memiliki manajemen mutu sesuai dengan CPOB 2018. Hal ini dapat

dilihat dari adanya pemisahan kewenangan dan tanggung jawab departemen QA

dan QC. Departemen QA diwajibkan bertanggung jawab dalam menjamin mutu

produk mulai dari pemesanan bahan baku dan kemasan obat sampai obat siap

dikonsumsi konsumen, termasuk di dalamnya pemilihan pemasok. Sistem mutu

ditetapkan berdasarkan CPOB.

83
Beberapa hal yang ditangani departemen QA antara lain:

1. Penyelenggaran pelatihan CPOB kepada karyawan yang bekerja di area

produksi dan pengawasan mutu

2. Penanganan dan pengendalian sistem dokumentasi, Menyusun dan

mengendalikan protap

3. Pengendalian perubahan

4. Melaksanakan validasi

5. Mengadakan audit terhadap pemasok

6. Melaksanakan inspeksi diri

7. Penolakan dan pelulusan obat jadi

8. Penyelidikan terhadap kegagalan

9. Penanganan Hasil Uji di Luar Spesifikasi (HULS)

10. Penanganan keluhan, penarikan kembali obat jadi dan penanganan obat

kembalian.

Departemen QC memiliki kewenangan dan tanggung jawab melaksanakan

pengawasan dan pengujian seluruh bahan awal yang akan digunakan dalam

produksi, melakukan pengawasan selama proses produksi dan pengujian obat jadi.

Sedangkan departemen QA memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk

menyusun kebijakan mutu perusahaan berdasarkan CPOB yang dapat menjamin

mutu obat yang dihasilkan agar sesuai dengan persyaratan mutu obat yang telah

ditetapkan dan memastikan seluruh kegiatan yang terlibat dalam proses

pembuatan obat, melaksanakan kebijakan tersebut. Departemen QA menjadi

polisi yang mandiri untuk memantau keseluruhan proses pembuatan obat mulai

dari rencana design industri (R&D), pembelian bahan, proses produksi hingga

distribusi obat jadi.

84
4.2 Personalia

Dalam melaksanakan sistem manajemen mutu, PT. Varia Sekata didukung

oleh personil yang terkualifikasi yang ada disetiap departemen dengan pembagian

tanggung jawab yang adil dan sesuai kapasitasnya.

PT. VARIA SEKATA memiliki struktur organisasi di mana departemen

produksi, QA dan QC dipimpin oleh manager yang berbeda serta tidak saling

bertanggung jawab satu dengan yang lain. Untuk mendukung kegiatan

operasionalnya, PT. VARIA SEKATA memerlukan personil yang terampil dan

terlatih. Setiap karyawan di PT. Varia Sekata harus mengikuti training tidak hanya

dilaksanakan pada awal masuk, tetapi secara berkala yang wajib diikuti oleh

semua personil yang pekerjaannya terkait mutu produk. Karyawan yang

membutuhkan keahlian khusus diberikan pelatihan khusus untuk pemahaman teori

dan pelaksanaan kualifikasi untuk pemahaman cara prakteknya.

Dalam rangka memenuhi persyaratan CPOB, langkah-langkah yang

diambil PT. VARIA SEKATA Medan dibidang personalia adalah dengan cara

mengirim pimpinan atau staf untuk mengikuti pelatihan mengenai CPOB.

Selanjutnya diharapkan pimpinan atau staf tersebut dapat memberikan bimbingan

dan pelatihan tentang CPOB kepada karyawan sehingga kegiatan perusahaan akan

memenuhi ketentuan CPOB.

4.3 Bangunan-Fasilitas

Bangunan dan fasilitas yang terdapat di PT. Varia Sekata memiliki desain,

ukuran, dan konstruksi serta letak strategis yang sesuai dengan kebutuhan

produksi dan bentuk sediaan yang dibuat. Kondisi bangunan dan fasilitasnya pun

terawat dengan baik. Ruangan-ruangan dibuat terpisah dan masing-masing

dirancang untuk setiap satu proses dan produk, agar kerja lebih efisien setiap

85
ruangan produksi memiliki alat magnehelic yang berfungsi sebagai pengatur

tekanan udara untuk mencegah kontaminasi silang. Desain dari dinding bangunan

berbentuk lengkungan sehingga mudah untuk pembersihan, sanitasi dan

perawatan.

Permukaan lantai, dinding, langit-langit dan pintu dibuat kedap air, tidak

terdapat sambungan untuk mengurangi pelepasan atau pengumpulan partikel,

mencegah pertumbuhan mikroba. Agar mudah dibersihkan dan tahan terhadap

metode pembersihan dan bahan pembersih, maka lantai dilapisi dengan cat epoksi.

Lantai epoksi yang digunakan dalam bangunan merupakan lantai kedap air dan

digunakan sebagai pencegahan dari rembesan air tanah. Lantai tersebut harus

dijaga supaya tidak tergores dan rusak karena dapat mengurangi fungsinya dan

dapat menjadi tempat akumulasi debu serta kotoran. Upaya yang dilakukan untuk

menghindari kerusakan pada lantai antara lain dengan penggunaan sepatu khusus

yang beralaskan karet. Bentuk-bentuk sudut pada dinding, langit-langit maupun

lantai dihilangkan dan menggantinya menjadi bentuk lengkungan (skirting) untuk

mencegah akumulasi debu dan kotoran serta memudahkan pembersihan.

Tenaga listrik, lampu penerangan, suhu, kelembaban, dan ventilasi diatur

dengan baik pada bangunan dan fasilitas agar tidak mengakibatkan dampak yang

merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap produk selama

proses pembuatan dan penyimpanan.

Adanya air lock pada ruang-ruang tertentu seperti di ruang granulasi,

tableting, penyalutan serta ruang antara Warehouse dan Processing berfungsi

untuk mencegah kontaminasi silang antar ruangan. Rancang bangun dan tata letak

untuk mencegah kontaminasi silang atau ruangan. Rancang bangun dan tata letak

ruang di PT.Mutifa juga memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan

86
dalam CPOB dalam rangka menghindari kontaminasi silang, antara lain adanya

pengendali cemaran udara sekitar dengan memberlakukan perbedaan tekanan

udara yang tepat dalam daerah proses atau menggunakan sistem penghisap udara

dan penyaring udara yang memadai.

Tekanan ruang di koridor kelas 3 bertekanan lebih positif daripada di

ruang-ruang produksi untuk menjaga supaya zat-zat/material-material yang ada di

dalam ruang produksi beterbangan keluar dan mengotori koridor.

Di daerah produksi terdapat ruang transit material untuk memindahkan

barang dari gudang ke area kelas 3 atau kelas 2, yang bertujuan untuk

menghindari penyebaran debu dari gudang ke area kelas 3 atau kelas 2. Selain itu,

terdapat Gowning area untuk meminimalkan terjadinya pengotoran oleh partikel

debu yang terbawa oleh karyawan.

Gudang dibuat terpisah dari bangunan produksi tetapi masih disediakan

beberapa akses keluar masuk yang ketat dari gudang ke bangunan produksi.

Daerah penyimpanan barang di gudang dikelompokkan berdasarkan status

material yang bersangkutan (quarantine/ released/ rejected), suhu penyimpanan

dan tipe material (bahan baku, produk jadi, bahan pengemas). Setiap bangunan

PT. Varia Sekata dilengkapi dengan pintu emergency untuk keadaan darurat.Pintu

ini selalu ditutup rapat untuk mencegah pencemaran.

Seluruh bangunan PT. Varia Sekata, termasuk daerah produksi,

laboratorium, gudang, area perkantoran terawat dengan baik dan senantiasa dalam

keadaan rapi dan bersih. Seluruh bangunan dilengkapi dengan peralatan dan

utilitas untuk menunjang pelaksanaan kegiatan dengan memprioritaskan pada

terciptanya, sanitasi, higiene, keamanan dan keselamatan kerja serta kelestarian

lingkungan sekitar.

87
Sarana pendukung yang terdapat di PT. Varia Sekata antara lain: ruang

istirahat, mushola, dan kantin yang terletak terpisah dengan area produksi dan

laboratorium pengawasan mutu. Terdapat pula ruang loker untuk karyawan pria

dan wanita untuk menyimpan barang-barang, dan gowning room untuk mengganti

pakaian kerja dan membersihkan diri. Toilet juga disediakan dalam jumlah yang

cukup dan mudah diakses serta tidak berhubungan langsung dengan area produksi

atau area penyimpanan. Ruang ganti pakaian berhubungan langsung dengan area

produksi namun letaknya terpisah.

4.4 Peralatan

Peralatan yang digunakan oleh PT. Varia Sekata untuk pembuatan obat

memiliki desain dan konstruksi yang sesuai dengan fungsinya, ukuran yang

memadai, telah terkualifikasi dengan baik, dan mudah dalam pembersihan serta

perawatan. Permukaan peralatan yang bersentuhan langsung dengan bahan awal,

produk antara atau produk jadi terbuat dari stainless steel sehingga tidak

menimbulkan reaksi yang dapat mempengaruhi identitas, mutu, atau kemurnian

produk diluar batas yang ditentukan.

Semua peralatan di PT. Varia Sekata memiliki dokumen kualifikasi,

prosedur tetap untuk operasional, pembersihan dan pemeliharaan, serta log book

untuk kalibrasi dan pemakaian alat. Peralatan-peralatan tersebut ditempatkan

dengan benar sehingga memudahkan pembersihan, perawatan dan perbaikan.

Seluruh peralatan utama dan kritis yang digunakan harus dikualifikasi terlebih

dahulu meliputi kualifikasi desain (DQ), kualifikasi instalasi (IQ), kualifikasi

operasional (OQ), dan kualifikasi kinerja (PQ). Cara kualifikasi di PT. Varia

Sekatatelah diuraikan dalam prosedur tetap kualifikasi peralatan. Peralatan yang

digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji, dan mencatat selalu diperiksa

88
ketelitiannya secara teratur dan dikalibrasi berdasarkan jadwal dan prosedur tetap

kalibrasi. Tiap peralatan utama diberi nomor identifikasi.

Nomor tersebut dipakai pada semua instruksi kerja dan pada catatan

pengolahan dan pengemasan bets yang menunjukkan bahwa alat tersebut

digunakan pada proses tertentu.

Setiap peralatan yang akan digunakan untuk pengujian harus dipastikan

bahwa jadwal kalibrasi peralatan tersebut masih berlaku, sehingga hasil yang

diperoleh dari pengujian menggunakan peralatan tersebut dapat

dipertanggungjawabkan dan menunjukkan hasil yang sebenarnya. Untuk peralatan

yang digunakan untuk proses produksi obat, sebelum digunakan harus dipastikan

terlebih dahulu bahwa alat tersebut telah dibersihkan sebelumnya dan telah diberi

label “BERSIH”. Hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi produk oleh

produk yang dibuat sebelumnya.

Peralatan selalu dibersihkan secara teratur sesuai prosedur pembersihan

alat yang dirinci dalam prosedur tetap. Tiap peralatan yang digunakan selalu

dilengkapi catatan yang menerangkan pemeliharaan, penggunaan, kalibrasi dan

perbaikan dalam satu kesatuan pencatatan. Peralatan yang menggunakan software

atau sistem yang diakses “password” harus dalam keadaan terkunci ketika

meninggalkan alat atau komputer.

Program sanitasi dan higiene personalia yang diterapkan antara lain

program pemeriksaan kesehatan dan penerapan kebersihan perorangan seperti

cuci tangan sebelum memasuki ruang produksi dan ruang sampling, penggunaan

pakaian bersih serta kebiasaan higienis seperti dilarang makan di ruang produksi.

Untuk menjamin keamanan karyawan dan untuk menjamin perlindungan terhadap

produk dari pencemaran, maka karyawan menggunakan pakaian pelindung badan

89
yang bersih dan juga alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan dan

kacamata. Setiap karyawan yang melanggar peraturan yang ada di PT. Varia

Sekata, akan dikenakan sanksi berupa tilang.

Di PT. Varia Sekata, bangunan dilengkapi dengan toilet, tempat cuci

tangan dalam jumlah yang cukup dan letaknya terjangkau dari tempat kerja

karyawan. Bagi karyawan yang hendak ke toilet, maka karyawan tersebut tidak

boleh mengenakan pakaian dan sepatu pabrik. Semua peralatan yang digunakan,

dibersihkan menurut prosedur yang telah ditetapkan serta dijaga dan disimpan

dalam kondisi yang bersih. Sebelum dipakai, kebersihannya harus selalu diperiksa

ulang. Pakaian kerja kotor dan lap pembersih kotor (yang dapat dipakai ulang)

disimpan dalam wadah tertutup hingga saat pencucian.

Catatan mengenai pelaksanaan pembersihan dan sanitasi disimpan dengan

baik. Selain itu, prosedur sanitasi dan higiene dievaluasi secara berkala untuk

memastikan bahwa hasil penerapan prosedur yang bersangkutan cukup efektif dan

selalu memenuhi persyaratan.

4.5 Produksi

Produksi di PT. Varia Sekata dilaksanakan berdasarkan prosedur yang

telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB 2018 yang berlaku untuk

menjamin produksi senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan

mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi).

Produksi adalah semua kegiatan dari penerimaan bahan awal, pengolahan

sampai pengemasan untuk menghasilkan obat jadi. Proses produksi dilaksanakan

berdasarkan rencana produksi mingguan. Manager produksi akan menurunkan

Surat Perintah Produksi (SPP) kemudian melampirkan catatan pengolahan dan

90
pengemasan batch. Bersama dengan dikeluarnya SPP, manager produksi juga

mengeluarkan Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) kepada kepala gudang,

Bahan awal kemudian diserahkan ke ruang penimbangan. Untuk tiap

penimbangan dilakukan pembuktian kebenaran identitas, jumlah bahan yang

ditimbang oleh dua petugas penimbangan dan pembuktian tersebut dicatat.

Sebelum dilakukan pengolahan, peralatan diperiksa kebersihannya dan dinyatakan

bersih secara tertulis sebelum digunakan. Semua kegiatan pengolahan

dilaksanakan mengikusi prosedur pengolahan induk. Pengawasan selama proses

produksi dilakukan pada produk antara dan produk ruahan.

Kegiatan pengemasan dilakukan pada produk ruahan agar dihasilkan

produk jadi. Produk jadi dikarantina pada area produksi. Bagian pengawasan mutu

melakukan finished pack analysis dan pengambilan sampel pertinggal. Setelah

produk jadi memenuhi persyaratan spesifikasi, departemen pemastian mutu

meluluskannya. Produk jadi kemudian diserahkan ke gudang obat jadi dan siap

didistribusikan.

4.6 Cara Penyimpanan dan Pengiriman Obat Yang Baik

Bahan baku obat disimpan didalam gudang bahan baku dan diberi label

kuning sebelum dilakukan uji identifikasi pada sampel, setelah dinyatakan lulus

pengujian diberi label hijau. Bahan kemasan disimpan didalam gudang bahan

kemasan diberi label kuning sebelum dilakukan uji identifikasi pada sampel,

setelah dinyatakan lulus pengujian diberi label. Obat jadi disimpan didalam

gudang obat jadi dan diberi label kuning sebelum sebelum dilakukan pemastian

mutu dan diberi label hijau jika sudah dinyatakan lulus.

91
Pengiriman obat dilakukan dengan memperhatikan suhu, kelembapan,

jumlah stock/ tumbpukannya serta obat harus diatasi dengan pallet, karena tidak

boleh bersentuhan langsung dengan lantai.

4.7 Pengawasan Mutu

Departemen pengawasan mutu di PT. VARIA SEKATA bertanggung

jawab atas:

a. Pelaksanaan pengambilan contoh.

b. Pemeriksaan contoh bahan baku, produk ruahan dan produk jadi.

c. Menyusun dan merevisi prosedur tetap yang diperlukan departemen QC.

d. Menjaga kebersihan ruangan dan peralatan yang digunakan.

Bahan baku yang baru datang masuk ke gudang diberi status karantina.

Gudang akan mengirimkan slip penerimaan barang kedepartemen QC.

Berdasarkan slip yang diterima, QC kemudian melakukan pengambilan contoh

untuk semua bahan aktif dan bahan penolong. Setiap bahan baku yang masuk

harus dilengkapi dengan sertifikat analisa yang akan digunakan sebagai acuan

pemeriksaan bahan. Setelah diperiksa, bahan baku yang diluluskan ditempelkan

label released (warna hijau) kemudian disimpan di gudang. Apabila bahan baku

ditolak ditempelkan label rejected (warna merah) dan ditempatkan pada area

ditolak yang ada di gudang. Kemudian dikembalikan kepada pemasok. Penolakan

terhadap bahan baku dilakukan berdasarkan literatur dan COA.

Produk ruahan adalah produk yang telah selesai diolah dan siap untuk

dikemas. Pengambilan contoh dilakukan pada saat pembuatan berlangsung yaitu

pada awal, tengah dan akhir proses. Produk ruahan harus segera diperiksa sesuai

dengan spesifikasinya. Produk jadi adalah produk yang telah melewati seluruh

tahapan produksi, termasuk pengemasan dan siap untuk didistribusikan.

92
Pengambilan contoh dilakukan pada proses pengemasan yaitu pada awal, tengah

dan akhir pengemasan. Setelah diperiksa sesuai dengan spesifikasinya, penerbitan

label released/rejected harus diparaf oleh manager QA.

4.8 Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Persetujuan Pemasok

Inspeksi diri PT. VARIA SEKATA diadakan satu tahun sekali. Inspeksi

diri dilakukan oleh tim inspeksi diri yang diketuai oleh manager QA. Inspeksi diri

dilakukan terhadap departemen Produksi, R&D, QC, QA, dan Teknik. Laporan

dibuat setelah inspeksi diri selesai dilaksanakan. Inspeksi yang dilakukan pada

tiap-tiap departemen mencakup antara lain:

1. Personel

2. Bangunan-fasilitas termasuk fasilitas untuk personil

3. Pemeliharaan bangunan dan peralatan

4. Penyimpanan bahan awal, bahan pengemas dan obat jadi

5. Peralatan

6. Produksi dan pengawasan selama proses

7. Pengawasan mutu

8. Dokumentasi

9. Sanitasi dan higiene

10. Program validasi dan revalidasi

11. Kalibrasi alat dan sistem pengukuran

12. Prosedur penarikan obat jadi

13. Penanganan keluhan

14. Pengawasan label

15. Hasil inspeksi diri sebelumnya dan tindakan perbaikan

93
Laporan tersebut mencakup hasil inspeksi diri, evaluasi serta kesimpulan,

saran tindakan perbaikan. Audit mutu dilakukan oleh badan POM. Audit ini

mencakup aspek CPOB. Badan POM didampingi manager QA melaksanakan

audit langsung di lapangan.

4.9 Keluhan Penarikan Kembali Produk

Berdasarkan jenisnya, keluhan dibagi dua yaitu pertama yang menyangkut

Efek Samping Obat (ESO) dan menyangkut Keluhan Teknis Kualitas Obat

(KTKO). Penanganan keluhan menjadi tanggung jawab dan dikelola dengan cepat

karena menyangkut nama baik perusahaan. Semua keluhan harus diselidiki dan

dievaluasi serta diambil tindak lanjut yang sesuai dengan cara penyelesaian yang

sebaik mungkin. Keluhan terhadap obat dapat berasal dari dalam maupun luar

perusahaan. Keluhan dari dalam perusahaan dapat berasal semua pihak yang

berhubungan dengan kegiatan manufaktur. Sedangkan keluhan dari luar

perusahaan dapat berasal dari distributor, dokter, pasien, apoteker, rumah sakit/

klinik, pemerintah (BPOM) dan media massa.

Tindak lanjut dari keluhan dapat berupa penggantian produk atau

penarikan produk. Penarikan kembali obat dilakukan bila ditemukan ada produk

obat yang tidak memenuhi persyaratan mutu atau atas dasar pertimbangan adanya

efek samping obat yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Penarikan obat

jadi ini dapat dilakukan atas keinginan produsen (misalnya karena stabilitas obat

tidak baik) atau keinginan Badan POM (keluhan dari segi medis dan farmasi).

Penarikan kembali obat jadi harus dilakukan segera setelah evaluasi laporan dan

bila perlu setelah didapatkan hasil pemeriksaan contoh pertinggal di laboratorium

QC. Penarikan obat jadi harus cepat dan tuntas, semua obat yang telah terlanjur

94
beredar di tingkat distributor, sub-distributor maupun pengecer (toko obat, apotek)

dan pemakai langsung (RS, dokter) diusahakan untuk dapat ditarik kembali.

Penarikan kembali obat hendaklah diselidiki hingga tingkat mana produk

tersebut ada pada jarigan distribusi dan hasil penyelidikan ini membuat tingkat

embargonya. Tingkat penarikan kembali obat jadi ditentukan berdasarkan luas dan

jauhnya obat jadi tersebut beredar di pasaran.

Dalam kasus reaksi merugikan dari obat, penarikan kembali sebaiknya

dilaksanakan sampai tingkat konsumen. Dokumentasi yang dapat mendukung

pelaksanaan penarikan kembali obat adalah catatan distribusi obat. Penghentian

pembuatan obat dapat merupakan keputusan produsen sendiri atau keputusan

pemerintah (Badan POM). Untuk mempermudah Penarikan Kembali Obat Jadi

PT. Varia Sekata melakukan audit kepada distributor yang akan dipilih. Hal ini

dilakukan untuk menjaga mutu produk PT. Varia Sekata agar setelah keluar dari

pabrik dapat terjamin mutunya saat sampai ke konsumen.

4.10 Dokumentasi

Sistem dokumentasi PT. VARIA SEKATA meliputi:

1. Prosedur tetap (protap)

2. Spesifikasi (bahan baku, pengemas, produk jadi)

3. Catatan pengolahan batch dan catatan pengemasan batch

4. Penandaan (status ruangan, mesin, label karantina, released, rejected)

5. Protokol dan laporan validasi

6. Dokumen registrasi

7. Catatan kalibrasi

8. Catatan Verifikasi

95
Sistem dokumentasi merupakan hal yang penting dalam industri farmasi

untuk memastikan bahwa setiap karyawan mendapat instruksi yang jelas dan rinci

mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakannya sehingga memperkecil resiko

terjadinya salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul apabila hanya

mengandalkan instruksi lisan. Sistem dokumentasi produk (catatan pengolahan

dan pengemasan batch) harus menggambarkan riwayat lengkap dari setiap batch

suatu produk sehingga memungkinkan penyelidikan serta penelusuran kembali

terhadap Batch yang bersangkutan apabila terdapat kesalahan selama produk

tersebut dipasarkan.

4.11 Kegiatan Alih Daya

Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus di buat secara benar,

disetujui dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahamam yang dapat

menyebabkan produk atau pekerja dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak

tertulis antara pemberi kontrak dan penerima kontrak harus di buat secara jelas

yang menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak

harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk

diedarkan yang menjadi tangungg jawab penuh kepada bagian manajemen mutu

(pemastian mutu).

4.12 Kualifikasi dan Validasi

Validasi proses yang dilakukan PT. VARIA SEKATA adalah conccurent

validation. Validasi yang dilakukan oleh PT. VARIA SEKATA adalah validasi

proses terhadap produk yang telah diproduksi dan dipasarkan tetapi belum pernah

dilakukan validasi. Manager QA membentuk tim validasi dan menyusun protokol

validasi untuk produk yang akan divalidasi. Kegiatan validasi akan dilakukan oleh

departemen yang bersangkutan, dimonitor dan didokumentasikan oleh tim

96
validasi. Setiap akhir validasi harus dibuat suatu laporan validasi sebagai

pertanggung jawaban. Kualifikasi di PT. VARIA SEKATA merupakan tanggung

jawab departemen teknik. Kualifikasi adalah pembuktian secara tertulis

berdasarkan data yang menunjukan bahwa suatu peralatan, fasilitas, sistem

penunjang dan proses pengemasan secara otomatis bekerja sesuai dengan

spesifikasi yang ditetapkan. Kualifikasi terdiri atas empat tahap, yaitu kualifikasi

desain (DQ), kualifikasi instalasi (IQ), kualifikasi operasional (OQ), dan

kualifikasi kinerja (PQ).

a. Design Qualification (DQ)

Dokumen awal yang harus disiapkan mencakup desain alat dan spesifikasi

konstruksi. DQ hanya dilakukan untuk alat/sistem baru dan harus disiapkan

sebelum instalation qualification. Seperti disain gambar mesin, ukuran bentuk

mesin disesuaikan dengan ruangan yang tersedia di pabrik dan lainnya.

b. Instalation Qualification (IQ) .

Pembuktian secara tertulis bahwa peralatan terpasang dengan benar dan

memenuhi desain yang telah ditentukan. Seperti letak punch, dies, corong dan

lainnya.

c. Operational Qualification (OQ)

Pembuktian secara tertulis bahwa peralatan dapat dioperasikan sesuai dengan

desain yang telah ditentukan dan memenuhi kriteria penerimaan serta melihat

apakah tombol on/off pada mesin berfungsi dengan baik dan lainnya.

d. Performance Qualification (PQ)

Pembuktian secara tertulis bahwa peralatan dapat secara konsisten

memberikan kinerja yang baik atau berfungsi menghasilkan produk sesuai

standar mutu yang telah ditetapkan.

97
4.13 Registrasi

Registrasi yang dilakukan di PT. VARIA SEKATA adalah registrasi

renewal (ulang) dan registrasi variasi. Pada registrasi ulang produk-produk yang

sudah mendekati ED akan di registrasi ulang selambat-lambatnya 2 bulan sebelum

ED dan secepat-cepatnya 6 bulan sebelum ED. Registrasi variasi dilakukan bila

terdapat perubahan pada produk obat, baik itu bahan awal yang berganti pemasok,

logo obat, atau yang lainnya. Kategori registrasi terdiri atas:

a. Registrasi Baru;

Registrasi Baru adalah Registrasi untuk Obat yang belum mendapatkan Izin

Edar di Indonesia.

e. Registrasi Variasi;

Registrasi Variasi adalah Registrasi perubahan pada aspek administratif,

khasiat, keamanan, mutu, dan/atau Informasi Produk dan Label Obat yang

telah memiliki Izin Edar di Indonesia.

b. Registrasi Ulang.

Registrasi Ulang adalah Registrasi perpanjangan masa berlaku Izin Edar

(Menkes RI, 2017)..

98
BAB V

KESIMPULAN

3.7 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil laporan Praktek Kerja

Profesi Apoteker (PKPA) ini adalah :

1. PT. VARSE telah menerapkan ketentuan cara pembuatan obat yang baik

(CPOB) sesuai dengan persyaratan mutu, aman dan berkhasiat.

2. PT. VARSE telah memiliki rancangan bangunan, konstruksi, ukuran dan

penataan ruangan yang memadai sehingga memudahkan pelaksanaan

produksi.

3.8 Saran

1. Karyawan atau staf yang ada di industri PT. VARSE hendaknya selalu

memenuhi persyaratan dalam bekerja, seperti menggunakan alat pelindung diri

yang sesuai, contohnya memakai masker baik di dalam/luar ruang produksi.

99
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan BPOM No. HK.03.1.33.12.12.8195 (2012). Penerapan Pedoman


Cara Pembukaan Obat yang Baik. Jakarta.
2. Depkes RI.(2010). Permenkes RI No.1799/Menkes/Per/XII/2010, Tentang
Industri Farmasi, Jakarta; Depkes RI, 2010.
3. Depkes RI. (1990), Menkes No.245/Men.kes/SK/V/1990, Tentang Ketentuan
dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi.
Jakarta; Menkes 1990.
4. Menkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi. Jakarta;
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
5. Menkes Ri. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi. Jakarta;
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
6. Marlyne R. 2013. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Guardian
Pharmatama Kawasan Industri Manis Jl. Manis Raya Km 8,5 Gandasari,
Jatiuwung, Tangerang Periode 6 February-28. Universitas Industri; 2014.
7. Sinurat, Learnita. 2020. Aspek-aspek Cara Pembuatan Obat yang Baik
(CPOB). Medan.
8. Herwana, V. 2013. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Sanbe
Farma Unit 11 Jl. Leutwigajah No. 162 Cimahi, Jawa Periode 14. Depok;
Universitas Indonesia.
9. Haryati, V. Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Industri di Lembaga
Farmasi Angkatan Udara (LAFIAU) Bandung. Medan; Universitas Sumatra
Utara.
10. Pradana, R. 2011. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT.
Combiphar Jl. Raya Simpang 383 Padalarang Bandung Periode 7. Depok;
Universitas Sumatra Utara.
11. Sari, P. 2013. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Bintang
Toedjoe Pulogadung Jalan Rawa Sumur Barat 9 Kawasan Industri
Pulogadung Jalan Rawa Sumur Barat 11 Kavling 9 Kawasan Industri
Pulogadung Periode 2. Depok; Universitas Sumatera Utara.
12. Rahyu. A,. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Kalbe Farma,
Tbk. Kawasan Industri Delta Silicon Jl. M.H. Thamrin Blok A3-I, Lippo
Cikaranag, Bekasi Periode 17 Juni dan 14 Agustus 2013.
13. Setiawan, T. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Novell
Pharmaceutical Laboratories Jalan Post Pengumben Raya No. 8 Jakarta
Barat Periode 1 September – 31 Oktober 2011. Depok : Universitas
Indonesia; 2011.

100
14. Agusliawan, Laporan Praktek Kerja Profesi Farma Industri Farmasi di
Lembaga Farmasi Angkatan Udara Drs. Roostyan Efendie, Apt Bandung,
Medan; Universitas Sumatera Utara.
15. BPOM RI. 2012. Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 Tentang
Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Jakarta : Badan
Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.
16. BPOM RI. 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta :
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.
17. Rangkuti, A.,B. Laporan Praktek Kerja Profesi Farma di PT. Kimia Farma
(Persero) Tbk. Plant Bandung Medan: Universitas Sumatera Utara; 2009.

101
DAFTAR LAMPIRAN

1. Denah Ruangan

102
2. Ruang Penyimpanan Bahan Baku

3. Ruang Riject Bahan Baku

103
4. Ruang Gudang Bekas

5. Ruang Supermixer

104
6. Ruang Supervisor/Minum

7. Ruang Granulasi Kering

105
8. Ruang Antara

9. Ruang Pencampuran Akhir

106
10. Ruang Produk Antara

11. Ruang Cetak Tablet

107
12. Ruang IPC

13. Ruang Pengemasan Primer

108
14. Ruang Pengemasan Primer

15. Ruang Punch dan Dies dan Ruang Peralatan

109
16. Ruang Cetak Tablet

17. Ruang Pencampuran Kapsul

110
18. Ruang Pengisian Kapsul

19. Ruang Produk Ruahan

111
20. Ruang WIP (Produk Ruahan)

21. Ruang Laboratorium Kimia Fisika

112
22. Tempat Penyimpanan Tablet yang akan di Shipping

23. Rak Penyimpanan Bahan Kemas

113
24. Extruder

25. Purified Water

114
26. Oven

27. Fluid Bed Dryer (FBD)

115
28. Mesh Yang Digunakan Pada Granulasi Kering

29. Mesin Granulasi Kering

116
30. Mesin Lubrikasi Dalam Pencampuran Akhir

31. Penghitung Suhu dan Kelembaban

117
32. Mesin Pencetak Tablet Kecil

33. Mesin Cetak Kaplet

118
34. Alat Pencetak Tablet

35. Cetak Tablet Besar

119
36. Timbangan di Ruang IPC

37. Mesin Mixer (Pencampur) Kapsul dan Mesin Polishing Kapsul

120
38. Mesin Pengisi Kapsul

39. Mesin Stripping

121
40. Thermo-Hygrometer

41. Mesin Date Cooding

122
42. Puch dan Dies

43. Pengukur Tekanan

123
44. Uji Disolusi

124