Anda di halaman 1dari 21

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/338736766

Bencana alam: Suatu tinjauan antropologis dengan Kekhususan Kasus-kasus


di Indonesia

Article · August 2013

CITATIONS READS

0 64

3 authors, including:

Dede Mulyanto
Universitas Padjadjaran
10 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Ethnobiology and Historical Ethnobiology View project

All content following this page was uploaded by Dede Mulyanto on 22 January 2020.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


BENCANA ALAM:
Suatu Tinjauan Antropologis dengan Kekhususan
Kasus-kasus di Indonesia

Dede Mulyanto

Jurusan Antropologi Universitas Padjajaran Bandung


ddmulyanto@yahoo.com

Abstract

This article attempts to analyse the concept of natural disasters


in anthropological perspective. Natural disasters are socio-cultural
phenomena. Natural disaster is related to natural hazards, such as
earthquake, flood, drought, volcano eruption, etc., but its critical
point is not in the nature itself. Natural disasters are processes in
which socioeconomic and cultural characteristic of human community
bring about social vulnerability into existence in the actual context of
dynamics relationship of community with the physical environmental
changes.

Keywords: disaster, natural hazard, anthropology, social processes,


vulnerability

Abstrak

Tulisan ini bertujuan mengulas konsep-konsep bencana alam


yang ada di dalam kepustakaan antropologi. Di dalam kepustakaan
antropologi, bencana alam merupakan gejala sosial-budaya. Bencana
alam terkait dengan bahaya alam seperti gempa, banjir, kekeringan,
letusan gunung api, dan sebagainya, tetapi intinya bukan di dalam
bahaya alam itu sendiri. Bencana alam merupakan proses yang
di dalamnya karakteristik sosial-ekonomi dan kultural komuniti
memunculkan kerentanan sosial ke permukaan di dalam konteks
aktual hubungan dinamis komuniti dengan perubahan lingkungan
fisik.

Kata kunci: bencana, bahaya alam, antropologi, proses sosial, kerentanan

57
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

PENDAHULUAN dan Eropa (Walker dan Walter, 2000:


173-5). Itulah sebabnya “penelitian
Pengalaman dan penafsiran atas
bencana secara antropologis terutama
bencana alam sudah setua upaya
mengambil tempat di luar konteks
manusia bertahan hidup di tengah-
Eropa-Amerika” (Oliver-Smith, 1996:
tengah lingkungan fisik yang senan­
304). Pertanyaannya, apakah bahaya
tiasa berubah. Pencarian aspek-
alam (natural hazard) lebih banyak
aspek sosial budaya dari malapetaka
terjadi di Dunia Ketiga? Ataukah
yang ditimbulkan bahaya alam dan
catatan ini menunjukkan bahwa tingkat
bagaimana manusia menanggapinya,
kerentanan terhadap malapetaka yang
setidaknya sudah delapan puluh
ditimbulkan gejala alam ekstrim di
tahun dilakukan oleh ilmuwan sosial
Dunia Ketiga lebih tinggi? Jawaban atas
(Hoffman, 2010: 3). Meski demikian,
kedua pertanyaan di atas tidak hanya
baru sekarang perhatian itu meningkat.
bisa dicari dari data statistik persebaran
Peningkatan perhatian ini terkait
peristiwa alam ekstrim yang merusak.
dengan meningkatnya pula dampak-
Semua wilayah benua sama-sama
dampak bahaya alam (natural hazard)
punya ‘kesempatan’ untuk mengalami
terhadap kehidupan manusia. Secara
gempa, tsunami, banjir, longsor,
statistik, jumlah bahaya alam yang
kekeringan, gelombang panas, dan
menyebabkan kematian meningkat
sebagainya. Persoalannya bukan pada
setiap tahun. Tercatat, bencana yang
seberapa sering gejala alam ekstrim
memakan korban lebih dari 25 jiwa
terjadi di suatu wilayah. Persoalan­
meningkat dari sekadar 10 pada
nya ada pada bagaimana masyarakat
dasawarsa 1940-an menjadi 50 pada
di berbagai wilayah itu menghadapi
dasawarsa 1990-an (Chapman, 1994:
gejala-gejala alam tersebut. Atau
5). Ada peningkatan jumlah bencana
dengan kata lain, seberapa tinggi
sekitar 6 persen per tahun antara
tingkat kerentanan dan ketahanan
1962-1992. Keseluruhan bencana yang
suatu masyarakat menghadapi
tercatat dalam kurun waktu itu mem­
dampak merusak gejala alam ekstrim.
pengaruhi setidaknya 200 juta orang
Kerentanan dan ketahanan ini terkait
tiap tahunnya yang berarti berlipat
dengan pola dampak, pola perilaku,
empat kali dibandingkan yang tercatat
distribusi sumberdaya, dan secara
pada akhir 1960-an (Walker dan
umum, dengan organisasi sosial terkait
Walter, 2000: 188).
dengan tanggapan atas peristiwa
Terkait dengan kita yang tinggal
alam merusak yang dikembangkan
di Dunia Ketiga, tercatat bahwa antara
komuniti manusia. Pada titik inilah
1963-1992 lebih dari 93 persen bencana
persoalan bencana alam menjadi
berskala besar terjadi di luar Amerika
persoalan antropologi.
Utara dan Eropa (Smith, 1996: 33).
Tulisan ini mencoba mengangkat
Bahkan sepanjang dasawarsa 1990-
pendekatan antropologi terhadap
an, 96 persen jumlah korban rata-
konsep bencana alam dalam konteks
rata tahunan bencana besar berada
Indonesia. Tinjauan terutama ditujukan
di luar Amerika Serikat, Kanada,
kepada konsep-konsep pokok dalam

58
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

diskusi antropologi bencana yang di Indonesia yang 816 atau 65 persen


menekankan arti penting bencana terjadi di Pulau Jawa. Ditambah dengan
alam sebagai gejala sosial-budaya. topografi yang bergunung-gunung,
curah hujan tinggi juga menyebabkan
ANTROPOLOGI KEBENCANAAN longsor. Sejak 2002 hingga 2008 lalu
DI INDONESIA saja, tercatat 2221 kejadian longsor.
Empatpuluh delapan persen atau 1067
Keragaman Bahaya Alam di Indonesia
kejadian longsor terjadi di Pulau Jawa.
Indonesia merupakan salah satu Dari data di atas, boleh dikatakan
wilayah dengan sumber bahaya alam Indonesia merupakan wilayah yang
paling beragam. Di wilayah Indonesia senantiasa diacam oleh bahaya-
ada 129 gunung api aktif. Delapan bahaya alam (natural hazard). Berdasar­
puluh di antaranya tercatat sebagai kan sumbernya, bahaya alam bisa
gunung api aktif tipe A atau yang digolongkan ke dalam bahaya geo­
teraktif di antara yang aktif. Dengan logis, geografis, dan klimatologis. Ber­
banyaknya gunung api aktif, tidak dasarkan bencana yang ditumbulkan,
heran apabila Indonesia mengalami bahaya-bahaya alam tergolong ke
rata-rata 5 letusan gunung api per dalam dua jenis, yaitu bahaya alam
tahun. Tepian lempeng-lempeng geo­ akut atau cepat dampak bencananya
logis tempat berdirinya kepulauan (rapid-onset) dan bahaya alam kronis
Indonesia juga tercatat sebagai yang atau lambat dampak bencananya (slow-
teraktif. Sejak kemerdekaan, ada 23 onset). Bahaya-bahaya alam seperti
kejadian gempa bumi yang merenggut gempa, tsunami, longsor, dan letusan
mulai dari 5 jiwa hingga 130 ribu korban gunung, misalnya, digolongkan
jiwa. Di antara 23 kejadian gempa itu, bahaya alam akut karena dampak
9 di antaranya tercatat sebagai gempa bencananya segera terasa. Sementara
terdahsyat dari 39 gempa terdahsyat itu kekeringan, banjir, dan pergeseran
di dunia sepanjang abad ke-20 hingga musim bersifat kronis karena dampak
awal abad ke-21. bencananya tidak segera (Marianti,
Secara klimatologis, wilayah 2007: 5-6).
Indonesia juga merupakan bagian dari Tetapi, patut dicatat bahwa tidak
lingkar gerak ENSO (El-Nino Southern mudah mengukur dampak bencana
Oscilation). Akibatnya, curah hujan dan bahaya alam hanya ke dalam dua
bulan kering karena perubahan gerak golongan tersebut. Setiap bahaya
arus hangat samudra-samudra yang alam yang muncul selalu mempunyai
mengelilingi Indonesia juga menjadi dampak-dampak bencana yang
sesuatu yang sering kali berubah beragam dalam kerangka jangka
ekstrim. Sejak 1979 hingga 2009, ada kemunculannya. Banjir, misalnya, bisa
2509 kejadian banjir di Indonesia. Di menimbulkan dampak segera pada
antara kejadian-kejadian itu, 40 persen kehancuran atau kerusakan fisik. Banjir
atau 1009 kejadiannya terjadi di Pulau mampu merusak secara langsung
Jawa. Dalam rentang waktu yang berbagai jenis infrastruktur termasuk
sama, ada 1250 kejadian kekeringan jalan, jembatan, perumahan, pasar,

59
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

dan sebagainya. Selain itu, banjir juga tempat-tempat kegiatan ekonomi akan
menimbulkan dampak sekunder yang menurunkan produktivitas komuniti
bencananya agak lebih lambat muncul dan meningkatkan ketergantungan
seperti kontaminasi persediaan air bantuan memulihkannya.
bersih, penyebaran penyakit bawaan Dari hasil penelitian Mita Noveria,
air, dan kerusakan lahan-lahan per­ tidak semua bahaya alam sepenuhnya
tanian yang menyusutkan pasokan karena gejala alam yang alamiah.
makanan sehingga memungkinkan Menurut Noveria (2007), banyak
munculnya bencana subsistensi. Banjir peristiwa bahaya alam muncul dari
juga bisa menimbulkan bencana jangka interaksi populasi dengan alam
panjang yang lebih lambat munculnya sekitarnya. Kebiasaan terkait perilaku
seperti kesulitan perekonomian terpola di dalam populasi terhadap
karena penurunan kegiatan ekonomi alam seringkali berujung pada
masyarakat secara umum. munculnya bahaya alam. Terutama
Hal serupa bisa dialamatkan juga perilaku-perilaku yang berujung pada
kepada bahaya-bahaya alam lainnya. kerusakan lingkungan. Penghunian
Gempa atau letusan gunung api, atau penimbunan daerah tangkapan
misalnya, secara tradisional digolong­ air di banyak tempat, misalnya, pada
kan ke dalam bahaya alam akut karena masa kemudian bisa memunculkan
dianggap dampak bencananya bersifat bencana banjir di tempat tersebut dan
segera (rapid-onset disaster). Kerusakan juga di tempat-tempat lain.
atau kehancuran lingkungan fisik Tekanan ekonomi untuk senantiasa
akibat gempa atau letusan gunung memproduktifkan lahan sesuai dengan
memang berdampak segera. Tidak kerangka sistem kapitalis, termasuk
sedikit korban jiwa. Sarana produksi lahan yang secara ekologis penting
seperti lahan atau pabrik tidak bisa bagi siklus hidrologi suatu wilayah,
lagi dimanfaatkan. Dalam jangka misalnya untuk pembangunan vila-
panjang, terutama bagi rumahtangga vila, hotel, pabrik, atau perumahan,
yang menggantungkan hidup dari pada akhirnya akan merusak ling­
sarana produksi yang hancur itu, kungan. Kerusakan lingkungan
bencana lain muncul. Banyak rumah- inilah yang ketika dipertemukan
tangga yang kehilangan sumber dengan peningkatan curah hujan
penghidupan, baik karena sarana karena dampak pergesesan ENSO
produksinya turut hancur ataupun memunculkan bahaya banjir. Banjir-
karena orang-orang yang semula bisa banjir atau kebakaran-kebakaran
menyumbang pendapatan meninggal hutan yang banyak terjadi di wilayah
dunia. Bencana akan muncul ketika Kalimantan atau Sumatra, kini tidak
reorganisasi komposisi rumahtangga bisa lagi dialamatkan sebabnya kepada
di masa kemudian tidak mampu anomali cuaca. Pembabatan hutan
mengembalikan sumber-sumber hujan demi lahan sawit yang terus
pendapatan rumahtangga. Dalam mengejar luasan bahkan hingga ke
konteks sosial-ekonomi yang lebih wilayah hulu-hulu sungai besar, sulit
luas, kerusakan sarana produksi dan diingkari menjadi salah satu atau satu

60
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

faktor utama meningkatnya kejadian yaitu sifat-sifat dan ciri-ciri fisika


banjir di wilayah pesisir Kalimantan. alam yang mungkin menimbulkan
Terkait dengan tekanan ekonomi yang bahaya alam, para ilmuwan sosial
mempengaruhi gejala alam hingga menyelidiki aspek subjektif populasi
munculnya bahaya alam, maka dapat dengan memahami kehidupan sosial
dikatakan bahwa di wilayah yang populasi dan pengaruhnya terhadap
pembangunan ekonominya tinggi, konsekuensi sosial-budaya dari bahaya
kejadian-kejadian banjir juga akan alam. Di dalam memahami kehidupan
tinggi. Itulah mengapa 40 persen sosial populasi, perlu pemahaman
kejadian banjir di Indonesia terjadi atas aspek kultural bencana alamnya.
di Pulau Jawa. Pulau Jawa adalah Kebudayaan bencana ini mencakup
pulau dengan tekanan ekologis paling sistem nilai dan norma yang
parah bukan karena tingkat kepadatan mengerangkai bahaya-bahaya alam ke
penduduknya yang tinggi, tetapi dalam ke dalam kehidupan dan pola
juga karena pembangunan ekonomi pikir kolektif. Pemahaman akan sistem
dipusatkan di Jawa. budaya ini membantu upaya mencari
jawab mengapa suatu komuniti
Keragaman Persepsi Resiko, bertindak berdasarkan pola tertentu
Perilaku, dan Kerentanan Bencana terhadap bahaya alam dan bencana
yang ditimbulkannya.
Indonesia merupakan salah satu
Penelitian Nusyirwan Effendi
wilayah dengan keragaman sosial-
(2007) dalam kasus gempa di Sumatra
budaya yang tinggi di dunia. Ada
Barat kembali menegaskan bahwa
17.000 pulau lebih di Indonesia dengan
bencana alam bukanlah gejala alam.
keragaman kepadatan penduduknya.
Secara emik masyarakat Minangkabau
Ada penduduk yang tinggal di wilayah
memandang dan memperlakukan
pedesaan dan tinggal di perkotaan. Di
bahaya alam seperti halnya semua
Indonesia, ada sekitar 300 kelompok
gejala alam sealamiah atau senormal
etnik atau sukubangsa, enam golongan
mungkin dalam kerangka kosmologis
penganut agama besar dunia, dan
budaya mereka yang beragam.
ratusan golongan penganut agama atau
Sebagian orang memandang gempa
kepercayaan lokal dengan perangkat
bumi sepenuhnya peristiwa alamiah
nilai dan norma-normanya masing-
yang bisa dipahami secara ilmiah.
masing. Begitu pula secara vertikal ada
Sebagian lagi memandang bahaya alam
banyak golongan berdasarkan kelas
gempa sebagai campur tangan Ilahiah
sosial dengan kepentingan ekonomi-
terhadap kehidupan manusia sehingga
politik dan gaya hidupnya masing-
hanya bisa dipahami dalam wacana
masing. Keragaman sosial-budaya ini
keagamaan entah sebagai ujian, cobaan,
berpengaruh pada keragaman persepsi
atau azab ilahi. Keragaman anggota
atas bahaya alam, bencana, korban,
masyarakat memperlakukan bahaya
dan penanganan pascabencana.
alam ini menunjukkan bahwa bencana
Apabila para ilmuwan alam me­
alam bukanlah suatu gejala alamiah,
nyelidiki aspek objektif bencana,
tetapi lebih sebagai faktor sosial-

61
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

budaya. Pada sisi lain, setiap bahaya sebelum dan ketika bahaya letusan
alam yang memunculkan bencana muncul. Pengetahuan ilmiah yang
juga memunculkan pengalaman baru meliputi pengetahuan dasar tentang
di antara anggota masyarakat, baik proses-proses dan laporan statistik
secara perseorangan maupun sebagai kegunungapian seringkali diremehkan
kolektif dalam kaitannya dengan oleh penduduk setempat karena semua
proses-proses alam yang merusak. itu tidak ada dalam kerangka budaya
Meski ada keragaman pengalaman mereka. Persepsi resiko ancaman
pada tingkat perseorangan, namun gunung api yang didasarkan kepada
bahaya alam yang dialami bersama pengetahuan kultural masyarakat
membuka jalan bagi reproduksi umumnya terguncang semasa krisis,
kehidupan sosial yang baru. Effendi tetapi kembali hidup ketika krisis
juga menyimpulkan bahwa orang- kegunungapian berlalu.
orang terdampak bencana alam Temuan Lavigne dkk. meng­
menanggapi bahaya alam baik dengan gemakan kembali hasil laporan M.T.
siasat yang situasional maupun dengan Zen dan Djajadi Hadikusumo (1964)
pemahaman budaya dan kepranataan tentang perilaku bencana penduduk
yang dimiliki mereka. lereng Gunung Agung, Bali. Dalam
Dari hasil penelitiannya Franck laporan Zen dan Hadikusumo 2100
Lavigne dkk. (2008) di lima gunung orang tewas sepanjang letusan Gunung
api di Jawa Tengah, disimpulkan Agung. Dalam kosmologi orang Bali,
banyaknya korban bencana letusan Gunung Agung merupakan gunung
gunung api bukan terutama disebabkan paling suci dan diyakini merupakan
oleh besar-kecilnya letusan. Banyaknya tempat tinggal kekuatan gaib, baik yang
korban terutama terkait dengan suci maupung yang setani. Ratusan
faktor-faktor sosial-budaya dan sosial orang meninggal dunia justru ketika
ekonomi. Faktor-faktor ini berperan lava mengalir. Mereka berperilaku
membentuk perilaku bencana para seakan-akan menyambut aliran lava
penduduk pada saat terjadi krisis karena mereka meyakini aliran lava
kegunungapian. Faktor-faktor sosial- merupakan pertanda turunnya dewa-
budaya seperti keterikatan kepada dewa mereka dari puncak gunung.
ideal kampung halaman, mitos atau Perilaku bencana penduduk
kepercayaan terkait dengan gunung Pulau Simeuleu ketika terjadi
dan perilaku merupakan kunci mema­ tsunami 26 Desember 2004 berbeda
hami mengapa penduduk sekitar dengan perilaku bencana orang Bali
gunung berperilaku terhadap bahaya. saat Gunung Agung meletus. Pulau
Selain itu, faktor-faktor sosial-ekonomi Simeuleu berpenduduk 78.000 jiwa.
yang meliputi standar hidup yang Sebagian besar tinggal di wilayah
terpola secara sosial, keragaman pesisir. Dari jumlah itu hanya tujuh
sumber dan saluran penghidupan, orang saja yang menjadi korban
serta tingkat kesejahteraan, juga punya langsung tsunami. Padahal Pulau
pengaruh besar, tidak hanya pada Simeuleu berada di wilayah hantaman
tahap pemulihan kondisi, tetapi juga paling dekat dari sumber bahaya.

62
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

Mengapa hanya sedikit penduduk yang seringkali, bagi mereka yang


Simeuleu yang menjadi korban lang­ selamat, menghantar ke perubahan
sung gelombang tsunami? Menurut keadaan yang baik menurut kerangka
hasil penelitian Gaillard et. al. (2008), kosmologis mereka. Sementara itu,
McAdoo et. al. (2006), serta Yogaswara pada sisi lain, agen-agen pemerintah
dan Yulianto (2008), hal itu karena Indonesia menteknologis dan meng­
para penduduk memilih mengungsi eksotiskan bahaya Merapi. Secara
ke daerah yang lebih tinggi ketika konseptual dan material pemerintah
tanda-tanda akan datangnya tsunami memisahkan bahaya alam dari ke­
mereka kenali. Mereka mengenali hidupan masyarakat. Negara memu­
tanda-tanda tsunami karena itu ada di satkan perhatian secara khusus
dalam sejarah lisan yang terpelihara kepada gejala-gejala yang tidak tetap
dalam folklore. Dibandingkan dengan sifatnya dari kegiatan gunung api,
kelompok-kelompok suku bangsa terutama ketika gejala geologis itu
lain di Aceh daratan, orang Simeuleu meninggi saja, sementara penduduk
memiliki pengetahuan kultural memusatkan perhatian lebih pada
dari pengalaman tsunami berabad babak masa lebih panjang ketika
sebelumnya yang konon menghabisi tidak ada atau sedikit saja kegiatan
lebih dari 70 persen penduduk Pulau. kegunungapian, baik sebelum maupun
Mereka juga punya nama khusus masa depan setelah letusan. Penelitian
untuk tsunami, yakni smong. Dengan Dove ini menunjukkan bahwa tidak
pengetahuan yang diturunkan secara hanya persepsi atas resiko bencana
lisan melalui folklore inilah orang itu berbeda-beda, tetapi juga konsep
Simeuleu berhasil mengenali ciri dan resiko itu sendiri begitu beragam di
bertindak dengan benar menghindari berbagai kalangan.
bahayanya. Penelitian P.M. Laksono (1988)
Sebagian temuan penelitian dan Triyoga (1991) tentang persepsi
Lavigne dkk. tentang arti penting bencana Gunung Merapi juga
budaya terhadap perspesi resiko menunjukkan gejala serupa seperti
bahaya alam dipertegas hasil yang diangkat Dove. Laksono dan
penelitian Michael Dove (2008, 2011) Triyoga menemukan bahwa ada
tentang per­sepsi resiko bahaya konflik persepsi antara penduduk
letusan di antara penduduk lereng setempat dengan agen pemerintah.
Gunung Merapi. Dove mencatat Pandangan penduduk lereng Merapi
bahwa penduduk lereng Merapi telah diwarnai oleh tradisi dan adat istiadat,
mengembangkan semacam sistem sementara pandangan agen pemerintah
keyakinan keagamaan serta sistem terutama dipengaruhi penilaian teknis
praktik agroekologi yang mendomes­ keilmualaman, ekonomi nasional, dan
tikasi bahaya-bahaya gunung api. politik pemerintahan. Konflik persepsi
Sistem-sistem ini berkembang sepan­ ini, salah satunya, berujung pada pola
jang sejarah interaksi mereka dengan penanganan keadaan pascabencana.
Merapi. Mereka memandang letusan Sementara agen pemerintah mene­
Merapi sebagai sejenis agen perubahan kankan pindah tempat sebagai satu-

63
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

satunya jalan keluar untuk meng­ dengan seperangkat raut muka yang
hindari dampak bahaya letusan menunjukkan keprihatinan merupakan
Merapi di masa depan, penduduk perilaku yang secara sosial lebih utama
setempat memilih kembali ke tempat karena demikian juga yang dilakukan
asal dan membangun kembali kehi­ agen-agen pemerintah. Dampaknya,
dupan yang hancur. Triyoga lebih orang-orang menjadikan para korban
lanjut menyimpulkan bahwa sistem sebagai tontonan massal. Hanya pada
kepercayaan setempat tentang asal- minggu kedua saja proses strukturasi
usul dan perilaku Merapi yang menjadi kekacauan mulai muncul ketika media
landasan persepsi merupakan hasil massa mengalihkan perhatian lebih
kultural strategi adaptasi penduduk dekat kepada cara pemerintah dalam
terhadap pengalaman bahaya Merapi. melihat bencana. Ketika pemerintah
Dalam konteks lebih luas, pene­ dan agen-agen bantuan mulai menam­
litian P.M. Laksono (2007) yang lain pakkan diri di media massa turut
juga menunjukkan bahwa perilaku membantu, pada saat itu pula orang-
orang kebanyakan terhadap bencana orang mulai ikut membantu korban.
yang dialami oleh korban, terkait Dari hasil-hasil penelitian di atas
erat dengan keragaman persepsi atas dapat dikatakan bahwa di dalam
korban antara agen pemerintah dan masyarakat ada beragam sistem nilai dan
korban itu sendiri. Persoalannya, norma yang mengerangkai peristiwa
menurut Laksono, media massa men­ bahaya alam dan bencananya. Wacana
jadi semacam corong bagi menyebarnya bahaya alam antara pen­duduk setempat
persepsi agen pemerintah ketimbang dan pemerintah, misalnya, tidak
corong bagi persepsi korban. Dalam hanya berbeda, tetapi juga seringkali
penelitiannya Laksono menggambar­ berseberangan. Perseberangan inilah
kan bagaimana visualisasi media yang biasanya memunculkan persoalan
atas perilaku lembaga-lembaga resmi dalam upaya penanganan pasca­
terhadap bencana dan korban-korban­ bencana. Keragaman persepsi atas
nya mempengaruhi pula perilaku resiko bencana alam bukanlah sesuatu
orang kebanyakan terhadap bencana yang alamiah. Keragaman persepsi
dan korbannya. Dalam penelitiannya merupakan hasil dari konstruksi sosial
tentang visualisasi gempa bumi 2006 yang di dalamnya pranata-pranata
di Jogjakarta, P.M. Laksono meng­ pemasyarakatan memainkan peran
gambarkan bagaimana pada minggu penting. Sementara pada masyarakat
pertama, mediasi bencana oleh media yang relatif tradisional, peran media
massa menunjukkan orang-orang yang massa digantikan oleh cerita rakyat,
tidak menjadi korban muncul dari mitologi, dan berbagai folklore, pada
mana-mana di sekitar wilayah bencana masyarakat yang lebih modern, media
hanya untuk menyaksikan para korban massa menjadi salah satu sarana
dan menunjukkan solidaritas mereka pemasyarakatan nilai dan norma
ketimbang terjun langsung menolong. kebencanaan melalui reportase dan
Bagi kebanyakan orang, menunjukkan penyebaran opini. Media massa berita
diri secara fisik di hadapan korban, berperan dalam menekankan nilai

64
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

sosial mana yang dimasyarakatkan. sisi lain, perempuan dianggap sebagai


Hal ini berdampak tidak hanya kepada pemelihara dan penjaga kanak-
persepsi orang terhadap bencana, tetapi kanak dan orang-orang lanjut usia di
juga bagaimana menangani persoalan keluarganya. Oleh karena itu, tekanan
pemulihannya (Miles dan Morse, 2007). norma ini menghalangi mereka
Meski menunjukkan adanya per­ menyelamatkan diri. Ketimbang lari
bedaan persepsi resiko bahaya alam, sejauh mungkin dari sumber bahaya,
penelitian Dove, Laksono, dan Triyoga mereka dibudayakan untuk senantiasa
di atas masih mengandaikan populasi kembali ke rumah menolong kanak-
terdampak bencana sebagai kesatuan kanak dan orang lanjut usia di
tunggal. Mereka belum menengok keluarganya. Akibatnya, perempuan
keragaman persepsi resiko di antara paling beresiko terdampak dalam
anggota komuniti dan terutama kera­ kondisi bencana.
gaman kerentanan terhadap bencana Pada tahap penanganan pasca­
di antara kategori-kategori sosial yang bencana, terutama terkait dengan
ada di dalam komuniti. Misalnya, bantuan pemulihan, perempuan juga
bagaimana gender atau kelas sosial biasanya dikesampingkan. Orang
mempengaruhi persepsi dan tindakan kebanyakan dan agen-agen organisasi
seseorang terhadap bahaya alam dan bantuan biasanya mengumpulkan
bencananya serta bagaimana gender laki-laki, menunjuk laki-laki sebagai
atau kelas sosial berdampak pada perantara mereka dalam menyalurkan
kerentanan terhadap bencana. bantuan, dan selalu menganggap
Apabila Dove dan Laksono melihat ‘kepala rumahtangga’ adalah laki-laki.
adanya keragaman persepsi resiko atas Penelitian Santoso ini menggemakan
bahaya alam dan bencana, terutama kembali pandangan para peneliti
antara pemerintah dan penduduk bencana Amerika bahwa bencana
setempat, penelitian Widjajanti alam merupakan lapangan yang
Santoso (2007) memperlihatkan tergenderkan (Enarson dan Morrow,
adanya bias gender dalam melihat 2000). Tanpa perhatian kepada apa
bencana dan korban-korbannya. Di yang dilihat melalui ‘mata’ perempuan,
banyak kejadian bencana, kanak- pemahaman akan kondisi dan perilaku
kanak dan perempuan merupakan kebencanaan akan meleset. Akibatnya,
golongan yang tercatat paling banyak manajemen dan penanganan sosial
menjadi korban. Menurut Santoso pascabencana pun akan meleset dari
nilai budaya dan tatanan sosial yang sasarannya dalam mengentaskan
meminggirkan perempuan berperan korban dari derita.
penting dalam mempengaruhi banyak Pada tingkatan yang lebih luas,
perempuan yang menjadi korban. Pada bencana alam jelas merupakan peris­
beberapa komuniti, perempuan dinilai tiwa negatif yang menyebabkan
terlarang apabila keluar rumah tanpa derita dan kematian, kerusakan
penjagaan dan juga tatanan sosial dan kehancuran. Namun dalam
mempersempit keikutsertaan mereka perekonomian makro bencana-bencana
dalam kegiatan-kegiatan publik. Pada itu hanya sedikit saja mempengaruhi

65
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

perekonomian dalam jangka panjang. membatasi cakrawala pengambil


Menurut Joseph Scanlon (1988), hal kebijakan dalam memandang apa itu
itu karena bencana menciptakan baik bencana, sebab-sebab, penanggulangan
pecundang maupun pemenang dan dampaknya, serta bagaimana alokasi
hal ini menimbulkan keseimbangan. dan sistem penanganan korban
Mereka yang kehilangan dan yang pascabencananya. Dalam kerangka
mendapatkan keuntungan tidaklah pengertian Foucaultian tentang
acak, tetapi akibat dari pilihan politik kuasa pengetahuan, apabila bencana
golongan penguasa. alam dipahami sebagai sesuatu
yang sepenuhnya berkenaan dengan
BENCANA ALAM SEBAGAI peristiwa alam dan ‘kebenaran’ ini
GEJALA SOSIAL menjadi satu-satunya kebenaran dalam
memotret bencana, maka tidak banyak
Berkaca dari berbagai kasus hasil
yang bisa dilakukan selain dalam soal
kajian kebencanaan di atas, maka
penanganan pascabencana. Alamlah
dapatlah kita ulas beberapa konsep
yang bertanggung jawab terhadap
yang dapat mengerangkai kajian sosial
timbulnya bencana; dan karena alam
kebencanaan.
tidak bisa dipersalahkan, maka tidak ada
Setiap ilmu mengembangkan
pihak yang bersalah di dalam bencana.
batasan-batasan terhadap gejala
Yang harus dilakukan pengambil
tineliti agar gejala-gejala tersebut bisa
kebijakan hanyalah bagaimana ilmu
diselidiki sesuai dengan norma dan
alam memahami gejala-gejala alam
jargon ilmu tersebut. Batasan meru­
bencana dan berupaya sebaik mungkin
pakan alat untuk mengerangkai gejala.
menawarkan penjelasan-penjelasan
Gejala yang terkerangka akan bisa
yang bisa dipakai untuk memprediksi
diurai anasir-anasir dan dikupas segi-
kemunculannya sehingga bisa mengu­
seginya. Dengan mengurai anasir
rangi korban dan kerusakan.
dan mengupas seginya, pemahaman
Tetapi, benarkah bencana hanya
lebih jauh atas gejala diharapkan
soal gejala alam? Apabila demikian,
bisa dicapai. Apabila bencana alam
bagaimana menjelaskan adanya se­
dianggap sebagai salah satu gejala
golongan orang terdampak sementara
yang layak diselidiki antropologi, apa
yang lain tidak, atau sebagian orang
saja segi dan anasirnya?
tidak sanggup menanggapi guncangan,
Definisi atau batasan bencana
sementara yang lain bisa atau malah
merupakan soal pelik. Tidak hanya
mendapat manfaat dari guncangan
secara teoritis, tetapi juga politis. Secara
yang terjadi? Bukankah bila demikian
politis, batasan bencana merupakan
adanya berarati bencana bukan sekadar
buhul atau patokan dari berbagai
soal gejala atau peristiwa alam, tetapi
kebijakan, program, proyek, dan
lebih merupakan suatu peristiwa atau
aktivisme di sekitar tindak pencegahan,
proses sosial yang membuat sebagian
penanganan, dan penanggulangan
orang terdampak sementara yang lain
dampak pascabencana. Baik tersurat
tidak?
maupun tersirat, definisi bencana

66
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

Secara teoritis, kepelikan men­ pada saat, dan sesudah peristiwa


definisikan bencana alam terutama bencana yang akan sangat beragam.
berakar pada keragaman aspek objektif Dari sudut pandang yang lebih
sumber-sumber bahaya dan kerumitan konstruktivis, Rodriguez dan Barnshaw
aspek subjektif resiko dari orang-orang malah mendefinisikan bencana sebagai
terdampak (Oliver-Smith, 1999: 19). “peristiwa yang dibawa manusia, secara
Dari sisi aspek objektif sumber bahaya, sosial terkonstruksi dan merupakan
ada banyak sekali agen-agen alam yang bagian dari proses sosial yang
bisa menimbulkan bencana. Sumber mencirikan masyarakat... ketimbang
itu bisa yang sifatnya mendadak suatu peristiwa yang terisolasi [dari
dan dahsyat secara langsung seperti kehidupan sosial], bencana haruslah
runtuhan di tubir lempeng tektonik dipandang dan dikaji sebagai bagian
yang bisa menyebabkan gempa, dari tatanan masyarakat normal
letusan gunung api, atau tsunami; bisa yang memantulkan struktur sosial,
juga yang sifatnya perlahan dan lambat politik, dan ekonomi serta organisasi
dampaknya seperti pergeseran arus sosial...” (Rodriguez dan Barnshaw,
panas di dalam siklus El-Niño Samudra 2006: 222). Dengan demikian, bencana
Pasifik yang menyebabkan kekeringan, alam bukanlah peristiwa alam yang
anomali curah hujan, atau pergeseran sembarang terjadi atau mempunyai
musim. Keragaman objektif sumber kemungkinan dampak yang setara
bencana ini sendiri memperpelik defi­ di antara anggota masyarakat, tetapi
nisi bencana alam karena akan sulit lebih sebagai hasil dari kondisi sosial
membuat “penetapan seperangkat dan ekonomi yang ada. Soal mengapa
karakteristik definisional yang bisa segolongan orang terkena dampak
melingkupi keragaman gejala yang lebih berat ketimbang segolongan
memunculkan dan muncul di dalam lainnya, tidak bisa dicari penjelasannya
bencana” (Oliver-Smith, 1999: 20). di dalam watak gejala alam yang
Dari aspek subjektif terdampak, memicu bencana, tetapi kondisi
ada banyak sekali kategori sosial- ekonomi dan politik yang memicu
budaya dari orang-orang yang berada segolongan orang itu mengalami
di dalam situasi bencana. Ada beragam bencana. Sumber malapetaka bisa saja
persepsi, penafsiran, pengalaman, alamiah, tetapi bencana itu sendiri
kebutuhan, dan tujuan terkait situasi bukan. Dalam konteks ini, “agen-
bencana di antara orang-orang di agen bencana bersifat merusak secara
dalam suatu tatanan sosial yang juga [atau dalam konteks] sosial, [sehingga]
terpilah-pilah dan berlapis-lapis. kita tidak bisa memahami kerusakan
Kategori sosial seperti jender, usia, ini hanya dari pengetahuan tentang
status sosial, kelas sosial, kekuasaan agen” (Dynes, 1970: 51 dikutip Clarke,
politik, kedudukan ekonomi tidak 1993: 377). Di sinilah inti bencana,
hanya membuat lebih rumit persepsi dan inti ini pula yang menggerakkan
dan penafsiran terhadap situasi banyak kajian bencana di lingkungan
bencana, tetapi juga perilaku sebelum, akademik antropologi.

67
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

Sejak awal berkembangnya kajian sumber atau saluran penghidupan


terhadap bencana, ilmuwan sosial mereka sehingga memerlukan bantuan
melihat bencana terutama sebagai suatu dari luar karena terjadinya peristiwa
“proses sosial” (Clausen dkk., 1978: 63) alam yang merusak (Anderson dan
atau “subkebudayaan” (Moore, 1964), Woodrow, 1989).
ketimbang suatu peristiwa alam belaka. Secara antropologis, proses-
Bencana merupakan suatu situasi di proses sosial bisa berujung kepada
dalam konteks dinamika hubungan ketidaksamaan dampak dan ketidak­
antarmanusia yang di dalamnya ter­ setaraan kemampuan menghadapi
masuk hubungan antarmanusia yang bahaya alam yang merusak. Proses-
berkenaan dengan alam, gejala, dan proses sosial membuat segolongan
perubahannya. Secara sosiologis, orang lebih rentan terhadap guncangan
bencana senantiasa disertai baik oleh ketimbang segolongan orang lain.
gejala solidaritas maupun konflik Ketidaksetaraan ini merupakan fungsi
sosial. Dalam banyak kasus pula, dari hubungan kekuasaan yang bekerja
interaksi bahaya dan resiko bencana di dalam masyarakat dan sama sekali
dengan kategori-kategori sosial seperti bukan sesuatu yang alamiah. Di dalam
gender, kelas, dan semua simpul etnografinya tentang gempa bumi
ketimpangan sosial sulit diabaikan besar di Jepang pada 1995, misalnya,
(Tierney, 2007). Nakamura menggambarkan betapa
Apabila bencana alam dilihat dampak gempa itu tidaklah sama
sebagai suatu guncangan karena terhadap golongan cacat dan miskin
peristiwa alam yang relatif mendadak karena mereka lebih banyak tinggal
dan tidak diharapkan di dalam di wilayah permukiman yang rumah-
tatanan normal di dalam suatu rumahnya tidak memenuhi patokan
sistem sosial sehingga tidak bisa keselamatan atau tinggal di wilayah
dikendalikan sistem, maka bencana yang tanahnya tidak stabil atau di
adalah situasi krisis sosial yang pinggiran laut yang rawan (dikutip
dampaknya melampaui kemampuan Fjord dan Manderson, 2009: 65).
suatu masyarakat menghadapinya Dari keragaman aspek objektif
(Quarantelli dan Dynes, 1977). Dengan sumber bencana dan kerumitan
kata lain bencana alam ialah semacam subjektif mereka yang terdampak,
situasi krisis kolektif yang menghantar antropolog Oliver-Smith mengajukan
pada perubahan katastrofik di dalam definisi bencana yang lebih dialektis
lingkungan fisik dan sosial yang sebagai “sebuah proses/peristiwa
mengakibatkan patahan di dalam yang memunculkan keadaan yang
kehidupan sosial (Barton, 1970: 38-47). di dalamnya bertemu agen-agen
Artinya, suatu peristiwa dikatakan penghancur potensial dari lingkungan
sebagai bencana alam apabila di alam dan/atau teknologis dan populasi
dalam masyarakat atau komuniti sehingga memunculkan keadaan rentan
terdapat sejumlah orang yang rentan secara sosial dan teknologis” (Oliver-
mengalami malapetaka dan menderita Smith, 1996: 305). Dengan demikian,
kerusakan berat atau terganggu meski bencana alam terutama bukan

68
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

persoalan munculnya agen-agen praktik sosial yang berlaku di dalam


perusak dari alam, tetapi definisi ini menghadapi kondisi-kondisi yang
tidak menafikan peranan bahaya alam tidak menguntungkan selama situasi
‘pemicu’ yang bisa memunculkan krisis.
bencana. Memang bencana lebih Salah satu pendekatan yang per­
terkait dengan bagaimana komuniti nah dominan dalam kajian antropologi
manusia terkena oleh dampak bahaya kebencanaan ialah ‘subkebudayaan
alam yang merusak itu, seberapa kuat bencana’ (disaster subculture). Teori ini
benteng yang menahannya, seberapa pertama kali diajukan Harry Moore.
banyak dan bagaimana sumberdaya Di dalam bukunya And the Wind
yang ada dikelola dalam menanggapi Blew (1964), Moore memperkenalkan
situasi bencana, dan sebagainya, tetapi subkebudayaan bencana sebagai
keragaman agen pemicu juga patut “pola-pola penyesuaian, aktual dan
diperhatikan. potensial, sosial, psikologis, fisik, yang
Dengan mengakui agen fisik dilakukan penduduk suatu wilayah
dan populasi dalam mendefinisikan dalam menghadapi bencana yang
bencana, tidak berarti bahwa ada dua menimpa” (Moore, 1964: 195). Konsep
hal, yakni alam dan populasi, yang bisa ini merujuk ke seperangkat pertahanan
dipisahkan dan pertemuan keduanya kultural yang dikembangkan suatu
di dalam suatu proseslah yang komuniti di dalam menghadapi
mencirikan suatu bencana. Baik alam bahaya yang muncul dari peristiwa
maupun populasi berada di dalam alam tertentu pula. Subkebudayaan
satu kesatuan tunggal yang tidak itu semacam blueprint perilaku yang
terpisahkan. Alam, dalam konteks ini, tersimpan di dalam perbendaharaan
adalah juga “yang sosial”, atau dengan nilai, norma-norma, kepercayaan,
kata lain, alam dan gejala-gejalanya sistem pengetahuan dan teknologi,
selalu di dalam dinamika hubungan serta organisasi sosial.
antarmanusia; alam selalu adalah alam Konsep pokok pendekatan sub­
yang terbudayakan. kebudayaan ialah residu kebudayaan.
Konsep ini diambil dari khazanah
BENCANA ALAM teori evolusi kebudayaan. Di dalam
DAN KEBUDAYAAN BENCANA kerangka pikir evolusioner, kebu­
Bencana alam merupakan suatu dayaan senantiasa berubah dari satu
keadaan hasil dari proses yang men­ tingkat ke tingkat berikutnya yang
cakup keradaan agen-agen fisik alam lebih tinggi. Tetapi, ketika peralihan
dan populasi yang rentan terhadap ke tingkat lebih tinggi terjadi, tidak
gejala merusaknya. Dengan demikian, serta-merta semua unsur kebudayaan
unit analisis dalam kajian kebencanaan dari tingkat sebelumnya digantikan
mestilah diarahkan kepada tatanan sepenuhnya oleh unsur kebudayaan
sosial dan perkembangannya yang baru. Ada sisa-sisa kebudayaan lama
membuat suatu komuniti rentan yang terbawa dan tetap menjadi
guncangan atau krisis. Lebih lanjut, patokan perilaku di dalam konteks
sasaran diarahkan kepada praktik-

69
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

kebudayaan baru. Sisa-sisa itulah yang salah satu pertanda akan datangnya
disebut residu. gelombang tsunami ialah surutnya
Di dalam pendekatan sub­ air laut secara mendadak, dan bahwa
kebudayaan bencana, residu dipahami salah satu tindakan yang sesuai
sebagai seperangkat pola tindakan, dengan keadaan itu ialah menghindari
perilaku, dan organisasi sosial pesisir dengan berlari ke wilayah
simpanan atau hasil peliharaan kolektif yang lebih tinggi. Pengetahuan ter­
di dalam kebudayaan komuniti yang sebut kemudian disebarkan melalui
diperoleh dari pengalaman masa berbagai saluran pemasyarakatan,
sebelumnya (Wenger dan Weller, termasuk oleh media massa, sehingga
1973: 1). Ketika terjadi peristiwa alam menjadi residu pengetahuan kolektif
merusak, anggota-anggota komuniti yang akan disimpan untuk dijadikan
harus bertindak dan mengorganisasi panduan tindakan yang sesuai meng­
diri sesuai dengan situasi krisis yang hadapi gejala serupa di masa depan.
ditimbulkannya. Suatu komuniti yang Apabila residu ini terpelihara atau
tidak memiliki atau kurang mengem­ terpranatakan, bisa dikatakan bahwa
bangkan bentuk-bentuk tanggapan komuniti tersebut memiliki apa yang
yang cocok, akan mengalami bencana disebut ‘subkebudayaan bencana’
dalam arti sesungguhnya. Tidak ada (Moore, 1964) atau malah suatu
atau kurangnya pola tanggapan yang ‘kebudayaan bencana’ (Bankoff, 2003)
cocok bisa saja karena komuniti ter­ apabila pengalaman-pengalaman
sebut belum pernah mengalami situasi serupa terjadi berulang kali sehingga
krisis bencana. Bisa juga karena pola- meresapi kebudayaan komuniti secara
pola tindakan yang sesuai untuk umum.
masa krisis dari pengalaman bencana Pada satu sisi, residu kebudayaan
sebelumnya tidak terpranatakan bencana merupakan bahan baku atau
dengan baik di dalam kerangka kebu­ rujukan pilihan-pilihan perilaku yang
dayaan mereka secara umum sehingga dengannya anggota-anggota komuniti
tidak bisa menjadi patokan perilaku bertahan hidup di dalam situasi krisis.
saat bencana. Pada sisi lain, residu dikembangkan
Sebagian besar tindakan dan dari dialektika residu sebelumnya
organisasi sosial yang dimanfaatkan dengan pilihan perilaku yang muncul
menghadapi bencana muncul dan mendadak di kala bencana terjadi.
dikembangkan sepanjang berlang­ Sebagai rujukan perilaku pada situasi
sungnya tekanan aktual kondisi khusus, residu kebudayaan bencana
bencana. Artinya, dampak dan pada dasarnya adalah fungsi laten. Ia
bentuk-bentuk tanggapan sangat ber­ menjadi laten di dalam situasi non-
gantung kepada pengalaman kolektif bencana. Ia hanya dirujuk dan aktual
terhadap peristiwa serupa di masa pada saat bencana menimpa.
lalu. Setelah peristiwa tsunami Aceh Bencana alam merupakan situasi
atau Pangandaran beberapa tahun darurat. Begitu pula subkebudayaan
lalu, misalnya, orang-orang yang se­ bencana. Di dalam situasi darurat
lamat mendapatkan pelajaran bahwa biasanya orang-orang mengorganisasi

70
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

diri ke dalam organisasi darurat pula dampaknya (slow onset disaster) seperti
dalam upaya penyediaan pertolongan, banjir atau kekeringan. Di dalam proses
bantuan, dan dukungan bagi sesama normalisasi, pengalaman kebencanaan
korban. Orang-orang menyatukan terintegrasi ke dalam kebudayaan
sumberdaya yang tersisa, baik manifes. Ia muncul ke permukaan
secara individual maupun kolektif, sebagai bagian dari adaptasi komuniti
supaya bisa bertahan hidup sebagai terhadap gejala yang sama.
suatu kolektif. Dalam konteks ini,
bencana seringkali menjadi kekuatan ANTROPOLOGI DAN KAJIAN
kohesif layaknya ‘musuh bersama’. KEBENCANAAN HOLISTIK
Kohesivitas bencana terutama ber­ Seperti ditegaskan Prof. Irwan
laku dalam konteks bencana alam Abdullah, di Indonesia, kajian aka­
yang tergolong mendadak dampak demik tentang bencana masih sangat
kemunculannya (rapid onset disaster) miskin. Menurutnya, “selalu saja
seperti gempa, longsor, atau tsunami. sebuah bencana dianggap sebagai
Hal ini berkenaan dengan watak pengalaman baru, sebagai sesuatu
peristiwanya yang tidak terprakirakan yang belum pernah terjadi sebelumnya
waktu kemunculannya. Ketiba- sehingga ditanggapi sebagai sesuatu
tibaan dan kedahsyatan guncangan yang belum menjadi pengetahuan dan
sosio-psikologis bencana mendadak pengalaman kolektif sehingga belum
ini menghancurkan rutinistas dan mengalami integrasi dalam kehidupan
membuat patahan dalam arus tatanan dan kebijakan sosial” (Abdullah, 2008:
yang normal. Bencana yang demikian 2). Padahal, rekaman sejarah kealaman
memunculkan liminalitas kolektif atau Indonesia justru menunjukkan yang
situasi abnormal sehingga perbedaan sebaliknya. Banyak bencana-bencana
kelas, status, kasta, dan kebiasaan yang alam berskala besar terjadi di Indonesia
membeda-bedakan yang ada pada (Gunn, 2008).
situasi normal sementara tertimbun Begitu dekatnya kenyataan keben­
oleh krisis tiba-tiba. Tetapi, seringkali canaan di Indonesia tidak serta-
orang-orang akan kembali ke kebiasaan merta menaikkan kuantitas kajian
lama dan menjalani hidup sesuai sosial kebencanaan. Di lingkungan
dengan tatanan sosial normal setelah antropologi global pun, penelitian
peristiwa berlalu. kebencanaan pada umumnya lebih
Meski demikian, ketika gejala- bersifat ‘kebetulan’ karena kebetulan
gejala alam serupa seringkali dialami bencana alam terjadi ketika antro­
dan residu-residu dari peristiwa yang pologi melakukan penelitian di daerah
lalu digunakan sebagai pola tanggapan, tersebut (Abdullah, 2008: 5) atau
bisa saja residu ini menjadi kebudayaan dipicu oleh pengalaman pribadi antro­
bencana. Keseringan berujung pada polognya sendiri dalam peristiwa
terjadinya ‘normalisasi’ situasi. Gejala bencana (Abdullah, 2008: 2).
ini pada umumnya terjadi terkait Bencana alam itu sendiri men­cakup
dengan bencana-bencana alam yang aspek fisik-kealaman sumber bahaya
tergolong perlahan kemunculan dan aspek sosial-budaya populasi

71
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

terdampak. Suatu gejala alam menjadi setempat tidak mungkin tidak punya
bencana apabila ia mempengaruhi pengaruh terhadap pemahaman akan
populasi manusia. Dalam peristilahan keragaman persepsi bahaya alam dan
antropolog Greg Bankoff, bencana perilaku kebencanaannya. Dalam
alam senantiasa muncul di dalam konteks ini sumbangsih lain dari
konteks kultural (Bankoff, 2003). antropologi ialah etnografi dengan
Meskipun sebagian besar kemun­ teknik pengamatan terlibatnya. Baik
culan bahaya alamnya ada di luar sebagai metode penyelidikan mau­pun
kendali manusia, tetapi kesiapan sebagai deskripsi kelompok sosial,
masyarakat dan kerentanan sosial etnografi memungkinkan dipahami­
di antara berbagai kategori sosial nya keragaman nilai dan norma di
yang ada di dalam masyarakat dalam dalam masyarakat. Di Indonesia
menanggapinya ditentukan oleh yang tingkat melek hurufnya masih
bagaimana distribusi sistem penge­ belum tinggi disertai oleh tradisi
tahuan dan teknologi yang berdiri pengadministrasian keterangan lokal
di atas tatanan sosial dan di­gerakkan yang masih lemah, etnografi juga
oleh pranata-pranata yang ada. Dalam menawarkan pendekatan khas untuk
kajian kebencanaan, kedua-dua aspek memperoleh data yang hanya muncul
bencana tidak bisa dipisahkan satu dari konteks ‘kebetulan’. Dengan
sama lain. Dari watak bencananya metode pengamatan terlibatnya, etno­
sendiri, pemahaman atas prosesnya grafi memungkinkan tergalinya ‘data
mestilah holistik; aspek alam dan kebetulan’ yang merupakan data
aspek sosial-budaya mestilah dipahami paling penting dalam memahami cara
sebagai satu kesatuan. pandangan penduduk setempat dalam
Di dalam upaya membangun konteks alamiahnya (Dove, 1991).
kajian kebencaan ini, salah satu sum­ Dari pengalamannya meneliti
bangsih antropologi -yang masih kegunungapian di Indonesia, ahli
terbatas- ialah konsep kebudayaan. vulkanologi Katherine Donovan (2010)
Sebagai seperangkat pengetahuan, sampai pada kesimpulan bahwa
kepercayaan, dan praktik-praktik untuk memahami gejala vulkanologi
yang dibagi bersama, dipelajari, dan secara holistik, sudah saatnya para
dialihkan, kebudayaan memainkan ahli vulkanologi mengintegrasikan
peran penting di dalam memahami metode-metode penelitian ilmu sosial
bagaimana orang-orang memandang, ke dalam vulkanologi tradisional. Di
memahami, dan bertindak untuk sinilah antropologi bisa berperan. Di
mengenali pertanda, menghadapi atau sisi lain, antropologi tidak hanya bisa
menghindari, mengurangi dampak, memberi sumbangsih bagi disiplin
dan memulihkan diri dari bencana. ilmu lain, tetapi juga sudah saatnya
Indonesia merupakan negara turut menyerap pengetahuan dari
dengan keragaman budaya yang disiplin lain, terutama ilmu kealaman
tinggi. Kemajemukan identitas terkait bahaya alam, dalam rangka
kesukubangsaan, sistem kepercayaan memahami bencana alam secara
dan agama, serta sejarah masyarakat holistik.

72
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

Daftar pustaka Dove, Michael R. 2008. Perception


of volcanic eruption as agent
Abdullah, Irwan. 2008. Konstruksi of change on Merapi volcano,
dan reproduksi sosial atas bencana central Java, Journal of Volcanology
alam. Working Papers in and Geothermal Research, Vol. 172,
Interdiciplinary Studies No. 01, Issue 3-4, pp. 329-337.
Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Dove, Michael R. 2011. Perceptions of
UGM. Local Knowledge and Adaptation
Anderson, Mary, dan Peter Woodrow. on Mount Merapi, Central Java,
1989. Rising from the Ashes: dalam Roy Ellen (ed.) Modern
developing strategies in times of Crises and Traditional Strategies:
disaster, Boulder, Colorado: local ecological knowledge in
Westview Press. Island Southeat Asia. New York:
Barton, Allan H., 1970, Communities Berghahn Books.
in Disaster: a sociological analysis Effendi, Nusyirwan. 2007. Bencana:
of collective stress situations, New pengalaman dan nilai budaya
York: Anchor Books. orang Minangkabau, Masyarakat
Bankoff, Greg, 2003, Cultures of Indonesia, Vol. 33, No. 2.
Disaster: society and natural Enarson, Elaine, dan Betty H. Morrow
hazard in the Philippines, London: (ed.) 2000. The Gendered Terrain
RoutledgeCurzon. of Disaster: through women’s eyes.
Clarke, Lee, 1993, Social Organization Miami, Florida: International
and Risk: some current Hurricane Center.
controversies, dalam Annual Fjord, Lakshmi, dan Lenore Manderson,
Review of Sociology, Vol. 19, 375- 2009, Anthropological Perspec­
399. tives on Disasters and Disability:
Clausen, Lars et al., 1978, New Aspects an introduction, dalam Human
of the Sociology of Disaster: a Organization, Vol. 68, No. 1, 64-
theoritical note, dalam Mass 72.
Emergencies, Vol. 3: 61-65. Gaillard, J-C, et. al. 2008. Ethnic group’s
Donovan, Katherine. 2010. Doing social response to the 26 December 2004
volcanology: exploring volcanic eruption and tsunami in Aceh,
culture in Indonesia, Area, Vol. Indonesia, Natural Hazards, Vol.
42, No. 1, pp. 117-126. 47, pp. 17-38.
Dove, Michael R. 1991. Prakata, dalam Gunn, Angus M. 2008. Encyclopedia
L.S. Triyoga. Manusia Jawa dan of Disasters: environmental
Gunung Merapi: persepsi dan sistem catastrophes and human tragedies,
kepercayaan. Yogyakarta: Gadjah volume 1. Westport, Connecticut:
Mada University Press. Greenwood Press.

73
T I F A Jurnal Ilmiah Etnografi Papua

Laksono, P.M., 1988, Perception of Oliver-Smith, Anthony, 1996,


Volcanic Hazard: Villagers versus Anthropological Research on
Goverment Officials in Central Hazards and Disasters, dalam
Java, dalam Michael R. Dove Annual Review of Anthropology,
(ed.), The Real dan Imagined Role Vol. 25: 303-328.
of Culture in Development. Case Oliver-Smith, Anthony, 1999, “What
Studies from Indonesia, Honolulu: is a Disaster”: Anthropological
University of Hawaii Press. Perspectives on a Persistent
Laksono, P.M. 2007. Visualisasi Gempa Question, dalam The Angry
Yogya 27 Mei 2006, Masyarakat Earth: Disaster in Anthropological
Indonesia, Vol. 33, No. 2. Perspective, hlm. 19-34, New York
Lavigne, Franck, et. al. 2008. People’s dan London: Routledge.
behaviour in the face of volcanic Quarantelli, E.L., dan Russell R. Dynes,
hazards: perspectives from 1977, Response to Social Crisis
Javanese communities, Indonesia, and Disaster, dalam Annual
Journal Volcanology and Geothermal Review of Sociology, Vol. 3: 23-49.
Research, Vol. 172, pp. 273-287. Rodriguez, Havidan, dan John
Marianti, Rully. 2007. What is to be done Barnshaw, 2006, The Social
with disasters? A literature survey Construction of Disaster: from
on disaster study and response. heat waves to worst-case, dalam
Working Paper. Jakarta: The Contemporary Sociology, Vol. 35,
SMERU Research Institute. No. 3, 218-223.
McAdoo, B.G., et. al., 2006. Smong: how Santoso, Widjajanti M. 2007. Bencana
an oral history saved thousands dari perspektif sosiologi feminis,
on Indonesia’s Simeuleu Island, Masyarakat Indonesia, Vol. 33, No.
Earthquake Spectra, Vol. 22, pp. 2.
661-669. Scanlon, Joseph. 1988. Winners and
Miles, Brian dan Stephanie Morse. Losers: some thoughts about the
2007. The role of news media in political economy of disaster,
natural disaster risk and recovery, International Journal of Mass
Ecological Economics, Vol. 63, pp. Emergencies and Disasters, Vol. 6,
365-373. No.1, pp. 47-63.
Moore, Harry E., 1964, ... And the Winds Tierney, Kathleen J. 2007. From the
Blew, Texas: Hogg Foundation margins to the mainstream?
for Mental Health University of Disaster research at the
Texas. crossroads, Annual Review of
Noveria, Mita. 2007. Bencana alam dari Sociology, Vol. 33, pp. 503-525.
sisi kependudukan: penyebab Triyoga, Lucas S. 1991. Manusia Jawa
dan dampaknya, Masyarakat dan Gunung Merapi: persepsi dan
Indonesia, Vol. 33, No. 2. sistem kepercayaan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

74
Bencana Alam: Suatu Tinjauan Antropologis Dengan Kekhususan Kasus-kasus Di Indonesia

Zen, M.T., dan Djajadi Hadikusumo.


Yogaswara, Herry dan Eko Yulianto.
1964. Preliminary report on the
2008. Local Knowledge of Tsunami
1963 eruption of Mt. Agung
among the Simeuleu Community,
in Bali (Indonesia), Bulletin
Nangroe Aceh Darusallam.
Volcanologique, Vol. 27, Issue 1,
Laporan Penelitian. Jakarta: LIPI-
pp. 269-299.
UNISDR-UNESCO.

75
View publication stats