Anda di halaman 1dari 7

UJIAN AKHIR SEMESTER

TAKE HOME PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA

Nama : Sartika
Nim : F1042191007
Kelas : B1
Semester :5
Mata Kuliah : Problematika Matematika

Permasalahan dalam pembelajaran matematika tidak lepas dari komponen yang terlibat
didalamnya. Komponen tersebut seperti kurikulum, pendidik, materi, dan peserta didik. Bagi
pendidik permasalahan lebih terkait dengan implementasi di kelas ketika berinteraksi dengan
peserta didik yang belajar matematika. Bagaimana pendidik menerapkan strategi-strategi
belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik sekaligus tuntutan kurikulum?
Bagaimanakah mengajar sehingga peserta didik aktif, kreatif, bahkan berkarakter? Pertanyaan-
pertanyan itu merupakan masalah yang dihadapi pendidik dalam kaitannya dengan strategi
pembelajaran.
Artikel dengan judul ”Arah dan Trend Penelitian Pendidikan Matematika di Jurnal Riset
Pendidikan Matematika” dan ”Berbagai Permasalahan Pembelajaran Matematika dalam
Kurikulum 2013 dan Beberapa Upaya untuk Mencoba Mengatasinya” harus Anda telaah secara
cermati, didalamnya memberikan gambaran arah kecenderungan yang dihadapi pendidik
matematika dan upaya menemukan jawabannya.

Soalan yang diajukan dalam ujian akhir semester problematika pendidikan matematika
bersumber dari dua artikel tersebut!
Soal 1
Temukan dari artikel 1 tersebut hasil penelitian yang berpihak pada: (a) bagaimana merancang
proses pembelajaran yang membimbing peserta didik untuk mengkonstruk atau menemukan
kembali (reinvent) suatu konsep matematika?; (b) bagaimana mengelola kelas yang peserta
didiknya terdiri dari berbagai tingkat kemampuan dan bagaimana mengelola pembelajaran
yang peserta didiknya mayoritas belum menguasai pengetahuan prasayarat?; (c) bagaimana
mengelola proses pembelajaran yang efektif, karena penggunaan beberapa metode baru
dianggap memakan waktu?

Jawaban:

a) Bagaimana merancang proses pembelajaran yang membimbing peserta didik untuk


mengkonstruk atau menemukan kembali (reinvent) suatu konsep matematika? Yaitu
pendidik harus mampu melengkapi keterampilan 4C guna menyiapkan siswanya sebagai
insan yang tanggap serta mampu menghadapi persaingan global. Pada era informasi saat
ini siswa harus berkompetisi pada masyarakat global sehingga siswa dituntut mempunyai
kreativitas (creativity), kemampuan berpikir kritis (critical thinking), berkomunikasi
(communication), dan berkolaborasi (collaboration), yang lebih dikenal dengan akronim
‘Four Cs’ (Association (2012); Murtiyasa (2016)).

b) Bagaimana mengelola kelas yang peserta didiknya terdiri dari berbagai tingkat kemampuan
dan bagaimana mengelola pembelajaran yang peserta didiknya mayoritas belum menguasai
pengetahuan prasayarat? Yaitu memperkenalkan mereka dengan kampus merdeka dan
merdeka belajar dari Program Menteri Pendidikan. Karena, melalui kampus merdeka dan
merdeka belajar tersebut dapat mempengaruhi keterampilan dan soft skill peserta didik,
serta untuk mengelola tingkat kemampuan dan penguasaan pengetahuan prasyarat tersebut
pada sekolah tingkat pendidikan dasar. Mengapa demikian? Karena pada sekolah tingkat
pendidikan dasarlah saat yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan dan
pengembangan prasyarat tentang matematika. Literasi matematika dan literasi numerasi
peserta didik menjadi sangat luas agar nanti pada saat mereka naik ke jenjang SMP dan
SMA, mereka sudah mengetahui kemampuannya dan sudah menguasai pengetahuan
prasyarat matematika.

c) Bagaimana mengelola proses pembelajaran yang efektif, karena penggunaan beberapa


metode baru dianggap memakan waktu? Yaitu dengan memberikan pertanyaan kepada
peserta didik dan memungkinkan peserta didik untuk tampil lebih aktif dalam proses
pembelajaran dan juga menciptakan pembelajaran menyenangkan kepada siswa agar
bersemangat mengikuti pembelajaran.

Soal 2

Penerapan Kurikulum 2013 masih mengalami beberapa hambatan, termasuk pembelajaran


matematikanya. Mindset guru yang masih menempatkan diri sebagai sumber belajar utama,
buku siswa dan buku guru yang kurang komunikatif, dan kurang familiarnya penggunaan
pendekatan saintifik dalam pelajaran matematik, serta jarangnya penerapan penilaian otentik
adalah beberapa masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika
dalam konteks kurikulum 2013. Di dalam makalah ini, penulis mencoba menguraikan
permasalahan tersebut dan memberikan sedikit rekomendasi penyelesaian yang mungkin
dilakukan.
Temukan dalam artikel 2 beberapa masalah dan rekomendasi solusinya menurut sudut pandang
penulis artikel. Selain itu, berikan pandangan Anda bagaimana cara memecahkannya!
Jawaban:
Di dalam artikel 2 tersebut terdapat beberapa permasalahan pembelajaran matematika dalam
kurikulum 2013 menurut sudut pandang penulis artikel yaitu sebagai berikut:
1. Buku Siswa
Buku siswa kelas 7 yang sempat penulis lihat terdiri dari 12 bab. Semua bab itu harus
dipahami siswa dalam 2 semester. Artinya, kurang lebih 6 bab tiap semester harus
dikuasai oleh siwa. Bagi guru yang terbiasa dengan kurikulum sebelumnya,
banyaknya bab ini lebih banyak dari banyak bab di buku pada kurikulum
sebelumnya. Kalau pada kurikulum sebelumnya banyak guru yang merasa kesulitan
menyelesaikan semua bab yang ada, dengan tambahan bab ini, meskipun alokasi jam
belajarnya juga bertambah, tetapi guru banyak mengalami kesulitan.
Kalau dilihat dari muatan di dalam buku siswa, di dalam buku tersebut, fakta, konsep,
prinsip, dan materi dicoba diuraikan sedetail mungkin. Kalau kita perhatikan buku
pada kurikulum sebelumnya, buku tersebut sering hanya memuat konsep, contoh,
dan latihan, maka dalam buku siswa mata pelajaran matematika pada kurikulum
2013 ini, uraian tentang prosedur pun terlihat begitu panjang dan lebar. Pada waktu
mencari irisan dari dua himpunan misalnya, di dalam buku itu diuraikan langkah
demi langkah bagaimana menentukan irisan dari dua himpunan.

Keberadaan uraian prosedur yang begitu rinci yang berbeda dengan kebiasaan yang
ada pada buku-buku sebelumnya, tentu membuat guru perlu mengadakan
penyesuaian diri dalam membelajarkannya.
Di dalam buku siswa juga diuraikan masalah, yang menurut pengarangnya adalah
penerapan dari pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning).
Sayangnya, masalah ini dijelaskan secara lengkap. Sepertinya, pengarang buku ini
hanya sekedar memberikan informasi bagaimana proses pemecahan masalanya saja.
Akibatnya, guru tidak memiliki rujukan bagaimana sebenarnya penerapan dari
pembelajaran berbasis masalah itu.
Belum lagi, apa yang dianggap sebagai masalah di dalam buku itu terkadang bukan
merupakan masalah. Kadang hanya soal atau tugas biasa. Karakteristik ill-structured
problems yang menuntut penerapan interdisciplinary approach, yang merupakan
syarat dari jenis masalah dalam pembelajaran berbasis masalah, tidak diperhatikan.
Semua masalah yang disajikan boleh dikatakan merupakan well-structured problems
dan tidak memerlukan interdisciplinary approach untuk memecahkannya.
Bagi guru yang memahami makna dari masalah, buku siswa ini bisa mengakibatkan
mereka kurang senang dan menganggap sebagai buku yang kurang baik. Persepsi dan
sikap mereka negatif. Sikap dan persepsi, sebagai dimensi pertama dari belajar
(Marzano, 1992) sangat menentukan dimensi-dimensi belajar berikutnya. Sikap dan
persepsi yang negatif, cenderung menutup terjadinya dimensi belajar berikutnya,
yaitu: acquire and integrate knowledge, extent and refine knowledge, apply
knowledge meaningfully, dan habits of mind.
Terakhir, soal-soal yang ditampilkan dalam uji kompetensi terkesan langsung sangat
sulit. Soal-soal yang biasanya hanya diberikan kepada siswa berbakat dan untuk
keperluan olimpiade langsung diberikan sebagai bahan uji kompetensi.
Sebenarnya ini sangat bagus karena memberi kesempatan kepada siswa untuk
berkenalan dengan soal-soal non rutin yang menuntut kemampuan berpikir tingkat
tinggi. Sayangnya, banyak guru yang tidak kenal dengan soal-soal seperti itu.
Bukannya tertantang, para guru malah banyak yang merasa ‘minder” dan takut
membahasnya bersama siswa.

2. Buku Guru
Kalau diperhatikan buku guru, bagian awal dari buku tersebut memuat deskripsi
singkat tentang model pembelajaran konstruktivistik yang dilengkapi dengan
panduan penyusunan rencana pembelajaran.
Sebenarnya, penjelasan ini memberikan peluang kepada para guru untuk memahami
secara utuh makna dari model pembelajaran. Guru menjadi mengerti bahwa dalam
suatu model pembelajaran, di samping dampak pembelajaran dan dampak pengiring,
ada 4 (empat) hal yang perlu dipikirkan, yaitu: (1) sintaks atau langkah-langkah
pembelajaran, (2) system sosial, (3) prinsip reaksi, dan (4) sistem pendukung. Hanya
saja, penyajiannya memang sangat singkat dan kurang memberi panduan praktis
kepada guru.
Uraian dari bab-bab berikutnya cenderung mengulang apa yang dituliskan dalam
bukku siswa. Petunjuk pembelajaran yang diberikan hanya singkat saja. Itupun
terkesan terselip di tengah-tengah uraian materi untuk siswa.
Gaya penulisan seperti itu mengakibatkan buku guru terkesan tidak beda jauh dengan
buku siswa. Kesan lain yang muncul adalah bahwa guru tersebut sangat tebal dan
menakutkan untuk dibaca.

3. Pendekatan Saintifik
Di dalam Kurikulum 2013, pendekatan saintifik yang terdiri dari 5M (Mengamati,
Menanya, Menggali Informasi, Mengasosiasi, Mengomunikasikan) merupakan
pendekatan pembelajaran yang perlu atau bahkan wajib untuk diterapkan di semua
mata pelajaran, termasuk matematika. Pendekatan ini lebih mengedepankan
penalaran induktif daripada penalaran deduktif yang menjadi trademark dari
matematika. Karena itu, kebanyakan guru yang membelajarkan matematika dengan
pendekatan deduktif (definisi, contoh, dan latihan) pasti mengalami banyak
hambatan psikologis dan kesulitan teknis untuk melaksanakan pendekatan saintifik.
Para guru matematika perlu mendapatkan banyak waktu dan kesempatan untuk
berlatih menerapkan pendekatan saintifik ini. Sayangnya, kesempatan pelatihan
untuk melaksanakan pendekatan saintifik ini terlalu singkat. Karena itu, para guru,
terutama guru matematika, perlu memperoleh pendampingan yang lumayan banyak
untuk bisa melaksanakan pendekatan saintifik dengan baik.
Guru perlu mendapatkan bimbingan teknis bagaimana mengembangkan tugas yang
mendorong anak untuk melakukan pengamatan yang sungguh-sungguh, tekun, jujur,
obyektif, dan tajam, serta bermanfaat. Guru juga perlu mendapatkan bimbingan
teknis bagaimana membuat siswa mau dan mampu menanya. Guru juga perlu
mendapatkan bimbingan teknis bagaimana guru mendampingi siswanya belajar
(mulai dari memantau kemajuan belajarnya, mempertanyakan apa yang dipikirkan
dan diperoleh siswa, memberikan umpan balik yang baik, dan mendorong siswa
untuk mengembangkan ide kreatifnya secara optimal).

4. Pembelajaran Berbasis Proyek


Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu wujud dari pendekatan saintifik.
Pembelajaran ini mendorong siswa untuk mengerjakan tugas untuk menghasilkan
produk. Untuk itu, siswa harus aktif melakukan kegiatan searching
(mencari), exploring (menggali lebih jauh), creating (menciptakan), and sharing
(berbagi). Untuk itu, siswa juga harus pandai melakukan resource locating
(menentukan sumber informasi yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana
pengembangan produk), planning product to develop (merancang jenis produk yang
akan dikembangkan), scheduling for implementing plan (membuat jadwal
pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat), monitoring the product progress
(memantau kemajuan hasil kerja), assessing the prototype of the product (mengases
hasil sementara yang diperoleh), and evaluating the quality of the product (menilai
kualitas produk).
Pembelajaran berbasis proyek ini termasuk pembelajaran yang jarang sekali
dilakukan oleh guru. Karena itu, penerapan pembelajaran berbasis proyek yang
sangat dianjurkan oleh kurikulum 2013 merupakan kesulitan tersendiri bagi para
guru. Kebiasaan guru yang menempatkan diri sebagai sumber utama belajar (kalau
bukan malah satu-satunya sumber belajar), menjadikan beliau banyak mengalami
kesulitan dalam menjalankannya. Mindset guru harus diubah menjadi lebih banyak
sebagai fasilitator. Sayangnya, pelatihan dan petunjuk praktis bagaimana
menerapkan pembelajaran berbasis proyek ini dilakukan masih sangat minim.

5. Pembelajaran Berbasis Masalah


Pembelajaran berbasis masalah juga sangat disarankan oleh kurikulum 2013.
Pembelajaran ini dimaksudkan untuk membantu siswa belajar sesuatu melalui
kegiatan memecahkan masalah. Pembelajaran yang menuntut disajikannya masalah
yang bersifat ill-structured dan menuntut pendekatan interdisciplinary juga termasuk
pembelajaran yang sangat jarang dilakukan oleh guru, apalagi guru matematika.
Sebenarnya, sifat masalah yang menuntut interdisciplinary approach dalam
pembelajaran berbasis masalah sudah memberikan batasan bahwa penerapan
pembelajaran berbasis masalah ini tidak bisa digunakan secara terisolir dalam mata
pelajaran matematika saja. Penerapan pembelajaran berbasis masalah menghendaki
adanya kerjasama antar beberapa guru mata pelajaran. Karena itu, guru matematika
dan beberapa guru mata pelajaran lain perlu duduk bersama merancang masalah yang
dengan memecahkan masalah tersebut siswa juga belajar beberapa mata pelajaran
sekaligus.
Sayangnya, bantuan teknis bagaimana melaksanaan pembelajaran berbasis masalah
ini juga hampir tidak pernah diberikan. Contoh penerapan pembelajaran berbasis
masalah yang ada di dalam buku terkesan kurang sesuai dengan pengertian dari
pembelajaran berbasis masalah itu sendiri.

6. Penilaian Otentik
Penilaian dengan menggunakan portofolio yang selama ini digunakan oleh guru
kurang begitu terlihat otentiknya. Apa yang dikumpulkan dalam portofolio lebih
banyak berupa LKS yang sudah diberi nilai.
Sebenarnya, siswa perlu diberi kesempatan lebih besar untuk memilih sendiri potensi
apa yang perlu dimasukkan ke dalam portofolio mereka. Siswa perlu didorong untuk
melihat kelebihan dirinya, dan menunjukkan kelebihan itu dari apa yang sudah
dimilikinya. Guru hanya bertugas untuk memberikan pertimbangan dan
menganjurkan apa yang harus dimasukkan ke dalam portofolio mereka. Guru, dan
terutama siswa, tampaknya perlu bantuan bagaimana menjalankan penilaian
portofolio dengan baik.
Terkait dengan masalah penilaian kinerja, sejak di LPTK pun para dosen kurang
banyak memberikan contoh penilaian yang menggunakan penilaian kinerja.
Dukungan bagi guru agar mampu melaksanakan penilaian kinerja terkesan agak
kurang. Tidak banyak pelatihan tentang bagaimana melaksanakan penilaian kinerja
dalam matematika. Hal itu ditambahkan lagi oleh sulitnya guru menemukan terapan
materi matematika dalam kehidupan sehari-hari. Ini membuat guru merasa kesulitan
bagaimana menerapkan penilaian kinerja.

Berikut rekomendasi solusi menurut sudut pandang penulis artikel yaitu sebagai berikut:
1. Mari kita tunggu buku siswa dan buku guru yang sedang diperbaiki oleh pemerintah,
dan sikapi itu semua secara professional. Mari kita kaji secara lengkap dan siapkan
diri kita untuk tidak mengajarkan halaman demi halaman.
2. Mari kita ikuti pelatihan tentang penerapan kurikulum 2013 dengan sungguh -
sungguh. Pahami materi itu dengan baik, dan mari kita hidupkan kegiatan KKG atau
MGMP, baik KKG dan MGMP lintas sekolah, maupun KKG dan MGMP tingkat
sekolah. Mari kita gunakan juga fasilitas internet yang terbuka luas.
3. Mungkin kita perlu memiliki bahan workshop bimbingan teknis dari direktorat
pembinaan sekolah dasar yang telah dikembangkan dan kita manfaatkan untuk
mengadakan workshop secara swadana di tempat kita masing-masing bertugas.

Berikut pandangan saya cara memecahkan permasalahan tersebut:


1. Menyediakan media pembelajaran dan sumber – sumber belajar sehingga antara isi
kurikulum dengan materi pembelajaran dapat berkesinambungan karena adanya
media dan sumber pembelajaran.
2. Memberikan motivasi kepada peserta didik bahwasanya dengan kurikulum K13,
peserta didik akan lebih kreatif dan semangat dalam pembelajaran.
3. Menyediakan media pembelajaran yang berbasis teknologi sesuai dengan isi
kurikulum sehingga tidak mengalami ketinggalan.

Anda mungkin juga menyukai