Anda di halaman 1dari 21

BAB 1.

PENDAHULUAN

Varicella-zoster virus (VZV) adalah anggota dari keluarga Herpesviridae.


Ini adalah agen etiologi dari varicella (cacar air) yang merupakan infeksi
primernya dan herpes zoster yang merupakan reaktivasinya.
Herpes zoster oftalmikus melibatkan jaringan yang diinervasi oleh divisi
oftalmik dari saraf trigeminal dan menyumbang 10-25% dari semua kasus herpes
zoster. Gejala sisa dari Herpes zoster oftalmikus dapat menyebabkan kerusakan,
seperti radang mata kronis, kehilangan penglihatan, dan rasa sakit yang berat.
Berkenaan dengan infeksi primer, lebih dari 90% dari populasi yang terinfeksi
adalah remaja, dan sekitar 100% populasi terinfeksi pada umur 60 tahun.
Menurut review Pavan-Langston, terdapat 1 juta konsultasi untuk herpes zoster
terjadi setiap tahun; sekitar 250.000 dari pasien herpes zoster yang diperiksa
terkena herpes zoster ophthalmicus. Sebuah subset dari 50% pasien ini mengarah
ke komplikasi ophthalmicus herpes zoster (Sidharta,2006).
Di Amerika Serikat, sebanyak 10.000 rawat inap dan sekitar 100 kematian
terjadi per tahun sebagai akibat komplikasi dari infeksi VZV. Morbiditas dan
mortalitas kebanyakan dipengaruhi oleh individu yang mengalami imunosupresi,
termasuk orang-orang usia lanjut, individu yang sistem imunnya tertekan
(misalnya, mereka dengan infeksi HIV atau AIDS), seseorang yang yang sedang
melakukan terapi imunosupresif, dan orang-orang yang mendapat infeksi primer
di dalam rahim atau pada masa lnfansi.

1.1 Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami tentang herpes zoster oftalmikus yang
meliputi definisi, epidemiologi, penyebab, klasifikasi, gejala, pemeriksaan yang
dilakukan, penatalaksanaan, dan komplikasinya. Agar dapat dilakukan
penanganan yang tepat dan diagnosis yang cepat untuk mencegah komplikasi dan
memburuknya herpes zoster oftalmikus. Demikianlah referat ini dibuat mudah-
mudahan bermanfaat.

1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Saraf Trigeminal


Saraf otak kelima atau nervus trigeminus adalah saraf otak motorik dan
sensorik. Serabut motoriknya mempersarafi muskulus masseter, temporalis,
pterigoideus internus dan eksternus, tensor timpani, omohioideus dan bagian
anterior dari muskulus digastrikus. Serabut-serabut sensoriknya menghantarkan
impuls nyeri, suhu, raba, dan perasaan proprioseptif. Kawasanya ialah wajah,
selaput lendir lidah, rongga mulut, serta gusi dan rongga hidung.

Gambar 1. Pembagian nervus trigeminus


(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK384/figure/A1900/?
report=objectonly)

Jika nervus V ditinjau dari cabang-cabang perifernya maka perjalanan


masing-masing cabang adalah sebagai berikut:

2
1. Cabang pertama (cabang oftalmik)
Cabang ini menghantarkan impuls protopatik dari bola mata serta ruang
orbita, kulit dahi sampai verteks. Impuls sekretomotorik dihantarkannya ke
glandula lakrimalis. Jika dibagi secara sistematik, cabang pertama dibagi menjadi
3 kelompok serabut:
• Serabut-serabut dari dahi menyusun nervus frontalis. Ia masuk ruang orbita
melalui foramen supraorbita.
• Serabut-serabut dari bola mata (kornea, iris dan corpus siliaris) dan rongga
hidung bergabung menjadi seberkas saraf yang dikenal dengan nervus
nasosiliaris.
• Berkas syaraf yang menuju ke glandula lakrimalis dikenal sebagai nervus
lakrimaris.
Syaraf-syaraf tersebut di belakang fisura orbitalis superior mendekati satu
sama lain menjadi seberkas syaraf yang dinamakan cabang oftalmikus nervi
trigemini. Cabang tersebut menembus dura untuk melanjutkan perjalanannya di
dalam dinding sinus kavernosus. Pada samping prosesus klinoideus posterior ia
keluar dari dinding tersebut dan berakhir di ganglion gasseri.

2. Cabang kedua (cabang maksilaris)


Cabang ini tersusun oleh serabut-serabut somatosensorik yang
menghantarkan impuls protopatik dari wajah bagian pipi kelopak mata bawah,
bibir atas, hidung dan sebagian rongga hidung, gigi geligi rahang atas, ruang
nasofaring, sinus maksilaris, pala tumole dan atap rongga mulut.
Serabut-serabut yang berasal dari kulit wajah, mukosa, rongga hidung, dan
lebih jauh ke belakang serabut-serabut yang menghantarkan impuls dari selaput
lendir dan gigi geligi rahang atas tergabung dalam nervus infraorbitalis. Setelah
itu, ia dikenal sebagai cabang maksilar nervus V. Setelah keluar dari dinding
tersebut ia berakhir di dalam ganglion gasseri. Selain serabut-serabut tersebut di
atas, cabang N.V. menerima juga serabut-serabut sensorik yang berasal dari dura
fosa kranii media dan fosa pterigopalatinum.

3
3. Cabang ketiga (cabang mandibular)
Cabang ini tersusun oleh serabut somatomotorik, sensorik, dan serabut
sekremotorik. Serabut-serabut somatomotorik setelah muncul pada permukaan
lateral ponds menggabungkan diri pada berkas serabut sensorik yang dinamakan
cabang mandibular ganglion gasseri.
Jika cabang mandibula dilukis menurut komponen eferennya, maka ia keluar dari
ruang intrakranial melalui foramen ovale, dan tiba di fosa infra temperalis (disitu
nervus meningiamedia menggabungkan diri pada pangkal cabang mandibular, dia
mempersarafi meningien) kemudian keluar dari ruang intrakranial melalui
foramen spinosum dan tergabung dalam cabang mandibular ekstrakranial.
Di depan fosa infratemporalis cabang mandibular bercabang dua, yaitu:
1. Cabang posterior: merupakan pangkal dari serabut-serabut aferen yang berasal
dari kulit daun telinga (nervus aurikulotemporalis) kulit yang menutupi rahang
bawah, mukosa bibir bawah, 2/3 bagian depan lidah (nervus lingualis), glandula
parotis dan gusi rahang bawah (nervus dentalis inferior), dan serabut eferen yang
mempersarafi otot-otot omohioideus dan bagian anterior muskulus digastrikus.
2. Cabang anterior: terdiri dari serabut aferen, yang menghantarkan impuls dari
kulit dan mukosa pipi bagian bawah, dan serabut eferen yang mempersarafi otot-
otot temporalis, maseter, pterigoideus, dan tensor timpani.
Melalui juluran aferen sel-sel ganglion gasseri impuls perasaan raba dan
pesan disampaikan kepada nukleus sensibilis prinsipalis dan impuls perasaan
nyeri dan suhu kepada nukleus spinalis nervus trigemini. Serabut-serabut tersebut
terakhir besinap sepanjang wilayah inti tersebut dan dikenal sebagai traktus
spinalis nervi trigemini. Cara serabut-serabut tersebut bersinap ialah menuruti
penataan sigmentasi. Yang menghantarkan impuls dari kawasan cabang
mandibular terkumpul di bagian dosal dari kawasan maksilar ditengah-tengah dan
dari kawasan oftalmik berkonvergen dibagian ventral nukleus spinalis nervi
trigemini. Nukleus sensibilis prinsipalis dan nukleus spinalis N.V.sebenarnya
bukan dua inti yang tersendiri, melainkan satu kontinuitas dari sel-sel yang
menerima impuls dari ganglion gasseri. Lain halnya dengan inti mesensefalik

4
N.V. yang khusus menerima impuls proprioseptif, ia berdiri sendiri pada tingkat
menensefalon.
Lintasan trigeminal selanjutnya nukleus sinsibilis dan nukleus spinalis
nervus V menjulurkan serabut-serabut ke nukleus ventroposteromedialis talami
sisi kontralateral. Juga serabut-serabut dari nukleus mesensefalik nervus V yang
mengakhiri perjalannya di inti VPM, namun tidak hanya secara kontralateral
tetapi sebagian ipsilateral. Lintasan yang menghubungkan inti sensibilitas insifalis
serta nukleus spinalis nervus V dengan nukleus PPM talami dinamakan jaras
trigeminotalamik ventral. Jaras yang menghubungkan nukleus mensensefalik N.V.
dengan nukleus PPM talami kedua sisi dinamakan jaras trigemino talamik dorsal.
Di samping serabut somatosensorik dan somatomotorik juga serabut sekreto
motorik yang bersifat parasimpatik ikut menyusun nervus trigeminus. Melalui
ganglion sfenopalatinum, otikum dan mandibulare impuls sekretomotorik
dihantarkan kepada berbagai kelenjar parasimpatetik di kepala. Sekresi lendir
rongga hidung, uvula, palatumole dan sekresi gandula lakrimalis diurus melalui
ganglion sfenopalatinum. Dengan perantara ganglion otikun glandula parotis
digalakan dan melalui ganglion submandibularis glandula sub mandibularis dan
lingualis dapat digiatkan (Sidharta,2006)

5
Gambar 2 Ganglion nervus trigeminus
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK384/figure/A1900/?report=objectonly)

2.2 Manifestasi Gangguan Nervus Trigeminus


Perasaan nyeri atau raba pada wajah dapat diperiksa secara objektif
dengan melakukan pada refleks kornea . pada perangsangan terhadap kornea,
kelopak mata langsung menutupi mata. Busur nervus kornea tersebut terdiri dari
serabut sensorik yang menghubungkan nukleus nervus fasialis. Jika serabut
sensorik N.V. terputus maka refleks kornea terputus. Perasaan dapat juga tidak
bisa disadarkan , kendatipun serabut korneanya utuh yaitu apabila kesadaran
menurun sekali seperti pada keadaan koma. Tindakan pemeriksaan refleks kornea
sering juga digunakan untuk menentukan derajat kesadaran selain dari suatu
tindakan untuk melengkapi pemeriksaan sensibilitas wajah.

6
Fungsi motorik dari nervus V dapat diselidiki dengan memeriksa kegiatan
otot-otot yang dipersarafinya. Otot maseter dan temporalis bekerja untuk
mengangkat rahang bawah. Dengan menyuruh menggitgit sekeras-kerasnya
dengan gigi geligi sendiri, maka konsistensi dan bentuk otot-otot tersebut dapat
dipalpasi. Konsistensi yang lembik dan atrofi dapat dikorelasikan dengan paralisis
cabang mandibular N.V. oto pterigoideus internus dan eksternus dapat diperiksa
pada waktu rahang bawah digerakkan ke samping. Dengan menahan gerakan ke
samping itu, kekuatan otot pterigoideus kontralateralis dapat dinilai. Jika salah
satu otot-otot tersebut lumpuh secara unilateral, rahang bawah akan menyimpang
ke arah oto pterogoideus yang lumpuh pada waktu mulut dibuka.
Kelumpuhan otot-otot yang dipersarafi N.V. dapat diungkapkan dengan
cara membangkitkan refleks maseter. Refleks tersebut dapat dibangkitkan dengan
cara sebagai berikut, ketokan wajah pada waktu mulut setengah terbuka, akan
langsung dijawab dengan gerakan ke atas dari rahang bawah.
Keutuhan serabut-serabut sensorik N.V. dapat diperiksa dengan jalan
merangsang permukaan wajah dengan sepucuk kapas (perasaan raba), tusukan
jarum (perasaan nyeri) atau dengan botol berisi air panas atau air dingin. Kawasan
cabang oftalmik, maksilar dan mandibular bisa terganggu secara sendiri ataupun
secarar tergabung. Dan tiap pola defisit sensorik pada wajah mempunyai arti
diagnostik topik.

2.3 Herpes Zoster Oftalmikus


2.3.1 Definisi
Merupakan bentuk herpes zoster di mana virus menyerang atau teraktifasi
dari ganglion gasseri, menyebabkan rasa sakit dan erupsi pada kulit sepanjang
divisi oftalmik dari syaraf kranial kelima ( saraf trigeminal ). Mungkin juga ada
keterlibatan dari saraf kranial ketiga. Infeksi sering menyebabkan ulkus kornea
atau komplikasi okular lainnya (http://emedicine.medscape.com/article/783223-
overview)
2.3.2 Latar belakang

7
Varicella-zoster virus (VZV) adalah anggota dari keluarga Herpesviridae.
Ini adalah agen etiologi dari varicella (cacar air) yang merupakan infeksi
primernya dan herpes zoster yang merupaka reaktivasinya.

Gambar 3 Epithelial defect. (Image courtesy of C. Stephen Foster, MD,


Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard Medical School).

Herpes zoster oftalmikus melibatkan jaringan yang diinervasi oleh divisi


oftalmik dari saraf trigeminal dan menyumbang 10-25% dari semua kasus herpes
zoster. Gejala sisa dari Herpes zoster oftalmikus dapat menyebabkan kerusakan,
seperti radang mata kronis, kehilangan penglihatan, dan rasa sakit yang berat.

8
Gambar 4 Herpes zoster ophthalmicus. Note the brow tape and sutures on the left
lower lid. This patient has neurotrophic lids, for which corneal care is required.
(Image courtesy of C. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye Research and
Surgery Institute, Harvard Medical School.)

Gambar 5. Herpes zoster ophthalmicus dengan Hutchinson sign. (Image courtesy


of C. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye Research and Surgery Institute,
Harvard Medical School.)

9
Gambar 6 Herpes zoster, day 4. (Image courtesy of Manolette Roque, MD,
Ophthalmic Consultants Philippines Co, EYE REPUBLIC Ophthalmology
Clinic.)

2.3.3 Etiologi / Penyebab


Faktor risiko untuk yang menyebabkan teraktivasinya atau reaktivasi
herpes zoster berhubungan dengan status imunitas yang diperantarai sel ( cell
mediated immunity ) untuk VZV.
Berbagai faktor predisposisi dapat menjelaskan peningkatan insiden herpes zoster:
• VZV-specifik immunitas dan sel-mediasi immunitas, yang umumnya
menurun dengan bertambahnya umur khususnya dekade 5 keatas
• Imunosupresi (misalnya, infeksi HIV, AIDS)
• Terapi imunosupresif.
• Infeksi primer pada saat di rahim atau pada masa infansi, ketika respon
imun normal menurun
VZV virologi
Golongan herpes virus disebut juga herpesviridae merupakan virus DNA
intranukleus besar yang mempunyai kecenderungan kuat untuk menimbulkan
infeksi laten dan rekuren. Famili herpes viridae terdiri atas 3 genus, yaitu
Alphaviridae (terdiri dari virus herpes simplex tipe 1 dan 2, serta virus varicella-
zoster), Betaherpesvirinae (terdiri dari cytomegalovirus) dan Gammaherpesvirinae
(terdiri atas virus Epstein-Barr).
Virion herpesvirus berbentuk sferik yang besarnya 150-200 nm dengan
kapsid berbentuk ikosahedral (bidang 20) yang besarnya 100 nm. Kapsid terdiri
dari 162 kapsomer yang mempunyai gambaran sebagai prisma memanjang
berlubang berbentuk hexagonal (150 buah hexon) dan pentagonal (12 buah
penton) dengan sumbu lubang di tengah-tengahnya. Kapsid ikosahedral yang
berdiameter 100 nm memperlihatkan suatu simetri rangkap 5:3:2.
Virion merupakan partikel yang mempunyai peplos (selubung) yang terdiri
dari lipoprotein dengan diameter keseluruhan 150-200 nm; patikel yang tidak
terselubung (naked atau non envelope) yang berdiameter 100 nm juga sering

10
terlihat, bahkan pada preparat irisan yang tipis dalam kapsid luar didapatkan dua
lapisan lipoprotein tambahan (multiple shell).
Asam nukleat herpesvirus merupakan suatu DNA berantai ganda (double
stranded) dengan berat molekul sebesar 100 juta Dalton dan mempunyai
kandunga guanindan sitosin yang tinggi. Nukleokapsid dari pelbagai jenis
herpesvirus mempunyai struktur antigen golongan yang bersamaan dan dapat
dibuktikan dengan teknik imuno-difusi atau reaksi pengikatan komplemen
(http://emedicine.medscape.com/article/783223)

2.3.4 Patofisiologi
Setelah infeksi primer, VZV memasuki ganglia akar dorsal (trigeminal =
herpes zoster oftalmicus, geniculate = herpes zoster oticus), dimana ia menetap
secara laten untuk seumur hidup dari individual tersebut. ketika teraktifasi dan
keluar dari ganglion trigeminal, VZV yang teraktifasi tersebut berjalan menuju
cabang pertama dari nervus trigeminal yakni cabang oktalmikus yang Kemudian
menuju ke nervus nasosiliari. Di cabang ini terbagi serabut-serabut saraf yang
menginervasi permukaan dari bola mata dan kulit yang ada di sekitar hidung
sampai ke kelopak mata. Proses ini biasanya membutuhkan waktu 3-4 hari agar
parikel dari virus mencapai ujung dari saraf (nerve ending). Bersamaan dengan
proses perjalanan virus, terjadi inflamasi di dalam dan sekitar saraf yang dilalui
sehingga menyebabkan kerusakan pada mata itu sendiri dan/atau struktur
disekitarnya.
Frekuensi keterlibatan secara dermatologi dari herpes zoster mirip dengan
distribusi sentripetal dari lesi varicella yang pertama. Pola ini mungkin
menggambarkan bahwa :
1. Latensi timbul dari penyebaran secara kontagius dari virus ( ketika seseorang
menderita varicella/ cacar air ) dari sel kulit yang terinfeksi berlanjut secara
asending ke ujung saraf sensori ganglia.
2. Ini juga dapat memberikan kesan bahwa ganglia juga dapat terinfeksi secara
hematogen selama fase viremia dari varicella dan frekuensi keterlibatan
dermatom di herpes zoster mencerminkan ganglia yang paling sering terekspose

11
oleh stimulus reaktivasi. Pada pasien imunokompeten, antibodi spesifik
(imunoglobulin G, M, dan A) tampil lebih cepat dan mencapai titer yang lebih
tinggi selama reaktivasi (herpes zoster) dari pada saat infeksi primer.
Munculnya ruam kulit karena herpes zoster bertepatan dengan proliferasi masal
sel T spesifik VZV . produksi Interferon-alfa muncul bersamaan dengan resolusi
herpes zoster. Dengan begitu Pasien memiliki kekebalan yang kuat dan lama
yang diperantarai respon imunitas yang diperantarai sel untuk VZV ( cell
mediated immune respon ).

2.3.5 Frekuensi
United States Amerika Serikat
Berkenaan dengan infeksi primer, lebih dari 90% dari populasi yang terinfeksi
adalah remaja, dan sekitar 100% populasi terinfeksi pada umur 60 tahun. Herpes
zoster mempengaruhi sekitar 10-20% dari populasi. Angka ini sekitar 131 per
100.000 orang-tahun pada orang putih. Menurut review Pavan-Langston, terdapat
1 juta konsultasi untuk herpes zoster terjadi setiap tahun; sekitar 250.000 dari
pasien herpes zoster yang diperiksa terkena herpes zoster ophthalmicus. Sebuah
subset dari 50% pasien ini mengarah kekomplikasi ophthalmicus herpes zoster.
Sindrom Ramsay Hunt adalah penyebab 12% dari semua kasus kelumpuhan
wajah.
2.3.6 Mortalitas / Morbiditas
Di Amerika Serikat, sebanyak 10.000 rawat inap dan sekitar 100 kematian
terjadi per tahun sebagai akibat komplikasi dari infeksi VZV. afek Morbiditas dan
mortalitas kebanyakan mempengaruhi individu yang mengalami imunosupresi,
termasuk orang-orang usia lanjut, individu yang sistem imunnya tertekan
(misalnya, mereka dengan infeksi HIV atau AIDS), seseorang yang yang sedang
melakukan terapi imunosupresif, dan orang-orang yang mendapat infeksi primer
di dalam rahim atau pada masa lnfansi.
Komplikasi SSP: Meningoensefalitis, myelitis, paralisis nervi kranial, dan
angiitis granulomatous yang dapat mengarah kepada penyakit serebrovaskular.

12
Zoster Diseminata : penyebaran hematogen dapat mengakibatkan keterlibatan
beberapa dermatom dan keterlibatan visceral, sehingga dapat mengakibatkan
kematian karena ensefalitis, hepatitis, atau pneumonitis.
Dalam herpes zoster oftalmikus, Komplikasi yang spesifik terdapat pada
ditekankan pada kerusakan struktur okular yang bermanifestasi pada berbagai
macam penyakit mata yang dapat mengarah kepada kehilangan pengelihatan
secara permanen kerusakan struktur yang sering terjadi ialah:
• Kelopak mata, konjungtiva, episklera dan sklera: edema Periorbital dan
konjungtiva (1 minggu); infeksi sekunder Staphylococcus aureus (1-2
minggu); atrofi sklera fokal ( berlangsung lambat), jaringan parut
meyebabkan tidak tertutupnya kelopak secara sempurna ( lagoftalmus )
dan menyebabkan tereksposnya kornea sehinggal mengalami pengeringan
• kornea: keratitis epitelial pungtata (pembengkakan epitel, 1-2 d); keratitis
dendritik (tree branchlike epithelial defects, 4-6 d); stromal keratitis
( infiltrates halus dibawah permukaan, 1-2 minggu); keratitis stromal
dalam (lipid infiltrates and kornea neovaskularisasi, 1 bulan – tahun );
keratopati neurotropik (erosi, defek persisten, ulkus kornea, bulan - tahun)
• Camera occuli anterior: Uveitis (inflamasi and jaringan parut di dalam iris
yang mengarah kepada glaukoma and cataract, 2 minggu – tahun )
• Neuralgia postherpetik (rasa sakit yang berlangsung selama lebih dari 1
bulan setelah resolusi dari ruam vesikuler) ini merupakan komplikasi yang
paling sering dan mengganggu.
Pembagian komplikasi dalam bentuk lain yakni :
• komplikasi dapat berhubungan dengan perubahan inflamasi (bentuk
infiltrasi, misalnya, keratitis, atau bentuk vasculitis, misalnya,
episkleritis / scleritis, iritis, papillitis iskemik, vaskulitis orbital).
komplikasi lainnya terjadi sebagai akibat dari kerusakan saraf (misalnya,
keratitis neurotropik, beberapa kelumpuhan motor/saraf okular, neuralgia)
dan bekas luka jaringan (misalnya, deformitas dari kelopak, neuralgia,
lipid keratopati). sindrom Ramsay Hunt (zoster yang melibatkan saraf
kranial V, IX, dan X) biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah dari

13
pada palsy Bell. Dalam banyak penelitian , hanya 10-22% dari individu
dengan kelumpuhan wajah yang berat sembuh sempurna. Namun, dalam
satu laporan, 66% dari pasien dengan kelumpuhan tidak lengkap telah
sembuh sempurna.
• Infeksi bakteri sekunder, biasanya streptokokus atau stafilokokus, dapat
terjadi di lokasi ruam. dapat menyebabkan luka yang dalam sehingga
meninggalkan bekas. Infeksi tersebut dapat dihindari dengan menjaga
kebersihan dengan baik dan dengan mencegah garukan, yang dapat
menyebabkan pelepasan krusta dan gangguan perbaikan jaringan.
• Nuralgia postherpetik (rasa sakit yang berlangsung selama lebih dari 1
bulan setelah resolusi dari ruam vesikuler) sering terjadi dan seringkali
menjadi komplikasi herpes zoster yang paling mengganggu. Ini sering
terjadi pada pasien yang berumur lebih dari 50 tahun.
Ras
Pada tahun 1995, Schmader dkk melaporkan bahwa masa kejadian herpes zoster
pada orang kulit putih dua kali lipat dari orang kulih hitam Afrika dan Amerika.
Seks
Tidak ada predileksi seks ditemukan laki-laki = perempuan.

Umur
Infeksi primer VZV ( cacar air ) terjadi pada masa kanak-kanak. Reaktivasi VZV
atau herpes zoster pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi
orang dewasa yang sehat. Insiden meningkat dengan bertambahnya usia,
memuncak pada dekade ketujuh kehidupan (Chatim,1994).

2.3.7 Gejala Klinis


Pasien-pasien dengan herpes zoster sering melaporkan adanya riwayat
cacar air. Dalam beberapa kasus, terdapatnya kondisi immunokompromise pernah
dicatat.
Gejala prodormal dari Herpes zoster yakni, demam, malaise, sakit kepala,
dysesthesia yang terjadi 1-4 hari sebelum perkembangan lesi kulit (ruam). Sakit

14
prodromal biasanya terbatas pada distribusi dermatomal yang sama. Ruam, yang
pada awalnya vesikuler, secara bertahap menjadi pustular dan kemudian krusta
kira-kira selama periode 7-10 hari. Serupa dengan cacar air, ketika sudah
terbentuk krusta lesi tidak lagi bersifat infeksius.
Jaringan parut dan hipopigmentasi atau hiperpigmentasi dapat bertahan
untuk jangka waktu lama, daerah lesi yang terinfeksi dan mengalami perubahan
bentuk dapat menyebabkan terbentuknya luka ( atau jaringan parut ) yang dalam.

Herpes zoster oftalmikus


• lesi akut pada bola mata berkembang dalam 3 minggu ruam. Lesi ini dapat
sembuh dengan cepat dan sempurna, atau akan dapat berkembang menjadi
kronis selama bertahun-tahun.
• Rekurensi merupakan fitur karakteristik herpes zoster oftalmikus. Relaps
dapat terjadi selambat-lambatnya 10 tahun setelah onset.
• Gejala herpes zoster oftalmikus dapat termasuk rasa sakit pada mata, mata
merah (biasanya unilateral), penurunan penglihatan, ruam kulit atau
kelopak mata disertai rasa sakit, demam, malaise, dan robek.

2.3.8 Pemeriksaan Fisik


• Herpes zoster
kelompok vesikel, biasanya melibatkan 1, tapi kadang-kadang sampai 3 dermatom
yang berdekatan. Vesikel menjadi pustular, dan kadang-kadang hemoragik,
dengan evolusi menjadi krusta dalam 7-10 hari.
• Herpes zoster oftalmikus
Ruam vesikuler melibatkan divisi oftalmik dari saraf trigeminal. krusta dimulai
pada hari kelima - keenam.
Salah satu indikator prognostik HZO adalah tanda hutchinson, yakni
terdapatnya lesi HZ pada puncak, sisi atau pangkal dari hidung. Tanda hutchinson
terlihat pada gambar dibawah. Daerah ini adalah area yang diinervasi oleh saraf
etmoidalis anterior cabang dari saraf nasosiliaris. Karena nervus nasosiliari juga

15
menginervasi kornea lesi kulit seperti itu juga dapat menyebabkan keterlibatan
okular yang berat.

Gambar 7. Hutchinson sign. (Image courtesy of C. Stephen Foster, MD,


Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard Medical School).

2.3.9 Pemeriksaan Penunjang


Secara laboratorium, pemeriksaan sediaan apus tes Tzanck membantu
menegakkan diagnosis dengan menemukan sel datia berinti banyak. Demikian
pula pemeriksaan cairan vesikula atau material biopsi dengan mikroskop elektron,
serta tes serologik. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan sebukan sel
limfosit yang mencolok, nekrosis sel dan serabut saraf, proliferasi endotel
pembuluh darah kecil, hemoragi fokal dan inflamasi bungkus ganglion. Partikel
virus dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan antigen virus herpes zoster
dapat dilihat secara imunofluoresensi. Apabila gejala klinis sangat jelas tidaklah
sulit untuk menegakkan diagnosis. Akan tetapi pada keadaan yang meragukan
diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain:
1. Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan

16
mikroskop elektron.
2. Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen.
3. Tes serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik.
http://www.scribd.com/doc/33615704/Herpes-Zoster

2.3.10 Diagnosis Banding


• Herpes simpleks
Herpes simpleks ditandai dengan erupsi berupa vesikel yang bergerombol, di atas
dasar kulit yang kemerahan. Sebelum timbul vesikel, biasanya didahului oleh rasa
gatal atau seperti terbakar yang terlokalisasi, dan kemerahan pada daerah kulit.
Herpes simpleks terdiri atas 2, yaitu tipe 1 dan 2. Lesi yang disebabkan herpes
simpleks tipe 1 biasanya ditemukan pada bibir, rongga mulut, tenggorokan, dan
jari tangan. Lokalisasi penyakit yang disebabkan oleh herpes simpleks tipe 2
umumnya adalah di bawah pusat, terutama di sekitar alat genitalia eksterna.
• Varisela
Gejala klinis berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah
menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini seperti tetesan embun (tear drops). Vesikel
akan berubah menjadi pustul dan kemudian menjadi krusta. Lesi menyebar secara
sentrifugal dari badan ke muka dan ekstremitas.
• Impetigo vesiko-bulosa
Terdapat lesi berupa vesikel dan bula yang mudah pecah dan menjadi krusta.
Tempat predileksi di ketiak, dada, punggung dan sering bersamaan dengan
miliaria. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak-anak.

2.3.11 Terapi
Perawatan Medik
Strategi terapeutik untuk akut herpes zoster oftalmikus terditi dari agen antiviral,
sistemik kortikosteroid, antidepresan, dan pengontrol rasa sakit yang adekuat.
Pengobatan herpes zoster oftalmikus optimal jika dimulai pada saat 72 jam setelah
onset dari ruam. Pavan-langston telah menguraikan protokol dari pengobatannya:

17
1. Obat antivirus oral (contoh, famciclovir 500 mg 3 kali/hari , valacyclovir 1
g perhari atau acyclovir 800 mg 5 kali/hari dalam 7 hari)
2. Antidepresan trisiklik nortriptyline, amitriptyline, or desipramine 25 mg,
diatur sampai 75 mg waktu istirahat untuk beberapa minggu jika
diperlukan( untuk menghambat akut dan berkepanjangannya post herpetik
neuralgia PHN).
3. Kortikosteroid topikal tambahan, antibiotik, cycloplegik, antivirus, dan
pengobatan glukoma yang sama pentingnya seperti keratitis, iritis.
4. Mengatasi PHN yang onsetnya telat dengan tricyclic antidepressants
( seperti disebutkan diatas) dan/atau capsaicin ointment perhari 4 kali/hari
atau lidocaine patch. Neurontin 300-600 mg dengan oral dan atau
OxyContin 10-20 mg perhari) dengan medikasi topikal sama seperti yang
diberikan pada kondisi akut.
5. Pada penelitian kecil oleh Kanai dkk lidocaine 4% ophthalmic drops telah
diberikan kepada 24 pasien PHN. Terdapat pengurangan rasa sakit yang
cukup signifian 15 menit setelah pemberian dan dan bertahan rata-rata
selama 36 jam ( dengan range 8-96 jam ).
6. Agen virustatik yang tergantung pada viral thymidine kinase
phosphorylation dan ditargetkan pada viral polymerase seperti pada
acyclovir, valacyclovir, penciclovir, famciclovir, sorivudine, and
bromovinyldeoxyuridine.
7. Agen virustatik yang tidak bergantung pada viral thymidine kinase
phosphorylation dan ditargetkan pada viral polymerase seperti vidarabine,
foscarnet, and cidofovir (hydroxyphosphonylmethoxypropyl).

Perawatan bedah
Beberapa pasien membutuhkan pembedahan minor seperti lateral
tarsorrhaphy atau penjahitan traksi kelopak mata. Pada pasien yang lain luka luas
pada kornea memerlukan keratoplasti penetrasi.
(http://www.scribd.com/doc/33615704/Herpes-Zoster)

18
Gambar 8 Ulkus kornea dengan fluoresin. (Image courtesy of C. Stephen
Foster, MD, Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard
Medical School).

Gambar 9. Iris yang tidak merata pada herpes zoster uveitis


BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Herpes zoster Oftalmikus merupakan bentuk herpes zoster di mana virus
menyerang atau teraktifasi dari ganglion gasseri, menyebabkan rasa sakit
dan erupsi pada kulit sepanjang divisi oftalmik dari syaraf kranial kelima
(saraf trigeminal).
2. Etiologi dari HZO adalah virus Golongan herpes virus disebut juga
herpesviridae merupakan virus DNA intranukleus besar yang mempunyai
kecenderungan kuat untuk menimbulkan infeksi laten dan rekuren pada
hal ini berasal dari genus alphaviridae,dimana jika terdapat faktor risiko

19
seperti immukompromise maka akan menyebabkan teraktivasinya atau
reaktivasi herpes zoster dari ganglion gasseri.
3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan Ruam vesikuler melibatkan divisi
oftalmik dari saraf trigeminal. krusta dimulai pada hari kelima – keenam
dan ditemukannya indikator prognostik HZO yakni tanda hutchinson,
dimana terdapatnya lesi HZ pada puncak, sisi atau pangkal dari hidung..
Daerah Ini adalah area yang diinervasi oleh saraf etmoidalis anterior
cabang dari saraf nasosiliaris. Karena nervus nasosiliari juga
menginervasi kornea ,lesi kulit seperti itu juga dapat menyebabkan
keterlibatan okular yang berat
4. Perwatan medik pada HZO terdiri dari agen antiviral, sistemik
kortikosteroid, antidepresan, dan pengontrol rasa sakit yang adekuat
5. Rekurensi merupakan fitur karakteristik herpes zoster oftalmikus. Relaps
dapat terjadi selambat-lambatnya 10 tahun setelah onset

DAFTAR PUSTAKA

1. Syahrurrahchman, Agus, Chatim, Aidilfiet, Karuniawati, Anis et al.


Mikrobiologi Kedokteran Edisi Keenam. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 1994.

2. Mardjono, Mahar, Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian


Rakyat. 2008.

3. Anonim. Herpes Zoster Oftalmikus. Diunduh dari: http://medical-


dictionary.thefreedictionary.com/herpes+zoster+ophthalmicus

4. Straus SE, Ostrove JM, Inchauspé G, Felser JM, Freifeld A, Croen KD, et al.
Herpes Zoster Oftalmikus. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/783223-overview

20
5. Anonim. Gambar ganglion trigeminal. Diunduh dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK384/figure/A1900/?report=objectonly

6. Anonim. Gambar cabang-cabang nervus trigeminal. Diunduh dari:


http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray784.png

7. Anonim. Gambar gangion trigeminal. Diunduh dari:


http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray778_Trigeminal.png

8. Anonim. Pemeriksaan penunjang dan diagnosis differensial. Diunduh dari:


http://www.scribd.com/doc/33615704/Herpes-Zoster

21

Beri Nilai