Anda di halaman 1dari 21

A.

Definisi ketuban pecah dini (KPD)

• Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada
sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001)

• Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan
dan di tunggu satu jam belum di mulainya tanda persalinan (manuaba,2001)

• Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat
terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan
aterm. (saifudin,2002)

• Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan


berlangsung.ketuban pecah dini di sebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan
membrane atau meningkatnya tekanan intra uteri atau kedua faktor
tersebut.berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat
berasal dari vagina servik (sarwono prawiroharjop,2002)

Prinsip dasar :

• Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung

• Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan
penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khoriokarsinoma sampai sepsis,
yang meningkatkaan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi
ibu.

• Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane


atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua faktjor tersebut.
Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal
dari vagina dan serviks.
• Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya
infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. ( Sarwono
Prawirohardjo, 2002 )

A. Etiologi

Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui
dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor
yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit
diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah:

1. Infeksi

Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari
vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.

2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).

3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan


(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa
ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang
didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis
menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.

4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.

5. Keadaan sosial ekonomi

6. Faktor lain

6.1.Faktor golonngan darah

6.2.Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan
kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.
6.3.Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.

6.4.Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.

6.5.Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm

1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)

2. riwayat persalinan preterm sebelumnya

3. perdarahan pervaginam

4. pH vagina di atas 4.5

5. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban.

6. flora vagina abnormal

7. fibronectin > 50 ng/ml

8. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada


stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm

9. Inkompetensi serviks (leher rahim)

10. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)

11. Riwayat KPD sebelumya

12. Trauma

13. servix tipis / kurang dari 39 mm, Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm)
pada usia kehamilan 23 minggu

14. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis

faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm


1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik

2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-


eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion
subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut,
Ketuban Pecah pada usia kehamilan preterm.

3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin


terhambat, gawat janin, kematian janin.

4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah


pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.

5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih),


sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.

6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas


uterus idiopatik

Menurut Taylor menyelidiki bahwa ada hubungan dengan hal-hal berikut :

• Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah.
Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis dan vaginitis terdapat
bersama-sama dengan hipermotilitas rahim ini.

• Selaput ketuban terlalu tipis ( kelainan ketuban )

• Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis )

• Factor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara, malposisi,


disproporsi, cervix incompetent dan lain-lain.

• Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi ), dimana ketuban dipecahkan terlalu


dini.

B. Tanda dan gejala


Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma
air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih
merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak
akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda
duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau
"menyumbat" kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri
perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

C. Anatomi fisiologi

Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Elemen-
elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit),
dan keping darah (trombosit). Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit, gas terlarut
berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino, lemak,
koleesterol, dan vitamin. Protein dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut
menyusun plasma.

1) Pembentukan Sel Darah

Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada
sumsum tulang belakang. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis.

2) Sel Darah Merah

Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau ribosom. Sel ini tidak dapat
melakukan mitosis. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang
mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh
tubuh. Sel darah matang di keluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari
untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati.

Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di
dalam sel :

- Nermositik : sel yang ukurannya normal


- Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal

- Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil

- Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar

- Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit

- Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak

3) Hemoglobin

Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan
protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah
merah. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total.

4) Pemecahan Sel Darah Merah

Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya, sel tersebut
mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi. Hemoglobin diuraikan hati dan
limfa. Molekul globulin diubah menjadi asam-asam amino. Besi dismpan dihati dan
lmfa sampai di gunakan kembali oleh tubuh. Sisa molekul lainnya diubah menjadi
bilirubin, yang kemudian dieksresikan melalui tinja atau urin.

D. Patofisiologis

Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin
selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama
disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di
sebelah luar disebut chorion.

Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ketuban ini
terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Cairan ini
dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing
janin, serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu hamil, jumlah cairan ketuban ini
beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter. Namun bisa juga kurang dari jumlah
tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-
10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam.

Manfaat air ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau
memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan yang diakibatkan oleh
‘lingkungannya’ di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa membuat janin bergerak
dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain dari air ketuban ini adalah
untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa kematangan paru-paru janin, golongan
darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan), susunan genetiknya, dan
sebagainya. Caranya yaitu dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang
dimasukkan melalui dinding perut ibu.

Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :

• Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan
mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

• Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler


korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh
sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi
dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan
kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion /
amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

• Patofisiologi Pada infeksi intrapartum :

1) ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung


antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2) infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan
penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang
intraamnion.

3) mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin menjalar
melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).

4) tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam


yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.

E. Diagnosa

Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang positif
palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkakn bayi terlalu awal atau melakukan
seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu
berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam
kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan
tepat. Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara :

1. Anamnesa

Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak secara
tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Cairan berbau khas, dan perlu juga
diperhatikan warna, keluanya cairan tersebut tersebut his belum teratur atau belum
ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah.

2. Inspeksi

Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila
ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih
jelas.

3. Pemeriksaan dengan spekulum.

pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium
uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan,
penderita diminta batuk, megejan atau megadakan manuvover valsava, atau bagian
terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul
pada fornik anterior.

4. Pemeriksaan dalam

Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai
pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan
yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan
dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi
segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa
dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya diulakaukan kalau
KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan
dibatasi sedikit mungkin.

5. Pemeriksaan Penunjang

5.1. Pemeriksaan laboraturium

Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya.
Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret
vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna,
tetap kuning.

5.1.a. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 – 7,5, darah dan infeksi
vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu.

51.b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.

5.2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum
uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering
terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion.
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun
pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan
sedehana.

Tabel : Diagnosis

Gejala & Tanda Selalu Ada Gejala & Tanda Kadang- Diagnosis Kemungkinan
Kadang Ada
Keluar cairan ketuban Ketuban pecah tiba-tiba Ketuban pecah dini
Cairan tampak di introitus
Tidak ada his dalam 1 jam
Cairan vagina berbau Riwayat keluarnya cairan Amnionitis
Demam / menggigil Uterus nyeri
Nyeri perut Denyut jantung janin cepat
Perdarahan per vaginam
sedikit
Cairan vagina berbau Gatal Vaginitis / servisitis
Tidak ada riwayat ketuban Keputihan
pecah Nyeri perut
Disuria
Cairan vagina berdarah Nyeri perut Perdarahan antepartum
Gerak janin berkurang
Perdarahan banya
Cairan berupa darah-lendir Pembukaan & pendataran Awal persalinan aterm atau
serviks preterm
Ada his
(sumber : internet, 2008 blog cornelia : ketuban pecah dini (KPD) )

Diagnosis infeksi intrapartum

- febris di atas 38 C (kepustakaan lain 37.8 C)

- ibu takikardia (>100 denyut per menit)

- fetal takikardia (>160 denyut per menit)

- nyeri abdomen, nyeri tekan uterus

- cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau

- leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3)

- pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi


leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.
F. Komplikasi

1. Tali pusat menumbung

2. Prematuritas, persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.

3. Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban
habis.

4. infeksi maternal : infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke


intrauterine, korioamnionitis (demam >380C, takikardi, leukositosis, nyeri uterus,
cairan vagina berbau busuk atau bernanah, DJJ meningkat), endometritis

5. penekanan tali pusat (prolapsus) : gawat janin kematian janin akibat hipoksia
(sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang), trauma pada waktu lahir
dan Premature.

6. komplikasi infeksi intrapartum

• komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia,


atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki
vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.

• komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

G. Penatalaksanaan

Kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan
insidensi bedah sesar, dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi
chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif harus
dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS, dan kalau menempuh cara konservatif dengan
maksud untuk memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan
infeksi yang akan memperjelek prognosis janin.

Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur kehamilan tidak
diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaann ultrasonografi (USG) untuk
mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko yang lebih sering pada KPD dengan
janin kurang bulan adalah RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada
kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal
untuk persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah
matang, chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi pada janin merupakan sebab utama
meningginya morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup bulan, infeksi janin
langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten.

1. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu)

Beberpa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD keduanya
mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi dan
komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari
persalinan disebut periode latent = L.P = “lag” period. Makin muda umur kehamilan
makin memanjang L.P-nya. Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan
menginduksi persalinan dengan sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan
akan melahirkan dalam waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah.bila dalam 24 jam
setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi
persalinan,dan bila gagal dilakukan bedah caesar.

Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada ibu. Walaupun


antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin dalam uterus namun pencegahan terhadap
chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya sehingga pemberian antibiotik
profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera
setelah diagnosis KPD ditegakan dengan pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari
6 jam kemungkinan infeksi telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung
lebih dari 6 jam.

Beberapa penulis meyarankan bersikap aktif (induksi persalinan) segera diberikan


atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan penderita akan menjadi inpartu dengan
sendirinya. Dengan mempersingkat periode laten durasi KPD dapat diperpendek
sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus tindakan dapat dikurangi.

Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat terhadap keadaan
janin, ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan komplikasinya.
Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi yang fatal bagi bayi
dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin kepanjangan (his
kurang kuat). Induksi dilakukan dengan mempehatikan bishop score jika > 5 induksi
dapat dilakukan, sebaliknya < 5, dilakukan pematangan servik, jika tidak berhasil
akhiri persalinan dengan seksio sesaria.

2. penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (< 37 minggu)

Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan tidak dijumpai
tanda-tanda infeksi pengelolaanya bersifat koservatif disertai pemberian antibiotik
yang adekuat sebagai profilaksi

Penderita perlu dirawat di rumah sakit,ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak


perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan
diusahakan bisa mencapai 37 minggu, obat-obatan uteronelaksen atau tocolitic agent
diberikan juga tujuan menunda proses persalinan.

Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian kortikosteroid pada penderita


KPD kehamilan kurang bulan adalah agar tercapainya pematangan paru, jika selama
menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul tanda-tanda
infeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa memandang umur
kehamilan.

Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai berlangsung dengan jalan
merangsang timbulnya his ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang
kadang-kadang tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat janin
sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga mungkin terjadi
intoksikasi.

Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan tindakan bedan sesar.
Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan, tidakan bedah sesar
hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena infeksi intrauterin tetapi
seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak, gawat janin,
partus tak maju, dll.
Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat tindakan aktif. Ternyata
pengelolaan konservatif juga dapat menyebabakan komplikasi yang berbahaya, maka
perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Sehingga dikatan pengolahan konservatif
adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi
intrauterin.

Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leokosit darah tepi setiap hari, pem,eriksaan
tanda-tanda vital terutama temperatur setiap 4 jam, pengawasan denyut jamtung janin,
pemberian antibiotik mulai saat diagnosis ditegakkan dan selanjutnya stiap 6 jam.
Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah dilaporkan secara pasti
dapat menurunkan kejadian RDS.(8) The National Institutes of Health (NIH) telah
merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada kehamilan
30-32 minggu yang tidak ada infeksi intramanion. Sedian terdiri atas betametason 2
dosis masing-masing 12 mg IM tiap 24 jam atau dexametason 4 dosis masing-masing
6 mg IM tiap 12 jam ( untuk pematangan paru) dalam 48 jam.

Efek optimal terjadi 24 jam setelah pemberian terakhir mencapai puncak dalam waktu 48
jam dan bertahan sampai 7 hari.

Pemberian ulangan kortikosteroid tak berguna oleh karena dapat mengganggu perkembangan
psikomotor janin

Tokolitik :
Nifedipine ( “calcium channel blocker” ) , pemberian per oral efektif dalam menekan kontraksi
uterus dengan efek samping maternal dan janin yang minimal (nyeri kepala, flushing , hipotensi
dan takikardia ).

Protokol :

• Sediaan : Kapsul gelatin oral 10 atau 20 mg


• “loading dose” : 30 mg . bila setelah 90 menit kontraksi uterus masih ada
berikan dosis ulang 20 mg
• Dosis pemeliharaan : 20 mg tiap 6 jam selama 24 jam dan dilanjutkan
dengan 20 mg untuk 24 jam berikut
• Kriteria gagal : kontraksi uterus menetap setelah 60 menit pemberian dosis
ulangan.

Prostaglandine sintetase inhibitor (dapat digunakan untuk jangka pendek) obat yang sering
digunakan indomethacine

Magnesium Sulfat (MgSO4)

Syarat pemberian Mg SO4 :

• Pemberian harus diawasi dengan ketat dengan pemeriksaan : reflek patela,


frekuensi pernafasan, produksi urine
• Harus tersedia antidotum calcium gluconat 10 ml dalam larutan 10%

A. Asuhan keperawatan ibu hamil dengan masalah ketuban pecah dini

1. Pengkajian

a. Sirkulasi

- Hipertensi, edema patologis dan penyakit jantung sebelumnya

- Integritas ego

- Adanya ansietas sedang

b. Makanan/ cairan

Ketidak adekuatan atau penambahan berat badan berlebihan yang terjadi pada
hidroamnion
c. Nyeri/ketidaknyamanan

Kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit selama
paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit

d. Pernafasan

Mungkin perokok berat

e. Keamanan

Infeksi mungkin ada (misalnya ISK atau infeksi vagina )

f. seksualitas

tulang servikal dilatasi, membrane amnion mungkin rupture,pendarahan


trisemester 3, aborsi sebelumnya,persalinan preterm,uterus distensi berlebih

g. Interaksi social

Dari kelas sosial ekonomi yang rendah

h. Penyulahan pembelajaran

Ketidakadekuatan atau tidak adanya perawatan prenatal, mungkin di bawah usia


18 tahun atau lebih dari 40 tahun, penggunaan alcohol atau obat obatan

i. Temukan kajian yang lain

- keluar cairan bening dari vagina secara mendadak, dengan di ikuti sedikit
drainase.

- vagina penuh dengan cairan pada pemeriksaan speculum.

DATA SUBJEKTIF

- Pancaran involunter atau kebocoran


- Cairan jernih dari vagina merupakan gejal yang khas. Tidak ada nyeri
maupun kontraksi uterus

- Riwayat haid

- Umur kehamilan diperkirakan dari haid terakhir.

DATA OBJEKTIF

- Pemeriksaan fisik

- Pemeriksaan umum : suhu normal terutama di sertai infeksi

- Pemeriksaan abdomen : uterus lunak dan tidak ada nyeri tekan

- Pemeriksaan pelvic : pemeriksaan speculum steril pertama kali di lakukan


untuk memeriksa adanya cairan amnion dalam vagina.pemeriksaan vagina steril
menentukan penipisan dan di latasi servik.

TES LABORATORIUM

Hitung darah lengkap dengan apusan darh : leukositosis di gabung dengan


peningkatan bentuk batang pada apusan tepi menunjukkan infeksi intrauterine.

2. PENATALAKSANAAN

1) Konservatif

a. Rawat rumah sakit dengan tirah baring.

b. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.

c. Umur kehamilan kurang 37 minggu.

d. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.

e. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan


kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin.
f. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda
persalinan.

g. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat


janin.

h. Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi
uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung
terus, lakukan terminasi kehamilan.

2) Aktif

Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan
tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.

a. Induksi atau akselerasi persalinan.

b. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami


kegagalan.

c. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat


ditemukan.

Hal-hal yang harus diperhatikan saat terjadi pecah ketuban

Yang harus segera dilakukan:

• Pakai pembalut tipe keluar banyak atau handuk yang bersih.

• Tenangkan diri Jangan bergerak terlalu banyak pada saat ini. Ambil nafas dan
tenangkan diri,.

Yang tidak boleh dilakukan:

• Tidak boleh berendam dalam bath tub, karena bayi ada resiko terinfeksi kuman.

• Jangan bergerak mondar-mandir atau berlari ke sana kemari, karena air ketuban
akan terus keluar. Berbaringlah dengan pinggang diganjal supaya lebih tinggi.
3. KOMPLIKASI

a. Ibu

- infeksi maternal : korioamnionitis (demam >380C, takikardi, leukositosis,


nyeri uterus, cairan vagina berbau busuk atau bernanah, DJJ meningkat),
endometritis

b. Janin

- penekanan tali pusat (prolapsus) : gawat janin

- trauma pada waktu lahir

- Premature

Rencana asuhan keperawatan :

a. Pada usia hamil dini biasanya periode laten memanjang

1. Aterm : 90% periode laten 24 jam

2. 28-34 minggu : 50% inpartu dalam 24 jam, 80-90% inpartu dalam satu
minggu

3. 15.000/iu

4. Berikan kompres dingin bila diperlukan

5. Berikan antibiotic sesuai program

b. Resti gawat janin b.d partus tak maju

1. Kaji posisi janin

2. Monitor DJJ
3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui kemajuan persalinan,
pembukaan servik

4. Kolaborasi dengan dokter bila diperlukan tindakan operatif

5. Kolaborasi dengan dokter anak bila diperlukan resusitasi setelah


persalinan

c. Resti infeksi intrapartal b.d septicemia

1. Kaji keadaan ibu selama persalinan

2. Monitir TTV, apakah ada demam

3. Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan invasive infuse 30 tpm

4. Berikan antibiotic dan antiseptic sesuai program

d. Intoleransi aktivitas b.d premeturus iminen

1. Anjurkan bedrest selama ketuban masih keluar

2. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya

3. Anjurkan untuk mengurangi aktifitas sampai kehamilan aterm

e. Resti terjadi komplikasi IUFD b.d ketuban kering

1. Kaji apakah air ketuban kering

2. Kaji umur kehamilan pasien

3. Monitor DJJ dan gerakan janin

4. Kolaborasi untuk pemeriksaan USG