Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang memiliki prevalensi

tinggi infeksi cacing di dunia (WHO,2011). Di Indonesia, infeksi cacing masih

merupakan masalah besar dalam kesehatan masyarakat karena prevalensinya

masih tinggi yaitu kurang lebih 45-65%, bahkan di wilayah tertentu yang

memiliki sanitasi lingkungan buruk, panas dan kelembaban tinggi prevalensi

infeksi cacing bisa mencapai 80% (Ali, A.R 2007 dalam (Aulianof and Aulianof

2019)).

Kelompok cacing nematoda usus yang dapat ditularkan melalui tanah ini

masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia belakangan ini. Hal ini terlihat

dari hasil penelitian epidemiologi yang telah dilakukan hampir di seluruh

propinsi di Indonesia, terutama pada anak-anak dan balita dengan angka

prevalensi yang tinggi. (Aulianof and Aulianof 2019)

Angka prevalensi menurut data Depkes RI kecacingan di Indonesia pada

tahun 2015 adalah 28,12% lebih dari 270 juta anak-anak usia perkelas dan lebih

dari 600 juta anak usia sekolah tinggal didaerah di mana parasit ini secara intensif

di tularkan dan membutuhkan pengobatan dan intervensi pencegahan (Farisa,

2012). Di Indonesia penyakit infeksi cacing mempunyai prevalensi yang cukup

tinggi yaitu sekitar 60% dari 220 juta penduduk dan 21% di antaranya menyerang

anak usia sekolah dasar. Kecacingan merupakan penyakit endemik kronik yang di
2

akibatkan satu atau lebih cacing yang masuk ke dalam tubuh manusia, dengan

prevalensi tinggi terdapat pada anak-anak (Farisa, 2012 dalam (Farida 2019).

Permainan pada anak sekolah, umumnya hampir selalu melakukan

permainan di luar rumah atau berhubungan langsung dengan tanah. Tanah

merupakan media yang baik bagi perkembangan cacing. Kebiasaan buruk anak-

anak seperti tidak mencuci tangan setelah bermain di tanah ketika akan makan

dan minum akan mempermudah masuknya telur cacing ke dalam usus (Sofiana,

2010 dalam (LUBIS 2019)).

Infeksi kecacingan adalah masuknya bibit penyakit yang disebabkan oleh

mikroorganisme (cacing) dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga

menimbulkan penyakit (Entjang,2003). Infeksi kecacingan dinyatakan positif

apabila ditemukan telur cacing minimal satu jenis cacing dalam spesimen yang

diperiksa. Infeksi cacing STH banyak terdapat pada anak usia Sekolah Dasar

(SD). Anak dengan infeksi kecacingan ringan biasanya tidak menimbulkan

gejala. Akan tetapi infeksi berat dapat menimbulkan manifestasi usus (diare dan

sakit perut), malaise umum, perkembangan kognitif yang lemah, terganggunya

perkembangan fisik dan anemia (WHO, 2013). (Kartini 2016)

Diagnosis infeksi STH dapat ditegakkan telur cacing pada dengan

ditemukannya pemeriksaan feses. Kecacingan dapat terjadi apabila telur yang

infektif masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara tertelannya telur atau

masuknya larva menembus kulit. Cacing akan dewasa di usus dan bertelur di usus

manusia, kemudian telur akan keluar bersamaan dengan feses dan berkembang di

tanah. (Kurniawan, Ramadhian et al. 2018)


3

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Yunita and Adiansyah 2019),

bahwa pemeriksaan telur cacing yang dilakukan terhadap 30 siswa SD 094151

Inpres Parapat, sampel diambil dari Parapat dan pemeriksaan sampel dilakukan di

Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Medan. Dari hasil penelitian yang

diperiksa sebanyak 19 sampel ditemukan 8 sampel (42%) yang positif telur

cacing Soi Ltransmitted Helminth dalam tinja dan 11 sampel negatif telur cacing

Soil Transmitted Helminth dalam tinja.

Ada juga penelitian yang dilakukan oleh (Farida 2019) bahwa dari kelas

3, 4, dan 5 diperoleh 5 siswa yang terinfeksi telur cacing Soil Transmitted

Helminth (STH) yang ditemukan yaitu telur cacing Ascaris lumbricoides,

Trichuris trichiura, dan Hookworm. Yang terinfeksi Soil Transmitted Helminth

(STH) lebih banyak menginfeksi laki-laki (10%) sedangkan pada anak

perempuan (6,7%).

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di Sekolah Dasar Persit

Kartika Palembang, merupakan Sekolah Dasar yang berada jalan senopati No.27

Kelurahan Talang Semut Kecamatan Bukit Kecil Palembang, yang sebelumnya

tidak pernah dilakukan penelitian mengenai angka kecacingan pada Anak

Sekolah Dasar SD Persit Kartika Palembang. Selain itu masih di temukan

kebiasaan anak-anak yang tidak memperhatikan kebersihan perorangan, seperti

tidak menggunakan alas kaki atau sepatu ketika sedang istirahat, bermain bola

tidak tanpa menggunakan alas kaki, ditambah lagi kesadaran personal hygiene

yang masih rendah mengakibatkan mereka tidak mengetahui bagaimana menjaga

kebersihan, sedangkan untuk pengobatan sendiri, mereka belum menyadari


4

dampak buruk dari lingkunga. Adanya puskesmas tidak menjamin anak-anak

sekolah dasar terbebas dari kecacingan, seperti belum pemindahan pemberian

obat cacing, sehingga dengan kondisi tersebut dapat menjadi faktor penyebab

resiko terjadinya kecacingan terhadap anak dimungkinkan dapat terjadi.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang “Gambaran Telur Cacing Nematoda Usus Pada

Siswa Sekolah Dasar Persit Kartika Tahun Palembang Tahun 2020”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah

“Bagaimanakah Gambaran Telur Cacing Nematoda Usus Pada Siswa Sekolah

Dasar Persit Kartika Kota Palembang tahun 2020 ?.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui Gambaran Telur Cacing Nematoda Usus Pada

Siswa Sekolah Dasar Persit Kartika Kota Palembang tahun 2020 ?.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui Distribusi Frekuensi Telur Cacing Nematoda Usus

Pada Siswa Sekolah Dasar Persit Kartika Kota Palembang tahun 2020.
5

2. Untuk mengetahui Distribusi Frekuensi Telur Cacing Nematoda Usus

Pada Siswa Sekolah Dasar Persit Kartika Kota Palembang tahun 2020

berdasarkan umur

3. Untuk mengetahui Distribusi Frekuensi Telur Cacing Nematoda Usus

Pada Siswa Sekolah Dasar Persit Kartika Kota Palembang tahun 2020

berdasarkan jenis kelamin.

4. Untuk mengetahui Distribusi Frekuensi Telur Cacing Nematoda Usus

Pada Siswa Sekolah Dasar Persit Kartika Kota Palembang tahun 2020

berdasarkan personal hygiene.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

Diharapkan dapat dijadikan referensi dalam penelitian selanjutnya

khususnya dalam penelitian telur cacing Nematoda Usus.

1.4.2 Praktisi

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi menambah

wawasan serta bermanfaat bagi yang memerlukan terutama mahasiswa dan

STIKESMAS Abdi Nusa Program Studi DIII Analis Kesehatan Kota Palembang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nematoda Usus

Nematoda usus adalah nematoda yang berhabitat di saluran pencernaan

manusia dan hewan. Manusia merupakan hospes beberapa nematode usus.

Sebagian besar dari nematoda ini adalah penyebab masalah kesehatan masyarakat

di Indonesia. Nematoda usus memiliki spesies yang tergolong Soil Transmitted

Helminth” yaitu nematoda yang memiliki siklus hidup untuk mencapai stadium

infektif memerlukan tanah dengan kondisi tertentu. Nematoda golongan Soil

Transmitted Helminth yang penting dan menghinggapi manusia adalah Ascaris

lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura.

Nematoda usus yang terdapat pada manusia dan tidak tergolong Soil Transmitted

Helminth adalah Oxyuris vermicuralis (Safar, 2010 dalam (Purnomo 2018)).

2.2 Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa hidup di dalam rongga usus halus manusia. Panjang cacing

yang betina 20-40 cm dan cacing jantan 15-31 cm. Cacing betina dapat bertelur

sampai 200.000 butir sehari, yang dapat berlangsung selama masa hidupnya yaitu

kira-kira 1 tahun. Telur cacing ini ada yang dibuahi, disebut Fertilized. Bentuk ini

ada dua macam, yaitu yang mempunyai cortex, disebut Fertilized-corticated dan

yang lain tidak mempunyai cortex, disebut Fertilized-decorticated. Ukuran telur


7

ini 60×45 mikron. Telur yang tidak dibuahi disebut Unfertilized, ukurannya lebih

lonjong 90×40 mikron dan tidak mengandung embrio di dalamnya (Safar R, 2010

dalam (Rizqi 2018)).

Selain itu terdapat bentuk telur Ascaris yang merupakan bentuk infektif

yaitu telur yang sudah berisi embrio (Prasetyo R.H, 2013 dalam (Rizqi 2018))

Sumber : (Rizqi 2018)

Gambar 2.1 (a) Dibuahi (Fertilized) (b) yang tidak dibuahi (Unfertilized)

2.3 Sifat Umum Nematoda Usus

Tubuhnya diselimuti oleh suatu lapisan kutikula yang dihasilkan oleh

ekstaderm pada waktu terjadi perubahan kulit (eksofikasi), maka kutikula

tersebut dilepaskan. Warna kulit yang terbentuk adalah putih, kuning sampai

kecoklatan. Dibawah kutikula terdapat subkutikula yang berbentuk sinkisal.

Dibawah lapisan ini terdapat serat-serat longitudional. Dan jaringan saraf terdapat

di dalam ektoderm. Saluran ususnya terdiri dari usus awal, tengah, dan akhir.

Usus awal dan akhir dilapisi oleh kutikula yang juga tanggal/lepas pada waktu

pertukaran kulit. Alat kelamin Cacing betina berpasangan, masing-masing terdiri


8

dari ovarium, ovidnot dan uterus. Kedua uterus bersatu menjadi vagina. Cacing

jantan tidak berpasangan terdiri dari testio dan vasedeferentia, juga mempunyai

spekula yang biasanya dua buah. 7 Sel telur yang dibuahi membentuk membran

kuning yang jadi kulit pertama, sedang kulit kedua dihasilkan oleh uterus. Bentuk

telur seperti elleps dan mudah dibedakan dari tiap jenis (Oemijati, 2006 dalam

(Rosanty 2016))

2.4 Cacing Nematoda Usus yang ditularkan melalui tanah

Cacing yang ditularkan melalui tanahyaitu Ascaris lumbricoides (cacing

gelang), Trichuris Trichura (cacing cambuk) Necator Americanus, Ancylostoma

duodenale (cacing tambang). (Purnomo 2018)

2.4.1 Ascaris lumbricoides (Cacing Gelang)

2.4.1.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub kelas : Phasmida

Ordo : Rhabdidata

Sub ordo : Ascaridata

Familia : Ascarididae

Genus : Ascaris

Spesies : Ascaris lumbricoides (Purnomo 2018)


9

2.4.1.2 Morfologi dan Daur Hidup

Morfologi Cacing Ascaris lumbricoides memiliki 2 stadium dalam

perkembangannya, yaitu : a. Bentuk dewasa Ascaris lumbricoides merupakan

cacing terbesar di antara Nematoda lainnya. Cacing betina memiliki ukuran besar

dan panjang. Manusia merupakan satu-satunya hospes cacing ini. Cacing jantan

berukuran 10-30 cm, sedangkan cacing betina 22-35 cm, kadang-kadang sampai

39 cm dengan diameter 3-6 mm. Pada stadium dewasa hidup di rongga usus

halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000-200.000 butir sehari, terdiri

dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Dalam lingkungan yang

sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang

lebih 3 minggu. (Prianto, 2006 dalam (Prasasti 2017)).

Sumber: (Purnomo 2018)

Gambar 2.2 : Telur Ascaris lumbricoides (a) Berembrio, (b) Infertil, (c) Fertil
10

Sumber: (Soebari 1996).

Gambar 2.3 Siklus Hidup Ascaris lumbricoides.

2.4.1.3 Gejala Klinik

Infeksi A. Lumbricoides akan menimbulkan penyakit Askariasis. Penyakit

ini menimbulkan gejala yang disebabkan oleh stadium larva dan stadium dewasa.

a) Stadium larva, yaitu kerusakan pada paru-paru yang menimbulkan gejala yang

disebut Sindrom Loeffler yang terdiri dari batuk-batuk, eosinofil dalam darah

meningkat, dan dalam Rontgen foto thorax terlihat bayangan putih halus yang

merata di seluruh lapangan paru yang akan hilang dalam waktu 2 minggu. Gejala

dapat ringan dan dapat menjadi berat pada penderita yang rentan atau infeksi

berat. Stadium dewasa, biasanya terjadi gejala usus ringan.Pada infeksi berat,

terutama pada anak-anak dapat terjadi malabsorbsi yang memperberat malnutrisi


11

karena perampasan makanan oleh cacing dewasa.Bila cacing dewasa menumpuk

dapat menimbulkan ileus obstruksi. Bila cacing nyasar ke tempat lain dapat

terjadi infeksi ektopik pada apendiks dan ductuscholedochus (Safar R, 2010

dalam (Rizqi 2018)).

2.4.2 Trichuris trichura (cacing cambuk)

2.4.2.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalea

Filum : Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub kelas : Adenophorea

Ordo : Enoplida

Family : Trichuridea

Genus : Trichuris

Spesies : Trichuris trichura (Rosanty 2016)

2.4.2.2 Morfologi dan Daur Hidup

Bentuk telur dari Nematoda ini sangat khas, mirip tempayan kayu atau

mirip biji melon. Berwarna coklat, mempunyai dua kutub yang jernih menonjol

dan berukuran sekitar 50 x 25 mikron. Telur-telur menetas di usus kecil dan

akhirnya melekat pada mukosa usus besar. Telur dikeluarkan dalam stadium

belum membelah dan membutuhkan 10 sampai 14 hari untuk menjadi matang

pada tanah yang lembab. Distorsi telur menjadi jauh lebih besar dari telur normal,
12

dilaporkan terjadi setelah pengobatan dengan mebendazole dan dengan obat yang

lain (Soedarto,1991) Telur ini cenderung lebih besar (70 – 80 µm x 30 – 42 µm)

dan mempunyai tombol yang lebih menonjol tetapi lebih kecil dibanding

Trichuris trichiura. (Rosanty 2016)

Sumber: (Soebari 1996).

Gambar 2.4. Siklus Hidup Trichuris trichiura


2.4.2.3 Gejala Klinik

Penderita terutama anak-anak dengan infeksi Trichuris yang berat dan

menahun, menunjukkan gejala diare yang sering diselingi sindromdisentri,

anemia, berat badan turun dna kadang-kadang disertai prolapsus rektum. Infeksi

berat Trichuris trichiura sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau

protozoa. Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau

sama sekali tanpa gejala. (Rizqi 2018)


13

2.4.3 Ancilostoma duodenale Dan Necator americanus (Cacing Tambang)

2.4.3.1 Klasifikasi

Kingdom : Animalea

Filum : Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Sub kelas : Secerentea

Ordo : Rhabditida

Famili : Anlostomatoides

Genus : Ancylostoma

Spesies : Ancylostoma duodenale dan necator americanus. (Saranani

and Yuniarty 2018)

2.4.3.2 Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulut yang besar

melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina Necator americanus tiap hari

mengeluarkan telur kira-kira 9000 butir, sedangkan Ancylostoma duodenale kira-

kira 10.000 butir. Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, cacing

jantan kurang lebih 0,8 cm. Bentuk badan Necator americanus menyerupai huruf

C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Necator americanus mempunyai

benda kitin, sedangkan pada Ancylostoma duodenale ada dua pasang gigi. Cacing

jantan mempunyai Bursa kopulatriks. (Rosanty 2016)


14

Sumber: (Soebari 1996).

Gambar 2.5 Siklus Hidup Ancylostoma Duodenale dan Necator Americanus

2.4.3.3 Gejala Klinik

Gejala Nekatoriasis dan Ankilostomiasis :

a) Stadium larva

Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit, maka

terjadi perubahan kulit yang disebut Ground itch. Perubahan pada paru

biasanya ringan. Infeksi larva filariform A. duodenale secara oral

menyebabkan penyakit wakana dengan gejala mual, muntah, iritasi faring,

batuk, sakit leher dan serak.

b) Stadium dewasa

Gejala tergantung pada spesies dan jumlah cacing, keadaan gizi

penderita (Fe dan protein) tiap cacing N. americanus menyebabkan

kehilangan darah 0,005-0,1cc sehari, sedangkan A. duodenale 0,08-

0,34cc. Pada infeksi kronik atau infeksi berat terjadi anemia hipokrom

mikrositer. Cacing tambang biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi


15

daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun sehingga dapat berakibat

Decompensatio Cordis (Sutanto Inge, dkk 2013 dalam (Rizqi 2018)).

2.5 Faktor-faktor Penyebab Kecacingan

2.5.1 Berdasarkan Umur

Umur manusia dapat dibagi menjadi beberapa rentang atau kelompok

dimana masing-masing kelompok menggambarkan tahap pertumbuhan manusia

tersebut. Salah satu pembagian kelompok umur atau kategori umur dikeluarkan

oleh Departemen Kesehatan RI (2009) dalam situs resminya yaitu depkes.go.id

sebagai berikut:

1. Masa balita = 0 – 5 tahun,

2. Masa kanak-kanak = 6 – 11 tahun.

3. Masa remaja Awal = 12 – 16 tahun.

4. Masa remaja Akhir = 17 – 25 tahun.

5. Masa dewasa Awal = 26 – 35 tahun.

6. Masa dewasa Akhir = 36 – 45 tahun.

7. Masa Lansia Awal = 46 – 55 tahun.

8. Masa Lansia Akhir = 56 – 65 tahun.

9. Masa Manula = 65 – atas. (Amin and Juniati 2017)

2.5.2 Berdasarkan Jenis Kelamin

Penyakit kecacingan ini menyerang semua golongan baik laki-laki

maupun perempuan. berdasarkan penelitian yang terinfeksi kecacingan lebih


16

banyak laki-laki dibandingkan perempuan hal ini dikarenakan laki-laki memiliki

aktivitas lebih banyak berada di tempat yang kurang bersih seperti pekerja

perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah tanpa menggunakan alat

pelindung diri dan anak-anak yang bermain tanpa mengunakan alas kaki.

2.5.3 Berdasarkan Personal Hygiene

Personal hygiene berasal dari kata yunani yaitu personal yang berarti

perorangan dan hygiene yang berarti sehat atau bersih. Kebersihan perorangan

dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan

kesehatan seseorang sehingga kesejahteraan dan psikis dapat terjamin.

Kebersihan diri seseorang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang

dimiliki sosial, keluarga, pendidikan dan persepsi seseorang terhadap kesehatan,

serta tingkat perkembangan. Gaya hidup seseorang memperhatikan nilai-nilai

kebersihan diri membuat tuntutan kebutuhan kebersihan diri menjadi sangat

penting (Tarwoto,2015 dalam (LUBIS 2019)).

2.6 Metode Pemeriksaan

2.6.1 Pemeriksaan Secara Langsung (Sediaan Basah)

Pemeriksaan secara langsung (Sediaan Basah) merupakan pemeriksaan

dengan metode natif. Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat

dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan

telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%)

atau eosin 2%. Penggunaan eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas

membedakan telur-telur cacing dengan kotoran di sekitarnya. Pemeriksaan secara

langsung feses dimaksudkan untuk menemukan telur cacing parasit pada feses
17

yang diperiksa. Dalam pemeriksaan feses langsung dapat ditemukan telur cacing,

leukosit, eritrosit, sel epitel, Kristal, makrofag dan sel ragi. Dari semua

pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur

cacing.

2.6.2 Metode biakan Harada Mori

Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva

cacing Ancylostoma duodenale, Necator americanus, Strongyloides Stercolaris

dan Trichostrongilus yang didapat dari feses yang diperiksa. Teknik ini hanya

digunakan untuk cacing-cacing yang menetas di luar tubuh hospes akan menetas

7 hari menjadi larva dengan kelembaban yang cukup.

2.6.3 Metode Kato

Teknik ini digunakan untuk mengetahui adanya infeksi cacing parasit dan

untuk mengetahui berat ringannya infeksi cacing parasit usus. Mengidentifikasi

telur cacing dilakukan dengan menghitung telur cacing untuk mengetahui

intensitas infeksi cacing (Rawina W, 2012 dalam (Rizqi 2018)).


DAFTAR PUSTKA

Amin, A. M. and D. Juniati (2017). "Klasifikasi Kelompok Umur Manusia


Berdasarkan Analisis Dimensi Fraktal Box Counting Dari Citra Wajah
Dengan Deteksi Tepi Canny." Ilmiah Matematika, Vol.2 No.6.

Aulianof, V. F. and V. F. Aulianof (2019). Pemeriksaan Telur Cacing Nematoda


Usus Pada Murid Sdn 31 Batang Barus Kabupaten Solok, Stikes Perintis
Padang.

Farida, E. A., dkk (2019). "Hubungan Kebersihan Personal Dengan Infeksi


Cacing Soil Transmitted Helminth (Sth) Pada Feses Anak Sdn 1
Kedamean Kabupaten Gresik." Journal of Pharmaceutical Care Anwar
Medika 2(2).

Kartini, S. (2016). "Kejadian Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar Negeri


Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbar." Jurnal Kesehatan Komunitas 3(2):
53-58.

Kurniawan, B., et al. (2018). "Uji Diagnostik Kecacingan antara Pemeriksaan


Feses dan Pemeriksaan Kotoran Kuku pada Siswa SDN 1 Krawangsari
Kecamatan Natar Lampung Selatan." Jurnal Kedokteran Universitas
Lampung 2(1): 20-24.

LUBIS, N. J. V. C. (2019). "Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminths (Sth)


Dengan Personal Hygiene Pada Siswa Kelas 1-2 Sd Swasta Dr Suardi
Salim Kecamatan Datuk Bandar Tanjungbalai."

Prasasti, E. Y. (2017). Perbedaan Variasi Kecepatan Pemusingan Selama 5


Menit Terhadap Jumlah Telur Ascaris lumbricoides, Universitas
Muhammadiyah Semarang.

Purnomo, J. (2018). Identifikasi Telur Dan Larva Nematoda Usus Pada Feses
Anak Sd Negeri 01 Karangsari, Kecamatan Jatiyoso, KABUPATEN
KARANGANYAR, Universitas Setia Budi Surakarta.

Rizqi, M. (2018). Analisa Telur Cacing Nematoda Usus Pada Tinja Anak Sd
Muhammadiyah 21 Usia 7-10 Tahun Dikelurahan Tegal Rejo Kecamatan
Medan Perjuangan Tahun 2018, Universitas Sari Mutiara Indonesia.

Rosanty, A. (2016). Identifikasi Telur Cacing Nematoda Usus Pada Kuku Murid
Sekolah Dasar Negeri 11 Ranomeeto, Poltekkes Kemenkes Kendari.

Saranani, M. and T. Yuniarty (2018). Identifikasi Telur Cacing Soil Transmitted


Helminths (Sth) Pada Anak Sekolah Dasar Sdn 9 Baruga Kota Kendari
Sulawesi TenggarA, Poltekkes Kemenkes Kendari.
19

Soebari, S. d. (1996). "Parasitologi Medik Jilid 3 Protozoologi dan Helmintologi:


Solo. EGC.".

Yunita, P. and A. Adiansyah (2019). "Identifikasi Telur Cacing Soiltransmitted


Helmint Pada Feces Anak Sd Inpres 094151 Parapat Kabupaten
Simalungun." Jurnal Analis Laboratorium Medik 4(2).
20