Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS OTONOMI DAERAH TENTANG DESENTRALISASI

BERDASARKAN UU. NO.32 TAHUN 2004


By. Raditya NIM 19112064

Penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat


UndangUndang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945 bahwa pemerintah berfungsi
mengatur dan mengurus sendiri urusanpemerintahan menurut azas otonomi dan
tugas pembantuan diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan
masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peranserta
masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip
demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah
dalam sistem kesatuan Republik Indonesia.
Efisiensi dan efektiftas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu
ditingkatkan dengan lebih mempehatikan aspek-aspek hubungan antara susunan
pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman
daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan
kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak
dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sebagai bagian dari
pelaksanaan reformasi tata hubungan pemerintahan antara pusat dan daerah
dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan daerah karena pengambilan
keputusan dalam penyelenggaraan dan pelayanan publik menjadi lebih sederhana
dan lebih cepat. Kebijakan tersebut dilaksanakan melalui UndangUndang Nomor
32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor
33Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah, dalam hal ini pemerintahan daerah telah melaksanakan
berbagai urusan dan kewenangan secara otonom yang sebelumnya dilaksanakan
oleh pemerintah pusat (sentralisasi). Berbagai kemajuan lainnya dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah telah layak dicapai, antara lain
adalahharmonisasi hubungan Kabupaten/Kota dengan Provinsi dan harmonisasi
hubungan pusat dan daerah. bidang pelayanan umum kerjasama antar
Kabupaten/Kota, antara Kabupaten/Kota dengan Provinsi, dan kerjasama antar
provinsi, pengelolaan sumber daya alam, peningkatan besaran dana perimbangan
dan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pemilukada) secara langsung.
Persoalan mendasar berkaitan dengan pelaksanaan desentralisasi dan
otonomi daerah adalah belum dilengkapinya berbagai peraturan pelaksanaan
kedua undang-undang tersebut. Proses penyusunan berbagai peraturan
pelaksanaan kedua undang-undang tersebut yang meliputi kewenangan,
kelembagaan, personil, keuangandaerah, perimbangan keuangan, perwakilan
daerah, pelayanan, sistem pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan
pemerintahan daerah serta pengaturan kewenangan antara pemerintahan pusat dan
daerah, hingga saat ini dalam proses penyelesaian.
Selain itu, pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah belum
sepenuhnya berjalan sebagaimana diharapkan karena berbagai masalah. Hal
mendasar adalah masih banyaknya tumpang tindih baik di pusat sendiri (terutama
antara UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 dengan berbagai undang-undang
sektoral) maupun dalam peraturan perundang-undangan antara pusat dan daerah.
Selain itu pengelolaan keuangan daerah juga belum optimal dan pemanfaatan
keuangan pemerintahan masih didominasi untuk membiayai belanja aparatur
sehingga kepentingan untuk pembangunan daerah masih sering tertinggal dan
masih mengandalkan sumber pendanaan dari pemerintah pusat.
Pemahaman,berpartisipasi dan kompetensi aparatur pemerintah di pusat
(kementrian/lembaga) maupun di daerah termasuk para wakil rakyat tentang
hakekat desentralisasi dan otonomi daerah masih rendah (terbatas). Selain itu
belum adanya pemisahan antara jabatan karier dan jabatan politis yang
berimplikasi kurangnya profesionalisme pemerintahan daerah. Hal ini
menyulitkan upaya mempercepat peningkatan pelayanan umum, peningkatan
kesejahteraan rakyat, pelaksanaan demokrasi dan menciptakan pemerintahan yang
baik. Salah satu akibat adalah munculnya ekses-ekses negatif di dalam
penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara langsung sebagaimana
diamanatkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti
UndangUndang Nomor 3 Tahun 2005 dan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004.
Sementara itu penyelenggaraan kelembagaan pemerintahan daerah masih
belum berjalan secara efektif dan efisien yang tercermin dari belum optimalnya
kualitas pelayanan umum kepada masyarakat, pengembangan ekonomi lokal dan
iklim investasi. Hal ini disebabkan belum maksimalnya kinerja perangkat
organisasi daerah, belum tersusunnya standart pelayanan minimal, koordinasi
antar perangkat organisasi antar daerah dan hubungan kerja antara pemerintah
daerah dan DPRD yang belum optimal, belum terciptanya praktek
penyelenggaraan pemerintah yang baik dan belum optimalnya kerja sama antar
pemerintah daerah.
Dalam rangka meningkatkan koordinasi pusat dan daerah maka perlu
dilakukan pengaturan lebih lanjut mengenai mekanisme dan koordinasi dana
dekonsentrasi melalui Gubernur Propinsi sebagai kepala wilayah dan kebijakan
memperkuat peran pemerintah Propinsi dalam memfasilitasi kegiatan lintas
daerah melalui kerjasama antar daerah dan antar wilayah. Selain itu perlu
dilaksanakan pembinaan dan daerah secara baik dengan meningkatkan kinerja
pelaksanaan kebijakan keuangan daerah yang efisien dan efektif. Hal ini
dilakukan melalui pencanangan pemercepatan gerakan reformasi pengelolaan
keuangan dan rasionalisasi struktur organisasi pengelola keuangan daerah
Propinsi dan Kabupaten/Kota melalui pembentukan pengelolaan keuangan daerah.
Selain itu untuk menghindari pembentukan daerah otonom baru yang tidak
sesuai dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan
daerah, maka perlu diilaksanakan evaluasi dan analisa terhadap daerah-daerah
otonom lama dan daerah otonom baru hasil pemekara yang meliputi pelaksanaan
kebijakan penggabungan dua atau lebih daerah-daerah otonom yang relatif kurang
mampu disertai kebijakan pemberian intensifnya. Upaya lain yang akan
dilaksanakan adalah meninjau kembali usulan daerah-daerah yang akan
melakukan pemekaran artinya pembentukan daerah otonom baru dengan
memperhatikan tidak hanya pertimbangan kelayakan politis tetapi juga
pertimbangan kelayakan teknis, administratif, ekonomi, dan potensi kemandirian
dalam penyelenggaraan pemerintahan sebagai daerah otonom.
Dalam rangka mendukung percepatan pelaksanaan kebijakan desentralisasi
dan otonomi daerah agar sesuai dengan prinsip-prinsip money follow function,
maka upaya pembagian kewenangan yang jelas antara pusat dan daerah perlu
terus dilanjutkan melalui berbagai sinkronisasi peraturan perundangan baik antar
sektor maupun antara pusat dan daerah. Pembagian kewenangan yang jelas ini
perlu ditindaklanjuti dengan penyerahan dananya yang selama ini masih dikelola
oleh instansi pusat. Upaya-upaya ini tentu saja memerlukan komitmen seluruh
pemangku kepentingan termasuk pihak legislatif baik di pusat maupun di daerah.
ANALISIS OTONOMI DAERAH TENTANG ANGGARAN
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD)
BERDASARKAN UU. NO.32 TAHUN 2004
By. Raditya NIM 19112064

Pembaharuan manajemen keuangan daerah di era otonomi daerah ini


ditandai dengan perubahan yang sangat mendasar, mulai dari sistem
pengganggarannya, perbendaharaan, sampai kepada pertanggungjawaban laporan
keuangannya. Sebelum bergulirnya otonomi daerah, pertanggungjawaban laporan
keuangan daerah yang harus disiapkan oleh Pemerintah Daerah hanya berupa
Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Perhitungan dan sistem yang digunakan
untuk menghasilkan laporan tersebut adalah MAKUDA (Manual Administrasi
Keuangan Daerah) yang diberlakukan sejak 1981.
Dengan bergulirnya otonomi daerah, laporan pertanggungjawaban keuangan
yang harus dibuat oleh Kepala Daerah adalah berupa Laporan Perhitungan
Anggaran, Nota Perhitungan, Laporan Arus Kas dan Neraca Daerah. Kewajiban
untuk menyampaikan laporan keuangan daerah ini diberlakukan sejak 1 Januari
2001, tetapi hingga saat ini pemerintah daerah masih belum memiliki standar
akuntansi pemerintahan yang menjadi acuan di dalam membangun sistem
akuntansi keuangan daerahnya. Kedua jenis laporan terakhir yaitu neraca daerah
dan laporan arus kas tidak mungkin dapat dibuat tanpa didasarkan pada suatu
standar akuntansi yang berterima umum di sektor pemerintahan. Pasal 14 ayat (3)
menetapkan bahwa sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah diatur
dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).
Dari ketentuan tersebut di atas, seharusnya penerapan sistem dan prosedur
akuntansi dalam rangka penyusunan laporan keuangan daerah dapat menggunakan
standar akuntansi yang ada atau berlaku selama ini, tidak perlu harus menunggu
standar akuntansi pemerintahan yang disusun oleh Komite Standar Akuntansi
Pemerintahan sesuai pasal 57 ayat (2) UU Nomor 1 tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara. Kewajiban pemerintah daerah untuk menyusun neraca,
laporan realisasi anggaran, laporan arus kas dan nota perhitungan merupakan
kewajiban yang tidak bisa ditunda-tunda karena hal tersebut merupakan
pertanggungjawaban kepala daerah kepada DPRD.
Manajemen keuangan pemerintah merupakan salah satu kunci penentu
keberhasilan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka
nation and state building. Adanya manajemen keuangan pemerintah yang baik
akan menjamin tercapainya tujuan pembangunan secara khusus, dan tujuan
berbangsa dan bernegara secara umum. Karenanya, langkah-langkah strategis
dalam konteks penciptaan, pengembangan, dan penegakan sistem manajemen
keuangan yang baik merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan yang semakin tak
terelakkan dalam dinamika pemerintahan dan pembangunan. Munculnya
perhatian yang besar akan pentingnya manajemen keuangan pemerintah
dilatarbelakangi oleh banyaknya tuntutan, kebutuhan atau aspirasi yang harus
diakomodasi di satu sisi, dan terbatasnya sumberdaya keuangan pemerintah di sisi
lain. Dengan demikian, pencapaian efektivitas dan efisiensi keuangan pemerintah
semakin mengemuka untuk diperjuangkan perwujudnya.
Dalam upaya perwujudan manajemen keuangan pemerintah yang baik,
terdapat pula tuntutan yang semakin aksentuatif untuk mengakomodasi
menginkorporasi, bahkan mengedepankan nilai-nilai good governance. Beberapa
nilai yang relevan dan urgen untuk diperjuangkan adalah antara lain transparansi,
akuntabilitas, serta partisipasi masyarakat dalam proses pengelolaan keuangan
dimaksud, disamping nilai-nilai efektivitas dan efisiensi tentu saja. Dalam konteks
yang lebih visioner, manajemen keuangan pemerintah tidak saja harus didasarkan
pada prinsip-prinsip good governance, tetapi harus diarahkan untuk mewujudkan
nilai-nilai dimaksud.
Sebagaimana dibahas dalam artikel Mulia P. Nasution5, pemerintah
Indonesia sebenarnya sudah memberi perhatian yang sungguh sungguhuntuk
mengakomodasi dan mewujudkan harapan dan tuntutan di atas.Upaya
mewujudkan manajemen keuangan pemerintah yang baik, antara lain.
Hasil pemeriksaan BPK terasa kontradiktif ketika kita membuka LKPJ
(Laporan Keterangan Pertanggungjawaban) Kepala Daerah. Sebagai contohnya
LKPJ untuk Gubernur Jawa Barat pada tahun 2006 yang hampir semua parameter
kesejahteraan sosial, ekonomi, dan kebudayaan, di atas kertas menunjukkan angka
pencapaian yang melampaui target. Namun, progress report tahun keempat dari
pelaksana tugas dan tanggung jawab Gubernur dan Wagub itu jika direfleksikan
dengan ukuran dari BPK serta kondisi riil di tengah masyarakat belum
menggembirakan.
Dalam hal itu target pendapatan daerah tahun anggaran 2006 belum
menunjukkan performansi penganggaran strategis sebagai manajemen keuangan
proaktif yang visinya melesat jauh ke depan. Performansi anggaran juga belum
menunjukkan optimalisasi pengelolaan keuangan daerah. Berbagai target
pendapatan terkesan sebagai pilihan minimalis alias kelewat rendah jika
dibandingkan dengan potensi yang seharusnya bisa digali. Belum optimalnya
pengelolaan keuangan daerah juga berpengaruh terhadap stagnasi pembangunan
infrastruktur seperti sangat kecilnya prosentase pembuatan ruas jalan baru dan
rendahnya pembangunan fasilitas publik.
Pentingnya langkah strategis untuk meningkatkan performansi pengelolaan
keuangan daerah dan memperbaiki kualitas APBD dengan melaksanakan program
LocalGovernment Finance and Governance Reform, yakni dengan merencanakan
pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah [SIPKD] dan
SistemInformasi Keuangan Daerah[SIKD]. Pengembangan sistem ini secara garis
besar bertujuan untuk mendukung reformasi keuangan daerah menuju
peningkatan kinerja tatakelola keuangan daerah yang berkelanjutan serta
memperkuat peran dan fungsi keuangan daerah sebagai penggerak peningkatan
kinerja ekonomi lokal dan peningkatan standar layanan.
ANALISIS PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH TENTANG
KEWENANGAN BADAN, DINAS DN KANTOR
BERDASARKAN UU. NO.32 TAHUN 2004
By. Raditya NIM 19112064

Dengan keluarnya Undang-Undang Otonomi Daerah No. 22 Tahun 1999


yang diubah menjadi Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, maka penyelenggaraan
pemerintahan daerah memiliki warna baru.Hal ini ditandai dengan adanya
pergeseran paradigma dalam pembangunan daerah, yakni dari
paradigmagovernment yang bercorak sentralistis dan telah melahirkan monopoli
peran pemerintah dalam segala aspek kehidupan, ke arah paradigma governance
yang bercorak desentralistis, yang akan memberikan peran dantanggung jawab
seimbang di antara pilar utama pembangunan daerah, yaitu pemerintah,
masyarakat, dan swasta.
Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut, maka filosofi pembangunan
daerah pun mengalami perubahan. Filosofi pembangunan tidak lagi
mengedepankan filosofi “membangun daerah”, yang dalam praktiknya telah
melahirkan tingkat ketergantungan yang besar, baik secara ekonomi maupun
politis kepada pusat, tetapi akan lebih mengedepankan filosofi “daerah
membangun”, yang menekankan pada upaya menumbuh kembangkan kreativitas,
pemberdayaan masyarakat, dan kemandirian daerah baiksecara ekonomi maupun
politik.
Di samping perubahan paradigma, ada beberapa perubahan atau ciri khusus
dari undang-undang yang baru ini, yaitu pertama, rekruitmen pejabat pemerintah
daerah dan proses legislasi diberikan kepadadaerah untuk menentukannya. Kedua,
titik berat otonomi daerah diletakkan kepada daerah kabupaten dan kota, bukan
kepada daerah provinsi. Ketiga, otonomi daerah menganut sistem otonomi luas
dan nyata.Dengan sistem ini, pemerintah daerah berwenang untuk melakukan apa
saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan, kecuali lima hal, yaitu
politik luar negeri, pertahanan dan keamanan,moneter dan fiskal nasional, yustisi,
dan agama. Keempat, tidak mengenal sistem otonomi bertingkat. Kelima, daerah
diberi kewenangan yang seluas-luasnya. Dengan kewenangan itu, maka daerah
akan menggunakannya untuk menggali sumber dana keuangan yang sebesar-
besarnya sepanjang bersifat legal dan diterima oleh segenap lapisan masyarakat.
Keenam, penguatan rakyat melalui peran DPRD.
Implementasi kebijakan otonomi daerah telah mendorong terjadinya
perubahan, baik secara struktural, fungsional maupun kultural dalam tatanan
penyelenggaraan pemerintahan daerah. Salah satu perubahan yang sangat esensial
yaitu menyangkut kedudukan, tugas pokok dan fungsi kecamatan yang
sebelumnya merupakan perangkat wilayah dalam kerangka asas dekonsentrasi,
berubah statusnya menjadi perangkat daerah dalam kerangka asas desentralisasi.
Sebagai perangkat daerah, camat dalam menjalankan tugasnya mendapat
pelimpahan kewenangan dari dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota.
Pengaturan penyelenggaraan Kecamatan baik dari sisi pembentukan, kedudukan,
tugas dan fungsinya secara legalistik diatur dengan peraturan pemerintah.
Pelimpahan kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Kecamatan
perlu ditelaah dan dikaji secara detail, karena tidak secara keseluruhan
kewenangan bisa diberikan kepada kecamatan, tetapi didasarkan atas berbagai
aspek pertimbangan. Ada empat prasyarat pelimpahan kewenangan tersebut, yaitu
: pertama, adanya kemauan politik dari bupati/walikota. Kedua, kemauan politik
dari pihak eksekutif dan legislatif. Ketiga,kerelaan dari Dinas dan Lembaga
Teknis Daerah untuk melimpahkan kewenangan teknis yang dapat dijalankan oleh
kecamatan melalui keputusan Bupati/Walikota. Kempat, dukungan anggaran dan
personil dalam menjalankan kewenangan yang telah didelegasikan.
Dalam pelaksanaan pelimpahan sebagian kewenangan dari Bupati kepada
camat sebagai titik awal menata organisasi kecamatan di kabupaten Parigi
moutong mengahadapi berbagai masalah krusial, yaitu masih kurangnya
kesamaan persepsi antar Perangkat Daerah tentang pentingnya sebagian
kewenangan bupati, yaitu masih terdapatnya ego sektoral pada sebagian perangkat
daerah, sehingga enggan untuk menyerahkan sebagian kewenangan yang
dimilikinya untuk kecamatan, sehingga aspek kemauan politis dan good will dari
Bupati sangat urgen dalam menentukan langkah kebijakan kewenangan camat
sebagai salah satu tujuan untuk menciptakan pendekatan pelayanan kepada
masyarakat.
Terkait dengan koordinasi lintas intitusional ini adalah jalinan sistem relasi
antara pihak kecamatan dengan lembaga sektoral daerah (dinas) dan lembaga
strategis daerah (badan dan kantor). Jenis dan bidang kewenangan yang
dilimpahkan Bupati ke camat adalah cakupan fungsi dan tugas dua jenis lembaga
daerah tersebut. Dinas, Badan dan Kantor membuat general strategi program
selanjutnya pihak camat meneruskan dalam skala aktualisasi program berbasis
lingkup kewilayahan. Hal ini dilakukan karena pihak kecamatan sebagai salah
satu dari organisasi perangkat daerah, memiliki otorisasi hak kewialyahan yang
tidak dimiliki oleh organisasi perangkat daerah yang lain (Dinas, Badan dan
Kantor). Untuk itu perlu dipahamai oleh semua organisasi perangkat daerah secara
sublimatis pelimpahan kewenangan bupati kepada camat adalah sebuah proyek
kolektif dalam penataan pemerintah daerah (eksekutif daerah), olehnya organisasi
sektoral dan strategis daerah senantiasa melakukan pendampingan bukan kooptasi,
memberikan saran konstruktif bukan destruktif.
Hal ini menjadi prasyarat penting karena kewenangan delegatif yang akan
diserahkan tersebut merupakan kewenangan Bupati yang ada dan melekat pada
Dinas, Badan dan Kantor serta Bagian Sekretariat Daerah berdasarkan tugas
pokok dan fungsinya masing-masing.Pelimpahan kewenangan ini tidak
mengurangi lingkup peran dan fungsi Dinas, Badan dan Kantor, namun
menderivasikan peran dan fungsi tersebut agar lebih berjalan maksimal efektif dan
efisien.

Anda mungkin juga menyukai