Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN DIAGNOSA SEVERE HEADACHE DI RUANG


RAWAT INAP MINA 1 RUMAH SAKIT UMUM
dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH

Oleh:

Rahmah, S. Kep
2112501010094

KEPANITERAAN KLIMIK KEPERAWATAN DASAR


BAGIAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
TAHUN 2022
KONSEP SEVERE HEADACHE

A. Pengertian Severe Headache

Severe Headache atau nyeri kepala merupakan keluhan pasien yang

paling umum diungkapkan di seluruh dunia. Nyeri kepala adalah nyeri yang

dirasakan di bagian kepala atau disebut juga sefalgia. Berdasarkan gambaran

anatomi, nyeri kepala adalah nyeri yang dirasakan di atas garis orbito- meatal

dan belakang kepala, tidak termasuk nyeri di area orofasial, seperti hidung,

sinus, rahang, sendi temporomandibular, dan telinga (Haryani, Tandy, Vania

& Barus, 2018).

Sekitar 50% populasi dunia mengalami nyeri kepala setiap tahunnya

dan lebih dari 90% menyatakan pernah mengalami nyeri kepala Laporan

terakhir menyatakan terdapat lima hingga sembilan juta kunjungan ke

penyedia layanan kesehatan primer dengan keluhan migren setiap tahunnya di

Amerika Serikat. Umumnya keluhan ini lebih banyak menimpa kaum wanita.

Jenis nyeri kepala yang paling umum terjadi adalah nyeri kepala tipe tegang,

migren, dan klaster dengan perkiraan angka kejadian masing-masing

mencapai 40, 10, dan 1% dari total populasi orang dewasa di seluruh dunia.

Nyeri kepala mengganggu aktivitas pasien sehingga menurunkan

produktivitas serta mengakibatkan beban ekonomi dalam keluarga. Penelitian

menunjukkan bahwa nyeri kepala lebih banyak mengurangi kualitas hidup


dibandingkan dengan osteoarthritis ataupun diabetes mellitus. pasien

(Haryani, Tandy, Vania & Barus, 2018).

B. Etiologi Nyeri Kepala

Nyeri kepala sering berkembang dari sejumlah faktor risiko yang

umum yaitu :

1. Penggunaan obat yang berlebihan. Menggunakan terlalu banyak obat

dapat menyebabkan otak kesebuah keadaan tereksasi, yang dapat memicu

sakit kepala. Penggunaan obat yang berlebihan dapat menyebabkan

rebound sakit kepala (tambah parah setiap diobati).

2. Stress adalah pemicu yang paling umum untuk sakit kepala, termasuk

sakit kepala kronis. Stress menyebabkan pembuluh darah di otak

mengalami penegangan sehingga menyebabkan sakit kepala.

3. Masalah tidur Kesulitan tidur merupakan faktor risiko umum untuk sakit

kepala. Karena hanya sewaktu istirahat atau tidur kerja seluruh tubuh

termasuk otak dapat beristirahat pula.

4. Kegiatan berlebihan Kegiatan atau pekerjaan yang berlebihan dapat

memicu datangnya sakit kepala, termasuk hubungas seks. Kegiatan yang

berlebihan dapat membuat pembuluh darah di kepala dan leher mengalami

pembengkakan.

5. Kafein telah ditunjukkan untuk meningkatkan efektivitas ketika

ditambahkan ke beberapa obat sakit kepala. Sama seperti obat sakit kepala
berlebihan dapat memperburuk gejala sakit kepala, kafein yang berlebihan

juga dapat menciptakan efek rebound (tambah parah setiap kali diobati).

6. Rokok merupakan faktor resiko pemicu sakit kepala. Kandungan nikotin

dalam rokok dapat membuat pembuluh darah menyempit.

7. Alkohol menyebabkan peningkatan aliran darah ke otak. Sama seperti

rokok, alkohol juga merupakan faktor risiko umum penyebab sakit kepala.

8. Penyakit atau infeksi Seperti meningitis (infeksi selaput otak), saraf

terjepit di leher, atau bahkan tumor. (Smeltzer & Bare, 2002)

C. Klasifikasi Nyeri Kepala

Nyeri kepala secara umum dapat dibedakan menjadi nyeri kepala

primer dan nyeri kepala sekunder. Nyeri kepala primer mencakup nyeri kepala

tipe tegang, migren, dan klaster. Sedangkan, nyeri kepala sekunder merupakan

kondisi yang diakibatkan oleh penyebab lain, seperti trauma kepala dan leher,

gangguan vaskularisasi kranial dan servikal, gangguan intrakranial non-

vaskular, penggunaan obat maupun putus obat, infeksi, gangguan

homeostasis, ataupun gangguan psikiatrik.

Nyeri kepala ini dapat disebabkan oleh gangguan di tengkorak, leher,

mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut, ataupun struktur wajah dan kranial

lainnya. Kedua kelompok ini penting untuk dibedakan agar kondisi penyebab

yang lebih serius dapat dikenali dan dengan segera diberikan penanganan

yang tepat. Nyeri kepala tanpa adanya tanda bahaya merupakan nyeri kepala

dengan risiko rendah. Nyeri kepala jenis ini tidak membutuhkan pencitraan
neurologis dan umumnya mengarah kepada nyeri kepala primer. Tanda

bahaya yang dimaksud meliputi nyeri kepala yang berkepanjangan atau

progresif; nyeri kepala baru atau yang dirasakan berbeda dari biasanya; nyeri

kepala terberat yang pernah dialami seumur hidup; nyeri kepala yang

langsung terasa berat ketika pertama muncul; adanya gejala sistemik yang

menyertai; kejang; ataupun adanya gejala neurologis. Jika salah satu saja dari

tanda bahaya tersebut muncul, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan

baik berupa pencitraan maupun laboratorium untuk mengetahui penyebab

nyeri kepala tersebut.

Nyeri kepala tipe tegang merupakan jenis nyeri kepala primer yang

paling sering terjadi. Nyeri ini ditandai dengan rasa terikat yang dirasakan

bilateral dengan intensitas ringan-sedang. Reseptor nosiseptif di jaringan

myofasial perikranial diduga berperan dalam munculnya nyeri ini. Nyeri

kepala ini kemudian dapat dibedakan lagi menjadi nyeri kepala tipe tegang

jarang dan sering. Nyeri kepala tipe tegang dikatakan jarang jika terdapat

minimal 10 episode nyeri yang berlangsung kurang dari satu hari setiap bulan

(kurang dari 12 hari per tahun) dengan durasi serangan berkisar antara 30

menit hingga tujuh hari. Sedangkan, nyeri kepala tipe tegang dapat dikatakan

sering jika terjadi serangan minimal 10 episode yang berlangsung lebih dari

satu dan kurang dari 15 hari per bulan selama minimal tiga bulan.

Nyeri kepala primer lain yang cukup sering terjadi adalah migren.

Kondisi ini ditandai dengan adanya mual, fotofobia (sensitivitas terhadap


cahaya), dan fonofobia (sensitivitas terhadap suara). Aktivitas fisik seringkali

menjadi faktor pencetus munculnya migren. Karakteristik khas dari migren

adalah sifatnya yang pulsatil, berlangsung selama 4-72 jam, unilateral, disertai

dengan mual dan muntah dalam intensitas berat yang mengganggu aktivitas.

Salah satu penelitian menunjukkan adanya dua dari tiga gejala yang telah

disebutkan di atas meningkatkan kemungkinan diagnosa migren hingga 4,8

kali lipat. Migren sendiri dapat dibedakan menjadi migren dengan aura dan

tanpa aura. Aura yang dimaksud dapat berupa gangguan visual ataupun

sensori, baik gejala positif (kilatan cahaya atau kesemutan) maupun gejala

negatif (hilang penglihatan atau rasa baal) yang bersifat reversibel. Aura ini

umumnya muncul setelah lima menit dan bertahan hingga kurang dari satu

jam.

Nyeri kepala klaster cenderung jarang ditemukan. Meskipun jenis

nyeri kepala ini adalah yang paling jarang, sekitar 500.000 warga Amerika

pernah mengalami nyeri kepala ini minimal sekali dalam hidupnya dengan

70% pasien melaporkan pertama kali mengalami nyeri ini di bawah usia 30

tahun. Nyeri kepala klaster umumnya digambarkan dengan nyeri tajam yang

terjadi unilateral di area retro orbita, diikuti dengan area temporal, gigi atas,

rahang, pipi, gigi bawah, dan leher. Nyeri ini terkadang dapat digambarkan

sebagai nyeri yang pulsatil ataupun seperti terikat dan dapat terjadi bilateral

sehingga kebanyakan kasus nyeri kepala klaster mengalami kesalahan

diagnosa. Nyeri kepala ini berlangsung singkat, antara 15 hingga 180 menit,
dengan intensitas berat yang disertai dengan gejala otonom. Gejala otonom

ipsilateral yang mungkin terjadi mencakup edema kelopak mata, kongesti

nasal, lakrimasi, ataupun berkeringat. Serangan dapat terjadi hingga delapan

episode per hari. Delapan hingga sebilan puluh persen dari kasus nyeri kepala

kluster merupakan tipe episodik yang ditandai dengan adanya serangan setiap

hari selama rata-rata 6-12 minggu diikuti remisi hingga 12 minggu.

Sedangkan pada tipe kronik, serangan muncul tanpa adanya periode remisi.

Klasifikasi sakit kepala yang paling baru dikeluarkan oleh Headache

Classification Cimitte of the International Headache Society sebagai berikut:

1. Migren (dengan atau tanpa aura)

2. Sakit kepala tegang

3. Sakit kepala klaster dan hemikrania paroksismal

4. Berbagai sakit kepala yang dikaitkan dengan lesi struktural.

5. Sakit kepala dikaitkan dengan trauma kepala

6. Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vaskuler (mis. Perdarahan

subarakhnoid).

7. Sakit kepala dihuungkan dengan gangguan intrakranial non vaskuler (mis.

Tumor otak).

8. Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia tau putus obat.

9. Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non sefalik.

10. Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik

(hipoglikemia).
11. Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan kepala,

leher atau struktur sekitar kepala ( mis. Glaukoma akut).

12. Neuralgia Kranial (nyeri menetap berasal dari saraf kranial)

D. Patofisiologis
E. Manifestasi Klinis

Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada

waktu tertentu dan serangan sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang.

Penyebab migren tidak diketahui jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh

gangguan vaskuler primer yang biasanya banyak terjadi pada wanita dan

mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga. Tanda dan gejala adanya

migren pada serebral merupakan hasil dari derajat iskhemia kortikal yang

bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri kulit kepala dan

pembuluh darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan ekstrakranial

mengalami dilatasi, yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Migren

klasik dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:

1. Fase aura. Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan

kesempatan bagi pasien untuk menentukan obat yang digunakan untuk

mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode ini adalah gangguan

penglihatan (silau), kesemutan, perasaan gatal pada wajah dan tangan,

sedikit lemah pada ekstremitas dan pusing. Periode aura ini berhubungan

dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan perubahan

fisiologi awal. Aliran darah serebral berkurang, dengan kehilangan

autoregulasi laanjut dan kerusakan responsivitas CO2.

2. Kemudian yang kedua fase sakit kepala berdenyut yang berat dimana

pasien dapat mengalami gejala dengan fotofobia, mual dan muntah. Durasi

keadaan ini bervariasi, beberapa jam dalam satu hari atau beberapa hari.
3. Fase pemulihan Periode kontraksi otot leher dan kulit kepala yang

dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Kelelahan biasanya

terjadi, dan pasien dapat tidur untuk waktu yang panjang.

F. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan chepalgia meliputi:

1. Cidera serebrovaskuler / Stroke

2. Infeksi intrakranial

3. Trauma kranioserebral

4. Cemas, gangguan tidur, depresi, masalah fisik dan psikologis lainnya.

G. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:

1. Pemeriksaan diagnostic:

a. CT Scan digunakan untuk menemukan abnormalitas pada susunan

saraf pusat.

b. MRI Scan dengan tujuan mendeteksi kondisi patologi otak dan medula

spinalis dengan menggunakan tehnik scanning dengan kekuatan

magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh.

c. Pungsi lumbal dengan mengambil cairan serebrospinalis untuk

pemeriksaan. Hal ini tidak dilakukan bila diketahui terjadi peningkatan

tekanan intrakranial dan tumor otak, karena penurunan tekanan yang

mendadak akibat pengambilan CSF.


2. Pemeriksaan laboratorium

a. Gula darah pada penderita chepalgia biasanya meningkat

b. Hematokrit dan hemoglobin pada penderita chepalgia menurun

c. Hitung leukosit biasanya meningkat

d. Kolesterol pada penderita chepalgia biasanya meningkat

e. Ureum pada penderita chepalgia biasanya meningkat

f. Kretinin biasanya menurun

g. Trombosit pada chepalgia biasanya menurun

h. Urine

Anda mungkin juga menyukai