Anda di halaman 1dari 2

EKSI4415

NASKAH UAS-THE
UJIAN AKHIR SEMESTER-TAKE HOME EXAM (THE)
UNIVERSITAS TERBUKA
SEMESTER: 2020/21.2 (2021.1)

Teori Akuntansi
EKSI4415

No. Soal Skor


1. Perkembangan istilah-istilah akuntansi sekarang ini tidak terlepas dari sejarah akuntansi di 25
zaman dahulu, sejak tahun 3000 SM. Saat ini pembukuan dikenal dengan istilah double entry
bookkeeping dengan memasangkan antara debit dan credit pada sistem pembukuan.
Jelaskanlah:
a) Asal usul munculnya istilah double entry bookkeeping dalam akuntansi
b) Asal usul munculnya istilah debit dan credit dalam akuntansi

2. Seiring perkembangan globalisasi banyak negara yang melakukan adopsi International Financial 25
Reporting Standar (IFRS) dibandingkan dengan mengembangkan standar yang bersifat
domestik. Usaha untuk menjadikan IFRS menjadi global accounting standard menghadapi
berbagai kendala karena tidak semua negara mau menerima konsep “standar akuntansi dan
pelaporan keuangan tunggal”. Beberapa kendala yang dialami di Indonesia yang menyebabkan
resistensi penerimaan standar akuntansi tunggal.

Berdasarkan uraian di atas, analisislah hambatan apa saja yang terjadi pada proses harmonisasi
akuntansi di Indonesia!

3. Dalam penyusunan standar akuntansi keuangan, pasti melibatkan berbagai pihak agar keputusan 25
yang dibuat juga melibatkan berbagai macam sudut pandang. Hal ini juga penting agar
kepentingan berbagai macam pihak dapat terakomodasi pada standar akuntansi yang
dirumuskan, sehingga standar akuntansi dapat menjadi solusi yang umum untuk permasalahan
dalam praktik akuntansi, misalnya masalah yang timbul dengan adanya konflik kepentingan
antara pemilik modal pada suatu perusahaan dengan manajemen sebagai pelaksana operasi
perusahaan, yang dikenal dengan konflik keagenan. Konflik tersebut dapat dijelaskan melalui
teori keagenan.

Bersasarkan uraian tersebut, Anda diminta untuk menganalisis dan menyimpulkan keterkaitan
antara teori keagenan dengan proses pembuatan standar akuntansi keuangan menggunakan
argumen yang logis.

1 dari 2
EKSI4415

4. Round Tripping 25
Kasus Wirecard sedang menjadi pembahasan yang ramai saat ini. Perusahaan Wirecard
mengalami salah satu kejatuhan nilai saham terburuk dalam sejarah indeks acuan Jerman
setelah mengungkapkan bahwa sekitar 1,9 miliar euro ($ 2,1 miliar) atau sekitar 29,5 triliun rupiah
(kurs 14.000) dalam bentuk kas telah hilang. Perusahaan ini dilaporkan akan memindahkan uang
dari rekening bank di Jerman ke neraca anak perusahaan yang tidak aktif di Hong Kong, yang
uang itu akan ditransfer ke pelanggan fiktif, dan dari sana melakukan transfer ke rekening
Wirecard di India. Hal Ini memberi kesan pada auditor lokal bahwa itu adalah pendapatan bisnis
yang sah. Perusahaan itu berusaha untuk mengambil alih operasi pembayaran Citigroup Inc. di
Asia Pasifik, yang menjangkau 11 negara dan 20.000 retailer pada saat melakukan fraud
akuntansi. Kecurangan atau fraud dalam akuntansi bukan hanya tindakan karyawan di
perusahaan tersebut, tetapi merupakan bagian dari pola manipulasi angka yang lebih luas di
Wirecard. Dua eksekutif senior di kantor perusahaan Munich, Thorsten Holten dan Stephan von
Erffa, kepala perbendaharaan dan kepala akuntansi, sebenarnya menyadari skema round
tripping, namun tidak mengambil tindakan. Dalam akuntansi, istilah “round tripping” mengacu
pada serangkaian transaksi antara perusahaan yang meningkatkan pendapatan perusahaan
yang terlibat tetapi pada akhirnya, tidak memberikan manfaat ekonomi nyata bagi kedua
perusahaan. Meskipun tidak selalu ilegal, round triping bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan
dan menyalahi standar akuntansi yang berlaku. Penting bagi seorang pebisnis yang teliti untuk
dapat mengenali kapan suatu transaksi bisa sama dengan round tripping – dan sebaliknya,
mengetahui kapan suatu transaksi yang terlihat seperti round tripping padahal sebenarnya adalah
transaksi yang sah.
Contoh Round Tripping pada kasus wirecard umumnya melibatkan penjualan timbal balik
aset yang identik. Sebagai contoh, Anda memiliki toko peralatan kantor, dan pemilik toko alat tulis
mendatangi Anda dengan sebuah proposal. Dia akan membeli 40 rim kertas fotokopi dari Anda
dengan harga eceran 30.000 per bungkus, dengan total 1.200.000. Sementara itu, Anda akan
membeli kertas identik darinya dengan harga yang sama, 1.200.000. Dia mengusulkan
kesepakatan round tripping. Contoh lain yang lebih mencolok mungkin termasuk pembayaran
round tripping untuk “layanan” yang tidak ada, atau satu perusahaan “berinvestasi” di perusahaan
lain, dengan perusahaan kedua berbalik dan menggunakan uang untuk membeli barang atau
jasa dari perusahaan yang pertama berinvestasi di perusahaan tersebut. Tujuan dari round
tripping adalah untuk meningkatkan pendapatan – untuk membuat perusahaan terlihat seperti
melakukan lebih banyak penjualan bisnis daripada yang sebenarnya. Meskipun inti membangun
perusahaan mana pun adalah laba, pengamat sering menilai pertumbuhan dan ukuran
perusahaan berdasarkan pendapatan penjualannya.Penawaran round tripping umumnya tidak
meningkatkan laba; Seperti contoh diatas, pendapatan 1.200.000 yang akan Anda peroleh dari
menjual kertas ke toko alat tulis akan diimbangi dengan biaya 1.200.000 untuk membeli jumlah
kertas yang sama. Tetapi setiap perusahaan mendapatkan tambahan 1.200.000 dalam
pendapatan di laporan keuangan, sehingga tampak sangat baik dan lebih aktif daripada tanpa
melakukan penjualan sama sekali. Jelas ini membuat angka-angka dalam laporan keuangan
terlihat lebih baik bagi investor atau pemberi pinjaman, sehingga meningkatkan kepercayaan
investor. Namun seperti yang kami katakan diatas, tindakan ini adalah tindakan yang tidak sah,
hal ini yang terjadi pada kasus Wirecard.
Berdasarkan kasus di atas, Anda diminta untuk menganalisis keterkaitan kasus tersebut dengan
teori akuntansi keperilakuan menggunakan argumen yang logis.

Skor Total 100

2 dari 2