Anda di halaman 1dari 9

ANTHRAX

(Malignant pustule, Malignant edema, Woolsorter disease, Ragpicker disease)

1. Identifikasi
Adalah penyakit bakteri akut biasanya mengenai kulit, sangat jarang
mengenai orofaring, mediastinum atau saluran pencernaan. Pada anthrax kulit
rasa gatal pada kulit yang terpajan adalah hal yang pertama kali terjadi, diikuti
dengan lesi yang berubah menjadi papulair, kemudian vesikulair dan selama 2 –
6 hari berubah menjadi jaringan parut hitam. Jaringan parut ini biasanya
dikelilingi oleh bengkak ekstensif sedang, hingga berat. Kadangkala disertai
dengan gelembung kecil. Rasa sakit jarang muncul dan jika ada biasanya karena
infeksi sekunder atau bengkak. Kepala, dahi dan tangan merupakan tempat
dimana infeksi biasa muncul. Lesi ini kadang keliru dibedakan dengan Orf pada
manusia (lihat penyakit virus Orf). Infeksi yang tidak diobati bisa menyebar ke
daerah kelenjar limfe dan ke sistem peredaran darah dengan akibat terjadi
septikemi. Selaput otak bisa terkena. Anthrax kulit yang tidak diobati
mempunyai angka “case fatality” antara 5 % – 20 %, dengan terapi antibiotik
yang efektif, hanya terjadi sedikit kematian. Lesi berkembang berupa lesi yang
sangat khas pada kulit bahkan sesudah dimulainya terapi antibiotik.
Gejala awal karena inhalasi anthrax mula-mula sangat ringan dan tidak
spesifik termasuk demam, malaise dan batuk ringan atau sakit dada. Kemudian
muncul gejala akut berupa gangguan pernapasan, gambaran sinar-x melebarnya
mediastinum; demam dan syok akan terjadi dalam 3 – 5 hari dan tidak lama
kemudian akan mengakibatkan kematian. Anthrax usus jarang terjadi dan lebih
sulit untuk dikenal terkecuali jika muncul sebagai KLB keracunan makanan,
dengan gejala berupa gangguan abdominal diikuti dengan demam, tanda-tanda
septikemi dan kematian pada kasus-kasus tertentu. Bentuk orofaringeal dari
penyakit primer pernah ditemukan.
Konfirmasi laboratorium dibuat dengan ditemukannya organisme
penyebab penyakit di dalam darah, lesi atau discharge dengan pengecatan
langsung Polikrom metilen biru (M’Fadyean) atau dengan kultur atau dengan
inokulasi dari tikus, marmoot atau kelinci.
Identifikasi cepat dari organisme dengan menggunakan tes
Imunodiagnostik, ELISA & PCR mungkin hanya tersedia pada laboratorium
rujukan tertentu.
2. Penyebab penyakit.
Bacillus anthracis, bakteri gram positif, berkapsul, membentuk spora,
berbentuk batang yang tidak bergerak.

3. Distribusi penyakit.
Merupakan penyakit utama herbivora, sedangkan manusia dan
karnivora merupakan hospes insidential. Infeksi anthrax pada manusia bersifat
sporadis dan jarang terjadi disebagian besar negara maju. Ia merupakan
penyakit akibat kerja (occupational disease) utama para pekerja yang
memproses kulit, bulu (terutama kambing) tulang, produk tulang dan wol,
dokter hewan dan pekerja pertanian, pekerja yang menangani binatang liar
(wildlife) dan mengenai mereka yang menangani binatang sakit. Anthrax pada
manusia endemis di wilayah pertanian, dimana didaerah itu kejadian anthrax
pada binatang sangat umum ditemukan ; ini termasuk negara-negara di Amerika
Tengah dan Selatan, Bagian Selatan dan Timur, Asia, Afrika. Munculnya
daerah baru infeksi anthrax pada hewan ternak bisa terjadi melalui import
makanan ternak yang mengandung tulang yang terkontaminasi. Kejadian
bencana alam seperti banjir bisa memicu timbulnya epizootik. Antrhax di
anggap sebagai alat yang sangat potensial untuk bioterorisme dan “biowarfare”
(perang dengan menggunakan senjata biologis), pada saat terjadi perang
biologis, anthrax dapat muncul sebagai kejadian yang secara epidemiologis
sangat luar biasa.

4. Reservoir
Binatang, (biasanya herbivora, baik hewan ternak maupun liar),
menyebarkan basil pada saat terjadi perdarahan atau tumpahnya darah pada saat
hewan tersebut disembelih atau mati. Pada pajanan udara, bentuk vegetatif akan
membentuk spora, dan spora dari B. anthraxis sangat resisten pada kondisi
lingkungan yang kurang baik dan begitu juga disinfeksi tidak mempan, spora
bisa hidup terus di tanah yang terkontaminasi selama bertahun-tahun. B.
anthraxis adalah bakteri komensal tanah yang tersebar di berbagai tempat di
seluruh dunia. Pertumbuhan bakteri dan kepadatan spora tanah bisa meningkat
karena banjir atau pada kondisi ekologi tertentu. Tanah juga dapat
terkontaminasi oleh tahi/kotoran burung kering, yang menyebarkan organisme
dari satu tempat ke tempat lain oleh karena burung tersebut habis makan
bangkai yang terkontaminasi anthrax.
Kulit kering atau kulit yang diproses serta kulit dari binatang yang
terinfeksi bisa membawa spora hingga bertahun-tahun dan merupakan media
penyebaran penyakit ke seluruh dunia.

5. Cara penularan.
Infeksi kulit terjadi melalui kontak dengan jaringan binatang (sapi, biri-
biri, kambing, kuda, babi dan sebagainya) yang mati karena sakit; mungkin juga
karena gigitan lalat yang hinggap pada binatang-binatang yang mati karena
anthrax, atau karena kontak dengan bulu yang terkontaminasi, wol, kulit atau
produk yang dibuat dari binatang-binatang ini seperti kendang, sikat atau
karpet; atau karena kontak dengan tanah yang terkontaminasi oleh hewan.
Tanah dapat juga tercemar anthrax karena dipupuk dengan limbah pakan ternak
yang terbuat dari tulang yang tercemar. Inhalasi spora anthrax dapat terjadi pada
proses industri yang berisiko, seperti pada waktu mewarnai kulit dan pada
pemrosesan wol atau tulang; dimana saat itu dapat terjadi percikan dari spora B.
anthracis. Anthrax usus dan orofaringeal muncul karena memakan daging
terkontaminasi yang tidak dimasak dengan baik; tidak ada bukti bahwa susu
dari binatang terinfeksi dapat menularkan anthrax. Penyakit menyebar diantara
binatang pemakan rumput melalui makanan dan tanah yang terkontaminasi;
sedangkan penyebaran penyakit pada omnivora dan karnivora melalui daging,
tulang atau makanan lain dan penyebaran pada binatang liar terjadi karena
binatang tersebut makan bangkai yang terkontaminasi anthrax. Infeksi tidak
sengaja bisa terjadi pada petugas laboratorium.
Pada Tahun 1979, telah terjadi KLB karena inhalasi anthrax di
Yekaterinburg (Sverdlovsk), Rusia, dimana pada waktu itu 66 orang tewas dan
11 orang lainnya selamat. Di duga saat itu masih ada banyak kasus lain yang
terjadi. Hasil investigasi memperlihatkan bahwa kasus anthrax ini diduga
berasal dari sebuah institut penelitian biologi dan disimpulkan bahwa KLB
terjadi karena percikan yang tidak disengaja sebagai akibat kecelakaan kerja
pada kegiatan penelitian senjata biologis.

6. Masa inkubasi
Dari 1 – 7 hari. Walaupun masa inkubasi dapat mencapai 60 hari (di
Sverdlovsk masa inkubasi mencapai 43 hari).
7. Masa penularan.
Penularan dari orang ke orang sangat jarang. Barang dan tanah yang
terkontaminasi oleh spora bisa tetap infektif hingga puluhan tahun.

8. Kerentanan dan kekebalan.


Timbulnya kekebalan setelah infeksi tidak jelas; ada beberapa bukti dari
infeksi yang tidak manifest (‘inapparent”) diantara orang yang sering kontak
dengan agen penyebab penyakit; serangan ke dua dapat terjadi, tetapi jarang
dilaporkan.

9. Cara pemberantasan
A. Tindakan pencegahan.
1). Berikan imunisasi kepada orang dengan risiko tinggi dengan vaksin
cell-free yang disiapkan dari filtrat kultur yang mengandung antigen
protektif (tersedia di AS dari “Bioport corporation”, 3500 N. Martin
Luther King, Jr. Boulevard, Lansing MI 48909). Terbukti bahwa
vaksin ini efektif mencegah anthrax kulit dan pernapasan.;
direkomendasikan untuk diberikan kepada petugas labororatorium
yang secara rutin bekerja dengan B. anthracis dan para pekerja yang
menangani bahan industri mentah yang potensial terkontaminasi.
Vaksin ini juga dapat digunakan untuk melindungi personil militer
yang terpajan senjata perang biologis.
2). Beri penyuluhan kepada para pekerja yang menangani bahan-bahan
yang potensial terkontaminasi anthrax sebagai penular anthrax,
sebaiknya para pekerja menjaga kulit agar tidak lecet dan menjaga
kebersihan perorangan.
3). Membersihkan debu dan membuat ventilasi yang baik di tempat-
tempat kerja pada industri berbahaya; terutama yang menangani bahan
mentah. Selalu melakukan supervisi medis pada para pekerja dan
melakukan perawatan spesifik pada luka dikulit. Pekerja sebaiknya
menggunakan baju pelindung dan tersedia fasilitas yang baik untuk
mencuci tangan dan pakaian dan mengganti sesudah kerja. Tempatkan
ruang makan jauh dari tempat kerja. Uap formaldehid digunakan untuk
disinfeksi pabrik tekstil yang terkontaminasi anthrax.
4). Lakukan pencucian secara menyeluruh, disinfeksi atau sterilkan bulu,
wol dan tulang atau bagian dari tubuh binatang lainnya yang akan
dijadikan pakan ternak sebelum diproses.
5). Kulit binatang yang terpajan anthrax jangan di jual. Bangkai binatang
yang terpajan anthrax jangan digunakan sebagai bahan pakan ternak.
6). Jika dicurigai terkena anthrax, jangan melakukan nekropsi pada
binatang tersebut. Jika ingin mengambil sampel darah untuk kultur
lakukan secara aseptis. Hindari kontaminasi tempat pengambilan
sampel. Jika nekrospi dilakukan dengan tidak hati-hati, sterilkan
seluruh bahan dan alat yang dipakai dengan otoklaf, insinerator atau
dilakukan disinfeksi dan fumigasi dengan bahan kimia.
Karena spora anthrax bisa hidup selama berpuluh-puluh tahun jika
bangkai dikubur, maka teknik pemusnahan yang paling baik adalah
membakar bangkai binatang tersebut dengan suhu tinggi (insinerasi) di
tempat binatang itu mati atau dengan mengangkut bangkai tersebut ke
tempat insenerator, hati-hati agar tidak terjadi kontaminasi sepanjang
jalan menuju insenerator. Jika cara ini tidak memungkinkan, kuburlah
dalam-dalam bangkai binatang itu di tempat binatang itu mati; jangan
dibakar di lapangan terbuka. Tanah yang terkontaminasi dengan
bangkai atau kotoran binatang didekontaminasi dengan lye 5% atau
kalsium oksida anhydrous (quicklime). Bangkai yang dikubur dalam-
dalam sebaiknya di taburi dengan quicklime.
7). Awasi dengan ketat buangan air limbah dari tempat yang menangani
binatang-binatang yang potensial terkontaminasi anthrax dan limbah
dari pabrik yang menghasilkan produk bulu, wol, tulang atau kulit
yang mungkin terkontaminasi.
8). Berikan Imunisasi sedini mungkin dan lakukan imunisasi ulang setiap
tahun kepada semua hewan yang berisiko terkena anthrax. Obati
hewan yang menunjukkan gejala anthrax dengan penisilin atau
tetrasiklin, berikan imunisasi sesudah terapi dihentikan. Hewan ini
sebaiknya tidak disembelih hingga beberapa bulan setelah sembuh.
Pengobatan sebagai pengganti imunisasi dapat diberikan kepada
hewan yang terpajan sumber infeksi, seperti terpajan dengan makanan
ternak komersiil yang terkontaminasi.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya.


1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat; kasus anthrax wajib
dilaporkan di sebagian besar negara bagian dan negara-negara lain di
dunia, Kelas 2A (lihat tentang pelaporan penyakit menular). Laporan
kepada badan yang berwenang menangani pertanian dan hewan ternak
wajib dilakukan juga.
Walaupun hanya ditemukan satu kasus anthrax pada manusia;
terutama jenis pernafasan, dianggap sebagai kejadian luar biasa
sehingga harus dilaporkan segera kepada pejabat yang berwenang di
bidang kesehatan masyarakat dan kepada penegak hukum sebagai
bahan pertimbangan kemungkinan bahwa KLB ini bersumber dari
kegiatan terorisme.
2). Isolasi : untuk anthrax kulit dan pernapasan lakukan tindakan
kewaspadaan standar selama sakit. Dengan pemberian terapi antibiotik
yang tepat lesi kulit bebas dari bakteri dalam waktu 24 jam namun lesi
ini tetap berkembang sesuai dengan siklus yang sangat khas dari lesi
anthrax yaitu adanya ulcerasi, pengelupasan dan resolusi.
3). Disinfeksi serentak :
Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dari lesi dan terhadap alat-alat
yang kontak dengan tanah. Hipoklorit sangat baik dipakai untuk
disinfeksi karena dapat membunuh spora dan digunakan jika bahan
yang akan didisinfeksi volumenya kecil dan bahan tersebut tidak
mudah korosif; hidrogen peroksida, asam perasetik dan glutaraldehid
bisa menjadi alternatif; formaldehid, etilen oksida dan iradiasi kobalt
juga sering digunakan. Memusnahkan spora dilakukan dengan
sterilisasi uap, otoklaf atau dibakar untuk meyakinkan bahwa spora
tersebut betul-betul telah musnah. Fumigasi dan disinfeksi kimia dapat
digunakan untuk alat-alat berharga. Lakukan pembersihan
menyeluruh.
4). Karantina : tidak diperlukan.
5). Imunisasi kontak : tidak diperlukan.
6). Investigasi kontak dan sumber infeksi :
Lakukan investigasi terhadap kemungkinan adanya riwayat seseorang
terpajan dengan binatang yang terinfeksi atau terpajan dengan produk
dari binatang, dan lacak tempat asalnya. Pada pabrik yang mengolah
produk binatang, periksa apakah telah dilakukan tindakan preventif
yang tepat seperti yang dijelaskan pada 9A diatas, Seperti dijelaskan
pada 9B1 kemungkinan Anthrax bersumber dari kegiatan bioterorisme
tidak bisa dikesampingkan terutama untuk kasus anthrax pada
manusia, kasus-kasus tersebut sumber infeksinya tidak jelas.
7). Pengobatan spesifik; penisilin adalah obat pilihan untuk anthrax kulit
dan diberikan selama 5 – 7 hari. Tetrasiklin, eritromisin dan
klorampenikol juga efektif. Angkatan bersenjata Amerika
merekomendasikan pemberian Ciprofloxacin parenteral atau
doksisiklin untuk anthrax pernapasan, lama pengobatan tidak
dijelaskan secara rinci.

C. Penanggulangan wabah
KLB anthrax merupakan penyakit akibat kerja pada peternakan.
Wabah anthrax yang jarang terjadi di AS adalah KLB yang bersifat lokal
terjadi dikalangan pekerja yang mengolah produk binatang, terutama bulu
kambing. KLB anthrax yang terjadi berkaitan dengan penanganan dan
konsumsi daging ternak yang terinfeksi terjadi di Asia, Afrika dan bekas
negara Uni Sovyet.

D. Implikasi bencana :
Tidak ada, kecuali jika terjadi banjir di daerah yang terinfeksi.

E. Tindakan internasional :
Sterilkan bahan pakan ternak import yang mengandung tulang
sebelum digunakan sebagai makanan ternak. Disinfeksi wol, bulu dan
produk lain dari binatang jika ada indikasi terinfeksi.

F. Pengamanan bioterorisme.
Selama tahun 1998, lebih dari 2 lusin ancaman anthrax terjadi di
AS. Tidak ada satupun dari ancaman ini terjadi. Prosedur umum di AS
untuk menangani ancaman ini adalah :
1). Siapapun yang menerima ancaman penyebaran anthrax, segera
melaporkan kepada FBI (Federal Bureau of Investigation).
2). Di AS, FBI bertanggung jawab penuh untuk melakukan investigasi
terhadap ancaman senjata biologis dan lembaga lain harus bekerja
sama memberikan bantuan jika diminta oleh FBI.
3). Departemen kesehatan negara bagian dan Dinas Kesehatan setempat
sebaiknya juga di beritahu jika ada ancaman ini dan siap memberikan
bantuan dan tindak lanjut yang mungkin diperlukan.
4). Orang yang terpajan anthrax tidak menular, sehingga tidak perlu
dikarantina.
5). Orang yang mungkin terpajan, sebaiknya di sarankan menunggu hasil
laboratorium dan tidak perlu diberi kemoprofilaksis. Jika mereka
menjadi sakit sebelum hasil tes laboratorium selesai, mereka harus
segera menghubungi Dinas Kesehatan setempat dan segera ke Rumah
Sakit yang ditunjuk untuk mendapatkan perawatan gawat darurat, dan
mereka harus memberi tahukan kepada petugas medis bahwa ia
kemungkinan terpajan anthrax.
6). Jika penderita terbukti terpajan anthrax yang ditularkan melalui udara,
penderita harus segera mendapat pengobatan profilaktik pasca pajanan
dengan antibiotik yang tepat (fluorokinolon adalah obat pilihan dan
doksisiklin adalah obat alternatif) dan vaksin. Imunisasi pasca pajanan
dengan vaksin bebas sel yang tidak aktif di indikasikan sebagai tindak
lanjut pemberian kemoprofilaksis sesudah suatu insiden biologis.
Imunisasi direkomendasikan karena kita tidak tahu apakah spora yang
terhirup akan berkembang biak atau tidak. Imunisasi pasca pajanan
terdiri dari 3 suntikan : sesegera mungkin sesudah terpajan dan pada
minggu ke 2 dan ke 4 sesudah terpajan. Terhadap vaksin ini belum
dilakukan evaluasi efektifitas dan keamanannya bagi anak-anak
kurang dari 18 tahun dan orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih.
7). Setiap orang harus mengikuti petunjuk teknis yang diberikan jika
menghadapi ancaman biologis
8). Setiap orang dapat dilindungi dari spora anthrax dengan menggunakan
jubah pelindung, sarung tangan dan respirator yang menutupi seluruh
muka dengan filter yang memiliki efektifitas tinggi terhadap partikel
udara “High-efficiency Particle Air” – (HEPA), filter (level C) atau
perlengkapan pernafasan “Self-Contained Breathing Apparatus”
(SCBA) (level B)
9). Orang yang terpajan dan kemungkinan besar terkontaminasi sebaiknya
di dekontaminasi dengan menggunakan sabun dan dibilas dengan air
mengalir dalam jumlah yang banyak. Biasanya larutan klorin tidak
diperlukan. Cairan klorin rumah tangga dengan perbandingan 1 : 10
(konsentrasi hipoklorit 0,5%) digunakan bila terjadi kontaminasi luas
dan bahan yang terkontaminasi ini tidak bisa dibersihkan dengan air
dan sabun. Melakukan dekontaminasi dengan klorin hanya
direkomendasikan sesudah dilakukan dekontaminasi dengan air dan
sabun, dan larutan klorin ini harus dibersihkan sesudah 10 hingga 15
menit.
10). Semua orang yang di dekontaminasi harus melepaskan pakaian dan
barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam tas plastik, yang
di beri keterangan yang jelas, berisi nama pemilik barang, nomer
telpon yang bisa dihubungi, dan keterangan tentang isi tas plastik
tersebut. Barang-barang ini akan di simpan sebagai barang bukti
terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal dan barang ini akan
dikembalikan kepada pemiliknya bila ancaman ini tidak terbukti.
11). Jika paket atau amplop yang dicurigai berisi anthrax dalam keadaan
tertutup (tidak terbuka), mereka yang menemukan amplop ini
sebaiknya tidak melakukan apapun selain menghubungi FBI. Upaya
karantina, evakuasi, dekontaminasi dan kemoprofilaksis sebaiknya
tidak dilakukan bila amplop atau paket dalam keadaan tertutup. Untuk
kejadian yang disebabkan oleh surat yang mungkin terkontaminasi,
lingkungan yang kontak langsung dengan surat tersebut harus di
dekontaminasi dengan larutan hipoklorit 0,5 % sesudah dilakukan
investigasi terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal. Barang-
barang pribadi juga perlu didekontaminasi dengan cara yang sama.
12). Bantuan teknis dapat diberikan segera dengan menghubungi
“National Response Center” di 800-424-8802 atau “Weapon of Mass
Destruction Coordinator FBI” setempat.

Referensi :
http://kumpulanartikelkesehatan.wordpress.com/2009/10/10/anthrax/