Anda di halaman 1dari 3

Hadits Pilihan 1

WAJIB MENGINGKARI KEMUNGKARAN PENGUASA


‫ف بَ ِرَئ َو َمنۡ َأنۡ َك َر َس لِ َم َولٰ ِكن‬
َ ‫ن َع َر‬ۡ ‫َستَ ُكوۡ ُن ُأ َم َرا ُء فَتَ ۡع ِرفُوۡ َن َوتُنۡ ِك رُوۡ َن فَ َم‬
. ‫صلُّوۡا‬ َ َ‫ ق‬. ۡ‫ َأفَاَل نُقَاتِلُوۡهُم‬: ‫ قَالُوۡا‬. ‫ض َي َوتَابَ َع‬
َ ‫ اَل َما‬: ‫ال‬ ِ ‫َمنۡ َر‬
“Akan ada para pemimpin, lalu kalian mengetahui (kema’rufannya) dan mengingkari
(kemungkarannya). Siapa yang mengetahui (kema’rupannya), dia bebas. Siapa saja
yang mengingkari (kemungkarannya), dia selamat. Akan tetapi, orang yang ridha
dan mengikuti (celaka). “Mereka berkata, “Tidakkah kita perangi saja mereka?”
Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka shalat.” (HR Muslim)
Hadits ini juga diriwayatkan dengan redaksi yang sedikit berbeda:
‫ن َأنۡ َك َر فَقَدۡ بَ ِرَئ َو َمنۡ َك ِرهَ فَقَد‬ ۡ ‫ِإنَّهُ َسيَ ُكوۡ ُن َعلَيۡ ُكمۡ َأِئ َّمةٌ تَعۡ ِرفُ ۡو َن َوتُنۡ ِكرُوۡ َن فَ َم‬
‫هّٰللا‬
‫ اَل َما‬: ‫ال‬ َ َ‫ ق‬. ‫ يَا َرسُوۡ َل ِ َأفَاَل نُقَاتِلُوۡهُ ۡم‬: ‫ فَقِيۡ َل‬. ‫ض َي َوتَابَ َع‬ ِ ‫َسلِ َم َولٰ ِكنۡ َمنۡ َر‬
. ‫صلُّوۡا‬
َ
Sungguh akan ada atas kalian para pemimpin (imam) yang kalian ketahui dan inkari.
Siapa saja yang mengingkari, dia bebas. Siapa yang membenci, dia selamat.
Namun, siapa yang ridha dan mengikuti (celaka). “Ditanyakan,”Ya Rasulullah,
tidakkah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, Tidak, selama mereka shalat.” (HR
Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Abu dawud dan Abu Ya’la)
Dalam redaksi lainnya lagi dinyatakan:
‫ِإنَّهُ يُسۡتَ ۡع َم ُل َعلَيۡ ُك ۡم ُأ َم َرا ُء فَتَعۡ ِرفُوۡ َن َوتُنۡ ِكرُوۡ َن فَ َمنۡ َك ِرهَ فَقَدۡ بَ ِرَئ َو َمنۡ َأنۡ َك َر‬
‫هّٰللا‬
َ َ‫ ق‬. ۡ‫ يَا َرسُوۡ َل ِ َأاَل نُقَاتِلُوۡهُم‬: ‫ قَالُوۡا‬. ‫ض َي َوتَابَ َع‬
‫ اَل‬: ‫ال‬ ِ ‫فَقَدۡ َسلِ َم َولٰ ِكنۡ َمنۡ َر‬
. ‫صلُّوۡا‬َ ‫َما‬
Sungguh telah diangkat atas kalian para amir, lalu kalian mengetahui dan
mengingkari. Siapa saja yang membenci, dia bebas. Siapa yang mengingkari, dia
selamat. Akan tetapi, siapa yang ridha dan mengikuti (tidak selamat). “Mereka
berkata,”Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka?” Beliau bersabda,
“Tidak, selama mereka shalat.” (HR Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad; redaksi
Muslim)
Hadits ini memberikan panduan bagaimana sikap terhadap pemimpin. Para
pemimpin pasca masa Rasulullah saw, dan Sahabat tentu bisa melakukan
perbuatan yang ma’ruf dan munkar meski berbeda-beda kadarnya. Sebabnya, tidak
ada dari mereka yang ma’shum alias terbebas dari dosa.
Frasa ( ‫تَعۡ ِرفُ ۡو َن َوتُنۡ ِك رُوۡ َن‬
) kalian mengetahui (kema’rufannya) dan
mengingkari (kemungkarannya), menurut al-Qodhi ‘Iyadh, merupakan dua sifat para
pemimpin. Artinya, kalian mengetahui (meridhoi) sebagian perbuatan mereka dan
kalian mengingkari sebagiannya. Maksudnya, perbuatan mereka itu sebagian baik
dan sebagian lagi tercela.
Menurut al-Minawi dalam (kitab) Faydhul-Qodîr, maknanya kalian mengetahui
sebagian keadaan dan ucapan mereka karena kesesuaiannya dengan syari’ah dan
kalian mengingkari sebagian lainnya karena penyimpangannya dari syari’ah. Karena
Hadits Pilihan 2

itu maka ( ‫ )تَ ۡع ِرفُوۡ َن‬bermakna (‫ۡضۡو َن‬


َ ‫ )تَر‬kalian ridhoi sebagai lawan dari (‫)تُنۡ ِكرُوۡ َن‬
kalian inkari.
Jadi, makna ( ‫تَعۡ ِرفُ ۡو َن َوتُنۡ ِكرُوۡ َن‬
) itu seperti diungkapkan oleh as-Suyuthi di
dalam (kitab) Ad-Dibâj alâ Muslim, yakni mereka melakukan perbuatan-perbuatan
yang sebagiannya ma’ruf dan sebagiannya munkar secara syar’i.
Frasa ( َ ‫فَ َمنۡ َع َر‬
‫ف بَ ِرَئ‬ ) Siapa yang mengetahui (kema’rupannya), dia
bebas, menurut Imam an-Nawawi, bermakna: siapa saja yang mengetahui
kemungkaran tersebut dan tidak ada keraguan atasnya mempunyai jalan
pembebasan dari dosa dan sanksinya. Caranya adalah dengan mengubah
kemungkaran itu dengan tangannya atau lisannya. Jika ia tidak mampu, hendaklah
ia membenci kemungkaran itu dengan hatinya.
Adapun frasa ( ‫فَ َمنۡ َك ِرهَ فَقَدۡ بَ ِرَئ‬
) Siapa saja yang membenci, dia bebas,
bermakna: siapa saja yang membenci kemukaran tersebut terbebas dari dosa dan
sanksinya. Ini berlaku bagi orang yang tidak mampu mengingkari kemungkaran itu
dengan tangan maupun lisannya, yakni hendaklah ia membenci dengan hatinya,
niscaya dia bebas.
Abu Thoyyib dalam (kitab) ‘Awnul-Ma’bûd menjelaskan, siapa saja yang
mengingkari kemungkaran dengan lisannya terbebas dari mencari muka dan nifak,
dan siapa yang membenci kemungkaran dengan hatinya selamat dari menyertai
mereka dalam dosa.
Jadi, hadits ini menjelaskan keharusan mengingkari kemungkaran para
penguasa dan para pemimpin. Siapa saja yang mengingkari kemungkaran itu sesuai
kemampuannya, baik dengan tangan atau dengan lisannya, ia selamat dari sifat
mencari muka, menjilat dan nifak serta bebas dari berserikat dalam dosanya. Jika
tidak mampu mengingkari kemungkaran, maka ia harus membenci kemungkaran itu
dengan hati sehingga ia pun akan terbebas dari berserikat dalam dosanya.
Selanjutnya, frasa ( ‫ض َي َوتَابَ َع‬
ِ ‫ن َر‬
ۡ ‫ن َم‬
ۡ ‫َولٰ ِك‬
) bermakna: tetapi dosa dan
sanksi adalah bagi orang yang ridho dan mengikuti. Menurut Imam an-Nawawi, di
sini ada dalil bahwa orang yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran tidak
berdosa semata-mata karena diam, tetapi ia berdosa karena ridho atau tidak
membenci kemungkaran itu dengan hatinya atau dengan mengikutinya.
Jadi, orang yang ridho dengan kemungkaran itu, menganggap kemungkaran
itu tidak masalah dan ia tidak membencinya. Apalagi jika dia mengikuti kemungkaran
itu maka dia ikut serta dalam dosa dan sanksinya.
Ketika ditanya apakah pemimpin itu tidak diperangi saja. Rasulullah saw.
menjawab: “( ‫صلُّوۡا‬َ ‫ )اَل َما‬Tidak, selama mereka shalat.” Dalam riwayat lainnya
dinyatakan, “( َ‫صاَل ة‬َّ ‫صلُّوا ال‬
َ ‫ )اَل َما‬Tidak, selama mereka benar-benar shalat.”
Hadits Pilihan 3

”( َ ۡ‫صلُّوۡا لَ ُك ُم الۡ َخم‬


‫س‬ َ ‫ )اَل َما‬Tidak, selama mereka shalat untuk kalian lima waktu.”
“(َ‫صاَل ة‬ َّ ‫ )اَل َما اَقَا ُموا ال‬Tidak, selama mereka menegakkan shalat.”
َّ ‫ )اَل َما اَقَا ُموۡا ِفيۡ ُك ُم ال‬Tidak, selama mereka menegakkan shalat di tengah-
“(َ‫صاَل ة‬
tengah kalian.” Menurut Imam an-Nawawi di dalam (kitab) Syarah Shahîh Muslim, di
dalamnya ada makna bahwa tidak boleh keluar menentang para Khalifah semata-
mata karena zalim atau fasik selama mereka tidak mengubah sesuatu dari pilar-pilar
Islam ( ‫اع ِد ااۡل ِ ۡساَل ِم‬
ِ ‫) ِم ۡن قَ َو‬.
Shalat merupakan pilar Islam. Jadi, makna menegakkan shalat adalah
menegakkan Islam, yaitu menerapkan hukum-hukum Islam. Sebab, Islam itu tegak
ketika hukum-hukum dan sistemnya tegak dan diimplementasikan. Itu juga
bermakna selama tidak kafir atau menampakkan kekufuran yang nyata. Ini seperti
sabda Nabi saw. dalam riwayat Ubadah bin ash-Shamit ra.: “( ‫اِاَّل َأ ۡن تَ َر ۡوا ُك ۡفرًا‬
‫ )بَ َواحًا‬kecuali kalian melihat kekufuran yang terang-terangan.”
Qodhi ‘Iyadh, seperti dikutip oleh an-Nawawi dalam Syarah Shahîh Muslim,
mengatakan, para ulama sepakat bahwa Imamah tidak terakadkan untuk orang kafir,
dan andai terjadi kekufuran atas Imam maka ia dicopot. Qodhi ‘Iyadh mengatakan,
demikian juga andai Imam meninggalkan penegakkan shalat dan seruan shalat.
Wallohu a’lamu bish-showab. (Al-Wa’ie No.199 Tahun XVII, 5-31 Maret 2017. Yahya
Abdurrahman)