Anda di halaman 1dari 15

Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT.


Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Pendahuluan
Review Chemical Engineering Tools

A. Pendahuluan
Isi pokok materi kuliah Matematika Teknik Kimia (MTK) III ini adalah penyusunan
persamaan matematis untuk peristiwa-peristiwa teknik kimia berdasar konsep-konsep
fundamental teknik kimia. Seperti diketahui, problem-problem yang berhubungan
dengan peritiwa teknik kimia (seperti distilasi, ekstraksi, absobsi dan lain-lin) dapat
diselesaikan dengan pendekatan matematik. Untuk itu peristiwa-peristiwa tersebut perlu
diformulasi menjadi persamaan matematik (model matematik) yang sderhana dan
terselesaikan membentuk jawaban yang diinginkan (gambar 1).

Persamaan
Peristiwa matematis
TK: Modeling Penyelesaia Jawaban
Distilasi formulasi (MODEL- n hasil
Ekstraksi (MTK matematis) (solution) simulasi
Kristalisasi III) (MTK I &
Absobsi, dll II, PC)

Gambar 1: Alur penyelesaian problem peristiwa teknik kimia

B. Bekal Untuk Modeling


Modeling dimaksudkan untuk membuat persamaan matematis yang dapat meniru
atau mewakili peristiwa-peristiwa teknik kimia yang dihadapi. Untuk dapat melakukan
modeling dengan baik, diperlukan bekal-bekal sebagai berikut :
1. Penguasaan konsep fundamental peristiwa yang ditinjau. Untuk teknik kimia dikenal
dengan Chemical Engineering Tools (alat berfikir dalam ilmu teknik kimia), yaitu :
 Material balance (neraca massa)
 Energy balance (neraca panas) persentasi model matematis >>
 Equilibrium (kesetimbangan)
 Rate of process (proses-proses kecepatan)
 Ekonomic (ekonomi) persentasi model matematis <<
 Humanity (Humanitas)
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

2. Pemahaman konsep matematis, bukan keterampilan menyelesaikan soal, tetapi


x =10
memahami maknanya. Misalnya dalam menjawab soal integral y =  2 x.dx = ? , maka
x =0

bukan hanya sekedar trampil menjawab hasil integral y = 102 – 02 = 100, tetapi juga
memahami makna fisis dari hitungan integral tersebut, yaitu berarti menghitung luas
area di bawah kurva yang dibatasi oleh fungsi 2x pada batasan x=0 sampai dengan
x=10 (gambar 2)

Y = 2x

Area
y = 100

Gambar 2: Menghitung area di bawah kurva y =2x pada range x=0 sd x=10
3. Kemampuan imajinasi
4. Kemampuan menyederhanakan masalah (asumsi-asumsi)
Ibarat seorang pelukis, pada saat melukis wajah Gus Dur misalnya, dia tidak harus
melukis bulu mata persis sama dengan jumlah bulu mata Gus Dur, demikian juga tidak
harus mengukur rasio lebar mata dan mulut lukisannya persis sama aslinya. Tetapi
peluis tahu ciri-ciri khas wajah Gus Dur yang harus ditonjolkan dalam lukisannya.
Alhasil, setelah dia melukis maka orang akan tahu bahwa lukisan wajah tersebut
adalah wajah Gus Dur. Kesimpulannya pelukis tadi telah melakukan penyederhanaan
tanpa menghilangkan ciri-ciri khas bagi orang yang dilukisnya. Pelukis tersebut
mempunyai kemampuan :
 menyederhanakan raut muka dalam melukis wajah seseorang
 mengetahui faktor-faktor dominan (ciri-ciri khusus) orang tersebut
Akibat penyederhanaan adalah kemungkinan penyelesaian bersifat open ended
(dapat lebih satu macam jawaban)
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Contoh imajinasi:
1. Sebanyak 300 rombongan mahasiswa teknik kimia naik sejumlah bus. Di
pertengahan jalan, salah satu bus tersebut mogok, maka penumpangnya pindah
sehingga kelebihan 10 penumpang. Hitung jumlah bus mula-mula.
2. Si A memiliki sejumlah uang terdiri atas lembaran 50-ribuan dan 20-ribuan. Jika
keseluruhan uang tersebut ditukar dengan uang lembaran 10-ribuan maka jumlah
lembar uangnya bertambah 50 lembar, dan jika ditukar 100-ribuan maka jumlah
lembar uangnya berkurang 13 lembar. Hitung jumlah uang A
Jawab:
1. misal jumlah bus yang mengangkut mahasiswa = x,
maka : 300/x + 10 = 300/(x-1)
300(x-1) + 10(x-1)x – 300x = 0
10x2 + 10x - 300 = 0 atau x2 + x - 30 = 0
(x-5)(x+6) = 0 → x =5 atau x = -6
Maka jawaban yang mungkin x = 5
2. Misal jumlah 50-ribuan = x lembar dan jumlah 20-ribuan = y lembar,
Maka: 50.000x + 20.000y = (x+y-13)100.000 (I)
= (x+y+50)10.000 (II)
Dua variabel tidak diketahui (x dan y) dengan tersedia dua persamaan, maka
kedua variabel tersebut dapat dihitung dengan cara subtitusi.
Jadi : 50x+ 20y = (x+y-13)100
= 100x + 100y – 1300
→ 50x + 80y = 1300 atau 5x + 8y = 130 (Ia)

Jadi : 50x+ 20y = (x+y+50)10


= 10x + 10y + 500
→ 40x + 10y = 500 atau 4x + y = 50 → y = 50 – 4x (IIa)
Subtitusi persamaan IIa ke Ia, maka :
5x + 8(50-4x) = 130 → 27x = 400-130 = 270 → x = 270/27 = 10
Y = 50 – 4(10) = 10

Jumlah uang si A :
Input nilai x = 10 dan y = 10 pada persamaan I, diperoleh:
50.000(10) + 20.000(10) = Rp. 700.000
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

C. Review of Chemical Engineering Tools

1. Material balance (neraca massa)


Hukum Dasar : the low of the conservation of mass
Hukum Kekekalan massa, massa itu kekal tidak dapat dimusnahkan atau
diciptakan, hanya dapat dirubah dari satu bentuk ke bentuk lain
Note: sebetulnya dalam konsep fisika modern, massa dapat berubah atau hilang menjadi
energi atau sbaliknya energi dapat berubah menjadi massa.
mo
M =
2
v
1−  
c
Atau, persamaan Einstein : E = m.c 2
Namun perubahan massa baru terasa jika kecepatan menyamai atau mendekati kecepatan
cahaya (c = 3 x 108 m/dt), sementara dalam praktek teknik kimia sehari-hari, kecepatan
pengadukan misalnya jauh lebih kecil dari kec. Cahaya. Sehingga perubahan massa
dianggap tidak ada.
Dalam bentuk yang lebih aplikatif (operasional), hukum kekekalan massa di atas
dapat dirumuskan kembali untuk keperluan dalam bidang teknik kimia sebagai berikut :
(mass of input) – (mass of output) = (mass of accumulation) [=] (massa)
Atau lebih lazin dinyatakan dalam bentuk laju massa :
(rate mass of input) – (rate mass of output) = (rate mass of accumulation)
[=] (massa/waktu)
Note :
Pada kondisi steady state (SS), maka
 tidak ada pengaruh waktu (proses bukan lagi fungsi waktu)
 akumulasi = 0
sebab jika ada akumulasi berarti ada perubahan:
suhu atau fase (panas),
kecepatan (momentum),
tekanan atau volume (massa).
Jika massa terdiri beberapa komponen (misalny komponen A, B dan C) dan tidak
ada perubahan dari satu komponen menjadi komponen lain, maka massa masing-masing
komponen kekal sehingga dapat disusun neraca massa komponen. Tetapi jika terjadi
perubahan komponen maka tidak dapat dilakukan neraca massa komponen, hanya dapat
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

dilakukan neraca massa total. Neraca massa komponen hanya dapat dilakukan setelah
dilakukan koreksi sebagai berikut :
(A input ) – (A output ) + (A generation) – (A reaction) = (A accumulation)
[=] (massa)
Demikian juga untuk komponen B, C dan seterusnya.
Umumnya jika terdapat n komponen, maka dapat disusun n neraca massa, misalnya :

I. 1). NM A
2). NM B tidak perlu neraca massa total
3 komponen 3). NM C
(A, B, C) II. 1). NM A
2). NM B tidak perlu neraca massa C
3). NM total
III. 1). NM A
2). NM total tidak perlu neraca massa B
3). NM C
IV. 1). NM total
2). NM B tidak perlu neraca massa A
3). NM C

dapat dipilih yang paling mudah.


Dalam menyusun neraca massa perlu disebutkan atu ditegaskan apa yang dineracakan
dan di mana neraca itu ditinjau. Suatu larutan A dan B diumpankan masuk reaktor tangki
alir berpengaduk. Dalam reaktor terjadi reaksi: A+B → C + D. Ingin disusun neraca
massa A di dalam reaktor (gambar 3)

A, B

A, B, C, D

A, B, C, D

Gambar 3: tinjauan neraca massa A di reaktor


Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

2. energy balance (NP)


Analog dengan massa:
Hukum Dasar : the low of the conservation of energy
Hukum Kekekalan energi, energi itu kekal tidak dapat dimusnahkan atau
diciptakan, hanya dapat dirubah dari satu bentuk ke bentuk lain
Dengan catatan bahwa pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, menurut
Einstein energi dapat dikonversi dari massa; E = M.c2
Dalam bentuk yang lebih aplikatif (operasional), hukum kekekalan energi di atas dapat
dirumuskan kembali untuk keperluan dalam bidang teknik kimia sbb:
(energy input) – (energy output) = (energy accumulation) [=] (energi)
atau:
(rate energy of input) – (rate energy of output) = (rate energy of accumulation)
[=] (energy/waktu)

3. Equilibrium (kesetimbangan)
Kesetimbangan meliputi :
 Kesetimbangan gaya-gaya → untuk teknik sipil (jadi tidak perlu dibahas)
 Kesetimbangan fasa/fisis → untuk teknik kimia
 Kesetimbangan kimia → untuk teknik kimia

a. Kesetimbangan fasa:
Pada saat setimbang ada persamaan matematis yang menghubungkan komponen di fasa
I dan fasa II, Fasa I
A, B, C

dikenal : ~~~~~~~~~~~~~~~
Fasa II
1). Hk Henry : A, B, C
YA = H.XA atau PA = H.XA
Dimana YA : fraksi A di fasa gas (I), XA: fraksi A di fasa cair (II), dan H: kosntanta
kesetimbangan Henry.
Note:
a. Kelarutan gas pada T >> akan semakin kecil (sebab tentunya menguap)
b. Hukum Henry hanya cocok untuk kelarutan rendah (di fasa cair)
2). Hukum Roult-Dalton :
x
Y=
1 + ( − 1) x )
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Note:
Dalam termodinamika modern telah tersedia persamaan-persamaan kesetimbang fasa
yang lebih akurat tetapi lebih kompleks, namun saat ini tidak masalah lagi dengan adanya
bantuan komputer.
b. Kesetimbangan Kimia :
Misalnya, reaksi kesetimbangan :
A + 2B  C
Persamaan matematis dalam satu fasa :
CC
K=
C A .C B2
4. Rate of process (proses-proses kecepatan)
Proses kecepatan meliputi kecepatan fisis dan kecepatan kimia. Kecepatan fisis atau
transfer phenomena meliputi transfer momentum, transfer panas (konveksi, konduksi dan
radiasi) dan transfer massa (difusi, satu film dan 2 film). Kecepatan kimia, yaitu kecepatan
reaksi (kinetika reaksi) (gambar 3).

Gambar 4: Cakupan proses kecepatan

a. Transfer panas konduksi


Transfer panas konduksi adalah transfer panas yang disebabkan gerak mikroskopis
mediumnya (molekuler/atom/elektron), bukan gerak makroskopis (gerakan yang dapat
dilihat).
Misal: Memanasi ujung sebuah batang logam, maka terjadi perpindahan (perambatan)
panas ke ujung yang lain akibat gerakan elektron dalam molekul yang tidak dapat diamati
(gambar 5).

trans. Panas (Q)

ujung kiri dipanasi ujung kanan ikut panas


Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Gambar 5: proses transfer panas konduksi


Dalam transfer panas konduksi dikenal Hukum Forier :
Q = -k.A dT/dX [=] (panas/waktu)
Atau
q = -k dT/dX [=] (panas/waktu/luas)
(k = konduktivitas panas, A= luas transfer panas)

b. Transfer panas konveksi (antar fasa) :


Transfer panas konveksi adalah transfer panas antara fasa satu ke fasa lain, misalnya antra
permukaan padatan diding logam dengan fluida, panas akan ditransfer dari dinding
logam A yang memiliki temperatur T1 yang lebih tinggi ke fluida B dengan temperatur
T2 yang lebih rendah (T1>T2) (gambar 6).
T1
(T2)
T1 T2 T1 > T2
Q Q

Fluida B

Gambar 6: proses transfer panas konveksi


Dalam transfer panaskonveksi dikenal :
Hk Newton :
Q = h.A(T1 – T2) [=] (panas / waktu)
Q = -h.A(T2 – T1) [=] (panas / waktu)
( h : koefisien transfer panas konveksi, A: luas permukaan transfer panas)

Transfer panas tahanan seri


Bila antara dua fluida (suhu T1 dan T2, dimana T1>T2) terdiri beberapa tahanan
yang disusun seri, yaitu tahanan logam A, B, C dengan tebal berturut-turut XA, XB dan
XC, maka akan terjadi transfer panas dari fluida T1 ke fluida T2 merambat melalui
tahanan A, B dan C (gambar 7).

A B C
fluida T1 A B C fluida T2

XA XB XC
Gambar 7: proses transfer panas konveksi dan konduksi
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Pada gambar di atas terjadi :


Transfer panas antara fluida I dengan logam A → konveksi
Transfer panas antara logam A → B → C → konduksi hubungan seri
Transfer panas logam C ke fluida II → konveksi
Maka :
Q = U.A.(T1 – T2)

U: koefisien transfer panas gabungan ( overall )


Untuk hubungan seri ; nilai U diperoleh dengan menjumlahkan tahanan ( R = 1/h )

1 1 x A x B xC 1
= + + + +
u h1 h A hB hC h2
Untuk hubungan paralel ;
nilai U diperoleh dengan menjumlahkan langsung Koefisien transfer panas individualnya
(hantarannya, h )

c. Transfer massa difusi


Transfer massa secara difusi adalah transfer massa karena gerak mikroskopis
mediumnya. Transfer massa difusi mengikuti hukum Ficks. Untuk difusi A melalui
medium B, maka :

 dX 
N A = (N A + N B )X A − C.D AB  A 
 dZ 

NA : laju difusi A (massa/waktu/luas)


NB : laju difusi B (massa/waktu/luas)
C : konsentrasi total [ (gmol A + B)/vol ]
XA : fraksi mol A
DAB : koefisien difusifitas A melalui B
Z : posisi Udara (B)

Kejadian-kajdian khusus:
1. Diffusivitas through stagnant medium (difusi via
media (B) tidak bergerak )
A
Medium B tidak bergerak (stagnant) dalam arti (m.wangi)
tidak mendifusi , jadi NB = 0
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Misal : proses penguapan minyak wangi (A) dari botol ke udara (B), di sini medium
udara B tidak mendifusi masuk ke minyak wangi A.
Dengan demikian persamaan Ficks di atas dapat disederhanakan menjadi :

C.D AB  dX A 
NA = −  
1 − X A  d Z 
Gas A
2. Equimolar counter diffusion NA NB
difusi A sama cepat dengan B tetapi berlawanan arah, jadi :
NA = – NB
katalisator
Misal:
gas A mendifusi ke permukaan kataliator dan bereaksi membentuk B, lalu B mendifusi
kembali ke udara. Dengan demikian persamaan Ficks di atas dapat disederhanakan
menjadi :
dX A
N A = −C.D AB
dZ
3. Dilute solution
Kadar A yang sangat encer sehingga XA mendekati nol.
Misalnya polutan yang ada dalam air sungai, laut atau udara, kadarnya sangat rendah
sehingga biasanya dinyatakan dalam ppm atau ppb
Dengan demikian persamaan Ficks di atas dapat disederhanakan menjadi :
NA = 0 – C.DAB.dXA/dZ

Dimana konsentrasi A sangat kecil, tidak berpengaruh terhadap konstsentrasi total C,


sehingga C relatif konstan, dapat dimasukkan ke dalam diferensial, menjadi :
NA = - DAB d(CXA)/dZ
dimana :
C.XA [=] [gmol(A+B)/V] x [ [gmol A /gmol(A+B) ]
[=] gmol A / V = CA
maka diperoleh persamaan akhir :
dC A
N A = − D AB
dZ
Sekali lagi persamaan terakhir ini hanya berlaku untuk larutan A yang sangat encer.
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

d. Transfer Momentum
Tinjau suatu fluida yang berada diantara dua plate dengan luas A dan jarak antara
dua plate Y (gambar-8a). Mulai suatu saat (t=0) plate bawah digerakkan ke arah x dengan
kecepatan konstan v (gambar-8b). Pada proses ini fluida turut terseret dengan kecepatan
vx sebagai fungsi posisi (jarak, y) dan fungsi waktu (t) vx=f(y,t). pada kondisi unsteady ini
terbentuk profil kecepatan seperti gambar-8c. Setelah berlangsung cukup lama, maka
kecepatan lapisan-lapisan fluida hanya fungsi jarak, tidak lagi dipengaruhi waktu, vx=f(y)
dengan profil kecepatan seperti gambar-8d .

(a).

t<0 Keadaan fluida


Y mula-mula

(b).
Plate bawah mulai
t=0 digerakkan ke
arah x dengan
kecepatan v
v x

(c).
Lapisan-lapisan fluida turut
t kecil terseret dengan kecepatan
vx sebagai fungsi jarak y
vx(y,t) dan waktu t
(aliran unsteady)
x

(d).
vx(y) Akhirnya setelah waktu
t besar cukup lama, kecepatan
tidak lagi sebagai fungsi
waktu, hanya fungsi jarak
y (aliran steady)
x

Gambar-8: Profil kecepatan laminer suatu fluida diantara dua plate (pada kondisi steady)

Pada kondisi steady di atas, diperlukan gaya F untuk mempertahankan gerakan


palate bawah. Gaya yang diperlukan tersebut persatuan luas berbanding dengan
kecepatan persatuan jarak dikali dengan suatu bilangan konstan :
F/A =  [V/Y] (a)
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Konstanta  ini karakteristik untuk suatu fluida dan inilah disebut koefisien viskositas
atau viskositas suatu fluida. Suatu fulida yang seakan tersusun atas n-lapisan fluida yang
bergerak dengan kecepatan v1, v2, v3 ….vn, dimana v1>v2>v3> ….>vn. Pada peristiwa
ini seolah-olah fluida yang lebih cepat “menyeret” fluida yang lebih lambat, dan dengan
demikian dikatakan bahwa fluida yang lebih cepat memberikan momentum kepada
fluida yang lebih lambat tadi. Dengan kata lain bahwa terjadi “tranfer momentum”
sebagaimana islustrasi gambar 9 sebagai berikut :

Terjadi “transfer momentum” → yx


v5
baca: momentum arah x
v4 ditranfer ke arah y
v3
v2
v1

Gambar 9: Proses transfer momentum

Berdasarkan persaman (a), gaya per satuan luas tiada lain adalah tekanan, dalam hal ini
disebut shear stress () sehingga dapat dituliskan :
yx = - [dvx/dy ] (b)
dimana [dvx/dy ] gradien kecepatan yang bernilai negatif sehingga untuk mebuat positif
nilai shear stress (yx) maka persamaan (b) di atas ditulis negatif. Persamaan (b) ini dikenal
dengan hukum Newton untuk viskositas. Fulida yang bersifat atau memenuhi
persamaan (b) di atas disebut fluida Newtonnian. Semua gas dan sebagain besar cairan
sederhana termasuk kategori fluida Newton.
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 

Distribusi Kecepatan Fluida Dalam Aliran Laminer


Distribusi kecepatan fluida menyatakan kecepatan sebagai fungsi posisi, yaitu v =
f(x) atau v = f(r). Langkah-langkah dalam modeling distribusi kecepatan digambarkan
dalam flow chart berikut :

NERACA MOMENTUM

PD DALAM 
Sifat-sifat fluida:
-newton
JAWABAN DALAM  -Bingham
Sifat- -dll
sifat
fluida
PD DALAM v

JAWABAN DALAM V

DISTRIBUSI KECEPATAN

Neraca Momentum :

Boundary conditions (BC) :


1. pada permukaan cairan yang bersinggungan (berbatasan) dengan gas (udara),
maka gesekan (shear stress) dapat diabaikan →  = 0
2. fluida yang menempel pada permukaan padatan (dinding), maka kecepatan fluida
= kecepatan dinding (kecuali jika terjadi slip). Jadi untuk dinding diam, v = 0
3. kecepatan lapisan-lapisan fluida di sekitar posisi (daerah) kecepatan maximum
adalah seragam (tidak ada perbedaan kecepatan) sehingga tidak ada transfer
momentum, tidak ada gesekan (gesekan terjadi akibat adanya gradien atau
perbedaan kecepatan),  = 0
4. pada batas fasa dua cairan unmicible, maka kecepatan v pada fluida-1 sama dengan
v pada fluida-2, demikian pula . → v1=v2; 1=2

Transfer momentum yang terjadi dalam fluida bergerak diakibatkan dua faktor:
1. transfer momentum by flow (dibawa arus) → ρAv2
2. transfer momentum by molekuler → Aτyx
Matematika Pemodelan DR. Andi Aladin, MT. 