0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan57 halaman

Tingkah Laku Alpha-male Monyet Ekor Panjang

Skripsi ini membandingkan tingkah laku harian alpha-male monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dengan jantan lain di Taman Wisata Alam Makam Mbah Agung Karangbanar. Penelitian dilakukan selama 3 bulan dengan metode observasi langsung dan mencatat tingkah laku monyet subjek. Hasilnya menunjukkan alpha-male lebih banyak melakukan aktivitas sosial dan teritorial dibandingkan jantan lain.

Diunggah oleh

deddy rezki
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan57 halaman

Tingkah Laku Alpha-male Monyet Ekor Panjang

Skripsi ini membandingkan tingkah laku harian alpha-male monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dengan jantan lain di Taman Wisata Alam Makam Mbah Agung Karangbanar. Penelitian dilakukan selama 3 bulan dengan metode observasi langsung dan mencatat tingkah laku monyet subjek. Hasilnya menunjukkan alpha-male lebih banyak melakukan aktivitas sosial dan teritorial dibandingkan jantan lain.

Diunggah oleh

deddy rezki
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]

net/publication/350043594

Perbandingan Tingkah Laku Harian Alpha-male Monyet Ekor Panjang


(Macaca fascicularis) dengan Jantan Lain Di TWR Makam Mbah Agung
Karangbanar

Thesis · April 2021


DOI: 10.13140/RG.2.2.24569.19046

CITATIONS READS

2 341

3 authors:

Rosyid Ridlo Al Hakim Erie Kolya Nasution


Bogor Agricultural University Universitas Jenderal Soedirman
79 PUBLICATIONS   75 CITATIONS    28 PUBLICATIONS   22 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Rizaldi Rizaldi
Universitas Andalas
39 PUBLICATIONS   184 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Energy & Renewable Energy View project

Artificial Intelligence (JGU Thesis) View project

All content following this page was uploaded by Rosyid Ridlo Al Hakim on 29 April 2021.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PERBANDINGAN TINGKAH LAKU HARIAN ALPHA-MALE
MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DENGAN
JANTAN LAIN DI TWR MAKAM MBAH AGUNG
KARANGBANAR

SKRIPSI

ROSYID RIDLO AL HAKIM


B1A017102

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2021
i
PERBANDINGAN TINGKAH LAKU HARIAN ALPHA-MALE
MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DENGAN
JANTAN LAIN DI TWR MAKAM MBAH AGUNG
KARANGBANAR

ROSYID RIDLO AL HAKIM


B1A017102

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sains pada Fakultas


Biologi Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto

Disetujui dan disahkan


pada tanggal 5 April 2021

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dra. Erie Kolya Nasution, [Link]. Dr. Rizaldi, [Link].


NIP. 195910221986032001 NIP. 197111121998021004

Mengetahui,
Dekan Fakultas Biologi
Universitas Jenderal Soedirman

Prof. [Link]. Imam Widhiono MZ., MS.


NIP. 195904201985031002

ii
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini


Nama : ROSYID RIDLO AL HAKIM
NIM : B1A017102
Judul Skripsi: Perbandingan Tingkah Laku Harian Alpha-male Monyet Ekor Panjang
(Macaca fascicularis) dengan Jantan Lain Di TWR Makam Mbah
Agung Karangbanar
Pembimbing Skripsi :
1. Dra. Erie Kolya Nasution, [Link].
2. Dr. Rizaldi, [Link].
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. Penelitian skripsi ini merupakan hasil penelitian sendiri dan bukan jiplakan
(plagiasi).
2. Pelaksanaan penelitian ini didanai oleh proyek penelitian dosen.
3. Hak kekayaan intelektual penelitian ini menjadi milik institusi, dalam hal ini
Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), kecuali jika penelitian dilakukan
dengan dana dari luar Unsoed.
4. Hak publikasi penelitian ini ada pada pemilik proyek penelitian dengan
kewajiban mencantumkan peneliti sebagai salah satu author-nya.
Pernyataan ini dibuat sebenar-benarnya, tanpa paksaan atau tekanan apa pun dari
siapa pun. Saya bersedia bertanggung jawab secara hukum apabila terdapat hal-hal
yang tidak benar di dalam pernyataan ini.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan sebenar-benarnya.

Purwokerto, Februari 2021


Yang menyatakan,

Rosyid Ridlo Al Hakim


B1A017102

iii
PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis mengambil topik tentang
“Perbandingan Tingkah Laku Harian Alpha-male Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) dengan Jantan Lain Di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar”.
Kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. [Link].
Imam Widhiono M.Z., M.S., selaku Dekan Fakultas Biologi Universitas Jenderal
Soedirman yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini. Ucapan
terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dra. Erie Kolya Nasution, [Link]. selaku
pembimbing I dan Dr. Rizaldi, [Link]. selaku pembimbing II yang telah mengarahkan
dan memberi masukan selama penyusunan skripsi ini, dan untuk Orang tuaku,
Adikku, Kakek-Nenekku, Dian, Pandu, Tegar “Mamang”, Iqbal, Sribud, Nadhilla
serta semua pihak yang telah berkontribusi baik dalam penelitian maupun
penyusunan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan
sumbangsih pengembangan khazanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang
Etologi dan Primatologi.

Purwokerto, Februari 2021

Penulis

iv
DAFTAR ISI

PRAKATA ............................................................................................................. iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... ix
DAFTAR RUMUS ................................................................................................. x
RINGKASAN ........................................................................................................ xi
SUMMARY ............................................................................................................ xii
I. PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Tujuan ....................................................................................................... 2
C. Manfaat ..................................................................................................... 2
II. TELAAH PUSTAKA .................................................................................... 3
A. Morfologi dan Klasifikasi Macaca fascicularis ....................................... 3
B. Tingkah Laku Macaca fascicularis .......................................................... 4
III. METODE PENELITIAN .............................................................................. 7
A. Waktu dan Tempat .................................................................................... 7
B. Deskripsi Lokasi Penelitian ...................................................................... 7
C. Alat dan Bahan yang Digunakan .............................................................. 8
D. Deskripsi Kelompok Hewan Subjek ......................................................... 8
E. Metode Penelitian Tingkah Laku .............................................................. 8
1. Kategori Tingkah Laku Harian ............................................................ 9
2. Cara Kerja Penelitian ......................................................................... 10
a. Menentukan Individu Alpha-male dan Jantan Subordinat ............. 10
b. Pengumpulan Data Hewan Focal ................................................... 11
3. Analisis Data ...................................................................................... 11
F. Bagan Alir ............................................................................................... 13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 14
V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 23
A. Kesimpulan ............................................................................................. 23
B. Saran........................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 24
v
LAMPIRAN .......................................................................................................... 28
Lampiran 1. Spesifikasi peralatan dan bahan penelitian ............................. 28
Lampiran 2. Hasil Uji t dengan SPSS .......................................................... 30
Lampiran 3. Foto-foto kegiatan ................................................................... 43
BIODATA PENULIS ........................................................................................... 44

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Kategori Tingkah Laku Harian ................................................................. 9


Tabel 4.1. Metrik sosiometrik interaksi submissive antara sesama jantan dewasa
dalam kelompok Jona. Individu dominan menerima, sedangkan individu
subordinat memberi sinyal menyerah (submissive signal)...................... 14
Tabel 4.1. Perbandingan frekuensi tingkah laku harian antara alpha-male
(Charles) dan jantan subordinat (Jim) di TWR Makam Mbah Agung
Karangbanar.............................................................................................16
Tabel 4.2. Perbandingan durasi tingkah laku harian antara alpha-male (Charles)
dan jantan subordinat (Jim) di TWR Makam Mbah Agung
Karangbanar.............................................................................................16

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Monyet Ekor Panjang (M. fascicularis) jantan muda (kiri) dan alpha-
male yang sedang menerima grooming dari betina dewasa (kanan) di
TWR Makam Mbah Agung Karangbanar............................................... 3
Gambar 3.1. Peta lokasi penelitian................................................................................7
Gambar 4.1. Ekspresi wajah mengancam (facial threat) disertai ancaman suara
(voice threat) dari Charles ketika Jim berupaya mengambil umpan
kemudian Jim menghindar dengan cepat...............................................15
Gambar 4.2. Charles sedang memakan makanan yang diberi pengunjung (kiri,
tengah) dan Jim sedang makan daun di atas pohon (kanan) ................. 17
Gambar 4.3. Charles (kiri) dan Jim (kanan) sedang berjalan......................................17
Gambar 4.4. Charles (kiri) sedang mencari makan di semak-semak dan Jim (kanan)
bersama dua individu anakan sedang mencari makan bersama.............18
Gambar 4.5. Charles sedang tidur ketika mendapatkan grooming dari individu
betina dewasa (kiri) dan Jim sedang tidur di pohon tidur (kanan).........18
Gambar 4.6. Jim sedang melakukan auto-grooming pada pahanya............................19
Gambar 4.7. Jim sedang bermain dengan individu anakan.........................................20
Gambar 4.8. Charles memainkan kulit batang pohon yang ia duduki.........................20
Gambar 4.9. Aktivitas kopulasi yang ditunjukkan Charles (kiri) dan Jim (kanan).....21
Gambar 4.10. Charles yang menginisiasi konflik terhadap Jim dengan mengejar
dan mengeluarkan ancaman suara..........................................................22

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Spesifikasi peralatan dan bahan penelitian..............................................28


Lampiran 2 Hasil Uji t dengan SPSS………..............................................................30
Lampiran 3 Foto-foto kegiatan……………................................................................43

ix
DAFTAR RUMUS

Rumus 3.1 Frekuensi Relatif (FR) Kategori Aktivitas Tingkah Laku........................11


Rumus 3.2 Durasi Relatif (DR) Kategori Aktivitas Tingkah Laku............................12

x
RINGKASAN

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hidup berkelompok membentuk


strata sosial yang dapat diketahui melalui interaksi sesamanya. Strata sosial tertinggi
dalam kelompok ditempati satu individu jantan dewasa (alpha-male). Status dominan
sangat berpengaruh terhadap kesempatan memperoleh sumber daya (resources),
ruang (space) dan pasangan kawin (pair mate), sehingga alpha-male diprediksi
memiliki pola aktivitas harian berbeda dengan jantan dewasa lain subordinat.
Penelitian ini bertujuan membandingkan perbedaan tingkah laku harian alpha-male
M. fascicularis dengan jantan dewasa lain dalam kelompok. Penelitian dilaksanakan
dari bulan Juli sampai Desember 2020 di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar,
Kalisalak, Kabupaten Banyumas. Observasi tingkah laku dilakukan terhadap dua
hewan fokal (focal animal sampling) yaitu individu alpha-male dan satu individu
jantan subordinat dalam kelompok yang sama. Individu alpha-male ditentukan
melalui metode umpan (bait-test). Pencatatan tingkah laku harian hewan focal
dilakukan menggunakan metode 15-minutes continuous recording method antara
pukul 08:00 dan 17:00 WIB selama 10 hari dengan 32 section per harinya. Frekuensi
dan durasi setiap kategori tingkah laku dibandingkan antara kedua hewan focal. Hasil
penelitian ini menemukan perbedaan yang nyata pada frekuensi dan durasi tingkah
laku makan, berpindah, dan tidur antara alpha-male dan jantan subordinat di TWR
Makam Mbah Agung Karangbanar, sedangkan frekuensi dan durasi mencari makan
dan menelisik serta frekuensi kopulasi dan agonistik tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata antara keduanya. Perbedaan tingkah laku harian antara alpa-male dan
jantan subordinat dipengaruhi oleh status sosial masing-masing individu.

Kata kunci: alpha-male, Macaca fascicularis, strata sosial, tingkah laku harian,
TWR Karangbanar.

xi
SUMMARY

Long-tailed macaques (Macaca fascicularis) live in groups to form a social


hierarchy that can be identified through interactions with each other. The highest
social hierarchy in the group is occupied by alpha-male. Dominant status greatly
influences the opportunity to obtain resources, space, and pair mate, so that alpha-
male is predicted to have different daily activity patterns from other subordinate
adult males. This study aimed to compare between daily alpha-male behavior and a
subordinate male of M. fascicularis in the group. Field observation was conducted
between July and December 2020 at TWR Makam Mbah Agung Karangbanar,
Kalisalak, Banyumas. Behavioral observations were carried out on two focal animals
(focal animal sampling), i.e. alpha-male and one subordinate male from the same
group. Alpha-male and the subordinate were determined by the bait-test method and
sociometric tables. The daily behavior of focal animals was recorded by the 15-
minute continuous recording method between 08:00 A.M. and 17:00 P.M. for 10
days with 32 sections per day. The results of the study found significant differences
in the frequency and duration of eating, moving, and sleeping behavior between
alpha-male and subordinate male in TWR Makam Mbah Agung Karangbanar, while
the frequency and duration of searching for food and grooming also frequency of sex
and agonistic did not show a significant difference. The difference in daily behavior
between alpha-male and the subordinate male could be affected by social status
between them.

Keywords: alpha-male, daily activity, Macaca fascicularis, social hierarchy, TWR


Karangbanar.

xii
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan spesies primata
yang memiliki organisasi sosial dalam hidup berkelompok. Organisasi sosial
terdiri atas banyak jantan dan banyak betina (multi-male, multi-female) dengan
proporsi usia dan jenis kelamin yang bervariasi (Gursky-Doyen & Supriatna,
2010; Rowe & Myers, 2016; Strier, 2017). Setiap individu memiliki strata sosial
dengan dominansi paling tinggi ditempati oleh satu individu jantan dewasa
(alpha-male). Dominansi hierarki berperan penting dalam mencegah eskalasi
tingkah laku agresif sehingga keutuhan hidup berkelompok dapat dipertahankan.
Individu dominan akan mendapatkan akses lebih utama terhadap sumber daya
dibandingkan subordinat. Status dominan pada jantan sering kali berkorelasi
positif dengan frekuensi kopulasi, selain itu, bagi individu jantan M. fascicularis
memiliki akses lebih mudah terhadap makanan, sehingga dominansi hierarki
sering kali dikaitkan dengan kesuksesan reproduksi (reproductive success)
(Gursky-Doyen & Supriatna, 2010; Rowe & Myers, 2016).
Individu alpha-male dan beta-male memiliki perbedaan pada dominansi
tingkah laku dan akses sumber daya. Alpha-male menunjukkan dominasi yang
signifikan untuk tingkah laku agonistik, kopulasi, menggoyang-goyangkan
ranting pohon, bergerak, ditelisik (grooming) individu lain, tindakan menyerang
individu lain dan melindungi individu lain, apabila dibandingkan dengan beta-
male (Karimullah & Anuar, 2012). Alpha-male dapat mengontrol interaksi
agresif yang terjadi dalam kelompok melalui intervensi, namun tidak
memberikan support kepada individu dominan atau subordinat secara konsisten,
di samping menjaga hubungan antar individu dalam kelompok, alpha-male juga
berperan dalam menjaga kelompoknya dari ancaman yang datang dari luar.
Ancaman dari luar kelompok sering kali datang dari kelompok lain ataupun dari
spesies lain. Alpha-male akan berada di posisi depan dalam menghadapi
gangguan dengan memberikan alarm call atau menyerang (Schapiro, 2017).
Alpha-male sering kali menerima grooming dari betina-betina dewasa dan
mampu menguasai betina yang siap kawin dalam kelompoknya (Hidayat et al.,
2019; Rowe & Myers, 2016). Mengingat peran sosial individu alpha-male di
dalam kelompok yang berbeda dengan individu lain, maka diasumsikan akan
1
terjadi perbedaan tingkah laku harian antara alpha-male dengan individu jantan
lain yang memiliki dominansi lebih rendah dalam kelompok, oleh karena itu
perlu dilakukan penelitian tingkah laku untuk membandingkan pola tingkah laku
harian alpha-male dengan jantan lain di dalam kelompok yang sama.
Taman Wisata Religi (TWR) Makam Mbah Agung (Makam Keramat)
Karangbanar berada di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten
Banyumas, Provinsi Jawa Tengah (Utami, 2019) yang merupakan kawasan
wisata yang memiliki vegetasi hutan yang dihuni oleh kelompok M.
fascicularis. Kondisi demikian akan memberikan kemudahan dalam pengamatan
tingkah laku mereka, oleh karena itu, penelitian ini akan dilakukan di Taman
Wisata Religi (TWR) Makam Mbah Agung Karangbanar, Desa Kalisalak,
Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

B. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkah laku harian
alpha-male monyet ekor panjang (M. fascicularis) dengan jantan lain dalam
kelompoknya di Taman Wisata Religi (TWR) Makam Mbah Agung (Makam
Keramat) Karangbanar, Kalisalak, Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa
Tengah.

C. Manfaat
Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan pemahaman tentang peran
sosial individu alpha-male M. fascicularis di dalam kelompoknya, dan
pengelolaan populasi, translokasi, serta bentuk-bentuk pengelolaan lainnya.

2
II. TELAAH PUSTAKA

A. Morfologi dan Klasifikasi Macaca fascicularis


Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memiliki rambut berwarna
coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan. Warna bagian bawah tubuhnya lebih
muda, sedangkan bagian wajah sering kali menampakkan adanya rambut-rambut
halus yang berwarna putih. M. fascicularis dalam perkembangannya akan
tumbuh janggut panjang. Ekor ditutupi rambut-rambut pendek berbentuk
silinder. Bayi yang baru lahir berambut hitam, kulit di wajah dan telinga
berwarna merah muda. Setelah berumur enam minggu rambutnya berubah
menjadi coklat. Berat dewasa sekitar 3 – 4 kilogram pada betina dan 5 – 7
kilogram pada jantan, berat ini termasuk berat yang paling ringan di antara
primata lainnya (Sulistyo, 1996).

Gambar 1.1. Monyet Ekor Panjang (M. fascicularis) jantan muda (kiri) dan
alpha-male yang sedang menerima grooming dari betina dewasa
(kanan) di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar (Sumber:
Dokumentasi pribadi).
Jenis M. fascicularis berbeda dengan Macaca lainnya dari ukuran tubuh dan
ekor. Ukuran tubuh relatif lebih kecil, sementara ekor M. fascicularis lebih
panjang dari tubuhnya. Bagian pantat terdapat bantalan (ischial callosities) yaitu
kulit keras ciri khas dari Familia Cercopithecidae, berguna untuk melindungi dan
menjaga keseimbangan ketika duduk dalam waktu lama di percabangan pohon
(Sulistyo, 1996). Klasifikasi M. fascicularis menurut Lekagul & McNeely
(1977) yakni Kelas Mammalia; Sub Kelas Eutherina; Ordo Primata; Sub ordo
Anthropoidea; Familia Cercopithecidae; Sub-Famili Cercopithecinae; Genus
Macaca; Spesies Macaca fascicularis Raffles.

3
B. Tingkah Laku Macaca fascicularis
Kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terdiri atas beberapa
jantan dan betina dewasa, jantan dan betina pra-dewasa, jantan dan betina
remaja, dan bayi (infants) (Karimullah & Anuar, 2012), satu kelompoknya
terdiri atas banyak jantan dan betina dewasa. Besar kecilnya kelompok
tergantung kehadiran predator atau kelimpahan sumber pakan di alam. Jenis
pergerakan M. fascicularis umumnya dikategorikan quadrupedal dengan
kategori berjalan menggunakan keempat anggota badannya. M. fascicularis juga
dapat memanjat dan melompat (leaping) hingga 5 meter jauhnya. M. fascicularis
juga dapat berenang dengan baik. Jelajah harian M. fascicularis mencapai lebih
dari 1,500 meter dan luas daerah jelajahnya bervariasi mulai dari 10-80 hektar di
daerah hutan primer, dan 125 hektar di daerah hutan bakau. M. fascicularis
bersifat diurnal, aktif ketika matahari terbit hingga terbenam, pada siang hari
sering kali digunakan untuk tidur dan bermain untuk individu anakan. M.
fascicularis memilih pohon yang tumbuh di dekat sungai untuk digunakan
sebagai pohon tidur. Tidurnya berkelompok pada satu pohon atau pohon lain
yang saling berdekatan (Rowe & Myers, 2016; Setiawan et al., 2013; Supriatna
& Wahyono, 2000; Suwarno, 2014).
Interaksi antar sesama individu dalam kelompok dari spesies yang sama
(intraspesifik) akan membentuk hubungan sosial (social relationships).
Hubungan sosial pada monyet Jepang (Macaca fuscata) yang memiliki
kekerabatan yang dekat dengan M. fascicularis dapat dilihat dalam bentuk
dominansi hierarki, kompetisi, koalisi agresif dan alliance (Rizaldi & Watanabe,
2008). Interaksi untuk membangun hubungan sosial tersebut dalam kelompok
Macaca mulai muncul dari usia beberapa bulan sejak kelahirannya. Hubungan
tersebut akan terus berkembang lebih kompleks seiring pertambahan usia,
kecakapan sosial (social skills), dan dinamika yang terjadi dalam kelompok
(Rizaldi & Watanabe, 2010). Interaksi dipengaruhi mimikri yang ditampilkan
sehingga mempengaruhi tingkah lakunya (Anderson & Kinnally, 2020).
Tingkah laku sosial berlangsung dalam berbagai kegiatan, dalam tingkah
laku mencari makan, suatu kelompok dipimpin oleh individu jantan dewasa
(alpha-male) sebagai pemimpin. Alpha-male paling dominan dalam kelompok,
4
biasanya berbadan tegap dan lebih besar, memimpin kelompok dalam
menjelajah atau berpindah dan mengawasi anggota kelompok dari ancaman
predator (Sulistyo, 1996; Gerber et al., 2016). Tingkah laku M. fascicularis di
kawasan Thin Kao Khun Kala, Thailand yang terhabituasi dengan manusia
karena sudah terbiasa dengan provisiong food yang diberikan manusia, menurut
Chatpiyaphat & Boonratana (2013) beberapa individu dewasa dan remaja
dilaporkan mengalami gangguan kesehatan karena pengaruh pemberian
provisioning food dari manusia dan aktivitas tingkah laku mereka menurun
karena konsumsi pakan yang mengandung karbohidrat dan gula berlebih.
Penelitian Saputra et al. (2014) terkait aktivitas harian M. fascicularis di
TWA Sangeh, Badung, Bali menunjukkan tingkah laku yang terbiasa dengan
kehadiran manusia (jarang menampakkan agresivitas) karena pengelolaan taman
wisata yang baik. Aktivitas dominan berupa bergerak (berjalan), istirahat,
makan, menelisik, mendekap di dada, manipulasi obyek, cuddling, agresif, dan
paling jarang kawin. Penelitian M. fascicularis yang berada di kawasan budaya
religi menurut Nasution & Rukayah (2018) melaporkan bahwa tingkah laku
mereka sangat erat kaitannya dengan kegiatan budaya religi dan hubungan
antara M. fascicularis dengan pengunjung maupun masyarakat sekitar
dilaporkan sedikit agresif dengan kehadiran manusia, akibat pengaruh
pengelolaan yang kurang baik dan provisioning food.
Aktivitas dominan yang telah dilaporkan sebelumnya berupa mencari
makan 43.45% (Suwarno, 2014); tingkah laku sosial (mencari kutu, bermain,
kopulasi, agonistik) 37.93% (Jawadi & Rita, 2019); bergerak pindah 39.26%
(Ratnasari, 2018), 35% (Saputra et al., 2015), dan 25% (Saputra et al., 2014).
Nasution & Rukayah (2018) melaporkan aktivitas harian M. fascicularis jantan
dewasa di Kawasan Wisata Masjid Saka Tunggal Cikakak, Wangon, Banyumas
antara lain makan 10,24%; berpindah 21,28%; mencari makan 0%; tidur
47,28%; menelisik 7,84%; bermain 3,18%; kopulasi 6,46%; dan agonistik
3,18%. Berbeda dengan penelitian Saputra et al. (2014) yang dilaksanakan di
TWA Sangeh, Badung, Bali terkait tingkah laku harian M. fascicularis jantan
dewasa didominasi istirahat, makan, berjalan berkisar antara 20-30%, menelisik
sekitar 18%, agonistik sekitar 2-3%, dan kopulasi hanya beberapa persen.

5
Menurut Hambali et al. (2012) dalam penelitiannya mengenai tingkah laku
harian M. fascicularis di Taman Wisata Alam Kuala Selangor, Malaysia
melaporkan aktivitas dominan berupa berjalan 20,27%; makan 18,78%; istirahat
17,05%; menelisik 10,84%; bermain 10,50%; kopulasi 7,42%; dan agonistik
4,78%. Tingginya aktivitas mencari makan dikarenakan jumlah ketersediaan
sumber makanan baik alami maupun non-alami, karena M. fascicularis adalah
spesies primata yang oportunis yaitu akan berusaha mengeksploitasi sumber
pakan di sekitarnya sebanyak mungkin (Suwarno, 2014). Aktivitas tertinggi
selanjutnya yaitu berjalan, memanjat, melompat, berpindah tempat (Saputra et
al., 2015), berlari (Ratnasari, 2018), dan salah satu tingkah laku untuk penentuan
teritorial (Saputra et al., 2014).
Pengamatan aktivitas harian erat kaitannya dengan pengamatan visual.
Pengamatan visual manusia terbatas, sehingga mempengaruhi keberhasilan
pengamatan tingkah laku. Antisipasi keterbatasan pengamatan visual M.
fascicularis ketika sedang diamati dapat menggunakan bantuan kamera atau
jebakan kamera di titik-titik dekat mereka biasa berada, hal ini sudah dilakukan
untuk pengamatan tingkah laku M. fascicularis dalam memanipulasi obyek di
Taman Nasional Ao Phang-Nga, Thailand (Luncz et al., 2017).

6
III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilaksanakan bulan Juli hingga Desember 2020, yang terdiri
atas kegiatan survei lokasi, observasi dan pengumpulan data lapangan, analisa
data, dan penulisan laporan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Taman Wisata
Religi (TWR) Makam Mbah Agung Karangbanar, Desa Kalisalak, Kecamatan
Kebasen, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

B. Deskripsi Lokasi Penelitian


TWR Makam Mbah Agung Karangbanar terletak di Desa Kalisalak,
Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, dengan titik
koordinat antara -7,5315027 LS; 109,2346672 BT. Luas daerah Desa Kalisalak
seluas 966,220 hektar, sementara luas TWR adalah 8,000 m2 atau 0,8 hektar.
Vegetasi sekitar didominasi Codiaeum variegatum (puring), Terminalia catappa
(ketapang), Syzygium grande (jambu mawar), Gnetum gnemon (melinjo). Daerah
Kalisalak terdiri atas dataran dan daerah perbukitan dengan banyak vegetasi,
separuh daratannya merupakan pemukiman penduduk sedangkan sisanya
merupakan lahan persawahan. Daerah perbukitan dikelilingi beberapa wilayah
kecil (disebut grumbul atau dusun) salah satunya grumbul Karangbanar di
Sebelah Utara (Utami, 2019). Iklim atau cuaca harian terdiri atas suhu udara
sekitar 26,48º Celcius, kelembaban 78,5%, presipitasi harian sekitar 0,8 mm,
elevasi berkisar antara 300-380 mdpl, kemiringan 45º, dan frekuensi pengunjung
10-20 orang per harinya.
Peta Kabupaten Banyumas,
Jawa Tengah

I II

Gambar 3.1. Peta lokasi penelitian. Sumber: Google, 2020.


7 Banyumas Jawa Tengah (skala 1:2.500.000);
Keterangan: (I) Peta Kabupaten
(II) lokasi penelitian (skala 1:500.000)
C. Alat dan Bahan yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah teropong binokuler,
GPS tracker, altimeter, thermogyrometer, kamera, tripod, hand counter, jam
tangan, lembar pengamatan, dan alat tulis. Penulis juga menggunakan software
SPSS 16, SOCPROG 2.9, Google Maps, dan Google Earth Pro. Bahan-bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kacang, pisang, ubi jalar atau ubi
kayu sebagai umpan makanan bagi monyet ekor panjang.

D. Deskripsi Kelompok Hewan Subjek


Kelompok monyet ekor panjang (M. fascicularis) yang diamati pada
penelitian ini adalah 1 kelompok (Kelompok Jona) dari dua kelompok yang
diketahui keberadaannya dari penjaga lokasi TWR Makam Mbah Agung
Karangbanar. Akses lokasi kelompok lain sangat sulit karena dibatasi sungai dan
kontur yang curam sehingga pengamatan hanya terfokus pada kelompok Jona.
Jumlah anggota kelompok (group size) adalah 73 individu yang terdiri atas 12
individu jantan dewasa, 14 individu betina dewasa, 8 individu jantan pradewasa,
9 individu betina pradewasa, 10 individu jantan remaja, 14 individu betina
remaja, dan 6 individu bayi. Seluruh individu jantan dewasa diberikan nama
untuk memudahkan jalannya pengamatan. Nama individu alpha-male adalah
Charles, sedangkan nama individu jantan subordinat adalah Jim, lalu 10 jantan
dewasa lain juga diberikan nama.

E. Metode Penelitian Tingkah Laku


Metode observasi yang digunakan pada penelitian ini adalah focal animal
sampling (Altmann, 1974) yang berfokus pada individu alpha-male (diberi nama
Charles) dan satu individu jantan dewasa lain yang memiliki strata sosial lebih
rendah (subordinat) dalam kelompok yang sama (diberi nama Jim). Individu
alpha-male ditentukan melalui metode umpan (bait-test). Pencatatan tingkah
laku harian hewan focal akan dilakukan menggunakan metode pengamatan
terus-menerus dalam interval 15 menit per section (15-min continuous recording
method) (Hidayat et al., 2019; Rizaldi & Watanabe, 2010). Pengamatan akan
dilakukan antara pukul 08:00 dan 17:00 WIB selama 10 hari dengan 32 sesi per
hari; selanjutnya frekuensi, durasi, dan intensitas masing-masing kategori

8
tingkah laku harian akan dibandingkan antara alpha-male dengan jantan dewasa
lain yang memiliki strata sosial lebih rendah (subordinat).

1. Kategori Tingkah Laku Harian


Kategori tingkah laku harian individu focal (alpha-male dan jantan
subordinat) yang diamati beserta definisi dan pengukuran masing-
masingnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.3. Kategori Tingkah Laku Harian
No. Kategori Tingkah Laku Definisi Pengukuran
1 Makan (feeding) Kegiatan makan dari memilih, Frekuensi
memegang, mengambil, dan Durasi
memasukkan makanan ke
mulut. Makanan berasal dari
sumber pakan yang terkumpul,
misal buah, bunga, makanan
dari manusia, dan minum
2 Berpindah (moving) Kegiatan berpindah tempat Frekuensi
dari satu tempat ke tempat Durasi
yang lain baik secara
horizontal ataupun vertikal
dengan jarak minimal satu
meter
3 Mencari makan Kegiatan mencari makan dari Frekuensi
(searching) sumber yang tidak terkumpul, Durasi
misal mengorek serangga di
balik kayu, dan sebagainya
4 Tidur (sleeping) Hewan subjek diam atau relatif Frekuensi
tidak melakukan kegiatan apa Durasi
pun dalam periode waktu ≥ 2
menit dengan mata tertutup
5 Menelisik (grooming) Kegiatan membersihkan tubuh Frekuensi
dengan cara memeriksa, Durasi
mencari dan mengambil
material tertentu (kulit mati
atau parasit) dari tubuh sendiri
(autogroming) ataupun dari
individu lain (allogrooming).
Grooming juga dibedakan
antar menerima dan memberi
6 Bermain (playing) Kegiatan yang dilakukan Frekuensi
minimal 2 individu saling
berinteraksi dan saling
menanggapi satu sama lain.
Individu jantan memberikan
respons “fight-or-flight”,
melarikan diri, menghindari
stresor, berkelahi tidak serius,
pada individu betina
menunjukkan respons “tend
and befriend”
9
Tabel 3.1. (Lanjutan)
No. Kategori Tingkah Laku Definisi Pengukuran
7 Kopulasi (copulation) Hewan subjek menaiki Frekuensi
bagian belakang betina
dewasa diikuti gerakan
berulang memasukan penis.
8 Agonistik (agonistic) Mengancam dengan ekpresi Frekuensi
wajah,memukul,
menangkap, ataupun
mengejar individu target.
Sumber: (Jawadi & Rita, 2019; Liebal et al., 2012; Maestripieri, 2012; Overduin-de Vries
et al., 2013; Sulistyo, 1996).

2. Cara Kerja Penelitian


Cara kerja dalam penelitian ini dimulai dengan survei lokasi
pengambilan sampel selama 1 pekan, kemudian individu alpha-male dan
jantan subordinat ditentukan berdasarkan hasil uji dominansi menggunakan
umpan (bait-test).

a. Menentukan Individu Alpha-male dan Jantan Subordinat


Individu alpha-male ditentukan dengan metode uji pengumpanan
(bait-test), dengan cara makanan (kacang, pisang, ubi jalar, ubi kayu,
jagung) diletakkan di antara dua individu yang ingin diketahui siapa
yang dominan dan siapa yang subordinat. Individu yang sering
mendapatkan makanan dengan mudah adalah dominan sedangkan yang
jarang mendapatkan makanan adalah subordinat. Pengamatan isyarat
mengalah (submissive signal) seperti grimace (ekspresi wajah meringis)
dan menghindar yang ditampilkan oleh individu subordinat (Gothard et
al., 2004; Jacobus & Loy, 1981).
Hasil pengujian terhadap semua pasangan dua individu (dyadic)
antar semua jantan dewasa dicatat dalam matriks sosiometrik. Individu
jantan yang paling sering memperoleh umpan makanan ditetapkan
sebagai alpha-male (Charles), sedangkan jantan lain sebagai subordinat
(Jim). Selanjutnya pada tahap pengumpulan data, Charles dan Jim
dijadikan hewan fokus (focal) untuk pengumpulan data (focal animal
sampling). Individu focal adalah tetap selama penelitian (Hidayat et al.,
2019).

10
b. Pengumpulan Data Hewan Focal
Individu alpha-male dan jantan subordinat telah ditentukan,
periode minggu berikutnya dilakukan pengamatan tingkah laku harian
hewan focal yaitu Charles dan Jim dalam kelompok Jona. Pemberian
makanan (provisioning food) terlebih dahulu dilakukan untuk
menemukan Charles maupun Jim, hal ini menjadikan Charles dan Jim
mudah ditemukan. Tingkah laku harian hewan focal (Charles dan Jim)
dicatat dengan metode pengamatan terus-menerus dalam interval 15-
menit per section (15-min continuous recording method).
Penelitian dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 17.00 selama 10
hari dengan total 32 section per hari pada masing-masing hewan focal.
Jumlah pengamat terdiri atas peneliti (pengamat Charles) dan satu
orang rekan (pengamat Jim). Kedua pengamat memiliki persamaan
persepsi terhadap metode dan kategori tingkah laku yang dicatat.
Apabila individu focal hilang dari pandangan ketika pengamatan
dilakukan, maka section yang belum cukup 15 menit akan dibatalkan.
Pencarian individu focal dilakukan kembali hingga seksi pengamatan
yang baru bisa dilanjutkan. Pencarian dilakukan ke tempat-tempat yang
sering dikunjungi hewan focal (Jawadi & Rita, 2019). Kondisi
pengamatan dilakukan acak terhadap jumlah kehadiran pengunjung,
karena TWR belum terlalu familier sehingga jumlah pengunjung harian
tidak menentu, peneliti pernah menjumpai hanya 3 pengunjung.

3. Analisis Data
Frekuensi masing-masing kategori tingkah laku dihitung per individu
subjek, baik alpha-male (Charles) ataupun jantan subordinat (Jim), pada
persamaan (3-1) (Willyanti, 2010).

𝐹𝑇𝐿
𝐹𝑅 (%) = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐹𝑇𝐿 𝑥 100% (3-1)

Keterangan:
FR = Frekuensi relatif kategori terhadap seluruh kategori tingkah laku (%);
FTL = Frekuensi kategori tingkah laku (kali);
Total FTL = Frekuensi total seluruh kategori tingkah laku (kali).

11
Frekuensi Relatif (FR) dibandingkan antara alpha-male (Charles)
dengan subordinat (Jim) digunakan uji t bebas (independent t-test).
Kategori tingkah laku harian yang menggunakan pengukuran durasi juga
dibandingkan antara kedua hewan focal dengan rumus Durasi Relatif
(DR). Durasi Relatif (DR) dihitung dengan persamaan (3-2).

𝐷𝑇𝐿
𝐷𝑅 (%) = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑇𝐿 (3-2)

Keterangan:
DR = Durasi relatif kategori tingkah laku terhadap seluruh kategori (%);
DTL = Durasi total kategori tingkah laku dari seluruh sesi (detik);
Total DTL = Total durasi seluruh kategori tingkah laku (detik).
Durasi Relatif (FR) dibandingkan antara alpha-male (Charles) dengan
subordinat (Jim) menggunakan uji-t bebas (independent t-test). Hipotesis
penelitian sebagai berikut.
• H0 = tidak terdapat perbedaan (frekuensi/durasi) tingkah laku harian
yang nyata antara M. fascicularis individu alpha-male dan jantan
subordinat di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar;
• H1 = terdapat perbedaan (frekuensi/durasi) tingkah laku harian yang
nyata antara M. fascicularis individu alpha-male dan jantan
subordinat di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar.

12
F. Bagan Alir
Bagan alir penelitian ini adalah sebagai berikut.
Perbandingan Tingkah Laku Harian Alpha-male Monyet Ekor Panjang (M.
fascicularis) dengan Jantan Lain Di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar

Menentukan hewan focal alpha-male dan jantan dewasa subordinat secara focal-
animal sampling dengan 15min-continuous recording method

Observasi lapangan, pengumpulan data melalui pengukuran setiap kategori


dengan 15-min continuous recording method dan kategori tingkah laku (makan,
berjalan, mencari makan, tidur, sosial: menelisik, bermain, kopulasi, agonistik)

Data primer Data sekunder (profil desa, monografi)

Frekuensi relatif dan durasi relatif masing-masing kategori tingkah laku harian
dibandingkan (indepdndent t-test) antara alpha male dengan jantan dewasa lain
subordinat

Terdapat perbedaan tingkah laku harian yang nyata karena status sosial masing-
masing individu

13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengujian bait-test menunjukkan Charles (alpha-male) yang mendapatkan


umpan. Pengujian terhadap semua pasangan dua individu (diadik) antar jantan
dewasa dalam kelompok Jona (terdapat 12 individu) dicatat dalam matriks sosiometri
(Tabel 4.1). Masing-masing individu diberi nama unik. Individu jantan yang paling
sering memperoleh umpan makanan ditetapkan sebagai alpha-male, sedangkan
individu lain sebagai subordinat (Hidayat et al., 2019). Individu subordinat biasanya
tidak berhasil mendapatkan makanan ataupun jika berhasil tetap akan memberikan
sinyal menyerah (submissive signal) kepada individu dominan. Sinyal menyerah
yang dapat diamati adalah menyeringai (grimacing) atau menghindar dengan cepat.
Sinyal submissive oleh subordinat dapat didahului oleh atau tanpa sinyal agresif oleh
individu dominan (Anderson & Kinnally, 2020; Rizaldi & Watanabe, 2008).
Tabel 4.1. Metrik sosiometrik interaksi submissive antara sesama jantan dewasa
dalam kelompok Jona. Individu dominan menerima, sedangkan individu
subordinat memberi sinyal menyerah (submissive signal).
Memberi

Menerima Charles Jim To Be Ol Nu Pow Gle Yu Jo Liu Ve Total


11
Charles 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
6
Jim 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1
1
To 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1
Be 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
0
Ol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3
Nu 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1
3
Pow 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0
1
Gle 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
2
Yu 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0
3
Jo 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0
2
Liu 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0
0
Ve 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Berdasarkan Tabel 4.1 hasil sosiometri anggota jantan dewasa dalam kelompok
Jona membuktikan Charles merupakan individu alpha-male, sedangkan untuk
individu subordinat Jim. Individu Charles sering mendapatkan umpan dengan mudah
dalam pengujian bait-test (Gambar 4.1), ketika Charles menunjukkan facial threat
(raut muka mengancam) kepada individu lawannya, Jim yang menunjukkan ekspresi
wajah grimace meringis. Pengamatan submissive signal yang dikeluarkan oleh
Charles (Gambar 4.1), menunjukkan bahwa dia individu dominan atau alpha-male.
Menurut Gothard et al. (2004) dan Jacobus & Loy (1981) dalam penelitiannya
14
menyatakan bahwa sinyal submissive yang didasarkan grimace (refleks terhadap
rangsangan) menandakan individu tersebut adalah yang paling dominan dalam
kelompoknya atau disebut alpha-male. Ekspresi-ekspresi wajah ini dinilai untuk
menentukan Charles sebagai individu alpha-male (Overduin-de Vries et al., 2016;
Anderson & Kinnally, 2020; Rowe & Myers, 2016).

Gambar 4.1. Ekspresi wajah mengancam (facial threat) disertai ancaman suara
(voice threat) dari Charles ketika Jim berupaya mengambil umpan
kemudian Jim menghindar dengan cepat.
Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa Charles dominan terhadap Jim dalam
perebutan umpan. Charles tak jarang berusaha mengejar Jim dalam memperebutkan
umpan. Jim selalu mengalah atau mundur ketika Charles menunjukkan facial threat
(raut muka mengancam) disertai tingkah laku menyerang ketika umpan diberikan,
hal ini sesuai dengan pengamatan Saputra et al. (2014) bahwa tingkah laku agresif
sering dilakukan oleh individu jantan dewasa yang mendominasi kelompoknya
terhadap individu yang berstrata di bawahnya (subordinat) ketika pembagian jatah
makan. Individu jantan dewasa yang dominan secara hierarki terlihat sangat ingin
menguasai makanan terlebih dahulu dan tingkah laku agresif ini akan muncul ketika
ada individu lain yang hendak mengambil makanan ketika individu dominan sedang
makan. Tabel 4.2 memperlihatkan perbandingan frekuensi aktivitas antara Charles
dan Jim berdasarkan persamaan (1) serta hasil uji statistik independent t-test. Tabel
4.3 memperlihatkan perbandingan durasi aktivitas antara Charles dan Jim
berdasarkan persamaan (2) serta hasil uji statistik independent t-test.

15
Tabel 4.4. Perbandingan frekuensi tingkah laku harian antara alpha-male (Charles)
dan jantan subordinat (Jim) di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
No. Kategori Tingkah Laku Charles (%) Jim (%) Perbandingan (Uji t)
1 Makan (feeding) 12,73 16,16 p = 0,048*
2 Berpindah (moving) 32,30 42,30 p = 0,018*
3 Mencari makan (searching) 11,92 15,34 p = 0,057
4 Tidur (sleeping) 25,14 9,97 p = 0,005**
5 Menelisik (grooming) 10,14 5,50 p = 0,06
6 Bermain (playing) 1,14 4,75 p = 0,026*
7 Kopulasi (copulation) 1,95 3,51 p = 0,095
8 Agonistik (agonistic) 4,79 2,48 p = 0,195

Tabel 4.5. Perbandingan durasi tingkah laku harian antara alpha-male (Charles) dan
jantan subordinat (Jim) di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
No. Kategori Tingkah Laku Charles (%) Jim (%) Perbandingan (Uji t)
1 Makan (feeding) 14,00 18,20 p = 0,039*
2 Berpindah (moving) 35,20 47,00 p = 0,018*
3 Mencari makan (searching) 13,20 17,40 p = 0,056
4 Tidur (sleeping) 27,40 11,20 p = 0,005**
5 Menelisik (grooming) 11,20 6,20 p = 0,062

Aktivitas makan Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi terdapat
perbedaan yang nyata. Charles akan menjadi yang pertama dalam mendapatkan
provisioning food dari pengunjung. Peneliti mendapati kebiasaan pengunjung
memberikan makanan (provisioning food) kepada M. fascicularis di TWR Makam
Mbah Agung Karangbanar, disisi lain kebiasaan alami mereka yang memakan
makanan yang tersedia di alam (Gambar 4.2). Ilham et al. (2017) menyatakan bahwa
pemberian provisioning food (pakan yang diberikan manusia dan bukan makanan
alami dari alam) kepada M. fascicularis sangat sering dilakukan (Gruber et al., 2019;
Nasution & Rukayah, 2018), hal ini diperkuat pula oleh pernyataan Sulistyo (1996),
bahwa terdapat korelasi positif antara kehadiran pengunjung dengan tingkah laku
makan di suatu lokasi wisata, sehingga semakin banyak pengunjung ke lokasi wisata
maka waktu yang diperlukan M. fascicularis untuk makan semakin banyak.

16
Gambar 4.2. Charles sedang memakan makanan yang diberi pengunjung (kiri,
tengah) dan Jim sedang makan daun di atas pohon (kanan).
Aktivitas berpindah Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi terdapat
perbedaan yang nyata. Menurut Sulistyo (1996) aktivitas tertinggi M. fascicularis
jantan dewasa lebih banyak berpindah tempat, hal ini dikarenakan erat kaitannya
dengan kondisi habitat M. fascicularis dan kehadiran pengunjung. Kondisi TWR
Makam Mbah Agung Karangbanar banyak sekali makam-makam dan merupakan
tempat wisata religi, sehingga kebiasaan alpha-male lebih sering berpindah dari satu
makam ke makam lain atau berusaha di sekitar kehadiran pengunjung untuk berebut
mendapatkan makanan dari pengunjung (provisioning food) dalam kompetisinya
dengan individu subordinat. Aktivitas berpindah Charles dengan Jim dapat dilihat
pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Charles (kiri) dan Jim (kanan) sedang berjalan.


Aktivitas mencari makan Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi tidak
terdapat perbedaan yang nyata. Menurut Jawadi & Rita (2019), ketika alpha-male
dengan kelompoknya baru saja selesai makan, alpha-male beserta kelompoknya
(termasuk individu subordinat) akan mencari makanan lainnya hingga menjelajahi
lokasi wisata demi mendapatkan makanan lainnya tersebut. Aktivitas mencari makan
Charles dengan Jim dapat dilihat dalam Gambar 4.4.
17
Gambar 4.4. Charles (kiri) sedang mencari makan di semak-semak dan Jim (kanan)
bersama dua individu anakan sedang mencari makan bersama.
Aktivitas tidur Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi terdapat perbedaan
yang sangat nyata. Jawadi & Rita (2019) melaporkan kebiasaan tidur alpha-male
dengan cara duduk dan berdiam diri di tanah, di bawah pepohonan atau di pohon
tidur ketika tengah hari, sepulang dari penjelajahannya di siang hari, dan menjelang
petang. Tingkah laku tidur sering dijumpai pada tengah hari untuk alpha-male
sembari menghabiskan waktunya berdiam di atas atau bawah pohon yang rindang.
Charles sebagai alpha-male, ketika siang hari lebih banyak digunakan waktunya
untuk tidur daripada aktivitas lainnya, sedangkan Jim sebagai individu subordinat
ketika siang hari lebih banyak menghabiskan waktunya untuk aktivitas lain dan
jarang menampakkan aktivitas tidur selama peneliti melakukan pengamatan.
Aktivitas tidur Charles dengan Jim dapat dilihat pada Gambar 4.5.

Gambar 4.5. Charles sedang tidur ketika mendapatkan grooming dari individu betina
dewasa (kiri) dan Jim sedang tidur di pohon tidur (kanan).
Aktivitas menelisik (grooming) Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi
tidak terdapat perbedaan yang nyata, hal ini berbeda dengan penelitian Hidayat et al.
(2019) yang dilaksanakan di Gunung Meru, Padang, Sumatera Barat, mereka
melaporkan total frekuensi grooming untuk individu alpha-male lebih tinggi

18
dibandingkan individu dengan ranking lebih rendah, karena alpha-male
mendapatkan jumlah pasangan grooming yang paling banyak di antara individu lain
dengan strata sosial di bawahnya (subordinat). Hidayat et al. (2019) melaporkan
jumlah pasangan grooming individu alpha-male sebanyak 11 pasangan dari total 17
individu jantan dewasa. Lee et al. (2012) dan Mishra et al. (2020) menyatakan
bahwa tingkah laku menelisik (grooming) sering dijumpai pada pasangan jantan-
betina M. fascicularis dengan sang jantan menerima grooming dari betina (received
grooming-services) (Gambar 4.5 bagian kiri), hal ini bertujuan untuk menjaga
hubungan sosial dalam kelompok. Saputra et al. (2014) membuktikan apabila ukuran
kelompok berjumlah besar maka aktivitas grooming cenderung jarang atau sedikit
dilakukan. Terbukti pada kelompok Jona di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
jumlah total anggota kelompok M. fascicularis sebanyak 73 individu. Jim sebagai
individu subordinat lebih sering teramati melakukan auto-grooming pada dirinya
sendiri (Gambar 4.6).

Gambar 4.6. Jim sedang melakukan auto-grooming pada pahanya.


Frekuensi aktivitas bermain Charles dengan Jim terdapat perbedaan yang nyata,
ini membuktikan bahwa Charles sangat jarang melakukan aktivitas bermain
dibandingkan Jim, hal ini dikarenakan umur yang sudah tua dan bermain lebih sering
dilakukan individu bayi atau anakan. Hambali et al. (2012) menyatakan bahwa
bermain lebih banyak dilakukan individu bayi (infants) dan anakan (juvenile).
Bermain merupakan usaha dalam kompetisi sosial. Aktivitas bermain dilakukan
anakan M. fascicularis ketika perkembangan umurnya sedang dalam puncak
keaktifannya untuk belajar (learning) dalam hidup berkelompok. Beberapa individu
dewasa memang terlihat sesekali bermain, karena kegiatan yang termasuk bermain
antara lain interaksi dua individu yang saling memukul, saling kejar-mengejar,

19
mengayunkan diri dari ranting ke ranting, bermain dengan obyek tertentu,
mengeluarkan ekspresi wajah yang mengejek ke salah satu individu lain, bermain-
main air, dan memainkan ekornya ke individu lain sebagai bentuk permainan
bersama. Individu juvenile setelah mulai dibebaskan dari parental care oleh
induknya, ia akan berusaha untuk belajar (learning) mengetahui hal baru, salah
satunya dengan cara bermain, seperti yang terlihat pada Jim (Gambar 4.7) yang
sedang bermain dengan individu juvenile.

Gambar 4.7. Jim sedang bermain dengan individu anakan.


Bermain merupakan aktivitas yang anakan primata sering lakukan dalam
mempelajari sesuatu, khususnya kepada lawan individunya ketika aktivitas bermain
dilakukan. Bentuk aktivitas bermain yang ditunjukkan pada dua pasang anakan
dalam hal belajar (learning) sangat kompleks. Bentuk-bentuk aktivitas bermain
seperti saling merangkul, memukul-mukul dengan berpelukan, dan seiring dengan
perkembangan usia anakan, maka akan menunjukkan kemunduran aktivitas bermain
karena telah bertambahnya pengetahuan berdasarkan pengalaman belajar (learning)
(Maestripieri, 2012). Seperti pada Gambar 4.8, saat Charles bermain-main kulit
batang pohon sambil diduduki dengan santai.

Gambar 4.8. Charles memainkan kulit batang pohon yang ia duduki.

20
Frekuensi aktivitas seksual atau kopulasi Charles dengan Jim tidak terdapat
perbedaan yang nyata, hal ini berkaitan dengan peluang pejantan dalam reproductive
success khususnya dalam mendapatkan pasangan kawinnya, sang betina. Peneliti
mencatat jumlah individu jantan dewasa sebanyak 12 individu, sedangkan individu
betina dewasa sebanyak 14 individu. Perbandingan individu jantan dewasa dengan
betina dewasa membuat peluang mendapatkan pasangan kawin bagi individu jantan
(alpha-male dan subordinat) tidak terlalu sulit karena jumlah betina dewasa yang
lebih banyak. Menurut Girard-Buttoz et al. (2014b), individu alpha-male akan selalu
berusaha menjaga pasangan kawinnya dari individu jantan lain. Aktivitas kopulasi
Charles dan Jim dapat dilihat pada Gambar 4.9.

Gambar 4.9. Aktivitas kopulasi yang ditunjukkan Charles (kiri) dan Jim (kanan).
Frekuensi agonistik atau tingkah laku agresif Charles dengan Jim tidak terdapat
perbedaan yang nyata, hal ini berkaitan dengan peran status dominansi suatu individu
dalam kelompok. Peran individu dominan dalam kelompok (alpha-male) dalam
menjaga sumber daya sering dilengkapi dengan interaksi terhadap lawan individu
alpha-male, individu lain dengan status sosial di bawahnya melalui strategi konflik
untuk dimenangkan alpha-male. Konflik yang terjadi melalui tingkah laku agresif,
seperti dalam bentuk ancaman ekspresi muka (facial threat), ancaman suara (voice
threat), maupun berkelahi satu sama lain. Konflik tak jarang diinisiasi oleh alpha-
male agar mampu memenangkan kompetisi memperebutkan sumber daya (Overduin-
de Vries et al., 2016). Gambar 4.10 menunjukkan konflik yang diinisiasi oleh
Charles terhadap Jim ketika memperebutkan makanan.

21
Gambar 4.10. Charles yang menginisiasi konflik terhadap Jim dengan mengejar dan
mengeluarkan ancaman suara.
Adanya faktor lain selain status sosial yang mempengaruhi adanya perbedaan
tingkah laku harian antara individu dominan (alpha) dengan status sosial di
bawahnya (subordinate) dapat berupa faktor personality atau temperamen.
Temperamen dapat mempengaruhi bagaimana hewan menanggapi proses hidup
bersosial dalam kelompoknya dan mempengaruhi tingkah laku sehari-hari. Primata
rhesus seperti [Link] menunjukkan sociability of the personality
(temperamen jenis keakraban) antar individu satu sama lain (Coleman, 2012; Weiss
et al., 2011; McCowan et al., 2011; Freeman & Gosling, 2010). McCowan et al.
(2011) menyatakan bahwa monyet rhesus (seperti M. fascicularis) dewasa
menunjukkan ciri-ciri kepribadian seperti sociable (ramah), confident (percaya diri),
dan equable (tingkah laku yang konsisten). Ketiga temperamen tersebut berkorelasi
dengan kecenderungan untuk berinteraksi antar individu, kecenderungan untuk
menjadi agresif, dan kecenderungan untuk berinteraksi secara pasif yang terjadi pada
individu dominan terhadap individu lain.

22
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat perbedaan
frekuensi dan durasi tingkah laku makan, berpindah, dan tidur, sedangkan
frekuensi dan durasi mencari makan, menelisik, kopulasi, dan agonistik tidak
menunjukkan perbedaan antara alpha-male dan jantan subordinat M. fascicularis
di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar. Perbedaan tingkah laku harian
antara alpha-male dan subordinat dipengaruhi status dominansi sosial masing-
masing individu.

B. Saran
Saran penelitian lanjutan peneliti berharap dapat diteliti mengenai
bagaimana cara masing-masing individu melakukan aktivitas beserta pasangan
interaksinya dengan penambahan beberapa kategori aktivitas seperti
kewaspadaan (vigilance), intervensi, dan bersuara (calling) perlu dibandingkan
antara alpha-male dan subordinate.

23
DAFTAR PUSTAKA

Altmann, J., 1974. Observational Study of Behavior: Sampling Methods. Behaviour,


49(3–4), pp.227–266.

Anderson, J.A. & Kinnally, E.L., 2020. Behavioral mimicry predicts social favor in
adolescent rhesus macaques (Macaca mulatta). Primates, pp.1–9.

Chatpiyaphat, K. & Boonratana, R., 2013. A previously unreported long-tailed


macaque (Macaca fascicularis) population in Bangkok, Thailand. Asian
Primates Journal, 3(1), pp.24–28.

Coleman, K., 2012. Individual differences in temperament and behavioral


management practices for nonhuman primates. Applied Animal Behaviour
Science, 138(1–2), pp.106–113.

Freeman, H.D. & Gosling, S.D., 2010. Personality in nonhuman primates: A review
and evaluation of past research. American Journal of Primatology, 72(8),
pp.653–671.

Gerber, L., Krützen, M., de Ruiter, J.R., van Schaik, C.P. & van Noordwijk, M.A.,
2016. Postdispersal nepotism in male long-tailed macaques (Macaca
fascicularis). Ecology and Evolution, 6(1), pp.46–55.

Girard-Buttoz, C., Heistermann, M., Rahmi, E., Marzec, A., Agil, M., Fauzan, P.A.
& Engelhardt, A., 2014. Mate-guarding constrains feeding activity but not
energetic status of wild male long-tailed macaques (Macaca fascicularis).
Behavioral Ecology and Sociobiology, 68(4), pp.583–595.

Gothard, K.M., Erickson, C.A. & Amaral, D.G., 2004. How do rhesus monkeys
(Macaca mulatta) scan faces in a visual paired comparison task? Animal
Cognition, 7(1), pp.25–36.

Gruber, T., Luncz, L., Mörchen, J., Schuppli, C., Kendal, R.L. & Hockings, K.,
2019. Cultural change in animals: a flexible behavioural adaptation to human
disturbance. Palgrave Communications, 5(1), pp.1–9.

Gursky-Doyen, S. & Supriatna, J., 2010. Indonesian Primates. Developments in


Primatology: Progress and Prospects. New York: Springer Science.

Hambali, K., Ismail, A. & Md-zain, B.M., 2012. Daily Activity Budget of Long-
tailed Macaques (Macaca fascicularis) in Kuala Selangor Nature Park.
International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS, 12(04),
pp.47–52.

Hidayat, A., Rizaldi, R. & Nurdin, J., 2019. Jaringan Sosial (Social Network) Antar
Jantan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di Gunung Meru, Padang,
Sumatera Barat. Jurnal Biologi UNAND, 7(1), pp.14–20.

Ilham, K., Rizaldi, Nurdin, J. & Tsuji, Y., 2017. Status of urban populations of the
long-tailed macaque (Macaca fascicularis) in West Sumatra, Indonesia.
24
Primates, 58(2), pp.295–305.

Jacobus, S. & Loy, J., 1981. The grimace and gecker: A submissive display among
patas monkeys. Primates, 22(3), pp.393–398.

Jawadi, F. & Rita, R.R.N.D., 2019. Studi Perilaku Individu Jantan Alfa Monyet Ekor
Panjang (Macaca fascicularis) di TWA Gunung Pengsong Kabupaten Lombok
Barat. Jurnal Silva Samalas, 2(1), pp.39–46.

Karimullah & Anuar, S., 2012. The dominant species of monkeys (Macaca
fascicularis) in northern region of peninsular Malaysia. Pakistan Journal of
Zoology, 44(6), pp.1567–1574.

Lee, G.H., Thom, J.P., Chu, K.L. & Crockett, C.M., 2012. Comparing the relative
benefits of grooming-contact and full-contact pairing for laboratory-housed
adult female Macaca fascicularis. Applied Animal Behaviour Science, 138(1–
2), pp.157–165.

Lekagul, B. & McNeely, J.A., 1977. Mammals of Thailand: The Conservation of


Wildlife. Bangkok: Scharnbhat Co.

Liebal, K., Waller, B.M., Burrows, A.M. & Slocombe, K.E., 2012. Primate
communication: A multimodal approach. Primate Communication: A
Multimodal Approach. Cambridge: Cambridge University Press.

Luncz, L. V., Svensson, M.S., Haslam, M., Malaivijitnond, S., Proffitt, T. & Gumert,
M., 2017. Technological Response of Wild Macaques (Macaca fascicularis) to
Anthropogenic Change. International Journal of Primatology, 38(5), pp.872–
880.

Maestripieri, D., 2012. Games Primates Play. New York: Basic Books.

McCowan, B., Beisner, B.A., Capitanio, J.P., Jackson, M.E., Cameron, A.N., Seil, S.,
Atwill, E.R. & Fushing, H., 2011. Network stability is a balancing act of
personality, power, and conflict dynamics in rhesus macaque societies. PLoS
ONE, 6(8).

Mishra, P.S., Pal, A., Velankar, A.D., Kumara, H.N., Singh, M. & Cooper, M., 2020.
Does rank rule? Rank-related grooming patterns in Nicobar long-tailed
macaques Macaca fascicularis umbrosus. Primates, 61(3), pp.443–453.

Nasution, E.K. & Rukayah, S., 2018. Daily Activities of Long Tail Monkeys
(Macaca fascicularis Raffles) in Cikakak Tourist Resort Wangon Banyumas (a
Conservation Effort). In: The SEA+ Conference on Biodiversity and
Biotechnology 2018. pp.1–5.

Overduin-de Vries, A.M., Bakker, F.A.A., Spruijt, B.M. & Sterck, E.H.M., 2016.
Male long-tailed macaques (Macaca fascicularis) understand the target of
facial threat. American journal of primatology, 78(7), pp.720–730.

Overduin-de Vries, A.M., Olesen, C.U., de Vries, H., Spruijt, B.M. & Sterck,

25
E.H.M., 2013. Sneak copulations in long-tailed macaques (Macaca
fascicularis): No evidence for tactical deception. Behavioral Ecology and
Sociobiology, 67(1), pp.101–111.

Ratnasari, S., 2018. Studi Perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di
Taman Wisata Alam Surandi Lombok Barat. Skripsi. Mataram: Universitas
Islam Negeri Mataram.

Rizaldi & Watanabe, K., 2008. Successive aggression: Another pattern of polyadic
aggressive interactions in a captive group of Japanese macaques. American
Journal of Primatology, 70(4), pp.349–355.

Rizaldi & Watanabe, K., 2010. Early development of peer dominance relationships
in a cap-tive group of Japanese macaques Macaca fuscata. Current Zoology,
56(2), pp.190–197.

Rowe, N. & Myers, M., 2016. All the World’s Primates. Rhode Island: Pogonias
Press.

Saputra, A., Marjono, M., Puspita, D. & Suwarno, S., 2015. Studi Perilaku Populasi
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Grojogan
Sewu Kabupaten Karanganyar. Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi, 1(1),
pp.6–11.

Saputra, K.G.W., Watiniasih, N.L. & Ginantra, I.K., 2014. Aktivitas Harian Kera
Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Sangeh,
Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Biologi Udayana, 18(1), pp.14–18.

Schapiro, S.J., 2017. Handbook of Primate Behavioral Management. Boca Raton:


CRC Press.

Setiawan, A., Kanedi, M., Rustiati, E.L. & Panjaitan, R.H.P., 2013. Karakteristik
Pohon untuk Tidur Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Kawasan
Youth Camp Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung. Jurnal
Ilmiah: Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati, 1(1), pp.40–43.

Strier, K.B., 2017. Primate Behavioral Ecology. 5th ed. Taylor and Francis. New
York: Routledge.

Sulistyo, E., 1996. Pengaruh Pengunjung Terhadap Pola Perilaku Harian Monyet
Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles) di Taman Wisata Tawangmangu
Karanganyar. Skripsi. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.

Supriatna, J. & Wahyono, E.H., 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia.


Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Suwarno, S., 2014. Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) di Pulau Tinjil. Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP
UNS 2014.

Utami, A.T., 2019. Implementasi Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process,

26
Product) Pada Pelaksaanaan Kegiatan Family Development Session (FDS)
Program Keluarga Harapan (PKH) Di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen.
Skripsi. Purwokerto: Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.

Weiss, A., King, J.E. & Murray, L., 2011. Personality & Temperament in Nonhuman
Primates.

Whitehead, H., 2009. SOCPROG programs: Analysing animal social structures.


Behavioral Ecology and Sociobiology, 63(5), pp.765–778.

Willyanti, F., 2010. Perilaku Harian Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelli)
Akibat Adanya Aktivitas Ekowisata Manusia di Pusat Pengamatan Orangutan
Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser. Skripsi. Medan:
Universitas Sumatera Utara.

27
LAMPIRAN

Lampiran 1. Spesifikasi peralatan dan bahan penelitian


Spesifikasi Peralatan
No. Nama Alat Merek/Tipe Kegunaan Tempat
1. Teropong Binocular Melihat obyek Lab. Ekologi
binokuler Bushnell jarak jauh
Powerview
10x50
2. GPS tracker Garmin eTrex Melacak lokasi Lab. Ekologi
30 berdasarkan
satelit GPS dan
GLONASS
3. Altimeter Barigo-Model- Membaca Lab. Ekologi
44 Digital ketinggian suatu
Altimeter tempat hingga
9000 meter di
atas permukaan
laut, kecepatan
angin, suhu
udara
4. Thermo- TFA 45.2007 Mengukur suhu Lab. Ekologi
gygrometer Analog dan kelembapan
Thermo- udara secara
Hygrometer manual
5. Kamera Xiaomi Mi Mengambil Pribadi
Mix 2 gambar dan
video
6. Tripod Tripod 3120A Mengontrol Pribadi
sudut
pengambilan foto
7. Hand Joyko HC-5 Menghitung Lab. Ekologi
counter jumlah individu
8. Jam tangan Amazfit Mengetahui Pribadi
Stratos waktu terkini
9. Lembar - Mencatat data Pribadi
pengamatan hasil pengamatan
di lapangan
10. Alat tulis - Membantu Pribadi
mencatat data
hasil pengamatan
pada lembar
pengamatan
11. Google Google, Inc. Mengambil foto [Link]
Maps citra satelit lokasi
12. Google Google, Inc. Mengambil data [Link]
Earth geospasial
13. SPSS Version 16 Mengolah Pribadi
pengujian
statistik
14. SOCPROG Version 2.9 Mengolah data (Whitehead,
sosiometri 2009)
28
Spesifikasi Bahan
No. Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan
1. Kacang Kacang goreng Umpan makanan
2. Pisang raja Musa acuminata × Umpan makanan
Musa balbisiana
3. Pisang kapok Musa acuminata × Umpan makanan
Musa balbisiana var. Silk

29
Lampiran 2. Hasil Uji t dengan SPSS
T-Test Frek Makan
Group Statistics

Std. Error
Hierarki N Mean Std. Deviation Mean

Charles - Jim 1 10 15.70 8.274 2.616

2 10 23.50 8.182 2.587

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


variances .145 .708 -2.120 18 .048 -7.800 3.680 -15.531 -.069
assumed

Equal
variances
-2.120 17.998 .048 -7.800 3.680 -15.531 -.069
not
assumed

30
T-Test Frek Berpindah Tempat
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles - Jim 1 10 39.70 19.143 6.054

2 10 61.50 18.295 5.786

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


-
variances .023 .881 -2.603 18 .018 -21.800 8.374 -39.392
4.208
assumed

Equal
variances -
-2.603 17.963 .018 -21.800 8.374 -39.395
not 4.205
assumed

31
T-Test Frek Mencari Makan
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles - Jim 1 10 14.70 7.903 2.499

2 10 22.30 8.769 2.773

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


variances .001 .971 -2.036 18 .057 -7.600 3.733 -15.443 .243
assumed

Equal
variances 17.8
-2.036 .057 -7.600 3.733 -15.449 .249
not 09
assumed

32
T-Test Frek Tidur
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles - Jim 1 10 31.00 13.832 4.374

2 10 14.50 7.576 2.396

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


variances 4.842 .041 3.308 18 .004 16.500 4.987 6.022 26.978
assumed

Equal
variances 13.9
3.308 .005 16.500 4.987 5.800 27.200
not 53
assumed

33
T-Test Frek Menelisik
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles - Jim 1 10 12.50 5.543 1.753

2 10 8.00 4.397 1.390

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


variances .566 .462 2.011 18 .060 4.500 2.237 -.200 9.200
assumed

Equal
variances
2.011 17.114 .060 4.500 2.237 -.218 9.218
not
assumed

34
T-Test Frek Bermain
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles - Jim 1 10 1.40 1.350 .427

2 10 6.90 6.506 2.057

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


variances 9.024 .008 -2.618 18 .017 -5.500 2.101 -9.914 -1.086
assumed

Equal
variances
-2.618 9.774 .026 -5.500 2.101 -10.196 -.804
not
assumed

35
T-Test Frek Kopulasi
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles - Jim 1 10 2.40 2.066 .653

2 10 5.10 4.383 1.386

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles - Jim Equal


variances 3.633 .073 -1.762 18 .095 -2.700 1.532 -5.919 .519
assumed

Equal
variances
-1.762 12.810 .102 -2.700 1.532 -6.015 .615
not
assumed

36
T-Test Frek Agonistik
Group Statistics

Hirarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Agonistik 1 10 5.90 5.043 1.595

2 10 3.60 1.955 .618

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Agonistik Equal
variances 4.111 .058 1.345 18 .195 2.300 1.710 -1.293 5.893
assumed

Equal
variances
1.345 11.645 .204 2.300 1.710 -1.439 6.039
not
assumed

37
T-Test Durasi Makan
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles-Jim 1 10 926.30 479.471 151.622

2 10 1408.20 491.003 155.269

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles-Jim Equal
variances .077 .785 -2.221 18 .039 -481.900 217.020 -937.842 -25.958
assumed

Equal
variances
-2.221 17.990 .039 -481.900 217.020 -937.860 -25.940
not
assumed

38
T-Test Durasi Berpindah
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles-Jim 1 10 2376.90 1147.783 362.961

2 10 3687.10 1097.812 347.159

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles-Jim Equal
variances .023 .882 -2.609 18 .018 -1310.200 502.255 -2365.398 -255.002
assumed

Equal
variances
-2.609 17.964 .018 -1310.200 502.255 -2365.548 -254.852
not
assumed

39
T-Test Durasi Mencari Makan
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles-Jim 1 10 879.60 473.826 149.837

2 10 1336.70 525.206 166.085

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles-Jim Equal
variances .001 .971 -2.043 18 .056 -457.100 223.686 -927.046 12.846
assumed

Equal
variances
-2.043 17.813 .056 -457.100 223.686 -927.401 13.201
not
assumed

40
T-Test Durasi Tidur
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles-Jim 1 10 1854.10 830.855 262.740

2 10 868.90 454.104 143.600

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles-Jim Equal
variances 4.897 .040 3.290 18 .004 985.200 299.421 356.139 1614.261
assumed

Equal
variances
3.290 13.936 .005 985.200 299.421 342.730 1627.670
not
assumed

41
T-Test Durasi Menelisik
Group Statistics

Hierarki N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Charles-Jim 1 10 746.80 332.845 105.255

2 10 479.90 263.565 83.347

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper

Charles-Jim Equal
variances .558 .465 1.988 18 .062 266.900 134.258 -15.166 548.966
assumed

Equal
variances
1.988 17.101 .063 266.900 134.258 -16.232 550.032
not
assumed

42
Lampiran 3. Foto-foto kegiatan

Gambar 1. Jim berusaha mendapatkan makanan yang diberi pengunjung dengan


berebut mengejar individu lain yang di dekatnya

43
BIODATA PENULIS
Rosyid Ridlo Al Hakim, lahir di Banyumas, 10 Maret 1997
anak dari pasangan Abdul Hakim dan Uswatun Khasanah.
Pendidikan SD hingga SMA di Kota Purwokerto dan lulus
SMA tahun 2016, kemudian melanjutkan studi di STMIK
Widya Utama lulus tahun 2020 dan studi Biologi di Fakultas
Biologi Unsoed lulus tahun 2021. Pengalaman organisasi
antara lain tergabung dalam kepengurusan Sahabat Beasiswa
(SB) Chapter Purwokerto selama 1 tahun, Pusat Informasi
Konseling-Remaja (PIK-R) Aksiologi FISIP Unsoed selama 1
tahun, Biology English Society (BESt) Fakultas Biologi
selama 2 tahun, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Seigokan Unsoed selama 2
tahun, dan Riset & Kajian Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Indonesia selama 2
tahun. Prestasi yang pernah diraih adalah Delegasi Fakultas Biologi pada Asean
Network 2017 “Peace, Democracy, and Culture” yang diselenggarakan oleh
KOMAHI FISIP Unsoed, Medali Perunggu Kumite -55 Kg Putra pada “Pekan
Olahraga Mahasiswa (POM) Rayon III 2019” di Tegal, Medali Emas Atletik 400 M
pada “PORFABI 2019” UKM Biosport Fakultas Biologi Unsoed, Medali Perak Kata
Beregu Putra pada Open Karate Championship “DEKAN CUP VI 2020” di
Purwokerto, Medali Perunggu Kumite -60 Kg Putra pada Open Karate
Championship “DEKAN CUP VI 2020” di Purwokerto. Beasiswa yang pernah diarih
adalah Google Faculty Development Program 2019 oleh Google Indonesia dan
Dicoding, dan awardee Penghargaan Prestasi Non-akademik (Olahraga dan Seni)
2020 oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Selama 2 semester terakhir,
penulis juga bekerja paruh waktu pada Penerbit CV. Megalitera. Profil Researchgate
dapat dilihat pada [Link]

Purwokerto, 28 Februari 2021

Penulis

44

View publication stats

Anda mungkin juga menyukai