Tingkah Laku Alpha-male Monyet Ekor Panjang
Tingkah Laku Alpha-male Monyet Ekor Panjang
net/publication/350043594
CITATIONS READS
2 341
3 authors:
Rizaldi Rizaldi
Universitas Andalas
39 PUBLICATIONS 184 CITATIONS
SEE PROFILE
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
All content following this page was uploaded by Rosyid Ridlo Al Hakim on 29 April 2021.
SKRIPSI
Mengetahui,
Dekan Fakultas Biologi
Universitas Jenderal Soedirman
ii
SURAT PERNYATAAN
iii
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis mengambil topik tentang
“Perbandingan Tingkah Laku Harian Alpha-male Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) dengan Jantan Lain Di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar”.
Kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. [Link].
Imam Widhiono M.Z., M.S., selaku Dekan Fakultas Biologi Universitas Jenderal
Soedirman yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini. Ucapan
terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dra. Erie Kolya Nasution, [Link]. selaku
pembimbing I dan Dr. Rizaldi, [Link]. selaku pembimbing II yang telah mengarahkan
dan memberi masukan selama penyusunan skripsi ini, dan untuk Orang tuaku,
Adikku, Kakek-Nenekku, Dian, Pandu, Tegar “Mamang”, Iqbal, Sribud, Nadhilla
serta semua pihak yang telah berkontribusi baik dalam penelitian maupun
penyusunan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan
sumbangsih pengembangan khazanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang
Etologi dan Primatologi.
Penulis
iv
DAFTAR ISI
PRAKATA ............................................................................................................. iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... ix
DAFTAR RUMUS ................................................................................................. x
RINGKASAN ........................................................................................................ xi
SUMMARY ............................................................................................................ xii
I. PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Tujuan ....................................................................................................... 2
C. Manfaat ..................................................................................................... 2
II. TELAAH PUSTAKA .................................................................................... 3
A. Morfologi dan Klasifikasi Macaca fascicularis ....................................... 3
B. Tingkah Laku Macaca fascicularis .......................................................... 4
III. METODE PENELITIAN .............................................................................. 7
A. Waktu dan Tempat .................................................................................... 7
B. Deskripsi Lokasi Penelitian ...................................................................... 7
C. Alat dan Bahan yang Digunakan .............................................................. 8
D. Deskripsi Kelompok Hewan Subjek ......................................................... 8
E. Metode Penelitian Tingkah Laku .............................................................. 8
1. Kategori Tingkah Laku Harian ............................................................ 9
2. Cara Kerja Penelitian ......................................................................... 10
a. Menentukan Individu Alpha-male dan Jantan Subordinat ............. 10
b. Pengumpulan Data Hewan Focal ................................................... 11
3. Analisis Data ...................................................................................... 11
F. Bagan Alir ............................................................................................... 13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 14
V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 23
A. Kesimpulan ............................................................................................. 23
B. Saran........................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 24
v
LAMPIRAN .......................................................................................................... 28
Lampiran 1. Spesifikasi peralatan dan bahan penelitian ............................. 28
Lampiran 2. Hasil Uji t dengan SPSS .......................................................... 30
Lampiran 3. Foto-foto kegiatan ................................................................... 43
BIODATA PENULIS ........................................................................................... 44
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Monyet Ekor Panjang (M. fascicularis) jantan muda (kiri) dan alpha-
male yang sedang menerima grooming dari betina dewasa (kanan) di
TWR Makam Mbah Agung Karangbanar............................................... 3
Gambar 3.1. Peta lokasi penelitian................................................................................7
Gambar 4.1. Ekspresi wajah mengancam (facial threat) disertai ancaman suara
(voice threat) dari Charles ketika Jim berupaya mengambil umpan
kemudian Jim menghindar dengan cepat...............................................15
Gambar 4.2. Charles sedang memakan makanan yang diberi pengunjung (kiri,
tengah) dan Jim sedang makan daun di atas pohon (kanan) ................. 17
Gambar 4.3. Charles (kiri) dan Jim (kanan) sedang berjalan......................................17
Gambar 4.4. Charles (kiri) sedang mencari makan di semak-semak dan Jim (kanan)
bersama dua individu anakan sedang mencari makan bersama.............18
Gambar 4.5. Charles sedang tidur ketika mendapatkan grooming dari individu
betina dewasa (kiri) dan Jim sedang tidur di pohon tidur (kanan).........18
Gambar 4.6. Jim sedang melakukan auto-grooming pada pahanya............................19
Gambar 4.7. Jim sedang bermain dengan individu anakan.........................................20
Gambar 4.8. Charles memainkan kulit batang pohon yang ia duduki.........................20
Gambar 4.9. Aktivitas kopulasi yang ditunjukkan Charles (kiri) dan Jim (kanan).....21
Gambar 4.10. Charles yang menginisiasi konflik terhadap Jim dengan mengejar
dan mengeluarkan ancaman suara..........................................................22
viii
DAFTAR LAMPIRAN
ix
DAFTAR RUMUS
x
RINGKASAN
Kata kunci: alpha-male, Macaca fascicularis, strata sosial, tingkah laku harian,
TWR Karangbanar.
xi
SUMMARY
xii
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan spesies primata
yang memiliki organisasi sosial dalam hidup berkelompok. Organisasi sosial
terdiri atas banyak jantan dan banyak betina (multi-male, multi-female) dengan
proporsi usia dan jenis kelamin yang bervariasi (Gursky-Doyen & Supriatna,
2010; Rowe & Myers, 2016; Strier, 2017). Setiap individu memiliki strata sosial
dengan dominansi paling tinggi ditempati oleh satu individu jantan dewasa
(alpha-male). Dominansi hierarki berperan penting dalam mencegah eskalasi
tingkah laku agresif sehingga keutuhan hidup berkelompok dapat dipertahankan.
Individu dominan akan mendapatkan akses lebih utama terhadap sumber daya
dibandingkan subordinat. Status dominan pada jantan sering kali berkorelasi
positif dengan frekuensi kopulasi, selain itu, bagi individu jantan M. fascicularis
memiliki akses lebih mudah terhadap makanan, sehingga dominansi hierarki
sering kali dikaitkan dengan kesuksesan reproduksi (reproductive success)
(Gursky-Doyen & Supriatna, 2010; Rowe & Myers, 2016).
Individu alpha-male dan beta-male memiliki perbedaan pada dominansi
tingkah laku dan akses sumber daya. Alpha-male menunjukkan dominasi yang
signifikan untuk tingkah laku agonistik, kopulasi, menggoyang-goyangkan
ranting pohon, bergerak, ditelisik (grooming) individu lain, tindakan menyerang
individu lain dan melindungi individu lain, apabila dibandingkan dengan beta-
male (Karimullah & Anuar, 2012). Alpha-male dapat mengontrol interaksi
agresif yang terjadi dalam kelompok melalui intervensi, namun tidak
memberikan support kepada individu dominan atau subordinat secara konsisten,
di samping menjaga hubungan antar individu dalam kelompok, alpha-male juga
berperan dalam menjaga kelompoknya dari ancaman yang datang dari luar.
Ancaman dari luar kelompok sering kali datang dari kelompok lain ataupun dari
spesies lain. Alpha-male akan berada di posisi depan dalam menghadapi
gangguan dengan memberikan alarm call atau menyerang (Schapiro, 2017).
Alpha-male sering kali menerima grooming dari betina-betina dewasa dan
mampu menguasai betina yang siap kawin dalam kelompoknya (Hidayat et al.,
2019; Rowe & Myers, 2016). Mengingat peran sosial individu alpha-male di
dalam kelompok yang berbeda dengan individu lain, maka diasumsikan akan
1
terjadi perbedaan tingkah laku harian antara alpha-male dengan individu jantan
lain yang memiliki dominansi lebih rendah dalam kelompok, oleh karena itu
perlu dilakukan penelitian tingkah laku untuk membandingkan pola tingkah laku
harian alpha-male dengan jantan lain di dalam kelompok yang sama.
Taman Wisata Religi (TWR) Makam Mbah Agung (Makam Keramat)
Karangbanar berada di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten
Banyumas, Provinsi Jawa Tengah (Utami, 2019) yang merupakan kawasan
wisata yang memiliki vegetasi hutan yang dihuni oleh kelompok M.
fascicularis. Kondisi demikian akan memberikan kemudahan dalam pengamatan
tingkah laku mereka, oleh karena itu, penelitian ini akan dilakukan di Taman
Wisata Religi (TWR) Makam Mbah Agung Karangbanar, Desa Kalisalak,
Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
B. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkah laku harian
alpha-male monyet ekor panjang (M. fascicularis) dengan jantan lain dalam
kelompoknya di Taman Wisata Religi (TWR) Makam Mbah Agung (Makam
Keramat) Karangbanar, Kalisalak, Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa
Tengah.
C. Manfaat
Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan pemahaman tentang peran
sosial individu alpha-male M. fascicularis di dalam kelompoknya, dan
pengelolaan populasi, translokasi, serta bentuk-bentuk pengelolaan lainnya.
2
II. TELAAH PUSTAKA
Gambar 1.1. Monyet Ekor Panjang (M. fascicularis) jantan muda (kiri) dan
alpha-male yang sedang menerima grooming dari betina dewasa
(kanan) di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar (Sumber:
Dokumentasi pribadi).
Jenis M. fascicularis berbeda dengan Macaca lainnya dari ukuran tubuh dan
ekor. Ukuran tubuh relatif lebih kecil, sementara ekor M. fascicularis lebih
panjang dari tubuhnya. Bagian pantat terdapat bantalan (ischial callosities) yaitu
kulit keras ciri khas dari Familia Cercopithecidae, berguna untuk melindungi dan
menjaga keseimbangan ketika duduk dalam waktu lama di percabangan pohon
(Sulistyo, 1996). Klasifikasi M. fascicularis menurut Lekagul & McNeely
(1977) yakni Kelas Mammalia; Sub Kelas Eutherina; Ordo Primata; Sub ordo
Anthropoidea; Familia Cercopithecidae; Sub-Famili Cercopithecinae; Genus
Macaca; Spesies Macaca fascicularis Raffles.
3
B. Tingkah Laku Macaca fascicularis
Kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terdiri atas beberapa
jantan dan betina dewasa, jantan dan betina pra-dewasa, jantan dan betina
remaja, dan bayi (infants) (Karimullah & Anuar, 2012), satu kelompoknya
terdiri atas banyak jantan dan betina dewasa. Besar kecilnya kelompok
tergantung kehadiran predator atau kelimpahan sumber pakan di alam. Jenis
pergerakan M. fascicularis umumnya dikategorikan quadrupedal dengan
kategori berjalan menggunakan keempat anggota badannya. M. fascicularis juga
dapat memanjat dan melompat (leaping) hingga 5 meter jauhnya. M. fascicularis
juga dapat berenang dengan baik. Jelajah harian M. fascicularis mencapai lebih
dari 1,500 meter dan luas daerah jelajahnya bervariasi mulai dari 10-80 hektar di
daerah hutan primer, dan 125 hektar di daerah hutan bakau. M. fascicularis
bersifat diurnal, aktif ketika matahari terbit hingga terbenam, pada siang hari
sering kali digunakan untuk tidur dan bermain untuk individu anakan. M.
fascicularis memilih pohon yang tumbuh di dekat sungai untuk digunakan
sebagai pohon tidur. Tidurnya berkelompok pada satu pohon atau pohon lain
yang saling berdekatan (Rowe & Myers, 2016; Setiawan et al., 2013; Supriatna
& Wahyono, 2000; Suwarno, 2014).
Interaksi antar sesama individu dalam kelompok dari spesies yang sama
(intraspesifik) akan membentuk hubungan sosial (social relationships).
Hubungan sosial pada monyet Jepang (Macaca fuscata) yang memiliki
kekerabatan yang dekat dengan M. fascicularis dapat dilihat dalam bentuk
dominansi hierarki, kompetisi, koalisi agresif dan alliance (Rizaldi & Watanabe,
2008). Interaksi untuk membangun hubungan sosial tersebut dalam kelompok
Macaca mulai muncul dari usia beberapa bulan sejak kelahirannya. Hubungan
tersebut akan terus berkembang lebih kompleks seiring pertambahan usia,
kecakapan sosial (social skills), dan dinamika yang terjadi dalam kelompok
(Rizaldi & Watanabe, 2010). Interaksi dipengaruhi mimikri yang ditampilkan
sehingga mempengaruhi tingkah lakunya (Anderson & Kinnally, 2020).
Tingkah laku sosial berlangsung dalam berbagai kegiatan, dalam tingkah
laku mencari makan, suatu kelompok dipimpin oleh individu jantan dewasa
(alpha-male) sebagai pemimpin. Alpha-male paling dominan dalam kelompok,
4
biasanya berbadan tegap dan lebih besar, memimpin kelompok dalam
menjelajah atau berpindah dan mengawasi anggota kelompok dari ancaman
predator (Sulistyo, 1996; Gerber et al., 2016). Tingkah laku M. fascicularis di
kawasan Thin Kao Khun Kala, Thailand yang terhabituasi dengan manusia
karena sudah terbiasa dengan provisiong food yang diberikan manusia, menurut
Chatpiyaphat & Boonratana (2013) beberapa individu dewasa dan remaja
dilaporkan mengalami gangguan kesehatan karena pengaruh pemberian
provisioning food dari manusia dan aktivitas tingkah laku mereka menurun
karena konsumsi pakan yang mengandung karbohidrat dan gula berlebih.
Penelitian Saputra et al. (2014) terkait aktivitas harian M. fascicularis di
TWA Sangeh, Badung, Bali menunjukkan tingkah laku yang terbiasa dengan
kehadiran manusia (jarang menampakkan agresivitas) karena pengelolaan taman
wisata yang baik. Aktivitas dominan berupa bergerak (berjalan), istirahat,
makan, menelisik, mendekap di dada, manipulasi obyek, cuddling, agresif, dan
paling jarang kawin. Penelitian M. fascicularis yang berada di kawasan budaya
religi menurut Nasution & Rukayah (2018) melaporkan bahwa tingkah laku
mereka sangat erat kaitannya dengan kegiatan budaya religi dan hubungan
antara M. fascicularis dengan pengunjung maupun masyarakat sekitar
dilaporkan sedikit agresif dengan kehadiran manusia, akibat pengaruh
pengelolaan yang kurang baik dan provisioning food.
Aktivitas dominan yang telah dilaporkan sebelumnya berupa mencari
makan 43.45% (Suwarno, 2014); tingkah laku sosial (mencari kutu, bermain,
kopulasi, agonistik) 37.93% (Jawadi & Rita, 2019); bergerak pindah 39.26%
(Ratnasari, 2018), 35% (Saputra et al., 2015), dan 25% (Saputra et al., 2014).
Nasution & Rukayah (2018) melaporkan aktivitas harian M. fascicularis jantan
dewasa di Kawasan Wisata Masjid Saka Tunggal Cikakak, Wangon, Banyumas
antara lain makan 10,24%; berpindah 21,28%; mencari makan 0%; tidur
47,28%; menelisik 7,84%; bermain 3,18%; kopulasi 6,46%; dan agonistik
3,18%. Berbeda dengan penelitian Saputra et al. (2014) yang dilaksanakan di
TWA Sangeh, Badung, Bali terkait tingkah laku harian M. fascicularis jantan
dewasa didominasi istirahat, makan, berjalan berkisar antara 20-30%, menelisik
sekitar 18%, agonistik sekitar 2-3%, dan kopulasi hanya beberapa persen.
5
Menurut Hambali et al. (2012) dalam penelitiannya mengenai tingkah laku
harian M. fascicularis di Taman Wisata Alam Kuala Selangor, Malaysia
melaporkan aktivitas dominan berupa berjalan 20,27%; makan 18,78%; istirahat
17,05%; menelisik 10,84%; bermain 10,50%; kopulasi 7,42%; dan agonistik
4,78%. Tingginya aktivitas mencari makan dikarenakan jumlah ketersediaan
sumber makanan baik alami maupun non-alami, karena M. fascicularis adalah
spesies primata yang oportunis yaitu akan berusaha mengeksploitasi sumber
pakan di sekitarnya sebanyak mungkin (Suwarno, 2014). Aktivitas tertinggi
selanjutnya yaitu berjalan, memanjat, melompat, berpindah tempat (Saputra et
al., 2015), berlari (Ratnasari, 2018), dan salah satu tingkah laku untuk penentuan
teritorial (Saputra et al., 2014).
Pengamatan aktivitas harian erat kaitannya dengan pengamatan visual.
Pengamatan visual manusia terbatas, sehingga mempengaruhi keberhasilan
pengamatan tingkah laku. Antisipasi keterbatasan pengamatan visual M.
fascicularis ketika sedang diamati dapat menggunakan bantuan kamera atau
jebakan kamera di titik-titik dekat mereka biasa berada, hal ini sudah dilakukan
untuk pengamatan tingkah laku M. fascicularis dalam memanipulasi obyek di
Taman Nasional Ao Phang-Nga, Thailand (Luncz et al., 2017).
6
III. METODE PENELITIAN
I II
8
tingkah laku harian akan dibandingkan antara alpha-male dengan jantan dewasa
lain yang memiliki strata sosial lebih rendah (subordinat).
10
b. Pengumpulan Data Hewan Focal
Individu alpha-male dan jantan subordinat telah ditentukan,
periode minggu berikutnya dilakukan pengamatan tingkah laku harian
hewan focal yaitu Charles dan Jim dalam kelompok Jona. Pemberian
makanan (provisioning food) terlebih dahulu dilakukan untuk
menemukan Charles maupun Jim, hal ini menjadikan Charles dan Jim
mudah ditemukan. Tingkah laku harian hewan focal (Charles dan Jim)
dicatat dengan metode pengamatan terus-menerus dalam interval 15-
menit per section (15-min continuous recording method).
Penelitian dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 17.00 selama 10
hari dengan total 32 section per hari pada masing-masing hewan focal.
Jumlah pengamat terdiri atas peneliti (pengamat Charles) dan satu
orang rekan (pengamat Jim). Kedua pengamat memiliki persamaan
persepsi terhadap metode dan kategori tingkah laku yang dicatat.
Apabila individu focal hilang dari pandangan ketika pengamatan
dilakukan, maka section yang belum cukup 15 menit akan dibatalkan.
Pencarian individu focal dilakukan kembali hingga seksi pengamatan
yang baru bisa dilanjutkan. Pencarian dilakukan ke tempat-tempat yang
sering dikunjungi hewan focal (Jawadi & Rita, 2019). Kondisi
pengamatan dilakukan acak terhadap jumlah kehadiran pengunjung,
karena TWR belum terlalu familier sehingga jumlah pengunjung harian
tidak menentu, peneliti pernah menjumpai hanya 3 pengunjung.
3. Analisis Data
Frekuensi masing-masing kategori tingkah laku dihitung per individu
subjek, baik alpha-male (Charles) ataupun jantan subordinat (Jim), pada
persamaan (3-1) (Willyanti, 2010).
𝐹𝑇𝐿
𝐹𝑅 (%) = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐹𝑇𝐿 𝑥 100% (3-1)
Keterangan:
FR = Frekuensi relatif kategori terhadap seluruh kategori tingkah laku (%);
FTL = Frekuensi kategori tingkah laku (kali);
Total FTL = Frekuensi total seluruh kategori tingkah laku (kali).
11
Frekuensi Relatif (FR) dibandingkan antara alpha-male (Charles)
dengan subordinat (Jim) digunakan uji t bebas (independent t-test).
Kategori tingkah laku harian yang menggunakan pengukuran durasi juga
dibandingkan antara kedua hewan focal dengan rumus Durasi Relatif
(DR). Durasi Relatif (DR) dihitung dengan persamaan (3-2).
𝐷𝑇𝐿
𝐷𝑅 (%) = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑇𝐿 (3-2)
Keterangan:
DR = Durasi relatif kategori tingkah laku terhadap seluruh kategori (%);
DTL = Durasi total kategori tingkah laku dari seluruh sesi (detik);
Total DTL = Total durasi seluruh kategori tingkah laku (detik).
Durasi Relatif (FR) dibandingkan antara alpha-male (Charles) dengan
subordinat (Jim) menggunakan uji-t bebas (independent t-test). Hipotesis
penelitian sebagai berikut.
• H0 = tidak terdapat perbedaan (frekuensi/durasi) tingkah laku harian
yang nyata antara M. fascicularis individu alpha-male dan jantan
subordinat di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar;
• H1 = terdapat perbedaan (frekuensi/durasi) tingkah laku harian yang
nyata antara M. fascicularis individu alpha-male dan jantan
subordinat di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar.
12
F. Bagan Alir
Bagan alir penelitian ini adalah sebagai berikut.
Perbandingan Tingkah Laku Harian Alpha-male Monyet Ekor Panjang (M.
fascicularis) dengan Jantan Lain Di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
Menentukan hewan focal alpha-male dan jantan dewasa subordinat secara focal-
animal sampling dengan 15min-continuous recording method
Frekuensi relatif dan durasi relatif masing-masing kategori tingkah laku harian
dibandingkan (indepdndent t-test) antara alpha male dengan jantan dewasa lain
subordinat
Terdapat perbedaan tingkah laku harian yang nyata karena status sosial masing-
masing individu
13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan Tabel 4.1 hasil sosiometri anggota jantan dewasa dalam kelompok
Jona membuktikan Charles merupakan individu alpha-male, sedangkan untuk
individu subordinat Jim. Individu Charles sering mendapatkan umpan dengan mudah
dalam pengujian bait-test (Gambar 4.1), ketika Charles menunjukkan facial threat
(raut muka mengancam) kepada individu lawannya, Jim yang menunjukkan ekspresi
wajah grimace meringis. Pengamatan submissive signal yang dikeluarkan oleh
Charles (Gambar 4.1), menunjukkan bahwa dia individu dominan atau alpha-male.
Menurut Gothard et al. (2004) dan Jacobus & Loy (1981) dalam penelitiannya
14
menyatakan bahwa sinyal submissive yang didasarkan grimace (refleks terhadap
rangsangan) menandakan individu tersebut adalah yang paling dominan dalam
kelompoknya atau disebut alpha-male. Ekspresi-ekspresi wajah ini dinilai untuk
menentukan Charles sebagai individu alpha-male (Overduin-de Vries et al., 2016;
Anderson & Kinnally, 2020; Rowe & Myers, 2016).
Gambar 4.1. Ekspresi wajah mengancam (facial threat) disertai ancaman suara
(voice threat) dari Charles ketika Jim berupaya mengambil umpan
kemudian Jim menghindar dengan cepat.
Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa Charles dominan terhadap Jim dalam
perebutan umpan. Charles tak jarang berusaha mengejar Jim dalam memperebutkan
umpan. Jim selalu mengalah atau mundur ketika Charles menunjukkan facial threat
(raut muka mengancam) disertai tingkah laku menyerang ketika umpan diberikan,
hal ini sesuai dengan pengamatan Saputra et al. (2014) bahwa tingkah laku agresif
sering dilakukan oleh individu jantan dewasa yang mendominasi kelompoknya
terhadap individu yang berstrata di bawahnya (subordinat) ketika pembagian jatah
makan. Individu jantan dewasa yang dominan secara hierarki terlihat sangat ingin
menguasai makanan terlebih dahulu dan tingkah laku agresif ini akan muncul ketika
ada individu lain yang hendak mengambil makanan ketika individu dominan sedang
makan. Tabel 4.2 memperlihatkan perbandingan frekuensi aktivitas antara Charles
dan Jim berdasarkan persamaan (1) serta hasil uji statistik independent t-test. Tabel
4.3 memperlihatkan perbandingan durasi aktivitas antara Charles dan Jim
berdasarkan persamaan (2) serta hasil uji statistik independent t-test.
15
Tabel 4.4. Perbandingan frekuensi tingkah laku harian antara alpha-male (Charles)
dan jantan subordinat (Jim) di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
No. Kategori Tingkah Laku Charles (%) Jim (%) Perbandingan (Uji t)
1 Makan (feeding) 12,73 16,16 p = 0,048*
2 Berpindah (moving) 32,30 42,30 p = 0,018*
3 Mencari makan (searching) 11,92 15,34 p = 0,057
4 Tidur (sleeping) 25,14 9,97 p = 0,005**
5 Menelisik (grooming) 10,14 5,50 p = 0,06
6 Bermain (playing) 1,14 4,75 p = 0,026*
7 Kopulasi (copulation) 1,95 3,51 p = 0,095
8 Agonistik (agonistic) 4,79 2,48 p = 0,195
Tabel 4.5. Perbandingan durasi tingkah laku harian antara alpha-male (Charles) dan
jantan subordinat (Jim) di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
No. Kategori Tingkah Laku Charles (%) Jim (%) Perbandingan (Uji t)
1 Makan (feeding) 14,00 18,20 p = 0,039*
2 Berpindah (moving) 35,20 47,00 p = 0,018*
3 Mencari makan (searching) 13,20 17,40 p = 0,056
4 Tidur (sleeping) 27,40 11,20 p = 0,005**
5 Menelisik (grooming) 11,20 6,20 p = 0,062
Aktivitas makan Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi terdapat
perbedaan yang nyata. Charles akan menjadi yang pertama dalam mendapatkan
provisioning food dari pengunjung. Peneliti mendapati kebiasaan pengunjung
memberikan makanan (provisioning food) kepada M. fascicularis di TWR Makam
Mbah Agung Karangbanar, disisi lain kebiasaan alami mereka yang memakan
makanan yang tersedia di alam (Gambar 4.2). Ilham et al. (2017) menyatakan bahwa
pemberian provisioning food (pakan yang diberikan manusia dan bukan makanan
alami dari alam) kepada M. fascicularis sangat sering dilakukan (Gruber et al., 2019;
Nasution & Rukayah, 2018), hal ini diperkuat pula oleh pernyataan Sulistyo (1996),
bahwa terdapat korelasi positif antara kehadiran pengunjung dengan tingkah laku
makan di suatu lokasi wisata, sehingga semakin banyak pengunjung ke lokasi wisata
maka waktu yang diperlukan M. fascicularis untuk makan semakin banyak.
16
Gambar 4.2. Charles sedang memakan makanan yang diberi pengunjung (kiri,
tengah) dan Jim sedang makan daun di atas pohon (kanan).
Aktivitas berpindah Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi terdapat
perbedaan yang nyata. Menurut Sulistyo (1996) aktivitas tertinggi M. fascicularis
jantan dewasa lebih banyak berpindah tempat, hal ini dikarenakan erat kaitannya
dengan kondisi habitat M. fascicularis dan kehadiran pengunjung. Kondisi TWR
Makam Mbah Agung Karangbanar banyak sekali makam-makam dan merupakan
tempat wisata religi, sehingga kebiasaan alpha-male lebih sering berpindah dari satu
makam ke makam lain atau berusaha di sekitar kehadiran pengunjung untuk berebut
mendapatkan makanan dari pengunjung (provisioning food) dalam kompetisinya
dengan individu subordinat. Aktivitas berpindah Charles dengan Jim dapat dilihat
pada Gambar 4.3.
Gambar 4.5. Charles sedang tidur ketika mendapatkan grooming dari individu betina
dewasa (kiri) dan Jim sedang tidur di pohon tidur (kanan).
Aktivitas menelisik (grooming) Charles dengan Jim baik frekuensi dan durasi
tidak terdapat perbedaan yang nyata, hal ini berbeda dengan penelitian Hidayat et al.
(2019) yang dilaksanakan di Gunung Meru, Padang, Sumatera Barat, mereka
melaporkan total frekuensi grooming untuk individu alpha-male lebih tinggi
18
dibandingkan individu dengan ranking lebih rendah, karena alpha-male
mendapatkan jumlah pasangan grooming yang paling banyak di antara individu lain
dengan strata sosial di bawahnya (subordinat). Hidayat et al. (2019) melaporkan
jumlah pasangan grooming individu alpha-male sebanyak 11 pasangan dari total 17
individu jantan dewasa. Lee et al. (2012) dan Mishra et al. (2020) menyatakan
bahwa tingkah laku menelisik (grooming) sering dijumpai pada pasangan jantan-
betina M. fascicularis dengan sang jantan menerima grooming dari betina (received
grooming-services) (Gambar 4.5 bagian kiri), hal ini bertujuan untuk menjaga
hubungan sosial dalam kelompok. Saputra et al. (2014) membuktikan apabila ukuran
kelompok berjumlah besar maka aktivitas grooming cenderung jarang atau sedikit
dilakukan. Terbukti pada kelompok Jona di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar
jumlah total anggota kelompok M. fascicularis sebanyak 73 individu. Jim sebagai
individu subordinat lebih sering teramati melakukan auto-grooming pada dirinya
sendiri (Gambar 4.6).
19
mengayunkan diri dari ranting ke ranting, bermain dengan obyek tertentu,
mengeluarkan ekspresi wajah yang mengejek ke salah satu individu lain, bermain-
main air, dan memainkan ekornya ke individu lain sebagai bentuk permainan
bersama. Individu juvenile setelah mulai dibebaskan dari parental care oleh
induknya, ia akan berusaha untuk belajar (learning) mengetahui hal baru, salah
satunya dengan cara bermain, seperti yang terlihat pada Jim (Gambar 4.7) yang
sedang bermain dengan individu juvenile.
20
Frekuensi aktivitas seksual atau kopulasi Charles dengan Jim tidak terdapat
perbedaan yang nyata, hal ini berkaitan dengan peluang pejantan dalam reproductive
success khususnya dalam mendapatkan pasangan kawinnya, sang betina. Peneliti
mencatat jumlah individu jantan dewasa sebanyak 12 individu, sedangkan individu
betina dewasa sebanyak 14 individu. Perbandingan individu jantan dewasa dengan
betina dewasa membuat peluang mendapatkan pasangan kawin bagi individu jantan
(alpha-male dan subordinat) tidak terlalu sulit karena jumlah betina dewasa yang
lebih banyak. Menurut Girard-Buttoz et al. (2014b), individu alpha-male akan selalu
berusaha menjaga pasangan kawinnya dari individu jantan lain. Aktivitas kopulasi
Charles dan Jim dapat dilihat pada Gambar 4.9.
Gambar 4.9. Aktivitas kopulasi yang ditunjukkan Charles (kiri) dan Jim (kanan).
Frekuensi agonistik atau tingkah laku agresif Charles dengan Jim tidak terdapat
perbedaan yang nyata, hal ini berkaitan dengan peran status dominansi suatu individu
dalam kelompok. Peran individu dominan dalam kelompok (alpha-male) dalam
menjaga sumber daya sering dilengkapi dengan interaksi terhadap lawan individu
alpha-male, individu lain dengan status sosial di bawahnya melalui strategi konflik
untuk dimenangkan alpha-male. Konflik yang terjadi melalui tingkah laku agresif,
seperti dalam bentuk ancaman ekspresi muka (facial threat), ancaman suara (voice
threat), maupun berkelahi satu sama lain. Konflik tak jarang diinisiasi oleh alpha-
male agar mampu memenangkan kompetisi memperebutkan sumber daya (Overduin-
de Vries et al., 2016). Gambar 4.10 menunjukkan konflik yang diinisiasi oleh
Charles terhadap Jim ketika memperebutkan makanan.
21
Gambar 4.10. Charles yang menginisiasi konflik terhadap Jim dengan mengejar dan
mengeluarkan ancaman suara.
Adanya faktor lain selain status sosial yang mempengaruhi adanya perbedaan
tingkah laku harian antara individu dominan (alpha) dengan status sosial di
bawahnya (subordinate) dapat berupa faktor personality atau temperamen.
Temperamen dapat mempengaruhi bagaimana hewan menanggapi proses hidup
bersosial dalam kelompoknya dan mempengaruhi tingkah laku sehari-hari. Primata
rhesus seperti [Link] menunjukkan sociability of the personality
(temperamen jenis keakraban) antar individu satu sama lain (Coleman, 2012; Weiss
et al., 2011; McCowan et al., 2011; Freeman & Gosling, 2010). McCowan et al.
(2011) menyatakan bahwa monyet rhesus (seperti M. fascicularis) dewasa
menunjukkan ciri-ciri kepribadian seperti sociable (ramah), confident (percaya diri),
dan equable (tingkah laku yang konsisten). Ketiga temperamen tersebut berkorelasi
dengan kecenderungan untuk berinteraksi antar individu, kecenderungan untuk
menjadi agresif, dan kecenderungan untuk berinteraksi secara pasif yang terjadi pada
individu dominan terhadap individu lain.
22
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat perbedaan
frekuensi dan durasi tingkah laku makan, berpindah, dan tidur, sedangkan
frekuensi dan durasi mencari makan, menelisik, kopulasi, dan agonistik tidak
menunjukkan perbedaan antara alpha-male dan jantan subordinat M. fascicularis
di TWR Makam Mbah Agung Karangbanar. Perbedaan tingkah laku harian
antara alpha-male dan subordinat dipengaruhi status dominansi sosial masing-
masing individu.
B. Saran
Saran penelitian lanjutan peneliti berharap dapat diteliti mengenai
bagaimana cara masing-masing individu melakukan aktivitas beserta pasangan
interaksinya dengan penambahan beberapa kategori aktivitas seperti
kewaspadaan (vigilance), intervensi, dan bersuara (calling) perlu dibandingkan
antara alpha-male dan subordinate.
23
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, J.A. & Kinnally, E.L., 2020. Behavioral mimicry predicts social favor in
adolescent rhesus macaques (Macaca mulatta). Primates, pp.1–9.
Freeman, H.D. & Gosling, S.D., 2010. Personality in nonhuman primates: A review
and evaluation of past research. American Journal of Primatology, 72(8),
pp.653–671.
Gerber, L., Krützen, M., de Ruiter, J.R., van Schaik, C.P. & van Noordwijk, M.A.,
2016. Postdispersal nepotism in male long-tailed macaques (Macaca
fascicularis). Ecology and Evolution, 6(1), pp.46–55.
Girard-Buttoz, C., Heistermann, M., Rahmi, E., Marzec, A., Agil, M., Fauzan, P.A.
& Engelhardt, A., 2014. Mate-guarding constrains feeding activity but not
energetic status of wild male long-tailed macaques (Macaca fascicularis).
Behavioral Ecology and Sociobiology, 68(4), pp.583–595.
Gothard, K.M., Erickson, C.A. & Amaral, D.G., 2004. How do rhesus monkeys
(Macaca mulatta) scan faces in a visual paired comparison task? Animal
Cognition, 7(1), pp.25–36.
Gruber, T., Luncz, L., Mörchen, J., Schuppli, C., Kendal, R.L. & Hockings, K.,
2019. Cultural change in animals: a flexible behavioural adaptation to human
disturbance. Palgrave Communications, 5(1), pp.1–9.
Hambali, K., Ismail, A. & Md-zain, B.M., 2012. Daily Activity Budget of Long-
tailed Macaques (Macaca fascicularis) in Kuala Selangor Nature Park.
International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS, 12(04),
pp.47–52.
Hidayat, A., Rizaldi, R. & Nurdin, J., 2019. Jaringan Sosial (Social Network) Antar
Jantan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di Gunung Meru, Padang,
Sumatera Barat. Jurnal Biologi UNAND, 7(1), pp.14–20.
Ilham, K., Rizaldi, Nurdin, J. & Tsuji, Y., 2017. Status of urban populations of the
long-tailed macaque (Macaca fascicularis) in West Sumatra, Indonesia.
24
Primates, 58(2), pp.295–305.
Jacobus, S. & Loy, J., 1981. The grimace and gecker: A submissive display among
patas monkeys. Primates, 22(3), pp.393–398.
Jawadi, F. & Rita, R.R.N.D., 2019. Studi Perilaku Individu Jantan Alfa Monyet Ekor
Panjang (Macaca fascicularis) di TWA Gunung Pengsong Kabupaten Lombok
Barat. Jurnal Silva Samalas, 2(1), pp.39–46.
Karimullah & Anuar, S., 2012. The dominant species of monkeys (Macaca
fascicularis) in northern region of peninsular Malaysia. Pakistan Journal of
Zoology, 44(6), pp.1567–1574.
Lee, G.H., Thom, J.P., Chu, K.L. & Crockett, C.M., 2012. Comparing the relative
benefits of grooming-contact and full-contact pairing for laboratory-housed
adult female Macaca fascicularis. Applied Animal Behaviour Science, 138(1–
2), pp.157–165.
Liebal, K., Waller, B.M., Burrows, A.M. & Slocombe, K.E., 2012. Primate
communication: A multimodal approach. Primate Communication: A
Multimodal Approach. Cambridge: Cambridge University Press.
Luncz, L. V., Svensson, M.S., Haslam, M., Malaivijitnond, S., Proffitt, T. & Gumert,
M., 2017. Technological Response of Wild Macaques (Macaca fascicularis) to
Anthropogenic Change. International Journal of Primatology, 38(5), pp.872–
880.
Maestripieri, D., 2012. Games Primates Play. New York: Basic Books.
McCowan, B., Beisner, B.A., Capitanio, J.P., Jackson, M.E., Cameron, A.N., Seil, S.,
Atwill, E.R. & Fushing, H., 2011. Network stability is a balancing act of
personality, power, and conflict dynamics in rhesus macaque societies. PLoS
ONE, 6(8).
Mishra, P.S., Pal, A., Velankar, A.D., Kumara, H.N., Singh, M. & Cooper, M., 2020.
Does rank rule? Rank-related grooming patterns in Nicobar long-tailed
macaques Macaca fascicularis umbrosus. Primates, 61(3), pp.443–453.
Nasution, E.K. & Rukayah, S., 2018. Daily Activities of Long Tail Monkeys
(Macaca fascicularis Raffles) in Cikakak Tourist Resort Wangon Banyumas (a
Conservation Effort). In: The SEA+ Conference on Biodiversity and
Biotechnology 2018. pp.1–5.
Overduin-de Vries, A.M., Bakker, F.A.A., Spruijt, B.M. & Sterck, E.H.M., 2016.
Male long-tailed macaques (Macaca fascicularis) understand the target of
facial threat. American journal of primatology, 78(7), pp.720–730.
Overduin-de Vries, A.M., Olesen, C.U., de Vries, H., Spruijt, B.M. & Sterck,
25
E.H.M., 2013. Sneak copulations in long-tailed macaques (Macaca
fascicularis): No evidence for tactical deception. Behavioral Ecology and
Sociobiology, 67(1), pp.101–111.
Ratnasari, S., 2018. Studi Perilaku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di
Taman Wisata Alam Surandi Lombok Barat. Skripsi. Mataram: Universitas
Islam Negeri Mataram.
Rizaldi & Watanabe, K., 2008. Successive aggression: Another pattern of polyadic
aggressive interactions in a captive group of Japanese macaques. American
Journal of Primatology, 70(4), pp.349–355.
Rizaldi & Watanabe, K., 2010. Early development of peer dominance relationships
in a cap-tive group of Japanese macaques Macaca fuscata. Current Zoology,
56(2), pp.190–197.
Rowe, N. & Myers, M., 2016. All the World’s Primates. Rhode Island: Pogonias
Press.
Saputra, A., Marjono, M., Puspita, D. & Suwarno, S., 2015. Studi Perilaku Populasi
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Grojogan
Sewu Kabupaten Karanganyar. Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi, 1(1),
pp.6–11.
Saputra, K.G.W., Watiniasih, N.L. & Ginantra, I.K., 2014. Aktivitas Harian Kera
Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Sangeh,
Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Biologi Udayana, 18(1), pp.14–18.
Setiawan, A., Kanedi, M., Rustiati, E.L. & Panjaitan, R.H.P., 2013. Karakteristik
Pohon untuk Tidur Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Kawasan
Youth Camp Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung. Jurnal
Ilmiah: Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati, 1(1), pp.40–43.
Strier, K.B., 2017. Primate Behavioral Ecology. 5th ed. Taylor and Francis. New
York: Routledge.
Sulistyo, E., 1996. Pengaruh Pengunjung Terhadap Pola Perilaku Harian Monyet
Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles) di Taman Wisata Tawangmangu
Karanganyar. Skripsi. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Suwarno, S., 2014. Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) di Pulau Tinjil. Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP
UNS 2014.
Utami, A.T., 2019. Implementasi Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process,
26
Product) Pada Pelaksaanaan Kegiatan Family Development Session (FDS)
Program Keluarga Harapan (PKH) Di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen.
Skripsi. Purwokerto: Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.
Weiss, A., King, J.E. & Murray, L., 2011. Personality & Temperament in Nonhuman
Primates.
Willyanti, F., 2010. Perilaku Harian Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelli)
Akibat Adanya Aktivitas Ekowisata Manusia di Pusat Pengamatan Orangutan
Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser. Skripsi. Medan:
Universitas Sumatera Utara.
27
LAMPIRAN
29
Lampiran 2. Hasil Uji t dengan SPSS
T-Test Frek Makan
Group Statistics
Std. Error
Hierarki N Mean Std. Deviation Mean
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances
-2.120 17.998 .048 -7.800 3.680 -15.531 -.069
not
assumed
30
T-Test Frek Berpindah Tempat
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances -
-2.603 17.963 .018 -21.800 8.374 -39.395
not 4.205
assumed
31
T-Test Frek Mencari Makan
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances 17.8
-2.036 .057 -7.600 3.733 -15.449 .249
not 09
assumed
32
T-Test Frek Tidur
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances 13.9
3.308 .005 16.500 4.987 5.800 27.200
not 53
assumed
33
T-Test Frek Menelisik
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances
2.011 17.114 .060 4.500 2.237 -.218 9.218
not
assumed
34
T-Test Frek Bermain
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances
-2.618 9.774 .026 -5.500 2.101 -10.196 -.804
not
assumed
35
T-Test Frek Kopulasi
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Equal
variances
-1.762 12.810 .102 -2.700 1.532 -6.015 .615
not
assumed
36
T-Test Frek Agonistik
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95%
Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Agonistik Equal
variances 4.111 .058 1.345 18 .195 2.300 1.710 -1.293 5.893
assumed
Equal
variances
1.345 11.645 .204 2.300 1.710 -1.439 6.039
not
assumed
37
T-Test Durasi Makan
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Charles-Jim Equal
variances .077 .785 -2.221 18 .039 -481.900 217.020 -937.842 -25.958
assumed
Equal
variances
-2.221 17.990 .039 -481.900 217.020 -937.860 -25.940
not
assumed
38
T-Test Durasi Berpindah
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Charles-Jim Equal
variances .023 .882 -2.609 18 .018 -1310.200 502.255 -2365.398 -255.002
assumed
Equal
variances
-2.609 17.964 .018 -1310.200 502.255 -2365.548 -254.852
not
assumed
39
T-Test Durasi Mencari Makan
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Charles-Jim Equal
variances .001 .971 -2.043 18 .056 -457.100 223.686 -927.046 12.846
assumed
Equal
variances
-2.043 17.813 .056 -457.100 223.686 -927.401 13.201
not
assumed
40
T-Test Durasi Tidur
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Charles-Jim Equal
variances 4.897 .040 3.290 18 .004 985.200 299.421 356.139 1614.261
assumed
Equal
variances
3.290 13.936 .005 985.200 299.421 342.730 1627.670
not
assumed
41
T-Test Durasi Menelisik
Group Statistics
Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence
Interval of the
Difference
Sig. Mean Std. Error
F Sig. t df (2-tailed) Difference Difference Lower Upper
Charles-Jim Equal
variances .558 .465 1.988 18 .062 266.900 134.258 -15.166 548.966
assumed
Equal
variances
1.988 17.101 .063 266.900 134.258 -16.232 550.032
not
assumed
42
Lampiran 3. Foto-foto kegiatan
43
BIODATA PENULIS
Rosyid Ridlo Al Hakim, lahir di Banyumas, 10 Maret 1997
anak dari pasangan Abdul Hakim dan Uswatun Khasanah.
Pendidikan SD hingga SMA di Kota Purwokerto dan lulus
SMA tahun 2016, kemudian melanjutkan studi di STMIK
Widya Utama lulus tahun 2020 dan studi Biologi di Fakultas
Biologi Unsoed lulus tahun 2021. Pengalaman organisasi
antara lain tergabung dalam kepengurusan Sahabat Beasiswa
(SB) Chapter Purwokerto selama 1 tahun, Pusat Informasi
Konseling-Remaja (PIK-R) Aksiologi FISIP Unsoed selama 1
tahun, Biology English Society (BESt) Fakultas Biologi
selama 2 tahun, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Seigokan Unsoed selama 2
tahun, dan Riset & Kajian Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Indonesia selama 2
tahun. Prestasi yang pernah diraih adalah Delegasi Fakultas Biologi pada Asean
Network 2017 “Peace, Democracy, and Culture” yang diselenggarakan oleh
KOMAHI FISIP Unsoed, Medali Perunggu Kumite -55 Kg Putra pada “Pekan
Olahraga Mahasiswa (POM) Rayon III 2019” di Tegal, Medali Emas Atletik 400 M
pada “PORFABI 2019” UKM Biosport Fakultas Biologi Unsoed, Medali Perak Kata
Beregu Putra pada Open Karate Championship “DEKAN CUP VI 2020” di
Purwokerto, Medali Perunggu Kumite -60 Kg Putra pada Open Karate
Championship “DEKAN CUP VI 2020” di Purwokerto. Beasiswa yang pernah diarih
adalah Google Faculty Development Program 2019 oleh Google Indonesia dan
Dicoding, dan awardee Penghargaan Prestasi Non-akademik (Olahraga dan Seni)
2020 oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Selama 2 semester terakhir,
penulis juga bekerja paruh waktu pada Penerbit CV. Megalitera. Profil Researchgate
dapat dilihat pada [Link]
Penulis
44