Anda di halaman 1dari 28

KARYA TULIS SEJARAH

SUPERSEMAR
³Surat Perintah Sebelas Maret´
Disusun Oleh : Nama No / Klas : :
SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI 1 DOLOPO
KABUPATEN MADIUN TAHUN AJARAN 2010 / 2011
Lembar Pengesahan
Nama Kelas No
: : :
³ SUPERSEMAR ´
Guru Bidang Study Sejarah
Wali Kelas XII IPA 2
««««««««««
«««««««««
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karuniannya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis dengan baik dan benar
. Penyusunan karya ilmiah ini merupakan tugas pelajaran tambahan. Tugas ini dima
ksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan para siswa dalam menguasai ilmu
sejarah dan sebagai karya tulis dalam bentuk nyata yang bisa dijadikan pedoman
dalam kehidupan sehari-hari. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada : 1
. Ibu Yuyun Indah K M.pd, selaku guru mata pelajaran dan pembimbing yang telah m
emberikan pengarahan dalam menyusun makalah ini. 2. Serta teman-teman yang telah
membantu penulis. Semoga dengan adanya karya tulis ini dapat dijadikan media da
n sarana dalam meningkatkan belajar dimasa yang akan datang. Sekian dari saya da
n semoga nantinya karya tulis sejarah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Ami
n. Dolopo, November 2010
Penulis
Daftar Isi
Halaman Judul ................................ ................................
.......................... Halaman Pengesahan ................................ .
............................... ................ Kata Pengantar ................
................ ................................ .......................... Daf
tar Isi ................................ ................................ ......
.......................... .... Daftar Gambar ................................ .
............................... .......................... BAB I PENDAHULUAN ...
............................. ................................ ........ 1.1 Lata
r Belakang Masalah ................................ .......................... 1
.2 Rumusan Masalah ................................ ............................
.... ... 1.3 Tujuan Penelitian ................................ ................
................ .... 1.4 Manfaat Penelitian ................................ ..
.............................. .. BAB II PEMBAHASAN ............................
.... ................................ ........... 2.1 Keluarga Supersemar ......
.......................... .............................. 2.2 Lahirnya Supersema
r Menandai Lahirnya Orde Baru .............. 2.3 Beberapa Kontroversi Tentang Su
persemar ............................. BAB III PENUTUP .........................
....... ................................ .................... 3.1 Kesimpulan ...
............................. ................................ .............. 3.
2 Saran ................................ ................................ ......
.................. BAB IV DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
i ii iii iv
1 1 1 2 2 3 3 5 15 19 19 19
LAMPIRAN
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6
Gambar 7
Gambar 8
Daftar Gambar :
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 = Penyer
ahan Supersemar = Surat Perintah Sebelas Maret = Panglima Soedirman (korban) = P
engangkatan Mayat = Penumpasan G30ski = Keganasan G30spki = Foto Sadis G30spki =
Trikora
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dahulu Indonesia merupakan negara yang terj
ajah sebelum meraih kemerdekaan. Sebelum meraih kemerdekaan tidak serta merta ke
adaan pemerintahan menjadi baik kala itu. Presiden Republik Indonesia yaitu Soek
arno dibuat kalang kabut dengan ulah rakyatnya dan pada saat itu juga tepat pada
tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno memberikan surat perintah kepada Soehar
to untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu, yang menjadi mulai
nya Orde Baru. Soeharto yang berambisi untuk Indonesia berhasil melakukan negois
asi denga intel Amerika yang salah satu kaki tangannya waktu itu adalah Adam Mal
ik. Mereka berdua dengan bergabung kekuatan dengan Hamengkubuwono IX yang memili
ki pengaruh besar di TNI untuk melancarkan aksi mendongkel Soekarno yang sudah p
asti dibiayai oleh banyak pihak yang berkepentingan. Yang terjadi setelah itu me
njadi titik balik sejarah G-30 S yang dipakai untuk menghancurkan PKI, supersema
r dan akhirnya pengangkatan Soeharto selaku pejabat Presiden dan kemudian menjad
i Presiden setelah kematian Soekarno. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dia
tas yang penuli ketahui, maka penulis dapat merumuskan masalah yaitu : 1. Mengap
a Surat Perintah Sebelas Maret dikeluarkan ? 2. Mengapa lahirnya Surat Perintah
Sebelas Maret menandai lahirnya Orde Baru ? 3. Apakah ada kontroversi tentang Su
rat Perintah Sebelas Maret ?
1.3 Tujuan Penelitian 1. Bagi Siswa a) Untuk memberi wawasan tentang Sejarah Ind
onesia. b) Untuk mengetahui lebih dalam Sejarah Indonesia. 2. Bagi Sekolah a) Un
tuk mengetahui sejauh mana siswa memahami tentang Sejarah Indonesia. b) Sebagai
evaluasi dalam pembangunan siswa.
1.4 Manfaat Penulisan 1. Bagi Siswa a) Untuk lebih memahami Sejarah Indonesia. b
) Lebih mendalami Sejarah Indonesia. 2. Bagi Sekolah a) Jika siswa kurang paham
maka dalam pembelajaran lebih di evaluasi lagi.
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Keluarnya Supersemar Menurut versi resmi, awalnya keluarny
a supersemar terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengad
akan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan na
ma "kabinet 100 menteri". Pada saat sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebag
ai panglima pasukan pengawal presiden' Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak "pas
ukan liar" atau "pasukan tak dikenal" yang belakangan diketahui adalah Pasukan K
ostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-or
ang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil
Perdana Menteri I Soebandrio. Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wa
kil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh ber
angkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirny
a ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke
Bogor. Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menja
di Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan D
arat menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/P
KI itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabine
t karena sakit. (Sebagian kalangan menilai
ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai sekenario Soeharto
untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah kejanggalan).
Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk me
nemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadi
r Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bo
gor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan P
residen Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menya
takan bahwa Mayjend Soeharto mampu menendalikan situasi dan memulihkan keamanan
bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya
untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Pr
esiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam. Presiden Soekarno setuju untuk itu dan
dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret yang
populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend Soeharto selak
u panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan k
eamanan dan ketertiban. Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 1
2 Maret 1966 pukul pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas
Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, dimana
saat itu ia menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 196
6 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI di
siapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopka
mtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat denga
n Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai surat Supersemar itu tiba.
2.2 Mengapa Lahirnya supersemar menandai lahirnya orde baru Mengapa keluarnya Su
persemar menandai lahirnya pemerintah Orde Baru. Agar kalian memahami, ada baikn
ya kita flashback ke materi yang lalu. Bagaimana kondisi bangsa pada masa Demokr
asi Terpimpin? Kondisi ekonomi sangat parah dan kondisi politik memanas karena a
danya persaingan politik antara PKI dan TNI AD. Puncaknya terjadi peristiwa G 30
S/PKI. Akibatnya kehidupan berbangsa mengalami kekacauan. Oleh karena itu untuk
memulihkan keadaan, Presiden Soekarno mengeluarkan Supersemar. Sekarang kalian
paham, bukan? Pada masa Orde Baru, pemerintah melaksanakan pembangunan untuk men
ata kehidupan rakyat. Dengan pembangunan tersebut, tercapai kemajuan dalam berba
gai bidang. Namun keberhasilan tersebut tidak diimbangi dengan fondasi yang koko
h. Akibatnya ketika diterpa krisis moneter, ekonomi Indonesia mudah rapuh. Menga
pa hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana pula dampaknya terhadap kelangsungan pem
erintah orde baru? Agar kalian lebih paham, maka cermatilah materi berikut ini.
A. Lahirnya Orde Baru Sejak gerakan PKI berhasil ditumpas, Presiden Soekarno bel
um bertindak tegas terhadap G 30 S/PKI. Hal ini menimbulkan ketidaksabaran di ka
langan mahasiswa dan masyarakat. Pada tanggal 26 Oktober 1965 berbagai kesatuan
aksi seperti KAMI, KAPI, KAGI, KASI, dan lainnya mengadakan demonsrasi. Mereka m
embulatkan barisan dalam Front Pancasila. Dalam kondisi ekonomi yang parah, para
demonstran
menyuarakan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Pada tanggal 10 Januari 1966 para dem
onstran mendatangi DPR-GR dan mengajukan Tritura yang isinya: 1. pembubaran PKI,
2. pembubaran kabinet dari unsur-unsur G 30 S/PKI, dan 3. penurunan harga. Meng
hadapi aksi mahasiswa, Presiden Soekarno menyerukan pembentukan Barisan Soekarno
kepada para pendukungnya. Pada tanggal 23 Februari 1966 kembali terjadi demonst
rasi. Dalam demonsrasi tersebut, gugur seorang mahasiswa yang bernama Arif Rahma
n Hakim. Oleh para demonstran Arif dijadikan Pahlawan Ampera. Ketika terjadi dem
onsrasi, presiden merombak kabinet Dwikora menjadi kabinet Dwikora yang Disempur
nakan. Oleh mahasiswa susunan kabinet yang baru ditentang
karena banyak pendukung G 30 S/PKI yang duduk dalam kabinet, sehingga mahasiswa
memberi nama kabinet Gestapu. Saat berpidato di depan sidang kabinet tanggal 11
Maret 1966, presiden diberitahu oleh Brigjen Subur. Isinya bahwa di luar istana
terdapat pasukan tak dikenal. Presiden Soekarno merasa khawatir dan segera menin
ggalkan sidang. Presiden bersama Dr. Soebandrio dan Dr. Chaerul Saleh menuju Ist
ana Bogor. Tiga perwira tinggi TNI AD yaitu Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen M. Yus
uf, dan Brigjen Amir Mahmud menyusul presiden ke Istana Bogor. Tujuannya agar Pr
esiden Soekarno tidak merasa terpencil. Selain itu supaya yakin bahwa TNI AD ber
sedia mengatasi keadaan asal diberi kepercayaan penuh. Oleh karena itu presiden
memberi mandat kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keadaan dan kewibawaan pe
merintah. Mandat itu dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
Keluarnya Supersemar dianggap sebagai tonggak lahirnya Orde Baru. Supersemar pad
a intinya berisi perintah kepada Letjen Soeharto untuk mengambil tindakan yang d
ianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan kestabilan jalannya pemerintahan. S
elain itu untuk menjamin keselamatan presiden. Bagi bangsa Indonesia Supersemar
memiliki arti penting berikut. 1. Menjadi tonggak lahirnya Orde Baru. 2. Dengan
Supersemar, Letjen Soeharto mengambil beberapa tindakan untuk menjamin kestabila
n jalannya pemerintahan dan revolusi Indonesia. 3. Lahirnya Supersemar menjadi a
wal penataan kehidupan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Kedudukan Supersema
r secara hukum semakin kuat setelah dilegalkan melalui Ketetapan MPRS No. IX/ MP
RS/1966 tanggal 21 Juni 1966. Sebagai pengemban dan pemegang Supersemar, Letnan
Jenderal Soeharto mengambil beberapa langkah strategis berikut. 1. Pada tanggal
12 Maret 1966 menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang dan membubarkan PKI te
rmasuk ormas-ormasnya. 2. Pada tanggal 18 Maret 1966 menahan 15 orang menteri ya
ng diduga terlibat dalam G 30 S/PKI. 3. Membersihkan MPRS dan DPR serta lembaga-
lembaga negara lainnya dari pengaruh PKI dan unsur-unsur komunis.
B. Berbagai Peristiwa Penting di Bidang Politik pada Masa Orde Baru Dalam melaks
anakan langkah-langkah politiknya, Letjen Soeharto berlandaskan pada Supersemar.
Agar dikemudian tidak menimbulkan masalah, maka Supersemar perlu diberi landasa
n hukum. Oleh karena itu pada tanggal 20 Juni 1966 MPRS mengadakan sidang umum.
Berikut ini ketetapan MPRS hasil sidang umum tersebut. 1. Ketetapan MPRS No. IX/
MPRS/1966, tentang Pengesahan dan Pengukuhan Supersemar. 2. Ketetapan MPRS No. X
I/MPRS/1966, tentang Pemilihan Umum yang dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal
5 Juli 1968. 3. Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966, tentang penegasan kembali Lan
dasan Kebijaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif. 4. Ketet
apan MPRS No. XIII/MPRS/1966, tentang Pembentukan Kabinet Ampera. 5. Ketetapan M
PRS No. XXV/MPRS/1966, tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), dan me
nyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia. Dalam si
dang ini, MPRS juga menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno yang ber
judul ³Nawaksara´ (sembilan pasal), sebab pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarn
o tidak menyinggung masalah PKI atau peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 Sept
ember 1965. Selanjutnya MPRS melaksanakan Sidang Istimewa tanggal 7 ± 12 Maret 196
7. Dalam Sidang Istimewa ini MPRS menghasilkan empat Ketetapan penting berikut.
1. Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 tentang pencabutan
kekuasaan dari Presiden Soekarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejaba
t hasil Pemilu. 2. Ketetapan MPRS No. XXXIV/MPRS/1967 tentang peninjauan Preside
n sampai dipilihnya presiden oleh MPRS
kembaliKetetapan MPRS No. I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik Indonesia sebaga
i Garis-Garis Besar Haluan Negara. 3. Ketetapan MPRS No. XXXV/MPRS/1967 tentang
pencabutan
Ketetapan MPRS No. XVII/MPRS/1966 tentang Pemimpin Besar Revolusi.
4. Ketetapan MPRS No.
XXXVI/MPRS/1967 tentang pencabutan
KetetapanMPRS No. XXVI/MPRS/1966 tentang pembentukan panitia penelitian ajaran-a
jaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.
Berdasarkan Ketetapan MPRS No. XIII/MPRS/1966 maka dibentuk Kabinet Ampera pada
tanggal 25 Juli 1966. Pembentukan Kabinet Ampera merupakan upaya mewujudkan Trit
ura yang ketiga, yaitu perbaikan ekonomi. Tugas pokok Kabinet Ampera disebut Dwi
Dharma yaitu menciptakan stabilitas politik dan stabilitas ekonomi. Program ker
janya disebut Catur Karya, yang isinya antara lain: 1. Memperbaiki kehidupan rak
yat terutama sandang dan pangan, 2. Melaksanakan Pemilu, 3. Melaksanakan politik
luar negeri yang bebas dan aktif untuk kepentingan nasional, dan 4. Melanjutkan
perjuangan antiimperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestas
inya.
Dengan dilantiknya Jenderal Soeharto sebagai presiden yang kedua (19671998), Ind
onesia memasuki masa Orde Baru. Selama pemerintahan Orde Baru, stabilitas politi
k nasional dapat terjaga. Lamanya pemerintahan Presiden Soeharto disebabkan oleh
beberapa faktor berikut. 1. Presiden Soeharto mampu menjalin kerja sama dengan
golongan militer dan cendekiawan. 2. Adanya kebijaksanaan pemerintah untuk memen
angkan Golongan Karya (Golkar) dalam setiap pemilu. 3. Adanya penataran P4 (Pedo
man Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sebagai gerakan budaya yang ditujukan
untuk membentuk manusia Pancasila, yang kemudian dikuatkan dengan ketetapan MPR
No II/MPR/1978.
Untuk
mewujudkan
kehidupan
rakyat
yang
demokratis,
maka
diselenggarakan pemilihan umum. Pemilu pertama pada masa pemerintahan Orde Baru
dilaksanakan tahun 1971, dan diikuti oleh sembilan partai politik dan satu Golon
gan karya. Sembilan partai peserta pemilu tahun 1971
tersebut adalah Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Murba, Nahdlatul
Ulama (NU), Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islam (PI Perti), Partai Katolik, Pa
rtai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai N
asional Indonesia (PNI), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Organisasi
golongan karya yang dapat ikut serta dalam pemilu adalah Sekretariat Bersama Gol
ongan Karya (Sekber Golkar). Sejak pemilu tahun 1971 sampai tahun 1997, kemenang
an dalam pemilu selalu diraih oleh Golkar. Hal ini disebabkan Golongan Karya men
dapat dukungan dari kaum cendekiawan dan ABRI. Untuk memperkuat kedudukan Golkar
sebagai motor penggerak Orde Baru dan untuk melanggengkan kekuasaan maka pada t
ahun 1973 diadakan fusi partai-partai politik. Fusi partai dilaksanakan dalam du
a tahap berikut. 1. Tanggal 5 Januari 1963 kelompok NU, Parmusi, PSII, dan Perti
menggabungkan diri menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 2. Tanggal 10 Jan
uari 1963, kelompok Partai Katolik, Perkindo, PNI, dan IPKI menggabungkan diri m
enjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Di samping membina stabilitas politik d
alam negeri, pemerintah Orde Baru juga mengadakan perubahan-perubahan dalam poli
tik luar negeri. Berikut ini upaya-upaya pembaruan dalam politik luar negeri. 1.
Indonesia Kembali Menjadi Anggota PBB Pada tanggal 28 September 1966 Indonesia
kembali menjadi PBB. Sebelumnya pada masa Demokrasi Terpimpin Indonesia pernah k
eluar dari PBB sebab Malaysia diterima menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamana
n PBB. Keaktifan Indonesia dalam PBB ditunjukkan ketika Menteri Luar Negeri Adam
Malik terpilih menjadi ketua Majelis Sidang Umum PBB untuk masa sidang tahun 19
74. 2. Membekukan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina (RRC) Sikap po
litik Indonesia yang membekukan hubungan diplomatik dengan RRC disebabkan pada m
asa G 30 S/PKI, RRC membantu PKI dalam melaksanakan kudeta tersebut. RRC diangga
p terlalu mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.
3. Normalisasi hubungan dengan Malaysia Pada tanggal 11 Agustus 1966, Indonesia
melaksanakan persetujuan normalisasi hubungan dengan Malaysia yang pernah putus
sejak tanggal 17 September 1963. Persetujuan normalisasi ini merupakan hasil Per
setujuan Bangkok tanggal 29 Mei sampai tanggal 1 Juni 1966. Dalam pertemuan ters
ebut, delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik, sementara
Malaysia dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Tun Abdul Raza
k. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan yang disebut Persetujuan Bangkok (B
angkok Agreement), isinya sebagai berikut. a. Rakyat Sabah dan Serawak diberi ke
sempatan untuk menegaskan kembali keputusan yang telah mereka ambil mengenai ked
udukan mereka dalam Federasi Malaysia. b. Pemerintah kedua belah pihak menyetuju
i pemulihan hubungan diplomatik. c. Tindakan permusuhan antara kedua belah pihak
akan dihentikan. 4. Berperan dalam Pembentukan ASEAN Peran aktif Indonesia juga
ditunjukkan dengan menjadi salah satu negara pelopor berdirinya ASEAN. Menteri
Luar Negeri Indonesia Adam Malik bersama menteri luar negeri/perdana menteri Mal
aysia, Filipina, Singapura, dan Thailand menandatangi kesepakatan yang disebut D
eklarasi Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967. Deklarasi tersebut menjadi awal be
rdirinya organisasi ASEAN.
C. Kebijakan Ekonomi pada Masa Orde Baru Pada masa Orde Baru, Indonesia melaksan
akan pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuannya adalah terciptanya ma
syarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasil
a. Pelaksanaan pembangunan bertumpu pada Trilogi Pembangunan, yang isinya melipu
ti halhal berikut. 1. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju terciptan
ya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Pertumbuhan ekonomi yang cu
kup tinggi. 3. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Pembangunan nasional pada hakikatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuh
nya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Berdasarkan Pola Dasar Pemb
angunan Nasional disusun Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang yang meliputi kuru
n waktu 25-30 tahun. Pembangunan Jangka Panjang (PJP) 25 tahun pertama dimulai t
ahun 1969 ± 1994. Sasaran utama PJP I adalah terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat d
an tercapainya struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. Sel
ain jangka panjang juga berjangka pendek. Setiap tahap berjangka waktu lima tahu
n. Tujuan pembangunan dalam setiap pelita adalah pertanian, yaitu meningkatnya p
enghasilan produsen pertanian sehingga mereka akan terangsang untuk membeli bara
ng kebutuhan sehari-hari yang dihasilkan oleh sektor industri. Sampai tahun 1999
, pelita di Indonesia sudah dilaksanakan sebanyak 6 kali. Dalam membiayai pelaks
anaan pembangunan, tentu dibutuhkan dana yang besar. Di samping mengandalkan dev
isa dari ekspor nonmigas, pemerintah juga mencari bantuan kredit luar negeri. Da
lam hal ini, badan keuangan internasional IMF berperan penting. Dengan adanya pe
mbangunan tersebut, perekonomian Indonesia mencapai kemajuan. Meskipun demikian,
laju pertumbuhan ekonomi yang cukup besar hanya dinikmati para pengusaha besar
yang dekat dengan penguasa. Pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi dengan pemerataa
n dan landasan ekonomi yang mantap sehingga ketika terjadi krisis ekonomi dunia
sekitar tahun 1997, Indonesia tidak mampu bertahan sebab ekonomi Indonesia diban
gun dalam fondasi yang rapuh. Bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kris
is moneter yang cukup berat. Bantuan IMF ternyata tidak mampu membangkitkan pere
konomian nasional. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab runtuhnya
pemerintahan Orde Baru tahun 1998.
D. Runtuhnya Orde Baru dan Lahirnya Reformasi 1. Runtuhnya Orde Baru Penyebab ut
ama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah adanya krisis moneter tahun 1997. Sejak
tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus memburuk seiring dengan krisis keuan
gan yang melanda Asia. Keadaan terus memburuk. KKN semakin merajalela, sementara
kemiskinan rakyat
terus meningkat. Terjadinya ketimpangan sosial yang sangat mencolok menyebabkan
munculnya kerusuhan sosial. Muncul demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa. T
untutan utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan reformasi total. Demo
nstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat i
tu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu me-ninggalnya empat mahasiswa Universitas T
risakti akibat bentrok dengan aparat keamanan. Empat mahasiswa tersebut adalah E
lang Mulya Lesmana, Hery Hariyanto, Hendriawan, dan Hafidhin Royan. Keempat maha
siswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai ³Pahlawan Reformasi´. Menang
gapi aksi reformasi tersebut, Presiden Soeharto berjanji akan mereshuffle Kabine
t
Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi. Selain itu juga akan membentuk Komite
Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susduk MPR,
DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi. Dalam perkembangannya, Komit
e Reformasi belum bisa terbentuk karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan
dalam Kabinet Reformasi. Adanya penolakan tersebut menyebabkan Presiden Soeharto
mundur dari jabatannya. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto men
gundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan jabatannya ke
pada wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan O
rde Baru dan dimulainya Orde Reformasi. 2. Kondisi Politik pada Masa Pemerintaha
n Habibie Ketika Habibie mengganti Soeharto sebagai presiden tanggal 21 Mei 1998
, ada lima isu terbesar yang harus dihadapinya, yaitu: a. Masa depan Reformasi;
b. Masa depan ABRI; c. Masa depan daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari
Indonesia; d. Masa depan Soeharto, keluarganya, kekayaannya dan kroni-kroninya;
serta e. Masa depan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.
Berikut ini beberapa kebijakan yang berhasil dikeluarkan B.J. Habibie dalam rang
ka menanggapi tuntutan reformasi dari masyarakat. a. Kebijakan dalam bidang poli
tik Reformasi dalam bidang politik berhasil mengganti lima paket undangundang ma
sa Orde Baru dengan tiga undang-undang politik yang lebih demokratis. Berikut in
i tiga undang-undang tersebut. 1) UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. 2)
UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum. 3) UU No. 4 Tahun 1999 tentang Susu
nan dan Kedudukan DPR/MPR. b. Kebijakan dalam bidang ekonomi Untuk memperbaiki p
erekonomian yang terpuruk, terutama dalam sektor perbankan, pemerintah membentuk
Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Selanjutnya pemerintah mengeluarkan
UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Seha
t, serta UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. c. Kebebasan menyamp
aikan pendapat dan pers Kebebasan menyampaikan pendapat dalam masyarakat mulai
terangkat kembali. Hal ini terlihat dari munculnya partai-partai politik dari be
rbagai golongan dan ideologi. Masyarakat bisa menyampaikan kritik secara terbuka
kepada pemerintah. Di samping kebebasan dalam menyatakan pendapat, kebebasan ju
ga diberikan kepada pers. Reformasi dalam pers dilakukan dengan cara menyederhan
akan permohonan Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP). d. Pelaksanaan Pemilu Pada m
asa pemerintahan Habibie, berhasil diselenggarakan pemilu multipartai yang damai
dan pemilihan presiden yang demokratis. Pemilu tersebut diikuti oleh 48 partai
politik. Keberhasilan lain masa pemerintahan Habibie adalah penyelesaian masalah
Timor Timur. Usaha Fretilin yang memisahkan diri dari Indonesia mendapat respon
. Pemerintah Habibie mengambil kebijakan untuk melakukan jajak pendapat di Timor
Timur. Referendum tersebut dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 1999 di bawah p
engawasan UNAMET. Hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa mayoritas raky
at Timor Timur lepas dari
Indonesia. Sejak saat itu Timor Timur lepas dari Indonesia. Pada tanggal 20 Mei
2002 Timor Timur mendapat kemerdekaan penuh dengan nama Republik Demokratik Timo
r Leste dengan presidennya yang pertama Xanana Gusmao dari Partai Fretilin.
2.3 Beberapa Kontroversi tentang Supersemar
y
Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang akhirnya menerim
a surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke
Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya berkomentar "Lho
ini khan perpindahan kekuasaan". Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar ka
rena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak j
elas hilangnya surat ini oleh siapa dan dimana karena pelaku sejarah peristiwa "
lahirnya Supersemar" ini sudah meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf me
ngatakan bahwa naskah Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang disi
mpan dalam sebuah bank.
y
Menurut kesaksian salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu
(lettu) Sukardjo Wilardjito , ketika pengakuannya ditulis di berbagai media mass
a setelah Reformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya
Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa
perwira tinggi yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret
1966 pukul 01.00 dinihari waktu setempat bukan tiga perwira melainkan
empat orang perwira yakni ikutnya Brigadir jendral (Brigjen) M.
Panggabean. Bahkan pada saat peristiwa Supersemar Brigjen M. Jusuf
membawa map berlogo Markas Besar AD berwarna merah jambu serta Brigjen M. Pangab
ean dan Brigjen Basuki Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno dan me
maksa agar Presiden Soekarno
menandatangani surat itu yang menurutnya itulah Surat Perintah Sebelas Maret yan
g tidak jelas apa isinya. Lettu Sukardjo yang saat itu bertugas mengawal preside
n, juga membalas menodongkan pistol ke arah para
jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo untuk menurunkan pistol
nya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden
kemudian menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden Soekarno
berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Perte
muan bubar dan ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke Jakarta. Presiden So
ekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa ia harus keluar dari istana. ³Saya harus
keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,´ ujarnya menirukan pesan Presiden So
ekarno. Tidak lama kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah didu
duki pasukan dari RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan pengawalnya
dilucuti kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer dan dibe
rhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wi
lardjito itu, bahkan salah satu pelaku sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M.
Jusuf, serta Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.
y
Menurut Kesaksian A.M. Hanafi dalam bukunya "A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soehart
o", seorang mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak konsti
tusional oleh Soeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu Sukardjo Wilardjito
yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M. Panggabean ke Istana Bogor ber
sama tiga jendral lainnya (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal
11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan senjata terhadap Presiden Soekarno. Men
urutnya, pada saat itu, Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, Jakarta un
tuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua menteri-ment
eri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap diistana untuk menghindari
kalau datang baru besoknya, demonstrasi-demonstrasi yang sudah berjubel di Jakar
ta. A.M Hanafi Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana Menteri (Wape
rdam) Chaerul Saleh . Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut, ketiga jendral
itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui Presiden Soekarno yan
g berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya mereka bertolak dari istana y
ang sebelumnya, dari istana merdeka Amir Machmud menelepon kepada Komisaris Besa
r Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor, minta ijin untuk datang
ke Bogor. Dan semua itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini rupanya sudah
membawa satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah Bung Karno, tet
api tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar istana sudah d
i kelilingi demonstrasi-demonstrasi dan tank-tank ada di luar jalanan istana. Me
ngingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya Bung Karno menandatangani surat it
u. Jadi A.M Hanafi menyatakan,
sepengetahuan dia, sebab dia tidak hadir di Bogor tetapi berada di Istana Merdek
a bersama dengan menteri-menteri lain. Jadi yangdatang ke Istana Bogor tidak ada
Jendral Panggabean. Bapak Panggabean, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menh
ankam, tidak hadir.
y
Tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masi
h tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain L
etkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen
Tjakrabirawa.
y
Kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson , oleh seorang t
entara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan bahwa
Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas
besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang menu
rut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan. Berba
gai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai s
urat ini. Bahkan, Arsip Nasional telah berkali-kali meminta kepada Jendral (Purn
) M. Jusuf, yang merupakan saksi terakhir hingga akhir hayatnya 8 September 2004
, agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lem
baga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg,
Jusuf Kalla, dan M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai
sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, a
dalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto p
ada 27 Januari 2008, membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap. De
ngan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia meng
atakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian s
ejarah Indonesia yang masih gelap
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari pembahasan diatas penulis dapat menyimpulkan
bahwa Surat Perintah Sebelas Maret atau yang disingkat menjadi Supersemar merup
akan surat yang ditandatangani oleh Preseiden Soekarno pada tanggal 11 Maret 196
6. Surat tersebut diberikan kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang
perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
3.2 Saran Dari pembahasan diatas penulis juga dapat menyarankan kepada seluruh W
arga Indonesia bahwa seharusnya Warga Indonesia dan kita sebagai generasi muda p
atutlah kita mengingat Sejarah Bangsa Indonesia yaitu seperti halnya Supersemar
yang masih belum jelas latar belakangnya.
Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_perintah_sebelas_maret
Tanggal 15 November 2010
http://wwwsejarah-agustinus.blogspot.com/2010/10/mengapa-lahirnyasupersemar-mena
ndai.html
Tanggal 15 November 2010