Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOGNOSI
Identifikasi Minyak Atsiri

Disusun Oleh :
Nama Mahasiswa : Chantika Ilyandari
NIM : 1908010132
Asisten Praktikum : Irna Nurfahla

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2021
LEMBAR KERJA PRAKTIKUM III
IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI
1. Identitas Bahan
No. Nama Bahan Tanaman Asal Kandungan Minyak Atsiri Khasiat
a. Oleum Anisi Nama Indonesia: Minyak Adas Anetol, metilkhavikol (isomer Obat batuk, perangsang
Manis dari anetol), anisaldehida dan peristaltik pada mulas
Nama Ilmiah: Pimpinella anisum terpen
(L) atau verum (Hook.f)
Famili: Apiaceae
b. Oleum Menthae Nama Indonesia: Minyak Menthol, metilasetat Karminativa, stimulansia,
Permen, peppermint oil sebagai obat mulas
Nama Ilmiah: Mentha piperita
(L.)
Famili: Lamiaceae
c. Oleum Cinnamomi Nama Indonesia: Minyak Minyak atsiri yang Obat gosok, obat mulas,
Kayumanis mengandung sinamilaldehida, pengawet sirop
Nama Ilmiah: Cinnamomum egenol, felandren
zeylanicum (BI)
Famili: Lauraceae
d. Oleum Cajuputi Nama Indonesia: Minyak Kayu Minyak atsiri yang Sebagai obat gosok pada sakit
Putih mengandung sineol encok dan rasa nyeri lainnya,
Nama Ilmiah: Melaleuca (kayuputol), terpinol bebas kadang – kadang untuk obat
leucadendra (L.) dan Melaleuca atau sebagai ester dengan batuk
minor (Sm) asam cuka, asam mentega,
Famili: Myrtaceae asam valerat
e. Oleum Caryophylli Nama Indonesia: Minyak Egenol, asetilegenol, kariofilen Obat sakit gigi, mules, kadang
Cengkeh untuk obat batuk
Nama Ilmiah: Eugenia
caryophyllata (Sreng)
Famili: Myrtaceae
2. Prosedur Identifikasi Umum Minyak Atsiri
1. Uji permukaan air
Meneteskan satu tetes minyak atsiri pada permukaan air yang ada pada
beaker glass. Amati perubahan yang terjadi
2. Uji kertas saring
Meneteskan satu tetes minyak atsiri pada permukaan kertas saring .
Kemudian tunggu sebentar dan amati apakah terdapat bercak yang tetap pada
kertas saring atau tidak
3. Uji minyak atsiri dengan NaCl
Memasukkan 1 ml larutan NaCl pada gelas ukur, kemudian tambahkan 1 ml
minyak atsiri. Tambahkan 1 ml minyak atsiri Lalu kocok, dan biarkan memisah
4. Uji daya larut minyak atsiri
Meneteskan satu tetes minyak atsiri ke dalam tabung reaksi. Kemudian
teteskan satu demi tetes pelarut hingga minyak atsiri larut. Catat berapa tetes
pelarut yang digunakan untuk melarutkan satu tetes minyak atsiri. Lalu
Interpretasikan hasil uji yang ada pada Farmakope Indonesia edisi III
5. Uji deteksi fenol
Menyiapkan 2 ml larutan minyak atsiri 25% dalam etanol. Lalu tambahkan 1
tetes larutan FeCl3. Amati warnanya

3. Prosedur Identifikasi Khusus Minyak Atsiri


1. Uji osazon, dilakukan untuk melihat kristal osazon pada oleum cinnamomi,
uji ini dilakukan dengan cara meneteskan 1 tetes oleum cinnamomi pada gelas
objek dan tambahkan 2 tetes Fenilhidrazin HCl, kemudian tutup dengan gelas
penutup lalu amati kristal yang terbentuk dibawah mikroskop. Pada uji osazon
pada oleum cinnamomi kristal osazon berwarna kuning berbentuk seperti
jarum yang dapat larut dalam air
2. Uji eugenol, dilakukan untuk melihat apakah ada kandungan eugenol pada
oleum caryophilli yang ditunjukkan dengan teramatinya kristal eugenola
dibawah mikroskop. Uji ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu Pertama
dengan cara meneteskan 1 tetes oleum caryophilli pada gelas objek, lalu
tambahkan 1 tetes larutan NaOh 3 % kemudian tutup dengan gelas penutup
lalu amati kristal eugenolat yang terbentuk dibawah mikroskop, yang kedua
yaitu dengan cara meneteskan 1 tetes oleum caryophilli pada gelas objek lalu
tambahkan 1 tetes larutan FeCl 3 % kemudian tutup dengan gelas penutup
lalu amati kristal eugenolat yang terbentuk dibawah mikroskop.
3. Uji cubea fructus dan piperis albi fructus, pada uji ini kita siapkan dulu
sampel cubea frustus dan piperis albi fructus dan tempatkan pada gelas objek
kemudian teteskan 1 tetes larutan asam sulfat pada masing-masing gelas
objek lalu tutup dengan gelas penutup dan amati warna yang terbentuk
dengan latar belakang putih
4. Prosedut Identifikasi dengan Metode KLT
1. Menyiapkan fase gerak
Heksan dan etil asetat dengan perbandingan 96:4 dan dibuat 10 ml. Larutan
fase gerak dipipet dan dimasukan kedalam chamber lalu tutup chamber dan
jenuhkan.
2. Menyiapkan fase diam
Fase diam dimasukan kedalam oven dengan suhu 118˚C selama 15 menit.
Kemudian keluarkan dari oven. Pengovenan bertujuan agar adanya air dalam
atmosfer yang diserap oleh silica gel tidak menutupi sisi aktif silica gel. Fase
diam yang telah dioven diberi garis batas pada lempeng silica dengan batas
bagian atas 0,5 cm dan batas bawah 1,5 cm dan beri tanda (A hingga E titik
sampel dan T titik pembandingan).
3. Penyiapan larutan sampel dan pembanding
Siapkan masing-masing sampel minyak atsiri 1% dalam toluen dan
pembanding eugenol 0,1% dalam toluen.
4. Penotolan sampel
Totolkan masing-masing sampel dan larutan pembanding pada lempeng silica
gel dengan mikropipet sebesar 0,5 μl. Selanjutnya lempeng dimasukan dengan
bantuan alat pinset kedalam chamber yang berisi fase gerak yang telah jenuh.
Tutup dan biarkan proses elusi berjalan. Proses elusi dikatakan selesai apabila
telah mencapai batas bagian atas lempeng. Jika proses elusi sudah selesai,
keluarkan lempeng klt dari chamber dan kering anginkan.
5. Deteksi lempeng klt dibawah sinar UV
Menyalakan alat UV detector dengan cara mencolokan kabel kemudian tekan
tombol ON dan pilih panjang gelombang 254 nm atau 366 nm kemudian
masukan lempeng klt secara hati-hati, tutup dan amati.
6. Deteksi menggunakan brasi semprot anisaldehid asam sulfat
Dilakukan didalam lemari asam dengan cara menyemprotkan brasi semprot
anisaldehid pada lempeng klt, kemudian amati dan hitung nilai Rf.
5. Hasil Identifikasi Umum Minyak Atsiri

Minyak Atsiri
No Identifikasi
Oleum anisi Oleum menthae Oleum cinnamomi Oeum cajuputi Oleum caryophylli
- Minyak atsiri - Minyak atsiri - Minyak atsiri tidak - Minyak atsiri - Minyak atsiri tidak
menyebar diatas menyebar diatas bercampur dengan air menyebar diatas bercampur dengan air
a. Permukaan air permukaan air permukaan air - Air jernih permukaan air - Air jernih
- Air jernih - Air jernih - Air jernih

Kertas saring Kertas saring Kertas saring kuning Kertas saring Kertas saring kuning
b. Kertas saring transparan transparan transparan transparan transparan

Dengan NaCl pada gelas ukur - Volume tetap - Volume tetap - Volume tetap - Volume tetap - Volume tetap
c.
- Terbentuk 2 lapisan - Terbentuk 2 lapisan - Terbentuk 2 lapisan - Terbentuk 2 lapisan - Terbentuk 2 lapisan
Larut dalam 3 tetes Larut dalam 4 tetes Larut dalam 8 tetes Larut dalam 2 tetes Larut dalam 2 tetes
d. Daya larut dalam etanol etanol etanol Etanol etanol etanol

Larut dalam 5 tetes PE Larut dalam 5 tetes Larut dalam 5 tetes PE Larut dalam 5 tetes PE Larut dalam 7 tetes PE
e. Daya larut dalam PE
PE
Larut dalam 3 tetes Larut dalam 7 tetes Larut dalam 5 tetes Larut dalam 7 tetes Larut dalam 5 tetes
f. Daya larut dalam kloroform kloroform kloroform kloroform klorofor Klorofor

Kuning Kuning Biru kehitaman Kuning Biru kehitaman


g. Fenol
6. Hasil Identifikasi Khusus Minyak Atsiri

No. Identifikasi Minyak Atsiri Hasil Gambar


a. Uji Osazon Oleum cinnamomi Kristal osazon berbentuk jarum berwarna kuning
yang dapat larut dalam air

b. Uji Eugenol Oleum caryophilli Kristal eugenolat berbentuk bulat, berwarna


kecokelatan

c. Perbedaan Cubeba fructus dan Piperis Cubeba fructus : berwarna coklat dengan latar
albi fructus belakang putih
Piperis albi fructus: berwarna kuning dengan
latar belakang putih
7. Hasil Pemeriksaan Minyak Atsiri Secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Gambar lempeng KLT*


1. Deteksi UV 366 nm Keterangan :
Fase Diam :
Lempeng KLT silica Gel GF254 (8x10 cm)

Fase Gerak :
Etil asetat dan N-Heksan (96:4)

Deteksi :
Anisaldehid Asam Sulfat

2. Deteksi UV 254 nm

3. Anisaldehid As. Sulfat + Sinar tampak


Cara Perhitungan Rf :
1. Sampel Minyak Atsiri
A. Oleum caryophylli
1. Rf1 = 4,1/8 = 0,5125
2. Rf2 = 4,6/8 = 0,575
3. Rf3 = 5,6/8 = 0,7
4. Rf4 = 7,1/8 = 0,8875
B. Oleum cinnamomi
1. Rf1 = 1,1/8 = 0,1375
2. Rf2 = 2,1/8 = 0,2625
3. Rf3 = 4/8 = 0,5
C. Oleum anisi
1. Rf1 = 1,1/8 = 0,1375
2. Rf2 = 2,1/8 = 0,2625
D. Oleum menthae
1. Rf1 = 2,1/8 = 0,2625
E. Oleum cajuputi
1. Rf1 = 2,1/8 = 0,2625
2. Pembanding
Larutan eugenol 0,1% dalam Toluen
Warna
Nama Bahan Rf UV 254 Vanilin/Anisaldehide
UV 366 nm
nm H2SO4
Sampel Minyak Atsiri
Oleum 1. 0,5125 cm Hitam Biru pucat 1. Merah muda
caryophilli 2. 0,575 cm 2. Kuning
A 3. 0,7 cm 3. Merah muda
4. 0,8875 cm 4. Kuning pucat

Oleum 1. 0,1375 cm Biru Biru 1. Coklat


cinnamomi 2. 0,2625 cm 2. Coklat
B
3. 0,5 cm 3. Merah muda

Oleum anisi 1. 0,1375 cm Biru Biru 1. Merah muda


C 2. 0,2625 cm 2. Putih

Oleum menthae 1. 0,2625 cm Hitam Hitam Coklat


D
Oleum cajuputi 1. 0,2625 cm Hitam Hitam Coklat
E

Pembanding
Eugenol 0,1 % dalam 0,7 cm Hitam Biru tua Merah
toluen

Kesimpulan :
Sampel yang ditetesi dengan kromatografi lapis tipis memiliki kandungan yang sama dengan
senyawa pembanding. Hal ini dapat dilihat dari jarak bercak atau nilai Rf yang sama pada
bercak ketiga dari sampel dengan nilai Rf pembanding yaitu sebesar 0,7.
8. Pembahasan
Pada Praktikum Farmakognosi kali ini berjudul “Identifikasi Minyak Atsiri”.
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini diharapkan agar mahasiswa mampu
memahami bahan alam nabati yang mengandung minyak atsiri, memahami cara
identifikasi umum minyak atsiri, memahami cara identifikasi komponen khusus pada
minyak atsiri, dan memahami cara identifikasi minyak atsiri secara kromatografi dan
interpretasi data.
Minyak atsiri merupakan minyak dari tanaman yang komponennya secara
umum mudah menguap sehingga banyak yang menyebut minyak terbang. Minyak
atsiri disebut juga etherial oil atau minyak eteris karena bersifat seperti eter, dalam
bahasa internasional biasa disebut essential oil (minyak essen) karena bersifat khas
sebagai pemberi aroma/bau. Minyak atsiri dalam keadaan segar dan murni
umumnya tidak berwarna, namun pada penyimpanan yang lama warnanya berubah
menjadi lebih gelap. Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya
rendah sebagaimana minyak lainnya, sebagian besar minyak atsiri tidak larut dalam
air dan pelarut polar lainnya. Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran
yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung
jawab atas suatu aroma tertentu. Minyak atsiri sebagian besar termasuk dalam
golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak
(lipofil) (Ketaren, 1985)
Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun, bunga,
buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rhizome. Berbagai macam tanaman yang
dibudidayakan atau tumbuh dengan sendirinya di berbagai daerah di Indonesia
memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi minyak atsiri, baik yang unggulan
maupun potensial untuk dikembangkan (Anonim, 1995).
Pada praktikum ini menggunakan bahan-bahan yang akan diidentifikasi
kandungan minyak atsirinya, yaitu Oleum anisi, Oleum menthae, Oleum Cinnamomi,
Oleum Cajuputi, dan Oleum Caryophylli.
Oleum anisi berupa cairan tidak berwarna atau kuning pucat, membias cahaya
dengan kuat, bau khas aromatik, rasa khas agak manis, jika sejuk menghablur.
Oleum anisi memiliki nama lain Minyak adas manis, Anise Oil, Assentia Anisi berasal
dari tanaman asal Pimpinella anisum (L) atau verum (Hook.f) dari keluarga Apiaceae.
Oleum anisi memiliki kandungan zat berkjasiat yaitu anetol, metilkhavikol (isomer
dari anetol), anisaldehida dan terpen. Kegunaan oleum anisi diantaranya sebagai
obat batuk, perangsang peristaltik pada mulas.
Oleum menthae berupa cairan tidak berwarna, kuning pucat atau kuning kehijauan,
bau aromatik, rasa pedas kemudian dingin. Oleum menthae memiliki nama lain
Minyak permen, peppermint oil, berasal dari tanaman Mentha piperita (L.) dari
keluarga Lamiaceae. Zat berkhasiatnya adalah menthol, metilasetat. Kegunaannya
adalah sebagai karminativa, stimulansia, sebagai obat mulas.
Oleum cinnamomi berupa cairan warna kuning atau merah kecoklatan, bau dan rasa
khas. Oleum cinnamomi memiliki nama lain Minyak kayumanis, Oleum ciaoi, berasal
dari tanaman asal Cinnamomum zeylanicum (BI) dari keluarga Lauraceae. Oleum
cinnamomi memiliki kandungan minyak atsiri yang mengandung sinamilaldehida,
egenol, felandren. Kegunaannya adalah sebagai obat gosok, obat mulas, pengawet
sirop.
Oleum cajuputi berupa cairan tidak berwarna, berwarna kuning atau hijau, bau khas
aromatik, rasa pahit. Oleum cajuputi memiliki nama lain Minyak kayu putih yang
berasal dari tanaman asal Melaleuca leucadendra (L.) dan Melaleuca minor (Sm) dari
keluarga Myrtaceae. Oleum cajuputi memiliki kandungan minyak atsiri yang
mengandung sineol (kayuputol), terpinol bebas atau sebagai ester dengan asam
cuka, asam mentega, asam valerat. Kegunaannya adalah sebagai obat gosok pada
sakit encok dan rasa nyeri lainnya, kadang – kadang untuk obat batuk.
Oleum caryophilli berupa minyak cair, yang baru disuling, tidak berwarna atau
kuning pucat, jika disimpan atau kena udara warna berubah makin tua dan makin
kental, bau dan rasa seperti cengkeh. Oleum caryophilli memiliki nama lain Minyak
cengkeh, Clove oil yang berasal dari tanaman asal Eugenia caryophyllata (Sreng) dari
kleuarga Myrtaceae. Kandungan zat berkhasiatnya adalah egenol, asetilegenol,
kariofilen. Kegunaannya adalah sebagai obat sakit gigi, mules, kadang untuk obat
batuk.
Pertama yaitu Identifikasi minyak atsiri secara umum bertujuan untuk melihat
sifat-sifat fisika kima minyak atsiri. Identifikasi minyak atsiri secara umum dilakukan
melalui beberapa pengujian diantaranya uji permukaan air, uji kertas saring, uji
dengan NaCl, uji daya larut , dan uji deteksi fenol.
Uji permukaan air dilakukan untuk melihat densitas pada minyak atsiri. Caranya
dengan meneteskan satu tetes minyak atsiri pada permukaan air yang ada pada
beaker glass. Kemudian amati perubahan yang terjadi. Hasilnya, minyak atsiri
menyebar diatas permukaan air dan tidak bercampur dengan air, airnya berwarna
jernih. Hal itu menunjukkan bahwa sifat minyak atsiri yang mudah menguap
(volatile) serta adanya perbedaan kepolaran antara minyak dan air. Secara umum,
sifat minyak atsiri tidak larut dalam air, namun minyak atsiri larut dalam pelarut
organik. Dimana minyak atsiri yang bersifat non polar akan cenderung larut pada
pelarut yang paling non polar.
Uji kertas saring dilakukan untuk memastikan apakah minyak atsiri mengandung
ester gliseril dari asam lemak atau tidak. Caranya dengan meneteskan satu tetes
minyak atsiri pada permukaan kertas saring . Kemudian tunggu sebentar dan amati
apakah terdapat bercak yang tetap pada kertas saring atau tidak. Hasilnya, untuk
oelum anisi, oleum menthae, dan oleum cajuputi meninggalkan kertas saring
transparan. Sementara untuk oleum cinnamomi dan oleum caryophilly
meninggalkan kertas saring kuning transparan. Hal tersebut menunjukkan bahwa
minyak atsiri lebih cepat menguap dan tidak meninggalkan bekas noda atau noda
bening. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa minyak atsiri bersifat
volatile atau mudah menguap, utamanya pada suhu kamar.
Uji minyak atsiri dengan NaCl dilakukan untuk melihat deteksi reduksi volume.
Caranya dengan memasukkan 1 ml larutan NaCl pada gelas ukur, kemudian
tambahkan 1 ml minyak atsiri. Lalu kocok, dan biarkan memisah. Hasilnya, untuk
semua sampel minyak atsiri volumenya tetap dan terbentuk 2 lapisan. Seharusnya
minyak atsiri yang ditambahkan dengan NaCl akan mengakibatkan berkurangnya
volume minyak atsiri. Hal tersebut karena minyak atsiri tersebut tereduksi oleh NaCl.
Uji daya larut minyak atsiri dilakukan dengan cara meneteskan satu tetes minyak
atsiri ke dalam tabung reaksi. Kemudian teteskan satu demi tetes pelarut hingga
minyak atsiri larut. Catat berapa tetes pelarut yang digunakan untuk melarutkan
satu tetes minyak atsiri. Lalu Interpretasikan hasil uji yang ada pada Farmakope
Indonesia edisi III. Pelarut yang digunakan pada percobaan ini yaitu etanol, PE
(petroleum eter), dan kloroform. Pelarut yang dibutuhkan untuk melarutkan oleum
anisi yaitu etanol 3 tetes, PE 5 tetes, kloroform 3 tetes. Oleum menthae
membutuhkan etanol 4 tetes, Pe 5 tetes, kloroform 7 tetes. Oleum cinnamomi
membutuhkan etanol 8 tetes, PE 5 tetes, kloroform 5 tetes. Oleum cajuputi
membutuhkan etanol 2 tetes, PE 5 tetes, klororfom 7 tetes. Oleum caryophilli
membutuhkan etanol 2 tetes, PE 7 tetes, kloroform 5 tetes. Kesimpulannya bahwa
semua minyak atsiri larut dalam pelarut organic tersebut sesuai dengan
kelarutannya, sesuai dengan menurut Farmakope. Dari hasil tersebut menunjukkan
bahwa minyak atsiri lebih mudah larut dalam kloroform dan petroleum eter
daripada dalam etanol. Dapat pula dipengaruhi oleh kepolaran pelarut terhadap
minyak atsiri, dimana minyak atsiri yang bersifat non polar dapat lebih mudah larut
dalam kloroform yang bersifat semipolar dan petroleum eter yang non polar,
daripada etanol yang bersifat polar.
Uji deteksi fenol dilakukan untuk mengidentifikasi adanya gugus fenol atau tidak.
Caranya dengan menyiapkan 2 ml larutan minyak atsiri 25% dalam etanol. Lalu
tambahkan 1 tetes larutan FeCl3. Amati warnanya. Reaksi positif menunjukkan
adanya fenol apabila hasil reaksi menghasilkan warna ungu violet atau coklat.
Hasilnya, untuk oleum anisi, oleum menthae, dan oleum cajuputi menghasilkan
warna kuning. Sementara untuk oleum cinnamomi dan oleum caryophilli
menghasilkan warna biru kehitaman. Hal ini menunjukkan bahwa semua sampel
yang digunakan negative mengandung fenol. Seharusnya pada oleum anisi berubah
menjadi kehitaman karena senyawanya termasuk minyak atsiri fenol. Hal ini bisa
terjadi karena kandungan fenol hanya sedikit sehingga tidak terdeteksi ataupun
kesalahan praktikan dalam proses praktikum.
Kedua yaitu Identifikasi minyak atsiri secara khusus dilakukan dengan
penambahan senyawa kimia pada pengamatan mikroskopik menggunakan bantuan
mikroskop. Identifikasi minyak atsiri secara khusus dilakukan dengan beberapa uji
yaitu uji osazon, uji eugenol, dan uji perbedaan.
Uji osazon dilakukan untuk melihat kristal osazon pada oleum cinnamomi. Uji ini
dilakukan dengan cara meneteskan 1 tetes oleum cinnamomi pada gelas objek dan
tambahkan 2 tetes Fenilhidrazin HCl, kemudian tutup dengan gelas penutup lalu
amati kristal yang terbentuk dibawah mikroskop. Pada uji osazon pada oleum
cinnamomi kristal osazon berwarna kuning berbentuk seperti jarum yang dapat larut
dalam air. Oleum cinnamomi adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan
uap kulit batang dan kulit cabang kayu manis.
Uji eugenol dilakukan untuk melihat apakah ada kandungan eugenol pada oleum
caryophilli yang ditunjukkan dengan teramatinya kristal eugenola dibawah
mikroskop. Uji ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu Pertama dengan cara
meneteskan 1 tetes oleum caryophilli pada gelas objek, lalu tambahkan 1 tetes
larutan NaOh 3 %, kemudian tutup dengan gelas penutup, lalu amati kristal
eugenolat yang terbentuk dibawah mikroskop. Kedua yaitu dengan cara meneteskan
1 tetes oleum caryophilli pada gelas objek, lalu tambahkan 1 tetes larutan FeCl 3 %
kemudian tutup dengan gelas penutup, lalu amati kristal eugenolat yang terbentuk
dibawah mikroskop. Hasilnya berupa Kristal eugenolat berbentuk jarum, bulat, dan
kotak yang berwarna kecokelatan. Dapat disimpulkan bahwa oleum caryophilli
mengandung eugenol. Oleum caryophilli atau minyak cengkeh terutama tersusun
oleh eugenol yaitu sampai 95% dari jumlah minyak atsiri keseluruhan (Gunawan dan
Mulyani, 2004)
Uji Cubeba fructus dan Piperis nigri fructus dilakukan dengan cara menyiapkan
sampel Cubeba frustus dan Piperis albi fructus dan tempatkan pada gelas objek,
kemudian teteskan 1 tetes larutan asam sulfat pada masing-masing gelas objek, lalu
tutup dengan gelas penutup dan amati warna yang terbentuk dengan latar belakang
putih. Hasilnya, Cubeba fructus berwarna coklat dan Piperis nigri fructus berwarna
kuning. Perbedaan warna tersebut terjadi karena sumber dari kedua minyak
tersebut juga berbeda sehingga warna, bau, dan rasa juga mengikuti sumber
utamanya.
Ketiga yaitu Pemeriksaan minyak atsiri secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan yang
memisahkan, yang terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada
penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan
dipisah berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal), setelah plat atau
lapisan ditaruh didalam bejana tertutup rapat yang berisis larutan pengembang yang
cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama rambatan kapiler (pengembangan).
Selanjutnya, senyawa yang tidak berwarna harus dideteksi.
Pada pemeriksaan minyak atsiri dengan KLT dilakukan dengan menyiapkan fase
gerak terlebih dahulu. Fase gerak yang digunakan yaitu Heksan dan etil asetat
dengan perbandingan 96:4 dan dibuat 10 ml. Larutan fase gerak dipipet dan
dimasukan kedalam chamber lalu tutup chamber dan jenuhkan. Kemudian
menyiapkan fase diam. Fase diam dimasukan kedalam oven dengan suhu 118˚C
selama 15 menit. Kemudian keluarkan dari oven. Pengovenan bertujuan agar adanya
air dalam atmosfer yang diserap oleh silica gel tidak menutupi sisi aktif silica gel.
Fase diam yang telah dioven diberi garis batas pada lempeng silica dengan batas
bagian atas 0,5 cm dan batas bawah 1,5 cm dan beri tanda (A hingga E titik sampel
dan T titik pembandingan). Setelah itu, penyiapan larutan sampel dan pembanding
dengan menyiapkan masing-masing sampel minyak atsiri 1% dalam toluen dan
pembanding eugenol 0,1% dalam toluene. Langkah selanjutnya adalah pentotolan
sampel. Totolkan masing-masing sampel dan larutan pembanding pada lempeng
silica gel dengan mikropipet sebesar 0,5 μl. Selanjutnya lempeng dimasukan dengan
bantuan alat pinset kedalam chamber yang berisi fase gerak yang telah jenuh. Tutup
dan biarkan proses elusi berjalan. Proses elusi dikatakan selesai apabila telah
mencapai batas bagian atas lempeng. Jika proses elusi sudah selesai, keluarkan
lempeng klt dari chamber dan kering anginkan. Lalu melakukan deteksi lempeng klt
dibawah sinar UV. Menyalakan alat UV detector dengan cara mencolokan kabel
kemudian tekan tombol ON dan pilih panjang gelombang 254 nm atau 366 nm
kemudian masukan lempeng klt secara hati-hati, tutup dan amati. Yang kedua
melakukan Deteksi menggunakan brasi semprot anisaldehid asam sulfat. Dilakukan
didalam lemari asam dengan cara menyemprotkan brasi semprot anisaldehid pada
lempeng klt, kemudian amati dan hitung nilai Rf. Hasilnya, sampel yang ditetesi
dengan kromatografi lapis tipis memiliki kandungan yang sama dengan senyawa
pembanding. Hal ini dapat dilihat dari jarak bercak atau nilai Rf yang sama pada
bercak ketiga dari sampel dengan nilai Rf pembanding yaitu sebesar 0,7 cm.
9. Kesimpulan
1. Mahasiswa dianggap telah mampu memahami bahan alam nabati yang
mengandung minyak atsiri, memahami cara identifikasi umum minyak atsiri,
memahami cara identifikasi komponen khusus pada minyak atsiri, dan
memahami cara identifikasi minyak atsiri secara kromatografi dan interpretasi
data.
2. Minyak atsiri merupakan senyawa minyak yang berasal dari bahan
tumbuhan dengan beberapa sifat, antara lain: sangat mudah menguap apabila
dibiarkan pada udara terbuka, memiliki bau khas seperti pada tumbuhan
aslinya, umunya tidak berwarna tetapi semakin lama menjadi gelap karena
mengalami oksidasi dan pendamaran.
3. Identifikasi minyak atsiri secara umum dilakukan untuk melihat sifat-sifat
fisika kimia dari minyak atsiri
4. Identifikasi minyak atsiri secara khusus dilakukan dengan mereaksikannya
dengan suatu senyawa kimia yang kemudian diamati di bawah mikroskop
untuk mengetahui Kristal yang terbentuk dan warna yang tampak pada Kristal
tersebut.
5. Identifikasi minyak atsiri dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis
untuk mencari nilai Rf, dimana hasilnya sampel yang ditetesi dengan
kromatografi lapis tipis memiliki kandungan yang sama dengan senyawa
pembanding. Hal ini dapat dilihat dari jarak bercak atau nilai Rf yang sama
pada bercak ketiga dari sampel dengan nilai Rf pembanding yaitu sebesar 0,7
cm.
10. Daftar Pustaka
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Ketaren. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka
Gunawan, D dan Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam. Jakarta: Penebar Swadaya
Surahman dan Murti, Herawati. 2001. Farmakognosi Jilid II. Jakarta:
Depertemen Kesehatan
Widyastuti, Kiki. 2001. Farmakognosi Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan