Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOGNOSI
Identifikasi Minyak Lemak, Lemak, dan Lilin

Disusun Oleh :
Nama Mahasiswa : Chantika Ilyandari
NIM : 1908010132
Asisten Praktikum : Khairunnisa Nanda Aulia

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2021
LEMBAR KERJA PRAKTIKUM IV
IDENTIFIKASI MINYAK LEMAK, LEMAK DAN LILIN
1. Identitas Bahan
No. Nama Bahan Tanaman Asal Kandungan Minyak Lemak Khasiat
a. Oleum Arachidis Nama Indonesia: Minyak kacang, Gliserida dari asam oleat, asam Sebagai pengganti minyak
Peanut Oil linoleat, asam palmitat, asam zaitun untuk pembuatan
Nama Ilmiah: Arachis hypogaea hipogeat, asam lignoserat, asam margarine dan sabun
Famili: Leguminosae arakhidat

b. Oleum Sesami Nama Indonesia: Minyak wijen, Gliserida dari asam oleat, gliserida Bahan makanan sebagai obat
sesame oil asam linoleat, asam palmitat, asam luar untuk melemaskan kulit,
Nama Ilmiah: Sesamum indicum stearat, asam miristinat untuk pembuatan plester,
(L.) sabun, salep, liniment
Famili: Pedaliaceae
c. Oleum Cocos Nama Indonesia: Minyak kelapa, Minyak lemak gliserida dari asam Untuk membuat salep,
Coconut oil laurat, asam miristinat, asam kaprilat, shampoo, sabun yang dapat
Nama Ilmiah: Cocos nucifera asam oleat, asam palmitat, asam dipakai untuk mencuci dengan
Famili: Palmae kaprat, asam stearat, asam kaproat air laut atau air yang kadar
kalsiumnya tinggi
d. Oleum Olivae Nama Indonesia: Minyak Zaitun, Trigliserida dari asam oleat dan asam bahan makanan, pencahar
Olive Oil palmitat, gliserida asam linoleat, lemah
Nama Ilmiah: Olea europaea (L.) bagian yang tak tersabunkan berupa
Famili: Oleaceae fitosterol dan hidrokarbon skualen
e. Oleum Maydis Nama Indonesia: Minyak Jagung Gliserida Zat tambahan, pengganti
Nama Ilmiah: Zea mays (L) minyak lemak bagi pasien yang
Famili: Poaceae tinggi kadar kolesterolnya
2. Prosedur Identifikasi Minyak Lemak, Lemak dan Lilin
Uji Identifikasi Umum
1. Uji Noda Lemak, bertujuan untuk mengetahui apakah sampel mengandung
lemak atau tidak
Prosedurnya: Mengambil sampel minyak dan meneteskannya pada kertas
saring sebanyak satu tetes, diamkan sebentar. Lalu kering anginkan. Amati
apakah terbentuk noda atau tidak.
Uji noda lemak menunjukkan hasil positif apabila muncul noda transparan
pada kertas saring
2. Uji Kelarutan, bertujuan untuk mengetahui kelarutan minyak lemak
terhadap pelarut polar, non polar, maupun organic.
Prosedurnya: Mengambil minyak lemak dan meneteskan sebanyak satu tetes
pada lima tabung reaksi yang telah diberi tanda kemudian, meneteskan
aquadest pada salahsatu sampel minyak. Amati berapa tetes aquadest yang
diteteskan hingga sampel larut. Lakukan hal yang sama terhadap semua
pelarut (kloroform, eter, PE, etanol 96%
3. Uji Pembentukan Emulsi, bertujuan untuk melihat ada tidaknya emulsi yang
terbentuk antara air dan minyak. Emulsi merupakan dua cairan yang tidak
saling campur, sehingga diperlukan zat pengemulsi untuk membantu kedua
cairan tersebut bercampur homogeny dan stabil.
Prosedurnya: Mengambil sebanyak 5 ml aquadest dan masukkan pada masing-
masing tabung reaksi. Lalu, mengambil sebanyak 1 tetes minyak lemak ke
dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml aquadest. Kemudian kocok tabung reaksi
dan amati apakah terjadi pemisahan. Teteskan larutan sabun secukupnya, lalu
kocok tabung reaksi. Amati perubahan yang terjadi.
Pembentukan emulsi ditandai dengan tercampurnya air dan minyak, karena
sabun berperan sebagai emulgator.
4. Uji Pembentukan Sabun, bertujuan untuk mengamati ada tidaknya reaksi
penyabunan pada sampel
Prosedurnya: Mengambil sebanyak 2 ml NaOH lalu masukkan kedalam tabung
reaksi. Lalu, masukkan 1 ml minyak lemak ke dalam tabung reaksi yang berisi
NaOH. Kemudian panaskan tabung reaksi diatas api Bunsen hingga mendidih.
Selanjutnya, masukkan aquadest sebanyak 3 ml kedalam tabung reaksi, kocok,
lalu amati sabun yang terjadi. Setelah terbentuk sabun, bagi menjadi 3 bagian
yang sama.
Pada tabung pertama ditetesi dengan HCL 2 N sebanyak 5 tetes
Pada tabung kedua ditetesi dengan CaCl2 sebanyak 5 tetes
Pada tabung ketiga ditetesi dengan MgSO4 sebanyak 5 tetes
Kemudian kocok, amati perubahan yang terjadi.
Hasil uji pembentukam sabun menunjukkan hasil positif apabila warna
berubah menjadi kuning ketika ditambahkan HCL, menjadi berbuih dan keruh
apabila ditambah CaCl2, dan terbentuk endapan putih jika ditambah MgSO4.
5. Uji Ketidakjenuhan, bertujuan untuk mengamati tingkat kejenuhan minyak
lemak.
Prosedurnya: Mengambil sebanyak 4 ml kloroform dan masukkan kedalam
tabung reaksi. Kemudian tambahkan dengan perekasi Hubl sebanyak 4 tetes.
Lalu vortex hingga membentuk warna merah muda (larutan A).
Masing-masing sampel sebanyak 0,2 ml ditetesi dengan larutan A hingga
terbentuk warna merah yang stabil. Catat volume larutan A yang digunakan
untuk menghasilkan warna merah yang stabil.
Semakin banyak volume larutan A yang dibutuhkan untuk menghasilkan
warna merah yang stabil, maka sampel tersebut semakin tidak jenuh.

Uji Identifikasi Khusus


1. Penetapan Jarak Lebur, bertujuan untuk mengetahui titik lebur sampel yang
digunakan.
Prosedurnya: Masukkan sampel kedalam pipa kapiler. Nyalakan melting point
dengan cara tekan tombol ON di belakang alat, lalu atur suhu yang akan
digunakan dengan menekan tombol MODE. Angkat melting point sampai
sejajar dengan mata. Masukkan pipa kapiler yang berisi sampel kedalam
melting point. Kemudian amati suhu yang diperlukan dari mulai sampel
meleleh hingga meleleh sempurna. Setelah sampel meleleh sempurna, tekan
tombol STOP dan catat titik leburnya. Bandingkan titik lebur hasil pengamatan
dengan literature yang relevan.
2. Uji Adanya Sterol dengan reaksi Liebermann-Burchard, bertujuan untuk
mendeteksi adanya sterol pada sampel.
Prosedurnya: Masukkan 10 tetes Oleum cocos kedalam cawan porselen. Lalu
ambil sebanyak 1 ml asam asetat glasial dan masukkan kedalam cawan
porselen yang berisi sampel Oleum cocos. Tambahkan sebanyak 2 tetes
H2SO4 pekat. Lalu amati perubahan warna yang terjadi.
Hasil positif apabila terjadi perubahan menjadi warna hijau zamrud yang
menandakan bahwa adanya sterol pada sampel.
3. Uji Khusus Oleum Sesami, bertujuan untuk mengamati adanya senyawa
sesamol pada Oleum Sesami.
Prosedurnya: Masukkan 2 ml minyak lemak kedalam tabung reaksi.
Tambahkan beberapa tetes sakarosa 10% dalam HCl pekat. Kemudian kocok,
dan amati perubahan warna yang terjadi.
Hasil positif apabila terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang
menunjukkan sampel mengandung sesamol.
3. Identifikasi Umum Minyak Lemak, Lemak dan Lilin
Hasil Pengamatan
No. Identifikasi
Ol. Arachidis Ol. Sesami Ol. Cocos Ol. Olivae Ol. Maydis
Meninggalkan
Meninggalkan
Meninggalkan bekas noda Meninggalkan
noda Meninggalkan
a. Uji Noda Lemak noda transparan bekas noda
bening/transpar bekas noda putih
bening/transparan dengan pigmen putih
an
orange
Eter 10 tetes 10 tetes 8 tetes 3 tetes 8 tetes

P.E. 10 tetes 10 tetes 5 tetes 4 tetes 5 tetes

b. Uji Kelarutan Kloroform 9 tetes 9 tetes 10 tetes 4 tetes 11 tetes

Etanol 96% 15 tetes 12 tetes 20 tetes 8 tetes 27 tetes

Air 10 tetes 16 tetes 10 tetes 5 tetes 10 tetes

Ketika Ketika Ketika Ketika Ketika


ditambahkan air, ditambahkan air, ditambahkan air, ditambahkan air, ditambahkan
terbentuk 2 fase. terbentuk 2 fase. terbentuk 2 fase. terbentuk 2 fase. air, terbentuk 2
Ketika Ketika Ketika Ketika fase. Ketika
c. Uji Pembentukan Emulsi ditambahkan ditambahkan ditambahkan ditambahkan ditambahkan
sabun, kedua fase sabun, kedua fase sabun, kedua sabun, kedua fase sabun, kedua
menyatu, menyatu, fase menyatu, menyatu, fase menyatu,
terdapat buih, dan terdapat buih, dan terdapat buih, terdapat buih, dan terdapat buih,
campuran keruh. campuran keruh. dan campuran campuran keruh. dan campuran
keruh. keruh.

HCl Ada endapan Keruh Ada endapan Ada endapan Keruh

Pembentukan Ada endapan Ada endapan Keruh Ada endapan Bening, ada buih
d. CaCl2
Sabun putih
keruh Ada endapan Ada endapan Keruh Keruh, ada buih
MgSO4
putih
Larutan A yang Larutan A yang Larutan A yang Larutan A yang Larutan A yang
e. Uji Ketidak Jenuhan ditambahkan ditambahkan ditambahkan ditambahkan ditambahkan
sebanyak 6 tetes sebanyak 4 tetes sebanyak 8 tetes sebanyak 6 tetes sebanyak 5 tetes
4. Identifikasi Khusus Minyak Lemak, Lemak dan Lilin
a. Penetapan Jarak Lebur
Identifikasi Hasil Literatur Keterangan
O
Cera Alba 63 C 62 - 64OC (+)
(FI III hal 186 dan Sesuai dengan
HOPE hal 558) literatur
Cetaceum 44OC 44 - 52OC (+)
(FI III hal 141 dan Sesuai dengan
HOPE hal 104) literatur
Adeps Lanae 40OC 36 - 42OC (+)
(FI III hal 61) Sesuai dengan
literatur

b. Uji Adanya Sterol Dengan Reaksi Lieberman Burchard


Identifikasi Hasil Pengamatan Keterangan
Oleum Cocos Warna hijau zamrud (+)
Perubahan menjadi warna
hijau zamrud yang
menandakan bahwa
adanya sterol pada
sampel.
Adeps Lanae Warna kuning (-)
Hasil positif apabila terjadi
perubahan menjadi warna
hijau zamrud yang
menandakan bahwa
adanya sterol pada
sampel.

c. Uji khusus Oleum Sesami


Prosedur Identifikasi Hasil Pengamatan Keterangan
Masukkan 2 ml minyak Terbentuk 2 lapisan (-)
lemak kedalam tabung warna yang memisah. Hasil positif apabila terjadi
reaksi. Tambahkan Lapisan atas berwarna perubahan warna menjadi
beberapa tetes sakarosa kuning. Lapisan bawah merah muda yang
10% dalam HCl pekat. berwarna merah menunjukkan sampel
Kemudian kocok, dan mengandung sesamol.
amati perubahan warna
yang terjadi.
5. Pembahasan
Praktikum Farmakognosi kali ini berjudul “Minyak Lemak, Lemak, dan Lilin”
yang bertujuan agar mahasiswa mampu mengidentifikasi minyak lemak, lemak dan
lilin baik secara fisika maupun kimia, terutama bahan yang digunakan dalam bidang
farmasi.
Lemak merupakan salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid,
yaitu senyawa organic yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut
dalam pelarut organic non polar. Minyak lemak merupakan trigliserida yang berasal
dari tumbuhan atau hewan, diperoleh dengan mengekstraksi atau mengempa.
Sedangkan lilin (wax) merupakan senyawa yang terbentuk dari ester asam lemak
berantai karbon panjang yang jenuh dan tidak jenuh dengan alcohol, tetapi bukan
dengan gliserol melainkan dengan monohidroksi tinggi. Lilin dapat diperoleh dari
lebah madu (mirisilpalmitat) dan ikan paus atau lumba-lumba (spermaseti). Lilin
tidak larut dalam air. Oleh karena itu lilin terdapat pada tumbuhan berfungsi sebagai
lapisan pelindung terhadap air (Stahl, 1985).
Lemak, minyak, dan lilin di alam bersifat non polar dan dapat diekstrak secara
efisien dan selektif menggunakan pelarut seperti minyak bumi atau heksana. Mereka
juga dapat larut dalam kloroform, etanol, methanol, tetapi pelarut ini juga akan
mengekstrak senyawa fitokimia lainnya. Minyak, lemak dan lilin termasuk golongan
senyawa organic ester alam, yang dikenal sebagai kelompok senyawa lipida. Lipida
tersusun dari unsur-unsur C, H, O kadang-kadang mengandung unsur N dan P. Lipida
bersifat tidak larut dalam air, tetapi bersifat larut dalam pelarut-pelarut organic,
seperti alcohol, eter dan karbon tetraklorida. Perbedaan antara lemak (fat) dan
minyak (oil) adalah tergantung pada macam asam lemaknya. Apabila asam lemaknya
jenuh (tidak mengandung ikatan rangkap) maka disebut sebagai lemak (fat).
Sebaliknya, apabila asam lemaknya tidak jenuh (mengandung ikatan rangkap) maka
disebut sebagai minyak (oil). Apabila suatu lemak sederhana dihidrolisa
menghasilkan suatu asam lemak dan gliserol, maka disebut fat atau oil. Sebaliknya,
apabila lemak sederhana dihidrolisa menghasilkan suatu asam lemak dan alcohol
tingkat tinggi, maka disebut sebagai lilin (Armstrong, 1995)
Bahan-bahan yang akan diidentifikasi pada praktikum ini yaitu Oleum Arachidis,
Oleum Sesami, Oleum Cocos, Oleum Olivae, Oleum Maydis, Cera Alba, Ceta Ceum,
dan Adeps Lanae.
Oleum Arachidis atau Minyak Kacang berupa cairan berwarna kuning pucat,
bau khas lemah, dan rasa tawar, yang berasal dari tanaman asal Arachis hypogaea
(L.) dari keluarga Leguminosae. Oleum arachidis mengandung zat berkhasiat
Gliserida dari asam oleat, linoleat, asam palmitat, asam hipogeat, asam lignoserat,
dan asam arakhidat. Penggunaannya sebagai pengganti minyak zaitun untuk
pembuatan margarine dan sabun.
Oleum Sesami atau Minyak Wijen berupa cairan warna kuning pucat, bau
lemah, rasa tawar, pada suhu 0o C tidak membeku, yang berasal dari tanaman asal
Sesamum indicum (L.) dari keluarga Pedaliaceae. Oleum Sesami mengandung zat
berkhasiat Gliserida dari asam oleat, asam linoleat, asam palmitat, asam stearat,
asam miristinat. Penggunaannya sebagai obat luar untuk melemaskan kulit, untuk
pembuatan plester, sabun, salep, liniment.
Oleum Cocos atau Minyak Kelapa berupa cairan jernih, tidak berwarna atau
kuning pucat, dan bau khas tidak tengik, yang berasal dari tanaman asal Cocos
nucifera dari keluarga Palmae. Oleum Cocos mengandung zat berkhasiat Gliserid dari
asam laurat, asam miristinat, asam kaprilat, asam oleat, asam palmitat, asam kaprat,
asam stearat, dan asam kaproat. Penggunaannya Untuk membuat salep, shampoo,
sabun yang dapat dipakai untuk mencuci dengan air laut atau air yang kadar
kalsiumnya tinggi.
Oleum Olivae atau Minyak Zaitun berupa cairan kuning pucat atau kuning
kehijauan, bau lemah tidak tengik, rasa khas warna hijau oleh adanya klorofil, dan
pada suhu rendah sebagian atau seluruhnya membeku. Oleum Olivae berasal dari
tanaman Olea europea (L.) dari keluarga Oleaceae. Oleum Olivae mengandung zat
berkhasiat Trigliserida dari asam oleat dan asam palmitat, gliserida asam linoleat,
bagian yang tak tersabunkan berupa fitosterol dan hidrokarbon skualen.
Penggunaannya sebagai bahan makanan, dan pencahar lemah.
Oleum Maydis atau Minyak Jagung berupa cairan warna kuning muda sampai
kuning emas, bau dan rasa lemah khas, berasal dari tanaman asal Zea mays (L.) dari
keluarga Poaceae. Oleum Maydis mengandung zat berkhasiat Gliserida.
Penggunaannya sebagai zat tambahan, pengganti minyak lemak bagi pasien yang
tinggi kadar kolesterolnya.
Cera Alba atau Malam Putih berupa zat dengan lapisan tipis bening warna
putih kekuningan, bau lemah. Cera alba berasal dari hewan spesies Apis mellifera (L.)
dari keluarga Apidae. Cera alba mengandung zat utama Mirisin (Mirisilpalmitat),
terdapat pula asam serotinat, serasin (campuran parafin), asam melisinat, seril-
alkohol. Penggunaannya sebagai bahan salep.
Ceta Ceum atau Spermaseti berupa massa hablur bening, licin, warna putih
mutiara, bau dan rasa lemah., berasal dari hewan spesies Physeter catodon (L.)
dan Hyperoodon rostratus (Miller). Ceta ceum mengandung zat berkhasiat utama
Setin ( = setilpalmitat ), setilstearat, setiloleat, setilaurat, setilmiristinat, dan setil
alcohol. Penggunaannya sebagai bahan salep.
Adeps Lanae atau Lemak bulu domba anhydrous lanolin berupa zat serupa
lamak, liat, likat warna kuning muda atau kuning pucat, agak tembus cahaya bau
lemah dan khas. Adeps Lanae berasal dari hewan spesies Ovis aries (L.) dari keluarga
Bovidae. Kandungan zat utamanya Ester-ester lemak dengan kolesterol,
oksikolesterol, gamma-lanosterol, lano-sterol dihidrolanosterol dan agnosterol.
Adapun asam lemaknya adalah asam palmitat, asam miristinat, asam lano-palmitat,
asam lanoserat, asam serotat dan asam karnaubat, alkohol-alkohol, setil -alkohol
dan karnaubiealkohol. Penggunaannya sebagai salep, sabun, pasta, pil, dan serbuk.
Uji identifikasi umum dilakukan untuk mengidentifikasi sifat fisikakimia dari
bahan-bahan yang diduga mengandung minyak lemak. Uji ini meliputi uji noda
lemak, uji kelarutan, uji pembentukan emulsi, uji pembentukan sabun, dan uji
ketidakjenuhan.
Uji Noda Lemak bertujuan untuk mengetahui apakah sampel mengandung lemak
atau tidak. Prosedurnya dengan mengambil sampel minyak dan meneteskannya
pada kertas saring sebanyak satu tetes, diamkan sebentar. Lalu kering anginkan.
Kemudian mengamati apakah terbentuk noda atau tidak. Uji noda lemak
menunjukkan hasil positif apabila muncul noda transparan pada kertas saring.
Sebab, minyak lemak tidak dapat menguap sempurna sehingga meninggalkan noda
transparan pada kertas saring. Selain itu, minyak atau lemak merupakan senyawa
non polar yang tidak dapat bercampur dengan air yang umumnya dapat membentuk
noda translucent. Berdasarkan hasil uji, diperoleh Oleum Arachidis meninggalkan
noda bening/transparan, Oleum Sesami meninggalkan noda transparan dengan
pigmen warna orange, Oleum Cocos meninggalkan noda bening/transparan, Oleum
Olivae meninggalkan noda bening sangat transparan, dan Oleum Maydis
meninggalkan bekas noda bening/transparan. Hasil dari kelima bahan minyak
memberikan hasil uji positif mengandung lemak karena hasilnya meninggalkan noda
transparan. Namun, berdasarkan literature disebutkan bahwa semakin tinggi
kandungan lemak maka noda yang dihasilkan pada kertas akan semakin transparan.
Sehingga Oleum Olivae atau minyak zaitun yang memiliki kandungan lemak paling
tinggi diantara yang lain karena meninggalkan bekas noda terlihat sangat transparan.
Uji Kelarutan bertujuan untuk mengetahui kelarutan minyak lemak terhadap pelarut
polar, non polar, maupun organic. Prosedurnya dengan mengambil minyak lemak
dan meneteskan sebanyak satu tetes pada lima tabung reaksi yang telah diberi
tanda, kemudian meneteskan aquadest pada salah satu sampel minyak. Amati
berapa tetes aquadest yang diteteskan hingga sampel larut. Lakukan hal yang sama
terhadap semua pelarut seperti kloroform, eter, PE, etanol 96%.
Berdasarkan hasil uji diperoleh Oleum Arachidis membutuhkan 10 tetes eter, 10
tetes PE, 9 tetes kloroform, 15 tetes etanol 96%, dan 10 tetes air untuk
melarutkannya. Oleum Sesami membutuhkan 10 tetes eter, 10 tetes PE, 9 tetes
kloroform, 12 tetes etanol 96%, dan 16 tetes air untuk melarutkannya. Oleum Cocos
membutuhkan 8 tetes eter, 5 tetes PE, 10 tetes kloroform, 20 tetes etanol 96%, dan
10 tetes air untuk melarutkannya. Oleum Olivae membutuhkan 3 tetes eter, 4 tetes
PE, 4 tetes kloroform, 8 tetes etanol 96%, dan 5 tetes air. Oleum Maydis
membutuhkan 8 tetes eter, 5 tetes PE, 11 tetes kloroform, 27 tetes etanol 96%, dan
10 tetes air untuk melarutkannya.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa masing-masing sampel larut dengan pelarut
eter, PE, dan kloroform hanya dengan beberapa tetes saja. Sedangkan masing-
masing sampel agak sukar larut dengan air dan etanol, terlihat membutuhkan lebih
banyak tetesan untuk melarutkannya. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan sifat
kepolaran dari masing-masing pelarut. Seharusnya, minyak tidak terlarut sempurna
dalam air karena air merupakan pelarut yang bersifat polar sedangkan minyak
bersifat non polar. Namun berdasarkan hasil percobaan, minyak dapat larut dengan
beberapa tetes air. Selain itu juga seharusnya minyak agak sukar larut dengan
etanol/alcohol disebabkan karena etanol merupakan pelarut yang sifatnya semipolar
dan alcohol (ROH) adalah gugus alkil, masih memiliki kesamaan rumus kimia dengan
air (H2O). Sementara pada uji kelarutan minyak dengan PE, eter, dan kloroform
terjadi kelarutan sempurna dibuktikan dengan terlihatnya larutan yang koloid, tidak
terlihat adanya pemisahan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa lipid tidak larut dalam
air atau pelarut polar, tetapi larut dalam pelarut organic non polar. Semakin non
polar suatu pelarut, semakin sedikit jumlah tetesan yang dibutuhkan, maka semakin
larut dengan minyak lemak tersebut. Dan sebaliknya.
Uji Pembentukan Emulsi bertujuan untuk melihat ada tidaknya emulsi yang
terbentuk antara air dan minyak. Emulsi merupakan dua cairan yang tidak saling
campur, sehingga diperlukan zat pengemulsi untuk membantu kedua cairan tersebut
bercampur homogen dan stabil. Prosedurnya dengan mengambil sebanyak 5 ml
aquadest dan masukkan pada masing-masing tabung reaksi. Lalu, mengambil
sebanyak 1 tetes minyak lemak ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml aquadest.
Kemudian kocok tabung reaksi dan amati apakah terjadi pemisahan. Setelah itu,
teteskan larutan sabun secukupnya, lalu kocok tabung reaksi. Amati perubahan yang
terjadi. Pembentukan emulsi ditandai dengan tercampurnya air dan minyak, karena
sabun berperan sebagai emulgator.
Berdasarkan hasil uji diperoleh semua sampel menghasilkan hasil uji yang sama,
yaitu ketika ditambahkan air, terbentuk 2 fase dan ketika ditambahkan dengan
sabun kedua fase menyatu, terdapat buih, dan campuran keruh. Hasil tersebut
menunjukkan hasil positif karena ketika minyak ditambahkan dengan air tidak akan
menyatu dan hanya terbentuk 2 lapisan, yaitu lapisan minyak berada diatas dan
tidak bercampur dengan air. Namun, ketika minyak ditambahkan dengan aquadest
kemudian ditambahkan larutan sabun akan menghasilkan emulsi karena larutan
sabun berperan sebagai emulgator yang akan menyatukan 2 fase tersebut.
Emulgator adalah bahan aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan antar
muka antara minyak dan air dan membentuk film yang liat mengelilingi tetesan
terdispersi sehingga mencegah koalesensi dan terpisahnya fase terdispersi. Dalam
pembentukan emulsi terlebih dahulu tegangan permukaan diturunkan dengan
menambahkan surfaktan jenis emulgator yang akan teradsorpsi ke dalam tetes
cairan dan memecah tetes cairan tersebut menjadi tetesan yang lebih kecil,
kemudian emulgator akan membentuk sebuah lapisan pelindung pada tiap-tiap
tetes cairan untuk mencegah terjadinya koalesens, dengan cara bagian hidrofilik
akan mengarah ke air dan bagian lipofilik akan mengarah ke minyak. Selanjutnya
untuk mencegah antara tetes dispersi yang satu dengan yang lainnya berdekatan
(saling melekat), maka dibutuhkan adanya suatu potensial zeta yang dapat
menimbulkan lapisan listrik ganda sehingga terjadi gaya tolak menolak antar tetes
terdispersi. Agar terbentuk suatu misell, maka dibutuhkan sejumlah surfaktan untuk
mencapai CMC(Critical Micelle Concentration). Sehingga dapat menghasilkan suatu
emulsi yang lebih stabil. Penggunaan emulgator ganda akan menghasilkan emulsi
yang lebih stabil karena dapat menghasilkan lapisan pelindung ganda pada
permukaan tetesan.
Uji Pembentukan Sabun bertujuan untuk mengamati ada tidaknya reaksi
penyabunan pada sampel. Prosedurnya dengan mengambil sebanyak 2 ml NaOH lalu
masukkan kedalam tabung reaksi. Lalu, masukkan 1 ml minyak lemak ke dalam
tabung reaksi yang berisi NaOH. Kemudian panaskan tabung reaksi diatas api Bunsen
hingga mendidih. Selanjutnya, masukkan aquadest sebanyak 3 ml kedalam tabung
reaksi, kocok, lalu amati sabun yang terjadi. Setelah terbentuk sabun, bagi menjadi 3
bagian yang sama.
Pada tabung pertama ditetesi dengan HCL 2 N sebanyak 5 tetes
Pada tabung kedua ditetesi dengan CaCl2 sebanyak 5 tetes
Pada tabung ketiga ditetesi dengan MgSO4 sebanyak 5 tetes
Kemudian kocok, dan amati perubahan yang terjadi. Hasil uji pembentukam sabun
menunjukkan hasil positif apabila warna berubah menjadi kuning ketika
ditambahkan HCL, menjadi berbuih dan keruh apabila ditambah CaCl2, dan
terbentuk endapan putih jika ditambah MgSO4.
Berdasarkan hasil uji, Oleum Arachidis ketika ditambah HCl terbentuk endapan,
ketika ditambah CaCl2 terbentuk endapan, ketika ditambah MgSO4 menjadi keruh.
Oleum Sesami ketika ditambah HCl warna menjadi keruh, ketika dtambahn CaCl2
terbentuk endapan putih, ketika ditambah MgSO4 terdapat endapan putih. Oleum
Cocos ketika ditambah HCl terbentuk endapan, ketika ditambah CaCl2 warna
menjadi keruh, ketika ditambah MgSO4 terbentuk endapan. Oleum Olivae ketika
ditambah HCl terbentuk endapan, ketika ditambah CaCl2 terbentuk endapan, ketika
ditambah MgSO4 warna menjadi keruh. Oleum Maydis ketika ditambah HCl warna
menjadi keruh, ketika ditambah CaCl2 warna menjadi bening dan muncul buih,
ketika ditambah MgSO4 warna menjadi keruh dan muncul buih.
Tujuan penambahan pelarut HCl, CaCl2, dan MgSO4 adalah untuk mengetahui masih
ada atau tidaknya reaksi penyabunan pada masing-masing sampel setelah
penambahan basa NaOH. Dari hasil yang diperoleh tersebut semua sampel
didapatkan hasil bahwa semua sampel masih mengandung buih atau masih terjadi
reaksi saponifikasi, dan yang membedakan adalah perubahan warna yang terjadi
pada masing-masing sampel setelah ditambahkan dengan HCl, CaCl2, dan MgSO4.
Sehingga secara pengamatan keseluruhan hasil menunjukkan terbentuknya endapan
putih atau buih. Endapan putih atau buih tersebut merupakan sabun yang terpisah
dari gliserol. Hal itu membuktikan bahwa penambahan garam dapat memisahkan
sabun dan gliserol dalam proses saponifikasi. Saponifikasi (reaksi penyabunan)
merupakan reaksi hidrolisis lemak/minyak dengan menggunakan basa kuat seperti
NaOH atau KOH sehingga menghasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun.
Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam lemak,
yang merupakan satu macam surfaktan yang dapat menurunkan tegangan
permukaan air.
Uji Ketidakjenuhan bertujuan untuk mengamati tingkat kejenuhan minyak lemak.
Prosedurnya dengan mengambil sebanyak 4 ml kloroform dan masukkan kedalam
tabung reaksi. Kemudian tambahkan dengan perekasi Hubl sebanyak 4 tetes. Lalu
vortex hingga membentuk warna merah muda (larutan A). Setelah itu, masing-
masing sampel sebanyak 0,2 ml ditetesi dengan larutan A hingga terbentuk warna
merah yang stabil. Lalu catat volume larutan A yang digunakan untuk menghasilkan
warna merah yang stabil. Semakin banyak volume larutan A yang dibutuhkan untuk
menghasilkan warna merah yang stabil, maka sampel tersebut semakin tidak jenuh.
Berdasarkan hasil uji diperoleh Oleum Arachidis membutuhkan larutan A sebanyak 6
tetes. Oleum Sesami membutuhkan larutan A sebanyak 4 tetes. Oleum Cocos
membutuhkan larutan A sebanyak 8 tetes. Oleum Olivae membutuhkan larutan A
sebanyak 6 tetes. Oleum Maydis membutuhkan larutan A sebanyak 5 tetes.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa Oleum Cocos paling banyak membutuhkan
tetesan larutan A sehingga Oleum Cocos memiliki sifatnya paling tidak jenuh. Bisa
diketahui bahwa semua sampel tersebut merupakan minyak lemak nabati yang
berasal dari tumbuhan, sehingga mengandung lemak tidak jenuh. Lemak tidak jenuh
merupakan lemak yang memiliki ikatan rangka/ganda pada hidrokarbonnya.
Pereaksi Hubl digunakan sebagai indikator perubahan yang berfungsi sebagai
pengadisi ikatan rangkap yang ada pada asam lemak tidak jenuh menjadi ikatan
tunggal, sehingga warna pereaksi tidak terlihat. Reaksi positif ditandai dengan
timbulnya warna merah muda, lalu warna kembali lagi menjadi warna asal (bening).
Warna yang kembali ke warna asal menandakan bahwa banyak ikatan rangkap pada
rantai hidrokarbon asam lemak. Hasil pengujian pereaksi Hubl akan mengoksidasi
asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi ikatan
tunggal. Warna merah yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam lemak
tak jenuh telah mereduksi pereaksi Iod Hubl. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan
rangkap pada gugus hidrokarbonnya.
Identifikasi Khusus Minyak Lemak, Lemak dan Lilin dilakukan untuk
mengetahui sifat khusus pada sampel tertentu. Uji ini meliputi uji penetapan jarak
lebur dan uji adanya sterol dengan reaksi Liebermann-Burchard.
Uji penetapan jarak lebur bertujuan untuk mengetahui titik lebur sampel yang
digunakan. Prosedurnya dilakukan dengan cara memasukkan sampel kedalam pipa
kapiler. Nyalakan melting point dengan cara tekan tombol ON di belakang alat, lalu
atur suhu yang akan digunakan dengan menekan tombol MODE. Lalu angkat melting
point sampai sejajar dengan mata. Masukkan pipa kapiler yang berisi sampel
kedalam melting point. Kemudian amati suhu yang diperlukan dari mulai sampel
meleleh hingga meleleh sempurna. Setelah sampel meleleh sempurna, tekan tombol
STOP dan catat titik leburnya. Bandingkan titik lebur hasil pengamatan dengan
literature yang relevan.
Berdasarkan hasil uji diperoleh Cera Alba menghasilkan titik lebur 63 OC, hasil ini
sudah sesuai dengan literature yang menyebutkan bahwa Cera Alba memiliki titik
lebur pada rentang 62-64OC (FI ed III hal 186). Ceta Ceum menghasilkan titik lebur
44OC, hasil ini sudah sesuai dengan literature yang menyebutkan bahwa Ceta Ceum
memiliki titik lebur pada rentang 44-52OC (FI ed III hal 141). Adeps Lanae
menghasilkan titik lebur 40OC, hasil ini sudah sesuai dengan literature yang
menyebutkan bahwa Adeps Lanae memiliki titik lebur pada rentang 36-42OC (FI ed III
hal 61).
Hasil titik lebur menunjukkan bahwa sampel yang paling cepat meleleh adalah Adeps
Lanae dan yang paling lama meleleh adalah Cera Alba. Adeps Lanae lebih cepat
meleleh dibandingkan dengan Cera Alba dan Cetaceum dikarenakan bentuk atau
tekstur bahan Adeps Lanae tidak terlalu padat dibandingkan dengan sampel yang
lain sehingga pada suhu rendah sampel Adeps Lanae sudah meleleh.
Uji Adanya Sterol dengan reaksi Liebermann-Burchard, bertujuan untuk mendeteksi
adanya sterol pada sampel. Prosedurnya dilakukan dengan cara memasukkan 10
tetes Oleum Cocos kedalam cawan porselen. Lalu ambil sebanyak 1 ml asam asetat
glasial dan masukkan kedalam cawan porselen yang berisi sampel Oleum cocos.
Tambahkan sebanyak 2 tetes H2SO4 pekat. Lalu amati perubahan warna yang
terjadi. Prosedur yang sama dilakukan untuk Adeps Lanae. Hasil positif apabila
terjadi perubahan menjadi warna hijau zamrud yang menandakan bahwa adanya
sterol pada sampel. Berdasarkan hasil uji diperoleh Oleum Cocos menghasilkan
warna hijau zamrud yang menandakan bahwa Oleum cocos mengandung sterol.
Sedangkan untuk Adeps Lanae menghasilkan warna kuning yang menunjukkan hasil
negative bahwa Adeps Lanae tidak mengandung sterol. Sterol merupakan senyawa
golongan steroid. Sterol sering ditemukan bersama-sama dengan lemak. Sterol
dapat dipisahkan dari lemak setelah penyabunan. Oleh karena sterol tidak
tersabunkan maka senyawa ini terdapat dalam residu.
Pereaksi Liebermann-Burchard merupakan campuran antara asam asetat anhidrat
dengan asam sulfat pekat. Prinsip uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol
dengan penambahan asam sulfat pekat ke dalam campuran, asam asetat dilarutkan
kedalam larutan kolesterol dan kloroform. Alasan digunakannya asam asetat
anhidrat adalah untuk membentuk turunan asetil dari steroid yang akan membentuk
turunan asetil di dalam kloroform. Penambahan kloroform berfungsi untuk
melarutkan kolesterol yang terkandung di dalam sampel. Mekanisme yang terjadi
dalam uji ini ketika asam sulfat ditambahkan kedalam campuran yang berisi
kolesterol, maka molekul air berpindah dari gugus C3 kolesterol, kolesterol
kemudian teroksidasi membentuk 3,5-kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi
polimer yang mengandung kromofor yang menghasilkan warna hijau zamrud. Warna
ini disebabkan karena adanya gugus hidroksi (-OH) dari kolesterol bereaksi dengan
pereaksi Liebermann-Burchard dan meningkatkan konjugasi dari ikatan tak jenuh
dalam cincin yang berdekatan. Warna hijau zamrud ini menandakan hasil yang
positif (Gilvery, 1996)
Uji Khusus Oleum Sesami, bertujuan untuk mengamati adanya senyawa sesamol
pada Oleum Sesami. Prosedurnya dilakukan dengan cara memasukkan 2 ml minyak
lemak kedalam tabung reaksi. Tambahkan beberapa tetes sakarosa 10% dalam HCl
pekat. Kemudian kocok, dan amati perubahan warna yang terjadi. Hasil positif
apabila terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menunjukkan sampel
mengandung sesamol. Berdasarkan hasil uji diperoleh terbentuk 2 lapisan warna
yang memisah. Lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah berwarna merah.
Hal itu menunjukkan hasil negative bahwa Oleum sesame tidak mengandung
sesamol. Seharusnya Oleum Sesami mengandung sesamol. Kesalahan hasil dapat
terjadi karena faktor kesalahan praktikan dalam melakukan uji. Sesamol adalah
senyawa organik alami yang merupakan komponen minyak wijen. Sesamol telah
ditemukan sebagai antioksidan yang dapat mencegah pembusukan minyak, dan
dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Sesamol larut dalam
air, tetapi boleh dicampur dengan kebanyakan minyak (Riawan, 1990).

6. Kesimpulan
1. Mahasiswa dianggap telah mampu mengidentifikasi minyak lemak, lemak
dan lilin baik secara fisika maupun kimia, terutama bahan yang digunakan
dalam bidang farmasi.
2. Lemak (fat) merupakan salah satu kelompok yang termasuk pada golongan
lipid, yaitu senyawa organic yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air,
tetapi larut dalam pelarut organic non polar
3. Minyak lemak merupakan trigliserida yang berasal dari tumbuhan atau
hewan, diperoleh dengan mengekstraksi atau mengempa.
4. Lilin (wax) merupakan senyawa yang terbentuk dari ester asam lemak
berantai karbon panjang yang jenuh dan tidak jenuh dengan alcohol, tetapi
bukan dengan gliserol melainkan dengan monohidroksi tinggi.

7. Daftar Pustaka
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departmen Kesehatan
Republik Indonesia
Armstrong, Frank. 1995. Buku Ajar Biokimia Edisi Ketiga. Jakarta: EGC
Gilvery, Goldstein. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional. Surabaya:
Airlangga University
Riawan, S. 1990. Kimia Organik Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara
Stahl, E. 1985. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, Edisi
terjemahan (diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Iwang Soediro).
Bandung: ITB Press

Anda mungkin juga menyukai