Anda di halaman 1dari 4

 HABs (Harmful Algae Bloomings)

Seperti yang kita ketahui bahwasannya fitoplankton adalah suatu


organisme yang tidak dapat melakukan gerakan bebas. Yang membedakan
fitoplankton dengan jenis plankton lainnya adalah kemampuannya untuk
membuat makanannya sendiri (autotorof) melalui fotosintesis. Fotosintesis
adalah suatu proses untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air
yang digunakan sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di perairan.
Karena kemampuannya inilah fitoplankton merupakan organisme perairan
yang termasuk dalam organisme berproduktivitas primer. Menurut Steeman-
Nielsen (1952), kurang lebih 95% produktivitas primer di laut disumbangkan
oleh fitoplankton. Namun, apabila jumlahnya berlebihan (blooming) dalam
suatu perairan maka akan dapat menurunkan kualitas air. Pada umumnya,
fenomena blooming ditandai dengan berubahnya warna air laut yang dikenal
dengan sebutan red tide atau pasang merah. Tapi istilah ini sering
menyesatkan karena ledakan fitoplankton ternyata tidak selalu dicirikan
dengan warna merah (red).  Blooming fitoplankton juga dapat menyebabkan
air laut berubah warna dari biru-hijau menjadi merah kecoklatan, hijau, atau
kuning-hijau, bergantung pada pigmen yang dikandungnya (Nontji, 2006). 
Bahkan dalam beberapa kasus, ledakan fitoplankton tidak menimbulkan warna
apa-apa di permukaan laut. Tingginya populasi fitoplankton beracun di dalam
suatu perairan dapat menyebabkan berbagai akibat negatif bagi ekosistem
perairan, seperti berkurangnya oksigen di dalam air yang dapat menyebabkan
kematian berbagai makhluk air lainnya. Hal ini diperparah dengan fakta
bahwa beberapa jenis fitoplankton yang potensial blooming adalah yang
bersifat toksik, seperti dari beberapa kelompok Dinoflagellata, yaitu
Alexandrium sp, Gymnodinium sp, dan Dinophysis sp. Dari kelompok Diatom
tercatat jenis Pseudonitszchia sp termasuk fitoplankton toksik.

Ledakan populasi fitoplankton yang diikuti dengan keberadaan jenis


fitoplankton beracun akan menimbulkan Ledakan Populasi Alga Berbahaya
(Harmful Algae Blooms – HABs). Namun, dalam suatu situs menyebutkan
bahwa HABs adalah istilah untuk menyatakan ledakan populasi fitoplankton
yang berbahaya karena spesies-spesies penyebab HAB menyebabkan racun
atau toksik. Spesies HAB sendiri dibagi ke dalam dua kelompok, yakni
penghasil racun dan penghasil biomassa tinggi. Faktor yang dapat memicu
ledakan populasi fitoplankton berbahaya antara lain:

o Eutrofikasi
o Upwelling
o Hujan lebat
o Masuknya air ke laut dalam jalam jumlah besar

 Ptychodiscus brevis

Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Pyrrophyta
Kelas : Diinophyceae
Ordo : Ptychodiscales
Famili : Ptychodiscoceae
Genus : Ptychodiscus
Spesies : Ptychodiscus brevis (namun beberapa situs menyebutnya
Gymnodinium breve)
Ptychodiscus brevis merupakan anggota pyrrophyta yang
mengandung racun yang disebut brevitoxin. Brevitoxin akan masuk ke
tubuh ikan atau kerang-keranga tersebut apabila pada saat terjadi
fenomena Red Tide berbagai jenis ikan dan kerang-kerangan tersebut
mengkonsumsi pyrrophyta beracun misalnya jenis Ptychodiscus brevi.
Seseorang yang mengkonsumsi organisme air khususnya kerang-kerangan
dan tiram yang mengandung fitoplankton jenis Ptychodiscus brevis dapat
mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin brevitoxin yang disebut
Neurotoxic Shell fish Poisoning. Ptychodiscus brevis juga dapat
melakukan fotosintesis dengan dominan pigmen adalah klorofil yang
terlihat hijau kekuningandan pirenoids. Inti selnya bulat besar dengan
diameter 6 – 9 mikrometer. Letak dari inti selnya agak ke kiri hypotheca.
Spesies ini juga tidak memiliki peridinin sebagai pigmen aksesori utama.

Cara reproduksinya juga melalui dua jalan yaitu seksual dan


aseksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan pembelahan biner.
Sedangkan secara seksual yaitu dengan jalur isogamous dan pembentukan
planozigot. Bentu dari planozigot secara morfologi mirip dengan sel
vegetatif hanya saja memiliki ukuran yang lebih besar. Gamet – gamet
yang dibentuk berukuran ebih kecil (berkisar 18 – 24 mikrometer). Siklus
seksual yang ada dalam hidup Ptychodiscus terjadi pada musim gugur dan
musim dingin.

Jenis ini banyak menyebabkan HABs di daerah Teluk Meksiko dan


lepas pantai Florida Barat. Gejala keracunannya meliputi rasa gatal pada
muka yang menyebar ke bagian tubuh yang lain, rasa panas-dingin yang
bergantian, pembesaran pupil dan perasaan mabuk.
SUMBER:

Retnoningtyas, Heidi. 2006. Studi Ekologi Beberapa Spesies Harmful Algae


Bloom (HAB) di Perairan Teluk Hurun, Lampung Selatan.
www.ilmukelautan.com diakses tanggal 22 Mei 2011.

Aunurohim, dkk. Fitoplankton Penyebab Harmful Algae Blooms Di Perairan


Sidoarjo. Jurnal ITS Surabaya.

http://hernandhyhidayat.blogspot.com
www.itis.gov