Anda di halaman 1dari 16

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2021/22.1 (2021.2)

Nama Mahasiswa : FITRIYANI

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 856807417

Tanggal Lahir : 05 FEBRUARI 1997

Kode/Nama Mata Kuliah : IDIK4007/METODE

PENELITIAN Kode/Nama Program Studi : PGSD S-1

Kode/Nama UPBJJ : 19/BENGKULU

Hari/Tanggal UAS THE : KAMIS/23 DESEMBER 2021

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halamanini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuranakademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulistangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuranakademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN


KEBUDAYAAN UNIVERSITAS
TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa Kejujuran
Akademik

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : FITRIYANI


NIM 856807417
Kode/Nama Mata Kuliah : : IDIK4007/METODE PENELITIAN
Fakultas : FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN (FKIP)
Program Studi : PGSD-S1
UPBJJ-UT : BENGKULU

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE
pada laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepadasiapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UASTHE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di UniversitasTerbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan tidak
melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media apapun,
serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik UniversitasTerbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat pelanggaran atas
pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh
Universitas Terbuka.
KAMIS, 23 DESEMBER 2021

Yang Membuat Pernyataan

FITRIYANI
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

1.1 Latar Belakang Masalah.


Mata pelajaran ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang
dianggap oleh siswa sebagai mata pelajaran yang
membosankan dan kurang menarik Oleh karena itu, hal ini menjadi
suatu tantangan bagi setiap guru ekonomi di sekolah, yakni bagaimana
membuat mata pelajaran ini menjadi menarik dan menyenangkan bagi siswa.
Ketertarikan siswa terhadap pelajaran ekonomi menjadi suatu faktor yang
mempengaruhi keberhasilan guru dalam mengajarkan mata pelajaran ini.
Adapun faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran
adalah: guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan,
dan kurikulum. Guru dalam proses pembelajaran di sekolah
menempati
kedudukan yang sangat penting dan tanpa mengabaikan faktor penunjang
yang lain, guru sebagai subyek pendidikan sangat menentukan keberhasilan
pendidikan itu sendiri.
Keberhasilan itu sendiri akan sangat bermakna, jika seseorang guru
melakukan satu konsep atau satu model pembelajaran yang mampu
meningkatkan pengetahuan siswa. Hal ini disebabkan karena guru merupakan
faktor utama yang menjadikan siswa itu teladan dengan keperibadian yang
terampil, menjadikan siswa mampu dalam melaksanakan pembelajaran yang
diajarkan.

Banyak guru yang mengeluhkan rendahnya kemampuan siswa


dalam menerapkan konsep belajar yang cederung menghafal. Hal ini terlihat
dari banyaknya kesalahan siswa dalam memahami konsep ekonomi sehingga
mengakibatkan kesalahan-kesalahan dalam mengerjakan soal sehingga
mengakibatkan rendahnya hasil belajar baik dalam ulangan harian, ulangan
semester, maupun ujian akhir sekolah. Rendahnya mutu pembelajaran dapat
diartikan kurang efektifnya model pembelajaran yang diterapkan.
Melihat kondisi yang banyak ditemukan dilapangan, banyak guru
merasa kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk
mata pelajaran ekonomi, sehingga pembelajaran kurang efektif. Ditambah
lagi bila pembelajaran ekonomi berada pada jam terakhir sehingga siswa
pada proses belajar mengajar akan merasa jenuh, konsentrasi pada pelajaran
menurun, mengantuk, dan sebagainya. Dengan demikian peran guru disini
sangat penting dalam pemilihan model
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

Kebanyakan dari guru ekonomi hanya menggunakan pembelajaran


yang konvensional, dimana dalam pembelajaran hanya di dominasi oleh
guru. Hanya guru yang terus berbicara didepan kelas sedang siswa sebagai
pendengar, sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan keseluruhan
situasi belajar. Itu disebabkan karena model pembelajaran yang tidak sesuai
sehingga membuat siswa tidak merespon dengan baik guru yang sedang
memberikan pelajaran. Proses pembelajaran Ekonomi dapat dilakukan
dengan berbagai model pembelajaran. Namun kenyataan dilapangan
seringkali hasil proses pembelajaran tidak sesuai dengan harapan. Banyak
siswa yang mengeluh terhadap mata pelajaran Ekonomi, sebagian siswa
menganggap materi sulit, sebagian menganggap Ekonomi bukan
pembelajaran yang menyenangkan. Indikator proses pembelajaran yang
digunakan untuk menyatakan keberhasilan dalam pembelajaran adalah daya
serap siswa terhadap suatu materi yang diberikan mencapai prestasi yang
tinggi, baik secara individu maupun kelompok.
Hal ini disebabkan karena siswa kurang paham tentang langkah
langkah mendapatkan penjelasan yang maksimal dalam arti pehaman konsep
yang belum tersajikan dengan baik oleh guru. Oleh karena itu, diperlukan
suatu variasi dalam menyampaikan materi pembelajaran agar seluruh peserta
didik aktif dan terampil. Salah satu variasi dalam proses penyampaian materi
pembelajaran dapat dilakukan dengan model pembelajaran problem based
learning.
Banyak model pembelajaran di dalam dunia pendidikan, tetapi
model pembelajaran yang diajarkan hanya bersifat kaku dan tidak menarik,
misalnya model ceramah. Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
ceramah ini, guru menjelaskan materi pelajaran dan siswa mendengarkan dan
mencatat apa yang disampaikan. Masalah ini yang sering dijumpai disetiap
sekolah, baik itu Sekolah Negeri maupun Sekolah Swasta. Sebagai mata
pelajaran yang membelajarkan siswa dalam memecahkan masalah ekonomi,
pak andi akan menggunakan 2 model pembelajaran di 2 kelas berbeda pembelajaran
problem based learning dan problem solving.

Model pembelajaran problem based learning adalah suatu


pembelajaran yang diawali dengan menghadapkan siswa pada suatu masalah. model
pembelajaran problem based learning (PBL) dapat melibatkan peserta didik dalam berpikir
tingkat tinggi, dan pemecahan masalah. Pada saat peserta didik menghadapi
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

masalah tersebut, mereka mulai menyadari bahwa hal demikian dapat


dipandang dari berbagai perspektif serta untuk menyelesaikannya diperlukan
informasi dari berbagai disiplin ilmu. Melalui model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) siswa diharapkan akan terfokus pada kegiatan
memecahkan masalah pada mata pelajaran ekonomi.
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi
untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan
baru untuk dapat menyelesaikan masalah, serta dapat memberikan kondisi
belajar yang aktif untuk peserta didik.

Based Learning ini merupakan model pembelajaran yang bercirikan student


centered, yaitu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa karena
pemecahan masalah melibatkan partisipasi aktif dari siswa dalam bentuk
kelompok untuk bersama-sama mencarikan solusi atas permasalahan yang
diberikan. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa penerapan
model pembelajaran Problem Based Learning dapat memberikan dampak
posisitf bagi peningkatan hasil belajar siswa. Di samping hasil belajar yang
meningkat, peran aktif siswa dalam proses pembelajaran meningkat.
Dalam proses pembelajaran mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri
43 RL, model pembelajaran Problem Based Learning merupakan salah satu
model pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas. Model pembelajaran
problem based learning, sebagaimana tertuang dalam Kurikulum 2013
merupakan salah satu model pembelajaran yang disarankan untuk diterapkan
dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam
proses pembelajaran. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang
pengaruh penerapan metode problem based learning dengan hasil belajar
siswa.
Penelitian ini juga diarahkan pada penerapan metode problem solving dalam meningkatkan
keterampilan berpikir kritis pada mata pelajaran ekonomi di kelasVII.a dan VII.b SMPN 43
RL,Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada hasil belajar ekonomi,
menemukan pola pengelolaan belajar, dan pengorganisasian isi sesuai dengan standar isi
mata pelajaran ekonomi SMP sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 22 Tahun 2006. Salah satu metode pembelajaran yang dapat merangsang
keterampilan berpikir kritis siswa adalah metode problem solving (pemecahan
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

Metode problem solving merupakan metode yang merangsang siswa untuk mau berpikir,
menganalisa suatu persoalan sehingga menemukan pemecahannya. Metode ini dapat
menghindarkan seseorang membuat kesimpulan tergesa-gesa, menimbang-nimbang
berbagai kemungkinan pemecahan, dan menangguhkan pengambilan keputusan sampai
terdapat bukti-bukti yang cukup. Berangkat dari pemikiran di atas maka penelitian ini fokus
pada, yakni: 1. Penerapan metode pembelajaran problem solving pada mata pelajaran
ekonomi. 2. Penerapan metode pembelajaran problem solving pada mata pelajaran ekonomi
SMPN 43 REJANG LEBONG kelas VII.a dan VII.b. 3.Penerapan metode pembelajaran
problem solving pada pokok bahasan indeks harga dan inflasi. 4. Pengkajian penerapan
metode problem solving dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada mata
pelajaran ekonomi kelas VII.a dan VII.b dengan pokok bahasan Indeks Harga dan Inflasi.
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat disimpulkan
Bagaimanakah penerapan metode problem solving dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi di kelas VII.a dan VII.b Seperti telah
diuraikan pada rumusan masalah, maka tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan
penerapan metode problem solving dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
pada mata pelajaran ekonomi. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan dan menganalisis: 1. Perencanaan metode problem solving dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi 2. Proses
metode problem solving dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata
pelajaran ekonomi 3. Hasil metode problem solving dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi. Adapun manfaat penelitian ini dapat
disebutkan sebagai berikut: Secara teoretis, penelitian ini bermanfaat dalam memberikan
konstribusi teoretis, yaitu menambah khasanah pengetahuan yang berkaitan dengan metode
pembelajaran problem solving pada mata pelajaran ekonomi. Secara praktis, hasil penelitian
ini dapat bermanfaat bagi: a. Siswa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi
perbaikan dan peningkatan hasil belajar, terutama keterampilan berpikir kritis. b. Guru.
Penelitian ini diharapkan dapat diterapkan dalam pembelajaran ekonomi SMA agar siswa
memiliki keterampilan berpikir kritis. c. Sekolah. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
salah satu acuan bagi sekolah dalam menerapkan pembelajaran problem solving pada mata
pelajaran lainnya.
maka peneliti mengadakan penelitian yang judulnya difromulasikan
sebagai berikut: “Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL)dan problem solving terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi di
kelas VII.a DAN VII.b SMP Negeri 43 REJANG LEBONG”.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di identifikasi
masalah sebagai
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS
Pembelajaran dengan metode problem based learning dan problem solving. masih efektif digu
Proses pembelajaran lebih didominasi oleh guru, atau malah siswa yang lebih dominan.
kelas mana yang memili Hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi masih rendah
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)atau problem solving yanglebih efektif

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan problem solving terhadap hasil
belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dan mengetahui model pembelajaran yang
manakah yang paling efektif dalam penerapan pelajaran ekonomi di kelas VII.a DAN VII.b
SMP Negeri 43 REJANG LEBONG?

2.1. Rumusan Masalah


Berdasarkan beberapa masalah yang dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah penelitian ini diformulasikan sebagai berikut: model pembelajaran yang
manakah yang paling efektif dalam penerapan pelajaran ekonomi di kelas VII?

2.2 HIPOTESIS
Menurut saya,model pembelajaran yang paling efektif dalam penerapan pelajaran ekonomi
di kelas VII adalah problem solving karena dengan menggunakan memiliki kelebihan
sebagai berikut:
a. Metode ini dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan
dengan kehadupan, khususnya dengan dunia kerja.
b. Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan
para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila
menghadapi permasalahan didalam kehidupan dalam keluarga, masyarakat,
dan bekerja, suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan
manusia.
c. Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara
kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya, siswa banyak
melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam
rangka mencari pemecahan
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

3. 1) Penelitian oleh Sofi Nurqolbiah, 2016 yang berjudul “Peningkatan


kemampuan pemecahan masalah, berpikir kreatif dan self confidence siswa
melalui model pembelajaran berbasis masalah” didapatkan hasil bahwa
ditemukan perbedaan perolehan kemampuan pemecahan masalah antara
anak didik yang dibentuk lewat pembelajaran berbasis masalah dengan
pendekatan saintifik dan anak didik yang menggunakan pengkajian saintifik
saja,dengan rerata nilai hasil gain kelas yang menerima perlakuan
pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik lebih tinggi
dibandingkan rerata gain kelas yang menerima pengkajian saintifik yaitu
0,67 dan 0,58. Ada perbedaan penambahan kapasitas berpikir kreatif antara
anak didik yang menimba ilmu lewat pembelajaran berbasis masalah dengan
pendekatan saintifik dan anak didik yang menerima pembelajaran saintifik
yang selisih nilainya 0,69 dan 0,64. Serta kapasitas self confidence anak
didik yang dikembangkan melalui pembelajaran berbasis masalah dengan
pendekatan saintifik lebih unggul dengan persentase 67,5% dibandingkan
dengan pembelajaran saintifik49.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Anggit Cahya Lintang, Masrukan dan Sri
Wardani, 2017 yang berjudul “PBL dengan APM untuk Meningkatkan
Kemampuan Pemecahan Masalah dan Sikap Percaya Diri” didapatkan
hasil bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen
menunjukkan nilai 0,36508 pada kategori sedang. Sedangkan pencapaian
indikator sikap percaya diri siswa kelas eksperimen mencapai kriteria tinggi
73%, sedangkan kelas kontrol 49% tergolong ke dalam kriteria rendah50.

3) Penelitian oleh Alfi Reynawati, 2018 yang berjudul ”Penerapan Model


Problem Based Learning Pada Materi Pencemaran Lingkungan Untuk
Melatihkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa” didapatkan hasil bahwa
terbentuk pengembangan keterampilan berpikir kreatif anak didik setelah
diterapkannya model PBL (Problem Based Learningi) pada materi
pencemaran lingkungan yaitu sebesar 0,669 di kelas VII E dan 0,689 di
kelas VII.a dan b dengan kategori sedang.

4) Penelitian oleh Ahmad Fadillah, 2016 yang berjudul “Pengaruh


Pembelajaran Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir
Kreatif

pengembangan
kemampuan berpikir kreatif matematis anak didik menggunakan problem
solving dengan anak didik yang diberi strategi pembelajaran konvensional.
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS
Penelitian oleh Adhetia Martyanti, 2016 yang berjudul “Keefektifan Pendekatan Problem Solv

Penelitian oleh Rosanti, Endah Evy Nurekawati, 2018 yang berjudul

“Pengaruh Model Pembelajaran Problem Solving terhadap Kemampuan


Berpikir Kreatif Mahasiswa pada mata kuliah Geografi Pariwisata”
didapatkan hasil bahwa penggunaan model pembelajaran tersebut mampu
memberikan pengaruh yang positif dalam mengembangkan kemampuan
, Penerapan Model Problem Based Learning Pada Materi Pencemaran
Lingkungan Untuk Melatihkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal
Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri
Surabaya, Ahmad Fadillah, Pengaruh Pembelajaran Problem Solving Terhadap
Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika
Universitas Muhammadiyah Tanggerang.

BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA


4.a. Langkah – langkah terstruktur dalam diskusi tutorial dikenal
dengan seven jumps method. Ketujuh langkah tersebut menurut
Harsono (2004) adalah :
1) Klarifikasi istilah – istilah dari skanario
Mahasiswa dapat beberapa kata yang kurang
jelas
maknanya, dan anggota kelompok lain mencoba menerangkan
definisnya. Sekretaris kelompok membuat daftar istilah yang
oleh kelompok nya dianggap masih belum jelas maknanya.

2) Menetapkan masalah
Merupakan sesi terbuka dimana mahasiswa diharpkan dapat
memberikan pendapat mereka mengenai maslah dalam diskusi
yang berlangsung. Peran tutor disini adalah memacu mahasiswa
untuk memberikan analisa yang umum dan cepat. Sangat
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA
dimungkinkan dalam kelompok mahasiswa dalam perspektif
yang berbeda dalam memandang dalam subuah masalah.

3) Curah pendapat mengenai penjelasan dan kemungkinan


hipotesa Mahasiswa berdiskusi dengan menggunakan prior
knowladge. Setiap mahasiswa menyumbangkan pendapat
mereka dan kemudian mengidentifikasi area yang masih belum
jelas atau belum lengkap. Tutor masih diperlukan untuk
menjaga diskusi tetap berada pada level hipotesis dan tidak
yang menyimpang dari topik. Pada langkah ini penting bagi
mahasiswa untuk mempergunakan prior knowladge mereka
agar diskusi tetap hidup.

4) Menyusun penjelasan masalah


Mahasiswa membuat review terhadap hasil langkah –
langkah 2 dan 3. Kemudian membuat penjelasan sementara.
Tahap ini mengaktifkan proses dan merestruktur pengetahuan
yang ada dan mengidentifikasi penjelasan.

5) Perumusan tujuan belajar.


Mahasiswa membuat formulasi tujuan belajar. Anggota
kelompok mencapai konsensus tentang tujuan belajar mereka.
Tutor memastikan bahwa tujuan belajar telah terfokus, tercapai,
komperhensif dan tepat.

6) Mengumpulkan informasi dan belajar mandiri


Mahasiswa bekerja secara independent (Private study) untuk
mengumpulkan informasi menggunakan komputer, internet,
mencari informasi lewat ahli, atau hal – hal yang dapat
membantu penyedian informasi yang mahasiswa butuhkan.
Pada tahap ini mahasiswa dan tutor tidak terjadi tatap muka
sehingga peran tutor tidak kelihatan walaupun demikian tutor
tetap mempunyai peran dalam membantu mahsiswa untuk
mengindetifikasi sumber materi saat belajar mandiri.

7) Padukan antara informasi yang baru di dapat dan informasi yang


BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS
telah didapat
Mahasiswa kembali bertemu untuk melaporkan, dan mendiskusikan temuan informasi yang m

Diskusi tutorial dengan seven jumps ini, diceritakan oleh


partisipasi dan interaksi mahasiswa dalam sebuah kelompok.
Dimna dalam kelompok diskusi tersebut terdiri dari 8 – 10
mahasiswa dibimbing oleh seorang tutor sebagai fasilitator.
Untuk membawa PBL pada tujuan yang diinginkan, dalam
melakukan diskusi tutorial dengan seven jumps mahasiswa
dituntut untuk bias melakukan self directed learning/SDL.

B.Menurut Jhon Dewey dalam Ahmadi (1997:74) pada pokoknya langkah langkah yang
harus dicapai dalam memecahkan masalah sebagai berikut:
a. Menyadari adanya masalah yaitu problem kesulitan, sesuatu yang menimbulkan tanda
tanya dalam pikiran yang biasanya hadapi sehingga kita merasa bimbang.
b. Memahami hakekat masalah yang jelas yang berarti ketegasan dan kejelasan rumusan
problem merupakan syarat untuk memecahkan masalah secara efesien.
c. Mengajukan hipotesis yaitu dugaan mengenai jawaban suatu masalah, tanpa bukti yang
nyata. Walaupun masalah itu belum jelas jawabannya. Setelah memiliki hipotesis, barulah
mencari bukti-bukti, apakah hipotesis itu benar atau tidak.
d. Mengumpulkan data yaitu untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis. Data ini
diperoleh dari buku-buku, wawancara, angket, eksperimen, dan penyelidikan.
e. Analisis dan sintesis data yaitu bahan yang dikumpulkan harus ditinjau dan dianalisa
secara kritis dan melihat hubungannya dan pemecahan masalahnya.
f. Mengambil kesimpulan yaitu berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisa
secara kritis dapat diuji kebenaran hipotesis.
g. Mencoba dan menerapkan kesimpulan yaitu kebenaran kesimpulan bukan hanya berupa
hasil pemikiran, melainkan harus pula dibuktikan kebenarannya di dalam perbuatan.
h. Mengevaluasi seluruh proses pemecahan masalah yaitu akhirnya peninjauan kembali
keseluruhan proses berpikir dari awal sampai akhir. Evaluasi jalnnya metode pemecahan
masalah melalui diskusi dapat menambah kesanggupan anak-anak memecahkan masalah-
masalah yang dihadapinya di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

Menurut Heriawan, dkk (2012:94) lebih singkatnya langkah-langkah yang diikuti dalam
problem solvingyaitu menurut Jhon Dewey ialah:
a. Pelajar dihadapkan pada suatu masalah
b. Pelajar merumuskan masalah tersebut
c. Pelajar merumuskan hipotesis
d. Pelajar menguji hipotsis tersebut
e. Mempraktikkan kemungkinan pemecahan yang dipandang terbaik Dalam pemecahan
masalah belajar sering memerlukan instruksi verbal yang membimbing ke arah penemuan
jawabannya. Akan tetapi petunjuk ini dapat diberikan murid sendiri kepada dirinya.

Kemampuan memberi petunjuk kepada diri sendiri merupakan hasil belajar. (Heriawan,dkk.
2012:94) Penggunaan metode ini dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a. Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa
sesuai dengan taraf kemampuannya.
b. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah
tersebut.
c. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut.
d. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut.
e. Menarik kesimpulan, artinya siswa harus sampai pada kesimpulan terakhir tentang
jawaban dari masalah tadi.

(Djamarah, 2010 : 92) Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai suatu proses,
dimana siswa menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajarinya terlebih dahulu
yang digunakan untuk memecahkan masalah yang baru. (Heriawan, dkk. 2012:93)
Langkah- langkah metode problem solving menurut Majid (2013:213)
a. Menyiapkan isu/masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari
siswa sesuai dengan tarif kemampuannya juga sesuai materi yang disampaikan dan
kehidupan rill siswa/keseharian.
b. Menuliskan tujuan/kompetinsi yang hendak dicapai.
c. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah
tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, dll.
d. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dalam langkah ini, siswa harus
berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut betul-
betul cocok dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai.
Untuk menguji kebenaran jawaban tersebut, tentu saja diperlukan metode-metode lainnya
seperti demonstrasi.
e. Tugas, diskusi, dan lain-lain f. Menarik kesimpulan, artinya siswa harus sampai pada
kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tersebut. Siswa seharusnya memiliki
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

pengetahuan dasar yang berhubungan dengan permasalahan dan dapat menggunakan cara-
cara tertentu dalam pemecahan masalah.

Menurut Heriawan (2012:96) Dalam pelaksanaan pemecahan masalah, guru hendaknya


membimbing siswanya melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Siswa dibimbing oleh guru memilih dan merumuskan masalah tersebut
b. Siswa harus menyadari mengapa masalah yang dipilihnya merupakan suatu problem, dan
bagaimana kemungkinan alternatif pemecahannya. Siswa akan terbantu apabila siswa
mengetahui kebaikan alat alternatif yang dipilihnya. Dengan demikian mereka tidak hanya
memahami problemnya, akan tetapi yang lebih penting adalah alasan-alasan
memilih/menentukan suatu alternatif. Guru membimbing siswa dalam merumuskan
hipotesis, selanjutnya melaksanakan pengumpulan data .
c. Dibawah bimbingan guru, siswa menarik kesimpulan dari data yang diperoleh.

5. 1. Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Problem Solving pada Materi
Sistem Reproduksi Manusia Berdasarkan perhitungan hasil belajar kognitif siswa dengan
menggunakan model pembelajaran Problem Solving memperoleh nilai rata-rata pretest
45,88 dengan kriteria rendah dan nilai rata-rata posttest sebesar 76,50 dengan kriteria baik.
Jika dibandingkan berdasarkan KKM sebesar 72 maka presentase nilai ratarata posttest dari
40 siswa yang sudah mencapai nilai KKM yaitu sebesar 80 % sudah mencapai KKM dan 20
% yang belum mencapai KKM.Dilihat dari presentase tingkat pemahaman siswa kelas
eksperimen 1, pada saat pretest tingkat pemahaman kurang
sebesar 5,00 % dan tingkat pemahaman cukup sebesar 95,00 %. Tetapi pada saat posttest
tingkat pemahaman siswa berubah secara signifikan dengan tingkat pemahaman cukup
sebesar 10,00 % dan baik sebesar 90,00 %. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tingkat
pemahaman kurang dan tingkat pemahaman cukup, lebih rendah setelah dilakukan posttest
dibandingkan saat dilakukannya pretest. Jumlah tingkat pemahaman baik, lebih tinggi
setelah dilakukan posttest dibandingkan saat dilakukannya pretest.

2. Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada
Materi Sistem Reproduksi Manusia Berdasarkan perhitungan hasil belajar siswa pada saat
posttest dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning memperoleh
nilai rata-rata pretest sebesar 45,12 dengan kriteria rendah dan nilai ratarata posttest sebesar
64,75 dengan kriteria rendah. Jika dibandingkan berdasarkan KKM sebesar 72 maka
presentase nilai rata-rata posttest dari 40 siswa yang sudah mencapai nilai KKM yaitu
sebesar 15 % sudah mencapai KKM dan 85 % yang belum mencapai KKM. Dilihat
dari presentase tingkat pemahaman siswa kelas eksperimen 2, pada saat pretest tingkat
pemahaman kurang sebesar 12,50 % dan
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

tingkat pemahaman cukup sebesar 87,50 %. Sedangkan pada saat posttest siswa dengan
tingkat pemahaman cukup sebesar 67,50 % dan
baik sebesar 32,50 %. Dan pada saat posttest siswa dengan tingkat
ISSN : 2338-7173 Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi
Februari 2017, Vol. 7, No. 1

pemahaman cukup sebesar 67,50 % dan baik sebesar 32,50 %. Hal ini menunjukkan bahwa
jumlah tingkat pemahaman kurang dan tingkat pemahaman cukup lebih rendah setelah
dilakukan posttest dibandingkan saat dilakukannya pretest. Jumlah tingkat pemahaman baik
lebih tinggi setelah dilakukan posttest dibandingkan saat dilakukannya pretest.

3. Perbandingan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Problem Solving


dan Problem Based Learning pada Mapel ekonomi.
Analisis dari perhitungan hasil belajar kelas VII.a dengan menggunakan model Problem
Solving dan VII.b dengan model pembelajaran model Problem Based Learning pada materi
sistem reproduksi dapat dilihat pada pengujian hipotesis yang dilakukan. Dari data
perhitungan keseluruhan 20 soal berupa pilhan ganda, diperoleh nilai rata-rata sebesar 76,50
pada kelas VII.a dan diperoleh nilai ratarata sebesar 64,75 pada kelas VII.b. Berdasarkan
nilai ratarata hasil belajar kelas yang menggunakan model Problem Solving lebih tinggi
dibandingkan dengan kelas menggunakan model Problem Based Learning. Dilihat dari
peningkatan skor rata-rata indikator hasil belajar siswa untuk kelas VII.a yang
menggunakan model pembelajaran Problem Solving maupun kelas VII.b yang
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Pada kelas eksperimen 1
untuk indikator C2 memperoleh skor rata-rata posttest sebesar 90,00 sedangkan pada
kelas eksperimen 2 memperoleh skor rata-rata posttest sebesar 79,38. Hal ini menunjukkan
bahwa siswa mampu memahami ketika mereka menghubungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan lama mereka. Pada kelas VII.a untuk indikator C3 memperoleh skor rata-rata
posttest sebesar 82,50 sedangkan pada kelas VII.b memperoleh skor rata-rata posttest
sebesar 72,85. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu mengaplikasikan prosedur-
prosedur tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan masalah. Pada kelas
VII.a untuk indikator C4 memperoleh skor rata-rata posttest sebesar 63,33 sedangkan pada
kelas VII.b memperoleh skor ratarata posttest sebesar 52,91. Hal ini menunjukkan bahwa
siswa mampu menganalisis proses memecah-mecah materi jadi bagian-bagian kecil dan
menentukan bagaimana hubungan antar bagian dan antara setiap bagian dan struktur
keseluruhannya. Sejalan dengan hasil yang diperoleh Anderson (2015:120) mengemukakan
bahwa menganalisis mencakup belajar untuk membedakan, mengorganisasikan dan
mengatribusikan informasi atau materi. Menganalisis dianggap sebagai tujuan belajar yang
memandang sebagai perluasan dari memahami untuk mengevaluasi atau mencipta. Pada
kelas VII.a untuk indikator C5 memperoleh skor ratarata posttest sebesar 71,66 sedangkan
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS

pada kelas VII.b memperoleh skor rata-rata posttest sebesar 50,00. Hal ini menunjukkan
bahwa siswa mampu mengevaluasi sebagai pembuat keputusan berdasarkan kriteria.
Mengevaluasi mencakup memeriksa dan mengkritik. Akan tetapi, orang yang terampil
menganalisis belum tentu bisa mengevaluasi karena tidak semua keputusan bersifat
evaluatif. Berdasarkan hasil perhitungan analisis statistik dengan uji t dari nilai rata-rata
posttest, diperoleh nilai thitung sebesar 5,98 dan ttabel sebesar 1,99. Hal tersebut
menunjukkan bahwa thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya hal.
tersebut menunjukkan hasil belajar siswa yang menggunakan model Problem Solving lebih
baik dibandingkan dengan model Problem Based Learning pada maple ekonomi.