Anda di halaman 1dari 4

Pembelajaran saintifik diperlukan suatu proses yang dapat merangsang siswa untuk belajar

melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Masalah sering dikaitkan

dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajari. Menurut penelitian yang dilakukan oleh

Serevina (Serevina, 2017), strategi pembelajaran berbasis pengalaman yang merupakan salah

satu contoh pendekatan saintifik dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMA. Model

pembelajaran lain yang menggunakan pendekatan saintifik adalah Problem Based Learning

(PBL). PBL adalah pendekatan pembelajaran (dan kurikuler) yang berpusat pada peserta didik

yang memberdayakan peserta didik untuk melakukan penelitian, mengintegrasikan teori dan

praktik, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan solusi yang

layak untuk masalah yang ditentukan (Savery, 2015).

Model PBL adalah cara yang efektif untuk melahirkan berbagai keterampilan penting

seperti keterampilan komunikasi, kerja tim, pembelajaran berbasis penyelidikan, pembelajaran

sejawat, manajemen proyek, inovasi dan kreativitas kolaboratif dan individu (Lawlor, 2015).

Inefisiensi metode tradisional untuk membantu dalam pengembangan dan penguatan

kemampuan siswa tertentu adalah alasan utama untuk mulai mempertimbangkan dan

mengadopsi berbagai pendekatan pembelajaran, termasuk PBL (Wilder, 2014). PBL ternyata

sangat efektif, terutama pada tingkat kinerja akademik tertinggi (menuntut keterampilan aplikasi

dan analisis) di mana ditemukan perbedaan substansial berkaitan dengan kelompok kontrol

(Suarez, 2017)

Sejak diterapkannya Kurikulum 2013 Revisi berdasarkan hasil kebutuhan guru di beberapa

SMA, hampir semua responden berusaha untuk melaksanakan tuntutan kurikulum tersebut.

Namun masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya, salah satunya berkaitan dengan bahan

ajar. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan siswa menunjukkan dari 35 responden siswa, 77%
siswa menganggap fisika sulit, 85,7% siswa mengalami kesulitan dalam belajar, 91,4% siswa

tertarik jika guru menampilkan software/simulasi/animasi/video / ppt dalam pembelajaran fisika.

Dan ternyata 85,7% siswa merasa lebih memahami pembelajaran konsep fisika dengan

menampilkan software/simulasi/animasi/video/gambar/ppt. Rata-rata mahasiswa kini memiliki

laptop/handphone, sehingga memudahkan akses terkait penggunaan alat digital tersebut.

Permasalahan tersebut diperlukan suatu pembelajaran yang dapat memberikan siswa untuk

merangsang belajar mandiri dan menemukan konsep fisika dari masalah tersebut. Pemberian

soal-soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dapat memudahkan siswa untuk

memahami konsep sehingga siswa merasa senang dengan belajar fisika. Ini merupakan bagian

dari pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Menurut Stockwell (Stockwell, 2015),

pendekatan pengajaran campuran, yang menggunakan tugas video di depan setiap kelas untuk

merangsang minat pada topik dan memberikan pengetahuan dasar, ditambah dengan kuliah yang

memiliki pemecahan masalah di kelas, adalah strategi yang lebih efektif untuk pendidikan sains

dibandingkan dengan pendekatan tradisional.

Berdasarkan hasil observasi tersebut, dirasa perlu untuk mengembangkan bahan ajar

berupa modul digital untuk merangsang siswa belajar mandiri dan menemukan konsep fisika dari

soal. Sehingga siswa merasa tertantang untuk belajar fisika dan akhirnya siswa akan merasa

senang dengan belajar fisika.

Salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran adalah bahan ajar. Contoh bahan

ajar adalah modul. Bahan ajar dibuat untuk dapat mentransfer pesan pembelajaran dari guru

kepada siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan kemauan siswa untuk

belajar. Modul merupakan bagian dari bahan ajar dalam bentuk cetak. Modul digital baik untuk
digunakan pada beberapa mata pelajaran abstrak Fisika. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh

Shurygin (Shurygin, 2016) menyatakan bahwa hasil yang diperoleh membuktikan pentingnya

dan efektivitas mata kuliah pendidikan elektronik yang dikembangkan dalam studi fisika dalam

rangka meningkatkan efisiensi kerja mandiri siswa ketika pendekatan kompetensi digunakan

untuk pelatihan. sarjana yang meningkatkan daya saing mereka. Menurut Hill (Hill, 2015),

sumber daya online yang dirancang yang digunakan sebagai pra-pengajaran dapat membuat

perbedaan dalam pemahaman konseptual siswa dan kelancaran representasional dalam fisika,

serta membuat mereka lebih sadar akan proses belajar mereka.

Kegiatan e-modul ini merupakan salah satu bahan ajar yang menuntut kemandirian siswa

untuk menemukan suatu konsep. Hal ini didukung berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan

oleh Febrianti (Febrianti, 2017) yang menunjukkan bahwa modul fisika digital yang

dikembangkan layak untuk digunakan sebagai bahan belajar mandiri bagi siswa.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (Yulianti, 2017) peningkatan hasil belajar

kognitif siswa yang telah belajar menggunakan LKS fisika PBL lebih tinggi dibandingkan yang

tidak. Menurut penelitian yang dilakukan Isna (Isna, 2017), penerapan modul berbasis PBL

sangat dianjurkan dalam pembelajaran fisika karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta

sikap ilmiahnya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Gaikwad (Gaikwad, 2014) juga

menyatakan bahwa siswa menerima kegiatan E-learning dengan baik karena mereka

menganggapnya inovatif, nyaman, fleksibel dan bermanfaat. Modul e-learning interaktif dalam

farmakologi cukup efektif dan diterima dengan baik oleh siswa. Berdasarkan informasi dari studi

pendahuluan, dapat disimpulkan bahwa e-modul fisika berbasis PBL dapat menjadi alternatif

dalam penyajian materi pembelajaran fisika.

Anda mungkin juga menyukai