Anda di halaman 1dari 29

MIGRASI (BERWAJAH) PEREMPUAN1

Khaerul Umam Noer

ABSTRAK

Tulisan ini memiliki tujuan ganda: Pertama, melakukan kritik atas


bangunan teori migrasi yang mengabaikan perempuan, baik sebagai
pelaku migrasi maupun sebagai pihak yang berkepentingan untuk
mengkonstruksi bangunan teori migrasi. Kedua, tidak berhenti pada
kritik, tulisan ini mencoba memberikan tawaran feminisme atas
bangunan teori migrasi dan apa implikasinya atas bangunan itu
sendiri. Sebagai kritik atas tidak munculnya suara perempuan dalam
teori migrasi, maka tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi
menjadi sangat penting, sebab dalam teori migrasi klasik (yang lebih
banyak berbicara pada sisi ekonomi) maupun yang lebih kontemporer
(yang lebih banyak berbicara pada sisi individu), suara perempuan
nyaris tidak terdengar. Terabaikannya suara perempuan membuat
perempuan tidak mampu mengabarkan pengalaman mereka,
akibatnya jelas: perempuan tidak diikutsertakan dalam konstruksi
pengetahuan. Secara umum tulisan ini mencoba menggambarkan
dinamika bangunan teori migrasi dengan menitikberatkan pada
pengalaman perempuan dalam migrasi. Konstruksi pengalaman
perempuan diharapkan dapat menjadi landasan bangunan teori
migrasi yang lebih ramah perempuan, sekaligus tidak lagi
menempatkan perempuan hanya sebagai penonton, namun aktor yang
berbicara atas nama diri mereka sendiri.

Kata kunci: teori, migrasi, ekonomi, diri, perempuan


migrasi (berwajah) perempuan

“Ya, ya, Pariyem saya


Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-harinya
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Dari Wonosari Gunung Kidul
saya pun menggelinding – turun –
mBeboro mencari tumpangan raga
Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta”
“Pengakuan Pariyem” – Linus Suryadi AG (1994:153-154)
Halaman 1

1
Diajukan untuk tugas akhir Semiloka Teori, Program Pascasarjana Antropologi,
Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia,
bulan Mei 2011.
Sebelum saya bercerita mengenai banyak hal, satu hal yang
harus saya ingatkan: saya sama sekali tidak berniat bercerita tentang
kehidupan Maria Magdalena Pariyem. Pariyem, atau Iyem (ia tidak mau
dipanggil Maria, Riri atau Yeyem), adalah tokoh yang dibuat oleh Linus
Suryadi, yang oleh Hotman Siahaan, karena kenabiannya, Iyem
dianggap sosok yang mumpuni dalam khasanah (kebatinan) Jawa.
Saya pun tidak akan bercerita tentang budaya Jawa. Saya akan
bercerita mengenai perjalanan yang dilakukan manusia, baik laki-laki
maupun perempuan, dan dilakukan pula oleh Iyem: migrasi.

Sejak masa pra-sejarah manusia telah berusaha untuk


mengadakan perjalanan keluar dari wilayahnya. Adanya persebaran
berbagai fosil manusia di berbagai daerah merupakan salah satu bukti
adanya usaha manusia untuk mengadakan perjalanan. Perjalanan
yang dilakukan pada umumnya didasarkan atas usaha untuk menjaga
kelangsungan hidup dirinya, terutama bagi mereka yang masih
menggunakan pola berburu dan meramu. Sejak dimulainya perjalanan
tersebut, perlahan dunia berubah dengan sangat signifikan. Barangkali
saat ini sangat sulit ditemukan suku-suku yang masih hidup secara
nomaden, meskipun demikian, tidak berarti bahwa manusia telah
berhenti untuk melakukan perjalanan dalam kehidupannya. Pada saat
ini, perjalanan yang dilakukan manusia pada masa lalu pun masih
dapat dijumpai, dengan tujuan yang sama namun dengan kemasan
yang berbeda.

Migrasi merupakan salah satu bentuk perjalanan manusia


modern untuk menempuh sekaligus mendapatkan kehidupan yang
lebih baik. Jika pada suku nomaden migrasi dilakukan dengan
berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya, maka pada manusia
modern pun melakukan hal yang sama. Kajian mengenai migrasi
sudah sangat banyak dilakukan, baik itu yang dilakukan pada para
migran di dalam maupun di luar negri. Kajian-kajian mengenai migrasi
yang dilakukan pun umumnya lebih banyak berbicara pada domain
migrasi (berwajah) perempuan

migrasi yang dilakukan oleh laki-laki untuk mencari nafkah atau


penghidupan yang lebih baik bagi dirinya maupun keluarganya.
Perempuan dan migrasi dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sudah
sangat lama dilakukan, hanya saja kajian mengenai perempuan dan
migrasi baru berkembang dengan pesat beberapa dekade lalu dengan
topik yang sangat bervariasi. Di sisi yang berbeda, terdapat
kekurangan dalam teori migrasi, dalam hal ini adalah bagaimana
migrasi yang dilakukan perempuan dalam konteks teori migrasi yang
selama ini terabaikan. Berdasarkan hal itu lah tulisan ini dibuat.

Secara umum tulisan ini akan mencoba menjawab tiga


pertanyaan: Pertama, bagaimana bangunan teori migrasi secara
Halaman 1

umum? Seperti apa diskusi teoritik yang berkaitan erat dengan teori
migrasi? Kedua, di mana posisi perempuan dalam bangunan teori
migrasi? Apa kritik yang disampaikan oleh feminisme atas bangunan
teori migrasi? Ketiga, apa tawaran yang diajukan oleh feminisme atas
bangunan teori migrasi? Bagaimana penetrasi feminisme masuk ke
dalam bangunan teori migrasi? Dan perubahan seperti apa yang
dihasilkan dari penetrasi tersebut?.

Mengingat luasnya cakupan tulisan ini, maka saya akan


membagi tulisan ini dalam tiga bagian. Ketiga bagian tersebut secara
sistematis akan membahas hal-hal yang bersifat spesifik, yaitu: bagian
satu akan membahas teori migrasi klasik, bagian dua akan membahas
teori migrasi yang lebih kontemporer, bagian tiga akan membahas
perspektif perempuan dalam teori migrasi, kritik dan penetrasi serta
pengaruhnya atas bangunan teori migrasi itu sendiri. Meskipun
terkesan terpisah, namun saya akan mencoba merajut setiap jelujur
benang sehingga membentuk tenunan yang menggambarkan teori
migrasi, tentu saja dengan segala kekurangan yang ada.

HUJAN EMAS DI TANAH SEBRANG: EKONOMI SEBAGAI TITIK


EPISENTRUM

Saya akan memulai dengan apa yang disebut oleh de Haas


(2007) sebagai general theory of migration. Sekurangnya terdapat tiga
teori yang dapat masuk dalam kelompok ini, yaitu: (1) neo-classical
equilibrium perspective, (2) asymmetric growth (historical-structural),
dan (3) push-pull framework. Meskipun ketiganya nampak berbeda,
namun ketiganya berbicara pada nada yang sama: menjadikan
ekonomi sebagai titik episentrum migrasi, pijakan awal yang
getarannya meluas ke segala arah. Setidaknya isu ekonomi akan
membawa kita kepada isu lain, yang masih satu sisi dari koin yang
sama: pembangunan.

Neo-classical equilibrium perspective muncul dari Ravenstein


(1885), yang menyatakan bahwa faktor utama migrasi adalah
migrasi (berwajah) perempuan

ekonomi, bahwa ekonomi adalah general law of migration. Ravenstein,


acapkali dianggap sebagai pencetus hukum dasar migrasi
mengetengahkan satu pandangan, bahwa migrasi tidak dapat
dipisahkan dari pembangunan, oleh karenanya migrasi selalu bermotif
ekonomi. Sejalan dengan Ravenstein, Skeldon (1997) juga melihat
bahwa hukum utama migrasi terjadi berdasarkan jarak dan densitas
populasi. Skeldon melihat bahwa migrasi utamanya terjadi dari
wilayah-wilayah yang memiliki pendapatan sedikit ke wilayah dengan
pendapatan tinggi, dengan demikian maka migrasi pada hakikatnya
mengalirkan pendapatan dari wilayah yang surplus ke wilayah minus.

Dalam cakupan makro, perspektif ini melihat migrasi sebagai


Halaman 1

cara yang dianggap efektif untuk mendorong terciptanya


keseimbangan ekonomi yang merata (lihat Castles dan Miller 2003).
Pemerataan ini pada dasarnya upaya untuk menyamaratakan antara
wilayah-wilayah dengan ekonomi maju dengan wilayah-wilayah
tertinggal, antara wilayah dengan densitas tinggi dengan wilayah
dengan densitas rendah, dan antara wilayah rural dengan wilayah
urban. Pemerataan ini dilakukan melalui mekanisme migrasi, di mana
pusat-pusat perekonomian (perkotaan) tumbuh, dan mendorong laju
migrasi menuju pusat tersebut, dan pada gilirannya akan mengalirkan
laju pendapatan ke wilayah-wilayah pendukung dan wilayah asal dari
migran itu sendiri.

Dalam cakupan yang mikro, perspektif ini meletakkan individu


pelaku migrasi sebagai pelaku aktif yang rasional, yang memutuskan
untuk pindah berdasarkan kalkulasi ekonomi (de Haas, 2007:12).
Kalkulasi ekonomi yang dilakukan oleh individu dilihat sebagai upaya
individu untuk mencari keuntungan lebih di tempat baru, yang di
tempat tersebut, si individu merasa, dapat memperoleh apa yang tidak
ia peroleh di tempat asal. Lebih jauh, pandangan ini mengasumsikan,
bahwa manakala individu tersebut telah memperoleh maksimalisasi
benefit, maka ia, baik langsung maupun tidak, akan menyebarkan apa
yang ia peroleh dari wilayah tujuan ke wilayah tempat ia berasal. Jika
di wilayah asal jumlah individu yang melakukan migrasi semakin
banyak, dan mereka menciptakan kesempatan yang lebih luas, maka
akan terjadi keseimbangan antara wilayah asal dengan wilayah tujuan.
Dalam hal ini lah mengapa migrasi dikatakan sebagai cara yang efektif
untuk mendorong terciptanya keseimbangan dari sisi ekonomi.

Asymetric growth (historical-structural) muncul sebagai kritik


atas pandangan neo-classical equilibrium. Terdapat dua asumsi dasar
yang diserang (lihat de Haas 2007:15-16): pertama adalah posisi
individu, yang dalam neo-classical equilibrium dianggap individu
rasional yang bebas untuk bermigrasi atau tidak berdasarkan kalkulasi
ekonomi; dan kedua adalah keseimbangan yang muncul sebagai
akibat dari proses migrasi itu sendiri. Keduanya pada dasarnya adalah
kritik atas kegagalan neo-classical equlibrium melihat apa yang
dikatakan sebagai equilibrium itu sendiri tidak lain dari bayangan
migrasi (berwajah) perempuan

semu. Pandangan ini bahkan dianggap sangat Euro-centric, di mana


gambaran bahwa semua migrasi dari rural ke urban akan mendorong
pembangunan dan modernisasi sebagaimana terjadi di Eropa pada
abad ke-19 dan 20 (lihat Skeldon 1997).

Dalam pandangan asymetric growth, individu tidak lah memiliki


kebebasan sekaligus rasionalitas dalam memandang kehidupannya.
Alih-alih bersifat kalkulatif, individu melakukan migrasi justru karena
model ekonomi tradisional yang selama ini mereka miliki hancur lebur
akibat penetrasi ekonomi global. Lebih jauh, penetrasi tersebut bahkan
bergerak lebih kencang, dengan melakukan inkorporasi ke dalam
sistem ekonomi dan politik global. Pembangunan yang terjadi pada
Halaman 1

hakikatnya tidak pernah, atau tidak akan pernah, merata. Hal ini
disebabkan karena pembangunan, sebagai akibat pengaruh teori
ekonomi politik (lihat Castles dan Miller, 2003:25), yang didasarkan
pada ekonomi dan politik pada hakikatnya didistribusikan secara tidak
merata. Hal ini menyebabkan orang-orang tidak memiliki akses atas
pembangunan, dan ekspansi kapitalis menyebabkan penetrasi
ketidakmerataan ini menjadi semakin menjadi-jadi. Akibatnya
sederhana: mereka yang tidak berada dalam jalur pembangunan akan
semakin bergantung, dan menjadi sumber tenaga kerja, yang murah
meriah tentu saja, yang akhirnya akan mendorong kapitalisasi itu
sendiri, atau dalam konteks makro adalah kapitalisme global.

Dalam pandangannya, ekonomi pada hakikatnya tidak akan


mencapai satu titik yang kemudian dapat dikatakan sebagai seimbang.
Karena industrialisasi selalu berada di wilayah-wilayah di mana kapital
dikumpulkan, dan dikembangkan di wilayah yang sama, maka kapital
tidak akan menyebar. Alih-alih menyebar, ia justru akan semakin
terkumpul. Migrasi sebagai bentuk manifestasi dari kapitalisme global,
dilihat sebagai cara yang paling mudah untuk mendapatkan tenaga
kerja murah dari negara-negara yang dikategorikan
underdevelopment (de Haas 2007:15). Dengan demikian, pada
dasarnya titik keseimbangan adalah delusi yang dihembuskan, sejenis
opium yang memabukkan. Titik keseimbangan yang muncul sebagai
efek samping dari migrasi nyata tidak terjadi, dengan demikian pada
dasarnya ide dasar pembangunan sebagai pemicu keseimbangan pun
tidak pernah tercapai.

Pandangan ini bukan berarti bebas kritik. Salah satu kritik utama
datang karena pandangan ini terlalu determinis dan kaku dalam
melihat posisi individu, yang selalu diletakkan sebagai korban dari
sistem. Sen (1999) misalnya, melihat bahwa kapitalisme global tidak
melulu menjadikan individu sebagai korban yang mati karena
darahnya diserap habis-habisan. Meskipun saya sendiri tidak percaya
bahwa pembangunan dapat berperan sebagai pembebasan
sebagaimana Sen, namun sejarah sendiri memberikan bukti bahwa
beberapa negara pengekspor tenaga kerja mampu berkembang dan
mencapai ekonomi yang berkesinambungan sebagai akibat ‘hubungan
migrasi (berwajah) perempuan

akrab’ mereka dengan kapitalisme global.

Push-pull factor pada dasarnya adalah ketidakpuasan pada dua


teori sebelumnya, terutama kegagalan keduanya dalam menjawab dua
pertanyaan utama: mengapa sebagian orang dari satu wilayah
melakukan migrasi dan sebagian lainnya tidak, dan mengapa orang
cenderung bermigrasi ke tempat tertentu dengan waktu tertentu,
kadangkala terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu pula (de Haas,
2007:16). Lee (1966) adalah orang yang mencoba merevisi pandangan
dari Ravenstein dengan mengetengahkan pandangan bahwa orang
melakukan migrasi berdasarkan faktor di dalam individu dan faktor di
luar individu, dalam hal ini adalah faktor-faktor yang diasosiasikan
Halaman 1

dengan area asal dan area tujuan. Meskipun Lee tidak pernah
menyebutnya sebagai push-pull factor, namun apa yang dikemukakan
Lee, sebagai revisi atas ‘law of migration’ Ravenstein, tetap dianggap
sebagai pandangan yang mendorong kajian-kajian migrasi lebih jauh.
Salah satu revisi utama Lee adalah posisi individu. Lee memang
mempertimbangkan aspek kalkulasi individu, namun penting
diperhatikan bahwa setiap individu akan memiliki persepsi yang
berbeda atas kondisinya, dan bertindak sesuai dengan persepsi
tersebut. Dengan demikian, tindakan migrasi yang dilakukan oleh
setiap individu boleh jadi sama, namun kalkulasinya tidak lah seragam
dan/atau secara universal sama. Lebih jauh, Lee (1966:54-55)
berargumentasi bahwa migrasi yang dilakukan oleh orang-orang
cenderung ke wilayah-wilayah yang telah dikenal, terutama dengan
arus informasi dari para migran yang telah terlebih dahulu tiba, dan
memberikan informasi mengenai daerah tujuan mereka ke orang-
orang di wilayah asal. Dalam hal ini nampak bahwa Lee merevisi
pandangan Ravenstein, yang terlalu menyamaratakan migrasi yang
dilakukan individu-individu. Model push-pull kemudian semakin
berkembang, terutama setelah masuknya elemen industrialisasi.
Skeldon (1997:20) misalnya, melihat bahwa topik mengenai migrasi,
yang didasarkan pada model push-pull, berkembang ke dua arah
utama: Pertama, pertumbuhan populasi yang pesat di wilayah
pedesaan mendorong semakin berkurangnya sumber daya alam dan
agrikultur mendorong orang-orang untuk keluar dari wilayah tersebut.
Kedua, “tawaran” untuk memperbaiki kondisi ekonomi “memaksa”
orang-orang untuk bergerak ke kota-kota besar atau negara-negara
industri.

Sama halnya dengan dua perspektif sebelumnya, model push-


pull factor pun mendapat banyak kritik (lihat de Haas, 2007:18-19).
Salah satu kritik utama adalah bahwa model ini melupakan adanya
heterogenitas dan stratifikasi dalam masyarakat. Lebih jauh, model ini
pun cenderung arbitrer, misalnya pilihan orang untuk migrasi ke kota
besar untuk meningkatkan ekonominya secara arbitrer dihadapkan
pada asumsi bahwa lingkungan pedesaan tidak memungkinkan
seseorang untuk meningkatkan kemampuan ekonominya. Hal ini
migrasi (berwajah) perempuan

menyebabkan model ini seperti koin dengan dua sisi yang tidak melulu
sama. Pandangan bahwa orang akan bermigrasi untuk memperoleh
kesempatan yang lebih luas atau perbaikan ekonomi terlihat sangat
logis, namun hal ini tidak lah berlaku umum di tingkat individu.

BERGERAK KE ARAH EPISENTRUM: MIGRASI DAN


PEMBANGUNAN

Tiga pandangan di atas tidak sepenuhnya bebas kritik. Kritik


utama atas pandangan-pandangan di atas terletak pada waktu dan
tempat. Dalam hal ini, tiga pandangan di atas seakan abai pada
Halaman 1

persoalan durasi migrasi. Di sisi lain, pandangan ini juga seakan


melakukan simplifikasi dengan mengesampingkan pola migrasi (lihat
de Haas 2008). Salah satu revisi datang dari Zelinsky (dalam de Haas
2007:21-23) yang mencoba mengembangkan spatio-temporal theory,
hipotesis utamanya adalah bahwa transisi mobilitas merupakan fusi
antara teori demografi, difusi atas inovasi, optimatisasi ekonomi, dan
pengembangan push-pull dari Lee. Argumentasi dasarnya diletakkan
pada kaitan antara “vital transition” dengan “mobility transition”.
Istilah vital transition sendiri adalah perluasan konsep demografi
dengan mengaitkannya dengan dimensi ekonomi, politik, modernisasi,
dan mobilitas (barangkali dapat kita persamakan dengan istilah
pembangunan).

Apa yang dikemukakan oleh Zelinsky terkait “vital transition”


mencakup banyak hal, termasuk di dalamnya adalah model perubahan
(atau evolusi?) masyarakat yang dikaitkan dengan perubahan
demografi penduduknya. Sederhananya, bagi Zelinsky, ketika
masyarakat dalam posisi di mana fertilitas sangat tinggi (demikian
pula mortalitas), maka pada posisi itu akan semakin tinggi mobilitas.
Zelinsky sendiri menguraikan lima model masyarakat berdasarkan
fertilitas, dan mengaitkannya dengan mobilitas, dalam hal ini adalah
“mobility transition”. Secara umum dapat dikatakan bahwa mobilitas
seseorang, untuk melakukan migrasi, lebih banyak berlangsung dalam
kondisi di mana masyarakat dengan fertilitas tinggi, berpenghasilan
rendah, kurang dalam teknologi (dan lain-lain), atau suatu kondisi
yang sering disebut underdevelopment.

Tentu saja pandangan Zelinsky ini banyak memperoleh kritik.


Salah satu kritik utama pandangan ini menyatakan bahwa pandangan
Zelinsky terlalu simplistis dalam memandang masyarakat dan
populasi, terlebih Zelinsky mengembangkan teori yang unilinear dalam
melihat perkembangan masyarakat. Model perkembangan yang
diarahkan Zelinsky mendapat kritik, terutama kegagalannya dalam
menjelaskan model masyarakat wilayah teluk, yang pertumbuhan
populasi berjalan seiring dengan ekonomi, yang, dalam pandangan
Zelinsky akan melakukan migrasi, justru tidak bermigrasi sama sekali.
Zelinsky juga gagal melihat bahwa model unilinear dalam
migrasi (berwajah) perempuan

perkembangan masyarakat ternyata sama sekali tidak bersifat


universal.

Meskipun Zelinsky mendapat banyak kritik, namun model


Zelinsky nampaknya memberikan banyak pembaruan dalam kajian
migrasi, setidaknya memberikan banyak revisi atas kajian tersebut.
Salah satu pengembangannya adalah perhatian pada proses internal
yang dinamis dalam migrasi. Model internal dynamic of migration
processes mempertimbangkan dua hal: modal sosial (termasuk
jaringan dan informasi), dan individu pelaku migrasi. Hal ini misalnya
dapat dilihat dari tulisan Castles dan Miller (2003), di mana para
migran yang datang dan menetap kemudian akan membentuk
Halaman 1

jaringan-jaringan yang menyokong kehidupan mereka, sekaligus


mendorong orang lain (dari wilayah asal) untuk datang dan bergabung
dalam jaringan mereka.
Hal lain yang juga menjadi perhatian utama adalah pada porsi
individu. Jika pada tiga teori sebelumnya, baik itu neo-classical
equilibrium perspective, asymmetric growth (historical-structural), dan
push-pull framework hanya sedikit memberikan porsi pada faktor
individu, maka internal dynamic migration processes memberikan
porsi yang lebih besar pada individu sebagai sosok yang memberikan
pengaruh penting dalam proses internal yang dinamis dalam migrasi.
Dalam kaitannya dengan hal ini, menarik untuk melihat, misalnya, apa
yang dilakukan oleh Gardner (2002) yang mencoba menjelaskan
proses dinamis ini melalui individu dan pengalaman personalnya, yakni
para orang-orang sepuh dari Bengali yang tinggal di London. Dengan
menitikberatkan pada individu, Gardner dapat bercerita lebih dalam
mengenai migrasi yang dilakukan oleh manusia.

II

BIARKAN DIA BERBISIK: INDIVIDU SEBAGAI SUBJEK

Pada bagian dua, saya akan mengeksplorasi posisi individu


dalam bangunan teori migrasi. Jika pada teori klasik tentang migrasi
lebih banyak berbicara migrasi dalam cakupan makro, maka teori yang
lebih baru lebih banyak berbicara dalam cakupan mikro. Dalam hal ini
adalah pada individu-individu sebagai aktor yang memilih untuk
melakukan migrasi. Di sisi yang berbeda, juga akan dilihat konteks-
konteks yang lebih domestik, termasuk pula adalah overseas
migration, dengan mempertimbangkan aspek-aspek kultural, sosial,
politik, bahkan ekologi dari para pelaku migrasi.

Pendekatan yang lebih kontemporer ini dapat dikatakan sebagai


kritik atas teori klasik, yang walaupun menempatkan individu sebagai
individu yang rasional dan memiliki kalkulasi ekonomis ketika
melakukan migrasi, namun individu di sana tidak lah dilihat sebagai
individu, hanya lah sekumpulan individu yang dianggap memiliki latar
migrasi (berwajah) perempuan

belakang yang sama dan karenanya cenderung akan bergerak ke arah


yang sama. Ketidakpuasan terhadap posisi individu mendorong revisi
besar-besaran atas teori migrasi, terutama dengan penekanan
terhadap individu (lihat Walker 2008, Farwick 2009). Dalam hal ini
individu dilihat sebagai aktor utama, yang latar belakangnya
mempengaruhi persepsinya, dan pada akhirnya akan menentukan
tindakan yang akan dilakukannya atau pilihan yang dipilihnya.

De Haas (2008:1) melihat pada proses dinamis internal pada diri


individu, sebagai jawaban atas kegagalan pandangan klasik dalam
melihat realitas migrasi di tingkat mikro-individu. Bagi de Haas,
pandangan klasik banyak meninggalkan pertanyaan yang tidak dapat
Halaman 1

dijawab, dan oleh karena itu muncul internal dynamic of migration


processes yang dianggap mampu menjawab beberapa pertanyaan
yang gagal dijawab oleh pandangan klasik. Meskipun demikian, model
ini pun masih memiliki kekurangan. Setidaknya terdapat tiga
kelemahan: Pertama, dengan hanya memfokuskan pada modal sosial,
pandangan ini lupa bagaimana feedback mechanisms yang dilakukan
oleh para migran. Kedua, pandangan ini seringkali tidak mampu
menjawab mengapa efek jaringan ini tidak selalu berjalan mulus.
Ketiga, pandangan ini pun seringkali tidak mampu menjawab mengapa
asumsi kausalitas, antara perkembangan di wilayah asal dengan
wilayah tujuan tidak selalu terjadi. Dalam hal ini lah, de Haas
menawarkan, untuk meninjau ulang posisi individu dalam bangunan
teori migrasi. Setidaknya terdapat tiga poin dalam melihat individu dan
migrasi, yakni: jaringan sosial, konteks individu (termasuk adaptasi),
dan motivasi dan tindakan individu (termasuk mobilitas).

Jaringan sosial memainkan peran penting, terutama dengan


kecenderungan orang melakukan migrasi ke wilayah di mana jaringan
mereka saling terinterkoneksi satu sama lain (lihat de Haas 2008,
Jones 2009). Dalam hal ini penting untuk melihat, bahwa migrasi yang
dilakukan individu-individu, terutama overseas migration, selalu
menitikberatkan pada jaringan yang mereka miliki, utamanya yang
berasal dari wilayah yang sama. Jaringan sosial memainkan dua peran
penting: Pertama, sebagai sumber informasi atas wilayah tujuan yang
mendorong individu-individu dari wilayah asal untuk mengikuti jejak
mereka. Kedua, sebagai sumberdaya bagi para migran yang baru tiba
ke wilayah tujuan (lihat de Haas 2008).

Sebagai sumber informasi, jaringan sosial menjadi amat penting


dalam menyediakan berbagai informai yang dibutuhkan, atau
setidaknya dianggap perlu untuk diketahui, oleh para individu di
wilayah asal. Tentu saja jaringan sosial dapat lebih bermanfaat
ketimbang informasi umum yang berasal dari sumber-sumber
informasi umum. Dalam masyarakat yang saling terkoneksi, informasi
tidak selalu berasal dari individu yang memiliki hubungan emosional,
sebab informasi itu sendiri berjalan di atas jaringan-jaringan yang
acapkali tidak membutuhkan keterkaitan fisik. Castells (2002)
migrasi (berwajah) perempuan

menyebutnya sebagai network society, di mana jaringan menjadi


pembentuk sekaligus beton pembangun dalam masyarakat. Dengan
memanfaatkan teknologi informasi, jaringan-jaringan tersebut
dibangun dan dikembangkan. Meskipun demikian, Farwick (2009)
menyebut bahwa jaringan melalui dunia maya cenderung tidak
mampu mendorong seseorang untuk melakukan migrasi, khususnya
migrasi internal, sebab jaringan tersebut acapkali gagal menyediakan
sumber informasi yang terpercaya, yang dapat mendorong individu di
wilayah asal untuk bergerak ke wilayah tujuan. Dengan kata lain,
ucapan lisan seseorang yang dikenal akan jauh dihargai ketimbang
segudang informasi yang dikeluarkan oleh mesin pencari.
Halaman 1

Tidak kalah pentingnya adalah posisi jaringan yang berfungsi


sebagai sumberdaya awal bagi para migran. Para migran yang baru
saja tiba di wilayah tujuan acapkali mengalami keterkejutan kultural, di
samping kekurangan ekonomi dan ketidakmampuan memahami aspek
sosial dan kultural di wilayah tujuan. Keberadaan jaringan menjadi
sangat penting, karena melalui jaringan-jaringan ini lah hal-hal baru
dapat dipelajari, sekaligus menjembatani antara kondisi di wilayah asal
dengan kondisi wilayah tujuan (lihat Farwick 2009).

Faktor lain yang juga mempengaruhi individu dalam melakukan


migrasi adalah kondisi individu itu sendiri. Jika Ravenstein
membayangkan individu akan melakukan migrasi berdasarkan
kalkulasi ekonomi, maka Ravenstein melupakan faktor internal dari
individu itu sendiri. Lee (1966) pun membuat kesalahan yang sama.
Jones (2009) menyiratkan bahwa migrasi pada dasarnya bersifat
personal, dan faktor-faktor yang mendorong migrasi pun harus lah
dicari dalam lingkup person itu sendiri. Meskipun demikian, Jones pun
tidak melupakan, bahwa faktor politik dan ekonomi di suatu negara
dapat mempengaruhi bagaimana persepsi orang terhadap migrasi.
Misalnya apa yang dikaji Jones mengenai migrasi di Brazil, bahwa
meskipun individu memiliki kebebasan untuk memilih, namun pondasi
ekonomi Brazil yang ditopang dari perkebunan tebu, mendorong
individu untuk bekerja di perkebunan dan pabrik pengolahan tebu.
Dalam hal ini patut untuk dilihat bagaimana dinamika yang terjadi
antara individu dengan kondisi di luar individu itu sendiri sebagai
faktor eksternal yang mempengaruhi dinamika internal. Senada
dengan Jones, Castles dan Miller (2003) pun menyiratkan hal yang
sama. Hal yang analog dengan migrasi internal adalah migrasi
internasional yang acapkali terkait erat dengan latar belakang
individu-individu, dan latar belakang geopolitik, ekonomi, politik,
bahkan tekanan ekologi memaksa individu-individu tersebut untuk
melakukan migrasi. Overseas migration pada era kolonial misalnya,
didorong oleh upaya politik dan ekonomi kolonial untuk mencari
koloni-koloni baru. Analog lainnya adalah migrasi yang dilakukan oleh
etnis minoritas karena tekanan-tekanan politik, atau misalnya pula
migrasi besar-besaran yang dilakukan ketika Perang Dunia II atas apa
yang dilakukan Hitler dan “Final Solution”-nya.
migrasi (berwajah) perempuan

Tentu saja migrasi tidak melulu berkaitan dengan tekanan politik


maupun ekonomi. Ekologi pun turut andil dalam mendorong migrasi
yang dilakukan oleh individu-individu. Kaum Hadrami misalnya,
bermigrasi sejak abad 14 untuk menemukan daerah baru yang lebih
subur ketimbang wilayah asal mereka (lihat Ho 2006), meskipun
mereka juga lari dari politik masa kekhalifahan, dan bukan lah hal
yang aneh manakala mereka datang ke Asia Tenggara, khususnya Asia
Tenggara, terutama pada abad perdagangan (the age of commerce) ,
mengutip Reid (2011) yang merujuk pada era abad 14 dan 15, di mana
para Hadrami telah datang, beberapa bahkan jauh sebelum itu (lihat
Jacobsen 2009).
Halaman 1

Barangkali ekonomi tetap memegang faktor determinan


bagaimana migrasi dilakukan. Meskipun sebagai faktor utama, namun
pola migrasi berkaitan dengan aspek ekonomi tidak lah seperti yang
dibayangkan Ravenstein atau yang menjadi kritik historical-structural.
Bagi Jones (2009), kondisi ekonomi tidak dapat dilepaskan dari
dinamika politik dan kebijakan makro pemerintah. Sebagaimana
terjadi dalam kasus Brazil, bahwa adalah kebijakan pemerintah yang
memperluas perkebunan tebu dan memperbanyak pabrik tebu, yang
membuka lapangan kerja yang luas, yang pada gilirannya mendorong
migrasi orang pedesaan ke pusat industri gula. Agaknya Jones ingin
mengingatkan, bahwa migrasi berdasarkan faktor ekonomi tidak lah
berdiri sendiri, namun terdapat campur tangan pemerintah di sana.
Lebih jauh, bahwa aspek ekonomi pun tidak dapat dilepaskan dari
geopolitik dan geoekonomi (lihat Castles dan Miller 2003). Meskipun
terdengar sangat makro, namun faktor utama lainnya ada di tingkat
mikro. Faktor lain dari ekonomi yang tidak dapat dilupakan adalah
aspek ekonomi keluarga (de Haas dan Fokkema 2009) dan/atau aspek
ekonomi rumah tangga (Schwenken dan Eberhardt 2008). Bagi Mincer
(1978), manakala kapasitas ekonomi keluarga tidak memenuhi
kebutuhan keluarga, yang dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga,
maka ekonomi rumah tangga keluarga tersebut berada dalam posisi
kritis, dan hal ini menjadi pendorong utama migrasi anggota keluarga
tersebut, yang dalam beberapa hal memiliki dua keuntungan:
menambah ekonomi sekaligus mengurangi jumlah anggota keluarga di
satu rumah tangga.

Aspek lain yang juga tidak dapat dilewatkan adalah motivasi


individu. Faktor ini adalah faktor yang sangat personal, faktor utama
yang membedakan dengan pendekatan klasik yang cenderung melihat
individu secara seragam. Dalam hal ini, motivasi umumnya berada
pada dua domain: meningkatkan kapasitas ekonomi yang pada
gilirannya menaikkan status sosial, dan keluar dari wilayah tersebut
baik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik atau sekedar
keluar dari tekanan ekonomi maupun sosial-kultural. Dua hal tersebut
memiliki implikasi berbeda: yang pertama jelas bahwa mereka yang
migrasi akan selalu kembali ke tempat asal mereka, dalam hal ini pola
migrasi (berwajah) perempuan

migrasinya adalah sirkuler atau temporal; dan yang kedua tidak berarti
mereka tidak akan kembali sepenuhnya, namun pola yang umum
adalah migrasi permanen.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagian besar migrasi adalah


migrasi temporal atau bahkan sirkuler (lihat de Hass 2008, de Haas
dan Fokkema 2009, Farwick 2009), meskipun banyak pula yang
melakukan migrasi permanen, terutama yang dilakukan oleh etnis
minoritas sebagai akibat dari tekanan politik (lihat Castles dan Miller
2003) atau ekologi dan politik (Ho 2006, Jacobsen 2009). Mereka yang
melakukan migrasi sirkuler utamanya hanya berada di wilayah tujuan
dalam waktu tertentu, dan akan kembali ke wilayah asal manakala
Halaman 1

waktu mereka sudah habis atau mereka memutuskan untuk kembali


terlepas dari durasi waktu tersebut. Model ini tidak hanya terjadi
dalam lingkup internal, dalam artian satu wilayah ke wilayah lain yang
masih dalam teritori negara tertentu (Farwick 2009, Jones 2009), atau
antarwilayah (transnasional) baik dalam kontinen yang sama atau
tidak (Castles dan Miller 2003).

Dalam konteks ini, migrasi sirkuler dianggap sebagai cara


termudah untuk melakukan mobilitas sosial (lihat Farwick 2009).
Migrasi membuka celah bagi individu untuk meningkatkan kapasitas
ekonomi keluarga sekaligus masuk (atau bahkan naik) dalam struktur
masyarakat. Mereka yang melakukan migrasi tipe ini umumnya akan
selalu menjalin hubungan dengan wilayah asal mereka. Melalui
mereka lah informasi mengenai wilayah tujuan berasal, mereka lah
jaringan interkoneksi antarwilayah, dari wilayah asal ke wilayah tujuan.
Mereka pula yang berperan menjadi jembatan bagi para individu baru
yang datang dari wilayah asal ke wilayah tujuan. Dalam tipe migrasi
ini, mobilitas sosial dilakukan dengan dua cara: pertama adalah apa
yang mereka kirimkan dari wilayah tujuan ke wilayah asal. Informasi
tentu saja bukan lah satu-satunya yang mereka kirimkan, jauh lebih
penting dari informasi: uang yang dikirimkan sebagai remiten (de
Haas, 2008:14-15). Remiten menjadi kata kunci penting, sebab melalui
remiten lah ekonomi keluarga dapat terselamatkan (Schwenken dan
Eberhardt 2008), lebih jauh, bahkan berpengaruh besar atas
pendapatan nasional di tingkat makro (Buch dan Kuckulenz 2010,
Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010). Cara kedua adalah kelanjutan dari
cara pertama, yakni dengan memanfaatkan remitensi, sekaligus posisi
individu tersebut di wilayah tujuan, sebagai sarana menaikkan gengsi
keluarga mereka di wilayah asal, dalam hal ini, mereka yang
bermigrasi adalah mediator modernitas dari wilayah tujuan ke wilayah
asal (lihat Elmhirst 1999, Pinger 2010).

Hal yang sama terjadi tidak hanya pada migrasi internal, namun
juga pada migrasi transnasional. Meskipun mereka telah jauh mereka
berjalan, mengarungi laut, namun mereka toh tetap akan kembali
(lihat Olwig 1997). Migrasi sirkuler membuka peluang bagi setiap
individu untuk mencapai stabilitas ekonomi, selain bahwa migrasi
migrasi (berwajah) perempuan

sirkuler dapat dilakukan dengan tanpa pusing memikirkan persoalan


waktu atau kondisi ekonomi dan politik wilayah tujuan. Terlebih lagi
bahwa migrasi sirkuler dapat dilakukan oleh setiap individu terlepas
dari batasan usia dan etnisitas. Migrasi sirkuler semakin banyak
dilakukan, mengingat waktu yang temporal, yang memungkinkan
mereka untuk selalu kembali ke wilayah asal mereka.

Hal lain adalah migrasi permanen. Meskipun migrasi permanen


tidak melulu berkaitan dengan mobilitas sosial di wilayah asal, namun
tipe ini adalah gambaran paling terlihat dari mobilitas individu,
melewati batasan struktur sosial maupun geografis. Mereka yang
melakukan migrasi permanen pada umumnya ‘dipaksa’ untuk keluar
Halaman 1

dari wilayah asal mereka karena alasan-alasan politis atau ekologis.


Motivasi terbesar dari mereka yang melakukan migrasi permanen
adalah keluar untuk kepentingan diri (dan keluarga) dari tekanan yang
mereka terima (lihat Gardner 2002, de Haas 2008). Sebagaimana
migrasi sirkuler, meskipun mereka meninggalkan wilayah asal mereka
dalam waktu yang relatif (sangat) lama, namun mereka tetap lah
melabuhkan imaji mereka ke wilayah asal mereka, imaji bahwa suatu
saat nanti mereka akan kembali, atau setidaknya keturunan mereka
(lihat Gardner 2002, Ho 2006, Jocobsen 2009).

Meskipun menitikberatkan pada faktor individu, dalam hal ini


mendudukan individu sebagai subjek aktif pelaku migrasi, namun ada
satu hal yang terlewat, yakni melihat realitas bahwa latar belakang
individu saja tidak lah cukup, gender pun memainkan peran dalam
keputusan individu untuk melakukan migrasi. Dalam hal ini, adalah
penting pula untuk melihat bagaimana migrasi dilakukan, seperti apa
persamaan maupun perbedaannya, baik oleh laki-laki, terutama sekali
perempuan.

III

BERTERIAK DI TENGAH BADAI: PEREMPUAN DAN MIGRASI

Lalu di mana posisi perempuan? Jika diperhatikan, meskipun


kajian-kajian migrasi tidak bermaksud untuk membedakan jenis
kelamin, dalam artian bahwa kajian (dan diskusi teoritik) bersifat
uniseks dan berlaku secara universal untuk dua jenis kelamin, namun
kajian-kajian migrasi, terutama kajian klasik, acapkali abai terhadap
perempuan. Teori migrasi seakan merupakan sebuah bus yang
penumpangnya terbuka bagi laki-laki maupun perempuan, namun si
pengemudi bus, para teoritisi, justru lupa bahwa mereka
meninggalkan penumpang perempuan dalam terminal yang baru saja
mereka tinggalkan. Tidak hanya abai, beberapa malah sangat seksis
dengan seolah meniadakan perempuan sebagai pelaku migrasi,
padahal perempuan dan migrasi adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan (lihat Chant 1992, Momsen 1999). Di sisi yang berbeda,
pengabaian terhadap perempuan merupakan kehilangan besar dalam
migrasi (berwajah) perempuan

bangunan teori migrasi, sebab pengalaman perempuan mampu


membuka perspektif baru yang lebih segar dalam menjelaskan
fenomena migrasi.

Pengabaian terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam


bangunan teori migrasi klasik, namun juga dalam kajian mengenai
migrasi yang berkaitan dengan pembangunan di negara berkembang.
Kritik yang disampaikan Halfacree dan Boyle (1999) misalnya, melihat
bahwa kajian mengenai migrasi dalam konteks negara berkembang
cenderung abai dalam melihat bahwa perempuan pun pelaku migrasi,
yang dalam banyak hal, memiliki persamaan rasionalitas dan
kepentingan, tujuan dan motif dengan laki-laki. Kritik atas pengabaian
Halaman 1

perempuan dalam bangunan teori migrasi pada gilirannya mendorong


kajian mengenai perempuan dan migrasi, yang pada akhirnya
memaksa kita untuk memandang kembali bangunan teori migrasi
secara umum.
Dalam dekade terakhir cukup banyak yang melihat migrasi dan
perempuan, terutama kajian-kajian migrasi internal (lihat Elmhirst
1999, Fan 2004) maupun transnasional (lihat Asis 2003). Elmhirst
misalnya, mengkaji migrasi dari wilayah perkampungan untuk menjadi
Pekerja Rumah Tangga di Jakarta (kajian yang senada ada dalam buku
yang diedit oleh Momsen [1999]), sama halnya dengan Fan yang
meneliti migrasi dari empat wilayah di Sichuan dan Anhui. Sedangkan
Asis mengkaji transnasional migration yang melibatkan laki-laki dan
perempuan, meskipun dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda.
Begitu banyaknya kajian mengenai perempuan dan migrasi, namun
saya dapat mengkategorikannya dalam dua kategori utama:
perempuan dan migrasi sebagai akibat dari politik tubuh, dan
kaitannya dengan tekanan ekonomi, sosial maupun ekologi.

TUBUH YANG TERLUPA

Salah satu kunci penting dalam memahami migrasi yang


dilakukan oleh perempuan adalah bagaimana konteks kultural
memandang tubuh perempuan. Tentu saja konteks kultural ini tidak
lah hanya berlaku dalam migrasi per se, namun secara umum
menyeluruh pada bagaimana tubuh perempuan menjadi lokus yang
dikungkung, dipersepsikan, dan dikendalikan (Butler 1993). Adalah
penting melihat bahwa perempuan melakukan migrasi tidak lah
semata berdasarkan kalkulasi ekonomi, namun juga karena politik
tubuh (Hardill 2002). Dalam hal ini, bahwa tubuh tidak lah entitas
organisme biologis, namun juga entitas sosial dan kultural (Hooglan
2007). Refleksi atas tubuh membawa kita pada persoalan krusial lain,
bahwa apa yang dipersepsi sebagai tubuh, seringkali, tidak lah sama
antara si pemilik tubuh dengan orang lain yang melihat tubuh itu
sendiri, yakni gambaran atas tubuh mendorong kita untuk melihat
tubuh secara keseluruhan (lihat Nolan 2007).
migrasi (berwajah) perempuan

Dalam hal ini tubuh menjadi area konstestasi tanpa akhir, sebab
tubuh bukan hanya entitas yang terdiri atas tulang dan daging, namun
tubuh itu sendiri adalah entitas sosial dan kultural yang terus menerus
diperebutkan dan direpresentasikan (lihat Detsi-Diamanti, Kitsi-
Mitakou, dan Yiannopoulou 2009). Tubuh menjadi kata kunci penting,
di mana melalui tubuh lah operasi kebudayaan dapat dilihat dan
dijabarkan. Terutama tubuh perempuan. Dalam banyak konteks, tubuh
perempuan adalah arena perebutan tanpa akhir, yang seringkali
perempuan kehilangan hak atas tubuhnya sendiri (lihat Swenson
2010). Politik tubuh menjadi penanda betapa opresi atas tubuh
menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan perempuan.
Termasuk di antaranya migrasi yang dilakukan oleh perempuan, di
Halaman 1

mana migrasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tubuh perempuan


itu sendiri.
Migrasi perempuan tidak dapat dilepaskan dari ekonomi politik
(melalui kebijakan pembangunan dan industrialisasi) maupun ekonomi
rumah tangga. Kajian yang dilakukan oleh Green, Hardill, dan Munn
(1999) misalnya, dengan sangat baik menggambarkan bahwa migrasi
yang dilakukan oleh perempuan tidak hanya karena tekanan ekonomi,
namun juga karena pekerjaan yang tersedia di wilayah tujuan secara
spesifik diperuntukkan bagi perempuan, terutama di wilayah dengan
kawasan industri yang sedang tumbuh (Ong 1991, Horton 1996).
Adalah penting untuk memahami, bahwa untuk kasus Asia, Indonesia
khususnya, pada era 1970an, partisipasi angkatan kerja mencapai
46,8%, dan kecenderungan meningkat setiap tahunnya
(Tjiptoherijanto, 1997:7), di mana hal ini terjadi karena perubahan
struktur usia penduduk dan meningkatnya partisipasi angkatan kerja
perempuan (lihat Hugo 1992). Hal ini tidak lah mengherankan,
manakala tingkat partisipasi kerja yang semakin meningkat
mendorong terbukanya lapangan pekerjaan yang semakin banyak, dan
tuntutan atas akses pekerjaan bagi laki-laki maupun perempuan (lihat
Benjamin 1996).

Di sisi lain, meskipun perempuan banyak menempati pos


penting dalam struktur ekonomi industri, namun diskriminasi tetap lah
terjadi dalam ketersediaan lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, dan
terutama upah atas tenaga kerja (Brooks 2006), yang seringkali
dilandaskan pada perbedaan jenis kelamin maupun etnisitas (Bradley
dan Healy 2008). Dalam hal ini adalah bahwa migrasi yang didorong
oleh terbukanya lapangan pekerjaan, yang sejatinya ditujukan karena
tubuh perempuan merupakan tenaga kerja murah dan mudah dicari
penggantinya. Buruh perempuan menjadi bagian integral dalam sistem
produksi, sebab buruh perempuan adalah bagian dari proses produksi
yang biayanya dapat ditekan semaksimal mungkin (lihat Boyle,
Halfacree dan Smith 1999), hal ini disebabkan buruh perempuan tidak
lah dianggap sebagai pencari nafkah utama yang menopang ekonomi
keluarga, akibatnya upah mereka lebih rendah ketimbang buruh laki-
migrasi (berwajah) perempuan

laki.

Keputusan perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat


dilepaskan dari posisi perempuan dalam lingkup ekonomi keluarga.
Chamberlain (1997) melihat bahwa bahasa migrasi yang dilakukan
oleh laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Jika keputusan laki-laki
bermigrasi adalah otonomi diri, maka migrasi perempuan adalah
tindakan kolektif dan merupakan representasi pengalaman dalam
kerangka ekonomi keluarga (lihat juga Fan 2004, Gubhaju dan de
Jonge 2009). Keputusan migrasi bukan lah satu-satunya keputusan
yang yang otonom dan mandiri, atau hanya untuk menguntungkan diri
sendiri, namun juga didorong untuk meningkatkan kapasitas ekonomi
Halaman 1

keluarga (Boyle, Halfacree, dan Smith 1999). Dengan demikian,


migrasi perempuan adalah migrasi yang altruistik. Dalam hal ini,
keputusan migrasi perempuan dan laki-laki berbeda secara konteks,
sebab migrasi laki-laki tidak selalu berkaitan dengan keluarga asal,
karena laki-laki dianggap akan memiliki keluarga sendiri di wilayah
baru sehingga tidak memiliki kewajiban untuk meningkatkan ekonomi
keluarga di wilayah asalnya.

Migrasi yang dilakukan perempuan seringkali dilihat sebagai


cara untuk meneguhkan, sekaligus mendefinisikan identitas kolektif,
untuk mengamankan batasan-batasan dari komunitasnya (Sharpe,
2001:9). Dalam hal ini, migrasi merupakan mekanisme kultural yang,
memaksa, perempuan untuk turut serta dalam mempertahankan
eksistensi komunitasnya dengan menceburkan diri ke dalam proses
migrasi, yang dengan remitansi yang perempuan tersebut kirimkan
mampu memperpanjang keberlangsungan hidup komunitasnya
sendiri, termasuk di antaranya adalah keluarga di mana ia berasal.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa remitansi adalah bagian tak terpisahkan
dari capital flows di tingkat makro, dan keberlangsungan keluarga dan
komunitas di tingkat mikro (lihat Buch dan Kuckulenz 2010, Pholphirul
dan Rukumnuaykit 2010).

Keputusan migrasi yang dilakukan perempuan pun tidak dapat


dilepaskan dari statusnya. Sebagaimana dikaji oleh Mager (2001),
Hardill (2002) maupun Gubhaju dan de Jonge (2009), bahwa keputusan
perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat dilepaskan dari ada
tidaknya ikatan perkawinan. Perempuan yang telah menikah dengan
demikian, dipaksa, mengambil peran rumah tangga sebagai karir
permanen, maka keputusan untuk melakukan migrasi tidak lah berada
di tangan perempuan itu secara otonom, namun berada di tangan
suami yang mengendalikan perkawinan itu sendiri. Perempuan-
perempuan yang tidak bersuami, atau belum bersuami, lebih bebas
untuk menentukan apakah ia akan melakukan migrasi atau tidak,
meskipun pada konteks perempuan yang belum menikah, suara ayah
(atau laki-laki yang dituakan dalam keluarga tersebut) boleh jadi
merupakan faktor determinan atas keputusannya untuk bermigrasi
atau tidak.
migrasi (berwajah) perempuan

Di sisi yang berbeda, tidak dapat dipungkiri pula, bahwa


keputusan perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat
dilepaskan dari kondisi ekologi di sekitar perempuan itu sendiri
(Elmhirst 2009). Alam seringkali tidak memberikan banyak pilihan,
terutama ketika kerangka kultural turut campur dan menentukan
mengenai siapa yang akan mengelola alam, untuk apa hasil alam
tersebut dipergunakan, dan bagaimana mempertahankan
keberlangsungan ekosistem menjadi bagian tidak terpisahkan.
Persoalan yang lebih krusial terletak pada kondisi di mana perempuan
bertugas untuk mengolah alam tanpa memiliki hak atas hasil
pengolahan, atau bahkan alam itu sendiri (lihat White 2002), dan
Halaman 1

dengan menyusutnya wilayah garapan sebagai akibat dari masuknya


kebijakan politik menyebabkan perempuan semakin tersudut dan
perlahan tergusur (lihat Ressurection dan Elmhirst 2009). Dalam hal
ini, keputusan untuk melakukan migrasi, bagi perempuan tidak dapat
dipisahkan secara tegas dengan kepentingan-kepentingan di atas.

PENGETAHUAN YANG TERABAIKAN

Sekurangnya terdapat dua kritik utama atas bangunan teori


migrasi, yang dilancarkan oleh feminisme: Pertama, bahwa bangunan
teori migrasi sangat minim representasi dan cenderung mengabaikan
kebaradaan perempuan sebagai pelaku migrasi (Boyd dan Grieco
2003, Palmary 2009). Kedua, bahwa bangunan teori migrasi
mengabaikan pengalaman perempuan. Dengan melupakan bahwa
pengalaman perempuan pada dasarnya adalah pengetahuan, dan
pengabaian atas pengalaman itu sendiri adalah pengabaian atas
pengetahuan secara fundamental (lihat Harding 1991, Bart 1998,
Ramazanoğlu dan Holland 2002). Maka dalam hal ini, pengetahuan
perempuan menjadi sangat penting sebagai kritik sekaligus otokritik
atas bangunan teori migrasi.

Setidaknya terdapat tiga catatan penting yang muncul sebagai


akibat dari kritik atas pengabaian pengalaman perempuan: Pertama,
munculnya berbagai kajian-kajian yang menitikberatkan pada
perempuan sebagai aktor pelaku migrasi. Kedua, kelanjutan dari hal
tersebut adalah munculnya tekanan bagi bangunan teori migrasi untuk
memperhatikan faktor perempuan sebagai individu, dan kaitannya
dengan faktor geoekonomi dan geopolitik. Ketiga, sebagai konsekuensi
logis atas tekanan untuk memperhatikan faktor perempuan, adalah
bangunan teori migrasi yang memasukkan faktor gender dalam
bangunan tersebut sebagai salah satu penopang utama bangunan
teori itu sendiri.

Meskipun ‘law of migration’ dari Ravenstein (1885), dalam satu


pointnya, menyatakan bahwa perempuan lebih banyak bermigrasi
ketimbang laki-laki, namun Ravenstein sendiri tidak lah
migrasi (berwajah) perempuan

mengeksplorasi lebih jauh pada motif, sebab ia selalu


mengetengahkan gagasan bahwa pelaku migrasi adalah manusia
rasional yang memutuskan berdasarkan kalkulasi ekonomi dan
karenanya akan bertindak seragam berdasarkan kalkulasi yang sama.
Di sisi yang berbeda, kritik terhadap Ravenstein pun tidak lah berbeda
dengan Ravenstein secara fundamental. Kritik tersebut pun abai
melihat bahwa perempuan, yang telah disebut ravenstein, lebih
banyak bermigrasi ketimbang laki-laki, tidak dieksplorasi lebih jauh
namun hanya sebatas data-data statistikal. Ravenstein abai melihat,
bahwa perempuan melakukan migrasi tidak lah semata berdasarkan
kalkulasi ekonomi. Pengabaian yang sama juga dilakukan Lee (1966),
yang juga gagal melihat bagaimana konstelasi sosial dan kultural
Halaman 1

menitikberatkan perempuan untuk melakukan atau tidak melakukan


migrasi.
Sebagai jawaban atas ketidakpuasan ini, perlahan mulai muncul
kajian-kajian yang menitikberatkan perempuan sebagai pelaku utama
migrasi (Suharso 1975, Ong 1991, Chant 1992, Chamberlain 1997, Sen
1998, Boyle, Halfacree, dan Smith 1999, Momsen 1999, Newberry
2008). Perempuan dan migrasi pada dasarnya tidak dapat dipisahkan,
bahwa perempuan telah berperan penting dalam dinamika ekonomi
telah ada sejak masa klasik (lihat Andaya 2006, Reid 2011), dengan
demikian, menilik kesejarahan, hubungan antara perempuan dan
migrasi pada hakikatnya tidak lah mengherankan. Kajian-kajian yang
menitikberatkan pada perempuan sebagai pelaku migrasi semakin
luas, tidak hanya sebatas pada perempuan dan dinamika
ketenagakerjaan, namun juga migrasi transnasional. Tidak hanya
sebatas pada ruang migrasi yang semakin lebar, kajian-kajian tersebut
juga membuka perdebatan panjang, mengenai bagaimana perempuan
sebagai pelaku migrasi ditempatkan dalam laporan-laporan penelitian,
atau bahkan dalam bangunan teori migrasi itu sendiri.

Boyd dan Grieco (2003) misalnya, mengkritik penggunaan kata


“migrant and their families” sebagai bentuk peniadaan perempuan
sebagai pelaku migrasi dalam berbagai monograf dan laporan hasil
penelitian migrasi pada era 1960an dan 1970an. Penggunaan kata
“migrant and their families” pada dasarnya merujuk pada “male
migrant and their wives and children”. Lebih jauh, meskipun peneliti
pada akhir 1970 dan 1980 telah mulai memasukkan perempuan
sebagai pelaku migrasi, namun hal tersebut tidak lah mengubah
lanskap teori migrasi secara dramatis. Skeldon (dalam Altamirano
1997) misalnya, mencatat bahwa penelitian migrasi pada 1980an,
yang mempergunakan pendekatan biografis pada umumnya
disandarkan pada perspektif laki-laki. Para peneliti itu gagal dalam
melihat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dalam
migrasi, baik dari sisi motif, kepentingan (dan keuntungan), maupun
tujuan (Chant dan Radcliffe 1992, Altamirano 1997).
migrasi (berwajah) perempuan

Schwenken dan Eberhardt (2008) menekankan pentingnya


melihat pengetahuan perempuan dalam melihat, dan meninjau ulang,
teori migrasi maupun migrasi itu sendiri. Dalam hal ini, perempuan
sebagai pelaku migrasi harus ditempatkan sebagai entitas utuh, bukan
sekedar ‘pendamping’, yang melakukan migrasi. Dengan meletakkan
perempuan sebagai pelaku migrasi, maka dapat dilihat bagaimana
pengalamannya, latar belakang, motif, tujuan (dan kepentingan),
terbentuk melalui skema sosial dan kultural dapat mengkonstruksi
ulang teori migrasi sebagai pengetahuan. Hal ini penting,
sebagaimana de Beauvoir (dalam Bart 1998) dan Harding (1991)
menekankan, bahwa pengetahuan yang selama ini digemborkan
sebagai netral dan bebas nilai pada dasarnya keliru dan gagal dalam
Halaman 1

menetapkan dirinya sebagai pengetahuan. Sebab pengetahuan selalu


dikonstruksi berdasarkan knowledge laki-laki, maka science yang
muncul adalah pengetahuan laki-laki secara partikular, akibatnya,
representasi dari pengetahuan itu sendiri gagal mewujud dalam
kebenaran universal.

Tidak hanya mengkritik pengetahuan yang bias laki-laki,


Altamirano (1997) bergerak lebih jauh, dia menyerang berbagai
penelitian yang hanya menambahkan faktor gender sebagai bagian
sampingan, berupa add and stir methods, di mana perempuan tidak
lain dari bumbu penyedap yang gagal menampakkan dirinya sebagai
faktor determinan (lihat juga Boyd dan Grieco 2003). Bagi Altamirano,
kesalahan dalam melihat faktor gender pada dasarnya adalah
kesalahan dalam melihat bahwa faktor gender adalah faktor yang
sama pentingnya dengan usia sebagai faktor determinan. Dengan
terus berulangnya kesalahan tersebut, muncul desakan untuk
meninjau ulang konsepsi kita mengenai pengetahuan itu sendiri.

Baik Bart (1998) maupun Anderson (1995, 2011) menekankan


pentingnya epistemologi feminis dalam meninjau ulang pengetahuan.
Meletakkan epistemologi feminis dalam memandang pengetahuan
membawa implikasi tersendiri, yakni dengan menantang asumsi
epistemologis yang bias laki-laki. Epistemologi yang bias, yang
menyangkal perempuan sebagai agen rasional dengan demikian telah
menghilangkan perempuan dalam pengetahuan itu sendiri. hal ini lah
yang menjadi elemen fundamental dari kritik feminisme sejak awal,
karena peletakkan laki-laki sebagai basis epistemologis telah menjadi
justifikasi atas subordinasi perempuan dalam sosial, kultural dan
politik. Konsekuensinya, ketika perempuan terpinggirkan dalam basis
epistemologis, maka klaim atas pengetahuan selalu meninggalkan
perempuan di belakangnya.

TAWARAN FEMINISME DAN IMPLIKASINYA

Meskipun epistemologi feminis menjadi sangat krusial dalam


meninjau kembali pengetahuan, namun Longino (1987) mengingatkan,
migrasi (berwajah) perempuan

agar pencarian atas epistemologi feminis tidak hanya sekedar kritik


tanpa memberikan keluasan perspektif. Menurutnya “... We cannot
restrict ourselves simply to the elimination of bias, but must expand
our scope to include the detection of limiting and interpretive
frameworks and the finding or construction of more appropriate
frameworks.” (Longino, 1987:60). Dengan landasan demikian, maka
feminisme menawarkan pendekatan yang lebih luas dari sekedar data-
data statistikal atau pun analisis bias. Feminisme menawarkan
pendekatan yang lebih luas dengan mempertimbangkan banyak faktor
sebagai bagian dari pengetahuan itu sendiri. Analisis feminis secara
nyata telah mengungkap konsekuensi epistemologis dan politis dari
bias laki-laki dalam ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana dikatakan
Halaman 1

Bart (1998), bahwa feminisme tidak lah berhenti hanya di sana, namun
epistemologis feminis berkepentingan untuk mengkonstruksi ulang
pengetahuan dengan memasukkan pengetahuan perempuan sehingga
bangunan pengetahuan dapat berdiri lebih kokoh.
Kritik feminisme atas bangunan pengetahuan secara umum turut
berimbas pula pada kritik feminisme atas bangunan teori migrasi.
Namun mengikuti alur Longino, bahwa kritik feminisme atas bangunan
teori migrasi juga disertai catatan-catatan khusus, berupa tawaran
yang diajukan atas bangunan teori migrasi itu sendiri. Sekurangnya
terdapat tiga tawaran dasar yang diajukan feminisme terhadap
bangunan teori migrasi: Pertama, alih-alih berkutat pada data
statistikal, feminisme mendorong penggunaan data statistikal bukan
sebagai akhir dari bangunan teori, namun menjadi awal dalam mencari
realitas di balik data tersebut (lihat Altamirano 1997). Lebih jauh,
Altamirano menekankan, bahwa meskipun penggunaan data statistik
diperlukan, namun tidak berarti bahwa feminisme terlalu sibuk
mengkritik data yang tidak memasukkan gender sebagai faktor
determinan, sehingga mereka memasukkan gender sebagai variabel
hanya untuk memenuhi kritik tersebut. Masuknya gender di sana,
tidak lah serta-merta memperlihatkan bagaimana migrasi itu
sesungguhnya, namun hanya lah sebuah usaha, yang oleh Altamirano
disebut sebagai feminist empiricism.

Altamirano (1997) merujuk pada kegiatan yang berlangsung


pada era 1980, di mana para feminis berupaya mendemonstrasikan
situasi empiris yang dialami oleh perempuan dari berbagai konteks
geografis yang berbeda. Di satu sisi, bagi Altamirano, yang dilakukan
oleh feminist empiricism telah berkontribusi penting dengan
mengetengahkan data-data dan dokumentasi mendetail dari migrasi
yang dilakukan perempuan. Dengan demikian, maka sediki-banyak
usaha tersebut membuka celah penelitian yang lebih luas, dengan
melihat data statistik tidak hanya sebagai angka kosong, namun data
yang berbicara. Di sisi lain, Altamirano mengkritik bahwa usaha-usaha
tersebut seringkali hanya lah add and stir, hanya ‘menambahkan’
gender sebagai variabel dan ‘mengaduk’ data tersebut sehingga
nampak bahwa gender pun berperan penting dalam migrasi. Model ini
migrasi (berwajah) perempuan

pun mendapat banyak kritik, terutama dalam internal feminisme itu


sendiri yang menilai bahwa model ini tidak akan membawa
pengetahuan perempuan tidak lebih baik dari sebelumnya (Boyd dan
Grieco 2003).

Kedua, feminisme menawarkan untuk meninggalkan metode


add and stir, yakni hanya menambahkan perempuan sebagai variabel
sampingan dalam meneliti migrasi (lihat Boyd dan Grieco 2003).
Tawaran ini membawa implikasi serius, yakni dengan diletakkan
gender sebagai faktor determinan, bersamaan posisinya dengan faktor
usia maupun etnisitas. Dengan demikian, gender tidak lagi dianggap
sebagai faktor sampingan, yang digunakan hanya untuk menghindari
Halaman 1

kritik bahwa penelitian tersebut bias. Hal ini membawa konsekuensi


logis, bahwa dengan ditinggalkannya add and stir methods, maka
feminisme beranjak lebih jauh lagi, yakni beranjak dari perspektif
makro menuju perspektif yang lebih mikro, meskipun tentu saja apa
yang terjadi dalam konteks mikro tidak dapat dilepaskan dari
perubahan di tingkat makro (lihat Chant 1992, Benjamin 1996). Maka
dalam hal ini, penting pula untuk melihat bagaimana level makro
berpengaruh terhadap level mikro, demikian pula sebaliknya (Green,
Hardill dan Munn 1999, Jones 2009). Implikasi serius lain dari tawaran
ini terasa dari sisi metodologis, yakni dari sekedar pencarian data
makro statistikal, menuju mikro individual. Boyle, Halfacree, dan Smith
(1999) menunjukkan, bahwa dengan melihat pada level individual,
maka kajian migrasi dapat memberikan gambaran yang lebih luas dan
pemahaman yang lebih baik mengenai migrasi itu sendiri. Melalui
level-level individual, dapat dilihat bagaimana migrasi dilakukan oleh
individu-individu, sekaligus meletakkan individu sebagai subjek yang
berbicara untuk dirinya sendiri (De Haas 2008). Dengan demikian,
maka kajian migrasi mulai berangkat dari personal di tingkat mikro,
meskipun tentu saja penting untuk melihat bagaimana konteks makro
berpengaruh terhadap individu.

Ketiga, feminisme menawarkan untuk memberikan suara kepada


mereka yang selama ini dibungkam: perempuan. Konsekuensi lanjutan
dari kritik feminisme atas kajian migrasi adalah munculnya revisi-revisi
atas kajian migrasi dengan mempergunakan perspektif perempuan.
Namun pun demikian, feminisme pun harus waspada, sebagaimana
dikatakan oleh Spivak (dalam Pocha 2010), bahwa suara perempuan
pun tidak lah sama dan seragam, dengan demikian feminisme harus
mampu menahan diri untuk tidak berbicara atas nama seluruh
perempuan. Maka tawaran ketiga dari feminisme ini harus dilihat dari
berbagai arah. Bahwa perempuan melakukan migrasi adalah sebuah
fakta yang tidak dapat disangkal, namun latar belakang perempuan
melakukan migrasi tidak dapat disamaratakan. Implikasi dari tawaran
ini adalah dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan
dengan migrasi yang dilakukan oleh perempuan, yakni sosial, kultural,
ekonomi, politik, dan ekologi.
migrasi (berwajah) perempuan

Tawaran kedua dan ketiga secara umum berbicara dalam


frekuensi yang sama, yakni pada level individu dengan
mempertimbangkan aspek-aspek di luar individu tersebut, di mana
aspek-aspek tersebut berkontribusi atas pilihan individu untuk
melakukan migrasi (Chant 1992). Penekanan ini menjadi sangat krusial
dilakukan, sebab migrasi sendiri bukan lah sebuah fenomena yang
berdiri sendiri tanpa sangkutpaut dengan kondisi sosial, kultural,
ekonomi, politik, dan ekologi (lihat Halfacree dan Boyle 1999, De Haas
2007, 2008, Palmary 2009, Ressurection dan Elmhirst 2009). Dengan
demikian, perhatian atas migrasi tidak dapat dilepaskan dari berbagai
aspek yang turut mempengaruhi migrasi itu sendiri, baik di level mikro
individu maupun makro politik, bahkan di tingkat geopolitik dan
Halaman 1

geoekonomi (lihat Castels dan Miller 2003). Tentu saja faktor


determinan yang harus dilihat adalah perempuan dan keputusannya
untuk bermigrasi dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Konsekuensi logis dari tawaran ini, adalah bahwa kajian migrasi
harus dilihat tidak sebagai fenomena tunggal yang otonom. Dengan
demikian, kajian migrasi turut pula melibatkan kajian-kajian lain, baik
di tingkat mikro maupun makro. Di waktu yang bersamaan, kajian
migrasi harus melihat migrasi sebagai sebuah episentrum yang
riaknya menyebar ke segala arah, tidak hanya berhenti di satu titik
stagnan, sehingga seorang peneliti akan memperkaya kerangka
berpikirnya mengenai migrasi bukan hanya pada persoalan migrasi
per se, namun juga melihat bagaimana pengaruh eksternal (makro)
atas migrasi (mikro), dan bagaimana pengaruh migrasi (mikro)
terhadap dinamika ekternal (makro) di luar migrasi tersebut (lihat
Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010, Irianto 2011). Model ini
mengisyaratkan migrasi sebagai sebuah proses yang melibatkan
banyak pihak, dan untuk menjelaskan migrasi itu sendiri, mau tidak
mau, harus dijelaskan pihak-pihak mana saja yang berkaitan dan
berkepentingan atas migrasi itu sendiri.

Dengan melihat pada aspek-aspek sosio-kultural misalnya, kajian


migrasi dapat melihat dengan jelas bagaimana skema kultural
menentukan siapa yang bermigrasi dan untuk apa mereka bermigrasi.
Sama halnya dengan melihat pada aspek politik dan ekonomi, baik
lokal, nasional maupun internasional, dapat pula dilihat alasan orang
melakukan migrasi atau wilayah tujuan migrasi, yang bermuara pada
kebijakan politik dan ekonomi dari satu wilayah. Dari bidang politik,
dapat pula dilihat bagaimana implikasi kebijakan politik terhadap
pengelolaan sumber daya alam, siapa yang mengelola, dan untuk apa
sumber daya alam tersebut dikelola, di mana akhirnya akan berujung
pada migrasi. Faktor-faktor tersebut, di tambah faktor lain yang
muncul, mendorong perilaku migrasi yang dilakukan oleh individu-
individu. Setiap individu, dalam migrasi yang mereka lakukan, memiliki
latar belakang yang berbeda, terlebih jika dikaitkan dengan gender, di
mana perempuan dan laki-laki memiliki latar yang berbeda, akibatnya
jelas: mereka mengalami pengalaman yang berbeda.
migrasi (berwajah) perempuan

Maka implikasi lain dari tawaran feminisme adalah meletakkan


perempuan sebagai subjek yang berbicara dari diri mereka dan untuk
kepentingan mereka sendiri. Dengan demikian, maka pengalaman
perempuan dapat dikontruksikan sebagai landasan pengetahuan.
Tidak berlebihan kiranya, sebab perempuan memiliki pengalaman
yang berbeda, bahkan di antara perempuan itu sendiri. Begitu
kayanya pengalaman perempuan, maka dari mereka lah dapat dilihat,
faktor-faktor apa saja yang mendorong mereka untuk bermigrasi,
bagaimana faktor-faktor tersebut berjalin-berkelindan membentuk
jaringan yang memaksa perempuan untuk melakukan migrasi, dan
kepentingan siapa yang bermain di belakang keputusan mereka untuk
Halaman 1

bermigrasi. Faktor-faktor ini tentu saja dapat dirunut dari banyak sisi,
terjadi di berbagai wilayah, dan menembus batas-batas geografis.
Implikasi utama dari tawaran feminisme adalah menampilkan
migrasi dengan wajah perempuan yang lebih jelas dan terbuka.
Sebagai subjek yang berbicara untuk kepentingannya sendiri, maka
perempuan dapat turut serta dalam mengkontruksi pengetahuan,
terutama dalam bangunan teori migrasi. Dengan posisi tersebut,
perempuan tidak lagi duduk sebagai penonton yang suara dan
pengalamannya tidak diperhitungkan, namun berperan sebagai aktor
yang turut serta dalam lakon migrasi yang dimainkan. Tentu saja
posisi ini membawa keuntungan tersendiri bagi perempuan, yakni
perempuan memiliki daya tawar untuk menciptakan sebuah teori
migrasi yang lebih ramah perempuan.

Di sisi yang berbeda, lagi-lagi patut untuk diingat, bahwa


pengalaman perempuan tidak lah seragam. Hal ini boleh jadi menjadi
persoalan tersendiri manakala kita berbicara mengenai teori migrasi
dengan perspektif perempuan. Dalam hal ini, penting untuk dilihat,
sebagaimana dijelaskan Abu-Lughod (2006), bahwa perempuan
berbagi kesamaan, kesamaan yang lahir bukan karena proses
kematangan tubuh yang universal, namun karena pengalaman yang
saling bersama dari interpolasi atas kelas, ras, dan orientasi seksual
yang selalu didasarkan pada formasi patriarkal. Meskipun beragam,
setidaknya pengalaman-pengalaman perempuan memiliki satu benang
merah, yang mampu memberikan warna lain bagi bangunan teori
migrasi. Perempuan akan menjadi satu bagian utama dari mozaik teori
migrasi, di mana setiap kepingnya begitu berarti. Bahwa kehilangan
satu keping akan membuat mozaik tersebut tidak lengkap, dan saya
percaya, bahwa keberadaan perempuan adalah keping terakhir, yang
selama ini terabaikan, yang akan membangun mozaik bangunan teori
migrasi yang lebih lengkap dan utuh.

MIGRASI KUPU-KUPU: KESIMPULAN

Saya tiba di titik awal di mana saya memulai. Argumentasi yang


migrasi (berwajah) perempuan

ingin saya bangun pada dasarnya adalah kritik atas bangunan teori
migrasi yang abai terhadap pengalaman dan pengetahuan
perempuan. Saya telah memulai dari ‘law of migration’ dari Ravenstein
yang memicu berbagai penelitian mengenai migrasi dan menjadi
pondasi dari bangunan teori migrasi. Di atas pondasi itu lah teori
migrasi dibangun dan secara berkala mengalami revisi-revisi. Di
tengah revisi-revisi yang muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan
atas bangunan teori tersebut, teori migrasi tetap mengabaikan satu
hal dasar: bangunan teori migrasi ternyata melupakan fakta statistikal
dasar, bahwa perempuan, sebagai separuh dari penghuni bumi, pun
melakukan migrasi sama halnya dengan laki-laki. Namun fakta itu
rupanya tidak bersuara dalam bangunan teori migrasi. Berdasarkan
Halaman 1

hal itu lah landasan tulisan ini diletakkan.

Bahwa perempuan melakukan migrasi, sebagaimana telah saya


sebutkan dalam beberapa kajian, adalah fakta yang tidak dapat
disangkal. Namun sebagaimana telah coba saya jelaskan, bahwa fakta
tersebut tidak lah serta-merta membuat perempuan terlihat dan
berperan dalam bangunan teori migrasi. Meskipun Ravenstein sejak
awal sudah mengatakan bahwa perempuan, secara statistik, turut pula
melakukan migrasi, namun Ravenstein berhenti di titik itu. Dia
memutuskan untuk tidak mengeksplorasi lebih jauh mengenai ‘law of
migration’ yang coba ia bangun. Para pengkritiknya pun, alih-alih
mempertimbangkan perempuan sebagai basis pengetahuan dalam
migrasi, lebih asik berbicara mengenai ‘migrant (men) and their
families (wive[s] and children[s])’. Lagi-lagi perempuan terabaikan.
Maka saya pun memunculkan kritik atas bangunan teori migrasi:
serangan-serangan atas bangunan teori migrasi, penolakan atas
metode add and stir, dan tawaran yang diajukan feminisme atas
bangunan teori migrasi itu sendiri.

Tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi pada dasarnya


terletak pada memberikan kesempatan berbicara bagi suara-suara
yang selama ini dibungkam dan diabaikan. Melalui suara perempuan
lah bangunan teori migrasi harus diletakkan. Hal ini menjadi sangat
krusial, sebab pengabaian terhadap suara perempuan pada hakikatnya
adalah pengabaian pada pondasi pengetahuan. Dalam waktu yang
bersamaan, suara-suara perempuan perlahan muncul dari kegelapan,
menerobos ruang, merembes gatra, dan menyampaikan kisah yang
berbeda dengan yang selama ini dikisahkan. Maka bangunan teori
migrasi pun perlahan mengalami perubahan, yakni dengan
memunculkan bangunan teori yang lebih ramah perempuan. Meskipun
demikian, saya melihat bahwa tugas perombakan belum lah usai.
Teori-teori klasik, yang melupakan perempuan, terus mengalami
peningkatan penggunaan, sedikit diubah, namun tidak lah mengubah
landasan berpikirnya. Dengan demikian, sesungguhnya perempuan
telah bersuara, hanya saja suaranya kurang terdengar jelas. Maka
tugas untuk mengkritisi, memperluas perspektif, dan membuka ruang
yang lebih bagi perempuan akan tetap menjadi tugas rumah bagi
migrasi (berwajah) perempuan

siapa saja yang menaruh perhatian pada persoalan perempuan,


khususnya migrasi perempuan.

Terlepas dari apa yang telah saya jelaskan di atas, tulisan ini pun
masih memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, begitu luasnya
bangunan teori migrasi sehingga saya tidak mungkin berbicara dari
seluruh sisi. Maka saya memilih untuk bergerak dari akar teori migrasi,
dari Ravenstein lah saya memulai. Namun pilihan ini membawa
konsekuensi, bahwa kajian saya bergerak dari pendulum ekonomi dan
mengesampingkan faktor lain sebagai pijakan awal. Kedua, kritik
feminisme atas bangunan teori migrasi sendiri begitu beragam, sama
beragamnya dengan feminisme itu sendiri. Saya memilih untuk tidak
Halaman 1

bergerak pada percabangan feminisme, sebab setiap cabang memiliki


tekanan atas kritik-kritik tertentu, yang dalam banyak hal begitu
beragam. Saya hanya mengutarakan kritik yang tidak bersifat sui
generis, sekaligus mencari tawaran-tawaran yang diajukan dari kritik
tersebut. Ketiga, saya memilih untuk tidak mengeksplorasi secara
spesifik pada kasus pengalaman migrasi perempuan di Indonesia. Saya
hanya memberikan beberapa kata kunci yang mungkin dapat
bermanfaat, namun karena kendala keterbatasan, maka saya memilih
untuk tidak mengeksplorasi dengan lebih mendetail. Seluruh
keterbatasan dalam kajian ini sepenuhnya adalah kekurangan saya,
dan saya berharap kekurangan tersebut dapat ditutupi melalui kajian-
kajian lanjutan di masa yang akan datang.

*****

REFERENSI

Abu-Lughod, L. 2006. “Writing Against Culture” dalam Ellen Lewin (ed.)


Feminist Anthropology. Malden, MA: Blackwell. Hlm. 153-169
Altamirano, A.T. 1997. “Feminist Theories and Migration Research –
Making Sense in the Data Feast?”, Refuge 16(4):4-8
Andaya, B.W. 2006. The Flaming Womb: Repositioning Women in Early
Modern Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai’i Press
Anderson, E. 1995. “Feminist Epistemology: An Interpretation and a
Defense”, Hypatia 10(3):50-84
__________. 2011. “Feminist Epistemology and Philosophy of Science”
dalam http://plato.stanford.edu/entries/feminism-epistemology/.
Diakses tanggal 15 April 2011
Asis, M.M.B. 2003. “Asian Women Migrants: Going the Distance, But
Not Far Enough” dalam
http://www.migrationinformation.org/Feature/display.cfm?
ID=103. Diakses tanggal 13 Desember 2010.
Bart, J. 1998. “Feminist Theory of Knowledge: The Good, The Bad, dan
The Ugly” dalam http://www.dean.sbc.edu/bart.html. Diakses
migrasi (berwajah) perempuan

tanggal 15 April 2011


Benjamin, D. 1996. “Women and the labour market in Indonesia during
the 1980s”, dalam Susan Horton (ed.) Women and
Industrialization in Asia. London and New York: Routledge. Hlm.
81-133
Boyd, M. dan E. Grieco. 2003. “Women and Migration: Incorporating
Gender into International Migration Theory” dalam
http://www.migrationinformation.org/Feature/display.cfm?
ID=106. Diakses tanggal 15 April 2011.
Boyle, P., K. Halfacree, dan D. Smith. 1999. “Family Migration and
Female Participation in the Labour Market: Moving Beyond
Halaman 1

Individual-level Analyses” dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree


(eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan
New York: Routledge. Hlm. 94-111
Bradley, H. dan G. Healy. 2008. Ethnicity and Gender at Work:
Inequalities, Careers, and Employment Relations. New York:
Palgrave Macmillan
Brooks, A. 2006. Gendered Works in Asian Cities, The New Economy
and Changing Labour Markets. Hampshire: Ashgate
Buch, C.M., dan A. Kuckulenz. 2010. “Worker remittances and capital
flows to developing countries”, International Migration 48(5):89-
117
Butler, J. 1993. Bodies That Matter: On The Discursive Limits of “Sex”.
London and New York: Routledge
Castells, M. 2002. The Rise of the Network Society, second edition.
Malden, MA: Blackwell Publishers
Castles, S. dan M.J. Miller. 2003. The Age of Migration, third edition.
London: MacMillan Press
Chamberlain, M. 1997. “Gender and the Narratives of Migration”,
History Workshop Journal 43:87-108
Chant, S (ed.). 1992. Gender & Migration in Developing Countries.
London: Belhaven Press
Chant, S. dan S.A. Radcliffe. 1992. “Migration and development: the
importance of gender” dalam Sylvia Chant (ed.) Gender &
Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press. Hlm.
1-29
De Haas, H. 2007. Migration and Development: a Theoretical
Perspective. Bielefeld: COMCAD
________. 2008. “The internal dynamics of migration processes”,
makalah disampaikan dalam IMSCOE Conference on Theories of
Migration and Social Change, University of Oxford 1-3 Juli
De Haas, H. dan T. Fokkema. 2009. Intra-household tensions and
conflict of interest in migration decision making: a case study of
migrasi (berwajah) perempuan

the Todgha valley, Marocco. Working paper for IMI University of


Oxford
Detsi-Diamanti, Z., K. Kitsi-Mitakou, dan E. Yiannopoulou. 2009.
“Toward to Future of Flesh: An Introduction” dalam Zoe Detsi-
Diamanti, Katerina Kitsi-Mitakou, dan Effie Yiannopoulou (eds.)
The Future of Flesh: a Cultural Survey of the Body. New York:
Palgrave Macmillan. Hlm. 1-15
Elmhirst, R. 1999. “’Learning the ways of the priyayi’: domestic
servants and the mediation of modernity in Jakarta” dalam J.H.
Momsen (ed.) Gender, Migration and Domestic Service. London
and NY: Routledge. Hlm. 237-258
Halaman 1

_________. 2009. “Multi-local livelihoods, natural resource management


and gender in upland Indonesia” dalam Bernadette P.
Ressurection dan Rebecca Elmhirst (eds.) Gender and Natural
Resource Management; Livelihoods, Mobility and Interventions.
Singapore: ISEAS. Hlm. 67-85
Fan, C.C. 2004. “Out to the City and Back to the Village: The
Experiences and Contributions of Rural Women From Sichuan
and Anhui” dalam A.M. Gaetano dan T. Jacka (eds.) On The
Move: Women and Rural-to-Urban Migration in Contemporary
China. New York: Colombia University Press. Hlm. 177-206
Farwick, A. 2009. Internal Migration, Chalengges and Perspectives for
the Research Infrastructure. RatSWD Working Paper No. 97.
Gardner, K. 2002. Age, Narrative and Migration: The Life Course and
Life Histories of Bengali Elders in London. New York: Berg
Gubhaju, B. dan G.F. de Jonge. 2009. “Individual versus household
migration decision rules: gender and marital status differences in
intentions to migrate in South Africa”, International Migration
47(1):31-61
Green, A., I. Hardill, dan S. Munn. 1999. “The Employment
Consequences of Migration: Gender Differential” dalam dalam
Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in
Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 60-69
Halfacree, K. dan P. Boyle. 1999. “Introduction: Gender and Migration
in Developed Countries” dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree
(eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan
New York: Routledge. Hlm. 1-23
Hardill, I. 2002. Gender, Migration and the Dual Career Household.
London and New York: Routledge
Harding, S. 1991. Whose Science? Whose Knowledge?. Ithaca, NY:
Cornell University Press
Ho, E. 2006. Graves of Tarim, Genealogy and Mobility Across the
Indian Ocean. Berkeley: Univerity California Press
Hooglan, R.C. 2007. “Body, Theories of” dalam Fedwa Malti-Douglas
(ed.) Encyclopedia of Sex and Gender. Hlm. 171-176.
migrasi (berwajah) perempuan

Horton, S. 1996. “Women and industrialization in Asia: overview”,


dalam Susan Horton (ed.) Women and Industrialization in Asia.
London and New York: Routledge. Hlm. 1-42
Hugo, G. 1992. “Women on the move: changing patterns of population
movement of women in Indonesia” dalam Sylvia Chant (ed.)
Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven
Press. Hlm. 174-196
Irianto, S. 2011. Akses Keadilan dan Migrasi Global: Kisah Perempuan
Indonesia Pekerja Domestik di Uni Emirat Arab. Jakarta: Obor
Jacobsen, F.F. 2009. Hadrami Arabs in Present Day Indonesia, an
Indonesia-oriented group with an Arabic signature. London and
New York: Routledge
Halaman 1

Jones, T.A. 2009. “Migration Theory in the Domestic Context, North-


South Labor Movement in Brazil”, Human Architecture: Journal of
the Sociology of Self-Knowledge (7)4:5-14.
Lee, E.S. 1966. “A Theory of Migration”, Demography 3(1):47-57
Longino, H.E. 1987. “Can There Be A Feminist Science?”, Hypatia
2(3):51-64
Momsen, J.H. 1999. “Maids on the move” dalam J.H. Momsen (ed.)
Gender, Migration and Domestic Service. London and NY:
Routledge. Hlm. 1-20
Newberry, J. 2008. “Women’s ways of walking: gender and urban
space in Java” dalam Judith N. DeSena (ed.) Gender in an Urban
World. United Kingdom: Emerald. Hlm. 77-102
Nolan, A. 2007. “Body Image” dalam Fedwa Malti-Douglas (ed.)
Encyclopedia of Sex and Gender. Hlm. 168-170
Olwig, K.F. 1997. “Cultural Sites: Sustaining a home in a
deterritorialized world” dalam Karen Fog Olwig dan Kristen
Hastrup (eds.) Siting Culture, the shifting anthropological object.
London and New York: Routledge. Hlm. 17-38.
Ong, A. 1991. “The Gender and Labor Politics of Postmodernity”,
Annual Review of Anthropology 20:279-309
Palmary, I. 2009. “Migration of Theory, Method, and Practice: a
Reflection on Themes in Migration Studies”, PINS 37:55-66
Pholphirul, P. dan P. Rukumnuaykit. 2010. “Economic Contribution of
Migrant Workers to Thailand”, International Migration 48(5):174-
202
Pinger, P. 2010. “Come Back or Stay? Spend Here or There? Return
and Remittances: The Cas of Moldova”, International Migration
48(5):142-173
Pocha, S. 2010. “Feminisme dan Gender” dalam Sarah Gamble (ed.)
Feminisme dan Postfeminisme. Jakarta: Jalasutra. Hlm. 69-81
Ramazanoğlu, C., dan J. Holland. 2002. Feminist Methodology,
Challenges and Choices. London: Sage
Ravenstein, E.G. 1885. “The Laws of Migration”, Journal of the
migrasi (berwajah) perempuan

Statistical Society of London 48(2):167-235


Reid, A. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 1:
Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Obor
Ressurection, B.P. dan R. Elmhirst (eds.). 2009. Gender and Natural
Resource Management: Livelihoods, Mobility and Interventions.
Singapore: ISEAS
Schwenken, H. dan P. Eberhardt. 2008. Gender Knowledge in
Economic Migration Theories and in Migration Practices. GARNET
Working Paper No.58/08
Sen, A. 1999. Development as Freedom. New York: Anchor Books
Sen, K. 1998. “Indonesian women at work: reframing the subject”,
Halaman 1

dalam Krishna Sen dan Maila Stivens (eds.) Gender and Power in
Affluent Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 35-62
Skeldon, R. 1997. Migration and Development: a Global Perspective.
Essex: Longman
Suharso et.al. 1975. Migration and Education in Jakarta. Jakarta:
Leknas LIPI
Suryadi AG, L. 1994. Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita
Jawa. Jakarta: Sinar Harapan
Swenson, K.A. 2010. “Productive Bodies: Women, Work, and
Depression”, dalam Lori Reed and Paula Saukko (eds.)
Governing the Female Body: Gender, Health, and Networks of
Power. New York: Suny. Hlm. 134-156
Tjiptoherijanto, P. 1997. Migrasi, Urbanisasi, dan Pasar Kerja di
Indonesia. Jakarta: UI Press
Walker, J.R. 2008. Internal Migration. Dalam
http://www.ssc.wisc.edu/~walker/ research/palgrave_6.pdf.
Diakses 12 maret 2011.
White, B. 2002. “Inti dan plasma: pertanian kontrak dan pelaksanaan
kekuasaan di dataran tinggi Jawa Barat”, dalam Tania Murray Li
(ed.) Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm. 293-329
migrasi (berwajah) perempuan
Halaman 1