Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Liberalisme bukanlah pembahasan yang sama sekali baru dalam
konteks Keindonesiaan. Fenomena liberalisme ini adalah salah satu dari gerakan-
gerakan pembaharuan. Kelompok liberalis menginginkan kebebasan sepenuhnya
dan menuntut hak-hak inidividu sebebas-bebasnya untuk mengekspresikan dirinya
sesuai dengan perkembangan zaman. Termasuk di dalamnya kebebasan dalam
ritual dan konteks keagamaan, begitu pula dengan ajaran islam. Manusia tidak
harus selalu bergantung pada Al Qur’an dan hadits, kaum liberal ini
mengutamakan rasional mereka dalam pengambilan hukum syari’ah. Sehingga
muncullah gerakan pembaharuan Islam agar dapat disesuaikan dengan keadaan
zaman yang rasional dan sesuai dengan isu modernitas.
Liberalisme dalam Islam, menurut kelompok Islam Progresif adalah
keinginan menjembatani antara masa lalu dengan masa sekarang. Jembatannya
adalah melakukan penafsiran-penafsiran ulang sehingga Islam menjadi agama
yang hidup. Karena kita hidup dalam situasi yang dinamis dan selalu berubah,
sehingga agar agama tetap relevan, menurut mereka, diperlukan sebuah cara
pandang baru atau tafsir baru dalam melihat dan memahami agama.
Beberapa konstalen di atas telah mendasari kami dalam pembuatan
makalah ini. Selanjutnya akan kami bahas dan jabarkan lebih luas pada bab
pembahasan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun beberapa hal yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimaan Pengertian Liberal?
2. Bagaimana Akar dari Pemikiran Liberal berawal?
3. Bagaimana kemunculan Liberalisme dalam Agama?
4. Bagaimana Akar Istilah Liberalisme dalam Islam?

1
5. Bagaiman pemikiran Gerakan Liberalisme dalam Islam?
6. Bagaimana Sejarah Masuknya Pemikiran Liberalisme Islam di Indonesia?
7. Bagaimana pengaruh adanya Konsep Liberalisme dalam Islam?
8. Bagaiamana awal dari kemunculan Jaringan Islam Liberal?
Semua permasalahan tersebut akan kami bahas lebih rinci selanjutnya
pada bab pembahasan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Liberal dan Liberalisme


Kata 'liberal', menurut Ensiklopedi Britannica (2001), diambil dari
bahasa Latin liber. Kata ini pun, menurut Oxford English Dictionary, bermakna
sesuai untuk orang bebas, murah hati dalam seni liberal (liberal arts). Salah satu
rekaman pertama mengenai contoh kata 'liberal' muncul pada 1375 yang memang
digunakan untuk memerikan liberal arts. Dengan terbitnya masa Pencerahan
(Enlightenment), kata tersebut memperoleh penekanan positif secara lebih
menentukan dengan makna "bebas dari prasangka yang dangkal" pada 1781 dan
"bebas dari kefanatikan" pada 1823. Dan di pertengahan abad ke-19, kata 'liberal'
mulai digunakan sebagai istilah yang sangat politis.
Sebagai kata sifat, kata `liberal' sering dipakai untuk menunjukkan
sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka, berpikiran luas lagi
terbuka, dan karena itu dianggap hebat.Ini terkait dengan penentangan untuk
tunduk kepada kewibawaan apa pun,termasuk Tuhan, kecuali dirinya sendiri.
Maka, jika ditelusur, liberalisme di Barat sejatinya berakar dari semangat
perlawanan terhadap Tuhan dan agama.
Di Eropa, semangat liberalisme sudah muncul sejak masa renaissance
(Perancis); berasal dari kata "rinascita" (bahasa Italia) yang artinya: kelahiran
kembali. Mulanya, istilah ini dikenalkan pertamakali oleh Giorgio Vasari pada
abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian Italia mulai abad ke-14
sampai ke-16. Menurut Jacob Buchard, Renaissance, bukan sekedar kelahiran
kembali kebudayaan Romawi danYunani kuno tetapi juga kebangkitan kesadaran
manusia sebagai individu yang rasional, sebagi pribadi yang otonom, yang
mempumyai kehendak bebas dan tanggung jawab.
Setelah Renaissance, manusia telah meninggalkan zaman kegelapan
abad Pertengahan yang didominasi kekuasaan dan nilai-nilai agama, tetapi telah

3
menjadi manusia yang bebas, rasional, mandiri, dan individual. Inilah yang
konon disebut sebagai "prototipe manusia modern".
Manusia modern adalah manusia yang sanggup dan mempunyai
keberanian untuk memandang dirinya sebagai pusat alam semesta (antroposentris)
dan bukan Tuhan sebagai pusatnya (teosentris).
Manusia modern tidak lagi berpegang pada prinsip memento mori
(ingatlah bahwa engkau akan mati) tetapi diganti dengan semboyan carpe diem
(nikmatilah kesenangan hidup). Kata mereka: "Man can do all thing if they will."
(Manusia dapat mengerjakan apa saja, asalkan mereka mau). (Tentang
Renaissance dan manusia modern, lihat, Sutarjo Adisusilo, Sejarah Pemikiran
Barat.1
Sedangkan liberalisme sendiri merupakan paham yang berusaha
memperbesar wilayah kebebasan individu dan mendorong kemajuan sosial.
Liberalisme merupakan tata pemikiran yang berlandaskan pada kebebasan
manusia. Bebas, karena manusia mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan apa
yang diinginkan. Dan ini berarti bahwa liberalisme adalah paham pemikiran yang
optimistis tentang manusia. Dari pengertian liberalisme ini maka terlihat dua
agenda besar yang diperjuangkannya, yaitu; (1) mengandalkan rasio dan
kesadaran individu, dan (2) mengandalkan pembangunan mandiri masyarakat
tanpa intervensi berlebihan dari negara. Dua agenda besar ini digulirkan dalam
wacana Hak Asasi Manusia (HAM) dan masyarakat sipil (civil society).2
 Pemikiran John Locke (1632-1704)3
John Locke, secara luas dipandang sebagai Bapak Liberalisme. Ia
berperan penting dalam pengembangan filsafat liberal. Locke secara sepadu
memerikan beberapa asas dasar pergerakan liberal di awalmulanya, seperti hak
kepemilikan pribadi dan persetujuan dari orang yang diperintah.
1
Yudo Mahendro, Menimbang Liberalisme dalam Tradisi Taqlid,
http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/06/menimbang-liberalisme-dalam-tradisi-taqlid/, diunduh
pada tanggal 14 Mei 2011
2
Rahman, Pengertian Liberalisme, http://www.itsfetriyannorrahman.co.cc/2010/07/pengertian-
liberalisme.html, diunduh pada tanggal 5 Mei 2011
3
Husaini, Adian, dan Hidayat, Nuim, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan
Jawabannya, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), hal 56

4
Pembangun tradisi filsafat liberalisme ini menggunakan konsep hak
alamiah dan kontrak sosial untuk menyatakan bahwa aturan hukum seharusnya
menggantikan pemerintahan autokratik, bahwa pengatur menjadi ada di bawah
persetujuan yang diatur, dan bahwa individu sebagai pribadi memiliki hak
mendasar untuk hidup, bebas, dan berkepemilikan.
Dasar dari konsep-konsep Kontrak Sosial adalah dakwaan bahwa
manusia secara alamiah bersifat bebas dan setara (lihat Two Treatises of
Government). Hal ini menjadi dasar pembenaran dalam memahami pengesahan
pemerintahan politik sebagai hasil kontrak sosial. Sifat bebas dan setara yang
dimiliki manusia sejak awal kehidupannya, memberikannya hak "suara" dalam
pendirian suatu pemerintahan. Pemerintahan bertujuan utama untuk melindungi
hak-hak manusia seperti hak hidup, kebebasan, dan kepemilikan.
Sifat bebas dan setara ini begitu penting karena dapat diperluas ke
ranah kehidupan lainnya, seperti budaya, ekonomi, dan agama. Sehingga, untuk
memahami kebebasan ini secara singkat adalah bebas dari paksaan kewibawaan
apa pun yang menghilangkan sifat kemanusiaan.
Setelah John Lock, John Stuart Mill (1806-1873) dikenal juga sebagai
seorang pemikir besar liberal yang juga sangat berpengaruh. Laki-laki kelahiran
Pentonville ini melanjutkan filsafat utilitarianisme Jeremy Bentham. Hanya saja
kekhasan Mill terletak pada konsep asas kemanfaatan (utility) dalam bingkai
liberalisme. Gagasannya jelas memiliki kesamaan dalam penekanan tentang
kebebasan individu. Hanya saja, kebebasan bukanlah sebuah tujuan akhir,
melainkan sebuah sarana. Tujuan kebebasan dan tindakan insan adalah manfaat,
baik kualitatif dan kuantitatif. Dan manfaat akan mengantarkan kepada
kebahagiaan.
Tindakan manusia tidak hanya sesuatu yang tanpa tujuan. Sebab, jika
demikian maka tindakan seseorang menjadi tidak bermakna. Manfaat, sebagai
tujuan tindakan, dilihat dari hasrat seseorang dan terdapatkriteria objektif yang
mendasarkan dirinya pada nilai kemanfaatannya bagi manusia khususnya bagi
keseluruhan manusia.

5
Penekanan Mill terhadap aspek individualitas dari individu merupakan
alasan terpenting keberadaan sebuah lembaga apa pun, termasuk pemerintah.
Karena individualitas adalah susunan utama dari kebahagiaan manusia yang harus
dijamin pemerintah. Jika tidak, maka pemerintah tersebut harus diganti. Maka,
kebebasan adalah hak manusia yang mendasar. Dari kebebasan inilah akan
muncul kreativitas dan kemajuan sosial serta intelektual.
Jika ditelaah secara mendasar, para pemikir liberal sejatinya berawal
dari trauma terhadap "Tuhan" dan aturan-aturan agama yang pernah mendominasi
masyarakat Barat di zaman Pertengahan. Mereka berpikir, dengan membuang
Tuhan dalam kebebasan mereka, maka merekaakan merasakan kebahagiaan, yang
tak lain adalah kebebasan. Karena itu,tak heran, jika filosof terkenal Perancis,
Jean-Paul Sartre (1905-1980) memekikkan slogan yang menolak eksistensi
Tuhan. Sebab, ide tentang Tuhan membatasi kebebasan manusia: "even if God
existed, it willstill necessary to reject him, since the idea of God negates
ourfreedom."
 Asas Pemikiran Liberal4
Secara umum asas liberalisme ada tiga; kebebasan, individualis dan
Aqlani (mendewakan akal).
a) Asas pertama: Kebebasan
Yang dimaksud disini adalah setiap individu bebas dalam
perbuatannya dan mandiri dalam tingkah lakunya tanpa diatur dari negara atau
selainnya. Mereka hanya dibatasi oleh undang-undang yang mereka buat sendiri
dan tidak terikat dengan aturan agama. Dengan demikian liberalisme disini adalah
sisi lain dari sekulerisme secara pengertian umum yaitu memisahkan agama dan
membolehkan lepas dari ketentuannya. Sehingga menurut mereka manusia tu
bebas berbuat, berkata, berkeyakinan dan berhukum sesukanya tanpa batasan
syari’at Allah. Sehingga manusia menjadi tuhan untuk dirinya dan penyembah
hawa nafsunya serta bebas dari hukum ilahi dan tidak diperintahkan mengikuti
ajaran ilahi. Padahal Allah berfirman, yang artinya:

4
Kholid Syamhudi, Islam dan Liberalisme, http://ustadzkholid.com/manhaj/islam-dan-
liberalisme/, diunduh pada tanggal 15 Mei 2011

6
“Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku
hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya;dan demikian
itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama
menyerahkan diri (kepada Allah)”. [QS. Al-An'am: 162-163]
dan firman Allah, yang artinya:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu
ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui“. [QS. al-Jaatsiyah : 18]
b) Asas kedua: Individualisme (Al-Fardiyah)
Dalam hal ini ada dua pemahaman dalam Liberalisme:
 Individual dalam pengertian ananiyah (keakuan) dan cinta diri sendiri.
Pengertian inilah yang menguasai pemikiran eropa sejak masa kebangkitan
eropa hingga abad keduapuluh masehi.
 Individual dalam pengertian kemerdekaan pribadi. Inilah pemahaman baru
dalam agama liberal yang dikenal dengan Pragmatisme.
c) Asas ketiga: Mendewakan Akal (Aqlaniyah)
Dalam pengertian kemerdekaan akal dalam mengetahui dan mencapai
kemaslahatan dan kemanfaatan tanpa butuh kepada kekuatan diluarnya. Hal ini
dapat tampak dari hal-hal berikut ini:
 Kebebasan adalah hak-hak yang dibangun diatas dasar materi bukan
perkara diluar dari materi yang dapat disaksikan dan cara mengetahuinya
adalah dengan akal, pancaindra dan percobaan.
 Negara dijauhkan dari semua yang berhubungan dengan keyakinan agama,
karena kebebasan menuntut tidak adanya satu yang pasti dan yakin; karena
tidak mungkin mencapai hakekat sesuatu kecuali dengan perantara akal
dari hasil percobaan yang ada. Sehingga -menurut mereka- manusia
sebelum melakukan percobaan tidak mengetahui apa-apa sehingga tidak
mampu untuk memastikan sesuatu. Ini dinamakan ideologi toleransi (al-
Mabda’ at-Tasaamuh). Hakekatnya adalah menghilangkan komitmen
agama, karena ia memberikan manusia hak untuk berkeyakinan semaunya
dan menampakkannya serta tidak boleh mengkafirkannya walaupun ia

7
seorang mulhid. Negara berkewajiban melindungi rakyatnya dalam hal ini,
sebab negara -versi mereka- terbentuk untuk menjaga hak-hak asasi setiap
orang. Hal ini menuntut negara terpisah total dari agama dan madzhab
pemikiran yang ada. Ini jelas dibuat oleh akal yang hanya beriman kepada
perkara kasat mata sehingga menganggap agama itu tidak ilmiyah dan
tidak dapat dijadikan sumber ilmu. -Ta’alallahu ‘Amma Yaquluna
‘Uluwaan kabiran-
 Undang-undang yang mengatur kebebasan ini dari tergelicir dalam
kerusakan -versi seluruh kelompok liberal – adalah undang-undang buatan
manusia yang bersandar kepada akal yang merdeka dan jauh dari syari’at
Allah. Sumber hokum mereka dalam undang-undang dan individu adalah
akal.
2.2 Akar Pemikiran Liberal5
Pemikiran liberal (liberalisme) adalah satu nama di antara nama-nama
untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi
Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-
XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti “bebas dari batasan” (free from
restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari
pengawasan gereja dan raja. Ini berkebalikan total dengan kehidupan Barat Abad
Pertengahan ketika gereja dan raja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia.
Ideologi Barat itu juga dapat dinamai dengan istilah kapitalisme atau
demokrasi. Jika istilah kapitalisme lebih digunakan untuk menamai sistem
ekonominya, istilah demokrasi sering digunakan untuk menamai sistem politik
atau pemerintahannya. Namun monopoli istilah demokrasi untuk ideologi Barat
ini sebenarnya kurang tepat, karena demokrasi juga diserukan oleh ideologi
sosialisme-komunisme dengan nama “demokrasi rakyat”, yakni bentuk khusus
demokrasi yang menjalankan fungsi diktatur proletar.

5
Shiddiq Al-Jawi, Akar Sejarah Pemikiran Liberal yang Menyesatkan,
Http://Iskud.Wordpress.Com/2009/10/16/Akar-Sejarah-Pemikiran-Liberal-Yang-Menyesatkan/,
diunduh pada Tanggal 7 Mei 2011

8
Walhasil, ideologi Barat memang mempunyai banyak nama,
bergantung pada sudut pandang yang digunakan. Namun, yang lebih penting
adalah memahami akar pemikiran liberal yang menjadi pondasi bagi seluruh
struktur bangunan ideologi Barat.
Menurut Ahmad Al-Qashash dalam kitabnya Usus Al-Nahdhah Al-
Rasyidah (1995:31) akar ideologi Barat adalah ide pemisahan agama dari
kehidupan (sekularisme), yang pada gilirannya melahirkan pemisahan agama dari
negara. Sekularisme inilah yang menjadi induk bagi lahirnya segala pemikiran
dalam ideologi Barat. Berbagai bentuk pemikiran liberal seperti liberalisme di
bidang politik, ekonomi, ataupun agama, semuanya berakar pada ide dasar yang
sama, yaitu sekularisme (fashl al-din ‘an al-hayah).
2.3 Liberalisme dalam Agama6
Sebenarnya ketika membicarakan tentang liberalisme agama, maka
itu adalah salah satu bagian dari objek liberalisasi. Ada banyak objek atau aspek
dari kehidupan ini yang telah dipersandingkan dengan liberalisme. Misalkan,
liberalisme politik, liberalisme budaya, maupun liberalisme ekonomi. Namun di
antara sekian aspek tersebut, agama-lah yang kemudian menjadi aspek yang
sangat berbahaya jika dipersandingkan dengan liberalisme, terutama terhadap
agama Islam.
Liberalisasi agama ini mula-mula muncul di Barat, dengan objeknya
adalah agama Kristen dan Yahudi, yang ketika itu sedang mendominasi
masyarakat Barat. Tetapi seiring dengan adanya hegemoni peradaban Barat di era
modern ini, maka liberalisasi agama itu juga telah merambah kepada agama-
agama hampir di seluruh dunia, termasuk Islam.
Dalam agama Yahudi, liberalisasi sudah berkembang sejak abad ke-
19. Ketika itu sudah muncul gerakan Liberal Judaism (Yahudi Liberal) yang
merupakan bagian lain dari sekte Yahudi sendiri. Begitu juga dengan liberalisasi
dalam tubuh Kristen. Sudah banyak teolog-teolog liberal yang bermunculan,
bahkan sudah menyebar di Indonesia.
6
Ekta Yudha Perdana, Sejarah Liberalisme dalam Agama, http://kajian-
islah.blogspot.com/2009/02/sejarah-liberalisme-dalam-agama.html, diunduh pada tanggal 8 Mei
2011

9
Makna dari liberalisasi agama sendiri, menurut Adian Husaini, adalah
proses penempatan agama ke dalam bagian dari dinamika sejarah. Agama adalah
bagian dari sejarah, dan harus mengikuti perkembangan sejarah. Sehingga semua
ajaran-ajaran agama dapat berubah setiap saat dengan mengikuti perkembangan
zaman sesuai dengan nilai-nilai modern. Jika yang demikian itu terjadi pada
Islam, maka tidak ada lagi hal yang tetap atau tsawabit dalam Islam. Liberalisasi
agama Islam artinya Islam adalah bagian dari sejarah dan harus mengikuti zaman.
Nilai-nilai modernitas adalah dijadikan tolak ukur dalam proses
liberalisasi agama. Agama dipaksa untuk tunduk kepada nilai-nilai modern, bukan
nilai modern yang mengikuti agama.
Pasca munculnya pertama kali sekularisme dan liberalisme di Barat,
perkembangannya terus menunjukkan angka sangat signifikan. Perkembangan
gereja-gereja di Barat sekarang ini sudah sangat memprihatinkan. Hal ini
digambarkan sendiri oleh seorang aktivis Kristen asal Bandung, Herlianto, dalam
bukunya yang berjudul “Gereja Modern, Mau ke Mana?”.
Misalkan dari realita yang ada di Amsterdam, ratusan tahun lalu 99%
penduduknya beragama Kristen. Kini tinggal 10% saja yang dibaptis dan mau ke
gereja. Pada tahun 1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinian
Research, 46% penduduknya mengatakan bahwa agama sudah tidak diperlukan
lagi. Di Norwegia, yang Kristen-nya 90%, hanya setengahnya saja yang percaya
pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Dan hanya sekitar 3% yang rutin ke gereja
tiap minggu.
Di sejumlah gereja di Eropa, sudah menerima praktek homoseksual.
Ini diamini oleh Eric James, seorang pejabat gereja Inggris yang menulis dalam
bukunya “Homosexuality and a Pastoral Church”. Ia menghimbau kepada gereja
agar memiliki toleransi terhadap praktek homoseksual, dan mengizinkan
perkawinan antara sesama laki-laki maupun sesama wanita.
Bagi masyarakat Barat, praktek perzinaan, minuman keras, maupun
pornografi, tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Karena standar kriminal
yang mereka gunakan adalah standar kesepakatan dan kepantasan secara umum.

10
Jika hal tersebut tidak mengganggu dan merugikan orang lain, maka tindakan itu
sah-sah saja.
Dari beberapa data di atas, maka tergambar sudah begitu parahnya
arus liberalisasi dalam masyarakat Barat sekarang ini. Bentuk liberalisme
semacam ini, mungkin bagi sebagian orang merupakan sebuah kewajaran di era
modern. Karena era modern sekarang memang mengusung jargon kebebasan.
Dalam Islam, ‘pembaharuan’ pemikiran di dunia Islam sebenarnya
telah dimulai sejak awal keruntuhan Khilafah Utsmaniyah di Turki. Ketika Islam
di Turki dipimpin oleh Mustafa al-Tatruk, maka terjadilah Sekularisasi negara
dengan mencontoh Barat.
Beberapa hal penting yang perlu dicatat dari perombakan yang telah
dilakukan al-Taturk seperti, perubahan Hukum Syari’at Islam tentang perkawinan
yang diganti dengan hukum Swiss. Dalam hukum ini, perempuan juga
mempunyai hak untuk menceraikan suaminya. Kemudian lebih parah lagi adzan
bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki (bahasa lokal), penggunaan jilbab
dilarang, bahasa Arab diganti dengan bahasa Barat. Intinya semua identitas dan
simbol-simbol Islam digantikan dengan identitas serta simbol dari Barat. Sehingga
Turki yang dulunya kekuatan Islam Khilafah Utsmaniyah itu, telah berubah
menjadi sekuler.
Sekarang, proses liberalisasi dalam agama Islam itu adalah hasil
ketidakproporsionalan Barat terhadap Islam. Barat memaksakan paham-paham
mereka dan pandangan hidup mereka kepada Islam melalui jalur yang disebut
dengan westernisasi dan globalisasi. Melalui jalur inilah mereka menyebarkan
budaya dan ideologinya. Ini semua karena Barat sangat yakin akan keuniversalan
pandangan hidupnya bagi seluruh umat manusia di dunia.
Maka salah satu contoh dari hasil westernisasi dan globalisasi yang
dilakukan Barat terhadap Islam itu adalah adanya penggunaan istilah-istilah
seperti “Islam fundamentalis”, “Islam Liberal”, “Islam tradisional”, “Islam
modern”, dan berbagai kata sifat lainnya yang pada akhirnya dipaksakan untuk
membuntuti kata Islam.

11
Padahal jika universalitas atau globalitas Barat itu dipahami secara
adil, maka sebenarnya Barat dapat memahami worldview (pandangan hidup)
Islam, dan bahkan dapat saling bertukar konsep dan sistem yang tidak
bertentangan dengan pandangan hidup masing-masing. Maka tidak harus ada
pemaksaan dalam konsep dan pandangan hidup. Dan jika Barat itu benar-benar
konsisten dalam ke-liberalan-nya, maka mereka tidak akan menutup diri dari
Islam, dan tidak akan ada Islamofobia.
Dari pemaparan ini semua, penulis sampai pada kesimpulan bahwa
Liberalisme adalah produk Barat yang saat ini dipaksakan untuk masuk ke dalam
semua agama dan peradaban, khususnya Islam. Barat memiliki anggapan adanya
universalitas ideologinya di seluruh dunia. Dengan kemajuan teknologi dan
modernitasnya itu, Barat seakan mereka berkata, “jika ingin maju, maka tirulah
kami!”
Liberalisme yang seolah menjadi sebab utama kemajuan Barat,
sebenarnya belum tentu menjamin jika diterapkan pada kultur dan peradaban lain.
Kemujuan yang dicapai Barat dengan liberalisme dan sekularismenya itu
hanyalah kemajuan semu. Modernitas yang menjadi simbol Barat itu tidak lebih
dari sekedar kulit luar yang bagus, yang menutupi substansinya yang busuk.
Secara worldview, Barat dan Islam itu sangat berbeda jauh. Salah satu
contohnya, pandangan Barat yang dikotomis, dan sangat berbeda dengan Islam
yang sifatnya tauhidi. Maka sangat sulit untuk diterima akal seorang Muslim jika
ada orang mengaku beragama Islam lantas meniru Barat secara membabi-buta
sampai kepada akar-akarnya, tanpa ada rasa kritis dan filter.
2.4 Akar Istilah Liberalisme Islam7
“Liberalisme Islam” atau “Islam liberal” adalah salah satu
karakterisasi terhadap gerakan kebangkitan Islam yang dimulai sejak abad ke-19.
Istilah ini merujuk kepada sikap umum para pembaru Muslim dalam menghadapi
kondisi umat Islam, khususnya dalam bidang pemikiran. Istilah “liberal” sendiri

7
Maslahul Falah, Islam Ala Soekarno Jejak Langkah Pemikiran Islam Liberal Indonesia,
(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hal 75

12
baru digunakan belakangan. Paling tidak sejak tahun 1950-an, ketika para sarjana
di Barat mulai banyak menulis tentang fenomena modern kebangkitan Islam.
Sarjana Barat pertama yang secara spesifik menggunakan istilah
“liberalisme Islam” adalah Wilfred Cantwell Smith, ahli Islam asal Kanada yang
dikenal sangat simpatik. Smith menggunakan istilah ini dalam bukunya Islam in
Modern History. Kata ini digunakan Smith untuk merujuk kecenderungan
intelektualisme dan humanisme dalam pemikiran Islam modern. Intelektualisme
dan humanisme adalah inti dari gerakan liberalisme yang berkembang di dunia
Barat.
Penulis lainnya yang menggunakan istilah “liberal” adalah Albert
Hourani, sarjana Inggris keturunan Palestina, dalam bukunya yang terkenal,
Arabic Thought in the Liberal Age. Hourani memang tidak secara spesifik
menggunakan istilah “Liberal Islam,” tapi istilah “Liberal Age” yang
digunakannya dalam konteks pemikiran bangsa Arab juga mencakup pemikiran
Islam secara umum.
Sarjana lainnya yang menggunakan istilah “Islam liberal” adalah Asaf
A.A. Fyzee, penulis Pakistan, dalam bukunya, A Modern Approach to Islam.
Dalam buku ini, Fyzee memberika beberapa alternatif penamaan menyangkut
fenomena pembaruan pemikiran Islam, seperti “Islam dinamis,” “Islam aktif,”
“Islam progresif,” dan “Islam Protestan.” Namun, jika disuruh memilih, maka
“Islam Liberal,” adalah istilah yang layak dipertimbangkan.
Baik Smith, Hourani, maupun Fyzee menggunakan istilah “liberal”
untuk merujuk sebuah kecenderungan umum para pembaru Muslim yang
berusaha membebaskan diri mereka dari belenggu penafsiran pemahaman dan
penafsiran agama yang kaku, sempit, dan dogmatis. Di sini, istilah “liberal”
pada awalnya merujuk secara umum kepada makna “kebebasan.”
Istilah “liberalisme Islam” secara lebih spesifik dan lebih “teknikal,”
digunakan pada tahun 1980-an, khususnya ketika Leonard Binder menulis
bukunya, Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies. Sebagai
ilmuwan politik, Binder memiliki subyektifitas yang besar pada disiplin ilmu yang

13
dimilikinya. Dalam bukunya tersebut, Binder menggunakan istilah “liberalisme
Islam” dengan tekanan yang sangat kuat sekali pada pemikiran politik.
Di tangan Binder, istilah “liberalisme Islam” yang sebelumnya
bermakna “kebebasan” dalam pengertiannya yang umum mengerucut kepada
liberalisme politik, dan lebih mengerucut lagi kepada fenomena Liberalisme
Barat, di mana tema-tema filsafat politik semacam sekularisme, demokrasi liberal,
hubungan agama-negara, hak-hak warga negara, dan kebebasan sipil, menjadi
tema sentralnya.
Peran Binder dalam mempopulerkan istilah “liberalisme Islam” cukup
besar, bukan karena dia membuat makna “liberalisme” dalam Islam menjadi lebih
spesifik ke arah politik, tapi karena ia memberikan batasan yang tegas antara
Islam yang “liberal” dan Islam yang “tak-liberal.” Dalam pemikiran politik,
Binder mengambil contoh kontras dua tokoh Islam asal Mesir, yakni Ali Abd al-
Raziq dan Sayyid Qutb. Menurut Binder, Abd al-Raziq adalah tipikal pembaru
Muslim liberal, sementara Qutb adalah tipikal Muslim “tak-liberal.”
Batasan ini sangat penting, karena sejak tahun 1970-an, karakter
wacana kebangkitan Islam semakin kabur. Ia tidak lagi sepenuhnya memiliki
karakter “liberal” seperti pada awal-awal era kebangkitan (dan karena ini Hourani
menyebutnya sebagai “liberal age”), tapi juga muncul karakter baru yang lebih
bersifat puritan, tekstual, dan politis.
2.5 Gerakan Liberalisme dalam Islam
Liberalisme dalam Islam, menurut kelompok Islam Progresif adalah
keinginan menjembatani antara masa lalu dengan masa sekarang. Jembatannya
adalah melakukan penafsiran-penafsiran ulang sehingga Islam menjadi agama
yang hidup. Karena kita hidup dalam situasi yang dinamis dan selalu berubah,
sehingga agar agama tetap relevan, menurut mereka, diperlukan sebuah cara
pandang baru atau tafsir baru dalam melihat dan memahami agama. Tafsir yang
dimaksud adalah tafsir yang membebaskan, yaitu tafsir yang akan dijadikan pisau
analisis untuk melihat problem kemanusiaan, mempertimbangkan budaya,

14
menghilangkan ketergantungan pada sebuah fase sejarah tertentu dan menjadikan
doktrin agama sebagai sumber etis untuk melakukan perubahan.8
Fenomena pemikiran Islam yang liberal sebenarnya tidak begitu jelas
sebagai satu aliran pemikiran yang merata. Muslim yang menyebut diri mereka
sebagai progresif bisa dikatakan mengamalkan Islam yang liberal karena mereka
telah mencetuskan beberapa pemikiran liberal dalam Islam. Akan tetapi beberapa
ahli berpendapat bahwa Islam progresif (modern) dan Islam liberal adalah dua
aliran yang berbeda. Aliran-aliran ini memiliki persamaan yakni berfalsafah yang
bergantung kepada ijtihad. Muslim yang berfikiran liberal tidak harus bergantung
kepada interpretasi ulama tradisional tentang al Quran dan Hadits. Mereka ini
umumnya menyatakan ingin kembali pada hukum-hukum islam terdahulu dan
tujuan asal etika dan pendekatan majmuk (pluralistik) kitab suci.
1) Pembaharuan, Bukan Perpecahan Agama
Fenomena ini adalah salah satu dari gerakan-gerakan pembaharuan
dalam Islam bukannya satu usaha perpecahan agama. Mereka mengklaim percaya
kepada rukun dasar dalam Islam seperti Rukun Iman dan Rukun Islam. Mereka
percaya bahwa ajaran mereka sejalan dengan ajaran Islam. Perbedaan utama
mereka dengan aliran konservatif Islam adalah interpretasi aplikasi nilai-nilai inti
Islam dalam kehidupan moden.
Fokus mereka kepada interpretasi individu dan etika, dibanding
dengan maksud literal kitab suci, dan pandangan ini mungkin berasal dari tradisi
Sufi dan tasawuf Islam
2) Ciri Umum
Beberapa ciri umum paham ini adalah:
• Otonomi (kewenangan) individu untuk menafsirkan Al Quran dan hadits
• Pandangan yang lebih kritis terhadap berbagai teks agama serta pandangan
tradisi dalam islam
• Persamaan Gender dalam semua aspek ritual agama

8
Abdul A’la, dari Neomodernisme ke Islam Liberal, Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di
Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 2003), hal 47

15
• Pandangan yang lebih terbuka pada budaya modern termasuk dalam
bidang adat istiadat, pakaian dan praktik
• Mengggalakkan penggunaan ijtihad dan fitrah
3) Pokok Pemikiran
 Ijtihad (Penafsiran Ulang)
Muslim liberal selalu menggugurkan tafsiran Quran yang mereka rasa
terlalu konservatif, kepada tafsiran yang lebih sesuai dengan keadaan saat ini dan
menyesuaikan dengan kehidupan modern. Mereka menganggap tafsiran
hendaklah mempertimbangkan keadaan pada masa ini.
Penggunaan Hadits dipersoalkan, karena hukum Islam banyak
mengambil dari Hadits dan bukan dari teks Al Quran, akibatnya terdapat banyak
kerancuan dalam isu-isu hukum dalam islam.
Abdullah Ahmad an-Na’im, seorang tokoh pemikir Islam Liberal dari
Sudan dan sering dijadikan rujukan oleh para pemikir liberal di Indonesia,
mengemukakan gagasan bahwa untuk meliberalisasi syari’at Islam, tidak bisa
ditempuh dengan metode ijtihad. Sebab menurutnya, ijtihad tidak bisa
diimplementasikan pada persoalan-persoalan yang telah disinggung oleh nash (la
ijtihada fi mauridin-nash). Maka dari itu, usaha untuk memodernkan syari’at
Islam harus ditempuh dengan dekonstruksi; menggugurkan bangunan metodologi
syari’at dan aturan-aturan syari’at itu sendiri. Metode yang tepat untuk digunakan
adalah dengan mengaplikasikan hermeneutika menggunakan standar utama HAM
dan hukum-hukum internasional.
 Hak Asasi Manusia (Humanisme)
Muslim liberal percaya bahwa Islam menggalakkan konsep persamaan
dalam segenap aspek.
 Feminisme
Muslim liberal bersifat kritis mengenai kedudukan wanita dalam
tradisi masyarakat Islam terutama konsep poligami dan hak pewarisan harta
pusaka, di mana anak perempuan menerima kurang dari anak lelaki. Mereka juga
kritis dalam konsep wanita sebagai kepala negara dan wanita tidak seharusnya

16
diasingkan dari lelaki dalam masjid. beberapa Muslim liberal setuju jika wanita
menjadi imam dalam sholat dengan makmum lelaki dan perempuan.
Para Muslim yang berpikir liberal ini juga menolak kewajiban seorang
perempuan memakai hijab (jilbab), dengan mengklaim bahwa memakai pakaian
yang sopan itu sudah cukup baik untuk lelaki maupun perempuan. Namum
adapula dari mereka yang masih mengenakan jilbabs sebagai simbol menentang
perlakuan terhadap perempuan sebagai objek seksual.
 Sekularisme
Beberapa Muslim liberal lebih menyukai ide tentang demokrasi
sekuler modern, yang memisahkan antara negara dan agama, sekaligus
bertentangan dengan ide penyatuan antara agama dan politik.
Penggunaan hukum Syariah islam diperdebatkan. Argumen mereka
banyak menggunakan teori Muktazilah, bahwa hukum-hukum dalam Al Quran itu
diciptakan Tuhan untuk masyarakat pada masa-masa tertentu, dan akal harus
digunakan untuk penyelesaian masalah dalam konteks terkini.
 Toleransi dan Menolak Kekerasan
Mereka lebih terbuka kepada dialog antara agama untuk
menyelesaikan konflik dengan pemeluk agama lain (Yahudi, Kristen, Hindu,
Budha, dll) dan mazhab-mazhab lain dalam Islam.
Gagasan jihad lebih difahami sebagai perjuangan dalam diri sendiri
daripada perjuangan bersenjata.
 Ketergantungan pada Paham Sekuler
Mereka ini selalu berpikir skeptis (tidak mudah percaya) terhadap
kebenaran ilmu-ilmu yang berbaur dalam Islam seperti ekonomi Islam, sains
Islam, sejarah Islam dan filsafat Islam sebagai satu cabang ilmu, yang seharusnya
terpisah dari bidang ilmu utamanya. Mereka menganggap penyebaran cabang-
cabang ilmu ini sebagai propaganda Muslim konservatif. Mereka (kaum Liberal)
lebih suka merujuk kepada hasil kerja para ahli ilmu pengetahuan dari Barat.9
9
Reza Aslan, Gerakan Liberalisme dalam Islam, http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=ms&u=http://ms.wikipedia.org/wiki/Gerakan_liberalisme_dalam_Islam&ei=AyXRTcuT
E8TorQej7vjCCg&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=3&ved=0CCcQ7gEwAjgU&prev=/sea
rch%3Fq%3Dliberalisme%2Bislam%26start%3D20%26hl%3Did%26sa%3DN%26biw

17
2.6 Sejarah Masuknya Pemikiran Liberalisme Islam di Indonesia10
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di Barat telah
membuat sebagian kalangan umat Islam terkagum-kagum dan mengalami shock
culture. Untuk mengapreasiasi kemajuan Barat itu, sejumlah tokoh Islam
menganjurkan dan menyerukan adanya pembaharuan Islam dengan mencontoh
Barat.
Pembaharuan pemikiran di dunia Islam dimulai ketika Khilafah
Utsmaniyah di Turki diambang kehancuran. Selanjutnya, Islam Turki di bawah
komando Mustafa al-Tatruk didekontruksi sedemikian rupa seperti Barat. Setelah
berhasil mendelegitimasi kewenangan khalifah dan Pengadilan Khusus Agama
(Islam), al-Tatruk dengan penuh kepongahan merombak total tatanan prinsip-
prinip Islam.
Tak hanya itu. Ia juga mengganti Hukum Syari’at tentang perkawinan
Islam dengan diganti hukum Swiss, di mana perempuan punya hak cerai sama
dengan laki-laki. Selanjutnya, sekolah-sekolah agama (madrasah) dan perguruan
tinggi agama dibubarkan, dan diganti dengan sekolah ala Barat.
Yang lebih parah lagi adalah adzan bahasa Arab diganti dengan
bahasa lokal (Turki), jilbab dilarang, dan penggunaan bahasa Arab pun diganti
dengan bahasa Barat. Pendek kata, semua identitas, idiom-idiom keIslaman dan
kearaban dihapuskan diganti dengan simbol, identitas dan tradisi Barat. Setelah itu
semua, sempurnalah bekas khilafah ‘Utsmaniyah itu menjadi Republik Turki yang
sekular.
Selain Turki, dunia Islam yang kecipratan dengan pembaharuan Islam
adalah Mesir. Pembaharuan di negeri Kinanah ini mulai terjadi ketika utusan
Perancis Napoleon Bonaparte dan sejumlah ilmuan yang ikut rombongannya
datang ke negeri itu. Dari situ terjadilah kontak masyarakat Mesir dengan budaya
Barat.

%3D1116%26bih%3D427%26prmd%3Divns, diunduh pada tanggal 8 Mei 2011


10
Brobram, Fenomena Islam Liberal di Indonesia,
http://kubanggajah.wordpress.com/2009/03/02/fenomena-islam-liberal-di-indonesia/, diunduh
pada 8 Mei 2011

18
Seperti yang dialami Turki, sebagian ulama Mesir mendukung
program pembaharuan model Barat itu. Untuk kepentingan ini, maka diutuslah
pelajar-pelajar Mesir untuk belajar di Paris dengan pengawasan imam. Adalah
Rifa’ al-Thahthawi (1803-1873) dari imam-imam yang diutus untuk belajar ke
sana. Sekembalinya dari pengembaraan dari negeri Barat
pemikiran al-Thahthawi cukup berpengaruh dalam masyarakat Mesir
saat itu. Di antara pembaharuan yang digaungkan al-Thahthawi adalah
penyesuaian penafsiran/interpretasi syari’at dengan kondisi zaman modern.
Setelah ia wafat, barulah Jamaluddin al-Afghani datang ke Mesir, dan
menyuarakan hal yang serupa. Pembaharuan yang dibawa al-Afghani selanjutnya
dilanjutkan oleh Muhammad ‘Abduh dan muridnya Rasyid Ridla.
Menurut Harun, pembaharuan yang digerakkan oleh mereka itu
memakai pendekatan teologi atau pemikiran Mu’tazilah (rasionalisme). Dari sini
pula muncul tokoh-tokoh sekular- liberal, sebut saja misalnya, Musthafa A. Raziq,
Sa’ad Zaghlul, Ahmad Amin, Thaha Husein, ‘Ali Abdul Raziq, dan lain-lainnya
yang senada.
 Merambah ke Indonesia
Gaung dan gerakan pembaharuan di Mesir rupanya juga merambah ke
Indonesia. Melalui KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya, pembaharuan
Islam dimulai. Gagasan pembaharuan Kyai Dahlan sendiri merupakan pengaruh
dari tokoh-tokoh Mesir. Ketika pendiri Muhammadiyah itu melakukan perjalanan
ke Mekah untuk belajar di sana, di tengah perjalanan ia membaca karya ‘Abduh
dan Ridla, Tafsir al-Manar.
Sepulangnya dari menimba ilmu itu, rupanya Tafsir al-Manar telah
menginspirasi KH. Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaharuan Islam di
Indonesia. Selain karena pengaruh Mesir, penetrasi misi Katholik-Protestan dari
penjajah (Spanyol, Portugis, dan Belanda) dan parktik takhayul, khurafat serta
bid’ah di masyarakat Indonesia telah membuat KH. Ahmad Dahlan prihatin
sekaligus protes keras. Faktor-faktor inilah yang mendorong pembaharuan Islam
oleh Kyai Dahlan bersama Muhammadiyahnya.

19
Kendati begitu, dalam pandangan Harun, pembaharuan yang
disuarakan Muhammadiyah bukanlah pembaharuan yang prinsipil dan
menyangkut hal-hal dasar (ushul), tapi pada masalah cabang (furu’). Misalnya,
soal ru’yah al-Hilal, patung, gambar, musik, kenduri, tahlilan, dan lain-lainnya.
Pembaharuan demikian berbeda dengan yang terjadi di Mesir dan Turki.
Sebagai orang yang pernah belajar di Mesir dan di Barat, justru Harun
sendirilah yang dikenal sebagai lokomotif liberalisme di Indonesia melalui
lembaga pendidikan tinggi. Setelah pulang dari Mesir, ia kemudian bekerja di
Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sekitar 1969. Ketika pemerintah, dalam hal
ini Menteri Agama (Menag) A.Mukti ‘Ali menunjuk dia sebagai Rektor IAIN
Syarif Hidayatullah, program liberalisasi pemikiran Islam segera ditabuh dan
digulirkan.
Untuk merealisasikan liberalisme, Harun mempromosikan dan
mensosialisasikan paham Mu’tazilah. IAIN Jakarta di bawah komandonya
mewajibakan para mahasiswa membaca buku-buku karyanya, antara lain, Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Teologi Islam, Filsafat Agama.
Belasan tahun kemudian, bukunya yang berjudul Islam Rasional juga
menjadi bacaan dan referensi ”wajib” di kalangan dosen dan mahasiswa IAIN.
Kewajiban memakai buku-buku karya Harun itu berlangsung sampai kini di
semua jurusan atau program studi, kendati nama IAIN sudah menjadi Universitas
Islam Negeri (UIN).
Maka di tangan Harun-lah UIN/IAIN/STAIN berhasil di-Mu’tazilah-
kan. Tentunya keberhasilan Harun menggeser dan mengubah model pemikiran di
lingkungan IAIN ketika itu tak lepas dari dukungan politik dari pemerintah Orde
Baru.
Harun memang dikenal gigih dan serius berkiprah di pendidikan
tinggi. Ia punya dedikasi tinggi untuk mengawal dan membesarkan IAIN
sebagaimana yang ia harapkan seperti lahirnya para pemikir liberal sekular di
Mesir.
Menurut mantan muridnya di program Pascasarjana IAIN, Dr. Ahmad
Dardiri, Harun sangat perhatian dengan mahasiswanya dalam berbagai hal.

20
“Bimbingan tesis ataupun disertasi betul-betul ia tangani dengan serius. Pak
Harun betul-betul serius untuk berkiprah di dunia pendidikan. Ini berbeda dengan
Cak Nur yang kadang kurang serius dengan bimbingan tesis atau disertasi
mahasiswa. Waktunya tersita dengan kegiatan di luar IAIN, ” ujarnya.
Setelah berjalan selama hampir 40 tahun, usaha Harun menemukan
hasilnya. Hampir seluruh UIN/ IAIN/ STAIN di seluruh Indonesia kini telah
menjadi gerbong terbesar proyek liberalisasi pendidikan dan studi Islam. Bila di
masa Harun, liberalisasi lebih ditekankan pada studi teologi/ilmu Kalam, maka
saat ini fokusnya adalah pada studi Al-Qur’an.
Hal ini dianggap strategis karena studi Al-Qur’an merupakan mata
kuliah umum wajib yang harus diambil seluruh mahasiswa. Tentunya juga,
liberalisasi Islam akan mudah berjalan dan kena sasaran bila leberalisasi Studi Al-
Qur’an diperkuat dan dikurikulumkan.
Proyek liberalisasi Studi Al-Qur’an ini semakin gencar dan serius
dengan dimasukanya mata kuliah Hermeneutika dan Semiotika di Program Studi
Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Demikian pula mata kuliah Kajian
Orientalis terhadap Al-Qur’an dan Hadits.
Referensi dan sumber dua mata kuliah ini adalah para pengibar
liberalisme Studi Al-Qur’an, baik dari kalangan Muslim maupun Kristen.
Misalnya, Muhammad Arkoun, Norman Calder, Farid Essack, Hans G. Gadamer,
dan lain-lain. Tujuan pengajaran mata kuliah Hermeneutika dan Semiotika adalah
“Mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan ilmu Hermeneutika dan
Semiotika terhadap kajian al-Qur’an dan Hadis.” Sedangkan untuk Kajian
Orientalis bertujuan,” Mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian
orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadits.”
Atas pengajaran mata kuliah Hermeneutika ini, entah karena tak
paham tentang bahaya penerapan hermeneutika dalam studi Al-Qur’an atau
karena alasan lain, seorang dosen ilmu Hadis di Prodi Tafsir Hadis UIN Jakarta
juga mengaku tak ada persoalan dengan hal itu. “Tidak apa-apa. Itu bagus-bagus
saja, ” katanya.

21
Pengajaran Studi Al-Qur’an dengan metode Barat itu, kini telah
melahirkan banyak mahasiswa/i dan sarjana UIN/IAIN/STAIN yang meragukan,
menghujat, bahkan melecehkan Al-Qur’an. Laporan majalah pekanan GATRA
edisi 7 Juni 2006, menyebutkan, seorang dosen IAIN Surabaya di depan para
mahasiswanya membuat adegan menginjak-injak lafaz Allah dengan kakinya
tanpa merasa berdosa. Ini adalah sebuah tindakan yang tak beradab dan tak
terpuji. Padahal dia adalah pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.
Kisah yang mirip dan serupa juga terjadi di UIN/IAIN/STAIN
lainnya. Misalnya, dosen pembimbing tesis atau disertasi di UIN Jakarta sering
mengolok-olok ketika ada mahasiswa/i dalam tesis/disertasinya mengutip ayat Al-
Qur’an ataupun Hadis Nabi Saw. Inilah ironi Studi Al-Qur’an di perguruan tinggi
(Islam) kita.
Kasus liberalisasi Studi Al-Qur’an di Indonesia memang sangat ironis
dan memprihatinkan. Sebab, proyek ini tidak hanya dilakukan oleh sejumlah
akademisi, tapi juga oleh beberapa aktivis, lembaga swadaya masyarakat (LSM),
para petinggi ormas Islam, pengasuh pondok pesantren, lembaga penelitian, dan
sebagainya. Mereka begitu ”gigih dan getol” mengkampanyekan liberalisme,
selain ingin lepas dan bebas dari Syari’at Islam, juga karena mendapat kucuran
dana berlimpah dari The Asian Foundation. Dengan dukungan dana yang relatif
besar, untuk mempromosikan agendanya mereka menjalin kerjasama dengan
beberapa media massa.
Kasus yang teranyar adalah tindakan tidak fair enam guru besar yang
meluluskan disertasi Abd. Moqsith Ghazali. Padahal dalam disertasi ini banyak
penafsiran al-Qur'an yang mengabaikan dan memisahkan antara keimanan kepada
Allah Swt dengan keimanan terhadap nabi Muhammad Saw.
Dalam disertasi aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) ini, disebutkan,
”secara eksplisit Al-Quran menegaskan bahwa siapa saja – Yahudi, Nashrani,
Sabi’in, dan lain-lain – yang menyatakan hanya beriman kepada Allah, percaya
akan Hari Akhir, dan melakukan amal saleh, tak akan pernah disia-siakan oleh
Allah. Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal atas keimanan dan segala

22
jerih payahnya.” Jadi tanpa beriman kepada Rasulullah Muhammad, amal seorang
Yahudi, Kristen dan Sabi'in sama kedudukannya dengan amal orang Muslim.
Yang lebih parah lagi adalah ketika penulis membahas tentang
”Pengakuan dan Keselamatan Umat non-Muslim”. Ia menyatakan, ”Agama yang
satu tak membatalkan agama yang lain, karena setiap agama lahir dalam konteks
historis dan tantangannya sendiri. Walau begitu, semua agama terutama yang
berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengarah pada tujuan yang sama, yakni
kemaslahatan dunia dan kemaslahatan akhirat. Dengan memperhatikan kesamaan
tujuan ini, perbedaan eksoterik agama-agama mestinya tak perlu dirisaukan.”
Disertasi berjudul, Perspektif Al-Quran tentang Pluralitas Umat
Beragama dibimbing oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A (Dirjen Bimas Islam
dan guru besar ilmu tafsir di UIN Jakarta) dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
(Rektor UIN Jakarta). Bertindak sebagai penguji adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra
(Ketua Sidang dan juga Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta), Prof. Dr. Komaruddin
Hidayat, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr.
Suwito, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof. Dr. Zainun Kamal dan Prof. Dr.
Salman Harun.
Dari tujuh guru besar, hanya satu guru besar yang tidak meluluskan
disertasi yang kontroversial ini, yakni Prof. Dr. Salman Harun. Bahkan mantan
dekan Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta itu membuat kritik tertulis. Konon baru kali
ini di UIN Jakarta ada penguji yang sampai membuat kritik tertulis ketika
menguji.
Salman menilai Abd.Moqsith salah memahami penggalan buku
Nawawi Al- Jawi (1813-1899) tentang bisa tidaknya non-muslim masuk surga.
Moqsith dinilai tak utuh mengutip Ibnu Katsir (1300-1373)
Ia menambahkan, dua ulama itu berkesimpulan hanya Muslim yang
masuk surga. Tapi Moqsith menyimpulkan, non muslim juga bisa. Salman
khawatir disertasi ini akan memperkuat tuduhan sebagian kalangan bahwa UIN
adalah tempat kristenisasi.
Orientalis modern William Montogomerry Watt, menjelaskan, mereka
yang disebut liberal adalah orang-orang Islam yang banyak memahami Islam

23
dengan sudut pandang Barat dan melakukan kritik-kritik terhadap Islam baik
secara implicit atau eksplisit, tapi mereka masih mengaku sebagai Muslim
(William Montogomerry Watt, Fundamentalisme dan Modernity in Islam).
2.7 Penolakan Konsep Liberalisme Islam
Ditinjau dari sudut kebahasaan penggandengan antara kata “Islam”
dan “Liberal” itu tidak tepat. Sebab Islam itu artinya tunduk dan menyerahkan diri
kepada Allah, sedangkan liberal artinya bebas dalam pengertian tidak harus
tunduk kepada ajaran Agama (al-Qur’an dan Hadis), Oleh karena itu, pemikiran
liberal sebenarnya lebih tepat disebut “Pemikiran Iblis” dari pada “Pemikiran
Islam”, karena makhluk pertama yang tidak taat kepada Allah adalah Iblis. Ajaran
islam dalam konsep liberalisme:
1. Umat Islam tidak boleh memisahkan diri dari umat lain, sebab munusia
adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang sederajat.
Karena itu larangan perkawinan antara wanita muslimah dengan pria non
muslim sudah tidak relevan lagi
2. Produk hukum Islam klasik (fiqh) yang membedakan antara muslim
dengan non muslim harus diamandemen berdasarkan prinsip
kesederajatan universal manusia.
3. Agama adalah urusan pribadi, sedangkan urusan Negara adalah murni
kesepakatan masyarakat secara demokratis.
4. Hukum Tuhan itu tidak ada. Hukum mencuri, zina, jual-beli, dan
pernikahan itu sepenuhnya diserahkan kepada umat Islam sendiri sebagai
penerjemahan nilai-nilai universal.
5. Muhammad adalah tokoh histories yang harus dikaji secara kritis karena
beliau adalah juga manusia yang banyak memiliki kesalahan.
6. Kita tidak wajib meniru rasulllah secara harfiah. Rasulullah berhasil
menerjemahkan nilai-nilai Islam universal di Madinah secara kontekstual.
Maka kita harus dapat menerjemahkan nilai itu sesuai dengan konteks
yang ada dalam bentuk yang lain.
7. Wahyu tidak hanya berhenti pada zaman Nabi Muhammad saja (wahyu
verbal memang telah selesai dalam bentuk al-Qur’an). Tapi wahyu dalam

24
bentuk temuan ahli fikir akan terus berlanjut, sebab temuan akal juga
merupakan wahyu karena akal adalah anugerah Tuhan.
8. Karena semua temuan manusia adalah wahyu, maka umat Islam tidak
perlu membuat garis pemisah antara Islam dan Kristen, timur dan barat,
dan seterusnya.
9. Nilai Islami itu bisa terdapat di semua tempat, semua agama, dan semua
suku bangsa. Maka melihat Islam harus dilihat dari isinya bukan
bentuknya.
10. Agama adalah baju, dan perbedaan agama sama dengan perbedaan baju.
Maka sangat konyol orang yang bertikai karena perbedaan baju (agama).
semua agama mempunyai tujuan pokok yang sama, yaitu penyerahan diri
kepada Tuhan.
11.Misi utama Islam adalah penegakan keadilan. Umat Islam tidak perlu
memperjuangkan jilbab, memelihara jenggot, dan sebagainya.
12. Memperjuangkan tegaknya syariat Islam adalah wujud ketidakberdayaan
umat Islam dalam menyelesaikan masalah secara arasional. Mereka
adalah pemalas yang tidak mau berfikir.
13. Orang yang beranggapan bahwa semua masalah dapat diselesaikan
dengan syariat adalah orang kolot dan dogmatis
14. Islam adalah proses yang tidak pernah berhenti, yaitu untuk kebaikan
manusia. Karena keadaan umat manusia itu berkembang, maka Agama
(Islam) juga harus berkembang dan berproses demi kebaikan manusia.
Kalau Islam itu diartikan sebagai paket sempurna seperti zaman
rasulullah, maka itu adalah fosil Islam yang sudah tidak berguna lagi.11
Dalam sejarah kemunculannya, liberalisme adalah lawan dari
fundamentalisme dan otoritarianisme yang berwujud lembaga negara. Akan tetapi,
menurut Dawam Raharjo, otoritarianisme (paham yang otoriter) itu saat ini tidak
hanya berwujud negara, melainkan juga bisa berupa agama, tepatnya agama
dalam wujud sekumpulan pemikiran-pemikiran Islam yang sudah dianggap baku,

11
Amanah, Pemikiran Islam Liberal, http://liberalisme.blogsome.com/2005/09/21/pemikiran-
islam-liberal/, diuduh pada tanggal 9 Mei 2011

25
baik itu dalam bidang fiqh, kalam, filsafat atau tasawuf yang biasa dilestarikan
oleh para ulama dan berujung pada jargon “pintu ijtihad telah tertutup”. Maka dari
itu liberalisme juga harus diarahkan kepada pemikiran-pemikiran Islam yang
sudah dianggap memfosil ini, yang dipastikan tidak akan mampu menjawab
fenomena-fenomena baru yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Dalam hal ini maka liberalisasi, menurut Dawam, merupakan sebuah
kemestian agar Islam mampu menghadapi isu-isu kontemporer seperti demokrasi,
hak-hak asasi manusia, kesetaraan jender, kesetaraan agama-agama dan hubungan
antar agama. Untuk menghadapi persoalan kontemporer ini jangan lagi terikat
pada paradigma lama dan pada teks yang tidak bisa berubah dan diubah
(wahyu/al-Qur`an dan Sunnah), melainkan hanya mengandalkan kemampuan akal
budi manusia yang telah dianugerahkan Tuhan dan telah diperintahkan oleh-Nya
untuk digunakan.
Dawam menegaskan bahwa penggunaan akal itu merupakan perintah
Tuhan, karena menurutnya, dari sejak Adam diciptakan ia dinyatakan lebih tinggi
derajatnya daripada malaikat disebabkan akalnya. Nabi saw sendiri pernah
memberitahukan kepada seorang petani kurma di Madinah; antum a’lamu bi
umuri dunyakum; kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian. Kepada Mu’adz
ibn Jabal yang diutusnya ke Yaman, Nabi saw memberikan restu kepadanya untuk
melakukan ijtihad. Ijtihad itu sendiri, menurut Dawam, adalah bentuk liberalisme
dalam Islam. Konsep ijtihad ini kemudian sering dilakukan oleh Khalifah ‘Umar
ibn al-Khaththab, yang kemudian dilestarikan oleh kelompok Mu’tazilah dan
filosof yang mempraktikkan liberalisasi pemikiran Islam.
 Madzhab Islam Liberal
Mengutip penjelasan Charlez Kurzman, Budhy kemudian
menyebutkan tiga madzhab Islam Liberal ketika berhadapan dengan syari’at,
yaitu:
Pertama, liberal syari’ah (syari’ah yang liberal). Menurut kelompok
ini, syari’ah jika dipahami dengan benar, sifatnya sudah liberal. Islam dari sejak
awal mempunyai solusi umum atas problem kontemporer seperti pluralisme,
sekularisme, demokrasi, HAM, feminisme, dan lainnya. Bahkan kelompok yang

26
ini, menurut Budhy, sering berapologi bahwa liberalisme dalam Islam sudah ada
lebih dulu daripada liberalisme Barat. Bukti yang sering dijadikan dalil oleh
mereka adalah penghargaan atas pluralitas agama, demokrasi, HAM, dan
masyarakat sipil sudah dipraktikkan oleh Nabi saw pada masyarakat Madinah
waktu itu. Bukti lainnya adalah khutbah wada’ yang menurut mereka memuat
pesan-pesan humanis (kemanusiaan) dan egaliter (persamaan). Selain itu ajaran
syura yang menurut mereka merupakan implementasi dari demokrasi.
Kedua, silent syari’ah (syariat yang diam mengenai masalah itu).
Berbeda terbalik dengan kelompok liberal syari’ah, kelompok ini menilai bahwa
syari’at Islam tidak banyak bicara mengenai isu-isu kontemporer, oleh karenanya
harus dipikirkan secara kreatif. Di antara tokohnya adalah Harun Nasution.
Menurutnya, ayat al-Qur`an berjumlah 6000-an, tetapi yang mengatur kehidupan
sosial sekitar 500-an. Banyak sekali persoalan kehidupan yang tidak disinggung
al-Qur`an, termasuk persoalan-persoalan kontemporer seperti telah disebutkan di
atas. Bahkan menurut kelompok ini, al-Qur`an justru banyak bertentangan dengan
nilai-nilai liberal, seperti diwenangkannya pemilikan budak, penebusan tawanan
perang, dan pemotongan organ tubuh pelaku kriminal.
Ketiga, interpreted syari’ah (syari’at yang perlu ditafsirkan ulang).
Kelompok ini, menurut Budhy, adalah kelompok Islam Liberal yang paling
banyak dijumpai di negara Muslim. Kelompok ini mengedepankan satu
epistemologi yang menegaskan perlunya keragaman dalam menafsirkan teks-teks
keagamaan. Sebab syari’at tidak langsung turun dari Allah, tetapi selalu
merupakan penafsiran manusia atas apa yang diturunkan oleh Allah swt. Dalam
perspektif Barat, golongan ini paling dekat dengan sensibilitas liberalisme Barat.
Dan usaha untuk mencari otentisitas Islam lebih terlihat kesungguhannya pada
golongan ini.
Dalam melakukan penafsiran, mereka menggunakan prinsip-prinsip
etis al-Qur`an sebagai standar utamanya. Artinya, jika ada ayat-ayat yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip etis tersebut maka ayat-ayat itu harus
dipahami berdasarkan prinsip etis itu atau kalau tidak bias, dinyatakan batal sama
sekali. Prinsip-prinsip etis yang dimaksud adalah etika keadilan, kemaslahatan,

27
pembebasan, kebebasan, persaudaraan, perdamaian, dan etika kasih sayang.
Sebagai contoh, jika al-Qur`an mengajarkan prinsip persaudaraan antara sesama
anak Adam, maka ayat-ayat al-Qur`an yang membeda-bedakan antara pemeluk
Islam dan non-Islam dinyatakan batal disebabkan bertentangan dengan prinsip etis
persaudaraan tersebut.
Dengan prinsip-prinsip etis tersebut maka kelompok Islam Liberal
menetapkan agenda perjuangan sebagai berikut: (1) Melawan teokrasi/Negara
berbasis agama. Menurut mereka negara bukan persoalan yang harus berdasarkan
syari’at yang abadi dan tidak bisa diubah. (2) Mendukung gagasan demokrasi,
sebab demokrasi sudah sesuai dengan ajaran Islam. (3) Memperjuanngkan
kesetaraan gender atau feminism. Di antara syari’at yang akan mereka
dekonstruksi (rusak) adalah poligami bagi kaum pria, hak kaum pria menceraikan
istri, hak waris pria yang lebih besar, otoritas kesaksian hukum lebih besar pada
pria, jilbab/hijab, pemisahan gender, perempuan tidak boleh memimpin. (4)
Memperjuangkan hak-hak non muslim. Menurut mereka persoalan tentang
keselamatan agama lain, hukum murtad, dikotomi darul-Islam dan darul-harb
harus ditafsirkan ulang dengan standar HAM. Prinsip yang mereka pegang adalah,
menjadi religius dewasa ini harus bersifat interreligius (lintas agama). (5)
Memperjuangkan kebebasan berpikir dan kemajuan, sebab menurut mereka
masyarakat yang terkekang adalah masyarakat yang mandek dan tidak
mempunyai masa depan.
 Salah Memahami Ijtihad
Abdullah Ahmad an-Na’im, seorang tokoh pemikir Islam Liberal dari
Sudan dan sering dijadikan rujukan oleh para pemikir liberal di Indonesia,
mengemukakan gagasan bahwa untuk meliberalisasi syari’at Islam, tidak bisa
ditempuh dengan metode ijtihad. Sebab menurutnya, ijtihad tidak bisa
diimplementasikan pada persoalan-persoalan yang telah disinggung oleh nash (la
ijtihada fi mauridin-nash). Maka dari itu, usaha untuk memodernkan syari’at
Islam harus ditempuh dengan dekonstruksi; menggugurkan bangunan metodologi
syari’at dan aturan-aturan syari’at itu sendiri. Metode yang tepat untuk digunakan

28
adalah dengan mengaplikasikan hermeneutika menggunakan standar utama HAM
dan hukum-hukum internasional.
Pengakuan jujur dari Abdullah Ahmad an-Na’im di atas memberikan
gambaran yang konkrit kepada kita letak kesesatan Islam Liberal, yaitu:
Pertama, Islam Liberal telah gagal memahami esensi dari ijtihad
(berpikir menggunakan ra`yu/akal) yang mereka asumsikan sebagai bentuk
liberalisasi pemikiran Islam. Padahal sebagaimana diakui oleh an-Na’im, ijtihad
tidak bisa diberlakukan pada persoalan-persoalan yang telah dibahas tuntas oleh
nash (teks wahyu [al-Qur`an atau hadits]). Izin dari Nabi saw kepada Mu’adz
untuk ber-ijtihad ditujukan pada sebuah persoalan yang tidak disinggung dalam
al-Qur`an dan sunnah.
Dari sini tergambar juga kegagalan mereka memahami karakteristik
utama ajaran Islam yang membagi persoalan kehidupan manusia itu pada ushul
(ajaran-ajaran pokok yang tidak ada peran ijtihad) dan furu’ (ajaran-ajaran cabang
yang ada peran ijtihad). Yang pertama kemudian diistilahkan dengan syari’ah,
dan yang kedua fiqh. Syari’ah adalah persoalan agama yang tetap, jelas, tidak ada
penafsiran lain selain yang ditafsirkan oleh Nabi saw dan konsekuensinya
disepakati oleh semua umat Islam. Contohnya kewajiban shalat, haramnya riba,
hukum waris, murtad, dan haram menikah dengan non-muslim. Sementara fiqh
adalah persoalan agama yang masih terbuka untuk ditafsirkan, itupun tidak
dengan akal yang bebas, melainkan menggunakan dalil-dalil wahyu yang bisa
dipertanggungjawabkan. Contoh, persoalan isbal (melabuhkan pakaian melebihi
dua mata kaki), niyat dalam wudlu, tarawih 11 atau 23 raka’at, adzan shubuh
menggunakan as-shalatu khairun minan-naum, dan lain sebagainya. Jika yang
masuk wilayah syari’ah ditafsirkan seenaknya atau liberal, maka bisa dipastikan
itu adalah penafsiran yang salah fatal. Ibaratnya menafsirkan Pancasila dan UUD
’45 sebagai landasan untuk komunisme. Walaupun bisa dipaksa-paksakan tetap
saja penafsiran semacam itu mengubah atau bahkan menghancurkan Negara
Indonesia itu sendiri yang didasarkan pada Pancasila dan UUD ’45, dan jelas
bertentangan dengan komunisme.
 Merusak Konsep Wahyu

29
Kedua, penggunaan secara sadar hermeneutika untuk menafsirkan
Islam dan ajarannya adalah sebuah kesalahan fatal metodologis. Sekadar untuk
mengingatkan, hermeneutika adalah sebuah metodologi penafsiran yang
berangkat dari keyakinan bahwa wahyu Allah swt itu tidak utuh dan tidak berlaku
universal. Sebagian besar dari wahyu (al-Qur`an dan hadits) diproduksi oleh Nabi
Muhammad saw disesuaikan dengan konteks zaman waktu itu, oleh karenanya
hanya berlaku untuk zaman itu saja, dan tidak otomatis berlaku untuk zaman
sekarang. Yang bisa diambil dari wahyu adalah prinsip-prinsip etisnya—
sebagaimana telah diuraikan oleh kelompok Islam Liberal di atas—bukan bunyi
ayat/hadits itu secara leterlek/zhahir. Pengunaan hermeneutika seperti ini
dipastikan akan bertabrakan dengan konsep wahyu itu sendiri yang sifatnya pasti
utuh dari Allah swt dan berlaku universal.
Kesalahan memahami wahyu seperti ini berdampak pada kesalahan
memahami syari’ah yang diasumsikan sebatas penafsiran ulama atas wahyu.
Padahal yang namanya penafsiran bukan berarti berdasar pada akal bebas dan
tidak mengenal aturan, melainkan tetap setia pada wahyu dan ada aturannya. Apa
bantahannya jika pada faktanya ulama seragam memahami kewajiban shalat,
haramnya riba, validnya hukum waris, qath’i-nya aturan bagi yang murtad, dan
haram menikah dengan non-muslim. Ini adalah bentuk yang jelas dari Islam
sebagai “agama wahyu”. Islam akan dan harus selalu mendasarkan ajarannya pada
wahyu yang sifatnya utuh dan universal, bukan pada akal bebas yang lepas dari
patokan-patokan wahyu (hermeneutika) sebagaimana dikehendaki oleh
liberalisme. Setiap penafsiran yang dikembangkan haruslah penafsiran yang
memegang teguh konsep wahyu, bukan malah mendekonstruksinya seperti yang
dilakukan hermeneutika.
Usaha kelompok Islam Liberal untuk senantiasa mencari “otentisitas”
ajaran agama dalam menjustifikasi liberalisme inipun tidak serta merta bisa dinilai
sebagai sebuah kebenaran. Walaupun mereka mengklaim tidak abai dari dalil-dalil
syari’at, dan senantiasa menggunakan dalil-dalil syari’at dalam membenarkan
liberalismenya, tetap tidak dipandang sebagai sebuah istidlal (berdalil) yang benar
jika konsep wahyunya tidak dianut dengan benar. Sebab implikasinya akan

30
mengabaikan prinsip mana yang qath’i (syari’ah) dan mana yang zhanni (fiqh),
dan selanjutnya ajaran-ajaran yang qath’i akan dipukul rata sebagai zhanni.
Misalnya, hukum waris dianggap sebagai zhanni dan boleh diubah sesuai standar
kesetaraan jender. Dalil yang dipakainya pasti dalil-dalil tentang adanya
kesetaraan jender dalam Islam, dengan mengabaikan dalil-dalil qath’i yang
memestikan ditaatinya hukum waris walau ada perbedaaan berdasarkan jender
(jenis kelamin). Terhadap ayat-ayat yang qath’i seperti itu pasti dinilai hanya
berlaku dalam konteks zaman itu saja, sebab ayat-ayat tersebut dikonsep oleh
Nabi saw sesuai dengan situasi bangsa Arab saat itu yang patriarkhis
(mengunggulkan lelaki). Oleh karenanya tidak berlaku untuk zaman ini yang
sudah mengarah pada kesetaraan jender. Demikianlah penafsiran khas liberalisme
(hermeneutika) yang notabene liar. Padahal yang benar, ayat-ayat yang tegas
mengatur tentang waris sifatnya qath’i. Ayat-ayat seperti itu harus dipatuhi
dengan sami’na wa atha’na bukan sami’na wa ‘ashaina. Dan itulah menurut
Allah karakteristik orang berilmu, orang yang betul-betul yakin bahwa Allah
Maha Mengetahui dan Bijaksana yang tidak mungkin salah dalam menetapkan
hukum.
Maka dari itu, keinginan kelompok Islam Liberal untuk diakui sebagai
bentuk penafsiran lain terhadap ajaran Islam di samping penafsiran-penafsiran
yang sudah ada, dengan sendirinya tidak bisa diterima jika metodologi yang
digunakannya adalah hermeneutika. Kalaupun dalih yang dijadikan
argumentasinya adalah fakta beragamnya penafsiran para ulama, tetap saja itu
tidak bisa dijadikan alasan untuk memasukkan penafsiran yang salah. Dalam
wacana demokrasi saja, sebagai perbandingan, tidak pernah sepi dari perbedaan
dan bahkan pertentangan pendapat tentang apa dan bagaimana demokrasi itu.
Akan tetapi itu tidak berarti bahwa prinsip-prinsip “kebenaran yang sama” dari
konsep demokrasi tidak ada, sehingga apapun yang menamakan demokrasi
walaupun pada faktanya bukan demokrasi harus bisa diakui sebagai demokrasi.
Tentu tidak bisa seperti itu.
 Mendewakan Humanisme

31
Ketiga, menjadikan HAM sebagai standar utama dalam kehidupan.
Jadinya paham manusia dituhankan, sementara paham dari Tuhan (ajaran-ajaran
wahyu) dimanusiakan. Padahal apa jaminannya bahwa HAM dan segala
turunannya (liberalisme, sekularisme, pluralisme, demokrasi sekuler, civil society
sekuler, feminisme) adalah nilai-nilai absolut yang tidak mungkin salah, sehingga
wahyu harus mengekor kepada HAM, bukan sebaliknya HAM yang tunduk pada
wahyu. Bukankah pemikiran manusia itu relatif?
Pola pikir seperti itu sebenarnya sudah lama dikritik sebagai
diabolisme (pemikiran gaya diabolos/iblis). Ketika Allah swt menyatakan bahwa
Adam lebih mulia disebabkan ilmunya, Iblis tetap tidak menerima karena ia
berdasar pada akal bahwa dirinyalah justru yang lebih mulia; ia diciptakan dari api
sedang Adam dari tanah. Ini sekaligus menepis asumsi bahwa Adam mulia
dibanding malaikat disebabkan akalnya. Yang benar adalah Adam lebih mulia
daripada malaikat disebabkan ilmunya, itupun jika Islam Liberal betul-betul tulus
merujukkannya pada dalil-dalil yang ada. Sebab yang mengandalkan akal dengan
mengabaikan titah Allah yang tegas (wahyu), itu adalah Iblis.
HAM dan paham-paham turunannya lahir dari peradaban Barat yang
renaissance; terlahir kembali. Maksudnya, pemikiran-pemikiran bebas era Yunani
klasik yang terlahir kembali di zaman modern. Jadi sebenarnya, paham-paham
yang dilahirkan Barat di zaman modern bukanlah paham yang benar-benar
modern (baru), melainkan paham-paham klasik yang dibangkitkan kembali.
Contoh konkritnya adalah paham humanisme ini, yang menjadikan manusia
sebagai standar kebenaran dan merupakan asas dari HAM, pertama kali
dikemukakan Protagoras (490-420 SM). Uniknya, Barat menyadari bahwa
renaissance mereka terjadi berkat konstribusi umat Islam di masa kejayaan
peradabannya yang menerjemahkan dan mengkaji ulang filsafat-filsafat Yunani
untuk kemudian dikembangkan berdasarkan worldview (pandangan hidup) Islam.
Proses seperti ini disebut oleh al-Attas dan Mulyadhi Kartanegara sebagai
islamisasi. Ini berarti bahwa interaksi umat Islam dengan modernitas tidak hanya
terjadi pada zaman sekarang saja, melainkan dari sejak abad-abad pertama
kelahiran Islam. Satu hal saja mungkin yang membedakannya, umat Islam dahulu

32
ketika berinteraksi dengan modernitas menjadikan wahyu sebagai landasan utama
dan menundukkan semua paham-paham yang lahir dari luar di bawah wahyu
(baca: islamisasi), sementara umat Islam sekarang, yang liberal tentunya,
menjadikan paham-paham yang dianggap modern itu sebagai landasan utama dan
menundukkan wahyu di bawahnya (liberalisasi).
Dalam sejarah perjalanannya memang banyak bermunculan
kelompok-kelompok di intern umat Islam yang tidak melakukan islamisasi
sebagaimana disinggung di atas. Sebut misalnya Mu’tazilah, Ikhwanus-Shafa, dari
kalangan filosofnya ada Ibn Sina, Ibn Rusyd, al-Farabi. Akan tetapi mereka semua
telah dari sejak awal dinyatakan menyimpang dari kaidah-kaidah Islam dan tidak
dinyatakan sebagai bagian dari pemikiran Islam. Para ulama hadits
membantahnya lewat karya-karya kitab haditsnya, seperti Shahih al-Bukhari,
Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, dan kitab-kitab sunnah lainnya. Dalam
Shahih al-Bukhari misalnya ada pembahasan tentang bad`il-khalq (awal mula
penciptaan alam semesta/kosmologi yang merupakan tema sentral filsafat), al-
qadr (taqdir), khalq af’alil-’ibad (perbuatan manusia diciptakan; keduanya
merupakan pembahasan tentang paham kebebasan manusia), akhbar al-ahad
(kedudukan hadits-hadits ahad, yang dinilai oleh “kaum liberal” saat itu sebagai
rujukan yang tidak valid), al-i’tisham bil-kitab was-sunnah (berpegang teguh pada
kitab dan sunnah, dihadapkan pada arus pemikiran yang mengutamakan akal
dengan mengenyampingkan wahyu), atau seperti dalam Sunan Abi Dawud yang
khusus mencantumkan kitab as-sunnah yang kandungannya membantah ahlul-
ahwa (kelompok yang senantiasa mengenyampingkan wahyu dengan
mengutamakan akal). Terdapat juga Imam al-Ghazali yang menghantam para
filosof dengan kitabnya, Tahafutul-Falasifah (kekacauan berpikir para filosof)
dan Ibn Taimiyyah yang mengkritik “kaum liberal” dalam kitabnya Dar`u
Ta’arudlil-’Aql wan-Naql (menepis anggapan bertentangannya antara akal dan
naql/wahyu). Langkah para ulama tersebut dalam membela Islam dari pemikir-
pemikir muslim yang menyimpang diikuti juga oleh para ulama lainnya secara
mayoritas atau jumhur.

33
Jadi, kalau Islam Liberal hari ini berargumen bahwa Islam
membenarkan liberalisme dengan mengambil sampel Mu’tazilah, Ibn Sina, Ibn
Rusyd, Al-Farabi dan sekian filosof lainnya yang sudah dari sejak lama dinilai
menyimpang, maka jelas saja itu adalah contoh yang salah. Ibaratnya menyatakan
perbuatan lacur sebagai bagian dari ajaran Islam dengan mengambil sampel
seorang wanita pelacur yang masih shalat. Walhasil, terbantahlah sudah argument
mereka untuk membenarkan liberalisme.12
2.8 Kemunculan Jaringan Islam Liberal13
Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah ta'ala kepada
Rasul-Nya yang terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam: "Dialah yang
mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. “Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
(QS. 48: 28) Sebagai rahmat bagi semesta alam: "Dan tiadalah Kami mengutus
kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."(QS 21:107) Dan
sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ta'ala: "Sesungguhnya
agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (QS 3:19)
Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi,
sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya
maka dia termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan
yang keluar atau menyimpang darinya maka dia termasuk firqaih-firqah yang
halikah (kelompok yang binasa).
Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah
sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan
pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik
Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama,
prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip
masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio - Kultural
dan Politik Masyarakat.

12
Nashruddin Syarief, Membantah Argumen Islam untuk Liberalisme, (Jakarta: Medika Pratama,
2001), hal 22
13
Abu Hamzah Agus Hasan Bashari, Islam Liberal, http://kurni.smanda.sch.id/news/opini/public-
opinion/216-islam-liberal.html, diunduh pada tanggal 9 Mei 2011

34
Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-
hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di
Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).
Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan
agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq
tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak sesuai
dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang
ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam.
 Asal-usul Jaringan Islam Liberal
Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18
dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada
digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampilah para ulama untuk mengadakan
gerakan pemurnian, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Pada saat ini
muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-
1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan
kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad
Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya
lebar-lebar. Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873)
memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani
(Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan
mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam.
Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18%) yang
membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan
penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ia membuka suatu kolese yang kemudian
menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui
buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di
Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad
SAW adalah Pelopor Agung Rasionalisme.

35
Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi
pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari
pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan
pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd.
Raziq (1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam
tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama.
Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan
bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur’an hanyalah sistem demokrasi, tidak yang
lain.(Charless: xxi,l8).
Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap
di Perancis, ia menggagas tafsir al-Quran model baru yang didasarkan pada
berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena
tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah Islam
berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan
keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar
Islam.
Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di
Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir
konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia
mengatakan al-Qur’an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral,
yang dituju oleh al-Qur’an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas
untuk diterapkan.
Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di
Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi,
Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wachid. Nurcholis Madjid telah memulai
gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan
pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan
tumbuh di atas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama
ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang
mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama”.

36
Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam
Liberal) yang mengusung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain
yang cocok dengan pikirannya.
Demikian asal-ususl Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William
Montgomery Watt, Chanless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut
maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang
rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis
la’natullah ‘alaih. karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”.
Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya
pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan
moto Render Unto The Caesar what The Caesar’s and to the God what the God’s
(Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada Kaisar dan apa yang menjadi hak
Tuhan kepada Tuhan). Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur cuma
meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban barat”.
Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya
kepada lbn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan
mengunggulkannya atas nabi Musa 'alaihis salam.
 Misi Jaringan Islam Liberal
Misi jaringan Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya:
menghancurkan) gerakan islam fundamentalis. Mereka menulis: “sudah tentu, jika
tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang
militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan
kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar
terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di
Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan
ketegangan antar kelompokkelompok agama yang ada. Sebut saja antara Islam
dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan
humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang
demokratis”. Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan
Jaringan Islam liberal adalah orang yang memiliki lima ciri-ciri, yaitu:
• Mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat,

37
• Mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan
membangkitkan kembali masa lalu itu
• Mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam
• Mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara,
• mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa
depan.
• Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon
(Muhammad Imarah : 75)
 Agenda dan Gagasan Jaringan Islam Liberal
Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan;
Luthfi AsySyaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas
Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal. Pertama,
agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem
kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja. Kedua, mengangkat kehidupan
antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin
majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam. Ketiga, emansipasi
wanita dan Keempat kebebasan berpendapat (secara mutlak). Sementara dari
sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah:
• Pentingnya konstekstualisasi ijtihad
• Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan
• Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama
• permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian
Negara.
 Bahaya Jaringan Islam Liberal
Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah SWT,
tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan para
Thaghut lainnya.
Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar
keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf dan lain-
lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah SWT

38
berfirman: "Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah
iman". (QS. Al-Hujurat 11)
Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur’an dan
meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka
terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-
Qur’an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik,
Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal. Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam
kitabnya al-Tafsir al-Ashri li al Qur’an menafsiri ayat dengan “maka putuslah
usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.”
Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Yang paling saya khawatirkan
atas kalian adalah orang munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Al-
Qur’an." Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Mereka
mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak
Islam, mereka mengajak kepada Al-Qur’an padahal merekalah yang
mencampakkan Al-Qur’an. Mengapa demikian? Karena mereka bodoh terhadap
sunnah.
Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang
ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat,
maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat.
Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi dan para
sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang
hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama serta pada bentuk-
bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan agama
ini akan menjadi agama yang historis dan eksklusif. Mereka lupa bahwa sikap
seperti inilah yang diancam oleh Allah: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul
sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-
orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruknya tempat kembali." (QS. An-Nisaa’ 115).

39
Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama.
Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai
“pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:
Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang
mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang
yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada
mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,"
mereka menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu
telah beriman." Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh,
tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah 11-13).
Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu
menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L.
Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-
negara Islam tampil seperti Turki.
 Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah
dan setiap bid’ah pasti memecah belah.
 Mereka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-
pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan
dana yang cukup.
 Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya terkesan
“asbun” dan asal “comot” Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid
Ridha yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok
liberal, begitu pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf
Qardhawi (tokoh Ihwan al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak
bisa diam, padahal diam mereka adalab emas, memang begitu berat jihad
menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang
mukmin. "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka
hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam." (HR.
Bukhari dan Muslim).

40
Ahlul batil selain menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq.
Allah ta'ala berfirman: "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka
pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak
melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi
kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfaal 73).
Sementara itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab
mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuan yang kuat dan tidak
memiliki aqidah yang mapan.

41
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya mengenai Liberalisme
Islam dapat disimpulkan bahwa:
1. liberalisme merupakan paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan
individu dan mendorong kemajuan sosial. Liberalisme merupakan tata
pemikiran yang landasannya adalah manusia yang bebas. Bebas, karena
manusia mampu berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan.
Dan ini berarti bahwa liberalisme adalah paham pemikiran yang optimistis
tentang manusia.
2. Pemikiran liberal (liberalisme) adalah satu nama di antara nama-nama untuk
menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi
Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad
V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti “bebas dari batasan” (free
from restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas
dari pengawasan gereja dan raja. Ini berkebalikan total dengan kehidupan
Barat Abad Pertengahan ketika gereja dan raja mendominasi seluruh segi
kehidupan manusia.
3. Liberalisasi agama perama kali muncul di Barat, dengan objeknya adalah
agama Kristen dan Yahudi, yang ketika itu sedang mendominasi masyarakat
Barat. Tetapi seiring dengan adanya hegemoni peradaban Barat di era modern
ini, maka liberalisasi agama itu juga telah merambah kepada agama-agama
hampir di seluruh dunia.
4. “Liberalisme Islam” atau “Islam liberal” adalah salah satu karakterisasi
terhadap gerakan kebangkitan Islam yang dimulai sejak abad ke-19. Istilah ini
merujuk kepada sikap umum para pembaru Muslim dalam menghadapi
kondisi umat Islam, khususnya dalam bidang pemikiran. Istilah “liberal”
sendiri baru digunakan belakangan. Paling tidak sejak tahun 1950-an, ketika

42
para sarjana di Barat mulai banyak menulis tentang fenomena modern
kebangkitan Islam.
5. Liberalisme dalam Islam, menurut kelompok Islam Progresif adalah keinginan
menjembatani antara masa lalu dengan masa sekarang. Jembatannya adalah
melakukan penafsiran-penafsiran ulang sehingga Islam menjadi agama yang
hidup. Karena kita hidup dalam situasi yang dinamis dan selalu berubah,
sehingga agar agama tetap relevan, menurut mereka, diperlukan sebuah cara
pandang baru atau tafsir baru dalam melihat dan memahami.
6. Gaung dan gerakan pembaharuan di Mesir rupanya juga merambah ke
Indonesia. Melalui KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya,
pembaharuan Islam dimulai.
7. Ditinjau dari sudut kebahasaan penggandengan antara kata “Islam” dan
“Liberal” itu tidak tepat. Sebab Islam itu artinya tunduk dan menyerahkan diri
kepada Allah, sedangkan liberal artinya bebas dalam pengertian tidak harus
tunduk kepada ajaran Agama (al-Qur’an dan Hadis), Oleh karena itu,
pemikiran liberal sebenarnya lebih tepat disebut “Pemikiran Iblis” dari pada
“Pemikiran Islam”, karena makhluk pertama yang tidak taat kepada Allah
adalah Iblis.
8. Liberalisme adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki
asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Prinsip pertama mereka
adalah kebebasan individual, kontrak social, masyarakat pasar bebas,
meyakini eksistansi Pluralitas Sosio - Kultural dan Politik Masyarakat. Dari
itu muncullah sekelompok orang menamakan dirinya dengan Jaringan Islam
Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau
pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang
mereka suarakan adalah haq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah
bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang
disampaikan oleh Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi
yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang
ingkar kepada Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

43